Anda di halaman 1dari 21

PRAKTIKUM 1

TERMINASI KONEKTOR FO

1.1 Pokok Bahasan


Macam-macam konektor
Bagian-bagian konektor
Merangkai Konektor

1.2 Tujuan
Setelah melakukan praktikum ini, mahasiswa diharapkan :
Dapat melakukan terminasi dengan menggunakan konektor FC, SC, dan
LC.

1.3 Dasar Teori


1.3.1 Jenis Konektor
Pada kabel serat optik, sambungan ujung terminal dapat disebut juga
dengan istilah: konektor. Jenis-jenis dari konektor kabel fiber optic ini tersedia
dalam beberapa bentuk yang berbeda-beda tergantung kebutuhan
implementasinya, dimana biasanya memiliki tipe standar seperti berikut ini:
1. FC (Fiber Connector): digunakan untuk model kabel single-mode dengan
akurasi yang sangat tinggi dalam menghubungkan kabel dengan
transmitter maupun receiver. Konektor ini menggunakan sistem drat ulir
dengan posisi yang dapat diatur, sehingga ketika dipasangkan ke
perangkat lain, akurasinya tidak akan mudah berubah.
2. SC (Subsciber Connector): digunakan untuk model kabel single-mode,
dengan sistem dicabut-pasang. Konektor ini tidak terlalu mahal, simpel,
dan dapat diatur secara manual serta akurasinya baik bila dipasangkan ke
perangkat lain.

3. ST (Straight Tip): bentuknya seperti bayonet berkunci hampir mirip


dengan konektor BNC. Sangat umum digunakan baik untuk kabel multi
mode maupun single mode. Sangat mudah digunakan baik dipasang
maupun dicabut.

4. Biconic: Salah satu konektor yang kali pertama muncul dalam komunikasi
fiber optik. Saat ini sangat jarang digunakan.

5. D4: konektor ini hampir mirip dengan FC hanya berbeda ukurannya saja.
Perbedaannya sekitar 2 mm pada bagian ferrule-nya.

6. SMA: konektor ini merupakan pendahulu dari konektor ST yang sama-


sama menggunakan penutup dan pelindung. Namun seiring dengan
berkembangnya ST konektor, maka konektor ini sudah tidak berkembang
lagi penggunaannya.

7. E200

Berikut adalah jenis-jenis konektor tipe kecil:

LABORATORIUM FIBER OPTIK


PS. JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
1. LC
2. SMU
3. SC-DC

Selain itu pada bagian konektor tersebut biasanya menggunakan warna tertentu dengan
maksud sebagai berikut:

Warna
Art Keterangan
Konektor
Physical Contact Yang paling umum digunakan untuk serat
Biru
(PC), 0 optik single-mode
Angle Polished Sudah tidak digunakan lagi untuk serat optik
Hijau
(APC), 8 multi-mode
Physical Contact
Hitam
(PC), 0
Abu- Physical Contact
Krem Serat optik multi-mode
abu, (PC), 0
Physical Contact
Putih
(PC), 0
Merah Penggunaan khusus

LABORATORIUM FIBER OPTIK


PS. JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Gambar 1.2 Jenis Konektor Standar FO

1.3.2 Bagian-bagian Konektor


Setiap jenis konektor tersusun oleh elemen yang berbeda-beda, sebagai
contoh konektor SC mempunyai elemen sperti ditunjukkan pada gambar 1.3
berikut,

Gambar 1.3 Bagian-bagian konektor SC

LABORATORIUM FIBER OPTIK


PS. JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Elemen-elemen konektor SC :
a. Dust cap : penutup ferule yang berfungsi sebagai pelindung
ujung FO pada ferrule dari debu
b. Connector housing : Rumah konektor ini berfungsi sebagai selongsong
dari semua elemen SC
c. Ferrule : berfungsi sebagai tempat masukkan core dan
tempat bertemunya ujung penyambungan FO
d. Connector sub-assembly : reumahnya ferrule di pasang sering juga disebut
adapter atau coupler.
e. Relief boot : menghubungkan antara body conector dengan
kabel fiber dan memproteksi kabel fiber dari
bahaya mekanis.

