Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Saat ini tren yang berkembang diantara remaja hingga dewasa adalah memiliki
penampilan yang menarik, kebanyakan dari mereka khususnya remaja perempuan
menganggap bahwa penampilan menarik berarti memiliki tubuh yang kurus.
Karena pandangan ini pula maka banyak diantara mereka yang melakukan diet
ketat, bahkan hingga mengalami gangguan makan. Masyarakat yang mengalami
ganguan makan akan mengurangi kadar makan dengan ekstrem hal ini
dikarenakan kekhawatiran mereka akan berat dan bentuk tubuhnya. Seseorang
dengan gangguan makan mungkin berawal dari mengkonsumsi makanan yang
lebih sedikit atau lebih banyak daripada biasa, tetapi pada tahap tertentu,
keinginan untuk makan lebih sedikit atau lebih banyak terus menerus di luar
keinginan (American Psychiatric Association [APA], 2005).

Gangguan makan ini lama kelamaan akan menyebabkan seseorang tersebut


menderita anorexia nervosa. Anoreksia Nervosa adalah gangguan makan di mana
orang secara sengaja menahan untuk tidak makan atau melaparkan diri. Anoreksia
Nervosa secara umum terjadi pada orang muda selama masa pubertas. Orang yang
menderita Anoreksia Nervosa memiliki berat badan yang sangat rendah. Berat
badan biasanya 15% di bawah berat badan normal seseorang. Orang yang
menderita Anoreksia Nervosa sangat kurus tetapi mereka tetap merasa bahwa
mereka kelebihan berat badan.

Orang yang memiliki penyakit Anoreksia Nervosa memiliki ketakutan yang


intens bahwa makanan yang ia konsumsi akan menjadi lemak. Kebiasaan makan
buruk semacam itu terjadi karena adanya rasa takut. Anoreksia Nervosa nervosa
adalah gangguan makan yang pertama kali dijelaskan pada 1868 dan ini paling
sering ditemukan di antara gadis-gadis remaja. Penyebab pastinya tidak diketahui.

Orang yang menderita Anoreksia Nervosa, fikirannya selalu diliputi oleh


rasa kelebihan berat badan bahkan walalu pun tubuhnya sudah sangat krurus,
sangat sakit atau hampir mati. Seringkali ia juga akan memiliki kebiasaan makan

1
yang aneh seperti menolak untuk makan di depan orang lain. Kelainan ini
dianggap paling umum di antara orang dari strata sosial ekonomi yang lebih tinggi
dan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan yang mengutamakan kelangsingan
tubuh , seperti menari, teater, dan lari jarak jauh.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa itu anoreksia nervosa?
2. Siapa sajakah yang dapat mengidap penyakit anoreksia nervosa?
3. Bagaimana cara mengobatinya?
4. Bagaimana perbandingan orang yang normal dan penderita anoreksia
nervosa?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu anoreksia nervosa?
2. Untuk mengetahui siapa saja yang beresiko terjangkit penyakit anoreksia
nervosa ini?
3. Untuk mengetahui bagaimana cara mengobati orang-orang yang sudah
terjangkit?
4. Untuk melihat perbandingan orang normal dan anoreksia

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Anorexia Nervosa

Menurut Townsend (1998) anorexia nervosa adalah sindrom klinis dimana


seseorang mengalami rasa takut yang tidak wajar terhadap kegemukan. Hal ini
dicirikan oleh distorsi yang kasar dari bayangan tubuh, memikirkan secara
berlebihan tentang makanan dan penolakan untuk makan. Anorexia Nervosa
berarti kekurangan nafsu makan, tetapi sebenarnya penderita anorexia nervosa
merasakan lapar dan juga berselera terhadap makanan, mempelajari tentang
makanan dan kalori; menimbun; menyembunyikan dan sengaja membuang
makanan.

2.2 Diagnosis

Diagnosa Anorexia Nervosa adalah berdasarkan karakteristik perilaku,


psikologis dan fisiknya. Kriteria diagnostik yang digunakan secara meluas ialah
dari American Psychiatry Association (APA, 2004), melalui DSM-IV. Kriteria ini
termasuklah :

1. Ketakutan berlebihan untuk meningkatkan berat badan atau menjadi gemuk


2. Keengganan untuk menetapkan berat badan pada atau di atas berat normal yang
minimal sesuai umur dan ketinggian tubuhnya
3. Distorsi pandangan tubuh (merasakan dirinya terlalu gemuk walaupun
dirinya telah underweight)
4. Tidak mengalami menstruasi (amenorrea) selama sekurangkurangnya 3 siklus
berturut-turut.

