Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

PEMULIAAN TANAMAN

ACARA IV
HIBRIDISASI TANAMAN MENYERBUK SILANG

Oleh :
Muhamad Minanurahman
NIM A1D015090
4

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam memuliakan tanaman salah satu tujuan utamananya adalah

mendapatkan suatu jenis tanaman yang lebih unggul dari tanaman yang

sebelumnya (indukannya), salah satu cara / metode yang dapat ditempuh adalah

dengan menggunakan metode hibridisasi (persilangan). Hibridisasi merupakan

perkawinan antara berbagai varietas atau spesies. Tujuan utama melakukan

persilangan adalah menggabungkan semua sifat baik ke dalam satu genotipe baru,

memperluas keragaman genetik, memanfaatkan vigor hibrida atau menguji

potensi tetua (uji turunan). Tanaman menyerbuk silang merupakan tanaman yang

benang sarinya berasal dari tanaman yang berbeda dengan putiknya, umumnya

penyerbukan silang diakibatkan karena Penyerbukan ini terjadi karena

terhalangnya serbuk sari dari bunga yang sama untuk melangsungkan

penyerbukan sendiri. Hibridisasi tanaman menyerbuk silang umumnya digunakan

untuk memperluas keragaman genetik suatu spesies selain itu hibridisasi ini

bertujuan untuk menguji ketegaran hibrida dalam rangka membentuk varietas

hibrida

Salah satu jenis tanaman yang menyerbuk silang adalah tanaman jagung.

Tanaman jagung mempunyai komposisi genetik yang sangat dinamis karena cara

penyerbukan bunganya menyilang. Tanaman yang vigor, tumbuh cepat, subur, dan

hasilnya tinggi justru diperoleh dari tanaman yang komposisi genetiknya

heterozigot. Fiksasi gen-gen unggul (favorable genes) pada genotipe yang


homozigot justru akan berakibat depresi inbreeding yang menghasilkan tanaman

kerdil dan daya hasilnya rendah. Selain itu tanaman jagung menyerbuk sialng

dikarenankan posisi bunga jantan lebih tinggi dibanding bunga betina dan Serbuk

sari dihasilkan oleh malai 1-3 hari sebelum rambut tongkol keluar, serta varietas

jagung di Indonesia sangat banyak dan dapat di tanam di dataran tinggi maupun

rendah.

B. Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk menghasilkan biji F1 dengan kombinasi sifat

tetua dari persilangan jagung, sebagai salah satu tahap dalam upaya perakitan

varietas baru untuk tanaman menyerbuk silang.


II. TINJAUAN PUSTAKA

Hibridisasi adalah persatuan antara tepung sari (jantan) dengan kepala putik

(betina), dan pembuahan adalah persatuan antara sperma dan sel telur sebagai

hasil pembelahan meiosis dari organ generatif sehingga terbentuk bakal buah

sebagai calon individu baru (Rizki, 2014). Sebagai hasil dari hibridisasi adalah

timbulnya keragaman genetik yang tinggi pada keturunannya, yang kemudian

digunakan pemulia tanaman untuk memilih tanaman yang mempunyai sifat-sifat

sesuai dengan yang diinginkan. (Sunarto, 1997). Penyerbukan silang adalah

berpindahnya serbuk sari dari suatu bunga tanaman lain kekepala putik tanaman

yang berbeda. Penyerbukan ini terjadi karena terhalangnya serbuk sari dari bunga

yang sama untuk melangsungkan penyerbukan sendiri. Umumnya penyerbukan

terjadi karena bantuan angin dan serangga ( Nasir, 2001).

Jagung merupakan salah satu tanaman yang melakukan penyerbukan silang,

dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan, kedudukan tanaman jagung

diklasifikasikan sebagai berikut (Sujiprihati, 2010):

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta,

Subdivisio: Angiospermae,

Class: Monocotyledoneae,

Ordo : Poales,

Famili : Poaceae(Graminae),
Genus : Zea,

Spesies : Zea mays L.

