Anda di halaman 1dari 52

TUGAS IKM

RENDAHNYA CAKUPAN K4
DI PUSKESMAS WERU TAHUN 2016
Disusun untuk Memenuhi Sebagian Syarat Kepaniteraan Klinik
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat

Pembimbing
dr. M. Shoim Dasuki, M.Kes

Disusun oleh :
Ade Putri Mustikawati, S.Ked J510165062
Adinda Rizky Aulia A., S.Ked J510165002
Adjeng Retno Bintari, S.Ked J510165040
Alban Ramadhan, S.Ked J510165023
Alfiana Kusuma Rahmawati, S.Ked J510165019
Alprinal Alpajri, S.Ked J510165085

KEPANITERAAN KLINIK
ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
PUSKESMAS WERU
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2017
TUGAS IKM

RENDAHNYA PENEMUAN SUSPEK TUBERKULOSIS DI PUSKESMAS


BENDOSARI TAHUN 2016

Yang diajukan Oleh :

Ade Putri Mustikawati, S.Ked J510165062


Adinda Rizky Aulia A., S.Ked J510165002
Adjeng Retno Bintari, S.Ked J510165040
Alban Ramadhan, S.Ked J510165023
Alfiana Kusuma Rahmawati, S.Ked J510165019
Alprinal Alpajri, S.Ked J510165085

Telah disetujui dan disahkan oleh Tim Pembimbing Ilmu Kesehatan Masyarakat
Program Pendidikan Profesi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah
Surakarta

Pembimbing
Nama : dr. M. Shoim Dasuki,M.Kes (.................................)

Dipresentasikan di hadapan
Nama : dr. M. Shoim Dasuki,M.Kes (.................................)

Disahkan Ketua Program Profesi


Nama : dr. Dona Dewi Nirlawati (.................................)

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i


LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................ ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1
A. Latar Belakang ........................................................................ 1
B. Perumusan Masalah ................................................................ 2
C. Tujuan ..................................................................................... 2
D. Manfaat .................................................................................... 2
E. Sasaran ..................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................... 5
A. Tuberkulosis Paru ................................................................... 2
B. Indikator Nasional Penanggulangan Tuberkulosis ................ 19
C. Manajemen Puskesmas .......................................................... 27
D. Problem Solving Cycle .......................................................... 29
BAB III METODE PENCAPAIAN KEGIATAN ...................................... 34
A. Gambaran Umum Kecamatan Bendosari ............................... 34
B. Manajemen Pengendalian Tuberkulosis ................................. 36
BAB IV HASIL PEMBAHASAN .............................................................. 39
A. Identifikasi Masalah Pengendalian Tuberkulosis ................... 39
B. Analisis Penyebab Masalah .................................................... 41
C. Alternatif Pemecahan Masalah ............................................... 44
D. Analisis SWOT ........................................................................ 45
E. Rencana Pencegahan Masalah ................................................ 47
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................... 50
A. Kesimpulan ............................................................................. 50
B. Saran ........................................................................................ 50
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan
untuk ibu selama masa kehamilannya, yang dilaksanakan sesuai dengan
standar pelayanan yang ditetapkan (Depkes RI, 2010:22). Salah satu
indikator yang digunakan dalam pelayanan antenatal adalah cakupan K4.
Cakupan K4 adalah pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit 4 kali,
yaitu minimal 1 kali pada triwulan pertama, 1 kali pada triwulan kedua
dan 2 kali pada triwulan ketiga (Depkes RI, 2010:12).
Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia pada tahun
2012, dari 14.782 ibu, 96% menerima perawatan antenatal dari tenaga
kesehatan dan 4% tidak menerima pelayanan kesehatan. Dari 14.191 ibu
yang menerima perawatan kesehatan 75% menerima perawatan dari
perawat, bidan atau bidan desa, 19% menerima perawatan dari seorang
dokter kandungan, dan 1% menerima perawatan dari dokter (Statistik
Indonesia BKKBN, 2013:136).
Pada tahun 2012 secara Nasional angka cakupan pelayanan antenatal,
untuk persentase pencapaian cakupan K4 sebesar 90,18% (Kemenkes
RI, 2013:120). Untuk target cakupan K4 nasional adalah 90%, ini
berarti target untuk K4 Nasional ditahun 2012 telah terpenuhi. Walaupun
demikian, masih terdapat disparitas antar provinsi dan antar
Kabupaten/kota yang variasinya cukup besar.
Selain adanya kesenjangan, juga ditemukan ibu hamil yang tidak
menerima pelayanan dimana seharusnya diberikan pada saat kontak dengan
tenaga kesehatan (missed opportunity) (Depkes RI, 2010:2).
Di wilayah propinsi Jawa Tengah pada tahun 2012 persentase
pencapaian cakupan K4 sebesar 92,99%. Pencapaian cakupan K4 Jawa
Tengah sudah lebih dari target Nasional yaitu untuk cakupan K4 Nasional
adalah 90%. Akan tetapi di wilayah provinsi Jawa Tengah masih terdapat

4
5

Kabupaten yang memiliki cakupan kunjungan K4 di bawah target (Depkes


RI, 2013:2). Untuk kabupaten Weru sendiri, data kunjungan K4 didapatkan
dari 13 desa di Kecamatan Weru Kabupaten Sukoharjo pencapaian kunjungan
K4 sampai bulan Desember 2016 yaitu 88,7% lebih rendah dari target yaitu
95%. Angka tersebut masih dibawah dari target yang diharapkan. Maka dari
itu pada laporan ini, kami mencoba melakukan analisis untuk mengetahui
penyebab dan alternatif pemecahan masalah tersebut. Hasil makalah ini
diharapkan dapat menjadi masukan bagi usaha peningkatan kesehatan di
Puskesmas Weru melalui peningkatan kinerja petugas puskesdes terhadap
cakupan kunjungan K4.

B. Perumusan Masalah
Bagaimana manajemen kinerja petugas puskesdes terhadap peningkatan
cakupan kunjungan K4di Kecamatan Weru Kabupaten Sukoharjo?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Meningkatkan cakupan kunjungan K4 di Kecamatan Weru
Kabupaten Sukoharjo.
2. Tujuan Khusus
a. Mengoptimalkan puskesmas sebagai pelayanan kesehatan tingkat
dasar yang bersifat komprehensif dan holistik.
b. Mengoptimalkan peran petugas puskesdes terhadap peningkatan
cakupan kunjungan K4 di Kecamatan Weru Kabupaten Sukoharjo.
D. Manfaat
1. Membantu para dokter muda untuk lebih memahami manajerial dari
puskesmas dalam menangani suatu permasalahan.
2. Memberi masukan bagi Puskesmas Weru tentang masalah-masalah yang
terjadi, serta alternatif upaya pemecahannya.
3. Menambah pengetahuan mengenai program peningkatan cakupan
kunjungan K4 di Puskesmas Weru.
5

4. Mengetahui faktor-faktor yang menjadi kendala dalam pelaksanaan


program tersebut.
5. Memberikan informasi kepada penyusun kebijakan mengenai faktor-
faktor yang menjadi kendala dalam pelaksanaan program peningkatan
cakupan kunjungan K4 di Puskesmas Weru.

E. Sasaran
Petugas Puskesdes di Kecamatan Weru Kabupaten Sukoharjo.
5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Antenatal Care
1. Pengertian
Antenatal care adalah pelayanan kesehatan secara berkala
selamamasakehamilan ibu yang diselenggarakan oleh tenaga kesehatan
professional (dokter,spesialis kandungan, dokter umum, bidan
danperawat) kepada ibu hamil danjanin yang dikandungnya untuk
menjaminagar ibu hamil dapat melalui masakehamilan,persalinan dan
nifas denganbaik dan selamat serta melahirkan bayi yang sehat (Depkes
RI, 2004:4).
Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan yang diberikan oleh
tenagakesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya, dilaksanakan
sesuai denganstandar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam Standar
Pelayanan Kebidanan(SPK). Pelayanan antenatal sesuai standarmeliputi
anamnesis, pemeriksaan fisik(umum dan kebidanan), pemeriksaan
laboratorium rutin dan khusus, sertaintervensi umum dan khusus (sesuai
risiko yang ditemukan dalam pemeriksaan) (Depkes RI, 2010:2).

2. Tujuan Antenatal Care


Adapun tujuan antenatal care adalah:
a. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu
dantumbuh kembang janin.
b. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial
ibu.
c. Mengenali dan mengurangi secara dini adanya penyulit-penyulit atau
komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat
penyakitsecara umum, kebidanan dan pembedahan.
d. Mempersiapkan persalinan cukup bulan dan persalinan yang aman
dengantrauma seminimal mungkin.
5

e. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan


mempersiapkanibu agar dapat memberikan ASI secara ekslusif.
f. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran
janinagar dapat tumbuh kembang secara normal.
g. Mengurangi bayi lahir premature, kelainan mati dan kematian
neonatal.
h. Mempersiapkan kesehatan yang optimal bagi janin.
(Depkes RI, 2007:10).

