Anda di halaman 1dari 23
Bahan Informasi STANDAR LAPORAN KEGIATAN PERENCANAAN DETAIL (DETAIL DESIGN) BIDANG SUNGAI DAN PANTAI © April

Bahan Informasi

STANDAR LAPORAN KEGIATAN PERENCANAAN DETAIL (DETAIL DESIGN)

BIDANG SUNGAI DAN PANTAI

© April 2017

i

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

ii

I. PENDAHULUAN

I.1.

I.2.

I.3.

I.4.

1

Dasar Hukum

1

Acuan Standar Nasional Indonesia (SNI)

2

Acuan Lain Terkait Penyusunan Rencana Detail / Detail Design

3

Target Capaian Kinerja Hasil Perencanaan

4

II. PERENCANAAN SUNGAI

II.1.

II.2.

II.3.

II.4.

II.5.

II.6.

4

Umum

4

Pertimbangan Teknis Dalam Perencanaan Sungai

5

Pertimbangan Ekonomi dalam Perencanaan Sungai

6

Pertimbangan Lingkungan

6

Pertimbangan Sosial Budaya

6

Pertimbangan Ketersediaan lahan dan pemukiman kembali

6

II.7.

Sistematika Laporan

7

III. PERENCANAAN PANTAI

III.1.

 

9

Umum

9

III.2.

Pertimbangan

Umum

11

III.3.

Pertimbangan Teknis

11

III.4.

Sistematika Laporan

11

IV. Perencanaan Bangunan Pengendali Sedimen / Sabo

IV.1.

IV.2.

12

Umum

12

Sistematika Laporan

14

V. Perencanaan Drainase Perkotaan

16

V.1.

V.2.

Umum

 

16

Sistematika Laporan

18

ii

STANDAR LAPORAN KEGIATAN PERENCANAAN DETAIL (DETAIL DESIGN)

BIDANG SUNGAI DAN PANTAI

I.

PENDAHULUAN

Pada prinsipnya perencanaan bidang sungai dan pantai meliputi kegiatan perencanaan pada sungai, pengamanan pantai, pengendalian lahar/sedimen dan drainase utama perkotaan.

I.1. Dasar Hukum

Sebagai acuan normatif (dasar hukum) kegiatan perencanaan diacu aturan perundang- undangan sebagai berikut:

1. Undang- Undang Nomor 11 tahun 1974 tentang Pengairan;

2. Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;

3. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;

4. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman;

5. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi;

6. Peraturan Pemerintah Nomor 35 tahun 1991 tentang Sungai;

7. Peraturan Pemerintah Nomor 13 tahun 2017 tentang RTRWN;

8. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Nomor 04/PRT/M/2015 Tentang Kriteria Dan Penetapan Wilayah Sungai;

9. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Nomor 26/PRT/M/2015 Tentang Pengalihan Alur Sungai Dan Atau Pemanfaatan Bekas Sungai;

10. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Nomor 28/PRT/M/2015 Tentang Penetapan Sempadan Sungai Dan Garis Sempadan Danau;

11. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 07/PRT/M/2015 tentang Pengamanan Pantai;

12. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 07/PRT/M/2011 jo. Permen PUPR Nomor 31/PRT/M/2015 tentang Pedoman Standar Pengadaan Pekerjaan Konstruksi dan Jasa Konsultansi;

13. Permen Pekerjaan Umum Nomor 09/PRT/M/2010 tentang Pedoman Pengaman Pantai;

14. Permen Pekerjaan Umum Nomor 40/PRT/M/2007 tentang Pedoman Perencanaan Tata Ruang Kawasan Reklamasi Pantai;

15. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 15/PRT/M/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum;

16. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 01/PRT/M/2014 tentang Standar Pelayanan Minimal bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang;

17. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014 tentang Sistem Drainase Perkotaan;

18. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 13.1/PRT/M/2015 tentang Sasaran Sektor Drainase Renstra PU 2015-2019;

19. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 9/PRT/M/2015 tentang Pedoman Pengaman Pantai;

20. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 28/PRT/M/2016 tentang Analisa Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum;

21. Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum Nomor 07/SE/M/2010 tentang Pemberlakuan Pedoman Pelaksanaan Konstruksi Bangunan Pengaman Pantai;

1

22.

Pedoman tata cara pemasangan batu kosong untuk perlindungan lereng tanggul sungai bagian luar Permen PU No. 13/PRT/M/2008;

23. Keputusan Menteri Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor :

360/KPTS/M/2004, Perbaikan muara sungai dengan Jeti Pd. T-07-2004-A Keputusan Pd.

T-17-2004-A;

24. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor : 360/KPTS/M/2004, Pengamanan bangunan sabo dari gerusan lokal;

25. Perencanaan teknis bendung pengendali dasar sungai Pd. T-12-2004-A Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor : 360/KPTS/M/2004;

26. Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum Nomor 08/SE/M/2010 tentang Penilaian Kerusakan Pantai dan Prioritas Penanganannya;

27. Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum Nomor 01/SE/M/2011 tentang Pedoman Operasi dan Pemeliharan Bangunan Pengaman Pantai.

I.2. Acuan Standar Nasional Indonesia (SNI)

Disamping acuan normatif produk hukum yang telah dijelaskan diatas, dalam penyusunan dokumen perencanaan juga diacu SNI terkait bidang sungai dan pantai sebagai berikut:

1)

2) SNI 2400.1-2016, Tata cara perencanaan umum krib sungai- bagian 1 : perencanaan umum;

3)

4) SNI 8066 : 2015, Tata cara pengukuran debit aliran sungai dan saluran terbuka menggunakan alat ukur arus dan pelampung;

SNI 2415-2016, Tata cara perhitungan debit banjir;

SNI 2851-2015, Desain Bangunan Penahan Sedimen;

5)

SNI 6738:2015, Perhitungan debit andalan air sungai dengan kurva durasi debit;

6)

SNI 1724:2015, Analisis hidrologi, hidraulik, dan kriteria desain bangunan di sungai;

7) SNI 1726:2012, Tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung dan non gedung; 8) SNI 6467.2:2012, Tata cara pengukuran aliran air pada saluran terbuka secara tidak

langsung dengan metode kemiringan luas; SNI 3965 : 2008, Tata cara pembuatan model fisik sungai dengan dasar tetap;

9)

10) SNI 2830 : 2008, Tata cara perhitungan tinggi muka air sungai dengan cara pias berdasarkan rumus manning; 11) SNI 3417 : 2008 , Tata cara penentuan titik perum menggunakan alat sipat ruang; 12) SNI 03-7043-2004, Tata cara desain hidraulik tubuh bendung tetap dengan peredam energi tipe MDL; 13) RSNI T-05-2002 Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor :

11/KPTS/M/2003, Tata cara desain hidraulik tubuh bendung tetap dengan peredam energi tipe MDO dan MDS; 14) SNI 19-6745-2002, Metode penentuan posisi titik perum menggunakan dua buah sextant Metode penentuan posisi titik perum menggunakan trisponder; 15) SNI 19-6471.4-2002 Tata cara pengerukan muara sungai dan pantai bagian 4 :

pelaksanaan dan pengawasan; 16) SNI 19-6471.1-2000 Tata cara pengerukan muara sungai dan pantai bagian 1 : survei lokasi dan investigasi; 17) SNI 19-6471.2-2000 Tata cara pengerukan muara sungai dan pantai bagian 2 :

pertimbangan yang mempengaruhi pekerjaan;

