Anda di halaman 1dari 17

BAB I

KONSEP DASAR

A. Pengertian

Chronic Liver Diseases merupakan penyakit hati kronis ditandai oleh

kematian jaringan hati yang terjadi secara berangsur-angsur dari waktu ke

waktu, penyakit ini meliputi : cirrhosis hati dan fibrosis hati adalah

pertumbuhan jaringan/tisu parut dalam yang berhubungan dengan

infeksi/peradangan, imflamasi, cidera, atau masa penyembuhan penyakit, hati

yang mengalami fibrosis umumnya cirrhosis. (University of Maryland

Medical Center, 2004).

Sirosis hati merupakan penyakit yang ditandai oleh adanya peradangan

difus dan menahun pada hati, diikuti dengan proliferasi jaringan ikat,

degenerasi dan regenerasi sel-sel hati, sehingga timbul kekacauan dalam

susunan parenchim hati ( FKUI, 2001 : 508).

B. Etiologi

Menurut University of Maryland Medical Center (2004) penyebab dari cronic

lever diseases adalah:

1. Hepatitis dan virus

2. Penggunaan obat yang terlalu sering

3. Terpapar bahan kimia

1
2

4. Obstruksi bilier

5. Penyakit autoimun

6. Obstruksi pembuluh darah hati

7. Gangguan jantung dan pembuluh darah

8. kekurangan alpha1-antitrypsin

9. Tingkat galaktose dalam serum yang tinggi

10. Tingkat tirosin dalam darah yang tinggi sejak lahir

11. Penyakit gangguan pembentukan glycogen

12. Diabetes

13. Malnutrisi

14. Keturunan

Sedangkan menurut FKUI (2001) sirhosis hepatik secara morfologis

dibagi atas mikronodular(portal), makronodular ( pascanekrotik) dan jenis

campuran, sedangkan dalam klinik dikenal 3 jenis yaitu portal. pascanekrotik

dan bilier, penyakit yang diduga dapat menjadi penyebab sirosis hepatik

adalah malnutrisi, alkhoholisme, virus hepatitis, kegagalan jantung yang

menyebabkan bendungan vena hepatica, penyakit Wilson hemokromatosis, zat

toksik.

C. Anatomi dan Patofisiologi

Infeksi hepatitis B atau C yang menimbulkan peradangan sel hati,

peradangan ini menimbulkan nekrosis pada daerah yang luas (hepatoselular),


3

terjadi kolaps lobulus hati yang memacu timbulnya jaringan parut disertai

terbentuknya septa fibrosa difus dan nodul hati sel hati. Jaringan parut ini

dapat menghubungkan antara porta yang satu dengan porta lainnya atau

dengan porta sentral. Nodul yang timbul menyebabkan percabangan

pembuluh hepatic, gangguan aliran darah porta dan hipertensi portal,

mekanisme sirosis hati dapat terjadi secara Mekanis, imunologis dan

campuran (Inayah, I, 2004 : 105).

Meskipun ada beberapa faktor yang terlibat dalam etiologi sirosis,

komsumsi alkhohol dianggap sebagai faktor penyebab yang utama. Sirosis

terjadi dengan frekuensi paling sering pada peminum minuman keras.

Meskipun defisiensi gizi dengan penurunan asupan protein turut menimbulkan

kerusakan hati pada sirosis, namun asupan alkhohol dianggaop sebagai factor

penyebab utama perlemakan hati dan konsekuessi yang ditimbulkan (Smeltzer

& Bare, 2002 : 1178).

Efek tosik alkohol pada hepar menyebabkan perubahan hebat pada

struktur dan fungsi sel-sel hepar. Perubahan ini ditandai dengan inflamasi dan

nekrosis sel hepar yang dapat setempat atau menyebar. Simpanan lemak

dalam sel-sel parenkim dapat terlihat pada awalnya. Penyebab perubahan

lemak ini tidak jelas, tetapi mungkin sebagai respons terhadap perubahan

fungsi enzim yang bertanggung jawab untuk metabolisme lemak normal.


4

Pelebaran sel-sel lemak menyebabkan tekanan pada lobule hepar, yang

mengarah pada peningkatan tekanan aliran darah. Terjadi hipertensi pada

sistem porta. Dengan tekanan balik yang cukup pada sistem porta, terjadi

sirkulasi kolateral dan memungkinkan darah mengalir dari intestinal langsung

ke vena kava. Peningkatan aliran darah ke vena esophagus menyebabkan

varises esophageal; pada vena lambung, varises lambung; pada limpa,

splenomegali dan pada vena hemoroidal, hemoroid.

