Anda di halaman 1dari 15

REFARAT

ASMA

Refarat ini Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior
SMF Ilmu Penyakit Paru Royal Prima Hospital Medan

Disusun Oleh :
INTAN PERMATA SARI
123307056

Pembimbing :
dr. Sadarita Sitepu, Sp.P

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR SMF ILMU PENYAKIT PARU


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PRIMA INDONESIA
ROYAL PRIMA HOSPITAL MEDAN
2016

1
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...........................................................................................................................I
BAB 1....................................................................................................................................1
PENDAHULUAN.................................................................................................................1
BAB 2....................................................................................................................................2
KAJIAN TEORI....................................................................................................................2
2.1. DEFENISI ASMA.......................................................................................................2
2.2. PATHOGENESIS ASMA..............................................................................................2
2.3. EPIDEMIOLOGI ASMA...............................................................................................3
2.4. FAKTOR RESIKO ASMA............................................................................................3
2.5. KLASIFIKASI ASMA..................................................................................................4
2.6. DIAGNOSA ASMA.....................................................................................................4
2.6.1. Pemeriksaan Fisik............................................................................................5
2.6.2. Pemeriksaan Penunjang...................................................................................6
2.6.2.1. Faal Paru.......................................................................................................6
2.6.2.2. Spirometri.....................................................................................................6
2.6.2.3. Arus Puncak Ekspirasi (APE)......................................................................7
2.6.2.4. Pemeriksaan X-Ray Thorax.........................................................................7
2.6.2.5. Pemeriksaan IgE...........................................................................................7
2.7. DIAGNOSIS BANDING ASMA....................................................................................7
2.8. PENATALAKSANAAN ASMA......................................................................................8
2.9. PENCEGAHAN ASMA..............................................................................................10
2.9.1. Pencegahan Primer........................................................................................10
2.9.2. Pencegahan Sekunder....................................................................................10
2.9.3. Pencegahan Tersier........................................................................................10
2.10. KONSELING DAN EDUKASI ASMA..........................................................................11
2.11. KOMPLIKASI ASMA................................................................................................11
BAB 3..................................................................................................................................12
KESIMPULAN....................................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................13

1
BAB 1
PENDAHULUAN

Asma adalah suatu penyakit peradangan kronik saluran napas yang berhubungan
dengan hiperesponsif dan penyempitan saluran napas yang menimbulkan gejala gangguan
pernapasan secara episodic yang membaik secara spontan atau setelah pemberian obat.
Asma dapat dikontrol secara efektif hingga jarang terjadi eksaserbasi dengan pengobatan
dan penderita dapat menjalani kualitas hidup yang baik.

Mekanisme asma belum dipahami sepenuhnya. Terdapat berbagai factor dalam


berkembangnya asma yang dapat dikelompokkan pada 2 faktor utama, yaitu genetic dan
pengaruh lingkungan. Kombinasi pengaruh factor ini menimbulkan pola reaksi seluler
yang berbeda, fenotip dan spectrum klinik asma yang sangat variatif. Keadaan fenotip ini
belum sepenuhnya dapat dijelaskan, namun dijumpai berbagai fenotip antara lain
berdasarkan sel radangnya, atau karakteristik kliniknya.

Asma dapat berkembang menjadi kronik, mengalami remodeling dalam progesitifitas


penyakitnya hingga dapat mencapai kondisi ireversibilitas yang mendekati penyakit paru
obstruksi kronis yang memperburuk prognosis penderita. Factor genetic dan lingkungan
merupakan factor predisposisi terhadap berkembangnya asma. Terdapat banyak pencetus
dan keadaan yang dapat mengawali bronkospasme dan inflamasi bronkus. Dalam
berjalannya waktu, asma bersifat heterogen dan beratnya asma bervariasi pada seorang
pasien, dan heterogen pada pasien yang berbeda.

