Anda di halaman 1dari 12

EVALUASI LAPORAN KELUARGA BINAAN MAHASISWA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Tugas Akhir
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam mengikuti ujian kepaniteraan
klinis senior (KKS) Bagian/Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat dan
Kedokteran Komunitas

Disusun Oleh:
Alzena Dwi Saltike, S.Ked 04084821618152
Dhiya Silvi Ramadhini, S.Ked 04084821618151
Shabrina Yunita Adzani, S.Ked 04054821618074

Pembimbing:
Dr. Rizma Adlia Syakurah, MARS

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DAN


KEDOKTERAN KOMUNITAS FAKULTAS KEDOKTERAN
UNVERSITAS SRIWIJAYA
2017

EVALUASI LAPORAN KELUARGA BINAAN MAHASISWA FAKULTAS


KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Shabrina Yunita Adzani1, Alzena Dwi Saltike1, Dhiya Silvi Ramadhini1, Rizma Adlia Syakurah2
1. Pendidikan Dokter Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya,
2. Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Komunitas, Universitas Sriwijaya
Jln. Dr. Mohammad Ali Komplek RSMH KM. 3,5 Kode Pos 30126, Indonesia
Telp/Fax: +62711316671/+62711373438

Abstrak
Sustainable Development Goals (SDGs) adalah sebuah kesepakatan pembangunan baru pengganti
Millenium Development Goals. Salah satu tujuan SDGs adalah untuk mecapai kesehatan dan
kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat 1. Untuk mencapai tujuan tersebut mahasiswa
kedokteran memiliki setidaknya tiga peran kontibutif yang dapat dimainkan demi tercapainya
SDGs yaitu sebagai agent of health, agent of change dan agent of development3,4,5. Upaya
peningkatan kesehatan salah satunya dengan upaya kesehatan masyarakat. Keluarga binaan adalah
salah satu program yang dibuat agar mahasiswa kedokteran mampu promosi kesehatan pada
keluarga yang bersangkutan6. Evaluasi ini dilakukan untuk menganalisis kecakapan Mahasiswa
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya dalam penulisan laporan keluarga binaan. Evaluasi
dilakukan dengan menggunakan checklist penilaian terhadap laporan keluarga binaan mahasiswa.
Checklist berisi daftar penilaian yang telah dikategorikan sesuai induk teori yang dipakai, yaitu
teori model precede-proceed Green. Data yang terkumpul dari checklist penilaian akan diolah dan
dianalisis menggunakan program IBM SPSS Statistics 22. Hasil dari evaluasi ini adalah kecakapan
mahasiswa sudah baik,
Kata kunci: mahasiswa, keluarga binaan.

Abstract
Sustainable Development Goals (SDGs) is a new development agreement to replace Millennium
Development Goals. One of the goals of SDGs is to achieve health and wellbeing for all levels of
society1. To achieve this goal medical students have at least three contribute roles that can be
played for the achievement of SDGs as agents of health, agent of change and agent of
development3,4,5. To improve health of public, one of the methods is public health efforts. The
targeted family is one of the programs made so that medical students are able to promote health to
the families concerned6. This evaluation was conducted to analyze the skills of the students of the
Faculty of Medicine Sriwijaya University in writing the report of the built family. Evaluation is
done by using the assessment checklist of the student's student family report. The checklist
contains a list of assessments that have been categorized according to the parent theory used, ie
Green precede model theory. The data collected from the assessment checklist will be processed
and analyzed using the IBM SPSS Statistics 22 program. The result of this evaluation is the
students' skill is good,
Keywords: student, family built.

1. Pendahuluan
Sustainable Development Goals atau SDGs (Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan) adalah sebuah kesepakatan pembangunan baru pengganti
Millenium Development Goals atau MDGs. SDGs berlaku sejak tahun 20152030
dan merupakan sebuah dokumen setebal 35 halaman yang disepakati oleh lebih
dari 190 negara yang berisikan 17 tujuan dan 169 sasaran pembangunan1.
Tujuh belas tujuan dengan 169 sasaran diharapkan dapat menjawab
ketertinggalan pembangunan negaranegara di seluruh dunia, baik di negara maju

