Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN GEDS (GASTROINTESTINAL DIARE SEDANG)

DI RUANG NAKULA 4

RSUD K.R.M.T. WONGSONEGORO SEMARANG

Disusun Oleh :

Fitria Umi Kasanah

P1337420916015

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN SEMARANG

JURUSAN KEPERAWATAN SEMARANG

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

2017
A. Definisi
Diare adalah buang air besar tidak normal dan bentuk tinja yang cair dengan
frekuensi lebih banyak dari biasanya (Sugeng, 2010)
Diare adalah defekasi encer lebih dari 3x sehari dengan atau tanpa darah dan
lendir dalam tinja (IKG Suwandi, 2006)
Diare akut adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat, dalam
beberapa jam sampai 7 atau 14 hari (Masjoer,2000)
Diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari tiga minggu. (Masjoer,
2000)

B. Etiologi
Penyebab diare ada beberapa faktor, yaitu :
1. Faktor infeksi
a. Infeksi Eksternal yaitu innfefeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan
pyebab utama diare :
1) Infeksi bakteri : Shigella, Shalmonella, Vibrio kholera, Aeromonas
2) Infeksi virus : Enterovirus (virus ECHO, coksakie, Poliomyelitis Adeno-virus,
rotavirus)
3) Infeksi parasit : cacing (Ascaris, Trichuris, Oxyuris ), jamur (Candida
Albicans), protozoa (Entamoeba histolitica, Tricomonas hominis)
b. Infeksi parental ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti otitis media
angkut (OMA), tonsilitis atau tonsilifaringitis, bronkopneumonia, ansefalitis.
2. Faktor malabsorbsi
a. Malabsorbsi karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa, maltosa, dan sukrosa)
monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa, dan galaktosa) pada bayi dan anak
yang paling terpenting dan sering (intoleransi laktosa)
b. Malabsorbsi lemak
c. Malabsorbsi protein
3. Faktor makanan : Makanan basi, beracun, terlampau banyak lemak, sayuran dimasak
kurang matang.
4. Faktor Psikologis : Rasa takut, cemas.
5. Faktor predisposisi diare antara lain, usia yang masih kecil, malnutrisi, penyakit
kronis, penggunaan antibiotik, air yang terkontaminasi, sanitasi atau higiene buruk,
pengolahan dan penyimpanan makanan yang tidak tepat

C. Patofisiologi
Penyebab gastroenteritis terdiri dari faktor infeksi, faktor malabsorbsi, faktor
makanan, dan faktor psikologis. Pertama, faktor infeksi akan mengalami reaksi inflamasi
sehingga terjadi peningkatan sekresi cairan dan elektrolit yang menyebabkan isi rongga
usus meningkat. Kedua, faktor malabsorbsi makanan di usus menyebabkan tekanan
osmotik meningkat dan terjadi pergeseran cairan & elektrolit ke usus, sehingga juga
meneybabkan isi rongga usus meningkat. Ketiga faktor makanan, dimana faktor makanan
disini adlah makanan yang beracun, basi maupun alergi terhadap makanan dimana hal ini
akan menyebabkan gangguan motilitas usus. Keempat, faktor psikologis (cemas atau
rasa takut yag berlebih) yang menyebabkan adanya rangsangan simpatis dan juga terjadi
gangguan motilitas usus. Gangguan motilitas usus terbagi menjadi 2, yaitu hipermotilitas
dan hipomotilitas. Hipermotilitas akan menyebabkan terjadinya peningkatan sekresi air &
elektrolit, sedangkan hipomotilitas akan menyebabkan adanya pertumbuhan bakteri.
Terjadinya peningkatan di isi rongga usus, sekresi air dan elektrolit, serta adanya
pertumbuhan bakteri menyebabkan terjadi penyakit gastroenteritis.
Gastroenteritis memiliki gejala dehidrasi yaitu kehilangan cairan & elektrolit
tubuh dimana pada saat itu terjadi penurunan volume cairan ekstra sel dan juga terjadi
penurunan cairan interstesial yang menyebabkan turgor kulit menurun, maka dalam hal
ini timbul masalah yaitunya kekurangan volume cairan dan cemas pada kliennya. Gejala
yang kedua yaitu kerusakan mukosa usus yang menyebabkan si penderita merasakan
nyeri. Gejala yang ketiga adalah sering terjadinya defekasi yang menyebabkan terjadi
resiko kerusakan integritas kulit. Gejala selanjutnya adalah terjadinya peningkatan eksresi
sedangakan asupan nutrisi tidak terpenuhi, pada hal terjadi ketidakseimbangan nutrisi.
D. Pathways

