Anda di halaman 1dari 39

EVALUASI MANAJEMEN MUTU PADA PROYEK

PEMBANGUNAN JEMBATAN YEH LAMBUK

Dosen Pengajar:
Drs. Hasan Dani, M.T
Mas Suryanto H.S., S.T., M.T

Anggota Kelompok 3:
1. Ayu Deanita Putri 14050724022-TSB
2. Yogi Dwinanda R. 14050724024-TSB
3. Dliyaul Fikriya 14050724061-TSB
4. M. Alim Sunujaya 14050724080-TSB
5. Diana Atminingtias 14050724086-TSB

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2017
Kata Pengantar

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wataala, karena


berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan laporan studi kasus Pengendalian
Mutu Proyek yang berjudul Evaluasi Manajemen Mutu pada Proyek
Pembangunan Jembatan Yeh Lambuk. Laporan studi kasus ini diajukan guna
memenuhi tugas mata kuliah Pengendalian Mutu Konstruksi.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
sehingga laporan studi kasus ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Laporan
studi kasus ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang
bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya laporan ini.
Semoga laporan studi kasus ini memberikan informasi bagi masyarakat dan
bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan
bagi kita semua.

Penyusun

Surabaya, 8 Mei 2017

1
ABSTRAK
Persaingan usaha di bidang konstruksi semakin tinggi.Perusahaan konsultan
konstruksi yang ingin bertahan perlu melalukan upaya peningkatan mutu baik di
tataran organisasi maupun dalam pelaksanaan proyek.Salah satu upaya
peningkatan mutu secara total dilaksakan dengan cara pengendalian mutu dalam
pelaksanaan proyek. Pengendalian mutu dilakukan sebagai upaya memenuhi
tuntutan spesifikasi dan standar kerja yang telah ditetapkan dalam kontrak.
Penelitian ini ditujukan untuk menganalisis sistem pengendalian mutu pada
proyek sehingga didalam temuan-temuan berupa kendala serta permasalahan yang
ditemukan dalam pelaksanaan dapat dipelajari dengan sistematis dan terukur serta
sebagai pemecahan masalah atau solusi. Penelitian dilakukan dengan
membandingkan ketentuan dalam pengendalian mutu proyek yang ada dalam SNI
ISO 9001:2008 dengan laporan berita acara dan laporan ketidaksesuaian audit
yang dimiliki oleh pihak pelaksana.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistematika bagian yang harus
dilaporkan oleh pihak management representative tidak lengkap, sehingga
sebaiknya dilengkapi untuk mempermudah proses pengendalian mutu itu sendiri.
Temuan permasalahan-permasalahan yang ditemukan dalam laporan
menunjukkan proses pengawasan untuk peralatan pelaksanaan proyek tidak
maksimal.

2
Daftar Isi
Kata Pengantar i
Abstrak i
Daftar Isi i
Bab I Pendahuluan 1-3
1.1 Latar Belakang 1-2
1.2 Perumusan Masalah 2
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian 3
1.4 Metodologi Penelitian 3
Bab II Landasan Teori dan Kajian Pustaka 4-20
2.1 Proyek Konstruksi 4-5
2.2 Siklus Manajemen Proyek6-8
2.3 Organisasi Proyek 8-11
2.4 Pengendalian Mutu Berdasarkan BMS9-MI 12
2.5 Penjaminan Mutu (QA) 12-13
2.6 Quality Control Berdasarkan PMBOK 5th edisi Tahun 201313-17
2.7 Metode Pengendalian Mutu 18
2.8 Audit Mutu 18-19
2.9 Teknik Peningkatan Mutu 19-20
Bab III Permasalahan dan Pembahasan 21-32
3.1 Kebijakan Mutu Perusahaan 21
3.2 Informasi Perusahaan 21
3.3 Organisasi Perusahaan 22-23
3.4 Pengadaan Alat 24-27
3.5 Audit Mutu 28-32
Bab IV Kesimpulan dan Saran 33
Dafar Pustaka 34
Lampiran

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakanng


Mutu adalah salah satu faktor penting bagi keberhasilan sebuah
perusahaan. Dengan produk yang bermutu pasti akan lebih memenangkan
persaingan. Hal ini adalah alasan mengapa setiap perusahaan perlu untuk
melakukan pengendalian mutu.
Pengendalian mutu merupakan salah satu faktor keberhasilan hasil
pelaksanaan pekerjaan. Dengan pengendalian mutu yang baik dapat
memberikan pelayanan sesuai dengan umur rencana.
Kualitas merupakan suatu faktor yang amat penting dan konsultan
pengawas merupakan salah satu aspek penting dalam suatu proyek. Pihak
inilah yang bertanggungjawab sebagai supervisor atas setiap prosesproses
kerja dalam suatu proyek, termasuk dalah hal pengendalian mutu.
Tujuan utama kegiatan penjaminan mutu adalah mengadakan tindakan-
tindakan yang dibutuhkan untuk memberikan kepercayaan kepada semua
pihak yang berkepentingan (pelanggan) bahwa semua tindakan yang
diperlukan untuk mencapai tingkatan mutu obyek (produk) telah dilaksanakan
dengan berhasil. Ini semua dapat ditunjukkan dengan catatan dan dokumen
yang berkaitan dengan QA atau QC.
Seiring dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi di Wilayah Indonesia
Bagian Tengah, Provinsi Bali yang merupakan penghubung lalu lintas darat
antara Pulau Jawa dengan Pulau Lombok menghadapi berbagai permasalahan
yang perlu dipecahkan sesuai dengan tingkat urgensi, prioritas serta
peranannya dalam pembangunan Nasional. Beberapa tahun terakhir
kepadatan lalu lintas di provinsi ini meningkat drastis. Peningkatan jumlah
penduduk dan ekonomi menghasilkan peningkatan pergerakan lalu lintas
orang maupun barang.
Salah satu permasalahan yang dihadapi adalah permasalahan transportasi
darat sebagai akibat dari semakin meningkatnya volume lalu lintas yang
melalui Jalur Selatan Pulau Bali yaitu Gilimanuk Negara Tabanan
Denpasar - Padang Bai. Permasalahan lalu lintas yang dimaksud adalah
tundaan perjalanan, kemacetan, kecelakaan lalu lintas serta polusi udara dan
kebisingan. Permasalahan ini sering terjadi khususnya pada Ruas Jalan
Tabanan Antosari dimana pada ruas ini alinyemen jalan kurang memenuhi
persyaratan teknis oleh karena medan berbukit serta posisi jembatan yang
hanya memperhitungkan bentang terpendek. Berdasarkan data dari Dinas
Pekerjaan Umum Provinsi Bali, 2009, terlihat bahwa pada ruas ini volume
lalulintas harian (LHR) mencapai angka 23.500 smp/hari tahun 2008, dengan-

1
2 pertumbuhan lalu-lintas harian (LHR) mencapai 1,96 % dalam kurun waktu 5
tahun terakhir. Sementara dari catatan harian satlantas pada tahun 2007 2009
angka kecelakaan lalu lintas pada ruas ini tercatat sebesar 101 kecelakaan dan
sebagian besar lokasi kejadian pada dearah-daerah yang alinyemen vertical
maupun alinyemen horisontal kurang memenuhi persyaratan perencanaan
geometrik jalan.
Untuk mengantisipasi permasalahan diatas Pemerintah Provinsi Bali merasa
perlu membuat suatu terobosan dengan merelokasi jalan dan jembatan di daerah
Tabanan Antosari , Jembatan Tukad Yeh Lambuk . Relokasi yang dimaksud
adalah merencanakan trase baru (jalan pintas) dengan alinyemen vertikal maupun
horisontal yang lebih baik agar para pengguna jalan dapat melintasi jalur tersebut
lebih lancar dan nyaman sekaligus meningkatkan kapasitas jalan.
Dengan trase baru yang direncanakan sedemikian rupa diharapkan waktu
tempuh serta biaya operasi kendaraan dari pengguna jalan dapat diminimalkan,
kenyamanan dan keamanan berkendara dapat ditingkatkan sehingga dapat
diharapkan distribusi orang, barang dan jasa semakin lancar. Demikian pula
sasaran transportasi jalan yakni penyelenggarakan transportasi yang efektif dan
efisien dapat tercapai. Sebagai bahan pertimbangan disatu sisi perlu pengalokasian
dana yang tidak kecil baik untuk pembebasan lahan, biaya konstruksi jalan dan
jembatan serta biaya perencanaan. Ketepatan pemilihan 3 rute sangat
mempengaruhi kelayakan pembangunan berdasarkan pertimbangan biaya yang
dikeluarkan terhadap manfaat yang diterima oleh masyarakat pengguna jalan.
1.2 Perumusan Masalah
Sesuai dengan uraian pada latar belakang diatas maka penulis dapat
merumuskan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu :
1. Apakah itu penjaminan mutu dan pengendalian mutu ?
2. Bagaimana cara mengevaluasi pengendalian mutu pada Proyek
Pembangunan Jembatan Tukad Yeh Lambuk ?

