Anda di halaman 1dari 22

Diare Akut pada Anak

Kelompok A5

Rilus Salawane 102010086

Oswaldus G.G. Binsasi 102012046

Ivana Theresia 102012111

Felix Winata 102012156

Evenjelina 102012206

Nisa Kamilan 102012291

Stanley Timotius 102012320

Selvina 102012396

Hazwani Mohamad 102012477

M. Azhan Ramli 102012504

Fakultas Kedokteran

Universitas Kristen Krida Wacana

0
Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Diare merupakan keluhan pasien yang cukup banyak ditemukan dalam praktek sehari hari di
Indonesia. Diare ini lebih banyak mengenai anak anak dibanding dewasa. World Health
Organization (WHO) melaporkan sekitar 3,5 juta kematian pertahun disebabkan diare, dimana
80% dari kematian ini mengenai anak anak dibawah umur 5 tahun.

Diare akut menurut Cohen adalah keluarnya buang air besar sekali atau lebih yang berbentuk cair
dalam satu hari dan berlangsung kurang 14 hari. 1 Sedangkan American Academy of Pediatrics
(AAP) mendefinisikan diare dengan karakteristik peningkatan frekuensi dan/atau perubahan
konsistensi, dapat disertai atau tanpa gejala dan tanda seperti mual, muntah, demam atau sakit
perut yang berlangsung selama 3 7 hari.2 Ikatan Dokter Anak Indonesia menyatakan diare
apabila tinja mengandung air lebih banyak dari normal. Menurut WHO diare adalah berak cair
lebih dari tiga kali dalam 24 jam, dan lebih menitik beratkan pada konsistensi tinja dari pada
menghitung frekuensi berak.

Umumnya, gradasi penyakit diare akut dapat dibedakan dalam empat kategori, berdasarkan
banyaknya cairan yang hilang dari tubuh penderita, yaitu;
1. Diare tanpa dehidrasi.
2. Diare dengan dehidrasi ringan, apabila cairan yang hilang 5% dari berat badan.
3. Diare dengan dehidrasi sedang, apabila cairan yang hilang berkisar 6-10% dari berat badan.
4. Diare dengan dehidrasi berat, apabila cairan yang hilang lebih dari 10%.

Sebagian besar diare akut disebabkan oleh infeksi dimana dapat menimbulkan gangguan sekresi
dan reabsorpsi cairan dan elektrolit dengan akibat dehidrasi, dan gangguan keseimbangan asam
basa. Oleh itu, penanganan diare akut ditujukan untuk merawat dehidrasi serta gangguan
keseimbangan elektrolit dan asam basa dan mengobati kausa diare yang spesifik.

1
Bab II
Pembahasan

2.1 Skenario

Anak laki laki 7 tahun, mengalami diare sejak 2 hari yang lalu, disertai demam 38.5 C. Selama
sakit anak ini hanya meminum obat penurun panas dan tidak berobat ke dokter. Frekuensi diare
6x/ hari, konsestensi cair, dan tidak ada darah dan lendir. Sejak 1 hari yang lalu, anak menjadi
tidak nafsu makan dan asupan cairan berkurang. Beberapa jam sebelum berobat, anak menjadi
lemas dan hanya terbaring di tempat tidur, sehingga ibunya memutuskan untuk membawa anak
tersebut ke UGD RS terdekat. Menurut ibunya anak ini terakhir membuang air kecil sudah 4 jam
yang lalu. Pada PF, didapati anak tampak lemah, TD 90/60, denyut nadi 90x/ menit, frequensi
nafas 20x/ menit, temperature 39 C, kedua kelopak mata cekung, bibir kering dan pecah pecah,
turgor kulit kembali lambat, akral dingin.

Diare akut dapat disebabkan oleh infeksi virus seperti Rotavirus dan infeksi bakteria seperti
E.coli dan kolera. Komplikasinya adalah dapat mengalami dehidrasi dan memberikan keadaan
bahaya pada anak sekiranya tidak ditangani dengan dini. Terapi utama adalah rehidrasi dan
pemeliharaan hidrasi sampai diare mereda serta menghindari malnutrisi akibat kurangnya asupan
nutrient.

