Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH TEORI AKUNTANSI

PENDAPATAN BIAYA KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN

disusun Oleh :
KELOMPOK 4

Elvi Karlina SN ()
Gusti Tri Noor A (1610426169 )
Syahdan Irawan ()
Ricky Febrian R ()

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PANCA BHAKTI PONTIANAK
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Akuntasi memang sangat dibutuhkan oleh setiap perusahaan karena dengan
Akuntansi kita bisa memantau kinerja perusahaan dan kondisi perusahaan yang
kita jalani, apakah memperoleh laba atau menderita kerugian.dengan akuntansi
kitapun dapat memperoleh informasi yang nantinya berguna untuk
pemakainya,baik itu pihak ekstern maupun intern.
Dengan adanya informasi ini kita juga bisa membayar pajak kepada
pemerintah demi kesejahteraan sosial. Semua informasi dia tas terkait halnya
dengan seberapa banyak pendapatan yang kita peroleh dari kegiatan perusahaan
kita, kerana pendapatan adalah sesuatu yang sangat penting dalam setiap
perusahaan. Tanpa ada pendapatan mustahil akan didapat penghasilan atau
earnings . Pendapatan adalah penghasilan yang timbul dari aktivitas perusahaan
yang biasa dikenal atau disebut penjualan, penghasilan jasa(fees), bunga,
dividen,royalti dan sewa.Menurut PSAK nomor 23 paragraf 6 adalah sebagai
berikut: Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul
dari aktivitas normal perusahaan selama suatu periode bila arus masuk itu
mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanaman
modal.
Pemahaman terhadap konsep biaya memerlukan analisis yang hati-hati
terhadap karekteristik dari transaksi yang berkaitan dengan biaya. Ada elemen
laporan lain yang sifatnya hamper sama dengan biaya namun sebaiknya tidak
dimasukkan sebagai komponen biaya. Karekteristik biaya dapat dipahami dengan
mengenali batasan atau pengertian yang berkaian dengan biaya.
Dengan pemahaman seperti ini, transaksi yang berkaitan dengan biaya dapat
dengan mudah diidetifikasi sehinnga dapat disajikan dengan benar dalam laporan
keuangan. Dalam makalah ini akan membahas tentang cost yang sebagai dasar
pencatatan nilai dalam akuntansi pada tahap pembebanan. Konsep dasar yang
melandasi pembebanan cost adalah konsep upaya dan hasil (efforts and
accomplishment).
Kemudian ada dari pendapatan dan biaya timbulah yang namanya
keuntungan dan kerugian. Keuntungan dan kerugian terjadi karena adanya prose
pendapatan dan biaya dalam perusahaan.

1.2. Rumusan masalah


1. Apa itu konsep pendapatan?
2. Apa itu konsep biaya ?
3. Apa itu keuntungan ?
4. Apa itu kerugian ?

1.3. Tujuan
1. Mengetahui konsep pendapatan dan biaya serta keuntungan dan kerugian.
2. Memahami teori akuntansi tentang pendapatan, biaya, keuntungan, dan
kerugian.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Konsep Pendapatan


2.1.1. Pengertian Pendapatan
Menurut PSAK No. 23 paragraf 6, pendapatan adalah arus masuk bruto dari
manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama satu
periode bila arus masuk tersebut mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak
berasal dari kontribusi penanam modal.
Menurut SFAC No.6, pendapatan adalah arus masuk atau penambahan
lainnya pada aktiva suatu satuan usaha atau penyelesaian kewajiban-kewajibanya
(atau kombinasi keduanya) dari pengiriman atau produksi barang, pemberian jasa,
atau kegiatan lain yang merupakan kegiatan utama atau pusat dari satuan usaha
yang berkesinambungan.
Menurut FASB yang dikutip oleh harahap (1999:58) definisi pendapatan
adalah arus masuk atau peningkatan nilai asset dari suatu entity atau penyelesaian
kewajiban dari entity atau gabungan dari penyerahan/ produksi barang, pemberian
jasa atas pelaksana kegiatan lainnya yang merupakan kegiatan utama perusahaan
yang sedang berjalan.
Melihat definisi tersebut, maka pendapatan akan diakui dalam laporan laba
rugi kalau kenaikan manfaat ekonomi pada masa depan yang berkaitan dengan
peningkatan aktiva atau penurunan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur
dengan andal. Ini berarti bahwa pengakuan pendapatan terjadi bersamaan dengan
pengakuan kenaikan aktiva atau penurunan kewajiban (misalnya kenaikan bersih
aktiva yang timbul dari penjualan barang atau jasa atau penurunan kewajiban yang
timbul dari pembebasan pinjaman).
Menurut SFAC No 6, Gains adalah peningkatan dalam ekuitas (aset bersih)
dari transaksi sampingan atau insidental suatu entitas dan dari semua transaksi dan
kejadian lain yang mempengaruhi entitas selain yang diakibatkan dari pendapatan
atau investasi oleh pemilik.
Terdapat dua kata yang sering disebut dalam definisi yaitu ekuitas dan
entitas. Ekuitas adalah modal yang diinvestasikan dalam suatu usaha (ekuitas
dalam akuntansi merupakan penambahan dari profit selama tahun berjalan dengan
modal mula-mula). Dalil entitas menganggap bahwa setiap perusahaan adalah
suatu unit akuntansi yang terpisah dan berbeda dari pemiliknya dan dari
perusahaan-perusahaan lainnya.