1.3.3. Merangkai Konektor


Metode untuk memasang konektor fiber optik sangat bervariasi
tergantung dari jenis konektor. Sehingga pemasangan atau instalasi konektor
dengan kabel FO tidak dilakukan dengan bentuk panduan definitif, namun berikut
adalah langkah-langkah yang dapat dipakai sebagai acuan untuk dasar-dasar
interkoneksi serat optik.
a. Potong kabel satu inci lebih lama dari panjang yang dibutuhkan.
b. Lepas dengan hati-hati jaket luar serat dengan penari telanjang "tanpa
nick". Potong anggota kekuatan yang terpapar, dan lepaskan lapisan serat.
Lapisan serat dapat dilepas dua cara: dengan merendam serat selama dua
menit dengan pengencer cat dan menyeka serat bersih dengan kain lembut
tanpa serat, atau dengan mengupas serat dengan penari serat dengan hati-
hati. Pastikan untuk menggunakan penari telanjang yang dibuat khusus
untuk digunakan dengan serat daripada penari telanjang kawat logam
karena kerusakan dapat terjadi, pelemahan serat.
c. Bersihkan dengan hati-hati serat yang dilapisi dengan alkohol isopropil
dituangkan ke kain lembut dan tidak berserabut seperti Kimwipes.
bersihkan serat dengan tissue kering. Catatan: Gunakan hanya isopropil
alkohol murni 99% grade industri. Isopropil alkohol yang tersedia secara
komersial adalah untuk penggunaan obat dan diencerkan dengan air dan
minyak mineral ringan. Kelas industri isopropil alkohol harus digunakan
secara eksklusif.
d. Konektor dapat dihubungkan dengan menggunakan epoxy atau crimping.
Jika menggunakan epoksi, isi konektor dengan cukup epoksi untuk
memungkinkan manik kecil epoksi terbentuk di ujung konektor. Masukkan
serat bersih dan dilucuti ke dalam konektor. Cure epoxy sesuai dengan
instruksi yang diberikan oleh produsen epoxy.
e. Jangkar kekuatan kabel anggota ke konektor bodi. Hal ini untuk mencegah
stres langsung pada serat. Geser ujung belakang konektor ke tempatnya
(jika ada).
f. Siapkan core FO untuk mencapai hasil akhir optik yang bagus dengan
membelah dan memoles ujung serat. Sebelum sambungan dibuat, ujung
serat masing-masing harus memiliki kelancaran yang bebas dari cacat
seperti hackles, bibir, dan patah tulang. Cacat ini, serta kotoran dan

LABORATORIUM FIBER OPTIK


PS. JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
kotoran lainnya mengubah pola propagasi geometris cahaya dan
menyebabkan hamburan.

1.4 Eksperimen
1.4.1 Peralatan Eksperimen
Peralatan yang dibutuhkan pada praktikum modul 1 instalasi terminasi konektor
FO, antara lain:
1. Tang
2. Cleaver (alat perata permukaan core)
3. Gunting
4. LakBan
5. Tisu
6. Alhokol

1.4.2 Prosedur Percobaan


-> Tuliskan prosedure atau langkah-langkah instalasi terminasi konektor untuk :
- FC dengan FC
1. Pertama-tama potong satu kabel serat optic (KSO) sesuai dengan yang
dibutuhkan atau sesuai dengan ketentuan.
2. Lalu potong cladding kabel menggunakan tang potong sekitar 3 cm sehingga
terlihat inti core.
3. Buka penutup cleaver dan penahan kabel serat optic. Dan dorong pisau
pemotong ke arah depan.
4. Lalu masukkan kabel dan berikan batasan untuk cladding pada 10 mm,
selebihnya adalah core yang akan dipotong.
5. Tutup penahan kabel dan tutup cleaver
6. Dorong pemotong ke arah belakang.
7. Setelah core terpotong, bersihkan sisa core yang masih tersisa di dalam
cleaver menggunakan lakban
8. Bersihkan core fiber optic menggunakan tisu yang sudah diberikan alcohol.
9. Pastikan konektor FC dalam keadaan off atau tombol kuning pada posisi
belakang yang terdapat pada bagian badan konektor FC
10. Masukkan core kabel FO kedalam konektor FC
11. Tarik tombol kuning ke posisi depan pada konektor FC atau konektor FC
dalam keadaan on.

LABORATORIUM FIBER OPTIK


PS. JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
12. Hubungkan konektor FC bagian relief boot dengan bagian badan sampai
berbunyi klik
13. Lakukan langkah ke 1 sampai 12 di ujung yang berlawanan.

