Anda di halaman 1dari 4

KERANGKA ACUAN KERJA

PERENCANAAN PROGRAM KESELAMATAN PASIEN

I. PENDAHULUAN

Bahaya ditempat kerja telah mulai diidentifikasi oleh para ahli ilmu kedokteran
tahun 1800-an Ramuzzini (1633 1714) dikenal sebagai Bapak Pengobatan Kerja
(Occupational Medicine). Kematian dan cacat akibat kerja saat itu memang dianggap
biasa, terutama dibidang pertambangan dan pertanian. Ramuzzini adalah orang yang
merekomendasikan penyelidikan kedalam sejarah kesehatan pasien. Mekanisasi
memberikan banyak keuntungan, tetapi diiringi pula dengan meningkatnya resiko,
penyakit dan cedera pada orang yang terpapar padanya. Penggunaan bahan kimia juga
tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Bahn pembersih, cat, perekat, bahan campuran
hanyalah sedikit dari benda yang kita gunakan sehari-hari. Tetapi pembuatan dan
pemakaian dari bahan-bahan ini bisa membahayakan tubuh kita, atau bisa menimbulkan
resiko kebakaran.
Kondisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pelayanan kesehatan di Indonesia
secara umum diperkirakan termasuk rendah. Pada tahun 2005 Indonesia menempati
posisi yang buruk jauh di bawah Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand. Kondisi
tersebut mencerminkan kesiapan daya saing Indonesia di dunia internasional masih
sangat rendah. Indonesia akan sulit menghadapi pasar global karena mengalami
ketidakefisienan pemanfaatan tenaga kerja (produktivitas kerja yang rendah). Padahal
kemajuan perusahaan sangat ditentukan peranan mutu tenaga kerjanya. Karena itu
disamping perhatian perusahaan dan pelayanan kesehatan, pemerintah juga perlu
memfasilitasi dengan peraturan atau aturan perlindungan Keselamatan dan Kesehatan
Kerja.
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3)selain diperuntukkan untuk pekerja dengan
sendirinya juga berpengaruh pada keselamatan pasien
.

II. LATAR BELAKANG

Upaya Kesehatan Kerja Di Puskesmas Ditujukan untuk melindungi pekerja agar hidup
sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh
pekerja. Upaya kesehatan kerja yang dimaksud meliputi pekerja disektor fomal dan informal dan
berlaku bagi setiap orang selain pekerja yang berada dilingkungan tempat kerja. Berdasarkan
Kepmenkes Nomor 128/MENKES/SK/II/2004 tentang kebijakan dasar puskesmas menyatakan
bahwa puskesmas merupakan unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang
bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan diwilayah kerjanya
termasuk upaya kesehatan kerja. Menurut International Labaour Organisation (ILO) diketahui
bahwa 1,2 juta orang meninggal setiap tahun karena kecelakaan kerja atau penyakit akibat
hubungan kerja (PAHK). Dari 250 juta kecelakaan, 3000.000 orang meninggal dan sisanya
meninggal karena PAHK oleh sebab itu diperkirakan ada 160 juta PAHK baru setiap tahunnya.
Melihat data tersebut maka sangat perlu diberikan perlindungan kesehatan dan keselamatan
kerja kepada masyarakat pekerja di wilayah kerja puskesmas dengan tujuan meningkatkan
kemampuan pekerja untuk menolong dirinya sendiri sehingga terjadi peningkatan status
kesehatan dan akhirnya peningkatan produktivitas kerja . Adapun sasaran dari program ini
adalah pekerja di sektor kesehatan antara lain masyarakat pekerja di puskesmas, balai
pengobatan/poliklinik, laboraturium kesehatan, Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK), Jaringan
dokter perusahaan bidang kesehatan kerja, masyarakat pekerja diberbagai sektor pembangunan,
dunia usaha dan lembaga swadaya masyarakat.
Risiko petugas puskesmas terhadap kesehatan dan kecelakaan kerja dapat
digambarkan sebagai hasil penelitian di Jakarta Timut thn 2004, menunjukkan bahwa
rendahnya perilaku petugas kesehatan di puskesmas terhadap kepatuhan melaksanakan
setiap prosedur tahapan kewaspadaan universal dengan benar hanya 18,3% status
vaksinasi Hepatitis B petugas kesehatan puskesmas masih rendah sekitar 12,5% riwayat
pernah tertusuk jarum bekas sekitar 84,2 %. Dalam puskesmas terdapat beberapa
kerugian yang didapat jika tidak terlalu memperhatikan Kesehatan dan keselamatan
Petugas ataupun pasien. Kerugian Akibat Kecelakaan Kerja dalam Puskesmas antara lain
Kerugian Langsung yaitu Penderitaan pribadi, rasa kehilangan dari anggota keluarga
korban dan Kerugian Tak langsung (tersembunyi) yaitu Kerusakan mesin dan peralatan,
terganggunya produksi, terganggunya waktu kerja prtugas Kesehatan dll
Sasaran keselamatan pasien adalah :
1. Tidak terjadi kesalahan identifikasi pasien
2. Terlaksananya komunikasi yang efektif dalam pelayanan klinis
3. Tidak terjadi kesalahan pemberian obat
4. Tidak terjadi kesalahan prosedur tindakan medis dan keperawatan
5. Pengurangan terjadinya risiko infeksi di Puskesmas
6. Dn tidak terjadi pasien jatuh

