Anda di halaman 1dari 25

BAB III

TEKNIK PRODUKSI

Setelah proses pemboran dilakukan selanjutnya adalah proses produksi yaitu


suatu proses untuk mengangkat atau memproduksikan hidrokarbon dari reservoir
ke permukaan. Dari hasil perolehan minyak ini, diharapkan perusahaan minyak
akan mendapatkan keuntungan yang besar sebagai pengganti biaya eksplorasi
sebelumnya.

3.1. Perkiraan Produktivitas Reservoir


Produktivitas reservoir dapat dinyatakan sebagai kemampuan suatu
akumulasi hidrokarbon dalam batuan poros dan permeable untuk
memproduksi fluida yang dikandungnya.

3.1.1. Produktivity Index


Productivity Index (PI) secara umum didefinisikan sebagai indeks atau
derajat ukuran kemampuan suatu sumur untuk berproduksi. Atau secara
matematis yaitu perbandingan laju produksi yang dihasilkan oleh suatu
sumur pada suatu harga tekanan aliran dasar sumur tertentu dengan
perbedaan tekanan dasar sumur pada keadaan statis (Ps) dan tekanan dasa
sumur pada saat terjadi aliran (Pwf) yang secara matematis dapat dituliskan
sebagai berikut :
q
PI = J =
( Ps - Pwf)
dimana :
PI = J = Produktivity Index, bbl/hari/psi
q = laju produksi aliran total, bbl/hari
Ps = Tekanan statis reservoir, psi
Pwf = Tekanan dasar sumur waktu ada aliran, psi

Secara teoritis dapat didekati oleh persamaan radial dari darcy untuk
fluida homogen, incompressible dan horizontal. Dengan demikian untuk
aliran minyak saja berlaku hubungan :

-3
7. 082 x 10 x k x h
PI =
Bo x o x ln ( re/rw )

105
-3
7.082 x 10 h ko kw
PI =
ln( re/rw) ( +
o Bo w Bw )
dimana :
PI = productivity index, bbl/hari/psi
k = permeabilitas batuan, mD
kw = permeabilitas efektif terhadap sumur, mD
ko = permeabilitas efektif terhadap minyak, mD
o = viscositas minyak, cp
w = viscositas air, cp
Bo = faktor volume formasi minyak, bbl/STB
Bw = foktar volume formasi air, bbl/STB
re = jari-jari pengurasan sumur, ft
rw = jari-jari sumur, ft

Untuk membandingkan satu sumur dengan sumur yang lainnya


pada suatu lapangan terutama bila tebal lapisan produktifnya berbeda, maka
digunakan Specific Productivity Index (SPI) yang merupakan perbandingan
antara Productivity Index dengan ketebalan lapisan yang secara matematis
dapat dituliskan :

PI 7 .082 x 10-3 x k
SPI = Js = =
h Bo x ln (re/rw )

Pada beberapa sumur harga Productivity Indek akan tetap konstan


untuk laju aliran yang bervariasi, tetapi pada sumur lainnya untuk laju aliran
yang lebih besar productivity index tidak lagi linier tetapi justru menurun,
hal tersebut disebabkan karena timbulnya aliran turbulensi sebagai akibat
bertambahnya laju produksi, berkurangnya laju produksi, berkurangnya
permeabilitas terhadap minyak oleh karena terbentuknya gas bebas sebagi
akibat turunnya tekanan pada lubang bor, kemudian dengan turunnya
tekanan di bawah tekanan jenuh maka viscositas akan bertambah (sebagai
akibat terbebasnya gas dari larutan) dan atau berkurangannya permeabilitas
akibat adanya kompressibilitas batuan.

106
Berdasarkan pengalamannya, Kermitz E Brown (1967) telah mencoba
memberikan batasan terhadap besarnya produktivitas sumur, yaitu sebagai
berikut:
PI rendah jika besarnya kurang dari 0,5
PI sedang jika besarnya berkisar antara 0,5 sampai 1,5
PI tinggi jika lebih dar 1,5

Faktor-faktor yang mempengaruhi PI adalah karakteristik batuan dan


fluida resrvoir, ketebalan lapisan dan mekanisme pendorong.

1. Karakteristik batuan reservoir :

a. Permeabilitas
Permeabilitas adalah ukuran kemampuan batuan untuk
mengalirkan fluida. Dengan turunnya permeabilitas maka fluida
akan lebih sukar mengalir, sehingga kemampuan berproduksi atau
PI turun.

b. Saturasi
Saturasi adalah ukuran kejenuhan fluida dalam pori-pori
batuan. Dalam proses produksi, saturasi minyak berkurang dengan
naiknya produksi kumulatif minyak dan kekosongan diganti oleh
air atau gas bebas. Disamping itu proses produksi berlangsung terus
dengan penurunan tekanan sehingga timbul fasa gas yang
mengakibatkan saturasi gas bertambah dan saturasi minyak
berkurang. Hal ini akan mengurangi permeabilitas efektif terhadap
minyak sehingga dapat menurunkan PI.