E. Manifestasi klinis
1. Defekasi cair lebih dari 3 kali
2. Anak menjadi rewel dan gelisah
3. Tonus otot menurun
4. Mual, Muntah
5. Demam sub febris
6. Nyeri abdomen
7. Membran mukosa mulut kering
8. Fontanela anterior cekung ( bayi yang kurang 18 bln)
9. Kehilangan berat badan
10. Lemah
11. Diare
12. Demam
13. Nafsu makan berkurang

F. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan Tinja
- Makroskopis dan mikroskopis
- PH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet clinitest, bila
diduga terdapat intoleransi gula.
- Bila perlu lakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi.
2. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah dengan menentukan
PH dan cadangan alkali atau lebih tepat lagi dengan pemeriksaan analisa gas darah
menurut Astrup (bila memungkinkan).
3. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
4. Pemeriksaan elektrolit terutama kadar natrium, kalium, kalsium dan fosfor dalam
serum (terutama pada penderita yang disertai kejang).
5. Pemeriksaan intubasi secara kualitas dan kuantitatif, terutama dilakukan pada
penderita diare kronik. (Dr. Rusepto Hassan, 2005).

G. Penatalaksanaan medis
Panduan pengobatan diare akut dapat dilaksanakan secara sederhana yaitu dengan terapi
cairan dan elektrolit per-oral dan melanjutkan pemberian makanan, sedangkan terapi non
spesifik dengan anti diare tidak direkomendasikan dan terapi antibiotika hanya diberikan
bila ada indikasi. Pemberian cairan dan elektrolit secara parenteral hanya untuk kasus
dehidrasi berat. Dalam garis besar pengobatan diare dapat dikategorikan ke dalam
beberapa jenis yaitu :
1. Pengobatan Cairan
Untuk menentukan jumlah cairan yang perlu diberikan kepada penderita diare, harus
diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
Jumlah cairan : jumlah cairan yang harus diberikan sama dengan
a. Jumlah cairan yang telah hilang melalui diare dan/muntah muntah PWL (Previous
Water Losses) ditambah dengan banyaknya cairan yang hilang melalui keringat,
urin dan pernafasan NWL (Normal Water Losses).

