Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG

Mata adalah organ penglihatan yang mendeteksi cahaya dan


merupakan sensor pada tubuh manusia yang bermanfaat untuk
membedakan siang dan malam, hujan dan tidak hujan dan sebagainya.
Seringkali seiring dengan perkembangan jaman, fungsi sensor ini
khususnya pada manusia telah banyak berubah.Dewasa ini banyak orang
yang telah memanfaatkan mata sebagai alat untuk membaca atau melihat.
Dengan mata orang dapat menyerap informasi yang ada dihadapannya,
diatasnya, dibelakangnya, dan di tempat lain. Mata yang lebih kompleks
dipergunakan untuk memberikan pengertian visual.

Sistem lakrimalis mrncakup struktur-struktur yang terlibat dalam


produksi dan drainase air mata. Komponen sekresi terdiri dari ats kelenjar
yang menghasilkan berbagai unsur pembentuk cairan mata,yang
disebarkan di atas permukaan mata oleh kedipan mata. Kanalikuli, saccus
lacrimalis,dan ductus nasolacrimalis merupakan komponen ekskresi .
sistem ini yang mengalirkan sekret kedalam hidung. Kelainan pada
aparatus lakrimalis bisa dikarenakan sistem sekresinya dan
ekskresinya.Pada sistem aparatus lakrimalis ini sangat berguna pada mata
karena aparatus juga menghasilkan air mata yang dimana berguna untuk
kesehatan mata.
BAB II
ISI

1. Anatomi dan Fisiologi Sistem Lakrimalis


Apparatus Lakrimalis
Sistem lakrimalis mencakup struktur-struktur yang terlibat dalam produksi
dan drainase air mata, apparatus lakrimalis terdiri dari 2 bagian (Vaughan, 2007):
1) Komponen sekresi, yang terdiri atas kelenjar yang menghasilkan berbagai
unsur pembentuk cairan air mata, yang disebarkan di atas permukaan
mata oleh kedipan mata.
2) Komponen ekskresi,yang mengalirkan sekret ke dalam hidung, terdiri dari
kanalikuli, sakus lakrimalis, dan duktus nasolakrimalis.

Gambar 1: Apparatus Lakrimalis (Sumber: Netters Atlas of Human Anatomy)


Gambar 2: Apparatus Lakrimalis (Sumber: Netters Atlas of Human Anatomy)

Sistem Sekresi Air Mata


1. Kelenjar Lakrimalis
Volume terbesarair mata dihasilkan oleh kelenjar lakrimal yang terletak di
fossa glandulae lakrimalis di kuadran temporal atas orbita.Duktus kelenjar ini
mempunyai panjang berkisar 6-12 mm, berjalan pendek menyamping di bawah
konjungtiva (Vaughan, 2007).
Kelenjar yang berbentuk kenari ini dibagi oleh kornu lateral aponeurosis
levator menjadi (Khurana AK, et al, 2007):
a) Lobus orbita yang berbentuk kenari dan lebih besar, terletak di dalam
fossa glandulae lakrimalis di segmen temporal atas anterior orbita yang
dipisahkan dari bagian palpebra oleh kornu lateralis muskulus levator
palpebrae. Untuk mencapai bagian kelenjar ini dengan pembedahan, harus
diiris kulit, muskulus orbikularis okuli, dan septum orbita.
b) Lobus palpebra yang lebih muara ke forniks temporal superior. Bagian
palpebra yang lebih kecil terletak tepat di atas segmen temporal forniks
konjungtiva superior. Duktus sekretorius lakrimal, yang bermuara pada
sekitar 10 lubang kecil, yang menghubungkan bagian orbita dan bagian
palpebra kelenjar lakrimal dengan forniks konjungtiva superior.
Pengangkatan bagian palpebra kelenjar akan memutus semua saluran
penghubung dan mencegah seluruh kelenjar bersekresi. Lobus palpebra
kadang-kadang dapat dilihat dengan membalikkan palpebra superior.
Persarafan kelenjar-utama datang dari nucleus lakrimalis di pons
melaluinervus intermedius dan menempuh suatu jaras rumitcabang maxillaris nervus
trigeminus.Denervasi adalah konsekuensi yang sering terjadi pada
neuromaakustik dan tumor-tumor lain di sudut cerebellopontin(Khurana AK, et
al, 2007).

2. Kelenjar Lakrimal Aksesorius


Meskipun hanya sepersepuluh dari massakelenjar utama, kelenjar
lakrimal aksesorius mempunyai peranan penting. Struktur kelenjar Krause dan
Wolfring identik dengan kelenjar utama,tetapi tidak memiliki ductulus. Kelenjar
- kelenjar ini terletak di dalam konjungtiva, terutama di forniks superior Sel-sel
goblet uniseluler, yang juga tersebar di konjungtiva, mensekresi glikoprotein dalam
bentuk musin.Modifikasi kelenjar sebasea Meibom dan Zeis di tepian palpebra
memberi lipid pada air mata.Kelenjar Moll adalah modifikasi kelenjar keringat
yang juga ikut membentuk film air mata(Khurana AK, et al, 2007).
Sekresi kelenjar lakrimal dipicu oleh emosi atau iritasi fisik dan
menyebabkan air mata mengalir berlimpah melewati tepian palpebra
(epifora).Kelenjar lakrimal aksesorius dikenal sebagai pensekresi dasar".Sekret
yang dihasilkan normalnya cukup untuk memelihara kesehatan kornea.Hilangnya
sel goblet berakibat mengeringnya kornea meskipun banyak air mata dari kelenjar
lakrimal (Vaughan, 2007).