2
1.3 Maksud dan Tujuan Penulisan
Maksud dari penulisan ini adalah untuk menganalisis peranan konsultan
pengawas dalam pengendalian mutu proyek pembangunan jembatan Tukad
Yeh Lambuk.
Tujuan dari pembelajaran mengenai proyek konstruksi dalam mata kuliah
Pengendalian Mutu Konstruksi kali ini adalah:
1. Mempelajari mengenai penjaminan mutu dan pengendalian mutu
dalam proyek pembangunan jembatan.
2. Menentukan metode dalam pengendalian mutu suatu proyek
pembangunan jembatan.
3. Membahas tahapan yang dilakukan dalam pengendalian mutu
pekerjaan proyek pembangunan jembatan.
1.4 Metodologi
Metodologi yang digunakan dalam penyusunan makalah mata kuliah
Pengendalian Mutu Konstruksi, menggunakan kajian atau studi literatur
secara analitis yang membahas mengenai Pengendalian Mutu.

3
BAB II
LANDASAN TEORI DAN KAJIAN PUSTAKA

2.1 Proyek Konstruksi


Proyek adalah suatu kegiatan investasi yang menggunakan faktor-faktor
produksi untuk menghasilkan barang dan jasa yang diharapkan dapat
memperolehkeuntungan dalam suatu periode tertentu (Bappenas TA-SRRP,
2003).
Proyek konstruksi merupakan suatu rangkaian kegiatan yang hanya satu
kali dilaksanakan dan umumnya berjangka waktu pendek. Dalam rangkaian
kegiatan tersebut terdapat suatu proses yang mengolah sumber daya proyek
menjadi suatu hasil kegiatan yang berupa bangunan. Proses yang terjadi
dalam rangkaian kegiatantersebut tentunya melibatkan pihak-pihak yang
terkait, baik secara langsungmaupun tidak langsung.
Hubungan antara pihak-pihak yang terlibat dalam suatu proyek dibedakan
atas hubungan fungsional dan hubungan kerja. Dengan banyaknya pihak yang
terlibat dalam proyek konstruksi maka potensi terjadinya konflik sangat besar
sehingga dapat dikatakan bahwa proyek konstruksi mengandung konflik yang
cukup tinggi.
Karakteristik proyek konstruksi dapat dipandang dalam 3 dimensi, yaitu
unik, melibatkan sumber daya, dan membutuhkan organisasi. Kemudian
proses penyelesaiannya harus berpegangan pada 3 kendala (triple constrain)
yaitu sesuai spesifikasi, sesuai penjadwalan, dan sesuai dengan biaya yang
direncanakan. Ciri-ciri tersebut menyebabkan industri jasa konstruksi berbeda
dengan industri lainnya, misalnya manuaktur.

4
Berikut ini contoh perbedaan proyek dengan kegiatan operasional:

No. Kegiatan Proyek Kegiatan Operasional


1 Bersifat dinamis. Bersifat rutin.
2 Berlangsung hanya dalam kurun Berlangsung terus menerus (jangka
waktu terbatas (siklusnya panjang).
pendek).
3 Dalam kurun waktu tersebut Intensitas kegiatan relatif sama.
intensitas kegiatan berbeda-beda.
4 Kegiatan harus diselesaikan Batasan tidak setajam proyek, hanya
sesuai dan dan waktu yang diatur dalam anggaran tahunan.
ditentukan.
5 Menyangkut bermacam-macam Tidak terlalu banyak macam
kegitan (tenaga kerja kegiantannya.
terspesialisasi)
6 Diperlukan tanggung jawab Penekanan pada jalur vertikal.
vertikal dan horizontal.
7 Contoh: Pembangungan pabrik, Contoh: Pekerjaan admistrasi,
rumah, penelitian dan kantor, pabrik, dengan produk
pengembangan produk bersifat standar.

Tabel 2.1 Perbedaan Proyek dan Kegiatan Operasional


Tiga karakteristik proyek konstruksi adalah:
1. Proyek bersiat unik, keunikan dari proyek konstruksi adalah tidak pernah
terjadi rangkaian kegiatan yang sama persis (tidak ada proyek yang
identik, yang ada proyek sejenis), proyek bersifat sementara, dan selalu
melibatkan grup pekerja yang berbeda-beda.
2. Membutukan sumber daya (resource), setiap priyek konstruksi
membutuhkan sumber daya dalam penyelesaiannya, yaitu pekerja dan
sesuatu (Uang, mesin, metode, dan material). Pengorganisasian semua
sumber daya tersebut dilakukan oleh manajer proyek.
3. Membutuhkan organisasi, setiap organisasi mempunyai keragaman tujuan
dimana didalamnya terlibat seumlah individu dengan ragam keahlian,
ketertarikan, kepribadian, dan juga ketidakpastian. Langkah awal yang
harus dilakukan oleh manajer proyek adalah menyatukan visi menjadi satu
tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi.
Secara umum ciri- ciri proyek dapat dikelompokan kedalam 4 (empat) kelompok:
a. proyek mempunyai tujuan yaitu menghasilkan barang dan jasa;
b. proyek memerlukan input berupa factor-faktor produksi atau sumber daya,
seperti modal, tanah dan material, peralatan, tenaga pegawai dan
kepemimpinan;
c. proyek mempunyai titik awal dan titik akhir;

5
d. dalam waktu tertentu setelah proyek selesai, mulai dapat menghasilkan.

2.2 Siklus Manajemen Proyek


Manajemen konstruksi adalah sistem dimana setiap detail pekerjaan dapat
dianalisa dan direncanakan sebelum memulai pelaksanaan konstruksi.
Kebutuhan sumber daya atau faktor-faktor produksi pada saat pelaksanaan
konstruksi, urutan pelaksanaan, serta metode/teknologi yang diperlukan dan
lain-lain dapat ditentukan pada tahap perencanaan kerja oleh
pelaksana/pemborong/kontraktor, untuk mendapatkan hasil yang optimal
seperti penanaman modal yang minimum dan memperoleh keuntungan yang
maksimum, dengan tetap memenuhi syarat-syarat teknis dan administrasi
proyek, tanpa mengurangi mutu konstruksi jalan dan jembatan tersebut.
Untuk mencapai tujuan proyek maka pada saat pelaksanaan konstruksi
perlu dilakukan pengawasan yang baik, sehingga proyek dapat diselesaikan
pada batas waktu yang ditetapkan dan memenuhi mutu yang disyaratkan.
Dapat disimpulkan definisi managemen konstruksi sebagai berikut:
Manajemen konstruksi adalah merupakan pengelolaan perencanaan (rencana
kerja), pelaksanaan, pengendalian dan koordinasi suatu proyek dari awal
pelaksanaan pekerjaan sampai selesainya proyek secara efektif dan efisien,
untuk menjamin bahwa proyek dilaksanakan tepat waktu, tepat biaya, dan
tepat mutu (Ervianto, 2003).
Pada hakekatnya manajemen konstruksi ada 2 (dua) pemahaman yang
pada pelaksanaannya menjadi satu kesatuan dalam mencapai tujuan proyek
yaitu:
1. Teknologi Konstruksi (Construction Technology): mempelajari metode
atau teknik tahapan melaksanakan pekerjaan dalam mewujudkan
bangunan fisik disuatu lokasi proyek, sesuai dengan kaidah
teknis/spesifikasi teknik yang disyaratkan.
2. Manajemen Konstruksi (Construction Management) adalah bagaimana
sumber daya (manusia, material, peralatan, keuangan, metode atau
teknologi) yang terlibat dalam pekerjaan dapat dikelola secara efektif
dan efisien untuk mencapai tujuan proyek, sesuai dengan ketentuan
atau hukum yang berhubungan dengan konstruksi.
Manajemen konstruksi telah diakui sebagai suatu cabang manajemen yang
khusus, yang dikembangkan dengan tujuan untuk dapat melakukan
koordinasi dan pengendalian atas beberapa kegiatan pelaksanaan proyek yang
sifatnya kompleks.
Dengan demikian, teknik atau manajemen yang dapat mengakomodasi
kebutuhan sumber daya konstruksi selalu dilakukan peninjauan dan

6
penyesuaian terus menerus, setiap saat dalam menyelesaikan pelaksanaan
pekerjaan yang sedang berjalan.