2. Karakteristik fluida reservoir :

a. Kelarutan gas dalam minyak


Untuk tekanan reservoir yang lebih besar dari tekanan
gelembung (bubble point pressure), adanya drawdown pressure
tidak mengakibatkan perubahan terhadap permeabilitas karena

107
fluida yang mengalir masih terdiri dari satu fasa. Apabila tekanan
reservoir lebih kecil dari tekanan gelembung (bubble point
pressure), maka adanya drawdown pressure dapat mengakibatkan
permeabilitas berkurang karena hadirnya saturasi gas yang dapat
menghambat aliran minyak ke permukaan. Dengan kata lain bahwa
adanya perubahan fasa dalam reservoir yaitu timbulnya fasa gas
dalam bentuk gelembung yang akan mengisi ruang pori-pori batuan
akan menghalangi aliran minyak sehingga harga PI akan turun.

b. Faktor Volume Minyak


Diatas tekanan gelembung, penurunan tekanan akan
menyebabkan naiknya Bo akibat pengembangan minyak.
Sedangkan dibawah tekanan gelembung harga Bo turun dengan
cepat karena penyusutan akibat dibebaskannya gas yang terlarut.
Dengan kata lain kenaikan harga Bo akan menurunkan harga PI.
c. Viskositas
Viskositas adalah ukuran ketahanan fluida terhadap pengaliran.
Bila tekanan reservoir sudah berada di bawah tekanan bubble point
maka penurunan tekanan akan mengakibatkan bertambahnya gas
yang dibebaskan dari larutan, sehingga viskositas naik. Hal ini akan
mempengaruhi harga PI.

3. Drawdown

Semakin besar drawdown, maka besar pula laju lirannya, sehingga


PI naik. Tetapi dengan semakin besarnya drawdown mengakibatkan
mengecilnya Pwf, sehinga di bawah tekanan saturasi akan
mengakibatkan dibebaskannya gas yang terlarut dalam hal ini akan
menyebabkan turunya harga PI.
Dengan terbebaskannya gas yang semula larut dalam minyak akan
mengakibatkan kehilangan tekanan yang besar dalam aliran vertikal ke
permukaan sehingga Tubing Head Pressure (THP) yang dihasilkan akan

108
kecil, dan ini memungkinkan ketidakmampuan untuk mengalirkan
fluida selanjutnya ke separator, karena tidak dapat mengatasi tekanan
balik yang terjadi. Disamping itu laju produksi minyak akan turun
karena terhambat oleh aliran gas. Perlu kita perhatikan bahwa, dengan
membesarnya drawdown untuk formasi yang kurang kompak dapat
menimbulkan masalah terproduksinya pasir.

4. Ketebalan Lapisan

Semakin tebal suatu zona produktif, maka makin besar pula harga
PI yang berarti laju produksi juga dapat naik tetapi apabila lapisan
tersebut diselingi oleh lapisan tipis dari air maupun gas, maka laju
produksi minyak akan berkurang. Terproduksinya air dapat pula
menyebabkan terjadinya scale yang mengurangi kapasitas kerja dari
alat-alat atau terjadi korosi pada alat. Untuk mencegah hal ini, antara
lain dengan memasang casing, sehingga menembus formasi/zona
produktif, kemudian diperforasi pada interval-interval minyaknya.

5. Mekanisme Pendorong

Kecepatan perubahan tekanan reservoir akibat proses produksi


sangat dipengaruhi oleh jenis mekanisme pendorong yang dimilikinya.
a. Solution Gas Drive
Semakin turun tekanannya semakin banyak gas yang
dibebaskan dari larutan, sehingga saturasi gas naik dan saturasi
minyak turun yang menyebabkan permebilitas efektif minyak (ko)
turun, sehingga PI turun. Bila tekanan masih berada di atas tekanan
saturasi maka PI konstan, karena belum ada gas yang dibebaskan .
b. Gas Cap Drive
Penurunan tekanan agak lambat dibandingkan dengan solution
gas drive. Hal ini disebabkan karena tenaga pendorong selain dari
pengembangan gas juga oleh pendesakan dari gas cap drive.
Akibatnya penurunan PI tidak secepat pada solution gas drive.

109
c. Water Drive
Selama pengosongan minyak dari reservoir oleh water influx,
sehingga tidak dapat mengimbangi pengosongan, maka tekanan
akan turun sampai dibawah tekanan saturasi, sehingga terbentuk
fasa gas. Dalam kondisi ini dapat terjadi aliran minyak, air dan gas,
dimana PI-nya akan turun selama produksi berlangsung.