Sistem Ekskresi Air Mata


Sistem ekskresi terdiri atas punctum, kanalikuli, sakuslakrimalis, dan
duktus nasolakrimalis (Vaughan, 2007).
1. Punctum Lakrimalis
Ukuran punctum lakrimalis dengan diameter 0,3 mm terletak di sebelah
medial bagian superior dan inferior dari kelopak mata. Punctum relatif
avaskular dari jaringan sekitarnya, selain itu warna pucat dari punctum ini
sangat membantu jika ditemukan adanya sumbatan.Punctum lakrimalis
biasanya tidak terlihat kecuali jika kelopak mata dibalik sedikit. Jarak
superior dan inferior punctum 0,5 mm, sedangkan jarak masing-masing
ke kantus medial kira-kira 6,5 mm dan 6,0 mm. Air mata dari kantus
medial masuk ke punctum lalu masuk ke canalis lakrimalis.
2. Kanalikuli Lakrimalis
Lacrimal ducts (lacrimal canals), berawal pada orifisium yang sangat
kecil, bernama puncta lacrimalia, pada puncak papilla lacrimales, terlihat
pada tepi ekstremitas lateral lakrimalis.Duktus superior, yang lebih kecil
dan lebih pendek, awalnya berjalan naik, dan kemudian berbelok dengan
sudut yang tajam, dan berjalan ke arah medial dan ke bawah menuju
lacrimal sac.Duktus inferior awalnya berjalan turun, dan kemudian
hampir horizontal menuju lacrimal sac.Pada sudutnya, duktus mengalami
dilatasi dan disebut ampulla.Pada setiap lacrimal papilla serat otot
tersusun melingkar dan membentuk sejenis sfingter.
3. Sakus Lakrimalis (Kantung Lakrimal)
Merupakan ujung bagian atas yang dilatasi dari duktus nasolakrimal, dan
terletak dalam cekungan (groove) dalam yang dibentuk oleh tulang
lakrimal dan prosesus frontalis maksila.Bentuk sakus lakrimalis oval dan
ukuran panjangnya sekitar 12-15 mm; bagian ujungnya membulat, bagian
bawahnya berlanjut menjadi duktus nasolakrimal.
4. Duktus Naso Lakrimalis
Kanal membranosa, panjangnya sekitar 18 mm, yang memanjang dari
bagian bawah lacrimal sac menuju meatus inferior hidung, dimana saluran
ini berakhir dengan suatu orifisium, dengan katup yang tidak sempurna,
plica lakrimalis (Hasneri), dibentuk oleh lipatan membran mukosa.
Duktus nasolakrimal terdapat pada kanal osseus, yang terbentuk dari
maksila, tulang lakrimal, dan konka nasal inferior.
Setiap kali berkedip, palpebra menutup seperti ritsleting, mulai dari
lateral, menyebarkan air mata secara merata di atas kornea, dan
menyalurkannya ke dalam sistem ekskresi pada aspek medial palpebra.Pada
kondisi normal, air mata dihasilkan dengan kecepatan yang kira-kira sesuai dengan
kecepatan penguapannya.Dengan demikian, hanya sedikit yang sampai ke
sistem ekskresi. Bila sudah memenuhi sakus konjungtivalis, air mata akan
memasuki puncta sebagian karena sedotan kapiler. Dengan menutup mata, bagian
khusus orbicularis pratarsal yang mengelilingi ampula akan mengencang untuk
mencegahnya keluar. Bersamaan dengan itu, palpebra ditarik ke arah crista
lakrimalis posterior, dan traksi fascia yang mengelilingi sakuslakrimalis berakibat
memendeknya kanalikulus dan menimbulkan tekanan negatif di dalam sakus. Kerja
pompa dinamik ini menarik air mata ke dalarn sakus, vang kemudian berjalan
melalui duktus nasolakrimalis karena pengaruh gaya berat dan elastisitas jaringan,
ke dalam meatus inferior hidung. Lipatan-lipatan serupa katup milik epitel pelapis
sakus cenderung menghambat aliran balik udara dan air mata.Yang paling
berkembang di antara lipatan ini adalah katup Hasner di ujung distal duktus
nasolakrimalis.Struktur ini penting karena bila tidak berlubang pada bayi, menjadi
penyebab obstruksi kongenital dan dakriosistitis menahun (Vaughan, 2007).

Gambar 3: Anatomi Sistem Drainase Lakrimal (Sumber: Kanski Clinical


Ophthalmology)

Gambar 4: Fisiologi Sistem Drainase Lakrimal (Sumber: Kanski Clinical


Ophthalmology)

Air Mata
Air mata membentuk lapisan tipis setebal 7-10 um Yang menutupi epitel
kornea dan konjungtiva. Fungsi lapisan ultra-tipis ini adalah (Vaughan, 2007):
1) Membuat kornea menjadi permukaan optik yang licin dengan
meniadakan ketidakteraturan minimal di permukaan epitel
2) Membasahi dan melindungi permukaan epitel kornea dan konjungtiva
yang lembut
3) Menghambat pertumbuhan mikroorganisme dengan pembilasan mekanik
dan efek antimikroba
4) Menyediakan kornea berbagai substansi nutrien yang diperlukan.

Lapisan-Lapisan Film Air Mata


Film air mata terdiri atas tiga lapisan (Vaughan, 2007):
1. Lapisan superfisial adalah film lipid monomolekular yang berasal dari kelenjar
meibom. Diduga lapisan ini menghambat penguapan dan tnembentuk sawar
kedap-air saat palpebra ditutup.
2. Lapisan akueosa tengah yang dihasilkan oleh kelenjar lakrimal mayor clan
minor; mengandung substansi larut-air (garam dan protein).
3. Lapisan musinosa dalam terdiri atas glikoprotein dan melapisi sel-sel epitel
kornea dan konjungtiva. Membran sel epitel terdiri atas lipoprotein dan
karenanya relatif hidrofobik.Permukaan yang demikian tidak dapat dibasahi
dengan larutan berair saja.Musin diadsorpsi sebagian pada membran sel epitel
kornea dan oleh mikrovili ditambatkan pada sel-sel epitel permukaan. Ini
menghasilkan permukaan hidrofilik baru bagi lapisan akuosa untuk menyebar
secara merata ke bagian yang dibasahinya dengan cara menurunkan tegangan
permukaan.

