Anda di halaman 1dari 25

RESENSI

1. Identitas buku
Judul aslinya, Religious education in contex of plurality and pluralism, pengarangnya
Hope S. Antone, diterjemakan oleh Pdt. Maryam Sutanto, Judul buku, Pendidikan
Kristiani Kontekstual.
2. Judul Resensi
Mempertimbangkan realitas kemajemukan dalam pendidikan Agama
3. Data Buku
a. Judul buku : Pendidikan Kristiani Kontekstual
b. Pengarang : Hope S. Antone
c. Penerbit : Bpk. Gunung Mulia
d. Tahun terbit beserta cetakannya: Tahun 2015, cetakan ke-3
e. Dimensi buku :
-Tebal : 186 hal.

f. Harga buku : Rp. 49.000,-

4. Penutup Resensi buku


Saya mengkaji bahwa, buku Pendidikan Kristiani Kontekstual yang saya rensensi
ini mempunyai kelebihan dalam teori kontekstual dalam pendidikan bidang agama
yang layak bagi konteks majemuk khususnya di Asia. Disini Penulis sengaja
mengambil objek pembahasan pada kontek Asia yang memiliki kemajemukan, hal ini
bertujuan untuk mengajarkan bagaimana memahami pendidikan agama kristiani itu
secara mendasar,dengan kata lain permasalahan penginjilan dan pelaksanaan
pendidikan agama tidak serta merta pada satu aspek tapi multi aspek.
Dan saya juga mengkaji kelemahan dari buku ini yaitu tidak mencantumkan
refrensi ayat-ayat Alkitab yang sesuai dengan pokok bahasan buku tersebut dan
sistematikan penulisan yang kurang menarik sehingga membuat jenuh bagi para
pembacanya.

Dan buku ini ditujukan kepada:


Gereja, sekolah teologi, dan sekolah yang dikelola gereja diAsia.

Kritik buat penulis;


Saya mengkritisi buku ini yang membahasa tentang Pendidikan Kristiani Kontekstual,
menurut pendapat saya selaku resensator buku ini harus mengunakan beberapa ayat
Refrensi yang ada didalam Alkitab yang sesuai dengan pokok bahasan buku
tersebut,sehingga ini sangat memperkuat isi dari buku Pendidikan kristiani
Kontekstual ini dan bagi Pendidikan Agama Kristiani yang mejemuk khususnya di
Asia.

Saran buat penulis;


Sebaiknya Buku Pendidikan kristiani kontekstual ini,
seharusnya dikembalikan pada pemahaman akan suatu kebenaran Alkitabiah yang
bertanggung jawab dan menghargai pemahaman, dan gagasan yang lain,sehingga
semakin melengkapi isi dari buku tersebut, dan sistematika penulisannya dibuat lebih
menarik sehingga menambah minat bagi para pembacanya untuk mengetahui apa isi
buku tersebut.

Ringkasan

BAB I

Bagaimana Konteks Membentuk Teori Pendidikan


Kemajemukan agama dan budaya menjadi realitas utama yang mencolok; kemajemukan
ini yang membedakan Asia dari bagian dunia lain secara khusus ya disebut Dunia Ketiga.
Seorang pendidik feminis berkata: Apa yang membedakan Asia dari bagian Dunia Ketiga
lainnya adalah kemajemukan agama, budaya, dan bahasa. Asia sedikitnya mempunyai tujuh zona
bahasa utama, lebih banyak dari yang dapat diklaim oleh benua lainnya. Asia adalah tempat
kelahiran bagi semua agama terbesar di dunia dan dengan pengecualian kekristenan dan
Yudaisme, ini adalah rumah bagi banyak penganut agama besar tersebut.
Asia mempunyai populasi muslim paling banyak, dengan Indonesia yang mempunyai
populasi muslim terbesar di antara semua negara di dunia. Asia juga mempunyai populasi
terbesar dari penganut Buddha, Taoisme, dan Hinduisme. Kekristenan adalah agama minoritas di
seluruh wilayah Asia, kecuali di Filipina di mana agama ini menjadi agama yang paling banyak
dianut.
Hal yang melekat dalam kemajemukan agama-agama di Asia adalah fakta yang sering
diabaikan bahwa keagamaan di Asia bukanlah monolitik tetapi terdiri dari lapisan dan aliran
yang beranekaragam dan saling bertatut di dalam agama dan juga di antara agama-agama. Selain
itu ada juga fakta bahwa keagamaan di Asia bersikap multiskriptural (banyak kitab suci).
Di tengah realitas yang kompleks seperti ini, Asia memimpikan suatu hidup yang damai,
aman, berlimpah dan bermartabat. Bagi banyak orang Asia, visi akan kedamaian,, keamanan,
kelimpahan, dan martabat ini dipelihara dalam ajaran agama dan tradisi budaya setiap komunitas
agama. Bagi orang Kristen Asia, visi ini berakar pada inti ajaran dan gaya hidup Yesus Kristus
bagi kepenuhan hidup untuk semua orang. Namun bagaimana orang Kristen di Asia sebagai
kelompok minoritas yang kepercayaannya adalah pendatang baru di Asia dan sering dilihat
membonceng kolonialisme, berbagi dan menghayati visinya?

Teori pendidikan juga dibentuk oleh konteks masyarakatnya. Teori pendidikan adalah
suatu bingkai penuntun untuk secara sengaja menyelenggarakan pendidikan, memetakan konteks
yang di dalamnya pendidikan itu dilaksanakan, menggambarkan tujuannya, menjelaskan dasar-
dasarnya, dan menganjurkan praktik yang tepat. Konteks membentuk teologi dan pendidikan.
Konteks membentuk teori pendidikan. Dengan demikian realitas kemajemukan agama di Asia
memunculkan masalah pendidikan yang bersifat serius bagi para penyusun teori dan praktisi
pendidikan. Sikap apakah yang tepat bagi orang Kristen Asia terhadap orang Asia dari agama
lain? Bagaimana kita mempersiapkan dan memungkinkan orang Kristen Asia menghadapi
realitas kemajemukan agama? Pertanyaan-pertanyaan ini mengindikasikan bahwa suatu teori
pendidikan Agama yang kontekstual sangat diperlukan.
Teori pendidikan yang baik seharusnya memperhitungkan hal-hal yang terjadi di dalam
konteks kehidupan yang dinamis. Seperti waktu dan ruang berpindah dan berganti, seperti
kejadian dan pengalaman terus berjalan dan mengalir, teori pendidikan perlu merespons dengan
segera dan tepat. Karena teori pendidikan bersifat dinamis, akan tiba waktunya bagi teori itu
untuk diubah, dimodifikasi, dibuat mutakhir, atau diganti dengan yang lain. Suatu konteks yang
hidup memerlukan suatu teori pendidikan yang hidup. Dengan mengatakan bahwa teori
pendidikan harus kontekstual berarti jyga mengakui dengan rendah hati keterbatasan dari upaya
dan kemampuan manusia. Persepsi, konsepsi, artikulasi dan analisis seseorang dibentuk oleh
kemampuan fisik dan psikologis seseorang seperti juga budaya dan konteksnya.