Menurut Turnbull et al. (1996) dalam Lewinsohn et al. (2000) kejadian


tertinggi Anorexia Nervosa terjadi pada wanita berusia 10 sampai dengan 19
tahun karena pada usia ini, mereka rentan terhadap perubahan dan lebih terpapar
dengan dunia luar.

3
2.3 Etiologi dan Faktor Resiko

Etiologi Anorexia Nervosa tidaklah diketahui tetapi kemungkinan melibatkan


kombinasi psikologis, biologis dan faktor risiko kultural. Faktor risiko seperti
penderaan seksual atau fisik, dan riwayat keluarga yang mengalami gangguan
mood, adalah salah satu faktor risiko nonspesifik yang meningkatkan
kecenderungan kepada gangguan psikiatris, termasuklah Anorexia Nervosa
(Walsh, 2008). Menurut Nicholls (2005), bagi sesetengah orang muda, perilaku
makan seperti berdiet yang dilakukan semasa usia remaja dapat menyebabkan
masalah makan yang lebih serius.

2.4 Pengobatan

Terdapat beberapa indikasi pasien dengan Anorexia Nervosa yang perlu


dirawat inap di rumah sakit, antara lain ialah berat badan kurang daripada 75%
daripada berat badan ideal, walaupun pemeriksaan darah rutin dalam batas
normal. Untuk pasien yang berat badannya sangat kurang, kalori yang cukup
(kira-kira 1200-1800 kkal/hari) perlu diberi dalam hidangan sehari-hari dalam
bentuk makanan atau suplemen cairan untuk meningkatkan berat badan dan
menstabilkan keseimbangan cairan dan elektrolit (Walsh, 2008). Konseling gizi
juga membantu untuk menetapkan berat badan sehat dan memperlengkapkan
pasien dan keluarga tentang diet sehat dan risiko jangka pendek dan jangka
panjang akibat gangguan makan (Abraham dan Stafford, 2007).

Keterlibatan keluarga dalam penatalaksanaan Anorexia Nervosa pada remaja


telah menjadi komponen standar, walaupun pengobatan utamanya lebih kepada
mengembalikan nutrisi di rumah sakit dan psikoterapi individu atau konseling.
Walaupun sebagian besar pasien dengan Anorexia Nervosa perlu dirawat inap,
peran keluarga juga memainkan peranan penting dalam pengobatan yang efektif
(Eisler, et al., 2005). Pengobatan dengan olanzapin ternyata meningkatkan berat
badan dan selera makan pada pasien Anorexia Nervosa, dan mengubah persepsi
diri tentang gambaran tubuhnya. Mereka akan memikirkan bahwa mereka lebih
normal dan matang (Jensen dan Mejlhede, 2000).

4
2.5 Prognosis

Mortalitas merupakan risiko pada pasien dengan Anorexia Nervosa, disebabkan


oleh percobaan bunuh diri atau komplikasi dari gangguan makan yang kronis.
Risiko mortalitas telah menurun sepanjang 25 tahun ini dengan pengobatan dan
identifikasi dini Anorexia Nervosa. Kira-kira 25% tetap simptomatik. Proses
penyembuhan berlangsung lama, bisa 2 tahun dari onset Anorexia Nervosa
(Abraham dan Stafford, 2007). Terdapat juga pasien dengan Anorexia Nervosa
beralih kepada jenis gangguan makan lain, seperti bulimia nervosa dan binge-
eating disorder, menunjukkan terdapat hubungan antara gangguan makan tersebut
(NCCMH, 2004).