Gambar 5: Tiga Lapisan Film Air Mata yang Melapisi Lapisan Epitel Superfisial
di Kornea (Sumber: Vaughans General Ophthalmology)
Komposisi Air Mata
Volume air mata normal diperkirakan 7 2 L di setiap mata. Albumin
mencakup 60% dari protein total air rnata; sisanya globulin dan lisozim yang
berjumlah sama banyak. Terdapat imunoglohulin IgA, IgG, dan IgE.Yang paling
banyak adalah IgA, yang berbeda dari IgA serum karena bukan berasal dari
transudat serum saja; IgA juga di produksi sel-sel plasma di dalam kelenjar
lakrimal.Pada keadaan alergi tertentu, seperti konjungtivitis vernal, kosentrasi IgE
dalam cairan air mata meningkat. Lisozim air mata menvusun 21-25% protein total,
bekerja secara sinergis dengan gamma globulin dan faktor anti bakteri non-lisozim
lain, membentuk mekanisme pertahananpenting terhadap infeksi. Enzim air mata
lain juga bisa berperan dalam diagnosis berbagai kondisi klinis tertentu, misalnya,
hexoseaminidase untuk diagnosis penyakit Tay-Sachs (Vaughan, 2007).
K+, Na+, dan CI- terdapat dalam kadar yang lebih tinggi di air mata daripada
di plasma. Air mata juga mengandung sedikit glukosa (5 mg/dL) dan urea
(0,04mg/dL). Perubahan kadar dalam darah sebanding dengan perubahan kadar
glukosa dan urea dalam air mata. pH rata-rata air mata adalah 7,35, meskipun ada
variasi normal yang besar (5,20-8,35). Dalam keadaan normal, air mata
bersifat isotonik. Osmolalitas film air mata bervariasi dari 295sampai 309 mosm/L
(Vaughan, 2007).

2. Kelainan pada Sistem Lakrimal

1. DAKRIOSISTITIS

Definisi

Dakriosistitis adalah peradangan pada sakus lakrimalis akibat adanya


obstruksi pada duktus nasolakrimalis. Obstruksi pada anak-anak biasanya akibat
tidak terbukanya membran nasolakrimal, sedangkan pada orang dewasa akibat
adanya penekanan pada salurannya, misal adanya polip hidung.1,2

Epidemiologi
Penyakit ini sering ditemukan pada anak-anak atau orang dewasa di atas
40 tahun, terutama perempuan dengan puncak insidensi pada usia 60 hingga 70
tahun.6 Dakriosistitis pada bayi yang baru lahir jarang terjadi, hanya sekitar 1%
dari jumlah kelahiran yang ada dan jumlahnya hampir sama antara laki-laki dan
perempuan.6 Jarang ditemukan pada orang dewasa usia pertengahan kecuali bila
didahului dengan infeksi jamur.8

Klasifikasi
Berdasarkan perjalanan penyakitnya, dakriosistitis dibedakan menjadi 3
(tiga) jenis 6, yaitu:
a. Akut
Pasien dapat menunjukkan morbiditasnya yang berat namun jarang
menimbulkan kematian. Morbiditas yang terjadi berhubungan dengan abses pada
sakus lakrimalis dan penyebaran infeksinya.

b. Kronis
Morbiditas utamanya berhubungan dengan lakrimasi kronis yang berlebihan
dan terjadinya infeksi dan peradangan pada konjungtiva.
c. Kongenital
Merupakan penyakit yang sangat serius sebab morbiditas dan mortalitasnya
juga sangat tinggi. Jika tidak ditangani secara adekuat, dapat menimbulkan
selulitis orbita, abses otak, meningitis, sepsis, hingga kematian. Dakriosistitis
kongenital dapat berhubungan dengan amniotocele, di mana pada kasus yang
berat dapat menyebabkan obstruksi jalan napas. Dakriosistitis kongenital yang
indolen sangat sulit didiagnosis dan biasanya hanya ditandai dengan lakrimasi
kronis, ambliopia, dan kegagalan perkembangan.
Gambar 2. Dakriosistitis Akut
Sumber: http://www.emedicine.com/

Gambar 3. Dakriosistitis Kongenital


Sumber: http://www.emedicine.com/

Faktor Predisposisi Dan Etiologi


Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya obstruksi duktus
nasolakrimalis 12:
Terdapat benda yang menutupi lumen duktus, seperti pengendapan kalsium,
atau koloni jamur yang mengelilingi suatu korpus alienum.
Terjadi striktur atau kongesti pada dinding duktus.
Penekanan dari luar oleh karena terjadi fraktur atau adanya tumor pada sinus
maksilaris.
Obstruksi akibat adanya deviasi septum atau polip.
Dakriosistitis dapat disebabkan oleh bakteri Gram positif maupun Gram
negatif. Bakteri Gram positif Staphylococcus aureus merupakan penyebab utama
terjadinya infeksi pada dakriosistitis akut, sedangkan Coagulase Negative-
Staphylococcus merupakan penyebab utama terjadinya infeksi pada dakriosistitis
kronis. Selain itu, dari golongan bakteri Gram negatif, Pseudomonas sp. juga
merupakan penyebab terbanyak terjadinya dakriosistitis akut dan kronis.4
Literatur lain menyebutkan bahwa dakriosistitis akut pada anak-anak
sering disebabkan oleh Haemophylus influenzae, sedangkan pada orang dewasa
sering disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan Streptococcus -haemolyticus.
Pada literatur ini, juga disebutkan bahwa dakriosistitis kronis sering disebabkan
oleh Streptococcus pneumoniae.2

