Anda di halaman 1dari 38

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Engineering Departemen


Departemen engineering adalah departemen yang bertanggung jawab
untuk membuat perencanaan kegiatan penambangan, desain tambang, melakukan
survey, dan mengontrol aktifitas penambangan agar mencapai hasil yang efektif
dan efisien. Engineering terbagi atas beberapa section diantaranya Mine Plan
(Long Term dan Short Term), Mine Infrastruktur, Mine Survey, serta Drilling
dan Blasting Engineering.

4.1.1 Mine Plan


Bertugas untuk membuat desain tambang yang aman dan mendapatkan
produksi yang optimal, mine plan terbagi atas :
4.1.1.1 Mine Plan (Long Term)
Long term engineer bertugas membuat design atau rancangan kegiatan
penambangan dalam jangka panjang (yearly, 3 - months).
Pekerjaan Utama Long Term Engineer :
Siapkan kecukupan data untuk pembuatan mine plan design,
diantaranya keadaan geology, topografi dan kondisi alam.
Siapkan 3 months rolling plan, sesuaikan dengan kebutuhn
customer (Form 3 months rolling mine planning), misalnya
perencanaan disposal yang digunakan sebagai waste dump. Dalam
melakukan perencanaan, semua harus diperhitungkan diantaranya
jarak, optimasi pitnya apakah sebanding dengan tempat
penampungan over burden (OB), batas-batas perencanaan disposal
(sign), dan stripping ratio
Lakukan presntasi 3 month rolling planning dengan internal dan
customer
Pastikan kesinambugan weekly plan dengan 3 months rolling plan

47
Memastikan proses penambangan sesuai dengan perencanaan
tambang (akses jalan, land clearing,, disposal, perimeter drain,
dra
fasilitas pit stop, dan ROM ).

Gambar 4.1 Daily meeting bersama customer ( View Point )

Gambar 4.2 Mempersisapkan


Mempersis perencanaan tambang jangka panjang

4.1.1.2 Mine Plan (Short


Short Term)
Adapun tugasnya
nya adalah :
Membuat desain perminggu, diambil dari desain per 3 bulan
terakhir
Setting unit produksi
produksi.
Melakukan koordinasi desain yang telah
telah dibuat dengan pihak
produksi..
Menyelesaikan masalah mengeni plan aktual di lapangan
an misalnya
tidak tercapainya produksi OB yang diakibatkan oleh keadaan dari

48
cuaca, geometri kerja yang kurang baik, dan keadaan alat yang
tidak mendukung (Rusak).
Pengecekan
kan plan dengan aktual
aktu di lapangan agar berjalan sesuai
rencana atau target
target.

Gambar 4.3 P5M Bersama OB Produksi

Gambar 4.4 Pengecekan Lokasi Drilling

Gambar 4.5 Engineering Short term melakukan briefing untuk menyelesaikan


masalah mengenai plan aktual di lapang

49
4.1.2 Drill and Blast Engineer

Bertugas untuk membuat desain peta lokasi Drilling dan Blasting


direncanakan oleh mine plan.
plan. Dalam pembuatan desain ini dibutuhkan sejumlah
data dari tim survey blasting
blasting. Setelah dilakukan desain lokasi blasting selanjutnya
dilakukan desain geometri blasting guna mendapatkan hasil fragmentasi yang
diharapkan.

Gambar 4.6 Geometri Blasting

B : Burden yaitu jarak dari lubang bor terhadap bidang bebas (free face)
yang terdekat.
S : Spacing yaitu jarak antar lubang tembak dalam satu baris sejajar
dengan bidang bebas
T : Stemming yaitu material bukan explosive yang digunakan untuk
menyumbat sisa lobang bor yang tidak terisi bahan peledak, berfungsi
untuk mengurung gas ledakan

50
J : Sub drilling yaitu lubang tembak yang berada dibawah permukaan
lantai jenjang yang berfungsi untuk membuat lantai jenjang relatif rata
setelah peledakan
H : Hole Depth yaitu kedalaman lubang secara keseluruhan
K : Bench Hight yaitu Kedalaman lubang tembak dipengaruhi oleh tinggi
jenjang dan kedalamannya tidak boleh lebih kecil dari burden untuk
menghindari retakan yang melewati batas jenjang (over break)

Gambar 4.7 Peta Rencana Lokasi Blasting Pit Roto

51
Setelah pembuatan rencana lokasi blasting akan dilakukan stake out atau
pemasangan patok lokasi blasting,, kegiatan ini dilakkan bersama tim survey
blasting. Proses stake out diawali dengan memasukkan koordinat setiap titik batas
rencana lokasi blasting melalui GPS (Global
( Positioning System).

