Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH PARASITOLOGI

Wuchereria bancrofti (Cacing Filaria)

Disusun oleh :

Richa Dwi Lestari (0415103031)

FAKULTAS ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MAARIF HASYIM LATIF SIDOARJO
2016
Disusun oleh :

Richa Dwi Lestari (0415103031)

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Hampir setiap orang sudah mengenal cacing. Di dalam perut manusia
terutama pada anak kecil sering terdapat cacing perut, sedangkan di dalam
tanah sering dijumpai cacing tanah. Tubuh cacing dapat dibedakan menjadi
beberapa bagian, yaitu bagian ujung anterior (depan), ujung posterior
(belakang), permukaan dorsal (permukaan atas, punggung), dan permukaan
ventral (permukaan bawah, perut). Tubuh cacing bersifat simetris bilateral
yang dapat dibagi menjadi dua bagian kiri dan kanan yang sama besar.
Cacing yang berkembang dan hidup di dalam tubuh manusia disebut juga
sebagai parasit yang merugikan dan dapat mengganggu kesehatan. Cacing
dapat hidup di beberapa bagian dan organ tubuh manusia seperti dalam saluran
pencernaan dan jaringan darah. Keberaadaan cacing dalam jaringan darah
menimbulkan berbagai infeksi penyakit salah satunya cacing filaria (Wucheria
bancrofti) yang dapat menyebabkan penyakit filariasis atau kaki gajah.
Penyakit filariasis atau yang dikenal dengan penyakit kaki gajah ini
bersifat menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat
menimbulkan cacat menetap, berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin
baik wanita maupun pria. Akibatnya penderita kaki gajah tidak dapat bekerja
secara optial, bahkan hidupnya selalu tergantung pada orang lain. Pada keadaan
yang lebih parah tubuh penderita akan dipenuhi cacing filaria yang terus
berkembang biak. Penularan penyakit filariasis sangat cepat melalui gigitan
nyamuk pada saat malam hari.
Filariasis merupakan jenis penyakit reemerging desease, yaitu penyakit
yang dulunya sempat ada, kemudian tidak ada dan sekarang muncul kembali.
Kasus penderita filariasis khas ditemukan di wilayah dengan iklim sub tropis
dan tropis salah satunya Indonesia. Oleh sebab itu sangat perlu kiranya untuk
mengetahui lebih banyak mengenai cacing filaria (Wucheria bancrofti).

2. PENGERTIAN PENYAKIT FILARIASIS


Filariasis merupakan suatu spektrum penyakit biasanya di kawasan tropik
dan subtropik yang disebabkan oleh adanya parasit cacing nematoda di dalam
saluran limfe yang disebarkan kepada manusia melalui berbagai spesies
nyamuk sebagai vektor atau pembawa.
Masa inkubasi penyakit filariasis cukup lama lebih kurang satu tahun
sedangkan penularan parasit terjadi melalui vektor nyamuk sebagai hospes
perantara dan manusia atau hewan (kera atau anjing) sebagai hospes definitif.
Periodisitas beradanya mikrofilia dalam darah tepi bergantung pada spesies.
Periodisitas tersebut menunjukkan adanya filaria di dalam darah tepi sehingga
mudah terdeteksi.
Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular yang disebabkan
karena cacing filaria yang hidup di saluran dan kelenjar getah bening (limfe)
yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk serta secara klinis menyebabkan
gejala akut dan kronis.
Gejala akut berupa peradangan kelenjar dan saluran getah bening
(adenomalimfangitis) terutama di daerah pangkal paha dan ketiak tetapi dapat
pula di daerah lain. Peradangan ini disertai demam yang timbul berulang kali
serta dapat berlanjut menjadi abses yang dapat pecah dan meninggalkan parut.
Dapat terjadi limfedema dan hidrokel yang berlanjut menjadi stadium kronis
yang berupa elefantiasis yang menetap dan sukar disembuhkan berupa
pembesaran pada kaki (seperti kaki gajah), lengan, payudara, buah zakar
(scrotum) dan kelamin wanita.