2

18) SNI 19-6471.3-2000 Tata cara pengerukan muara sungai dan pantai bagian 3 : pemilihan peralatan; 19) SNI 03-3412-1994, Metode perhitungan debit sungai harian; 20) SNI 03-3441-1994 , Tata cara perencanaan teknik pelindung tebing sungai dari pasangan batu; 21) SNI 03-2401-1991, Tata cara perencanaan umum bendung; 22) SNI 03-2526-1991, Tata cara pemilihan lokasi pos duga air di sungai; 23) SNI 03-2822-1992, Metode pembuatan lengkung debit dan tabel sungai/ saluran terbuka dengan analisa grafis; 24) SNI 03-2829-1992, Tata cara perhitungan tiang pancang beton pada krib di sungai; 25) SNI 03-2406-1991 Tata cara perencanaan umum drainase perkotaan;

I.3. Acuan Lain Terkait Penyusunan Rencana Detail / Detail Design

Khusus untuk penyusunan rencana detail yang mensyaratkan penyiapan dokumen lainnya seperti spesifikasi umum dan teknis, metode pelaksanaan, dokumen lelang, Rencana Anggaran Biaya (RAB) / Engineering Estimates dan Manual Operasi dan Pemeliharaan, disusun dengan mengacu pada ketentuan sebagaimana dijelaskan dalam tabel bawah ini.

No

Substansi

Acuan

1.

Dokumen Spesifikasi Umum dan Teknis

Perpres Nomor 54 Tahun 2010 jo. Perpres Nomor 5 Tahun 2014 tentang Pengadaaan Barang/Jasa Pemerintah

2.

Metode Pelaksanaan

Permen PUPR Nomor 28/PRT/M/2016 tentang Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum

Dokumen Rencana Detail / Nota Desain

3.

Dokumen Lelang

Permen PU Nomor 07/PRT/M/2011 jo. Permen PUPR Nomor 31/PRT/M/2015 tentang Pedoman Standar Pengadaan Pekerjaan Konstruksi dan Jasa Konsultansi

4.

Rencana Anggaran Biaya (RAB) / Engineering Estimates (EE)

Permen PUPR Nomor 28/PRT/M/2016 tentang Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum

Surat Edaran Menteri PUPR Nomor 01/SE/M/2017 tentang Penentuan Biaya Langsung Personil

Dokumen Rencana Detail / Nota Desain

5.

Manual Operasi dan Pemeliharaan

Surat Edaran Dirjen SDA Nomor 01 /SE/D/2013 tentang Operasi dan Pemeliharaan Prasarana Sungai Serta Pemeliharaan Sungai

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 09/PRT/M/2010 tentang Pedoman Pengamanan Pantai

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 07/PRT/M/2015 tentang Pengamanan Pantai

3

No

Substansi

Acuan

   

Seri Buku Teknologi Sabo Operasi dan Pemeliharaan Bangunan Pengendali Sedimen

Peraturan Menteri PU Nomor 12/PRT/M/2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan

I.4. Target Capaian Kinerja Hasil Perencanaan

Sejalan dengan prinsip akuntabilitas kinerja, seluruh produk perencanaan harus dapat menjelaskan secara rinci capaian kinerja yang diharapkan sesuai hasil rekomendasi penanganan yang dipilih dalam satuan output dan outcome serta impact.

No

Substansi Perencanaan - Rekomendasi Penanganan (B = dibangun, T = ditingkatkan, R = direhabilitasi)

Target Kinerja Produk Rencana Detail

Output

Outcome

1.

Perencanaan Sungai

   

a. Normalisasi / Pembuatan Tanggul (B / T / R)

Km

Hektar

b. Bangunan Perkuatan Tebing (B / T / R)

Km

Hektar

c. Pintu Air / Bendung Pengendali Banjir (B / T / R)

Unit

Hektar

d. Kanal Banjir (B / T / R)

Km

Hektar

e. Flood Forecasting & Warning System (FFWS) (B / T)

Unit

Unit

2.

Perencanaan Drainase Utama Perkotaan

   

a. Stasiun Pompa Banjir (B / T / R)

Unit

Hektar

b. Polder / Kolam Retensi (B / T / R)

Buah

Hektar

c. Saluran Drainase (B / T / R)

Km

Hektar

3.

Pengendalian Lahar / Sedimen

   

a. Bangunan Sabo (B / T / R)

Buah

Juta m 3 Juta m 3

b. Checkdam (B / T / R)

Buah

4.

Perencanaan Pengamanan Pantai / Pulau Terdepan

   

a. Breakwater (B / T / R)

Km

Km

b. Seawall (B / T / R)

Km

Km

II. PERENCANAAN SUNGAI

II.1.

Umum

Kegiatan perencanaan sungai secara umum ditujukan untuk:

1.

Pengaturan Sungai untuk Pengendalian Banjir

2.

Pengaturan Sungai untuk navigasi (shiplog, dredging)

3.

Pengaturan Sungai (River Training) (Bangunan pengarah tebing (guide bank); Bangunan krib ; Bangunan tanggul)

4.

Bangunan perlindungan tebing (revetment)

5.

Pengaturan muka air sungai (bendung)

6.

Pengendalian Dasar dan Alur Sungai (groundsill)

7.

Pengaturan Debit Sungai (waduk di bagian hulunya; daerah retensi banjir; flood diversion; floodway; bangunan pengaliran sebagian debit langsung ke laut; dengan mengalirkan sebagian debit ke sungai lainnya (interbasin flood diversion channel)).

4

Dalam perencanaan sungai perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Perencanaan sungai harus dilakukan secara menyeluruh sesuai prinsip “one river, one plan, one integrated management” mempertimbangkan clustering segmen sungai yaitu hulu, tengah dan hilir.

2. Pastikan sungai yang direncanakan termasuk dalam Wilayah Sungai kewenangan balai, jika tidak, diperlukan surat permohonan penanganan dari pemilik kewenangan (PemProv, PemKab/PemKot).

3. Mengacu pada dokumen pola dan rencana pengelolaan SDA Wilayah Sungai terkait dengan memperhatikan rencana pola dan rencana struktur pada dokumen RTRW terkait. Hal ini diperlukan terutama dalam menggali informasi tata guna lahan dan proyeksi perubahannya mengingat perubahan dimaksud akan memberikan pengaruh pada besarnya Q run off.

4. Setiap rekayasa yang merubah sistem sungai, mempunyai potensi berpengaruh negatif terhadap lingkungan sungai (riverine environment).

5. Setiap rekayasa yang bersifat memaksa akan menyebabkan ketidakstabilan, kecuali sungai tersebut direkayasa total. Namun secara lingkungan hal ini tidak disarankan karena akan berakibat buruk terhadap kehidupan flora dan fauna sungai, dan memerlukan biaya yang sangat mahal.

6. Faktor lain yang dipakai sebagai dasar dalam perencanaan teknik persungaian, adalah pertimbangan teknis ekonomi.

7. Dengan adanya sudetan, disebelah hulunya akan terjadi degradasi dan di hilirnya terjadi agradasi. Pada umumnya sungai lama akan menjadi sungai mati, dan akan mempengaruhi kondisi lingkungan.

8. Dengan adanya jembatan yang lebarnya kurang dari batas minimal, stabilitas konstruksi jembatan dapat terganggu sebagai akibat adanya gerusan lokal, dan juga dapat mempengaruhi kestabilan tebing sungai di hulu dan di hilir jembatan.

9. Dengan adanya bangunan di tepi sungai seperti dermaga, krib dll, apabila tidak direncana dengan baik maka bangunan tersebut dapat merusak di bagian sungai lainnya.

II.2.