Tanaman jagung termasuk jenis tumbuhan semusim (annual). Susunan

tubuh (morfologi) tanaman jagung terdiri atas akar, batang, daun, bunga, buah.

Sistem perakaran jagung terdiri atas akar-akar radikal, kronal, dan akar udara.

Perakaran tanmanan jagung terdiri atas empat macam akar, yaitu akar utama, akar

cabang, akar lateral, dan akar rambut. Sistem perakaran tersebut berfungsi sebagai

alat untuk menghisap air serta garam-garam yang terdapat dalam tanah,

mengeluarkan zat organic serta senyawa yang tidak diperlukan dan alat

pernafasan. Batang tanaman jagung beruas-ruas dengan jumlah ruas bervariasi 10-

40 ruas. Tanaman jagung umumnya tidak bercabang. [anjang batang jagung

berkisar antara 60 cm- 300 cm, tergantung pada tipe jagung. Ruas-ruas batang

bagian atas berbentuk silindris dan ruas-ruas bagian batang bawah berbentuk bulat

agak pipih, Tunas batang yang telah berkembang menghasilkan tajuk bunga

berina. Bagian tengah batang terdiri aras sel-sel parenchyma. Daun jagung

tumbukh melekat pada buku-buku batang. Struktur daun jagung terdiri atas tiga

bagian, yaitu kelopak daunn, lidah daun (ligula), dan helaian daun. Bgian

permukaan daun berbulu, dan terdiri atas sel-sel bullifor. Bagian bawah daun pada

umumnya tidak berbulu. Jumlah daun tiap tanaman bervariasi antara 8-48 helai.

Ukuran daun berbeda-beda yaitu panjang antara 30 cam-150 cm dan lebar

mencapai 15 cm. Letak daun pada batang termasuk daun duduk bersilangan.

(Sujiprihati, 2010)
Tanaman jagung berumas satu (monoecus), yaitu bunga jantan terbentuk

oada ujung batang dan bunga betina terletak pada bagian tengah batang dan sakah

satu ketiak daun. Tanaman jagung bersifat protandry, yaitu bunga jantan matang

lebih dahulu 1-2 hari daripada bunga betina. Letak bunga janyan dan bunga betina

terpisah, sehingga penyebujan tanaman jagung bersifat menyerbuk silang. Bagian

terpenting dari bunga jantan adalah tepung sari, sekam kelopak, sekam tajuk atas,

sekam tajuk bawah dan kantung sari tiga pasang yang panjangnya 6 cm. Bunga

betina terdiri atas ovary dan sel telur yang dilundunga olej suatu carpel. Carpel ini

tumbuh menjadi rambut-rambut. Buah jagung terdiri atas tongkol, biji, dan daun

pembungkus. Pada umumnya, biji jaung tersusun dalam barisan yang melekat

secara lurus atauu berkelok-kelok dengan jumlah antara 8-20 baris biji. Biji

jagung terdiri ara tiga bagian utama, yaitu kulit biji, endosperm, dan embrio

(Sujiprihati, 2010).

Penyerbukan silang dialam terjadi secara spontan. Penyerbukan tersebut

terjadi dengan bantuan angin, serangga pollination dan binatang lainnya. Pada

penyerbukan alami tidak diketahui sifat-sifat dari pohon induk apakah baik atau

buruk sehingga tidak dapat dilakukan pengontrolan. Akibatnya hasilnya seringkali

mengecewakan. Oleh karena itu agar persilangan dapat dikontrol dan hasilnya

sesuai dengan yang diharapkan, maka manusia melakukan penyerbukan silang

buatan (Wels, 1981). Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan hibridisasi:

1. Pemilihan tetua.

2. Pengetahuan tentang morfologi dan metode reproduksi tanaman (menyerbuk

sendiri dan menyerbuk silang).


