Anda di halaman 1dari 10

SATUAN ACARA PENYULUHAN

TENTANG IMPAKSI SERUMEN

Pokok bahasan : Gangguan Penyakit Impaksi Serumen


Sub pokok bahasan : Impaksi Serumen
Sasaran : Kelas A8-D
Hari/tanggal : Jumat, 29 Juni 2012
Waktu : 07.30-09.10 wita
Tempat : Ruang 404 STIKes Wira Medika PPNI Bali

I. Latar Belakang
Telinga merupakan salah satu bagian tubuh yang sangat penting bagi
kita. Jadi kebersihan dan kesehatan telinga harus selalu kita jaga agar
terhindar dari segala macam penyakit. Salah satu gangguan atau penyakit
yang bisa terjadi pada telinga yaitu otalgia. Indera pendengaran berperan
penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.
Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks
(pendengaran dan keseimbangan). Anatominya juga sangat rumit. Sangat
penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan
kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada
kemampuan mendengar.
Deteksi awal dan diagnosis akurat gangguan otologik sangat
penting.Di antara mereka yang dapat membantu diagnosis dan atau
menangani kelainan otologik adalah ahli otolaringologi, pediatrisian, internis,
perawat, ahli audiologi, ahli patologi wicara dan pendidik. Perawat yang
terlibat dalam spesialisasi otolaringologi, saat ini dapat memperoleh sertifikat
di bidang keperawatan otorinolaringologi leher dan kepala (CORLN=
cerificate in otorhinolaringology-head and neck nursing).

1
II. Tujuan Umum
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan dan demonstrasi selama 1x 60 menit,
mahasiswa A8-D diharapkan mampu mengetahui, memahami dan melakukan
upaya pencegahan terhadap penyakit impaksi serumen.

III. Tujuan Khusus


Setelah dilakukan pendidikan kesehatan dan demonstrasi selama 1x 60 menit,
mahasiswa A4-D diharapkan memahami tentang apa yang disampaikan
dengan criteria hasil:
a. Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian impaksi serumen dengan
benar
b. Mahasiswa dapat menjelaskan penyebab terjadinya impaksi serumen
c. Mahasiswa dapat menjelaskan tanda dan gejala impaksi serumen
dengan benar
d. Mahasiswa dapat memahami bagaimana penanganan impaksi serumen
dengan benar
e. Mahasiswa dapat memahami bagaiman pembersihan telinga yang
benar.

IV. Metode
Ceramah
Tanya jawab
Diskusi

V. Media
Laptop
LCD
Pamphlet
Papan tulis

2
VI. Isi Materi
Pengertian sumbatan serumen
Penyebab terjadinya sumbatan serumen
Tanda dan gejala pada sumbatan serumen
Penanganan pada sumbatan serumen
Cara pembersihan telinga yang benar

VII. Proses Pelaksanaan

N Waktu kegiatan sasaran


o
Penyajian siswa
1 15 menit Pembukaan a. menyampaik a. Peserta
a. Salam pembuka an salam menjawab
b. Perkenalan b. memperkenal salam
c. Menyampaikan kan diri b. Peserta
tujuan c. menyampaik mendengarkan
d. Kontrak waktu an tujuan
c. Peserta
e. Melakukan Apersepsi diskusi
mendengarkan
d. menyepakati
d. Peserta
kontrak
menyepakati
waktu
kontrak
e. penyaji
e. Peserta
melakukan
menjawab
Apersepsi
dengan benar
2 30 menit Kegiatan Inti a. Menjelaskan a. Peserta
a. Menjelaskan isi isi materi mendengarkan
materi b. Menjelaskan b. Peserta
b. Menjelaskan prosedur memperhatika
prosedur dan c. Menyuruh n
demonstrasi peserta c. Peserta
c. Menganjurkan mendemonstr mendemonstra

3
peserta untuk asikan sikan
mendemonstrasikan
3 15 menit Penutup a. Moderator a. Peserta
a. Sesi tanya jawab member mengajukan
b. Melakukan evaluasi waktu untuk pertanyaan
c. Menyimpulkan bertanya b. Peserta
materi yang b. Melakukan mendengarkan
didiskusikan evaluasi c. Peserta
d. Mengakhiri kegiatan c. Menyimpulk mendengarkan
dengan salam an materi d. Peserta
d. Menyampaik menawab
an ucapan salam
salam dan
terima kasih

