Anda di halaman 1dari 17

makalah obat saluran pernafasan

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) termasuk flu, renitis akut, sinusitis, tonsillitis
akut dan laryngitis akut. Pilek adalah tipe infeksi saluran nafas atas yang paling seering
ditemukan. Orang dewasa rata-rata akan terserang flu 2-4 kali dalam setahun, dan anak-
anak rata-rata 4-12 kali pertahun. Insidennya bervariasi menurut musim, kira-kira 50 %
dari penduduk akan mendapat penyakit ini pada musim dingin dan 25 % pada musim
panas. Biasanya, flu tidak dianggap sebagai penyakit yang berbahaya; tetapi penyakit ini
menyebabkan rasa tidak nyaman baik secara fisik maupun mental dan menyebabkan
penderita tidak bekerja atau tidak masuk sekolah.

1.2 Tujuan Penulisan

Adapun dengan beberapa tujuan dibuatnya makalah Farmakologi ini, yaitu :

1. memenuhi tugas yang diberikan dosen mata kuliah farmakologi ibu wenny dan juga
sebagai pembelajaran bagi kami khususnya tentang materi OBAT SALURAN
PERNAFASAN

2. Sebagai pelengkap bagi mahasiswa dan pengajar dalam melaksanakan proses belajar
mengajar untuk mata kuliah Farmakologi.

3. Memberikan tuntunan bagi mahasiswa yang sedang mempelajari materi tentang Obat
Saluran Pernafasan
4. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang lebih efektif dan efesien.

1.3 Batasan Masalah

Dalam pembuatan makalah ini kami hanya membahas masakah tentang infeksi
saluran pernafasan atas yaitu batuk, flu/influenza dan asma.

1.4 Metode penulisan

Adapun metode penulisan kami mengunakan metode kepustakaan, dimana


mengambil reverensi dari buku-buku perpustakaan.

BAB II

ISI

2.1 SALURAN PERNAPASAN

Saluran pernapasan dibagi dalam 2 golongan utama:

1. saluran pernapasan atas, terdiri dari lobang hidung, rongga hidung, faring, laring

2. saluran pernafasan bawah terdiri dari trachea, bronchi, bronchioles, alveoli dan membran
alveoulerv kapiler

Ventilasi dan respirasi adalah dua istilah yang berbeda dan tidak boleh ditukar
pemakaiannya. Ventilasi adalah pergerakan udara dari atmosfer melalui saluran
pernapasan atas dan bawah menuju alveoli. Respirasi adalah proses dimana terjadi
pertukaran gas pada membrane alveolar kapiler.
Infeksi saluran pernafasan adalah infeksi yang mengenai bagian manapun saluran
pernafasan, mulai dari hidung, telinga tengah, faring, laring (bronkus bronkeolus) dan
paru-paru.

Saluran pernafasan terdiri dari 2 bagian utama :

1. Saluran pernafasan atas

2. Saluran pernafasan bawah

Jenis-jenis infeksi saluran pernafasan atas : batuk pilek, faringitis, sinusitis, dan
toksilitis.

Jenis infeksi saluran pernafasan bawah : asma, bronchitis kronik, emfizema,


bronkioklialis.

Cara (cheronic aspecific respiratory affections)

Mencakup semua penyakit saluran nafas yang berartikan penyumbatan (obstruksi)


bronchi di sertai pengembangan mukosa (udema) dan sekresi dahak (sputum) berlebihan.
Penyakit-penyakit tersebut meliputi berbagai bentuk penyakit beserta peralihannya. Yakni
asma, bronchitis kronis, dan emfisema paru yang gejala klinisnya dapat saling menutupi
(everlapping). Gejala terpentingnya antara lain sesak nafas (dispnoe) saat mengeluarkan
tenaga, selama istirahat dan sebagai serangan akut, juga batuk kronis dengan pengeluaran
dahak kental. Karena gangguan tersebut memiliki mekanisme pathofisiologi yang berbeda-
bedaa dengan penanganan yang juga tidak sama.