Pertimbangan Teknis Dalam Perencanaan Sungai

1. Faktor Teknis Faktor-faktor/parameter yang sesuai dengan kriteria perencanaan teknis persungaian (faktor kecepatan, debit aliran, beban sedimen, arus gelombang dan data pasang surut (jika perencanaan pada muara sungai), termasuk pengaruh air tanah pada daerah yang memiliki Cekungan Air Tanah / CAT).

2. Faktor Keamanan Faktor keamanan bangunan / stabilitas, mampu menahan beban statis dan beban dinamis, serta faktor lain : geologi (adanya patahan), kimia dan sifat air yang dapat merusak / menghilangkan daya dukung bangunan (batuan lumpur lapuk (weather siltstone) dan batuan lempung lapuk (weather clay stone).

3. Faktor Bahan Proses perencanaan harus dilengkapi dengan survey terhadap ketersediaan bahan bangunan di tempat atau sekitar lokasi bangunan yang akan direncanakan. Semakin jauh lokasi bahan bangunan yang akan digunakan akan menyebabkan naiknya biaya konstruksi. Faktor lain adalah bahan tersebut harus tahan lama dan mudah dalam pemeliharaannya.

5

4.

Faktor Pelaksanaan

Dalam setiap kegiatan perencanaan teknik persungaian, perlu dipertimbangkan

bahwa

dilaksanakan.

mudah

hasil

perencanaan

teknik

yang

dibuat

nantinya

bisa

dan/atau

5. Faktor Operasi Dan Pemeliharaan Perencanaan teknik persungaian dalam menentukan jenis bangunan, juga perlu mempertimbangkan faktor operasi dan pemeliharaan pada tahap pasca konstruksi (mudah dalam melakukan operasi bangunan, biaya pemeliharaan murah, apabila memerlukan penggantian, bahan pengganti mudah didapat dan dengan harga yang terjangkau).

II.3.

Pertimbangan Ekonomi dalam Perencanaan Sungai

 

1. Pertimbangan ekonomi merupakan suatu cara untuk menilai layak tidaknya bangunan ditinjau dari segi ekonomi (APABILA manfaat > biaya untuk pembangunan), bangunan tersebut dinilai layak untuk dibangun.

2. Pertimbangan ekonomi biasanya dinyatakan dalam bentuk analisis “Benefit Cost Ratio (BCR)“ atau “Internal Rate of Return (IRR)“.

3. Pertimbangan ekonomi harus disertakan dalam dokumen perencanaan sungai

 

II.4.

Pertimbangan Lingkungan

 

Pertimbangan lingkungan untuk menilai apakah bangunan yang dibangun mempunyai dampak negatif terhadap lingkungannya. Penilaian dampak lingkungan dilaksanakan mulai pada saat pelaksanaan sampai pasca pelaksanaan pekerjaan. Hal yang perlu mendapat perhatian terhadap bangunan persungaian, bahwa sungai tersebut disamping sebagai sumber air juga berfungsi sebagai tempat komunitas kehidupan biota air dan penyangga lingkungan hidup. Penyiapan dokumen wajib lingkungan (Amdal, UKL-UPL, SPPL) harus disarankan dalam produk perencanaan sesuai kriteria wajibnya.

II.5.

Pertimbangan Sosial Budaya

 

Pertimbangan sosial budaya menjadi hal penting yang juga harus diperhitungkan dalam perencanaan sungai dengan mempertimbangkan hal sebagai berikut:

1. Setiap kegiatan pembangunan pada umumnya akan berpengaruh terhadap kondisi sosial budaya masyarakat. Besar kecilnya pengaruh terhadap masyarakat banyak ditentukan oleh besar kecilnya skala pembangunan dan jenis pembangunan itu sendiri.

2. Pada kondisi tertentu masyarakat belum tentu bisa menerima sepenuhnya pembangunan tersebut, tetapi di sisi lain masyarakat sangat memerlukan pembangunan. Sebagai contoh misalnya sungai dimanfaatkan sebagai sarana transportasi, biasanya masyarakat akan menolak apabila dibangun konstruksi perlindungan tebing dengan krib.

3. Pertimbangan

sosial

budaya

harus

menjadi

salah

satu

pertimbangan

dalam

perencanaan.

II.6.

Pertimbangan Ketersediaan lahan dan pemukiman kembali

 

Ketersediaan lahan kerap menjadi masalah dalam pelaksanaan konstruksi sehingga faktor ini seharusnya juga menjadi salah satu pertimbangan penting dalam proses perencanaan teknis. Pertimbangan dimaksud paling tidak meliputi hal sebagai berikut:

6

1.

Ketersediaan lahan dan status kepemilikan lahan yang berada pada lokasi rencana konstruksi termasuk rencana jalan akses, lokasi quarry maupun disposal area juga harus diinventarisasi dalam perencanaan detail persungaian.

2. Inventarisasi ketersediaan lahan dilengkapi dengan informasi kesediaan pemilik lahan untuk melepaskan hak-nya jika lahan akan menjadi bagian dari proyek konstruksi.

3. Dalam hal diperlukan pemukiman kembali (resettlement) dapat dilakukan studi tersendiri.

Tahapan Detail Design antara lain:

1. Topografi, mengumpulkan peta topografi skala 1:10.000 (sesuai skala pekerjaan, peta penampang memanjang dan melintang skala 1:200 s/d 1:500.

2. Hidrologi, perhitungan akhir untuk laporan perencanaan, menganalisa debit banjir setiap ruas sungai dan anak sungainya.

3. Hidrolika, menganalisa detail hidrolika final, menganalisa stabilitas bangunan sungai dan menganalisa bangunan pelengkap secara detail.

4. Geoteknik dan Mekanika Tanah, penyelidikan geoteknik detail dengan pemboran inti untuk bangunan utama, perhitungan parameter perencanaan geoteknik, perhitungan akhir untuk laporan perencanaan.

5. Perekayasaan: model tes untuk bangunan pelengkap, jika perlu; tinjau dan modifikasi perencanaan pendahuluan menjadi perencanaan detail; analisa detail stabilitas, geser, guling, amblas, erosi buluh; perencanaan detail saluran dan setiap bangunan pelengkap.

6. Aspek Multisektor: kerjasama dengan instansi terkait lainnya: Pemda, Bina Marga, dll. Cek ulang rencana penanganan dan posisi bangunan terkait sektor lainnya.

7. Produk Akhir (sesuai KAK) dapat berupa: laporan perencanaan detail, analisa perhitungan perencanaan, gambar rencana / design drawing, laporan tematik, rincian volume pekerjaan dan rencana angaran biaya,metode pelaksanaan danspesifikasi, dokumen tender dan manual OP, dokumentasi.

II.7.

Sistematika Laporan

Kerangka Laporan Akhir Penyusunan Rencana Teknik Detail / Detail Design Persungaian dilakukan sesuai dengan sistematika sebagai berikut :

1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan Studi

1.3 Ruang Lingkup Studi

1.3.1 Ruang Lingkup Wilayah Perencanaan

1.3.2 Ruang Lingkup Pekerjaan

2. Deskripsi Wilayah Perencanaan

2.1 Lokasi dan Delineasi Wilayah Perencanaan

2.2 Kondisi Fisik Wilayah Perencanaan

2.2.1. Luas Wilayah Perencanaan

2.2.2. Topografi, Geologi dan Mekanika Tanah

2.2.3. Kondisi Tanah dan Tata Guna Lahan Eksisting dan Perencanaan

2.2.4. Hidrologi dan Hidrogeologi

2.2.5. Sosial Ekonomi, Demografi dan Budaya

2.2.6. Lingkungan

2.3 Kondisi dan Permasalahan Yang Ada

2.3.1. Arahan Pola dan Rencana Pengelolaan SDA Terhadap Wilayah Perencanaan

2.3.2. Kondisi DAS/Sub DAS yang ada di Wilayah Perencanaan

7

2.3.3. Permasalahan banjir (dilengkapi data banjir meliputi luas, durasi dan kedalaman) dan/atau kerusakan tebing di wilayah Perencanaan (untuk permasalahan utama berupa banjir dilengkapi peta genangan banjir)

2.3.4.