2.1.2. Karateristik Pendapatan


1. Aliran masuk atau aliran aset adalah jumlah aset baru yang diterima dari
konsumen, aliran dana dari konsumen, kenaikan laba ekonomi, laba penjualan
aset.
2. Kegiatan yang mempresentasi operasi utama atau sentral yang terus menerus
adalah pendapatan dari kegiatan normal perusahaan biasanya diperoleh dari
hasil penjualan barang atau jasa yang berhubungan dengan kegiatan utama
perusahaan.
3. Pelunasan, penurunan, atau pengurangan kewajiban dimana suatu entitas
mengalami kenaikan aset sebelumnya, misalnya menerima pembayaran di
muka dari pelanggan, pengiriman barang, atau pelaksanaan jasa akan
mengurangi kewajiban yang menimbulkan pendapatan. Jadi kenaikan aset,
pendapatan dapat diartikan sebagai penurunan kewajiban.
4. Suatu entitas maksudnya adalah pendapatan didefinisi sebagai kenaikan aset
bukannya kenaikan ekuitas bersih meskipun kenaikan aset tersebut akhirnya
berpengaruh terhadap kenaikan ekuitas bersih.
5. Produk perusahaan maksudnya dimana aliran aset dari pelanggan berfungsi
hanya sebagai pengukur, tetapi bukan pendapatan itu sendiri. Produk fisik yang
dihasilkan oleh kegiatan usaha itulah yang merupakan pendapatan. Produk
merupakan pencapaian dari tiap kegiatan produktif. Pendapatan merupakan
aliran masuk aset (unit moneter) dan hal tersebut berkaitan dengan aliran fisis
berupa penyerahan produk (ouput) perusahaan.
6. Pertukaran produk, harus dinyatakan dalam satuan moneter untuk dicatat ke
dalam system pembukuan. Satuan moneter yang paling objektif adalah jika
jumlah rupiah tersebut merupakan hasil transaksi atau pertukaran antara pihak
independen.
7. Menyandang beberapa nama atau mengambil beberapa produk, dimana
pendapatan merupakan konsep yang bersifat generik dan mencakupi semua pos
dengan berbagai bentuk dan nama apapun.

2.1.3. Sumber Sumber Pendapatan


Soemarso SR mengatakan pendapatan dalam perusahaan dapat
diklasifikasikan sebagai pendapatan opeerasi dan non operasi. Pendapatan operasi
adalah pendapatan yang diperoleh dari aktivitas uama perusahaan. Sedangkan,
pendapatan non opearsi adalah pendapatan yang diperoleh bukan dari kegiatan
utama perusahaan.
Jumlah nilai nominal aktiva dapat bertambah melalui berbagai transaksi
tetapi tidak semua transaksi mencerminkan timbulnya pendapatan. Dalam
penentuan laba adalah membedakan kenaikan aktiva yang menunjukkan dan
mengukur pendapatan kenaikan jumlah nilai nominal aktiva dapat terjadi dari:
a. Transaksi modal atau pendapatan yang mengakibatkan adanya tambahan dana
yang ditanamkan oleh pemegang saham.
b. Laba dari penjualan aktiva yang bukan berupa barang dagangan seperti
aktiva tetap, surat-surat berharga, atau penjualan anak atau cabang perusahaan.
c. Hadiah, sumbangan, atau penemuan.
d. Revaluasi aktiva.
e. Penyerahan produk perusahaan, yaitu aliran penjualan produk.
Dari kelima sumber tambahan aktiva diatas hanya butir kelima yang harus
diakui sebagai sumber pendapatan walaupun laba atau rugi mungkin timbul dalam
hubungannya dengan penjualan aktiva selain produk sebagaimana yang
disebutkan dalam butir kedua.
2.1.4. Konsep Dalam Pendapatan
Ada dua konsep yang sangat erat hubungannya dengan masalah proses
pendapatan yaitu konsep proses pembentukan pendapatan (Earning Process) dan
proses realisasi pendapatan (Realization Process).
1. Proses pembentukan pendapatan (Earnings Process)
Proses pembentukkan pendapatan adalah suatu konsep tentang terjadinya
pendapatan. Konsep ini berdasrkan pada asumsi bahwa semua kegiatan opoerasi
yang diperlukan dalam rangka mencapai hasil, yang meliputi semua tahap
kegiatan produksi, pemasaran, maupun pengumpulan piutang, memberikan
kontribusi terhadap hasil akhir pendapatan berdasarkan perbandingan biaya yang
terjadi sebelum perusahaan tersebut melakukan kegiatan produksi.
2. Proses realisasi pendapatan (realization process)
Proses realisasi pendapatan adalah proses pendapatan yang terhimpun atau
terbentuk sesudah produk selesai dikerjakan dan terjual atas dkontrak penjualan.
Jadi, pendapatan dimulai dengan tahap terakhir kegiatan produksi, yaitu pada saat
barang atau jasa dikirimkan atau diserahkan kepada pelanggan. Jika, kontrak
penjualan mendahului produksi barang atau jasa maka pendapatan belum dapat
dikatakan terjadi, karena belum terjadi proses penghimpunan pendapatan.