2
(konsumsi dan produksi yang berlebihan, serta ketimpangan) dan negaranegara
berkembang (kemiskinan, kesehatan, pendidikan, perlindungan ekosistem laut dan
hutan, perkotaan, sanitasi dan ketersediaan air minum)1.
Dari pengalaman era MDGs (20002015), Indonesia ternyata belum
berhasil menurunkan angka kematian ibu, akses kepada sanitasi dan air minum,
dan penurunan prevalensi HIV AIDS1.
Tujuh belas tujuan pada SGDs adalah menghapus kemiskinan, mengakhiri
kelaparan, kesehatan dan kesejahteraan bagi segala lapisan penduduk, kualitas
pendidikan yang baik, kesetaraan gender, ketersediaan air bersih dan sanitasi,
akses ke energi yang terjangkau, pertumbuhan ekonomi, inovasi dan infrastruktur,
mengurangi ketimpangan, pembangunan berkelanjutan, konsumsi dan produksi
berkelanjutan, mencegah dampak perubahan iklim, menjaga sumber daya laut,
menjaga ekosistem darat, perdamaian dan keadilan, dan revitalisasi kemitraan
global2.
Mahasiswa kedokteran memiliki setidaknya tiga peran kontibutif yang dapat
dimainkan demi tercapainya SDGs3,4,5. Tujuan SDGs yang dititikberatkan pada
petugas kesehatan adalah tujuan nomor tiga, yaitu tujuan kesehatan bagi segala
lapisan penduduk. Pertama, sebagai agent of health, apabila langsung dikaitkan
dengan dengan SDGs maka sebagai agent of health menjadi garda terdepan dalam
membina hubungan yang baik kepada masyarakat3. Semua itu bertujuan agar
masyarakat menjadi lebih peduli dengan kesehatan mereka dan pada akhirnya
mereka paham bahwa kesehatan adalah suatu hal yang berharga.
Kedua, sebagai agent of change4. Tentunya kita mengharapkan kualitas
kesehatan masyarakat Indonesia terus meningkat dan mencapai SDGs di tahun
2030 mendatang. Mahasiswa kedokteran bisa menjadi penggerak perubahan
tersebut dengan membagikan pengetahuannya dan mengajak masyarakat untuk
berubah4.
Terakhir, mahasiswa kedokteran sebagai agent of development5. Peran ini
bersinergi dengan peran agent of change4. Setiap usaha yang dilakukan demi
menuju perubahan yang lebih baik, utamanya menuju SDGs, bisa terus
dipertahankan dan dikembangkan pada masa yang akan datang5.

3
Untuk tercapainya tujuan kesehatan bagi segala lapisan penduduk,
pelayanan kesehatan yang diberikan tidak hanya terpaku pada upaya kesehatan
perorangan tetapi juga upaya kesehatan masyarakat, dimana keluarga adalah unit
terkecil dari masyarakat6. Keluarga binaan adalah salah satu program yang dibuat
agar mahasiswa kedokteran mampu melakukan pendekatan khususnya pada
keluarga dan secara garis besar dapat memberikan promosi kesehatan pada
keluarga yang bersangkutan.

2. Metode
Evaluasi ini adalah evaluasi hasil dan dilakukan untuk mengevaluasi
seberapa jauh tujuan yang direncanakan dalam kegiatan keluarga binaan telah
dicapai dengan baik oleh Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.
Populasi dalam evaluasi ini adalah seluruh Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya angkatan 2013 yang mengikuti kegiatan keluarga binaan.
Data yang diperoleh dalam evaluasi berdasarkan hasil checklist dari penilaian
laporan keluarga binaan. Data yang nantinya diperoleh akan diolah dan dianalisis
menggunakan program IBM SPSS Statistics 22. Rancangan analisis statistik yang
akan digunakan adalah analisis deskriptif atau univariat. Pada analisis univariat,
akan ditampilkan distribusi frekuensi dari nilai laporan mahasiswa, prioritas
masalah, dan alternatif intervensi.

3. Hasil
Tabel 1. Nilai Laporan Keluarga Binaan

4
Analisis
N
Prioritas Alternatif Nilai %
Assessment Implementasi Evaluasi (244)
Masalah Intervensi
0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 Sangat 136 55.7
Baik
9 64 171 6 100 138 3 100 141 3 108 133 3 71 170 Baik 64 26.2
Cukup 26 10.6
Kelengkapan
Dokument
asi Prioritas Alternatif Dokumentasi
Assessment Implementasi Buruk 12 5.0
Assessmen Masalah Intervensi Implementasi
t
0 1 2 0 1 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 Sangat 6 2.5
0 56 188 24 220 0 39 205 0 87 157 0 50 194 14 230 Buruk