Nekrosis diikuti oleh regenerasi dari jaringan hepar, tetapi tidak dalam

cara yang normal. Jaringan fibrosa yang terbentuk merusak bentuk normal

lobule hepar. Perubahan fibrotik ini tidak dapat pulih, mengakibatkan

disfungsi hepar kronis dan akhirnya gagal hepar.(Hudak & Gallo, 1996: 396)

D. Manifestasi Klinik

Menurut FKUI (2001) dan Inayah, I (2004) chronic liver diseases

(sirosis hepatik) sering menunjuk gejala akibat perubahan morfologi dan lebih

menggambarkan beratnya kerusakan yang terjadi daripada etiologinya,

sehingga sering ditemui adanya gejala dan tanda sebagai berikut :

1. Gejala-gejala gastrointestinal yang tidak khas seperti anoreksia, mual,

muntah, dan diare.

2. Demam, berat badan turun, lekas lelah.

3. Asites, hidrotoraks, dan edema.

4. Ikterus, kadang-kadang urin menjadi lebih tua warnanya atau kecoklatan.


5

5. Hepatomegali, bila telah lanjut hati dapat mengecil karena fibrosis. Bila

secara klinis didapati adanya demam, ikterus, dan asites, dimana demam

bukan oleh sebab-sebab lain, dikatakan sirosis dalam keadaan aktif. Hati-

hati akan kemungkinan timbulnya prekoma dan koma hepatikum.

6. Kelainan pembuluh darah seperti kolateral-kolateral di dinding abdomen

dan toraks, kaput medusa, wasir, dan varises esophagus.

7. Kelainan endokrin yang merupakan tanda dari hiperestrogenisme yaitu :

a. Impotensi, atrofi testis, ginekomastia, hilangnya rambut aksila, dan

pubis.

b. Amenore, hiperpigmentasi areola mammae.

c. Spider nevi dan eritema.

d. Hiperpigmentasi

8. Jari tabuh
6

E. Pathways
Virus hepatitis dan zat toksik

Toksik obat & bahan kimia Imflamasi & infeksi pd hepar Alkoholisme

Supali darah tdk normal Fungsi normal hepar terganggu Metabolisme terganggu

Bilirubin naik

Nekrosis Icterus Perlemakan hati

Sel yang rusak dibuang melalu


suplay darah oleh lobus

Fibrosisi hati

Jaringan parut dihati

Peningkatan tekanan portal

Penurunan aliran darah ke hati

Timbul kolateral (varises)

Peningkatan
Peningkatan tahanan
vasodilator pembuluh
(penurunan darah dalam hati)
degadrasi

Peningkatan sensitifitas vasokonstriktor (glukagon dan adenosine turun)

Vasodilatasi perifer Vasodilatasi splannik

Sirkulasi hiperdinamik (hipertensi portal berlebihan)

Asites
7

Penurunan fungsi hati Asites Peningkatan tekanan kearah


diagframa

Menekan lambung
Sintesa protein menurun Penekanan ke paru-paru

Mual & anoraksi, muntah


Penurunan daya tahan tubuh
MK. Nyeri lambung Pengembangan paru
terganggu

Intake nurisi kurang dari Intake cairan kurang


MK: Risiko infeksi kebutuhan

Mk: Risiko cairan kurang dari


kebutuhan
MK: Risiko nutrisi kurang
dari kebutuhan Suplay oksigen kurang

Penurunan suplay nutrisi


Hipoksemia jaringan

Metabolisme anaerob

MK: Intoleransi aktifitas Penimbunan asam laktat

(Hudak & Gallo, 1996; Inayah, 2004; Doenges, 2000)

F. Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri akut

a. Definisi

Nyeri (akut) adalah keadaan dimana indivudu mengalami dan

melaporkan adanya rasa ketidaknyaman yang hebat atau sensasi yang


8

tidak menyenangkan selama enam bulan atau kurang (Carpenito,L.J,

1998:55)

b. Karakteristik

Karakteristik dari diagnosa keperawatan ini adalah : mengungkapkan

adanya rasa nyeri, perilaku yang sangat hati-hati, melindungi bagian

tertentu, memusatkan diri, mempersempit fokus, perilaku distraksi

(tegang, mengerang, menangia,mondar-mandir, gelisah), raut wajah

kesakitan (mata kuyu, terlihat lelah, gerakan kaku, meringis),

perubahan tonus otot, respons autonom (diaforesis, perubahan tekanan

darah dan nadi, dilatasi pupil, penurunan atau peningkatan frekuensi

nafas (Carpenito,L.J, 1998 : 55-57).