2.2. OBAT SALURAN PERNAFASAN

2.2.1. Antihistaminika.

Semua antihistamin memberikan manfaat potensial pada terapi alergi nasal,


rhinitis alergik. Sifat antikolinergik pada kebanyakan antihistamiin menyebabkan mulut
kering dan pengurangan sekresi, membuat zat ini berguna untuk mengobati rhinitis
yang ditimbulkan oleh flu. Antihistamin juga mengurangi rasa gatal pada hidung yang
menyebabkan penderita bersin banyak obat-obat flu yang dapat dibeli bebas
mengandung antihistamin, yang dapat menimbulkan rasa mengantuk.

Contoh obat antihistamin

Nama obat dosis

Anti histamin

Difenhidramin D : PO : 25-50 mg, setiap 4-6 jam

( Benadryl ) D : PO, IM, IV : 5 mg/kg/h dalam 4 dosis terbagi, tidak lebih dari
300 mg/hari

D : IM:IV: 10-50 mg dosis tumggal

D: PO : 2-4 mg, setiap 4-6 jam


Kloerfenilamen
maleat A: 6-12 thn: 2 mg, setiap 4-6 jam

A: 2-6 thn: PO, 1 mg, setiap 4-6 jam

Fenotiasin

(aksi antihistamin)

Prometazine D: PO: IM: 12,5-25 mg, setiap 4-6 jam

Timeprazine D: PO: 2,5 mg (4 x sehari)

A: 3-12 thn: O: 2,5 (3x sehari)

Turunan
piperazine

(aksi antihistamin)
D: PO: 25-100 mg
hydroxyzine
A: (<6thn):>
Keterangan:

D: Dewasa, A: anak-anak, PO: per oral, IM: intramuscular, IV: intravena

2.2.2. Mukolitik

Mukolitik berkerja sebagai deterjen dengan mencairkan dan mengencerkan secret


mukosayang kental sehingga dapat dikeluarkan. Efek samping yang paling sering
terjadi adalah mual dan muntah, maka penderita tukak lambung perlu waspada. Wanita
hamil dan selama laktasi boleh menggunakan obat ini.

Contoh obat : ambroxol, bromheksin.

Dosis:

* ambroksol: dewasa dan anak-anak >12 thn, sehari 3 x 30 mg untuk 2-3 hari pertama.
Kemudian sehari 3 x 15 mg.

Anak-anak 5-12 thn, sehari 2-3 x 15 mg

Anak 2-5 thn, sehari 3 x 7,5 mg (2,5 ml sirop)

Anak <2>

* bromheksin: oral 3-4 dd 8-16 mg (klorida)

anak-anak 3 dd 1,6-8 mg.

2.2.3. Inhalasi

inhalasi adalah suatu cara penggunaan adrenergika dan korrtikosteroida yang


memberikan beberapa keuntungan dibandingkan pengobatan per oral. Efeknya lebih
cepat, dosisnya jauh lebih rendah dan tidak diresorpsi ke dalam darah sehingga resiko
efek sampingnya ringan sekali. Dalam sediaaninhalasi, obat dihisap sebagai aerosol
(nebuhaler) atau sebagai serbuk halusv (turbuhaler).
Inhalasi dilakukan 3-4 kali sehari 2 semprotan, sebaiknya pada saat-saat tertentu,
seperti sebelum atau sesudah mengelularkan ternaga, setelah bersentuhan dengan zat-
zat yang merangsang (asap rokok, kabut, alergan, dan saat sesak napas).

Contoh obat :

minyak angin (aromatis), Metaproterenol

dosis: isoproterenol atau isuprel: 10-20 mg setiap 6-8 jam (dewasa). 5-10 mg setiap 6-8
jam.

2.2.4. Kromoglikat

Kromoglikat sangat efektif sebagai obat pencegah serangan asma dan bronchitis
yang bersifat alergis, serta konjungtivitis atau rhinitis alergica dan alergi akibat bahan
makanan. Efek samping berupa rangsangan lokal pada selaput lender tenggorok dan
trachea, dengan gejala perasaan kering, batuk-batuk, kadang-kadang kejang bronchi dan
serangan asma selewat. Wanita hamil dapat menggunakan obat ini.