BAB II
Perubahan dalam Teori Pendidikan

Teori-teori pendidikan yang kontekstual berkembang dalam merespons kebutuhan yang


berubah dari suatu konteks tertentu. Di lapangan pendidikan umum, teori-teori berkembang
bersama dengan perubahan dalam masyarakat. Gerakan-gerakan sosial telah muncul di tengah-
tengah konflik. Dalam upaya mengahadapi konflik-konflik inim perubahan sosial terlihat seperti
menciptakan lebih banyak konflik karena berbenturan dengan status quo. John Dewey berkata,
bukanlah tanda-tanda yang sehat jika pendidikan tidak dipengaruhi oleh konflik dan kebnagkitan
gerakan sosial. Begitu juga, tidak sehat jika pendidikan itu sendiri bukanlah suatu arena konflik.
Banyak juga teori pendidikan yang berkembang dengan gerakan dan perubahan sosial serta
keagamaan dalam tren teologis. Seperti dalam gerakan-gerakan sosial, perubahan dalam tren
teologis juga merefleksikan beberapa konflik atau kontroversi yang mempengaruhi masyarakat
luas.
Asal-usul pendidikan bermula dari awal kebudayaan manusia. Pendidikan dalam bentuk
apapun dipelihara oleh generasi muda untuk hidup, baik di dalam keluarga maupun di dalam
komunitas yang lebih luas. Tidak ada garis pemisah antara kehidupan dan pendidikan, juga
antara agama dan pendidikan. Demikian halnya yang terjadi pada pendidikan Ibrani atau
Yudaisme, di mana pendidikan Kristiani menemukan akar-akarnya. Bagaimanapun juga
kekristenan berkembang dari Yudaisme. Karena itu untuk melihat pendidikan Kristen harus
melihat kembali pendidikan Yahudi. Bagi para sejarawan, ada tiga periode utama dalam Alkitab
yang perlu ditinjau kembali agar daoat memahami bagaimana Pendidikan Agama terjadi pada
zaman Alkitab: periode sebelum pembuangan (pre-exilic); periode sesudah pembuangan (post-
exilic) dari masa PL; dan periode Perjanjian Baru. Pendidikan pre-exilic dijelaskan dalam
Ulangan 6, yang menyiratkan pola-pola kehidupan keluarga yang kuat yang memberikan latar
belakang utama bagi pemeliharaan iman. Karena pembuangan berarti suatu gangguan terhadap
pola kehidupan keluarga yang stabil dan suatu ketidakpastian mengenai identitas dan masa depan
komunitas, pendidikan selama dna setelah waktu itu menjadi semakin kultis sementara
kebutuhan akan pentingnya institusi pendidikan lain, di samping keluarga, harus dihadapi secara
sengaja.
Pendidikan selama periode Perjanjian Baru dapat dilihat dalam dua cara: menurut cara
Yesus dan menurut cara murid-murid Yesus yang pertama. Ketika Yesus hidup dan mengajar
secara fisik di dunia, pendidikan menurut cara Yesus berpusat pda kemunculan Kerjaan Allah ke
dalam masyarakat-Nya sendiri. Ajaran dan khotbah-Nya, penyembuhan, pengusiran setan yang
dilakukan-Nya, cara hidup dan cara menghadapi berbagai jenis orang, semua menunjuk pada
kedatangan Kerajaan Allah yang tidak lama lagi. Yesus melaksanakan peran pentin itu dalam tiga
cara: pemberitaan langsung, perayaan doa, dan pelayanan bagi kebutuhan manusia. Setelah
kematian dan kebangkitan Yesus, ada perubahan besar dalam kandungan pendidikan. Ketika para
murid Yesus secara bertahap dikenal sebagai orang Kristen, apa yang kemudian dikenal sebagai
pendidikan Kristen perlahan-lahan berkembang dengan perubahan besar dalam isi pemberitaan
para pengikut-Nya. Dalam kesetiaan pada kehidupan dan pelayanan Yesus, para murid Yesus
meneruskan kabar baik melalui pelayanan tiga rangkap: perhatian kepada kebutuhan manusia,
merayakan hubungan-hubungan yang baru dengan Allah, dan pekabaran Injil.
Evangelikalisme modern adalah gerakan keagamaan yang populer yang bermula pada
tahun 1800-an yang pada dasarnya merupakan reaksi atas formalisme dan rasionalisme periode
Pencerahan. Para pendidiknya menuntut perubahan perasaan hati daripada opini pikiran.
Penekanan diletakkan pada pertobatan perasaan daripada kognisi, pada pengalaman merasakan
Kristus daripada hanya mendengarkan Kristus.
Pendidikan Agama
Pendidikan agama merupakan reaksi dan alternatif terhadap tipe pendidikan evangelikal-
revivalis dari gerakan evangelikalistik. Tipe ini dipengaruhi oleh teologi liberal dalam ranah
teologi dan pendidikan progresif dalam pendidikan umum. Pengaruh liberalisme ini mencakup
suatu pemahaman bahwa kebenaran agama dipengaruhi oleh faktor-faktor historis dan
kontekstual, ketimbang dianugerahkan secara ilahi.
Pendidikan Kristiani
Pendidikan Kristiani dtang dengan perkembangan tren lain dalam teologi, neo-ortodoks,
yang diwakili oleh para tokoh seperti Karl Barth dan Rudolf Bultmann. Teologi neo-ortodoks
menurut interpretasi ulang iman Kristen dan menolak optimisme dari teologi liberal dan sikap
defensif fundamentalisme dari teologi evangelikal. Teologi ini mengkritik dan memberikan
koreksi pada ekses pendidikan Agama yang dilihat sebagai penyimpangan dari hal-hal hakiki
dalam kekristenan.
Pendidikan Katolik
Pendidikan Agama Katolik dikenal sebagai katekese. Katekese ini pada awalnya
merupakan pendidikan di sekolah Katolik, termasuk pendidikan dengan seperangkat nilai dan
gagasan-gagasan pendidikan yang normatif. Menurut Boys, pendidikan Agama Katolik
mempunyai landasan yang alkitabiah, akar ayng liturgis, dan dasar yang teologis. Pendidikan ini
mempunyai tugas ganda, yakni: penginjilan dan katekese. Penginjilan menunjuk pada seluruh
upaya untuk memungkinkan kesetiaan pertama seseorang yang bertanggung jawab pada Injil,
sementara katekese berarti seluruh upaya untuk membangkitkan iman dan menuntunnya pada
kedewasaan.
Pendidikan (Agama) Ekumenis
Gerakan ini sering dikenal sebagai anak dari gerakan pekabaran Injil abad ke 19 dan
dikaitkan dengan DGD, gerakan ini dimulai dengan munculnya gerakan-gerakan mahasiswa
Kristen di bawah panji World Student Christian Federation. WSCF bermimpi untuk menjadi
saksi atas kehadiran Kristus dalam komunitas akademis. Tujuannya untuk mengupayakan
kesatuan gereja. Panggilan ini meliputi tiga hal: pertama, bersama-sama mengatasi perbedaan
ekelesiologis dan doktrinal di antara gereja-gereja untuk menegaskan persatuan yang telah ada
dalam Yesus; kedua, keinginan untuk berdialog dan bertemu dengan berbagai ungkapan iman
Kristen yang muncul dari konteks gereja yang berbeda secara sosial, politik dan budaya; ketiga,
persatuan yang upayakan merupakan hasil perjumpaan di antara gereja-gereja sebagai institusi
dan gerakan formal dan kanonik yang di dalamya orang-orang Kristen melayani visi khusus yang
partikular dari kesaksian dan ketaatan Kristen.
Pendidikan Agama Multikultural
Pendidikan ini terutama dimulai di sekolah-sekolah Barat ketika mereka
mempertimbangkan kurikulum baru yang menyapa kebutuhan jumlah migran dan imigran yang
semakin banyak dari berbagai negara di dunia. Secara alami, multikulturalisme mempengaruhi
gereja-gereja di Amerika Serikat. Pada tahun 1995, David Ng, pendidik agama, menganalisis
kemajuan pendidikan Agama Multikultural dan tiga macam gereja yang perlu sampai pada
program-program pendidikan Agama Multikultural yang sesuai. Pertama, gereja-gereja dengan
budaya yang minoritas yang perlu mengakui identitas mereka sebagai minoritas di dalam suatu
kebudayaan yang mayoritas. Kedua, gereja-gereja dengan budaya yang mayoritas yang perlu
mempelajari kesadaran kultural, termasuk membongkar kantong-kantong imprealisme kultural
mereka. Ketiga, gereja-gereja multikultural, dengan persentase kelompok etnis berbeda yang
besar dan yang menuntut cara-cara baru dalam mengalami suatu komunitas serta berkembang ke
arah persatuan di dalam keberagaman.
Pendidikan Agama muncul dengan mempromosikan suatu teologi yang sangat liberal,
yang sosial gospelnya mengejutkan fokus kristosentris dan orientasi surgawi dari gerakan
evangelikal modern. Pendidikan ini mempromosikan pembelajaran berdasar pengalaman yang
mengaitkan teori dan praktik demi tujuan atau visi transformasi masyarakat. Pendidikan Kristiani
muncul untuk mengoreksi asumsi yang dianggap sepihak dan apa yang disebut ekses dari
pendidikan Agama. Pendidikan ini mempromosikan teologi neo-ortodoks dan mengajak kembali
ke Alkitab dan teologi alkitabiah sebagai dasar pendidikan. Konsekuensinya, pendidikan ini
mempromosikan suatu pendidikan yang bertujuan memelihara atau membentuk orang-orang
Kristen. Berbeda dengan pendekatan progresivis-eksperiensial terhadap pendidikan Agama yang
memakai masalah-masalah kehidupan sebagai titik tolak, pendidikan Kristiani menekankan
perlunya meneruskan warisan Kristen sebagai yang bersifat menentukan dalam pendidikan.
Menuju Integrasi
Dalam buku Christian Religius Education, merefleksikan keinginan untuk menghindari
polarisasi antara pendidikan Kristiani dan pendidikan Agama. Groome menyebutan perlunya
mengingatkan praktisi pendidikan Agama Kristiani bahwa mereka bukanlah pemilik perusahaan
tetapi agama mereka hanyalah salah satu ekspresi darinya, dan bahwa mereka berbagi suatu
pencarian dan ikatan bersama semua pendidikan agama dari komunitas agama yang lain.
Mengubah Pertanyaan
Teori Moran mengenai pendidikan Agama sejajar dengan kesadaran yang makin
bertumbuh di dalam lingkungan teologis yang majemuk secara agama dan konsekuensinya juga
di dalam kebutuhan akan pluralisme agama. Pluralisme agama membuka realitas kemajemukan
agama dan kebutuhan untuk menghadapinya secara tepat dan kreatif. Pluralisme agama juga
bertindak sebagai pengingat bahwa ada jalan lain untuk menjadi religius daripada apa yang
diyakini oleh suatu komunitas iman sebagai jalan yang terbaik. Pluralisme agama
memperlihatkan kebutuhan untuk melihat melalui sisi atau perspektif lain sehingga masyarakat
boleh belajar untuk memahami satu sama lain secara lebih baik.
Thompson mengutip John Westerhoff, pada tahun 1979 berkata bahwa pluralisme, suatu
tatanan sosial yang didirikan di atas prinsip hubungan yang harmonis, demi tujuan bersama di
antara berbagai komunitas agama yang berbeda, yang masing-masing memiliki baik identitas
maupun keterbukaan, telah membuat gelisah sejarah pedidikan di benua ini. Westerhoff
menjelaskan bahwa pluralisme sejati masih menjadi suatu visi utopis yang terlalu sering
dipersulit oleh ancaman yang datang terus-menerus. Ia juga mencatat bahwa walaupun para
pendidik mencoba membahas masalah pluralisme kebudayaan melalui kurikulum multikultural,
para pendidik agama tidak secara jujur menghadapi isu-isu tersebut dan masalah pluralisme itu,
terutama ketika ia menyinggung berbagai latar belakang keagamaan dari kelompok etnik dan
bangsa. Bagi Thompson, pendidik agama harus mengenali bahwa pendidikan dalam bidang
agama adalah suatu proses sepanjang hidup yang tidak dapat hanya digunakan di dalam kelas
atau kursus. Thompson juga mengatakan bahwa tiga komponen muatan yaitu kognitif, afektif
dan tingkah laku masih tetap sah. Komponen kognitif penting karena tanpa pengetahuan akan
fakta-fakta mengenai agama-agama, jalan terbuka bagi ketidakacuhan, ketakutan, kecurigaan,
prasangka, dan kebencian. Komponen afektif penting karena agama mempunyai hubungan
sejarah yang erat dengan beberapa ungkapan kultural dan artistik yang kaya, dan ini
membangkitkan perasaan yang mendalam akan keindahan, kekaguman atau rasa hormat.
Komponen tingkah laku juga penting karena semua agama telah berhubungan dengan tingkah
laku dan kualitas hidup yang diinginkan seperti kerja sama dan keadilan, keutuhan manusia,
persahabatan, inklusivitas, masyarakat yang damai, kekayaan hidup, dsb.
Fakta bahwa Asia telah dan akan selalu menjadi suatu wilayah yang majemuk dalam hal
agama, menjadi dasar terhadap perhatian Pendidikan Agama. Kemajemukan agama ini sering
menimbulkan banyak konflik dan masalah. Persoalan agama ini juga mencakup faktor
ketidaktahuan mengenai agama lain yang kemudian berkontribusi pada sikap intoleran,
triumfalisme, dan superioritas; cita-cita pekabaran Injil tradisional yang diwariskan yaitu
mengajak orang lain pindah ke dalam komunitas agama tertentu; dan kebangkitan
fundamentalisme dan fanatisme dalam beberapa lingkungan Islam, Hindu, Kristen, dsb.