2.2 Anamnesis

Sistem pencernaan merupakan suatu saluran dalam tubuh yang bersifat multifungsional yang
terdiri dari bibir, mulut, orofaring, esophagus, lambung, usus halus (duodenum, yeyunum,
ileum), usus besar (sekum, apendiks, kolon, rektum) dan anus. Pertanyaan rutin yang harus
ditanyakan secara rutin diperlihatkan di table 1. Dalam table tersebut pengambilan riwayat dan
pemeriksaan biasanya dilakukan secara bersamaan untuk menghindari terjadinya pemisahan ciri-
ciri yang saling berhubungan.3,4

Gambar 1: Struktur Salur Cerna Manusia


Table 1: Pertanyaan penting yang dapat ditanyakan mengenai gangguan di seluruh cerna.3

2
Pertanyaan Uraian

Nafsu makan Baik/ buruk. Perubahan yang baru terjadi? Intoleransi makanan spesifik.

Berat badan Berkurang/ bertambah/ tetap? Berapa banyak dan berapa lama?

Disfalgia Adanya kesulitan menelan? Disebabkan oleh nyeri atau adanya tahanan?
Jenis makanannya apa? Keadaan yang menyebabkan hambatan? Kapan
terjadinya? Apakah adanya terjadi regurgitasi?

Diet Termasuk pertanyaan tentang obatan yang dikonsumsi, yang dapat


merangsang lambung.

Nyeri abdominal/ Keadaan? Penjalaran? Kumpulan? Efek makanan? Efek antasida? Efek
gangguan pencernaan/ gerakan usus?
dispepsia

Muntah Berapa banyak? Berapa sering? Isi? Ada darah atau materi yang
menyerupai kopi?

Distensi abdomen Nyeri? Muntah? Gerakan usus berkurang atau tidak ada? Flatus?

Diare Seberapa sering? Dalam jumlah besar atau sedikit? Darah? Mukus? Pus?
Gejala penyerta? Baru melakukan perjalanan?

Tinja Diare? Konstipasi? Melena?

2.3 Pemeriksaan Fizik3,4

Pemeriksaan umum, status gizi, berat dan pertumbuhan linier anak harus dicatat dengan cermat.
Begitu juga dengan ukuran tanda vital seperti frekuensi nafas, suhu tubuh, tekanan darah dan
denyut nadi. Hal ini karena apabila frekuensi nafas meninggi menunjukkan berlakunya asidosis
metabolik, jika suhu badan meninggi menandakan ada infeksi. Dalam kasus diare, biasanya
berlaku dehidrasi. Tugor kulit akan berkurang dan ini dapat dilihat dengan menarik kulit. Untuk
dehidrasi ringan sedang, kulit akan kembali dalam 1 2 saat manakala untuk kasus berat lebih
dari 2 saat. Tanda dehidrasi yang lain juga dapat diperhatikan pada mata, ubun ubun yang
kelihatan cekung.

Inspeksi

3
Setelah melakukan inspeksi menyeluruh dan keadaan sekitarnya secara tepat, perhatikan
abdomen untuk memeriksa hal berikut ini:

Apakah ada abdomen dapat bergerak tanpa hambatan ketika pasien bernafas?

Apakah pasien menderita nyeri abdominal yang nyata?

Apakah pasien menderita iritasi peritoneum, yaitu pergerakan abdomen menjadi terbatas?

Apakah terdapat distensi abdominal yang nyata?

Apakah ada vena vena yang dilatasi?

Apakah terdapat kelainan kelainan yang lain yang dapat dilihat?

Palpasi

Lakukan palpasi di setiap kuadran secara berurutan, yang awalnya dilakukan tanpa
penekanan yang berlebihan dan dilanjutkan dengan palpasi secara dalam (jika tidak
terdapat area nyeri yang diderita atau diketahui). Kemudian, lakukan palpasi khusus
kepada beberapa organ. Bila terdapat pembengkakan yang abnormal, dan pada waktu
palpasi tidak menimbulkan nyeri, tentukan keadaan dan karakteristiknya. Jika
pembengkakan berdenyut (kemungkinan aneurisma), jangan melakukan pemeriksaan
indentabilitas.