-SC dengan SC
1. Pertama-tama potong kabel serat optic (KSO) sesuai dengan yang
dibutuhkan atau sesuai dengan ketentuan.
2. Lalu potong cladding kabel menggunakan tang potong sekitar 3 cm sehingga
terlihat inti core.
3. Buka penutup cleaver dan penahan kabel serat optic. Dan dorong pisau
pemotong ke arah depan.
4. Lalu masukkan kabel dan berikan batasan untuk cladding pada 10 mm,
selebihnya adalah core yang akan dipotong.
5. Tutup penahan kabel dan tutup cleaver
6. Dorong pemotong ke arah belakang.
7. Setelah core terpotong, bersihkan sisa core yang masih tersisa di dalam
cleaver menggunakan lakban
8. Bersihkan core fiber optic menggunakan tisu yang sudah diberikan alcohol.
9. Pastikan konektor SC dalam keadaan off atau tombol kuning pada posisi
belakang yang terdapat pada bagian sub-assembly konektor SC
10. Buka ujung konektor SC
11. Masukkan core kabel FO kedalam konektor SC

LABORATORIUM FIBER OPTIK


PS. JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
12. Tutup ujung konektor SC
13. Tarik tombol kuning ke posisi depan pada konektor SC atau konektor SC
dalam keadaan on.
14. Hubungkan konektor SC bagian relief boot dengan bagian sub-assembly
dengan cara memutar bagian relief boot pada konektor SC
15. Hubungkan bagian housing pada konektor SC dengan bagian sub-assembly
16. Lakukan prosedur ke 1 sampai 15 pada ujung yang berlawanan.

- FC dengan SC
1. Pertama-tama potong kabel serat optic (KSO) sesuai dengan yang
dibutuhkan atau sesuai dengan ketentuan.
2. Lalu potong cladding kabel menggunakan tang potong sekitar 3 cm sehingga
terlihat inti core.
3. Buka penutup cleaver dan penahan kabel serat optic. Dan dorong pisau
pemotong ke arah depan.
4. Lalu masukkan kabel dan berikan batasan untuk cladding pada 10 mm,
selebihnya adalah core yang akan dipotong.
5. Tutup penahan kabel dan tutup cleaver
6. Dorong pemotong ke arah belakang.

LABORATORIUM FIBER OPTIK


PS. JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
7. Setelah core terpotong, bersihkan sisa core yang masih tersisa di dalam
cleaver menggunakan lakban
8. Bersihkan core fiber optic menggunakan tisu yang sudah diberikan alcohol.
9. Pastikan konektor FC dalam keadaan off atau tombol kuning pada posisi
belakang yang terdapat pada bagian badan konektor FC
10. Masukkan core kabel FO kedalam konektor FC
11. Tarik tombol kuning ke posisi depan pada konektor FC atau konektor FC
dalam keadaan on.
12. Hubungkan konektor FC bagian relief boot dengan bagian badan sampai
berbunyi klik
13. Ulangi langkah 1-3 pada kabel FO lainnya
14. Masukkan bagian relief boot pada konektor SC kedalam kabel FO
15. Bersihkan core kabel FO menggunakan tisu yang sudah diberi alkohol 95%
16. Pastikan konektor SC dalam keadaan off atau tombol kuning pada posisi
belakang yang terdapat pada bagian sub-assembly konektor SC
17. Buka ujung konektor SC
18. Masukkan core kabel FO kedalam konektor SC
19. Tutup ujung konektor SC
20. Tarik tombol kuning ke posisi depan pada konektor SC atau konektor SC
dalam keadaan on.
21. Hubungkan konektor SC bagian relief boot dengan bagian sub-assembly
dengan cara memutar bagian relief boot pada konektor SC
22. Hubungkan bagian housing pada konektor SC dengan bagian sub-assembly

LABORATORIUM FIBER OPTIK


PS. JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Daftar Pustaka
[1] Lna, Pierre; Franois Lebrun, Franois Mignard (1998). Observational
Astrophysics. Springer-Verlag. ISBN 3-540-63482-7
[2] Conceptual physics, Paul Hewitt, 2002
[3] http://elektronika-dasar.web.id/teori-elektronika/karakteristik-dan-prinsip-
kerja-lampu-tl-fluorescent-lamp/
[4] http://chemtech.org/cn/cn212
[5] Evhy, Kumalasari. Laporan Spektral. 2013. Retrieved from

LABORATORIUM FIBER OPTIK


PS. JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
PRAKTIKUM 2
PENYAMBUNGAN FO DENGAN SPLICER

2.1 Pokok Bahasan


Menyambung Fiber Optik
Fungsi Fusion Splicer
Besar Redaman Sambungan Splicing

2.2 Tujuan
Setelah melakukan praktikum ini, mahasiswa diharapkan :
Mengetahui fungsi dari Fusion Splicer.
Dapat melakukan penyambungan FO dengan menggunakan splicer.
Mengetahui kualitas hasil penyambungan dengan splicer.