Identifikasi Penyebab Banjir dan/atau kerusakan tebing

2.3.4.

Estimasi Kerugian Banjir dan/atau kerusakan tebing

3. Standar dan Kriteria Perencanaan

3.1 Dasar Perencanaan

3.2 Faktor-Faktor Perencanaan

3.3 Standar Perencanaan

3.4 Kriteria Hidrologi

3.4.1. Perhitungan Frekuensi Curah Hujan

3.4.2. Penentuan Debit Banjir Rencana

3.5 Kriteria Hidrolika

3.5.1. Perencanaan Sungai dan Bangunan Air

3.5.2. Analisis Kapasitas Sungai Eksisting

3.6 Spesifikasi Bahan dan Struktur Bangunan

3.6.1 Spesifikasi Bahan

3.6.2 Pembebanan

3.6.3 Struktur Bangunan

4. Analisis dan Perencanaan

4.1

Data dan Asumsi yang Digunakan

 

4.2

Resume Hasil Pengukuran Topografi dan/atau Bathimetri dan Pengukuran Situasi

4.3

Analisis Hidrologi

 

4.3.1 Penentuan Stasiun Pengamatan Hujan

4.3.2 Penentuan Stasiun Pencatat Debit

4.3.3 Analisa Curah Hujan

4.3.4.Perhitungan Debit Banjir Rencana

4.4

Analisis Hidrolika

4.4.1 Perhitungan Kapasitas Sungai Eksisting

4.4.2 Perhitungan Uji Kapasitas Eksisting

4.4.3 Resume Simulasi Modeling Kapasitas Sungai dengan Perangkat Lunak

4.4.4 Rekomendasi Desain Penampang Sungai

 

4.5

Analisis Struktur

4.5.1

Resume Hasil Penyelidikan Tanah

4.5.2 Perhitungan Struktur (Analisis Kestabilan Terhadap Guling, Kapasitas Daya Dukung Tanah)

Geser dan

4.5.3 Resume Simulasi Modeling Struktur dengan Perangkat Lunak

4.5.4 Analisa Umur Rencana Bangunan

4.6.

Perhitungan Volume Pekerjaan dan Rencana Anggaran Biaya

4.6.1 Perhitungan Volume Pekerjaan (Output dan Outcome)

4.6.2 Analisis Harga Satuan Bahan, Barang dan Jasa/Tenaga

4.6.3 Resume Perhitungan Biaya

4.7.

Analisis Ekonomi (B/C Ratio, IRR), Sosial, Budaya dan Lingkungan

5. Kesimpulan dan Rekomendasi

5.1 Kesimpulan

5.2 Rekomendasi

8

III.

PERENCANAAN PANTAI

III.1.

Umum

Dalam perencanaan bangunan pengaman pantai diperlukan pemahaman yang komprehensif atas proses-proses fisik yang terjadi di pantai (biasa dikenal dengan proses pantai), baik pada pantai alamiah maupun pada pantai yang telah terbangun atau direncanakan ada bangunan pengaman pantai. Proses-proses pantai yang kemungkinan terjadi dan bersifat dominan perlu dipahami dalam tahap-tahap desain bangunan pengaman pantai, meliputi transformasi gelombang, arus induksi gelombang (wave induced current), pasang surut, arus induksi pasang surut (tide induced current), transformasi sedimen pantai, perubahan morfologi pantai dan perubahan profil pantai.

Berdasarkan pemahaman terhadap proses pantai sebelum dan setelah ada struktur, konfigurasi bangunan pantai yang paling optimal dapat ditentukan. Proses pantai dimodelkan dengan model matematik sehingga memerlukan analisis numerik yang diselesaikan dengan program komputer. Untuk keperluan praktis telah tersedia perangkat lunak aplikasi gratis (free software) maupun berbayar (proprietary software) yang dapat memodelkan berbagai proses pantai dan dapat digunakan sebagai alat-alat (tools) bantu perencanaan detail bangunan pengaman pantai. Pada saat ini jarang perangkat lunak model numerik simulasi proses pantai baik yang berbayar maupun gratis yang tersedia dalam bentuk modul tunggal, misalnya hanya untuk simulasi gelombang atau arus saja, tetapi pada umumnya tersedia dalam bentuk paket (suite) dengan berbagai proses fisik yang dapat dipilih sesuai topik yang akan dimodelkan melalui antar muka pengguna grafis (GUI) yang mudah dan nyaman. Keuntungan penggabungan beberapa modul dalam satu paket sangat memudahkan pengguna, dimana pengguna tidak perlu keluar dari GUI tetapi ouput dari satu modul dapat langsung menjadi input kepada modul yang lain.

Setelah didapat konfigurasi bangunan pengaman pantai yang optimal serta lokasi yangg sesuai, tahap berikutnya adalah desain rinci bangunan pengaman pantai. Desain rinci bangunan pengaman pantai mengggunakan metoda-metoda empiris atau semi-empiris dibantu grafik dan tabel yang pada umumnya relatif mudah sehingga bisa dihitung dengan bantuan aplikasi lembar kerja (worksheet) seperti Excel. Meskipun relatif mudah, penggunaan perangkat lunak non model numerik untuk perencanaan rinci bangunan pengaman pantai juga telah umum digunakan.

Tahapan perencanaan bangunan pengaman pantai dilakukan dengan mengacu kepada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 07/PRT/M/2015 tentang Pengamanan Pantai yang secara sistematis disajikan dalam gambar berikut.

9

Tahapan Detail Design antara lain: 1. Topografi, mengumpulkan peta topografi skala 1:10000 (sesuai skala pekerjaan,

Tahapan Detail Design antara lain:

1. Topografi, mengumpulkan peta topografi skala 1:10000 (sesuai skala pekerjaan, peta penampang memanjang dan melintang skala 1:200 s/d 1:500.

2. Hidro-oseanografi, perhitungan akhir untuk laporan perencanaan, menganalisa angin, gelombang dan gelombang rencana.

3. Mekanika Tanah, penyelidikan Mekanika Tanah dengan pemboran untuk bangunan pelindung pantai, perhitungan parameter perencanaan mekanika tanah, perhitungan akhir untuk laporan perencanaan.

4. Perekayasaan: model tes untuk bangunan utama dan penunjang, jika perlu; tinjau dan modifikasi perencanaan pendahuluan menjadi perencanaan detail; analisa detail stabilitas, geser, guling, amblas, perencanaan detail bangunan penunjang (cth. cross drain.)

5. Aspek Multisektor: kerjasama dengan instansi terkait lain: Pemda, Bina Marga, dll. Cek ulang rencana penanganan dan posisi bangunan terkait sektor lainnya atau aset milik sektor lainnya.

6. Produk Akhir: laporan perencanaan detail, analisa perhitungan perencanaan, gambar rencana / design drawing, rincian volume pekerjaan dan rencana angaran biaya, metode pelaksanaan dan spesifikasi, dokumen tender dan manual OP.

10

III.2.