Patofisiologi
Awal terjadinya peradangan pada sakus lakrimalis adalah adanya obstruksi
pada duktus nasolakrimalis. Obstruksi duktus nasolakrimalis pada anak-anak
biasanya akibat tidak terbukanya membran nasolakrimal, sedangkan pada orang
dewasa akibat adanya penekanan pada salurannya, misal adanya polip hidung.8
Obstruksi pada duktus nasolakrimalis ini dapat menimbulkan penumpukan
air mata, debris epitel, dan cairan mukus sakus lakrimalis yang merupakan media
pertumbuhan yang baik untuk pertumbuhan bakteri.2
Ada 3 tahapan terbentuknya sekret pada dakriosistitis. Hal ini dapat
diketahui dengan melakukan pemijatan pada sakus lakrimalis 12. Tahapan-tahapan
tersebut antara lain:
Tahap obstruksi
Pada tahap ini, baru saja terjadi obstruksi pada sakus lakrimalis, sehingga
yang keluar hanyalah air mata yang berlebihan.
Tahap Infeksi
Pada tahap ini, yang keluar adalah cairan yang bersifat mukus,
mukopurulen, atau purulent tergantung pada organisme penyebabnya.
Tahap Sikatrik
Pada tahap ini sudah tidak ada regurgitasi air mata maupun pus lagi. Hal
ini dikarenakan sekret yang terbentuk tertahan di dalam sakus sehingga
membentuk suatu kista.
Gejala Klinis
Gejala umum pada penyakit ini adalah keluarnya air mata dan kotoran.
Pada dakriosistitis akut, pasien akan mengeluh nyeri di daerah kantus medial
(epifora) yang menyebar ke daerah dahi, orbita sebelah dalam dan gigi bagian
depan. Sakus lakrimalis akan terlihat edema, lunak dan hiperemi yang menyebar
sampai ke kelopak mata dan pasien juga mengalami demam. Jika sakus lakrimalis
ditekan, maka yang keluar adalah sekret mukopurulen.2,8
Pada dakriosistitis kronis gejala klinis yang dominan adalah lakrimasi
yang berlebihan terutama bila terkena angin. Dapat disertai tanda-tanda inflamasi
yang ringan, namun jarang disertai nyeri. Bila kantung air mata ditekan akan
keluar sekret yang mukoid dengan pus di daerah punctum lakrimal dan palpebra
yang melekat satu dengan lainnya.2,8
Pada dakriosistitis kongenital biasanya ibu pasien akan mengeluh mata
pasien merah pada satu sisi, bengkak pada daerah pangkal hidung dan keluar air
mata diikuti dengan keluarnya nanah terus-menerus. Bila bagian yang bengkak
tersebut ditekan pasien akan merasa kesakitan (epifora).13

Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis dakriosistitis dibutuhkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis dapat dilakukan
dengan cara autoanamnesis dan heteroanamnesis. Setelah itu, dilakukan
pemeriksaan fisik. Jika, dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik masih belum
bisa dipastikan penyakitnya, maka boleh dilakukan pemeriksaan penunjang.
Beberapa pemeriksaan fisik yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui
ada tidaknya obstruksi serta letak dan penyebab obstruksi. Pemeriksaan fisik yang
digunakan untuk memeriksa ada tidaknya obstruksi pada duktus nasolakrimalis
adalah dye dissapearence test, fluorescein clearance test dan John's dye test.
Ketiga pemeriksaan ini menggunakan zat warna fluorescein 2% sebagai indikator.
Sedangkan untuk memeriksa letak obstruksinya dapat digunakan probing test dan
anel test. 6,7,12
Dye dissapearance test (DDT) dilakukan dengan meneteskan zat warna
fluorescein 2% pada kedua mata, masing-masing 1 tetes. Kemudian permukaan
kedua mata dilihat dengan slit lamp. Jika ada obstruksi pada salah satu mata akan
memperlihatkan gambaran seperti di bawah ini.7

Gambar 4. Terdapat obstruksi pada duktus nasolakrimalis kiri


Sumber: http://www.djo.harvard.edu

Fluorescein clearance testdilakukan untuk melihat fungsi saluran ekskresi


lakrimal. Uji ini dilakukan dengan meneteskan zat warna fluorescein 2% pada
mata yang dicurigai mengalami obstruksi pada duktus nasolakrimalisnya. Setelah
itu pasien diminta berkedip beberapa kali dan pada akhir menit ke-6 pasien
diminta untuk beringus (bersin) dan menyekanya dengan tissue. Jika pada tissue
didapati zat warna, berarti duktus nasolakrimalis tidak mengalami obstruksi.7,12
Jones dye test juga dilakukan untuk melihat kelainan fungsi saluran
ekskresi lakrimal. Uji ini terbagi menjadi dua yaitu Jones Test I dan Jones Test II.
Pada Jones Test I, mata pasien yang dicurigai mengalami obstruksi pada duktus
nasolakrimalisnya ditetesi zat warna fluorescein 2% sebanyak 1-2 tetes.
Kemudian kapas yang sudah ditetesi pantokain dimasukkan ke meatus nasal
inferior dan ditunggu selama 3 menit. Jika kapas yang dikeluarkan berwarna hijau
berarti tidak ada obstruksi pada duktus nasolakrimalisnya. Pada Jones Test II,
caranya hampir sama dengan Jones test I, akan tetapi jika pada menit ke-5 tidak
didapatkan kapas dengan bercak berwarna hijau maka dilakukan irigasi pada
sakus lakrimalisnya. Bila setelah 2 menit didapatkan zat warna hijau pada kapas,
maka dapat dipastikan fungsi sistem lakrimalnya dalam keadaan baik. Bila lebih
dari 2 menit atau bahkan tidak ada zat warna hijau pada kapas sama sekali setelah
dilakukan irigasi, maka dapat dikatakan bahwa fungsi sistem lakrimalnya sedang
terganggu. 6,7,12
Gambar 5. Irigasi mata setelah ditetesi fluorescein pada Jones dye test II
Sumber: http://drlaurasanders.com/topics/102-Evaluation/

Anel test merupakan suatu pemeriksaan untuk menilai fungsi ekskresi air
mata ke dalam rongga hidung. Tes ini dikatakan positif bila ada reaksi menelan.
Hal ini menunjukkan bahwa fungsi sistem ekskresi lakrimal normal. Pemeriksaan
lainnya adalah probing test. Probing test bertujuan untuk menentukan letak
obstruksi pada saluran ekskresi air mata dengan cara memasukkan sonde ke dalam
saluran air mata. Pada tes ini, punctum lakrimal dilebarkan dengan dilator,
kemudian probe dimasukkan ke dalam sackus lakrimal. Jika probe yang bisa
masuk panjangnya lebi dari 8 mm berarti kanalis dalam keadaan normal, tapi jika
yang masuk kurang 8 mm berarti ada obstruksi.7,12