2.1.5. Penilaian Pendapatan


Standar Akuntansi memberikan pedoman dasar penilaian yang dapat digunakan
untuk menentukan berapa rupiah yan diperhitungkan dan dicatat pertama kali
dalam suatu transaksi atau berapa jumlah rupiah yang harus diletakkan pada suatu
akun dalam laporan keuangan.
Ada empat dasar dalam penilaian pendapatan antara lain sebagai berikut:
1. Biaya Historis (historical cost) : Aktiva dicatat sebesar pengeluaran kas (atau
setara kas) yang dibayar ssebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk
memperoleh aktiva tersebut pada saat perolehan.
2. Biaya Kini (current cost): aktiva dinilai dalam wujud kas (atau setara kas) yang
seharusnya dibayar bila aktiva yang sama atau setara yang diperoleh sekarang.
3. Nilai realisasi atau penyelesaian (realization/settlement value) : Aktiva
dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara kas) yang sama atau setara aktiva
yang sekarang dengan menjual aktiva dalam pelepasan normal (orderly
disposal).
4. Nilai sekarang (present value) : Aktiva dinyatakan sebesar kas masuk bersih
dimasa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang dari pos yang diharapkan
dapat memberikan hasil dalam pelaksanaan usaha normal.

2.1.6. Pengukuran Pendapatan


Pengakuan adalah pencatatan jumlah rupiah secara resmi ke dalam sistem
akuntansi sehingga jumlah tersebut terefleksi dalam statement keuangan.Secara
konseptual pendapatan hanya dapat diakui kalau memenuhi kualitas keterukuran
(measurability) dan keterandalan (reliability).
Ikatan Akuntan Indonesia (2002:23) memberikan ketentuan mengenai
pengukuran pendapatan yang dinyatakan dalam Standar Akuntansi Keuangan
yang isinya sebagai berikut:
Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan yang dapat diterima, jumlah
pendapatan yang imbul dari suatu transaksi biasanya ditentukan oleh persetujuan
antra perusahaan pembeli atau pemakai perusahaan tersebut. Jumlah tersebut,
dapat diukur denga nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima
perusahaan dikurangi jumlah diskon dagang dan rabat volume yang diperbolehkan
perusahaan.

2.1.7. Pengakuan Pendapatan


Ikatan Akuntan Indonesia dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)
No. 23 menjelaslan kapan suatu pendapatan diakui adalah sebagai berikut:
1. Pendapatan dari transaksi penjualan produk diakui pasa saat tanggal penjualan,
biasanya merupakan tanggal penyerahan produk kepada pelanggan.
2. Pendapatan atas jasa yang diberikan oleh perusahaan jasa diakui pada saat jasa
tersebut telah dilakukan dapat dibuat fakturnya.
3. Imbalan yang diperoleh atas penggunaan aktiva sumber-sumber ekonomi
perusahaan oleh pihak lain, seperti pendapata bunga, dan royalty diakui sejalan
dengan berlakunya waktu atau pada saat digunakan aktiva yan bersangkutan.
4. Pendapatan dari penjualan aktiva diluar barang dagangan seperti penjualan
aktiva tetap atau surat berharga diakui pada saat tangal penjualan.
Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau
yang dapat diterima. Pada umumnya imbalan tersebut berbentuk kas atau setara
kas. Bila arus masuk dari kas atau setara kas ditangguhkan, nilai wajar dari
imbalan tersebut mungkin kurang dari jumlah nominal dari kas yang diterima atau
yang dapat diterima. Berkaitan dengan masalah pendapatan tersebut, ada beberapa
hal yang perlu diketahui tentang prinsip pengakuan pendapatan yang menyatakan
bahwa pendapatan harus diakui dalam laporan keuangan ketika:
1. Pendapatan dihasilkan, dan
2. Pendapatan direalisasi atau dapat direalisasi.
Pengakuan pendapatan mendapat kendala yaitu proses penentuan kapan
pendapatan dapat diakui dan dilaporkan untuk suatu periode tertentu dan berapa
jumlahnya, proses penetuan waktu dan besarnya pendapatan yang diakui ini
berkaitan dengan konsep realisasi pendapatan (Revenue Realization).
Eldon S HEndriksen mengutp pernyataan American Accounting Association
Committee on Concept and Standard External Reporting mengenai realisasi ini
yaitu: Realisasi bukan suatu determinan dalam konsep laba, realisasi hanya
berfungsi sebagai pedoman memutuskan kapan kejadian yang jika dipecahkan
sebagai termasuk dalam laba objektif yaitu apabila ketidakpastian telah sampai
tingkat yang dapat diterima. Secara teoritik titik waktu dari pengakuan
pendapatan dapat dilakukan pada berbagai saat, yaitu:
1. Pengakuan pendapatan diakui pada saat proses produksi.
2. Pengakuan pendapatan diakui pada saat selesainya produksi.
3. Pengakuan pendapatan diakui pada saat penjualan.
4. Pengakuan pendapatan diakui pada saat penerimaan kas
2.1.8. Realiasasi Pendapatan
Pendapatan baru dapat dikatakan terjadi atau terbentuk pada saat terjadi
kesepakatan atau kontrak dengan pihak independen (pembeli) untuk membayar
produk baik produk telah selesai dan diserahkan atau maupun belum dibuat sama
sekali. Pendapatan terbentuk pada saat produk selesai dikerjakan dan terjual
langsung atau pada saat terjual atas dasar kontrak penjualan.