Pada suatu penyelenggaraan proyek, untuk mencapai tujuan proyek dilakukan


pendekatan yang disebut manajemen proyek, yaitu penentuan cakupan dan
tahapan-tahapan kegiatan proyek serta peranan/tugas penyelenggara proyek
menyangkut hak dan kewajiban antara pengguna jasa dan penyedia jasa.
Penerima hak kontrak jasa pelaksanaan konstruksi sebagai penyedia jasa akan
melakukan koordinasi menyiapkan kebutuhan sumber daya konstruksi meliputi
dana, tenaga kerja, material, peralatan dan menyusun metoda kerja.
Umumnya pimpinan pelaksana yang ditugaskan dilapangan telah
berpengalaman melaksanakan pekerjaan konstruksi, tetapi tidak berarti bahwa
sudah menguasai manajemen proyek secara menyeluruh dan mendetail,
menganalisa secara teliti setiap kegiatan dan kesulitan pelaksanaan konstruksi
jalan dan jembatan. Adapun hubungan antara masing-masing kegiatan dan fungsi
dapat digambarkan merupakan suatu hubungan siklus manajemen proyek sebagai
berikut:

Gambar 2.2 Hubungan siklus manajemen proyek atau konstruksi


Keterangan gambar:
1. P : planning, perencanaan atau rencana kerja.
2. O : organizing, organisasi kerja.
3. A : actuating, pelaksanaan pekerjaan.
4. C : controlling, kontrol atau pengendalian pekerjaan.
Manajemen proyek dimulai dari kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1. Perencanaan atau rencana kerja (planning) yaitu kegiatan menyiapkan
rencana kerja sesuai dengan metode konstruksi terhadap semua urutan
kegiatan yang akan dilakukan dan waktu yang diperlukan pada setiap
kegiatan pelaksanaan proyek.
2. Organisasi kerja (organizing) yaitu kegiatan pembentukan organisasi
kerja yang akan ditugasi melakukan kegiatan pelaksanaan konstruksi
yang dipimpin oleh seorang ahli pelaksana jalan dan jembatan yaitu
Pimpinan Pelaksana (General Superintendent / GS). Dalam organisasi

7
ini, disamping General Superintendent / GS ditentukan jabatan-
jabatan lainnya seperti pimpinan-pimpinan divisi proyek (peralatan,
laboratorium, jalan, jembatan, pengukuran, logistik, umum, base
camp) bendahara proyek, pengawas pelaksanaan proyek, dan
sebagainya. Setiap jabatan diuraikan tugas, wewenang dan tanggung
jawabnya dalam melaksanakan pengendalian pelaksanaan konstruksi.
3. Pelaksanaan pekerjaan (actuating) yaitu merupakan aktualisasi pelaksanaan
dari perencanaan dan pengorganisasian yang telah diuraikan diatas dalam
pelaksanaan konstruksi.
4. Kontrol atau pengendalian kerja (controlling) yaitu kegiatan pengawasan
terhadap pelaksanaan pekerjaan meliputi kegiatan: pemeriksaan, pengujian
apakah pelaksanaan konstruksi sesuai dengan prosedur dan rujukan yang
telah ditetapkan dalam pelaksanaan.

2.3 Organisasi Proyek Konstruksi Jalan Dan Jembatan


Sebagaimana telah diuraikan, Siklus Manajemen Proyek/Konstruksi
maka manajemen proyek pelaksanaan jalan dan jembatan adalah proses
implementasi dari rencana kerja - organisasi kerja - pelaksanaan kerja -
kontrol/pengendalian kerja (planning - organizing - actuating/implementation
- controlling/POAC) yang diterapkan atau dilakukan pada pekerjaan
konstruksi jalan dan jembatan.
Untuk mengimplementasikan ini perlu adanya suatu organisasi yang
berfungsi mengendalikan pelaksanaan sehingga dapat dicapai tujuan proyek.
Sesuai dengan UU No. 18/1999 tentang Jasa Konstruksi yang mengatur
pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi ada 2 unsur
pokok masing-masing sebagai berikut:
1) Pihak pengguna jasa adalah orang perseorangan atau badan sebagai
pemberi tugas atau pemilik pekerjaan/proyek yang memerlukan
layanan jasa konstruksi;
2) pihak penyedia jasa adalah orang perseorangan atau badan yang
kegiatan usahanya menyediakan layanan jasa konstruksi;
Adapun yang dimaksud layanan jasa konstruksi adalah:
a. layanan jasa konsultansi perencanaan pekerjaan konstruksi,
b. layanan jasa pelaksanaan pekerjaan konstruksi,
c. layanan jasa konsultansi pengawasan pekerjaan konstruksi.
Sedangkan yang dimaksud pekerjaan konstruksi adalah keseluruhan atau
sebagian rangkaian kegiatan perencanaan dan/atau pelaksanaan beserta
pengawasan untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk fisik lain; dalam
hal ini konstruksi jalan dan jembatan.
Dari pihak pengguna jasa dan penyedia jasa maka dan penyedia jasa
maka dapat disimpulkan bahwa pada setiap proyek ada 4 unsur pelaku
kegiatan penyelenggara konstruksi, yaitu:

8
1. Pemberi tugas atau pemilik pekerjaan atau proyek yang biasa dikenal
dengan Pimpro atau Pimbagpro.
2. Perencana Konstruksi atau biasa dikenal dengan Konsultan
Perencana.
3. Pelaksanan Konstruksi atau biasa dikenal Kontraktor.
4. Pengawas Konstruksi atau biasa dikenal Konsultan Pengawas.
Dalam menjalankan tugasnya layanan jasa konstruksi yang dilakukan oleh
penyedia jasa dilakukan oleh masing-masing penyedia jasa secara terpisah dalam
pekerjaan konstruksi (UU 18/1999 pasal 16 ayat 2).
Layanan jasa perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan dapat dilakukan
secara terintegrasi dengan memeperhatikan besaran pekerjaan atau biaya,
penggunaan teknologi canggih, serta risiko besar bagi para pihak ataupun
kepentingan umum dalam satu pekerjaan konstruksi (Undang-undang No. 18
tahun 1999 pasal 16 ayat 3). Secara khusus dalam manajemen proyek pelaksanaan
konstruksi jalan dan jembatan diuraikan masing-masing peranan pihak
penyelenggara proyek yang terlibat langsung kegiatan pekerjaan konstruksi jalan
dan jembatan dilapangan yaitu:
1. Pimpro atau Pimbagpro;
2. Direksi Pekerjaan/Konsultan Pengawas;
3. Kontraktor.
Dalam melakukan kegiatan pekerjaan konstruksi, ketiga pihak dapat bekerja
dengan penuh rasa tanggung jawab dan secara profesional, yang dilandasi prinsip-
prinsip keahlian sesuai kaidah keilmuan, kepatutan, dan kejujuran intelektual
dalam menjalankan profesinya dengan tetap mengutamakan kepentingan umum.
Adapun tugas dan tanggung jawab dari ketiga unsur proyek tersebut, dari
awal proyek sampai serah terima pekerjaan berdasarkan dokumen kontrak dan
Kepmen PU adalah:
1. Pemimpin Bagian Proyek:
a. Sebagai wakil pemilik pekerjaan/proyek; bertanggungjawab penuh
kepada pemilik pekerjaan/proyek atas penggunaan dana untuk
melaksanakan konstruksi jalan dan jembatan yang diikat dengan
Dokumen Kontrak.
b. Sebagai manager; bertanggung jawab atas kelancaran proyek, baik
fisik maupun administrasi. Dalam tugas manajerial tersebut,
Pinbagpro memeriksa dan segera mengantisipasi kondisi proyek
dan melaksanakan tindakan turun tangan lebih dini, bila terjadi
masalah di lapangan.
c. Sebagai engineer; melakukan rekayasa produk fisik tepat guna,
terutama dalam penentuan prioritas lokasi, pemilihan tipe dan
dimensi konstruksi serta kualitas pekerjaan dengan batasan yang
telah ditentukan dalam Dokumen Kontrak sehubungan dengan
kondisi lapangan dan keterbatasan dana yang tersedia

9
2. Direksi Pekerjaan atau Konsultan Pengawas:
Konsultan pengawas atau pengawas konstruksi dalam UU No. 18 tahun
1999 tentang jasa konstruksi disebutkan bahwa pengawas konstruksi adalah
penyedia jasa orang perseorangan atau badan usaha yang dinyatakan ahli
yang profesional dibidang pengawasan jasa kontruksi yang mampu
melaksanakan pekerjaan pengawasan sejak awal pelaksanaan pekerjaan
konstruksi sampai selesai dan diserahterimakan.
Tim Supervisi biasanya adalah Konsultan Supervisi, yaitu Konsultan
yang ditunjuk oleh Ditjen Bina Marga untuk menjalankan pengawasan
pekerjaan Kontrak. Konsultan Supervisi mempunyai tanggung jawab untuk
melaksanakan pekerjaan sehari-hari, tetapi tidak mempunyai wewenang
untuk menyetujui perubahan-perubahan atau membuat Pembayaran Akhir.
Kewenangan dari pada Konsultan Supervisi didefinisikan di dalam
Dokumen Kontrak (biasanya di dalam Syarat-syarat Umum Kontrak), atau
sebagaimana dilimpahkan sewaktu-sewaktu oleh Engineer. Staf pengawas
tersebut harus sepenuhnya sadar akan keterbatasan wewenang tersebut dalam
menjalankan pengawasan sesuai Kontrak.
Segala pelimpahan wewenang dari Pimpinan Proyek atau Engineer
kepada Tim Supervisi harus diberitahukan secara tertulis kepada Kontraktor,
dan Konsultan Supervisi beserta staf harus bertindak dalam batas-batas
kewenangannya. Pelimpahan wewenang mungkin berbeda dari setiap
kontrak.
Tugas Konsultan Supervisi adalah untuk memastikan pekerjaan
dilaksanakan sesuai dengan Gambar Rencana dan Dokumen Kontrak lainnya,
dan bertindak dalam batas-batas kewenangan yang limpahkan.
Adapun tugas dan tanggung jawabnya yaitu:
a. sebagai Engineer Repsentative mempunyai wewenang penuh dalam
mengawasi, mengarahkan pelaksanaan pekerjaan agar dapat
tercapai penyelesaian pekerjaan sesuai persyaratan yang ada dalam
Dokumen Kontrak;
b. membantu Pimbagpro memecahkan persoalan dan permasalahan
berhubungan dengan perpanjangan masa pelaksanaan pekerjaan,
bila diperlukan;
c. tidak berwenang membebaskan kontraktor dari tugas-tugas yang
ada dalam dokumen kontrak yang akan mengakibatkan
keterlambatan pekerjaan atau menambah pembayaran oleh pemilik.