Pertimbangan Umum

1. Studi kelayakan pengamanan pantai

a. Kelayakan ekonomi, sosial, dan lingkungan

b. Kesiapan masyarakat untuk menerima rencana kegiatan

c. Keterpaduan antarsektor

d. Kesiapan pembiayaan dan

e. Kesiapan kelembagaan.

2. Penyusunan program pengamanan pantai Penyusunan program pengamanan pantai mengacu pada studi kelayakan pengamanan pantai sesuai dengan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai dan rencana zonasi wilayah pesisir. Dalam hal rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai dan rencana zonasi wilayah pesisir belum ditetapkan, pelaksanaan pengamanan pantai dilakukan berdasarkan zona pengamanan pantai.

III.3.

Pertimbangan Teknis

1. Perencanaan detail pengamanan pantai;

2. Pelaksanaan pengamanan pantai;

3. Operasi dan pemeliharaan bangunan pengaman pantai;

4. Pengelolaan barang milik negara/barang milik daerah berupa bangunan pengaman pantai;

5. Pembiayaan pengamanan pantai; dan

6. Peran masyarakat.

III.4.

Sistematika Laporan

Kerangka Laporan Akhir Penyusunan Rencana Teknik Detail / DED Pengamanan Pantai dilakukan sesuai dengan sistematika sebagai berikut:

1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan Studi

1.3 Ruang Lingkup Studi

1.3.1 Ruang Lingkup Wilayah Perencanaan

1.3.2 Ruang Lingkup Pekerjaan

2. Deskripsi Wilayah Perencanaan

2.1 Lokasi dan Delineasi Wilayah Perencanaan

2.2 Kondisi Fisik Wilayah Perencanaan

2.2.1. Luas Wilayah Perencanaan

2.2.2. Topografi dan Mekanika Tanah

2.2.3. Kondisi Tanah dan Tata Guna Lahan Eksisting dan Perencanaan

2.2.4. Hidro-oseanografi

2.2.5. Sosial Ekonomi, Demografi dan Budaya

2.2.6. Lingkungan

2.3 Kondisi dan Permasalahan Yang Ada

2.3.1. Arahan Pola dan Rencana Pengelolaan SDA Terhadap Wilayah Perencanaan

2.3.2. Kondisi Coastal Cell yang ada di Wilayah Perencanaan

2.3.3. Permasalahan abrasi / erosi, gelombang tinggi dan/atau pendangkalan

muara (dilengkapi panjang garis pantai yang mengalami kerusakan (dalam satuan Km) serta peta perubahan garis pantai)

2.3.4.

Identifikasi Penyebab Permasalahan Pantai

2.3.4.

Estimasi Kerugian Akibat Permasalahan Pantai

11

3. Standar dan Kriteria Perencanaan

3.1 Dasar Perencanaan

3.2 Faktor-Faktor Perencanaan

3.3 Standar Perencanaan

3.4 Pengembangan Alternatif

3.5 Tata Letak

3.6 Bentuk Bangunan Pengaman Pantai

3.7 Material

3.8 Pertemuan Konsultasi Publik (PKM)

4. Analisis dan Perencanaan

4.1

Data dan Asumsi yang Digunakan

 

4.2

Resume Hasil Pengukuran Topografi dan/atau Bathimetri dan Pengukuran Situasi

4.3

Analisis Hidro-oceanografi

 

4.4

Pemilihan Alternatif Pengamanan Pantai

4.4.1 Perlindungan Buatan

4.4.2 Perlindungan Alami

4.4.3 Adaptasi

4.5

Analisis Struktur

4.5.1

Resume Hasil Penyelidikan Tanah

4.5.2 Perhitungan Struktur (Analisis Kestabilan Terhadap Guling, Kapasitas Daya Dukung Tanah)

Geser dan

4.5.3 Resume Simulasi Modeling Struktur dengan Perangkat Lunak

 

4.5.4 Analisa Umur Rencana Bangunan

4.6.

Perhitungan Volume Pekerjaan dan Rencana Anggaran Biaya

4.6.1

Perhitungan Volume Pekerjaan (Kuantitas) dan Outcome

4.6.2

Analisis Harga Satuan Bahan, Barang dan Jasa/Tenaga

4.6.3

Metoda Pelaksanaan, Spesifikasi Teknis dan Gambar Rencana

4.6.3

Resume Perhitungan Biaya

4.7.

Analisis Ekonomi (B/C Ratio, IRR), Sosial, Budaya dan Lingkungan

 

5. Kesimpulan dan Rekomendasi

5.1 Kesimpulan

5.2 Rekomendasi

IV. Perencanaan Bangunan Pengendali Sedimen / Sabo IV.1. Umum

Dam Sabo (Dam Pengendali Sedimen) adalah bangunan air melintang sungai, bekerja dalam satu sistem pengendalian untuk mengelola aliran sedimen agar tidak menimbulkan kerugian di bagian hilir. Dalam satu sistem pengendalian, Dam Sabo berperan paling dominan dengan fungsi-fungsi menampung, menahan dan mengontrol sedimen. Sementara dari aspek keseimbangan sedimen dalam Sistem Sabo (Sabo Works), fungsi dam Sabo berkontribusi dalam mereduksi produksi sedimen, mereduksi jumlah sedimen dan mengontrol sedimen.

Pengaruh dam sabo pada aliran sungai dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Pada alur yang curam dam sabo melandaikan dasar sungai sehingga mencegah berkembangnya erosi vertikal dasar sungai. 2) Mengontrol arah aliran sehingga mencegah proses erosi lateral dasar sungai.

12

3) Menambah stabilitas kaki bukit sehingga mencegah longsoran. 4) Menangkap (store) dan mengendalikan (control) sejumlah sedimen yang datang bersama aliran debris atau lahar, sehingga mereduksi aliran sedimen ke hilir.

Pada prinsipnya perencanaan bangunan pengendali sedimen dilaksanakan sesuai SNI 2851:2015 tentang Desain Bangunan Penahan Sedimen dimana pada standar ini ditetapkan ketentuan mengenai desain bangunan penahan sedimen yang meliputi ketentuan dan persyaratan, data dan informasi yang diperlukan serta perhitungan untuk desain bangunan penahan sedimen (BPS).

Untuk perencanaan bangunan penahan sedimen diperlukan:

A. Peta

1)

Peta topografi 1:50.000 atau lebih detail. Peta topografi digunakan untuk menentukan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan mencari stasiun-stasiun penakar

hujan yang bersangkutan dalam peta.

2)

Peta situasi sungai dengan skala 1:5.000, atau lebih detail. Peta dengan skala lebih besar digunakan untuk pembuatan desain rinci.

3)

Peta geologi atau peta daerah longsoran (skala 1:250.000 atau lebih detail) untuk mengetahui daerah-daerah sumber deposit sedimen.

B. Data Hidrologi

Data hidrologi untuk menentukan debit desain periode ulang untuk pelimpah 100 tahun (Q100), dalam perencanaan bangunan penahan sedimen dibagi menjadi dua macam (penjelasan secara rinci dapat dilihat pada SNI 03-2401-2004), yaitu:

a) dengan menggunakan data debit sungai hasil pengukuran langsung;

b) dengan menggunakan data hujan

C. Data Debit Sungai Hasil Pengukuran Langsung Data ini adalah data debit sungai hasil survei dan penyelidikan hidrometri dengan melakukan pengukuran kecepatan aliran di lapangan dan/atau hasil perhitungan hidraulik sungai dengan menggunakan rumus-rumus atau persamaan hidraulik sungai.