3.1.2. Inflow Performance Relationship


Inflow Performance Relationship (IPR) adalah suatu studi tentang
performance aliran fluida dari reservoir menuju lubang bor (sumur),
dimana performance ini akan tergantung kepada PI secara grafis.
Kurva IPR dapat berupa liner atau tidak tergantung pada jumlah fluida
yang mengalir. Untuk fluida satu fasa akan membentuk kurva yang linier
dan untuk fluida dua fasa kurva yang terbentuk akan lengkung (tidak
linier), dan harga PI tidak lagi merupakan harga yang konstan karena
kemiringan garis IPR akan berubah secara kontinyu untuk setiap harga
Pwf.
Perhitungan kinerja aliran fluida dari formasi ke lubang sumur dapat
dikelompokkan berdasarkan kriteria sebagai berikut :
1. Aliran satu fasa
Aliran fluida 1 fasa telah dikembangkan oleh Darcy untuk
kondisi aliran radial, dimana dalam suatu lapangan persamaan tersebut
berbentuk :
0.00708 K o h (PPwf )
q=

( )
o Bo ( ln
rw
0.75+S+a ' q)

2. Aliran dua fasa


Apabila yang mengalir adalah fluida dua fasa (minyak dan gas),
maka bentuk kurva IPR membentuk melengkung.

a. Persamaan Pesoudo-pressure Function


Aliran semi mantap, dimana tidak ada aliran pada batas
reservoir, persamaan laju aliran minyak pada kondisi aliran dua
fasa (gas dan minyak) adalah sebagai berikut :

110
m(Prm ( Pwf ) )
0.00708 K o h
q=
(ln

rw ( )
0.5+S )
b. Persamaan Vogel
Untuk memudahkan perhitungan kinerja aliran fluida dua
fasa dari formasi ke lubang sumur, Vogel mengembangkan
persamaan sederhana. Adapun anggapan pada persamaan Vogel
yaitu :
Reservoir bertenaga dorong gas terlarut
Harga skin disekitar lubang sama dengan nol
Tekanan reservoir dibawah tekanan saturasi

Untuk memperoleh nilai laju produksi didapatkan persamaan


sebagai berikut :

qo 2

qomax
=10.2 ( ) (( ) )
Pwf
Pr
0.8
Pwf
Pr

Persamaan Vogel dikembangkan dalam memperhitungkan


kondisi dimana tekanan reservoir berada diatas tekanan saturasi.
Pada kondisi ini kurva IPR terdiri dari dua bagian yaitu Pwf > Pb
yang membentuk kurva linier dan Pwf < Pb yang membentuk
kurva tidak linier.
Pada bagian kurva yang linier, maka persamaan yang
digunakan yaitu :

q o=J (PsPwf )

Pada bagian kurva yang tidak linier (Pwf < Pb), maka
persamaan yang digunakan yaitu, :

( ( ) (( ) ))
2
Pwf Pwf
q o=q b ( Qomax Qb ) 10.2 0.8
Pr Pr

dimana,

111
qb = laju alir oil pada tekanan saturasi
Pb = tekanan saturasi
Qb = J (Pb/1.8)
J = Index Productivity

Umumnya di sekitar lubang sumur terjadi kerusakan formasi


sehingga kondisi sekitar lubang sumur tidak sesuai dengan
kondisi sumur sebenarnya. Sehingga beberapa metode
dikembangkan, yaitu :
1) Persamaan standing
Metode Standing merupakan modifikasi persamaan
Vogel berdasarkan kenyataan bahwa untuk sumur yang
mengalami kerusakan terjadi tambahan kehilangan tekanan di
sekitar lubang bor.
Standing juga mengajukan grafik yang
memperhitungkan suatu kondisi dimana flow efficiency tidak
sama dengan 0 . Flow efficiency merupakan perbandingan
antara productivity index actual dengan ideal. Nilai FE < 1
apabila sumur mengalami kerusakan, nilai FE > 1 apabila
sumur mengalami perbaikan sebagai hasil stimulasi, dan FE
= 1 apabila sumur tidak mengalami kerusakan.
J Ideal Drawdown PrP' wf
FE= actual = = .
J ideal Actual Drawdown PrPwf
P' wf =Pr FE ( PrPwf ) .

Pskin merupakan perbandingan antara Pwf dan Pwf.


Van Everdingen telah menemukan persamaan perhitungan
Pskin, yaitu :
q
Pskin=S .
2 Kh
Untuk laju alir maksimum yang dihasilkan adalah laju
produksi maksimum pada harga skin sama dengan 0, dan

112
untuk menghitung laju produksi maksimum pada harga FE
yang dimaksud, maka pada tekanan alir dasar sumur
sebenarnya yang sama dengan 0 di ubah menjadi tekanan alir
dasar sumur pada kondisi ideal.

qo 2

qomax
=10.2 ( P' wf
Pr ) ((
0.8
P ' wf
Pr ))
atau
qo 2

qomax (FE=1)
=1.8(FE) 1 ( Pwf
Pr )
0.8 ( FE 2 ) (( ) )
Pwf
Pr

Standing memodifikasi persamaan Vogel untuk


digunakan ketika FE tidak sama dengan 1 dan juga
diterapkan pada undersaturated reservoir. Dan didapatkan
persamaan :

[ ) )]
2
J Pb
q o=J ( PrPb ) +
1.8
1.8 1
Pwf
Pr (
0.8 1
Pwf
Pr ) ((
Kelemahan dari metode Standing terhadap grafik IPR
yang dihasilkan, yaitu :
Hampir lurus untuk FE < 1 meskipun kondisi aliran
adalah dua fasa.
Berlawanan dengan definisi kinerja aliran fluida dari
formasi ke lubang sumur.