10
Wulfram I. Evrianto dalam buku Manajemen Proyek Konstruksi
menjabarkan lagi hak dan kewajiban konsultan pengawas yaitu;
1. menyelesaikan pelaksanaan pekerjaan dalam waktu yang telah
ditetapkan;
2. membimbing dan mengadakan pengawasan secara periodik dalam
pelaksanaan pekerjaan;

3. melakukan perhitungan prestasi pekerjaan;


4. mengoordinasi dan mengendalikan kegiatan konstruksi serta aliran informasi
antara berbagai bidang agar pelaksanaan pekerjaan berjalan lancar;
5. menghindari kesalahan yang mungkin terjadi sedini mungkin serta
menghindari pembengkakan biaya;
6. mengatasi dan memecahkan persoalan yang timbul di lapangan agar dicapai
hasil akhir sesuai kualitas, kuantitas serta waktu pelaksanaan yang telah
ditetapkan;
7. menerima atau menolak material/peralatan yang didatangkan kontraktor;
8. menghentikan sementara bila terjadi penyimpangan dari peraturan yang
berlaku;
9. menyusun laporan kemajuan pekerjaan (harian, mingguan, bulanan);
10. menyiapkan dan menghitung adanya kemungkinan pekerjaan
tambahan/pengurangan.
Sedangkan yang bukan atau tidak biasanya dibebankan oleh konsultan adalah:
1. Menyetujui perubahan desain.
2. Menyetujui perubahan terhadap pekerjaan.
3. Memberikan perpanjangan waktu kepada Kontraktor.
4. Menyetujui sertifikat pembayaran pekerjaan.
5. Menyetujui Klaim yang diajukan oleh Kontraktor untuk pembayaran
tambahan.
6. Mengadakan negosiasi langsung dengan Kontraktor untuk harga satuan
pembayaran yang baru, apabila harus melaksanakan pekerjaan tambahan
yang tidak terdapat harga satuan didalam daftar harga.
3. Kontraktor/ Pelaksana:
a. Kontraktor harus membuat, menyelesaikan dan memelihara pekerjaan
sesuai ketentuan dalam Dokumen Kontrak dengan sungguh-sungguh
dan penuh perhatian dan tanggung jawab;
b. menyediakan semua tenaga kerja maupun pengawas pelaksanaan,
bahan, peralatan dan lain-lain yang harus memenuhi persyaratan
sesuai Dokumen Kontrak;
c. menjamin terselenggaranya pelaksanaan pekerjaan yang
berkesinambungan di lapangan.
Hubungan diantara ketiga pihak tersebut dapat digambarkan seperti pada
skema yang terlihat pada Gambar dibawah ini

11
Gambar 2.3 Hubungan Pimpinan, Konsultan dan Kontraktor

2.4 Pengendalian Mutu Berdasarkan BMS9-M.I


Pengendalian mutu dimaksudkan sebagai jaminan bahwa semua
pekerjaan yang dilakukan oleh Kontraktor dan diterima oleh Pimpro atau
Engineer memenuhi Gambar Rencana, Syarat-syarat teknik dan dokumen
serta perintah lain dari Pimpro atau Engineer selama kontrak berlangsung.
Dengan terus mengadakan pengecekan dan pengetesan dari pekerjaan
Kontraktor, maka Pemberi Pekerjaan dapat meyakinkan bahwa Pekerjaan
dilaksanakan sesuai dengan standar spesifikasi dan kualitas.
Tingkat pengendalian yang dicapai pada dasarnya berbanding langsung
dengan jumlah masukan usaha pengawasan oleh engineer dan staf.
Kontraktor akan berusaha memenuhi syarat-syarat teknik dengan usaha
minim, oleh karena itu penting bahwa Konsultan Supervisi dan staf
memastikan dipenuhinya syarat-syarat teknik. Seringkali perlu dijelaskan
pada Kontraktor bahwa target mutu dari syarat-syarat teknik tidak akan
terpenuhi bila Kontraktor tidak memenuhi persyaratan mutu, misalnya
persyaratan standar lapis permukaan beton mensyaratkan bahwa bahan yang
dipakai untuk bekisting harus bebas dari cacat permukaan dan kekurangan
lain. Pemakaian bahan yang tidak sesuai bukan berarti harus selalu ditolak
oleh Pimpro atau Engineer pada tahap bahan sedang digunakan, tetapi dapat
menyebabkan sulitnya atau tidak terpenuhinya syarat-syarat teknik.
Kebanyakan pekerjaan jembatan melibatkan pemakaian bahan dalam
kuantitas besar.
2.5 Penjaminan Mutu (Quality Assurance, QA)
1. Standar
Saat Anda mulai perencanaan mutu, pertama-tama perlu menentukan
pengukuran kualitas proyek apa yang akan dipakai. Jika organisasi
memiliki standar pengukuran mutu, rencana hanya akan menyatakan
bahwa proyek akan mengikuti standar mutu tersebut. Jika organisasi tidak
memiliki standar mutu, perlu untuk dikembangka. Pada masalah mutu
yang erat kaitannya dengan proyek dikenal dua macam standar yaitu,
standar umum (general standard) dan yang berhubungan dengan industri
(industry related standard). Yang disebut pertama, merupakan petunjuk
umum bagi kalangan industri dalam menyusun dan mengembangkan
program QA. Sedangkan yang kedua, adalah standar yang disusun oleh
badan-badan pembeli atau pelanggan (purchasing body) dengan maksud

12
agar pemasok mengetahui dan memenuhi keinginan pembeli atau
pelanggan dalam aspek mutu.
2. Mengembangkan Rencana
Rencana penjaminan mutu menjelaskan apa yang akan Anda lakukan
untuk menjamin mutu dalam proyek Anda dan atau hasil proyek Anda.
Teknik paling umum untuk penjaminan mutu adalah audit mutu, yang
memeriksa produk dan proses secara acak untuk melihat apakah standar-
mutunya sudah terpenuhi atau belum. Jika ditemukan problem selama audit, akan
diperlukan tindakan korektif. Setiap tindakan harus disesuaikan melalui proses
kontrol perubahan.
3. Manfaat
Kegunaan penjaminan mutu (Quality Assurance, QA) bagi pihak-pihak
yang terlibat dalam pembangunan proyek lebih lanjut dirinci sebagai berikut.
a. Bagi Pemerintah
1. Untuk menjaga dan meyakinkan agar metode konstruksi,
material dan peralatan yang digunakan dalam membangun
proyek memenuhi standar dan peraturan yang telah
ditentukan. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi
kepentingan keamanan dan kesehatan masyarakat.
2. Memberikan kesempatan pemeriksaan dan pengujian terhadap
instalasi atau hasil proyek dari waktu ke waktu yang potensial
dapat menyebabkan kerusakan dan kecelakaan.
b. Bagi Pelaksana
1. Bila mengikuti prosedur dan spesifikasi dengan tepat dan
cermat akan menghasilkan pekerjaan sekali jadi. Hal ini
berarti mencegah pekerjaan ulang (rework).
2. Bila dilaksanakan dengan baik, akan mencegah mutu yang
melebihi spesifikasi yang tercantum dalam kontrak EPK,
berarti menghindari pengeluaran biaya yang tidak perlu.
Penjaminan mutu (QA) adalah semua perencanaan dan langkah sistematis
yang diperlukan untuk memberikan keyakinan bahwa instalasi atau sistem
yang akan diwujudkan dapat beroperasi secara memuaskan. Sedangkan
pengendalian mutu (QC) adalah bagian dari penjaminan mutu yang
memberikan petunjuk dan cara-cara untuk mengendalikan mutu material,
struktur, komponen atau sistem agar memenuhi keperluan yang telah
ditentukan.