3. Kunjungan Antenatal Care Ibu Hamil


Masa antenatal mencakup waktu kehamilan mulai hari pertama haid
yangterakhir (HPHT) atau Last Menstruation Period (LMS) sampai
permulaan daripersalinan yang sebenarnya, yaitu 280 hari, 40 minggu, 9
bulan 7 hari. Untukmenerima manfaat pelayanan antenatal wanita hamil
dapat memanfaatkankunjungan kehamilan/ kunjungan antenatal (Hani
Umi dkk, 2010: 9 dan 12).
Setiap wanita hamil sedikitnya dapt melakukan kunjungan
kehamilansedikitnya empat akli kunjungan selama periode antenatal:
a. Satu kali kunjungan selama trimester pertama (sebelum 14 minggu).
b. Satu Kali kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14-
28minggu).
c. Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara 28-36 dan sesudah
minggu ke 36).
Bila ibu hamil mengalami masalah, tanda bahaya, atau jika merasa
khawatirsewaktu-waktu dapat melakukan kunjungan (Fais
M.Satrianegara, 2009: 185).

4. Kunjungan Trimester I
Kunjungan Trimester 1 pada kehamilan dilakukan sebelum minggu
ke-14.Kegiatan yang dapat dilakukan:
a. Membina hubungan saling percaya antara bidan dan ibu hamil.
5

b. Mendeteksi masalah dan mengatasinya.


c. Memberitahukan hasil pemeriksaan dan usia kehamilan.
d. Mengajari ibu cara mengatasi ketidaknyamanan.
e. Mengajari dan mendorong perilaku yang sehat (cara hidup sehat bagi
wanita hamil, nutrisi dan mengantisipasi tanda-tanda bahaya
kehamilan).
f. Menimbang BB, mengukur TB, serta memberi imunisasi Tetanus
Toksoiddan tablet besi.
g. Mulai mendiskusikan mengenai persiapan kelahiran bayi dan
kesiapanuntuk menghadapi kegawat daruratan.
h. Menjadwalkan kunjungan berikutnya.
i. Mendokumentasikan pemeriksaan dan asuhan(Fais M. Satrianegara,
2009: 185).

5. Kunjungan Trimester II
Kunjungan Trimester 2 pada kehamilan dilakukan sebelum minggu
ke-28.Kegiatan yang dapat dilakukan:
Sama seperti kunjungan trimester 1, ditambah menentukan tinggi
fundus,kewaspadaan khusus mengenai pre-eklamsi (tanya ibu
tentanggejala-gejala preeklamsi, pantau tekanan darah, evaluasi edema
danperiksa urine untukmengetahui proteinuria)
(Fais M. Satrianegara, 2009: 185).

6. Kunjungan Trimester III


Kunjungan Trimester 3 pada kehamilan dilakukan 2 kali yaitu:
a. Antara minggu 28-36. Kegiatan yang dapat dilakukan:
Sama seperti pada hamil minggu 14-28, ditambah palpasi abdominal
untukmengetahui apakah ada kehamilan ganda.
b. Setelah 36 minggu. Kegiatan yang dapat dilakukan:
5

Sama seperti setelah 36 minggu, ditambah deteksi letak janin dan


kondisilain serta kontraindikasi untuk bersalin diluar RS
(Fais M. Satrianegara, 2009: 186).

7. Pemantauan Cakupan Antenatal K4


a. Cakupan Kunjungan K4
K4 adalah ibu hamil dengan kontak 4 kali atau lebih dengan tenaga
kesehatanyang mempunyai kompetensi, untuk mendapatkan
pelayanan terpadu dankomprehensif sesuai standar. Kontak 4 kali
dilakukan sebagai berikut: sekali padatrimester I (kehamilan hingga
12 minggu) dan trimester ke-2 (>12 - 24 minggu),minimal 2 kali
kontak pada trimester ke-3 dilakukan setelah minggu ke 24
sampaidengan minggu ke 36. Kunjungan antenatal bisa lebih dari 4
kalisesuaikebutuhan dan jika ada keluhan, penyakit atau gangguan
kehamilan. Kunjunganini termasuk dalam K4.
Dengan indikator yang digunakan untuk menggambarkan tingkat
perlindungan ibu hamil disuatu wilayah. Rumus yang digunakan
adalah:

(Depkes RI, 2010:4).

8. Standar Pelayanan Antenatal Care


Depkes RI (2010), menyatakan bahwa dalam penerapan praktis
asuhankebidanan pada ibu menggunakan standar minimal pelayanan
antenatal 10T,17yang terdiri :
a. Timbang Berat Badan dan Pengukuran Tinggi Badan
b. Ukur Tekanan Darah
c. Ukur Tinggi Fundus Uteri
d. Pemberian Imunisasi Tetanus Toxoid (TT) Lengkap
5

e. Pemberian Tablet Besi minimal 90 tablet selama kehamilan


f. Tes Laboratorium
g. Temu wicara (konseling dan pemecahan masalah)
h. Tentukan persentasi janin dan hitung DJJ
i. Tetapkan status gizi
j. Tatalaksana kasus
Sesuai kebijakan program pelayanan asuhan antenatal harus sesuai
standarpada tahun 2014 yaitu menjadi 14 T, meliputi :
a. Timbang berat badan (T1).
Berat badan dalam kilo gram tiap kali kunjungan. Berat badan yang
bertambah terlalu besar atau kurang perlu mendapatkan perhatian
khususkarena memungkinkan terjadinya penyulit
kehamilan.Kenaikan berat badantidak boleh lebih dari 0,5
kg/minggu, jikaditemukan hal demikian segerarujuk.
b. Ukur tekanan darah (T2).
Tekanan darah yang normal 110/80 140/90 mmHg, bila melebihi
dari140/90 mmHg perlu diwaspadai adanya preeklamsi.
c. Ukur tinggi fundus uteri (T3)
d. Pemberian tablet Fe sebanyak 90 tablet selama kehamilan (T4)
Pemberian tablet Fe (320 mg Fe sulfat dan 0,5 mg asam folat) untuk
semuaibu hamil sebanyak 1 kali tablet selama 90 hari. Jumlah
tersebut mencukupikebutuhan tambahan zat besi selama kehamilan
yaitu100 mg.
e. Pemberian imunisasi TT (T5)
f. Pemeriksaan Hb (T6)
g. Pemeriksaan Veneral Diseases Reserch Laboratory (VDRL)(T7)
Merupakan screening untuk sifilis, penyakit kelamin yang ditularkan
melaluihubungan seksual. Janin yang terinfeksi dapat mengalami
gejalanya saat lahiratau beberapa bulan setelah lahir.
h. Perawatan payudara, senam payudara dan pijat tekan payudara (T8)
i. Pemeliharaan tingkat kebugaran / senam ibu hamil (T9)
5

j. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan (T10)


k. Pemeriksaan protein urine atas indikasi (T11)
l. Pemeriksaan reduksi urine atas indikasi (T12)
m. Pemberian terapi kapsul yodium untuk daerah endemis gondok
(T13)
n. Pemberian terapi anti malaria untuk daerah endemis malaria (T14)

9. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Cakupan K1 dan K4


Bidan
a. Faktor Bidan
1) Tingkat Pendidikan
Pendidikan adalah serangkaian komunikasi dengan
menggunakan media dalam rangka memberikan bantuan
terhadap pengembangan individu seutuhnya
agar dapat mengembangkan potensinya semaksimal mungkin.
Potensi ini adalah potensi fisik, emosi, sosial, sikap,
pengetahuan dan keterampilan. Pendidikan itu dapat berupa
pendidikan formal, informal dan non formal
(Notoatmojo, 2005:128).
2) Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil tahu dan terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu obyek dan
penginderaan terjadi melalui indera penglihatan, penciuman,
pendengaran, rasa, dan raba (Notoatmodjo, 2005:143).
3) Pelatihan
Pelatihan dapat didefinisikan sebagai usaha yang terencana
dari organisasi untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan
dan kemampuan pegawai (Hariandja, 2002:55). Untuk
meningkatkan mutu pelayanan bidan baik pengetahuan maupun
keterampilannnya, perlu diberikan berbagai macam pelatihan
5

atau training. Pelatihan disini adalah suatu proses untuk


mengembangkan mutu pelayanan KIA (Ibrahim, 1996).
4) Motivasi
Motivasi adalah sebagai pendorong bagi bidan dalam
melasanakan kunjungan k4 pada pemeriksaan ibu hamil, disini
dapat kita dilihat dari kemauan dan kemampuan tinggi
beradaptasi dengan masyarakat dan memberikan pelayanan
kesehatan sesuai dengan tugas dan fungsinya sehingga dalam
pelaksanaan tugas terlaksana secara optimal dan pasien pun mau
melakukan kunjungan ulang kepukesmas tersebut dan bidan pun
semakin termotivasi dalam memberikan pelayanan pemeriksaan
ibu hamil kepada pasien sehingga dengan demikian kinerja
bidan semain baik dan memuaskan (Mubarak, dkk, 2007:74).
b. Kualitas Pelayanan Antenatal
Pelayanan antenatal terpadu diberikan oleh tenaga kesehatan
yang kompeten yaitu dokter, bidan dan perawat terlatih, sesuai
dengan ketentuan yang berlaku. Pelayanan antenatal terpadu terdiri
dari: anamnesa, pemeriksaan, penanganan tindak lanjut, pencatatan
hasil pemeriksaan antenatal terpadu dan Komunikasi
Informasi dan Edukasi (KIE) yang efektif (Depkes RI, 2010:11).
1) Anamnesa
Data-data yang dikumpulkan antara lain sebagai berikut.
a) Identitas klien: nama, umur, ras/suku, gravid/para, alamat,
dan nomor telephone, agama, status perkawinan, pekerjaan,
dan tanggal anmnesis.
b) Keluhan saat ini: Jenis dan sifat yang dirasakan ibu saat
datang ketempat bidan/klinik, yang diungkapkan dengan
kata-katanya sendiri dan lamanya mengalami gangguan
tersebut.
c) Riwayat Haid.
Hari Pertama haid Terakhir (HPHT).
5