Gambar 6. Anel Test


Sumber: Manual for Eye Examination and Diagnosis 7th Edition

Pemeriksaan penunjang juga memiliki peranan penting dalan penegakkan


diagnosis dakriosistitis. CT scan sangat berguna untuk mencari tahu penyebab
obstruksi pada dakriosistitis terutama akibat adanya suatu massa atau keganasan.
Dacryocystography (DCG) dan dacryoscintigraphy sangat berguna untuk
mendeteksi adanya kelainan anatomi pada sistem drainase lakrimal.6

Gambar 7. Probing Test


Sumber: Manual for Eye Examination and
Diagnosis 7th Edition

Diagnosis Banding3
a. Selulitis Orbita
Selulitis orbita merupakan
peradangan supuratif jaringan ikat longgar intraorbita di belakang septum orbita.
Selulitis orbita akan memberikan gejala demam, mata merah, kelopak sangat
edema dan kemotik, mata proptosis, atau eksoftalmus diplopia, sakit terutama bila
digerakkan, dan tajam penglihatan menurun bila terjadi penyakit neuritis
retrobulbar. Pada retina terlihat tanda stasis pembuluh vena dengan edema papil.3

b.Hordeolum
Hordeolum merupakan peradangan supuratif kelenjar kelopak mata. Dikenal
bentuk hordeolum internum dan eksternum. Horedeolum eksternum merupakan
infeksi pada kelenjar Zeiss atau Moll. Hordeolum internum merupakan infeksi
kelenjar Meibom yang terletak di dalam tarsus. Gejalanya berupa kelopak yang
bengkak dengan rasa sakit dan mengganjal, merah dan nyeri bila ditekan.
Hordeolum eksternum atau radang kelenjar Zeis atau Moll akan menunjukkan
penonjolan terutama ke daerah kulit kelopak. 3

Terapi
Pengobatan dakriosistitis pada anak (neonatus) dapat dilakukan dengan
masase kantong air mata ke arah pangkal hidung. Dapat juga diberikan antibiotik
amoxicillin/clavulanate atau cefaclor 20-40 mg/kgBB/hari dibagi dalam tiga dosis
dan dapat pula diberikan antibiotik topikal dalam bentuk tetes (moxifloxacin
0,5% atau azithromycin 1%) 17
atau menggunakan sulfonamid 4-5 kali
sehari 8.
Pada orang dewasa, dakriosistitis akut dapat diterapi dengan melakukan
kompres hangat pada daerah sakus yang terkena dalam frekuensi yang cukup
sering 8,17
. Amoxicillin dan chepalosporine(cephalexin 500mg p.o.
tiap 6 jam)juga merupakan pilihan antibiotik sistemik yang baik
untuk orang dewasa . Untuk mengatasi nyeri dan radang, dapat
17

diberikan analgesik oral (acetaminofen atau ibuprofen), bila perlu


dilakukan perawatan di rumah sakit dengan pemberian antibiotik
secara intravena, seperti cefazoline tiap 8 jam 17
. Bila terjadi
abses dapat dilakukan insisi dan drainase 8. Dakriosistitis kronis
pada orang dewasa dapat diterapi dengan cara melakukan irigasi
dengan antibiotik. Sumbatan duktus nasolakrimal dapat
diperbaiki dengan cara pembedahan jika sudah tidak radang lagi.
Penatalaksaan dakriosistitis dengan pembedahan
bertujuan untuk mengurangi angka rekurensi. Prosedur
pembedahan yang sering dilakukan pada dakriosistitis adalah
dacryocystorhinostomy (DCR). Di mana pada DCR ini dibuat
suatu hubungan langsung antara sistem drainase lakrimal
dengan cavum nasal dengan cara melakukan bypass pada
kantung air mata. Dulu, DCR merupakan prosedur bedah
eksternal dengan pendekatan melalui kulit di dekat pangkal
hidung. Saat ini, banyak dokter telah menggunakan teknik
endonasal dengan menggunakan scalpel bergagang panjang
atau laser.17
Gambar 8. Teknik Dakriosistorinostomi Eksternal
Sumber: Orbit, Eyelid, and Lacrimal System, American Academy of
Ophtalmology

Dakriosistorinostomi internal memiliki beberapa keuntungan jika


dibandingkan dengan dakriosistorinostomi eksternal. Adapun keuntungannya
yaitu, (1) trauma minimal dan tidak ada luka di daerah wajah karena operasi
dilakukan tanpa insisi kulit dan eksisi tulang, (2) lebih sedikit gangguan pada
fungsi pompa lakrimal, karena operasi merestorasi pasase air mata fisiologis tanpa
membuat sistem drainase bypass, dan (3) lebih sederhana, mudah, dan cepat (rata-
rata hanya 12,5 menit). 19
Kontraindikasi pelaksanaan DCR ada 2 macam, yaitu kontraindikasi
absolut dan kontraindikasi relatif 12
. Kontraindikasi relatif dilakukannya
DCR adalah usia yang ekstrim (bayi atau orang tua di atas 70
tahun) dan adanya mucocele atau fistula lakrimalis . Beberapa
keadaan yang menjadi kontraindikasi absolut antara lain:

Kelainan pada kantong air mata :


- Keganasan pada kantong air mata.
- Dakriosistitis spesifik, seperti TB dan sifilis
Kelainan pada hidung :
- Keganasan pada hidung
- Rhinitis spesifik, seperti rhinoskleroma
- Rhinitis atopik
Kelainan pada tulang hidung, seperti periostitis

Gambar 9. Teknik Dakriosistorinostomi Internal


Sumber: Orbit, Eyelid, and Lacrimal System, American Academy of
Ophtalmology

2.11 Komplikasi
Dakriosistitis yang tidak diobati dapat menyebabkan pecahnya kantong air
mata sehingga membentuk fistel. Bisa juga terkadi abses kelopak mata, ulkus,
bahkan selulitis orbita.8
Komplikasi juga bisa muncul setelah dilakukannya DCR. Komplikasi
tersebut di antaranya adalah perdarahan pascaoperasi, nyeri transien pada segmen
superior os.maxilla, hematoma subkutaneus periorbita, infeksi dan sikatrik
pascaoperasi yang tampak jelas.19