2.6 Quality Control Berdasarkan PMBOK 5th edisi Tahun 2013


Pengendalian mutu (QC) meliputi tindakan-tindakan yang berupa
pengetesan, pengukuran dan pemeriksaan untuk memantau apakah
kegiatankegiatan engineering, pembelian, manufaktur, konstruksi dan
kegiatan lain untuk mewujudkan sebuah sistem (instalasi atau produk hasil

13
proyek) telah dilakukan sesuai dengan kriteria yang digariskan. Demikian
juga halnya dengan material, peralatan dan instalasi yang telah dibuat, dibeli
dan dibangun apakah telah sesuai dengan prosedur, gambar dan spesifikasi.
Bila ternyata terdapat penyimpangan maka segera diadakan koreksi. Jadi
tidak berbeda dengan sasaran proyek yang lain, yaitu biaya dan jadwal, pada
aspek mutu diadakan langkahlangkah perencanaan, pengendalian dan koreksi.
Quality Control adalah proses monitoring dan pencatatan hasil dari eksekusi
tindakan-tindakan mutu untuk memperkirakan tindakan dan- merekomendasikan
perubahan yang diperlukan. Kunci dari keuntungan proses ini adalah; (1)
mengidentifikasi penyebab dari buruknya proses atau mutu produk dan
merekomendasikan atau mengambil tindakan untuk menghilangkannya jika
diperlukan; (2) mengesahkan bahwa hasil dari proyek dan pekerjaan cocok
dengan spesifikasi yang diminta oleh stakeholder kunci untuk penerimaan akhir.
input, tools, teknik, maupun output dari proses ini dapat dilihat dari gambar di
bawah ini:

Gambar 2.6a input, tools, teknik dan output quality control

14
Gambar 2.6b Diagram Alur Quality Control
Proses quality control menggunakan satu set teknik operasional dan tugas
untuk memverifikasi bahwa output yang dihasilkan sesuai dengan permintaan.
Penjaminan mutu harus digunakan saat perencanaan proyek dan saat fase eksekusi
untuk mendukung kepercayaan yang diminta pihak stakeholder. Quality control
harus juga digunakan saat pengerjaan proyek dan saat fase akhir untuk secara
resmi mendemonstrasikan hasil proyek dengan data yang dapat diandalkan dan
sesuai dengan kriteria konsumen.
Tim manajemen proyek harus memiliki pengetahuan dalam hal
pengendalian mutu secara statistik terkhusus mengenai sampel dan probabilitas
untuk mengevaluasi keluaran (output) dari quality control. Selain itu tim juga
harus mengetahui perbedaan tentang:
Pencegahan dan inspeksi.
Hubungan antara sampel dan variabel sampel.
Toleransi dan batas kontrol.

Tindakan-tindakan pengendalian mutu atau penjaminan mutu yang


dilaksanakan dan dilaporkan oleh pihak konsultan dapat kemudian dilakukan
evaluasi sehingga didapatkan peningkatan mutu kedepannya. Tidakan evaluasi
dapat dilakukan dengan cara:
a. melakukan tindakan-tindakan pengukuran mutu dengan cara penetapan
spesifikasi dan standar kerja.

15
b. melakukan pengawasan dan inspeksi bahwa pelaksanaan pekerjaan, jadwal,
kualitas material, biaya sudah sesuai dengan spesifikasi dan standar kerja.
c. menganalisis temuan, kendala, dan permasalahan yang ditemukan.
d. melaporkan/mendokumentasikan hasil temuan, kendala, permasalahan, sebab-
akibat, serta solusi yang dalam proyek.
e. melakukan peningkatan mutu dengan jalan mempelajari hasil laporan dan
dokumentasi sehingga pekerjaan yang akan dilakukan selanjutnya terhindar
dari permasalahan-permasalahan yang serupa.
A. Input Quality Control
1. Rencana manajemen proyek, yaitu dokumen yang menjelaskan bagaimana
proyek dilaksanakan, dimonitor, dan semuanya terintegrasi dan
terkonsolidasi di cabang-cabang rencana dan dasar dari proses perencanaan.
2. Quality metrics. Sebuah quality metrics secara khusus menjelaskan sebuah
proyek atau kelengkapan produk dan bagaimana proses quality control
diukur. Pengukurannya dengan menggunakan angka atau nilai aktual.
Toleransi dibatasi sebagai variasi yang diijinkan. Sebagai contoh jika sebuah
sasaran mutu mempunyai biaya sebesar kurang lebih 10%, maka sebuah
quality metric khusus digunakan untuk mengukur besaran biaya dari semua
kemungkinan dan menentukan variasi persentasi dari biaya yang dapat
diterima.
3. Ceklis mutu. Ceklis mutu adalah sebuah tool biasanya berupa komponen
spesifik yang digunakan untuk memverifikasi langkahlangkah yang perlu
dilakukan. Berdasarkan syarat proyek dan pelaksanaannya, ceklis mutu bisa
saja mudah atau rumit. Banyak organisasi yang telah menstandardisasi
ceklis yang tersedia dalam pekerjaan-pekerjaan yang sering dilaksanakan.
Dalam suatu kasus, ceklis juga tersedia dari pihak profesional atau
dukungan komersial. Ceklis mutu harus menggabungkan kriteria yang
disetujui yang terdapat dalam dasar lingkup pekerjaan.
4. Data hasil pekerjaan. Data hasil pekerjaan termasuk di dalamnya data-
data:
Pekerjaan teknis rencana vs aktual
Penjadwalan rencana vs aktual
Rencana biaya vs aktual biaya yang digunakan
5. Perubahan permintaan yang disetujui.
6. Keberhasilan menghasilkan.
7. Dokumen proyek termasuk didalamnya kontak, laporan audit mutu,
perubahan yang memberikan rencana aksi yang tepat, rencana pelatihan dan
perkiraan keefektivan, dan proses dokumentasi yang terdapat 7 dasar alat
mutu atau manajemen mutu, dan alat kontrol. Aset proses organisasi yang
mengandung setidaknya standar mutu atau kebijakan mutu organisasi,
petunjuk standar kerja, masalah dan cacat prosedur dan kebijakan
komunikasi

16
B. Tools dan Teknik untuk Quality Control
1. Seven basic quality tool (7 alat mutu dasar) yaitu diagram sebab akibat,
flowchart, lembar periksa, diagram pareto, histogram, diagram kontrol dan
scatter diagram.

Gambar 2.6c Tujuh alat dasar pengendalian mutu


2. Inspeksi. Inspeksi termasuk didalamnya pengukuran, pengujian, dan testing
yang dilakukan untuk menentukan apakah hasilnya sesuai dengan
permintaan.
3. Statistical sampling. Sampel statistik berkaitan dengan pemilihan suatu
bagian dari sebuah populasi yang yang menarik perhatian dalam sebuah
inspeksi.
4. Ulasan Perubahan permintaan.
C. Output Quality Control
1. Pengukuran quality control, yaitu dokumen hasil dari aktivitas
pengendalian mutu.
2. Perubahan yang tervalidasi, yaitu setiap perubahan atau perbaikan item
yang terinspeksi baik itu yang disetujui ataupun yang ditolak. Penolakan
bisa saja membutuhkan pengerjaan kembali.
3. Hasil yang terverifikasi, yaitu tujuan dari proses quality control untuk
menentukan kebenaran dari hasil yang didapatkan.
4. Informasi pelaksanaan pekerjaan yaitu data yang terhimpun dari berbagai
macan proses pengontrolan, analisis, atau ketekaitan dari hubungan antar
area. Contohnya termasuk syarat spesifikasi proyek lengkap seperti sebab-
sebab penolakan, permintaan pengerjaan ulang, atau perubahan proses yang
diperlukan.
5. Permintaan perubahan, jika koreksi yang direkomendasikan atau tindakan
pencegahan atau cacat yang membutuhkan perbaikan, maka dibutuhkan

17
perubahan dalam rencana manajemen proyek, maka itu harus diajukan dan
sesuai dengan perform integrated change control yang telah ditetapkan.
6. Update rencana manajemen proyek yang setidaknya terdapat rencana
manajemen mutu, dan rencana peningkatan proses.
7. Update dokumen proyek yang mengandung setidaknya standar mutu,
persetujuan, laporan audit mutu, perubahan yang didukung dengan koreksi
rencana kerja, rencana pelatihan dan perkiraan keefektivan, dan proses
dokumentasi yang mengandung 7 dasar alat mutu atau manajemen mutu,
dan alat kontrol.
8. Update aset proses organisasi, elemen dari aset proses organisasi yang bisa
di update setidaknya terdapat ceklis lengkap dan dokumentasi pembelajaran
yaitu variasi dari sebuah penyebab, alasan dibalik koreksi pekerjaan, dan
bentuk pembelajaran yang lain dari proes quality qontrol yang
didokumentasikan sehingga menjadi bagian database sejarah untuk proyek
maupun performa organisasi.

2.7 Metode Pengendalian Mutu


Metode yang dipakai dalam mengendalikan mutu tergantung pada jenis
obyek dan ketepatan yang diinginkan. Terdapat tiga metode yang sering
dijumpai dalam proyek pembangunan, yakni sebagai berikut.
a. Pengecekan dan Pengkajian
Hal ini dilakukan terhadap gambar untuk konstruksi, gambar
untuk pembelian peralatan, pembuatan maket (model) dan
perhitungan yang berkaitan dengan desain engineering. Tindakan
tersebut dilakukan untuk mengetahui dan meyakini bahwa
kriteria, spesifikasi dan standar yang ditentukan telah dipenuhi.
b. Pemeriksaan/Inspeksi dan Uji Kemampuan Peralatan
Pekerjaan ini berupa pemeriksaan fisik, termasuk
menyaksikan uji coba berfungsinya suatu peralatan. Kegiatan ini
digolongkan menjadi beberapa hal berikut.
1. Pemeriksaan sewaktu menerima material.
2. Hal ini meliputi penelitian dan pengkajian material, suku
cadang dan lain-lain yang baru diterima dari pembelian.
3. Selama proses pabrikasi berlangsung.
4. Pemeriksaan yang dilakukan selama pekerjaan instalasi
berlangsung,sebelum diadakan pemeriksaan akhir.

