Anda di halaman 1dari 50

CRI FUEL SYSTEM PENDAHULUAN

BAB I
PENDAHULUAN

CRI fuel system merupakan salah satu teknologi fuel system yang dipakai pada engine
Komatsu 6D125E-3 series dan engine 6D140E-3 series. Kedua type engine tersebut
(6D125E-3 series dan 6D140E-3 series) sudah memenuhi standard emisi gas buang
sehingga engine tersebut ramah lingkungan.

Dibandingkan dengan fuel system lain, CRI Fuel system mempunyai keunggulan sebagai
berikut :
a. Penggunaan atau aplikasi yang luas
CRI Fuel system dipakai pada light vehicle, alat alat berat, lokomotiv, kapal laut
dsb.
b. Tekanan injeksi yang tinggi (High pressure injection) mencapai 1400 bar.
c. Awal injeksi yang dapat dirubah rubah.
d. Memungkinkan injeksi bahan bakar ke ruang bakar dapat dibagi dalam beberapa
tahap yaitu : Pilot injection, Main Injection dan Post Injection.
e. Memenuhi peraturan standard emisi gas buang.

Penggunaan CRI Fuel system :


a. Engine 6D125E-3 Series :PC400,WA470,HD255 dsb.
b. Engine 6D140E-3 Series :PC600,800, WA500,GD825, PC1800,D155A,HD325 dsb.

TC Sangatta 1
CRI FUEL SYSTEM PENDAHULUAN

Perbandingan antara engine 6D140-2 dengan 6D140E-3 adalah :

1. Electronic control high pressure fuel injection system.

Engine 6D140-2 series menggunakan mechanical governor dengan Jerk type in-line
injection pump. Sedangkan engine 6D140E-3 menggunakan Common Rail Injection
Fuel system dengan electronic control high pressure fuel injection. Dengan teknologi
CRI Fuel system, fuel dapat diinjeksikan dengan pressure sampai dengan 118 MPa
(1200 kg/cm2) dari low speed sampai dengan high speed.

Electronic control system pada CRI memungkinkan pengontrolan injeksi fuel yang
optimal menyesuaikan kecepatan dan beban engine, pengaturan emisi gas buang
(exhaust gas), pengaturan fuel consumption dan low noise.

Selain untuk mengontrol injeksi fuel system ke ruang bakar, electronic control system
juga berfungsi untuk melindungi engine dari kerusakan. Misalnya water temperature
yang tinggi, lubricating pressure yang rendah, fuel pressure yang rendah dsb.

2. Piston

Piston yang dipakai pada engine 6D140E-3 adalah high quality steel casting dengan
shaker cooling galley, sedangkan re entrant combustion chamber masih tetap sama
dengan engine 6D140-2 dengan pemuaian material yang minimum. Hasilnya engine
tersebut tidak hanya memiliki exhaust gas yang lebih bersih / lebih sehat, warna

TC Sangatta 2
CRI FUEL SYSTEM PENDAHULUAN

exhaust gas yang bersih dan fuel consumption yang rendah, tetapi juga high
durability dan high reliability.

3. Compression Ratio
Compression ratio dinaikkan untuk meningkatkan efisiensi pembakaran, low fuel
consumption dan mengurangi emisi dari white smoke (asap putih) pada saat engine
di start dalam kondisi dingin. Sebagai tambahannya penggunaan electronic control
high pressure fuel injection system dan karakteristik semprotan (spray) injector pada
temperature rendah didesain atau dirancang untuk meningkatkan starting
performance dan mengurangi emisi white smoke.

4. Turbocharger

1. Blower housing A. Intake inlet Specifications


2. V-band B. Intake outlet Type: Komatsu KTR110L (air-cooled)
3. Diffuser plate C. Exhaust inlet Overall length: 308mm
4. Center housing D. Exhaust outlet Overall width: 305mm
5. Shroud E. Oil inlet Overall height: 287mm
6. Turbine housing F. Oil outlet Weight: 24kg
7. Turbine impeller
8. Seal ring
9. Bearing
10. Thrust bearing

TC Sangatta 3
CRI FUEL SYSTEM PENDAHULUAN

11. Seal ring


12. Blower impeller

Engine 6D140E-3 menggunakan turbocharger dengan tipe KTR110, yang mempunyai


keunggulan high durability dan high performance. Keunggulan dari turbo tipe ini
adalah terletak pada saluran supply air resirculation untuk mengontrol kenaikan
tekanan udara pada ujung blower dan desain yang high efficiency pada turbin.

5. Piston Cooling Nozzle

Pada generasi engine 6D140E series sebelumnya, hanya terdapat 1 piston cooling
nozzle pada masing masing silinder. Tetapi pada engine 6D140E-3 series
menggunakan 2 piston cooling nozzle, hasilnya ketahanan dan umur piston menjadi
bertambah, temperature pada bagian bawah piston berkurang, sehingga mencegah

TC Sangatta 4
CRI FUEL SYSTEM PENDAHULUAN

kenaikan temperature oli yang berlebihan dan juga mencegah proses deteriorisasi
pada oli.

6. Silinder Block

Silinder block pada engine 6D140E-3 , overall length (panjang keseluruhan), overall
width (lebar keseluruhan) dan overall height (tinggi keseluruhan) adalah sama
dengan engine 6D140E-3 sebelumnya. Sebagai tambahannya the top surface
thickness (ketebalan permukaan atas) cylinder block ditambah untuk menekan
terjadinya deformasi setelah pemakaian engine dalam waktu yang lama, sehingga
mempermudah proses machining pada saat melakukan rebuild pada engine. Selain
itu kekuatan (rigidity) main ribs ditambah sehingga akaan menambah kekuatan ,
menekan atau mengurangi deformasi dan getaran pada silinder block pada saat
dibebani.

7. Under Frame

Pada engine 6D140E-3 terdapat 3 under frame berbentuk balok besi yang dipasang
pada permukaan bawah silinder block untuk mengurangi getaran dan noise pada
silinder block.