Usia Kehamilan dan Taksiran P Persalinan (Rumus


Naegele: tanggal HPHT ditambah 7 dan bulan dikurangi
3).
d) Riwayat kehamilan dan persalinan
Asuhan antenatal, persalinan dan nifas kehamilan
sebelumnya.
Cara persalinan.
Jumlah dan jenis kelamin anak hidup.
Berat badan lahir.
Cara pemberian asupan bagi bayi yang dilahirkan.
Informasi dan saat persalinan atau keguguran terakhir.
e) Riwayat kehamilan saat ini
Identifikasi kehamilan.
Identifikasi penyulit (preeklampsia atau hipertensi dalam
kehamilan).
Penyakit lain yang diderita.
Gerakan bayi dalam kandungan.
f) Riwayat penyakit sekarang (berhubungan dengan masalah
atau alasan datang).
Tanggal terjadinya serangan.
Bentuk serangan.
Faktor pencetus terjadinya serangan.
Alur penyakit sejak serangan, termasuk durasi dan
serangan ulang.
Lokasi spesifik
Tipe nyeri atau ketidaknyamanan dan intensitasnya.
Gejala lain yang berhubungan.
Hubungan fungsi tubuh dengan aktivitas.
Penjelasan kualitas (warna, konsisten) dan kuantitas
(banyaknya,volume, atau jumlah).
Bantuan kesehatan yang dilakukan dan dari siapa.
5

Efektifitas perawatan dan pengobatan.


g) Riwayat penyakit pada ibu
Penyakit yang pernah diderita.
Penyakit Jantung.
Infeksi Virus Berbahaya.
Alergi obat atau makanan tertentu.
Pernah mendapat transfusi darah dan indikasi tindakan
tersebut.
Inkompatibilitas Rhesus.
Paparan sinar X/Rontgen.
h) Riwayat penyakit pada keluarga
Kanker, penyakit jantung, hipertensi, diabetes, penyakit
ginjal,penyakit jiwa, TB (tuberkulosis), epilepsi, kelainan
darah (anemia dan lain-lain), alergi.
Kelainan bawaan, kehamilan ganda, kelainan genetik,
riwayat keturunan kembar.
i) Riwayat obstetric
Gravida/Para.
Tipe golongan darah (ABO dan Rh).
Kehamilan yang lalu.
Tanggal terminasi.
1.Usia gestasi.
2.Tempat lahir.
3.Bentuk persalinan (spontan, SC, forcep, atau vakum
ekstraksi).
4.Masalah obstetrik, medis dan sosial yang lain, dalam
kehamilan (preeklamsia dan lain-lain), dalam
persalinan (malpresentasi, drip oksitosin, dan lain-
lain), dalam nifas (perdarahan, infeksi kandungan,
bagaimana laktasi, dan lain-lain), berat lahir bayi, jenis
kelamin bayi, kelainan kongenital bayi dan komplikasi
5

yang lain selain seperti ikterus, status bayi saat lahir


(hidup/mati), status kehidupan bayi, jika meninggal
apa penyebabnya.
j) Riwayat ginekologi
Infertilitas.
Infeksi vagina.
Penyakit menular seksual.
Servisitas kronis.
Endometritis.
Infeksi panggul.
Pap smear abnormal.
Bedah ginekologi, dan lain-lain.
k) Riwayat seksual.
l) Riwayat KB/kontrasepsi KB terakhir yang digunakan jika
pada kehamilan perlu juga ditanyakan rencana KB setelah
melahirkan (Hani Umi dkk, 2010: 86-90).
2) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik lengkap perlu dilakukan pada kunjungan
awal wanita hamil untuk memastikan apakah wanita hamil
tersebut mempunyai abnormalitas medisatau penyakit. Berikut
adalah pemeriksaan yang dilakukan:
a) Pengukuran fisik/tanda-tanda vital
Tekanan darah.
Suhu
Nadi
Pernafasan
TB (tinggi badan)
BB sebelum dan pada saat pemeriksaan
b) Umum
Kesesuaian penampakan usia
Status gizi umum
5

Penampakan status kesehatan


Tingkat emosi, kesesuaian mood (ansietas, depresi),
orientasi waktu, tempat, orang, ingatan, proses logika,
perilaku umum (seperti bersahabat, kooperatif, menolak).
Temuan kegagalan sistem, seperti sianosis, distres
pernapasan, batuk persisten
Temuan abnormalitas suara dan bicara, wajah asimetris,
abnormalitas tulang.
Postur tubuh, gaya berjalan dan gerak tubuh.
c) Kepala dan leher
Apakah ada edema pada wajah, adakah choasma
gravidarum.
Pada mata: adakah pucat pada kelopak mata bawah,
adakah kuning/ikterus pada skera.
Hidung: adakah pernapasan cuping hidung, adakah
pengeluaran secret.
Apakah wajah pucat, keadaan lidah, adakah gigi yang
berlubang.
Telinga: ketajaman pendengaran secara umum, luka, dan
pengeluarandari saluran luar telinga (bentuk dan warna).
Leher: adakah pembesaran kelenjar tiroid, adakah
pembuluh limfe.
Payudara
1. Memeriksa bentuk, ukuran, dan simetris atau tidak.
2. Putting payudara menonjol, datar, atau masuk
kedalam.
3. Adakah kolostrum atau cairan lain dari putting susu.
4. Pada saat klien mengangkat tangan keatas kepala,
periksa payudara untuk mengetahui adanya retraksi
atau dimpling.
5

5. Pada saat klien berbaring, lakukan palpasi secara


sistematis dari arah
payudara dan aksila, kemungkinan terdapat: massa
atau perbesaran pembulu limfe.
Abdomen
1. Adakah bekas operasi.
2. Bentuk pembesaran perut (perut membesar ke depan
atau ke samping, keadaan pusat, tampakkah gerakan
anak atau kontraksi rahim).
3. Linea nigra, striae abdomen.
4. Ukuran TFU, hitung TBJ.
5. Letak, presentasi, posisi dan penurunan kepala janin.
6. DJJ dan gerakan janin.
Tangan dan kaki/ekstremitas
1. Edema
2. Apakah kuku jari pucat
3. Varises.
4. Susu/kehangatan
5. Refleksi patella
Genitalia eksternal
1. Lihat adanya tukak/luka, varises, cairan (warna,
konsistensi, jumlah, bau).
2. Dengan mengurut uretra dan skene: adakah cairan
atau nanah.
3. Kelenjar Bartolini adakah: pembengkakan, massa atau
kista, dan cairan.
Genitalia internal
1. Dinding vagina: cairan atau darah, luka.
2. Serviks: adakah cairan atau darah, luka/lesi, serviks
sudah membuka atau belum, nyeri goyang atau tidak.
5

3. Uterus: ukuran, bentuk dan posisi, mobilitas, rasa


nyeri, massa.
Pemeriksaan panggul
Keadaan panggul terutama penting pada
primagravida, karena panggulnya belum pernah diuji
dalam persalinan, sebaiknya pada multigravida anamnesis
mengenai persalinan yang gampang dapat memberikan
keterangan yang berharaga mengenai keadaan panggul.
Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium.
2. Pemeriksaan rontgen
3. Pemeriksaan USG
3) Diagnosa Kebidanan
Diagnosis kebidanan adalah diagnosis yang ditegakkan
bidan dalam lingkup praktik kebidanan dan memenuhi standar
nomenklatur diagnosis kebidanan (Hani Umi dkk, 2010: 97-99).
4) Intervensi / Implementasi
Rencana asuhan menyeluruh (intervensi) tidak hanya
meliputi apa yang sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau
dari setiap masalah yang berkaitan, tetapi
juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut,
apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya, apakah
dibutuhkan penyuluhan, konseling, dan apakah perlu merujuk
klien bila ada masalah-masalah terkait dengan sosial,
ekonomi, kultural atau masalah psikologis. Setiap rencana
asuhan haruslah disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu oleh
bidan dan klien agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena
selain bidan, klien juga akan melaksanakan rencana tersebut.
Oleh karena itu, pada langkah ini tugas bidan adalah
merumuskan rencana asuhan sesuai dengan hasil pembahasan
rencana asuhan bersama klien kemudian membuat kesepakatan
5