Tahanan abdomen (defense musculair) merupakan suatu reflex penegangan otot


abdominal yang terlokalisasi yang tidak dapat dihindari oleh pasien dengan sengaja.
Adanya tahanan tersebut merupakan tanda iritasi peritoneum perifer atau tanda nyeri
tekan yang tajam dari organ di bawahnya. Pastikan adanya tahanan abdomen dengan
melakukan perkusi ringan di atas area yang terkena.

Perkusi

Perkusi berguna untuk memastikan adanya pembesaran beberapa organ, khususnya hati,
limpa atau kandung kemih. Lakukan selalu perkusi daerah resonan ke daerah pekak,
dengan jari pemeriksa yang sejajar dengan bagian tepi organ.

Shifting dullness adalah suatu daerah pekak yang terdapat pada permukaan horizontal
cairan intraperitoneal (asites). Mulakan dengan perkusi dari garis tengah dengan posisi
jari yang diperkusi sejajar dengan batas cairan yang diperkirakan dan lakukan perkusi
kearah lateral sampai muncul nada pekak yang jelas, kemudian jari yang diperkusi

4
diletakkan kembali ke daerah yang kurang pekak. Dengan mempertahankan jari pada
posisinya, minta pasien berpusing menjauhi pemeriksa. Tunggu sekitar 20 30 detik
untuk memberikan kesempatan kepada cairan asites untuk bergerak ke bawah dan
kemudian perkusi kembali. Jika terdapat asites, nada perkusi lebih pekak ketimbang
perkusi sebelumnya.

Gambar 2: Asites

Auskultasi

Auskultasi dilakukan pada kuadran abdomen secara sistematis. Bunyi bising usus juga didengar
pada masing masing kuadran selama 1 minit. Bising usus dapat menaik, menurun, normal dan
tiada kedengaran bunyi.

Bising usus yang meningkat dapat ditemukan pada:

Setiap keadaan yang menyebabkan peningkatan peristaltik.

Obstruksi usus.

Diare.

Jika terdapat darah dalam pencernaan yang berasal dari saluran cerna atas yang
menyebabkan peningkatan gerakan peristaltik.

Bising usus menurun atau menghilang ditemukan pada:

Paralisis usus (ileus).

Perforasi.

Peritonitis generalisata.

5
2.4 Pemeriksaan Laboratorium

Di sebagian besar laboratorium klinik tersedia sejumlah uji diagnostik untuk enteropatogen virus,
bakteri dan parasit. Contohnya seperti:

Enzyme linked immunosorbent assay (ELISA).

o Dapat mengidentifikasi Rotavirus.

Pembiakan tinja.

o Dapat mengidentifikasi enteropatogen bakteri yang sering dijumpai, misalnya


Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, Plesiomonas dan
Escherichia coli enterohemoragik.

o pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet clinitest, bila
diduga terdapat intoleransi gula.

Pemeriksaan mikroskopik tinja.

o Dapat menjumpai Giardia, Cryptosporidium dan juga parasit enterik lainnya, yang
diawetkan dalam formalin atau alkohol polivinil.5

Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah.

o Dengan menggunakan pH atau cadangan alkali.

o Dengan menggunakan pemeriksaan analisa gas darah.

Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin.

o Untuk mengetahui faal ginjal.

Pemeriksaan elektrolit.

o Terutama kadar natrium, kalium, kalsium dan fosfor dalam serum (terutama pada
penderita diare yang disertai kejang).

Pemeriksaan intubasi duodenum.

6
o Untuk mengetahui jenis jasad renik atau parasit secara kualitatif, terutama
dilakukan pada penderita diare kronik.6, 7

2.5 Working Diagnosis

Berdasarkan pemeriksaan fisik dan penunjang dapat diduga bahawa anak tersebut menderita
diare cair akut dengan dehidrasi ringan sedang. Hal ini karena pasien menghasilkan feses
cair seperti air, tidak disertai lendir dan darah. Pasien juga mengalami dehidrasi sedang yang
ditandai dengan demam subfebril, turgor kulit menurun dan dalam keadaan lemas.

2.6 Differensial Diagnosis

Diare akut akibat infeksi bakteri

Apabila berlaku infeksi bakteri, bakteri akan menempel pada mukosa usus, lalu menyebabkan
kapasitas penyerapan berkurang dan sekresi cairan akan meningkat. Bakteri akan mengeluarkan
toksin menyebabkan absorpsi natrium berkurang dan sekresi klorida akan meningkat. Invasi
bakteria akan menyebabkan mukosa usus rosak lalu menyebabkan ada darah di tinja.5

Tabel 2: Contoh infeksi bakteri.

