Anda di halaman 1dari 13

PAPER HUBUNGAN TANAH, AIR, TANAMAN DAN ATMOSFER

HUBUNGAN AIR DENGAN TANAMAN TERHADAP STATUS AIR


TANAMAN DAN KEBUTUHAN AIR TANAMAN

OLEH :
JAYARI (05021281320003)

JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2016
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Air dan tanaman mempunyai peranan terhadap satu sama lainnya. Air
mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman
karena hampir semua proses fisiologis yang berlangsung dalam tanaman baik
secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh air. Sehingga air
merupakan salah satu faktor pembatas pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Sebaliknya, kebutuhan tanaman akan air dapat mengurangi terjadinya air limpasan
yang berlebih untuk mengurangi terjadinya banjir.
Air merupakan kebutuhan pokok bagi semua tanaman dan juga merupakan
bahan penyusun utama dari pada protoplasma sel. Air merupakan komponen utama
dalam proses fotosintesis, pengangkutan assimilate hasil proses kebagian bagian
tanaman yang hanya dimungkinkan melalui gerakan air dalam tanaman. Air di
dalam tubuh tanaman terdapat disemua sel dan jaringan yang kadarnya berbeda-
beda tergantung pada jenis sel, jenis jaringan dan jenis tumbuhan. Kebutuhan air
tanaman dan status air tanaman yang terpenting yaitu bukan karena banyaknya air
di dalam tubuh tanaman, tetapi status air tanaman dengan keseimbangan antara
penyerapan dan penguapan.
Status air tanaman dapat digunakan untuk mengetahui kapan saatnya
tanaman harus disiram. Status air tanaman dapat dilihat melalui beberapa cara, salah
satunya adalah dengan melihat kondisi fisik tanaman dan dengan mengukur tekanan
potensial air daun. Tekanan potensial air daun dan stomatal conductane merupakan
indikator yang baik untuk melihat status air tanaman. Tekanan potensial air
menggambarkan kondisi tanah dalam keadaan kering atau basah dan seberapa
kuatnya air diikat oleh tanah. Tekanan potensial yang tinggi dapat dilihat pada
kondisi tanah yang kering dan sebaliknya pada kondisi tanah basah atau tanah rawa
tekanan potensial mencapai nilai 0.
Kebutuhan air untuk tanaman dipengaruhi oleh faktor iklim dan tanah.
Faktor iklim seperti radias surya, suhu, kecepatan angin, dan kelembaban udara
mempengaruhi proses evaporasi, sedangkan faktor tanah seperti tekstur , kedalaman
air tanah, dan struktur topografi menentukan besarnya inflitrasi, perkolasi, dan
limpasan air. Selain itu karateristik tanaman seperti jenis, pertumbuhan dan fase
perkembangan tanaman juga berpengaruh terhadap jumlah air yang dibutuhkan
tanaman (Djufry, 2006).
Kuantitas air yang dibutuhkan oleh tanaman berbeda-beda sesuai dengan
jenis dan lingkungan tumbuhan itu hidup. Selain itu, kuantitas air juga dipengaruhi
dari adanya total periode tanaman dan tahapan pertumbuhan. Tanaman herba
menyerap air lebih banyak dibandingkan tanaman perdu. Oleh karena itu kebutuhan
air setiap tanaman tidak dapat diberikan dalam jumlah yang sama.

I.2 Tujuan
Untuk mengetahui kapan dan berapa banyak air yang dibutuhkan tanaman.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Hubungan Air dan Tanaman


