Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN

EKOLOGI HEWAN
KERAGAMAN JENIS FAUNA DI KAWASAN RIAM ERIA, KELURAHAN
NYARUMKOP, KECAMATAN SINGKAWANG TIMUR, KOTA
SINGKAWANG, KALIMANTAN BARAT

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 3

Nama NIM
1. Jerliman Manalu (H1041141055)
2. Andi Novandi (H1041141028)
3. Melvy I. (H1041141022)
4. Evi Fania Fani (H1041141010)
5. Megawati (H1041141009)
6. Sisilia Hainawati (H1041141006)
7. Kurnia Yeti (H1041141025)
8. Harits Yowansyah P.P. (H1041141057)
9. Wahizu Aprilianda (H1041141050)
10. Sri Lestari (H1041141020

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keanekaragaman hayati merupakan variabilitas antarmahluk hidup dari semua
sumber daya, termasuk di daratan, ekosistem perairan dan kompleks ekologis
termasuk juga keanekaragaman dalam spesies di antara spesies dan ekosistemnya.
Sepuluh persen dari ekosistem alam berupa suaka alam, suaka marga satwa, taman
nasional, hutan lindung, dan sebagian lagi untuk kepentingan budidaya plasma
nutfah yang dialokasikan sebagai kawasan yang dapat memberi perlindungan bagi
keanekaragaman hayati (Arief, 2001).
Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki 1300 spesies herpetofauna
(Iskandar dan Colijn, 2000). Mengetahuai keragaman fauna di suatu tempat di
perlukan beberapa metode perangkap (trap) seperti mist net menggunakan jala
kabut, metode perangkap lem dan perangkap tikus. Beberapa metode ini sangat
berfungsi untuk menjebak fauna yang ada di udara seperti aves, di darat seperti
mammalia maupun jenis reptil. Metode ini sangat penting dalam penangkapan
fauna yang biasanya hidup di suatu wilayah tertentu seperti wilayah tropik.
Wilayah tropik sangat baik dalam menggunakan metode-metode tersebut
(Soetjipta, 1992).
Keanekaragaman dan penyebaran fauna sangat bervariasi karena kondisi
lingkungan yang berbeda, salah satu tempatnya bisa berupa hutan hujan tropis.
Hutan hujan tropis dikenal juga mempunyai tingkat keranekaragaman yang tinggi,
banyak jenis yang belum diketahui dan mempunyai nilai komersil. Apabila terjadi
penebangan maka permudaan secara alami oleh jenis-jenis yang berbeda dengan
jenis-jenis penyusun hutan asli (Michael, 1995). Berdasarkan hal-hal di atas
dilakukan suatu praktikum lapangan Ekologi Hewan di Kawasan Riam Eria,
Kelurahan Nyarumkop, Kecamatan Singkawang Timur, Kota Singkawang,
Kalimantan Barat untuk melihat keanekaragaman Herpetofauna serta mengetahui
karakter umum dan khususnya sebagai kunci dalam identifikasi.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dibahas adalah sebagai berikut,
a. Bagaimana keragaman spesies fauna di Kawasan Riam Eria, Kelurahan
Nyarumkop, Kecamatan Singkawang Timur, Kota Singkawang,
Kalimantan Barat?
b. Bagaimana morfologi dari spesies fauna yang ditemukan di Kawasan
Riam Eria, Kelurahan Nyarumkop, Kecamatan Singkawang Timur, Kota
Singkawang, Kalimantan Barat?

1.3 Tujuan
Tujuan dari praktikum lapangan ini yaitu,
a. Mengetahui jenis-jenis dari fauna yang ditemukan di Kawasan Riam Eria,
Kelurahan Nyarumkop, Kecamatan Singkawang Timur, Kota Singkawang,
Kalimantan Barat.
b. Mengetahui morfologi dari spesies fauna yang ditemukan di Kawasan
Riam Eria, Kelurahan Nyarumkop, Kecamatan Singkawang Timur, Kota
Singkawang, Kalimantan Barat.

1.4 Manfaat
Manfaat dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat mengetahui keragaman
spesies dan morfologi spesies fauna serta kemerataan spesies yang ditemukan di
Kawasan Riam Eria, Kelurahan Nyarumkop, Kecamatan Singkawang Timur, Kota
Singkawang, Kalimantan Barat serta menambah pengetahuan mahasiswa
mengenai keragaman fauna.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Herpetofauna
Herpetofauna berasal dari kata herpeton yaitu binatang melata, terdiri dari
kelas reptil dan amfibi. Kedua kelompok ini masuk ke dalam satu bidang yaitu
ilmu herpetology karena mereka mempunyai cara hidup dan habitatnya yang
hampir serupa, sama-sama satwa vertebrata ektotermal (membutuhkan sumber
panas eksternal), serta metode untuk pengamatan dan koleksi yang serupa
(Kusrini, 2008).
Herpetologi berasal dari bahasa Yunani yaitu herpeton atau melata dan logos
atau penjelasan. Herpetologi adalah cabang ilmu zoologi yang mempelajari
kehidupan (biologi) reptilia dan amfibia. Sebenarnya yang menjadi objek kajian
ilmu ini adalah vertebrata berkaki empat (tetrapoda) yang "berdarah dingin"
(poikiloterm) karena reptilia dan amfibia tidak banyak memiliki kemiripan.
Jumlah Herpetofauna di dunia cukup banyak yaitu sekitar 4600 jenis
Amphibia dan 6000 jenis Reptilia (Pough et al., 1998). Indonesia memiliki tidak
kurang dari 16% keanekaragaman Herpetofauna di dunia. Dari 4.950 jenis
Amphibia yang ada di dunia (Duellman and Trueb, 1986), 350 jenis diantaranya
menghuni kepulauan Indonesia, yaitu tergabung dalam dua ordo;
Gymnophiona/Apoda (Amphibia tidak berkaki sekitar 12 jenis) dan Anura (kodok
dan katak sekitar 338 jenis). Sedangkan ordo Caudata (Salamander) tidak hidup di
wilayah Indonesia (Iskandar & Colijn, 2000).
Kelas Reptilia terdiri dari 7400 jenis yang ada di dunia, 800 jenis diantaranya
terdapat di Indonesia, yang terbagi menjadi 3 ordo ; ordo Testudinata (kelompok
Penyu, Bulus dan Kura-kura sekitar 40 jenis), ordo Crocodilia (Buaya dan
Senyulong sekitar 5 jenis) dan ordo Squamata, yang terbagi menjadi dua sub
ordo ; yaitu Lacertilia (Kadal sekitar405 jenis) dan Ophidia (Ular sekitar 350
jenis) (de Roiij, 1915).
Amphibi merupakan hewan dengan kelembaban kulit yang tinggi, tidak
tertutupi oleh rambut dan mampu hidup di air maupun di darat. Amphibia berasal
dari bahasa Yunani yaitu Amphi yang berarti dua dan Bios yang berarti hidup.
Amphibi diartikan sebagai hewan yang mempunyai dua bentuk kehidupan yaitu di
darat dan di air. Umumnya, amphibia mempunyai siklus hidup awal di perairan
dan siklus hidup kedua adalah di daratan. Fase berudu amphibi hidup di perairan
dan bernafas dengan insang. Fase berudu bergerak menggunakan ekor. Fase
dewasa hidup di darat dan bernafas dengan paru-paru. Fase dewasa ini amphibi
bergerak dengan kaki. (Zug, 1993)
Fase dewasa mulai terbentuk kelenjar ludah yang menghasilkan bahan
pelembab atau perekat. Walaupun demikian, tidak semua amphibi melalui siklus
hidup dari kehidupan perairan ke daratan. Beberapa amphibi misalnya anggota
Plethodontidae, tetap tinggal dalam perairan dan tidak menjadi dewasa.Beberapa
jenis amphibi lain yang sebagian hidupnya berada di daratan, tetapi pada waktu
tertentu kembali ke air untuk berkembang biak. Tapi ada juga beberapa jenis yang
hanya hidup di darat selama hidupnya dimana kelompok ini tidak terdapat
stadium larva dalam air (Duellman and Trueb, 1986).
Reptilia berasal dari kata reptum yang berarti melata. Reptilia merupakan
kelompok hewan darat pertama yang sepanjang hidupnya bernafas dengan paru-
paru. Ciri umum kelas ini yang membedakan dengan Kelas yang lain adalah
seluruh tubuhnya tertutup oleh kulit kering atau sisik. Kulit pada reptil memiliki
sedikit sekali kelenjar kulit (Zug, 1993).
Semua Reptil bernafas dengan paru-paru. Reptil merupakan hewan berdarah
dingin yaitu suhu tubuhnya bergantung pada suhu lingkungan atau poikiloterm
sehingga untuk mengatur suhu tubuhnya, reptil melakukan mekanisme basking
yaitu berjemur di bawah sinar matahari. Saluran ekskresi Kelas Reptilia berakhir
pada kloaka (Zug, 1993).
Perbedaan utama antara Amphibia dan reptil terletak pada perkembangan
embrio. Reptil seperti juga burung, dan mamalia memiliki telur amniota, yang
berarti embrio dilindungi oleh membrane embrio yang disebut sebagai amnion.
Telur reptil juga dilindungi oleh cangkang. Cangkang ini tidak bersifat tertutup
karena masih mampu bertukar hara dengan lingkungan (cleidoic egg) (Kusrini et
al., 2008).
Menurut Kusrini et al. (2008) perbedaan Amphibia dan reptil yang kedua
terletak pada kulit. Bagian terluar (integument) kulit reptil ditutupi oleh sisik,
sementara Amphibia memiliki kulit dengan permeabelitas tinggi dan memiliki
kelenjar. Kulit katak juga berfungsi sebagai alat pernafasan dan harus lembab
sehingga tidak kekeringan sehinggan untuk mengurangi kemungkinan kulit
mongering maka adaptasi yang dilakukan adalah dengan merapatkan tubuh untuk
mengurangi luas permukaan yang bisa mengering dengan cara:
Hidup dekat badan air
Berlindung di tumbuhan teduh atau permukaan batu
Menutupi kulit dengan bahan licin
Masuk ke dalam tanah