2) Persamaan Cauto
Couto memanipulasi persamaan Standing untuk kinerja
aliran fluida dari formasi ke lubang sumur, dengan cara
mendefinisi indeks produktivitas. Persamaan yang hasilkan
adalah sebagai berikut :
ko
q o=0.00419
((
h


o Bo
) ( )
Pr ( FE ) (1R)(1.80.8 ( FE )( 1R ))
ln 0.472
rw )
113
3) Persamaan Fetkovich
Fetkovich menganalisa hasil uji back-pressure yang
dilakukan di sumur-sumur minyak yang berproduksi dari
berbagai kondisi reservoir. Dari analisa ini disimpulkan
bahwa kurva back pressure di sumur minyak mengikuti kurva
back pressure di sumur gas, yaitu plot antara qo terhadap (Pr2
Pwf2).
Grafik IPR sumur minyak dari uji back pressure dapat
dinyatakan dalam bentuk persamaan :
q o=C ( ( P r 2Pwf 2)n )
dimana,
C = flow coefficient,
n = 1/kemiringan

n merupakan faktor turbulensi, dimana nilai n


mendekati 1 menandakan tidak terjadi turbulensi, dan nilai n
lebih kecil dari 1 atau minimum 0.5 terjadi turbulensi. Nilai n
dapat dicari dari grafik log qo vs log (Pr2-Pwf2) dengan
menentukan dua titik dan dimasukan kedalam persamaan
berikut :
P
P
( r )2log( r 2)1
2

log
log q2log q1
n=

3. Aliran 3 fasa
M.L, Wiggins mengembangkan persamaan Vogel, sehingga
menjadi persamaan IPR untuk aliran tiga fasa, dengan membuat
persamaan untuk minyak dan air sebagai berikut :

qo 2

qomax
=10.52
Pwf
( )
Pr
0.48
Pwf
Pr (( ) )

114
Gambar 3.1. Kurva IPR

3.1.3. Peramalan Inflow Performance Relationship


Metode peramalan IPR ini hanya berlaku pada kondisi aliran dua fasa
(minyak dan gas) atau tekanan reservoir lebih kecil dari tekanan saturasi.
1. Faktor Skin sama dengan nol
Dalam kelompok ini ada metode Standing, dengan persamaan :

[ ( ) ( )]
2
Pwf Pwf
q o(F )=qo (max) F 10.2 0.8
Pr Pr
Atau
J F P RF
[ ( ) ( )]
2
Pwf Pwf
q o(F )= 10.2 0.8
1.8 Pr Pr
Dimana,
P
P
( RP )

P RP f
( RF )

P RF f

q o(max )F =q o(max)P

115
k
( ro/ o Bo )F
f PRF =
k
( ro o B o) P
f P RP=
2. Faktor Skin tidak sama dengan nol
Dalam kelompok ini terdapat metode couto berdasarkan
pengembangan dari persamaan vogel dengan meramalkan tekanan
reservoir yang akan datang, metode Fetkovich berdasarkan
pengembangan empiris.
Metode Fetkovich
PRF 2 n
q o(F )=J
Pri
( Prf Pwf )

3.1.4. Inflow Performance Gas


Rawlins dan Schhellhardt mengembangkan persamaan empiris pada
tahun 1935 yang sering disebut persamaan back pressure. Pada tes uji back
pressure diperoleh nilai Absolute Open Flow sumur. AOF adalah besarnya
produksi sumur pada tekanan atmosfir.
q sc =C (( P r 2 Pwf 2) n)
Selain persamaan diatas, Metode Jones dapat juga diterapkan pada
perhitungan inflow performance pada sumur gas. Metode ini dapat
diterapkan pada aliran turbulen dan laminer.
A ' = A+ B( AOF )
dimana,
0.5
A+ [ A 2+ 4 B P r 2 ]
AOF =
2B
3.1.5. Aliran Multifasa pada Pipa
Aliran multifasa pada pipa didefinisikan sebagai pergerakan dari gas
bebas dan liquid dalam pipa secara bersamaan. Pada kondisi ini gas dan
liquid diibaratakan sebagai campuran yang homogeneus, atau liquid

116
mungkin berbentuk slug dengan gas yang mendorongnya dari belakang.
Masalah aliran multifasa dapat dibedakan menjadi 4 kategori, yaitu :
1. Vertikal Multiphase flow
2. Horizontal Multiphase flow
3. Inclined Multiphase flow
4. Directional Multiphase flow
Dalam sistem sumur produksi, keempat persoalan aliran diatas dapat
ditemui dimana fluida multifasa dari reservoir masuk kelubang sumur
dimana aliran fluida reservoir dalam tubing dapat berupa aliran vertikal
ataupun aliran directional maupun incline kemudian fluida mengalir ke
kepala sumur dan dilanjutkan mengalir ke tanki pengumpul melalui pipa
salur horizontal atau miring sesuai permukaan tanah. Dalam sistem aliran
tersebut akan ada kehilangan tekanan dari fluida yang mengalir, banyaknya
metode yang telah dikembangkan untuk memperkirakan besarnya
kehilangan tekanan aliran tersebut.