Organisma patogenik Mekanisme virulensi

Campylobacter jejuni Invasi, enterotoksin

Clostridium difficile Sitotoksin, enterotoksin

Escherichia coli

Enteropatogenik (EPEC) Perlekatan, merusak sama sekali

Enterotoksigenik (ETEC) Enterotoksin

Enteroinvasif (EIEC) Invasi pada mukosa

7
Enterohaemoragik (EHEC) Perlekatan, merusak sama sekali, sitotoksin

Enteroaggregatif (EAEC) Perlekatan, kerusakan mukosa

Escherichia coli

Enteropatogenik (EPEC) Perlekatan, merusak sama sekali

Enterotoksigenik (ETEC) Enterotoksin

Enteroinvasif (EIEC) Invasi pada mukosa

Enterohaemoragik (EHEC) Perlekatan, merusak sama sekali, sitotoksin

Enteroaggregatif (EAEC) Perlekatan, kerusakan mukosa

Salmonell spp. Invasi, enteroroksin

Shigella spp. Invasi, enterotoksin, sitotoksin

Vibrio cholera Enterotoksin

Vibrio parahaemolyticus Invasi, sitotoksin

Yersinia enterocolitica Invasi, enterotoksin

Diare akut akibat infeksi parasit

Parasit seperti protozoa akan menempel di mukosa lalu menyebabkan pemendekan vili dan juga
berlaku invasi mukosa sehingga terjadi abses atau ulkus.6

Diare Kronik

Diare kronik yaitu diare yang berlangsung lebih dari 15 hari. Patogenesisnya lebih kompleks dan
mempunyai pelbagai faktor. Diare jenis ini mempunyai beberapa penyebab seperti diare osmotik,
diare sekretorik, malabsorbsi, defek sistem pertukaran anion/ transport elektrolit aktif di
enterosit, motilitas dan waktu transit usus abnormal, gangguan permeabilitas usus serta eksudasi
cairan, elektrolit dan mukus yang berlebihan. Terdapat juga kelainan pada organ seperti pancreas,
hati dan usus. 7

8
Tabel 3: Contoh parasit yang menyebabkan diare

Organisma patogenik Mekanisme virulensi

Entamoeba histolytica Invasi, produksi enzim dan sitotoksin, kista


resistan terhadap kerusakan fisis

Giardia lamblia Melekat pada mukosa, kista resistan terhadap


kerusakan fisis

Protozoa intestinum yang menghasilkan spora

Cryptosporidium parvum Perlekatan, inflamasi

Isospora belli

Cyclospora cayetanensis

Microsporidia (Enterocytozoon
bieneusi, Encephalitozoon intestinalis)

Diare Enterovasif

Ada gejala demam dan tinja berdarah. Penyakit ini berlaku secara invasif, sering terjadi di kolon,
frekuensi BAB sering tapi sedikit sedikit dan sering diawali dengan diare air. Sulit dibedakan
dengan Irritable Bowel Disease (IBD). Pemeriksaan lab menunjukkan banyak leukosit di tinja
dan kultur tinja akan menemukan bakteri seperti Salmonella, Shigella dan Campylobakter.

Diare Enterotoksigenik

Diare tipe ini adalah non invasif, terdapat mual dan sering berlaku pada diare turis sebanyak
85%. Mempunyai gejala tanpa demam dan tanpa darah. Tinjanya adalah kolera tinja yaitu seperti
cucian beras dan disertai muntah. Penyebab yang lain seperti bahan toksik pada makanan (logam
berat misalnya preservatif kaleng, nitrit, pestisida, histamin pada ikan). Pemeriksaan lab
menunjukkan tidak ada leukosit di tinja. Patogennya adalah ETEC, G. lamblia, rotavirus, virus
cholera dan jamur.8

Diare Persisten

9
Diare tipe ini pada mulanya akut, berlangsung lebih dari 14 hari, dimulai dengan diare akut atau
disentri. Diare kronik tidak sama dengan diare persisten. Faktor resikonya adalah anak berusia
< 1 tahun, malnutrisi, minum susu formula dan baru mengalami diare akut.