Gambar 4.8 Pemasangan patok batas lokasi blasting

Gambar 4.9 Keterangan batas lokasi peledakan

Setelah kegiatan stake out selesai, maka D&B Engineer wajib


memberitahu group leader D&B mengenai rencana lokasi blasting tersebut agar
persiapan lokasi dapat langsung dikerjakan.

52
Gambar 4.10 Perencanaan lokasi blasting

Setelah pemboran lubang ledak selesai, lalu surveyor melakukan


pengambilan data batas lokasi yang akan diledakkan. Pengambilan data ini
bertujuan untuk membuat peta evakuasi oleh dril & blast engineer ketika akan
dilakukan blasting. Pemasangan bendera evakuasi dilakukan juga oleh surveyor
untuk memudahkan proses evakuasi
evaku unit di lapangan. Data tersebut digunakan
juga untuk menentukan volume cadangan broken material beserta batas rencana
lokasi blasting berikutnya.
Pemasangan bendera evakuasi dilakukan oleh tim survey untuk
menandakan batas-batas
batas aman saat dilakukan peledakan.
peledakan. Bendera kuning yang
berjarak 200 meter dari titik peledakan sebagai batas aman untuk unit, bendera
merah yang berjarak 300 meter dari titik peledakan sebagai batas aman untuk
blaster, dan bendera hijau yang berjarak 500 meter dari titik peledakan sebagai
batas aman untuk pekerja lainnya (SOP Drilling dan Blasting)

53
Gambar 4.11 Pemasangan bendera evakuasi

Bersamaan dilakukannya proses peledakan, tim D&B


D&B Eng juga melakukan
pengukuran pada daerah kritis, pengukuran yang dilakukan adalah getaran

54
menggunakan Geofon dan gelombang suara menggunakan mikrofon, sedangkan
alat yang membaca data/pergerakan tersebut adalak mikromet. Adapun
tahapannya sebagai beriku
berikut :
Tancapkan Geofon pada daerah kritis dan memiliki bidang tanah yang
relatif rata dengan posisi mengarah kelokasi ledakan

Gambar 4.12 Geofon


Hubungkan Geofon ke Mikromet

Gambar 4.13 Mikromet


Setelah itu hubungkan Mikrofon ke Mikromet

Gambar 4.14 Mikrofon

55
Setelah semua perangkat terpasang dan peledakan akan dimulai, nyalakan
mikromet. Setelah peledakan lihat hasilnya, parameternya yaitu <3mm/s
untuk daerah kritis. Diasumsikan area kritis sama dengan bangunan
dengan pondasi, pasangan bata dan adukan
adukan semen saja sehingga nilai
PVSnya tidak boleh lebih dari 3 mm/s (SNI 7571/2010)

Gambar 4.15 Monitoring getaran area kritis

Adapun hasil dari pengukuran dapat diliat dari lampiran A

4.1.3 Mine Infrastruktur


Area kerja Mine Infra secara umum terdapat di :
4.1.3.1 Mine Infrastruktur Road.
Ruang lingkup pekerjaan adalah :
Desain jalan dan pengerasan jalan tambang
Desain pengerasan
pe jalan, biasanya utamakan pada jalan yang
direncakan akan digunakan da
dalam jangka panjang.. Pengerasan juga
biasanya dilakukan didaerah dump
dumpingan lumpur. PT. Pama
Pamapersada
mendesain jalan dengan berpatokan terhadap alat terbesar yang melewati
jalan tersebut.