2.12 Prognosis
Dakriosistitis sangat sensitif terhadap antibiotika namun masih berpotensi
terjadi kekambuhan jika obstruksi duktus nasolakrimalis tidak ditangani secara
tepat, sehingga prognosisnya adalah dubia ad malam. Akan tetapi, jika dilakukan
pembedahan baik itu dengan dakriosistorinostomi eksternal atau
dakriosistorinostomi internal, kekambuhan sangat jarang terjadi sehingga
prognosisnya dubia ad bonam. 15
2. DAKRIOADENITIS

DEFINISI
Peradangan kelenjar lakrimal merupakan penyakit yang jarang ditemukan dan
dapat bersifat unilateral atau bilateral
Dakrioadenitis ialah suatu proses inflamasi pada kelenjar air mata pars sekretorik.
Dibagi menjadi dua yaitu dakrioadenitis akut dan kronik, keduanya dapat
disebabkan oleh suatu proses infeksi ataupun dari penyakit sistemik lainnya.
PATOFISIOLOGI
Patofisiologinya masih belum jelas, namun beberapa ahli mengemukakan bahwa
proses infeksinya dapat terjadi melalui penyebaran kuman yang berawal di
konjungtiva yang menuju ke ductus lakrimalis dan menuju ke kelenjar
lakrimalis. Beberapa penyebab utama dari proses infeksi terbagi menjadi 3 ,
yaitu :
1. Viral (penyebab utama)
Mumps (penyebab tersering, terutama pada anak-anak), Epstein-Barr virus,
Herpes zoster, Mononucleosis, Cytomegalovirus, Echoviruses,
Coxsackievirus A
Pada anak dapat terlihat sebagai komplikasi dari kelenjar air liur, campah,
influenza.
2. Bacterial
Staphylococcus aureus and Streptococcus, Neisseria gonorrhoeae, Treponema
pallidum, Chlamydia trachomatis, Mycobacterium leprae, Mycobacterium
tuberculosis, Borrelia burgdorferi.
Dapat terjadi juga akibat infeksi retrograd konjungtivitis. Trauma tembus
dapat menimbulkan reakso radang pada kelenjar lakrimal ini.
3. Fungal (jarang)
Histoplasmosis, Blastomycosis, aktinomises, nokardiosissporotrikosis
4. Sarkoid dan idiopati
Pada penyakit sistemik yang memungkinkan terjadinya dakrioadenitis adalah :
1.Sarcoidosis
2.Graves disease
3.Sjogren syndrome
4.Orbital inflammatory syndrome
5.Benign lymphoepithelial lesion
I. DAKRIOADENITIS AKUT
Pada dakrioadenitis akut sering ditemukan pembesaran kelenjar air mata di dalam
palpebra superior , hal ini dapat ditemukan apabila kelopak mata atas dieversi ,
maka akan kelihatan tonjolan dari kelenjar air mata yang mengalami proses
inflamasi .
Gejala Klinis :
Pada perabaan karena ini merupakan suatu proses yang akut maka biasanya akan
ditemukan skit di daerah glandula lakrimal yaitu di bagian depan temporall atas
rongga orbita disertai dengan kelopak ata yang bengkak, konjungtiva kemotik
dengan belek. Pada infeksi akan terlihat bila mata bergerak akan memberikan
sakit dengan pembesaran kelenjar preaurikel.
Bila kelopak mata dibalik tampak pembengkakan berwarna merah
Diagnosis Banding :
1. Hordeolum internum biasanya lebih kecil dan melingkar
2. Abses kelopak mata terdapat fluktuasi
3. Selulitis orbita biasanya berkaitan dengan penurunan pergerakan mata.
Dapat dibedakan dengan melakukan biopsy kelenjar lakrimal

II. DAKRIOADENITIS KRONIK


Pada kronis darkrioadenitis gejala klinisnya lebih baik daripada yang akut. Gejala
hamper sama dengan fase akut hanya pada fase ini tidak didapatkan nyeri.
Umumnya tidak ditemukan nyeri , ada pembesaran kelenjar namun mobil,
tanda-tanda ocular minimal, ptosis bisa ditemukan, dapat ditemukan sindroma
mata kering .
Diagnosis bandingnya :
1. Periostitis dari kelopak mata atas sangat jarang terjadi
2. Lipodermoid tidak ada tanda-tanda inflamasi

Keterangan gambar : Tampak eritema dan odema pada kedua mata

Keterangan gambar : Tampak kel. Lakrimalis yang odema pada eversi

PENGOBATAN
Biasanya dimulai dengan kompres hanagat, antibiotic sistemik dan bila terlihat
abses maka dilakukan insisi.Bila disebabkan oleh radang menahun maka
diberikan pengobatan yang sesuai.
PENYULIT
Dakrioadenitis akut dapat menyebabkan fistula pada kelenjar lakrimal.

3. OBSTRUKSI DUKTUS NASOLAKRIMAL


Definisi
Obstruksi duktus nasolakrimalis adalah penyumbatan duktus
nasolakrimalis (saluran yang mengalirkan air mata dari sakus lakrimalis ke
hidung).
Duktus nasolakrimalis termasuk dalam system lakrimalis sebagai
komponen dari system ekskresi / drainase air mata.

Etiologi
Dalam keadaan normal, air mata dari permukaan mata dialirkan ke
dalam hidung melalui duktus nasolakrimalis. Jika saluran ini tersumbat, air
mata akan menumpuk dan mengalir secara berlebihan ke pipi. Penyumbatan
bisa bersifat parsial (sebagian) atau total.
Penyumbatan duktus nasolakrimalis (dakriostenosis) bisa terjadi akibat:
1. Gangguan perkembangan sistem nasolakrimalis pada saat lahir (ODNLK)
2. Infeksi hidung menahun
3. Infeksi mata yang berat atau berulang
4. Patah tulang (fraktur) hidung atau wajah
5. Tumor
Obstruksi duktus nasolakrimal congenital (ODNLK) merupakan
gangguan system lakrimal yang paling lazim, terjadi pada sampai 5% bayi baru
lahir.Biasanya disebabkan kanalisasi yang tidak lengkap duktus nasolakrimalis
dengan membrane sisa pada ujung bawah duktus nasolakrimalis, dimana
duktus ini masuk rongga hidung.