IV. T U J U A N UMUM

Untuk mengetahui kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja yang ada di


puskesmas.

V. TUJUAN KHUSUS

1. Untuk mengetahui defenisi kesehatan kerja dan undang undang dalam kesehatan
kerja
2. Untuk mengetahui allat alat pelindung diri pada kesehatan kerja
3. Untuk mengetahui kesehatan kerja yang ada di dalam puskesmas
4. Untuk mengetahui standar operasional prosedur yang ada di puskesmas puskesmas.
5. Untuk melakukan perlindungan terhadap keselamatan pasien dengan memperhatikan
sasaran keselamatan pasien

V. KEGIATAN
Kegiatan ini dilaksanakan selama tahun 2016. Kegiatan dilakukan oleh petugas
puskesmas UPT. Puskesmas Mojolangu

VI. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN

1. Membentuk tim keselamatan dan kesehatan kerja


2. Menentukan dan mengidentifikasi penyakit akibat kerja
3. Mencari cara penaggulangan minimalisasi resiko kerja
4. Menggunakan alat pelindung diri sesuai spesifikasi resiko kerja
5. Menempatkan peralatan atau bahan sesuai peruntukannya dan terlindungi
6. Memberi label peringatan untuk peralatan atau bahan yang berbahaya
7. Monitoring dan evaluasi terhadap keselamatan kerja petugas berdasarkan pemakaian
APD dan keselamatan pasien berdasarkan sasaran keselamatan pasien

VII. SASARAN
Karyawan di UPT. Puskesmas Mojolangu

VIII. JADUAL PELAKSANAAN


Dilakukan selama tahun 2016

IX EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN


Evaluasi ketepatan jadwal pelaksanaan dilakukan setiap bulan Juni dan
Desember, dilakukan oleh Penanggung jawab Program. Akan dilakukan tindakan korektif
jika terjadi ketidaktepatan jadual pelaksanaan.
Pelaporan tentang evaluasi ketepatan jadual pelaksanaan kegiatan berupa check
list disertai dengan keterangan tindakn korektif jika terjadi ketidaktepatan jadual
pelaksanaan kegiatan. Laporan evaluasi ini dibuat pada minggu ke -4 bulan Juni , dan
minggu ke -4 bulan Desember 2015. Laporan Evaluasi ini ditujukan kepada Kepala UPT.
Puskesmas Mojolangu

X. PENCATATAN PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN


Pencatatan pelaporan dan evaluasi kegiatan ini merupakan Laporan dan
Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan. Pada dasarnya laporan berisi tanggal pelaksanaan,
tempat yang dituju, kendala yang dihadapi yang sekaligus merupakan bentuk evaluasi
terhadap pelaksanaan kegiatan. Dilakukan setiap kali selesai melakukan kegiatan, dan
ditujukan kepada Kepala UPT. Puskesmas dan Seksi Kesehatan Dasar Dinas
Kesehatan Kota Malang. Laporan ini diserahkan kepada Kepala UPT. Puskesmas dan
Seksi Kesehatan Dasar Dinas Kesehatan Kota Malang setiap tanggal 5 bulan
berikutnya.