2.1.9. Pengungkapan Pendapatan


Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 23 mengenai
pengungkapan pendapatan, perusahaan harus mengungkapkan sebagai berikut:
1. Kebijakan akuntansi yang dianut untuk pengakuan pendapatan termasuk
metode yang dianut untuk menentkan tingkat penyelesaian transaksi penjualan
jasa.
2. Jumlah setiap kategori signifikan dari pendapatan diakui selama periode
tersebut termasuk pendapatan dari:
a. Penjualan barang.
b. Penjualan jasa.
c. Bunga.
d. Dividen, dan
e. Royalty.

A. Kriteria Pengakuan Pendapatan


Pengakuan pendapatan yang diajukan oleh Financial Accounting Standard
Board (FASB) ada dua kriteria yaitu sebagai berikut:
1. Pendapatan baru diakui jika jumlah pendapatan terealisasi atau cukup pasti
akan segera terealisasi.
2. Pendapatan baru dapat diakui jika pendapatan tersebut sudah terbentuk atau
terhimpun.
B. Metode Pencatatan Pendapatan
Metode dalam pencatatan pendapatan terdiri dari dua metode, yaitu sebagai
berikut: metode berbasis kas (cash basis method) dan metode aberbasis akrual
(accrual basis method).
1. Metode cash basis
Suatu system dimana pendapatan belum diakui sebelum pendapatan tersebut
belum diterima. Metode ini banyak digunakan pada perusahaan kecil dan orang-
orang yang menjual jasa, pada umumnya adalah orang-orang yang memiliki
keahlian tertentu.
2. Metode accrual basis
Metode pencatatan pendapatan, dimana pendapatan itu dicatat pada saat sudah
terjadi hak tanpa memperhatikan pendapatan tersebut diterima. Keuntungan
metode ini adalah karena metode ini sangat teliti dalam pengukuran keuntungan
(dalam laporan laba rugi) dan neraca selisih.

C. Metode pengakuan pendapatan untuk penjualan jasa


Ada empat metode pengakuan pendapatan untuk perusahaan yang kegiatannya
sebagian besar dalam penjualan jasa dibandingkan produksi yaitu sebagai berikut:
1. Metode kinerja khusus
Metode ini digunakan untuk penapatan jasa yang dihasilkan dengan melakukan
aksi tunggal.
Sebagai contoh: seorang dokter gigi menghasilkan pendapatan atas
penyelesaian penambalan gigi.
2. Metode Kinerja Profesional
Metode ini digunakan untuk mengakui pendapatan jasa yang dihasilkan oleh
lebih dari satu aksi tunggal dan hanya ketika jasa melebihi satu periiode
akuntansi.
3. Metode Kinerja Selesai
Metode ini digunakan untuk mengakui pendapatan jasa yang dihasilkan dengan
melakukan serangkaian tindakan dimana yang terakhir sangat penting dalam
hubungannya dengan total transaksi jasa dimana pendapatan jasa dianggap
telah dihasilkan hanya setelah tindakan terakhir terjadi. Metode ini serupa
dengan metode kontrak selesai, yang digunakan untuk kontrak jangka panjang.
4. Metode Penagihan
Metode ini digunakan untuk pendapatamn jasa ketika ketdakpastian penagihan
sangat tinggi atau estimasi beban yang terkait dengan pendapatan tidak dapat
dipercaya sehingga persyaratan reliabilitas tidak dipenuhi. Pendapatan diakui
hanya ketika kas diperoleh. Metode ini serupa dengan metode pemulihan biya
yang digunakan untuk penjualan produk.