2.3 Dasar Teori Splicer


Splicer adalah alat yang digunakan untuk menyambung ujung kabel dengan Pig
tail dan penyambungan dua kabel di dalam Joint Closure. Alat ini adalah alat yang
paling penting dan sangat dibutuhkan dalam perawatan penyambungan yang baik.
Kualitas splicer mulai menurun ketika telah melakukan kira-kira 1.500 kali
penyambungan. Biasanya penghitungan loss db mulai tidak akurat ketika splicer
sudah mencapai angka penyambungan ke 1.500.

LABORATORIUM FIBER OPTIK


PS. JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
LABORATORIUM FIBER OPTIK
PS. JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
LABORATORIUM FIBER OPTIK
PS. JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
LABORATORIUM FIBER OPTIK
PS. JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2.4.1. Eksperimen
2.4.2. Persiapan Penyambungan
Alat dan bahan :
1. Gergaji.
2. Tang Stripper
3. Cutter/gunting.
4. Tinner/ Alkohol 95%
5. Lap bersih/ Tisu
6. KSO yang sudah diterminasi dengan konektor FC 1 pasang
7. KSO yang sudah diterminasi dengan konektor SC 1 pasang
8. KSO yang sudah diterminasi dengan konektor SC dan FC
9. Splicer
10. Lem G
11. Kertas Karton yang digunakan untuk penggulungan KSO

Langkah-langkah persiapan penyambungan :

1. Pertama-tama potong kabel serat optic (KSO) sesuai dengan yang


dibutuhkan atau sesuai dengan ketentuan.
2. Lalu potong cladding kabel menggunakan tang potong sekitar 3 cm sehingga
terlihat inti core.
3. Buka penutup cleaver dan penahan kabel serat optic. Dan dorong pisau
pemotong ke arah depan.
4. Lalu masukkan kabel dan berikan batasan untuk cladding pada 10 mm,
selebihnya adalah core yang akan dipotong.
5. Tutup penahan kabel dan tutup cleaver
6. Dorong pemotong ke arah belakang.
7. Setelah core terpotong, bersihkan sisa core yang masih tersisa di dalam
cleaver menggunakan lakban
8. Bersihkan core fiber optic menggunakan tisu yang sudah diberikan alcohol.
9. Setelah bersih bisa dilanjutkan untuk proses penyambungan menggunakan
splicer.
10. Ulangi langkah 1 sampai 9 untuk kabel serat optic yang lain.

2.4.3 Proses Penyambungan


1. Ambil serat optic yang akan disambung, usahakan warna serat sama
dengan serat lain yang akan disambung dan juga berasal dari serat yang
sama.
2. Masukkan sleave protection pada salah satu serat sebelum proses
penyambungan.
3. Nyalakan Splicer dengan cara menekan tombol power.

LABORATORIUM FIBER OPTIK


PS. JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
4. Buka penutup splicer lalu masukkan kabel fiber optic tersebut dan buka
sheat clamp sebelah kiri untuk KSO sebelah kiri lalu tutup, dan buka sheat
clamp sebelah kanan untuk KSO sebelah kanan lalu tutup.
5. Tutup splicer
6. Lihat di posisi kabel di dalam splicer menggunakan layar fusion splicer,
sehingga kedua core tersebut sejajar dan memiliki jarak sedikit.
7. Setelah itu tekan tombol RESET, setelah proses reset selesai.
8. Jika terjadi error karena core kotor maka bersihkan core dengan tisu yang
sudah diberi alcohol.
9. Jika terjadi error karena core tidak rata maka lakukan pemotongan ulang
menggunakan cleaver.
10. Jika tidak ada tulisan error, lanjutkan tekan tombol SET. Tunggu hingga
proses penyambungan selesai dan akan muncul percent loss