Contoh obat :

Natrium kromoglikat dipakai untuk pengobatan, pencegahan pada asma bronchial


dan tidak dipakai untuk serangan asma akut. Metode pemberiannya adalah secara
inhalasi dan obat ini dapat dipakai bersama dengan adrenergic beta dan derivate santin.
Obai ini tidak boleh dihentikan secara mendadak karena dapat menimbulkan serangan
asma.,

2.2.5. Kortikosteroid

Kortikosteroid berkhasiat meniadakan efek mediator, seperti peradangan dan


gatal-gatal. Penggunaannya terutama bermanfaat pada serangan asma akibat infeksi
virus, selian itu juga pada infeksi bakteri untuk melawan reaksi peradangan. Untuk
mengurangi hiperreaktivitas bronchi, zat-zat ini dapat diberikan per inhalasi atau
peroral. Penggunaan oral untuk jangka waktu lama hendaknya dihindari, karena
menekan fungsi anak ginjal dan dapat mengakibatkan osteoporosis.
Contoh obat : hidrokortison, deksamethason, beklometason, budesonid.

2.2.6. Antiasma dan Bronkodilator

Contoh Obat :
teofilin

Terdapat bersama kofein pada daun the dan memiliki sejumlah khasiat antara lain
spamolitis terhadap otot polos khususnya pada bronchi, menstimuli jantung dan
mendilatasinya serta menstimulasi SSP dan pernapasan. Reabsorpsi nya di usus tidak
teratur. Efek sampingnya yang terpenting berupa mual dan muntah baik pada
penggunaan oral maupun parienteral. Pada overdosis terjadi efek sentral (sukar tidur,
tremor, dan kompulsi) serta gangguan pernapasan juga efek kardiovaskuler.

Dosis: 3-4 dd 125-250 mg microfine (retard)

Teofilin dapat diberikan dengan cara injeksi dalam bentuk aminofilin, suatu campuran
teofilin dengan etilendiamin.

Stimulan adrenoseptor, contoh obat salbutamol, terbutalin sulfat, efedrin hidroklorida.

2.2.7. Obat-obat batuk

Antitussiva (L . tussis = batuk) digunakan untuk pengobatan batuk sebagai gejala


dan dapat di bagi dalam sejumlah kelompok dengan mekanisme kerja yang sangat
beraneka ragam, yaitu :

1. Zat pelunak batuk (emolliensia, L . mollis = lunak ), yang memperlunak rangsangan


batuk, melumas tenggorokan agar tidak kering, dan melunakkan mukosa yang
teriritasi. Banyak digunakan syrup (thyme dan althea), zat-zat lender (infus carrageen)

2. Ekspoktoransia (L . ex = keluar, pectus = dada) : minyak terbang, gualakol, radix


ipeca (dalam tablet / pelvis doveri) dan ammonium klorida (dalam obat batuk hitam)
zat-zat ini memperbanyak produksi dahak ( yang encer). Sehingga mempermudah
pengeluarannya dengan batuk.

3. Mukolotika : asetilsistein, mesna, bromheksin, dan ambroksol, zat-zat ini berdaya


merombak dan melarutkan dahak ( L . mucus = lender, lysis = melarutkan), sehingga
viskositasnya dikunrangi dan pengeluarannya dipermudah.

4. Zat pereda : kodein, naskapin, dekstometorfan, dan pentoksiverin (tucklase), obat-


obat dengan kerja sentral ini ampuh sekali pada batuk kering yang mengelitik.

5. Antihistaminika : prometazin, oksomomazin, difenhidramin, dan alklorfeniaramin.


Obat ini dapat menekan perasaan mengelitik di tenggorokan.

6. Anastetika local : pentoksiverin. Obat ini menghambat penerusan rangsangan batuk


ke pusat batuk.

Penggolongan lain dari antitussiva menurut titik kerjanya, yaitu :

1. Zat-zat sentral SSP

Menekan rangsangan batuk di pusat batuk (modula), dan mungkin juga bekerja
terhadap pusat saraf lebih tinggi (di otak) dengan efek menenangkan.

1. Zat adiktif : doveri , kodein, hidrokodon dan normetadon.

2. Zat nonadiktif : noskopin, dekstrometorfan, pentosiverin.

2. Zat-zat perifer di luar SSP

Emollionsia, ekspektoransia, mukolitika, anestetika local dan zat-zat pereda.