2.2. Konsep Biaya


Cost atau biaya sebagaimana yang telah dijelaskan di bab sebelumnya yaitu
sebagai kuantifikasi besar kecilnya potensi jasa. Berdasarkan konsep kontinuitas
usaha, cost diperlukan mula-mula sebagai aset dan baru diperlakukan sebagai
beban atau biaya. Dengan konsep kontinuitas usaha serta upaya dan hasil, masalah
dalam pembebanan adalah pemecahan aliran cost yang telah diakui sebagai aset
menjadi bagian yang merupakan biaya periode berjalan dalam rangka penentuan
laba periodic dan bagian yang baru akan menjadi biaya pada periode berikutnya.
Teknisnya dalam menunjukkan pemecahan adalah dalam statemen laba rugi
dan neraca. Pernyataan akan laba rugi menyajikan bagian cost yang dibebankan
pada periode berjalan, sedangkan neraca melaporkan cost yang masih akan
dibebankan pada periode berikutnya.
Terdapat beberapa definisi yang menjelaskan makna biaya oleh beberapa
ahli, terdapat dua karakteristik utama yang melekat pada makna biaya, yaitu
adanya aliran keluar atau penurunan aset dan akibat kegiatan yang membentuk
operasi utama yang menerus. Biaya dapat timbul akibat adanya transaksi yang
dapat mengurangi aset atau adanya aliran keluar aset. Tidak semua penurunan atau
konsumsi aset membentuk biaya. Agar menjadi biaya, konsumsi tersebut harus
berkaitan dengan kegiatan utama atau sentral kesatuan usaha.
Seperti halnya dengan untung, perlu dibedakan antara biaya dengan rugi.
Rugi dibedakan dengan biaya karena timbul dari sumber yang secara tidak
langsung berkaitan dengan operasi utama perusahaan. Rugi berasal dari transaksi
berupa kegiatan peripheral, transfer non timbal balik, penahanan aset dan faktor
lingkungan.
Berdasarkan SFAC No.5, tidak terdapat perbedaan criteria pengakuan biaya
dan rugi, kriteria pengakuannya dibedakan menjadi dua dan harus dipenuhi yaitu
konsumsi manfaat dan lenyapnya atau berkurangnya manfaat akan datang. Dalam
pengakuan biaya tersebut, biaya akan diakui apabila manfaat ekonomik
dikonsumsi dalam rangka penyerahan barang atau jasa untuk mendatangkan
pendapatan dan biaya diakui bila aset yang telah diakui sebelumnya telah
berkurang atau lenyap manfaat ekonomisnya.
Pada dasarnya biaya diukur dengan cost yang sebelumnya melekat pada
aset. Biaya dapat dipandang sebagai bagian kos yang telah terhabiskan dalam
rangka menciptakan pendapatan. Bagian kos yang terhabiskan tersebut dapat
dihubungkan dengan pendapatan atas dasar hubungan sebab akibat, alokasi
rasional atau pengakuan segera.
Dalam proses dan konsep penandingan, laba akan mempunyai makna jika
laba dapat merepresentasikan hubungan tertentu antara pendapatan dan biaya.
Untuk memahaminya diperlukan proses penandingan dan konsep penandingan.
Proses penandingan adalah proses penentuan laba dengan cara mengukur
pendapatan suatu periode, kemudian baru menentukan biaya yang berkaitan
dengan pendapatan tersebut. Konsep penandingan akan menghasilkan dasar
penandingan antara pendapatan dan biaya. Penandingan yang tepat akan
menghasilkan hubungan yang masuk akal antara pendapatan dan biaya, misalnya
adanya korelasi positif diantara keduanya, jika pendapatan besar maka biayanya
juga akan besar.
Pemahaman terhadap konsep biaya memerlukan analisis yang hati-hati
terhadap karekteristik dari transaksi yang berkaitan dengan biaya. Ada elemen
laporan lain yang sifatnya hamper sama dengan biaya namun sebaiknya tidak
dimasukkan sebagai komponen biaya. Karekteristik biaya dapat dipahami dengan
mengenali batasan atau pengertian yang berkaian dengan biaya.
Dengan pemahaman seperti ini, transaksi yang berkaitan dengan biaya dapat
dengan mudah diidetifikasi sehinnga dapat disajikan dengan benar dalam laporan
keuangan. Dalam makalah ini akan membahas tentang cost yang sebagai dasar
pencatatan nilai dalam akuntansi pada tahap pembebanan. Konsep dasar yang
melandasi pembebanan cost adalah konsep upaya dan hasil (efforts and
accomplishment).
Atas dasar konsep tersebut cost dapat dipisah menjadi dua yaitu: cost yang
masih menjadi potensi jasa (melekat pada aktiva), dan cost yang potensi jasanya
dianggap sudah habis dalam rangka menghasilkan pendapatan. Pembebanan cost
satu periode akuntansi di dasarkan pada kreteria penentuan habisnya manfaat cost
tersebut.
Pertama, apakah manfaat cost habis dalam rangka penyerahan produk/jasa,
atau sering disebut dengan biaya (expenses). Kedua, apakah manfaat cost habis
karena sebab lain, yang digolongkan sebagai rugi (losses), dalam makalah ini akan
mengutip tentang masalah manfaat cost yang yang kemungkinan bias disebut
biaya dan juga bias disebut rugi, yang semua itu tergantung pada masa manfaat.
(Suwardjono 2005)