TC Sangatta 5
CRI FUEL SYSTEM PENDAHULUAN

8. Fuel Pump

High pressure fuel pump pada engine S6D140E-3 series berfungsi untuk mengalirkan
/ memompakan fuel dengan tekanan tinggi ke dalam sistim CRI. Jika dibandingkan
dengan FIP, high pressure pump mempunyai ukuran yang lebih kecil dari FIP, 1/3
dari ukuran FIP. Fuel pump tersebut mempunyai flange sebagai pengganti dari saddle
mount dan terhubung dengan timing gear case.

9. Kapasitas lubrication pump engine S6D140E-3 diperbesar 15% dari lubrication pump
engine generasi sebelumnya. Dengan adanya penambahan kapasitas diharapkan
dapat menambah relialibilty dan durability dari engine.

10. Air cleaner pada engine S6D140E-3 series juga mengalami modifikasi yaitu dari end
face seal type menjadi radial seal type. Modifikasi ini bertujuan untuk mencegah debu
masuk kedalam akibat deformasi dari seal tsb.

11. Oil Filter

TC Sangatta 6
CRI FUEL SYSTEM PENDAHULUAN

Oil Filter yang dipakai pada engine S6D140E-3 series adalah combination filter yang
high performance dan high efficiency.

12. Fuel Filter

Fuel filter pada engine S6D140E-3 series adalah high permonce and high efficiency
fuel filter. Untuk lebih lengkapnya lihat pada bahasan fuel filter.

TC Sangatta 7
CRI FUEL SYSTEM FUEL SUPPLY PUMP

BAB III
FUEL SUPPLY PUMP

Fuel supply pump terletak disisi kiri engine dan digerakan oleh timing gear dengan
arah putaran searah dengan putaran engine. Fuel supply pump terdiri dari priming pump,
feed pump dan high pressure pump. Fuel supply pump berfungsi untuk menghasilkan
fuel bertekanan ke dalam common rail dengan cara mengatur fuel disharge dari fuel
pump.

Secara umum fuel supply pump terdiri dari low pressure pump dan high pressure pump.
Low pressure pump mempunyai tipe internal rotor pump atau trochoid pump yang
berfungsi sebagai feed pump. Low pressure pump berfungsi untuk mentransfer fuel dari
fuel tank ke kedua high pressure pump. Selain feed pump, fuel supply pump juga
mempunyai priming pump yang berfungsi untuk mentransfer fuel dari fuel tank ke high
pump dengan cara manual. Biasanya priming pump digunakan pada saat bleeding udara
pada fuel system.

High pressure pump berfungsi untuk mentransfer fuel ke common rail. Berbeda dengan
low pressure pump, high pressure pump mampu mentransfer fuel ke common rail
dengan tekanan yang tinggi. High pressure fuel pump digerakan oleh camshaft pada fuel
supply pump.

TC Sangatta 34
CRI FUEL SYSTEM FUEL SUPPLY PUMP

STRUKTUR DAN FUNGSI FUEL SUPPLY PUMP

Pump control valve (discharge amount control valve) terpasang pada masing masing
silinder fuel pump untuk mengatur sistem pemompaan fuel dan mengatur fuel disharge
amount (jumlah fuel outlet fuel pump).

TC Sangatta 35
CRI FUEL SYSTEM FUEL SUPPLY PUMP

Fuel supply pump mempunyai cam dengan 3 buah protusion (cam lobe) sehingga jumlah
silinder pada high pressure pump dapat dikurangi menjadi 1/3 dari jumlah silinder
engine. Lebih detailnya adalah sebagai berikut :

2 X putaran crankshaft = 1 X putaran fuel pump drive shaft.


1 high pump = 3 cam lobe.
2 X putaran cranksaft = 3 X proses pemompaan fuel ke
common rail

Dari pernyataan diatas dapat di ambil kesimpulan bahwa :

Dalam 2 X putaran crankshaft akan menghasilkan 6 X langkah pemompaan fuel


dari kedua high pump (no.1 dan no.2) ke common rail untuk melayani 6
injector.

Jumlah langkah pemompaan fuel ke common rail adalah sama dengan jumlah langkah
penginjeksian fuel ke ruang bakar sehingga memungkinkan tercapainya kestabilan
pressure pada common rail.

Pemompaan fuel dari high pressure fuel pump ke common rail dibagi menjadi :

a. No.1 high pressure pump berfungsi untuk membantu penurunan pressure di common
rail pada saat terjadi proses injeksi di silinder no. 1, no.3 dan no.5.

b. No.2 high pressure pump berfungsi untuk membantu penurunan pressure di common
rail pada saat terjadi proses injeksi di silinder no. 2, no.4 dan no.6.

TC Sangatta 36
CRI FUEL SYSTEM FUEL SUPPLY PUMP

FEED PUMP (LOW PRESSURE FUEL PUMP)

Feed pump assembly terletak pada fuel supply pump assembly. Feed pump berfungsi
untuk mentransfer fuel dari fuel tank ke high pressure pump chamber. Rotor pada feed
pump digerakkan oleh camshaft. Pada saat inner rotor berputar, fuel dari fuel tank
dihisap oleh feed pump pada sisi suction dan dipompakan ke high pressure chamber
melalui sisi discharge tergantung dari perubahan ukuran atau celah antara inner dan
outer rotor.

Tipe feed pump yang terpasang pada fuel supply pump adalah internal rotor pump.
Internal rotor pump merupakan variasi dari internal gear pump dengan beberapa
perbedaan. Internal rotor pump mempunyai lobe sebagai pengganti teeth pada internal
gear pump. Pada internal rotor pump, inner rotor dan outer ring mempunyai selisih satu
lobe.

TC Sangatta 37
CRI FUEL SYSTEM FUEL SUPPLY PUMP

Outer ring mempunyai lobe yang lebih banyak dibandingkan dengan inner rotor. Bentuk
lobe dibentuk sedemikian rupa sehingga ujung dari kedua lobe akan selalu contact
dengan permukaan bagian dalam pada outer ring. Kondisi tersebut akan menahan fuel
kearah yang berlawanan pada saat inner rotor dan outer ring bersinggungan, sehingga
fuel tidak bocor atau tidak kembali lagi ke sisi inlet.

