Anda di halaman 1dari 3

GAMBARAN UMUM AUDIT INVESTIGATIF

1. Audit Investigatif adalah:


Suatu bentuk audit atau pemerikasaan yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan
mengungkap kecurangan atau kejahatan dengan menggunakan pendekatan, prosedur dan
teknik-teknik yang umumnya digunakan dalam suatu penyelidikan atau penyidikan terhadap
suatu kejahatan. Tujuan audit investigatif mengidentifikasi dan mengungkap kecurangan atau
kejahatan.

2. Aksioma (asumsi dasar) dalam pemerikasaan fraud:


- Kecurangan itu tersembunyi (Fraud is Hidden)
Kecurangan memiliki metode untuk menyembunyikan seluruh aspek yang mungkin
dapat mengarahkan pihak lain menemukan terjadinya kecurangan tersebut. Upaya-
upaya yang dilakukan oleh pelaku kecurangan untuk menutupi kecurangannya juga
sangat beragam, dan terkadang sangat canggih sehingga hampir semua orang (bahkan
Auditor Investigatif sekalipun) juga dapat terkecoh.
- Melakukan pembuktian dua sisi (Reverse Proof).
Auditor harus mempertimbangkan apakah ada bukti-bukti yang membuktikan bahwa
dia tidak melakukan kecurangan. Demikian juga sebaliknya, jika hendak
membuktikan bahwa seseorang tidak melakukan tindak kecurangan, maka dia harus
mempertimbangkan bukti-bukti bahwa yang bersangkutan melakukan tindak
kecurangan.
- Keberadaan suatu Kecurangan (Existence of Fraud).
Adanya suatu tindak kecurangan atau korupsi baru dapat dipastikan jika telah
diputuskan oleh hakim melalui proses pengadilan. Dengan demikian, dalam
melaksanakan Audit Investigatif, seorang auditor dalam laporannya tidak boleh
memberikan opini mengenai kesalahan atau tanggung jawab salah satu pihak jawab
atas terjadinya suatu tindak kecurangan atau korupsi.

