Anda di halaman 1dari 16

TUGAS VULKANOLOGI

GUNUNG API SINDORO

Nama Kelompok:

Novri Nataniel Toban ( 410015097)

Hafiz Sedek (410015099)

Ida Aprilian ( 410015)

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL

2017
DAFTAR ISI

COVER

DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN

PROSES TERBENTUKNYA GUNUNG API


SEJARAH GUNUNGAPI
GUNUNG API SINDORO

BAB II GEOLOGI

SETING TEKTONIK
SEJARAH GUNUNGAPI
PERIODE LETUSAN GUNUNGAPI

BAB III PRODUK LETUSAN DAN DAMPAKNYA

Apa saja produk letusannya


Dampak negatif letusan dan dampak positif letusan

DAFTAR PUSTAKA
BAB 1
PENDAHULUAN

Vulkanologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kegunungapian dan


merupakan mata rantai yang tak terpisahkan dengan ilmu geologi.Gunung api
mempunyai pengertian yang cukup kompleks, yaitu :
1. Merupakan bentuk timbulan di permukaan bumi yang dibangun oleh timbunan
rempah gunungapi.
2. Dapat diartikan sebagai jenis atau kegiatan magma yang sedang berlangsung.
3. Atau merupakan tempat munculnya batuan leleran dan rempah lepas gunungapi
yang berasal dari dalam bumi. Sebuah gunungapi disebut aktif apabila kegiatan
magmatisnya dapat dilihat sacra nyata. Leleran lava dari kawah puncak atau
kawah samping, adanya awan panas letusan dan awan panas guguran, lahar
letusan dan lain sebagainya mencirikan bahwa gunung api tersebut masih aktif.
Morfologi gunung api aktif biasanya menampakan bentukan kerucut sempurna.
Apabila gejala kegiatan magmatisnya tidak teramati, suatu gunungapi dapat
dikelompokan menjadi gunung api padam. Tetapi keadaan seperti ini bukan
berarti bahwa gunung api tersebut mati, sebab pada suatu saat gunungapi itu dapat
aktif kembali. Kenampakan gejala panas bumi di permukaan seperti daerah
ubahan hidrotermal, kubangan Lumpur panas, hembusan fumarol dan mata air
panas memang sering dikaitkan dengan gejala padamnya suatu gunungapi.
Sebagai contoh kontras, jalur panas bumi di Indonesia ternyata merupakan tempat
kedudukan gunungapi aktif, sebab gas-gas belerang akan dijumpai melimpah di
daerah gunungapi aktif.

PROSES TERBENTUKNYA GUNUNG API

1. Pemekaran kerak benua, lempeng bergerak saling menjauh sehingga


memberikan kesempatan magma bergerak ke permukaan, kemudian membentuk
busur gunung api tengah samudra.
2. Tumbukan antar, dimana kerak samudra menunjam dibawah kerak benua.
Akibat gesekan antar kerak tersebut terjadi pelebuaran dan batuan.
3. Kerak benua menjauh satu sama lain secara horizontal, sehingga menimbulkan
rekahan atau patahan. Patahan atau rekahan tersebut menjadi jalan ke permukaan
lelehan batuan atau magma sehingga membentuk busur gunungapi tengah benua
atau banjir lava sepanjang rekahan.
4. Penipisan kerak samudera akibat pergerakan lempeng memberikan kesempatan
bagi magma menerobos ke dasar samudera, terobosan magma ini merupakan
banjir lava yang membentuk deretan gunungapi perisai.
Penampang diagram yang memper lihatkan bagaimana gunungapi terbentuk di
permukaan melalui kerak benua dan kerak samudera serta mekanisme peleburan
batuan yang menghasilkan busur gunungapi, busur gunungapi tengah samudera,
busur gunungapi tengah benua dan busur gunungapi dasar samudera. (Modifikasi
dari Sigurdsson, 2000). Di Indonesia (Jawa dan Sumatera) pembentukan
gunungapi terjadi akibat tumbukan kerak Samudera Hindia dengan kerak Benua
Asia. Di Sumatra penunjaman lebih kuat dan dalam sehingga bagian akresi
muncul ke permukaan membentuk pulau-pulau, seperti Nias, Mentawai, dll.
(Modifikasi dari Katili, 1974).