56
Tanggul
Pengaman

Parit Parit

Dt Dt Dt Dt Dt

Gambar 4.16 Desain jalan alat angkut

Diketahui lebar dump truck (DT 785) adalah 6 meter, jadi


berdasarkan gambar diatas dapat disimpulkan bahwa lebar jalan
sesungguhnya adalah 21 meter.
Lmin = n . Wt + ( n + 1 )(0,5 . Wt)
= 2 . 6 + ( 2 +1 )(0.5 . 6 )
= 21 m
dengan:
Lmin = Lebar jalan angkut minimum (m).
n = Jumlah jalur.
Wt = Lebar alat angkut total (m).

Lebar jalan 25 meter

Gambar 4.17 lebar jalan aktual 7B

57
Material tambahan

Gambar 4.18 Pengerasan Jalan 7B

Material tambahan

Dampingan lumpur

Gambar 4.19 Pengerasan jalan pada dumpingan lumpur Sump

Membuat estimasi kebutuhan material perkerasan jalan tambang


Untuk mengetahui daya dukung tanah, perlu dilakukan pengukuran atau
percobaan daya dukung tanah untuk mencari kekuatan tanah dasar/ bahan lain
yang digunakan untuk membuat perkerasan,
perkerasan, kegiatan ini dinamakan
California Bearing Ratio).
pengukuran CBR (California Ratio

58
Gambar
ambar 4.20 Pengukuran CBR di lapangan

Menyiapkan material tambahan untuk perkerasan jalan tambang


Dalam menyiapkan material yang akan digunakan, perlu dilakukan
pengambilan sampel
mpel didaerah yang dinyatakan
akan memiliki batuan yang keras
keras.
Biasanya maerial tambahan
tamb yang digunakan dalam perkerasan jalan adalah
scoriaa dan batuh picah.

Gambar 4.21 Proses pengambilan sampel

Monitoring road condition, Monitoring road geometric,, Monitoring aktivitas


road maintenance
Pemeliharaan jalan dilakukan agar kendaraan bisa lewat dengan
kecepatan yang aman dan nyaman bagi pengemudi/ operator serta
menghasilkan produktivitas yang
yang optimum dengan biaya yang se
seekonomis
mungkin. Kondisi jalan tidak selalunya baik dikarenakan oleh beberapa faktor
diantaranya akibat dari erosi air (hujan). Erosi air hujan dapat mempengaruhi
geometri jalan, sehingga peru dilakukan perawatan pada geometri jalan.

59
Pembuatan jalan tambang perlu dilengkapi dengan tanggul untuk melindungi
pengguna jalan tambang apabila terjadi sesuatu pada unit yang sedang
beroprasi.

Gambar 4.22 Maintenance geometri jalan 7A

Gambar 4.23 Maintenance tanggul PIT ROSEL

4.1.3.2 Mine Infrastruktur Pit Dewatering


Drainage
Perencanaan ini bertujuan untuk meminimalisir air masuk
masuk kedalam pit
yang berasal dari luar (Drainase Luar), saluran ini dibuat
buat sedekat mungkin
dengan pit. Sedangkan air yang telah memasuki pit akan sebisa mungkin
dialirkan kedalam sump dengan menggunakan paritan-paritan
paritan paritan yang telah
dibuat disepanjang pinggir jalan angkut dalam pit (Drainase Dalam).

60
Gambar 4.24 Drainase luar

Paritan

Gambar 4.25 Drainase Dalam (jalan 7B)


Dewatering
mbuat water pump schedule tahunan & bulanan,
Bertugas membuat bulanan Estimasi
kebutuhan pipa water pump dan goronggorong, Desain dimensi sump,
sump Inpit &
drainase, Monitoring daily water pump activity,, dan Laporan
outpit sistem drainase
daily water pump performance.
performance
Dalam membuat water pump schedule tahunan ataupun bulanan
dibutuhkan beberapa data diantaranya data curah hujan tahun sebelumnya
yang digunakan sebagai pembanding curah
curah hujan yang akan datang. Adapun
desain dimensi sump ditentukan berdasarkan jumlah curah hujan, luas area pit
serta kofisiensi air yang mengalir didaerah tambang khususnya dalam pit.
Untuk mengalirkan air dari dalam pit (sump) dibutuhkan Pompa primer dan
pompa boster. Pompa primer adalah pompa yang memiliki kemampuan untuk
menyedot air dari sump sedangkan pompa boster berfungsi sebagai daya
dukung tambahan dari pompa primer.