3.2. Sistem Analisa Nodal


Analisa nodal merupakan salah satu pendekatan sistem analisis untuk
menganalisa performa suatu sumur hidrokarbon berdasarkan kondisi
sistem yang ada pada sumur tersebut. Sistem produksi sumur terdiri atas
sejumlah komponen-komponen yang saling berinteraksi dimana performa
masing-masing komponen tersebut akan memberikan pengaruh terhadap
performa sumur secara keseluruhan. Tujuan utama analisa nodal adalah
untuk mendapatkan laju produksi optimum dari sumur minyak dengan
melakukan evaluasi secara lengkap pada sistem sumur. Pemilihan
kombinasi komponen yang tepat pada sistem sumur tersebut akan
memberikan hasil optimal terhadap produksinya.
Nodal merupakan titik pertemuan antara 2 komponen, dimana titik
pertemuan tersebut secara fisik akan terjadi keseimbangan, dalam bentuk
keseimbangan massa ataupun keseimbangan tekanan. Hal ini berarti
bahwa massa fluida yang keluar dari suatu komponen akan sama dengan

117
masa fluida yang masuk ke dalam komponen berikutnya yang akan saling
berhubungan atau teanan di ujung suatu komponen akan sama dengan
tekanan di ujung komponen lain yang berhubungan.
Hal dasar yang diperlukan untuk analisa optimasi sumur dengan
analisa sistem nodal adalah Inflow Performance Relationship (IPR) sumur
pada kondisi terkini. Kemudian model dari komponen-komponen sumur
dapat digunakan untuk memprediksi performa sumur.
Dalam sistem sumur produksi dapat ditemukan 4 titik nodal, yaitu :
1. Titik nodal di dasar sumur
Titik nodal ini merupakan pertemuan antara komponen formasi
produktif/reservoir dengan komponen tubing apabila komplesi sumur
adalah open hole atau titik pertemuan antara komponen tubing dengan
komplesi apabila sumur diperforasi / dipasangi gravel pack.
2. Titik nodal di kepala sumur
Titik nodal ini merupakan titik pertemuan antara komponen tubing
dan komponen pipa salur dalam hal ini sumur tidak dilengkapi dengan
jepitan atau merupakan titik pertemuan antara komponen tubing dengan
komponen jepitan apabila sumur dilengkapi dengan jepitan.
3. Titik nodal di separator
Pada titik nodal ini mempertemukan komponen pipa salur dengan
komponen separator.
4. Titik nodal di Upstream / Downstream jepitan.
Sesuai dengan letak jepitan, titik nodal ini dapat merupakan
pertemuan antara komponen jepitan dengan komponen tubing, apabila
jepitan dipasang di tubing sebagai safety valve atau merupakan
pertemuan antara komponen tubing dipermukaan dengan komponen
jepitan, apabila jepitan dipasang di kepala sumur.

118
Gambar 3.2. Gambar Sistem kehilangan tekanan di dalam sumur
(Brown, Kermit E., 1977)

3.3. Permasalahan Produksi


Pada prinsipnya problem produksi yang mengakibatkan tidak
optimumnya produksi minyak di suatu sumur dapat dikelompokkan
menjadi dua kelompok :
1. Menurunnya produktivitas formasi
a. Problem kepasiran
Sebab sebab dari terproduksinya pasir berhubungan
dengan :
Tenaga pengerukan (drag force), yaitu tenaga yang
terjadi oleh aliran fluida dimana laju aliran dan
visositasnya meningkat menjadi lebih tinggi.
Pengurangan kekuatan formasinya, hal ini sering
dihubungkan dengan produksi air, karena melarutkan
material penyemen atau pengurangan gaya kapiler
dengan meningkatnya saturasi air.
Penurunan tekanan reservoir, dengan penurunan ini akan
mengganggu sifat penyemenan antar batuan.

119
Ikut terproduksinya pasir pada operasi produksi
menimbulkan problem produksi. Problem produksi ini
biasanya berhubungan dengan formasi dangkal berumur
tersier yang umumnya batupasir berjenis lepas-lepas
(unconsolidated sand) dengan sementasi antar butiran kurang
kuat. Hal ini berarti pekerjaan komplesi sumur menjadi
perhatian kritis dalam zona-zona kepasiran.
b. Problem coning
Terproduksinya air atau gas yang berlebihan tidak
hanya menurunkan produksi minyak, tetapi juga dapat
mengakibatkan sumur ditutup atau ditinggalkan sebelum
waktunya. Selain itu terproduksinya air atau gas yang
berlebihan akan menyebabkan proses pengolahan selanjutnya
menjadi lebih sulit.
Terproduksinya air atau gas berlebihan dapat
disebabkan karena:
Pergerakan air atau posisi batas air minyak telah
mencapai lubang perforasi.
Pergerakan gas atau batas gas minyak telah mencapai
lubang perforasi.
Terjadinya water fingering atau gas fingering

2. Menurunnya laju produksi


a. Problem emulsi
Emulsi adalah campuran dua jenis cairan yang tidak
dapat campur. Dalam emulsi salah satu cairan dihamburkan
dalam cairan lain berupa butiran-butiran yang sangat kecil.
Emulsi kental memiliki jumlah oksigen droplet yang
dihamburkan dalam cairan lebih banyak dan emulsi encer
adalah sebaliknya. Emulsi semacam itu ditinjau dari