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sistem pernafasan berperan penting dalam pertukaran oksigen (O2) dengan
karbondioksida (O2). Secara fungsional sistem pencernaan terdiri dari trakea, bronkus,
bronkiolus, alveolus, dan paru-paru. Alveolus dikelilingi oleh pipa-pipa kapiler, baik alveolus
maupun kapiler tersusun oleh satu lapis sel yang memungkinkan terjadinya pertukaran antara
O2 dengan CO2. Oksigen dari udara masuk melalui bronkus, bronkiolus, alveolus dan terjadi
inspirasi lalu masuk ke sirulasi sistematik (darah) dan secara bersamaan CO 2 didifusikan
keluar dari pipa-pipa kapiler masuk ke alveolus yang selanjutnya dikeluarkan dari tubuh
melalui pernapasan.
Secara umum fungsi sistem pernapasan untuk tujuan menyediakan oksigen bagi
semua sel tubuh, membuang CO2 dari seluruh tubuh, membantu pertahankan tubuh melawan
senyawa asing, dan menghasilkan suara untuk berbicara. Banyak sekali golongan dan jenis
obat yang bekerja di saluran pernapasan untuk menjaga fungsinya.

B. TUJUAN
TUJUAN UMUM
Mengetahui dan mengerti obat yang bekerja pada saluran pernafasan
TUJUAN KHUSUS
1. Mengetahui pengertian, mekanisme kerja, efek samping dari obat Rhinitis.
2. Mengetahui pengertian, mekanisme kerja, efek samping dari obat Bronkodilator.
3. Mengetahui pengertian, mekanisme kerja, efek samping dari obat Mukolistik dan
Ekspektoran.
4. Mengetahui pengertian, mekanisme kerja, efek samping dari obat Antitusif.