2.2 Amfibi
Amfibi merupakan salah satu komponen penyusun ekosistem yang memiliki
peranan sangat penting, baik secara ekologis maupun ekonomis. Secara ekologis,
amfibi berperan sebagai pemangsa konsumen primer seperti serangga atau hewan
invertebrata lainnya serta dapat digunakan sebagai bioindikator kondisi
lingkungan. Secara ekonomis amfibi dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein
hewani, hewan percobaan, hewan peliharaan dan bahan obat-obatan (Ariza, et.
al., 2014).
Habitat utama amfibi adalah hutan primer, hutan sekunder, hutan rawa, sungai
besar, sungai sedang, anak sungai, kolam dan danau. Amfibi dijumpai pada malam
hari atau pada musim penghujan. Iskandar (1998), menyatakan bahwa Amfibi
selalu hidup berasosiasi dengan air sesuai namanya yaitu hidup pada dua alam (di
air dan di darat). Sebagian besar amfibi didapatkan hidup di kawasan hutan karena
di samping membutuhkan air juga membutuhkan kelembaban yang cukup tinggi
(75-85%) untuk melindungi tubuh dari kekeringan.

2.3 Morfologi Amfibi


Amfibi adalah vertebrata yang memiliki dua fase kehidupan pada dua
lingkungan yang berbeda. Amphibi yang menetas hidup di air dan bernafas
dengan insang, kemudian saat dewasa hidup di darat dan bernafas dengan paru-
paru (Yudha, et. al., 2015). Amfibi memiliki beragam bentuk dasarnya tergantung
ordonya. Ordo Anura (jenis katak-katakan) secara morfologi mudah dikenali.
Katak meliliki empat kaki untuk melompat, bentuk tubuh pendek, leher yang tidak
jelas, tanpa ekor, mata menyolok dan memiliki mulut yang lebar. Tungkai
belakang selalu lebih panjang dibanding tungkai depan. Tungkai depan memiliki 4
jari sedangkan tungkai belakang memiliki 5 jari. Kulitnya bervariasi dari yang
halus hingga kasar bahkan tonjolan-tonjolan tajam kadang ditemukan seperti pada
famili Bufonidae.Ukuran katak di Indonesia bervariasi mulai dari yang terkecil
yakni 10 mm hingga yang terbesar mencapai 280 mm. Katak di Sumatera
diketahui berukuran antara 20 mm 300 mm (Mistar, 2003).
Ordo Anura memiliki selaput (webbing) walaupun sebagian didapatkan tidak
berselaput seperti genus Leptobrachium dan Megophrys. Ada tidaknya selaput
sangat sesuai dengan habitat yang ditempatinya. Ordo Anura memiliki warna
bervariasi berdasarkan familinya seperti famili Rhacophoridae cenderung
berwarna terang sedangkan famili Megophrydae cenderung berwarna gelap sesuai
habitatnya di serasah (Mistar, 2003).
Ordo Gymnophiona (sesilia) merupakan satu-satunya ordo dari amfibi yang
tidak mempunyai tungkai. Sesilia sangat mirip dengan cacing tapi mempunyai
mulut dan mata yang jelas, biasanya terdapat garis kuning pada sisi bagian
tubuhnya dan ordo ketiga adalah ordo Caudata (salamander) mempunyai empat
tungkai, mempunyai mata yang jelas dan mulut yang jelas (Mistar, 2003)