VIII. Setting Tempat

Papan Tulis PENYAJI MATERI

MODERATOR LCD MEJA & LAPTOP

Peserta Peserta Peserta Peserta

Peserta Peserta Peserta Peserta

Peserta Peserta Peserta Peserta

Peserta Peserta Peserta Peserta

4
IX. Pengorganisasian
1. Ketua : Anak Agung Cahaya Dwita
2. Moderator : Agung Made Ulandari
3. Penyaji : I Kadek Darma Sanjaya
4. Fasilitator : I Made Pande Dharmawan

X. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
SAP sudah siap 1 hari sebelum penyuluhan.
Media (Laptop, LCD, Leaflet) dan tempat sudah siap
Moderator dan sekretaris sudah siap.
Peserta siap mengikuti penyuluhan.
2. Evaluasi Proses
Media (Laptop, LCD, Leaflet) sudah disiapkan sesuai rencana.
Tempat siap dan disusun sesuai dengan setting tempat yang
telah direncanakan.
Penyaji,moderator, sekretaris dan peserta siap mengikuti
penyuluhan.
3. Evaluasi Hasil
Penyuluhan berjalan sesuai rencana dan tepat waktu.
Masalah yang muncul saat pelaksanaan penyuluhan dapat
diatasi dengan baik.
Tujuan penyuluhan tercapai yaitu peserta penyuluhan dapat
memahami tentang isi penyuluhan dan diharapkan akan terjadi
perubahan perilaku.

5
XI. Referensi
1. Andrianto ,Petrus. 1986. Otalgia, dalam: Penyakit THT: 104-118. Jakarta.
2. Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. EGC : Jakarta.
3. Doengoes, Marilyn E.2000. Rencana Asuhan Keperawatan : pedoman
untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien.ed 3. Jakarta :
EGC
4. George L. Adams, Lawrence R. 1997. Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6.
Jakarta: EGC
5. Evelyn C. Pearce. 2008. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta:
EGC
6. Mansjoer,Arief,dkk.1999.Kapita Selekta Kedokteran,Edisi 3: Jakarta,
Mediaacs culapius
7. Kapita Selekta Kedokteran. Editor Mansjoer Arif (et al.) Ed. III, cet. 2.

6
LAMPIRAN MATERI PENYULUHAN

I. PENGERTIAN SERUMEN
Serumen, istilah yang berasal dari bahasa Latin cera (lilin),
merupakan produksi alamiah telinga. Sepertiga bagian luar dari lubang
telinga memang mengandung kelenjar yang berfungsi menghasilkan
serumen. Pada sebagian orang dihasilkan banyak serumen seperti halnya
sebagian orang lebih mudah berkeringat dibandingkan yang lain. Oleh
karena sengaja dibentuk, tentunya serumen tidak dimaksudkan sebagai
pengganggu, justru sebaliknya serumen merupakan suatu bentuk
perlindungan terhadap telinga.
Serumen di lubang telinga akan menangkap debu, mikroorganisme,
maupun partikel-partikel asing, dan mencegahnya masuk ke struktur
telinga yang lebih dalam. Serumen pun memiliki efek bakterisidal (dapat
membunuh bakteri). Efek tersebut diduga berasal dari komponen asam
lemak, lisozim dan immunoglobulin yang dikandungnya. Selain itu, pH
serumen yang relatif rendah merupakan suatu faktor tambahan yang dapat
mencegah terjadinya infeksi telinga.
Serumen juga berfungsi sebagai pelumas, yang akan menjaga
telinga supaya tidak kekeringan. Dalam kondisi kekeringan, lubang telinga
akan sangat mudah terluka, akibatnya telinga akan terasa nyeri dan rentan
terhadap infeksi. Ini membuktikan bahwa serumen tidak hanya melindungi
telinga dari ancaman yang datang dari luar, namun juga menjaga agar
lingkungan di dalam telinga tetap berada dalam kondisi yang fisiologis.
Pembersihan serumen secara terus-menerus apalagi sampai dihilangkan
seluruhnya justru akan merugikan.
Sumbatan serumen adalah gangguan pendengaran yang timbul
akibat penumpukan serumen di liang telinga dan menyebabkan rasa
tertekan yang mengganggu. Serumen dihasilkan dari produksi kelenjar
sebasea dan kelenjar serumen yang terdapat di kulit luar liang telinga yang
apabila tidak pernah dibersihakan dapat menimbulkan sumbatan liang

7
telinga.Konsistensi serumen biasanya lunak, tetapi kadang-kadang padat,
terutama dipengaruhi oleh faktor keturunan, iklim dan usia.