bersama sebelum melaksanakanya. Perencanaan ini bisa


dilakukan seluruhnya oleh bidan, sebagaian lagi oleh klien, atau
anggota tim lainnya. Walau bidan tidak melakukan sendiri, ia
tetap memikul tanggung jawab untuk melaksanakan rencana
asuhannya (missal memastikan langkah tersebut benar-benar
terlaksana) (Hani Umi dkk, 2010: 94).
5) Komunikasi Informasi dan Edukasi
Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) efektif dilakukan
pada setiap kunjungan antenatal yang meliputi:
1. Kesehatan ibu.
Setiap ibu hamil dianjurkan untuk memeriksakan
kehamilannya secara rutin ketenaga kesehatan dan
menganjurkan ibu hamil agar beristirahat yang
cukup selama kehamilanya (sekitar 9-10 jam perhari) dan
tidak bekerja berat.
2. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.
Setiap ibu hamil dianjurkan untuk menjaga kebersihan
badan selama kehamilan misalnya mencuci tangan sebelum
makan, mandi dua kali sehari dengan menggunakan sabun,
menggosok gigi setelah sarapan dan sebelum tidur serta
melakukan olahraga ringan.
3. Peran suami / keluarga dalam kehamilan dan perencanaan
persalinan.
Setiap ibu hamil perlu mendapatkan dukungan dari keluarga
terutama suami dalma kehamilanya. Suami, keluarga atau
masyarakat perlu menyiapkan biaya persalinan, kebutuhan
bayi, transportasi rujukan dan calon donor darah. Hal ini
penting apabila terjadi komplikasi kehamilan, persalinan dan
nifas agar segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
4. Tanda bahaya pada kehamilan, persalinan dan nifas serta
kesiapanmenghadapi komplikasi.
5

5. Asupan gizi seimbang.


Selama hamil, ibu dianjurkan untuk mendapatkan asupan
makanan yang cukup dengan pola gizi yang seimbang
karena hal ini penting untuk proses
tumbuk kembang janin dan derajat kesehatan ibu. Misalnya
ibu hamil disarankan minum tablet tambah darah secara
rutin untuk mencegah anemia pada kehamilannya.
6. Gejala penyakit menular dan tidak menular.
Setiap ibu hamil harus tau mengenai gejala-gejala penyakit
menular (misalnya penyakit IMS, Tuberculosis) dan
penyakit tidak menular (misalnya hipertensi) karena dapat
mempengaruhi pada kesehatan ibu dan janinnya.
7. Penawaran untuk melakukan konseling dan testing HIV di
daerah tertentu (risiko tinggi).
8. Inisiasi menyusu dini (IMD) dan pemberian ASI ekslusif/
9. KB paska persalinan.
10. Imunisasi
Setiap ibu hamil harus mendapatkan imunisasi Tetanus
Toksoid (TT) untukmencegah bayi mengalami tetanus
neonatorum.
11. Peningkatan kesehatan intelegensia pada masa kehamilan
(Depkes RI, 2010:18).
6) Dokumentasi Kebidanan
Dokumentasi merupakan suatu catatan otentik atau
dokumen asli yang dapat dijadikan bukti dalam persoalan
hukum (Wildan, 2012:1). Dokumentasi dalam asuhan
kebidanan adalah suatu pencatatan yang lengkap
dan akurat terehadap keadaan/kejadian yang dilihat dan
dilakukan dalam pelaksanaan asuhan kebidanan (proses asuhan
kebidanan). Model dokumentasi yang digunakan dalam askeb
adalah dalam bentuk catatan perkembangan, karena
5

bentuk asuhan yang diberikan berkesinambungan dan


menggunakan proses yangterus menerus (metode SOAP).
SOAP
S = Data informasi yang subjektif (mencatat hasil anamnesis)
O = Data informasi objektif (hasil pemeriksaan, observasi)
A = Mencatat hasil analisa (diagnosa dan masalah kebidanan)
P = Mencatat seluruh penatalaksanaan (tindakan, antisipasi,
tindakan segera, tindakan rutin, penyuluhan, support, rujukan
dan evaluasi) (Mufdlilah, 2012:120).
1. Pencatatan
Pencatatan pelayanan antenatal terpadu menggunakan
formulir yang sudah ada yaitu :
Kartu Ibu atau rekam medis lainnya yang disimpan di
fasilitas kesehatan.
Register kohort ibu, merupakan kumpulan data-data dari
kartu ibu.
Buku KIA (dipegang ibu).
Pencatatan dari program yang sudah ada (Catatan dari
Imunisasi, dari Malaria, gizi, KB, TB, dll).
2. Pelaporan
Pelaporan pelayanan antenatal terpadu menggunakan
formulir pelaporan yang sudah ada, yaitu :
LB3
KIA
PWS KIA
PWS Imunisasi
Untuk lintas program terkait, pelaporan mengikuti formulir
yang ada pada program tersebut. Tenaga kesehatan (baik
difasilitas pelayanan kesehatan pemerintah, swasta,
dan UKBM lainnya) yang memberikan pelayanan antenatal
di wilayah kerja puskesmas, sebaiknya melaporkan
5

rekapitulasi hasil pelayanan antenatal terpadu


setiap awal bulan ke puskesmas atau disesuaikan dengan
kebijakan daerah masing-masing (Depkes RI, 2010:22).

10. Faktor Layanan Kesehatan


a. Sumber Daya
1) Fasilitas Kesehatan
Lingkungan dan fasilitas/alat merupakan sarana yang
mendukung untuk melaksanakan tindakan atau kegiatan.
Lingkungan meliputi ruangan pemeriksaan ibu hamil yang
memenuhi standar kesehatan yaitu tersedianya air bersih yang
memenuhi syarat fisik, kimia dan bakteriologik, pencahayaan
yang cukup, ventilasi yang cukup serta terjamin keamananya.
Sedangkan fasilitas suatu alat atau sarana untuk mendukung
melaksanakan tindakan/kegiatan, pengelolaan yang baik dan
mudah diperoleh serta pencatatan dan pelaporan yang lengkap dan
konsisten (Depkes RI, 2013:8). Bidan dalam menjalankan praktik
perorangan harus memenuhi persyaratan yang meliputi tempat
dan ruangan praktik, tempat tidur, peralatan, obat-obatan dan
kelengkapan administrasi (KemenKes RI, 2010:8).
2) Alat dan Obat
Bidan dalam menjalankan praktik perorangan sekurang-
kurangnya harus memiliki peralatan dan kelengkapan
administrative. Selain itu Obat-obatan yang dapat digunakan
dalam melakukan praktik sebagaimana tercantum dalam
Lampiran I dan II Peraturan Kemenkes (2010). Standar alat
asuhan antenatal terdiri atas:
a) Tensimeter
b) Stetoskop
c) Stetoskop monokuler
d) Termometer
5

e) Timbangan
f) Reflek hamer
g) Alat pemeriksaan Hb (sahli)
h) Blood lancet
i) Set pemeriksaan urine (protein, reduksi)
j) Kom
k) Bengkok
l) Pita pengukur
m) Tempat sampah
n) Bahan habis pakai (kapas DTT, tissue, sarung tangan, spiut).
o) Tablet Fe (tambah darah)
p) Vaksin TT(Karwati, 2011:90).

11. Faktor Ibu Hamil


a. Demografis
Faktor demografis adalah faktor-faktor yang mempengaruhi ibu
hamil dalam mempengaruhi kunjungan ibu hamil di pelayanan
kesehatan.
b. Pekerjaan
Pekerjaan mempengaruhi perilaku seseorang dalam melakukan
pemeriksaan kehamilan. Ibu yang bekerja mempunyai cara pandang
yang lebih baik dari pada ibu yang tidak bekerja. Ibu yang bekerja
lebih banyak memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan orang
lain sehingga lebih banyak peluang untuk mendapatkan informasi
tentang kehamilan dan persalinan dibandingkan ibu yang tidak
bekerja (Maulana, 2008).