2.4 Klasifikasi Amfibi


Salah satu bagian dari kekayaan alam Indonesia adalah keanekaragaman jenis
amfibi yang tinggi (Izza dan Kurniawan, 2014). Amfibi di Indonesia termasuk
bangsa ketiga yakni Anura. Sebagian besar orang mengenali katak dan kodok
sebagai amfibi, namun sebenarnya amfibi terbagi dalam 3 Ordo, yaitu Caudata
(salamander), Anura (katak dan kodok) dan Gymnophiona (amfibi tak berkaki)
(Pough,et. al., 1998).
2.4.1 Ordo Anura
Ordo Anura (dari Yunani Kuno a (n) - yang berarti tanpa dan oura berarti
ekor) terdiri dari kodok dan katak. Anggota dari Anura umumnya memiliki kaki
panjang belakang yang terlipat ke bawah, tungkai depan lebih pendek, jari kaki
berselaput tanpa cakar, tidakberekor, mata besar dan kulit lembab berkelenjar
(Stebbins dan Cohen, 1995). Anggota dari Ordo ini dengan kulit yang halus
umumnya dikenal dengan katak, sedangkan yang kulit berbintil dikenal sebagai
kodok. Anggota keluarga Bufonidae dikenal sebagai kodok sejati. Sebagian besar
spesies berhubungan dengan air dan habitat lembab, beberapa kelompok khusus
dapat hidup di pepohonan atau padang pasir. Anura ditemukan di seluruh dunia
kecuali untuk daerah kutub (McCallum, 2007).
Anura merupakan kelompok hewan yang membutuhkan ketersediaan air
dalam siklus hidupnya, untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan. Anura
berperan penting dalam rantai makanan dan menjaga keseimbangan ekosistem.
Anura berperan sebagai predator serangga dan larva serangga dan secara
tidaklangsung bermanfaat bagi manusia dalam mengurangi serangga yang
menjadi hama perkebunan dan pertanian atau serangga yang menjadi vektor
penyakit (Ratna, et. al., 2013). Anura juga peka terhadap perubahan lingkungan,
seperti perusakan habitat, dan perubahan iklim (Qurniawan, et. al., 2011 ),
sehingga dapat mempengaruhi keberadaannya di alam.
Anura dibagi menjadi tiga subordo yang diterima secara luas oleh
masyarakat ilmiah (Faivovich, et. al., 2005). Subordo Archaeobatrachia berisi 4
Famili katak primitif, yaitu Ascaphidae, Bombinatoridae, Discoglossidae dan
Leiopelmatidae. Enam Famili yang lebih maju dalam evolusi termasuk ke dalam
subordo Mesobatrachia adalah yaitu Megophryidae, Pelobatidae, Pelodytidae,
Scaphiopodidae dan Rhinophrynidae dan Pipidae yang hidup akuatik. Ordo ini
memiliki karakteristik yang penengah antara dua subordo lainnya (Ford dan
Cannatella, 1993). Neobatrachia merupakan subordo terbesar dan termasuk katak
modern, yaitu spesies yang paling umum. Sembilan puluh enam persen dari lebih
dari 5.000 spesies yang masih ada katak yang neobatrachians (San Mauro, et. al.,
2005).
2.4.1 Ordo Caudata
Ordo Caudata (dari bahasa Latin:cauda yang berarti ekor) terdiri dari
salamander, hewan yang sebagian besar menyerupai kadal dalam bentuk yang
merupakan sifat symplesiomorphic. Salamander jarangbercakar, memiliki yang
halus atau ditutupi dengan tuberkel, dan ekor yang biasanya pipih dan seringkali
bersirip. Salamander memiliki distribusi sebagian besar di Laurasian, serta banyak
di wilayah Holarctic dari belahan bumi utara. Keluarga Plethodontidae juga
ditemukan di Amerika Tengah dan Amerika Selatan utara dari cekungan Amazon.
Urodela adalah nama yang seringkali digunakan untuk semua spesies hidup dari
salamander. Anggota famili salamander telah menjadi paedomorphic dan gagal
untuk menyelesaikan metamorfosis mereka atau mempertahankan karakteristik
larva ketika dewasa (Elmer, et. al., 2013). Kebanyakan salamander memiliki
panajang dibawah 15 cm. Salamander hidup di terestrial atau perairan dan
beberapa waktu dalam setahun di setiap habitat. Mereka kebanyakan
menghabiskan hari tersembunyi di bawah batu atau kayu atau di vegetasi tinggi,
muncul di malam hari dan malam untuk mencari makanan berupa cacing,
serangga dan invertebrata lainnya (Larson, et. al., 1993)
Subordo Cryptobranchoidea berisi salamander primitif. Sejumlah fosil
Cryptobranchidea telah ditemukan, namun hanya ada tiga spesies hidup, yaitu
salamander raksasa Cina (Andrias davidianus), salamander raksasa Jepang
(Andrias japonicus) dan tukang pesta (Cryptobranchus alleganiensis) dari
Amerika Utara. Amfibi besar mempertahankan beberapa karakteristik larva dalam
keadaan dewasa mereka seperti insang celah yang hadir dan mata tak berkelopak.
Sebuah fitur unik adalah kemampuan mereka untuk makan dengan menghisap.
Salamander jantan menggali sarang, dan salamander betiana meletakkan telur
mereka di dalam sarang, untuk dijaga. Selain bernapas dengan paru-paru, mereka
melakukan respirasi melalui banyak lipatan di kulit tipis mereka, yang memiliki
kapiler dekat dengan permukaan (Crump dan Martha, 1996).
Subordo Salamandroidea berisi salamander yang lebih maju. Mereka
berbeda dari Cryptobranchidea dengan memiliki tulang prearticular menyatu di
rahang bawah, dan fertilisasi internal. Salamander jantan menyimpan bundel
sperma atau spermatophore, dan betina mengambilnya dan memasukkan ke dalam
kloaka nya di mana sperma disimpan hingga telur diletakkan (Wake danDavid,
2012).Famili terbesar dalam kelompok ini adalah Plethodontidae yaiitu
salamander tanpa paru-paru, yang mencakup 60% dari semua spesies salamander.
Famili Salamandridae termasuk salamander sejati dan nama kadal diberikan
kepada anggota subfamili yang Pleurodelinae (Stebbins dan Cohen, 1995).
Subordo ketiga, Sirenoidea, berisi empat spesies sirene, yang berada dalam
satu Famili Sirenidae. Anggota ordo ini adalah salamander air seperti belut dengan
lengan depan tereduksi dan tidak terdapat lenganbelakang. Fertilisasi cenderung
eksternal siren kekurangan kelenjar kloaka yang digunakan oleh salamander laki-
laki untuk menghasilkan spermatophores dan betina kurang spermathecae untuk
penyimpanan sperma. Meskipun demikian, telur diletakkan secara tunggal,
perilaku tidak kondusif untuk fertilisasi eksternal (Cogger, 1998)
2.4.2 Ordo Gymnophiona
Ordo Gymnophiona (dari gymnos Yunani yang berarti telanjang dan Ophis
yang berarti ular) atau Apoda (dari makna an- Latin tanpa dan Poda Yunani yang
berarti "kaki") terdiri dari Caecilian. Hewan ini memiliki tubuh panjang, silinder,
tanpa kaki seperti ular atau cacing. Hewan dewasa panjangnya bervariasi 8-75 cm
(3 sampai 30 inci) dengan pengecualian dari Sesilia Thomson (Caecilia
thompsoni), yang dapat mencapai 150 cm (4,9 kaki). Kulit Sesilia memiliki
sejumlah besar lipatan melintang dan pada beberapa spesies mengandung sisik
kulit tertanam kecil. Memiliki mata yang belum sempurna ditutupi kulit, yang
mungkin terbatas untuk membedakan perbedaan intensitas cahaya dan memiliki
sepasang tentakel pendek dekat mata yang dapat memanjanguntuk fungsi
sentuhan dan penciuman. Kebanyakan caecilian hidup di bawah tanah di liang di
tanah lembab, kayu busuk dan di bawah sisa-sisa tanaman, tetapi beberapa hidup
di air (Dorit, et. al., 1991). Ordo ini juga memiliki spesies bertelur bawah tanah
dan ketika larva menetas, mereka akan membuat jalan untuk mendekati air.
Beberapa spesies lainnyamengerami telur dan larva mengalami metamorfosis
sebelum telur menetas (Stebbins dan Cohen, 1995). Caecilian memiliki distribusi
sebagian besar di Gondwanan, yang ditemukan di daerah tropis Afrika, Asia dan
Amerika Tengah dan Selatan (Duellman dan William, 2012).
Klasifikasi terbaru dari caecilian, oleh Wilkinson,et. al., (2011), membagi
caecilian menjadi 9 famili dengan sekitar 200 spesies. Setelah itu, famili
Chikilidae ditemukan. Menurut Kamei, et. al. (2012), klasifikasi terbaru
didasarkan pada definisi menyeluruh monophyly berdasarkan bukti morfologi dan
molekuler. Sepuluh Famili dari Caecilia yaitu Rhinatrematidae,
Scolecomorphidae, Herpelidae, Chikilidae, Caeciliidae, Typhlonectidae,
Indotyphlidae, Siphonopidae, dan Dermophiidae (San Mauro, et.al., 2004).

