Anda di halaman 1dari 10

3.

Pengaturan Keseimbangan Cairan


Pengaturan keseimbangan cairan dapat dilakukan mellui sistem endokrin (ADH,
Aldosteron, dan glukokortikoid), prostaglandin, dan mekanisme rasa haus.
a. Hormon Antidiuretik (antidiuretic hormone atau ADH)
ADH berpern dalam menigkatkan reabsorbsi air dalam tahap pembentukkan urine.
Dengan demikian, hormone ini mengendaikan keseimbangan air dalam tubuh. ADH dibentuk
dihipotalamus dan disimpan dalam neurohipofisis pada hipofisis posterior. Salah satu stimulus
untuk sekresi ADH peningkatan osmolaritas dan penurunan cairan memerintahkan hipofisis
posterior untuk melepaskan ADH. ADH kemudian meningkatkan reabsorbsi air pada duktus
pengumpul sehingga dapat menghantar air. Akibatnya, volume cairan ekstra sel dapat
dipertahankan.
Sekresi ADH dapat juga terjadi pada kondisi stress, trauma, pembedahan, nyeri dan
pada penggunaan beberapa jenis anestetikdan obat obatan. ADH disebut juga vasopressin
karena dapat memberikan efek vasokontriksi (penyempitan) minor pada arterior yang dapat
mengakibatkan tekanan darah meningkat.
b. Aldosteron
Aldosteron merupakan hormone yang disekresi oleh kelenjar adrenal. Hormone ini bekerja
ditubulus ginjal natrium. Retensi natrium mengakibatkan retensi air. Berarti, secara tidak
langsung, aldosteron berpern dalam pengaturan keseimbangan cairan. Pelepasan aldosteron
distimulais oleh perubahan konsentrasi kalium, kadar natrium serum, dan sistem rennin
angiontensin.
c. Glukokortikoid
Glukokortikoid merupakan hormone yang disekresi oleh konteks adrenal. Hormone ini
meningkatkan reabsorbsi natrium dan air sehingga menyebabkan volume darah meningkat
dan mengakibatkan retensi natrium.
d. Prostaglandin
Prostaglandin merupakan asam lemak alami yang terdapat diginjal. Asam lemak ini berperan
dalam merespons radang, mengendalikan tekanan darah dan kontraksi uterus, serta pergerakan
motitilas (gastrointestinal). Di ginjal, prostaglandin berperan dalam mengatur sirkulasi ginjal
dan rebsorbsi.
e. Mekanisme rasa haus
Rasa haus merupakan keinginan yang disadari terhadap kebutuhan akan cairan. Mekanisme
rasa haus diawali dengan peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel. Hal ini merangsang ginjal
untuk melepaskan rennin yang dapat mengakibatkan produksi angiotensin II. Angiotensin II
merangsang hipotalamus sehingga menghasilkan sensasi haus .
D. REGULASI ELEKTROLIT
Elektrolit terdapat pada seluruh cairan tubuh. Jumlah elektrolit dalam tubuh dinyatakan dalam
satuan miliequivalen per liter cairan tubuh atau mili gram per 100 mL (mg/100 mL). bebrapa
elektrolit yang penting bagi tubuh adalah sebagai berikut.
1. Natrium
Natrium merupakan kation utama yang terdapat di CES. Nilai normal natrium di dalam
plasma adalah 135 145 mEq/L. natrium berperan dalam pengaturan keseimbangan cairan,
penghantaran implus, dan kontraksi otot pergerakan natrium kedalam dan keluar sel dilakukan
secara transport aktif melalu pompa natrium kalium. Konsentrasi natrium diatur oleh ADH
dan aldosteron. Ekskresi dari natrium dapat dilakukan melalui ginjal sebagian kecil melalui
urine, keringat dan air mata. Regulasi ion natrium dilakukan dengan asupan natrium, hormone
aldosteron, dan pengeluaran urin.
