Anda di halaman 1dari 25

Penelitian Kecil

DISTRIBUSI PENDERITA KARSINOMA NASOFARING

DI RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2011-2013

Oleh

A.A. Gde Bagus Tri Kesuma

PPDS 1 Ilmu Kesehatan THT-KL Fakultas Kedokteran

Universitas Udayana /RSUP Sanglah Denpasar

____________________________________________________________________________
__

ABSTRAK

Tujuan : Mengetahui penderita karsinoma nasofaring di Bagian THT-KL RSUP Sanglah


Denpasar, periode Januari 2011-Desember 2013.

Metode : Penelitian ini bersifat deskritif dengan mengumpulkan data dari kunjungan atau register
penderita karsinoma nasofaring yang datang ke poli THT-KL RSUP Sanglah Denpasar dan data
dari bagian Patologi Anatomi RSUP Sanglah Denpasar.

Hasil : Distribusi penderita karsinoma nasofaring tertinggi pada tahun 2012 sebanyak 82 orang
dari jumlah total penderita karsinoma nasofaring. Distribusi penderita karsinoma nasofaring
berdasarkan jenis kelamin ditemukan pada tahun 2011 terbanyak pada laki-laki 51 orang
(68,00%), pada tahun 2012 laki-laki sebanyak 50 orang (60,98%) dan pada tahun 2013 juga
terbanyak pada laki-laki 43 orang (67,18%). Distribusi penderita karsinoma nasofaring paling
banyak dijumpai pada kelompok umur 41-50 tahun yaitu tahun 2011 sebanyak 29 orang (38,66).
Distribusi penderita karsinoma nasofaring berdasarkan stadium paling banyak dijumpai pada
stadium III dimana pada tahun 2011 sebanyak 22 orang (29,33%), tahun 2012 sebanyak 25 orang
(30,49%) dan pada tahun 2013 sebanyak 19 orang (29,69%). Distribusi stadium penderita
karsinoma nasofaring berdasrkan jenis kelamin ditemukan pada stadium III lebih banyak pada
laki-laki daripada perempuan pada setiap tahunnya. Penderita karsinoma nasofaring berdasarkan
hasil Patologi Anatomi didapatkan paling banyak pada klasifikasi WHO-3 yaitu pada tahun 2011
sebesar 72 (96%), tahun 2012 sebesar 76 (92,68%) dan tahun 2013 sejumlah 62 (96,88%)

Kesimpulan : Distribusi penderita karsinoma nasofaring tertinggi pada tahun 2012 sebanyak 82
orang dari jumlah total penderita karsinoma nasofaring. Distribusi penderita karsinoma
nasofaring berdasarkan jenis kelamin ditemukan pada tahun 2011 terbanyak pada laki-laki 51
orang (68,00%), tahun 2012 pada laki-laki sebanyak 50 orang (60,98%) dan pada tahun 2013
juga terbanyak pada laki-laki sebesar 43 orang (67,18%). Distribusi penderita karsinoma

1
nasofaring paling banyak dijumpai pada kelompok umur 41-50 tahun yaitu pada tahun 2011
sebanyak 29 orang (38,66%). Distribusi penderita karsinoma nasofaring berdasarkan stadium
paling banyak dijumpai pada stadium III dimana pada tahun 2011 sebanyak 22 orang (29,33%),
tahun 2012 sebanyak 25 orang (30,49%) dan tahun 2013 sebanyak 19 orang (29,69%). Distribusi
stadium penderita karsinoma nasofaring berdasarkan jenis kelamin ditemukan pada stadium III
lebih banyak pada laki-laki daripada perempuan pada setiap tahunnya. Penderita karsinoma
nasofaring berdasarkan hasil Patologi Anatomi didapatkan paling banyak pada klasifikasi WHO-
3 yaitu tahun 2011 sebesar 72 (96,00%), tahun 2012 sebesar 76 (92,68%) dan tahun 2013
sejumlah 62 (96,88%).

Kata kunci : KNF, Stadium, Patologi Anatomi.

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Karsinoma nasofaring adalah keganasan pada nasofaring yang berasal dari epitel mukosa
nasofaring atau kelenjar yang terdapat di nasofaring dan pertama kali dilaporkan oleh Regaud
dan Schmincke pada tahun 1921.1 Karsinoma nasofaring berada dalam kedudukan lima besar
diantara keganasan lain bersama dengan kanker serviks, kanker payudara, tumor ganas getah
bening dan kanker kulit. Angka kejadian karsinoma nasofaring paling tinggi ditemukan di Asia
dan jarang ditemukan di Amerika dan Eropa, sedangkan angka kejadian di beberapa rumah sakit
besar di Indonesia seperti Jakarta, Semarang, Yogyakarta dan Surabaya menunjukkan bahwa
angka kejadian karsinoma nasofaring jauh diatas tumor ganas lainnya dibidang THT-KL.2

Di Indonesia angka kejadian karsinoma nasofaring hampir merata di setiap daerah, di


RSCM Jakarta ditemukan lebih dari 100 kasus setahun, RS Hasan Sadikin Bandung 60 kasus.
Berdasarkan data di poli THT RSUP Sanglah dari bulan Januari 2011 sampai dengan 2013,
tercatat 221 pasien karsinoma nasofaring baru dengan rentang usia 11 tahun sampai 80 tahun dan
kelompok umur terbanyak adalah 41-50 tahun.2

Menurut Chou dkk. angka kejadian karsinoma nasofaring paling tinggi terdapat di Cina
Selatan, suku Inuits di Alaska dan pada penduduk asli Greenland. Pada orang Kanton yang
tinggal di provinsi Guandong, Cina Selatan angka kejadiannya adalah 10-20 pria per 100.000
penduduk dan 5-10 wanita per 100.000 penduduk. Hepang dan Yu dkk. mengatakan bahwa
karena tingginya angka kejadian karsinoma nasofaring di propinsi tersebut maka karsinoma
nasofaring disebut juga tumor Kanton. Temuan ini membuktikan bahwa letak geografis, etnis,
genetik dan lingkungan berperan sebagai penyebab karsinoma nasofaring.3