BAB III
Pendekatan Teologis dan Edukatif terhadap Kemajemukan

Ada tiga tipologi yang dipandang sebagai respons umum dari banyak orang di hampir
semua tradisi agama-agama yaitu, eksklusivisme, inklusivisme, dan pluralisme. Meskipun
demikian, respons-respons itu tidak hanya merupakan respons agama terhadap agama lain, tetapi
respons manusiawi terhadap semua isu mengenai keberagaman dan perbedaan. Diterapkan pada
kemajemukan agama, tipologi-tipologi ini sangat bermanfaat untuk memhami sikap orang
Kristen Asia satu sama lain, begitu juga untuk memahami sikap orang Asia dari komunitas
agama lain. Eklusivisme adalah suatu sikap dari satu melawan semua, inklusivisme adalah satu
di atas semua, pluralisme adalah satu dengan dan di antara semua.
Satu melawan semua = Arogansi agama
Menurut Hick, eklusivisme adalah pandangan bahwa satu tradisi tertentu mengajarkan
kebenaran dan membentuk jalan menuju keselamatan atau kebebasan.
Satu di atas semua = Imprealisme agama
Hick mendeskripsikan inklusivisme sebagai suatu respons pada keterbatasan
eksklusivisme primitif. Posisi ini membuat ruang untuk yang lain dan keberlainan sambil
mencoba secara bersamaan untuk mempertahankan keunggulan imannya sendiri. Pandangan ini
menganggap tradisi imannya sendiri sebagai sentral dan normatif.
Satu dengan dan di antara semua = Keterbukaan agama
Menurut Hick, pandangan ini berpegang bahwa: agama-agama besar di dunai
mewujudkan persepsi dan konsepsi yang berbeda mengenai yang Nyata atau yang Tertinggi, dan
bahwa di dalam setiap agama tersebut, secara mandiri, transformasi eksistensi manusia dari yang
terpusat pada diri sendiri menuju keterpusatan pada realitas, sedang terjadi. Jadi, tradisi agama-
agama besar dipandang sebagai ruang soteriologis alternatif yang di dalamnya laki-laki dan
perempuan dapat menemukan keselamatan, pembebasan dan pemenuhan. Pluralitas kekristenan
tampak jelas dalam banyak denominasi. Konsekuensinya, terdapat suatu keberagaman
pandangan dan komitmen teologis di antara mereka.