2.4.4 Pengambilan Data


Tuliskan Loss hasil penyambungan di tunjukkan oleh splicer.
Percobaan Pasangan KSO Loss (dB)
ke-
1. Konektor FC dengan FC 0.01 dB
2. Konektor SC dengan SC 0.02 dB
3. Konektor FC dengan SC

Dari data hasil praktikum pada percobaan pertama dengan penyambungan


menggunakan konektor FC dengan FC, loss yang terbaca 0.01 dB. Loss terjadi
karena core pada salah satu KSO sedikit rusak atau potongan kurang rata.
Pada percobaan kedua dengan penyambungan menggunakan konektor SC
dengan SC, loss yang terbaca 0.02 dB. Hasil pemotongan core pada kedua KSO
rata, sehingga loss terjadi kemungkinan akibat kualitas penyambungan kurang
baik.
Pada percobaan pertama dengan penyambungan menggunakan konektor
FC dengan FC, loss yang terbaca 0.01 dB. Loss terjadi karena core bagian tengah
terdapat bayangan hitam kecil pada salah satu KSO, namun pemotongan core
pada kedua KSO rata.

Kesimpulan
Dari hasil anasilis dapat disimpulkan bahwa, losses terjadi karena
beberapa faktor:
1. Potongan core kurang rata
2. Kualitas penyambungan kurang baik

LABORATORIUM FIBER OPTIK


PS. JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
LABORATORIUM FIBER OPTIK
PS. JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
PRAKTIKUM 3
PENGUKURAN LOSS DAYA DENGAN POWER METER DAN
LIGHT SOURCE

3.1 Pokok Bahasan


Power Meter.
Light Source.

3.2 Tujuan

Setelah melakukan praktikum ini, mahasiswa diharapkan :


Mengetahui penggunaan light source.
Mengetahui penggunaan optical power meter.
Mengetahui pengukuran loss daya menggunakan light source dan power
meter.

3.3 Dasar Teori Serat Optik


Optical Power Meter (OPM) adalah sebuah alat yang digunakan untuk
mengukur sumber daya FO atau redaman/loss daya pada sebuah jaringan fiber
optik. Karena redaman/Loss merupakan fungsi dari sebuah panjang gelombang
maka pengukuran harus dilakukan dengan menyesuaikan panjang gelombang
perangkat transmisi.

LABORATORIUM FIBER OPTIK


PS. JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Gambar 2.1 Component Guide

(1) LCD:
The LCD screen display the measurement tested in dB, dBm, mW, uW, nW
unit; the selected wavelength; the current operating situation and so
on.
(2) ON/OFF Key:
Press the key to turn the unit on/off.
(3) dB Key:
To test the power value under certain wavelength.
(4) ZERO Key:
Press the key for auto-zero.
(5) Key:
Switch the operating wavelength between 850 98013001310 and
1550nm.
(6) LIGHT Key:
To turn the background light on/off .

LABORATORIUM FIBER OPTIK


PS. JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
3.4 Pengukuran Fiber Optik

Gambar 2.4 Contoh pengukuran Redaman FO

Lankah-langkah pengukuran yaitu :


Tiap patch cord yang akan dipakai harus di tes
Hasil ukur patch cord dibandingkan dengan spek pabrik
Bersihkan seluruh konektor sebelum pengetesan

Seting power meter dan light source, dengan parameter yang sesuai

2.8 Eksperimen : Bending Pada Serat Optik


2.8.1 Peralatan Eksperimen
Adapun peralatan yang digunakan dalam eksperimen ini adalah sebagai berikut:
a. Laser
b. Serat optik multimode
c. Serat optik singlemode
d. Penggaris
e. Optical Power Meter (OPM) Thorlabs
f. Light Source
g. Patch cord

2.8.2 Prosedur Eksperimen


Adapun langkah-langkah dalam melakukan eksperimen adalah sebagai berikut:

LABORATORIUM FIBER OPTIK


PS. JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Gambar 2.10 Set Up Eksperimen 1 Modul 2[5]

a. Peralatan dirancang seperti pada gambar 2.10


b. Pengukuran dilakukan padamasing-masing patch cord dengan menggunakan
daya cahaya LASER yang keluar dari serat optik sebelum digabungkan dengan
fiber optik hasil sambungan anda menggunakan OPM, baca nilai nya
c. Dengan menggunakan konverter atau secara langsung, tergantung type conektor
nya pasang dan ukur masing-masing FO sambungan anda.