1
BAB 2
KAJIAN TEORI

2.1. Defenisi Asma

Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan


banyak sel dan elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan
hiperesponsif jalan napas yang menimbulkan gejala episodic berulang berupa
mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam dan atau
dini hari. Episodic tersebut berhubungan dengan obstruksi jalan napas yang luas,
bervariasi dan seringkali bersifat reversible dengan atau tanpa pengobatan.

2.2. Pathogenesis Asma

Gambar 2.1. Patofisiologi Asma

2
2.3. Epidemiologi Asma

Asma merupakan penyakit kronik yang banyak diderita oleh anak dan dewasa
baik di negara maju maupun di negara berkembang. Sekitar 300 juta manusia di
dunia menderita asma dan diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 400
juta pada tahun 2025. Meskipun dengan pengobatan efektif, angka morbiditas dan
mortalitas asma masih tetap tinggi. Satu dari 250 orang yang meninggal adalah
penderita asma. Di negara maju meskipun sarana pengobatan mudah didapat, asma
masih sering tidak terdiagnosis dan tidak diobati secara tepat. Asma menyebabkan
kehilangan hari sekolah anak di Asia (16%), Eropa (34 %) serta Amerika Serikat
(40%).

Prevalens asma di dunia sangat bervariasi dan penelitian epidemiologi


menunjukkan bahwa kekerapan asma semakin meningkat terutama di negara maju.
Studi di Australia, New Zealand dan Inggris menunjukkan bahwa Prevalens asma
anak meningkat dua kali lipat pada dua dekade terakhir. Di Amerika, National
Health Survey tahun 2001 hingga 2009 mendapatkan Prevalens asma meningkat
dari 7,3% (20,3 juta orang) di tahun 2001 menjadi 8,2% (24,6 juta orang) di tahun
2009. 3 Penelitian cross sectional International Study of Asthma and Allergies in
Childhood (ISAAC) dan beberapa penelitian pada orang dewasa menyimpulkan
bahwa prevalens asma di negara maju tidak meningkat dan bahkan cenderung
menurun pada sepuluh tahun terakhir.

2.4. Faktor Resiko Asma

Resiko berkembangnya asma merupakan interaksi antara factor penjamu


(host factor) dan factor lingkungan. Factor penjamu disini termasuk predisposisi
genetic yang mempengaruhi untuk berkembangnya asma, yaitu genetic asma,
alergik (atopi), hipereaktiviti bronkus, jenis kelamin dan ras. Factor lingkungan
mempengaruhi individu dengan kecenderungan/ predisposisi asma untuk
berkembang menjadi asma, menyebabkan terjadinya eksaserbasi dan atau
menyebabkan gejala-gejala asma menetap. Termasuk dalam factor lingkungan
yaitu allergen, sensitisasi lingkungan kerja, asap rokok, polusi udara, infeksi
pernafasan (virus), diet, status sosioekonomi dan besarnya keluarga.
3
2.5. Klasifikasi Asma

Gambar 2.2. Klasifikasi Asma Menurut GINA 2014

2.6. Diagnosa Asma

Diagnosis asma didasari oleh gejala yang bersifat episodic, gejala berupa
batuk, sesak napas, mengi, rasa berat di dada dan variability yang berkaitan dengan
cuaca. Anamnesis yang baik cukup untuk menegakkan diagnosis, ditambah dengan
pemeriksaan fisik dan pengukuran faal paru terutama reversibility kelainan faal
paru, akan lebih meningkatkan nilai diagnostic.

Riwayat penyakit atau gejala asma biasa berupa:


a. Bersifat episodic, seringkali reversible dengan atau tanpa pengobatan.
b. Gejala berupa batuk, sesak napas, rasa berat di dada dan berdahak.
c. Gejala timbul/ memburuk terutama malam/ dini hari.
d. Diawali oleh factor pencetus yang bersifat individu.
e. Respons terhadap pemberian bronkodilator.