3. Waktu tanaman bunga (waktu bunga mekar/tanaman berbunga)

4. Keadaan cuaca saat penyerbukan.

5. Pelaksana (Sunarto, 1997).

III. METODE PRAKTIKUM

A. Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini meliputi tongkol tetua

betina serta malai tetua jantan. Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini

adalah kantong kertas besar, kantong kertas sedang, trigonal klip, label dan alat

tulis.

B. Metode Kerja

Prosedur kerja dari acara ini adalah sebagai berikut:

1. Bahan dan alat disiapkan yang akan digunakan pada praktikum ini.

2. Tongkol tetua betina dipilih yang belum diserbuki dan malai tetua jantan

dicari yang siap untuk disilangkan.

3. Serbuk sari dari malai tetua jantan dari varietas jagung lain diambil untuk

dilakukan penyerbukan silang.

4. Tongkol tetua betina yang sudah siap ditaburi dengan serbuk sari, setelah itu

tongkol ditutup dengan sungkup yang telah diberi etiket, didalam etiket

tersebut berisi nama kelompok, rombongan, waktu persilangan dan varietas

apa saja yang disilangkan.

5. Pengamatan dilakukan setelah 14 hari pada saat pertama kali menyilangkan.


6. Hasil dari pengamatan yang telah dilakukan dicatat pada lembar pengamatan

yang telah disediakan.

7.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

PENGAMATAN Bima >< Bisi-18


F1 MRW
Dokumentasi sebelum hibridisasi Dokumentasi sesudah hibridisasi

Keterangan
Waktu penyerbukan : Tanggal 07 Mei 2017 / Jam 09.30
Waktu pengamatan : Tanggal 20 Mei 2017 / Jam 09.30
Warna kelobot : Hijau Muda
Jumlah biji per tongkol : 525 biji
Jumlah baris per tongkol : 17 baris
Panjang tongkol : 23 cm
Diameter tongkol : 3 cm
Warna biji : Kuning Pucat
KARAKTER KUALITATIF DAN KUANTITATIF PADA PARENTAL
TANAMAN JAGUNG
Varietas : Bima Varietas : Bisi-18
Jagung hibrida varietas Bima-1 Memiliki batang basah, kokoh dan
merupakan persilangan Antara sesame tegap. Warna batang hijau. Tinggi
galur Mr-14. Varietas ini memiliki tanman kurang lebih 230 cm. Daun
tinggi tanaman sekitar 215 cm, umur medium dan tegak. Warna daun hijau
masak fisologis 97 hari, umur 50% gelap. Bentuk malai kompak dan agak
keluar rambut (silking) 54 hari , tegak. Warna sekam ungu kehijauan.
perakaran baik, keragaman tanaman Warna anthena ungu kemerahan.
seragam, panjang tongkol sekitar 18 Tinggi tongkol 115 cm. Kelobot
cm, warna biji mutiara kuning, bobot menutupi tongkol cukup baik. Tipe
310 gram/1000 biji, jumlah baris biji semi mutiara. Warna biji orang
dalam tongkol 12-14 baris, baris biji kekuningan jumlah baris / tongkol 14-
lurus, rata-rata produksi hasil 7,3 ton, 16 baris. Bobot 1000 biji 303 gr. Rata-
pipilan kering dengan potensi hasil 9 rata hasil 9,1 ton / ha, pipilan kering
ton / ha, pipilan kering

B. Pembahasan

Hibridisasi merupakan kegiatan mengawinkan 2 tanaman yang tanaman

yang memiliki 2 sifat yang berbeda. Menurut Ellstrand (2011) hibridisasi adalah

proses kawin antar individu dari spesies yang berbeda (persilangan interspesifik)

atau individu genetik berbeda dari spesies yang sama (hibridisasi intraspesifik).

Hibridisasi bertujuan menggabungkan sifat sifat baik dari kedua tetua atau

induknya sedemikian rupa sehingga sifat sifat baik tersebut dimiliki oleh

keturunannya. Hasil dari hibridisasi adalah timbulnya keragaman genetik yang

tinggi pada keturunannya. Keragaman yang tinggi inilah yang menyebabkan

seoran pemulia tanaman akan memilih tanaman yang mempunyai sifat-sifat sesuai

yang diinginkan (Sunarto, 1997).