2. Kalium
Kalium merupakan kation yang utama yang terdapat didalam CIS nilai kalum didaam plasma
berkisar antara 3,5 5,3 mEq/L. kalium beperan dalam mempertahankan keseimbangan
cairan intraselular sertamengatur keseimbangan asam basa, transmisi impuls jantung, dan
kontraksi otot. Keseimbangan kalium diatur oleh gijal dengan mekanisme perubahan dan
penggantian dengan ion natrium dalam tubulus ginjal serta sekresi aldosteron. Peningkatan
jumlah aldosteron akan meningkatkan jumlah kalium yang dikeluaran oleh ginjal. Akibanya,
konsentrasi kalium di dalam CES akan menurun. Selain diekskresikan oleh ginjal dalam
bentuk urine sebagian kalium diekskresikan melalu feses dan keringat.
3. Kalsium
Kalsium merupakan elektrolit yang berperan dalam pembentukkan tulang, penghantaran
impuls saraf, kontraksi otot, pembekuan darah dan mengaktifkan enzim enzim tertentu.
Nilai kalsium di dalam plasma berkisar antara 4 5 mEq/L.pengaturan konsentrasi kalsium
dalam tubuh dilakukan oleh kelenjar paratiroid dan tiroid. Jika kalsiu darah menurun, kelenjar
paratiroid akan mengsekresi parathormon yang dapat meningkatkan jumlah kalsium dalam
darah. Kelenjar tiroid berfungsi menghasilkan kalsitonin yang akan menurunkan kadar
kalsium dalam darah dengan cara mempercepat absorbsi.
4. Magnesium
Magnesium merupakan kation kedua terbanyak didalam CIS. Nilai normal magnesium
berkisar antara 1,5 2,5 mEq/L. kation ini berperan pentig dalam aktivitas enzim eksitabilitas
neurokimia dan otot. Konsentrasi magnesium dipengaruhi oleh konsetrasi kalsium. Oleh
sebab itu salah satu pengatur keseimbangan magnesium dipengaruhi oleh konsentrasi kalsium.
Oleh sebab itu, salah satu pengatur keseimbangan magnesium adalah parathormon yang
dihasilkan oleh kelenjar paratiroid.
5. Klorida
Klorida merupakan anion utama dalam CES. Klorida bersatu dengan natrium untuk
mempertahankan tekanan osmotik darah. Nilai normal klorida berkisar antara 95 105
mEq/L.
6. Bikarbonat
Bikarbonat adalah elektrolit yang berfungsi sebagai buferkimia utama dalam tubuh. Elektrolit
ini terdapat didalam CIS dan CES. Nilai normal bikarbonat didalam plasma terdapat berkisar
antara 22 26 mEq/L.
7. fosfat
fosfat merupakan bufer anion didalam CES dan CIS. Bersama-sama dengan kalsium, fosfat
membantu pembentukan dan pertumbuhan tulang dan gigi. Fosfat juga membantu kerja
neuromuskular metabolisme karbohidrat, dan pengaturan asam basa. Anion ini diserap dari
saluran pencernaan dan dikeluarkan melalui urine. Kerja fosfat diatur oleh parathormon dan
diaktifkan oleh vitamin D. nilai fosfat didalam plasma berkisar antara 2,5 4,5 mg/100 mL.
E. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEIMBANGAN CAIRAN DAN
ELEKTROLIT
Faktor yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit antara lain adalah :
1. Usia
Pertambahan usia mempengaruhi kerja atau aktivitas organ, misalnya ginjal dan paru. Hal ini
mempengaruhi jumlah kebutuhan cairan dan elektrolit.
2. Suhu lingkungan
Suhu yang tinggi merangsang pengeluaran keringat oleh kulit. Akibatnya, banyak cairan
tubuh yang hilang melalui keringat.
3. Sakit
Kondisi sakit menimbulkan ketidakseimbangan sistem dalam tubuh, misalnya
ketidakseimbangan hormonal yang dapat mengganggu keseimbangan kebutuhan cairan.
