Anda di halaman 1dari 20

Case Report Session Rotasi 2

GOUT ARTRITIS

Oleh :

Try Purwo Fandoko 1110312013

Preseptor :

dr. Yusri Diane, Sp.A (K)

KEPANITERAAN KLINIK ROTASI TAHAP II

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

PUSKESMAS AIR DINGIN PADANG

2017
DAFTAR ISI

ABSTRAK ............................................................................................................ 3

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 4

1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 4


1.2 Batasan Penulisan...................................................................................... 5
1.3 Tujuan Penulisan ....................................................................................... 5

BAB II LAPORAN KASUS ................................................................................. 6

BAB III DISKUSI ............................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 15

LAMPIRAN FOTO HOMEVISIT...16

2
ABSTRAK

Gout atau asam urat adalah penyakit yang sering ditemukan, merupakan
kelompok penyakit heterogen sebagai akibat deposisi kristal monosodium urat pada
jaringan, akibat gangguan metabolisme berupa hiperurisemia. Manifestasi klinik
deposit urat meliputi arthritis gout, akumulasi kristal di jaringan yang merusak
tulang (tofus), batu urat dan nefropati gout. Pada Hiperurisemia didapatkan kadar
asam urat dalam darah pria lebih dari 7,5 mg/dL dan pada wanita lebih dari 6
mg/dL.
Di Puskesmas Air Dingin Padang ditemukan pasien perempuan berumur 62
tahun dengan keluhan utama nyeri pada kaki kiri. Pada pemeriksaan fisik kaki kiri
terdapat edem eritem disertai nyeri tekan. Pada pemeriksaan penunjang didapatkan
kadar asam urat darah 11,9 mg/dl. Sehingga pada pasien ini didiagnosa gout artritis.
Pada pasien diberikan pengobatan simptomatis berupa Natrium diklofenak,
ranitidine, serta neurodex. Obat anti purin berupa alopurinol juga diberikan tetapi
setelah eksaserbasi akut teratasi.

Kata kunci : gout artritis, asam urat, hiperurisemia

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit artritis gout adalah salah satu penyakit inflamasi sendi yang paling
sering ditemukan, ditandai dengan penumpukan kristal monosodium urat di dalam
ataupun di sekitar persendian. Monosodium urat ini berasal dari metabolisme purin.
Hal penting yang mempengaruhi penumpukan kristal adalah hiperurisemia dan
saturasi jaringan tubuh terhadap urat. Apabila kadar asam urat di dalam darah terus
meningkat dan melebihi batas ambang saturasi jaringan tubuh, penyakit artritis gout
ini akan memiliki manifestasi berupa penumpukan kristal monosodium urat secara
mikroskopis maupun makroskopis berupa tofi.1
Artritis gout merupakan penyakit heterogen sebagai akibat deposisi kristal
monosodium urat pada jaringan atau supersaturasi asam urat didalam cairan
ekstarseluler. Dari waktu ke waktu jumlah penderita asam urat cenderung
meningkat. Penyakit gout dapat ditemukan di seluruh dunia, pada semua ras
manusia. Prevalensi asam urat cenderung memasuki usia semakin muda yaitu usia
produktif yang nantinya berdampak pada penurunan produktivitas kerja. Prevalensi
asam urat di Indonesia terjadi pada usia di bawah 34 tahun sebesar 32% dan
kejadian tertinggi pada penduduk Minahasa sebesar 29,2%.2 Pada tahun 2009,
Denpasar, Bali, mendapatkan prevalensi hiperurisemia sebesar 18,2%.3 Faktor
risiko yang menyebabkan orang terserang penyakit asam urat adalah usia, asupan
senyawa purin berlebihan, konsumsi alkohol berlebih, kegemukan (obesitas),
kurangnya aktivitas fisik, hipertensi dan penyakit jantung, obat-obatan tertentu
(terutama diuretika) dan gangguan fungsi ginjal. Peningkatan kadar asam urat
dalam darah, selain menyebabkan gout, menurut suatu penelitian merupakan salah
prediktor kuat terhadap kematian karena kerusakan kardiovaskuler.2
Dua etiologi yang menyebabkan keadaan hiperurisemia adalah ekskresi asam
urat menurun (90% pasien) atau sintesis asam urat meningkat (10% pasien).
Keadaan ekskresi asam urat yang menurun terdapat pada pasien-pasien dengan
penyakit ginjal, penyakit jantung, terapi obat-obatan seperti diuretik, dan penurunan
fungsi ginjal karena usia. Sedangkan keadaan sintetis asam urat meningkat terdapat

4
pada pasien-pasien dengan predisposisi genetik, diet tinggi purin, dan konsumsi
alkohol.1
1.2 Batasan Penulisan

Penulisan case report session ini dibatasi pada pembahasan mengenai


definisi, etiologi, epidemiologi, patogenesis, gambaran klinis, diagnosis,
pemeriksaan penunjang dan penatalaksanaan gout artritis.