Gangguan makan dapat berakibat fatal akibat dari defisiensi nutrisi yang
berkelanjutan. Pasien dengan gangguan makan kadang kala mencoba untuk
membunuh diri atau menghindari kegiatan sosialnya. Perlu ditekankan bahawa
gangguan ini tidak hanya mengganggu perilaku makan, tetapi juga mendatangkan
akibat pada fisik, psikologis dan aspek sosial pasien (Tsuboi, 2005)

2.6 Perbandingan IMT Normal dan Penderita Anorexia Nervosa

IMT adalah cara menentukan berat badan ideal yang sehat dan juga cocok
dengan orang dewasa yang berusia diatas 18 tahun dan juga remaja (Ronal, 1996).
()
Perhitungannya adalah : IMT = ()2

Tabel 2.1 kategori Index Massa Tubuh (IMT)

IMT KATEGORI
<18,5 Berat badan kurang
18,5-22,9 Berat badan normal
23,0 Kelebihan berat badan
23,0-24,9 Beresiko menjadi obesitas
25,0-29,9 Obesitas 1
30,0 Obesitas 2
Sumber : Centre For Obesity Research and Education 2007

5
Penderita Anorexia Nervosa biasanya memiliki nilai IMT yang sangat rendah
dibawah kategori berat badan kurang. Hal ini akan jelas terlihat
perbandingannya dengan orang yang memiliki berat badan normal.

Gambar 2.1 penderita Anorexia Nervosa yang telah kembali normal

Sumber : http://duniaamerahh.blogspot.co.id/anoreksia-nervosa.html

6
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Anorexia nervosa adalah sindrom klinis dimana seseorang mengalami rasa
takut yang tidak wajar terhadap kegemukan. Hal ini dicirikan oleh distorsi
yang kasar dari bayangan tubuh, memikirkan secara berlebihan tentang
makanan dan penolakan untuk makan.

Penderita Anorexia Nervosa biasanya remaja putri yang kurang percaya


diri. Penderita Anorexia Nervosa memiliki nilai IMT (index massa tubuh)
yang jauh dibawah berat badan normal atau sebesar <18,5.

Pengobatan utamanya lebih kepada mengembalikan nutrisi di rumah sakit


dan psikoterapi individu atau konseling. Walaupun sebagian besar pasien
dengan Anorexia Nervosa perlu dirawat inap, peran keluarga juga memainkan
peranan penting dalam pengobatan yang efektif.

3.2 Saran

Agar tidak mengidap penyakit tsb maka disarakan agar tidak melakukan
diet ketat tanpa adanya asupan nutrisi dan pengaturan pola makan yang benar.
Disarankan pula untuk berkonsultasi pada dokter dan pihak ahli terkait tentang
berat badan ideal dan pola hidup sehat. Selain itu diperlukan adanya
bimbingan dari keluarga dan motivasi dari orang-orang sekitar agar penderita
memiliki rasa percaya diri terhadap bentuk tubuhnya.

7
DAFTAR PUSTAKA

Abraham, A., Brian S., 2007. Eating Disorders in: Kliegman, R. M., Behrman, R.
E., Jenson, H. B., Stanton, B. F., ed. Nelson Textbook of Pediatrics.
Philadelphia: Saunders, 127-130.

American Psychiatric Association.2004. Diagnostic and Statistical Manual of


Mental Disorder, fourth edition Text Revision. Arlington: American
Psychiatric Association.

American Psychiatric Association. 2005. Diagnostic and Manual of Mental


Disorder. Fourth Editon. Washington D. C. : APA

Eisler, I., Dare, C., Matthew, H., Russell, G., Dodge, E., Grange, D. L. 2005.
Family Therapy for Adolescent Anorexia Nervosa: The Results of a Controlled
Comparison of Two Family Interventions. American Psychiatric
Association 3: 629-640.

Lewinsohn et al. 2000. Problematic eating and feeding behavior of 36 month old
childern. international Journal eat disord diakses pada tanggal 10 December
2016

Makino, M., Tsuboi, K., Dennerstein, L. 2005. Prevalence of Eating Disorder : A


Comparison of Western and Non-Western Countries. Medscape General
Medicine 6 (3): 49

Mejlhede, A., Jensen, V. S. 2000. Anorexia nervosa: Treatment with Olanzapine.


British Journal of Psychiatry 177 (1): 87.

Nicholls, D. 2005. Eating disorder and weight problems. British Medical Journals
330(7497): 950-953.

Townsend M. C, .1998. Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan Psikiatri,

8
Pedoman untuk Pembuatan Rencana Keperawatan . Jakarta : EGC.

Walsh, Linda V. 2008. Buku Ajar Kebidanan Komunitas. Cetakan 1. Jakarta. EGC