2.2.1. Pengertian Biaya


Secara umum, dapat dikatakan bahwa cost yang telah dikorbankan dalam
rangka menciptakan pendapatan disebut dengan biaya. FASB (1980)
mendefinisikan biaya sebagai berikut : Biaya adalah aliran keluar (outflows) atau
pemakaian aktiva atau timbulnya hutang (atau kombinasi keduanya) selama satu
periode yang berasal dari penjualan atau produksi barang atau penyerahan jasa
atau pelaksanaan kegiatan yang lain yang merupakan kegiatan utama suatu
entitas .
Sedangkan IAI (1994) mendefinisikan biaya (beban) sebagai berikut: Beban
(expenses) adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi
dalam bentuk arus keluar atau berkurangnya aktiva atau terjadinya kewajiban
yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian
kepada penanam modal. Dari pengertian di atas dapat dilihat bahwa biaya pada
akhirnya merupakan aliran keluar aktiva meskipun kadang-kadang harus melalui
hutang lebih dahulu.
Sementara Kam (1990) mendefinisikan biaya sebagai penurunan nilai aktiva
atau kenaikan hutang atau kenaikan ekuitas pemegang saham (stockholders
equity) sebagai akibat pemakian barang dan jasa oleh suatu unit usaha untuk
menghasilkan pendapatan pada periode berjalan.
Dari definsi-definisi di atas, definisi yang dikemukakan IAI sejalan dengan
definisi yang diajukan oleh Kam. Keduanya mendefinisikan biaya dari sudut
pandang peristiwa moneter (penurunan aktiva, kenaikan hutang/kenaikan ekuitas).
Sebaliknya definisi yang dikemukakan FASB cenderung agak berbeda dengan
definisi yang dikemukakan Kam. Perbedaan sudut pandang tersebut dapat
dianalisis sebagai berikut :
Definisi yang diajukan FASB tidak menunjukkan perbedaan yang jelas
antara peristiwa moneter dan peristiwa fisik. Perlu diketahui bahwa laba,
pendapatan, dan biaya saling berkaitan erat dengan nilai dari suatu obyek ekonomi
tertentu (jumlah rupiah memiliki sifat moneter, karena dihasilkan dari peristiwa
yang menyebabkan perubahan nilai obyek ekonomi tersebut. Biaya menunjukkan
peristiwa moneter yang berasal dari pemakaian barang dan jasa (peristiwa fisik)
dalam kegiatan operasional perusahaan. Pemakaian aktiva harus menunjukkan
adanya suatu cost yang dinyatakan keluar (dikonsumsi) sebagai biaya.
Apabila dilihat dari pandangan tradisional, definisi yang dikemukakan
FASB menunjukkan bahwa biaya hanya dihasilkan dari pemakaian aktiva untuk
tujuan menghasilkan pendapatan pada periode berjalan. Apabila prinsip
penandingan (matching) dilakukan dengan tepat, maka pembebanan biaya harus
ditunda lebih dahulu sebagai aktiva, selama pemanfaatan jasa masa sekarang
dapat membantu menghasilkan pendapatan pada priode yang akan datang. FASB
tidak menunjukkan kondisi tersebut.
Terlepas dari perbedaan tersebut, yang jelas setiap cost yang dinyatakan
keluar dalam rangka menghasilkan pendapatan disebut dengan biaya. Baik itu
biaya yang berasal dari cost yaang langsung dibebankan sebagai biaya tanpa
dicatat lebih dahulu sebagai aktiva.
(Awang and Mokhtar 2012) Terdapat dua karakteristik penting yang melekat
pada makna biaya yaitu:
1. Aliran keluar atau penurunan aset
2. Akibat kegiatan yang membentuk operasi utama yang menerus

2.2.2. Biaya dan Rugi


Agar pemakai laporan keuangan mendapat tambahan informasi yang lebih
lengkap, rugi dapat disertakan dalam laporan rugi laba sebagai penentu besarnya
laba komprehensif. Rugi sebaiknya disajikan terpisah dari biaya. Dari definisi
yang terdapat dalam Konsep Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan
Keuangan, IAI tidak memisahkan biaya dengan rugi ataupun tidak langsung untuk
memperoleh pendapatan disebut dengan biaya.
Istilah-istilah yang melekat pada pengertian rugi adalah:
1. Penurunan ekuitas
2. Transaksi peripheral atau incidental
3. Selain apa yang didefinisi sebagai biaya atau selain distribusi ke pemilik
Empat sumber rugi yang diidentifikasi FASB adalah SFAC No.6 sebagai berikut:
a. Periferal dan incidental
b. Transfer non timbal balik dengan pihak lain
c. Penahanan aset
d. Faktor lingkungan

2.2.3. Pengukuran Biaya


Sejalan dengan penilaian aktiva, biaya dapat diukur atas dasar jumlah rupiah
yang digunakan untuk penilaian aktiva dan hutang. Oleh karena itu pengukuran
biaya dapat didasarkan pada:
1. Cost Historis.
2. Cost pengganti/cost masukan terkini (Replacement Cost/Current Input Cost).
3. Setara kas (Cash Equivalent)
Meskipun ada berbagai dasar penilaian, dalam praktek yang paling banyak
digunakan untuk mengukur biaya adalah cost historis.

2.2.4. Pengakuan Biaya


Pada dasarnya cost memiliki dua kedudukan penting, yaitu :
1. sebagai aktiva (potensi jasa)
2. sebagai beban pendapatan (biaya)
Proses pembebanan cost padas dasarnya merupakan proses pemisahan cost.
Oleh karena itu, agar informasi yang dihasilkan akurat, bagain cost yang telah
diakui sebagai biaya pada periode berjalan dan bagian cost yang akan dilaporkan
sebagai aktiva (diakui sebagai biaya peda periode berjalan dan bagian cost yang
akan dilaporkan sebagai aktiva (diakui sebagai biaya periode mendatang) harus
dapat ditentukan dengan jelas.
Kriteria pengakuan menurut SFAC No. 5 adalah
a. Konsumsi manfaat
b. Lenyapnya atau berkurangnya manfaat masa datang
Ada dua masalah yang muncul sehubungan dengan pemisahan cost tersebut,
yaitu:
1. Kriteria yang digunakan untuk menentukan cost tertentu yang harus
dibebankan pada pendapatan periode berjalan.
2. Kriteria yang digunakan untuk menentukan bahwa cost tertentu ditangguhkan
pembebanannya.
Semua cost dapat ditangguhkan pembebanannya sebagai biaya apabila cost
tersebut memenuhi kriteria sebagai berikut :
memenuhi definisi aktiva (memiliki manfaat ekonomi masa mendatang,
dikendalikan perusahaan, berasal dari transaksi masa lalu).
Ada kemungkinan yang cukup bahwa manfaat ekonomi masa mendatang yang
melekat pada aktiva dapat dinikmati oleh entitas yang menguasai.
Besarnya manfaat dapat diukur dengan cukup andal.
Dari uraian diatas, secara umum dapat dirumuskan bahwa berdasarkan konsep
penandingan (matching), pengakuan pendapatan. Apabila pengakuan pendapatan
ditunda, maka pembebanan biaya juga ditunda. Untuk mengatasi berbagai
perbedaan pendapatan tentang pengakuan biaya, biasanya
badan berwenang mengeluarkan aturan tertentu untuk mengakui biaya. (Muller,
Riedl et al. 2008) Kaidah pengakuan menurut APB statement No. 4 adalah:
a. Mengasosiasi sebab dan akibat
b. Alokasi sistematik dan rasional
c. Pengakuan segera