Contoh kondisi sakit yang dapat mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit adalah
luka bakar, demam, dan gagal ginjal.
4. Stres
Kondisi stres dapat memicu pelepasan hormone antidiuretik (ADH) oleh kelenjar hipofisis.
Akibatnya, metabolisme tubuh meningkat dan terjadi glikolisis otot. Hal ini dapat
menimbulkan retensi natrium dan air sehingga produksi urine menurun.
5. diet
diet memerlukan nutrisi yang adekuat. Jika asupan nutrisi yang diterima tidak sesuai dengan
kebutuhan, tubuh akan memecah cadangan makanannya sehingga nutrisi yang dibutuhkan
akan bergerak dari cairan interstisial kecairan intraseluler. Halini berpengaruh pada jumlah
pemenuhan kebutuhan cairan.
F. GANGGUAN KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT
1. Ketidak seimbangan cairan
Gangguan volume cairan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kekurangan
cairan (hipovolume atau dehidrasi) dan kelebihan cairan (hipervolume).
a. Hipovolume
Hipovolume adalah kondisi ketidakseimbangan yang ditandai dengan
defisiensi cairan dan elektrolit diruang ekstraseluler, tetapi proporsi antara
keduanya (cairan dan elektrolit) mendekati normal. Hipovolume dikenal
juga dengan sebutan dehidrasi atau deficit volume cairan (fluit volume
deficit atau FVD).
Pada saat tubuh kekurangan cairan dan elektrolit, tekana osmotic
mengalami perubahan sehingga cairan interstisial dapat masuk ke ruang
intravascular. Hal ini menyebabkan ruang interstisial kosong dan cairan
intra sel masuk ke dalamnya.
Hipovolume dapat disebabkan oleh banyak faktor, misalnya kekurangan
asupan cairan dan kelebihan asupan zat terlarut (misaknya protein dan
klorida atau natrium). Kelebihan asupan zat terlarut dalam menyebabkan
ekskresi atau pengeluaran urin secara berlebih serta pengeluaran keringat
yang banyak dalam waktu lama.
Dehidrasi dapat terjadi pada pasien yang mengalami gangguan
hipotalamus, kelenjar gondok, dan ginjal. Selain itu, dehidrasi juga dapat
terjadi pada pasien mengalami diare dan muntah secara terus menerus.
Secara umum, dehidrasi dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu :
1) Dehidrasi isotonic, yaitu uumlah cairan yang hilang sebanding dengan
jumlah elektrolit yang hilang sebanding dengan jumlah elektrolit yang
hilang.
2) Dehidrasi hipertonik, yaitu jumlah cairan yang hilang lebih besar daripada
jumlah elektrolit yang hilang.
3) Dehidrasi hipotonik, yaitu jumlah cairan yang hilang lebih sedikit daripada
jumlah elektrolit yang hilang.
Kehilangancairan ekstra sel secara berlebihan dapat menyebabkan
penurunan volume ekstrasel (hipovolume) dan perubahan hematokrit.
Berdasarkan derajat keparahan, dehidrasi dapat dibagi menjadi :
1) Dehidrasi ringan
Pada dehidrasi ringan, tubuh kehilangan cairan sebesar 5 % dari berat
badan atau sekitar 1,5 sampai 2 liter. Kehilangan cairan yang berlebihan
dapat berlangsung melalui kulit, saluran pencernaan, saluran kemih,
paru, atau pembuluh darah.
2) Dehidrasi sedang
Pada dehidrasi sedang, tubuh kehilangan cairan sebesar 5-10% dari
berat badan atau sekitar 2-4 liter. Natrium serum dalam tubuh mencapai
152-158 mEq/L. salah satu cirri-ciri fisik dari penderita dehidrasi
sedang adalah mata cekung.
