Anda di halaman 1dari 6

Dalam bab ini akan dibahas mengenai kesenjangan yang penulis dapatkan antara

konsep dasar teori dan kasus nyata Tn. S diruang Gelatik RSJD Surabaya. Pembahasan yang
penulis lakukan meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan. intervensi, implementasi
keperawatan dan evaluasi.
1. Pengkajian
Menurut Craven & Himle (dalam Keliat. 2009) pengkajian merupakan pengumpulan
data subyektif dan obyektif secara sistematis untuk menentukan tindakan keperawatan bagi
individu, keluarga, dan komunitas. Pengumpulan data pengkajian meliputi aspek identitas
klien, alasan masuk, faktor predisposisi, fisik, psikososial, status mental, kebutuhan persiapan
pulang, mekanisme koping, masalah psikososial dan lingkungan, pengetahuan, dan aspek
medik. Dalam pengumpulan data penulis menggunakan metode wawancara, observasi secara
langsung terhadap kemampuan dan perilaku Tn. S. Selain itu keluarga juga berperan sebagai
sumber data yang mendukung dalam memberikan asuhan keperawatan pada Tn. S. Namun,
disaat pengkajian tidak ada ada anggota keluarga Tn. S yang menjenguknya sehingga, penulis
tidak memperoleh informasi dari pihak keluarga.
Menurut Stuart & Laraia (dalam Ngadiran, 2010) faktor presipitasi pada klien dengan
gangguan halusinasi dapat muncul setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan,
isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa. dan tidak berdaya. Adanya faktor tekanan bahwa
klien sering dimarahi oleh bapaknya, klien tidak boleh menonton tv, keluar dan sebagainya
merupakan faktor penyebab Tn.S masuk ke rumah sakit jiwa. Tn. S tidak pernah melakukan
penganiayaan, tindakan kriminal maupun adanya penolakan dari lingkungannya.
Tanda dan gejala halusinasi menurut Depkes (dalam Ngadiran. 2010) adalah sebagai
berikut: bicara, senyum, dan tertawa sendiri, tidak mampu mandiri dalam mandi, berpakaian
dan berhias dengan rapi, bicara kacau kadang-kadang tidak masuk akal, sikap curiga dan
bermusuhan, ketakutan, tampak bingung, mondar-mandir, konsentrasi kurang, perubahan
kemampuan memecahkan masalah, dan menarik diri. Gejala-gejala tersebut juga dialami oleh
klien seperti: tampak berbicara sendiri, mondar- mandir. Klien sudah mampu mandi secara
mandiri tetapi belum rapi dalam berpakaian. Klien berbicara berbelit-belit namun sampai juga
pada tujuan pembicaraan. Klien merasa sedih karena ingin cepat pulang dan bertemu dengan
ibunya. Klien suka menyendiri atau menghindar jika ada masalah.
Menurut Keliat (2009) didalam pengkajian harus dijelaskan jenis dan isi halusinasi,
waktu, frekuensi, dan situasi yang menyebabkan halusinasi, serta respon klien terhadap
halusinasinya. Dalam pengkajian pola fungsional difokuskan pada pola persepsi, pada klien
didapatkan data bahwa klien mengalami halusinasi pendengaran. Klien mendengar suara-
suara suara anak kecil yang ramai dan berisik pada saat malam dan pagi hari, saat suara itu
muncul, klien hanya diam dan mencoba untuk tidur.
Menurut Keliat dkk (2011) terapi farmakologi gangguan halusinasi adalah dengan
menggunakan obat antipsikotik sepeiti haloperidol, chlorpromazine, triheksilfenidil, dan obat
antipsikotik lainnya. Terapi yang sama juga diperoleh Tn. S setelah dikolaborasikan dengan
dokter yaitu terapi obat trifluoperazine 2x1 mg dan haloperidole 5mg.