HIGH PRESSURE FUEL PUMP

Fuel supply pump terdiri dari 2 high pump yaitu NO.1 High Pressure Pump (yang paling
dekat dengan fuel supply pump drive gear) dan NO.2 High Pressure Pump. High pressure
pump adalah fuel pump dengan tipe piston pump yang berfungsi untuk mengalirkan fuel
dari low pressure circuit menuju ke common rail.

TC Sangatta 38
CRI FUEL SYSTEM FUEL SUPPLY PUMP

High pressure pump terdiri dari pump housing, plunger, plunger spring, lower spring
seat, upper spring seat, tappet dan delivery valve.

Dengan adanya cam lobe pada camshaft, gerakan berputar dari camshaft (recirculating)
akan dirubah menjadi gerakan naik turun pada plunger (reciprocating) oleh tappet.
Gerakan naik turun dari plunger tersebut akan memompakan fuel dari low pressure
circuit menuju ke common rail.

Delivery valve terletak pada sisi outlet high pressure pump. Prinsip kerja komponen
tersebut sama dengan prinsip kerja check valve. Komponen ini berfungsi untuk
mencegah aliran balik fuel dari common rail ke plunger.

PCV (Pressure Control Valve)

PCV terletak disisi atas pada fuel supply pump. PCV berfungsi untuk mengatur besarnya
tekanan fuel pada common rail dengan cara mengatur jumlah fuel dari fuel supply pump
yang akan dialirkan ke common rail.

PCV terdiri coil, valve, inti besi, dan spring. PCV valve mempunyai tipe normally open,
artinya pada saat coil Belem dialiri arus listrik (OFF) kondisi valve terbuka karena gaya
dari spring. Controller memberikan arus ON-OFF (digital) untuk mengaktifkan atau
menonaktifkan EPC solenoid. Pada saat coil pada PCV dialiri arus listrik dari controller,
inti besi akan menjadi magnet. Gaya magnet dari inti besi akan menarik valve melawan
gaya dari spring sehingga pada saat kondisi tersebut saluran pengisian (supply) fuel
yang menuju plunger menjadi tertutup oleh valve.

TC Sangatta 39
CRI FUEL SYSTEM FUEL SUPPLY PUMP

Banyaknya fuel yang dialirkan dari suplly pump ke common rail tergantung dari lamanya
arus listrik yang dialirkan ke PCV. Semakin lama PCV tersebut aktif (ON) maka semakin
banyak jumlah fuel yang dialirkan ke common rail atau sebaliknya.

A. Selama plunger bergerak turun, PCV valve terbuka, fuel bertekanan rendah (low
pressure masuk melalui PCV dan dihisap masuk ke plunger chamber.

TC Sangatta 40
CRI FUEL SYSTEM FUEL SUPPLY PUMP

B. Meskipun plunger sudah memasuki langkah naik (up stroke), controller masih tetap
belum mengalirkan arus listrik ke PCV valve, akibatnya posisi PCV valve masih dalam
keadaan terbuka, pressure fuel tidak mengalami kenaikan karena fuel di chamber
kembali atau berhubungan dengan saluran supplai. Pada saat kondisi tersebut
delivery valve masih dalam kondisi menutup.

TC Sangatta 41
CRI FUEL SYSTEM FUEL SUPPLY PUMP

C. Ketika controller mengalirkan arus listrik ke PCV valve dengan (waktu) timing yang
disesuaikan dengan kebutuhan jumlah fuel yang diinginkan, saluran return (return
passage) ditutup sehingga pressure pada plunger chamber menjadi naik. Apabila
kenaikan pressure pada plunger chamber sudah sesuai dengan setting pressure
delivery valve, delivery valve akan terbuka dan fuel mengalir ke common rail.

Dengan kata lain, langkah naik dari plunger dan kapan waktu PCV valve tersebut
tertutup akan menentukan jumlah fuel yang dialirkan ke common rail. Dengan
merubah waktu (timing) tertutupnya PCV valve (plunger prestroke) oleh controller,
maka jumlah fuel yang dialirkan ke common rail juga berubah, sehingga fuel pressure
pada common rail akan selalu dapat diatur atau dicontrol.

d. Ketika camlobe telah melewati maximum lift, plunger memasuki langkah turun (down
stroke), pressure pada plunger chamber turun (drop). Pada saat kondisi tersebut
delivery valve menjadi tertutup sehingga tidak ada fuel yang dialirkan ke common
rail. Controller juga memutus arus listrik ke PCV sehingga PCV valve menjadi terbuka
dan fuel bertekanan rendah (low pressure fuel) dihisap masuk ke plunger chamber
atau dengan kata lain kembali ke kondisi yang sama dengan saat langkah A.

TC Sangatta 42
CRI FUEL SYSTEM FUEL SUPPLY PUMP

Banyaknya jumlah fuel disharge berbanding lurus dengan luas penampang plunger dan
langkah (stroke) dari plunger. Jumlah fuel disharge dirumuskan sebagai berikut :

Q = d2 (H-h)
4

Dimana : H= Panjang langkah maksimal plunger.


h= Panjang langkah antara PCV valve tertutup sampai dengan maksimal
stroke plunger.
d = Diameter plunger.

OVERFLOW VALVE

Overflow valve berfungsi untuk membatasi tekanan fuel supply pada low pressure circuit.
Valve tersebut menghubungkan antara saluran fuel supply high pump dengan saluran
return (drain).