SEJARAH GUNUNGAPI

Sejarah perkembangan pengetahuan kegunungapian bermula dari pengertian


manusia terhadap gejala tersebut meskipun terbatas dalam tingkatan yang sangat
sederhana dan bersifat animistic. Peradaban tentang pengetahuan gunungapi
berawal dari perilaku manusia dan manusia purba yang mempunyai hubungan
dekat dengan gunungapi.Itu ditandai dengan adanya penemuan fosil tulang-tulang
manusia purba yang ditemukan di Afrika dan Indonesia. Sebagai contoh banyak
ditemukan kerangka manusia di kota Pompeii dan Herculanum yang terkubur oleh
endapan akibat letusan Vesuvius pada 79 Masehi. Bangsa Poline beranggapan
bahwa kegiatan gunungapi berada dibawah tangan kekuasaan Dewa Pele.
Sedangkan Legenda orang Indian di Oregeon Amerika Serikat mengisahkan
adanya konflik antara dewa api yang bermukim di Mount Mazama dengan dewa
salju yang bertempat di Mount Shata. Pertempuran keduanya menyebabkan
hancurnya MountMazama, dan membentuk apa yang sekarang yang disebut
Creater Lake. Cerita Senada juga ditemukan dalam kisah atau legenda orang
Yunani dan Romawi kuno. Penalaran ilmiah tentang gunung api mungkin dimulai
oleh Empedocles (492 432), Dimana ia mulai merintis kegunungapian secara
jelas. Didekat puncak Mount Etna ia menghabiskan waktunya selama beberapa
tahun untuk mengamati dan meyakini bahwa di perut bumi terdapat larutan panas
pembentuk gunungapi. Setelah Empedocles, muncul beberapa pengamat seperti
Strabo (1600), Martin Lister(1638-1711), Charles Lyell dan Scrope.
Pada tahun 1827, Scroplah yang meletakan dasar pengertian Vulkanologi modern.
Didalam teorinya, Scrope berpendapat bahwa kegiatan vulkanik adalah arti dan
fungsi gas yang terkandung dalam magma. Dan baru beberapa dekade kemudian,
Vulkanologiwan Frank A. Perret mendukung pendapat Scrope, dimana Perret
berpendapat bahwa adalah gas adalah agen aktif atau motor penggerak magma.
Sejak itu penelitian kegunungapian mengalami perkembangan pesat, dimana
banyak muncul peneliti-peniliti baru. Perkembangan ilmu gunung api abad 20
dirintis oleh Thomas A. Jaggar, seorang profesor Geologi dari Masschusset
Institute of Technology (MIT), dan Frank A. Perret, seorang insnyur listrik
sahabat T.A. Edison. Dan sejarah ilmu gunung apitidak pernah terpisah dari
sejarah kegiatan pengamatan. Pusat pun mulai didirikan dimana-mana, seperti di
Hawaii(Hawaiian Vulcano Observatory) dan negara-negara lain pun mulai banyak
mendirikan pusat-pusat pengamatan gunungapi.