b. Cairan yang hilang melalui tinja dan muntah yang masih terus berlangsung CWL
(Concomitant water losses)
Ada 2 jenis cairan yaitu:
a. Cairan Rehidrasi Oral (CRO) : Cairan oralit yang dianjurkan oleh WHO-ORS,
tiap 1 liter mengandung Osmolalitas 333 mOsm/L, Karbohidrat 20 g/L, Kalori 85
cal/L. Elektrolit yang dikandung meliputi sodium 90 mEq/L, potassium 20
mEq/L, Chloride 80 mEq/L, bikarbonat 30 mEq/L (Dipiro et.al., 2005). Ada
beberapa cairan rehidrasi oral:
1) Cairan rehidrasi oral yang mengandung NaCl, KCL, NaHCO3 dan glukosa,
yang dikenal dengan nama oralit.
2) Cairan rehidrasi oral yang tidak mengandung komponen-komponen di atas,
misalnya: larutan gula, air tajin, cairan-cairan yang tersedia di rumah dan
lain-lain, disebut CRO tidak lengkap.
b. Cairan Rehidrasi Parenteral (CRP) Cairan Ringer Laktat sebagai cairan rehidrasi
parenteral tunggal. Selama pemberian cairan parenteral ini, setiap jam perlu
dilakukan evaluasi:
1) Jumlah cairan yang keluar bersama tinja dan muntah
2) Perubahan tanda-tanda dehidrasi (Suharyono, dkk., 1994 dalam Wicaksana,
2011).
2. Antibiotik
Pemberian antibotik secara empiris jarang diindikasikan pada diare akut infeksi,
karena 40% kasus diare infeksi sembuh kurang dari 3 hari tanpa pemberian anti
biotik. Pemberian antibiotik di indikasikan pada : Pasien dengan gejala dan tanda
diare infeksi seperti demam, feses berdarah,, leukosit pada feses, mengurangi ekskresi
dan kontaminasi lingkungan, persisten atau penyelamatan jiwa pada diare infeksi,
diare pada pelancong, dan pasien immunocompromised. Contoh antibiotic untuk
diare Ciprofloksasin 500mg oral (2x sehari, 3 5 hari), Tetrasiklin 500 mg (oral 4x
sehari, 3 hari), Doksisiklin 300mg (Oral, dosis tunggal), Ciprofloksacin
500mg, Metronidazole 250-500 mg (4xsehari, 7-14 hari, 7-14 hari oral atauIV).
3. Obat anti diare
a. Kelompok antisekresi selektif
Tersedianya secara luas racecadotri lyang bermanfaat sekali sebagai penghambat
enzim enkephalinase sehingga enkephalin dapat bekerja kembali secara normal.
Perbaikan fungsi akan menormalkan sekresi dari elektrolit sehingga
keseimbangan cairan dapat dikembalikan secara normal.
b. Kelompok opiate
Dalam kelompok ini tergolong kodein fosfat, loperamid HCl serta kombinasi
difenoksilat dan atropin sulfat (lomotil). Penggunaan kodein adalah 15-60mg 3x
sehari, loperamid 2 4 mg/ 3 4x sehari dan lomotil 5mg 3 4 x sehari. Efek
kelompok obat tersebut meliputi penghambatan propulsi, peningkatan absorbsi
cairan sehingga dapat memperbaiki konsistensi feses dan mengurangi frekwensi
diare. Bila diberikan dengan cara yang benar obat ini cukup aman dan dapat
mengurangi frekwensi defekasi sampai 80%. Bila diare akut dengan gejala
demam dan sindrom disentri obat ini tidak dianjurkan.
c. Kelompok absorbent
Arang aktif, attapulgit aktif, bismut subsalisilat, pektin, kaolin, atau smektit
diberikan atas dasar argumentasi bahwa zat ini dapat menyeap bahan infeksius
atau toksin-toksin. Melalui efek tersebut maka sel mukosa usus terhindar kontak
langsung dengan zat-zat yang dapat merangsang sekresi elektrolit.
d. Zat Hidrofilik
Ekstrak tumbuh-tumbuhan yang berasal dari Plantago oveta, Psyllium, Karaya
(Strerculia), Ispraghulla, Coptidis dan Catechu dapat membentuk kolloid
dengan cairan dalam lumen usus dan akan mengurangi frekuensi dan konsistensi
feses tetapi tidak dapat mengurangi kehilangan cairan dan elektrolit.
Pemakaiannya adalah 5-10 cc/ 2x sehari dilarutkan dalam air atau diberikan
dalam bentuk kapsul atau tablet.
e. Probiotik
Kelompok probiotik yang terdiri dari Lactobacillus dan Bifidobacteria atau
Saccharomyces boulardii, bila mengalami peningkatan jumlahnya di saluran
cerna akan memiliki efek yang positif karena berkompetisi untuk nutrisi dan
reseptor saluran cerna. Syarat penggunaan dan keberhasilan mengurangi /
menghilangkan diare harus diberikan dalam jumlah yang adekuat.