18
5. Pemeriksaan akhir, yaitu, pemeriksaan terakhir dalam
rangka penyelesaian proyek secara fisik atau mekanik.
c. Pengujian dengan Mengambil Contoh
Cara ini dimaksudkan untuk menguji apakah material telah
memenuhi spesifikasi atau kriteria yang ditentukan. Pengujian
dapat berupa tes destruktif atau non-destruktif yang dilakukan
terhadap contoh yang diambil dari obyek yang diselidiki.
2.8 Audit Mutu
Audit atau pemeriksaan dalam arti luas bermakna evaluasi terhadap
suatu organisasi, sistem, proses, atau produk. Audit dilaksanakan oleh
pihak yang kompeten, objektif, dan tidak memihak, yang disebut auditor.
Tujuannya adalah untuk melakukan verifikasi bahwa subjek dari audit
telah diselesaikan atau berjalan sesuai dengan standar, regulasi, dan praktik
yang telah disetujui dan diterima. kondisi actual adalah apa yang terjadi di
lapangan misalnya kita bisa melihat laporan-laporan, demonstrasi
karyawan dalam melakukan pekerjaan, dan lain-lain.
Sedangkan kriteria audit adalah standard yang diajadikan acuan,
misalnya kita akan menjalankan audit internal untuk standard ISO
9001:2008 jadi yang menjadi acuan adalah ISO 9001:2008 requirement
(Klausal-klausal yang sesuai dengan ISO 9001:2008 termasuk didalamnya
prosedur ISO 9001, Instruksi Kerja ISO 9001, Policy, UU, Surat Edaran,
dll yang berlaku di perusahaan tersebut.
Secara ringkas, tata cara melaksanakan Audit Mutu Internal adalah sebagai
berikut:
a. Organisasi harus membentuk tim audit. Auditor internal sebaiknya
setingkat kepala bagian atau Manajer ke atas agar pelaksanaannya
lebih lancar.
b. Tim Audit membuat program audit (Audit programme) yang berisi
gabungan dari satu atau lebih audit yang direncanakan untuk
kerangka waktu tertentu dan diarahkan ke sasaran tertentu.
c. Bila waktu pelaksanaan audit mutu internal sudah dekat, maka tim
audit membuat rencana audit (audit plan) yang berisi jadwal
pelaksanaan audit dan ruang lingkup audit termasuk bagian mana
saja yang diaudit. Audit plan ini harus didistribusikan ke seluruh
bagian yang akan diaudit.
d. Untuk memudahkan pelaksanaan audit mutu internal, sebaiknya
tim audit membuat audit checklist: sebuah dokumn yang berisi
poin-poin penting yang harus ditanyakan ke auditee (orang / bagian
yang diaudit) . Audit Checklist ini penting mengingat tidak semua
auditor internal memahami seluruh persyaratan ISO 9001:2008.
e. Setelah audit mutu internal, tim audit harus mengumpulkan semua
temuan audit (audit finding) yang didasari dengan bukti obyektif

19
(objective evidence) dan menyimpulkannya menjadi sebuah
laporan audit mutu internal.
f. Semua temuan yang dituangkan dalam laporan audit mutu internal
harus ditindaklanjuti oleh bagian terkait kemudian harus
diverifikasi oleh tim audit untuk memastikan seluruh temuan telah
diperbaiki sampai tuntas.

2.9 Teknik Peningkatan Kualitas


TQM menuntut proses perbaikan terus ditujukan untuk mengurangi
variabilitas. Suatu organisasi yang ingin mendukung dan mengembangkan
proses tersebut perlu menggunakan alat manajemen mutu dan teknik. Adalah
bijaksana untuk memulai dengan alat yang lebih sederhana dan teknik seperti:
check-sheet, daftar periksa, histogram, analisis Pareto, sebab-dan-akibat
diagram (Fishbone Diagram), diagram penyebaran, dan flowchart.
Check-Sheet
Check-sheet digunakan untuk merekam peristiwa, atau non-
peristiwa (ketidaksesuaian). Mereka juga dapat mencakup informasi
seperti posisi di mana peristiwa itu terjadi dan sebab-sebab yang
diketahui. Mereka biasanya dipersiapkan sebelumnya dan diselesaikan
oleh mereka yang melakukan operasi atau pemantauan kemajuan
mereka. Nilai dengan menggunakan cek-lembar analisis retrospektif
untuk membantu dengan masalah identifikasi dan pemecahan
masalah.
Check-list
Check list yang digunakan untuk memberitahu pengguna jika ada barang
tertentu yang harus diperiksa. Dengan demikian, dapat digunakan dalam audit
jaminan mutu dan untuk mengikuti langkah-langkah dalam proses tertentu.
Histogram
Histogram memberikan representasi grafis dari nilai pengukuran individu
dalam suatu kumpulan data sesuai dengan frekuensi kejadian. Ini membantu
untuk memvisualisasikan distribusi data dan ada beberapa bentuk histogram,
yang seharusnya dikenali, dan dengan cara ini mereka mengungkapkan
jumlah variasi dalam proses. Histogram harus dirancang dengan baik
sehingga staf anggota yang melaksanakan operasi dapat dengan mudah
menggunakannya.

Analisis Pareto
Ini adalah teknik yang digunakan untuk memprioritaskan masalah
sehingga perhatian yang awalnya difokuskan pada yang memiliki pengaruh
terbesar. Hal itu dikemukakan oleh seorang ekonom Italia, Vilfredo Pareto,
yang mengamati bagaimana sebagian besar kekayaan (80%) dimiliki oleh
relatif sedikit dari populasi (20%). Sebagai aturan umum untuk

20
mempertimbangkan solusi untuk masalah, analisis Pareto bertujuan untuk
mengidentifikasi 20% penyebab penting dan untuk memecahkan mereka
sebagai prioritas.
Diagram Sebab Akibat (Diagram Fishbone)
Diagram sebab-akibat, yang dikembangkan oleh Karoa Ishikawa,
berguna dalam meruntuhkan penyebab utama dari masalah tertentu. Bentuk
diagram terlihat seperti kerangka ikan. Hal ini karena proses sering memiliki
banyak tugas pijakan ke dalamnya, salah satu yang dapat menyebabkan. Jika
terjadi masalah, itu akan memiliki efek pada proses, sehingga akan diperlukan
untuk mempertimbangkan seluruh banyak tugas ketika mencari solusi.
Diagram Scatter
Hubungan dari dua variabel dapat diplot dalam diagram Scatter. Sebuah
diagram Scatter sangat mudah untuk menyelesaikan pola linier dengan jelas
mengungkapkan korelasi yang kuat.
Flowchart
Flowchart menggunakan satu set simbol untuk memberikan representasi
diagram dari semua langkah atau tahapan dalam proses proyek atau urutan
kejadian. Sebuah flowchart membantu dalam mendokumentasikan dan
mendeskripsikan suatu proses sehingga dapat diperiksa dan diperbaiki.
Menganalisis data yang dikumpulkan pada flowchart dapat membantu untuk
mengungkap penyimpangan dan masalah yang tersembunyi.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Kebijakan Mutu Perusahaan
PT. TUKADMAS G.C adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang
pemborongan, berdiri sejak tahun 1958 dan telah mempunyai banyak
pengalaman dalam menyelesaikan pekerjaan infra struktur khususnya bidang
Jalan, Jembatan, Landasan dan Lokasi Pengeboran Darat.
Pada prinsipnya mutu adalah yang kami utamakan, sehingga pelaksanaan
dilapangan senantiasa kami tugaskan staf yang berpengalaman, penggunaan
peralatan yang cukup serta bahan dan cash flow yang lancar.
3.2 Informasi Perusahaan
2. Nama Perusahaan : PT. TUKADMAS General Contractors
3. Kualifikasi / Klasifikasi : MI
4. Bidang / Sub Bidang : Sipil / Jalan, Jembatan, Landasan dan
Lokasi Pengeboran Darat.
5. Alamat : Jl. Raya Jemursari No. 76 Blok C - 9,

21
Surabaya.
6. No. Telpon : (031) 8433201 ; 8433202
7. No. Fax : (031) 8432861
8. Nama Pimpinan : H. MUHAIMIN, BA.
9. Alamat : Jl. Raya Jemursari No. 76 Blok C - 9,
Surabaya.
10. No. Telpon : (031) 8433201 ; 8433202

22
3.3 Organisasi

Uraian tugas atau jabatan :


1. Direktur, sebagai penanggung jawab dibidang Teknik dan Keuangan dan
bertanggung jawab langsung kepada Presiden Direktur.
2. Sekretaris, sebagai pengatur dan penanggung jawab laju keuangan
perusahaan dan wajib melaporkan dan bertanggung jawab langsung pada
Direktur Perusahaan.
3. General Superintendent, koordinator dan mengatur manajemen proyek
milik perusahaan dan bertanggung jawab pada Direktur Perusahaan.
4. Site Engineer, (1) sebagai koordinator dan mengatur pelaksanaan
dilapangan serta membuat perencanaan kegiatan, material, alat dan tenaga
per minggu yang mengacu pada Schedule Pelaksanaan serta memeriksa
opname mandor dan bawahannya adalah pelaksana dan Suveyor dan
bertanggung jawab kepada General Superintendent. (2) Membuat backup
data, perencanaan, Shop Drawing, As Built Drawing dan perhitungan
bersama-sama Administrasi Teknik untuk kelengkapan MC dan
bertanggung jawab kepada General Superintendent.