120
viskositasnya. Sedang berdasarkan fasanya maka emulsi
dibagi menjadi dua yaitu :
Air dalam emulsi minyak (water in oil emulsion) jika
minyak sebagai fasa eksternal dan air menjadi fasa
internal.
Minyak dalam emulsi air (oil in water emulsion) jika
sebaliknya
b. Problem scale
Endapan scale adalah endapan mineral yang terbentuk
pada bidang permukaan yang bersentuhan dengan air formasi
sewaktu minyak diproduksikan ke permukaan. Timbulnya
endapan scale tergantung dari komposisi air yang
diproduksikan. Jika kelarutan ion terlampaui maka komponen
menjadiu terpisah dari larutan sebagai padatan, dan
membentuk endapan scale. Sebab-sebab terjadinya endapan
scale antara lain :
Air tak kompatibel
Air tak kompatibel adalah bercampurnya dua
jenis air yang tak dapat campur akibat adanya
kandungan dan sifat kimia ion-ion air formasi yang
berbeda. Jika dua macam air ini bercampur maka
terjadi ion-ion yang berlainan sifat tersebut sehingga
menyebabkan terbentuknya zat baru tersusun atas
kristal-kristal atau endapan scale.
Penurunan tekanan
Selama produksi terjadi penurunan tekanan
reservoir akibat fluida diproduksikan ke permukaan.
Penurunan tekanan ini terjadi pada formasi ke dasar
sumur, ke permukaan dan dari kepala sumur ke tangki
penimbun. Adanya penurunan tekanan ini, maka gas
CO2 jadi terlepas dari ion-ion bikarbonat. Pelepasan

121
CO2 menyebabkan berubahnya kelarutan ion yang
terkandung dalam air formasi sehingga mempercepat
terjadinya endapan scale.
Perubahan temperatur
Sejalan dengan berubahnya temperatur (ada
kenaikkan temperatur ) terjadi penguapan, sehingga
terjadi perubahan kelarutan ion yang menyebabkan
terbentuknya endapan scale. Perubahan temperatur ini
disebabkan oleh penurunan tekanan .
Faktor-faktor lainnya
Agitasi menyebabkan terjadinya turbulensi aliran,
sehingga endapan scale lebih cepat terbentuk. Semakin
lama waktu kontak semakin besar pula endapan scale
yang terbentuk. Semakin besar pH larutan
mempercepat terbentuknya endapan scale.
c. Problem korosi
Problem korosi timbul akibat adanya air yang
berasosiasi dengan minyak dan gas pada saat diproduksikan
ke permukaan. Air bersifat asam atau garam, atau keduanya
dan kecenderungan mengkorosi logam yang disentuhnya.
Besi umumnya mudah bersenyawa dengan sulfida dan
oksigen, sehingga korosi yang dihasilkan berupa feri oksida.
Untuk itu adanya anggapan bahwa korosi merupakan reaksi
antara besi dengan oksigen atau hidrogen sulfida sebagai
berikut :
4 Fe+++ + 3 O2 2 Fe2O3 (karat)
Fe++ + H2S FeS + H2 (karat)
Besi tidak bisa bereaksi dengan oksigen kering atau
hidrogen sulfida kering pada temperatur biasa karena korosi
hanya dapat terjadi jika ada air.

122
Korosi sebenarnya merupakan proses elektrokimia
yaitu proses listrik yang terjadi setelah reaksi kimia dan
disebabkan oleh kandungan garam dan asam dalam air. Jika
ada dua permukaan logam berbeda muatan listrik maka
terjadi aliran listrik melalui air.
Korosi pada logam dapat dapat disebabkan oleh
beberapa hal, yaitu :
1. Pengaruh komposisi logam, dimana setiap logam yang
berbeda mempunyai kecenderungan yang berbeda
terhadap korosi.
2. Pengaruh komposisi air, dimana pengkaratan oleh air
akan meningkat dengan naiknya konduktivitas.
Disamping itu pengkaratan oleh air juga akan
meningkat dengan menurunnya pH air.
3. Kelarutan gas, dimana oksigen, karbon dioksida atau
hidrogen sulfida yang terlarut didalam air akan
menaikkan korosivitas secara drastis. Gas yang terlarut
adalah sebab utama problem korosi.
d. Problem parafin
Terbentuknya endapan parafin dan aspal disebabkan
oleh perubahan kesetimbangan fluida reservoir akibat
menurunnya kelarutan lilin dalam minyak mentah.
Pengendapan yang terjadi pada sumur produksi dipengaruhi
oleh kelarutan minyak mentah dan kandungan lilin dalam
minyak. Kristal-kristal lilin yang menjarum berhamburan
dalam minyak mentah saat berbentuk kristal-kristal tunggal.
Bahan penginti (nucleating agent) yang terdapat bersama-
sama dengan kristal lilin dapat memisahkan diri dari larutan
minyak mentah dan membentuk endapan dalam sumur
produksi.