Tanaman menyerbuk silang merupakan tanaman yang proses

penyerbukannya berasal dari tanaman yang berbeda, misalnya serbuk sari

tanaman berasal dari tanaman A dan digunakan untuk menyerbuki putik tanaman

B. Nasir ( 2001) menambahkan bahawa penyerbukan silang adalah berpindahnya

serbuk sari dari suatu bunga tanaman lain kekepala putik tanaman yang berbeda.

Penyerbukan ini terjadi karena terhalangnya serbuk sari dari bunga yang sama
untuk melangsungkan penyerbukan sendiri. Umumnya penyerbukan terjadi karena

bantuan angin dan serangga.

Persilangan atau hibridisasi merupakan salah satu cara untuk memperluas

keragaman genetik, dan atau menggabungkan karakter-karakter yang diinginkan

dari para tetua sehingga diperoleh populasi-populasi baru sebagai bahan seleksi

dalam program perakitan varietas unggul baru (Biswal et al., 2008). Peningkatan

keberhasilan hibridisasi dapat ditingkatkan dengan cara tanaman yang tepat

sebagai induk persilangan.Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat Witcombe

et al. (2013) pemilihan tetua menjadi salah satu tahap yang krusial dalam proses

pemuliaan melalui persilangan. Keberhasilan persilangan akan meningkat apabila

tetua yang digunakan dan kombinasi persilangannya tepat, sehingga dengan

jumlah kombinasi persilangan yang sedikit, efisiensi pemuliaan akan meningkat.

Kegiatan hibridisasi menyerbuk silang kali ini yaitu menggunakan tanaman

jagung.Tanaman jagung merupakan salah satu contoh tanaman yang melakukan

penyerbukan secara silang. Penyerbukan silang tanaman jagung sendiri

disebabkan oleh bunga jantan yang masak terlebih dahulu dibandingkan dengan

bunga betina oleh sebab itu tanaman jagung menyerbuk secara silang. Tanaman

jagung yang dipilih sebagai tetua yaitu tanaman jagung varietas Bima-1 dengan

varietas bisi-18. Varietas Bima-1 dipilih sebagai tetua dikarenakan menurut Aqil

dkk (2012) dikarenakan varietas ini merupakan varietas jagung hibrida yang

berasal dari silang tunggal galur murni Mr-4 dengan galur murni Mr-14 dengan

50% keluar rambut (silking) umur 54 hari dengan umur masak fisiologis 97

hari, perakaran baik, keragaman tanaman seragam, panjang tongkol sekitar 18


cm bentuk silindris. Warna biji mutiara kuning, bobot 310 gram/1000 biji,

jumlah baris dalam tongkol 12-14 baris, baris biji lurus, rata-rata produksi hasil

7,3 ton/ha , pipilan kering dengan potensi hasil 9 ton/ha, pipilan kering. Varietas

jagung ini agak tahan terhadap penyakit bulai (P.maydis), bercak daun, serta karat.

Varietas Bisi-18 dipilih sebagai tetua dikarenakan menurut Aqil dkk (2012)

dikarenakan varietas ini merupakan varietas jagung hibrida persilangan Antara

galur murni FS46 sebagai induk betina dan galur murni FS17 sebagai induk

jantan. dengan 50% keluar rambut (silking) pada dataran rendah umur 57 hari

dan dataran tinggi 70 hari, sedangkan umur masak fisiologis di dataran rendah

100 hari dan dataran tinggi 125 hari, perakaran baik keragaman tanaman

seragam, perakaran baik dan tahan rebah. Panjang tongkol tanaman ini 115 cm

dengan warna biji oranye kekuningan, bentuk semi mutiara, jumlah baris 14-16

baris dengan berat 1000 biji 303 g.Rrata-rata produksi hasil 9,1 ton/ha , pipilan

kering dengan potensi hasil 12 ton/ha, pipilan kering. Varietas ini tahan terhadap

penyakit karat daun dan bercak daun.