H. Pengkajian
1. Identitas
Perlu diperhatikan adalah usia. Episode diare terjadi pada 2 tahun pertama
kehidupan. Insiden paling tinggi adalah golongan umur 6-11 bulan. Kebanyakan
kuman usus merangsang kekebalan terhadap infeksi, hal ini membantu menjelaskan
penurunan insidence penyakit pada anak yang lebih besar. Pada umur 2 tahun atau
lebih imunitas aktif mulai terbentuk. Kebanyakan kasus karena infeksi usus
asimptomatik dan kuman enteric menyebar terutama klien tidak menyadari adanya
infeksi. Status ekonomi juga berpengaruh terutama dilihat dari pola makan dan
perawatannya .
2. Keluhan Utama
Yang dirasakan klien saat dikaji
3. Riwayat Penyakit Sekarang
BAB warna kuning kehijauan, bercamour lendir dan darah atau lendir saja.
Konsistensi encer, frekuensi lebih dari 3 kali, waktu pengeluaran : 3-5 hari (diare
akut), lebih dari 7 hari ( diare berkepanjangan), lebih dari 14 hari (diare kronis).
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Pernah mengalami diare sebelumnya, pemakian antibiotik atau kortikosteroid jangka
panjang (perubahan candida albicans dari saprofit menjadi parasit), alergi makanan,
ISPA, ISK, OMA campak.
5. Riwayat Nutrisi
Pada anak usia toddler makanan yang diberikan seperti pada orang dewasa, porsi
yang diberikan 3 kali setiap hari dengan tambahan buah dan susu. kekurangan gizi
pada anak usia toddler sangat rentan,. Cara pengelolahan makanan yang baik,
menjaga kebersihan dan sanitasi makanan, kebiasan cuci tangan,
6. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ada salah satu keluarga yang mengalami diare.
7. Riwayat Kesehatan Lingkungan
Penyimpanan makanan pada suhu kamar, kurang menjaga kebersihan, lingkungan
tempat tinggal.
8. Pemeriksaan Fisik
a. Pengukuran panjang badan, berat badan menurun, lingkar lengan mengecil,
lingkar kepala, lingkar abdomen membesar,
b. Keadaan umum : klien lemah, gelisah, rewel, lesu, kesadaran menurun.
c. Kepala : ubun-ubun tak teraba cekung karena sudah menutup pada anak umur 1
tahun lebih
d. Mata : cekung, kering, sangat cekung
e. Sistem pencernaan : mukosa mulut kering, distensi abdomen, peristaltic
meningkat > 35 x/mnt, nafsu makan menurun, mual muntah, minum normal atau
tidak haus, minum lahap dan kelihatan haus, minum sedikit atau kelihatan bisa
minum
f. Sistem Pernafasan : dispnea, pernafasan cepat > 40 x/mnt karena asidosis
metabolic (kontraksi otot pernafasan)
g. Sistem kardiovaskuler : nadi cepat > 120 x/mnt dan lemah, tensi menurun pada
diare sedang .
h. Sistem integumen : warna kulit pucat, turgor menurun > 2 dt, suhu meningkat >
375 0 c, akral hangat, akral dingin (waspada syok), capillary refill time memajang
> 2 dt, kemerahan pada daerah perianal.
i. Sistem perkemihan : urin produksi oliguria sampai anuria (200-400 ml/ 24 jam ),
frekuensi berkurang dari sebelum sakit.
9. Pengkajian (Pola Fungsi Kesehatan).
a. Persepsi Kesehatan : pasien tidak mengetahui penyebab penyakitnya, higienitas
pasien sehari-sehari kurang baik.
b. Nutrisi : diawali dengan mual, muntah, anopreksia, menyebabkan penurunan
berat badan pasien.
c. Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali
sehari,BAK sedikit atau jarang.
d. Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya nyeri
akibat distensi abdomen yakni dibantu oleh orang lain.
e. Tidur/istirahat : akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan
menimbulkan rasa tidak nyaman.
f. Kognitif/perceptual : pasien masih dapat menerima informasi namun kurang
berkonsentrasi karena nyeri abdomen.
g. Persepsi diri/konsep diri : pasien mengalami gangguan konsep diri karena
kebutuhan fisiologis nya terganggu sehingga aktualisasi diri tidak tercapai pada
fase sakit.
h. Seksual/reproduksi : mengalami penurunan libido akibat terfokus pada penyakit.
i. Peran hubungan : pasien memiliki hubungan yang baik dengan keluarga dan
peran pasien pada kehidupan sehari-hari mengalami gangguan.
j. Manajemen koping/stress : pasien mengalami kecemasan yang berangsur-angsur
dapat menjadi pencetus stress. Pasien memiliki koping yang adekuat.
k. Keyakinan/nilai : pasien memiliki kepercayaan, pasien jarang sembahyang
karena gejala penyakit.