BAB II
PEMBAHASAN

A. RHINITIS
Rhinitis adalah radang membran mukosa hidung yang ditandai dengan bersin, gatal,
hidung berlendir, dan kongesti atau hidung tersumbat. Rhinitis dapat terjadi karena
menghirup alergen, seperti debu, bulu binatang, serbuk sari bunga tertentu, asap rokok dn
polutan. Zat-zat tersebut berinteraksi dengan selmast merangsng pelepasan histamin,
leukotrin atau zat lain yang dapat menyebabkan konstriksi bronkus, udem, urtikaria, dan
infiltrasi sel.
Terapi rhinitis yang utama dalah pemberian antihistamin oral yang dikombinasikan
dengan dekongestan. Namun demikian, sering obat anti alergi diberikan secara topikal untuk
mengurangi efek sistemiknya. Efek samping kombinasi antihistamin dengan dekongestan
yang diberikan sistemik adalah sedasi atau ngantuk, insomnia dan aritmia (jarang). Secara
umum obat untuk terapi rhinitis yang sering disebut sebagai alergi rhinitis adalah :
1. Antihistamin (Penghambat Reseptor H1)
Histamin adalah zat yang secara alamiah terdapat da tersebar di seluruh tubuh. Tempat
penyimpanan utamanya adalah di sel mast dan basofil. Kerja histamin diperantarai oleh 2
repseptor yaitu reseptor H1 dan H2. Reseptor H2 kebanyakan terdapat di usus halus, bronkus,
dan sel parietal lambung. Histamin yang dilepaskan sel mast atau basofil akan berinteraksi
dengan reseptor menimbulkan gejala rhinitis yang telah disebutkan di atas. Interaksi dengan
reseptor H2 dapat memacu muntah atau mabuk perjalanan.
Antihistamin paling sering digunakan untuk terapi alergi atau alergi rhinitis. Penghambat
( reseptor bloker) H1 atau antihistamin akan menduduki reseptor H1 sehingga histamin tidak
dapat berinteraksi dengannya sehingga gejala alergi tidak timbul. Pengahmbat reseptor
histamin yang sering digunakan adalah difenhidramin, klorfeniramin, loratadin, terfenadin,
dan astemisol. Loratadin, terfenadin, dan astemisol relatif tidak menembus SSP sehingga efek
sedatifnya sangat kecil dibandingkan obat yang lain.
Jika terjadi kongesti, pemberian kombinasi antihistamin dengan dekongestan akan lebih
efektif dibandingkan dengan pemberian antihistamin saja.
2. Agonis -adrenergik (Dekongstan)
Obat golongan ini sering disebut dekongestan atau orang awam menyebutnya obat pelega
pernapasan. Dekongestan menyebabkan konstriksi arterioral di mukosa hidung sehingga
mengurangi infiltrasi cairan dari pembuluh darah ke jaringan sekitar yang dapat
menyebabkan udem. Selain itu dekongestan juga dapat menyebabkan relaksasi bronkus
menyebabkan berkurangnya gangguan aspirasi udara masuk ke paru-paru.
Dekongestan sering diberikan melalui aerosol untuk memperpendek onzet dan
mengurangi efek samping sistemiknya. Jika diberikan melalui oral, efeknya akan panjang
tetapi dapat menimbulkan efek samping sepertipeningkaan tekanan darah dan denyut jantung.
Kombinasi dengan antihistamin hanya boleh diberikan dalam beberapa hari untuk
mengurangi fenomena reboun kongesti jika pemberian obat dihentikan. Contoh agonis -
adrenergik adalah fenileprin, pseudoefedrin, dan okzimetazolin. Obat-obat tersebut bekerja
pada reseptor 1 di pembuluh darah mukosa hidung menyebabkan kontriksi sehingga
mengurangi perembesan cairan ke jaringan. Selain itu juga bekerja pada reseptor 2 di
bronkus menyebabkan dilatasi.
3. Kortikosteroid
Obat golongan ini diberikan untuk rhinitis jika antihistamin sudah tidak efektif. Obat ini
bukan pilihan utama untuk rhinitis karena efek sampingnya yang lebih berat. Obat ini
mungkin lebih efektif dari antihistamin oral dalam mengurangi gejala rhinitis baik karena
alergi atau non alergi. Untuk mengurangi efek samping sistematiknya kortikosteroid sering
diberikan secara topikal melalui nasal spray. Contoh steroid yang sering digunakan adalah
beklometason, flutikason, dan triamsinolon.
Untuk lebih mengenal obat rhinitis, dalam tabel berikut dicantumkan beberapa contoh
beserta dosis lazimnya.
Tabel 7. Obat-obat untuk rhinitis dan Dekongestan
Nama Obat Dosis Dewasa Kegunaan
Klorfeniramin 2 4 mg setiap 4-6 jam Antihistamin
Dimenhidrinat 50 100 mg setiap 4-6 jam Antihistamin
Difenhidramin 25 50 mg setiap 4-8 jam Antihistamin
Terfenadin 60 mg 2 kali sehari Antihistamin
Astemisol 10 mg/hari Antihistamin
Loratadin 10 mg/hari Antihistamin
Ciproheptadin 4 20 mg/hari Antihistamin
Fenilefrin 10 mg setiap 4-6 jam Dekongestan
pseudoefedrin 30 mg 2 kali sehari dekongestan