Teknis penyerbukan tanman jagung yang dilakukan yaitu diawali dengan

pemilihan bunga betina terlebih dahulu dipilih tetua betina yang telah

mengeluarkan rambut (silking) yang masih pendek dan tegak karena diasumsikan

bahwa rambut yang pendek dan masih tegak menandakan bunga betina tersebut

blm terbuahi sepenuhnya dan baru saja matang. Tahap selanjutnya yaitu pemilihan

tetua jantan, tetua jantan yang dipilih yaitu bunga jantan yang kotak sarinya telah

berwarna unggu karena diasumsikan sebuk sari di dalam kotak sari tersebut sudah

matang dan bagaian bunga jantan di goyangkan untuk mengetahui apakan di


dalam kotak sarj tersebut masih banyak terdapat sebuk sari. Pemilihan tetua

tersebut harus pada tanaman yang berbeda diakarenakan secara alami kromosom

tanaman jagung heterozigot sehingga jika digunakan tetua pada tanaman yang

sama dikhawatirkan akan menurunkan produksi jagung. Tahap selanjutnya setelah

tetua dipilih sungkupkan sungkup pada bunga jantan lalu goyangkan bunga jantan

secara perlahan-lahan sehingga serbuk sari jatuh ke sungkup tersebut, serbuk sari

yang jatuh berwarna kuning, selanjutnya bagian bunga betina tadi dipotong

hingga menyisakan 1 cm dari tongkol. Serbuk sari yang telah didapat tadi lalu di

jatuhkan pada bunga betina diusakan mengenai bagian ujung dari rambut jagung

dikarenakan sebuk sari akan masuk dan membentuk biji pada tongkol jagung

melalui ujung dari rambut. Tahap terakhir adalah adalah penyungkupan guna

mengisolasi bunga betina disebuki oleh bunga jantan yang lain.

Bebertapa prosedur yang dialkukan dalam hibridisasi yang dilakukan

dengan cermat untuk memperoleh kualitas benih yang baik tanpa tercemar oleh

serbuk lain menurut Nasir (2001) yaitu :

1. Tongkol tanaman tiap kali akan dilakukan persilangan ditutup dengan

kantong kertas. Kantung ini harus tahan air dan kuat untuk mendukung

pertambahan berat dan volume tongkol. Penutupan tongkol dengan kantung

kertas ini dilakukan sebelum rambut tongkol keluar.

2. Kantung kertas tersebut diikat dengan kuat antara tongkol dan batang jagung,

agar tidak mudah diterbangkan angin. Setelah rambut tongkol keluar penuh

dilakukan penutupan malai yang akan menghasilkan serbuk sari dari tanaman

tetua yang akan digunakan sebagai tetua jantan. Penutupan malai tersebut
dilipat sedemikian rupa sehingga serbuk sari tidak bisa keluar ke bagian

bawah. Penutupan malai ini diperkuat lagi dengan jepitan atau staples agar

tidak bisa diterbangkan angin.

3. Hari berikutnya penyerbukan buatan dapat dilakukan. Malai digoyang-

goyangkan agar serbuk sari keluar dan terkumpul dalam kantung kertas

tersebut.

4. Selanjutnya, ramut tongkol dipotong dengan gunting hingga tinggal 2 cm

sehingga rambut tongkol menjadi rata.

5. Serbuk sari ditaburkan pada rambut tongkol. Pekerjaan ini harus dilakukan

dengan cepat untuk menghindari terjadinya kontaminasi.

6. Tongkol ditutup kembali dengan kantung kertas dan dijepit kuat pada batang

dengan staples setelah dilakukan persilangan

7. Kantung tersebut diberi keterangan tanggal persilangan dan jenis persilangan

yang dilakukan.