PEMBAHASAN

1. MORFOLOGI CACING FILARIA (Wucheria bancrofti)


Wuchereria bancrofti atau disebut juga cacing filaria adalah kelas dari
anggota hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filum
Nemathelminthes. Bentuk cacing filaria gilig memanjang, seperti benang yang
disebut filarial.
Kingdom : Animalia
Classis : Secernentea
Ordo : Spirurida
Upordo : Spirurina
Family : Onchocercidae
Genus : Wuchereria
Species : Wuchereria bancrofti

Cacing dewasa (makrofilaria), bentuknya


seperti benang berwarna putih kekuningan.
Sedangkan larva cacing filaria (mikrofilaria)
berbentuk seperti benang berwarna putih
susu. Makrofilaria yang betina memiliki
panjang kurang lebih 65 - 100 mm, ekornya
berujung tumpul, untuk makrofilaria yang
jantan memiliki panjang kurang lebih 40 mm,
ekor melingkar. Sedangkan mikrofilaria
berukuran panjang kurang lebih 250 mikron,
bersarung pucat. Tempat hidup Makrofilaria
jantan dan betina di saluran limfe dan
kelenjar limfe. Sedangkan pada malam hari mikrofilaria terdapat di dalam
pembuluh darah tepi, dan pada siang hari mikrofilaria terdapat di kapiler alat-
alat dalam, misalnya: paru-paru, jantung, dan hati.

Setelah dilahirkan oleh induknya dalam saluran lymphe, mereka akan


menemukan jalannya menuju saluran lymphe utama dan akhirnya berada
dalam aliran darah tepi. Morfologi mikrofilaria
dapat diamati dengan baik dengan mengambil darah penderita, dan dibuat
sediaan tetes tebal yang diwarnai dengan Wright/Giemsa. Pada sediaan yang
baik akan terlihat mikrofilaria sebagai suatu bentukan silinder memanjang.
Ciri-ciri khas dari mikrofilaria Wuchereria bancrofti sbb :
Ukuran kurang lebih 290 X 6 mikron
Terbungkus oleh suatu selaput hialin (hyaline sheath), tetapi pada
pengecatan dengan Giemsa sheath ini jarang nampak dan hanya nampak
pada pengecatan yang pekat, sarung terlihat berwarna merah.
Curva tubuhnya halus dan tak mempunyai lekukan tubuh sekunder
(secondary kink negatif)
Tubuhhya terisi oleh body nuclei yang tersebar merata, nampak seolah-
olah teratur.
Pada ujung anterior terdapat bagian yang bebas dari body nuclei, disebut
cephalic space yang ukuran panjangnya kurang lebih sama dengan
lebarnya (Cephalic space ratio 1 : 1).
Ujung posterior tidak mengandung body nuclei (Terminal nuclei negatif)

2. DISTRIBUSI CACING FILARIA


Parasit ini tersebar di daerah tropis dan subtropis, ke Utara sampai ke
Spanyol, ke Selatan sampai ke Australia, Afrika,Asia, Jepang, Taiwan,
Philiphina, Indonesia dan Kepulauan Pasifik Selatan.
Daerah endemis filariasis pada umumnya adalah daerah dataran rendah,
terutama di pedesaan, pantai, pedalaman, persawahan, rawa-rawa, dan hutan.
Secara umum, filariasis bancrofti tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan,
Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Wuchereria bancrofti tipe
pedesaan masih banyak ditemukan di Papua, Nusa Tenggara Timur sedangkan
Wuchereria bancrofti tipe perkotaan banyak di temukan di kota, seperti
Jakarta, Bekasi, Semarang, Tangerang, Pekalongan, dan Lebak.

3. HOSPES CACING FILARIA (Wuchereria bancrofti)


Cacing filaria memiliki 2 hospes yakni :
a. Hospes definitif hanya berada pada tubuh manusia dimana cacing dewasaa
berada pada saluran dn kelenjar limfa sedangkan larvanya (mikrofilaria)
hidup di dalam saluran darah tepi selama kurang lebih 5 tahun tanpa
mengalami perubahan bentuk.
b. Hospes perantara berupa nyamuk yang berasal dari genus Culex
quenquifasciatus di belahan barat dunia dan Aedes polynensis di belahan
timur dunia.
Pada dasarnya setiap orang dapat tertular filariasis apabila digigit oleh
nyamuk infektif yang mengandung larva stadium tiga. Nyamuk infektif
mendapat mikrofilaria dari penderita, baik penderita dengan gejala klinis
maupun penderita yang tidak menunjukkan gejala klinis. Pada daerah endemis
filariasis, tidak semua orang terinfeksi filariasis dan tidak semua orang yang
terinfeksi menunjukkan gejala klinis. Seseorang yang terinfeksi filariasis
tetapi belum menunjukkan gejala klinis biasanya sudah terjadi perubahan-
perubahan patologis di dalam tubuhnya. (Marsaulina, I, 2009)