3. Cara kerja audit investigatif:


a. Mengumpulkan data dan informasi serta menganalisis adanya indikasi korupsi. Sifat
proaktif dimulai dengan pengumpulan data dan informasi yang berkaitan dengan
permasalahan yang akan diaudit. Misalnya data aliran dana keluar perusahaan, data
kekayaan orang-orang yang menjadi key person di perusahaan, informasi dari media
massa, dsb. Selanjutnya berbagai data dan informasi tersebut dianalisis sesuai dengan
tujuan dari audit investigatif yang akan dilaksanakan.
b. Mengembangkan hipotesis kejahatan dan merencanakan audit:
- Lakukan analisis terhadap perkembangan produk perusahaan di pasaran, bandingkan
dengan perusahaan sejenis, analisis rugi karena apa.
- Dapatkan informasi mengenai siapa yang berwenang/ melakukan otorisasi uang
keluar dengan nominal yang signifikan, dll
c. Melaksanakan audit untuk mengumpulkan bukti-bukti yang mendukung hipotesis
- Auditor melaksanakan wawancara terhadap saksi yang mendukung audit dan
menganalisa dokumen yang tersedia
- Auditor menggunakan bukti tidak langsung yang tersedia untuk meyakinkan saksi-
saksi agar bisa mendapatkan bukti-bukti yang secara langsung menunjukkan
terjadinya kecurangan atau kejahatan
- Jika sudah mendapatkan bukti-bukti yang cukup, auditor dapat mewawancarai orang-
orang yang diduga melakukan kecurangan atau kejahatan terutama untuk
membuktikan adanya unsur niat atau kesengajaan.
- Auditor juga harus mampu mengidentifikasi dan mengungkap adanya indikasi/
keberadaan fraud dengan pengungkapkan mengenai: Apa yang menjadi masalah
indikasi fraud dalam perusahaan, Siapa yang diduga/ terindikasi melakukan fraud,
Dimana indikasi suatu fraud terjadi, Kapan pelaku melakukan fraud tersebut,
Mengapa fraud bisa terjadi di perusahaan, Bagaimana fraud bisa terjadi dan berapa
besar kerugian akibat fraud tersebut
- Dokumentasi Audit; auditor harus mendokumentasikan hasil auditnya dalam kertas
kerja audit, kertas kerja akan direview team leader dan manajer audit (Partner in
Charge) dan dikumpulkan serta disusun secara sistematis di dalam suatu tempat
penyimpanan dokumen
- Penyelesaian Pelaksanan Audit; Jika auditor telah melaksanakan program kerja
pemeriksaan yang diperlukan dan mengumpulkan bukti-bukti yang dapat menjawab
pertanyaan 5W+H yang ada maka auditor dapat menghentikan audit dan menyusun
laporan.
d. Penyusunan Laporan Hasil Audit (dilakukan setelah melaksanakan audit):
- Akurat: seluruh materi laporan misalnya menyangkut kecurangan atau kejahatan yang
terjadi serta informasi penting lainnya, termasuk penyebutan nama, tempat atau
tanggal adalah benar sesuai dengan bukti-bukti yang sudah dikumpulkan
- Jelas: laporan harus disampaikan secara sistematik dan setiap informasi yang
disampaikan mempunyai hubungan yang logis. Sementara itu, istilah-istilah yang
bersifat teknis harus dihindari dan kalau tidak bisa dihindari harus dijelaskan secara
memadai
- Berimbang: bahwa laporan tidak mengandung bias atau prasangka dari auditor yang
menyusun laporan atau pihak-pihak lain yang dapat mempengaruhi auditor. Laporan
hanya memuat fakta-fakta dan tidak memuat opini atau pendapat pribadi auditor
- Relevan: laporan hanya mengungkap informasi yang berkaitan langsung dengan
kecurangan atau kejahatan yang terjadi
- Tepat waktu: laporan harus disusun segera setelah pekerjaan lapangan selesai
dilaksanakan dan segera disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan

4. Audit investigasi dilakukan oleh Auditor:


- Audit investigatif terhadap indikasi korupsi bisa dilaksanakan oleh auditor di lembaga
negara dan lembaga pemerintah serta auditor di lembaga non-pemerintah.
- Pelaksanaan audit investigatif di lembaga negara dan lembaga pemerintah terikat
kepada ketentuan yang terdapat di dalam Standar Pemeriksaan Keuangan Negara atau
SPKN. Sementara itu, pelaksanaan audit investigatif oleh auditor di lembaga non-
pemerintah dapat mengacu kepada standar pemeriksaan yang dikeluarkan oleh
lembaga yang memiliki otoritas untuk mengeluarkan standar seperti itu, di Indonesia
misalnya Institut Akuntan Publik Indonesia atau standar pemeriksaan yang lain
tergantung kepada keterikatan antara auditor dengan pemberi mandat audit.

5. Kualifikasi Auditor:
Audit investigatif seharusnya dilaksanakan oleh orang-orang yang mempunyai
pengalaman dan keahlian dalam melaksanakan audit investigatif. Auditor yang belum
memiliki pengalaman dan keahlian harus mendapat bimbingan dari auditor lain yang
memiliki pengalaman dan keahlian audit investigatif. Auditor investigatif juga perlu
mempunyai pemahaman yang cukup tentang hal-hal yang akan diaudit terutama
menyangkut peraturan yang berlaku serta proses bisnis yang berkaitan dengan hal-hal
yang akan diaudit. Secara khusus, auditor yang akan melaksanakan audit investigatif
juga harus mempunyai pemahaman yang cukup tentang ketentuan-ketentuan hukum
yang berkaitan dengan hal-hal yang akan diaudit maupun ketentuan-ketentuan hukum
yang berkaitan dengan pengungkapan kejahatan misalnya Kitab Undang-Undang
Hukum Acara Pidana atau KUHAP.
6.