Seorang teolog, Daniel L. Migliore, mencoba melihat secara spesifik pada respons
Kristen terhadap orang-orang yang iman dan agamanya berbeda, dan ia sampai pada lima
pendekatan klasik. Cara pertama adalah cara eksklusif yang menegaskan bahwa iman Kristen
sendiri yang paling benar sehingga menyiratkan bahwa semua agama lain adalah sama. Dalam
pandangan ini, finalitas Kristus berarti benar-benar menutup diri dan dialog dengan iman yang
lain adalah suatu pengkhianatan terhadapa penyataan Allah di dalam, Yesus Kristus. Kelemahan
dalam pandangan ini adalah kesulitan dalam membedakan antara Yesus Sang Kristus dan
gagasan manusiawi atau pemahaman kita terhadap-Nya. Selain itu juga, kecenderungan untuk
memanipulasi dan mengontrol Kristus melalaui pengakuan iman terhadap-Nya, dengan
menurunkan derajat-Nya hanya sebagai rumusan kepemilikan teologis belaka. Kedua adalah
pandangan developmentalis yang menghormati semua agama lain sebagai persiapan untuk
menerima Kristus yang di dalam-Nya semua iman menemukan pemenuhan. Dalam pandangn ini
finalitas Kristus dipandang menempati titik tertinggi di dalam suatu tangga keyakinan atau
kepercayaan keagamaan ayng bergerak mendaki. Ketiga, pandangan transendentalis yang
menganggap semua orang percaya teermasuk mereka yang berasal dari komunitas iman atau
agama lain, mempunyai akses pada rahmat trasendental Allah bahkan jika Kristus tidak dikenal
atau tidak diakui. Pandangan ini memandang setiap orang yang hidup dalam Roh Kristus yang
tidak dikenal sebagai orang Kristen anonim. Pandangan keempat, yang disebut migliore yaitu
pandangan dialogis, yang berpendapat bahwa ketika orang Kristen dan orang-orang dari iman
dan agama lain harus menghormati komitmen iman mereka dengan serius mereka juga perlu
memasuki dialog terbuka dengan yang lain. Pandangan kelima dalah pandangan relativis yang
berupaya merelatifkan partikularitas historis dari agama-agama individual dan mencoba
mengidentifikasikan inti teosentris yang sama-sama dimiliki oleh mereka.
Gerakan pekabaran Injil dulu dan sekarang masih ditandai oleh perasaan
denominasionalisme yang kuat dan suatu dorongan yang kuat untuk mempertobatkan dan
membawa yang lain masuk ke dalam lingkungannya, terutama ke dalam denominasinya.
Wesley Ariarajah. Seorang ekumenis dan teolog kontemporer dari Sri Lanka,
mendeskripsikan prinsip-prinsip pekabaran Injil yang membentuk sikap orang Kristen Asia
terhadap pluralitas agama. Pusat dari prinsip-prinsip itu adalah keyakinan bahwa Allah telah
menyatakan bahwa satu-satunya cara bagi manusia untuk diselamatkan adalah dengan menjawab
secara positif pada Yesus Kristus dan menjadi bagian dari komunitas yang percaya kepada-Nya.
Dengan prinsip-prinsip ini, setiap upaya untuk berhubungan dengan orang-orang dari agama lain
dapat dilihat sebagai pengkhianatan terhadap misi dan ketidaktaatan terhadap panggilan untuk
memberitakan Injil. Ini menghasilkan tiga ketakutan klasik dari gerakan pekabaran Injil awal:
ketakutan dari mengkompromikan keunikan Kristus; ketakutan kehilangan sifat urgensi dari misi
di dunia; dan ketakutan mengakui signifikansi keselamatan dalam hidup keagamaan tentangga
kita. Bagi Samartha, alasan-alasan untuk enggan dan ragu-ragu berdialog ini dapat diringkaskan
sebagai ketakutan pada sinkretisme dan relaivisme.
Misi dalam Konteks
Thiagarajah menyadari realitas kemajemukan di Asia, dan ia berkata bahwa aktivitas misi
apapun di Asia tidak dapat lagi bersikap tidak peka terhadap kontribusi besar agama-agama lain
yang telah d an masih dibuat terhadap pembentukan kebudayaan dan masyarakat Asia. Karena
itu, orang-oramg Asia harus berteologi pada suatu titik di mana kita tidak dapat berteologi
terpisah dari upaya membuat hubungan yang relevan dengan agama-agama yang di tengah-
tengahnya kita tempatkan.
Orientasi Misiologis pada Pluralitas
Pluralisme agama adalah suatu panggilan kepada komunitas agama untuk menjadi
dewasa: Menjadi berani, percaya diri pada apa yang dipercayai; untuk bangkit dan memandang
pluralitas agama-agama. Jika misi orang-orang Kristen Asia adalah bagian dari misi Allah
sendiri, maka tugas mereka adalah menjadi kawan sekerja Allah dalam penganugerahan berkat
Allah kepada sesama manusia. Allah menginginkan adanya suatu hubungan dialogis dengan
kemanusiaan dalam hidup dan pelayanan Yesus Kristus, yang hidup-Nya selalu berpusat pada
Allah, bergantung kepada Allah, dan mengarah pada Allah. Semua orientasi terhadap
kemajemukan yang muncul akan terkait dengan empat perubahan dalam pemikiran mengenai
misi agar orang Kristen tiba pada suatu pemahaman misi yang dapat dipercaya dan bermakna.
Perubahan pertama, dari suatu eksklusivitas menuju ke inklusivitas pemahaman misi Allah;
kedua, dari pertobatan menuju pada penyembuhan; ketiga, dari mayoritas ke minoritas; dan
perubahan keempat, dari isu-isu doktrinal belaka menuju pada keprihatinan spiritual yang
mendalam.
Menunjuk pada saling ketergantungan antara partikularisme dan pluralisme, Lee dan
Boys mengklaim bahwa sasaran utama Pendidikan Agama seharusnya berupa perkembangan dari
suatu partikularisme bertekstur dan suatu kesiapan bagi komitmen terhadap pada pluralisme
agama-agama. Mereka menyeimbangkan partikularisme dan pluralisme dengan cara ini
menentang gagasan mengenai keyakinan yang abadi dan menegaskan bahwa peenyataan Allah
adalah dianugerahkan secara ilahi dan juga diekspresikan dalam gagasan historis manusia. Hal
ini menghargai dan berupaya memulihkan perkembangan tradisi agama yang diakronis dan
hubungan mereka dengan yang lainnya.
BAB IV
Dukungan Alkitab pada Pluralisme Agama
Karena Yesus tinggal ditengah-tengah kemajemukan maka dapat belajar dari Yesus yang
mengahadapi kemajemukan dan dengan orang lain. Pertama bahwa kesetiaan Yesus selalu tertuju
kepada Allah, bukan pada institusi dan praktik mapan dari komunitas imanNya, yaitu dengan
memperlihatkan kesetiaan pada Allah dengan mengasihi orang lebih dari pada mengikuti hukum
dan tradisi agamaNya. Kedua dapat belajar dari visi Yesus menegnai suatu komunitas baru di
bawah pemerintahan Allah, yaitu visi yang melalmpaui komunitas Kristen. Dalam komintas yanh