4. SIKLUS HIDUP CACING FILARIA (Wuchereria bancrofti)


Siklus hidup cacing Filaria terjadi melalui dua tahap, yaitu:
a. Tahap pertama, perkembangan cacing Filaria dalam tubuh nyamuk sebagai
vector yang masa pertumbuhannya kurang lebih 2 minggu.
b. Tahap kedua, perkembangan cacing Filaria dalam tubuh manusia (hospes)
kurang lebih 7 bulan
Tahap Pertama: Siklus hidup cacing filaria dapat terjadi dalam tubuh
nyamuk apabila nyamuk tersebut menggigit dan menghisap darah orang yang
terserang filariasis, sehingga mikrofilaria yang terdapat ditubuh penderita ikut
terhisap kedalam tubuh nyamuk. Mikrofilaria tersebut masuk kedalam
melepaskan pembungkus pada tubuh nyamuk, kemudian menembus dinding
lambung dan bersarang diantara otot-otot dada (toraks). Bentuk mikrofilaria
menyerupai sosis yang disebut larva stadium I. Dalam waktu kurang lebih satu
minggu larva ini berganti kulit, tumbuh menjadi lebih gemuk dan panjang yang
disebut larva stadium II. Pada hari ke sepuluh dan seterusnya larva berganti
kulit untuk kedua kalinya, sehingga tumbuh menjadi lebih panjang dan kurus,
ini adalah larva stadium III. Gerak larva stadium III ini sangat aktif, sehingga
larva mulai bermigrasi mula-mula ke rongga perut (abdomen) kemudian
pindah ke kepala dan alat tusuk nyamuk.
Tahap Kedua: Apabila nyamuk yang mengandung mikrofilaria ini
menggigit manusia. Maka mikrofilaria yang sudah berbentuk larva infektif
(larva stadium III) secara aktif ikut masuk kedalam tubuh manusia (hospes).
Bersama-sama dengan aliran darah dalam tubuh manusia, larva keluar dari
pembuluh kapiler dan masuk ke pembuluh limfe. Didalam pembuluh limfe
larva mengalami dua kali pergantian kulit dan tumbuh menjadi cacing dewasa
yang sering disebut larva stadium IV dan larva stadium V. Cacing filaria yang
sudah dewasa bertempat di pembuluh limfe, sehingga akan menyumbat
pembuluh limfe dan akan terjadi pembengkakan. Pada saat dewasa
(Makrofilaria) inilah, cacing ini menghasilkan telur kemudian akan menetas
menjadi anak cacing berukuran kecil yang disebut mikrofilaria. Selanjutnya,
mikrofilaria beredar di dalam darah. Larva ini dapat berpindah ke peredaran
darah kecil di bawah kulit. Jika pada waktu itu ada nyamuk yang menggigit,
maka larva tersebut dapat menembus dinding usus nyamuk lalu masuk ke
dalam otot dada nyamuk, kemudian setelah mengalami pertumbuhan, larva ini
akan masuk ke alat penusuk. Jika nyamuk itu menggigit orang, maka orang itu
akan tertular penyakit ini.
Uniknya, cacing terdeteksi dalam darah tepi pada malam hari, sedangkan
pada siang hari dia berada didalam kapiler alat-alat dalam seperti pada paru-
paru, jantung dan hati, selebihnya bersembunyi di organ dalam
tubuh.Pemeriksaan darah ada-tidaknya cacing biasa dilakukan malam
hari. Setelah dewasa (Makrofilaria) cacing menyumbat pembuluh limfe dan
menghalangi cairan limfe sehingga terjadi pembengkakan. Selain di kaki,
pembengkakan bisa terjadi di tangan, payudara, atau buah zakar. Ketika
menyumbat pembuluh limfe di selangkangan, misalnya, cairan limfe dari
bawah tubuh tidak bisa mengalir sehingga kaki membesar. Dapat terjadi
penyumbatan di ketiak, mengakibatkan pembesaran tangan.