2.7 Epidemiologi

Penyakit diare hingga kini masih merupakan salah satu penyakit utama pada bayi dan anak di
Indonesia. Diperkirakan angka kesakitan berkisar di antara 150 430 perseribu penduduk
setahunnya. Dengan upaya yang telah dilaksanakan, angka kematian di rumah sakit dapat ditekan
menjadi kurang 3%.6 Frekuensi kejadian diare pada negara negara berkembang termasuk
Indonesia lebih banyak 2 3 kali berbanding negara maju.8

Penggunaan istilah diare sebenarnya lebih tepat daripada gastroenteritis, karena istilah
yang disebut terakhir ini memberi kesan seolah olah penyakit ini hanya disebabkan oleh infeksi
dan walaupun disebabkan oleh infeksi, lambung jarang mengalami peradangan.6

2.8 Etiologi3,4

Ada beberapa faktor yaitu :

1. Faktor infeksi

a. Infeksi enteral, yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare
pada anak.
- Infeksi bakteri : Vibrio, Ecoli, Salmoella, Shigella, dan sebagainya.

- Infeksi virus : Enterovirus (Virus ECHO, Coxsackie, Poliomyelitis), Adenovirus,


Rotavirus, dan lain lain
- Infeksi parasit : Cacing (Ascaris, Trichiuris, Oxyuris, Strongyloides), Protozoa
(Entamoeba histolytica, Giardia lambilia, Trichomonas hominis), Jamur (Candida
albicans).

b. Infeksi parental, yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan, seperti Otitis
Media Akut (OMA), Tonsilofaringitis, Bronkopneumonia, Ensefalitis, dan sebagainya.
Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak < 2 tahun.

2. Faktor malabsorbsi

a. Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa),


monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang
tersering ialah intoleransi laktosa.
b. Malabsorbsi lemak terutama lemak jenuh
c. Malabsorbsi protein.

10
3. Faktor makanan
Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
Faktor resiko yang meningkatkan transmisi enteropatogen :
1. Tidak cukup tersedianya air bersih

2. Tercemarnya air oleh tinja

3. Tidak ada / kurangnya sarana MCK

4. Higiene per orangan dan penyediaan makanan tidak higieni

5. Cara penyapihan bayi yang tidak baik (terlalu cepat disapih, terlalu cepat diberi susu botol
dan terlalu cepat diberi makanan padat)

6. Beberapa faktor resiko pada pejamu (host) yang dapat meningkatkan kerentanan pejamu
terhadap enteropatogen di antaranya adalah :

a. Malnutrisi

b. BBLR

c. Imunodefisien

d. Imunodepresi

e. Rendahnya kadar asam lambung

f. Peningkatan motilitas usus

g. Faktor genetik

2.9 Patogenesis8

Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah:

Gangguan osmotik (diare osmotik)

o Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat terserap akan
menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi
pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang
berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul
diare.

Gangguan sekresi (diare sekretorik)

11
o Akibat rangsangan tertentu (misalnya oleh toksin) pada dinding usus akan terjadi
peningkatan sekeresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare
timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus (volume tinja yang banyak
sekali).

o Penyebab = efek enterotoksin pada infeksi bakteria.

Gangguan motilitas usus

o Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurang kesempatan usus untuk menyerap


makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan
mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan
diare juga.

o Penyebab yang lain = diabetes mellitus, pasca vagotomi dan hipertiroid.

Malabsorbsi asam empedu, malabsorpsi lemak

o Disebabkan oleh gangguan pembentukan/ produksi micelle empedu dan penyakit


saluran bilier dan hati.

Diare infeksi

o Disebabkan oleh infeksi dinding usus.

o Infeksi dapat disebabkan oleh faktor kausal dan penjamu.

Tabel 4: Faktor faktor penyebab diare infeksi.9

Faktor kausal (agent) Faktor pejamu (host)

Kemampuan tubuh untuk mempertahan diri Daya penetrasi yang dapat merusak sel mukosa,
terhadap organism yang dapat menimbulkan kemampuan menghasilkan toksin yang
diare akut, terdiri dari faktor pertahanan mempengaruhi sekresi cairan usus halus serta daya
saluran cerna seperti keasaman lambung, lekat kuman.
motilitas usus, imunitas dan lingkungan flora
normal usus.