GUNUNG API SINDORO

Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang memiliki kekayaan alam yang
terindah. Baik itu alam lautnya atau di daratannya dari setiap pulau besar maupun
kecil yang terbentang luas dari Sabang sampai Merauke. Begitu pula Indonesia
kaya akan gunung-gunungnya yang menjulang tinggi. Berbicara soal keberadaan
gunung di Indonesia, ternyata Indonesia juga paling kaya jumlah gunungnya di
dunia, terutama gunung-gunungnya yang masih terbilang aktif, gunung berapi.
Dan Indonesia memang lebih didominasi oleh gunung api yang terbentuk akibat
zona subduksi antara lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia. Beberapa
gunung api terkenal karena letusannya, misalnya Krakatau, yang letusannya
berdampak secara global pada tahun 1883, letusan supervulkan Danau Toba yang
diperkirakan terjadi 74.000 tahun sebelum sekarang yang menyebabkan terjadinya
musim dingin vulkan selama enam tahun,dan Gunung Tambora dengan letusan
paling hebat yang pernah tercatat dalam sejarah pada tahun 1815. Sementara itu
gunung berapi yang paling aktif di Indonesia adalah Kelut dan Merapi di Pulau
Jawa, yang bertanggung jawab atas ribuan kematian akibat letusannya di wilayah
tersebut. Sejak tahun 1000 M, Kelut telah meletus lebih dari 30 kali, dengan
letusan terbesar berkekuatan 5 Volcanic Explosivity Index (VEI),sedangkan
Merapi telah meletus lebih dari 80 kali. Asosiasi Internasional Vulkanologi dan
Kimia Interior Bumi menobatkan Merapi sebagai Gunung Api Dekade Ini sejak
tahun 1995 karena aktivitas vulkaniknya yang sangat tinggi. Akan tetapi dibalik
semua itu justru masih ada satu gunung berapi yang sangat misteri kondisinya di
Pulau Jawa, tepatnya berada di perbatasan antara Kabupaten Wonosobo dan
Kabupaten Temanggung, yaitu Gunung Sindoro. Gunung Sindoro dan Sumbing
merupakan dua gunung yang letaknya berdekatan, serta memiliki bentuk dan
tinggi yang hampir sama. Tinggi Gunung Sumbing sekitar 3.340 m dpl dari
permukaan laut, sedikit lebih tinggi dari pada Sindoro 3.155 m dpl. Akan tetapi
Gunung Sindoro merupakan salah satu gunung yang masih terbilang aktif (gunung
berapi) dan merupakan salah satu gunung yang menjadi satu-satunya gunung
boom waktu untuk kedua wilayah kabupaten yang membatasinya, Wonosobo dan
Temanggung.
BAB II
GEOLOGI

SETING TEKTONIK

Berbagai proses geologi, secara fisis maupun kimiawi, antara lain bermula dari
adanya gangguan kesetimbangan sistem yang selanjutnya akan mengarah pada
pemulihan kesetimbangan baru. Adanya gangguan kesetimbangan sistem dan
beberapa kejadian yang diakibatkannya akan membentuk hubungan yang timbal
balik cdan saling pengaruh mempengaruhi. Kesetimbangan sistem isostatik,
kesetimbangan gaya tarik bumi, kesetimbangan panas bumi dan lain sebagainya
merupakan beberapa contoh kesetimbangan geologi. Kesetimbangan isostatik
akan tercapai apabila massa batuan di atas permukaan bidang kompensasi telah
sama dan normal,sehingga tidak ada penyimpangan regional. Kesetimbangan
yang mempengaruhi magma anatar lain kesetimbangan termal, kesetimbangan
hidrostatik, kesetimbangan termodinamika, kesetimbangan fisika, kimia dan
lainya. Selama dapur magma belum membeku maka senantiasa akan terjadi
gangguan kesetimbangan, misal berupa hilangnya panas, pembentukan kristal,
naiknya tekanan gas dan uap, pergerakan magma, letusan dan lain sebagainya.
Sistem hidrostatik dikatakan setimbang apabila berta jenis magma membesar ke
arah dalam. Suatu penyimpangan terhadap berat jenis, biarpun kecil. Gangguan
kesetimbangan pada magma yang berada dibawah permukaan bumi anatara lain
akan menyebabkan terjadinya arus terputar yang segera diikuti proses lanjutan
berupa pembentukan cekungan (geosinklin), tegangan pada kerak benua yang
berakhir dengan pembentukan lurah, retakan dan sesar; orogenesa, tektogenesa
dan gejala penerobosan magma ke permukaan bumi.
Sehingga jelaslah bahwa tektonik dan vulkanisme merupakan ekspresi gaya-gaya
dalam bumi yang dihuibungkan dengan proses pengalihan tenaga ke permukaan.
Sementara tektonik merupakan manisfestasi gejala aspek mekanik yang
ditimbulkan ; maka vulkanisme adalah manisfestasi aspek kimiawi dari proses
pemindahan tenaga tersebut.
Ada tiga lingkungan gunungapi yang dapat dibedakan dengan jelas :

1. Lingkungan tipe busur kepulauan (typical island-arc environment), dimana


gunungapi terdapat di bagian puncak punggungan pegunungan yang membusur.
Magma basalan dari bagian atas selubung bumi yang terletak dibawah suatu
punggungan akan naik sepanjang rekahan yang memotong lapisan granit. Dan
sewaktu magma menerobos lapisan tersebut akan terjadi perubahan
komposisi,disamping proses difrensiasinya sendiri berjalan tanpa halangan berarti.
Di permukaan akan terbentuk gunungapi andesitan.