TC Sangatta 43
CRI FUEL SYSTEM FUEL SUPPLY PUMP

FUEL SUPPLY PUMP CONNECTION

TC Sangatta 44
CRI FUEL SYSTEM FUEL SUPPLY PUMP

FUEL PUMP NO FORCE FEED

Fuel pump no force feed adalah error code yang terjadi pada engine yang terdeteksi oleh
controller. Error tersebut terjadi apabila suplly dari fuel supply pump rendah sehingga
fuel pressure pada common rail menjadi rendah. Code errornya adalah [E-7b] [Fuel supply
pump non-force feed 1] dan [E-7C] [Fuel supply pump non-force feed 2]. Apabila

Prosedur pengecekannya adalah sebagai berikut :

TC Sangatta 45
CRI FUEL SYSTEM FUEL SUPPLY PUMP

Dari prosedur diatas dapat disimpulkan bahwa :

Penyebab terjadinya error tersebut diakibatkan oleh :


1. Fuel yang dipakai tidak sesuai dengan yang direkomendasikan.
2. Kebocoran pada fuel piping.
3. Tekanan fuel pada low pressure circuit terlalu rendah. Tekanan fuel pada low
pressure circuit rendah dapat diakibatkan oleh :
- Fuel level pada fuel tank terlalu rendah.
- Kevacuman pada fuel tank.
- Kebocoran atau kebuntuan fuel supply hose antara fuel tank dan inlet fuel supply
pump.
- Kebuntuan pada fuel filter.
- Kebocoran fuel pada silinder head (Engine oil pada oil pan bercampur dengan
fuel).
- Kerusakan pada feed pump.

Standard fuel pressure pada low pressure circuit :


0.15 0.3 MPa (1.5 3 kg/cm2).

4. Kerusakan pada pressure limiter sehingga fuel pada common rail mengalir ke drain
melalui pressure limiter dan mengakibatkan fuel pressure pada common rail menjadi
rendah.
Standard jumlah fuel drain pada pressure limiter adalah :
Maksimal 10 cc/min

5. Kerusakan pada PCV.


Untuk memastikan kerusakan pada system PCV dapat dilakukan dengan prosedur
berikut :
a. Lepas connector salah satu PCV high pressure pump.
b. Start engine dan check apakah engine mati dengan kondisi engine bekerja
menggunakan satu PCV.

Apabila engine tersebut mati maka lakukan prosedur sebagai berikut :

A. Trouble shooting step E70 Excess current in fuel supply pump PCV 1 atau E71
Excess current in fuel supply pump PCV 2

TC Sangatta 46
CRI FUEL SYSTEM FUEL SUPPLY PUMP

Resistance PCV solenoid terlalu rendah dari standard. Standard resistance


PCV solenoid adalah 2.3 5.3
Terjadi short circuit pada PCV wiring harness atau pada PCV solenoid.

B. Trouble shooting step E74 Disconnection in fuel supply pump PCV1 system atau
E75 Disconnection in fuel supply pump PCV2 system.

Coil pada PCV solenoid putus atau resistance nya melebihi standard.
Standard resistance PCV solenoid adalah 2.3 5.3
Wiring harness PCV dari controller ke PCV solenoid terputus.

Jika langkah trouble shooting diatas sudah dilakukan dan tidak ada error (E70, E71,
E74 dan E75) pada controller maka telah terjadi kerusakan pada fuel supply
pump.

Jika langkah trouble shooting diatas dan timbul error (E70, E71, E74 dan E75) pada
controller maka telah terjadi kerusakan pada electrical system PCV.

Apabila engine tersebut tidak mati (bisa distart) maka lakukan langkah sebagai
berikut :

A. Pengukuran injector spill. Prosedur pengukuran fuel spill adalah sebagai


berikut :
a. Lepas hose yang menghubungkan return fuel yang terletak pada bagian
belakang engine.
b. Hubungkan hose tersebut ke dalam penampungan (gelas ukur).
c. Start engine, stall engine sesuai dengan kecepatan pada table dibawah ini,
kemudian ukur jumlah fuel yang keluar pada saluran spill/return tersebut
selama 1 menit.

LIMIT JUMLAH FUEL SPILL/RETURN (TOTAL 6 SILINDER)

STALL SPEED (rpm) SPILL LIMIT (cc/min)


1600 960
1700 1020
1800 1080
1900 1140
2000 1200

TC Sangatta 47
CRI FUEL SYSTEM FUEL SUPPLY PUMP

Jika pengukuran diatas telah dilakukan dan hasil pengukuran tersebut


sesuai dengan Standard, maka kerusakan terjadi pada common rail
pressure sensor (kesalahan pembacaan pada common rail pressure
sensor, meskipun nilai tegangan pada common rail pressure sensor sesuai
standard dan tidak terjadi short circuit maupun disconnection pada wiring
harness common rail pressure sensor).

Jika pengukuran diatas tidak sesuai dengan standard maka kerusakan


terjadi pada injector.

TC Sangatta 48
CRI FUEL SYSTEM COMMON RAIL

BAB I
COMMON RAIL

Common rail terletak pada sisi kiri engine. Common rail berfungsi untuk mendistribusikan
fuel bertekanan tinggi yang dihasilkan oleh high pressure pump ke injector pada
masing masing silinder. Common rail assembly dilengkapi dengan common rail fuel
pressure sensor, flow damper dan pressure limiter.

Outlet dari common rail berupa flow damper yang dihubungkan dengan piping ke
masing masing injector. Outlet dari pressure limiter berhubungan dengan fuel tank.

TC Sangatta 34
CRI FUEL SYSTEM COMMON RAIL

FLOW DAMPER VALVE

Flow damper valve berfungsi untuk meredam turun naiknya fuel pressure pada fuel
piping. Selain itu flow damper valve berfungsi untuk mengalirkan fuel dengan pressure
yang stabil/konstan ke injector. Jika ada fuel yang mengalir ke injector berlebihan,
komponen ini akan berfungsi untuk memutus aliran fuel dan mencegah aliran fuel yang
tidak normal.

Jika aliran fuel ke injector tidak normal, tekanan dari fuel akan mendorong piston,
kemudian piston mendorong ball sampai ball tersebut contact dengan seatnya. Akibatnya
aliran fuel dari common rail yang menuju ke injector menjadi terputus.

TC Sangatta 35
CRI FUEL SYSTEM COMMON RAIL

PRESSURE LIMITER

Pressure limiter terletak pada common rail assembly. Pressure limiter berfungsi untuk
membatasi tekanan fuel pada common rail. Control valve ini terdiri dari housing, ball,
spring, body dan guide. Setting pressure dari pressure limiter adalah 140 MPa (1430
kg/cm2).