23
5. Administrasi Teknik & QE, membuat dan menyusun laporan-laporan hasil
kerja (Harian, Mingguan dan Bulanan) serta membuat Progress Report /
Montly Report untuk dapat ditagihkan serta sebagai Quality Engineer,
membuat laporan Quality pekerjaan, Shop Drawing, As Built Drawing dan
bertanggung jawab kepada General Superintendent.
6. Adm. Keuangan & Logistik, membuat, pengatur atas administrasi keuangan
dan segala kebutuhan logistik (bahan dan peralatan) di proyek dan
bertanggung jawab kepada General Superintendent.
7. Pelaksana 1, sebagai Pelaksana pekerjaan jembatan dilapangan yang
mengatur tenaga kerja, peralatan serta pengendalian penggunaan bahan dan
membantu dalam pembuatan laporan harian, perencanaan kegiatan mingguan
dan bertanggung jawab kepada Site Engineer.
8. Pelaksana 2, sebagai Asisten Pelaksana pekerjaan yang membantu pelaksana
dalam hal mengatur tenaga, alat dan bahan di lapangan dan bertanggung
jawab kepada Pelaksana.
9. Surveyor (1); Surveyor (2); bertugas untuk mengukur, pembuatan patok-
patok ukur dan patok simpanan mencatat hasil pengukuran (As, Elevasi,
Koordinat titik-titik ukur, Long section dan Cross section) dan pembuatan
sket-sket untuk mempermudah control dalam pelaksanaan pekerjaan dan
membantu dalam pembuatan shoop drawing, dan bertanggung jawab kepada
Site Engineer.
10. Mekanik, bertugas menyiapan alat senhingga dapat berfungsi dengan baik
dalam pelaksanaan pekerjaan (perbaikan, menyimpan dan menjaga) dan
mencatat inventaris alat dan bertanggung jawab kepada logistik.
Gudang, bertugas menjaga dan mencatat keluar masuk bahan, membuat
laporkan penggunaan bahan, stok bahan, dan penerimaan bahan dan alat,
untuk memperlancar kegiatan pelaksanaan pekerjaan (menyimpan dan
mengamankan bahan agar tetap baik) dan bertanggung jawab kepada logistik.

24
3.4 Pengadaan Alat
Penyediaan alat kerja dan bahan bangunan serta tenaga kerja pada suatu
proyek memerlukan manajemen yang baik untuk menunjang kelancaran
pekerjaan. Penggunaan alat dan bahan yang dipilih, serta kebutuhan tenaga
kerja harus sesuai dengan standar dan kondisi di lapangan.
Peralatan kerja yang digunakan terdiri dari alat-alat berat dan alat-alat
pelengkap lainnya, baik yang digerakkan secara manual atau mekanis.
Pemilihan jenis peralatan yang akan digunakan dalam suatu pekerjaan
merupakan faktor penting yang mempengaruhi proses penyelesaian suatu
pekerjaan secara cepat dan tepat.
Pertimbangan dari segi biaya sehubungan dengan penggunaan peralatan
harus tetap ada, artinya harus ada optimasi dari harga produksi per satuan
waktu untuk setiap peralatan yang digunakan. Selama pelaksanaan
pekerjaan di proyek, pemeliharaan dan perawatan peralatan terutama untuk
alat-alat berat harus dilakukan secara rutin, sehingga kondisi alat selalu baik
dan siap pakai. Hal ini sangat penting agar pelaksanaan nanti tidak
terhambat karena adanya kerusakan pada peralatan kerja. Pengadaan alat
dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu pengadaan yang dilakukan sendiri oleh
pihak kontraktor dan pengadaan yang dilakukan dengan melibatkan pihak
luar. Dalam proyek Pembangunan Jembatan Yeh Lambuk ini, pihak
kontraktor melibatkan pihak luar, yakni pihak pemilik persewaan yaitu, PT.
Etika Darmakonserens, dimana pihak kontraktor meminjam beberapa alat
berat yang terdiri dari 3 unit excavator, 2 unit dozer, 8 unit dump truck, dan
2 unit vibroller.

Dalam realisasinya peralatan yang digunakan oleh kontraktor telah


ditemukan beberapa kerusakan yang tercantum dalam laporan berita acara
diantaranya:
1. Excavator : 3 unit, namun 1 (satu) unit sering rusak.
2. Dozer : 2 unit
3. Dump truck : 8 unit
4. Vibroller : 2 unit, namun 1 (satu) unit sering
rusak dan sebaiknya untuk pemadatan Agg. Kelas B
seharusnya tersedia alat pemadatan (Vibroller) juga
sehingga tidak mengganggu pemadatan yang
dilakukan pada daerah longsoran.
5. Tandem : 1 unit
6. Grader : 1 unit
7. Asphalt Sprayer : 1 unit

25
Dapat diketahui dari data diatas, bahwa beberapa alat yang digunakan telah
mengalami kerusakan, sehingga pekerjaan membutuhkan waktu yang lama, dan
hal ini sangat berbeda dari FM-TEK-08 atau Form Data Supplier Jasa yang
diterima oleh Kontraktor, data bisa dilihat di bawah ini:

Di dalam lampiran berita acara tertulis bahwa pihak pelaksana bahwa


kerusakan alat tidak bisa diperkirakan dan perbaikannya pun pihak pelaksana
sudah memanggil pihak penyewa, dan penyewa menyatakan bahwa peralatan
tidak bisa dilakukan perbaikan dikarenakan spare part yang ada di Kalimantan
Timur cukup langka. Sehingga pihak penyewa melakukan penindakan yaitu
pengadaan spare part di Surabaya.

26
Sesungguhnya ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam
pemesanan atau penyewaan alat-alat, yaitu:
1. Identifikasi jenis dan jumlah bahan. Pemesanan suatu alat harus
didahului dengan proses pengamatan dan pemilihan alat yang sesuai
dengan spesifikasi yang telah ditentukan dalam perencanaan, setelah
diketahui spesifikasi alat yang dibutuhkan untuk setiap pekerjaan
kontrusksi. Perhitungan produktivitas alat dan jumlah kebutuhan alat
harus disesuaikan dengan rencana pekerjaan yang nantinya akan
dibagi berdasarkan satuan yang tersedia di pasaran, dalam hal ini alat
akan disediakan oleh supplier.
2. Pertimbangan akan kualitas alat biasanya didasarkan pada nama baik
produsen dan supplier yang menyediakan alat bermutu baik, yang
telah diketahui oleh kontraktor.
3. Faktor harga menjadi hal yang perlu dipertimbangkan karena semakin
murahnya harga bahan maka biaya pengeluaran proyek dapat
diperkecil. Hal ini tentu saja akan menguntungkan kontraktor. Saat
kontraktor memutuskan untuk menggunakan alat dengan harga
termurah, aspek kualitas alat tidak boleh dikesampingkan.
4. Waktu pengiriman alat sejak pemesanan termasuk dalam
pertimbangan. Walaupun lokasi supplier dekar dengan proyek, namun
jika pihak supplier tidak tangga merespon pemesanan dan
pendistribusian alat, maka ada kemungkinan jadwal akan terganggu
akibat keterlambatan penyediaan alat.
Adapun prosedur tersebut adalah seperti pada diagram flow chart yang
ditunjukkan pada gambar dibawah ini.

27
Diagram Alir Penyediaan Alat

Mulai

Contoh alat dan brosur diajukan


oleh sub kontraktor (supplier)

Proses pemeriksaan dan evaluasi alat,


brosur oleh Kontraktor Utama

Sesuai Tidak
spesifikasi?

Ya

Tidak Mendapat
Persetujuan?

Ya

Contoh alat dan brosur


digunakan sebagai dasar
pelaksanaan

Contoh alat dan brosur


28
digunakan sebagai dasar
Mendapat
pelaksanaan
Persetujuan?
Tidak Ya Ya Tidak
Selesai
3.5 Audit Mutu
Suatu audit mutu adalah review kegiatan terstruktur lainnya
manajemen mutu. Tujuan dari audit mutu adalah untuk mengidentifikasi
pelajaran yang dapat memperbaiki kinerja proyek ini atau proyek lain dalam
organisasi. Audit mutu dapat dijadwalkan secara acak, dan mereka dapat
dilakukan dengan benar dan terlatih. Pada pertemuan auditor, tim audit
dapat berdikusi dan menyiapkan laporan audit. Laporan audit internal
memuat informasi tentang :
1. Informasi umum tentang : sasaran audit, proses yang di audit,
nomordokumen audit, tanggal pelaksanaan audit, nama auditor dan audit.
2. Laporan pengamatan auditor.
3. Usulan tindakan koreksi Komentar manajemen.