3) Dehidrasi berat
Pada dehidrasi berat, tubuh kehilangan cairan sebesar 4-6 liter atau
lebih dari 10% dari berat badan. Natrium serum mencapai 159-166
mEq/L. Penderita dehidrasi berat dapat mengalami hipotensi, oliguria,
turgor kulit buruk, serta peningkatan laju pernapasan.
b. Hipervolume
Hipervolume adalah kondisi ketidakseimbangan yang ditandai dengan
kelebihan (retensi) cairan dan natrium di ruang ekstraseluler. Hipervolume
dikenal juga dengan sebutan overhidrasi atau deficit volume cairan (fluin
volume eccess atau FVE). Kelebihan cairan di dalam tubuh dapat
menimbulkan duamanifestasi, yaitu peningkatan volume darah dan edema.
Edema dapat dibagi menjadi beberapa jeis, yaitu edeme perifer atau edema
pitting,edema nonpitting, dan edema anasarka. Edema pitting adalah
edema yang muncul di daerah perifer. Penekanan pada daerah edema akan
membentuk cekungan yang tidak langsung hilang ketika tekanan
dilepaskan. Hal ini disebabkan oleh perpindahan cairan ke jaringan melalui
titik tekan. Edema Pitting tidak menunjukkan kelebihan cairan yang
menyeluruh. Pada edema Nonpitting, cairan didalam jaringan tidak dapat
dialihkan ke daerah lain melalui penekanan jari. Edema Nonpitting tidak
menunjukkan kelebihan cairan ekstrasel karena umumnya disebabkan oleh
infeksi dan trauma yang menyebabkan pengumpulan serta pembekuan
cairan di permukaan jaringan. Kelebihan cairan faskular meningkatkan
tekanan hidrostatik cairan dan akan menekan cairan ke permukaan
interstisial.
Edema Anasarka adalah edema yang terdapat di seluruh tubuh. Pada edema
Anasarkan, tekanan hidrostatik meningkat sangat tajam sehingga menekan
sejumlah cairan hingga ke membrane kapiler paru. Akibatnya, terjadilah
edema parudengan manifestasi berupa penumpukka sputum, dispenea,
batuk, dan terdengan suara nafas ronki basah. Kelebihan cairan ekstrasel
memiliki manifestasi sebagai berikut.
1. Edema perifer atau edema pitting
2. Asites
3. Kelopak mata bengkak
4. Suara napas ronki basah
5. Penambahan berat badan yang tidak normal
2. Ketidakseimbangan elektrolit
a. Hiponatremia
Hiponatremia adalah keadaan kekurangan natrium dalam cairan ekstrasel
yang menyebabkan perubahan tekana osmotic. Pada kondisi, kadar natrium
serum < 136 mEq/L dan berat jenis urin < 1,010. Penurunan kadar natrium
menyebabkan cairan berpindah dari ruang ekstrasel ke cairan intrasel
sehingga sel menjadi bengkak.
Tanda dan gejala hiponatremia meliputi rasa haus berlebihan, denyut nadi
cepat, hipotensipostural, konvulsi, membrane mukosa kering, cemas,
postural dizziness, mual muntah, diare. Hiponatremia umumnya
disebabkan oleh kehilangan cairan tubuh secara berlebihan, misalnya
ketika terjadi diare atau muntah terus menerus dalam jangka waktu lama.
b. Hipernatremia
Hipernatremia adalah keadaan kelebihan kadar natrium dalam cairan
ekstrasel yang menyebabkan peningkatan tekana osmotic ekstrasel. Pada
kondisi ini, kdar natrium serum .144mEq/L dan berat jenis urin .11,30.
Peningkatan kadar natrium menyebabkan cairan intrasel bergerak keluar
sel.
Tanda dan gejala hipernatremia meliputi kulit dan mukosa bibir kering,
turgor kulit buruk, permukaan kulit membengkak, oliguria atau anuria,
konvulsi, suhu tubuh tinggi, dan lidah kering serta kemerahan.