2.5 Reptilia
Reptilia adalah hewan bertulang belakang yang bersisik dan bernapas dengan
paru-paru. Ciri utama reptil adalah tubuhnya yang ditutupi dengan sisik-sisik rata
atau berduri yang berfungsi untuk mengatur sirkulasi air melalui kulitnya. Tidak
seperti ikan, sisik reptil tidak saling terpisah. Sisik-sisik tersebut tersusun dari
protein yang disebut keratin. Kertatin ini merupakan protein penyusun kuku jari
tangan dan kaki (McLaren dan Rotundo, 1985). Reptil tidak memiliki rambut atau
bulu pada reptil (Grzimek, 1975).Reptil termasuk satwa ektotermal karena
memerlukan sumber panas eksternal untuk melakukan kegiatan metabolismenya.
Reptil sering dijumpai pada daerah yang terkena sinar matahari yang cukup,
terutama pada pagi hari untuk mencapai suhu badan yang dibutuhkan (Halliday
dan Adler, 2000). Warna kulit beragam, dari warna yang menyerupai
lingkungannya sampai warna yang membuat reptil mudah terlihat. Semua reptil
tidak memiliki telinga eksternal. Sebagian besar reptil terdapat perbedaan antara
jantan dan betina pada ukuran dan bentuk, maupun warna tubuh dewasa (Halliday
dan Adler, 2000).
Reptil memiliki tulang-tulang kecil yang hampir muncul di permukaan kulit
lidah yang terdapat pada sebagian besar jenis yang merupakan salah satu organ
yang penting bagi kebanyakan reptil untuk mendeteksi dan menangkap
mangsanya (Cogger dan Zweifel, 2003). Sedangkan organ-organ dalam reptil
tidak jauh berbeda dengan hewan bertulang belakang lainnya. Namun, reptil
mampu beradaptasi lebih baik daripada amfibi ketika berada di darat yang bisa
dilihat dari posisi alat geraknya. Kaki pada kebanyakan reptil lebih melengkung
kebawah, sehingga tubuhnya tidak menyentuh tanah dan kemudian bisa bergerak
lebih cepat dan leluasa (McLaren dan Rotundo, 1985). Hampir semua reptil
adalah ovipar atau bertelur, dan sebagian lagi ovovivipar. Reptil dapat bersifat
ovipar maupun ovovivipar walaupun termasuk dalam genus yang sama.
Perbedaan sifat tersebut dapat ditemukan juga pada jenis yang sama, pada dua
populasi berbeda (Goin dan Goin, 1971). Proses pembuahan sel telur oleh sperma
pada reptil terjadi secara internal. Reptil betina meninggalkan telurnya yang
bercangkang dan disembunyikan dalam lubang 4buatan atau di bawah lapisan
tanah, serasah untuk ditetaskan. Suhu inkubasi berbeda pada setiap jenis (Halliday
dan Adler, 2000). Menurut Savage (1998) reptil memiliki taksonomi sebagai
berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub-filum : Vertebrata
Kelas : Reptilia
Sub Kelas : Eureptilia
Super Ordo : Lepidosauria, Testudines, Archosauria
Ordo : Testudines, yaitu kura-kura; Squamata, yaitu kadal, ular,
danAmphisbaenia; Rhynchocephalia, yaitu tuatara dan
Crocodylia,yaitu buaya.

2.6 Morfologi Reptilia


Berbeda dengan amfibi dan ikan, kulit reptil kering. Kulitnya tidak
mengandung kelenjar lendir. Kulitnya berlapiskan sisik dan zat tanduk
(Mahardono , 1980). Sisik merupakan penebalan dari lapisan tanduk bagian luar
kulit yang terpisah oleh kulit lunak sehingga tubuh tetap lentur. Sisik merupakan
pelindung luka dan lebih penting lagi terhadap pengeringan (Van Hoeve, 2003).
Ada beberapa jenis reptil yang memiliki zat bau pada sisik seperti kadal yang
berguna untuk mengusir musuh. Jenis reptil ada yang memiliki warna yang
disesuaikan dengan warna lingkungannya disebut juga mimikri. Mimikri warna
dilakukan dengan cara menggeser-geser pigmen warna, misalnya pada jenis
bunglon (Mahardono 1980). Testudinata memiliki perisai pada tubuhnya. Perisai
tersebut terdiri dari dua bagian yakni, pada bagian atas yang menutupi punggung
adalah karapas dan bagian bawah yang menutupi perut adalah plastron (Iskandar
2000).
Alat gerak pada kadal, buaya dan kura-kura berbentuk kaki dimana pada ular,
kaki ini sudah hilang. Alat tubuh yang tidak tumbuh atau mengecil disebut
rudimeter. Namun ada yang kakinya berubah bentuk serupa sirip untuk berenang,
misalnya penyu (Mahardono 1980). Ada jenis reptil yang jari-jarinya memiliki
alat penghisap. Dengan alat penghisap tersebut memungkinkan dapat merayap
ditempat vertikal, bahkan dapat pula merayap dilangit-langit rumah misalnya
cicak dan tokek. Cicak mempunyai kemampuan memutuskan tubuh pada bagian
ekornya. Kemampuan ini disebut ototomi atau otoamputasi (Van Hoeve 2003).
Hewan reptil bernapas dengan paru-patu. Paru-parunya ada dua buah, kiri dan
kanan dimana pada ular, paru-paru sebelah kiri umumnya rudimeter, sehingga
tampak hanya ada satu paru-paru yang sangat panjang (Van Hoeve 2003). Reptil
mempunyai peredaran darah ganda dimana sekali beredar, darah dua kali
melewati jantung. Pertama-tama paru-paru, disebut peredaran darah kecil, yang ke
seluruh tubuh disebut peredaran darah besar (Mahardono 1980).
Indonesia memiliki 39 jenis kura-kura dan ditambah dengan sekitar 100 anak
jenis dari 260 jenis yang terdapat di dunia. Pulau Sumatera sendiri terdapat 18
jenis kura-kura dimana 3 jenis (Callagus borneoensis, Indotestudo forsteni dan
Manouria emys) berstatus apendiks II dan 1 jenis lainya yakni Batagur baska
memiliki status apendiks I. 7 jenis buaya yang terdapat di Indonesia, 2 diantaranya
terdapat di Pulau Sumatera adalah Tomistoma schlegelii yang memiliki status
apendiks I dan Crocodylus porosus yang berstatus apendiks II (Iskandar 2000).