Gejala awal yang sering ditemukan adalah hidung buntu, perdarahan dari hidung,
pendengaran menurun, tinitus dan sakit kepala. Pasien juga kadang-kadang datang dengan
keluhan benjolan atau massa pada leher. Penanggulangan karsinoma nasofaring sampai saat ini
masih merupakan suatu masalah. Hal ini disebabkan karena etiologi yang masih belum pasti,
gejala dini yang tidak khas, serta letak nasofaring yang tersembunyi sehingga diagnosis dini
sering terlambat.Kendala yang dihadapi dalam penanganan karsinoma nasofaring adalah bahwa
sebagian besar penderita datang pada stadium lanjut, bahkan sebagian lagi datang dengan
keadaan umum yang jelek. Sampai saat ini terapi yang memuaskan belum ditemukan.
Keberhasilan terapi sangat ditentukan oleh stadium karsinoma nasofaring.3,4

3
Sehubungan dengan pernyataan dan alasan yang dikemukakan diatas sehingga
mendorong kami melakukan penelitian untuk mengetahui distribusi penderita karsinoma
nasofaring di RSUP Sanglah Denpasar.

1.2 Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan diatas dapat dirumuskan
masalah penelitian yaitu bagaimana distribusi penderita karsinoma nasofaring di bagian THT-KL
RSUP Sanglah Denpasar periode 2011-2013.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan umum

Mengetahui distribusi penderita karsinoma nasofaring di bagian THT-KL RSUP Sanglah


Denpasar, periode Januari 2011-Desember 2013.

Tujuan khusus

1. Mengetahui distribusi penderita karsinoma nasofaring setiap tahunnya.

2. Mengetahui distribusi penderita karsinoma nasofaring berdasarkan jenis kelamin setiap

tahunnya.

3. Mengetahui distribusi penderita karsinoma nasofaring berdasarkan kelompok umur setiap

tahunnya.

4. Mengetahui distribusi penderita karsinoma nasofaring berdasarkan stadium setiap

tahunnya.

5. Mengetahui distribusi stadium karsinoma nasofaring berdasarkan jenis kelamin setiap

tahunnya.

6. Mengetahui distribusi penderita karsinoma nasofaring berdasarkan hasil histopatologi

setiap tahunnya.

4
1.4. Manfaat penelitian

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai masukkan dalam upaya

Meningkatkan pelayanan penatalaksanaan pada penderita karsinoma nasofaring di

RSUP Sanglah Denpasar.

2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai data dasar untuk

pengembangan keilmuan di bidang ilmu penyakit THT-KL.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi nasofaring

Nasofaring disebut juga epifaring atau rinofaring merupakan suatu ruang trapezoid di
belakang koana yang meluas ke inferior sampai batas bawah palatum mole. Batas superior
dibentuk oleh basis sphenoid dan basis occiput. Batas posterior dibentuk oleh fasia faringobasiler
merupakan satu-satunya batas jaringan lunak yang membentuk dinding lateral dari nasofaring..
Tuba Eustachius melintasi fasia ini pada kedua sisi lateral, ditutupi kartilago pada bagian
superior dan posterior. Bagian tulang rawan tuba Eustachius yang menonjol di atas ostium tuba
disebut torus tubarius.1,3

Fossa Rosenmuller merupakan struktur anatomi penting karena merupakan tempat


predileksi karsinoma nasofaring. Letaknya di supero-posterior dari torus tubarius terbentuk
cekungan kecil. Foramen sphenopalatina terletak di belakang ujung posterior dari konka media,
dibatasi tulang sphenoid di sisi inferior, prossesus sphenoid tulang palatina di sisi posterior,
prosesus ethmoid tulang palatina sendiri disisi inferior.1,3

Gambar 1. Anatomi Nasofaring.1

6
Kelenjar getah beningg regional kepala dan leher dibagi menjadi tujuh bagian sesuai
dengan letak anatominya, yaitu level I : submental dan submandibular; level II : jugularis
superior; level III : jugularis media; level IV : jugularis inferior; level V : segitiga posterior yang
dibentuk oleh spinal aksesorius dan sevikal transversal; level VI : prelaringeal, pretrakeal,
paratrakeal; level VII : mediastinum superior. Pembagiannya yang lain adalah kelenjar getah
bening di suboksipital, retrofaring, parafaring, businator, preaurikula, periparotis dan intraparotis.
Setiap pembesaran kelenjar getah bening leher harus diukur sebagai acuan menentukan stadium.5

(A) (B)

(C)

Gambar. Kelenjar getah bening regional kepala dan leher.5

7
A. Skema kelenjar getah bening regional leher sesuai pembagiannya.
B. Lokasi dari kelenjar getah bening di bukal, retroaurikula, preaurikula
dan intra parotis dan suboksipital.
C. Lokasi dari kelenjar getah bening retrofaring.

2.2. Etiologi

Banyak penelitian telah dilakukan di berbagai negara untuk mengetahui penyebab


karsinoma nasofaring, namun sampai sekarang penyebab utamanya belum diketahui dengan
pasti. Sampai saat ini disimpulkan bahwa penyebab karsinoma nasofaring multifaktor dimana
sering dihubungkan dengan adanya infeksi virus Epstein Barr, faktor genetik dan lingkungan.3,4

Virus Epstein Barr dapat masuk ke dalam tubuh dan menetap tanpa menyebabkan
kelainan dalam jangka waktu lama. Untuk mengaktifkan virus ini dibutuhkan suatu mediator
seperti volatile nitrosamin yang terkandung dalam ikan asin yang apabila dikonsumsi terus
menerus dapat meningkatkan resiko karsinoma nasofaring. Analisa genetik dari populasi
endemik menunjukkan hubungan Human Leukocyte Antigen (HLA) system antara lain HLA-A2,
HLA-B17, dan HLA HLA-BW 26 meningkatkan resiko karsinoma nasofaring samapi dua kali
lipat. Mutasi dari beberapa tipe HLA spesifik dan peran Epstein Barr virus sangat dominan
dalam perkembangan kejadian karsinoma nasofaring pada anak-anak. Pada tahun 1966 Old dkk
menemukan hubungan antara virus Epstein Barr dengan karsinoma nasofaring.5,6