memeiliki hubungan-hubungan yang baru ini maka perempuan dan laki-laki, muda dan tua,
mereka yang ada diantara kita dan mereka yang berbeda dari kita, semuanya akan memilki
tempat yang sangat penting, artinya melibatkan orang biasa, orang yang diabaikan, orang yang
tidak diakui, dan orang lain diantara kita. Ketiga, dari Yesus kita belajar bahwa walaupun
identitas (personal, rasial, keagamaan) merupakan kenyataan sosiologis, yang bukanlah tujuan
dalam diri sendiri kepada segala hal yang bergantung. Identitas sebagai bagian dari keluarga
Allah benar-benar didasarkan da karya-karya kesetiaan pada kehendak Allah untuk keadilan dan
kebenaran daripada keanggotaan dalam suatu kelompok agama atau keluarga tertentu. Keempat
yaitu belajar dari Yesus bagaimana Dia belajar dari orang lain dan mengizikan identitas dan
nasionalismeNya ditantang oleh orang lain yang Dia jumpai dalam pelayananNya. Yesus bahkan
mengizikan orang lain menantang imanNya, identitasNya dan nasionalismeNya yang pada
awalnya menghalangi Dia untuk solider dengan meereka. Dan terakhir belajar dari Yesus bahwa
melakukan kehendak mencakup suatu kemitraan dengan orang lain, karena tidak satu orang pun
dapat melakukan semuanya sendiri.
Frasa plurarlisme agama atau kemajemukan agama mungkin tidak ada dalam Alkitab,
namun nampak dalam tantangan yang dilibatkan merespons terhadap kemajemukan yang nyata
di dalamnya. Untuk menemukan itu dalam Alkitab adalah dengan membaca dengan pandangan
yang baru agar menemukan bagaimana Yesus berhadapan dengan orang lain, baik dari luar
lingkungan terdekatNya maupun dari mereka yang diluar lingkungan Yudaisme. Dimana
kehidupan yang keluar dari zona aman sendiri. Yang dilakukan pertama adalah dengan
menceritakan kembali kisah dari perempuan-perempuan agar dapat menolong untuk memahami
kisah secara lebih baik jika kita mencoba menempatkan diri sebagai seorang perempuan, yang
menuntut rasa empati terutama bagi orang lain yang diabaikan dan disakiti.
Kemudian dengan wacana hermeneutic tradisional yang berupaya untuk membuat
tipologi kisah dan bermacam-macam tipe yang diusulkan yaitu melihatnya sebagai kisah
pernyataan. Cara tradisional lain adalan mengambilnya dalam konteks perjuangan gereja mula-
mula dalam memamhami misi kepada orang bukan Yahudi dan akhibat perjumapaan Antara
orang yahudi dan non Yahudi dalam gereja dan dalam agenda keselamatan Allah. Kemudian
wacana para feminis yang melihat dari seorang perempuan Siro-fenisia yang berdasarkan agama
dan etnis adalah seorang Kanaan dan dianggap orang Yahudi adalah orang kafir yang
menyemabh berhala dan asing terhadap kebudayaan mereka dan berada diluar perjanjian tentang
keselamatan Allah. Disamping dari gendernya yang sudah menjadi alasan untuk perlakuan
diskriminasi kebudayaan, agamanya dan rasnya dan menempatkan perempuan itu sebagai orang
yang berada di luak atau dengan kata lain lingkaran kasih penyelamatan Allah. Dan hal ini
merupakan suatu teks suci yang menyokong dan menulis ulang hubungan kekuasaan kyriachal,
prasangka anti yahudi, serta identitas feminism dan sikap tunduk perempuan. Oleh karena itu
dibuat kyriarchal atau kyriachy menggantikan konsep patriarkal dan kyriachy ini mengandung
arti aturan tuan, majikan, ayah, suami terhadap mereka yang berada dibawahnya dan bergantung
kepadanya, artinya menggambark suatu kompleks sistem dominasi social politis dan budaya
yang telah menghasilkan pembenaran penyingkiran sitemik yang bersifat asimetris dan dualistic
serta menghasilkan bentuk-bentuk eksplitasi. Kemudian wacana pascakolonial, yang mengambil
kisah perempuan Siro-Fenisia sebagai dasar bagi misi orang Kristen terhadao orang asia yang
mempunyai tradisi kepercayaan lain. Dan dalam kerangka pekabaran Injil ini, orang asia telah
begitu lama memluk agama yang lebih tua daripada agama Kristen diberi label sebagai
penyembaha berhala, orang-orang kafir dan orang-orang yang tidak beriman. Hal ini diberi
titik angkat dari persimpangan-persimpangan anti-Yudaisme, seksisme, dan kolonialisme di
dalam sejarah interpretasi. Di Asia kontrasi dibuat Antara kekristenan dan agama-agama besar di
Asia dan dengan demikian menyiratkan bahwa agama-agama lain tersebut bersifat patriarkal dan
menindas perempuan, sementara kekristenan mengankat harkat dan kebebasan perempuan. Dan
dari kisah itupun beberapa teolog Asia waspada bahwa kisah tersebut telah dibaca dari sudut
pandang yang benar-benar bersifat msisiologi atau berpusat pada gereja. Dan hal intu berarti
baha kisah itu dimengerti sesuai dengan apa yang gereja pahami sebagai tugasnya. Dan dalam
menyusun suatu wacana pluralis yang dipelpori oleh R.S. Sugirtharajah maka dilakukan
pendekatan penaklukan (conquest approach) dengan mengumpulkan sedikit demi sedikt
pendekatan ini dari kisah pertobatan. Kemudian pendekatan reorientasi (reorientation approach)
yaitu panggilan untuk tugas spesifik dan suatu pemahaman baru mengenai tugas seseorang
biasanya dari suatu karakter profetis. Dan kedua pendekatan ini melihat realitas dari sudut
pandang misi dan proselitisme dengan memeprtimbangkan konfrontasi dengan orang-orang dari
agama-agama lain. Dan kemudian ada pednekatan dialogis (the dialogical approach) yaitu suatu
pendekatan yang mengaku keabsahan pengalaman keagaman yang berbeda dnan beragama dari
semua orang dan mennyingkirkan semua klaim eksklusif terhadap kebenaran satu tradisi agama.
Pendekatan ini patut dihargai karena semua agama mengandung sunsur pembebasan dan juga
unsur penindasan, sementara tugas hermeneutika adlah mengumpulkan aspek-aspek yang
membebaskan untuk menciptakan harmini dan perubahan social bagi semua orang. Oleh karena
itupun kembali melihat Yesus yang sedang berdialog dengan kemajemukan yaitu menjadi sadar
pada realitas kemajemukan disamping partikularitasNya sebagai seorang Yahudi dan orang
Israel, dan kedua opsi atau pilihan kerendahan hati dan keterbuakaan terhadap orang lain. Intinya
adalah bersandar pada pengetahuan bahwa Allah mengasihi dan berkomitkmen untuk
menyelamatkan semua orang kepunyaanNya.