2.2.5. Konsep Penandingan


Konsep penandingan adalah konsep yang dimaksudkan untuk mencari dasar
hubungan yang tepat dan rasional antara pendapatan dan biaya. Pendapatan
merupakan hasil yang dituju perusahaan, sementara cost yang dikeluarkan untuk
memperoleh pendapatan tersebut merupakan upaya yang dilakukan perusahaan.
Penandingan antara biaya dan pendapatan memerlukan dasar yang tepat. Upaya
mencari dasar penandingan yang tepat merupakan masalah yang sering dihadapi
oleh akuntan.
Paton dan Littleton mengungkapkan masalah utama dalam menandingkan
pendapatan dan biaya adalah mencari dasar penandingan yang paling tepat antara
pendapatan dengan biaya yang berhubungan dengan pendapatan tersebut.
Hubungan fisik yang dapat dilihat sebenarnya dapat digunakan sebagai media
untuk melacak dan membebankannya. Meskipun demikian harus diakui bahwa
dengan melihat kondisi yang ada, dasar penandingan yang paling penting adalah
kelayakan (reasonable) bukannya pengukuran fisik.
Dalam praktek ada tiga dasar penandingan yang umum digunakan untuk
mencari hubungan antara biaya pendapatan dalam satu periode tertentu. Dasar
penandingan tersebut adalah: hubungan sebab akibat (association of causes and
effects), alokasi sistematik dan rasional (systematic and rational allocation) dann
pembebanan segera (immediate recognition).
2.2.6. Hubungan Sebab Akibat
Dasar yang paling ideal untuk membandingkan biaya dengan pendapatan
adalah hubungan sebab akibat. Meskipun dasar ini sulit untuk dibuktikan, namun
atas dasar pengamatan yang dilakukan para akuntan menunjukkan bahwa
barang/jasa tertentu yang digunakan dalam proses produksi pada akhirnya akan
membantu dalam proses menghasilkan pendapatan selama periode tertentu.
Komite American Accounting Association juga menyarankan penggunaan
hubungan sebab akibat sebagai dasar penandingan. Mereka mengatakan: Cost
harus dihubungkan dengan pendapatan yang direalisasi selama periode tertentu
atas dasar korelasi positif yang dapat dilihat hubungannya antara cost tersebut
dengan pendapatan yang diakui.
Dari pernyataan di atas dapat dirumuskan bahwa penandingan yang benar-
benar tepat dapat dilakukan apabila terdapat hubungan yang rasional antara
pendapatan dan biaya. Oleh karena itu pengakuan biaya harus dihubungkan
dengan pendapatan dan dilaporkan dalam periode yang sama dengan periode
pengakuan pendapatan.

2.2.7. Penyajian Biaya


Penyajian biaya tidak dapat dilepaskan dari penyajian pendapatan dan sarana
untuk itu adalah laporan laba rugi. Penyajian elemen pendapatan, untuk, biaya dan
rugi bergantung pada konsep tentang apa saja yang membentuk laba.

2.3. Keuntungan (gains) dan Kerugian (Losses)


Keuntungan (gains) dan Kerugian (Losses) merupakan kejadian yang
menguntungkan dan tidak menguntungkan, yang tidak berkaitan langsung dengan
kegiatan normal perusahaan yang menghasilkan pendapatan.

2.3.1. Pengertian Keuntungan


Keuntungan dalam akuntansi didefinisikan sebagai selisih antara harga
penjualan dengan biaya produksi. Keuntungan (gains) yang diberikan kepada
perusahaan dapat diklasifikasikan baik sebagai kapital/modal maupun income, tergantung
kepada maksud si pemberi serta suasana yang menyertai pemberian tersebut. Sebagian
besar gains yang lain dihasilkan dari adanya pertukaran sehingga dengan demikian
dibutuhkan matching antara aspek-aspek positif dari pertukaran tersebut.
Pemberian harus diukur seperti pendapatan yaitu menurut nilai berjalan (nilai saat
ini) dari aktiva yang diterima. Pengukuran aspek yang menguntungkan serupa dengan
pengukuran pendapatan yaitu menurut nilai saat ini dari aktiva yang diterima atau diakui
berdasarkan nilai saat ini dari pengurangan hutang. Aspek yang tidak menguntungkan
harus diukur sama dengan beban yaitu menurut nilai barang dan jasa yang digunakan atau
dipertukarkan dalam transaksi.
Pada dasarnya, keengganan para akuntan mencatat kenaikan nilai berpangkal pada
dua sumber:
1. Pertambahan nilai bersifat tidak pasti dan sementara
2. Peningkatan nilai tidaklah menambah sumber-sumber likuid yang dapat
digunakan untuk membayar deviden.