12
2.10 Manifestasi Klinis

Tabel 5: Derajat dehidrasi dan gejala klinisnya8

Ringan Sedang Berat


( penurunan BB 5% ) ( penurunan BB 6 9% ) ( penurunan BB 10% )

Mukosa membran kering Keadaan umum buruk Anak kecil : mengantuk, lemas,
berbanding gejala ringan keringat dingin, sianosis
tungkai, koma

Penurunan perfusi perifer Lesu, mudah tersinggung Anak lebih tua : keringat dingin,
sianosis tungkai

Haus, lesu Nadi cepat, tekanan darah Denyut nadi cepat dan lemah,
normal tekanan darah menurun

Peka dengan sekeliling Mata dan ubun ubun Mata dan ubun ubun cekung
cekung

Oliguria Turgor kulit buruk (> 2s)

Turgor kulit menurun (1 2s)

2.11 Penatalaksanaan

13
Prinsip pengobatan diare adalah untuk menggantikan cairan yang hilang melalui tinja dengan
atau tanpa muntah, dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain.

Rehidrasi

Untuk memberikan rehidrasi pada pasien perlu dinilai dulu derajat dehidrasi. Dehidrasi terdiri
dari dehidrasi ringan, berat dan sedang.

JENIS KEHILANGAN TANDA DEHIDRASI


CAIRAN

Dehidrasi ringan 2 5% berat badan Turgor kurang, suara serak, belum presyok

Dehidrasi sedang 5 8% berat badan Tugor buruk, suara serak, presyok/syok,


nadi cepat, napas cepat dan dalam

Dehidrasi berat 8 10% berat badan Tanda dehidrasi sedang bertambah,


kesedaran menurun, otot kaku, sianosis

Tabel 6: Derajat dehidrasi.5

Antara metode yang dapat kita gunakan untuk mengukur kebutuhan cairan untuk rehidrasi adalah
menggunakan Metode Daldiyono dengan berdasarkan skor klinis dan formula.

Kebutuhan cairan: (skor dehidrasi/ 15) x 10% x kgBB x 1 liter.

Skor dehidrasi untuk metoda ini adalah:

Tabel 7: Skor dehidrasi.6

Klinis Skor dehidrasi

Rasa haus/ muntah 1

TD sistolik 60 90 mmHg 1

TD sistolik < 60 mmHg 2

Frekuensi nadi > 120/ menit 1

Kesadaran apati 1

Somnolen, sopor, koma 2

14
Frekuensi napas > 30 /menit 1

Facies cholerica 2

Vox cholerica 2

Turgor kulit menurun 1

Washer womans hand 1

Ekstremitas dingin 1

Sianosis 1

Usia 50 60 tahun -1

Usia > 60 tahun -2

Pemberian cairan terbagi kepada beberapa tahap:

Tahap 1 = rehidrasi inisial (2 jam) sebanyak total kebutuhan cairan.

Tahap 2 = rehidrasi inisial (1 jam) tergantung kepada kehilangan cairan dalam tahap 1.

Tahap 3 = berdasarkan kehilangan cairan melalui tinja berikutnya dan insensible water
loss (IWL).

Apabila pasien dalam keadaan umum baik tidak dehidrasi, asupan cairan adekuat dengan
minuman dan sari buah. Namun, bila pasien kehilangan cairan yang banyak dan dehidrasi,
penatalaksaan agresif diberikan seperti:

o Cairan rehidrasi oral

Formula lengkap mengandunggi NaCl, NaHCO3, KCl dan glukosa

o Cairan parental

Larutan Darrow ditambah glukosa

Ringer laktat dan ditambah glukosa

Glukosa ditambah NaHCO3 atau NaCl

15
Jalan pemberian cairan untuk rehidrasi terbagi kepada 3 cara yaitu:

Peroral: untuk dehidrasi ringan, sedang dan tanpa dehidrasi dan bila anak mau minum
dan kesadarannya baik.

Intragastrik untuk dehidrasi ringan, sedang atau tanpa rehidrasi, tetapi anak tidak mahu
minum atau kesadaran menurun.