Pada saat tekanan fuel pada common rail masih normal (dibawah 140 MPa), Saluran inlet
pada pressure limiter masih dalam keadaan tertutup oleh ball. Pada kondisi tersebut, ball
tertekan oleh guide yang didorong oleh spring.

Pada saat tekanan fuel pada common rail melebihi 140 Mpa, tekanan fuel akan
mendorong ball kemudian mendorong guide melawan spring. Akibatnya sebagian fuel
common rail akan dialirkan ke saluran return.

Ketika pressure pada common rail turun menjadi 30 Mpa (310 kg/cm2), guide akan
mendorong ball untuk menutup saluran inlet pressure limiter valve. Sehingga pressure
didalam common rail selalu terjaga.

TC Sangatta 36
CRI FUEL SYSTEM COMMON RAIL

COMMON RAIL PRESSURE SENSOR

Common rail pressure sensor terpasang pada common rail. Pressure sensor ini berfungsi
untuk mengukur besarnya tekanan fuel pada common rail dan kemudian memberi
informasi ke controller. Lihat bahasan electrical system.

Common Rail Fuel High Pressure Abnormality

Common rail fuel pressure abnormality adalah suatu error yang terbaca oleh controller
apabila terjadi ketidaknormalan fuel pressure pada common rail. Error ini terdeteksi oleh
common rail pressure sensor dan memberikan informasi ke controller. E7A (Common rail
fuel high pressure abnormality 1) dan E79 (Common rail fuel high pressure abnormality
2).

Apabila error tersebut terjadi, maka prosedur penanganannya adalah sebagai berikut :

TC Sangatta 37
CRI FUEL SYSTEM COMMON RAIL

Dari langkah tersebut diatas, dapat disimpulkan error atau trouble tersebut terjadi
karena :

1. Error lain yang timbul bersamaan dengan error tersebut pada CRI fuel system.
Maksudnya adalah error tersebut timbul akibat dari error yang lain.
2. Ketidak sesuaian spesifikasi fuel yang dipakai dengan yang direkomendasikan oleh
Komatsu.
3. Kebocoran fuel pada overflow valve piping. Periksa kebocoran fuel pada overflow
piping dengan mengoperasikan priming pump.
4. Ketidaknormalan pada overflow valve system. Periksa kondisi spring, seat dan ball
overflow valve.
5. Ketidaknormalan pada pressure limiter valve piping. Periksa kebocoran fuel pada
piping dengan kondisi engine running.
6. Common rail pressure sensor atau common rail pressure sensor wiring harness
abnormal.

7. Pressure limiter abnormal. Jika langkah trouble shooting E77 diatas telah dilakukan
dan tidak ada error yang timbul, maka kerusakan terjadi pada pressure limiter.

TC Sangatta 38
CRI FUEL SYSTEM CRI INJECTOR

BAB IV
CRI INJECTOR

STRUKTUR DAN FUNGSI CRI INJECTOR

TC Sangatta 34
CRI FUEL SYSTEM CRI INJECTOR

Injector terdiri dari conventional nozzle, 2 way magnetic valve, hydraulic piston, dan
orifice yang berfungsi untuk mengatur fuel injection ratio.

Injector berfungsi untuk menginjeksikan bahan bakar bertekanan tinggi dari common rail
ke dalam ruang bakar sesuai dengan timing, jumlah bahan bakar, injection ratio dan
spray (semprotan) injector.

CRI injector menggunakan TWV (Two Way electromagnetic Valve) yang dicontrol secara
elektrik oleh ECU. Valve ini berfungsi untuk mengatur tekanan dalam control chamber
yang bertujuan untuk mengatur awal dan akhirnya suatu proses injeksi.

Orifice pada injector berfungsi untuk mengatur sudut pembukaan nozzle untuk
mengontrol fuel injection ratio.

Hydraulic piston berfungsi untuk meneruskan tenaga ke needle valve pada nozzle
tergantung takanan pada control chamber.

Nozzle berfungsi untuk menyemprotkan (spray) fuel ke dalam ruang bakar.

Gambar CRI Injector

TC Sangatta 35
CRI FUEL SYSTEM CRI INJECTOR

OPERATION

Two Way Valve (TWV) pada injector terdiri dari inner valve (fixed) (4) dan outer valve
(variable) (3). Komponen tersebut terpasang dalam satu shaft. Dan membentu inner dan
outer seat, dan pada saat TWV ON atau OFF salah satu dari kedua seat menjadi terbuka.

A. No Injection of Fuel

Gambar NO Injection Of Fuel

Pada saat tidak ada arus yang mengalir ke solenoid, outer valve (3) terdorong ke bawah
oleh valve spring dan fuel pressure, dan outer seat (50) tertutup. Tekanan fuel yang
tinggi dari common rail akan bekerja pada control chamber (7), sehingga nozzle (8)
tertutup dan tidak ada proses injeksi fuel ke ruang bakar.

TC Sangatta 36
CRI FUEL SYSTEM CRI INJECTOR

B. Awal Fuel di Injeksikan

Gambar Start of Fuel Injection

Pada saat arus listrik dari ECU mengalir ke Two Way Valve (TWV), outer valve (3)
tertarik ke atas oleh gaya elektromagnetik sehingga outer seat (5) menjadi terbuka.
Hasilnya fuel mengalir dari control chamber melewati orifice (2) dan (6), dan nozzle
needle terangkat / terbuka dan fuel di injeksikan ke ruang bakar. Akibat dari kerja orifice
(2) dan (6), fuel injection ratio akan naik secara bertahap. Jika arus listrik terus dialirkan
ke solenoid , maka akan didapat injection ratio yang maksimum.