Hipernatremia dapat disebabkan oleh asupan natrium yang berlebihan,
kerusakan sensasi haus, diare, disfagia, poliuria karena diabetes insipidus,
dan kehilangan cairan berlebihan dari paru-paru.
c. Hipokalemia
Hipokalemia adalah keadaan kekurangan kadar kalium dalam cairan
ekstrasel yang menyebabkan kalium berpindah keluar sel. Pada kondisi ini,
kadar kalium serum <3,5mEq/L. pada pemeriksaan EKG terdapat
gelombang T datar dan depresi segmen ST. hipokalemia ditandai dengan
kelemahan, keletihan, dan penurunan kemampuan otot. Selain itu kondisi
ini juga ditandai dengan distensi usus, penurunan bising usus, denyut
jantung (aritma) tidak beraturan, penurunan tekanan darah, tidak napsu
makan, dan muntah-muntah.
d. Hiperkalemia
Hiperkalemia adalah keadaan kelebihan kadar kalium dalam ciran
ekstrasel. Pada kondisi ini, nilai kalium serum > 5mEq. Pada pemeriksaan
EKG terdapat gelombang T memuncak, QRS melebar, dan PR memanjang.
Tanda dan gejala hiperkalemia meliputi rasa cemas, iritabilitas, hipotensi,
parastesia, mual, hiperaktifitas sistem pencernaan, kelemahan, dan aritmia.
Hiperkalemia ini berbahaya karena dapat mengahambat transmisi impuls
jatung dan menyebabkan serangan jantung.
Hiperkalemia dapat terjadi pada pasien luka bakar, penyakit ginjal, dan
asidosis metabolic. Ketika terjadi hiperkalemia, salah satu upaya yang
dapat dilakukan untuk menormalkan kadar kalium adalah dengan
pemberian insulin karena insulin dapat membantu mendorong kalium
masuk kedalam sel.
e. Hipokalsemia
Hipokalsemia adalah kondisi kekurangan kadar kalsium dalam cairan
ekstrasel. Pada kondisi ini, kadar kalsium serum <4,5mEq/L serta terjadi
pemanjangan interval Q-T pada pemeriksaan EKG. Hipokalsemia ditandai
dengan terjadinya kram otot dank ram perut, kejang (spasme) dan tetani,
peningkatan motilitas gastrointestinal, gangguan kardiovaskuler, dan
osteoporosis.
f. Hiperkalsemia
Hiperkalsemia adalah kondisi kelebihan kadar kalsium pada cairan
ekstrasel. Pada kondisi ini, kadar kalsium serum <5,8 mEq/L serta terjadi
peningkatan BUN akibat kekurangan cairan.
Hiperkalsemia ditandai dengan penurunan kemampuan otot, mual, muntah,
anoreksia, kelemahan dan letargi, nyeri pada tulang, dan serangan jantung.
Kondisi ini dapat terjadi paa pasien yang mengalami pengangkatan kelenjar
gondok dan mengonsumsi vitamin D secara berlebihan.
g. Hipomagnesia
adalahkondisikadar magnesium dalamdarah. Padakondisiini, kadar magnesium serum
1,4mEq/L. hipomagnesiaditandaidenganiritabilitasi, tremor, hipertensi, disorentasi, konvulasi,
halusinasi, kejang, krampada kaki dantangan, refleks, tendon profunda yang hiperaktif,
sertatakikardia. Kondisiiniumumunyadisebabkanolehkonsumsialkohol yang berlebihan,
malnutrisi, gagalhati, absorpsiusus yang buruk, dan diabetes melitus.
h. Hipermagnesia
Hipermagnesiaadalahkondisikelebihankadar magnesium dalamdarah, padakondisiinikadar
magnesium serum > 3,4mEq/L. hipermagnesiaditandaidengandepresipernafasan, aritmiajantung,
depresirefleks tendon profunda.
i. Hipokloremia

Hipokloremiaadalahkondisikekurangan ion kloridadalam serum.Padakondisiininilai ion klorida


95 mEq/L. Hipokloremiaditandaidengangejala yang menyerupai alkalosis metabolic,
yaitukelemahan, apatis, gangguan mental, pusing dank
ram.Kondisiinidapatterjadikarenatubuhkehilangansekresi gastrointestinal
secaraberlebihanmisalnyakarenamuntah, diare, diuresis, ataupengisapan nasogastric.