2.7 Habitat Reptilia


Habitat adalah kawasan yang terdiri dari komponen fisik (antara lain air,
udara, garam mineral, tempat berlindung dan berkembang biak), maupun biologi
(antara lain sumber pakan. jenis satwaliar lainnya) yang merupakan suatu
kesatuan dan dipergunakan sebagai tempat hidup serta berkembangbiak satwalia
tersebut (Alikodra, 1990). Iskandar (1998) membagi reptilia berdasarkan
habitatnya, yaitu habitat yang berkaitan dengan kegiatan manusia, habitat yang
terganggu, sepanjang sungai atau air mengalir dan hutan primer serta hutan
sekunder. Reptil tidak hanya tergantung pada faktor fisik dari lingkungannya,
tetapi juga dari interaksi dengan faktor biologinya yaitu pakan, pesaing, predator
dan parasit (Goin, et. al.,1978).
Reptilia hidup diberbagai tipe habitat yakni terestrial (pada semak belukar dan
tanah), akuatik (rawa, sungai, danau bahkan laut), semi akuatik dan arboreal (di
atas pohon) (Jenkins, 2002). Penyu merupakan satwa semi akuatik, dia hidup
dilaut dan hanya naik kepantai untuk bertelur (Iskandar, 2000). Reptilia hidup
aktif pada suhu diantara 20C-40 C (Van Hoeve, 2003).
Reptil termasuk satwa ektotermal karena memerlukan sumber panas eksternal
untuk melakukan kegiatan metabolismenya dimana pada daerah yang terkena
sinar matahari, reptil sering dijumpai berjemur pada pagi hari untuk mencapai
suhu badan yang dibutuhkan (Halliday dan Adler, 2000).

2.8 Manfaat dan Peranan Reptilia


Reptilia memiliki berbagai peranan bagi manusia. Peranan tersebut tidak
terbatas secara ekologis tetapi juga secara ekonomi (Kusrini dan Alford 2006).
Reptil diperdagangkan untuk dijadikan hewan peliharaan. Beberapa jenis ular dan
buaya diambil kulitnya untuk dijadikan sebuah produk seperti tas, ikat pinggang
bahkan topi. Di China, ular dan labi-labi biasa diperdagangkan untuk dikonsumsi
(Mardiastuti & Soehartono 2003).

2.9 Metode Lapangan


Metoda lapangan ini kita dapat mengidentifikasi dan mengamati hewan
tersebut baik dengan jarak dekat maupun jarak jauh. Metoda lapangan ini pada
umumnya melakukan suatu cara dengan memanfaatkan alam sebagai pelaku
utama,Penggunaan alat yang tidak merusak kesetimbangan lingkungan atau
habitat ekologi hewan tersebut. Sebagai saintis harus memperhatikan hal
sedemikian rupa, karena keduanya memiliki hubungan timbal balik kepada setiap
makhluk di sekitarnya (Williams,2001).
Ada dua macam metoda yang dapat digunakan untuk menangkap hewan di
lapangan, yaitu metoda pasif dan metoda aktif. Metoda pasif merupakan metode
yang digunakan untuk mendapatkan hewan vertebrata dengan mengunakan
kecanggihan alat yang kita gunakan. Sedangkan metoda aktif adalah suatu metoda
yang digunakan untuk menangkap hewan secara langsung di lapangan (peneliti
terjun langsung ke lapangan). Setelah mendapatkan hewan vertebrata yang kita
inginkan, maka kita bisa langsung mengidentifikasinya, dan memberi nama, atau
mencari tahu namanya (Suin, 2002).
Beberapa metoda yang dapat kita lakukan dalam penangkapan atau
pengoleksian hewan vertebrata di lapangan, diantaranya adalah : Fish trap, pit fall
trap, mist net burung, digiscoping, harpa trap, mist net kelelawar, camera trap,
small mamal trap, dan auditory sensus. Metoda tersebut merupakan suatu metoda
yang pada umumnya peneliti gunakan pada saat di lapangan (Suin, 2002).

2.10 Jaring Kabut ( mist net)


Jaring kabut memiliki kantung utama yang berfungsi sebagai penjebak
kelelawar agar tidak mudah lepas jika telah terjebak di dalam jaring. Dalam satu
jaring terdapat 4-5 kantung utama. Panjang jaring kabut dapat disesuaikan
berdasarkan kebutuhan misalnya, 6 m, 9 m, 12 m, atau 18 m, sedangkan lebarnya
2,7 m dengan lebar mata jaring (mesh) berukuran 30-32 mm. Pemasangan jaring
kabut (mist net) yakni jaring kabut dipasang sepanjang jalur lokasi pengambilan
data, yaitu pada daerah yang diduga menjadi lintasan kelelawar seperti tepi hutan
atau pintu hutan, melintang sungai, perbukitan dan daerah terbuka (Seber, 1973).
Pemasangan jaring dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa faktor
antara lain: jalur setapak atau dekat pohon yang sedang berbuah dan berbunga
dengan memperhatikan tutupan kanopi, di atas sungai atau daerah ekoton. Jaring
kabut dipasang sore hari sebelum matahari terbenam, untuk menghindari supaya
tidak ada burung yang terperangkap dan kelelawar tidak bisa mendeteksi adanya
jaring 11 kabut yang dipasang. Agar tidak robek ketika ada kelelawar yang
terjerat, maka jaring kabut harus dijaga atau diawasi dari tempat yang agak jauh.
Ada dua cara memasang jaring kabut, yaitu (Seber,1973):

a) Memakai tiang. Jaring kabut dipasang pada tiang bambu pada jarak 0,5 3
meter di atas permukaan tanah.
b) Cara gantung. Jaring dipasang pada tiang bambu atau digantung di atas
ranting ,pohon dengan jarak 3 15 meter di atas permukaan tanah. Jaring
kabut ini sebaiknya ditutup (digulung) pada siang hari untuk menghindari
burung dan satwa lain terjebak dalam perangkap.

2.11 Perangkap Lekat (Trap Reptil)


Metode trap reptil (perangkap lekat) adalah metode penangkapan reptil
Lem. Lem yang digunakan harus khusus tikus, kuat dan lengket.Lem juga harus
yang tidak berbau, agar reptil tidak menjadi curiga.Lem bisa diletakan diatas
papan kayu tipis dan diberi umpan ditengahnya atau di pohon . Metoda yang
digunakan untuk menangkap reptil pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan
metoda yang digunakan untuk menangkap amphibi. Pada reptil juga dilakukan
dengan metoda pitfall trap. Bedanya pada amphibi pitfall trap diletakkan pada
daerah pinggi sungai. Sedangkan pada reptil pitfall diletakkan disemak-semak
(Aryoudi, 2015).
Pengnangkapan ular digunakan metoda yang berbeda dari metoda
penangkapan reptilia lain. Untuk menangkap ular digunakan metode snake
hook dan snake tunk. Snake hook dilakukan dengan menggunakan alat bantu
berupa tongkat. Selain menggunakansnake hook ,penangkapan ular juga bisa
dilakukan dengan snake glue. Snake gluemerupakan lem yang dapat
memerangkap hewan yang lewat diatasnya. Lem ini direkatkan pada pohon yang
diperkirakan sering dilewati oleh kadal dan ular pohon. Metoda lain dalam
penangkapan ular adalah dengan metoda paralon. Cara kerjanya pertama tutup
salah satu ujung paralon dan masukkan umpan. Sehingga ketika ular masuk
kedalam paralon , hewan tersebut tidak bisa keluar lagi, karena pada prinsipnya
ular tidak bisa bergerak mundur (Aryoudi, 2015).