5. PATHOGENESIS CACING FILARIA (Wuchereria bancrofti)


Effect pathogen yang nampak pada Wuchereria dapat disebabkan oleh
bentuk dewasa baik yang hidup maupun yang mati. Bentuk dewasa atau larva
yang sedang tumbuh dapat menyebabkan kelainan berupa reaksi inflamasi dan
system lympatic. Sedangkan bentuk microfilarianya yang hidup didalam darah
belum diketahui apakah menghasilkan product-product yang bersifat pathogen,
kecuali pada accult filariasis.
Hasil metabolisme dari larva Wuchereria yang sedang tumbuh menjadi
dewasa pada individu yang sensitif dapat menyebabkan reaksi allergi seperti:
urticaria, "fugitive swelling". (pembengkakan, nyeri, pembengkakan pada kulit
extremitas) dan pembengkakan kelenjar lymphe. Gejala ini dapat timbul awal
dalam waktu beberapa bulan (kurang lebih 3 1/2 bulan) setelah penularan.
Pemeriksaan darah tepi untuk mencari mikrofilaria pada stadium ini biasanya
negatif (gagal ditemukan), tetapi pada biopsi kelenjar lymphe setempat
mungkin dapat ditemukan cacing Wuchereria bancrofti muda atau dewasa.

6. EFEK KLINIS CACING FILARIA (Wuchereria bancrofti)


Penyakit yang ditimbulkan disebut filariasis bancrofti, dimana gejala
klinis yang ditimbulkan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Mikrofilaremia (Filariasis tanpa gejala)
Merupakan tahap perkembangan mikrofilaria yang biasanya tanpa gejala
klinis. Pada tubuh telah dapat ditemukan mikrofilaria di dalam darah tanpa
menimbulkan gejala yang menunjukkan adanya infeksi ini. Pada pemeriksaan
tubuh tampak mikrofilaria dalam jumlah besar dan adanya eosinofil. Pada
waktu cacing dewasa mati mikrofilaria menghilang tanpa penderita
menyadari akan adanya infeksi. Gejala ini terjadi pada daerah endemi yang
menyerang anak-anak yang mungkin terkena penyakit sejak umur muda.
b. Gejala Klinis Akut (Filariasis dengan peradangan)
Filariasis dengan peradangan merupakan fenomen alergi karena
kepekaan terhadap bahan-bahan metabolit yang berasal dari larva yang
sedang tumbuh dari cacing betina yang melahirkan mikrofilaria, atau dari
cacing dewasa yang hidup dan yang mati. Dapat juga terjadi infeksi sekunder
yang disebabkan oleh streptococcus atau oleh jamur. Lymphangitis dari
anggota tutuh pembengkakan setempat dan kemerahan lengan dan tungkai
merupakan gejala yang khas dari serangan yang berulang- ulang.
Keadaan terlihat pada kondisi gejala klinis akut adalah berupa pandangan
kelenjar limfe (limfadenitis) atau saluran limfe (limfangitis) sedangkan untuk
pandangan yang terjadi pada kelenjar dan saluran limfe sekaligus disebut
adenomalimfangitis. Pada umumnya gejala klinis akut yang terjadi adalah
disertai dengan demam, sakit kepala, rasa lemah atau kelelahan dan dapat
pula disertai abses (bisul) yang kemudian pecah dan sembuh. Gejala untuk
cacing filaria spesies Wuchereria bancrofti biasanya akan ditemukan demam,
terutama apabila terjadi peradangan pada saluran limfe orkitis, epididimitis,
dan funikulitis.
c. Gejala Klinis Kronis (Filariasis dengan Penyumbatan)
Penyumbatan dapat terjadi akibat perubahan dinding dan proliferasi
endothel saluran lymphe karena proses peradangan (obliterative
endolymphangitis) juga karena fibrosis kelenjar lymphe dan jaringan ikat
sekitarnya akibat keradangan yang berulang-ulang atau dapat juga akibat efek
mekanis misalnya penyumbatan oleh cacing
dewasa pada lumen pembuluh lymphe.
Penyumbatan pada filariasis terjadinya perlahan-
lahan biasanya setelah terkena infeksi filaria
selama bertahun-tahun. Akibat penyumbatan
limfatik tersebut maka dapat terjadi pelebaran
lumen dan menurunnya elastisitas pembuluh lymphe, disebut lymp varix.
Dapat juga timbul kebocoran dinding pembuluh lymphe yang menyebabkan
cairan lymphe keluar dari lumen; hidrocele, chyluria. Hypretrofi jaringan
yang terkena proses yang menahun menyebabkan penebalan jaringan
sehingga bisa terjadi Elephanthiasis. Pembagian gejala kronis secara umum
dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Limfedema (elephantiasis)
Gejala kronis yang dialami penderita udem yang terjadi di beberapa
bagian tubuh. Edema terjadi akibat adanya penyumbatan pada filariasis yang
terjadi perlahan-lahan, biasanya setelah terkena infeksi dengan filarial secara
terus-menerus selama bertahun-tahun. Kelainan ini didahului oleh edema
menahun dan sering juga oleh serangan peradangan akut yang berulang-
ulang. Dalam stadium menahun reaksi reaksi sel dan sembab diganti oleh
hiperplasi fibroblast. Terhadap penyerapan dan pergantian parasit oleh
jaringan granulasi yang proliferative. Dibentuk varises saluran limfe yang
luas. Kadar protein yang tinggi didalam limfe
merangsang pembentukan jaringan ikat kulit dan
kolagen, dan sedikit demi sedikit setelah
bertahun-tahu. Bagian yang membesar menjadi
keras dan timbul elephantiasis menahun.
Elephanthiatis pada umumnya mengenai tungkai
dan alat kelamin dan menyebakan perubahan bentuk yang luas.
Hidrokel
Gejala klinis pada penderita ini terjadi adanya pelebaran kantung buah
skrotum yang berisi cairan limfe. Penderita yang mengalami gejala klinis
tersebut dapat dikatakan sebagai penentuan atau menjadi indikator penilaian
terhadap endemisitas penularan penyakit filariasis yang disebabkan oleh
cacing filaria dengan spesies Wuchereria bancrofti.
Kiluria
Gejala klinis yang dialami oleh penderita ini adalah cairan air seni atau
air kencing seperti susu. Cairan seperti susu ini disebabkan oleh karena
adanya kebocoran saluran limfe di daerah pelvic ginjal, sehingga cairan limfe
tersebut masuk ke dalam saluran kencing. Kasus kiluria ini ditemukan pada
daerah penyebaran atau penularan penyakit kaki gajah oleh cacing filaria
spesies Wuchereria bancrofti, namun kasus kiluria ini jarang ditemukan.