12. Latar Belakang


Faktor latar belakang ibu hami juga mempengaruhi kunjungan
kehamilan. Faktor latar belakang meliputi pengetahuan, dukungan
keluarga dan pendidikan.
5

a. Tingkat Pengetahuan
Menurut penelitian Puspita P. (2012) pengetahuan ibu hamil tentang
antenatal care meliputi tujuan ANC, frekuensi kunjungan ANC,
tempatpelaksanaan ANC, standar pelayanan ANC, dan perilaku sehat
selama kehamilan.
b. Tingkat Pendidikan
Menurut penelitian Munib (2006) bahwa pendidikan merupakan
salah satu faktor yang menentukan luasnya wawasan dan
pengetahuan seseorang secara umum, dengan adanya pendidikan
yang sebagian besar SMA maka akan berpengaruh terhadap
pengetahuan dan sikap tentang pelayanan dan kunjungan antenatal.
Semakin tinggi pendidikan seseorang maka diharapkan semakin
mudah seseorang untuk menyerap pengetahuan yang diperolehnya.
Selain itu, pendidikan merupakan faktor yang memotivasi seseorang
dalam bersikap dan berperilaku. Namun perlu ditekankan bahwa
seseorang yang berpendidikan rendah tidak berarti mutlak
berpengetahuan rendah pula. Peningkatan pengetahuan tidak
mutlak diperoleh dipendidikan formal, akan tetapi juga dapat
diperoleh pada pendidikan non formal.
c. Dukungan Keluarga
Motivasi keluarga merupakan suatu dukungan psikososial yang
mampu memberikan kekuatan emosional kepada ibu. Kasih sayang
keluarga dan keinginan ingin mendapatkan keturunan akan sangat
membantu dalam upaya antenatal care, sampai terjadi persalinan
yang diakhiri dengan kebahagiaan keluarga. Kehamilan yang tidak
dikehendaki dapat menimbulkan hal-hal berikut; keluhan hamil yang
berlebihan, ketidakseimbangan jiwa menghadapi kehamilan
dan persalinan, upaya mengakhiri kehamilan dengan menggugurkan
kandungan, berpisah setelah persalinan karena perkawinan yang
dipaksakan. Itulah sebabnya motivasi keluarga sangat penting agar
5

ibu tidak merasa takut menghadapi kehamilan dan persalinan


(Manuaba, 2006).
13. Faktor Keterjangkauan
Keterjangkauan tempat pelayanan sangat menentukan terhadap
pelayanan kesehatan, di tempat terpencil ibu hamil sulit memeriksakan
kehamilannya, hal ini karena transportasi yang sulit menjangkau samapi
tempat terpencil. Selain itu jarak yang jauh dari pusat layanan kesehatan
juga mempengaruhi kunjungan ibu hamil (Hasanah,H., 2013).

B. Manajemen
1. Definisi Manajemen
Menurut Griffin (2000), manajemen diartikan sebagai sebuah proses
perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan
sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien. Efektif
berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara
efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar,
terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.
2. Manajemen Puskesmas
Untuk terselenggaranya berbagai upaya kesehatan yang sesuai
dengan azas penyelenggaraan puskesmas, perlu ditunjang oleh
manajemen puskesmas yang baik. Manajemen puskesmas adalah
rangkaian kegiatan yang bekerja secara sistematik untuk menghasilkan
luaran puskesmas yang efektif dan efisien. Rangkaian kegiatan sistematis
yang dilaksanakan oleh Puskesmas membentuk fungsi-fungsi
manajemen.
Ada tiga fungsi manajemen Puskesmas yang dikenal yakni
Perencanaan, Pelaksanaan dan Pengendalian, serta Pengawasan dan
Pertanggungjawaban (pada masa sebelumnya fungsi manajemen ini lebih
dikenal dengan P1, P2, P3 yaitu P1 sebagai Perencanaan, P2 sebagai
Penggerakan Pelaksanaan dan P3 sebagai Pengawasan, Pengendalian dan
5

Penilaian). Semua fungsi manajemen tersebut harus dilaksanakan secara


terkait dan berkesinambungan.
5

BAB III
METODE PENERAPAN KEGIATAN

A. Keadaan Umum Kecamatan Weru


1. Wilayah Kecamatan Weru
Kecamatan Weru merupakan salah satu Kecamatan di Lingkungan
Kabupaten Sukoharjo dengan luas wilayah 4.168 Ha pada tahun 2012.
Kecamatan Weru terdiri dari 13 desa. Desa Ngereco merupakan desa
yang paling luas daerahnya yaitu 476 Ha sedangkann yang terkecil
adalah desa Grogol 213 Ha. Luas lahan bukan sawah yang di gunakan
untuk pekarangan sebesar 64,7% dari luas total lahan bukan sawah.
Kecamartan weru terletak di daerah dengan ketinggial 118 m diatas
permukaan laut, dengan luas wilayah 41,98 km2. Batas-batas Kecamatan
Sebelah Utara : Kecamatan Tawangsari
Sebelah Timur : Kecamatan Manyaran Kab. Wonogiri
Sebelah selatan : Kecamatan Semin, DIY
Sebelah barat : Kabupaten Klaten
Wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Weru terdiri sebagian besar
terdiri dari dataran rendah dan sebagian lain berupa dataran tinggi berupa
bukit-bukit batu dan kapur sehingga sebagian wilayah di Kecamatan
Weru rawan longsor karena struktur tanahnya. Menurut jenis
penggunaannya, wilayah kecamatan Weru berupa area persawahan,
pemukiman dan bukit-bukit terutama di wilayah timur, berbatasan
dengan Kecamatan Bulu, Kecamatan Manyaran dan Kecamatan Semin.
Sesuai dengan geografis wilayah Kecamatan Weru, mata pencaharian
penduduk bermacam-macam antara lain petani, pedagang, pencari batu,
dan lain sebagainya.
Wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Weru terdiri sebagian besar
terdiri dari dataran rendah dan sebagian lain berupa dataran tinggi berupa
bukit-bukit batu dan kapur sehingga sebagian wilayah di Kecamatan
Weru rawan longsor karena struktur tanahnya. Menurut jenis
5

penggunaannya, wilayah kecamatan Weru berupa area persawahan,


pemukiman dan bukit-bukit terutama di wilayah timur, berbatasan
dengan Kecamatan Bulu, Kecamatan Manyaran dan Kecamatan Semin.
Sesuai dengan geografis wilayah Kecamatan Weru, mata pencaharian
penduduk bermacam-macam antara lain petani, pedagang, pencari batu,
dan lain sebagainya.
Berikut tabel wilayah menurut jenis penggunaan :

Luas wilayah menurut penggunaan

Tanah Tanah Peka- Hutan Lainnya Jumlah

No Desa Sawah Tegal Rangan Rakyat

1 2 3 4 5 6 7 8

1 Grogol 147 - 61 - 5 213

2 Karang Tengah 133 3 101 - 25 262

3 Karang Wuni 133 1 74 - 20 228

4 Krajan 190 43 95 - 7 335

5 Jatingarang 120 12 140 25 24 321

6 Karang Anyar 139 10 134 15 10 308

7 Alasombo 94 40 194 125 7 460

8 Karang Mojo 38 65 105 139 24 371

9 Weru 195 19 71 - 7 292

10 Karakan 164 10 102 - 4 280

11 Tegalsari 230 5 86 - 15 336


5

12 Tawang 167 17 96 14 22 316

13 Ngreco 116 62 176 96 26 476

JUMLAH 1.866 287 435 414 196 4.198

Sumber : Monografi Kecamatan Weru

Gambar 4. Peta Wilayah Kecamatan Bulu

2. Keadaan Penduduk Kecamatan Bulu


a. Pertumbuhan,Kepadatan Penduduk dan Tingkat Pendidikan
Jumlah penduduk Kecamatan Weru tahun 2015adalah 68.150
jiwa dengan jumlah kelahiran penduduk laki-laki sebesar 386 jiwa
5

dan 372 jiwa pada tahun 2014. Jumlah penduduk miskin tahun 2015
adalah 28.424 dengan jumlah rumah tangga (KK) sebesar 16.155
dengan kepadatan penduduk 1623,39 per Km2 jiwa.
Tingkat pendidikan penduduk mempengaruhi status kesehatan,
karena perilaku salah satunya dipengaruhi oleh pendidikan. Sebagai
gambaran, tingkat pendidikan penduduk di wilayah Puskesmas
Kecamatan Weru dapat dilihat pada tabel berikut :

No Nama Desa Blm Tidak Tamat Tamat Tamat Diploma S1


pernah tamat SD SMP SMA
sekolah SD
1 GROGOL 288 667 118 385 1.158 187 228
2 KARANGTENGAH 88 339 1.022 1.052 391 292 109
3 KARANGWUNI 187 790 332 332 477 137 34
4 KRAJAN 381 799 1.230 733 359 102 89
5 JATINGARANG 290 519 1.597 1.301 557 42 44
6 KARANGANYAR 1886 366 876 834 758 145 40
7 ALASOMBO 248 826 1.766 745 312 40 20
8 KARANGMOJO 572 3.321 572 822 536 58 27
9 WERU 327 469 379 1.043 1.902 236 65
10 KARAKAN 563 686 693 526 614 311 106
11 TEGALSARI 427 769 679 1.043 1.902 248 65
12 TAWANG 330 609 1.730 783 1.334 200 84
13 NGRECO 111 108 1.658 1.625 929 50 62
Sumber : Monografi Kecamatan Weru

B. Profil Puskesmas Weru


1. Dasar
Melalui UU no 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah telah
menetapkan bidang kesehatan merupakan salah satu kewenangan wajib
yang harus dilaksanakan Kabupaten. Sebagai pedoman teknis telah
banyak disusun peraturan antara lain : Kepmenkes RI Nomor
5