Air merupakan faktor utama sebagai pendukung pertumbuhan tanaman.
Kuantitas penyerapan air oleh tumbuhan bergantung dengan adanya ketersedian air
di dalam tanah. Jika persediaan air tanah makin kurang maka tumbuhan tersebut
akan mengalami kelayuan (Pratama, 2009).
Kekurangan air dalam jumlah yang besar menyebabkan kurangnya tekanan
turgor pada tumbuhan vegetative. Air dalam tanaman berkisar antara 80-90 persen
dari berat kering tanaman. Persentase ini akan menjadi lebih besar lagi pada bagian-
bagian tanaman yang sedang aktif tumbuh. Penyerapan air (water absorbtion) oleh
akar ini sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan yaitu air yang tersedia dalam
tanah, temperature tanah, aerasi tanah dan konsentrasi larutan tanah
Air sering kali membatasi pertumbuhan dan perkembangan tanaman
budidaya. Respons tanaman terhadap kekurangan air itu relative terhadap aktivitas
metabolik, morfologi, tingkat pertumbuhan dan potensial hasil panennya. Urutan
responsnya terhadap daur kekeringan dapat dilihat dari pertumbuhan sel yang
merupakan fungsi tanaman yang paling sensitive terhadap kekurangan air.
Cekaman kekeringan pada tanaman disebabkan oleh kekurangan suplai air di
daerah perakaran dan permintaan air yang berlebihan oleh daun dalam kondisi laju
evapotranspirasi melebihi laju absorbsi air oleh akar tanaman. Serapan air oleh akar
tanaman dipengaruhi oleh laju transpirasi, sistem perakaran, dan ketersediaan air
tanah.
Stomata berperan penting sebagai alat untuk adaptasi tanaman terhadap
cekaman kekeringan. Pada kondisi cekaman kekeringan maka stomata akan
menutup sebagai upaya untuk menahan laju transpirasi. Beberapa tanaman
beradaptasi terhadap cekaman kekeringan dengan cara mengurangi ukuran stomata
dan jumlah stomata. Mekanisme membuka dan menutup stomata pada tanaman
yang toleran terhadap cekaman kekeringan sangat efektif sehingga jaringan
tanaman dapat menghindari kehilangan air melalui penguapan (Trisilawati dan
Pitono, 2012).
Secara umum tanaman akan menunjukkan respon tertentu bila mengalami
cekaman kekeringan. Respon tanaman terhadap stres air sangat ditentukan oleh
tingkat stres yang dialami dan fase pertumbuhan tanaman saat mengalami cekaman.
Bila tanaman dihadapkan pada kondisi kering terdapat dua macam tanggapan yang
dapat memperbaiki status air, yaitu (1) tanaman mengubah distribusi asimilat baru
untuk mendukung pertumbuhan akar dengan mengorbankan tajuk, sehingga dapat
meningkatkan kapasitas akar menyerap air serta menghambat pemekaran daun
untuk mengurangi transpirasi; (2) tanaman akan mengatur derajat pembukaan
stomata untuk menghambat kehilangan air lewat transpirasi.
Salah satu cara yang dapat mengurangi terjadinya resiko cekaman air adalah
dengan memberikan penyiraman. Pratama (2009) meyatakan bahwa penyiraman
dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu: mengganti air yang telah menguap, memberi
tambahan air yang dibutuhkan oleh tanaman, dan mengembalikan kekuatan
tanaman. Faktor-faktor yang mempengaruhi kekeringan air pada tumbuhan adalah
pH yang sangat rendah, suhu yang sangat tinggi dan kurangnya persediaan air
dalam tanah. Penurunan kandungan air di dalam sel tumbuhan diikuti dengan
kehilangan turgor dan terjadinya layu, penutupan stomata, dan proses metabolisme
akan terganggu, demikian juga dapat mengganggu proses reproduksi dan
fotosintesis serta respirasi.
Kekurangan air akan mengganggu keseimbangan kimiawi dalam tanaman
yang berakibat berkurangnya hasil fotosintesis atau semua proses-proses fisiologis
berjalan tidak normal. Apabila keadaan ini berjalan secara terus-menerus, maka
dapat berdampak seperti terjadinya tanaman yang kerdil, layu, produksi rendah,
kualitas turun dan sebagainya. Kekurangan air pada tanaman terjadi karena
ketersediaan air dalam media tidak cukup dan transpirasi yang berlebihan atau
kombinasi kedua faktor tersebut. Di lapangan walaupun di dalam tanah air cukup
tersedia, tanaman dapat mengalami cekaman (kekurangan air). Hal ini terjadi jika
kecepatan absorpsi tidak dapat mengimbangi kehilangan air melalui proses
transpirasi (Haryati, 2003).