2.12 Small Mammal Trap ( trap tikus) atau perangkap lekat


Small mammal trap merupakan perangkap yang digunakan untuk menangkap
jenis hewan mamalia yang berukuran kecil. Perangkap ini termasuk ke dalam
metode pasif. Bagian-bagiannya: pintu tempat memasukkan umpan dan
mengeluarkan target. Kunci dan penahan pintunya agar target yang didapat tidak
bisa keluar lagi. Jika kita akan memasang umpan sebaiknya kita menggunakan
sarung tangan agar aroma buah yang dipasang sebagai umpan kita tidak tinggal
dan lengket ke tangan karena hewan ini dapat mencium aroma yang tinggal di
tangan tadi (Suin, 2002).
Umpan tersebut harus diletakkan di ujung pengait. Kalau ada hewan yang
terperangkap jangan mengeluarkannya pada waktu hewan itu masih hidup.
Masukkan dulu hewan tersebut ke air sampai mati atau pingsan setelah itu baru
dikeluarkan. Karena apabila hewan tersebut diambil hidup-hidup akan
membahayakan kita, bisa saja hewan itu menggigit tangan kita.Umpan yang biasa
digunakan adalah ikan asin, ikan teri, buah-buahan dan bungkit kelapa. Alat ini
biasanya diletakan disudut-sudut ruangan (Mencit. Tikus), Diikatkan pada pohon
(Tupai, Musang) yang pintunya mengarah kebagian atas (Suin, 2002).
Metode trapping adalah metode penangkapan tikus melaluhi jebakan tikus
berbentuk kurungan.Kurungan telah dirancang khusus untuk menangkap tikus
dengan umpan didalamnya. Umumnya kurungan terbuat dari rajutan kawat
aluminium atau stainless steal dengan ukuran 30x20x20 cm.Lem yang digunakan
harus khusus tikus, kuat dan lengket.Lem juga harus yang tidak berbau, agar tikus
tidak menjadi curiga.Lem bisa diletakan diatas papan kayu tipis dan diberi umpan
ditengahnya (Suin, 2002).
BAB III
METODE KERJA

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum lapangan Ekologi Hewan dilakukan pada tanggal 28-29 April 2017
yang berlokasi di Riam Eria, Desa Nyarumkop Kecamatan Singkawang Timur,
Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Identifikasi dilaksanakan pada tanggal ... di
Laboraturium Zoologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Tanjungpura, Pontianak

3.2 Gambaran dan Peta Lokasi


Secara administratif, Riam Eria masuk ke dalam Desa Nyarumkop,
Kecamatan Singkawang Timur, Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat,
yang secara geografis berada pada koordinat ...BT ...BT dan ... LU - ... LU, dan
terletak 182 km arah utara dari Kota Pontianak dengan waktu tempuh sekitar 4
jam. Daerah ini terletak di sisi barat Kalimantan Barat; yang selatannya
berbatasan dengan Kabupaten Bengkayang.
Riam Eria termasuk Cagar Alam Gunung Pasi. Keadaan topografi kawasan
Cagar Alam Raya Pasi atau Objek Wisata Alam Gunung Poteng pada umumnya
bergelombang, sedang sampai berat dan bergunung dengan kemiringan 15-65 0.
Ketinggiannya berkisar antara 150920 m dpl. Habitat dan Tipe ekosistem pada
kawasan ini adalah tipe hutan dataran rendah, perbukitan dan tipe vegetasi
pegunungan.
3.3 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah alat tulis, jala kabut,
kamera, kertas sketsa, perangkap tikus. Sedangkan bahan yang digunakan pada
praktikum ini ialah formalin, lem tikus dan ikan asin

3.4 Cara Kerja


Pengamatan dilakukan dengan metode jelajah, hand collecting dan
pemasangan perangkap pada daerah sekitar Riam Eria
3.4.1 Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan dengan sampling bebas dengan
menjelajahi daerah sekitar Riam Eria. Metode mist net dilakukan pemilihan
lokasi, di pasang jala kabut pada lokasi yang terbuka dengan batas bawah jala
setinggi dada pemasang. Metode perangkap tikus dilakukan dengan pemilihan
lokasi yang strategis yang biasanya di lewati tikus, dilakukan pemasangan
perangkap dengan perangkap kawat tikus, di beri umpan ikan asin di dalam
perangkap dan pintu perangkap di biarkan terbuka selama1 hari di lakukan
pengamatan dan pengambilan spesies fauna yang terjerap di jaring. Sampel yang
telah didapat kemudian diamati dan dideskripsikan. Metode perangkap lem
dilakukan dengan pemilihan lokasi pemasangan perangkap, perangkap lem di
lekatkan pada batang pohon dan di beri tanda dengan tali rafia untuk pengingat.
Pemasangan lem pada pohon harus mengelilingi batang pohon dan dibiarkan
selama 1 hari kemudian dilakukan pengamatan dan pengambilan spesies fauna
yang terjerap di jaring. Sampel kemudian dibawa ke Laboratorium Zoologi untuk
diidentifikasi
3.4.2 Identifikasi Sampel
Identifikasi dilakukan dengan cara melihat langsung karakter morfologi dari
sampel lalu mencocokannya dengan literatur seperti jurnal dan buku The Field
Guide of Frog of Borneo dan Journal of Herpetology untuk herpetofauna dan
buku identifikasi untuk mamalia
3.4.3 Pengukuran Parameter Lingkungan
Pengukuran parameter lingkungan dilakukan dengan cara mengukur
kelembaban dengan higrometer, suhu udara dan sungai dengan thermometer dan
dicatat suhunya. Setelah itu dilakukan pengukuran pH pada sungai dengan
mencelupkan kertas lakmus pH ke dalam air

3.5 Analisis Data


Karakter komunitas jenis hewan yang ditemukan di Riam Eria dianalisis
dengan mengetahui kepadatan populasi (K), kepadatan relative (KR), frekuensi
kehadiran (FK), indeks keanekaragaman jenis (H), indek dominansi (C).
a. Kepadatan populasi (K)
Perhitungan kepadatan populasi menggunakan rumus:
Jumlah individu suatu jenis
KR=
Luas area

b. Kepadatan relatif (KR)


Perhitungan kepadatan relatif menggunakan rumus:

KR= N x 100%
Keterangan:
Ni : Jumlah individu spesies ke-i
N : Total individu seluruh jenis

c. Frekuensi kehadiran (FK)