Gejala
Tanda-tanda dapat timbul beberapa hari atau beberapa minggu setelah
lahir dan sering bertambah berat karena infeksi saluran pernapasan atas atau
karena pemajanan atas suhu dingin atau angin. Manifestasi obstruksi
nasolakrimalis yang paling lazim adalah berair mata (tearing), yang berkisar
dari sekedar mata basah (peningkatan di cekungan air mata, penimbunan atau
kubangan) sampai banjir air mata yang jelas (epifora), penimbunan cairan
mukoid atau mukopurulen (sering digambarkan oleh orang tua sebagai
nanah), dan kerak. Mungkin ada eritema atau maserasi kulit karena iritasi dan
gesekan yang disebabkan oleh tetes-tetes air mata dan cairan.
Penyumbatan karena tidak sempurnanya sistem nasolakrimalis biasanya
menyebabkan pengaliran air mata yang berlebihan ke pipi (epifora) dari salah
satu ataupun kedua mata (lebih jarang) pada bayi berumur 3-12 minggu.
Penyumbatan ini biasanya akan menghilang dengan sendirinya pada
usia 6 bulan, sejalan dengan perkembangan sistem nasolakrimalis.

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan penunjang lainnya adalah:
1. Pewarnaan mata dengan zat fluoresensi untuk menilai pengaliran air mata
Uji pewarna hilangnya Fluorescein mungkin berguna - setetes pewarna
ditanamkan ke dalam kedua matanya dan biasanya akan menghilang
selama 5 menit jika saluran yang paten, dan selanjutnya dapat terlihat
dalam lubang hidung menggunakan cahaya biru.
2. Probing dan Irigasi (Tes Anel)
Lakukan probing yang mula-mula dimasukan vertical ke dalam pungtum
lakrimal, kemudian horizontal, ke dalam kanalikuli lakrimal, sampai
ujungnya menyentuh dinding dari sakus lakrimal, tariklah sedikit keluar,
lalu sonde diputar 90 derajat ke atas dengan hati-hati. Kalo sonde ini telah
berhasil, disusul dengan tes Anel.
Dengan menggunakan sempritan yang diisi dengan larutan garam fisiologis.
Tes Anel (+), bila terasa asin di tenggorokan, berarti salurannya berfungsi
baik.
Tes Anel (-), bila tidak terasa asin, berarti ada kelainan di dalam saluran
ekskresi tersebut. Bila cairan keluar lagi dari pungtum lakrimal superior,
berarti ada obstruksi di duktus nasolakrimalis. Kalau cairan kembali
melalui pungtum lakrimal inferior, berarti obstruksi terdapat di ujung nasal
kanalikuli lakrimal inferior.
Gambar Tes Irigasi

Gambar Tes Irigasi


Gambar Tes Probing

3. Tes warna Jones


Tes ini jarang diperlukan dan hanya diindikasikan pada pasien dengan
suspek obstruksi partial dari system drainase. Pasein-pasien dengan
manifestasi epifora, tetapi system lakrimal dapat di irigasi dengan syringe.
Tes ini tidak bernilai pada obstruksi yang total.
a. Tes Primer, memperbedakan obstruksi partial saluran lakrimal dari
hipersekresi primer air mata. Pertama, setetes fluorecein 2%
dimasukan dalam sakus conjunctiva. Setelah sekitar 5 menit, ujung
cotton bud yang telah dibahasi dengan local anastesi dimasukan
dibawah aliran inferior dari duktus nasolakrimalis. Interpretasi
hasil :
Positif : terdapatnya fluorecein dari hidung
mengindikasikan patensi dari system drainase.
Negatif : tidak terdapatnya warna dari hidung
mengindikasikan obstruksi partial atau kegagalan dari
mekanisme pompa lakrimal. Pada hasil ini tes warna
sekunder diperlukan.

b. Tes Sekunder (irigasi), mengindikasikan kemungkinan letak


obstrukasi partial. Anestesi topical dimasukan dan beberapa sisa
fluorecein dikeluarkan. System drainase di irigasi dengan larutan
salin.
Positif : terdapatnnya campuran cairan saline fluorecein
dari hidung mengindikasikan bahwa fluorecein masuk ke
dalam sakus lakrimalis, sehingga terdapat obstruksi partial
dari duktus nasolakrimalis.
Negatife : tidak terdapatnya cairan saline dari hidung
mengindikasikan tidak masuknya fluorecein ke dalam sakus
lakrimalis. Ini berarti obstruksi partial dari pungtum,
kanalikuli atau kanalikuli komunis, atau tidak sempurnanya
mekanisme pompa lakrimalis.

4. Radiografi kontras khusus untuk menilai duktus nasolakrimalis (Digital


Subtraction Dacryocystography)

Gambar Digital Substraction Dacryocystography


5. Nuclear Lacrimal Scintigraphy
Scintigraphy adalah tes yang dibuat untuk menentukan drainase air mata
lebih kondisi psikologis dari pada dacryocystography. Sehingga tidak
memperlihatkan visualisasi anatomi secara detil. Tes ini menggunakan
radionukleid teknium-99.
6. Lakrimal endoskopi
Visualisasi secara langsung mukosa membrane dari system lakrimal
inferior.Sampai saat ini, endoskopi system lakrimal inferior bukan
prosedur rutin.

Penatalaksanaan
Dibedakan penanganan pada anak-anak dengan penanganan pada orang
dewasa. Epifora yang disertai hard stop menunjukkan letak sumbatan
nasolakrimal. Perkembangan sistim ekskresi lakrimal, khususnya duktus
nasolakrimalis bervariasi pada anak-anak yang mengalami kelainan pembukaan
Membrana Hassner. Timbulnya epifora bersamaan dengan berfungsinya
glandula lakrimalis sebagai sistim sekresi. Orang tua pada umumnya lebih
menyukai cara yang tidak menyakiti anak. Sondage vertikal sebaiknya
dihindari karena kemungkinan false route sangat besar.
Massage daerah lakrimal menjadi pilihan pertama. Massage dengan
tekanan pada pangkal hidung ke arah inferior dilakukan satu-dua menit tiap
hari. Bila dalam jangka waktu tiga bulan tidak menunjukkan perbaikan maka
irigasi berulang merupakan langkah berikutnya yang dilakukan sampai anak
berusia 1(satu) tahun. Batas usia ini tidak mutlak, apabila tanda radang tidak
ada maka irigasi dapat dilanjutkan sampai anak berusia dua tahun.
Suatu tindakan yang lebih agresif berupa intubasi tabung silikon dari
Jackson dapat juga dilakukan antara usia dua tahun dengan pembiusan umum.
Sumbatan nasolakrimal pada orang dewasa pada umumnya merupakan indikasi
suatu tindakan pembedahan yaitu dakriositorinostomi.Pembedahan ini
dilakukan pada keadaan peradangan tidak sedang dalam eksaserbasi akut.
Gambar Dacryocystorhinostomy