4
Hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam riwayat penyakit, yaitu:
a. Riwayat keluarga (atopi).
b. Riwayat alergi/ atopi.
c. Penyakit lain yang memberatkan.
d. Perkembangan penyakit dan pengobatan.

2.6.1. Pemeriksaan Fisik

Gejala asma bervariasi sepanjang hari sehingga pemeriksaan fisik


dapat normal. Kelainan pemeriksaan fisik yang paling sering ditemukan
adalah mengi pada auskultasi. Pada sebagian penderita, auskultasi dapat
terdengan normal walaupun pada pengukuran objektif (faal paru) telah
terdapat penyempitan jalan napas. Pada keadaan serangan, kontraksi otot
polos saluran napas, edema dan hipersekresi dapat menyumbat saluran
napas; maka sebagai kompensasi penderita bernapas pada volume paru
yang lebih besar untuk mengatasi menutupnya saluran napas. Hal ini
meningkatkan kerja pernapasan dan menimbulkan tanda klinis berupa sesak
napas, mengi dan hiperinflasi.

Pada serangan ringan, mengi hanya terdengar pada waktu ekspirasi


paksa. Walaupun demikian mengi dapat tidak terdengar (silent chest) pada
serangan yang sangat berat, tetapi biasanya disertai gejala lain misalnya
sianosis, gelisah, sukar biacara, takikardi, hiperinflasi dan penggunaan otot
bantu napas.

5
2.6.2. Pemeriksaan Penunjang

2.6.2.1. Faal Paru

Umumnya penderita asma sulit menilai beratnya gejala dan


persepsi mengenai asmanya, demikian pula dokter tidak selalu
akurat dalam menilai dyspnea dan mengi; sehingga dibutuhkan
pemeriksaan objektif yaitu faal paru antara lain untuk
menyamakan persepsi dokter dan penderita, dan parameter
objektif menilai berat asma. Pengukuran faal paru digunakan
untuk menilai:
a. Obstruksi jalan napas.
b. Reversibility kelainan faal paru.
c. Variability faal paru, sebagai penilaian tidak langsung
hiperesponsif jalan napas.

Banyaj parameter dan metode untuk menilai faal paru, tetapi yang
telah diterima secara luas (standar) dan mungkin dilakukan adalah
pemeriksaan spirometri dan arus puncak ekspirasi (APE).

2.6.2.2. Spirometri

Pengukuran volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1)


dan kapasiti vital paksa (KVP) dilakukan dengan maneuver
ekspirasi paksa melalui prosedur yang standar. Pemeriksaan itu
sangat bergantung kepada kemampuan penderita sehingga
dibutuhkan instruksi operator yang jelas dan kooperasi penderita.
Untuk mendapatkan nilai yang akurat, diambil nilai tertinggi dari
2-3 nilai yang reproducible dan acceptable. Obstruksi jalan napas
diketahui dari nilai rasio VEP1/KVP <75% atau VEP1 <80% nilai
prediksi.

6
2.6.2.3. Arus Puncak Ekspirasi (APE)

Nilai APE dapat diperoleh melalui pemeriksaan spirometri


atau pemeriksaan yang lebih sederhana yaitu dengan alat peak
expiratory flow meter (PEF meter) yang relative sangat murah,
mudah dibawa, terbuat dari plastic dan mungkin tersedia di
berbagai tingkat layanan kesehatan termasuk puskesmas ataupun
instalasi gawat darurat.

2.6.2.4. Pemeriksaan X-Ray Thorax

Pemeriksaan ini dilakukan untuk menyingkirkan penyakit


yang bukan asma.

2.6.2.5. Pemeriksaan IgE

Uji tusuk pada kulit (skin prick test) dilakukan untuk


menunjukkan adanya antibody IgE spesifik pada kulit. Uji ini
untuk menyokong anamnesis dan mencari factor pencetus. Namun
uji allergen yang positif tidak selalu merupakan penyebab asma.