1.3 Tujuan Penulisan

Penulisan case report session ini bertujuan untuk menambah pengetahuan


penulis dan pembaca mengenai gout artritis.

5
BAB II

LAPORAN KASUS

1. Identitas Pasien

a. Nama/Kelamin/Umur : Ny. I/ Perempuan/ 62 tahun

b. Pekerjaan/pendidikan : Ibu Rumah Tangga/SLTP

c. Alamat :Jl. Tanjung Aur, Balai Gadang, Kel. Air Dingin

2. Latar Belakang sosial- ekonomi- demografi- lingkungan keluarga


a. Status perkawinan : Sudah menikah
b. Jumlah anak : 4 orang
c. Status ekonomi keluarga
Keluarga pasien termasuk keluarga yang kurang mampu. Pasien
bekerja sebagai ibu rumah tangga, dengan penghasilan yang tidak tetap
setiap harinya. Pasien tinggal serumah dengan suami. Suami pasien seorang
pensiunan TNI dengan uang pensiunannya Rp1.200.000,00. Pasien dan
suami sama-sama mengelola kebun bawang dan ternak ayamnya yang
didistribusikan ke pasar pagi dekat rumah anak pertama pasien.
d. KB : Tidak Ada
e. Kondisi rumah :
- Rumah kayu, satu kamar tidur, satu ruang tamu yang merangkap sebagai
ruang keluarga, satu dapur dan 1 kamar mandi
- Lantai rumah kayu yang tidak di alas.
- Terdapat pakaian di tumpuk di ruang keluarga.
- Jendela rumah kurang. Ventilasi kurang.
- Kamar mandi dan WC berada di dalam rumah.
- Sumber air minum galon.
- Pekarangan luas.
- Sampah di bakar di depan rumah
Kesan : hygiene dan sanitasi kurang
3. Aspek psikologis keluarga
- Hubungan pasien dengan keluarga baik

6
4. Keluhan utama
- Nyeri pada kaki kiri sejak 1 minggu yang lalu
5. Riwayat Penyakit Sekarang :
- Nyeri pada kaki kiri sejak 1 minggu yang lalu. Awalnya nyeri sudah
dirasakan sejak 4 bulan yang lalu, namun semakin memberat sejak 1 minggu
ini. Nyeri dirasakan terutama pada pagi hari hanya pada jari-jari kaki kiri
dan tidak menjalar. Nyeri terkadang hilang ketika pasien meminum obat
dari bidan. Jika sedang nyeri sekali maka pada pergelangan dan jari-jari kaki
kiri akan terasa panas. Terkadang pada jari kaki terdapat bengkak dan
merah. Pasien tidak mengeluhkan nyeri pada sisi yang lain.
- Pasien sudah dikenal mengalami asam urat tinggi sejak 6 bulan yang lalu
dan sudah pernah mendapat obat anti asam urat sebelumnya. Namun, tidak
kontrol kadar asam uratnya karena keluhannya sudah berkurang, tapi hanya
datang ke bidan untuk berobat nyeri kakinya saja.
- Pasien mempunyai kebiasaan makan kacang goreng sejak usia 30 tahun,
hampir setiap hari, sebanyak - 1 piring per hari.
- Pasien kurang mengonsumsi air putih 3 bulan terakhir ini karena sering
BAK setelah banyak minum air putih. Saat ini rata-rata pasien mengonsumsi
air putih setiap harinya 2-4 gelas.
- BAK tidak berpasir dan tidak berdarah, warna seperti teh.
- BAB biasa
6. Riwayat Penyakit dahulu/ penyakit keluarga
- Riwayat penyakit batu ginjal tidak ada.
- Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini.
- Riwayat DM, hipertensi tidak ada
7. Pemeriksaan fisik
Status generalis
Keadaan umum : baik
Kesadaran : CMC
Tekanan Darah : 110/80 mmHg
Nadi : 88 kali/ menit
Nafas : 20 kali/ menit