574/Menkes/SK/VI/2000 tentang Kebijakan Pembangunan Kesehatan


Menuju Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi
Sehat dan Kabupaten Sehat dan Kepmenkes RI Nomor
1457/Menkes/SK/X/2003 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang
Kesehatan Kabupaten / Kota di Provinsi Jawa Tengah.
2. Visi
Visi Pembangunan Kesehatan di Puskesmas Kecamatan Weru
yang dimaksud adalah menjadi sentral pelayanan kesehatan pilihan
pertama masyarakat weru dan sekitarnya.
Adapun pengertian dari Kecamatan Sehat adalah masyarakat di
Kecamatan Weru yang hidup dalam lingkungan yang sehat, berperilaku
bersih dan sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan
kesehatan yang bermutu secara adil, merata dan terjangkau serta
memiliki derajat kesehatan setinggi-tingginya. Lingkungan sehat yang
diharapkan adalah suatu lingkungan yang kondusif bagi terwujudnya
keadaan sehat yaitu lingkungan bebas polusi, tersedianya akses terhadap
air bersih, sanitasi memadai dan terwujudnya kawasan pemukiman
beserta perencanaan pembangunan berwawasan kesehatan.
3. Misi
Misi mencerminkan peran dan fungsi dan kewenangan seluruh
jajaran organisasi kesehatan di Kecamatan Weru yang secara teknis
bertanggung jawab terhadap pencapaian tujuan dan sasaran
pembangunan kesehatan. Adapun Misi Puskesmas Kecamatan Weru
adalah :
1. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara profesional,
bermutu, efektif dan paripurna serta terjangkau masyarakat weru dan
sekitarnya.
2. Meningkatkan kualitas SDM untuk memenuhi kebutuhan dan
harapan masyarakat.
5

3. Meningkatkan pengetahuan sikap dan perilaku masyarakat untuk


hidup sehat dan peningkatan peran sertanya terutama dalam promotif
dan presentif.
Misi dari Puskesmas Kecamatan Weru sesuai dengan misi
Pembangunan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo yaitu :
1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan.
2. Mendorong kemandirian masyarakat agar berperilaku hidup sehat.
3. Memelihara dan meningkatkan mutu pemerataan dan keterjangkauan
pelayanan kesehatan.
4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga,
masyarakat dan lingkungan.
4. Motto
Cepat, Tanggap dan Akurat untuk kesehatan masyarakat
5. Program Pembangunan Kesehatan Tahun 2015
Secara ringkas alur masukan, proses dan hasil pembangunan
kesehatan Kecamatan Weru dapat digambarkan sebagai berikut :

Masukan Proses Hasil Antara Hasil


Pembangunan kesehatan Lingkungan Sehat Derajat Kesehatan
Pelayan kesehatan Perilaku hidup bersih Morbilitas
dan sehat
Manajemen Kesehatan Pel. Kes bermutu Mortalistas dan Status
Mortalitas terjangkau dan merata Gizi

b. Kontribusi Lintas sektoral


1. Program Pencegahan, Pengendalian dan Penyehatan Lingkungan
Masyarakat
Sesuai dengan Misi Pembangunan Kesehatan tentang
menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan juga memelihara
dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga, masyarakat dan
lingkungan maka Program Pencegahan, Pengendalian dan
5

PenyehatanLingkungan Masyarakat ( P2PL ) sangat berperan dalam


mencapai keberhasilan misi tersebut.
Sasaran dari PLPM adalah :
Meningkatnya kerjasama lintas sektoral sebagai faktor pendorong
keberhasilan pembangunan kesehatan.
Terselenggaranya upaya peningkatan lingkungan fisik, sosial
budaya dengan memaksimalkan potensi sumber daya secara
mandiri.
Meningkatnya kesadaran dan cakupan industri yang telah
mengelola limbah dengan aman.
Terbentuknya institusi pembina dan meningkatnya pelayanan
kesehatan dan keselamatan kerja.
Terpenuhinya persyaratan kesehatan di rumah sakit termasuk
pengelolaan limbahnya.
Meningkatnya cakupan keluarga yang mempunyai akses terhadap
air bersih dan jamban sehat yang memenuhi persyaratan kesehatan.
Meningkatnya perwujudan kepedulian perilaku hidup bersih dan
sehat dalam kehidupan masyarakat.
Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan
melalui pengembangan upaya kesehatan bersumberdaya
masyarakat.
Adapun kegiatan pokok, indikator pelaksanaan dan target tahun
2014 sebagai berikut :
Monitoring kualitas air bersih dan air minum: 100 %
Penyehatan lingkungan: 100 %
Penyehatan tempat-tempat umum :100 %
Pembinaan sekolah sehat: 90 %
Penyehatan makanan dan minuman: 100 %
Promosi kesehatan masyarakat: 90 %
Pemberdayaan masyarakat: 90 %
5

Peningkatan PHBS di tatanan sekolah, masyarakat dan desa sehat:


50 %
2. Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan
Misi Pembangunan Kesehatan tentang memelihara dan
meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan,
meningkatkan pembinaan terhadap pelayanan farmasi, ketersediaan obat
public, sosialisasi dan perlindungan pada masyarakat dari bahaya NAPZA,
meningkatkan jaminan keamanan masyarakat dari produk makanan dan
minuman serta bahan tambahan yang tidak memenuhi syarat kesehatan.
Sasaran program :
Meningkatnya mutu, pemerataan pelayanan kesehatan dasar dan
rujukan serta kepuasan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.
Meningkatnya penggunaan obat secara rasional.
Tersusunnya kebijakan dan konsep pelayanan kesehatan yang
mendukung desntralisasi.
Meningkatnya manajemen di Puskesmas.
Meningkatnya pengawasan, pembinaan, pelayanan komunitas farmasi.
Meningkatnya pembinaan, pengawasan, pengendalian produk
makanan dan minuman.
Terjaminnya mutu pengelolaan obat di gudang Puskesmas.
Terpenuhinya kebutuhan obat esensial dasar bagi pelayanan kesehatan.
Meningkatnya perlindungan masyarakat dari bahaya penyalahgunaan
NAPZA.
Kegiatan pokok, indikator pelaksanaan dan target 2015 adalah :
Peningkatan mutu pelayanan kesehatan dasar : 100 %
Pelayanan rawat jalan : 100 %
Pelayanan JKN / BPJS Bid.Kes: 80 %
Pelayanan Askes wajib: 100 %
Pelayanan laboratorium: 80 %
Pengelolaan obat dan gudang farmasi: 90 %
Pembinaan BP / RB Swasta: 70 %
5

Pendataan perijinan sarana kesehatan: 80 %


Pendataan jamaah haji: 90 %
Pelaksanaan program penanggulangan bencana: 100 %
Pelaksanaan program PPPK hari besar / khusus: 100 %
3. Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit
Tujuan dari program ini adalah meningkatkan dan pemerataan
kualitas pelayanan pencegahan dan pemberantasan penyakit,
menanggulangi kejadian luar biasa dan penanggulangan bencana. Program
Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit dibagi menjadi tiga sub unit
yaitu :
Sub unit Pencegahan / imunisasi penyakit tidak menular.
Sub unit penyakit menular langsung.
Sub unit penyakit menular karena binatang.
Sasaran program :
Menurunnya angka kesakitan Demam Berdarah, malaria dan kusta,
tercapainya angka kesembuhan TB Paru, menurunnya angka kematian
pneumonia balita dan diare balita serta pencegahannya, peningkatan
prevalensi infeksi HIV.
Tercagahnya kejadian luar biasa.
Terbebasnya wilayah kerja puskesmas weru dari penyakit rabies,
anthraks, pes dan tetanus neonatorum.
Menurunnya angka kesakitan penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi dengan prioritas pada bayi, balita, anak sekolah dan WUS,
ibu hamil.
Tersedianya data dan informasi penyakit tidak menular.
Berkembangnya sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa,
pencegahan dan penanggulangan bencana secara terpadu dengan
melibatkan peran serta aktif masyarakat.
Adapun kegiatan pokok, indikator pelaksanaan dan targetnya adalah :
Pengamatan penyakit menular dan tidak menular : 80 %
Penanggulangan KLB : 80 %
5

Cakupan imunisasi pada bayi / balita : 100 %


Cakupan imunisasi WUS: 85 %
Cakupan BIAS: 100 %
Pengelolaan dan pemberantasan penyakit : 85 %
4. Program Peningkatan Kesehatan Keluarga
Tujuan dari program ini adalah meningkatnya mutu dan pemerataan
kualitas pelayanan keluarga dan status gizi masyarakat dalam rangka
meningkatkan kemandirian, intelektualitas dan produktivitas sumber daya
manusia. Program kesehatan keluarga dibagi dalam beberapa sub unit
yaitu :
Kesehatan Ibu dan Keluarga Berencana
Kesehatan Anak
Gizi
Kesehatan Lansia
Sasaran Program :
Meningkatnya pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan,
cakupan penanganan resti kebidanan, cakupan pembinaan
kesehatan anak balita, pra sekolah, cakupan pelayanan ante-post-
neonatal.
Meningkatnya pelayanan kesehatan remaja di luar sekolah dan
pelayanan kesehatan usia lanjut.
Menurunnya prevalensi bayi lahir BBLR, BGT, BGM, gizi buruk
pada bayi dan balita, prevalensi gangguan akibat kekurangan
Yodium, anemia dan KEK pada ibu hamil.
Terbebasnya masyarakat dari kekurangan vitamin A.
Meningkatnya prosentase rumah tangga yang menggunakan garam
beryodium, pemberian ASI eksklusif dan pemberian PMT.
Adapun kegiatan pokok, indikator pelaksanaan dan target dari program
tersebut adalah :
Pemantauan dan penanganan ibu maternal: 90 %
Pemantauan dan penanggulangan ibu hamil Resti : 100 %
5