D. Data Hujan Data hujan dipergunakan apabila data debit sungai yang tersedia tidak cukup panjang, tetapi data hujan yang tersedia cukup panjang maka berdasarkan data hujan yang ada terlebih dahulu dihitung hujan rencana dengan menggunakan cara-cara statistik. Kemudian debit desain dihitung dengan menggunakan metode-metode atau

pedoman yang berlaku.

E. Data Geoteknik dan Peta Zona Kegempaan

Data geoteknik yang diperlukan untuk desain bangunan penahan sedimen di antaranya:

a) Sifat fisik tanah dan batuan di sekitar calon lokasi bangunan penahan sedimen meliputi: berat jenis, berat isi, kadar air, konsistensi dan angka kelulusan air (k), serta gradasi butiran.

b) Sifat teknik tanah dan batuan meliputi: parameter kekuatan geser (c, f’), parameter deformasi (E, Cc, cV ,nv,) dan parameter keadaan tegangan (state of stress) (gm, gd, gs, h, K0).

c) Profil pelapisan yang akan memberikan informasi mengenai lapisan tanah/batuan.

d) Peta zona kegempaan untuk menentukan besarnya koefisien seismik.

F. Data Geometri Sungai Data geometri sungai yang diperlukan untuk desain bangunan penahan sedimen di antaranya: bentuk dan ukuran dasar sungai terdalam, alur, palung dan lembah sungai

13

secara vertikal dan horizontal (penampang melintang dan memanjang sungai), mencakup parameter: panjang, lebar, kemiringan, ketinggian dan kekasaran.

G. Data Bangunan Data bangunan sungai di hulu dan di hilirnya yang akan berpengaruh terhadap bangunan penahan sedimen yang akan didesain.

H. Data Morfologi Sungai

Data dan informasi morfologi sungai yang diperlukan antara lain dengan memperhatikan faktor-faktor sebagi berikut:

a) Bentuk dan ukuran alur, palung, lembah.

b) Kemiringan dasar sungai: sungai terjal dan landai.

c) Lokasi daerah aliran: hulu, tengah, hilir, pegunungan dan dataran.

d) Jenis, sifat lapisan dan material dasar sungai, tebing dan lembah.

e) Perubahan geometri sungai ke arah vertikal: sungai beragradasi, sungai berdegradasi, stabil dinamik.

f) Perubahan geometri sungai ke arah horizontal: sungai berliku, lurus, berjalin.

g) Degradasi atau penurunan dasar alur dan atau palung sungai dengan parameter: panjang, lebar dan dalam.

h) Agradasi/sedimentasi atau peninggian dasar alur dan atau palung sungai dengan parameter: panjang, lebar dan dalam.

i) Data sedimen dan angkutan sedimen.

I. Data Bahan BPS

Pemilihan bahan yang akan digunakan untuk bangunan penahan sedimen dan kelengkapannya perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a) Sumber dan jumlah yang tersedia.

b) Jenis dan ketahanan umur.

c) Sifat fisik dan teknik bahan bangunan penahan sedimen yang terdiri dari: berat jenis, berat volume, gradasi butiran, keausan dan kekasaran, sifat pemadatan, kekuatan geser, persyaratan kualitas, kemudahan pengerjaan dan nilai ekonomis.

IV.2.

Sistematika Laporan

Kerangka Laporan Akhir Penyusunan Rencana Teknik Detail / DD Bangunan Pengendali Lahar/Sedimen dilakukan sesuai dengan sistematika sebagai berikut:

1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan Studi

1.3 Ruang Lingkup Studi

1.3.1 Ruang Lingkup Wilayah Perencanaan

1.3.2 Ruang Lingkup Pekerjaan

2. Deskripsi Wilayah Perencanaan

2.1 Lokasi dan Delineasi Wilayah Perencanaan

2.2 Kondisi Fisik Wilayah Perencanaan

2.2.1. Luas Wilayah Perencanaan

2.2.2. Topografi, Geologi dan Mekanika Tanah

2.2.3. Kedalaman Erosi Dasar dan Tebing Sungai

2.2.4. Hidrologi dan Hidrogeologi

2.2.5. Sosial Ekonomi, Demografi dan Budaya

2.2.6. Lingkungan

14

2.3

Kondisi dan Permasalahan Yang Ada

2.3.1.

Arahan Pola dan Rencana Pengelolaan SDA Terhadap Wilayah Perencanaan

2.3.2.

Kondisi DAS/Sub DAS yang ada di Wilayah Perencanaan

2.3.3.

Permasalahan sedimen / banjir debris dilengkapi jumlah potensi sedimen (dalam juta m 3 ) serta peta sebaran potensi sedimen

2.3.4.

Identifikasi Penyebab Sedimen

2.3.4.

Estimasi Kerugian akibat bencana sedimen

3. Standar dan Kriteria Perencanaan

3.1 Dasar Perencanaan (Sabo Basic Point)

3.2 Faktor-Faktor Perencanaan

3.3 Standar Perencanaan (Sabo System)

3.4 Kriteria Hidrologi

4. Analisis dan Perencanaan

4.1

Data dan Asumsi yang Digunakan

4.2

Resume Hasil Pengukuran Topografi dan Pengukuran Situasi

4.3

Analisis Debit Desain

4.3.1 Debit Air Puncak

4.3.2 Debit Air Dengan Sedimen

4.3.3 Debit Puncak Aliran Debris

4.3.4.Kecepatan Aliran dan Tinggi Aliran Debris

4.4

Analisis Desain Pelimpah

4.4.1 Lebar Ambang Pelimpah

4.4.2 Tinggi Aliran Rencana Untuk Debit Desain

4.4.3 Tinggi Jagaan Pada Debit Desain

4.4.4 Tinggi Pelimpah dan Kontrol Terhadap Debit Puncak Aliran Debris

4.5

Analisis Stabilitas Dam Utama

4.5.1 Syarat Stabilitas Tubuh Dam

4.5.2 Desain Gaya Yang Bekerja

4.5.3 Analisa Stabilitas Tubuh Dam

4.6.

Analisis Desain Pondasi Dam

4.6.1 Perbaikan Pondasi

4.6.2 Penetrasi Pondasi Dalam Tanah

4.6.3 Koperan (Cut-off)

4.7.

Analisis Desain Sayap Dam

4.8.

Analisis Desain Lubang Alir

4.9.

Analisis Bangunan Pendukung

4.9.1 Sub-Dam Sabo

4.9.2 Apron

4.9.3 Dinding Vertikal

4.10. Analisis Proteksi Depan Bangunan

4.11. Kanalisasi

4.12. Pelindung Tebing

4.13. Ambang Dasar (Groundsil)

4.14. Krib

4.15. Perhitungan Volume Pekerjaan dan Rencana Anggaran Biaya

4.15.1

Perhitungan Volume Pekerjaan (Kuantitas) dan Outcome

4.15.2

Analisis Harga Satuan Bahan, Barang dan Jasa/Tenaga

4.15.3

Metoda Pelaksanaan, Spesifikasi Teknis dan Gambar Rencana

4.15.3

Resume Perhitungan Biaya

15

4.15.4 Umur Rencana Bangunan

4.16. Analisis Ekonomi (B/C Ratio, IRR), Sosial, Budaya dan Lingkungan

5. Kesimpulan dan Rekomendasi

5.1 Kesimpulan

5.2 Rekomendasi

V. Perencanaan Drainase Perkotaan V.1. Umum

Penyusunan perencanaan drainase perkotaan mengikuti aturan sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12 Tahun 2014 tentang Sistem Drainase Perkotaan

A. Penyusunan Rencana Induk / Master Plan Rencana induk sistem drainase perkotaan berwawasan lingkungan adalah perencanaan dasar drainase yang menyeluruh dan terarah, pada suatu daerah perkotaan yang mencakup perencanaan jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang Kota. Rencana Induk disusun memperhatikan:

Kondisi topografi, rencana pengembangan kota dan rencana prasarana dan sarana kota lainnya.