2.3.2. Pengertian Kerugian (Losses)


Kerugian adalah perbedaan yang terjadi antara Pendapatan dan Beban yang
terjadi. Dimana beban yang terjadi melebihi pendapatan yang diterima. Istilah
loss digunakan oleh akuntan untuk menggambarkan kelebihan expense atau
pendapatan dalam satu periode, jadi hal ini merupakan kebalikan dari income,
tetapi disisni pengertian tersebut dipergunakan sebagai lawan dari pengertian
gains. Bagian terpenting dari pengertian losses adalah bahwa hal tersebut
menggambarkan habisnya nilai yang tidak berhubungan dengan operasi-operasi
normal perusahaan disetiap periode.
Pengukuran losses sama dengan pengukuran expense kecuali semua jumlah
penghasilan harus dikurangi secara langsung untuk menunjukkan jumlah bersih
dari kerugian itu. Kriteria pengakuan kerugian sama dengan kriteria pengakuan
beban periode. Kerugian tidak dapat ditandingkan dengan pendapatan,sehingga
harus diakui pada periode di mana kerugian itu cukup pasti bahwa aktiva tertentu
akan memberikan manfaat yang lebih sedikit bagi perusahaan dibandingkan
dengan yang dinyatakan oleh nilai yang tercatat.
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Pendapatan adalah hasil dari penjualan faktor-faktor produksi yang
dimilikinya kepada sektor produksi. Ada jugapendapatan adalah hasil berupa uang
atau materi lainnya yang dapat dicapai dari pada penggunaan faktor-faktor
produksi.Prinsip pengakuan pendapatam menetapkan bahwa pendapatan diakui
pada saat direalisasikan bila barang-barang dan jasa-jasa dipertukarkan dengan
kas atau klaim atas kas (piutang).
Dapat direalisasikan bila aktiva yang diterima segera dapat dikonversikan
pada jumlah kas atau klaim atas kas yang diketahui.Dihasilkan , bila kesatuan itu
sebagian besar telah menyelesaikan apa yang seharusnya telah dilakukan agar
berhak atas manfaat yang diberikan pendapatan.Sebagian besar perusahaan
didirikan dengan tujuan untuk menghasilkan laba yang optimal sehingga
kclangsungan hidup perusahaan dapat tercapai. Laba diperoleh sebagai kelebihan
pendapatan atas beban.
Biaya mempunyai dua karakteristik utama yaitu aliran atau penurunan aset
atau kenaikan kewajiban dan berkaitan dengan operasi utama yang menerus. Rugi
dibedakan dengan biaya karena timbul dari sumber yang secara tidak langsung
berkaitan dengan operasi utama perusahaan. Rugi berasal dari transaksi, kegiatan,
atau sumber berupa kegiatan periferal, transfer non timbal-balik, penahanan aset,
atau faktor lingkungan. Kriteria pengakuan biaya adalah pemanfaatan dan
kelenyapan. Biaya diakui bilamana manfaat ekonomik telah dikonsumsi dalam
rangka penyerahan barang atau jasa untuk mendatangkan pendapatan atau
bilamana manfaat ekonomik masa datang telah lenyap.
Biaya diukur dengan kos yang sebelumnya melekat pada aset. Biaya dapat
dipandang sebagai bagian kos yang telah terhabiskan dalam rangka menciptakan
pendapatan. Bagian kos yang terhabiskan dapat dihubungkan dengan pendapatan
atas dasar hubungan sebab-akibat, alokasi sistematik dan rasional, atau pengakuan
segera. Basis asosiasi atas dasar sebab-akibat atau penandingan langsung atas
dasar produk merupakan basis yang paling ideal. Akan tetapi, alasan kepraktisan
dan ketaktersediaankanan (univentoriability) beberapa faktor kos (administrative
dan pemasaran) menjadikan akuntansi beralih ke penandingan tak langsung atau
penandingan perioda. Dengan kata lain, takaran penandingan bukan lagi produk
melainkan perioda.

3.2. Saran
Dalam penyusunan makalah ini, banyak hal yang perlu adanya perbaikan-
perbaikan dalam penyusunan makalah ini. Tak ada gading yang tak retak. Untuk
itu penyusun menyadari atas kesalahan dalam penyusunan makalah ini. Antara
lain masih banyaknya penulisan ejaan yang tidak sesuai, bahasa yang terlalu
kasar, banyak menyinggung orang lain, dan banyak yang bukan dari pemikiran
pribadi tertuang dalam penyusunan makalah ini. Harap dijadikan maklum dan
kritik serta saran yang membangun sangat saya harapkan untuk perbaikan-
perbaikan selanjutnya. Akhir kata dengan kerendahan hati mohon maaf yang
sebesar-besarnya dan disampaikan terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.academia.edu/13569515/Teori_Akuntansi_Bab_7_Konsep_Pendapata
n. dibuka pada tanggal 5 April 2017 pukul 20:26:42 GMT.

http://www.academia.edu/13569546/Teori_Akuntansi_Bab_8_Konsep_Biaya.
dibuka pada tanggal 4 April 2017 pukul 13:26:13.

Anda mungkin juga menyukai