Intravena untuk dehidrasi berat.

Diet

Tidak berpuasa

Tidak meminum minuman yang bergas

Hindari kafein dan alcohol (meningkatkan motilitas peristaltik)

Mengambil makanan yang mudah dicerna

Hindari susu sapi karena defisiensi lactase transien pada pasien

Pengobatan antidiare

Tabel 8: Jenis obat antidiare.7

JENIS OBAT CONTOH OBAT

Antimotilitas Loperamid

Pengeras tinja Atapulgite (4 x 2 tab/ hari)

Tidak bermanfaat: kaolin, pectin, charcoal,


tabomal

Anti spasmolitik Papaverine

(tidak diperlukan untuk diare akut) Opium

Loperamid

Pengobatan antimikroba

16
Penggunaan obat ini tidak dianjurkan kepada kasus ringan, virus atau bakteri non invasive.
Antibiotika dapat digunakan apabila penyebab infeksinya jelas.

Tabel 9: Jenis bakteri dan pengobatannya.8

PENYEBAB TERAPI

Shigelosis Siprofloksasin

Salmonella paratyphi Siprofloksasin

Amoksisilin

Campylobacter Eritromisin

Disentri ameba Tinidazol

V. cholerae Siprofloksasin

Tetrasiklin

Giardia lamblia Tinidazol

Strongiloides Albendazol

2.12 Komplikasi

Pelbagai komplikasi yang berlaku akibat diare akut dimana berlaku kehilangan air dan elektrolit,
contohnya seperti:

Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonic atau hipertonik)

o Dehidrasi hipotonik/ dehidrasi hiponatremia

Kurang kadar Na+ dalam plasma (<130 mEq/l)

o Dehidrasi isotonic

Kadar natrium dalam plasma 130 150 mEq/ l

Hipotonik dan istonik: tidak begitu haus

17
o Dehidrasi hipertonik

Kadar natrium dalam plasma lebih dari 150 mEq/ l

Berasa sangat haus berserta kelainan neurologis seperti kejang, hiperfleksi


dan kesedaran menurun.

Gangguan keseimbangan asam basa (asidosis metabolik, hipokalemia dan sebagainya)

Hipokalemia: dengan gelaja hipotoni otot, bradikardia, perubahan EKG.

asidosis metabolik: terjadi akibat kehilangan NaHCO3 melalui tinja,


kelaparan, produk metabolik bersifat asam yang tidak dapat dikeluarkan
(oleh karena oliguria atau anuria), berpindahnya ion natrium dari cairan
ekstrasel ke cairan intrasel, serta penimbunan asam laktat (anoksia
jaringan tubuh).11

Gangguan gizi sebagai akibat kelaparan

o masukan makanan berkurang disebabkan anoreksia, muntah, memuasakan,


memberi makanan encer

o berkurang penyerapan makanan terutama lemak dan protein disebabkan:

Kerusakan vili usus

Defisiensi disakarida/ lactase menyebabkan malabsorbsi laktosa

Berkurang konsentrasi asam empedu

Transit makanan melalui usus meningkat, hingga tidak cukup waktu untuk
mencerna dan mengabsorbsi

o Meningkatnya kebutuhan zat makanan karena meningkatnya metabolism dan


kebutuhan untuk memperbaiki epitel usus

Hipoglikemia: pada gizi buruk atau kurang karena cadangan glikogen kurang dan
gangguan absorbsi glukosa (gejalanya pucat, tremor, lemas, apatis, berkeringat, kejang)

Renjatan hipovolemik yang akan menyebabkan gangguan sirkulasi darah

18
o Akral dingin, kesedaran menurun, nadi kecil dan cepat, tekanan darah menurun,
kulit lembab berkeringat dingin, pucat, sianosis

Dieresis berkurang (oliguria sampai anuria)

Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akubat defisiensi enzim lactase karena kerusakan
vili mukosa usus halus

Kejang, terutama pada dehidrasi hipertonik

Malnutrisi energy protein, karena selain diare dan muntah, penderita akan mengalami
kelaparan.

2.12 Prognosis8

Pasien diare akut disebabkan infeksi virus sembuh dengan baik tanpa komplikasi sekiranya
diberikan terapi rehidrasi yang tepat. Dehidrasi berat tanpa terapi rehidrasi yang adekuat dapat
menyebabkan shock hipovolemia yang berakhir dengan kematian.

