Anda di halaman 1dari 8

Definisi Varicella

Varicella (Cacar Air) adalah penyakit infeksi yang umum yang biasanya terjadi
pada anak-anak dan merupakan akibat dari infeksi primer Virus Varicella Zoster.
Varicella pada anak, mempunyai tanda yang khas berupa masa prodromal yang pendek
bahkan tidak ada dan dengan adanya bercak gatal disertai dengan papul, vesikel,
pustula, dan pada akhirnya, crusta, walaupun banyak juga lesi kult yang tidak
berkembang sampai vesikel.
Normalnya pada anak, gejala sistemik biasanya ringan. Komplikasi yang serius
biasanya terjadi pada dewasa dan pada anak dengan defisiensi imunitas seluler, dimana
penyakit dapat bermanifestasi klinis berupa, erupsi sangat luas, gejala konstitusional
berat, dan pneumonia. Terdapat kemungkinan fatal jika tidak ada terapi antivirus yang
diberikan.

1. Etiologi Varicella
Varicella disebabkan oleh Varicella Zooster Virus (VZV) yang termasuk
kelompok Herpes Virus dengan diameter kira-kira 150 200 nm. Inti virus disebut
capsid yang berbentuk icosahedral, terdiri dari protein dan DNA yang mempunyai
rantai ganda yaitu rantai pendek (S) dan rantai panjang (L) dan merupakan suatu garis
dengan berat molekul 100 juta dan disusun dari 162 capsomer. Lapisan ini bersifat
infeksius.
Varicella Zoster Virus dapat menyebabkan varicella dan herpes zoster. Kontak
pertama dengan virus ini akan menyebabkan varicella, oleh karena itu varicella
dikatakan infeksi akut primer, sedangkan bila penderita varicella sembuh atau dalam
bentuk laten dan kemudian terjadi serangan kembali maka yang akan muncul adalah
Herpes Zoster.

2. Patogenesis
Virus Varicella Zooster masuk dalam mukosa nafas atau orofaring, kemudian
replikasi virus menyebar melalui pembuluh darah dan limfe ( viremia pertama )
kemudian berkembang biak di sel retikulo endhotellial setelah itu menyebar melalui
pembuluh darah (viremia ke dua) maka timbullah demam dan malaise.
Permulaan bentuk lesi pada kulit mungkin infeksi dari kapiler endothelial pada
lapisan papil dermis menyebar ke sel epitel pada epidermis, folikel kulit dan glandula
sebacea dan terjadi pembengkakan. Lesi pertama ditandai dengan adanya makula yang
berkembang cepat menjadi papula, vesikel da akhirnya menjadi crusta. Jarang lesi yang
menetap dalam bentuk makula dan papula saja. Vesikel ini akan berada pada lapisan sel
dibawah kulit. Dan membentuk atap pada stratum korneum dan lusidum, sedangkan
dasarnya adalah lapisan yang lebih dalam.
Degenarasi sel akan diikuti dengan terbentuknya sel raksasa berinti banyak,
dimana kebanyakan dari sel tersebut mengandung inclusion body intranuclear type A.
Penularan secara airborne droplet. Virus dapat menetap dan laten pada sel syaraf.
Lalu dapat terjadi reaktivitas maka dapat terjadi herpes Zooster.