7. DIAGNOSIS CACING FILARIA (Wuchereria bancrofti)


Diagnosis filariasis hasilnya lebih tepat bila didasarkan pada anamnesis
yang berhubungan dengan vector di daerah emdemis dan di konfirmasi
dengan hasil pemeriksaan laboratorium.
a. Pemeriksaan darah
Pemeriksaaan dilakukan dengan pengambilan darah di malam hari pada
ujung jari manis atau jari trngah di bagian tepi. Sediaan darah tetes tebal
(tetesan darah yang diletakan pada objek glass) yang diperoleh dari
penderita, langsung diperiksa dengan mikroskop untuk melihat adanya
microfilaria yang masih bergerak aktif, sedangkan untuk menetapkan
spesies filarial dilakukan dengan membuat sediaan darah tetes tebal dan
hapus tipis (tetesan darah diratakan dengan metode apus darah) yang
diwarnai dengan larutan Giemsa atau Wright.
b. Diagnosis Parasitologi
1. Deteksi parasitologi: menemukan mikrofilaria di dalam darah, cairan
hidrokel atau cairan kiluria pada pemeriksaan sediaan darah tebal, teknik
konsentrasi Knott, membran filtrasi dan tes provokatif DEC. Pengambilan
darah dilakukan malam hari mengingat periodisitas mikrofilarianya
umumnya nokturna. Pada pemeriksa histopatologi, kadang-kadang
potongan cacing dewasa dapat dijumpai di saluran dan kelenjar limfe dari
jarngan yang dicurigai sebagai tumor.
2. Diferensiasi spesies dan stadium filaria : menggunakan pelacak DNA yang
spesies spesifik dan antibodi monoklonal untuk mengidentifikasi larva
filaria dalam cairan tubuh dan dalam tubuh nyamuk vektor sehingga dapat
membedakan antara larva filaria yang menginfeksi manusia dengan yang
menginfeksi hewan. Penggunaannya masih terbatas pada penelitian dan
survei.
c. Radiodiagnosis
1. Pemeriksaan dengan ultrasonografi ( USG ) pada skrotum dan kelenjar
getah bening ingunial pasien akan memberikan gambaran cacing yang
bergerak-gerak (filarial dance sign). Ini berguna terutama untuk evaluasi
hasil pengobatan.
2. Pemeriksaan limfosintigrafi dengan menggunakan dekstran atau albumin
yang ditandai dengan adanya zat radioaktif menunjukkan adanya
abnormalitas sistem limfatik sekalipun pada penderita yang asimptomatik
mikrofilaremia.
d. Diagnosis imunologi
Dengan teknik ELISA dan immunochromatographic test ( ICT ). Kedua
teknik ini pada dasarnya menggunakan antibodi monoklonal yang spesifik
untuk mendeteksi antigen W.bancrofti dalam sirkulasi. Hasil tes yang positif
menunjukkan adanya infeksi aktif walaupun mikofilaria tidak ditemukan
dalam darah. Pada stadium obstruktif, mikrofilaria sering tidak ditemukan
lagi di dalam darah, tetapi ada di dalam cairan hidrokel atau cairan kiluria.