Cakupan K 1 ibu hamil: 100 %


Cakupan kunjungan K4 ibu hamil : 95 %
Cakupan persalinan tenaga kesehatan : 90 %
Pemantauan dan penanggulangan Neo resti: 100 %
Cakupan KN : 95 %
Cakupan KN 2: 95 %
Deteksi tumbuh kembang anak: 80 %
Peningkatan kesehatan reproduksi remaja: 50 %
Pemantauan dan penanggulangan kesehatan lansia : 100 %
Pemantauan dan penanggulangan gizi buruk pada bayi, balita
dan ibu hamil anemia : 100 %
Cakupan Fe 30 / Fe 9 : 90 %
Pemantauan penggunaan garam beryodium : 85 %
Cakupan Vit A dosis tinggi : 100 %
5. Program Peningkatan Sumber Daya Kesehatan
Untuk mencapai semua program yang telah dicanangkan tentunya
tidak bisa lepas dari sumber daya baik itu SDM maupun sarana dan
prasarana yang menunjang dalam pelaksanaan program. Tujuan program
ini adalah meningkatkan jumlah, mutu dan penyebaran tenaga kesehatan,
meningkatkan jumlah efektifitas dan efesiensi penggunaan biaya
kesehatan, meningkatkan ketersediaan sarana prasarana dan dukungan
logistik yang semakin merata, terjangkau dan dimanfaatkan oleh
masyarakat.
Sasaran program :
Tersedianya berbagai tenaga kesehatan yang sesuai dan
mendukung konsep paradigma baru puskesmas.
Berkembangnya sistem pembiayaan pra upaya dalam bentuk
JPKMM ataupun asuransi kesehatan yang lain.
Tersedianya peralatan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan
masyarakat
5

Tersedianya perbekalan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan


masyarakat.
Adapun kegiatan pokok, indikator pelaksanaan dari manajemen kesehatan
meliputi :
Presentase anggaran kesehatan terhadap APBD : 100 %
Monitoring dan evaluasi program kesehatan : 85 %
Ketersediaan sarana dan prasarana: 90 %
Rehab / pembangunan fisik Puskesmas : 90 %
Perbaikan mobil pusling: 80 %
5. Sarana dan Prasarana Puskesmas
Wilayah kerja Puskesmas Bulu meliputi wilayah Kecamatan. Puskesmas
mempunyai tanggung jawab terhadap wilayahnya artinya Puskesmas
mempunyai wewenang dan tanggung jawab atas pemeliharaan kesehatan
diwilayah kerjanya.
a. Wilayah Kerja
Puskesmas Kecamatan Bulu mempunyai wilayah 13 Desa :
Desa Karang Weni - Desa Weru
Desa Krajan - Desa Karakan
Desa Jatingarang - Desa KArangtengah
Desa KAranganyar - Desa Grogol
Desa Alasmombo - Desa Tegalsari
Desa KArangmojo - Desa Kawang
Desa Ngereco
Dengan batas-batas wilayah kerja sebagai berikut :
Sebelah Utara : Kecamatan Tawangsari
Sebelah Timur : Kecamatan Manyaran Kab. Wonogiri
Sebelah selatan : Kecamatan Semin, DIY
Sebelah barat : Kabupaten Klaten
5

b. Sarana dan Prasarana

No NAMA GEDUNG JUMLAH KETERANGAN

1 BangunanPuskesmas Induk 1 Keadaan Baik


(RJ Dan RI)

2 Bangunan Pustu 5 Keadaan Baik

3 Bangunan Rumah Dinas 1 Watukelir Perlu Rehap , Keadaan


Dokter Rusak Parah

4 PKD 11 Kondisi Baik, Bangunan Milik Desa

5 PONED 1 Operasional 1 Januari 2014 Sampai


Sekarang

6 RUANG PERPUSTAKAAN 1 Di Puskesmas Induk

c. Ketenagaan
Klasifikasi pegawai berdasarkan fungsi :

No Sumber Daya JML Keterangan

1 Dokter Umum 6 6 PNS

2 Dokter Gigi 2 2 PNS

3 Perawat / Perawat Gigi 17 16 PNS / 1 PNS

4 Radiografer 1 1 PNS

5 Pelaksana Farmasi 2 2 PNS,


5

6 PKL 1 1 PNS

7 Pelaksana Laborat 3 3 PNS

8 Bidan Puskesmas 19 19 PNS

9 Bidan Desa 13 13 PNS

10 Gizi 2 2 PNS

11 Staf 15 15 PNS

12 Fisioterapi 1 1 PNS

13 Rekam Medik 1 1 PNS

14 Penjaga Malam 2 1 THL

15 Cleaning Servis 2 2 THL

16 Tenaga Lainya 3 3 THL

17 Bagian Dapur 2 2 THL

Jumlah 91 83 dan 8THL

6. Susunan Organisasi
Susunan organisasi Puskesmas Weru, terdiri dari:
a. Kepala Puskesmas
b. Sub. Bag. Tata Usaha
c. Unit UKM Esensial dan Keperawatan Kesehatan Masyarakat
d. Unit UKM Pengembangan
e. Unit UKP Kefarmasian dan Laboratorium
1. Unit Jaringan Pelayanan Puskesmas dan Jejaring Fasilitas
Kesehatan
5

C. Daftar Masalah
1. Balita dan Gizi Buruk
2. Balita Gizi Kurang
3. Neonatal Resti
4. AKB dan AKBa
5. K4 yang rendah.

Masalah yang akan dianalisa adalah kurangnya pencapaian kunjungan


K4. Masalah tersebut kami pilih dikarenakan kunjungan K4 memperlihatkan
kinerja persentase ibu hamil dalam mendapatkan pelayanan ANC yang
bertujuan untuk menjaga agar ibu sehat selama kehamilan, persalinan dan
nifas serta mengusahakan bayi yang dilahirkan sehat; proses kehamilan dan
persalinan yang aman dan memuaskan; memantau kemungkinan adanya
risiko-risiko kehamilan; merencanakan penatalaksanaan yang optimal
terhadap kehamilan risiko tinggi; dan menurunkan morbilitas dan mortalitas
ibu dan janin perinatal. Oleh karena itu,data kunjungan K4 di Puskesmas
Weru tahun 2016 didapatkan dari data pencapaian K4 di Puskesmas Weru
tahun 2016.
Tabel 14. Laporan Pencapaian K4 Bulan Desember 2016 (Target 95%)

No. Desa Pencapaian % Ket.

1. Grogol 64 Belum SPM

2. Karangtengah 98,1 Sudah SPM

3. Karangwuni 96,5 Sudah SPM

4. Krajan 83,3 Belum SPM

5. Jatingarang 107,4 Sudah SPM

6. Karanganyar 76 Belum SPM

7. Alas ombo 104,6 Sudah SPM


5

8. Karangmojo 85,7 Belum SPM

9. Weru 86,7 Belum SPM

10. Karakan 74,2 Belum SPM

11. Tegalsari 100 Sudah SPM

12. Tawang 88,7 Belum SPM

13. Ngerco 87,5 Belum SPM

14. Puskesmas 88,7 Belum SPM

Di Puskesmas Weru, data kunjungan K4 didapatkan dari 13 desa di


Kecamatan Weru Kabupaten Sukoharjo. Pencapaian kunjungan K4 sampai bulan
Desember 2016 yaitu 88,7% lebih rendah dari target yaitu 95%.
Penyebab masih rendahnyakunjungan K4 di Kecamatan Weru tahun 2016
antara lain dikarenakan:
1. Man
a. Kurangnya pengetahuan ibu hamil dan keluarga tentang pentingnya
pemeriksaan hamil sedini mungin.
b. Kurangnya keterlibatan tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam
mensosialisasikan pentingnya pemeriksaan hamil sejak dini.
c. Adanya kepercayaan turun temurun yang masih dianut oleh beberapa
ibu hamil bahwa melahirkan di tempat pelayanan kesehatan lebih
berbahaya dibandingkan melahirkan oleh dukun beranak.
d. Motivasi dan loyalitas kader desa yang masih kurang.
2. Method
a. Kurangnya koordinasi antara bidan desa, dukun dan ibu hamil.
b. Kurang lengkapnya pencatatan pelaporan yang dilakukan oleh petugas
pelayanan kesehatan.
5

c. Kurangnya pembinaan yang diberikan oleh petugas pelayanan


kesehatan terhadap ibu hamil.
3. Material
a. Belum semua puskesmas pembantu melakukan pemeriksaan
laboratorium dasar bagi ibu hamil.
b. Kurangnya alat peraga dalam pelaksanaan penyuluhan di masyarakat.

4. Environment
a. Akses yang masih susah terjangkau karena keadaan jalan yang buruk.
b. Desa yang jaraknya jauh dari pusat pelayanan kesehatan.