2.7. Diagnosis Banding Asma

Diagnosis banding asma antara lain, sebagai berikut:


a. Penyakit paru obstruksi kronik (PPOK/ COPD).
b. Bronchitis kronik.
c. Gagal jantung kongestif.
d. Batuk kronik akibat lain-lain (seperti TB Paru).
e. Obstruksi mekanis (seperti tumor).
f. Emboli paru.

7
2.8. Penatalaksanaan Asma

Tabel 2.1. Penatalaksanaan Asma Berdasarkan Berat Asma

8
Tabel 2.2. Penatalaksanaan Asma Berdasarkan GINA 2017

9
2.9. Pencegahan Asma

2.9.1. Pencegahan Primer

Pencegahan primer ditujukan kepada masyarakat yang belum


menderita asma dengan cara mencegah tersensitisasi dengan bahan yang
menyebabkan asma dengan cara membebaskan lingkungan dari debu, asap
rokok, bulu hewan, dan serbuk sari, menggunakan masker dan memasang
filter ruangan.

2.9.2. Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder ditujukan kepada penderita asma/ terancam


menderita asma dengan tujuan mencegah yang sudah tersensitisasi untuk
tidak berkembang menjadi asma. Menghentikan pajanan allergen sedini
mungkin pada penderita yang sudah tersensitisasi dan salah dengan gejala
asma, adalah lebih menghasilkan pengurangan/ resolusi total dari gejala
dari pada jika pajanan terus berlangsung.

2.9.3. Pencegahan Tersier

Pencegahan tersier ditujukan kepada penderita asma untuk mencegah


agar tidak terjadi serangan/ bermanifestasi klinis asma pada penderita yang
sudah menderita asma. Menghindari pajanan pencetus akan memperbaiki
kondisi asma dan menurunkan kebutuhan medikasi/ obat.

10
2.10. Konseling dan Edukasi Asma

a. Memberikan informasi kepada individu dan keluarga mengenai seluk beluk


penyakit, sifat penyakit, perubahan penyakit (apakah membaik atau
memburuk), jenis dan mekanisme kerja obat-obatan dan mengetahui kapan
harus meminta pertolongan dokter.
b. Kontrol secara teratur antara lain untuk menilai dan monitor berat asma secara
berkala (asthma control test/ ACT).
c. Pola hidup sehat.
d. Menjelaskan pentingnya melakukan pencegahan dengan:
1) Menghindari setiap pencetus.
2) Menggunakan bronkodilator/ steroid inflasi sebelum melakukan exercise
untuk mencegah exercise induced asthma.

2.11. Komplikasi Asma

a. Pneumotoraks.
b. Pneumomediastinum.
c. Gagal napas.
d. Asma resisten terhadap steroid.

11
BAB 3
KESIMPULAN

1. Asma adalah penyakit inflamasi kronis pada saluran napas.


2. Hindari faktor pencetus untuk terjadinya serangan asma.
3. Sangat dianjurkan menggunakan terapi kombinasi pada penatalaksaan asma.
4. Kunci mengontrol asma adalah : pemberian ICS sedini mungkin ketika gejala
muncul.

12
DAFTAR PUSTAKA

Mangunnegoro H, dkk. 2004. ASMA, Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan di


Indonesia Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Jakarta: FKUI.
Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. InfoDATIN "You Can Control
Your Asthma".
2017 GINA Report, Global Strategy for Asthma Management and Prevention.
http://ginasthma.org/2017-gina-report-global-strategy-for-asthma-management-and-
prevention/. Diakses pada 22 Februari 2017.
2017 Pocket Guide for Asthma Management and Prevention.
http://ginasthma.org/2017-pocket-guide-for-asthma-management-and-prevention/. Diakses
pada 22 Februari 2017.
Jurnal Respirologi Indonesia. Ratnawati. J Respir Indones. 2011;31(4):172-5.
http://jurnalrespirologi.org/editorial-epidemiology-of-asthma/. Diakses pada 22 Februari
2017.

13