II.2 Status Air Tanaman


Status air tanaman merupakan salah satu parameter untuk melihat waktu
untuk pemberiaan iar pada tanaman sebelum tanaman mencapai titik layu
permanen. Beberapa indikator yang baik untuk melihat status air tanama adalah
tekanan potensial daun dan stomatal conductane. Air di dalam tubuh tanaman
terdapat disemua sel dan jaringan yang kadarnya berbeda-beda tergantung pada
jenis sel, jenis jaringan dan jenis tumbuhan. Pada potensial air digunakan untuk
menyatakan status air dalam tumbuhan. Semakin rendah potensial air dari suatu sel
atau jaringan tumbuhan akan semakin besar kemampuannya untuk mengabsorbsi
air. Sebaliknya semakin tinggi potensial air semakin besar kemampuan jaringan
tersebut untuk memberikan air kepada sel atau jaringan tumbuhan yang kandungan
airnya lebih rendah (Lakitan, 2004)
Air tanah memerlukan energi untuk dapat bergerak mengalir melalui ruang
antar butir. Tenaga penggerak ini bersumber dari energi potensial. Energi potensial
air tanah dicerminkan dari tinggi muka airnya (pizometric) pada tempat yang
bersangkutan. Air tanah mengalir dari titik dengan energi potensial tinggi ke arah
titik dengan energi potensial rendah. Antara titik-titik dengan energi potensial sama
tidak terdapat pengaliran air tanah (Lakitan, 2004).
Selama pertumbuhan tanaman air memiliki peranan penting di antaranya
berperan sebagai pelarut bahan-bahan organik, bahan utama proses fotosintesis dan
lain-lain. Jika tanaman mengalami stress air, maka pertumbuhan dan
perkembangan tanaman tersebut tidak akan berjalan normal. Air masuk ke dalam
sel tanaman melalui proses difusi, yang mana proses difusi ini terjadi karena
perbedaan konsentrasi, yaitu konsentrasi di ruang yang dalam sel lebih rendah di
bandingkan konsentrasi di luar sel. Sel tumbuhan dapat mengalami kehilangan air
yang besar jika potensial air di luar sel lebih rendah dibandingkan dengan potensial
air di dalam sel, sehingga akan mengakibatkan volume isi sel akan menurun dan
tidak akan mampu mengisi seluruh yang telah dibentuk oleh sel tersebut.
Hal terpenting pada status air tanaman yaitu bukan banyaknya air di dalam
tubuh tanaman, tetapi status (water status) keseimbangan antara penyerapan dan
penguapan, dan berapa air itu ada dalam phase-phase pertumbuhan. Neraca air
merupakan keseimbangan air yang terjadi dalam sistem hidrologi, yaitu antara
jumlah masukan, keluaran dan perubahan kandungan air yang terdapat dalam
sistem parameter yang diperlukan dalam perhitungan neraca air meliputi jumlah
curah hujan, evapotranspirasi nyata, limpasan air permukaan, dan jumlah air yang
meresap ke dalam tanah.
Untuk menyatakan status air atau perimbangan air di dalam tubuh tumbuhan
dapat dilakukan dengan dua cara yang umum digunakan, yaitu satu diantaranya
berdasarkan atas energi air didalamnya jaringan tumbuhan yang lazim disebut
potensial air, dan ini merupakan cara yang paling tepat untuk menentukan status air
dari jaringan tanaman dengan memakai istilah potensial air. Karena Suatu jaringan
akan mengalami defisit air jika potensial air tersebut kurang atau lebih dari 0 (nol)
bar. Kemudian Cara yang kedua adalah dengan mengukur kuantitas air dari suatu
jaringan kandungan airnya dan menyatakan dengan kondisi standar tertentu
(Nurdina, 2009).
Kehilangan air oleh sebab penguapan sangat ditentukan oleh factor
lingkungan di sekitar daun dan phase pertumbuhan tanaman. Pengaruh terhadap
status air dalam tanaman yang diserap dari tanah dan transpirasi yang terjadi pada
daun, sebagai berikut yaitu 1) jika absorbsi > transpirasi, maka status air dalam
tanaman baik dan tanaman segar, 2) jika absorbsi = transpirasi, maka status air
terletak pada batas dimana tanaman berada dalam keadaan permulaan layu, 3)
absorbsi < transpirasi, maka status air dalam tanaman tidak baik, tanaman berada
dalam keadaan layu.