Selama beberapa tahun, karsinoma nasofaring dilaporkan berhubungan dengan faktor


lingkungan dibandingkan dengan virus Epstein Barr. Paparan dari ikan asin dan makanan yang
mengandung volatile nitrosamine merupakan penyebab karsinoma nasofaring pada Cantonese.
Konsumsi ikan asin selama masa anak-anak berhubungan dengan peningkatan resiko karsinoma
nasofaring di Cina Timur. Paparan dari formaldehid pada udara dan debu kayu juga berhubungan
dengan peningkatan insiden karsinoma nasofaring.5,6

Karsinoma nasofaring tinggi pada orang yang merokok lebih dari sepuluh tahun atau
lebih. Penelitian Lin dkk yang dilakukan di Taiwan dengan hasil menunjukkan bahwa paparan
terlalu lama oleh rokok meningkatkan resiko karsinoma nasofaring. Disamping itu paparan
terlalu lama pada senyawa kimia yang bersifat karsinogen seperti pestisida, asbes dan lain-lain
juga memainkan peranan dalam terjadinya karsinoma nasofaring. Laporan pada wanita pekerja
tekstil di Shanghai Cina, juga memiliki peningkatan insiden karsinoma nasofaring disebabkan
akumulasi dari debu kapas. Penelitian menunjukkan adanya paparan jangka panjang dari bahan-
bahan polusi memegang peranan dalam patogenesis karsinoma nasofaring.3,6,7

Genetic Etiology

8
(Genetic susceptibility)

HLA OR any other ?

NPC

Inhalatory factors
Dietary factors Viral Etiology
(Inhalation of smoke
(Smoke-dried foodstuff (EBV Infection)
continuosly)
In Nagaland, India)
or smoking or others
(in place of salted fish
In China)

Gambar 3. Faktor pemicu terjadinya KNF.6

2.3. Histopatologi

Nasofaring dilapisi pseudostratified columnar epithelium saat lahir dan setelah 10 tahun
pertama kehidupan, epitel ini berubah bertahap menjadi predominan stratified non keratinizing
squamous epithelium kecuali pada beberapa tempat. Permukaan nasofaring tidak rata, berbentuk
seperti lipatan atau kripta karena dibawah epitel terdapat banyak jaringan limfoid. Bloom dan
Fawcett pada tahun 1965, membagi mukosa nasofaring atas empat macam epitel yaitu epitel
selapis torak bersilia atau simple columnar ciliated epithelium, epitel torak berlapis atau
stratified columnar epithelium, epitel torak berlapis bersilia atau stratified columnar ciliated
epithelium dan epitel torak berlapis semu bersilia atau pseudo stratified columnar ciliated
epithelium.4,6

Dinding lateral dan depan nasofaring dilapisi epitel transisional yang merupakan
peralihan antara epitel berlapis gepeng dan torak bersilia. Dari sudut embriologi tempat
pertemuan atau peralihan dua macam epitel transisional adalah tempat tumbuhnya suatu
karsinoma.6

2.4. Pathogenesis

Hubungan antara virus Epstein-Bar (EBV) dan konsumsi nitrosamine diketahui sebagai
penyebab utama terjadinya karsinoma nasofaring. EBV adalah suatu virus dari keluarga herpes,
termasuk virus herpes simpleks dan cytomegalovirus. Infeksi yang disebabkan EBV sering

9
asimptomatis. Virus tersebut dapat masuk ke dalam tubuh dan tanpa menyebabkan suatu kelainan
dalam jangka waktu yang lama.4,6

Untuk mengaktifkan virus EBV dibutuhkan suatu mediator. Kebiasaan untuk


mengkonsumsi ikan asin atau makanan dengan kandungan garam tinggi secara terus menerus
mulai dari masa anak-anak merupakan mediator utama yang dapat mengaktifkan virus EBV
sehingga menimbulkan karsinoma nasofaring.4,6

2.5. Epidemiologi

Karsinoma nasofaring merupakan penyebab kematian terbanyak pada sebagian populasi


di Asia. Apabila kita melihat distribusi penyakit ini di seluruh dunia, maka karsinoma nasofaring
paling banyak dijumpai pada ras mongol, disamping Mediterania. Karsinoma nasofaring di
Amerika Serikat dan Inggris hanya sekitar 1 per 100.000 penduduk. Beberapa negara seperti
Taiwan, Hongkong, dan China Selatan terutama propinsi Guangdong menunjukkan insiden 30
kali lebih banyak. Penduduk suku bangsa Malay menduduki peringkat kedua setelah China
dalam hal angka kejadian karsinoma nasofaring.7,11,12

Di Indonesia angka kejadian karsinoma nasofaring sebanyak 4,7 : 100.000 orang pertahun
dimana perbandingan laki-laki dengan perempuan berkisar 2-3:1 orang. Kejadian meningkat
setelah usia 30 tahun dan mencapai puncak pada umur 40-60 tahun. Pada anak-anak angka
kejadian karsinoma nasofaring hanya sekitar 1-3% dari seluruh keganasan pada anak-anak dan
20-50% dari seluruh keganasan nasofaring. Penelitian Fachiroh di Yogyakarta menyatakan
penderita karsinoma nasofaring berkisar 3,9 orang per 100.000 penduduk. Di bagian THT FK UI
RSCM selama periode 1988-1992 didapati 511 penderita baru karsinoma nasofaring.2,8

2.6. Gejala Klinis Karsinoma Nasofaring

Gejala karsinoma nasofaring dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu gejala


nasofaring, gejala telinga, gejala mata, gejala saraf atau metastasis atau gejala di leher. Gejala
pada nasofaring bias berupa epistaksis ringan atau sumbatan hidung. Sering kali gejala belum
ada sedangkan tumor sudah tumbuh atau tidak tampak karena letak tumor di bawah mukosa atau
creeping tumor. Gejala telinga bias berupa tinitus, rasa tidak nyaman sampai nyeri telinga. Gejala
di mata berupa pandangan kabur atau diplopia. Gejala saraf akibat penjalaran tumor ke foramen
laserum dan atau foramen jugulare, dapat pula akibat destruksi tulang tengkorak.4,6