2. Risiko Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan

a. Definisi

Suatu keadaan dimana individu yang tidak mengalami puasa atau yang

beresiko mengalami penurunan BB yang berhubungan dengan

masukan yang tidak adekuat atau metabolisme nutrient yang tidak

adekuat untuk kebutuhan metabolic ( Carpenito,L.J, 1998 : 252)

b. Karakteristik

Melaporkan ketidakadekuatan masukan makanan kurang dari masukan

harian yang dianjurkan dengan atau tanpa penurunan BB, BB 10%


9

sampai 20% atau lebih dibawah BB ideal untuk tinggi dan kerangka

tubuh

Lipatan kulit trisep, lingkar lengan tengah, dan lingkar otot

pertengahan lengan kurang dari 60% standar pengukuran

c. Kelemahan otot dan nyeri

tekan, peka rangsang mental dan kekacauan mental, penurunan

albumin serum( Carpenito,L.J, 1998 : 252-253).

3. Risiko Cairan Kurang Dari Kebutuhan

a. De

finisi

Kekurangan volume cairan adalah keadaan dimana seorang individu

yang tidak menjalani puasa mengalami atau berisiko mengalami

dehidrasi vaskuler, intersisiel atau intra vaskuler (Carpenito,L.J, 1998 :

141).

b. Ka

rakteristik :

Ketidak cukupan masukan cairal oral, keseimbangan negative antara

ketidakcukupan masukan cairan oral, keseimbangan negative antara

masukan dan pengeluaran, penurunan BB, kulit dan membrane

mukosa kering, peningkatan natrium serum, penurunan haluaran urine

atau haluaran urine berlebihan, urine memekat atau sering kemih,


10

penurunan turgor kulit, haus,mual, anoreksia (Carpenito,L.J, 1998 :

141-142)

4. Intoleransi Aktivitas

a. Definisi

Intoleransi aktivitas adalah penurunan dalam kapasitas fisiologis

seseorang untuk melakukan aktivitas sampai tingkat yang dinginkan

atau yang dibutuhkan (Magnan, 1987 dalam Carpenito,L.J, 1998 :

2).

b. Karakteristik (Carpenito,L.J, 1998 : 2-3)

1) Dispnea, sesak nafas, frekuensi

nafas berlebihan

2) Nadi lemah, frekuensi

meningkat, gagal untuk kembali pada tingkat preaktivitas

setelah 3 menit, perubahan irama pernafasan.

3) Tekanan darah gagal meningkat

dengan aktivitas, diastolik meningkat 15 mmHg

4) Pucat, sianosis, kekacauan

mental, vertigo, kelemahan dan keletihan

5. Risiko Infeksi

a. Definisi
11

Resiko infeksi adalah suatu keadaan dimana individu mengalami

peningkatan risiko untuk terserang oleh bakteri pathogen ( Mi Ja Kim,

1997 : 29), sedangkan menurut Carpenito,L.J, 1998 :208 resiko infeksi

adalah keadaan dimana seorang individu berisiko untuk terserang oleh

agen patogenik atau oportunistik dari sumber eksternal dan sumber

endogen

b. Karakteristik

Karakteristik dari diagnosa keperawatan resiko infeksi belum ada teori

6. Kurang Pengetahuan

a. Definisi

Kurang pengetahuan adalah Suatu keadaan dimana seseorang individu

atau kelompok mengalami defisiensi pengetahuan kognitif atau

keterampilan-keterampilan psikomotor berkenaan dengan kondisi atau

rencana pengobatan (Carpenito,L.J, 1998 :222)

b. Karakteristik

Menurut Carpenito,L.J (1998 :222) karakteristik dari diagnosa

keperawatan kurang pengetahuan adalah Mengungkapkan kurang

pengetahuan dan ketrampilan/permintaan informasi, mengekspresikan

ketidakakuratan persepsi status kesehatan, melakukan dengan tidak

tepat perilaku kesehatan yang dianjurkan atau yang diinginkan

7. Fokus Intervensi
12

1. Nyeri akut berhubungan dengan iritasi gastrointestinal dan perdarahan

a. Tujuan

Klien terbebas dari nyeri akut dengan criteria : melaporkan

ketidaknyaman hilang/terkontrol, mengungkapkan metode yang

digunakan untuk mengurangi nyeri, mengikuti regimen farmakologi

yang diresepkan (Doenges,M.E, 2000 : 45)

b. Intervensi (Doenges,M.E, 2000 : 46)

1). Pertahankan tirah baring selama fase akut

2). Berikan tindakan nonfarmakologis untuk mengurangi sakit

kepala: kompres dingin pada perut, masase kedua kaki, tehnik

relaksasi

3). Hindari aktivitas yang dapat menimbulkan vasokonstriksi

pembuluh darah misalknya: mengejan saat BAB, batuk yang

panjang, membungkuk

4). Bantu pasien ambulasi sesuai kebutuhan

5). Berikan cairan, makanan lunak, perawatan mulut

6). Berikan pengobatan sesuai indikasi ( analgesik)

2. Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake makanan

yang kurang sekunder terhadap mula, muntah, anoreksia

a. Tujuan
13

Tidak terjadi kekurangan nutrisi dengan criteria : BB stabil, diare

terhenti, makan yang sediakan habis (Wahidi,K.R & Aryati,Y, 1993 :

59).

b. Intervensi

1) Kaji makan kesukaan dan tidak suka, kesulitan menelan adanya

mual & muntah

2) Anjurkan pasien betrest total

3) Berikan tindakan kenyamanan seperti oral hygiene

4) Berikan makan porsi kecil tapi sering dalam keadaan hangat sesuai

diit

5) Timbang BB tiap hari

6) Pantau nilai albumin serum

3. Risiko kurang volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan output

cairan dan elektrolit yang berlebihan sekunder terhadap perdarahan

gastrointestinal

a. Tujuan

Kekurangan volume cairan teratasi dengan criteria: turgor kulit baik,

intake dan output seimbang, diare berhenti, kadar elektrolit dalam

batas norma, mukosa lembab, haluaran urine sesuai earna urine tidak

pekat, vital sign dalam batas normal (Wahidi,K.R & Aryati,Y, 1993 :

59).

b. Intervensi (Tucker,S.M, 1997 : 959).


14

1). Observasi mual,muntah &diare (catat

frekuensi & konsistensi cairan)

2). Monitot input dan output cairan

3). Monitor vital sign setiap 4 jam

4). Pertahankan hidrasi 2-3 liter perhari

5). Pantau tetesan infus

6). Pantau tanda dehidrasi dan elektrolit

serum

7). Timbang BB tiap hari

8). Kolaburasi pemberian cairan

parenteral

4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang sumber informasi

a. Tujuan

Klien menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan tindakan

dengan kriteria mampu mengidentifikasi hubungan tanda/gejala yang

ada dari proses penyakit dan menghubungkan faktor penyebab,

melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalam program

pengobatan

b. Intervensi

1) Jelaskan / kuatkan penjelasan dokter tentang proses penyakit

2) Sarankan pada klien keluarga menanyakan hal-hal yang tidak

dipahami tentang penyakitnya


15

3) Sarankan dan kuat rasional latihan nafas dalam , latihan batuk

efektif

4) Diskusikan tentang obat untuk menghentikan perdarahan dan

efek samping yang tidak diinginkan

5) Anjurkan klien untuk menhindar dari sumber makanan yang

meransang iritasi lambung dan perdarahan gastrointestinal

6) Berikan informasi tentang pembatasan aktivitas dan aktivitas

pilihan dengan periode istirahat untuk mencegah kelemahan

7) Berikan rencana perawatan detil dan pengkajian dasar fisik untuk

perawatan di rumah

5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan suplay oksigen yang kurang dari

kebutuhan sekunder terhadap penurunan hemoglobin akibat perdarahan

a. Tujuan

Klien mampu mentoleransi peningkatan aktivitas secara progresif

dengan criteria tidak sesak nafas setelah aktivitas dan peningkatan

frekuensi nadi kembali normal setelah 3 menit

b. Intervensi

1) Anjurkan tirah baring pada fase sesak nafas

2) Sarankan melakukan aktivitas secara bertahap, misalnya

membaca ditempat tidur, sikat gigi di tempat tidur

3) Rujuk klien dalam latihan fisik di fisioterapi


16

4) Anjurkan klien latihan minimal selama 15 menit bagian

pemanasan

5) Ajarkan penggunaan tehnik relaksasi fisik dan mental untuk

mencegah ancaman serangan

6) Sarankan klien untuk menggunakan inhaler sebelum aktivitas

6. Risiko infeksi berhubungan dengan pintu masuk kuman sekunder terhadap

lesi pada gastrointestinal

a. Tujuan

Klien menyatakan pemahaman tentang faktor resiko/penyebab infeksi

serta infeksi tidak terjadi dengan kriteria: melakukan tindakan-

tindakan mencegah infeksi. Meningkatkan pola hidup yang

meningkatkan lingkungan yang aman

b. Intervensi

1) Pantau suhu

2) Latih klien nafas dalam, batuk efektif,

perubahan posisi sering dan masukan cairan adekuat

3) Observasi warna, karakter, dan bau

sputum

4) Sarankan perawat atau keluarga cuci

tangan yang benar sebelum dan sesudah menolong klien

5) Sarankan keluarga untuk membatasi

pengunjung dan memakai masker jika perlu


17

6) Dorong klien menjaga antara

keseimbangan istirahat dengan aktivitas

7) Kolaburasi specimen sputum dengan

batuk atau penghisapan untuk pewarnaan kuman gram, kultur

8) Berikan antimikrobial sesuai indikasi