Presentase nilai mahasiswa terbesar adalah pada kategori nilai sangat baik
yaitu 136 orang, kemudian nilai baik 64 orang, cukup 26 orang, buruk 12 orang,
dan sangat buruk 6 orang.
Analisis laporan keluarga binaan menilai kualitas analisis yang dirumuskan
pada tahap assessment, penentuan prioritas masalah dan alternatif intervensi,
implementasi, dan analisis. Secara keseluruhan kualitas analisis laporan keluarga
binaan masih belum baik, banyak mahasiswa yang tidak tepat menganalisis
sumber daya pada keluarga, prioritas masalah yang ada, alternatif intervensi,
implementasi, dan juga analisis dari evaluasi kegiatan keluarga binaan. Pada tabel
menunjukkan bahwa nilai analisis 0 paling banyak pada bagian assessment, tetapi
pada bagian itu juga paling banyak mahasiswa mendapatkan nilai 2.
Pada tabel juga dapat dilihat terdapat kecenderungan jumlah frekuensi yang
sama pada nilai 0. Sebenarnya, individu tersebut adalah individu sama, yang tidak
membuat analisis dalam laporan keluarga binaan.
Dalam penilaian kelengkapan laporan keluarga binaan, yang dinilai adalah
kelengkapan laporan dari tahap assessment, dokumentasi assessment, prioritas
masalah, alternatif intervensi dan dokumentasi implementsi. Secara umum,
mahasiswa telah menyusun laporan dengan lengkap.

Tabel 2. Prioritas Masalah*

5
Prioritas Masalah N %
Perilaku 196 37.6
Penyakit 174 33.4
Lingkungan 100 19.1
Lain-Lain 10 1.9
* Mahasiswa dapat memilih lebih dari satu prioritas masalah

Prioritas masalah terbagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu penyakit,


perilaku, dan lingkungan, di luar itu masuk dalam kategori lain-lain, seperti
masalah ekonomi dan pendidikan. Masalah terbanyak yang ditemukan dalam
keluarga adalah masalah perilaku sebesar 37.6%, diikuti oleh masalah penyakit
33.4% ,lingkungan 19.1%, dan lain-lain 1.9%.

Tabel 3. Alternatif Intervensi*


Alternatif Intevensi N %
Edukasi 232 66.2
Membersihkan Rumah 40 11.4
Latihan Fisik 37 10.6
Membuat Jadwal dan Reward 18 5.1
Membelikan Alat Kebersihan 12 3.4
Lain-Lain 6 1.7
Menemani Kontrol ke Dokter 5 1.4
* Mahasiswa dapat memilih lebih dari satu alternatif intervensi

Hampir seluruh mahasiswa kedokteran menggunakan edukasi sebagai


alternatif intervensi, sebanyak 232 orang (66.2%) menggunakan metode edukasi.
Selain itu alternatif intervensi lain yang digunakan adalah membersihkan rumah
11.4%, latihan fisik 10.6%, membuat jadwal dan reward 5.1%, membelikan
peralatan kebersihan 3.4%, menemani kontrol ke dokter 1.4%, dan lain-lain 1.7%

4. Pembahasan
Prioritas masalah terbanyak pada keluarga binaan adalah masalah perilaku.
Masalah-masalah yang berkaitan dengan perilaku kesehatan adalah salah satu
tantangan bagi petugas kesehatan pada dewasa ini9. Perilaku kesehatan
dipengaruhi oleh faktor penentu sosial kesehatan, yaitu pengetahuan, tradisi,
fasilitas kesehatan dan juga pengaruh dari tokoh yang kuat yang memungkinkan
seseorang mempertahankan kondisi kesehatan yang baik9. Mengembangkan