2.7. Klasifikasi

World Health Organization (WHO) membagi karsinoma nasofaring menjadi 3 tipe


berdasarkan klasifikasi histologi. WHO tipe I. Karsinoma sel skuamosa dengan keratinisasi atau
keratinizing squamous cell carcinoma yang ditandai dengan adanya intercellular bridges dan
prominent keratin formation. Tipe ini sekitar 25% dari semua karsinoma nasofaring di Amerika
Utara, tapi hanya 1% di daerah endemik. Pasien dengan tipe 1 mempunyai prognosis paling

10
buruk dengan 5-year survival rate hanya 35%. WHO tipe II. Karsinoma sel skuamosa tanpa
keratinisasi atau non keratinizing squamous cell carcinoma. Tipe ini paling sedikit diantara
ketiga tipe, kadang juga diklasifikasikan dalam tipe III dengan 5-year survival rate 61%. WHO
tipe III. Karsinoma yang tidak terdiferensiasi atau undifferentiated carcinoma, terbentuk dari sel-
sel dengan berbagai variasi morfologi, sering terdapat sekelompok T sel jinak di antara massa
tumor, sehingga sering disebut lymphoepitelioma. Pada tipe III 5-year survival rate-nya 61%.9,13

Rata-rata metastase jauh lebih tinggi pada WHO tipe II dan WHO tipe III daripada WHO
tipe I. Di sisi lain WHO tipe II dan WHO tipe III lebih mudah dikontrol karena mempunyai
derajat radiosensitifitas lebih tinggi sehingga mempunyai prognosis yang lebih baik. Tipe
undifferentiated atau WHO tipe III merupakan tipe histologis karsinoma nasofaring terbanyak.9,13

A. Keratinizing squamous cell B. Non keratinizing squamous cell


Carcinoma.9 carcinoma.9

C.Undifferentiated carcinoma.9

2.8.Gejala Klinis KNF

Gejala KNF dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu gejala nasofaring, gejala telinga,
gejala mata, gejala saraf atau metastase atau gejala di leher. Gejala nasofaring bias berupa
epistaksis ringan atau sumbatan hidung. Sering kali gejala belum ada sedangkan tumor sudah
tumbuh atau tidak tampak karena terletak di bawah mukosa atau creeping tumor sehingga
nasofaring harus diperiksa dengan cermat. Gejala di telinga bias berupa tinitus, rasa tidak
nyaman sampai nyeri telinga. Gejala di mata berupa pandangan kabur atau diplopia. Gejala saraf
akibat penjalaran tumor ke foramen laserum dan atau foramen jugulare, dapat pula akibat
destruksi tulang tengkorak. Dua jenis sindrom nervus kranial yang berhubungan dengan KNF

11
adalah retroparotid syndrome disebut juga sindrom Jakson, melibatkan saraf kranial IX, X, XI,
XII bila penjalaran melalui foramen jugulare dan petrosphenoid syndrome dengan gangguan
saraf kranial IV, V, VI dan kadang saraf kranial II melalui foramen laserum. Metastase ke
kelenjar leher dalam bentuk benjolan mendorong pasien untuk berobat karena tidak ada keluhan
lain sebelumnya.4,6,7

Menurut digby score, setiap gejala mempunyai nilai dalam mendiagnosis karsinoma
nasofaring seperti tabel 1. Bila jumlah nilai 50, diagnosis karsinoma nasofaring dapat
ditegakkan. Walaupun terbukti karsinoma nasofaring secara klinis, biopsi nasofaring mutlak
dilakukan untuk konfirmasi diagnosis histopatologi dan menetukan subtipe histopatologi yang
erat kaitannya dengan pengobatan dan prognosis.7,14

Gejala Nilai

Massa terlihat di nasofaring atau teraba dari mulut 25

Limfadenopati leher 25
Gejala di hidung seperti epistaksis dan obstruksi
15
nasi
Gejala telinga seperti tinnitus dan penurunan
15
Pendengaran
Sakit kepala unilateral atau bilateral
5
Gangguan neurologik syaraf otak 5
Eksoftalmus 5
Tabel 1. Digby score.14

2.9. Diagnosis.

Diagnosis karsinoma nasofaring pada dasarnya dari anamnesa gejala klinis, perjalanan
penyakit, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Untuk diagnosis pasti diperlukan
pemeriksaan histopatologi dari biopsi tumor. Untuk penunjang radiologis disarankan
menggunakan computed tomography atau CT dengan kontras dan magnetic resonance imaging
atau MRI dengan enhancement. Pada MRI memperlihatkan lebih detail pada perluasan
intrakranial, sedangkan pada CT scan memperlihatkan lebih baik bila ada erosi tulang.4,6,7

Gambaran CT-scan karsinoma nasofaring memberikan informasi mengenai lokasi asal


dari tumor yaitu pada fossa Rosenmuller. MRI suatu karsinoma nasofaring akan memberikan
gambaran massa homogen dengan intensitas enhancement yang moderate baik pada tumor asal
maupun pada metastase regional leher.4,6,7

STADIUM

12
Terdapat sekitar 20 sistem klasifikasi stadium berbeda dari karsinoma nasofaring telah
dilaporkan dalam literature sejak awal tahun 1950. Sistem klasifikasi American Joint Committee
on Cancer (AJCC) tahun 1992 memiliki kekurangan yaitu pada ketidakrataan distribusi pasien
yaitu terlalu banyak pasien diklasifikasi ke stadium IV yang kemudian diperbaiki tahun 2006
dengan mengadopsi beberapa kriteria prognosis Ho yaitu seperti keterlibatan fossa
supraclavicula.4,5,6,7

Ho (1978) AJCC (2006)