BAB V
Basis Kultural bagi Pluralisme Agama
Istilah dialog dipakai sebagai metaphor inklusif bagi hubungan antar agama yang positif
di Antara masyarakat yang berbeda tradisi imannya, yang sudang menjadi praktik actual di antara
kelompok masyarakat yang berbeda. Tom Michel membagi dialog ini dalam beberapa bentuk
yaitu dialogue of being (dialog menjadi) yaitu menjadi suatu kehadiran yang psoitif di anatara
yang lain (others) demi kebersamaan atau berada dengan yang lainnya, dialogue of doing
(dialog melakukan) yaitu melakukan aksi bersama dalam menjawab persoalan yang menjadi
keprihatinan masyarakat tanpa memandang latar belakang kepercayaan dan agama mereka,
dalogue of ideas (dialog pikran) yaitu berbagi dan bertukar pikiran melalui studi bersama agar
saling memahami, demi meperluas wawasan dan perspektif. Dan terakhir dialog of experience
(dialog pengalaman) yaitu membagikan kedalam pengalaman kemanusiaan dan keagamaan yang
mendalam untuk saling memperkaya iman dan spiritualitas.
alam hal ini gambaran dan metafora tentang interelasi yang positif Antara masayarakat di
Asia, yang sudah sangat akrab dengan kebudayaan mereka yaitu percakapan di meja makan
(mealtable sharing). Kemajemukan di Asia begitu beragam sehingga yang terjadi bukan dialog
melainkan multilog (multilogue) dari beragam agama. Multiarah dari dialog disebut mutilog
yang terjadi di Antara sesame penganut agama tertentu. Metafora meja makan atau gambaran
meja sebagau metafora kuat bagi komunitas inklusif, dan metafora ini memperlihatkan bahwa
penggunaan percakapan di meja makan bukan hanya bersifat metaforis atau figurative tetapi juga
bersifat harafiah. Meja makan juga mengandung makna kebutuhan bersama kita ats makanan dan
kehidupan.
Percakapan meja makan adlaah suatu metafora yang sangat kaya, konkrit dan akrab bagi
banyak orang Asia. Praktik timbal-balik dalam solidaritas keluaraga dan persahabatan dilakukan
dari acara berkunjung dan yang menjadi pusat adalah percakapan di skeitar meja makan. Meja
makan adlaah symbol keramahtamahan yang hangat dan dengan cara seperti ini menjadi sebuah
undangan. Meja makan sanagt terbuka dna inklusif, dimana setiap orang disambut baik dan
merupakan tempat alami untuk berbagi/bercakap-cakap dan bersekutu. Meja makan pun
merupakan symbol rekonsiliasi dan perdamaian dan symbol kebebasan. Meja maka
merepresentasikan ucapan terima kasih dan perayaan sukacita, visi, harapan dan mimpi.
Alkitab juga penuh dengan gambaran tentang makanan dan percakapan meja makan.
Dalam berbagai kisah di Alkitab baik secara harafiah untuk dimakan atau diminum maupun
secara figurative/kiasan untuk menunjuk kebenaran spiritual yang mendalam tentang hikmat
Allah dan makna hubungan manusia. Dengan demikian dalam cara tertentu percakapan tentang
makanan (food talk) juga merupakan percakapan mengenai Allah (God talk) di dalam Alkitab.
Praktik di sekitar meja makan mempersiapkan, melayani, makan menjadi sangat penting bagi
masyarakat Alkitab sehingga hal ini tampak sama pentinga=nya dengan identitas mereka sebagai
umat perjanjian. Dimata orang yang memelihara dengan ketat hukum-hukum meja makan, Yesus
duduk semeja dengan orang-orang yang tidak bermoral dan berpesta pada waktu puasa, Yesus
menjungkirbalikkan hubungan social tradisional di sekitar meja makan. Praktik percakapan di
meja makan Yesus secara erat dikaitkan dengan penyembuhan dan rekonsilasi di keseluruhan
hidup dan pelayanan Yesus. Yesus juga mengajar tentang komunitas Allah (Kerajaan Allah)
melalui cerita tentang meja makan. Melalui pengajaran dan gaya hidup Yesus di meja makan
yaitu suatu proses berbagi di dalam kekudusan Allah bukan dalam arti menjadi tahir, murni dan
terpisah dari lainnya tetapi dalam arti berbelas kasih seperti Allah yang adalah kekuatan atau
alasan di dbalik percakapan di meja makan.
Praktik Percakapan Meja Makan Orang Kristen
Percakapan meja makan Yesus yang terbuka dan inklusif sekarang kurang diperhatikan. Seperti
halnya perjamuan Kudus yang hingga sekarang dikenal sebagai komuni Suci atau Ekaristi, yang
seperi kehilangan esensinya artinya menjadi ekslusif dan kondisional, bukan lagi inklusif,
terbuka dan bebas. Penulis menganggap ironis bahwa meja yang dimaksudkan untuk
mempersatukan orang Kristen telah berperan sebagai halangan besar bagi orang Kristen untuk
berkumpul bersama, karena pemahaman yang berbeda sehingga ada syarat-syarat yang membuat
bertentangnya gereja Kristen. Oleh karena itu sudah ada yang melakukan perjamuan kudus yang
terbuka dengan menyertakan anak-anak dan lainnya. Dan gereja perlu melihat pada gereja mula-
mula dalam hal berdoa, belajar dan makan bersama. Adapun praktik kontroversial dimana
praktik meja makan dari suatu pernikahan antaragama untuk menyatukan dua orang yang berasal
dari dua komunitas agama, dan di Asia hal ini bukanlah satu hal yang biasa. Keterbukaan dan
ketertutupan praktik meja makan orang Kristen digambarkan dalam sikap pemimpin Kristen dan
para anggotanya terhadap pernikahan antaragama. Jika seperti yang diklaim oleh seseorang
antropolog dimana pernikahan membangun masyarakat, memperkaya kebudayaan,
mempersatukan bangsa dan orang-orang asing, mempertautkan kebudayaan, membantu
penyelesaian perang dan menyediakan hubungan yang luas di Antara orang-orang serta
memperbaiki ras manusia maka pernikahan antar agama dapat diteruskan. Namun, praktik dalam
beberapa kasus oleh praktik meja makan yang lain tampak bersifat selektif dan ekslusif.
Perjamuan makan menjadi gambaran Kerajaan Allah. Baik secara harafiah maupun kiasan,
konsep meja makan senantiasa berkonotasi keramah-tamahan yang berlimpahm keterbukaan
sejati, dan perayaan sukacita bersama. Gambaran ini sangat berkaitan denhan kebutuhan untuk
saling memahami, saling menghormati dna saling terbuka di Asia yang majemuk.
Perjamuan Kudus
Konsep kita tentang meja makan hanya terbatas pada perjamuan Kudus yang juga dikenal
sebagai komuni suci atau Ekaristi. Namun esensi sesungguhnya dari persekutuan meja makan
Yesus kembali pada berbagai santapan yang dia makan bersama orang-orang yang dikenal dan
dijuluki sebagai orang berdosa, betapa ironisnya bahwa meja yang dimaksud untuk
mempersatukan orang Kristen telah berperan sebagai halangan besar bagi orang Kristen untuk
berkumpul bersama.
Praktik Meja Makan Alternatif
Banyak gereja telah memodifikasi praktik perjamuan Kudus tradisioanal yang eksklusif itu
dengan menerima dan mendorong anak-anak untuk ambil bagian didalam.
Meja Makan dan Pendidikan Agama