8. PENCEGAHAN dan PENGOBATAN FILARIASIS

a. Pencegahan Filariasis
Pencegaahan penyakit Filariasis dapat dilakukan melalui dua strategi
utama, yaitu memutuskan rantai penularan dengan pengobatan massal di
daerah endemis serta upaya pencegahan dan membatasi kecacatan melalui
penatalaksanaan kasus klinis filariasis.
Pencegahan filariasis dapat dilakukan dengan memutuskan mata rantai
antara sumber penular dengan media tramsmisi. Beberapa hal yang dapat
dilakukan antara lain :
Penyemprotan residu di lingkungan dan dalam rumah
Berusaha menghindarkan diri dari gigitan nyamuk vector ( mengurangi
kontak dengan vector) misalnya dengan menggunakan kelambu bila akan
sewaktu tidur, menutup ventilasi rumah dengan kasa nyamuk,
menggunakan obat nyamuk semprot atau obat nyamuk bakar, mengoles
kulit dengan obat anti nyamuk.
dengan cara memberantas nyamuk
membersihkan tanaman air pada rawa-rawa yang merupakan tempat
perindukan nyamuk dengan cara menimbun, mengeringkan, mengalirkan
genangan air sebagai tempat perindukan nyamuk
membersihkan semak-semak disekitar rumah
b. Pengobatan Filariasis
Obat-obat Filarisida yang dapat dipakai antara lain :
1. Diethyl Carbamazin (Hetrazan)
DEC bersifat membunuh mikrofilaria dan juga cacing dewasa pada
pengobatan jangka panjang. Hingga saat ini, DEC merupakan satu-satunya
obat yang efektif, aman, dan relatif murah.
dosis yang dianjurkan adalah 6mg/kg berat badan/hari selama 12 hari.
Efek samping dari DEC ini adalah demam, menggigil, artralgia, sakit
kepala, mual hingga muntah untuk mengurangi efek samping (sakit
kepala,pusing, mausea, demam) pemberian obat dimulai dari dosis rendah,
kemudian ditingkatkan secara bertahap.
Dapat pula dilakukan pengobatan kombinasi dapat juga dengan dosis
tunggal DEC dan Albendazol 400mg, diberikan setiap tahun selama 5
tahun. Pengobatan kombinasi meningkatkan efek filarisida DEC. Yang
dapat diobati adalah stadium mikrofilaremia, stadium akut, limfedema,
kiluria, dan stadium dini elefantiasis.
2. Ivermektin
Ivermektin adalah antibiotik semisintetik dari golongan makrolid yang
mempunyai aktivitas luas terhadap nematode dan ektoparasit. Obat ini
hanya membunuh mikrofilaria. Efek samping yang ditimbulkan lebih
ringan dibanding DEC.
3. Preparat Arsen ; Mel W, Mel B, untuk cacing dewasanya.
4. Corticosteroid ; untuk mengurangi efek allergie
5. Antibiotika: dapat dipakai pada limfangitis rekurens yang disebabkan oleh
infeksi sekunder.
6. Operasi
PENUTUP

Wuchereria bancrofti (filaria Bancrofti / Bancrofts Filaria) merupakan salah

satu cacing parasit yang hidup dalam tubuh manusis termasuk golongan nematoda

jaringan dan menyebabkan penyakit Filariasis bancrofti, Wuchereriasis,

Elephantiasis. Memiliki 2 hospes yakni hospes definitif dalam tubuh manusia dan

hospes perantara melalui nyamuk (Culex, Aedes, Anopheles). Di dalam tubuh

manusia cacing dewasa (makrofilaria) hidup dalam saluran limfe sedangkan larva

cacing (mikrofilaria) hidup dalam saluran pembuluh darah manusia dan dapat

bertahan hingga 5 tahun.

Keberadaan Wuchereria bancrofti di dalam tubuh menyebabkan berbagai

efek klinis yang meliputi tahap mikrofilaremia, gejala klinis akut, dan gejala klinis

kronis. Diagnosis dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan darah,

diagnosis paarasitologi, radiodiagnosis, dan diagnosis imunologi. Pengobatan lini

pertama yang digunakan adalah dengan Diethyl Carbamazin (DEC).