123
Penyebab utama terbentuknya endapan parafin dan
aspal adalah penurunan tekanan karena kelarutan lilin dalam
minyak mentah menurun saat menurunnya temperatur.
Adanya gerakan ekspansi gas pada lubang perforasi dan di
dasar sumur dapat menyebabkan terjadinya pendinginan atau
penurunan temperatur sampai di bawah titik cair parafin,
sehingga timbul parafin dan aspal. Terlepasnya gas dan
hidrokarbon ringan dari minyak mentah bisa menyebabkan
penurunnan kelarutan lilin, sehingga terbentuk endapan
parafin dan aspal. GOR yang tinggi dapat mempercepat
terbentuknya endapan parafin dan aspal.

3.4. Metode Produksi

3.4.1. Sembur Alam (Natural Flow)


Sembur alam adalah memproduksikan sumur produksi secara
alamia dengan kemanpuan pressure reservoir untuk mendorong fluidanya
hingga ke permukaan tanpa menggunakan alat bantuan. Hal ini
karenakan pressure reservoir yang masih manpu mendoron fluida ke
permukaan dengan pressure pada reservoir yang cukup tinggi. Sumur
produksi akan terus di produksikan secara alamia selama tekananya
masih mampu dan masih ekonomis dalam segi ke ekonomiannya.
Produksi ini memamfaatkan mekanisme pendorong pada reservoir,
seperti halnya dari gas-gas bebas maupun dari minyak itu sendiri,
keduanya memiliki tekanan, dimana pada kondisi tertentu tekanan
tersebut dapat menaikkan fluida dari dasar sumur ke permukaan melalui
tubing tanpa memerlukan tenaga (tekanan) bantuan yang berasal dari
luar.
Untuk menjaga sumur-sumur produksi tetap berproduksi dalam
jangka waktu semburan yang agak lama, maka pada alat christmas tree
dipasang choke yang mempunyai diameter jauh lebih kecil dari pada
diameter tubing.

124
3.4.2. Metoda Sembur Buatan
Pengangkatan buatan adalah merupakan suatu usaha untuk
membantu mengangkat fluida dari sumur produksi ke permukaan dengan
jalan memberikan energi mekanis dari luar. Metoda pengangkatan buatan
yang umum digunakan selama ini dalam metoda artificial lift adalah
dengan menggunakan jenis peralatan gas lift, pompa sucker rod, dan
pompa sentrifugal (pompa reda) yang masing-masing peralatan tersebut
akan dijelaskan di bawah ini.
3.4.2.1. Gas Lift
Gas lift adalah suatu usaha pengangkatan fluida sumur dengan cara
menginjeksikan gas bertekanan tinggi (minimal 250 psi) sebagai media
pengangkat ke dalam kolom fluida melalui valve-valve yang dipasang
pada tubing dengan kedalaman dan spasi tertentu.
Syarat-syarat suatu sumur yang harus dipenuhi agar dapat
diterapkan metoda gas lift antara lain :
1. Tersedianya gas yang memadai untuk injeksi, baik dari reservoir itu
sendiri maupun dari tempat lain.
2. Fluid level masih tinggi.

A. Prinsif Kerja Gas Lift


Gas lift didefinisikan sebagai suatu proses atau metode untuk
membantu memproduksikan fluida dari lubang sumur dengan cara
menginjeksikan gas yang bertekanan tinggi ke dalam kolom
fluidanya.
Pengangkatan fluida dengan cara gas lift didasarkan pada
pengurangan gradien tekanan fluida di dalam tubing,
pengembangan dari gas yang diinjeksikan serta pendorongan fluida
oleh gas injeksi yang bertekanan tinggi. Ketiga faktor dapat bekerja
sendiri-sendiri atau merupakan kombinasi dari ketiganya.
Fluida yang berada di dalam annulus antara tubing dan
casing ditekan dengan gas injeksi, sehingga permukaan fluidanya

125
akan turun di bawah valve, selanjutnya valve ini (valve paling atas)
akan membuka, sehingga gas injeksi akan masuk ke dalam tubing.
Dengan bercampurnya gas injeksi dengan fluida reservoir, maka
densitas minyak akan turun dan mengakibatkan gradien tekanan
minyak berkurang sehingga akan mempermudah fluida reservoir
mengalir ke permukaan.

Ada dua cara pengangkatan buatan dengan metode gas lift,


yaitu penginjeksian secara kontinyu (continuous flow gas lift) dan
penginjeksian terputus-putus (intermittent flow gas lift).
a. Continuous gas lift, yaitu gas diinjeksikan secara terus
menerus ke dalam annulus melalui valve yang dipasang pada
tubing, maka gas akan masuk ke dalam tubing. Metode ini
digunakan pada sumur yang mempunyai Productivity Index
(PI) tinggi dan tekanan statis dasar sumur (Ps) tinggi, relative
terhadap kedalaman sumur, dimana PI tinggi besarnya adalah
> 0.5 B/D/psi dan Ps tinggi artinya dapat mengangkat kolom
cairan minimum 70% dari kedalaman sumur. Pada tipe sumur
ini, laju produksi berkisar antara 200 20000 B/D, melalui
ukuran tubing yang normal.
b. Intermittent gas lift, yaitu gas diinjeksikan secara terputus-
putus pada selang waktu tertentu, sehingga dengan demikian
injeksi gas merupakan suatu siklus dan diatur sesuai dengan
laju fluida yang mengalir dari formasi ke lubang sumur.
Intermittent flow gas lift digunakan pada sumur-sumur
dengan volume fluida rendah atau sumur-sumur yang
mempunyai Productivity Index (PI) rendah dan Ps rendah,
dimana PI rendah mampunyai besar < 0.5 B/D/psi dan Ps
rendah artinya kolom cairan yang terangkat kurang dari 70%.

