Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM DESAIN TEKSTIL

Dekomposisi Kain Anyaman Polos

Nama : Tenia Aprilita


NPM : 14030027
Gup : 2G2
Dosen : Dra. Ae Kusna
Asisten Dosen : 1. Resty M. H., S.ST.
2. Aulia Wara A.P., S.Ds., M.Ds.

POLITEKNIK STTT BANDUNG


2016
DEKOMPOSISI KAIN ANYAMAN POLOS
I. Maksud dan Tujuan
Maksud
Untuk mengetahui dekomposisi dan konstruksi kain anyaman polos.
Tujuan
Untuk mengetahui jenis-jenis anyaman pada kain, tetal kain, mengkeret benang, nomor benang,
perhitungan berat benang lusi dan benang pakan dibandingkan berat mutlak kain pada kain anyaman
polos.

II. Teori Dasar


Anyaman polos merupakan anyaman dasar yang paling sederhana. Dalam satu rapat anyaman
polos terdiri dari dua helai lusi dan dua helam pakan. Anyaman polos dapat dinyatakan dengan rumus
1
1
yang artinya satu benang lusi diatas satu benang pakan dan berikutnya dibawah satu benang pakan

dan berulang seterusnya.

Gambar 1 : Anyaman Polos


Dari gambar diatas, kotak hitam berarti benang lusi menyilang diatas benang pakan dan kotak
putih berarti benang lusi dibawah benang pakan. Kain dengan anyaman polos mempunyai keistimewaan
khusus, diantaranya dapat memvariasikan benangnya, misalnya nomornya/ besarnya, warnanya,
maupun teksturnya. Kain dengan anyaman polos mempunyai karakteristik khusus diantaranya :
1. Anyaman polos adalah anyaman yang paling sederhana, paling tua, dan paling banyak dipakai.
2. Mempunyai rapot paling kecil dari semua jenis anyaman.
3. Bekerjanya benang-benang lusi dan pakan paling sederhana, yaitu 1 naik 1 turun.
4. Ulangan rapot ke arah horizontal (lebar kain) atau ke arah pakan, diulangi setelah dua helai pakan.
Ke arah vertikal (panjang kain) atau ke arah lusi, diulangi setelah dua helai lusi.
5. Jumlah silangan paling banyak di antara jenis anyaman yang lain.
6. Jika faktor-faktor yang lain sama, maka anyaman polos mengakibatkan kain menjadi paling kuat
daripada anyaman lain dan letak benang lebih teguh atau tak mudah berubah tempat.
7. Anyaman polos paling sering dikombinasikan dengan faktor-faktor konstruksi kain yang lain
daripada jenis anyaman yang lainnya.
8. Tetal lusi dan tetal pakan pada anyaman polos mempunyai pencaran (range) yang lebih besar
daripada anyaman lain (10 helai/inch atau 20 helai/inch). Demikianpun perpencaran berat kain
adalah lebih besar daripada anyaman lain (0.25 cs/yds2-52 oz/yds2)
9. Anyaman polos lebih sesuai atau mampu diberi rupa yang lain dengan jalan mengadakan ubahan-
ubahan design, baik dalam design struktur maupun surface design dibandingkan anyaman lainnya.
10. Pada umumnya kain dengan anyaman polos penutupan kainnya (fabric cover) berkisar pada 25%-
75%
11. Anyaman polos dapat dipakai untuk kain yang jarang dan tipis (open construction atau sheer
texture) dengan hasil yang memuaskan daripada menggunakan anyaman jenis lain.
12. Banyak gun yang digunakan minimum 2 gun tetapi untuk tetal lusi yang tinggi digunakan 4 gun
atau lebih.
13. Anyaman polos banyak dipakai untuk kain dengan konstruksi medium dengan fabric cover 51%-
71%. Penutupan lusi dan pakan berkisar 31%-50%. Jenis kain ini misalnya : kain yang di shetting,
dan lain-lain.
14. Anyaman polos untuk kain padat (close construction) biasanya menggunakan benang pakan yang
lebih kasar daripada benang lusi. Fabric cover berkisar antara 76%-100% dan warp cover 50%-
100%, sedangkan filling cover 31%-50%. Karakteristik dari jenis ini cenderung menunjukan rip
(rusuk) horizontal pada permukaan kain.