2.8.3 Tabel Eksperimen


Dalam Eksperimen serat optik ini data yang akan diambil adalah sebagai berikut:

Tabel Eksperimen 1
Percobaan Jari-Jari (cm) Pin Pout
ke-
1 Patch cord 1 dengan -7dBm dBm
spesifikasi konektor FC
vs FC
2 Patch cord 2 dengan -7dBm dBm
spesifikasi konektor FC
vs FC
3 Sambungan 1 FC vs. FC -7dBm -12dBm
4 Sambungan 2 SC vs. SC -7dBm -50dBm
5 Sambungan 3 FC vs. SC -7dBm

Analisa
Dari data hasil praktikum pada percobaan ke-1, patch cord langsung
dihubungkan dengan light source dan power meter. Hasil loss yang terukur pada
power meter -8.43dBm. Hasil losses kemungkinan diakibatkan ujung core pada
konektor tidak rata dan penyambungan konektor dengan dengan light sorce dan
power meter kurang baik
Pada percobaan ke-2, patch cord langsung dihubungkan dengan light
source dan power meter. Hasil loss yang terukur pada power meter -25.37dBm.
Hasil losses kemungkinan diakibatkan ujung core pada konektor tidak rata dan
penyambungan konektor dengan dengan light sorce dan power meter kurang baik
Pada percobaan ke-3, kabel serat optik (KSO) konektor FC dengan FC
langsung dihubungkan dengan light source dan power meter dengan loss yang
terukur pada power meter -16.50dBm. Hasil losses kemungkinan diakibatkan
ujung core pada konektor tidak rata, penyambungan konektor dengan dengan light
sorce dan power meter kurang baik dan diakibatkan karena hasil losses splicing

LABORATORIUM FIBER OPTIK


PS. JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
KSO. Pada konektor FC dengan FC tidak menggunakan patch cord sebagai
converter.
Pada percobaan ke-4, kabel serat optik (KSO) konektor SC dengan SC
dihubungkan dengan patch cord 1 dan patch cord 2 sebagai converter dan patch
cord dihubungkan ke light source dan power meter. Loss yang terukur pada power
meter -47.46dBm, sehingga nilai loss sebenarnya = -47.46dBm - ( (-25.37dBm) +
(-8.43dBm)) = -13.36dBm. Hasil losses kemungkinan diakibatkan ujung core
pada konektor tidak rata, penyambungan patc cord dengan KSO yang diukur
kurang baik, penyambungan konektor dengan dengan light sorce dan power meter
kurang baik dan juga diakibatkan karena hasil losses splicing KSO.
Pada percobaan ke-5 kabel serat optik (KSO) konektor FC dengan SC,
bagian konektor SC dihubungkan dengan patch cord 1 sebagai converter dan
patch cord 1 dihubungkan ke light source dan bagian konektor FC dihubungkan
ke power meter . Loss yang terukur pada power meter -9.26dBm, sehingga nilai
loss sebenarnya = -9.26dBm-(-8.43dBm) = -0.83dBm. Hasil losses kemungkinan
diakibatkan ujung core pada konektor tidak rata, penyambungan patc cord dengan
KSO yang diukur kurang baik, penyambungan konektor dengan dengan light
sorce dan power meter kurang baik dan juga diakibatkan karena hasil losses
splicing KSO.

Kesimpulan
Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa untuk mengukur loss pada
kabel serat optik yang menggunakan konektor SC, diperlukan patch cord sebagai
converter. Sedangkan pengukuran loss pada kabel serat optik yang menggunakan
konektor FC, tidak diperlukan patch cord sebagai converter. Apabila pengukuran
loss menggunakan patch cord sebagai converter, maka nilai loss sebenarnya
merupakan pengurangan dari nilai yang terukur pada power meter dengan nilai
loss pada patch cord. Loss biasanya disebabkan karena beberapa hal, yaitu
kemungkinan diakibatkan ujung core pada konektor tidak rata, penyambungan
patc cord dengan KSO yang diukur kurang baik, penyambungan konektor dengan
dengan light sorce dan power meter kurang baik dan juga diakibatkan karena hasil
losses splicing KSO, dsb.

LABORATORIUM FIBER OPTIK


PS. JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
POLITEKNIK NEGERI MALANG