B. BRONKODILATOR
Istilah bronkodilator merujuk pada obat yang mempunyai efek mendilatasi atau
relaksasi bronkus. Obat ini sering digunakan sebagai antiasma. Bronkokonstriksi dapat terjadi
karena perangsangan parasimpatik atau hambatan simpatik dibronkus. Pada kasus asma
perangsangan terjadi karena meningkatnya kepekaan bronkus terhadap rangsang.
Konstriksi bronkus dapat diredakan atau dikurangi dengan pemberian agonis 2 atau
pemberian antagonis kolinergik serta obat golongan xantin.
1. Agonis 2
Agonis 2 dalam terapi dapat diberikan melalui oral,inhalasi,atau injeksi. Pilihan cara
penggunaan tergantung kecepatan dan lamanya efek yang diharapakan. Untuk mendapatkan
efek yang cepat cara pemberian inhalasi dan injeksi umumnya dipilih,untuk mendapatkan
efek yang lama seperti pada pencegahan serangan asma berulang,pemberian oral yang dipilih.
Inhalasi agonis 2 adalah terapi yang paling efektif yang tersedia untuk spasme bronkus akut
dan mencegah serangan asma yang dipicu oleh kelelahan. Reseptor 2 yang terdapat
dibronkus jika dirangsang akan menyebabkan dilatasi. Inilah alasan kenapa agonis 2
digunakan untuk terapi asma. Perangsang reseptor ada 2 yaitu yang selektif dan non
selektif. Yang selektif hanya merangsang reseptor 2 saja,yang tidak selektif merangsang baik
reseptor 2 maupun 1.
Agonis selektif lebih disukai oleh karena hanya menyebabkan dilatasi bronkus tanpa
merangsang 1 yang berakibat peningkatan frekuensi dan kekuatan denyut jantung. Contoh
agonis selektif yang sering digunakan sebagai bronkodilator adalah:
Albuterol
Terbutalin
Salmeterol
Salbutamol
Fenoterol
2. Metil Xantin
Zat atau obat yang termasuk golongan Xantin yang digunakan dalam klinik adalah kafein,
teobromin, dan teofilin. Zat atau obat tersebut berasal dari tanaman the, kopi atau koka. Dari
golongan Xantin hanya teofilin yang dimanfaatkan sebagai bronkodilator.
Teofilin bekerja menghambat fosfodiesterase suatu enzim intraseluler yang berfungsi
menginaktivasi cyclic adenosin mono phosfat (cAMP). Hambatan terhadap fosfodiesterase
melibatkan peningkatan kadar cAMP di bronkus dan sel mast. Peningkatan cAMP
mengakibatkan dilatasi bronkus dan mengurangi pelepasan histamin dari sel mast.
Teofilin dapat diberikan secara oral, rektal atau injeksi IV. Dosis teofilin harus
diindividualisasi (perorangan) karena adanya variasi yang cukup besar antar pasien berkaitan
dengan absorbsi dan metabolismenya. Selain itu, teofilin mempunyai indek terapi sempit
(LD50/ED50 kecil), artinya antara dosis toksik dan dosis terapi jarahnya relatif kecil. Obat yang
indek terpinya sempit berpotensi menimbulkan efek toksik.
Dalam klinik, terdapat sedian tablet teofilin lepas lambat yang ditujukan untuk
menimbulkan efek samping (toksik) karena fluktuasi kadar obat dalam darah dan untuk
meningkatkan kepatuhan pasien. Ini mengingat terapi asma adalah bersifat kronik atau
menahun. Aminofilin adalah prepara larut dalam air dari teofilin karena penambahan
etilendiamin untuk meningkatkan kelarutan teofilin yang relatif sukar larut dalam air. Efek
samping utama dari teofilin adalah mual, muntah dan pada orang-orang tertentu dapat
menimbulkan muka merah (flusing), sakit kepala, dan hipotensi.
Karena efek sampingnya lebih besar dan efektivitasnya lebih kecil jika dibandingkan
dengan agonis 2 menyebabkan teofilin relatif jarang digunakan. Efektifitas teofilin sekitar -
1/3 dari agonis 2 menjadikannnya bukan merupakan obat pilihan utama terapi asma.
3. Antikolinergik
Antikolinergik tidak secara luas digunakan untuk terapi asma atau bronkodilator,
meskipun berefek dilatasi bronkus. Ini disebabkan karena efek sampingnya lebig banyak
dibandingkan bronkodilator yang lain. Efek samping utamanya dalah mulut kering karena
berkurangnya sekresi kelenjar. Obat golongan ini baru diberikan jika obat-obat yang lain
kurang efektif atau hanya sebagai tambahan pada agonis 2. Contoh obat kolinergik adalah
ipatropium bromid yang pemberiannya melalui inhalasi.
4. Kortikosteroid
Efek utama kortikosteroid dalam terapi asma adalah menghambat inflamasi yang terjadi
di saluran pernafasan. Steroid digunakan terutama jika bronkodilator lain sudah kurang
efektif. Kortikosteroid dapat diberikan secara oral, inhalasi atau injeksi. Contoh
kortikosteriod adalah prednison, deksametason, beklometason, dan triamsinolon.
Tabel 8. Bronkodilator dan dosis lazimnya
Nama Obat Dosis Lazim Kegunaan
Albuterol 2 4 mg, 3-4x, maks 8 mg Asma
Salbutamol 2 4 mg, 3-4x, maks 8 mg
Terbutalin 2,5 5 mg, 3 x sehari
Fenoterol 200 ug, 2 x sehari (inhalasi)
Salmeterol 50 ug, 2 x sehari (inhalasi)
Teofilin 100 200 mg setiap 6-12 jam
Aminofilin 200 3mg setiap 6-8 jam
Ipatropium 40 ug, 3-4 kali sehari
bromid
(inhalasi)