II.3 Kebutuhan Air Tanaman


Kebutuhan air tanaman merupakan tinggi atau tebal air yang dibutuhkan
untuk memenuhi jumlah air yang dibutuhkan tanaman. Menurut Hedi (2010)
Kebutuhan air suatu tanaman merupakan jumlah air yang diperlukan untuk
memenuhi kehilangan air melalui evapotranspirasi tanaman yang sehat, tumbuhan
pada sebidang lahan yang luas dengan kondisi tanah yang tidak mempunyai kendala
(kendala lengas tanah dan kesuburan tanah) dan mencapai potensi produksi penuh
padakondisi lingkungan tumbuh tertentu. Analisis kebutuhan air untuk tanaman di
lahan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pengolahan lahan, penggunaan
konsumtif, perkolasi, penggantian lapis air, dan sumbangan hujan efektif (Suroso,
2007). Adapun kebutuhan air tanaman pada lahan kering sama dengan kebutuhan
air konsumtif itu sendiri, yaitu parameter yang menyatakan jumlah air yang secara
potensial diperlukan untuk memenuhi pemakaian air konsumtif (evapotranspirasi)
suatu areal tanaman agar dapat tumbuh secara normal.
Proses utama yang melibatkan keberadaan air dan kebutuhan tanaman
terhadap air adalah evapotranspirasi. Pengaruh iklim terhadap kebutuhan air
tanaman diberikan oleh ETo (evapotranspirasi tanaman referensi) yang merupakan
laju evapotranspirasi dari permukaan berumput luas setinggi 8-15 cm, rumput hijau
yang tingginya seragam, tumbuh aktif, secara lengkap menaungi permukaan tanah
dan tidak kekurangan air. Pengaruh karakteristik tanaman terhadap kebutuhan air
tanaman diberikan oleh koefisien tanaman (kc) yang menyatakan hubungan antara
ETo dan ET tanaman (ETtanaman=kc x ETo).
Nilai Kc mempunyai perbedaan nilai setiap jenis tanaman, fase
pertumbuhan tanaman, musim pertumbuhan, dan kondisi cuaca yang ada. Nilai kc
mempunyai hubungan dan pengaruh terhadap fase pertummbuhan tanaman dan
iklim. Pengaruh nilai Kc dan fase pertumbuhan tanaman adalah bahwa semua
tanaman akan menggunakan air lebih banyak pada pertumbuhan puncaknya jika
dibandingkan dengan yang baru ditanam, sedangkan pengaruh Kc dan iklim yaitu
bahwa lamanya periode pertumbuhan (umur panen) dan berbagai fase-fase
pertumbuhan mempunyai nilai yang berbeda-beda. Pada daerah yang dingin maka
tanaman akan tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan yang tumbuh di daerah
panas. Oleh karena itu, untuk menentukan besarnya nilai faktor tanaman Kc harus
mengetahui lamanya periode musim pertumbuhan dan lamanya periode fase-fase
pertumbuhan tanaman. Penentuan nilai Kc untuk berbagai fase pertumbuhan
tanaman memerlukan tiga tahapan, yaitu: 1) Penentuan lamanya masa pertumbuhan
setiap tanaman, 2) Penentuan berbagai fase pertumbuhan tanaman tersebut, 3)
Penentuan nilai Kc untuk setiap tanaman pada setiap fase pertumbuhan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan air tanaman yaitu topografi
hidrologi, klimatologi, dan tanah. Topografi Untuk lahan yang miring
membutuhkan air yang lebih banyak dibandingkan tanah yang datar karena air akan
lebih cepat mengalir menjadi aliran permukaan dan hanya sedikit yang mengalami
infiltrasi. Pada pengaruh hidrologi yaitu dengan banyaknya curah hujan, makin
sedikit kebutuhan air tanaman, hal ini dikarenakan hujan efektif akan menjadi besar.
Adanya pengaruh klimatologi, tanaman tidak dapat bertahan dalam cuaca buruk.
Dengan memperhatikan keadaan cuaca dan cara pemanfaatannya, maka dapat
dilaksanakan penanaman tanaman yang tepat untuk periode yang tepat dan sesuai
dengan keadaan tanah. Sedangkan adanya pengaruh tanah yang mempengaruhi
kebutuhan air tanaman disebabkan karena tanah yang baik untuk usaha pertanian
adalah tanah yang mudah dikerjakan dan bersifat produktif serta subur. Tanah yang
baik akan memberikan kesempatan pada akar tanaman untuk tumbuh dengan
mudah, menjamin sirkulasi air dan udara serta baik pada zona perakaran dan secara
relatif memiliki hara dan kelembaban tanah yang cukup.
BAB III
PEMBAHASAN