61
4.26 Monitoring daily water pump activity
Gambar 4.2

Sump D1 pit ROSEL

Gambar 4.27 Sump D1

Gambar 4.28 Pompa Primer

62
Gambar 4.29 Pompa Boster

4.1.3.3 Mine Infrastruktur Geotek


Memiliki tugas sebagai berikut :
Melakukan inspeksi pada area kritis

4.30 Asesmen GL area kritis jalan 6E


Gambar 4.3

Melakukan pemasangan
angan prisma pada daerah kritis
Pemasangan
asangan prisma (pengenal objek) ini bertujuan untuk mengetahui
koordinat dan pergerakan masa tanah pada daerah kritis. Saat pemasangan
prisma tim instrumen harus berkordinasi dengan tim surveyor
surveyor agar prisma
yang dipasang dapat terbaca oleh robotic, sesuai dengan jangkauan tembak
robotic.

63
Gambar 4.31 Pemasangan prisma pada daerah kritis ( jalan 6E)

Gambar 4.32 Land Crack (jalan 6E)

Memonitor kondisi lereng di area tambang yang berpotensi terjadi longsor


longsor.
Tujuan dilakukan monitoring longsor tersebut guna mengetahui
seberapa besar pergerakan masa tanah dalam setiap 3 jam yang terjadi
disekitar area penambangan.
penambangan. Setelah mengetahui pergerakan masa tanah
tersebut, tim monitoring menginformasikan kesemua
kesemua pengawas lapangan
melalui sosial media.
media Radar bekerja dengan sistem scanner sehingga tidak
perlu melakukan pemasangan prisma didaerah yang dituju sedangkan robotik
melakukan pengukuran tidak dengan sistem scanner sehingga perlu dilakukan
pemasangan prisma
ma didaerah yang akan dilakukan monitoring.
monitoring. Adapun
parameternya dalam 3 jam adalah sebagai berikut :
0-6 mm : Aman
7-14 mm : Waspada
15-20
20 mm : Hati-Hati
>21 : Evakuasi

64
Gambar 4.33 Monitoring kondisi lereng di area tambang menggunakan Radar

4.1.4 Mine Survey


Mengkoordinasikan kegiatan produksi di lapangan sebagai
representasi dari desain yang dibuat oleh mine plan untuk mencapai target
produksi yang diinginkan oleh customer.

65
Adapun tahap kegiatannya tim survey adalah :

Tahap Perencanaan.
Pada tahap ini dilakukan P5M (Pembicaraan 5 Menit ) guna
mengetahui lokasi yang akan dilakukan survey

Gambar 4.34 P5M


Tahap Persiapan
Setelah melakukan P5M, tim survey mempersiapkan alat yang akan
digunakan dalam pengambilan data survey dilapangan.
Total station (Leica
(Leica),
), alat yang digunakan untuk mengambil data
pengukuran dilapanga
dilapangan

Gambar 4.3
4.35 Total Station ( Leica TCR 1203 )

66
Pita, digunakan sebagai penanda batas pengukuran

4.3 Pita Batas Pengukuran Coal


Gambar 4.36

Prisma, digunakan sebagai target dari tembakan total station

Gambar 4.37 Prisma


Tripod,, sebagai dudukan total station

Gambar 4.38 Tripod

Stick, alat bantu dari prisma

Gambar 4.39 Stick

67
Tahap Pengambilan Data
Saat Pengambilan data, satu orang bertugas sebagai surveyor pada alat
total station, 2 lainnya bertugas sebagai instrumen yaitu mengambil posisi
batubara yang akan diukur.

Gambar 4.40
4.4 Surveyor pada alat total station

Gambar 4.41 Instrument sedang memposisikan prisma pada batas Batubara yang
akan diukur
Tahap Pengolahan Data
Mengambil atau memindahkan data hasil pengamatan dari memori
card Total Station ke PC ataupun laptop, lalu diolah oleh Dapros
menggunakan aplikasi 12 D dan manescape untuk mengetahui
menge
volume dari hasil pengukuran.