Penjabaran menggambarkan teknis hibridisasi jagung menurut literature yang

sedikit berbeda dari teknis yang dilakukan saat praktikum. Perbedaan yang

Nampak jelas adalah menurut literature penyungkupan dilakukan dari awal

sebelum terbentuknya rambut pada tongkol jagung terbentuk dan hibridisasi

tersebut dilakukan lebih dari satu hari sedangkan teknis yang kita lakukan saat

malai dan rambut jagung sudah siap dibuahi. Penyerbukan dilakukan terlebih

dahulu baru dilakukan penyungkupan tanpa isolasi awal. Kelebihan dari teknis

yang dilakukan saat praktikum adalah waktu dalam hibridisasi lebih singkat

namun memiliki kelemahan yaitu sulitnya mencari tetua yang belum tebuahi.
Mekanisme penyerbukan tanaman jagung yaitu setelah bunga jantan yang

telah masak dan sebuk sari di dalam kotak sari telah penuh terkena angin / secara

tidak sengaja tersentuh oleh serangga yang terbang menyebabkan serbuk sari

keluar dari kotak sari. Serbuk sari tersebut akan terbawa angin dan jatuh ke

rambut jagung yang sudah masak dan sudah siap dibuahi pada tanaman lain. Hal

tersebut terjadi dikarenakan bunga jantan masak terlebih dahulu dibanding bunga

betina dan juga letaknya yang berjauhan. Serbuk sari yang menempel pada ujung

dari rambut jagung akan dibawa kedalam tongkol dan membentuk biji didalam

tongkol. Rambut jagung yang tidak terserbuki akan terus memanjang hingga

tersebuki. Menurut Risa (2009) Stadia generative diawali pembentukan primordia.

Proses pembungaan yang mencakup peristiwa penyerbukan dan pembuahan.

Penyerbukan yang terjadi pada tanaman jagung biasanya dibantu dengan angin,

yaitu dengan cara menebarkan tepung sari kemudian menjatuhkan pada tangkai.

Letak bunga jantan dan betina tidak berada di satu tempat. Bunga jantan pada

ujung batang yang sedang berbunga, sedangkan bunga betina berada di

pertengahan batang atau tongkol. Perlu dijaga kemurnian biji dari varietas yang

dibudidayakan dan juga terjadinya penyerbukan silang pada tanaman jagung.

Proses penyerbukan, tepung sari tidak harus menempel pada kepala putik. Karena

tangkai putik dapat menyebabkan proses penyerbukan tetap berlangsung. Tangkai

putik berupa rambut jagung bila ditempel tepung sari. Perkembangan dan

pertumbuhan serbuk sari berlanjut. Proses pertumbuhan merupakan kelanjutan

peristiwa penyerbukan dapat berlangsung selama serbuk sari menempel pada

putik. Kemudian saluran-saluran tangkai putik bertemu sel telur


Hibridisasi yang dilakukan mendapatkan jagung hibrida yang berumur 14

hari dengan karakter tongkol hijau muda dengan jumlah biji pertongkol berjumlah

525 dengan baris pertongkol berjumlah 17 cm dengan panjang tongkol 23 cm

dengan diameter 3 cm dan warna biji kuning pucat serta wana rambut unggu

kemerahan. Karakter tersebut mendekati karakter dari jagung varietas bisi-18

dikarenakan tetua yang digunakan keduanya sebenarnya merupakan jagung

dengan varietas bisi18. Aqil dkk (2012) menambahkan vaietas bisi-18 memiliki

karakter tinggi tongkol 115 cm dengan kelobot menutup tongkol cukup baik,

tipe biji semi mutiara, warna biji oranye kekuningan jumlah baris 14-16 baris

dengan bobot 1000 biji 303 g.