7
Suhu : 37,10 C
BB : 39 kg
TB : 147 cm
IMT : 18. 05 (normoweight)
Status Internus
Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Kulit : status lokalis
Dada :
Paru
Inspeksi : simetris kiri kanan
Palpasi : fremitus sama kiri dan kanan
Perkusi : sonor
Auskultasi : versikuler, wheezing (-), ronkhi (-)
Jantung
Inspeksi : iktus tidak terlihat
Palpasi : iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V
Perkusi : Batas jantung normal
Auskultasi : bunyi jantung jantung murni, irama teratur, bising (-)
Abdomen
Inspeksi : tidak tampak membuncit
Palpasi : supel, hepar dan lien tidak teraba
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus (+) normal
Ekstremitas
- Tampak edem eritem pada interfalang digiti I pedis sinistra. Nyeri tekan
pada benjolan (+)

8
- Pemeriksaan Penunjang:
Asam urat darah: 11,9 mg/dl

8. Diagnosis kerja : Susp. Gout Artritis


1. Diagnosis Banding: Reumatoid Artritis
Pemeriksaan Anjuran: Aspirasi cairan sendi kultur dan mikroskopik
2. Manajemen
a. Preventif
- Untuk mencegah kekambuhan, dianjurkan untuk minum banyak air,
menghindari minuman beralkohol dan mengurangi makanan yang
kaya akan protein.
- Upayakan ibu jari kaki dapat digerakkan dengan mudah, dengan
cara tidak memakai sepatu terlalu ketat.
- Jaga kaki dari benturan. Trauma ringan pada ibu jari kaki dapat
memicu serangan gout.
b. Promotif
- Menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang penyakit ini serta
penyebabnya sehingga bisa mencegah untuk timbulnya/berulangya
penyakit seperti ini.
- Menjelaskan kepada pasien tentang hygiene dan sanitasi yang baik
untuk mencegah penyakit lain yang berhubungan dengan
lingkungan.
- Kontrol teratur ke Puskesmas.
c. Kuratif
- Sistemik
Alopurinol tablet 100 mg 1 x sehari konsumsi setelah nyeri
hilang.
Natrium diklofenak tablet 25 mg 2 x sehari
Ranitidin tablet 150 mg 2x sehari
Neurodex 1x sehari

9
3. Prognosis
Ad Vitam : Dubia ad bonam
Ad Functionam : Dubia ad bonam
Ad Sanationam : Dubia ad malam

Dinas Kesehatan Kodya Padang


Puskesmas Air Dingin

Dokter : Try
Tanggal : 26 Mei 2017

R/ Alopurinol tab 100 mg No X


1 dd tab I
___________________________________
R/ Na diklofenak tab 25 mg No X
2dd tab I
__________________________________
R/ Ranitidin tab 150 mg No X
2 dd tab I
__________________________________
R/ Neurodex tab No V
1dd tab 1
__________________________________
Pro : Ny. I
Umur : 62 tahun