TC Sangatta 37
CRI FUEL SYSTEM CRI INJECTOR

C. Akhir Injeksi

Gambar. Completion of Fuel Injection

Ketika arus listrik dari ECU menuju ke solenoid di hentikan, Two Way Valve menjadi
berhenti, outer valve (3) turun ke bawah oleh gaya valve spring dan fuel pressure.
Akibatnya outer seat (5) tertutup. Pada saat kejadian itu, fuel dengan tekanan tinggi dari
common rail bekerja pada control chamber, sehingga nozzle tertutup dengan tiba tiba.
Proses injeksi fuel ke ruang bakar menjadi berhenti / stop.

TC Sangatta 38
CRI FUEL SYSTEM CRI INJECTOR

Remove Injector

1. Lepas cylinder head cover.

2. Lepas rocker arm assy.

3. Lepas fuel high-pressure tube (3), kemudian lepas injector wiring harness security
clamp (4), injector wiring harness (5) dan fuel injector (6).

TC Sangatta 39
CRI FUEL SYSTEM CRI INJECTOR

Install Injector

Sebelum melakukan pemasangan injector ke silinder head, pastikan bagian dalam


injector sleeve bebas dari kotoran.
1. Pasang gasket dan O Ring ke injector, kemudian lapisi dengan oli SAE 30.

2. Pasang holder (2) pada injector (1), kemudian pasang injector beserta holdernya
dengan posisi injector connection mengarah ke lubang high pressure pipe.

3. Lapisi permukaan spherical (cembung) dengan engine oil, pasang ball washer dan
holder (2) ke bolt (3) kemudian kencangkan sementara. Pasang high pressure sleeve
(4) pada lubang high pressure pipe dan kencangkan sementara, kemudian di
sejajarkan dengan injector (5). Kemudian pasang holder dan kencangkan bolt (3)
dengan torque 58.8 73.5 Nm (6.0 7.5 kgm).

Setelah mengencangkan holder, lepas high pressure pipe sleeve dan pasang injector
yang lain dengan prosedur diatas.

TC Sangatta 40
CRI FUEL SYSTEM CRI INJECTOR

Pemeriksaan Injector Piping

Pada saat memasang high pressure pipe, periksa secara visual longitudinal split b, pit
c atau tingkat keausan d (ujung dari taper seal adalah 2 mm dari ujung). Dapat
diraba dengan ujung kuku pada bagian yang kerucut (taper). Apabila ditemukan
kerusakan pada high pressure pipe, maka ganti high pressure pipe.

Injector Electrical System

Injector pada CRI fuel system terdiri dari solenoid dan valve assembly. Solenoid tersebut
diaktifkan oleh arus listrik dari controller dengan tegangan tinggi (110 130V).
Normalnya tegangan tinggi dari controller ke injector terjadi pada saat engine running.
Pada saat engine stop, dan starting key ON atau OFF output tegangan tinggi dari
controller berhenti (OFF).

BERBAHAYA !!! Jika tegangan tinggi disentuh secara langsung, perhatikan prosedur
berikut ini saat melakukan inspeksi pada injector atau injector wiring harness.

1. Injector wiring harness tegangan tinggi dari controller adalah sebagai berikut :
a. Controller connector : CN6 dan CN7
b. Intermediate connector : EC1
c. Injector connector : IJ1, IJ2, IJ3, IJ4, IJ5 dan IJ6
d. Terminal pada injector head (didalam head cover)

TC Sangatta 41
CRI FUEL SYSTEM CRI INJECTOR

2. Posisikan starting key OFF sebelum diposisikan ke posisi start ketika melakukan
disconnect atau connect wiring harness connector yang dilalui tegangan tinggi.
3. Pada saat memasang T adapter (harness checker) pada connector connector yang
dialiri arus listrik tegangan tinggi selalu posisikan starting switch ke posisi OFF
sebelum start.

Injector Electrical Standard

Pengukuran yang dilakukan pada injector CRI Fuel system adalah pengukuran
resisstance (tahanan) solenoid. Berikut ini adalah standard pengukuran tahanan pada
injector :

Pengoperasian Reduced Cylinder Mode

Mengoperasikan Reduced Cylinder Mode berarti mengatur atau menset satu atau lebih
injector pada silinder menjadi kondisi NO INJECTION (tidak injeksi) secara elektrik pada
saat engine dalam kondisi running. Apabila mode tersebut dioperasikan maka controller
akan memutus arus listrik ke injector sehingga tidak terjadi injeksi bahan bakar dan
tidak terjadi pembakaran pada silinder tersebut.

TC Sangatta 42
CRI FUEL SYSTEM CRI INJECTOR

Berikut ini adalah fungsi dari operasi Reduced Cylinder Mode :

1. Operasi Reduced Cylinder Mode digunakan ketika salah satu silinder pada engine
terjadi pembakaran yang tidak normal atau tidak terjadi pembakaran sama sekali.
Operasi ini untuk mengetahui silinder yang tidak bekerja normal.

2. Dengan operasi Reduced Cylinder Mode, apabila tidak terjadi perubahan engine speed
dan output engine baik pada saat kondisi normal maupun pada saat silinder yang
injector di set ke NO INJECTION, maka dapat dipastikan bahwa silinder tersebut
bermasalah atau abnormal.

Berikut ini adalah beberapa kemungkinan penyebab terjadinya ketidaknormalan


tersebut :
- Kebocoran pada gasket silinder head.
- Injeksi bahan bakar yang tidak sempurna oleh injector.
- Kerusakan pada piston, ring piston atau silinder liner.
- Kerusakan pada mekanisme valve.
- Kerusakan pada electric system.

PENGUKURAN FUEL SPILL

Pengukuran fuel spill dilakukan apabila diduga terjadi ketidaknormalan pada sistem
transfer fuel supply pump ke common rail (fuel pressure pada common rail terlalu
rendah). Apabila kondisi tersebut diatas terjadi, akan muncul error E-7b (Fuel supply
pump non-force feed 1) dan atau E7c (Fuel supply pump non-force feed 2). Untuk itu
diperlukan pengukuran fuel spill pada injector.