BAB VI
Percakapan di Meja Makan dan Pendidikan Agama

Apa kaitan percakapan di meja makan dengan pendidikan Agama di Asia? Percakapan di
meja makan makan memberikan gambaran terkait mengenai undangan terbuka dan
keramahtamahan yang berlimpah demi orang lain.percakapan di meja makan mewakili tindakan
saling berbagi dan persekutuan jujur yang menyapa kebutuhan paling manusia.
Persiapan
Persiapan yang disengaja memerlukan perencanaan dan strategi hati-hati. Itu berarti
bahwa para pendidik agama di Asia tidak dapat hanya menjiplak, mentransplantasikan, dan
menerapkan teori-teori yang berasal dari mana-mana sebagaimana yang biasa kita lakukan.
Orientasi pekabar Injil tradisional terhadap warisan kekristenan telah menanmkan dalam diri kita
sikap sangat eksklusif terhadap sesama kita yang berasal dari komunitas iman berbeda. Sikap
eksklusif itu dicerminkan dalam teologi, kurikulum, gaya hidup, dan sikap terhadap orang lain.
Karena itu, persiapan untuk suatu pendidikan agama yang sejati melibatkan pemeriksaan
saksama sikap eksklusif yang kita warisi dalam pikiran, teori, pengajaran, tingkah laku, dan
tindakan kita. Hal ini juga mencakup perencenaan berhati-hati yang akan memadukan
pendekatan pluralistik.
Suatu alasan untuk melakukan pendidikan Agama adalah bahwa hal ini merupakan
kesetiaan kepada Allah Pencipta yang menciptakan dunia dalam kemajemukan dan yang telah
menunjukkan cara-cara menjalin hubungan yang bermakna dengan orang-orang dari berbagai
latar belakang agama dan etnis. Keramahtamahan Allah yang berlimpah merupakan tekadan
yang jelas, yang ditunjukkan dalam praktik meja makan dan penyembuhan yang dilakukan
Yesus. Sebagaimana orang Kristen yang mengklaim mengakui dan menghayati cara hidup
Kristus, orang Kristen Asia sudah memiliki model sendiri bagi hidup bersama dan berhubungan
dengan yang lain. Pendidikan Agma juga mengundang dan mengajak karena pendidikan ini
bertujuan menyapa kebutuhan yang paling manusiawi untuk memahami, rekonsiliasi,
penyembuhan, dan perdamaian, yang dibutuhkan di Asia dan dunia masa kini.