10
BAB III

DISKUSI

Telah dilaporkan seorang pasien perempuan usia 62 tahun, dengan


diagnosis suspek Gout artritis. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik.
Pasien datang ke Puskesmas Air Dingin dengan keluhan utama Nyeri pada
kaki kiri sejak 1 minggu yang lalu. Awalnya nyeri sudah dirasakan sejak 4 bulan
yang lalu, namun semakin memberat sejak 1 minggu ini. Nyeri dirasakan terutama
pada pagi hari hanya pada pergelangan dan jari-jari kaki kiri dan tidak menjalar.
Nyeri terkadang hilang ketika pasien meminum obat dari bidan. Jika sedang nyeri
sekali maka pada pergelangan dan jari-jari kaki kiri akan terasa panas. Terkadang
pada jari kaki terdapat bengkak dan merah. Pasien tidak mengeluhkan nyeri pada
sisi yang lain.
Pasien sudah dikenal mengalami asam urat tinggi sejak 6 bulan yang lalu
dan sudah pernah mendapat obat anti asam urat sebelumnya. Namun, tidak kontrol
kadar asam uratnya karena keluhannya sudah berkurang. Pasien mempunyai
kebiasaan makan kacang goreng sejak usia muda dan kurang mengonsumsi air
putih. Pada pemeriksaan fisik Tampak edem eritem pada interfalang digiti I pedis
sinistra disertai nyeri tekan pada benjolan. Pada pemeriksaan laboratorium kadar
asam urat darah setinggi 11,9 mg/dl (hiperurisemia >6 mg/dl)
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang
lainnya, maka pasien ini didiagnosis sebagai suspek Gout artritis.
Menemukan Kristal urat dalam tofi merupakan diagnosis spesifik untuk gout.
Akan tetapi, tidak semua pasien mempunyai tofi sehingga tes diagnostic ini kurang
sensitive. Oleh karena itu, kombinasi dari penemuan-penemuan di bawah ini dapat
dipakai untuk menegakkan diagnosis:1
- Riwayat inflamasi klasik artritis monoartikuler khusus pada sendi MTP-1
- Diikuti oleh stadium interkritik yang bebas gejala;
- Resolusi sinovitis yang cepat dengan pengobatan kolkisin;
- Hiperurisemia
Kadar asam urat normal tidak dapat menghindari diagnosis gout.Pemeriksaan
rediografi pada serangan pertama atritis gout akut adalah non spesifik. Kelainan
11
utama radiografi pada kronik gout adalah inflamasi asimetri, artritis erosif yang
kadang-kadang disertai nodul jaringan lunak.1
a. Pemeriksaan Laboratorium
Seseorang dikatakan menderita asam urat ialah apabila pemeriksaan
laboratorium menunjukkan kadar asam urat dalam darah diatas 7 mg/dL untuk pria
dan lebih dari 6 mg/dL untuk wanita.1,2 Bukti adanya kristal urat dari cairan
sinovial atau dari topus melalui mikroskop polarisasi sudah membuktikan,
pembentukan topus hanya setengah dari semua pasien dengan gout.Ureum dan
kreatinin diperiksa untuk mengetahui normal dan tidaknya fungsi ginjal.2
b. Pemeriksaan Cairan Sendi 2,4
Pemeriksaan cairan sendi dilakukan di bawah mikroskop. Tujuannya ialah
untuk melihat kristal urat atau monosodium urate (kristal MSU) dalam cairan sendi.
Untuk melihat perbedaan jenis arthritis yang terjadi perlu dilakukan kultur cairan
sendi. Dengan mengeluarkan cairan sendi yang meradang maka pasien akan
merasakan nyeri sendi yang berkurang. Obat dimasukkan ke dalam sendi, selain
menyedot cairan maka pasien akan lebih cepat sembuh. Mengenai metode
penyedotan cairan sendi ini, ketria mengatakan bahwa titik dimana jarum akan
ditusukkan harus dipastikan terlebih dahulu oleh seorang dokter. Tempat
penyedotan harus disterilkan terlebih dahulu, lalu jarum tersebut disuntikkan dan
cairan disedot dengan spuit.
Pemeriksaan cairan sendi ini merupakan pemeriksaan yang terbaik. Cairan
hasil aspirasi jarum yang dilakukan pada sendi yang mengalami peradangan akan
tampak keruh karena mengandung kristal dan sel-sel radang. Seringkali cairan
memiliki konsistensi seperti pasta dan berkapur. Agar mendapatkan gambaran yang
jelas jenis kristal yang terkandung maka harus diperiksa di bawah mikroskop
khusus yang berpolarisasi. Kristal-kristal asam urat berbentuk jarum atau batangan
ini bisa ditemukan di dalam atau di luar sel. Kadang bisa juga ditemukan bakteri
bila terjadi septik artritis.
c. Pemeriksaan dengan Roentgen
Pemeriksaan ini baiknya dilakukan pada awal setiap kali pemeriksaan sendi,
lebih efektif jika pemeriksaan roentgen ini dilakukan pada penyakit sendi yang

12
sudah berlangsung kronis.1,2 Pemeriksaan roentgen perlu dilakukan untuk melihat
kelainan baik pada sendi maupun pada tulang dan jaringan di sekitar sendi.2
Pengobatan secara medis dapat juga dilakukan melalui program rehabilitasi.
Rehabilitasi ini berfungsi untuk mengembalikan kemampuan penderita seperti
semula sehingga dapat menjalankan kehidupan sehari-hari dengan lancar. Caranya
adalah dengan mengistirahatkan sendi yang sakit, melakukan pemanasan atau
pendinginan, dan memanfaatkan arus listrik untuk meningkatkan ambang rasa
sakit.4,5
Pada pasien diberikan pengobatan simptomatis berupa Natrium diklofenak,
ranitidine, serta neurodex. Obat anti purin berupa alopurinol juga diberikan tetapi
setelah eksaserbasi akut teratasi.