Prosedur pengukuran fuel spill adalah sebagai berikut :

a. Lepas hose yang menghubungkan return fuel yang terletak pada bagian belakang
engine.
b. Hubungkan hose tersebut ke dalam penampungan (gelas ukur).
c. Start engine, stall engine sesuai dengan kecepatan pada table dibawah ini, kemudian
ukur jumlah fuel yang keluar pada saluran spill/return tersebut selama 1 menit.

LIMIT JUMLAH FUEL SPILL/RETURN (TOTAL 6 SILINDER)

STALL SPEED (rpm) SPILL LIMIT (cc/min)


1600 960
1700 1020
1800 1080
1900 1140
2000 1200

TC Sangatta 43
CRI FUEL SYSTEM ELECTRICAL SYSTEM

BAB I
ELECTRICAL SYSTEM

Electrical system pada CRI fuel system berfungsi untuk mengatur pembakaran engine
dengan cara mengatur fuel system. Pengaturan tersebut diolah oleh engine controller
(ECM) berdasarkan input dari tiap tiap sensor yang terpasang pada engine. Selain itu
electrical system engine berfungsi untuk mencegah kerusakan engine dengan cara
memonitor seluruh sistem vital engine seperti cooling system, temperature system.

Pada pembahasan ini, electrical system engine dibagi menjadi :

A. Power source.

B. Input, yang terbagi atas :


Temperature sensor,
Pressure sensor.
Position sensor
Speed sensor.
C. Process

D. Output, yang terbagi atas.


Actuator.

E. Datalink atau network system.

TC Sangatta 34
CRI FUEL SYSTEM ELECTRICAL SYSTEM

POWER SOURCE

ECM bekerja dengan tegangan 24 V. Power source (sumber tegangan) terdiri dari 2,
yaitu ON Signal dari terminal ACC starting switch dan Power Source (24 V).

Cara kerjanya, pada saat starting switch di posisikan ON, maka arus listrik dari (+)
battery terhubung dengan terminal ACC starting switch. Dari terminal ACC, aliran listrik
dibagi menjadi dua jalur, kepada saat starting switch di ON, maka relay menjadi ON,
sehingga arus listrik dari fuse mengalir ke controller.

SPEED SENSOR

Speed sensor pada CRI fuel system terdiri dari 3 macam, yaitu ;

a. G revolution sensor dan


b. NE revolution sensor.

Pada dasarnya ketiga macam sensor diatas mempunyai cara kerja yang sama.
Perbedaannya terletak pada object yang disensor. Engine speed sensor berfungsi untuk
mengukur putaran engine dengan cara menyensor pergerakan teeth pada flywheel.

G sensor berfungsi untuk mengukur atau mengetahui posisi langkah tiap tiap silinder.
G sensor akan menyensor pergerakan disc dan notch pada fuel suplly pump cam shaft.

Ne sensor berfungsi untuk mengukur atau mengetahui sudut pergerakan crankshaft


dengan cara menyensor hole yang terletak pada sisi bagian dalam flywheel.

TC Sangatta 35
CRI FUEL SYSTEM ELECTRICAL SYSTEM

NE REVOLUTION SENSOR

NE revolution sensor (crank angle sensor) terletak pada flywheel housing. Sensor ini
berfungsi untuk membaca sudut pergerakan crankshaft dengan menyensor lubang yang
terdapat pada bagian dalam flywheel.

TC Sangatta 36
CRI FUEL SYSTEM ELECTRICAL SYSTEM

0
Pada flywheel, setiap 7,5 terdapat lubang.

3600 = 48 lubang
7.50

Tetapi ada 3 tempat pada flywheel yang tidak mempunyai lubang.

48 lubang 3 lubang = 45 lubang

Jadi total lubang yang terdapat pada flywheel adalah 45 lubang. Sehingga setiap 2 kali
putaran, maka sinyal outputnya menjadi 90 pulsa.

Pada dasarnya cara kerja dari NE revolution sensor sama dengan engine speed sensor.
Output dari NE revolution sensor berupa sinyal AC seperti yang terlihat pada gambar
berikut :

Berikut ini adalah wiring diagram NE revolution sensor

SNE (male) Resistance value


Between (1) and (2) 85 210
Between (1)(2) and ground Min. 1 M.

Apabila terjadi ketidaknormalan pada NE revolution sensor akan mengakibatkan :

a. Output engine akan berkurang (engine low power) apabila yang terjadi hanya E 1b
(abnormality in NE revolution sensor system).
b. Engine akan mati dan tidak bisa start apabila yang terjadi E 1b dan diikuti dengan
error E 1C (abnormality in G revolution sensor system).

TC Sangatta 37
CRI FUEL SYSTEM ELECTRICAL SYSTEM

G Revolution Sensor (Cylinder Judgement Sensor)

G revolution sensor terletak pada high pressure pump. Sensor ini berfungsi untuk
membaca pergerakan dari disc pada fuel pump shaft. Disc tersebut mempunyai teeth dan
notch (alur) seperti pada gambar dibawah. Notch tersebut akan bertemu dengan G
revolution sensor setiap 1200 putaran crankshaft. Sebagai tambahannya terdapat satu
teeth pada satu titik. Sehingga pada disc tersebut terdapat 7 teeth dan 7 notch. Jadi
setiap 2 kali putaran crankshaft (7200), G revolution sensor akan menghasilkan 7 pulsa.

Sama dengan NE sensor dan Engine speed sensor, G sensor juga mengeluarkan output
berupa tegangan AC. Berikut ini adalah grafik output dari G revolution sensor :

TC Sangatta 38
CRI FUEL SYSTEM ELECTRICAL SYSTEM

SG (male) Resistance value


Between (1) and (2) 1.4 k 3.5 k .
Between (1)(2) and ground Min. 1 M .

Dari kedua sensor G revolution sensor dan NE revolution sensor akan menentukan
silinder no.1 yang selanjutnya akan memberikan informasi ke controller silinder nomor
berapa yang akan di injeksikan. Kombinasi dari G revolution sensor dan NE revolution
sensor dapat disebut sebagai pengganti cam shaft lobe injector. Dari kedua grafik G dan
NE sensor akan di dapat grafik sebagai berikut :

TC Sangatta 39
CRI FUEL SYSTEM ELECTRICAL SYSTEM

Water Temperature Sensor

Water temperature sensor terletak pada thermostat housing. Water temperature sensor
berfungsi untuk membaca temperature cooling system dan memberikan informasi
tersebut ke controller.