4.1.4.1 Survey Blasting


Pekerjaan survey blasting dimulai dengan pemindahan batas lokasi
rencana Blasting dari peta yang dibuat oleh mine plan ke lapangan (stake
( out).
Proses stake out diawali dengan memasukkan koordinat setiap titik batas rencana
lokasi blasting melalui GPS ((Global Positioning System).

68
Pemasangan patok blasting tidak selamanya harus sesuai dengan posisi
yang ditunjukkan oleh koordinat rencana Blasting pada GPS, melainkan harus
disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Hal ini disebabkan rencana blasting yang
dibuat oleh Mine Plan didasarkan pada peta situasi, sedangkan perubahan kondisi
di lapangan yang begitu cepat tidak dapat sepenuhnya diikuti oleh peta situasi.
Apabila rencana lokasi blasting berdekatan dengan lapisan batubara, maka
batas lokasi blasting harus diberi jarak (offset)
( dari lapisan batubara tersebut
sejauh 16 meter. Hal ini bertujuan agar lapisan batubara tersebut tidak ikut hancur
ketika dilakukan Blasting
lasting. Pemasangan patok pada saat stake out harus dapat
memberikan gambaran yang jelas mengenai daerah yang akan diledakkan.
Pita yang dipasangkan pada patok batas lokasi blasting berwarna biru dan
putih serta berisi keterangan mengenai elevasi aktual, rencana elevasi yang akan
dicapai,
capai, dan kedalaman lubang bor
bor.

Gambar 4.42 Mengecek inventory blasting menggunakan GPS

4.4 Pick up data lubang bor menggunakan GPS


Gambar 4.43

69
Gambar 4.44 Lubang drilling

4.1.4.2 Survey Coal


Setelah dilakukan pengangkutan batubara atau tahap loading pada tubuh
batubara, akan dilakukan pengukuran oleh tim survey coal guna untuk
mengetahui volume batubara yang telah diloading.

EW (+/- 30 CM)

EOS

Gambar 4.45 Batas Ew dan Eos

4.1.3.3 Survey pit


Tim survey jalan bertugas untuk stake out design pit (crest/toe) sesuai
dengan weekly plan,, monitoring perkembangan pit (benching) sesuai dengan
design.

70
4.4 Pita berwarna pink sebagai tanda crest
Gambar 4.46

Gambar 4.47 Pemasangan pita Toe Pit

Crest

Bench

Toe

71
Lebar Jenjang

Tinggi Jenjang H
Sudut Lereng Jenjang

Crest Toe

4.4 Gambar Crest, Bech dan Toe ( jalan 7B)


Gambar 4.48

4.1.3.4 Survey Infrastruktur

Tugasnya adalah :
Melakukan survey topo dan setting out pada proyek road atau konstruksi
yang diorder oleh bagian terkait
Monitoring pekerjaan Road atau konstruksi (berdasarkan design yang
diberikan)

Gambar 4.49 Stake Out bahu jalan

72
4.1.3.5 Data Processing
Setelah dilakukan pengukuran oleh tim survey, data tersebut
tersebut kemudian
diolah dapros. Dapros memiliki tugas sebagai berikut :

Pick up posisi dan elevasi front loading (daily) dan melaporkannya dalam
Daily Survey Monitoring
Membuat laporan harian mengenai posisi dan elevasi front dumping serta
jarak hauling
fil job lapangan, file job SDRMAP dan Drawing
Mengelola data survey : file
Autocad
Mengelola data daily monitoring untuk mendapatkan jarak hauling
haulin

4.50 Dapros mengelola data Daily


Gambar 4.

4.2 Tahap Kegiatan Penambangan Batubara

perencanaan tambang (mine planning) merupakan suatu kegiatan yang


dilakukan untuk membuat langkah langkah atau tahapan tahapan yang akan
di kerjakan
kan dalam kegiatan penambangan,.
penambangan

Tahap Operasi Penambangan :

4.2.1 Land Clearing

Pada tahap ini dilakukan pembersihan lahan yang akan ditambang setelah
di lakukannya identifikasi
ntifikasi letak batubara. Semua unsur yang terdapat diatas tanah
baik berupaa pohon dan tumbuhan, ada yang direlokasi ada juga yang ditebang.

