Anda di halaman 1dari 4

LO 5.

MAHASISWA MAMPU MEMAHAMI DAN MENGKAJI


HAMBATAN DAN SOLUSI PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI
MANAJEMEN KESEHATAN.
1. HAMBATAN
Untuk mewujudkan SIKNAS (Sistem Informasi Kesehatan Nasional) yang
diharapkan akan sangat membantu dalam pelayanan kesehatan nasional ternyata
masih menemui banyak kendala didalam pengembangannya sehingga masih
banyak yang perlu diperbaiki. Kendala tersebut antara lain:
1. Sistem informasi kesehatan masih belum terintegrasi
Depkes RI memiliki berbagai sistem informasi kesehatan, tetapi belum
terintegrasi. Sistem informasi kesehatan itu antara lain:
a. Sistem informasi puskesmas
b. Sistem informasi rumah sakit
c. Sistem informasi kewaspadaan pangan dan gizi
d. Sistem informasi obat
e. Sistem informasi sumber daya manusia kesehatan, yang mencakup:
Sistem informasi kepegawaian kesehatan
Sistem informasi pendidikan tenaga kesehatan
Sistem informasi diklat kesehatan
Sistem informasi tenaga kesehatan
f. Sistem informasi IPTEK kesehatan/ jaringan litbang kesehatan
2. Sebagian besar daerah belum memiliki kemampuan memadai
Daerah masih memerlukan fasilitasi. Adanya proyek ADB, HP5 dan lain-
lain mendorong daerah mengembangkan SIK. Akan tetapi setiap proyek
cenderung menciptakan sistem informasi kesehatan sendiri dan kurang
memperhatikan kelangsungan sistem.
3. Kurangnya tenaga purna waktu untuk sistem informasi kesehatan
Selama ini di daerah, pengelola data dan informasi umumnya adalah
tenaga yang merangkap tugas atau jabatan lain. Dibeberapa tempat memang
dijumpai adanya tenaga purna waktu. Akan tetapi mereka tidak dapat sepenuhnya
bekerja mengelola data dan informasi karena imbalan yang kurang memadai.
Belum lagi ditambah dengan rendahnya keterampilan dan pengetahuan mereka di
bidang informasi, khususnya teknologi informasi dan manfaatnya.Jabatan
fungsional untuk para pengelola data dan informasi yaitu Pranata Komputer dan
Statistisi, memberikan tunjangan jabatan sebagai imbalan, namun demikian untuk
dapat memangku jabatan-jabatan tersebut diperlukan persyaratan tertentu yang
sulit dipenuhi oleh para pengelola data dan informasi.
4. Kebijakan Setiap Pemerintah Daerah yang Berbeda
Pengembangan sistem informasi kesehatan daerah merupakan tanggung
jawab pemerintah daerah. Namun dikarenakan kebijakan dan standar pelayanan
bidang kesehatan masing- masing pemerintah daerah berbeda-beda, maka sistem
informasi kesehatan yang dibangun pun berbeda pula. Perbedaan tersebut
menimbulkan berbagai permasalahan dalam pengelolaan Sistem Informasi
Kesehatan Nasional (SIKNAS) secara umum, diantaranya :
a. Akurasi data tidak terjamin
b. Kontrol dan verifikasi data tidak terlaksana dengan baik.
c. Ketidakseragaman data dan informasi yang diperoleh.
d. Adanya keterlambatan dalam proses pengiriman laporan kegiatan
puskesmas/rumah sakit/pelaksana kesehatan lainnya, baik itu ke Dinas
Kesehatan maupun ke Kementrian Kesehatan sehingga informasi yang
diterima sudah tidak up to date lagi.
e. Proses integrasi data dari berbagai puskesmas/rumah sakit/pelaksana
kesehatan lainnya sulit dilakukan karena perbedaaan tipe data dan format
pelaporan.
f. Informasi yang diperoleh tidak lengkap dan tidak sesuai dengan kebutuhan
manajemen di tingkat Kabupaten/Kota, Propinsi maupun di tingkat
Kementrian Kesehatan.
g. file data tersimpan secara terpisah,
h. proses data dilakukan secara manual dan komputer sehingga
menyebabkan tidak mudah dalam akses, informasi yang dihasilkan lambat
dan tidak lengkap.