2. Lingkungan tipe samodra (typical ocean environment), di mana gunungapi


muncul dan tersebar berderet di sepanjang puncak punggungan yang mempunyai
sistem reakahan pada kerak samodranya. Melalui rekahan yang memotong lapisan
basalan, magma primer yang basa bergenerasi ke atas dari asalnya yaitu selubung
bumi yang berada di bawah punggungan tersebut. Dan karena hampir tidak
menjumpai lapisan granitan, maka magma yang berdiferensiasi selama
perjalanannya ke atas tidak mengalami perubahan yang bersifat basalan.

3. Lingkungan tipe benua (typical continental envoronment, di mana pada jalur


pegunungan yang tak stabil terdapat lapisan kerak granitan yang tebal. Magma
yang bergenerasi dekat dengan dasar akar p[egunungan, kemudian naik secara
perlahan melalui rekahan pada kerak granitan dan muncul di permukaan sebagai
gunungapi andesitan dan riolitan.
SEJARAH GUNUNGAPI

Jika kita berkunjung ke Wonosobo, sebuah kabupaten kecil di Jawa Tengah maka
kita akan bertemu dengan dua buah gunung yang berdiri kokoh berdampingan
yaitu Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Jika saat pagi hari anda
berkesempatan mengabadikan kedua gunung tersebut dengan kamera maka anda
akan mendapatkan pemandangan yang demikian indah dan menyejukkan mata,
apalagi saat kedua gunung tersebut masih tersaput awan tipis atau kabut di pagi
hari.

Dengan ditambah udara dingin pagi hari, penampakkan gunung Sindoro yang
terlihat tenang seakan ikut mengawal dan mengawasi aktifitas pagi warga
Wonosobo dan warga Temanggung sebagai dua kota yang memliki posisi
geografis/letak paling dekat dengan gunung Sindoro.
Meski terlihat tenang, sebenarnya gunung sindoro merupakan gunung volkano
aktif dengan kawahnya yang masih aktif dan masih mengeluarkan asap putih.
Gunung ini juga pernah meletus dengan intensitas ringan sampai sedang.
Gunung Sindoro yang memiliki ketinggian 3.150 meter diatas permukaan laut ini
pernah mengalami letusan beberapa kali, berikut sejarah sebagian letusan gunung
sindoro:
Sejarah Letusan

Sejarah mengenai letusan yang terjadi di Gunung Sindoro tidak banyak diketahui,
namun letusan baru mulai tercatat sejak Abad ke-18. Berikut ini adalah daftar
letusan maupun peningatan aktivitas vulkanik Gunung Sindoro yang terjadi sejak
Abad ke-18 Masehi :

1806 : Letusan di puncak gunung. Masih disangsikan kebenarannya.