73
Setelah semua unsur telah dibersikan , selanjutnya tanah lapisan paling atas atau
top soil, dikeruk dan direlokasi ketempat sementara untuk nantinya letakan
kembali pada lapisan atas disposal
disposa untuk proses reklamasi.

4.5 Proses land clearing


Gambar 4.51

Gambar 4.52 Loading Top Soil

4.2.2 Kegiatan Drilling dan Blasting

Pada tahap ini dilakukan proses pengeboran pada lapisan batuan yang
keras dan tidak dapat diloading sehingga harus dilakukan pengeboman atau
Lapisan lapisan batuan tersebut dibor atau di drilling
blasting pada area tersebut. Lapisan-lapisan
dengan kedalaman tertentu sesuai
sesuai kebutuhan dan selanjutnya diisi material
blasting yang selanjutnya dilakukan pengeboman untuk menghancurkan dan
tersebut Tahap kegiatan Drilling dan Blasting antara
mengurai material batuan tersebut.
lain :

74
Drilling
Kegiatan pemboran merupakan kegiatan utama yang dilakukan dalam
rangka menyediakan lubang ledak yang
y akan diisi
iisi dengan bahan pe
peledak.
Setiap perusahaan
ahaan biasanya memiliki standar tersendiri dalam pemboran
lubang ledak, mulai dari jenis dan ukuran diameter lubang bor, pola pemboran,
kedalaman lobang bor, serta spacing dan burden dari pemboran.

Gambar 4.53 Kegiatan Drilling

Blasting
Kegiatan Blasting
lasting merupakan proses peledakan yang dilakukam
setelah pengisian bahan peledak didalam lubang bor,
bor, proses ini burtujuan
untuk memberai material batuan yang massive,, adapun tahapannya adalah
Setelah dilakukan pengeboran, akan dilakukan pengecekan lubang
ledak (Sounding) diantaranya kedalaman lubang ledak dan apakah ada
air atau penghambat lainnya
Setelah itu dilakukan pengisian lubang ledak sesuai dengan kedalaman
lubang (charging), kedalaman lubang disesuaikan dengan geometri
lokasi peledakan. Set
Setelah
elah itu lubangnya ditutup menggunakan material
disekitar lubang (Stemming)
Stelah itu dilakukan perangkaian bahan peledak, lalu dihubungkan ke
detonator utama
Setelah itu pemblokiran jalan dan eksekusi lokasi ledakan

75
Gambar 4.54
4. Pengisian bahan peledak

Gambar 4.55 Pemblokiran Jalan

Gambar 4.56 Proses peledakan

76
4.2.3 Over Burden Removal
Pada tahap ini dilakukan pengambilan material batuan selain batubara atau
yang disebut overburden
burden (OB). Material ini nantinya diambil dan dipindahkan dan
ditaruh
itaruh ditempat pembuangan overburden
over yang disebut disposal.

Gambar 4.57 Proses Pengambilan OB

4.2.3.1. Loading
Pengangkutan material OB kedalam alat angkut harus sesuai dengan
kapasitas alat angkut tersebut. Sementara waktu yang diperlukan untuk
mengangkut material kedalam alat muat disebut loading time

Gambar 4.58 Antrian DT

77
Gam
Gambar 4.59 Keadaan Geometri Kerja PC

Antrian di front loading rata-rata selama 2 menit terjadi akibat jarak


hauling yang berbeda beda, dump truck seringkali datang bersamaan menuju front
loading, sehingga siklus Cycle Time DT tidak teratur. Lamanya proses loading
juga di tentukan dengan geometri kerja PC.

4.2.3.2 Hauling
Hauling merupakan kegiatan pengangkutan dari tempat
tempat pemuatan
ketempat pembongkaran.
an. Sementara waktu pengangkutan dari tempat loading
ketempat pembongkaran disebut Hauling Time (HT). Pada saat alat kembali
ketempat pemuatan maka waktu yang di ukan untuk kembali disebut Return
d perlukan
Time (RT), waktu kembali lebih singkat karena dalam keadaan kosong.