2. SOLUSI
Berdasarkan kepada analisis situasi dan kebijakan yang telah ditetapkan maka
strategi pengembangan SIKNAS adalah:
1. Integrasi sistem informasi kesehatan yang ada
Terintegrasi tidak bermaksud mematikan/menyatukan semua sistem
informasi yang ada. Sistem-sistem informasi yang lebih efisien bila digabungkan
akan disatukan. Pengintegrasian lebih berupa pengembangan: pembagian tugas,
tanggung jawab dan otoritas-otoritas dan mekanisme saling hubung. Dengan
integrasi ini diharapkan semua sistem informasi yang ada akan bekerja secara
terpadu dan sinergis membentuk SIKNAS. Pembagian tugas dan tanggung jawab
akan memungkinkan data yang dikumpulkan memiliki kualitas dan validitas yang
baik. Otaritas akan menyebabkan tidak adanya duplikasi dalam pengumpulan
data, sehingga tidak akan terdapat informasi yang berbeda-beda mengenai suatu
hal. Mekanisme saling hubung, khususnya dengan Pusat Data dan Informasi
Departemen Kesehatan akan menjamin dapat dilakukannya pengolahan dan
analisis data secara komprehensif.
2. Fasilitasi pengembangan sistem informasi kesehatan daerah
Sistem Informasi Kesehatan Daerah mencakup SIK yang dikembangkan di
unit-unit pelayanan kesehatan (khususnya puskesmas dan rumah sakit), SIK
kabupaten/ kota, dan SIK provinsi. Sistem Informasi Kesehatan (SIK) di
Puskesmas memiliki tanggungjawab untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan:
a. Mencatat dan mengumpulkan data baik kegiatan dalam gedung maupun
luar gedung
b. Mengolah data
c. Membuat laporan berkala ke Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota
d. Memelihara bank data
e. Mengupayakan penggunaan data dan informasi untuk manajemen pasien
dan manajemen unit puskesmas
f. Memberikan pelayanan data dan informasi kepada masyarakat dan pihak-
pihak berkepentingan lainnya di wilayah kerjanya.
Sistem Informasi Kesehatan di rumah sakit memiliki tanggungjawab untuk
melaksanakan kegiatan-kegiatan:
a. Memantau indikator kegiatan-kegiatan penting rumah sakit (penerimaan
pasien, lama rawat, pemakaian tempat tidur, mortalitas, waktu tunggu dan
lain-lain)
b. Memantau kondisi finansial rumah sakit (cost recovery)
c. Memantau pelaksanaan sistem rujukan
d. Mengolah data
e. Mengirim laporan berkala ke Dinas Kesehatan/ Pemerintah setempat
f. Memelihara bank data
g. Mengupayakan penggunaan data dan informasi untuk manajemen pasien
dan manajemen unit rumah sakit
h. Memberikan pelayanan data dan informasi kepada masyarakat dan pihak-
pihak berkepentingan lainnya di wilayah kerjanya
Sistem Informasi Kesehatan Kabupaten/ Kota memiliki tanggungjawab untuk
melaksanakan kegiatan-kegiatan:
a. Mengolah data dari unit-unit pelayanan kesehatan dan sumber-sumber lain
b. Menyelenggarakan survei/ penelitian bilamana diperlukan
c. Membuat profil kesehatan kabupaten/ kota untuk memantau dan
mengevaluasi pencapaian Kabupaten/ kota untuk memantau dan
mengevaluasi pencapaian Kabupaten/ Kota sehat
d. Mengirim laporan berkala/ profil kesehatan kabupaten/ kota ke dinas
kesehatan provinsi setempat dan pemerintah pusat
e. Memelihara bank data
f. Mengupayakan penggunaan data dan informasi untuk manajemen klien,
manajemen unit dan manajemen sistem kesehatan kabupaten/ kota
g. Memberikan pelayanan data dan informasi kepada masyarakat dan pihak-
pihak berkepentingan lainnya di wilayah kerjanya
Sistem Informasi Kesehatan propinsi memiliki tanggungjawab untuk
melaksanakan kegiatan-kegiatan:
a. Mengolah data dari DKK, unit-unit pelayanan kesehatan milik daerah
propinsi dan sumber-sumber lain
b. Menyelenggarakan survei/ penelitian bilamana diperlukan
c. Membuat profil kesehatan propinsi untuk memantau dan mengevaluasi
pencapaian propinsi sehat
d. Mengirim laporan berkala/ profil kesehatan propinsi ke pemerintah pusat
e. Memelihara bank data
f. Mengupayakan penggunaan data dan informasi untuk manajemen klien,
manajemen unit dan manajemen sistem kesehatan kabupaten/ kota
g. Memberikan pelayanan data dan informasi kepada masyarakat dan pihak-
pihak berkepentingan lainnya di wilayah kerjanya
Fasilitasi pengembangan SIK daerah dilaksanakan dengan terlebih dahulu
membantu menata sistem kesehatannya, membantu pengadaan perangkat keras,
perangkat lunak, rekruitmen dan pelatihan tenaga kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA
Kristanto, Andri. 2003. Perancangan Sistem Informasi dan Aplikasinya.
Yogyakarta : Penerbit Gava Media.
Oetomo Sutedjo Dharma. 2002. Perencanaan dan Pembangunan Sistem
Informasi. Yogyakarta: AndiYogyakarta.

Anda mungkin juga menyukai