Gambaran karakter sifat anakan bila menggunakan persilangan bima dengan

bisi-18 yang kemungkinan dihasilakn adalah varietas MRW dengan karakter

batang besar dan tegap berwarna hijau dengan tinggi tanaman 230 cm serta

tahan rebah. Tinggi tongkol 115 cm, berbiji mutiara berwarna kuning dengan

bobot 1000 biji 310 g . Jumlah baris/tongkol 14-16 baris dengan potensi hasil

9,0 12 ton/ha dan tahan terhadap karat dan bercak daun serta agak tahan

terhadap bulai. Karakter tersebut didapatkan dari penggabungkan sifat 2 varietas,

menurut Aqil dkk (2012) yaitu :

1. Varietas Bisi-18 yaitu, batang besar dan tegap berwana hijau. Tinggi tanaman

230 cm dan tahan rebah. Tinggi tongkol 115 cm dengan tipe biji semi

mutiara berwarna oranye kekuningan yang memiliki jumlah baris/tongkol 14-

16 baris. Bobot 1000 biji 303 g dengan rata-rata hasil 9,1 ton/ha serta

potensi hasil 12 ton/ha dengan ketahanan terhadap karat dan bercak daun.
2. Varietas Bima-1 yaitu, batang tegap dengan warna hijau. Tinggi tanaman

215 cm dan tinggi tongkol 94 cm dengan tipe biji mutiara berwarna kuning

memiliki jumlah baris/tongkol 12-14 baris. Bobot 1000 biji 310 g dengan

rata-rata hasil 7,3 ton/ha serta potensi hasil 8,0-9,0 ton/ha dengan ketahanan

agak tahan terhadap karat dan bercak daun.

Keberhasilan proses hibridisasi dipengaruhi beberapa faktor. Faktor-faktor

tersebut menurut Syukur, (2009) :

1. Faktor Internal
a. Pemilihan Tetua
Lima kelompok sumber plasma nutfah yang dapat dijadikan tetua
persilangan yaitu: (a) varietas komersial, (b) galur-galur elit pemuliaan,
(c) galur-galur pemuliaan dengan satu atau beberapa sifat superior, (d)
spesies introduksi tanaman dan (e) spesies liar. Peluang menghasilkan
varietas unggul yang dituju akan menjadi besar bila tetua yang digunakan
merupakan varietas-varietas komersial yang unggul yang sedang beredar,
galur-galur murni tetua hibrida, dan tetua-tetua varietas sintetik.
b. Waktu Tanaman Berbunga
Hal yang juga perlu diperhatikan dalam melakukan persilangan harus
diperhatikan: (1) penyesuaian waktu berbunga. Waktu tanam tetua jantan
dan betina harus diperhatikan supaya saat anthesis dan reseptif waktunya
bersamaan, (2) waktu emaskulasi dan penyerbukan. Pada tetua betina
waktu emaskulasi harus diperhatikan, seperti pada bunga kacang tanah,
padi harus pagi hari, bila melalui waktu tersebut polen telah jatuh ke
stigma. Juga waktu penyerbukan harus tepat ketika stigma reseptif. Jika
antara waktu antesis bunga jantan dan waktu reseptif bunga betina tidak
bersamaan, maka perlu dilakukan singkronisasi. Caranya dengan
membedakan waktu penanaman antara kedua tetua, sehingga nantinya
kedua tetua akan siap dalam waktu yang bersamaan. Untuk tujuan
sinkronisasi ini diperlukan informasi tentang umur tanaman berbunga
2. Faktor Eksternal
a. Pengetahuan tentang Organ Reproduksi dan Tipe Penyerbukan
Untuk dapat melakukan penyerbukan silang secara buatan, hal yang
paling mendasar dan yang paling penting diketahui adalah organ
reproduksi dan tipe penyerbukan. Dengan mengetahui organ reproduksi,
kita dapat menduga tipe penyerbukannya, apakah tanaman tersebut
menyerbuk silang atau menyerbuk sendiri. Tanaman menyerbuk silang
dicirikan oleh struktur bunga sebagai berikut :
1) secara morfologi, bunganya mempunyai struktur tertentu.
2) waktu antesis dan reseptif berbeda.
3) inkompatibilitas atau ketidaksesuaian alat kelamin.
4) adanya bunga monoecious dan dioecious.
b. Cuaca Saat Penyerbukan
Cuaca sangat besar peranannya dalam menentukan keberhasilan
persilangan buatan. Kondisi panas dengan suhu tinggi dan kelembaban
udara terlalu rendah menyebabkan bunga rontok. Demikian pula jika ada
angin kencang dan hujan yang terlalu lebat.
c. Pelaksana
Pemulia yang melaksanakan hibridisasi harus dengan serius dan
bersungguh-sungguh dalam melakukan hibridisasi, karena jika pemulia
ceroboh maka hibridisasi akan gagal
V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Hasil F1 yang dihasilkan yaitu jagung hibrida yang berumur 14 hari dengan