3. Gejala Klinis
Gejala mulai timbul dalam waktu 10-21 hari setelah terinfeksi pada anak-anak
yang berusia diatas 10 tahun, gejala awalnya berupa sakit kepala demam sedang dan
rasa tidak enak badan, gejala tersebut biasanya tidak ditemukan pada anak-anak yang
lebih musa. Pada permulaannya, penderita akan merasa sedikit demam, pilek, cepat
merasa lelah, lesu, dan lemah. Gejala-gejala ini khas untuk infeksi virus. Pada kasus
yang lebih berat, bisa didapatkan nyeri sendi, sakit kepala dan pusing. Beberapa hari
kemudian timbullah kemerahan pada kulit yang berukuran kecil yang pertama kali
ditemukan di sekitar dada dan perut atau punggung lalu diikuti timbul di anggota gerak
dan wajah.
Kemerahan pada kulit ini lalu berubah menjadi bintil berisi cairan dengan dinding
tipis. Ruam kulit ini mungkin terasa agak nyeri atau gatal sehingga dapat tergaruk tak
sengaja. Jika bintil ini dibiarkan maka akan segera mengering membentuk keropeng
(krusta) yang nantinya akan terlepas dan meninggalkan bercak di kulit yang lebih gelap
(hiperpigmentasi). Bercak ini lama-kelamaan akan pudar sehingga beberapa waktu
kemudian tidak akan meninggalkan bekas lagi.
Lain halnya jika bintil cacar air tersebut dipecahkan. Krusta akan segera terbentuk
lebih dalam sehingga akan mengering lebih lama. kondisi ini memudahkan infeksi
bakteri terjadi pada bekas luka garukan tadi. setelah mengering bekas cacar air tadi
akan menghilangkan bekas yang dalam. Terlebih lagi jika penderita adalah dewasa atau
dewasa muda, bekas cacar air akan lebih sulit menghilang.
Papula di mulut cepat pecah dan membentuk luka terbuka (ulkus), yang sering
menyebabkan gangguan menelan. Ulkus juga dapat ditemukan di kelopak mata, saluran
pernapasan bagian atas, rectum dan vagina.
Papula pada pita suara dan saluran pernapasan atas kadang menyebabkan
gangguan pada pernapasan. Bisa terjadi pembengkakan kelenjar getah bening dileher
bagian samping. Cacar air jarang menyebabkan pembentukan jaringan parut, kalaupun
ada hanya berupa lekukan kecil di sekitar mata. Luka cacar air bisa terinfeksi akibat
garukan dan biasanya disebabkan oleh staphylococcus.
Anak-anak biasanya sembuh dari cacar air tanpa masalah. Tetapi pada orang
dewasa maupun penderita gangguan sistem kekebalan, infeksi ini bisa berat atau
bahkan berakibat fatal.
Pada anak sehat yang sebelumnya nirmal, penyakit ini secara umum dan biasanya
jinak, dengan komplikasi yang paling sering adalah infesi sekunder bakteri dari lesi
kult. Jaringan parut merupakan komplikasi lain yang sering. Komplikasi neurologis
meliputi encephalitis dan ataxia cerebellar akut. Varisela encephalitis dengan insiden
0,1% secara umum tampak mengalami nyeri kepala, kejang, pola pemikiran yang
terganggu, dan muntah, dengan angka mortalitas sebear 5 hingga 20%. Ataxia serebelar
akut sedikit lebih jarang (0,025% insidensi) dibandingkan ensefalitis dan secara umum
tampak dalam 1 minggu ruam dengan ataxia, muntah, pembicaraan yang terganggu,
vertigo, dan atau tremor, dengan resolusi dalam 2 hingga 4 minggu.
Pada anak defisiensi imun atau kurang gizi yang tidak ditangani dengan asiklovir
intravena, angka kematian berkisar antara 15 hingga 18%. Kasus ini dikarakteristikan
dengan penyebaran, dengan pneumonia, miokarditis, artritis, hepatitis, perdarahan, dan
ensefalopaty (ataxia serebelar lebih sering). Super infeksi lesi kulit dengan
Staphylococcus aureus atau Streptococcus pyogenes dapat menyebabkan pioderma,
impetigo, erysipelas, nephritis, gangrene, atau sepsis. Pada tropis Amerika, varisella
pada anak usia muda, anak kekurangan gizi dapat berkomplikasi menjadi diare berat.
Orang dewasa tampak mempunyai penyakit yang lebih berat dibandingkan
dengan anak-anak. Dengan peningkatan 15 kali lipat pada mortalitasnya. Varisella onset
dewasa lebih sering berkomplikasi dengan pneumonitis dan ensefalitis, dengan secara
klinis pneumonitis lebih dari 15 % kasus.
Orang dari area tropis yang pindah ke area temperatur berada dalam resiko untuk
varisela onset dewasa, terutama jika kontak dengan anak usia muda. Varisela ibu pada
gestasi awal menimbulkan secara jarang ke sindrom varisela kongenital yang ditandai
dengan defek kulit, atrofi ekstremitas, dan disfungsi sistem otonom. Maternal varisela
pada gestasi akhir dapat menimbulkan varisela neonatus, dengan angka mortalitas sama
tingginya dengan 30% pada bayi yang tidak diterapi.
Infeksi VZV rekuren bermanifestasi sebagai herpes zoster (shingles), sebuah
penyakit yang biasanya terlihat pada orang dewasa dengan usia lebih dari 50 tahun.
Data menunukkan perbedaan rasial dalam resiko timbulnya zoster, dengan orang tua
kulit putih lebih sering berada dalam resiko dibandingkan dengan orang tua berkulit
hitam. Zoster juga dapat timbul jarang pada anak-anak. Zoster pada pasien
imunnocompromise dapat menjadi lebih berat.
Peningkatan insidensi zoster pada usia sama halnya dengan pasien
imunocompromised dikarenakan penurunan anti-VZV cell-mediated immunity.
Menariknya, ada bukti bahwa paparan pada orang yang seropositive terhadap varisela
terlindungi dari perkembangan zoster, tertama dengan menambah respon imunnya.
Setelah infeksi primer, VZV (seperti HSV) timbul pada keadaan latent dengan ganglia
saraf kranial dan spinal. Stimuli non spesifik seperti stress, imunodefisiensi atau
malignansi dapat mengaktivasi virus laten dengan keterlibatan distribusi saraf yang
disalurkan melalui ganglion yang terkena. Herpes zoster timbul setelah 3- to 4-day
gejala prodromal demam, lesu, dan gangguan gastrointestinal dan erupsi vesikular
kutaneus yang nyerei pada distribusi dermatomal. Ruam biasanya unilateral dan
sepanjang hanya satu dermatom. Pada kasus yang berat, erupsi dapat menjadi lebih
umum dan variseliform. Vesikel sembuh dalam 5 hari, tetapi postherpetic neuralgia
dapat saja ada. Postherpetic neuralgia, terlihat pada lebih dari 50% pasien diatas 50
tahun, didefinisikan sebagai nyeri konstan atau intermiten lebih dari durasi satu bulan
pada area yang melibatkan dermatom. Infeksi dari mata, Herpes zoster
ophthalmicusmerupakan kondisi yang serius karena dapat menyebabkan kebutaan.
Sindroma Ramsay Hunt didefinisikan sebagai keterlibatan trias dari meatus auditorius
eksternal, hilangnya rasa pada lidah dan palsy fasialis ipsilateral. Keterlibatan dari
medula spinalis dapat menyebabkan kelumpuhan atau palsy saraf kranial.
Resiko dari ensefalitis meningkat pada orang tua dengan keterlibatan saraf kranial
dan pada pasien AIDS. Postzoster ensefalitis dapat timbul dalam 3 bentuk : infark yang
dikarenakan vaskulitis pembuluh darah besar, leukoensefalopati multifokal dan
ventrikulitis.