2. Diagnosa Keperawatan
Menurut Videbeck (dalam Nurjannah. 2005) menyatakan bahwa diagnosa keperawatan
berbeda dari diagnosa psikiatrik medis dimana diagnosa keperawatan adalah respon klien
terhadap masalah medis atau bagaimana masalah mempengaruhi fungsi klien sehari-hari yang
merupakan perhatian utama diagnosa keperawatan. Menurut Kusumawati&Yudi (2010) pada
pohon masalah dijelaskan bahwa gangguan isolasi sosial: menarik diri merupakan etiologi,
gangguan persepsi sensori: halusinasi merupakan masalah utama (core problem) sedangkan
resiko perilaku kekerasan merupakan akibat. Namun, pada kasus Tn. S. pada analisa data
penulis lebih memprioritaskan diagnosa keperawatan gangguan persepsi sensori: halusinasi
pendengaran.
Menurut NANDA (2009-2011) pada diagnosa gangguan persepsi halusinasi memiliki
batasan karakteristik: perubahan dalam perilaku, perubahan dalam menajemen koping,
disorientasi, konsentrasi buruk, gelisah, dan distorsi sensori seperti berbicara sendiri, tertawa
sendiri, mendengar suara yang tidak nyata, dan mondar-mandir. Data yang memperkuat
penulis mengangkat diagnosa gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran yaitu data
subyektif yang diperoleh yaitu Tn. S mengalami halusinasi pendengaran. Klien mendengar
suara anak kecil yang ramai dan berisik pada saat malam dan pagi hari, saat suara itu muncul,
klien hanya diam dan mencoba untuk tidur. Sedangkan data obyektif yang didapatkan. Tn. S
antara lain tampak bingung, mondar-mandir, sering berbicara sendiri, konsentrasi kurang, dan
koping maladaptif. Kontak mata klien kurang, klien malu saat ditanya perawat, suara klien
pelan dan klien jarang berkomunikasi dengan temannya.

3. Intervensi Keperawatan
Menurut Ali (dalam Nurjanah. 2005) rencana tindakan keperawatan merupakan
serangkaian tindakan yang dapat mencapai setiap tujuan khusus. Perencanaan keperawatan
meliputi perumusan tujuan, tindakan, dan penilaian rangkaian asuhan keperawatan pada klien
berdasarkan analisis pengkajian agar masalah kesehatan dan keperawatan klien dapat diatasi.
Rencana keperawatan yang penulis lakukan sama dengan landasan teori, karena rencana
tindakan keperawatan tersebut telah sesuai dengan SOP (Standart Operasional Prosedur) yang
telah ditetapkan. Dalam kasus penulis juga mencantumkan alasan ilmiah atau rasional dari
setiap tindakan keperawatan.
Menurut Rasmun (2009) tujuan umum gangguan persepsi sensori halusinasi
pendengaran yaitu agar klien dapat mengontrol halusinasi yang dialaminya. Ada lima tujuan
khusus gangguan halusinasi, antara lain: tujuan khusus pertama, klien dapat membina
hubungan saling percaya. Rasional dari tindakan yang dilakukan yaitu hubungan saling percaya
sebagai dasar interaksi terapeutik antara perawat dan klien.Tujuan khusus kedua, klien dapat
mengenal halusinasinya dari situasi yang menimbulkan halusinasi, isi. waktu, frekuensi
halusinasi. dan respon klien terhadap halusinasinya. Rasional dari tujuan kedua adalah peran
serta aktif klien sangat menentukanefektifitas tindakan keperawatan yang dilakukan. Tujuan
khusus ketiga, klien dapat melatih mengontrol halusinasinya, dengan berlatih cara menghardik
halusinasi, bercakap-cakap dengan orang lain, dan mengalihkan halusinasinya dengan
beraktivitas secara terjadwal. Rasionalnya adalah tindakan yang biasa dilakukan klien
merupakan upaya mengatasi halusinasi. Tujuan khusus keempat, klien dapat dukungan
keluarga dalam mengontrol halusinasi dengan rasionalnya keluarga mampu merawat klien
dengan halusinasi saat berada di rumah.Tujuan khusus kelima, klien dapat memanfaatkan obat
untuk mengontrol halusinasi clengan rasionalnya yaitu dapat meningkatkan pengetahuan dan
motivasi klien untuk minum obat secara teratur. Hal tersebut juga penulis rencanakan pada
klien dengan tujuan umum untuk mengontrol halusinasi dan lima tujuan khusus halusinasi yang
telah diuraikan diatas.
Setiap akhir tindakan strategi pelaksanaan dapat diberikan dukungan positif yang
rasionalnya untuk memberikan penghargaan atas keberhasilan Tn. S. Dukungan positif adalah
penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan
stimulus yang mendukung atau rewarding. Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa
hadiah seperti permen, kado, atau makanan, perilaku sepeti senyum, menganggukkan kepala.