Keterpaduan pelaksanaan fisiknya dengan prasarana dan sarana kota lainnya, sehingga dapat meminimalkan biaya pelaksanaan, biaya operasional dan pemeliharaannya.

Ketersediaan air tanah, air permukaan, kekeringan dan banjir yang mungkin terjadi.

Kelestarian lingkungan hidup perkotaan terkait dengan ketersediaan air tanah maupun air permukaan.

Partisipasi masyarakat yang berbasis pada kearifan lokal. Ketergantungan dengan rencana induk lainnya dalam rangka pengembangan rencana induk tata kota untuk arahan pembangunan sistem drainase di daerah perkotaan yang mencakup perencanaan jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang Kota, dan dapat dilakukan peninjauan kembali disesuaikan dengan keperluan.

Tahapan Rencana Induk antara lain:

1) Topografi, mengumpulkan data hidrologi, misalnya foto udara skala 1:25.000, peta topografi skala 1:10.000 s/d 50.000. 2) Hidrologi, mengumpulkan data lapangan mengenai banjir, genangan air. Mengunjungi dan memeriksa tempat-tempat pengukuran debit banjir dan curah hujan. Menganalisis frekuensi banjir, memperkirakan sedimen, limpasan air hujan dan erosi. 3) Hidrolika, mengasumsi dasar hidrolika secara umum, misalnya rencana dimensi saluran, kapasitas existing saluran dan dimensi bangunan pelengkap.

Geoteknik dan Mekanika Tanah, mempelajari peta geologi regional. Memperkirakan

4)

parameter perencanaan geoteknik, menilai awal kesediaan bahan bangunan. 5) Perekayasaan, membuat garis besar perencanaan dengan sketsa tata letak & uraian pekerjaan skala 1:25.000 dan memperkirakan stabilitas kasar bangunan pelengkap. 6) Aspek Multisektor, sinergi dengan tata ruang dan tata guna lahan, sinergi dengan rencana induk kota, sinergi dengan kebijakan Pemda dan mengendalikan dampak

16

lingkungan. 7) Produk Akhir, gambar dasar (basic design), isi laporan rencana induk, arah trase saluran, lokasi alternatif bangunan pelengkap, modul drainase kasar, luas daerah tergenang dan daerah dikeringkan, program pelaksanaan, skala prioritas, perkiraan biaya, prakelayakan untuk sosial, ekonomi dan teknis.

8)

Tingkat Ketelitian untuk teknis 60% dan ekonomi 70%.

Feasibility Study

Tahapan Feasibility Study antara lain:

1) Topografi, mengumpulkan data hidrologi, misalnya foto udara skala 1:10.000, atau peta topografi skala 1:5.000, peta lokasi bangunan utama atau bangunan besar. 2) Hidrologi, mengumpulkan data lapangan mengenai banjir, genangan air. Mengunjungi dan memeriksa tempat-tempat pengukuran debit banjir dan curah hujan. Menganalisis frekuensi banjir, memperkirakan sedimen, limpasan air hujan dan erosi. 3) Hidrolika, menganalisis hidrolika saluran pendahuluan, menganalisis hidrolika bangunan pendahuluan.

Geoteknik dan Mekanika Tanah, menyelidiki untuk lokasi bangunan pelengkap dengan

pemboran, mengambil contoh tanah pada beberapa tempat sebagai sampel sepanjang trase saluran dan lokasi bangunan dan menyelidiki bahan bangunan yang akan digunakan, lokasi, kualitas pekerjaan dan volumenya. Melakukan uji lab contoh tanah terpilih untuk mengetahui sifat tanah. 5) Perekayasaan, membuat rencana pendahuluan tata letak saluran dan bangunan, tipe bangunan pelengkap dan perencanaannya, menganalisis stabilitas pendahuluan bangunan pelengkap dan menganalisis pendahuluan kapasitas saluran, bangunan pelengkap. Mengecek trase saluran & elevasi saluran setiap 500 m, melakukan rincian volume pekerjaan dan biaya pendahuluan. 6) Aspek Multisektor, sinergi dengan tata ruang dan tata guna lahan, sinergi dengan rencana induk kota, sinergi dengan kebijakan Pemda, dan mengendalikan dampak

4)

lingkungan serta mengidentifi kasi komponen drainase perkotaan dengan sektor lainnya.

7) Produk Akhir, perencanaan pendahuluan (preliminary design), modul drainase detail, mengecek ulang daerah tergenang dan daerah yang akan dikeringkan, tata letak pendahuluan saluran dan bangunan pelengkap skala 1:25.000 dan 1:5000, gambar dari tipe bangunan pelengkap, rincian volume biaya (BOQ), kelayakan dari sosial, ekonomi, teknis, BCR, IRR, NPV dan laporan Amdal.

8)

Tingkat Ketelitian untuk teknis 75% dan ekonomi 90%.

B. Penyusunan Rencana Detail / Detail Engineering Design Proses penyusunan rencana induk drainase perkotaan perlu memperhatikan:

Sistem drainase yang ada (existing drainage).

Pekerjaan drainase yang sedang dilaksanakan (on going project).

Perencanaan drainase yang ada (existing plans).

Proses penanganan pekerjaan Existing dan New Plans.

Proses penangan perencanaan drainase baru untuk kota metropolitan, kota besar dan kota yang mempunyai nilai strategis harus melalui penyusunan: i) Rencana Induk Sistem Drainase (Drainage Master Plan), ii) Studi Kelayakan (feasibility study), iii) Detailed Engineering Design (DED) dan iv) implementation.

Proses penanganan perencanaan drainase baru untuk kota sedang dan kota kecil harus melalui penyusunan: i) outline plan, ii) detail engineering design (DED) dan iii) implementation.

17

Untuk kota yang telah mempunyai master plan atau outline plan, karena perkembangan kota yang demikian cepat akibat urbanisasi atau sebab lain, maka sebelum menyusun master plan baru atau outline plan baru, perlu mengevaluasi dengan seksama master plan atau outline plan yang ada sebelum memutuskan menyusun master plan atau outline plan baru.

Tahapan Detail Design antara lain:

Topografi, mengumpulkan peta topografi skala 1:2000, peta penampang memanjang

dan melintang skala 1:100 s/d 1:200. 2) Hidrologi, perhitungan akhir untuk laporan perencanaan, menganalisa debit banjir setiap ruas saluran. 3) Hidrolika, menganalisa detail hidrolika final, menganalisa stabilitas saluran dan menganalisa bangunan pelengkap secara detail.

1)

1) Geoteknik dan Mekanika Tanah, penyelidikan geoteknik detail dengan pemboran

2)

untuk bangunan pelengkap, perhitungan parameter perencanaan geoteknik, perhitungan akhir untuk laporan perencanaan. Perekayasaan: model tes untuk bangunan pelengkap, jika perlu; tinjau dan modifikasi

4)

perencanaan pendahuluan menjadi perencanaan detail; analisa detail stabilitas, geser, guling, amblas, erosi buluh; perencanaan detail saluran dan setiap bangunan pelengkap; rincian volume pekerjaan dan estimasi anggaran biaya; tender dokumen; metode pelaksanaan dan manual OP. Aspek Multisektor: kerjasama dengan instansi terkait lain: Pemda, jalan. Cek ulang arah

3)

saluran dan posisi bangunan terkait sektor lainnya. Produk Akhir: laporan perencanaan detail, analisa perhitungan perencanaan, gambar

4)

pelaksanaan/gambar bestek, rincian volume pekerjaan dan rencana angaran biaya, metode dan program pelaksanaan, dokumen tender dan manual SOP. Tingkat Ketelitian untuk teknis 90% dan ekonomi 95%.