6
perilaku terkait kesehatan adalah salah satu intervensi yang lebih baik
dikembangkan oleh layanan kesehatan9.
Sedangkan jenis alternatif intervensi yang paling banyak dipilih adalah
edukasi. Promosi kesehatan sangat relevan saat ini, ada pemahaman global bahwa
kesejahteraan kesehatan dan sosial ditentukan oleh banyak faktor10. Dalam situasi
seperti ini, masalah kesehatan dapat ditangani secara efektif dengan pendekatan
holistik dengan memberdayakan individu dan masyarakat untuk mengambil
tindakan terhadap kesehatan mereka10. Promosi kesehatan sebenarnya tidak
terbatas hanya kepada edukasi saja, bisa juga dengan mengadvokasi pembuat
kebijakan dan juga menggerakan masyarakat untuk berpartisipasi langsung dalam
suatu program promosi kesehatan10,11.
Edukasi ini dilakukan mulai dari edukasi mengenai cuci tangan, edukasi
makanan bergizi, edukasi tentang penyakit, edukasi mengenai kesehatan
lingkungan. Saat melakukan edukasi, beberapa mahasiswa menyertakan brosur
ataupun poster kecil yang berisi contoh atau menggunakan video. Pada anak-anak
digunakan video yang bertemakan kartun. Pemilihan metode ini kurang efektif
karena jenis penyuluhan ataupun seminar, kebanyakan mereka bisa saja lupa dan
juga tingkat pendidikan berpengaruh pada penerimaan dari edukasi yang
diberikan12.
Dari segi verbal pada promosi kesehatan sangat kurang efektif dibandingkan
dengan benda asli yang memiiki intensitas plaing tinggi untuk mempersepsi bahan
promosi kesehatan13. Jelas sekali alat peraga adalah salah satu prinsip promosi
kesehatan13.
Dalam pembuatan laporan keluarga binaan, mahasiswa lebih mementingkan
isi kelengkapan laporan dibandingkan dengan kualitas analisis masalah. Hal
tersebut dapat diakibatkan karena sulitnya berkomunikasi dengan keluarga dalam
menggali masalah yang ada14. Kesulitan tersebut dapat muncul karena anggota
keluarga cemas dan takut dalam menyampaikan masalah mereka atau dapat juga
karena teknik komunikasi mahasiswa yang buruk dan juga terdapat
kecenderungan pada pendidikan dokter saat ini terjadi penurunan rasa empati pada
pasien oleh peserta didik yang menurunkan kepercayaan pasien pada dokter14,15.

7
Disamping itu, dalam merumuskan analisis, masalah psikososial yang ada
dalam keluarga seringkali tidak mempengaruhi keputusan mahasiswa dalam
memutuskan prioritas masalah dan intervensi yang akan diberikan, dewasa ini
praktisi kesehatan sering meremehkan masalah psikososial yang ada pada suatu
komunitas dan lebih berorientasi pada permasalahan biologis yang ada16.
Keterbatasan waktu mahasiswa dalam melakukan keluarga binaan
menimbulkan kesulitan tersendiri, mahasiwa kedokteran harus meluangkan waktu
yang lebih banyak agar dapat melakukan pendekatan dengan keluarga17. Karena
dalam setiap waaktu konsultasi pasien membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh
menit untuk mengkonsultasikan masalahnya, perempuan umunya memerlukan
waktu lebih panjang dibandingkan laki-laki saat mengkonsultasikan masalah
mereka dengan dokter17.
Masalah lain adalah sering pasien mengeluhkan gejala yang tidak dapat
dijelaskan secara medis, banyak dari pasien seperti ini dianggap sulit, mengeluh,
dan memiliki sikap tidak fleksibel sehingga sulit untuk melakukan analisis pada
anggota keluarga tersebut18. Sikap mahasiswa apabila menemukan anggota dari
keluarga yang dibina menunjukkan masalah seperti ini adalah menjelaskan pada
anggota keluarga tersebut bahwa tidak ada kondisi medis serius yang
menyebabkan gejala tersebut18.
Selain itu pada penilaian juga terlihat terdapat oknum mahasiswa yang tidak
membuat laporan dengan baik, hal itu ditunjukkan dari nilai tiap komponen yang
selalu menunjukkan nilai buruk. Kesalahan seperti ini muncul dari faktor
mahasiswa, diperkirakan mahasiswa melakukan prokrastinasi atau penundaan
tugas, sehingga waktu mereka tersisa sedikit dalam menyelesaikan laporan dan
hasilnya menjadi tidak maksimal19.
Secara teori, kemampuan mahasiswa dalam mengatur pola pembelajaran
yang efektif untuk diri mereka telah berkembang baik saat masa remaja dimana
mereka belajar untuk menyusun dan menentukan tujuan belajar, merencanakan
dan memonitor, mengatur dan mengontrol diri, memotivasi perilaku serta
lingkungan untuk mencapai tujuan yang telah ditargetkan20,21.