4. Implementasi Keperawatan
Menurut Effendy (dalam Nurjannah. 2005) implementasi adalah pengelolaan dan
perwujudan dari rencana keperawatan yang yang telah disusun pada tahap perencanaan. Jenis
tindakan pada implementasi ini terdiri dari tindakan mandiri (independent), saling
ketergantungan atau kolaborasi (interdependent), dan tindakan rujukan atau ketergantungan
(dependent). Penulis dalam melakukan implementasi menggunakan jenis tindakan mandiri dan
saling ketergantungan.
Implementasi yang dilaksanakan antara lain: pada tanggal 24 Nopember 2016 pukul
09.00 WIB. Penulis melakukan strategi pelaksanaan 1 yaitu membangun hubungan saling
percaya dengan klien. Dilakukan dengan menyapa klien dengan ramah, memperkenalkan nama
perawat dan tujuan berkenalan, menanyakan nama panggilan kesukaan klien, memberikan
kesempatan klien mengungkapkan perasaannya. Klien mau berjabat tangan, menyebutkan
namanya dan menceritakan apa yang dialami.
Implementasi yang dilaksanakan pada hari kedua yaitu tanggal 25 Nopember 2016
pukul 09.00 WIB. Penulis melakukan strategi pelaksanaan 2 yaitu membantu mengenal
halusinasi pada Tn. S dengan menjelaskan cara mengontrol halusinasi, dan mengajarkan cara
pertama mengontrol halusinasi yaitu menghardik halusinasi. Klien dilatih untuk mengatakan
tidak terhadap halusinasi yang muncul atau tidak mempedulikan halusinasinya. Jika ini dapat
dilakukan maka Tn. S dapat mengendalikan diri dan tidak mengikuti halusinasi yang muncul.
Mungkin halusinasi tetap ada tetapi dengan menghardik klien tidak akan larut untuk menuruti
halusinasinya. Kemudian memberikan dukungan positif kepada klien karena telah berhasil
mempraktekkan cara menghardik halusinasi.
Implementasi ketiga dilaksanakan pada tanggal 26 Nopember 2016 pukul 08.30 WIB.
Penulis melakukan strategi pelaksanaan 3 yaitu mengajarkan cara kedua mengontrol halusinasi
dengan bercakap-cakap dengan orang lain. Penulis melakukan validasi dan evaluasi cara
pertama yaitu menghardik halusinasi. Penulis melatih cara evaluasi cara pertama yaitu
menghardik halusinasi. Penulis melatih cara mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap.
Ketika klien bercakap-cakap dengan orang lain, terjadi adanya perubahan fokus perhatian Tn.
S dari halusinasi ke percakapan yang dilakukan dengan orang lain. Kemudian memberikan
dukungan positif kepada klien apabila telah berhasil mempraktekkannya. Respon dari klien
yakni mampu menggunakan cara pertama dengan menghardik dengan benar dan mau untuk
mengalihkan perhatian dengan bercakap-cakap dengan orang lain.
5. Evaluasi
Menurut Kumiawati (clalam Nurjannah. 2005) evaluasi adalah proses berkelanjutan untuk
menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien. Evaluasi dibagi dua. yaitu evaluasi proses
atau formatif yang dilakukan setiap selesai melaksanakan tindakan, evaluasi hasil atau sumatif
yang dilakukan dengan membandingkan antara respon klien dan tujuan khusus serta umum
yang telah ditentukan. Pada kasus ini. penulis hanya menggunakan evaluasi formatif. Pada
pelaksanaan SP 1 tanggal 24 Nopember 2016 pukul 08.00 WIB klien berhasil percaya pada
perawat dan membina hubungan saling percaya. Pada pelaksanaan SP 2 tanggal 25 Nopember
2016 pukul 09.00 WIB. Klien berhasil melakukan dengan baik dalam mengenal halusinasi dan
klien mampu mengontrol halusinasi dengan cara| menghardik, sehingga dapat dianalisis bahwa
masalah teratasi. Pada pelaksanaan SP 3 26 Nopember pukul 09.00 WIB. Klien mampu
melakukan cara mengontrol halusinasi dengan menemui orang lain untuk bercakap-cakap,
sehingga dapat dianalisis bahwa masalah teratasi. Evaluasi sudah dilakukan penulis sesuai
keadaan klien dan kekurangan penulis tidak bisa mencapai batas maksimal pada rencana yang
diharapkan. Dalam melaksanakan strategi pelaksanaan 3,4 dan 5. penulis mendelegasikan
kepada perawat yang sedang bertugas di mana penulis praktik.