126
3.4.2.2. Pompa Sucker Rod
Sucker rod pump merupakan salah satu metoda pengangkatan
buatan, dimana untuk mengangkat minyak ke permukaan digunakan
pompa dengan tangkai pompa (rod). Pompa ini digunakan pada sumur-
sumur dengan viskositas rendah medium, tidak ada problem kepasiran,
GOR tinggi, sumur-sumur lurus dan fluid level tinggi.
A. Prinsip Kerja Pompa Sucker Rod
Prinsip kerja dari pompa sucker rod dapat dijelaskan sebagai
berikut : Gerak rotasi dari prime mover diubah menjadi gerak naik
turun oleh pumping unit terutama oleh sistem pitman crank
assembly. Kemudian gerak angguk (naik turun) ini oleh horse head
dijadikan gerak lurus naik turun untuk menggerakkan plunger.
Instalasi pumping unit di permukaan dihubungkan dengan pompa
yang ada dalam sumur oleh sucker rod sehingga gerak lurus naik
turun dari horse head dipindahkan ke plunger pompa dan plunger
bergerak naik turun dalam barrel pompa.
Pada saat up-stroke, plunger bergerak ke atas, di bawah
plunger terjadi penurunan tekanan. Karena tekanan dasar sumur
lebih besar dari tekanan dalam pompa maka akibatnya standing
valve terbuka dan minyak masuk ke dalam pompa. Pada saat down-
stroke, standing valve tertutup karena tekanan dari minyak dalam
barrel pompa, sedangkan pada bagian atasnya, yaitu traveling valve
terbuka oleh tekanan minyak akibat dari turunnya plunger,
selanjutnya minyak akan masuk ke dalam tubing. Proses ini
dilakukan secara berulang-ulang sehingga minyak akan sampai ke
permukaan dan terus ke separator melalui flow line.

127
Gambar 3.3. Sucker Rod Pump

3.4.2.3. Electric Submersible Pump (ESP)


Electric submersible pump digunakan pada sumur-sumur yang
dalam dan dapat memberikan laju produksi yang besar. Selain untuk
sumur produksi, ESP juga dapat untuk proyek-proyek water flooding dan
pressure maintenance, dimana ESP dipasang pada sumur-sumur injeksi.
Selain dari itu dapat juga digunakan pada sumur-sumur yang tidak
menggunakan tubing (tubingless completion) dan produksi dilakukan
melalui casing. Pada umumnya pompa jenis ini digunakan pada sumur-
sumur artificial lift dengan produksi besar dan GOR rendah.
Pada dasarnya electric submersible pump ini adalah merupakan
pompa sentrifugal bertingkat banyak, dimana poros dari pompa
sentrifugal dihubungkan langsung dengan penggerak. Motor penggerak
ini menggunakan tenaga listrik, sedangkan sumber listriknya diambil dari
power plant, dimana tenaga listrik untuk pompa disuplai dari switch
board dan transformator di permukaan dengan perantara kabel listrik
yang di-clamp pada tubing dengan jarak 15 hingga 20 ft.
Setiap tingkat dari pompa sentrifugal terdiri dari impeller (bagian
yang berputar) dan diffuser (bagaian yang diam). Tenaga dalam bentuk
tekanan didapat dari cairan yang dipompakan disekitar impeller. Gerakan
berputar impeller mengakibatkan cairan ikut berputar, yaitu arah radial

128
(akibat dari gaya sentrifugal) dan arah tangensial.

A. Prinsip Kerja Electric Submersible Pump


Prinsip kerja Electric submersible pump adalah berdasarkan
pada prinsip kerja pompa sentrifugal dengan sumbu putarnya tegak
lurus. Pompa sentrifugal adalah motor hidrolik dengan jalan
memutar cairan yang melalui impeller pompa, cairan masuk ke
dalam impeller pompa menuju poros pompa, dikumpulkan oleh
diffuser kemudian akan dilempar ke luar. Oleh impeller tenaga
mekanis motor dirubah menjadi tenaga hidrolik. Impeller terdiri
dari dua piringan yang didalamnya terdapat sudu-sudu, pada saat
impeller diputar dengan kecepatan sudut , cairan dalam impeller
dilemparkan keluar dengan tenaga potensial dan kinetik tertentu.
Cairan yang ditampung dalam rumah pompa kemudian
dievaluasikan melalui diffuser, sebagian tenaga kinetik dirubah
menjadi tenaga potensial berupa tekanan. Karena cairan dilempar
ke luar maka terjadi proses penghisapan.
Gambar 3.4. Electric Submersible Pump

129