T1 : Tumor terbatas pada nasofaring T1 : Tumor terbatas pada nasofaring
T2 : Tumor meluas ke : T2 : Tumor meluas kejaringan lunak
n: Fosa nasalis T2a : Tumor meluas ke orofaring &/rongga
o: Orofaring Hidung tanpa perluasan parafaring
p: Regio parafaring T2b : Tumor dengan perluasan parafaring
T3a : Perluasan tulang dibawah dasar T3 : Tumor meluas ke struktur tulang &/
tengkorak termasuk dasar sinus Sinus paranasalis
spenoid T4 : Tumor dengan perluasan intrakranial &/
T3b : Perluasan dasar tengkorak nervus kranialis, fosaa infratemporal,
T3c : Paralisis nervus kranialis hipofaring, orbit dan ruang mastikator
T3d : invasi ke orbita hipofaring atau fossa
infratemporal

NO : Tidak teraba kelenjar getah bening leher NO : Tidak teraba KGB


(KGB). N1 : KGB unilateral tunggal 6 cm diatas
N1 : KGB teraba diatas lipatan kulit meluas ke Fossa supraklavikula.
lateral dan belakang dari dan atau N2 : KGB bilateral 6 cm, diatas fossa
dibawah thyroid notch. supraklavikula.
N2 : KGB teraba dibawal lipatan kulit tetapi di N3 : Metastase KGB leher
atas fossa supraklavikularis. N3a: > 6cm
N : KGB supraklavikula. N3b: di fossa supraklavikula.

M0 : tidak ada metastase jauh M0 : Tidak ada metastase jauh


M1 : terdapat metastase jauh M1 : terdapat metastase jauh

Stadium : Stadium :
I. T1N0 1. Tis N0 Mo
II. T2 &/ N1 2. T1 N0 M0
III. T3 &/ N2 IIA. T2aN0 M0
IV. N3 (semua T) IIB. T1 N1 M0. T2a N1 M0. T2b N0,N1
V. M1 M0
III. T1 N2 M0 , T2a, T2b N2 M0, T3 N0,
N1,N2 M0
IVA.T4 N0,N1,N2 M0
IVB. Semua T N3 M0
IVC semua T semua N M1
2.10. PENGOBATAN

13
Radioterapi

Awal tahun 1920 pengobatan intercavitas pertama dengan radium dilakukan Curie
Institut di Paris. Brachytherapy masih dilakukan di beberapa tempat saat ini untuk pengobatan
tumor primer T1 dan T2 10 mm, dan radium telah diganti dengan iridium 192. Karsinoma
nasofaring merupakan keganasan yang radiosensitif maka dari itu sampai saat ini radioterapi
merupakan terapi utama karsinoma nasofaring. Untuk stadium I dan IIa radioterapi merupakan
pengobatan tunggal. Untuk stadium IIb, III, Iva dan IVb lebih baik menggunakan kemoterapi
konkomitan atau terapi kombinasi. Dengan radiasi diharapkan tumor primer yang terbatas di
nasofaring dapat mengecil. Efek samping akan terjadi bila dilakukan radiasi dosis tinggi dan
jangka waktu lama, seperti proses degenerasi dan atropi dari koklea yang bersifat menetap,
sehingga secara subyektif penderita mengeluh pendengaran menurun yang menetap walaupun
massa di nasofaring mengecil. Terapi terhadap karsinoma nasofaring apabila hanya
menggunakan radiasi harus memenuhi persyaratan belum didapatkannya sel tumor diluar area
radiasi, tipe tumor yang radiosensitive, besar tumor yang kira-kira radiasi mampu mengatasinya,
dosis yang optimal dan jangka waktu radiasi tepat.8,9,10

Kemoterapi

Kemoterapi sebagai terapi primer pertama kali dilakukan tahun 1970. Diklasifikasikan
menjadi tiga kategori berdasarkan hubungan kepentingannya dengan radioterapi yaitu;
neoadjuvant, concurrent, adjuvant dan radiosensitizer. Kemoterapi sebagai terapi tambahan pada
KNF dapat diberikan karena kebanyakan karsinoma nasofaring tidak memberikan respon yang
memuaskan terhadap radioterapi saja. Kemoterapi bisa digunakan untuk mengatasi tumor secara
local dan juga untuk mengatasi sel tumor apabila ada metastase jauh. Secara lokal dimana
vaskularisasi jaringan tumor masih baik, akan lebih sensitive menerima kemoterapi sebagai
antineoplastik agen dan karsinoma sel skuamosa biasanya sangat sensitive terhadap kemoterapi.10

Operasi

Dalam pengobatan karsinoma nasofaring tindakan operasi mempunyai keterbatasan.


Karena kesulitan dalam mencapai akses nasofaring secara anatomi saat operasi dan tumor
bersifat radiosensitif sehingga lebih banyak dilakukan pengobatan dengan radioterapi. Operasi
hanya terbatas pada pengambilan jaringan untuk diagnosis, reseksi kelenjar setelah definitif
radioterapi. Berbagai pendekatan operasi dijelaskan dalam literature seperti transpalatal,
transmaksila, midline mandibulotomi, facial degloving, infratemporal fossa, dan pendekatan
endoskopi.8,10,15

Prognosis

14
Prognosis yang jelek berhubungan dengan perluasan tumor terutama yang melibatkan
saraf kranial atau perluasan intrakranial, keterlibatan pembesaran, peninggian LDH dan kadar
antibody EBV yang tinggi. Angka harapan hidup bervariasi pada setiap stadium. Pada stadium I
dan II dimana tumor hanya terbatas di nasofaring, tanpa metastase kelenjar limfe atau metastase
lainnya, mempunyai 5-year survival sebesar 70-80%. Pada stadium III mempunyai 40-50% 5-
year survival. Sedangkan 5-year survival pada stadium IV yaitu terjadi invasi ke dasar tengkorak
atau saraf kranial, pembesaran kelenjar limfe bilateral atau metastase jauh sebesar 20-40%.11,15

BAB III

15
METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini bersifat deskritif dengan mengumpulkan data dari kunjungan atau register
penderita karsinoma nasofaring yang datang ke poli THT-KL RSUP Sanglah Denpasar dan data
dari bagian Patologi Anatomi RSUP Sanglah Denpasar.