karakter tongkol hijau muda dengan jumlah biji pertongkol berjumlah 525 dengan

baris pertongkol berjumlah 17 cm dengan panjang tongkol 23 cm dengan diameter

3 cm dan warna biji kuning pucat serta wana rambut unggu kemerahan.

B. Saran

Sebainya persilangan benar-benar dilakukan dengan 2 varietas yang berbeda

sehingga benar-benar didapatkan karakter yang merupakan percampuran dari 2

varietas tersebut.
Daftar Pustaka

Biswal, MK, Mondal, MAA, Hossain, M & Islam, R . 2008. Utilization of


Genetic Diversity and Its Association with Heterosis for Progeny Selection
In Potato Breeding Programs American-Eurasian. J. Agric. & Environ.
Vol 3 (6) : 882-887.

Ellstrand. Norman C. 2007. Spontaneous Hybridization Maize and Teosinte.


Departement of Botany and Plant Sciences. Center for Conservation
Biology and Biotechnology Impacts Center. University of California
Riverside CA 92521-0124

Muhammad Aqil, Constance R., Zubachtirodin. 2012. Deskripsi Varietas Unggul


Jagung Edisi ke 7. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian

Nasir, M. 2001. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Jakarta. Direktorat Jenderal


Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional.

Risa Nurul F. 2009. Budidaya Tanaman Jagung. http://www.bbpp-


lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/515-budidaya-
tanaman-jagung-manis diakses tanggal 27 Mei 2017.

Rizki I.2014.Hibridisasi Dan Pewarisan Karakter Tipe Pertumbuhan Kacang


Tanah Keturunan Persilangan Antara K/Sr 3 Atau Nc 7 Dan Lima Varietas
Unggul Nasional. Skripsi. Fakultas Pertanian, Universitas
Lampung.Lampung

Sunarto. 1997. Pemuliaan Tanaman. IKIP Semarang Press, Semarang.

Syukur, M., S. Sujiprihati, dan R. Yunianti. 2009. Teknik pemuliaan tanaman.


Bagian Genetika dan Pemuliaan Tanaman. Departemen Agronomi dan
Hotikultura IPB. Bogor. 284 hal.

Sujiprihati, Sriani, Muhamad Syukur, Andi Takdir Makkulawu, dan R Neni


Iriany. 2012. Perakitan Varietas Hibrida Jagung Manis Berdaya Hasil
Tinggi dan Tahan Terhadap Penyakit Bulai. Jurnal Ilmu Pertanian
Indonesia (JIPI). Vol. 17 (3): 159-165.

Wels, James R. 1981. Dasar-dasar Denetika dan Pemuliaan Tanaman. Erlangga


Jakarta

Witcombe, JR, Gyawali, S, Subedi, M, Virk, DS & Joshi, KD 2013. Plant


Breeding Can Be Made More Efficient by Having Fewer, Better Crosses.
BMC Plant Biology. Vol 13 (4) : 13-22.
Lampiran

Sebelum Hibridisasi
Saat tanaman disebuki Awal tanaman diberi

Sebelum di potong dan sungkup


disebuki

Sesudah Hibridisasi
Tanaman sesuadah disebuki Sesudah sungkup dan

kelobot dibuka