C. MUKOLISTIK DAN EKSPEKTORAN


Asma, bronchitis, dan infeksi bronkus dapat menyebabkan produksi mucus. Kondisi
ini menyebabkan peningkatan penebalan mucus. Mucus mengandung glikoprotein,
polisakarida, debris sel dan cairan/eksudat infeksi. Infeksi pernafasan menghasilkan mucus
yang bersifat purulen atau menyebabkan infeksi, oleh karena itu harus segera dikeluarkan.
Perubahan dan banyaknya secret menyebabkan mucus sukar dikeluarkan secara ilmiah.
Ketika kondisi sudah mengganggu pernapasan pemberian mukolitik mungkin bermanfaat
untuk memudahkan pengeluaran mucus.
Asetilsistein adalah contoh obat yang digunakan sebagai mukolitik selain minum air
dalam jumlah yang cukup. Asetilsistein bekerja dengan memecah glikoprotein yang terdapat
pada mucus menjadi molekul molekul yang lebih kecil sehingga menjadi lebih encer.
Mucus yang encer akan lebih mudah di ekspektorasikan pada saat batuk. Contoh lain adalah
bromheksin yang juga bermanfaat untuk mengurangi ketebalan mucus yang kemungkinan
bekerja dengan cara memutuskan ikatan ikatan yang ada dalam mukopolisakarida
menghasilkan molekul molekul yang lebih kecil.
Saluran pernapasan yang terlalu kering dapat menyebabkan irititasi dan memacu
reflek batuk. Ekspektoran dapat meningkatan sekresi disaluran pernapasan sehingga
bermanfaat untuk mengurangi iritasi dan batuknnya akan berkurang sendirinya.
Obat yang sering digumakan sebagai ekspektoran adalah ammonium clorida,
potassium sitrat, dan guaifenesin serta griserin guaikolat. Ekspektoran juga mengencerkan
mucus dalam bronkus sehingga mudah dikeluarkan. Dalam klinik ekspektoran sering
ditambahkan dalam obat batuk, walaupun efektifitasnya masih dipertanyakan.
Tabel mukolitik dan ekspektoran serta dosis lazimnya

Nama obat Dosis lazimnya Kegunaannya


Asetilsistein 200 mg, 3 x sehari ekspektoran
Bromheksin 8 mg, 2-3 x sehari
Guaifenesin 100mg, 3 x sehari
Gliseril Guaikolat 50-100mg, 2-3 x sehari