3.2 Tempat Dan Waktu Penelitian

Pengambilan sampel dilakukan di poliklinik THT-KL RSUP Denpasar Sanglah dari Januari 2011
sampai dengan Desember 2013.

3.3 Populasi Dan Sampel Penelitian

3.3.1 Populasi penelitian adalah semua penderita yang sudah terdiagnosa karsinoma nasofaring

berdasarkan hasil pemeriksaan histopatologi yang datang ke poliklinik THT-KL RSUP

Sanglah Denpasar.

3.3.2 Sampel penelitian adalah bagian dari populasi penelitian yang memenuhi kriteria inklusi.

Kriteria inklusi :

a. Penderita yang baru terdiagnosa karsinoma nasofaring berdasarkan hasil


pemeriksaan histopatologi pada periode Januari 2011 sampai Desember 2013
b. Penderita karsinoma nasofaring yang sudah dilakukan staging.

Kriteria eksklusi :

Penderita karsinoma nasofaring sebelum Januari 2011.

3.3.3 Tehnik Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dengan cara berurutan yaitu setiap pasien yang memenuhi kriteria

inklusi yang datang ke poliklinik THT-KL RSUP Sanglah Denpasar.

3.4 Kerangka Konsepsional

16
Curiga KNF Histopatologi

CT Scan

KNF

Umur

Jenis kelamin

Stadium KNF

3.5 Batasan Operasional

a. Curiga karsinoma nasofaring bersarkan keluhan dan digby score.

b. Dilakukan biopsi pada pasien untuk pemeriksaan histopatologi.

c. Karsinoma nasofaring (KNF) terdiagnosa pasti berdasarkan hasil pemeriksaan

histopatologi.

d. Umur dihitung dalam tahun menurut ulang tahun terakhir, perhitungannya berdasarkan

kalender Masehi.

e. Jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan.

f. Stadium KNF ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan CT scan.

3.6 Kerangka Kerja

17
Pasien THT :

Anamnesis
Pemeriksaan THT

Pasien curiga KNF

Biopsi

CT Scan

KNF Tidak KNF

3.7 Analisa Data

Semua data yang diperoleh disusun dalam bentuk tabel.

BAB IV

18
HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di poliklinik THT-KL RSUP Sanglah Denpasar. Penelitian ini
dilakukan dari bulan Januari 2011sampai dengan bulan Desember 2013 terdapat 221 orang
penderita terdiagnosa karsinoma nasofaring yang sesuai dengan kriteria sampel penelitian.

Tabel 4.1. Populasi penderita karsinoma nasofaring per tahun

2011 75
2012 82
2013 64

Dari tabel 4.1. didapatkan populasi penderita karsinoma nasofaring tertinggi pada tahun
2012 sebanyak 82 kasus dari jumlah total penderita karsinoma nasofaring dari tahun 2011-2013
sebesar 221 orang.

Tabel 4.2. Penderita karsinoma nasofaring berdasarkan jenis kelamin

NO TAHUN L % P %
1 2011 51 68,00 24 32,00
2 2012 50 60,98 32 39,02
3 2013 43 67,18 21 32,81

Dari tabel 4.2. didapatkan penderita karsinoma nasofaring berdasarkan jenis kelamin
pada tahun 2011 dengan laki-laki 51 (68,00%), perempuan 24 (32,00%), pada tahun 2012
penderita laki-laki sebesar 50 (60,98%), perempuan 32 (39,02%) dan pada tahun 2013 jumlah
penderita laki-laki 43 (67,18%), perempuan 21 (32,81%).

Tabel 4.3. Penderita karsinoma nasofaring berdasarkan kelompok umur per tahun

NO UMUR 2011 2012 2013


N % N % N %
1 11-20 1 1,33 3 3,66 1 1,56
2 21-30 1 1,33 10 12,19 3 4,69
3 31-40 9 12,00 14 17,07 8 12,50
4 41-50 29 38,66 27 32,92 20 31,25
5 51-60 26 34,66 23 28,04 18 28,12
6 61-70 8 10,66 4 4,87 9 14,06
7 71-80 1 1,33 1 1,22 5 7,81
JUMLAH 75 100 82 100 64 100

19
Dari tabel 4.3. didapatkan penderita karsinoma nasofaring paling banyak dijumpai pada
kelompok umur 41-50 tahun yaitu pada tahun 2011 sebanyak 29 kasus (38,66%), tahun 2012
sebanyak 27 kasus (32,92%) dan tahun 2013 sebanyak 20 kasus (31,25%).

Tabel 4.4. Penderita karsinoma nasofaring berdasarkan stadium per tahun

N 2011 2012 2013


O STADIUM N % N % N %

1 I 2 2,67 1 1,22 2 3,12


2 IIA 11 14,67 9 10,98 5 7,81
3 IIB 14 18,67 14 17,07 15 23,43
4 III 22 29,33 25 30,49 19 29,69
5 IVA 13 17,33 21 25,60 12 18,75
6 IVB 9 12,00 10 12,19 8 12,50
7 IVC 4 5,33 2 2,44 3 4,69
JUMLAH 75 100 82 100 64 100

Dari tabel 4.4. didapatkan penderita karsinoma nasofaring berdasarkan stadium paling
banyak dijumpai pada stadium III, dimana pada tahun 2011 jumlah penderita karsinoma
nasofaring sebesar 22 (29,33%), tahun 2012 sebesar 25 (30,49%) dan pada tahun 2013 sebesar
19 (29,69%)

Tabel 4.5. stadium karsinoma nasofaring berdasarkan jenis kelamin.per tahun

2011 2012 2013


NO STADIUM L P L P L P
1 I 2 0 0 1 1 1
2 IIA 10 1 6 3 4 1
3 IIB 11 3 7 7 12 3
4 III 14 8 16 9 12 7
5 IVA 7 6 13 8 7 5
6 IVB 5 4 7 3 6 2
7 IVC 2 2 1 1 1 2
JUMLAH 51 24 50 32 43 21

Dari tabel 4.5. didapatkan stadium penderita karsinoma nasofaring berdasarkan jenis
kelamin ditemukan pada stadium III lebih banyak pada laki-laki daripada perempuan pada setiap
tahunnya yaitu pada tahun 2011 sebanyak 14 kasus (27,45%), tahun 2012 sebanyak 16 kasus
(32,00%) dan tahun 2013 sebanyak 12 kasus (27,91%).