4. Diagnosis
Diagnosis klinik varisela pada anak-anak, saat ini variola (smallpox) telah
dieradikasi, biasanya tidaklah sulit. Ruam mempunyai karakteristik dan jarangkali
dibutuhkan untuk dibedakan dari eksantem enterovral, infeksi S. aureus, rekasi obat,
dermatitis kontak dan penyebaran infeksi HSV-1. Diagnosis dengan kultur dari cairan
vesikel kurang sensitif untuk HSV atau CMV dan dapat membutuhkan waktu 7 hari.
Metode ini telah diganti dengan metode shellvial sensitive dan ebih cepat, dimana
hasilnya diberikan dalam waktu 1-3 hari. Deteksi yang lebih cepat, sensitif, dan
spedifik dapat membentu sistem dasar kultur dimasa depan sebagaimana pewarnaan
PCR multiple menjadi lebih sering untuk digunakan. Mengambil dasar vesikel mungkin
dapat menunjukkan sel raksasa multinukleasi, dimana tidak dapat jelas dibedakan dari
HSV. Bagaimanapun, immunofluorescence pada kultur atau mengambil dengan
menggunakan antibodi spesifik dapat membedakan antara HSV-1, HSV-2, dan VZV.
Deteksi serologis IgM dan tingginya titer atau empatkali peningkatan IgG anti VZV
antibodi dapat berguna dalam beberapa kasus.
Deteksi dari IgM dapat meunjukkan infeksi primer (chicken pox), dimana baik
tinggi titernya atau empat kali peningkatan igG mengindikasikan rekurensi.
Bagaimanapun, peningkatan IgM juga dapat terlihat pada rekurensi. Diagnosis klinis
herpes zoster virus pada orang dewasa juga biasanya tidak sulit dalam memberikan
karakteristik pola dermatom.

5. Diagnosis Banding
Differensial diagnosis dari infeksi varicella sendiri termasuk infeksi yang dapat
menimbulkan vesikular exanthema, seperti infeksi herpes secara umum, hand-foot-
mouth infection dan exanthema enteroviral lainnya. Dahulu, variola dan vaccinia
merupakan differensial diagnosis yang penting namun infeksi ini sudah sangat jarang
ditemukan. Herpes simpleks dapat dibedakan dari pengelompokan vesikelnya, lokasi,
dan tes immunoflorescent atau kultur, jika perlu. Tes Tzanck dapat membantu
membedakan varicella dengan enteroviral penyebab exanthem lainnya dengan
memperlihatkan multinucleated giant cell pada infeksi Herpes zoster.

6. Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan darah tidak memberikan gambaran yang spesifik.
Untuk pemeriksaan varicella bahan diambil dari dasar vesikel dengan cara kerokan
an dicat dengan Giemsa dan Hematoksilin Eosin, maka akan terlihat sel-sel raksasa
(giant cell) yang mempunyai inti banyak dan epitel sel berisi Acidophilic Inclusion
Bodies atau dapat juga dilakukan pengecatan dengan pewarnaan imunofluoresen,
sehingga terlihat antigen virus intrasel.
Isolasi virus dapat dilakukan dengan menggunakan fibroblast pada embrio
manusia. Bahan diambil dari kerokan dasar vesikel, kadang-kadang ada darah.

Antibodi terhadap varicella dapat dideteksi dengan pemeriksaan Complemen


Fixation Test, Neurailization Test, FAMA, IAHA, dan ELISA.

7. Tatalaksana
Meskipun vidarabine dan interferon- telah digunakan pada terapi infeksi VZV
yang berat, asiklovir tetaplah merupakan obat pilihan. Asiklovir lebih efektif pada
infeksi VZV yang berat jika diberikan secara intravena dalam 24 jam setelah timbul
ruam. Terapi asiklovir oral dari anak sehat dengan chickenpox sebaiknya
dipertimbangkan , terutama pada remaja dan kontak dengan orang rumah secara
sekunder, meskipun keuntunggannya tetap ada. Dikarenakan strain resisten asiklovor
pada pasiein dengan AIDS, foscaranet harus dipertimbangkan untuk infeksi berat dalam
keadaan ini.
Untuk herpes zoster, obat pilihan adalah famciclovir dan valacyclovir. Terapi
awal dari zoster telah menunjukkan untuk memperpendek perjalan penyakit kutaneus
dan menurunkan durasi serta keparahan post herpetil neuralgia. Steorid topikal juga
dapat berguna pada uveitis herpetik dan keratitis. Zoster yang sangat nyeri dapat
diterapi dengan kompres basah dan analgesik yang menganduk kodein. Gabapentin,
analog struktural neurotransmitter gamma-aminobutyric acid, berguna dalam mengatasi
postherpetic neuralgia. Antihistamin dapat berguna untuk menyingkirkan rasa gatal
varisella pada anak-anak.
Untuk mengurangi rasa gatal dan mencegah penggarukan, sebaiknya kulit
dikompres dingin. Bisa juga dioleskan losyen kalamin, antihistamin atau losyen lainnya
yang mengandung mentol atau fenol.
Untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi bakteri, sebaiknya: kulit dicuci
sesering mungkin dengan ait dan sabun, menjaga kebersihan tangan, kuku dipotong
pendek, pakaian tetap kering dan bersih.
Kadang diberikan obat untuk mengurangi gatal (antihistamin). Jika terjadi infeksi
bakteri, diberikan antibiotik. Jika kasusnya berat, bisa diberikan obat anti-virus
asiklovir.
Untuk menurunkan demam, sebaiknya gunakan asetaminofen, jangan aspirin.
Karena aspirin dapat memberikan efek samping yang buruk pada anak-anak Obat anti-
virus boleh diberikan kepada anak yang berusia lebih dari 2 tahun. Asiklovir biasanya
diberikan kepada remaja, karena pada remaja penyakit ini lebih berat. Asikloir bisa
mengurangi beratnya penyakit jika diberikan dalam wakatu 24 jam setelah munculnya
ruam yang pertama.

8. Kompliksasi
Adapun komplikasi yang bisa ditemukan pada cacar air adalah:
Pneumonia karena virus

Peradangan jantung

Peradangan sendi

Peradangan hati

Infeksi bakteri (erisipelas, pioderma, impetigo bulosa)

Ensefalitis (infeksi otak).

9. Prognosis
Dengan perawatan teliti dan memperhatikan higiene akan memberikan prognosis
yang baik dan jaringan parut yang timbul akan menjadi sedikit.

Angka kematian pada anak normal di Amerika 5,4 7,5 dari 10.000 kasus
varicella.

Pada neonatus dan anak yang menderita leukimia, immunodefisiensi, sering


menimbulkan komplikasi dan angka kematian yang meningkat.

Angka kematian pada penderita yang mendapatkan pengobatan immunosupresif


tanpa mendapatkan vaksinasi dan pengobatan antivirus antar 7 27% dan sebagian
besar penyebab kematian adalah akibat komplikasi pneumonitis dan ensefalitis.

10. Pencegahan
Untuk mencegah cacar air diberikan suatu vaksin. Kepada orang yang belum
pernah mendapatkan vaksinasi cacar air dan memiliki resiko tinggi mengalami
komplikasi (misalnya penderita gangguan sistem kekebalan), bisa diberikan
immunoglobulin zoster atau immunoglobulin varicella-zoster. Vaksin varisela biasanya
diberikan kepada anak yang berusia 12-18 bulan.