J. Hiperkloremia
Hiperkloremiaadalahkondisikelebihan ion kloridadalam serum, padakondisiini, nilai ion
klorida> 105 mEq/L. Hiperkloremiaseringdikaitkandengan hypernatremia,
terutamapadakasusdehidrasidanmasalahginjal.

Hiperkloremiamenyebabkanpenurunanbikarbonatsehinggamenyebabkanketidakseimbanganasam
basa.Jikaberlangsung lama, kondisiiniakanmenyebabkankelemahan, letargi,
danpernafasankussmaul.
k. hipofosfatemia
Hipofosfatemiaadalahkondisipenurunankadar ion fosfatdidalam serum.
Padakondisiininilai ion fosfat< 2,8 mg/dl.
Hipofosfatemiaantaralainditandaidengananoreksia, parastesia, kelamahanotot,
danpusing. Kondisiinidapatterjadipengonsumsian alcohol secaraberlebihan, malnutrisi,
hipertiroidisme, danketoasidosis diabetes.

I. Hiperfosfatemia

Hiperfosfatemiaadalahkondisipengingkatankadar ion fosfatdidalam serum.


Padakondisiini, nilai ion fosfat> 4,4 mg/dl atau> 3,0 mEq/L.
Hiperfosfatemiaantara lain ditandaidenganpeningkatanekstabilitassistemsarafpusat,
spasmeotot, konvulsidantetani, peningkatangerakanusus, gangguankardiovaskulardan
osteoporosis.
Kondisiinidapatterjadipadakasusgagalginjalataupadasaatkadarparathormonmenurun.
G. KESEIMBANGAN ASAM BASA
1. Asam Basa
Kadar atauderajatkeasamansuatularutandilihatdarikonsentrasi ion hydrogen (H +)dan ion hidroksil
(OH-). Satuan yang digunakanuntukmengukurderajatkeasamanadalahpH.Rentang pH
berkisarantara 1-14 larutan yang bersifatnetralmemiliki pH 7.Larutan yang
asammemilikilebihbanyak ion hydrogen sehingga pH < 7.Larutanbasamemilikilebihbanyak ion
hidroksilsehingganpH > 7. Dalamkeadaan normal, pH cairantubuhadalah 7,35 7,45 .
Ketidakseimbanganasambasadapatmengakibatkanasidosisdan
alkalosis.Asidosisditandaidenganpeningkatankadar ion hidrogendidalamcairanekstraselsehingga
pH < 7,35. Alkalosis ditandaidenganpenurunan ion hidrogendidalamcairanekstraselsehingga pH >
7,45 . Agar pH tetap normal, kadar ion hidrogendiaturmelaluisistem buffer,
mekanismepernafasan, danmekanismeginjal. Asidosisdan alkalosis
dipengaruhiolehfungsipernafasandanmetabolisme.
PengaturanasambasadilakukanolehparumelaluipengangkutankelebihanCO 2 dan
H2CO3daridarah,
secaraumumkeseimbanganasambasadapatdigambarkandalamreaksikeseimbanganberikutini .
CO2 + H2O H2CO3 H+ + HCO -3

http://belajarblog53.blogspot.co.id/2015/04/makalah-cairan-dan-elektrolit-
dalam.htmlhttp://www.perbidkes.com/2016/01/gangguan-keseimbangan-cairan-
dan.html
Tamsuri, Anas. 2009. Seri Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Keseimbangan Cairan &
Elektrolit . Jakarta: ECG