III. Alat dan Bahan


Alat :
1. Jarum
2. Penggaris
3. Kaca pembesar
4. Gunting
5. Timbangan dengan skala gram
6. Timbangan dengan skala milligram
7. Pensil
Bahan :
1. Kain dengan anyaman polos
IV. Cara Kerja
1. Menentukan arah benang lusi dan benang pakan pada kain contoh uji (arah lusi diberi tanda
panah).
2. Menghitung tetal lusi dan pakan pada tiga tempat yang berbeda dan dicatat tiap bagiannya
serta hitung rata-ratanya.
3. Menimbang kain contoh uji dengan ukuran 20 cm x 20 cm kemudian mencatat beratnya.
4. Mengambil benang lusi dari sisi yang berbeda pada kain contoh uji tersebut sebanyak 10
helai 10 helai, sehingga total banyaknya benang lusi adalah 20 helai.
5. Menimbang 20 helai benang lusi dan mencatatnya.
6. Mengambil benang pakan dari sisi yang berbeda pada kain contoh uji tersebut sebanyak 10
helai 10 helai, sehingga total banyaknya benang pakan adalah 20 helai.
7. Menimbang 20 helai benang pakan dan mencatatnya.
8. Mengukur panjang benang lusi dan benang pakan helai demi helai dan diluruskan. Lalu
mencatat panjang dari masing-masing benang.
9. Menghitung nomor benang lusi dan pakan
10. Menghitung berat lusi/m2 dan berat pakan/m2 untuk mendapatkan selisih berat.
V. Data dan Perhitungan
Data Hasil Percobaan
1. Contoh Uji Kain Anyaman Polos

Contoh Uji Kain

Contoh Uji Benang Lusi Contoh Uji Benang Pakan

2. Ukuran Contoh Uji = 20 cm x 20 cm


3. Berat Kain Contoh Uji = 3.57 gram
4. Berat 20 Helai Lusi = 61 miligram
5. Berat 20 Helai Pakan = 71 miligram
6. Tabel pengamatan tetal serta panjang dari lusi dan pakan contoh uji
NO Tetal ( ) Panjang (cm)

Lusi Pakan Lusi Pakan


1. 104 55 20.9 20.8
2. 104 54 20.9 20.7
3. 105 55 20.9 20.6
4. 20.7 20.5
5. 20.8 20.5
6. 20.7 20.4
7. 20.8 20.5
8. 20.8 20.6
9. 20.6 20.5
10. 20.7 20.5
11. 20.6 20.7
12. 20.9 20.7
13. 20.7 20.7
14. 20.7 20.6
15. 20.6 20.7
16. 20.7 20.6
17. 20.6 20.7
18. 20.7 20.7
19. 20.6 20.8
20. 20.6 20.8
Jumlah () 309 164 414.5 412.6
Rata-rata ( ) 104.34 54.67 20.725 20.63

Perhitungan
1. Mengkeret Lusi dan Pakan
- Panjang benang kain contoh = Pk (20 cm)
- Rata-rata (x) benang setelah diluruskan = Pb (x lusi = 20.725 cm, x pakan =
20.63 cm)
Pb Pk
A. Mengkeret Lusi (ML ) = Pb
x 100%
20.72520
= 20.725
x 100%

= 3.49%
Pb Pk
B. Mengkeret Pakan (MP ) = Pb
x 100%
20.6320
= 20.63
x 100%

= 3.05%
2. Menghitung Nomor Benang Lusi dan Pakan
a. Nomor Benang Lusi
Jumlah() panjang20 helai lusi setelah diluruskan = 414.5 cm = 4.145 m
Berat 20 helai lusi = 61 miligram = 0.061 gram
panjang (meter) 4.145
Nm Lusi = = = 67.95
berat (gram) 0.061

Ne1 = 0.59 x Nm
= 0.59 x 67.95
= 40.09
1000 1000
Tex Lusi = Nm
= 67.95 = 14.72
9000 9000
Td Lusi = Nm
= 67.95 = 132.45
b. Nomor Benang Pakan
Jumlah() panjang20 helai pakan setelah diluruskan = 412.6 cm = 4.126 m
Berat 20 helai pakan = 71 miligram = 0.071 gram
panjang (meter) 4.126
Nm Pakan = berat (gram)
= 0.071 = 58.11

Ne1 = 0.59 x Nm
= 0.59 x 58.11
= 34.28
1000 1000
Tex Pakan = = = 17.21
Nm 58.11
9000 9000
Td Pakan = Nm
= 58.11 = 154.88

3. Menghitung Berat kainm2 secara Teoritis


A. Dengan Penimbangan
Berat Contoh Uji (20 x 20) cm = 3.57 gram
luas untuk mendapatkan m2
Berat kainm2 = Berat C. U x ukuran C.U
(100 x 100) cm
= 3.57 gram x (20 x 20) cm

= 3.57 x 25
= 89.25 gram
B. Dengan Perhitungan
Tetal Lusi = x tetal lusi hlinch = x tetal lusi2.54 = x tetal lusi hlcm

= 104.34 hlinch = 104.342.54 = 41.08 hlcm


100
Tetal lusi hlcm x panjang x x lebar
2 100 ML
Berat lusim = m Nm Lusi x 100cm
g m
100
41.08 hlcm x 100 x x 100
100 3.49
= m 67.95 x 100cm
g m
425655.3725
= 6795

= 62.64 gram
x tetal pakan
Tetal Pakan = x tetal pakan hlinch = hl
2.54 = x tetal pakan cm
= 54.67 hlinch = 54.672.54 = 21.52 hlcm
100
Tetalpakan hlcm x panjang x x lebar
2 100 ML
Berat pakanm = m Nm pakan x 100cm
g m
100
21.52 hlcm x 100 x x 100
100 3.05
= m 58.11 x 100cm
g m
221970.0877
=
5811