Temperature sensor merupakan thermistor yang nilai tahanannya berubah setiap


perubahan suhu. Semakin tinggi temperature cooling system, maka semakin rendah nilai
tahanan pada thermistor. Controller akan membaca perubahan tegangan yang terbagi
pada resistor di dalam controller dan thermistor.

Temperature sensor pada CRI fuel system terdiri dari dua sensor yaitu :
a. High temperature sensor.
b. Low temperature sensor.

TC Sangatta 40
CRI FUEL SYSTEM ELECTRICAL SYSTEM

Kedua tipe temperature sensor memiliki nilai tahanan yang berbeda dan connector yang
berbeda.

High Temperature Sensor System

TWH (male) Resistance value


Between (1) and (2) 90 k 3.5 .
Between (1)(2) and ground Min. 1 M .

Apabila terjadi ketidaknormalan pada water high temperature sensor system akan terjadi
error E-34. Apabila error tersebut terjadi, kondisi engine tetap normal, controller mengirim
signal output ke unit (monitor panel) dengan nilai yang tetap pada 900C.

Low Temperature Sensor System

TWL (male) Resistance value


Between (A) and (B) 9 k 0.3 k .
Between (A) and ground Min. 1 M .

TC Sangatta 41
CRI FUEL SYSTEM ELECTRICAL SYSTEM

Apabila terjadi ketidaknormalan pada water low temperature sensor system akan terjadi
error E6A. Apabila error tersebut terjadi, akan mengakibatkan gas buang berwarna putih
pada saat temperature cooling system masih rendah (dibawah temperature kerja), selain
itu juga dapat mengakibatkan engine sulit start pada saat temperature cooling system
masih rendah.

Error E-23 muncul apabila terjadi overheating pada cooling system engine.

FUEL TEMPERATURE SENSOR

Fuel temperature sensor terletak pada sebelah kiri engine. Fuel temperature sensor
berfungsi untuk mengetahui temperature fuel system pada engine.

Karakteristik fuel temperature sensor sama dengan karakteristik water temperature yaitu
semakin tinggi temperature fuel maka hambatan (resistance) pada thermistor semakin
rendah. Controller akan membaca perubahan tegangan yang terbagi pada resistor di
dalam controller dan thermistor.

TC Sangatta 42
CRI FUEL SYSTEM ELECTRICAL SYSTEM

TFL (Male) Resistance value


Between (A) and (B) 9 k 0.3 k .
Between (A) and ground Min. 1 M .

Apabila terjadi ketidaknormalan pada fuel temperature sensor maka akan muncul error
E-3d.

THROTTLE SENSOR SYSTEM

Throttle control system berfungsi untuk mengetahui untuk power engine berdasarkan
keinginan operator. Throttle sensor yang dipakai pada engine 6D140E-3 atau 6D125E-3
terdiri dari dua tipe yaitu :

a. Accelerator pedal (with Idle Validation Switch).


b. Fuel control dial.

Kedua tipe throttle sensor tersebut sama sama menggunakan potensiometer sebagai
sensornya. Seperti yang telah kita ketahui bahwa potensiometer memiliki 3 terminal
yaitu : power (4,6 5,4 V), signal dan ground. Ketiga terminal tersebut terhubung
dengan controller.

TC Sangatta 43
CRI FUEL SYSTEM ELECTRICAL SYSTEM

Pada saat accelerator pedal ditekan atau fuel control dial diputar, maka posisi
potensiometer menjadi berubah. Perubahan posisi potensiometer mengakibatkan
perubahan resistance atau hambatan yang juga sebanding dengan perubahan tegangan.
Perubahan tegangan ini dibaca oleh controller untuk menentukan pengaturan fuel.

Apabila terjadi ketidaknormalan pada potensiometer (error E-31) maka controller :


a. Membaca 100% throttle signal (engine speed akan di set ke kondisi high idle) apabila
error yang muncul hanya error E-31.
b. Membaca 0% throttle signal (engine speed akan di set ke kondisi low idle ) apabila
error yang muncul error E-31 dan diikuti dengan E-24 (Drop in engine oil pressure) dan
E-36 (Abnormality in engine oil pressure switch).

Accelerator Pedal

TC Sangatta 44
CRI FUEL SYSTEM ELECTRICAL SYSTEM

Table 1

TS (male) Resistance value


Between (1) and (3) 4.0 k 6.0 k
Between (2) and (1) 0.5 2.7 k
Between (2)(3) and ground Min. 1 M

Table 2

TS (male) Resistance value


Between (4) and (11) 4.0 k 6.0 k
Between (6) and (11) 0.5 2.7 k
Between (4)(6) and ground Min. 1 M

Fuel Control Dial

Table 1

TS (male) Resistance value


Between (1) and (3) 4.0 k 6.0 k
Between (2) and (1) 0.5 2.7 k
Between (2)(3) and ground Min. 1 M

Table 2

TS (male) Resistance value


Between (4) and (11) 4.0 k 6.0 k
Between (6) and (11) 0.5 2.7 k
Between (4)(6) and ground Min. 1 M

Idle Validation Switch.

Idle validation switch adalah switch yang terdapat pada accelerator pedal yang berfungsi
untuk menentukan apakah accelerator sedang ditekan atau tidak. Input signal ke
controller berupa signal digital.

TC Sangatta 45
CRI FUEL SYSTEM ELECTRICAL SYSTEM

Pada saat accelerator pedal tidak ditekan maka signal voltage ke controller adalah
signal 2. Tegangan signal ke controller adalah 15 30 V (signal 2).

Pada saat accelerator pedal ditekan maka signal voltage ke controller adalah signal 3.
Tegangan signal ke controller adalah 0 1 V (signal 3).

TC Sangatta 46