8
Prestasi belajar mahasiswa dipengaruhi oleh motivasi belajar mereka,
dimana motivasi belajar ini didapatkan baik dari eksternal maupun internal. Oleh
karena itu, belajar harus dipahami sebagai proses aktif, konstruktif dan self-
regulated, sehingga individu yang belajar akan mendapatkan prestasi akademik
yang baik, bila ia sadar, bertanggung jawab dan tahu metode belajar yang efektif
untuk dirinya21.
Kemampuan untuk mengatur pola pembelajaran pada setiap mahasiswa
tentu saja berbeda. Prestasi mahasiswa di pengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor
yang mempengaruhi prestasi akademik meliputi: a) pemahaman mahasiswa saat
mendengarkan penjelasan di kelas, b) manajemen waktu dan c) strategi belajar20.
Tugas menjadi salah satu dari hal-hal yang berpengaruh pada prestasi
belajar dimana tugas menjadi nilai ukur apakah mahasiswa mengerti mengenai
mata pelajaran yang telah diajarkan. Tugas-tugas ini bisa dalam skala besar sepeti
skripsi atau tugas per mata pelajaran. Pada kasus mahasiswa kedokteran, tugas per
blok dapat diberikan oleh masing-masing dosen.
Pada pengerjaan tugas, mahasiswa ada beberapa faktor yang memengaruhi
kelancaran pengerjaan tugas.salah satunya adalah penundaan dalam pengerjaan
tugas19. Prokrastinasi akademik sebagai kecenderungan untuk: a) selalu atau
hampir selalu menunda pengerjaan tugas akademik, dan b) selalu atau hampir
selalu mengalami kecemasan yang mengganggu terkait prokrastinasi. Dampak
negatif yang muncul dari prokrastinasi dapat ditemui pada bidang akademik
(penurunan nilai dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas akademik), ataupun
di bidang kesehatan fisik ataupun psikis (merasa stress dan lebih sering sakit,
khususnya disaat akhir semester dimana terkada tugas jadi menumpuk.22
Selanjutnya, bentuk pendidikan yang ada pada Fakultas Kedoktean cukup
banyak, mulai dari kuliah, praktikum, skill lab, tutorial, praktik lapangan, tugas,
dan juga ujian23. Hal-hal tersebut dapat memicu tekanan dan tuntutan pada
mahasiswa sehingga tidak menutup kemungkinan dapat memicu terjadinya stress.
Kondisi stress pada mahasiswa dapat menimbulkan perubahan perilaku seperti
penurunan minat dan efektivas, penurunan energi, cenderung lebih sinis, lebih

9
sering marah, kecewa, frustasi dan juga putus asa yang akan melemahkan
tanggung jawab pada kewajiban sebagai seorang mahasiswa23.
Faktor internal yang membantu prestasi belajara mahasiswa adalah
motivasi. Motivasi belajar artinya dorongan yang datang dari daam untuk belajar.
Motivasi ini dapat berbentuk verbal, fisik ataupun psikologis yang membuat
seseorang melakukan sesuatu sebagai respon24. Dengan adanya motivasi pada
mahasiswa, mereka akan menunjukkan adanya usaha dan belajar dengan tekun
sehingga dapat melahirkan prestasi yang baik24.
Faktor eksternal yang berpengaruh pada hasil akhir dari laporan keluarga
binaan mahasiswa adalah metode pengajaran dosen dimana kemampuan mengajar
dosen menggunakan metode yang tepat berpengaruh pada proses mahasiswa
untuk dapat menerima pelajaran25. Menyebutkan bahwa metode pengajaran oleh
dosen memberikan kontribusi yang besar terhadap prestasi mahasiswa. Staf
pengajar dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi memiliki fungsi edukatif
yaitu menyajikan, menjelaskan, menganalisis dan mempertanggungjawabkan isi
materinya25.

5. Kesimpulan
a. Kecakapan mahasiswa secara umum dalam penyusunan laporan
keluarga binaan adalah baik.
b. Prioritas masalah paling banyak dalam penyusunan laporan keluarga
binaan adalah masalah perilaku.
c. Alternatif intervensi paling banyak dalam penyusunan laporan keluarga
binaan adalah edukasi.

6. Saran
a. Apabila akan dilaksanan kegiatan keluarga binaan lagi nantinya,
disarankan untuk memberikan kegiatan perkuliahan terlebih dahulu
mengenai tatacara kegiatan keluarga binaan.
b. Dibuatkan template laporan keluarga binaan untuk meminimalisir
kesalahan format laporan dan juga ketidak lengkapan isi laporan.

10
c. Dalam pengerjaan laporan keluarga binaan, mahasiswa berada di
bawah pengawasan supervisor.
d. Memberikan award pada mahasiswa yang mendapatkan nilai baik
dan punishment pada mahasiswa yang mendapatkan nilai buruk.