4. Proses Hauling & Return


Gambar 4.60

78
Gambar 4.61 Undulating

Gambar 4.62 Slippery

Proses hauling berjalan lama biasanya disebabkan oleh faktor


faktor-faktor
diatas, yaitu kondisi loading front berair sehingga jalan di sekitar lokasi loading
gembur dan bergelombang ( Undulating ), Kondisi jalan yang licin ( slippery )
biasanya disebabkan oleh curah
curah hujan yan tinggi didaerah pertambangan,
pertambangan dan
kegiatan loading material spoil yang mengganggu perjalanan dump truck.
4.2.3.3. Dumping
Dumping merupakan pembongkaran muatan didaerah disposal atau daerah
yang akan diratakan/ditimbun agar air tidak tertampung
tertam (ngantong) dijalan atau
daerah yang akan dilakukan kegiatan pertambangan.Waktu
pertambangan. aktu pembongkaran juga
merupakan unsur penting dari waktu siklus ( Dumping Time ).

79
Tahap pembongkaran material pada daerah disposal :
a. Dumping overbourden di ujung timbunan
b. Pastikan setiap mendorong material diujung timbunan. Bulldozer
membentuk safety berm
c. Buat area dumping sesuai level dan selebarmungkin untuk memudahkan
DT manuver.
d. Buanglah material dumping pada lokasi yangtelah ditentukan sesuai
dengan rencana.
e. Ikuti tahapan penimbunan yang telah direncanakan

Gambar 4.63
4. Dumping OB diujung timbunan

Ujung timbunan
Safety berm

4 Safety berm & jung timbunan Disposal (SMD)


Gambar 4.64

80
Gambar 4.65 Disposal SMD

4.2.3.4.
3.4. Spotting (Manuver)
Pada saat alat kembali ketempat pemuatan adakalanya alat tersebut perlu
antri dan memutar sampai alat diisi kembali.

Gambar 4.
4.66 Manuver Dump Truck

Dalam pemindahan material, siklus kerja merupakan suatu kegiatan yang


dilakukan berulang ( loading, hauling, dump
dumping dan spotting),, adapun waktu
yang diperlukan untuk melakukan satu siklus kegiatan diatas disebut waktu edar
(cycle time).

81
4.2.4. Coal Getting
Pada tahap ini dilakukan pengambilan batubara pada seam-seam
seam yang
terdapat didaerah tersebut. Sebelum diambil, daerah batubara di cleaning terlebih
dahulu untuk menghilangkan sisa-sisa
sisa sisa material overburden, setelah dirasa sudah
cukup bersih barulah batubara tersebut siap ditambang.
4.2.4.1 Persiapan area front loading batubara.
Lakukan pembersihan optimal terhadap material penutup yang terdapat
pada seam batubara yang akan digali.
Lokasi front loading harus bersih dari segala macam kemungkinan
kontaminasi dan adanya penerangan yang optimal untuk malam hari

Gambar 4.67 Cleaning area front loading batubara


4.2.4.2 Pencegahan kontaminasi pada bagian floor
(+/- 30 CM) dari floorr agar terhindar
Sisakan batubara seoptimal mungkin (+/
dari kontaminasi lapisan interburden dan loss coal

Floor

8 Pencegahan kontaminasi Batubara pada bagian floor


Gambar 4.68

82
4.2.4.3 Pemuatan batubara
Pemuatan batubara tidak boleh berlebihan agar terhindar dari resiko
batubara tumpah di jalan.
Excavator harus merapikan muatan agar tersisa ruang di pinggiran bak
vessel sebagai pencegahan batubara tumpah.

Gambar 4.69
4. Pemuatan batubara Pit SMD

4.2.4.4 Mengurangi Lost Coal


Kurangi jumlah batubara tumpah/terbuang dengan:
tidak melakukan pemuatan secara ber
berlebihan ke LD.
Lakukan penumpahan batubara di HD dengan tepat.
Lakukan loading batubara dengan spasi yang optimal agar coal lost
dapat dikurangi.

4.2.4.5 ROM
ROM (Run Of Mine) merupakan tempat penampungan sementara dari
produksi batubara
Perawatan ROM harus selalu dilakukan apabila base-nya
nya sudah terkikis
oleh aktifitas dumping maupun hujan.

83
Gambar 4.70 ROM

84