Frekuensi kehadiran menggunakan rumus:
Jumlah lokasi yang ditempati suatu jenis
FK = x 100%
Jumlah total lokasi
d. Indeks keanekaragaman jenis
Indeks keanekaragaman jenis menggunakan rumus:
H= - Pi ln Pi
Keterangan:
H : Indeks keanekaragaman shanon-Winner
Pi : Proporsi jumlah individu ke-I (ni/N)
ni : Jumlah individu ke-i
N : Total jumlah individu
Kriteria keanekaragaman jenis menurut Odum,1993
H< 1 : Keanekaragaman rendah
1 < H < 3 : Keanekaragaman sedang
H > 3 : Keanekaragaman tinggi

e. Indeks kemerataan (E)


Indeks kemerataan dihitung dengan rumus:
E = H/Ln (S)
Keterangan :
S = Jumlah spesies
H = indeks keanekaragaman jenis
Nilai indeks kemerataan berkisar 0-1. Kriteria nilai indeks
kemerataan berkisar sebagai sebagai berikut :
E = 0: Kemerataan antar spesies rendah, artinya kekayaan individu yang
dimiliki masing-masing spesies jauh berbeda

E = 1: Kemerataan antar spesies relative merata, artinya memiliki banyak


kesamaan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Berdasarkan Praktikum Lapangan Ekologi Hewan yang dilaksanakan di
kawasan Riam Eria pada tanggal 28-29 April 2017, data yang didapatkan adalah
sebagai berikut:
4.1.1 Tabel Hasil Keanekaragaman Herpetofauna di Kawasan Riam Eria

4.2 Pembahasan
Secara administratif, Riam Eria masuk ke dalam Desa Nyarumkop,
Kecamatan Singkawang Timur, Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat,
yang secara geografis berada pada koordinat ...BT ...BT dan ... LU - ... LU, dan
terletak 182 km arah utara dari Kota Pontianak dengan waktu tempuh sekitar 4
jam. Daerah ini terletak di sisi barat Kalimantan Barat; yang selatannya
berbatasan dengan Kabupaten Bengkayang.

Riam Eria termasuk Cagar Alam Gunung Pasi. Keadaan topografi kawasan
Cagar Alam Raya Pasi atau Objek Wisata Alam Gunung Poteng pada umumnya
bergelombang, sedang sampai berat dan bergunung dengan kemiringan 15-65 0.
Ketinggiannya berkisar antara 150920 m dpl. Habitat dan Tipe ekosistem pada
kawasan ini adalah tipe hutan dataran rendah, perbukitan dan tipe vegetasi
pegunungan.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan dan koleksi fauna yang terdapat di
kawasan Riam Eria, didapatkan 4 kelompok kelas (Mamalia, Aves, Reptilia dan
Amphibia). Selama pengamatan yang dilakukan, kelas Mamalia diwakili oleh 2
jenis, kelas Aves diwakili oleh 1 jenis, kelas Reptilia diwakili oleh 2 jenis dan
kelas Amphibia diwakili oleh 13 jenis. Kelompok yang paling tinggi kehadirannya
dalam pengamatan ini adalah kelas Amphibia, dari jenis Hylarana yang
ditemukan melimpah di sekitar kawasan Riam Eria.
Kehadiran dari kelas Amphibia yang banyak dikarenakan bahwa Amfibi hidup
pada daerah yang lembab. Habitat utama amfibi adalah hutan primer, hutan
sekunder, hutan rawa, sungai besar, sungai sedang, anak sungai, kolam dan danau.
Umumnya amfibi dijumpai pada malam hari atau pada musim penghujan.
Iskandar (1998), menyatakan bahwa Amfibi selalu hidup berasosiasi dengan air
sesuai namanya yaitu hidup pada dua alam (di air dan di darat). Selanjutnya
dijelaskan bahwa sebagian besar amfibi didapatkan hidup di kawasan hutan
karena di samping membutuhkan air juga membutuhkan kelembaban yang cukup
tinggi (75-85%) untuk melindungi tubuh dari kekeringan. Hal itu sesuai dengan
keadaan lapangan dimana di kawasan Riam Eria, banyak terdapat sungai dan
hutan primer serta hutan sekunder di sekitar kawasan tersebut.
Banyaknya kelas Amphibia di kawasan Riam Eria menunjukkan bahwa
Amphibia merupakan salah satu komponen penyusun ekosistem yang memiliki
peranan sangat penting, baik secara ekologis maupun ekonomis. Secara ekologis,
amfibi berperan sebagai pemangsa konsumen primer seperti serangga atau hewan
invertebrata lainnya serta dapat digunakan sebagai bioindikator kondisi
lingkungan. Secara ekonomis amfibi dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein
hewani, hewan percobaan, hewan peliharaan dan bahan obat-obatan (Ariza, et.
al., 2014).
Selain dari kelas Amphibia yang dominan di kawasan tersebut, ada juga kelas
lain seperti kelas Aves, kelas Reptilia dan Mamalia yang tidak sebanyak kelas
Amphibia akibat kelas Amphibia yang mendominasi kawasan Riam Eria.
Kemerataan yang rendah selain dari spesies yang mendominasi kawasan tersebut,
juga akibat dari faktor pembatas seperti suhu, reproduksi, jenis makanan, habitat
dan lain-lain. Hasil yang didapat dalam praktikum menunjukkan bahwa kelas
Mamalia dan Aves didapatkan di daerah hulu kawasan Riam Eria yang masih
lebat akan pohon, berbeda dengan kelas Amphibia dan Reptil yang didapatkan di
daerah hilir kawasan Riam Eria sehingga perbedaan habitat menjadi faktor
pembatas dalam pengamatan hari ini.
H
BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil dari praktikum lapangan Ekologi Hewan Keragaman Jenis
Fauna Di Kawasan Riam Eria, Kelurahan Nyarumkop, Kecamatan Singkawang
Timur, Kota Singkawang, Kalimantan Barat, maka simpulan yang didapat adalah
sebagai berikut:
1. Keragaman jenis fauna yang terdapat di kawasan Riam Eria memiliki 4
kelas yang didapat yaitu Aves diwakili oleh 1 jenis, kelas Reptilia diwakili
oleh 2 jenis dan kelas Amphibia diwakili oleh 13 jenis. Kelompok yang
paling tinggi kehadirannya dalam pengamatan ini adalah kelas Amphibia,
dari jenis Hylarana yang ditemukan melimpah di sekitar kawasan Riam
Eria
2. Morfologi dari jenis fauna yang terdapat di kawasan Riam Eria adalah
wakil dari kelas Aves memiliki bulu dengan warna biru kehitaman di
bagian sayap, warna kuning di bagian ventral, warna ungu di bagian
kepala dan caudal dan memiliki paruh yang panjang. Morfologi dari kelas
Reptilia umumnya memiliki sisik disepanjang tubuh mereka dengan ekor
yang relatif panjang. Morfologi dari kelas Mamalia adalah memiliki sayap,
beraktivitas di malam hari dan berwarna hitam kecoklatan yang hampir
terdapat di semua tubuhnya. Morfologi dari Amphibia adalah memiliki
tungkai belakang yang panjang, kulit lembab dan beberapa memiliki
webbing atau selaput di tungkainya

5.2 Saran
Saran dalam praktikum ini dan untuk selanjutnya adalah sebaiknya ada
penggunaan lokasi lain yang memiliki sungai seperti kawasan Riam Merasap
untuk melihat keragaman fauna yang terdapat di lokasi tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Alikodra, H.S. 2002. Pengelolaan Satwaliar Jilid II. Buku. Yayasan