Daftar Acuan
1. Hoelman M, Parhusip B, Eko S, Bahagijo S. Panduan SDGs Untuk
Pemerintah Daerah. 2015. Jakarta: Infid.
2. Sustainable Development Knowledge Platform. SDGs&Topics.
https://sustainabledevelopments.un.org/topics
3. Nigel M. A., Lincoln C. Global supply of health professionals. N Eng J Med
2014; 370: 1668
4. Harding F, Charlton R. Reflective writing as an agent for change. BMJ
Careers. 2016 June 6
5. Boucher N. A., McMillen M. A., Gould J. S. Agents for Change:
Nonphysician Medical Provider and Health Care Quality. Perm J. 2015
Winter, 19(1): 90-93
6. Departemen Kesehatan RI. Glosarium Data dan Informasi Kesehatan. 2005.

7. Green, Lawrence W, Michael W Krauter. Health promoting planning an


educational and environmental approach. 1999. Mayfield Publishing
Company: Mountain View.
8. Blum, Henrik L. Expanding Health Horizons: From a general systems
concept of health to a national health policy. 1983. California: Third Party
Publishing Company
9. Soskolne V. Preventive health behaviours and physician visits: relevance to
health inequality. Isr J Health Policy Res. 2015, 4: 9.
10. Kumar S, Preetha GS. Health Promotion: An Effective Too for Global
Health. Indian J Community Med. 2012. Jan-Mar; 37(1): 5-12
11. Mainstreaming health promotion A practical toolkit..Working draft for
The Nairobi Global Conference on Health Promotion. 2009. Geneva: WHO

12. Komala, L., Novianti, E., Subekti, P. Strategi Pemilihan Media Promosi
Kesehatan dalam Penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Garut. 2014.
Acta Diurna, 10(2), 34-43

13. Notoadmodjo, S. Promosi kesehatan dan perilaku kesehatan. 2012. Jakarta:


Rineka Cipta
14. FongHa J, Longneckner N. Doctor-Patient Communication: A Review.
Ochsner, J. 2005 Spring 10(1): 38-43.

11
15. DiMatteo M. R. The Role of Physician in the Emerging of Health Care
Environment. West J Med. 2012; 168(5):328-333
16. Gulbrandsen P, Fugelli P, Sandvik L. Influence of Social Problem on
Management in General Practice: Multipractice Questionnaire Survey.
BMJ. 2012 Jul 4; 317(7150): 28-32
17. Anderson SO, Ferry S, Mattson B. Factors associated with consultation
length and characteristics of short and long consultations. Scand J Prim
Health Care. 2008; 11:61-67
18. Rief W. Analyzing the Problems in Managing Patients with Medically
Unexplained Symptoms. J Gen Intern Med. 2016, 22(5): 704-706
19. Surijah, Edwin Adrinata & Tjundjing, Sia. Mahasiswa Versus Tugas:
Prokrastinasi Akademik dan Conscientiousness. 2007. Indonesia
Psychological Journal, 22(4), 352-374.
20. Wang, B. Self-regulated learning strategies and self-eficcacy beliefs of
children learning English as a second language, Desertation, the Ohio State
University. 2004. Columbus: Ohio.
21. Fasikhah, Siti Suminarti & Fatimah, Siti. Self-Regulated Learning (SRL)
dalam Meningkatkan Prestasi Akademik pada Mahasiswa. 2013. Jurnal
Ilmiah Psikologi Terapan, 01(01), 145-155.
22. Sansgiry, S., Kawatkar, A. A., Dutta, A. P., & Bhosle, M. J. (2004).
Predictors of academic per- formance at two universities: The effects of
academic progression. American Journal of Pharmaceutical Education,
68(4), 1-7.
23. Christyanti, D., Mustamiah, D., Sulistiani W. (2010). Hubungan antara
Penyesuaian Diri terhadap Tuntutan Akademik dengan Kecenderungan
Stres pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah
Surabaya. INSAN, 12(03), 153-159
24. Sunarsih, Tri. Hubungan Antara Motivasi Belajar, Kemandirian Belajar dan
Bimbingan Akademik terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa di Stikes A.
Yani Yogyakarta. Program Studi Kedokteran Keluarga. 2009. Program
Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret.
25. Nasution, H. M. Farid. (2001). Hubungan Metode Mengajar Dosen,
Keterampilan Belajar, Sarana Belajar dan Lingkungan Belajar dengan
Prestasi Belajar Mahasiswa. Jurnal Ilmu Pendidikan, 8(1), 38-46

12