V.2.

Sistematika Laporan

A. Rencana Induk

Kerangka Laporan Akhir Penyusunan Rencana Induk Sistem Drainase Perkotaan, dilakukan sesuai dengan sistematika sebagai berikut:

1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan Studi

1.3 Ruang Lingkup Studi

1.3.1 Ruang Lingkup Spasial

1.3.2 Ruang Lingkup Material

2. Deskripsi Daerah Studi

2.1 Lokasi

2.2 Kondisi Fisik Daerah Studi

2.2.1. Luas Daerah Studi

2.2.2. Topografi dan Geologi

2.2.3. Kondisi Tanah dan tata Guna Lahan

2.2.4. Hidrologi dan Hidrogeologi

2.3 Kondisi Sosekbudkesmas

2.3.1. Demografi

2.3.2. Kegiatan ekonomi

18

2.3.3. Budaya dan adat istiadat

2.3.4. Kesehatan Masyarakat

2.4 Kondisi dan Permasalahan Drainase yang Ada

2.4.1 Kondisi Sistem Drainase yang Ada

2.4.2 Permasalahan drainase (genangan, sampah, sedimentasi, operasi dan pemeliharaan, penegakan hukum, dll)

2.4.3 Identifikasi Penyebab Banjir

2.5 Perkiraan Pengembangan Yang Akan Datang

2.5.1 Proyeksi penduduk

2.5.2 Rencana Tata Ruang Wilayah

2.5.3 Rencana Pengembangan Infrastruktur Kota

3. Standar dan Kriteria Perencanaan

3.1

Standar yang digunakan

3.2

Kriteria Hidrologi

3.3

kriteria Hidrolika

3.4

Kriteria Kesehatan

3.6

Kriteria Lingkungan

3.7

Kriteria Sosial Ekonomi

4. Analisis dan Perencanaan

4.1

Pengumpulan Data

4.2

Inventarisasi Sistem Drainase dan Bangunan Pendukungnya

4.3

Evaluasi Sistem Drainase Eksisting

4.3.1 Analisis Hidrologi

4.3.2 Analisis Hidrolika

4.3.3 Simpulan Hasil Evaluasi

4.4

Perencanaan Sistem Drainase

4.4.1 Pembagian Sistem, Sub Sistem Drainase

4.4.2 Analisis Debit Banjir Kondisi Mendatang tanpa fasilitas Pemanenan Air Hujan (PAH)

4.4.3 Analisis Debit Banjir Kondisi Mendatang dengan fasilitas Pemanenan Air Hujan (PAH)

4.4.4 Penyusunan Sistem Drainase dengan Optimalisasi Sistem Drainase yang Ada

4.4.5 Analisis Biaya (Investasi dan OP)

4.5.

Penyusunan Skala Prioritas Untuk Studi Selanjutnya, Rencana Rinci dan Pelaksanaan

4.6.

Penyusunan Rencana Implementasi

4.7.

Penyusunan SOP

4.8.

Penyiapan Institusi dan Kelembagaan

B.

Rencana Teknik Detail / DED

Kerangka Laporan Akhir Penyusunan Rencana Teknik Detail Sistem Drainase Perkotaan dilakukan sesuai dengan sistematika sebagai berikut:

1.

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan Studi

1.3 Ruang Lingkup Studi

1.3.1 Ruang Lingkup Wilayah Perencanaan

1.3.2 Ruang Lingkup Pekerjaan

19

2.

Deskripsi Wilayah Perencanaan

2.1 Lokasi dan Delineasi Wilayah Perencanaan

2.2 Kondisi Fisik Wilayah Perencanaan

2.2.1. Luas Wilayah Perencanaan

2.2.2. Topografi dan Geologi

2.2.3. Kondisi Tanah dan Tata Guna Lahan Eksisting dan Perencanaan

2.2.4. Hidrologi dan Hidrogeologi

2.3 Kondisi dan Permasalahan Drainase Yang Ada

2.3.1. Arahan Rencana Induk Sistem Drainase Terhadap Wilayah Perencanaan

2.3.2. Kondisi Sub Sistem Drainase yang Ada di Wilayah Perencanaan

2.3.3. Permasalahan drainase, banjir dan genangan di wilayah Perencanaan (mengindikasikan secara detail, luas, durasi dan kedalaman genangan)

2.3.4. Identifikasi Penyebab Banjir/Genangan

3. Standar dan Kriteria Perencanaan

3.1 Dasar Perencanaan

3.2 Faktor-Faktor Perencanaan

3.3 Standar Perencanaan

3.4 Kriteria Hidrologi

3.4.1. Perhitungan Frekuensi Curah Hujan

3.4.2. Penentuan Debit Banjir Rencana (Metode Rational dan Metode Unit Hidrograf)

3.5 Kriteria Hidrolika

3.5.1. Perencanaan Saluran dan Bangunan Air

3.5.2. Analisis Kapasitas Eksisting

3.6 Spesifikasi Bahan dan Struktur Bangunan

3.6.1 Spesifikasi Bahan

3.6.2 Pembebanan

3.6.3 Struktur Bangunan

4. Analisis dan Perencanaan

4.1 Data dan Asumsi yang Digunakan

4.2 Resume Hasil Pengukuran Topografi dan/atau Bathimetri dan Pengukuran Situasi

4.3 Analisis Hidrologi

4.3.1 Penentuan Stasiun Pengamatan Hujan

4.3.2 Penentuan curah Hujan Rencana

4.3.3 Analisis Frekuensi Curah Hujan Rencana

4.3.4 Penentuan Intensitas Curah Hujan Rencana yang Digunakan

4.3.5 Perhitungan Koefisien Pengaliran

4.3.6 Perhitungan Waktu Konsentrasi

4.3.7 Perhitungan Debit Banjir Rencana

4.4 Analisis Hidrolika

4.4.1 Perhitungan Kapasitas Saluran Eksisting

4.4.2 Perhitungan Uji Kapasitas Eksisting

4.4.3 Perhitungan Dimensi Saluran Rencana (penampang saluran terbaik dan ekonomis)

4.4.4 Resume Simulasi Modeling Kapasitas Saluran dengan Perangkat Lunak

4.4.5 Rekomendasi Desain Tipikal Saluran

4.5 Analisis Struktur

4.5.1 Resume Hasil Penyelidikan Tanah

20

4.5.2 Perhitungan Struktur (Analisis Kestabilan Terhadap Guling, Kapasitas Daya Dukung Tanah

4.5.3 Resume Simulasi Modeling Struktur Saluran dengan Perangkat Lunak

Geser dan

4.6. Perhitungan Volume Pekerjaan dan Rencana Anggaran Biaya

4.6.1 Perhitungan Volume Pekerjaan (Kuantitas) dan Outcome

4.6.2 Analisis Harga Satuan Bahan, Barang dan Jasa/Tenaga

4.6.3 Resume Perhitungan Biaya

5. Kesimpulan dan Rekomendasi

5.1 Kesimpulan

5.2 Rekomendasi

21