Muatan pendidikan Agama di Asia berkaitan dengan segala sesuatu yang memberikan
vitalitas, makanan, arti dan harapan bagi orang-orang Asia. Muatan pendidikan Agama di Asia
sangat berlimpah-limpah. Muatan ini mencakup keanekaragaman seni kuliner yang kaya, yang
menggambarkan fitur-fitur unik, tetapi berbagi unsur-unsur yang sama.
Seperti dalam kegiatan makan, orang Asia diperkaya oleh keanekaragaman, menjadi
semakin menghargai keberagaman di sekitar mereka, dan bekajar untuk hidup bersama dengan
kemajemukan secara sukacita, kreatif dan kritis. Realitas keanekaragaman, keberagaman dan
kemajemukan mencerminkan luasnya dunia ciptaan Allah. Sama seperti makanan ada di sana
untuk dinikmati oleh semuanya, makanan kebijaksanaan dan spiritualitas juga ada di sana untuk
dialami dan dibagi oleh semua orang.
Para pendukung proses pembelajaran harus mengetahui apa dan bagaimana mengkritik
pada waktu yang tepat. Mengkritik apa yang menindas dan menekankan apa yang membebaskan
harus dilakukan dengan banyak kehati-hatian, kepekaan dan kebijaksanaan. Sebagai contoh,
mereka tahu bahwa kritik timbal-balik akan lebih efektif jika tidak dilakukan dengan menunjuk
jari atau menuding satu sama lain, tetapi dengan menawarkan kritik terhadap diri sendiri yang
terbuka dan sukarela. Kejujuran dan keterbukaan untuk mengkritik diri sendiri mungmin
menyebabkan suatu reaksi berantai dengan munculnya kritik dari pihak lain. Kritik terhadap diri
sendiri dimungkinkan melalui sikap rendah hati yang tulus, sebagai lawan dari sikap arogan,
egois, dan takabur.
Pendidikan Agama yang didasarkan pada metafora percakapan di meja makan
menyiratkan metodologi berbagi yang mendalam, jujur, terbuka, partisipatoris, dan dialogis.
Karena meja makan secara alami mengundang, pendidikan Agama juga mengambil pendekatan
yang mengundang daripada pendekatan yang memaksa, perintah atau secara halus, dengan
beberapa lampiran, misalnya proselitisme atau konversi ke dalam komunitas agama lain. Malah,
pendidikan ini menimbulkan rasa percaya atau sikap terbuka, sehingga tidak ada alasan
mencurigai seseorang memiliki agenda tersembunyi, tetapi saling diperkaya melalui proses
berbagi. Para pendidik agama Kristen di Asia perlu bekerja keras dengan pendekatan yang
mengundang ini, karena persepsi kuno bahwa mereka berusaha mengajak orang Asia lain untuk
masuk ke dalam komunitas iman mereka. Untuk menghindari godaan memiliki maksud lampiran
tadi, harus ada semacam transparansi dari tujuan dan sasaran dari proses percakapan di meja
makan. Harus tetap ada sistem check and balance. Dalam bahasa teologi Reformed, harus ada
pengakuan dan pertobatan publik, tanggung jawab timbal balik, dan pembuatan keputusan
bersama.
BAB VII
Menuju Teori Pendidikan Agama yang Kontekstual
Metafora dari undangan untuk bergabung di komunitas meja makan merupakan
metafora yang cocok dengan pendekatan pluralis atau ekumenis dalam pendidikan. Penulis
mengatakan bahwa baik pluralisme dan ekumenisme menggambarkan realitas kehidupan yang
sama, yaitu kehidupan dalam komitmen kepada iman orang lain di samping juga dalam
keterbukaan terhadap yang lainnya. Ungkapan undangan untuk bergabung dalam meja makan
sebenarnya mengungkapkan tiga metafora: pertama, suatu komunitas yang dibangun di
sekeliling meja dan memeberikan visi atau tujuan yang ke arahnyalah pendidikan Agama
berharap bergerak maju; kedua, meja makan yang di sekitarnya orang-orang berkumpul bersama,
yang menggambarkan muatan dan makanan yang dipersiapkan dan dilayani pendidikan Agama;
ketiga, undangan secara alami bersifat terbuka kepada semua orang karena ia bersifat
bersahabat, mengajak, hangat dan ramah serta mencerminkan praktik dan proses dalam
pendidikan Agama.
Metafora percakapan meja makan juga terdapat penyalahgunaan. Ada pertanyaan-
pertanyaan yang muncul: bagaimana mungkin percakapan di meja makan dapat terjadi di antara
yang kuat dan yang tidak berdaya, penindas dan yang tertindas, yang menjadi kenyataan umum
di negara-negara Asia? Bagaimana kita dapat berbagi meja makan dengan kekuasaan yang
menindas dan represif, seperti suatu pemerintah atau sombol-simbolnya, yang menuntut
kesetiaan absolut dari rakyatnya, bahkan sampai pada urusan ibadah?
Berbekal keyakinan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan keprihatinan yang
dapat ditangani dengan lebih baik secara bersama-sama, penulis bertanya kepada para pendidik
agama Kristen di Asia, bagaimana teori percakapan di sekitar meja makan dapat diaktualisasikan
dalam menghadapi banyak tantangan di negara mereka. Mereka membagikan apa yang telah
coba sebelumnya, misalnya membawa bersama-sama para pemimpin gereja dan pemerintahan
untuk berdialog tentang keprihatinan bersama; melakukan pertemuan berkala di antara pemimpin
gereja dan pemimpin dari komunitas iman lain. Beberapa yang lain menawarkan dengan
mempertimbangkan waktu yang tepat dan budaya setempat. Sangat jelas strategi ini dan yang
lainnya tidak dapat begitu saja dapat dipindahkan atau dicontoh dalam konteks lain.
Ada banyak persoalan yang mengganggu wilayah Asia selama bertahun-tahun: hubungan
kekuasaan yang tidak adil baik dalam bidang-bidang ekonomi maupun politik, fundamentalisme
yang kerap kali diekspresikan dengan sikap militan, globalisasi, permusuhan ras dan etik,
perjuangan untuk menentukan diri sendiri, serta berbagai bentuk diskriminasi berdasarkan ras,
kelas, kasta, usia, gender, kemampuan, orientasi seksual, keyakinan ideologi, dengan penekanan
yang berbeda di setiap negara di Asia. Bagaimana persoalan-persoalan ini mempengaruhi atau
menantang karya pendidikan kita dalam bidang agma? Mungkin persoalan-persoalan ini
memerlukan teori berbeda. Penulis yakin bahwa kerangka meja makan akan tetap menjadi alat
yang berguna untuk merencanakan teori pendidikan Agama yang kontekstual. Apa yang berbeda
adalah persoalan dan tantangan dalam beragam konteks, tujuan dan maksud dari teori-teori,
fondasi dari disiplin ilmu lainnya dan praktik-praktik yang diusulkan.
Mengenal Konteks
Menggunakan kerangka meja makan untuk teori pendidikan Agama, orang Kristen dan
para pendidik agama sitantang untuk memulai, pertama dengan memahami dan menganalisis
konteks nasional mereka masing-masing. Di sinilah letak peran anlisis dari para pendidik agama,
sebuah peran yang perlu dilakukan secara konstan. Bagaimanapun, Asia bukanlah hanya satu
ruang geografis, suatu ruang kemanusiaan dan sejarah. Kebutuhan atas analisis terus-menerus
menghadapi situasi dan realitas nasional bersifat penting karena persoalan memiliki tingkat
manifestasi dan dampak yang berbeda dalam konteks yang berbeda. Konsekuensinya, respon
terhadap berbagai persoalan tersebut tidaklah sama.
Mengenal Tujuan
Pendidik agama ditantang untuk mengklarifikasikan dan mengartikulasikan tujuan
melakukan pendidikan agama dalam perspektif realitas kontekstual mereka. Berdasarkan
persoalan dan tantangan yang dihadapi masyarakat, apa yang hendak dicapai oleh pendidikan
Agama? Teori pendidikan Agama dapat sungguh-sungguh berarti ketika teori tersebut
memungkinkan masyarakat menghadapi realitas dan membekali mereka untuk melakukan
tindakan yang setia dan refleksi iman. Beberapa pengetahuan mengenai tujuan dari kelompok
agama yang berbeda dapat sungguh-sungguh memperkaya artikulasi tujuan teori pendidikan
Agama ekumenis. Ini juga dapat membantu perkembangan pengertian yang lebih baik di antara
kelompok yang berbeda.
Membuat Mata Rantai
Para pendidik perlu mengingat bahwa mereka tidaklah sendirian melakukan pekerjaan
itu. Mereka bahkan dapat bekerja secara kolektif dan secara lebih efektif bersama orang lain,
termasuk mereka yang berasal dari iman dan disiplin ilmu berbeda. Pendidikan Agama yang
ekumenis dan pluralis akan lebih baik bila dilakukan melalui upaya kolektif dan kolaboratif. Para
pendidik agama dapat berasal dari komunitas iman atau disiplin ilmu lain. Prosesnya pasti tidak
cepat dan mudah. Prosesnya membutuhkan waktu daan meminta komitmen besar bagi setiap
orang. Tetapi, prosesnya akan menjadi suatu pengalaman belajar di dalam proses berbagi secara
dialogis.
Melakukan Praktik Baru
Pendidik Agama perlu untuk menemukan praktik baru dan sesuai untuk melakukan
pendidikan Agama kontekstual, entah ekumenis atau pun pluralis. Suatu pendidikan Agama yang
sungguh-sungguh kontekstual, menyiratkan perspektif baru, tujuan baru, muatan baru, dan cara-
cara baru untuk melakukan segala sesuatu. Victor Ordonez mengatakan bahwa krisis dalam
kehidupan masyarakat terjadi karena kegagalan pendidikan. Tetapi, hal yang menyedihkan
adalah bahwa para pendidik tidak mengarahkan perhatiannya pada akar masalah dengan hanya
mengubah cara melakukan hal-hal lama yang sama. Bagi Ordonez, mengajarkan teologi harus
bersifat ramah dengan para pembelajar. Ia meratapi fakta bahwa ketika ada kebutuhan mengubah
muatan, para pendidik sering terpikat hanya oleh metodologi pengajaran. Ketika ada kebutuhan
untuk mengubah metodologi pengajar, para pendidik tidak mampu untuk menyesuaikan diri
dengan perangkat baru dan metodologi mutakhir. Para pendidik, terutama pendidik agama harus
sanggup mengenal dan menghadapi kebutuhan untuk mengubah muatan dan metodologi.