Penerbit Fakultas Kehutanan IPB. 89 p.
Ario A. 2010. Panduan Lapangan Mengenai Satwa Taman
Nasional Gunung Gede Pangrango. Conservation
International Indonesia, Jakarta.
Asad S., Jimi L. M., and Agus P. P. 2012. The Herpetofauna of Nusa
Penida, Indonesia. Herpetologycal Bulletin; Issue
Number: 122.
Bappenas. 1993. Biodiversity Action Plan for Indonesia.
Buku.Ministry of development planning/ national development
planning agency. Jakarta. 15 p.
Diba, Dewi, Farah, 2009. Prefelensi dan Intensitas Endoparasit
Berdasarkan Hasil Analisis Feses Kura-Kura Air
Tawar (Coura amboinensis) di Perairan Sulawesi Selatan
.SKRIPSI. Institut Pertanian Bogor.
DKKH (Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati) Direktorat
Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (dikJen
PHKA) Departemen Kehutanan dan Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI), 2012.Panduan Identifikasi
Hidupan Liar Diperdagangkan di Asia Tenggara. Jurnal
Jakarta. Indonesian Institute of Science.
Fry B. G., Vidal N., Van der Weerd L., Kochva E., and Renjifo C.
2009. Evolution and diversification of the toxicofera
reptile venom system. Journal of Proteomics 72: 127-
136.
Goin C.J., O.B. Goin. 1971. Introduction to herpetology. Buku. San
Francisco: WH Freeman and Company. 154 p.
Gibbons, J., D. Scott , T. Ryan , K. Buhlmann, T. Tuberville, B.
Metts, J. Greene, T. Mills, Y. Leiden, S. Poppy, T. Winne.
2000. The global decline of reptiles dj vu amphibians.
bioscienceJournal. (50) 8: 653666.
Inverson, J, B,1985.Checklist of the Turtles of the World With
English Common Names. Herpetology Circular :1-14
Iskandar, D, T, 2000.Kura-kura dan Buaya Indonesia dan Papua
Nugini.Bandung.Institut Teknik Bandung.
Iskandar D. T. and Erdelen. 2006. Conservation of amphibians
and reptiles in indonesian :issue and problems.Buku.Institut
TeknologiBandung. Bandung. 54 p.
Jasin, M. (1989). Sistematika Hewan (Invertebrata dan
Vertebrata). Surabaya: Sinarwijaya.
Khan, M. S. 1998. Notes on Typhlops diardi Schegel, 1839, with
description of a new
subspecies(Squamata,Serpentes,Scolecophidia).Pakistan
Journal of Zoology 30(3): 213-221
Komosawa M., and Ota H. 1996. Reproductive Biology of the
Brahminy Blind Snake (Ramphotyphlops braminus) from
the Ryukyu Archipelago. Journal of Herpetology 30(1): 9- 14.
Kuch U., and Dietrich M. 2007. The Identity of the Javan Krait,
Bungarus javanicus Kopstein, 1932 (Squamata: Elapidae):
Evidence From Mitochondrial and Nuclear DNA Squence
Analyses and Morphology. Zootaxa 1426: 1- 26.
Kusrini M.D, W., Endarwin., A.UI-Hasanah., M., Yazid. 2007.
Metode pengamatan herpetofauna di taman nasional
batimurung bulusaraung, sulawesi selatan.Modul pelatihan.
Jurnal.Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan
Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB, Bogor. 712
Lang D R., and Vogel G. 2005. The Snake Of Sulawesi (A Field
Guide to the Land Snakes of Sulawesi with Identification
Keys).Edition, Frankfurt am Main. Germany.
Mardiastuti A., T. Soehartono. 2003. Di dalam: Kusrini MD,
Mardiastuti A, Fitri A, editor.Konservasi amfibi dan reptil
di indonesia.Jurnal. Bogor:Indonesian Reptile and Amphibian
Trade Association(IRATA).131 144
Mazumdar K., and Mithra D. 2010. Rescue of Short Nosed Vine
Snake Ahaetulla prasina (Shaw, 1802) in Assam
University Campus, Silchar, Assam. ZoosPrint, Volume
XXV, Number 2, (RNI 11:5).
McKay J. 2006. Reptil dan Amphibi di Bali. (Laksmi Holland,
Pentj). Kriger Publishing Company.
Meshaka, W.E. 2006. An update on the list of Floridas exotic
amphibian and reptile Species. Journal of Kansas Herpetology
19:16-17.
Mistar .2008. Panduan Lapangan Amfibi & Reptil di Area Mawas
Propinsi Kalimantan Tengah (Catatan di Hutan Lindung
Beratus). Yayasan Penyelamatan Orangutan
Borneo.Palangkaraya,Kalimantan Tengah, Indonesia.
Mohammadi S., Bryan M. K., Tracy T., Yohsuke A., and Jacques G.
H. Spatial and Thermal Observations of a Malayan Krait
(Bungarus candidus) From Thailand. Tropical Natural
History (14)1: 21 26.
OShea, M. 1998. Herpetological results of two short field
excursions to the Royal Bardia region of western Nepal,
including rangeextensions for Assamese/Indo-Chinese snake
taxa. Pp. 306- 317. In: A. De Silva, editor,Biology
and conservation of the amphibians,reptiles, and their
habitats in South Asia. Proceedings of the International
Conference on Biology and Conservation of Amphibians and
Reptiles in South Asia, Sri Lanka,August 1SQ5, 1996.Peradeniya,
Sri Lanka: Amphibia and Reptile Research Organization of
Sri Lanka(ARROS).
Pauwels, O. S. G., P. David, C. Chimsunchart and K. Thirakupt.
2003. Reptiles of Phetchabyti Province, western
Thailand: A list of species, with natural history notes, and
a discussion of the biogeography at the Isthmus of Kra.
The Natural History Journal of Chulalongkorn University
3(1):23- 53.Pope, C. H. 1929. Notes on reptiles from Fukien
and other Chinese provinces. Bulletin of the American
Museum of Natural History 58(8):335- 487.
Smith, H.T., E. Golden, and W.E. Meshaka, Jr. 2007a. Population
density estimat es for a Green Iguana (Iguana iguana)
colony in a Florida state park. Journal of Kansas
Herpetology 21:19- 20.
Smith, H.T., W.E. Meshaka, Jr., G.H. Busch, and E.M.Cowan. In
press-a. Gray Fox predation of nests as apotential
limiting factor in the colonization success of the Green Iguana
in Southern Florida.JournalofKansasHerpetology.
Smith, H.T., W.E. Meshaka, Jr., and G.H. Busch. In pressb.Jurassic
Park battles in paradiseA Green Iguanascollide with
native mammalian predators and other interesting
findings in Florida, USA: A brief update.IUCN Invasive
Species Specialist Group Aliens Newsletter.
Tweedie, M.W.F. 1983. The snakes of malaya. Buku The Singapore
National Printers. Singapore. 98
World Wild life Fund Indonesia ,Kehutanan .2007. Indonesia

http://www.wwf.or.id/tentang_wwf/upaya_kami/forestspesies/tent
ag forestspesieskehutanan/ diakses 09 Januari 2017