D. ANTITUSIF
Batuk kering atau yang dikenal dengan batuk tidak produktif atau batuk tidak
menghasilkan secret, membuat tenggorokan gatal dan menyebabkan suara serak dan hilang.
Batuk sering dipicu oleh inhalasi partikel partikel makanan, bahan iritan, asap rokok, atau
karena perubahan temperature. Batuk kering juga dapat merupakan gejala sisa dari infeksi
virus atau karena flu. Batuk jenis ini tidak memberikan gejala kecuali batuk itu sendiri, pasien
tidak merasa sakit, tidak ada kongesti atau gangguan pernapasan.
Antitusif adalah obat yang menghambat reflek batuk. Batuk sebenarnyaa merupakan
mekanisme perlindungan dan membersihkan saluran pernapasan dari zat-zat yang tidak
diingikan oleh tubuh. Dalam kondisi tertentu, misalnya pada inflamasi atau kanker terjaadi
reflek batuk yang berlebihan yang dapat mengganggu. Batuk yang demikian perlu diredakan
dan antitusif dapat bermanfaat. Antitusif yang digunakan dalam klinik jumlahnya tidak
banyak, yaitu kodein, dextrometorfan, noaskapin, dan uap mentol.
1) Kodein
Kodein bekerja menurunkan sensitifitas pusat batuk dari rangsangan. Kodein pada dosis
rendah (10-20mg) berefek sebagai antitusif tetapi pada dosis yang lebih besar juga berefek
sebagai analgetik. Efek samping obat ini adalah konstipasi, mual, sedasi ringan, dan depresi
pernapasan. Obat ini tergolong narkotika. Penggunaan kodein selain sebagai antitusif adalah
analgetik dan mengurangi ketergantungan terhadap heroin (sebagai terapi subtitusi).
2) Dextrometorfan
Obat ini merupakn L Isomer dari opioid (kodein) yang juga aktif sebagai antitusif,
namun tidak mempunyai efek analgetik. Obat ini tidak menimbulkan ketergantungan
sebagaimana kodein dan efek konstipasinya lebih ringan
3) Uap mentol
Uap mentol dapat menurunkan sensitifitas dari faring dan laring terhadap iritasi, sehingga
mengurangi timbulnya reflek batuk. Obat ini biasanya diberikan secara inhalasi atau bentuk
gosok.
Tabel antitusif dan dosis lazimnya
Nama obat Dosis lazimnya
Kodein 10-20 mg setiap 4-6 jam, maks
120mg
dextrometorfan 10-20 mg setiap 4 jam, maks 120mg
Uap mentol 10-20 mg setiap 4-6 jam, maks
120mg

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Rhinitis adalah radang membran mukosa hidung yang ditandai dengan bersin, gatal,
hidung berlendir, dan kongesti atau hidung tersumbat. Terapi rhinitis yang utama dalah
pemberian antihistamin oral yang dikombinasikan dengan dekongestan. Efek samping
kombinasi antihistamin dengan dekongestan yang diberikan sistemik adalah sedasi atau
ngantuk, insomnia dan aritmia (jarang). Secara umum obat untuk terapi rhinitis yang sering
disebut sebagai alergi rhinitis adalah : Antihistamin (Penghambat Reseptor H 1), Agonis -
adrenergik (Dekongstan), Kortikosteroid
Istilah bronkodilator merujuk pada obat yang mempunyai efek mendilatasi atau
relaksasi bronkus. Obat ini sering digunakan sebagai antiasma. Bronkokonstriksi dapat terjadi
karena perangsangan parasimpatik atau hambatan simpatik dibronkus. Konstriksi bronkus
dapat diredakan atau dikurangi dengan pemberian agonis 2 atau pemberian antagonis
kolinergik serta obat golongan xantin.
Asma, bronchitis, dan infeksi bronkus dapat menyebabkan produksi mucus. Kondisi
ini menyebabkan peningkatan penebalan mucus. Mucus mengandung glikoprotein,
polisakarida, debris sel dan cairan/eksudat infeksi. Infeksi pernafasan menghasilkan mucus
yang bersifat purulen atau menyebabkan infeksi, oleh karena itu harus segera dikeluarkan.
Perubahan dan banyaknya secret menyebabkan mucus sukar dikeluarkan secara ilmiah.
Ketika kondisi sudah mengganggu pernapasan pemberian mukolitik mungkin bermanfaat
untuk memudahkan pengeluaran mucus.
Batuk kering atau yang dikenal dengan batuk tidak produktif atau batuk tidak
menghasilkan secret, membuat tenggorokan gatal dan menyebabkan suara serak dan hilang.
Batuk sering dipicu oleh inhalasi partikel partikel makanan, bahan iritan, asap rokok, atau
karena perubahan temperature. Batuk kering juga dapat merupakan gejala sisa dari infeksi
virus atau karena flu. Batuk jenis ini tidak memberikan gejala kecuali batuk itu sendiri, pasien
tidak merasa sakit, tidak ada kongesti atau gangguan pernapasan.

B. SARAN
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, kritik dan saran
yang bersifat membangun dari pembaca sekalian sangat penulis harapkan guna kesempurnaan
makalah ini di masa mendatang.
DAFTAR PUSTAKA

Priyatno.2010.Farmakologi Dasar.Lembaga Studi dan Konsultasi Farmakologi


(LESKONFI): Depok