1818 : Terjadi letusan abu yang menyebar hingga Pantai Pekalongan. Bulan
tidak diketahui.
1882 : Terjadi letusan abu di Gunung Kembang. Abunya jatuh hingga di
Kebumen. Antara 1-7 April kemungkinan terjadi leleran lava di lereng barat
laut.
1883? : Peningkatan aktivitas vulkanik. Kemungkinkan terjadi letusan pada
bulan Agustus.
1887 : 13-14 November. Terdengar suara ledakan.
1902 : 1-25 Mei. Kegiatannya terbatas pada bualan lumpur dan lontaran batu
pijar yang jatuh kembali di lubang letusan.
1903 : 16-21 Oktober. Letusan di rekahan kali Prupuk di atas Gunung
Kembang, di antara ketinggian 2850-2980 meter (letusan samping). Hujan abu
sampai di Kejajar dan Garung.
1906 : 22 September-20 Desember. Letusan di rekahan S1 dan terbentuknya
K5 di selatan dataran pasir Z1. Pada 25 September, terjadi hujan abu di
Kledung. Tanaman banyak yang rusak, rumah penduduk terbakar.
1908 : 10 Februari. Peningkatan aktivitas vulkanik. Terdengar suara
gemuruh.
1910 : Januari. Peningkatan aktivitas vulkanik. Di Temanggung kadang-
kadang terdengar suara gemuruh.
1970 : Setelah beristirahat selama kurang lebih 60 tahun, terdapat lagi
kenaikan aktivitas vulkanik tanpa menghasilkan suatu letusan. Adapun
urutannya adalah sebagai berikut :
21 Oktober kira-kira pukul 05.30 dan pada 28 Oktober kira-kira pukul
06.30, terasa bumi bergetar di Kampung Sigedang di lereng barat laut,
kurang lebih 4,5 km jauhnya dari puncak.
29 Oktober. Mulai tampak asap putih tipis mengepul dari lubang
letusan lama.
1 November. Kira-kira pukul 06.00, tampak asap putih tipis lurus
mengepul ke atas.
2 November. Pada pagi hari kira-kira pukul 06.00 Tampak asapnya
menebal. Antara pukul 09.00 hingga 14.00 terdengar suara blazer.
Di malam hari tampak asap berwarna merah di atas Gunung Sindoro,
kemudian di siang hari asap putihnya menipis kembali.

Hamidi dan Hadian (Juni 1973), telah melakukan pendakian puncak,


demikian pula Reksowirogo, tetapi tidak tampak bekas peningkatan aktivitas
vulkanik tersebut.

2011 : November 2011 - 30 Maret 2012. Terjadi semburan asap solfatara


di beberapa tempat pada dinding dan dasar kawah utama. Aktivitas
kegempaan juga mengalami peningkatan sejak bulan November 2011.

PERIODE LETUSAN GUNUNGAPI

Dilihat dari sejarah letusan gunung api yang sempat tercatat dari tahun 1806-2011
periode letusan gunung api ini tidak terlalu konsisten dari masa ke masa namun di
lihat dari catatan meletusnya rata-rata gunung ini meletus 1-5 tahun sekali
contohnya pada tahun 1806-1818-1882-1882-1887-1902-1903 dan seterusnya
namun pada tahun 1910 gunung api sindoro ini terakhir meletus dan istirahat
sampai tahun 1970 akhirnya menunjukan adanya lagi aktifitas gunung api namun
tidak meletus hingga pada saat tahun 2011 gunung api ini kembali meletus dan
sampai tahun 2017 belum ada lagi menunjukan aktifitas letusan gunung api
sindoro ini.
BAB III
PRODUK LETUSAN DAN DAMPAKNYA

Apa saja produk letusannya

Dari sejarah dan endapan hasil letusannya, diperkirakan letusan tipe strombolian
mendominasi karakter letusan Gunungapi Sindoro. Dari catatan sejarah yang
menunjukkan bahwa gunung Sindoro merupakan gunung volkano aktif maka
sangat wajar jika dari puncak gunung masih sering terlihat asap yang keluar dari
kawah gunung. Selama tidak ada aktifitas kegempaan yang biasanya menandai
akan terjadinya letusan maka kondisi gunung masih dianggap wajar. Jika ada
aktifitas gunung yang tidak biasa dan semakin aktif biasanya para pejabat terkait
yang aktif mengawasi kegiatan gunung berapi aktif maupun yang pasif/tidur pasti
akan segera melakukan pengamatan intensif untuk memprediksi aktifitas lanjutan
dari gunung yang sedang aktif.

Dimana kita tau gunung api sindoro adalah Tipe Stromboli dimana Letusan jenis
ini secara konstan terus berlangsung meskipun hanya berupa ledakan-ledakan
kecil. Dalam skala waktu tertentu biasanya gunung akan mengeluarkan benda
padat berupa batu atau abu vulkanik. seringnya terjadi letusan-letusan kecil yang
tidak begitu kuat, namun terus- menerus, dan banyak mengeluarkan efflata.
Letusannya memiliki interval waktu hampir sama. Gunung api Strombolian ini
melontarkan material padat berupa pasir, batu, dan abu. material yang
dimuntahkan berupa material padat, gas, dan batu.