20
Tabel 4.6. Penderita karsinoma nasofaring berdasarkan hasil Patologi Anatomi
berdasarkan WHO per tahun

Klasifikasi 2011 2012 2013


NO WHO N % N % N %
1 Squamus Cell
Carcinoma 0 0 0 0 0 0
(WHO-1)
2 Non
Keratinizing 3 4,00 6 7,32 2 3,12
Carcinoma.
(WHO-2)
3 Undifferentiate
d Carcinoma. 72 96,00 76 92,68 62 96,88
(WHO-3)

JUMLAH 75 100 82 100 64 100

Dari tabel 4.6.Penderita karsinoma nasofaring berdasarkan hasil Patologi Anatomi


didapatkan paling banyak pada tipe Undifferentiated Carcinoma tahun 2011 sebesar 72 (96%),
tahun 2012 76 (92,68) dan tahun 2013 sejumlah 62 (96,88%).

Hasil : Dari penelitian ini didapatkan populasi penderita karsinoma nasofaring tertinggi
pada tahun 2012 sebanyak 82 kasus dari jumlah total penderita karsinoma nasofaring dari tahun
2011-2013 sebanyak 221 orang. Penderita karsinoma nasofaring berdasarkan jenis kelamin
ditemukan pada tahun 2011 terbanyak pada laki-laki 51 kasus (68%), tahun 2012 pada laki-laki
sebanyak 50 kasus (60,98%) dan tahun 2013 juga terbanyak pada laki-laki 43 kasus (67,18%).
Penderita karsinoma nasofaring paling banyak dijumpai pada kelompok umur 41-50 tahun yaitu
pada tahun 2011 sebanyak 29 kasus (38,66%), tahun 2012 sebanyak 27 kasus (32,92%) dan
tahun 2013 sebanyak 20 kasus (31,25%). Penderita karsinoma nasofaring berdassarkan stadium
paling banyak dijumpai pada stadium III dimana pada tahun 2011 sebanyak 22 kasus (29,33%),
tahun 2012 sebanyak 25 kasus (30,49%) dan pada tahun 2013 sebanyak 19 kasus (29,69%).

Stadium penderita karsinoma nasofaring berdasarkan jenis kelamin ditemukan pada


stadium III lebih banyak pada laki-laki daripada perempuan pada setiap tahunnya yaitu pada
tahun 2011 sebanyak 14 kasus (27,45%), tahun 2012 sebanyak 16 kasus (32%) dan tahun 2013
sebanyak 12 kasus (27,91%). Penderita karsinoma nasofaring berdasrkan hasil Patologi Anatomi
didapatkan paling banyak pada klasifikasi WHO-3 yaitu tahun 2011 sebesar 72 orang (96%),
tahun 2012 sebanyak 76 kasus (92,68%) dan tahun 2013 sejumlah 62 kasus (96,88%).

21
BAB V

PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan di poliklinik THT-KL RSUP Sanglah Denpasar dan dilakukan
dari bulan Januari 2011 sampai dengan bulan Desember 2013, terdapat 221 orang penderita
karsinoma nasofaring yang sesuai dengan kriteria sampel penelitian.

Pada tabel 4.1. didapatkan populasi penderita karsinoma nasofaring tertinggi pada tahun
2012 sebanyak 82 orang dari jumlah total penderita karsinoma nasofaring. Dari tabel 4.2.
didapatkan penderita karsinoma nasofaring berdasarkan jenis kelamin ditemukan pada tahun
2011 terbanyak pada laki-laki 51 orang (68,00%), tahun 2012 terbanyak pada laki-laki yaitu
sebanyak 50 orang (60,98%) dan pada tahun 2013 juga terbanyak pada laki-laki sebesar 43 orang
(67,18%). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Yenita (Padang 2008) yang menunjukkan
kejadian laki-laki lebih banyak selama periode tiga tahun (2006-2008) didapatkan sebanyak 32
kasus (71,1%).16

Pada tabel 4.3. didapatkan penderita karsinoma nasofaring paling banyak dijumpai pada
kelompok umur 41-50 tahun, yaitu pada tahun 2011 sebanyak 29 orang (38,66%), tahun 2012
sebanyak 27 orang (32,92%) dan tahun 2013 sebanyak 20 orang (31,25%). Hasil penelitian ini
sesuai dengan penelitian Ferry Sofyan (Medan, 2009) yang menunjukkan penderita karsinoma
nasofaring yang terbanyak pada usia 41-50 tahun, yaitu berjumlah 50 orang (33,1%) dan yang
paling rendah pada usia 71-80 tahun sebanyak 4 orang (2,6%). Dan juga sesuai dengan penelitian
Henny (2006) mendapatkan kejadian karsinoma nasofaring tertinggi pada kelompok umur 41-50
tahun yaitu 79 kasus (30,4%).16

Pada tabel 4.4. didapatkan penderita karsinoma nasofaring berdasarkan stadium paling
banyak dijumpai pada stadium III, dimana pada tahun 2011 sebanyak 22 orang (29,33%), tahun
2012 sebanyak 25 orang (30,49%) dan pada tahun 2013 sebanyak 19 orang (29,69%). Sedangkan
pada penelitian Ferry Sofyan (Medan,2009) diketahui bahwa penderita karsinoma nasofaring
datang dengan stadium lanjut yaitu stadium IV sebanyak 75 orang (49,7%) dan yang jarang
ditemui pada stadium I sebanyak 2 orang (1,3%).16