I. Diagnosa
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor
biologis diare
2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif
3. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan frekuensi diare.
4. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan tidak familier dengan informasi, kurang
pajanan.
J. Intervensi
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor
biologis diare

Tujuan : menunjukkan status gizi seimbang


Kriteria hasil :
a. Nafsu makan meningkat
b. BB meningkat atau normal sesuai umur
Intervensi :
1) Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat tinggi,
berlemak dan air terlalu panas atau dingin)
2) Ciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau yang tak sedap atau sampah,
sajikan makanan dalam keadaan hangat
3) Berikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan
4) Pantau intake dan output
5) Timbang berat badan setiap hari
Kolaborasi :
6) Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit (Na, K,Ca, BUN)
7) Obat-obatan : (vitamin)
8) Diskusikan dengan ahli gizi

2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif


Tujuan : intake dan output seimbang
Kriteria hasil :
a. Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal,
b. Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal
c. Tidak ada tanda tanda dehidrasi, Elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa
lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan
d. Orientasi terhadap waktu dan tempat baik
e. Jumlah dan irama pernapasan dalam batas normal
f. Elektrolit, Hb, Ht dalam batas normal
g. pH urin dalam batas normal
h. Intake oral dan intravena adekuat
Intervensi :
1. Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
2. Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan
darah ortostatik ), jika diperlukan
3. Monitor hasil lab yang sesuai dengan retensi cairan (BUN , Hmt , osmolalitas
urin, albumin, total protein )
4. Monitor vital sign
5. Kolaborasi pemberian cairan IV
6. Monitor status nutrisi
7. Berikan cairan oral
8. Berikan penggantian nasogatrik sesuai output (50 100cc/jam)
9. Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
10. Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk
11. Pasang kateter jika perlu
12. Monitor intake dan urin output setiap 8 jam

3. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan frekuensi diare.


Tujuan :
- Intake seimbang
- Tidak terjadi infeksi
Kriteria Hasil :
1. Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan
2. Melaporkan adanya gangguan sensasi atau nyeri pada daerah kulit yang
mengalami gangguan
3. Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya
sedera berulang
4. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan
alami
5. Status nutrisi adekuat
6. Sensasi dan warna kulit normal
4. Defisiensi Pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pemahaman terhadap
sumber-sumber informasi
Tujuan : memahami informasi terkait penyakit
Kriteria Hasil :
a. Menjelaskan tentang definisi penyakit
b. Menyebutkan 2 dari 4 tanda dan gejala penyakit
c. Menjelaskan apa yang dapat menyebabkan penyakit
d. Menjelaskan tentang penanganan/prosedur penyakit
Intervensi :
1. Bina hubungan saling percaya
2. Cek keakuratan umpan balik untuk memastikan bahwa pasien memahami
penangannnya yang dianjurkan dan informasi yang relevan lainnya.
3. Lakukan penilaian tingkat pengetahuan pasien dan pahami isinya (pengetahuan
tentang hernia dan prosedur atau penanganan yang dianjurkan untuk penyakit
hernia).
4. Sediakan waktu bagi pasien untuk menanyakan bebrapa pertanyaan dan
mendiskusikan permasalahannya.
DAFTAR PUSTAKA

Dochterman, Bulecheck. 2004. Nursing Intervention Classification. United States of America :


Mosby.

Guyton & Hall. 2006. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran (terjemahan). Jakarta:EGC

Masjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aculapius

Moorhead S, Johnson M, Maas M, Swanson, E. 2006. Nursing Outcomes Classification. United


States of America : Mosby

North American Nursing Diagnosis Association (NANDA). 2012-2014. Diagnosis Keperawatan


2009-2011. Jakarta : EGC.

Smeltzer. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2. Jakarta : EGC.