II. PENYEBAB SUMBATAN SERUMEN


Dengan mengorek telinga, kita justru mendorong serumen ke celah
sempit tersebut, tempat di mana seharusnya serumen tidak terbentuk.
Akibatnya serumen akan terjebak dan terakumulasi hingga akhirnya
menyebabkan sumbatan pada lubang telinga. Sumbatan tersebut akan
menghalangi hantaran gelombang suara ke gendang telinga, sehingga
pendengaran akan terasa berkurang. Selain berkurangnya pendengaran,
gejala akibat sumbatan serumen dapat pula berupa rasa tersumbat dan
mungkin juga rasa nyeri pada telinga. Terkadang sumbat serumen yang
padat menjadi lembab, misalnya setelah mandi, maka sumbat tersebut
dapat mengembang dan menyebabkan gangguan pendengaran sementara.
Memang ada ahli yang berpendapat, dalam keadaan serumen yang
sangat berlebihan penggunaan lidi kapas dapat dibenarkan. Tapi itu pun
hanya terbatas untuk membersihkan bagian luar lubang telinga, bukan
untuk mengoreknya. Idealnya, kita melakukan kunjungan rutin ke klinik
THT untuk membersihkan telinga. Tidak perlu terlalu sering, tapi bukan
berarti harus menunggu sampai gejalanya muncul. Memang tidak ada
batasan yang pasti berapa kali kunjungan harus dilakukan, namun
beberapa praktisi berpendapat 2-3 kali kunjungan dalam setahun sudah
cukup memadai. Bagi anak-anak usia sekolah, masa liburan semester
mungkin saat yang tepat untuk membersihkan telinga.

III. GEJALA SUMBATAN SERUMEN


Gejala yang dirasakan pada sumbatan serumen:
Pendegaran berkurang
Nyeri ditelinga karena serumen yang mengeras
Telinga berdenggung (tinutitis)

8
IV. PENGOBATAN PADA SUMBATAN SERUMEN
Pada setiap kunjungan, serumen dapat dibersihkan dengan berbagai
cara. Bila serumen cair, akan dipergunakan kapas dengan pelilit kapas
khusus. Serumen yang keras dikeluarkan dengan pengait atau kuret.
Kadangkala serumen yang keras akan sulit dikeluarkan dan menimbulkan
nyeri pada pasien. Untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan irigasi
telinga dengan air yang suhunya sesuai dengan suhu tubuh, tentunya
setelah terlebih dulu dipastikan tidak ada kerusakan pada gendang telinga.
Bila irigasi tidak berhasil, biasanya dokter akan memberikan obat tetes
telinga untuk melunakkan serumen tersebut. Setelah tiga hari
menggunakan tetes telinga barulah pembersihan serumen dapat dilakukan.
Keseluruhan prosedur ini tentunya merupakan pilihan terbaik, jadi sudah
saatnya untuk melupakan kebiasaan mengorek telinga agar terhindar dari
berbagai macam bahaya yang ditimbulkannya.

IRIGASI SALURAN TELINGA

V. CARA MEMBERSIHKAN SERUMEN


Pada prinsipnya, telinga akan membersihkan dirinya sendiri.
Biasanya serumen akan terbentuk sedikit demi sedikit, kemudian akan
keluar sendiri pada waktu mengunyah dengan membawa serta berbagai
kontaminan yang terperangkap bersamanya. Setelah sampai di luar lubang
telinga serumen akan hilang menguap oleh panas. Namun, kondisinya

9
mungkin berbeda pada setiap orang, bergantung pada banyaknya produksi
serumen.
Kebiasaan mengorek-ngorek telinga lazim kita jumpai, ada yang
menggunakan batang korek api, tisu, lidi kapas khusus, atau bahkan
benda-benda kecil yang terbuat dari logam. Apa pun bahan yang
digunakan, membersihkan telinga tidak dapat kita lakukan sendiri.
Membersihkan telinga harus dilakukan oleh orang yang ahli dan terlatih.
Untuk itu, kita dapat mengunjungi klinik-klinik THT di rumah sakit
terdekat atau ke praktik pribadi dokter, khususnya dokter spesialis THT.

10