Tabel 15. Matrikulasi Daftar Masalah


Efektifitas Efisiensi Jumlah
No. Daftar Masalah M I V (C) MxIxV
C
Kurangnya pengetahuan ibu hamil dan 3 3 3
1. keluarga tentang pentingnya pemeriksaan 5 5,4
hamil sedini mungkin
2. Kurangnya keterlibatan tokoh agama dan 4 5 4 2 40
tokoh masyarakat dalam mensosialisasikan
pentingnya pemeriksaan hamil sejak dini.
3. Adanya kepercayaan turun temurun yang 4 5 3 3 20
masih dianut oleh beberapa ibu hamil bahwa
melahirkan di tempat pelayanan kesehatan
lebih berbahaya dibandingkan melahirkan
oleh dukun beranak
4. Motivasi dan loyalitas kader desa yang masih 3 3 4 4 9
kurang.
5

5. Kurangnya koordinasi antara bidan desa, 4 5 3 2 30


dukun dan ibu hamil.
6. Kurang lengkapnya pencatatan pelaporan yang 4 4 3 3 16
dilakukan oleh petugas pelayanan kesehatan.
7. Kurangnya pembinaan yang diberikan oleh 3 5 3 3 15
petugas pelayanan kesehatan terhadap ibu
hamil.
8. Belum semua puskesmas pembantu 3 3 3 4 6,75
melakukan pemeriksaan laboratorium dasar
bagi ibu hamil
9. Kurangnya alat peraga dalam pelaksanaan 4 5 3 4 15
penyuluhan di masyarakat.
10 Akses yang masih susah terjangkau karena 3 4 3 5 7,2
keadaan jalan yang buruk
11 Desa yang jaraknya jauh dari pusat pelayanan 4 3 3 4 9
kesehatan
Keterangan: M: magnitude, V: vulnerability, I: importancy, C: cost
Skala:
1. Sangat Rendah
2. Rendah
3. Sedang
4. Tinggi
5. Sangat Tinggi(Azwar, 2003).

Tabel 16. Matrikulasi Alternatif Pemecahan Masalah


Prioritas Masalah
Kurangnya pengetahuan ibu hamil dan keluarga tentang pentingnya pemeriksaan hamil
sedini mungkin
No. Daftar Alternatif Pemecahan Masalah Efektifitas Efisiensi Jumlah
5

M I V (C) MxIxV
C
Mengadakan kunjungan ke rumah ibu hamil 4 5 4 2 40
1. untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil
tentang pentingnya kunjungan K4
2. Mengadakan kursus singkat kepada dukun 4 5 3 4 15
beranak untuk meningkatkan keahlian dalam
menangani kasus ibu melahirkan dengan
benar
3. Mengadakan ceramah kepada ibu hamil dan 4 5 3 3 20
masyarakat umum tentang pengetahuan
tentang pentingnya Ante Natal Care.

Tabel 17. Analisis SWOT Prioritas Jalan Keluar


Mengadakan kunjungan ke rumah ibu hamil untuk meningkatkan pengetahuan ibu
hamil tentang pentingnya kunjungan K4

(MxIxV:C= 40)
S: W:
Kurangnya kesadaran petugas
Petugas puskesdes mendapatkan ilmu
puskesdes untuk aktif dalam upaya
mengenai pengetahuan pentingnya
kunjungan guna meningkatkan
ANC pada Bumil
pengetahuan Bumil
Petugas puskeskes lebih memahami
pentingnya upaya dilakukanya ANC
pada bumil

O: T:

Tingginya angka Kunjungan ANC Ketidakpatuhan pasien terhadap


terutama K4 edukasi yang diberikan petugas.
5

Dukungan dari pihak terkait.


48

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Usulan kegiatan yang akan dilaksanakan adalah mengadakan kunjungan ke


rumah ibu hamil untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang
pentingnya kunjungan K4 olehpetugas Puskesdes serta menanamkan kesadaraan
yang tinggi pada petugas bahwa ANC secara rutin pada bumil menurangi resiko
kematian pada Ibu saat melahirkan maupun bayi sehingga harus mendapatkan
perhatian lebih.Berikut adalah rincian pelaksanaan kunjungan ke rumah ibu
hamil untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya
kunjungan K4yaitu :
2. Tujuan umum
Meningkatkan Kesadaran terhadap ibu hamil tenatng pentingnya ANC
selama masa kehamilan
3. Tujuan khusus
a. Mengoptimalkan puskesmas sebagai pelayanan kesehatan tingkat dasar
yang bersifat komprehensif dan holistik.
b. Mengoptimalkan peran petugas puskesdes terhadap peningkatan
penemuan kasus Ibu resti terutama pada saat kujungan k1 dan k4.
4. Sasaran
a. Ibu Hamil
b. keluarga
c. Dukun beranak
5. Metode
Kunjungan ke rumah ibu hamil untuk meningkatkan pengetahuan ibu
hamil tentang pentingnya kunjungan K4
6. Materi
a. Materi Cara ANC dan tujuan
b. Materi tentang Penanganan pertolongan persalinan yang baik dan benar
49

7. Pelaksana
a. Kepala Puskesmas dan Koordinator bidang P2PL
b. Tenaga kesehatan
8. Waktu dan lokasi
a. Tanggal
Disesuaikan agenda rapat puskesmas
b. Lokasi
Rumah ibu atau Balai desa setempat
9. Biaya
Diperoleh dari dana pemerintah atau APBD
50

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2004, Pedoman Pemantauan


Wilayah Setempat Kesehatan Ibu Dan Anak (PWS-KIA,) Direktorat
Jendral Bina Gizi dan KIA Kementrian Kesehatan Republik Indonesia,
Jakarta.

_________________________________ _, 2007, Pedoman Pelayanan Antenatal.


Direktorat Jendral Bina Gizi dan KIA Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.

__________________________________, 2010, Pedoman Pelayanan


Antenatal Terpadu, Direktorat Jendral Bina Gizi dan KIA Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

__________________________________, 2013, Buku Saku Pelayanan


Kesehatan Ibu Di Fasilitas Kesehatan Dasar Dan Rujukan, Direktorat
Jendral Bina Gizi dan KIA Kementrian Kesehatan Republik Indonesia,
Jakarta.

_________________________________, 2013, Rencana Aksi Percepatan


Penurunan Angka Kematian Ibu Di Indonesia, Direktorat Jendral Bina
Gizi dan KIA Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2011, Pencapaian Standar Pelayanan


Minimal Bidang Kesehatan Kabupaten/Kota 2011, Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Tengah , Semarang.

Fais, M. Satrianegara, Sitti Saleha, 2009, Buku Ajar Organisasi dan


Manajemen Pelayanan Kesehatan serta Kebidanan, Salemba medika,
Jakarta.
51

Griffin, Ricky W.,2000. Manajemen Personalia. Jakarta : Erlangga

Hani U., Jiarti Kusbandiyah, Marjianti, Rita Yulifah, 2010, Asuhan


Kebidanan Pada Kehamilan Fisiologis, Salemba medika, Jakarta

Hariandja, M. T. Efendi, 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia. PT Grasindo,


Jakarta.

Hasanah, H., 2013, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ibu Hamil Tidak


Melakukan Antenatal, diakses 31 Mei 2017, (http:
//huswatunhasanah13.blogspot.com/2013/05/faktor-faktor- yang-
mempengaruhi-ibu.)

Ibrahim, 1996. Hubungan Diklat dengan Kinerja Penyuluh Lapangan


Keluarga Berencana di Sulawesi Selatan. Thesis Program Pasca Sarjana
Unhas, Makassar.

Karwati, Dewi pujiati, Sri mujiati, 2011, Asuhan Kebidanan V (Kebidanan


Komunitas), CV.Trans Info Media, Jakarta.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2010. Peraturan Menteri


Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/149/I/2010
Tentang Persyaratan Praktik Bidan, Kementrian Republik Indonesia.

__________________________________, 2013, Profil Kesehatan Republik


Indonesia 2012, Kementrian Republik Indonesia.

Manuaba, 2006, Buku ajar patologi obstetric, EGC, Jakarta

Maulana , M. ,2008, Panduan Lengkap Kehamilan, Fitramaya, Yogyakarta

Mufdlilah, A.H., Ima Kharimaturrahmah, 2012, Konsep Kebidanan, Nuha


Medika, Yogyakarta.
52

Mubarak., I. Wahit, Nurul, C., Khoirul, R., Supradi, 2007, Promosi


Kesehatan, Graha Ilmu, Yogyakarta .

Notoatmodjo, S., 2010, Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta, Jakarta.

Puspita, P. Dewi, Mujahidatul Musfiroh, 2012, Hubungan Pengetahuan Ibu


Hamil Tentang Antenatal Care Dengan Frekuensi Kunjungan Antenatal
Care Di Rumah Bersalin Wikaden Imogiri Bantul, Jurnal Kebidanan
Fakultas Kedokteran UNS.

Statistik Indonesia Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional,


2013, Indonesia Demographic and Health Survey 2012, Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Wildan, M., A. Aziz alimul hidayat, 2012, Dokumentasi Kebidanan,


Salemba Medika, Jakarta.

World Health Organization, 2012, World Health Statistic 2012, World


Health Organization, WHO Press, Switzerland.