Pada proyek konstruksi Jembatan Yeh Lambuk ini didapatkan laporan


audit tanggal 22 Juni 2013, pada laporan tersebut ditemukan beberapa
permasalahan yang ditimbul, gambar laporan audit sebagai berikut :

29

Selesai
Gambar 3.5a Laporan Ketidaksesuaian Audit

30
Gambar 3.5b Laporan Ketidaksesuaian Audit

31
Dari hasil diatas dapt diketahui bahwa pelaksanaan pengawasan proyek di
lapangan, yaitu :
1. Tidak dibuat dan di dokumentasikan mengenai Evaluasi Supplier
Supplier merupakan bagian dari organisasi, dalam konsep
organisasi yang diperluas mata rantai penyedia terdiri dari supplier,
perusahaan sampai dengan pelanggan. Supplier akan mempengaruhi
mutu produk akhir, karena input yang baik dan diproses supplier menjadi
sangat penting agar fungsi pembelian mampu melakukan pengadaan
dengan spesifikasi mutu yang benar.
Pada standar ISO 9001:2008 klausul 7.4.1 menyebutkan bahwa:
Organisasi harus mengevaluasi dan memilih pemasok berdasarkan
kemampuan mereka untuk memasok produksi sesuai dengan persyaratan
organisasi. Kriteria untuk pemilihan, evaluasi, dan evaluasi ulang harus
ditetapkan. Catatan hasil evaluasi dan tindakan yang perlu.

Adapun beberapa kriteria seleksi untuk mengevaluasi supplier:


a. Karakteristik produk yaitu spesifikasi produk, kehandalan produk,
fungsional produk dan sebagainya.
b. Karakteristik proses yaitu kemampuan perencanaan, ketersediaan
kapasitas, kecanggihan teknologi dan sebagainya.
c. Kinerja pengiriman yaitu ketepatan waktu dalam mobilisasi
penyediaan bahan atau alat atau produk, ketepatan jumlah,
kelengkapan dokumen.
d. Kemudahan komunikasi yaitu kemudahan komunikasi dalam
merespon cepat dan dapat memberikan alternatif.
e. Nilai atau harga, diskon, dan tahapan pembayaran.

2. Tidak ada Daftar Rekaman Mutu


Laporan diatas tidak mencantumkan jenis rekaman mutu, masa
penyimpanan dan identifikasi dokumen yang dibuat dan terdokumentasi.
Daftar rekaman mutu sangat mempengaruhi pencapaian kesesuaian mutu
yang diinginkan, jika rekaman mutu tidak dibuat maka bisa saja yang
sedang berjalan tidak sesuai dengan sasaran mutu. Diperlukannya
dokumentasi adalah untuk menunjukkan bukti bahwa pelaksanaan
kegiatan memenuhi persyaratan mutu yang telah ditetapkan.
Ketika dilaporan disebutkan bawaha tidak ada penulisan daftar
rekaman mutu, maka dapat memberikan kelonggaran untuk menyimpang
dari apa yang sudah ditetapkan. Solusinya daftar rekaman mutu harus
dibuat saat pengerjaan berjalan dengan mengaju pada rencana mutu-

32
minimal, sehingga pelaksanaan pengerjaan memenuhi persyaratan mutu yang
telah ditetapkan.Rencana Mutu minimal harus memenuhi hal-hal berikut :
a. Rencana Mutu harus sesuai dengan Sasaran Mutu (quality objective)
dan sejalan dengan persyaratan proses lain dari sistem manajemen
mutu pekerjaan.
b. Rencana Mutu harus berisikan persyaratan teknis, administrasi,
keuangan maupun ketentuan lain seperti yang dipersyaratkan.
c. Rencana Mutu harus mencakup kebutuhan sumber daya manusia dan
sumber daya lainnya dalam rangka memenuhi mutu pekerjaan yang
diinginkan.
d. Rencana Mutu harus mencakup kebutuhan dokumen sistem
manajemen mutu (meliputi: Pedoman Mutu, Manual Mutu, Prosedur
Mutu, petunjuk teknis, instruksi kerja, dan daftar periksa/simak)
dalam rangka mencapai kesesuaian mutu yang diinginkan.
e. Rencana Mutu harus mencakup aktivitas verifikasi, validasi,
pemantauan, inspeksi dan pengujian yang diperlukan beserta kriteria
penerimaannya.
f. Rencana Mutu harus mencakup Catatan Mutu (quality records) yang
dibutuhkan untuk menunjukkan bukti bahwa pelaksanaan kegiatan
memenuhi persyaratan mutu yang telah ditetapkan.
Apabila kita melihat dampak yang dapat ditimbulkan dari permasalahan
diatas, tidak lain akan mengarah pada perbedaan mutu, biaya, dan waktu
pelaksanaan. Kita tahu bahwa tiga aspek ini merupakan perhatian utama dalam
proyek. Ketiga aspek inilah yang perlu dijaga sehingga produk ataupun hasil
proyek yang kita dapatkan memenuhi ekspektasi dari semua pihak, baik itu
kontraktor, konsultan, maupun pihak owner. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa
bila salah satu saja dari aspek pekerjaan terganggu maka pada akhirnya akan
berdampak pada aspek utama proyek yaitu mutu, biaya, ataupun waktu.
Setelah mempelajari faktor-faktor diatas setidaknya ada beberapa
keuntungan yang bisa didapatkan apabila pengawasan terhadap mutu dilakukan
secara benar yaitu:
a. Menghindari atau meminimalisasi kesalahan yang terjadi
b. Menjaga kualitas hasil pekerjaan
c. Menjaga metode kerja yang dilakukan sesuai dengan rencana
d. Terhindar dari cacat pekerjaan
e. Terhindar dari keterlambatan pelaksanaan
f. Meningkatkan tingkat kepercayaan mitra kerja.
g. Menjaga mutu agar sesuai dengan yang ditetapkan.

33
BAB IV
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
1. Penjaminan mutu (QA) adalah semua perencanaan dan langkah sistematis yang
diperlukan untuk memberikan keyakinan bahwa instalasi atau sistem yang akan
diwujudkan dapat beroperasi secara memuaskan. Sedangkan pengendalian
mutu (QC) adalah bagian dari penjaminan mutu yang memberikan petunjuk
dan cara-cara untuk mengendalikan mutu material, struktur, komponen atau
sistem agar memenuhi keperluan yang telah ditentukan.
2. Tindakan-tindakan pengendalian mutu atau penjaminan mutu yang
dilaksanakan dan dilaporkan oleh pihak konsultan dapat kemudian dilakukan
evaluasi sehingga didapatkan peningkatan mutu kedepannya. Tidakan evaluasi
dapat dilakukan dengan cara:
a. melakukan tindakan-tindakan pengukuran mutu dengan cara penetapan
spesifikasi dan standar kerja.
b. melakukan pengawasan dan inspeksi bahwa pelaksanaan pekerjaan,
jadwal, kualitas material, biaya sudah sesuai dengan spesifikasi dan
standar kerja.
c. menganalisis temuan, kendala, dan permasalahan yang ditemukan.
d. melaporkan/mendokumentasikan hasil temuan, kendala, permasalahan,
sebab-akibat, serta solusi yang dalam proyek.
e. melakukan peningkatan mutu dengan jalan mempelajari hasil laporan dan
dokumentasi sehingga pekerjaan yang akan dilakukan selanjutnya
terhindar dari permasalahan-permasalahan yang serupa.

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, penulis menyarankan beberapa hal yaitu:
1. Sebagai perusahaan yang bersaing di dunia konstruksi sebaiknya pihak
konsultan memperhatikan profesionalisme, khususnya untuk bagian
pelaporan, karena laporan merupakan bentuk pertanggungjawaban
konsultan.
2. Konsultan ataupun pihak lain yang terlibat langsung dengan pekerjaan
proyek harus secara sinkron dan terkonsolidasi dalam hal mengendalikan
mutu. Spesifikasi dan kerangka kerja yang telah disepakati dalam kontrak
harus dipatuhi oleh semua pihak.
3. Laporan sebaiknya tidak hanya digunakan sebagai pelengkap administrasi,
melainkan sebagai bahan pelajaran dan bahan masukan untuk dioleh lebih
lanjut untuk menghasilkan proyek yang tepat waktu, tepat biaya, dan tepat
mutu.

34

Selesai
Daftar Pustaka

Ahzan, Ilham Nur, 2014. Evaluasi Rencana Manajemen Mutu Pada Proyek
Pembangunan Jembatan Sungai Semanggi Kabupaten Maros. Laporan Tugas
Akhir. Jurusan Teknik Sipil Universitas Hasanuddin Makasar

Ervianto, Wulfram I. 2007. Manajemen proyek Konstruksi. Penerbit Andi.


Yogyakarta
Project Management Institute. 2013. A Guide To The Project Management Body
Of Knowledge (PMBOK) Fifth Edition. Pennsylvania: Project Management
Istitute, Inc.
Standard Nasional Indonesi ISO 9001:2008
Undang - Undang Republik Indonesia No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa
Konstruksi

35