Asam urat darah adalah hasil pemecahan dari protein yang secara khusus
disebut purin dan selanjutnya 75 persen asam urat dibuang oleh tubuh melalui urine.
Peningkatan kadar asam urat dapat terjadi akibat produksi lebih banyak dari pada
pembuangan asam urat. Penyakitnya sendiri tidak bisa dicegah, tetapi beberapa
faktor pencetusnya bisa dihindari (misalnya cedera, alkohol, makanan kaya
protein). Untuk mencegah kekambuhan, dianjurkan untuk minum banyak air,
menghindari minuman beralkohol dan mengurangi makanan yang kaya akan
protein. Banyak penderita yang memiliki kelebihan berat badan, jika berat badan
mereka dikurangi, maka kadar asam urat dalam darah seringkali kembali ke normal
atau mendekati normal. Pastikan sepatu tidak terlalu ketat atau teralu longgar.
Upayakan ibu jari kaki dapat digerakkan dengan mudah. Trauma ringan pada ibu
jari kaki dapat memicu serangan gout. 4
Secara umum penatalaksanaan atritis gout adalah memberikan edukasi,
pengaturan diet, istirahat sendi dan pengobatan farmakologis. Pengobatan
dilakukan secara dini agar tidak terjadi kerusakan sendi ataupun komplikasi lain,
misalnya pada ginjal. Pengobatan artritis gout akut bertujuan menghilangkan nyeri
sendi dan peradangan dengan obat-obat antara lain dengan kolkisin, obat anti-
inflamasi non-steroid (OAINS), atau kortikosteroid. Obat penurun asam urat seperti
alopurinol atau obat urikosurik tidak boleh diberikan pada stadium akut. Namun
pada pasien yang telah rutin mendapatkan obat penurun asam urat, sebaiknya tetap
diberikan.1,4

13
Nyeri merupakan keluhan utama pasien rematik, dalam hal ini gout arthritis.
Nyeri pada penyakit rematik umumnya karena inflamasi. Untuk menghilangkan
dan meringankan keluhan ini digunakanlah obat yang mampu menghambat proses
inflamasi dan memiliki efek analgesik serta anti piretik yang diklasifikasikan
sebagai Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS). Penggunaan OAINS yang
kurang tepat dapat menyebabkan gastropati.4
OAINS dikenal sebagai salah satu faktor yang dapat menyebabkan
kerusakan mukosa lambung baik secara lokal maupun sistemik. Lesi mukosa
lambung tersebut di kenal dengan gastropati. Pasien yang mengalami gastropati
dapat mengalami dispepsia tanpa adanya ulkus, ulkus dengan atau tanpa sindrom
dispepsia, atau bahkan komplikasinya yang berupa perdarahan atau perforasi.4,5
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa pasien yang mendapatkan terapi OAINS
bersamaan dengan obat sitoproteksi tidak ada yang mengalami gejala klinis
gastropati.3 Sehingga terapi pada pasien ini digunakan kombinasi Natrium
diklofenak sebagai OAINS dan ranitidin sebagai terapi dan pencegahan ulkus
lambung akibat penggunaan OAINS jangka panjang.4,5

14
DAFTAR PUSTAKA

1. Tehupeiroy ES. Artrtritis pirai (arthritis gout). Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Edisi 5. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI;
2009.hal.2550-60.
2. Shalihah, Fatwa Moratus. Diagnosis and Treatment Gout Arthritis.
Lampung: J. Majority;2014.
3. Neogi, Tahina, Timoth A. Jonsen, Nicola Dalbeth, Jaap Pransen, H. Ralph
Schumacher, Dianne Berendsen, et al. Gout Classification Criteria. the
American College of Rheumatology. 2015; vol 67. Pp 2557-2568.
4. Suparta, Putu Gede Yudi Darma Wijaya, I. Nyoman Astika. Gout Arthritis
pada Lansia: Sebuah Laporan Kasus. Denpasar. FK UNUD; 2014.
5. Khanna, Dinesh, Puja P. Khanna, John P., Manjit K.Singh, Sanghree Bae,
Tuhina Neogi. American College of Rheumatology Guidelines for
Management of Gout. Part 2: Therapy and Antiinflammatory prophylaxis
of Acute Gout Arthritis. Arthritis Care & Research; 2012; vol 64. Pp 1447-
1461.

15
Lampiran: Homevisit pasien

16
17
18
19
20