Hubungan air dan tanaman sangat berpengaruh terhadap status air tanaman.
Kondisi kadar air terhadap tanaman mempunyai beberapa keadaan seperti jenuh air
(tergenang) yang merupakan bahwa kondisi ruang pori tanah seluruhnya terisi oleh
air, kapasitas lapang yang merupakan kondisi terbaik yaitu pada kondisi ruang pori
terisi oleh udara dan air dalam jumlah yang seimbang, dan titik layu permanen yang
merupakan kondisi akar tanaman tidak kuat lagi untuk menyerap air karena
kekurangan air sehingga membuat tanaman menjadi layu .
Air merupakan komponen utama dalam kandungan tanaman karena mempunyai
peranan yang penting seperti media transportasi dan pelarut unsur hara reaktan pada
beberapa proses reaksi metabolisme seperti fotosistesis, penstabil temperatur dan
sebagainya. Pergerakan air dari dalam tanah ke dalam jaringan tanaman merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi status air tanaman nantinya. Pergerakan air
tersebut dipengaruhi oleh adanya tekanan potensial air. Tekanan potensial air yang
tinggi menggambarkan semakiin kuat juga air di ikat pada tanah sehingga tanaman
dapat mengalami cekaman air. Tanaman dapat menyerap air karena ada perbedaan
potensial air yaitu potensial air tanah lebih tinggi daripada potensial air tanaman
sehingga air bergerak dari tanah ke tanaman. Adanya cekaman air terhadap tanaman
merupakan salah satu faktor yang membuat terjadinya kelayuan yang juga
merupakan salah satu gambaran status air tanaman.
Status air tanaman merupakan hal yang sangat penting untuk pertumbuhan
tanaman. Status air tanaman dapat menggambarkan keadaan dalam tanah dan
kondisi tanaman untuk mengetahui kapan saat yang baik untuk melakukan
pengairan pada tanaman. Salah satu indikator yang baik untuk mengetahui status
air tanaman ialah dengan melakukan pengukuran potensial air daun. Status air
tanaman yang baik dapat dipengaruhi karena adanya ketersediaan air bagi tanaman.
Oleh karena itu, untuk menjaga status air tanaman dapat dilakukan dengan
memberikan ketersediaan air yang cukup dengan cara menghitung kebutuhan air
tanaman.
Kebutuhan air tanaman merupakan banyaknya air yang diperlukan selama
total periode umur tanaman. Kebutuhan air tanaman tersebut dapat memberikan
seberapa banyak aiar yang harus diberikan pada setiap tanaman karena setiap jenis
tanaman mempunyai kebutuhan air tanaman yang berbeda. Perbedaan kebutuhan
air tanaman tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti nilai Kc dan besarnya
nilai evapotranspirasi.
Penentuan nilai Kc tanaman dapat diketahui dengan menentukan total
periode umur tanaman, fase atau tahap pertumbuhan tanaman, dan menentukan
nilai kc setiap tahap pertumbuhan. Fase pertumbuhan tanaman dan jenis tanaman
yang ditanaman pada iklim yang berbeda mempunyai total periode tanam yang
berbeda pula. Oleh karena itu, setiap jenis tanaman mempunyai kebutuhan air
tananaman yang berbeda juga.
BAB IV
PENUTUP

IV.1 Kesimpulan
1. Indikator status air tanaman yang baik dapat dilakukan dengan pengukuran
tekanan potensial daun.
2. Status air tanaman dapat memberikan informasi kapan saat yang baik untuk
melakukan pengairan atau penyiraman.
3. Status air tanaman dapat dipengarui karena besarnya nilai potensial air di
dalam tanah.
4. Kebutuhan air setiap jenis tanaman berbeda-beda.
5. Kebutuhan air tanaman dipengaruhi oleh besarnya nilai evapotranspirasi
dan nilai Kc tanaman.

IV.2 Saran
Untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang optimal dapat dilakukan
dengan melihat status air tanaman dan menghitung kebutuhan air tanaman sehingga
dapat mengetahui kapan dan berapa banyaknya kebutuhan air tanaman sehingga
tanaman tidak mengalami stres air karena kelebihan atau kekurangan air.
DAFTAR PUSTAKA

Djufry, R. 2006. Respons tanaman jarak (Richinus communis L.) pada kondisi
cekaman air. Jurnal Agrivigor.5 : 98-107.

Haryati. 2003. Pengaruh Cekaman Air Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil


Tanaman. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Medan.

Hedi, Y.K 2010. Kebutuhan Air untuk Tanaman. (Online :


http://yanessipil.wordpress.com). Diakses pada tanggal 27 April 2016.

Lakitan, Benyamin.2004. Dasar - Dasar Fisiologi Tumbuhan. Radja Grafindo


Persada.

Nurdina, SP. MP. 2009. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan. IAIN Mataram.
Mataram.

Pratama, T,A. 2009. Hubungan Air dengan Tumbuhan. Fakultas MIFA Universitas
Andalas.

Suroso, P.S.Nugroho dan P.Pamuji. 2007. Evaluasi kinerja jaringan irigasi banjaran
untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pengelolaan air irigasi.
Dinamika Teknik Sipil. 7 : 55-56.

Trisilawati, O dan Pitono, J. 2012. Pengaruh Cekaman Defisit Air Terhadap


Pembentukan Bahan Aktif Pada Purwoceng. Bul. Littro. Vol. 23 No. 1,
2012, 34 - 47