Keterangan letusan tipe strombolian


1. memuntahkan material bom, lapili, dan abu
2. letusan terjadi pada interval waktu yang sama
3. tekanan gas rendah
4. magmanya sangat cair

Dampak negatif letusan dan dampak positif letusan

Dampak Positif Letusan Gunung Berapi

Gunung berapi jika meletus sangat membahayakan semua makhluk hidup yang
ada di sekitarnya. Walaupun begitu, letusan gunung berapi juga mempunyai
dampak positif yang sangat bermanfaat. Dampak positif letusan gunung berapi,
antara lain :

1. Dapat menyuburkan tanah karena abu sudah mengalami pelapukan yang


mengandung garam-garam mineral yang sangat dibutuhkan oleh
tumbuhan. Sehingga tanah tersebut sangat cocok digunakan untuk
bercocok tanam.
2. Membuka lapangan pekerjaan baru bagi penduduk sekitar pegunungan
yaitu penambang pasir. Material vulkanik yang berupa pasir itu memiliki
nilai jual yang sangat tinggi sehingga dapat membantu perekonomian
masyarakat.
3. Walaupun hutan telah rusak, dalam waktu beberapa bulan akan tumbuh
pepohonan lagi sehingga akan terbentuk hutan baru dengan ekosistem
yang baru pula.
4. Munculnya mata air yang banyak mengandung mineral. Mata air tersebut
disebut makdani
5. Dapat menyebabkan letak bahan-bahan tambang dekat dengan permukaan
tanah
6. Pada wilayah vulkanik, potensial terjadinya hujan orografis. Dimana hujan
potensial dapat terjadi karena gunung merupakan penangkan hujan terbaik
7. Pada wilayah yang sering terjadi letusan gunung berapi sangat baik untuk
didirikan pembangkit listrik
8. Bebatuan yang telah disemburkan oleh gunung berapi saat meletus dapat
dimanfaatkan sebagai bahan bangunan warga sekitar
9. Munculnya geyser atau sumber mata air panas yang keluar dari dalam
bumi yang sangat baik bagi kesehatan kulit
10. Menjadi tempat pariwisata dan sanatorium karena udaranya yang sangat
sejuk

Dampak Negatif Letusan Gunung Berapi

Selain memberikan dampak positif bagi makhluk hidup, letusan gunung berapi
juga memberikan dampak negatif sehingga sangat merugikan semua makhluk
hidup yang tinggal di sekitar gunung. Dampak negatif tersebut antara lain :

1. Pencemaran udara yang disebabkan oleh abu gunung berapi. Abu gunung
berapi tersebut mempunyai kandungan zat yang sangat berbahaya yaitu
hidrogen sulfide (H2S), sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida dan
material debu yang mengandung racun
2. Abu vulkanik yang sangat panas akan merusak segala yang dilewatinya
sehingga semua aktivitas penduduk di sekitar gunung akan lumpuh
termasuk kegiatan ekonomi
3. Lahar panas akan membuat hutan di sekitar gunung rusak akibat terbakar
sehingga ekosistem alamiah hutan akan terancam
4. Berbagai macam material yang dikeluarkan gunung berapi dapat
menimbulkan bibit penyakit seperti batuk-batuk, infeksi saluran
pernapasan, sakit kulit dan lain-lain
5. Hujan debu akan menghalangi pandangan dan juga mencemari udara
sekitar. Hal tersebut dapat menjadi penyebab pemanasan global.
DAFTAR PUSTAKA

https://henageofisikablog.wordpress.com/2016/04/23/macam-macam-gunung-api-
dan-tipe-erupsinya/

https://skepticalinquirer.wordpress.com/2015/01/25/tipe-tipe-letusan-gunung-api/

https://ensiklozone.blogspot.co.id/2016/09/dampak-positif-dan-negatif-
letusan.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Sindara

https://vulkanologi.wordpress.com/2009/03/03/vulkanologi/

http://maribelajargeografi.blogspot.co.id/2010/01/vulkanologi.html