2.13 Pencegahan

Faktor kebersihan5

o Mulai dari kebersihan alat makan anak sampai kebersihan setelah buang air kecil/
buang air besar. Semua yang dapat mengenai tangan anak atau langsung masuk ke
dalam mulut anak harus diawasi.

o mencuci tangan dengan sabun

o Penyiapan makanan yang higienis

o Penyediaan air minum yang bersih

o Kebersihan perorangan

o Cuci tangan sebelum makan

o Buang air besar pada tempatnya (WC, toilet)

19
o Tempat buang sampah yang memadai

o Berantas lalat agar tidak menghinggapi makanan

o Lingkungan hidup yang sehat.

Pemberian ASI eksklusif minimal 6 bulan.

o Di dalam ASI terdapat antirotavirus yaitu imunoglobulin. Makanya, anak anak


yang minum ASI eksklusif jarang menderita diare

Vaksin rotavirus per oral (melalui mulut).

o Untuk mencegah diare akibat infeksi rotavirus

o Belum tersedia di Indonesia.

Pemberian gizi yang baik kepada anak.

o Anak anak sedang membesar memerlukan gizi dan nutrisi yang mencukupi agar
dapat membesar dan bertumbuh dengan sihat

o Untuk membina ketahanan imun yang kuat untuk mempertahan diri dari serangan
virus, bakteri dan juga parasit.

Bab III

3.1 Kesimpulan

Anak tersebut mengalami diare cair akut dehidrasi ringan sedang disebabkan oleh infeksi.
Prinsip penanganan diare akut adalah untuk mencegah dehidrasi dan mengembalikan
keseimbangan elektrolit yang hilang dari tubuh pasien.

Daftar Pustaka

20
1. WHO/CDD. Persistent diarrhea in developing countries; memorandum from WHO
meeting Bull World Health Organ 1988;66;709-17.

2. Walker-Smith JA. Masalah Gasteroenterologi daerah tropis. Edi. 1. Jakarta: ECG; 2003.
Hal. 133-41.

3. P. D Welsby. Abdomen symptoms. Clinical History Taking and Examination. 2 nd


edition. Churchill Livingstone. London: 2010.

4. Gleadle J. Anamnesis and physical examination of abdomen. History and Examination


at a Glance. 10th Ed. Blackwell Science Ltd. 2007.

5. Chen Y. A., Christopher T. Acute diarrhea. Gastroenterology in Pediatrics. The


Toronto Notes. 27th ed. Toronto Notes for Medical Students, Inc. Toronto, Ontario,
Canada. 2011.

6. Hassan R., Alatas H. Diare pada bayi dan anak. Gastroenterologi. Buku Kuliah 1 Ilmu
Kesehatan Anak. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta. 2007.

7. Rudolph A. M. Hoffman J. I. E., Rudolph C. D. Evaluasi pada anak dengan diare akut.
Gastroenterologi dan Nutrisi. Buku Ajar Pediatri Rudolph. 20th ed. Vol. 2. Buku
Kedokteran EGC: 2007.

8. Sudoyo A.W., Setiyohadi B., Alwi I., Marcellus S. K., Setiati S. Diare akut.
Gastroenterologi. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 5th ed. Jilid 1. Interna Publishing.
Pusat penerbitan Ilmu Penyakit Dalam: 2009.

9. Geo. F. Brooks, Karen C. Carroll, Janet S. Butel, Stephen A. Morse, Timothy A.


Mietzner. Adenovirus, Herpesvirus, Rotavirus. Medical Microbiology. 25th ed. Lange.
Mc GrawHill; 2007.

10. Neal S. L., Michael S. G., Peter M. S. Case 13 2010: An 18.5 Month Old Girl
with Watery Diarrhea and Poor Weight Gain. N Engl J Med 2010; 362: 1619 26.

11. Shabir A. M., Nigel A. C, Duncan S., Desire W, Mari K., Cheryl L., Bagrey N., et
all. Effect of Human Rotavirus Vaccine on Severe Diarrhea in African Infant. N Engl
J Med 2010. 362: 289 98.

21