Ballon dacryocystoplasty biasa digunakan pada anak dengan obstruksi


duktus nasolakrimalis congenital dan pada dewasa dengan obstruksi duktus
nasolakrimalis partial.
Jika terjadi peradangan pada konjungtiva (konjungtivitis) diberikan obat
tetes mata yang mengandung antibiotik.

Pencegahan
Pengobatan yang adekuat terhadap infeksi hidung dan mata bisa
mengurangi resiko terjadinya dakriostenosis (obstruksi duktus nasolakrimalis).

4.Insufisiensi lakrimal
Hiposekresi tidak dapat diobati,perawatannya hanya ditujukan untuk
mencari bahan pengganti air mata. Biasanya akan memberikan keluhan panas dan
rangsangan menahun.
Air mata buatan dipergunakan sebagai pengganti seperti 0,5% metil
selulose, 1.4% polivinil alkohol, dan air mata buatan lainnya.
Dibedakan bentuk:
-defisiensi air mata
-defisiensi mukous
-defisiensi lipid
Defisiensi air mata menyebabkan keratokonjungtivitis sika. Pada
keratokonjungtivitis sika akan terlihat uji Schirmer yang kurang atau negatif
Defisiensi mukous disebabkan akibat kerusakan sel Goblet konjungtiva.
Kelainan ini terjadi pada trauma kimia, trakoma, sindrom steven
johnson,pemfigois, dan akibat beberapa macam obat
Defisiensi lipid biasanya akibat disfungsi kelenjar meibom dan seboroik
blefaritis. Defisiensi lipid biasanya disertai dengan air mata yang berbusa.

DAFTAR PUSTAKA

1. AAO. 2007. Orbit, Eyelid, and Lacrimal System. Singapore:American


Academy of Ophtalmology.

2. Anonim. 2006. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag/SMF. Ilmu Penyakit


Mata Ed.III. Surabaya: Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo.

3. Bahar, Ardiansyah. 2009. Dakriosistitis. [serial online]. http://arbaa-


fivone.blogspot.com/2009/03/dakrisistitis.html. [1 November 2015].

4. Barathi, Ramakrishnan, Maneksha, Shivakumar, Nithya dan Mittal. 2007.


Comparative Bacteriology of Acute and Chronic Dacryocystitis. [serial
online]. http://www.eye.com/. [1 November 2015].
5. Ellis, Harold. 2006. Clinical Anatomy, A Revision and Applied Anatomy
for Clinical Students Eleventh Edition. Massachusetts, USA : Blackwell
Publishing, Inc .

6. Gilliland, G.D. 2009. Dacryocystitis. [serial online].


http://www.emedicine.com/. [1 November 2015].

7. Ilyas, Sidharta. 2006. Dasar-Teknik Pemeriksaan Dalam Ilmu Penyakit


Mata Edisi Kedua. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

8. Ilyas, Sidharta. 2008. Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.

9. Kaneshiro, N.K. 2010. Blocked Tear Duct. [serial online].


http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001016.htm. [2 November
2015]

10. Kassir, Kari. 2007. Dacryocystitis. [serial online].


http://www.doctorofusc.com/condition/document/237309.htm. [2
November 2015]

11. Leitman, M.W. 2007. Manual for Eye Examination and Diagnosis Seventh
Edition. Massachusetts, USA : Blackwell Publishing, Inc .

12. Mamoun, Tarek. 2009. Chronic Dacryocystitis. [serial online]. http://


eyescure.com/Default.aspx?ID=84. [2 November 2015]

13. Mamoun, Tarek. 2009. Congenital Dacryocystitis. [serial online].


http://eyescure.com/Default.aspx?ID=83. [2 November 2015].

14. Mamoun, Tarek. 2009. Acute Dacryocystitis. [serial online].


http://eyescure.com/Default.aspx?ID=85. [2 November 2015].
15. O'Brien, Terrence P. 2009. Dacryocystitis. [serial online].
http://www.mdguidelines.com/dacryocystitis.htm. [1 November 2015]

16. Sanders, Laura. ____. Cosmetic Facial and Eye Plastic Surgery
Evaluation. [serial online]. http://drlaurasanders.com/topics/102-Evaluation/.
[1 November 2015]

17. Sowka, J.W., Gurwood, A.S., dan Kabat, A.G. 2010. Review of Optometry,
The Handbook of Occular Disease Management Twelfth Edition. [serial
online]. http://www.revoptom.com/. [1 November 2015]

18. Yohai, Robert. ____. Cosmetic and Reconstructive of The Eyelids, Orbits,
and Tear Ducts. [serial online]. http://www.dryohai.com/102-
Evaluation.htm. [1 November 2015]

19. Yuliani, Putri. 2009. Pendekatan Sederhana dan Evolusional Untuk


Merekanalisasi Obstruksi Duktus Nasolakrimalis. [serial online].
http://www.scribd.com/doc/37289785/Journal-Reading-Rekanalisasi-
Obstruksi-Sistem-Lakrimalis#. [1 November 2015]

20. Zulvikar. 2009. Dakriosistitis. [serial online].


http://zulvikar.web.id/dakriosistitis/. [2 November 2015]

21. Eva. Roirdan Paul & Whitcher J.P. Oftalmologi Umum Vaughan &
Asbury, Ed. 17.EGC.Jakarta.2007

22. . Khurana, A.K., 2007. Comprehensive Ophthalmology. 4th


ed. New Delhi: New Age International (P) Limited.

Anda mungkin juga menyukai