Pada tabel 4.5. didapatkan stadium penderita karsinoma nasofaring berdasarkan jenis
kelamin ditemukan pada stadium III lebih banyak pada laki-laki daripada perempuan pada setiap
tahunnya yaitu pada tahun 2011 sebanyak 14 orang (27,45%), tahun 2012 sebanyak 16 orang
(32,00%) dan tahun 2013 sebanyak 12 orang (27,91%). Dari tabel 4.6. Penderita karsinoma
nasofaring berdasarkan hasil Patologi Anatomi didapatkan paling banyak pada klasifikasi WHO-
3 yaitu tahun 2011 sebesar 72 (96,00%), tahun 2012 sebesar 76 (92,68%) dan tahun 2013
sejumlah 62 (96,88%). Demikian pula pada penelitian Yenita (Padang, 2008) ditemukan seluruh
kasus tersebut, karsinoma nasofaring dengan gambaran non keratinisasi (WHO-2 dan WHO-3)
mempunyai jumlah kasus yang sama banyak, yaitu masing-masing 17 kasus (37,8%).16

22
BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN

6.1 SIMPULAN

Distribusi penderita karsinoma nasofaring tertinggi pada tahun 2012 sebanyak 82 orang
dari jumlah total penderita karsinoma nasofaring. Distribusi penderita karsinoma nasofaring
berdasarkan jenis kelamin ditemukan pada tahun 2011 terbanyak pada laki-laki 51 orang
(68,00%), tahun 2012 pada laki-laki sebanyak 50 orang (60,98%) dan pada tahun 2013 juga
terbanyak pada laki-laki sebesar 43 orang (67,18%).

Distribusi penderita karsinoma nasofaring paling banyak dijumpai pada kelompok umur
41-50 tahun yaitu pada tahun 2011 sebanyak 29 orang (38,66%). Distribusi penderita karsinoma
nasofaring berdasarkan stadium paling banyak dijumpai pada stadium III dimana pada tahun
2011 sebanyak 22 orang (29,33%), tahun 2012 sebanyak 25 orang (30,49%) dan tahun 2013
sebanyak 19 orang (29,69%). Distribusi stadium penderita karsinoma nasofaring berdasarkan
jenis kelamin ditemukan pada stadium III lebih banyak pada laki-laki daripada perempuan pada
setiap tahunnya. Penderita karsinoma nasofaring berdasarkan Patologi Anatomi didapatkan
paling banyak pada klasifikasi WHO-3 yaitu tahun 2011 sebesar 72 (96,00%), tahun 2012
sebesar 76 (92,68%) dan tahun 2013 sejumlah 62 (96,88%).

6.2 SARAN

1. Mengoptimalkan pendataan distribusi penderita karsinoma nasofaring di bagian Telinga


Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher RSUP Sanglah Denpasar.
2. Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel lebih banyak sebagai acuan untuk
mengetahui perkembangan distribusi penderita karsinoma nasofaring di Indonesia.

23
DAFTAR PUSTAKA

1. William I. Wei. Nasopharyngeal Cancer. In : Bailey Byron J, Johnson Jonas T, Newlands


Shawn D, editors. Head & Neck Surgery-Otolaryngology. Lippincott Williams &
Wilkins, 4th Edition 2006 ; 7 : 117.
2. Kelompok Studi Onkologi-Bedah Kepala Leher PERHATI-KL. Dalam : Proposal
Penelitian Demografi Karsinoma Nasofaring di Indonesia. 2014. H : 1-9.
3. Anita Jeyakumar, Todd M Brickman, Alwin Jeyakumar, Timothy Doerr. Review of
nasopharyngeal carcinoma. Ear, Nose & Throat Journal. Proquest Medical Library,
March 2006; 85 :3.
4. A.T.C. Chan & E. Felip. Nasopharyngeal Cancer. In : ESMO Clinical Recommendations
for diagnosis, treatment and follow up. 2009;16 Maret 2014
http://www.annoc/mdp/21716698.
5. American Joint committee on cancer. In : AJCC Cancer Staging Atlas. 2006. P. 45-56.
6. Mu Sheng Zeng and Yi Xin Zeng. Pathogenesis and Etiology of Nasopharyngeal
Carcinoma. In : Cancer Center of Sun Yat-sen University. 20 Maret 2014,
http://www.cancer.org/ cid/document/003124-pdf.
7. American Cancer Society. Nasopharyngeal Cancer.10 Maret 2014
http://www.cancers.org/acs/groups/cid/documents/003245-pdf
8. Harry A. Asroel. Penatalaksanaan Radioterapi Pada Karsinoma Nasofaring. Di Bagian
Telinga Hidung Tenggorok Universitas Sumatera Utara. 2002; diunduh tanggal 16 Maret
2014 di http://respiratory.usu.ac.id/bitstream/123456789/26633/4/chapter%2002.pdf.
9. Chan J.K.C, Bray F, McCarron P, Foo W. et al. Nasopharyngeal carcinoma. In : Barnes L,
Eveson JW, Reichart P, Sidrasky D editors. WHO classification of tumors : Pathology and
genetics head and neck tumors. Lyon : IARCPress,2005; 85-79.
10. Kartika H. Penatalaksanaan Karsinoma Nasofaring menuju terapi
kombinasi/kemoradioterapi. Diunduh tanggal 10 Maret 2014. http//.www.karsinoma
nasofaring-diagnosis-epidemiologi-prognosis.com/doc/116016654.
11. Thompson L D.R. Malignant neoplasma of the nasal cavity, paranasal sinuses, and
nasopharynx. In : Thompson L D.R. editor. Head and neck pathology. Philadelphia :
Elsevier,2006; p.170-3.
12. Kumar S. Epidemiological and etiological factors associated with nasopharyngeal
carcinoma. ICMR Buletin. 2003;33.
13. Lutan R, Nasution Y.U. Karsinoma Nasofaring. Majalah Patologi Indonesia. 2002;11:34-
41.
14. Digby KH. Nasopharyngeal Carcinoma. 1951. P.254-65. 20 Maret 2014.
http://www.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2238562.
15. Ghorayeb BY. Otolaryngology-Head and Neck Surgery. Texas. 2012. 15 Maret 2014.
http://ghorayeb.com/nasopharyngealsquamouscellcarcinoma.html.

24
16. Badan Registrasi Kanker Ikatan Ahli Patologi Indonesia. Yayasan Kanker Indonesia. Data
histopatologik kanker Indonesia tahun 2003. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik
Depkes RI.

25