= 38.20 gram
Berat kainm2 = Berat lusim2 + berat pakanm2
= 62.64 gram + 38.20 gram
= 100.84 gram
4. Menghitung Selisih Perhitungan antara Penimbangan dengan Perhitungan
berat yang lebih besarberat yang lebih kecil
Selisih (%) = berat yang lebih besar
x 100%
100.8489.25
= 100.84
x 100%
11.59
= 100.84 x 100%

= 11.49 %
VI. Diskusi
Praktikum dekomposisi kain anyaman polos bertujuan untuk mengetahui dekomposisi dan
konstruksi anyaman kain polos. Pada praktikum ini terbukti bahwa kain contoh uji merupakan kain
anyaman polos, karena pada saat dilihat konstruksi anyaman pada kainnya, terlihat satu benang lusi
diatas satu benang pakan dan berikutnya dibawah satu benang pakan serta berulang seterusnya. Dalam
tiga rapot yang berbeda didapatkan tetal lusi sebanyak 104, 104, dan 105. Sementara tetal pakan
sebanyak 55, 54, dan 55. Pada saat telah dilakukan perhitungan didapatkan hasil bahwa benang lusi
memiliki nomor benang Nm, dan Ne yang lebih tinggi dibandingkan benang pakan. Sementara benang
pakan memiliki nomor benang Tex dan Td yang lebih tinggi dibandingkan benang lusi hal tersebut
disebabkan karena panjang rata-rata benang lusi setelah diluruskan mempunyai nilai lebih besar
dibandingkan dengan panjang rata-rata benang pakan setelah diluruskan. Dan benang lusi pun
mempunyai nilai mengkeret yang lebih besar dibandingkan dengan benang pakan. Mulur benang lusi
juga lebih besar dibandingkan dengan benang pakan. Hal tersebut dapat dibuktikan saat meluruskan
benang sehelai demi sehelai, benang lusi memiliki panjang yang lebih panjang dibandingkan benang
pakan. Sementara pada penimbangan, benang lusi memiliki berat yang lebih rendah dibandingkan
benang pakan. Padahal berdasarkan literature, berat benang lusi seharusnya lebih besar dari berat
benang pakan karena benang lusi dilapisi kanji sebelum proses pertenunan. Pada praktikum ini,
kemungkinan yang menyebabkan berat benang lusi lebih ringan dibandingkan dengan benang pakan
ialah karena benang lusi yang digunakan lebih halus dibandingkan dengan benang pakan. Presentase
selisih berat kainm2 antara penimbangan dan perhitungan pun didapat lebih dari 5%, yakni 11.49 %.
Nilai tersebut sangat berbeda jauh dengan literature yang seharusnya paling besar selisihnya hanya 5%
saja. Besarnya selisih berat hasil penimbangan dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor tersebut
antara lain :
1. Kesalahan saat memotong kain 20 cm x 20 cm sehingga ukuran kain tidak sesuai.
2. Adanya keterbatasan mata saat mengitung tetal kain (jumlah lusi dan pakan). Karena pada saat
menghitung kain, seringkali pada saat menghitung ujung dari kain, mata/ pandangan sudah tidak
fokus dan menghasilkan hitungan yang salah.
3. Kurang telitinya praktikan pada saat membaca skala timbangan.
4. Kesalahan saat mengukur panjang lusi dan pakan.
5. Kesalahan saat melakukan perhitungan.
VII. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum berupa data percobaan dan perhitungan yang telah dilakukan,
didapatkan data-data sebagai berikut dari kain contoh uji, yaitu :
1. Benang Lusi
a. Rata-rata ( ) panjang benang lusi setelah diluruskan = 104.34 cm
b. Mengkeret = 3.49%
c. Nm = 67.95
d. Ne = 40.09
e. Tex = 14.72
f. Td = 132.45
g. Berat lusi/m2 = 62.64 gram
2. Benang Pakan
a. Rata-rata ( ) panjang benang pakan setelah diluruskan = 54.67 cm
b. Mengkeret = 3.05%
c. Nm = 58.11
d. Ne = 34.24
e. Tex = 17.21
f. Td = 154.88
g. Berat pakan/m2 = 38.20 gram/m2
3. Berat kain/m2 hasil penimbangan = 89.25 gram
4. Berat kain/m2 hasil perhitungan = 100.84 gram
5. Selisih berat kain hasil perhitungan dan penimbangan = 11.49%
DAFTAR PUSTAKA

1. Moerdoko, S.Teks, W., dkk, Evaluasi Tekstil bagian Fisika, Institut Teknologi Tekstil,
Bandung, 1974.
2. Jumaeri, S.Teks., dkk, Pengetahuan Barang Tekstil, Institut Teknologi Tekstil, Bandung,
1977.