Anda di halaman 1dari 16

BAB 3

PEMERIKSAAN AUTOANTIBODI

3.1 Pemeriksaan Anti Nuclear Antibody (ANA)


3.1.1 Teknik Indirek Fluoresen Antibodi (IFA) ANA/HEP-2 (Diagnostic

Otomation, 2010)
3.1.1.1 Prinsip Pemeriksaan
Uji ANA/HEp-2 merupakan kit yang sudah distandardisasi untuk

mendeteksi adanya ANA pada serum manusia. Sistem ini bekerja pada substrat

kultur sel dan goat anti-human immunoglobulin yang telah disesuaikan untuk

penggunaan yang optimum dan pewarnaan yang non spesifik atau bebas. Reaksi

terjadi dalam 2 langkah :


1. Interaksi pertama ANA pada serum pasien dengan substrat kultur sel.
2. Interaksi kedua adalah anti-human immunoglobulin yang telah dilabel

dengan FITC dengan antibodi yang berikatan dengan substrat sel pada

langkah pertama.
3.1.1.2 Spesimen

Serum yang fresh atau serum yang disimpan dengan ketentuan: pada suhu

ruangan tidak lebih dari 8 jam, suhu 2-10 C tidak lebih dari 48 jam, suhu -20 C

atau lebih rendah jika ditunda lebih dari 48 jam. Pembekuan dan thawing yang

berulang sangat dihindari karena dapat menyebabkan hilangnya aktivitas antibodi

dan dapat menimbulkan kesalahan pada hasil.

3.1.1.3 Alat dan Bahan


1. Pipet kecil selogis, pasteur, kapiler atau otomatis
2. Tabung pemeriksaan yang kecil, 13x100 mm atau yang sebanding
3. Tempat pewarnaan
4. Cover slips
5. Ruang basah
6. Aqua destilata
7. Pipet 5 ml
8. Pipet multi-channel (5, 10, 15, dan 195 ml)
9. Tempat pembuangan reagen PBS dan konjugat
10. Piringan mikrotiter pengenceran sampel
11. Mikroskop fluoresen
3.1.1.4 Bahan yang telah disediakan

1
Reagen reaktif :

1. Goat anti-human immunoglobulin yang telah di label dengan fluorescein

isothiocyanate (FITC)
2. Serum kontrol positif ANA
3. Serum kontrol negatif ANA
4. Evan blue counterstain
5. Slide substrat kultur sel ANA HEp-2
6. Diluent yang diformulasi untuk mengurangi pewarnaan non spesifik

Reagen non reaktif

1. Phosphate-buffered-saline (PBS), pH 7,2 0,2


2. Phosphate buffered glycerol (media penempelan)
3. Cover slips
4. Plate dilusi sampel untuk mempersiapkan pengenceran sampel
5. Pengering tinta
3.1.1.5 Penyimpanan
1. Slide substrat kultur sel disimpan pada suhu -20 C - 8 C
2. Goat anti-human immunoglobulin yang telah dilabel dengan FITC

disimpan pada suhu 2-8 C


3. Diluent disimpan pada suhu 2-8 C
4. Phosphate-buffered-saline (PBS) disimpan pada suhu 2-25 C (stabil

sampai 30 hari jika disimpan pada suhu 2-8 C)


5. Phosphate buffered glycerol disimpan pada suhu 2-8 C
3.1.1.6 Kontrol Kualitas
1. Dilakukan setiap melakukan pemeriksaan, kontrol positif, kontrol

negatif, dan buffer harus masuk.


2. Direkomendasikan untuk kontrol positif dan negatif dibaca lebih dahulu

untuk mengevaluasi sampel pemeriksaan. Jika kontrol tidak tampak

seperti yang telah dideskripsikan, hasil invalid.


a. Kontrol negatif : ditandai dengan tidak adanya fluoresen spesifik dan

pewarnaan latar belakang merah dari semua sel


b. Kontrol positif homogen ditandai oleh fluoresen apple-green.
3. Kontrol tambahan dapat dilakukan, sesuai dengan protap daearah atau

organisasi setempat.
3.1.1.7 Prosedur Pemeriksaan

Persiapan Reagen

2
1. Phosphat-buffered-saline (PBS). Satu paket buffer dimasukkan ke dalam

1 liter aqua destilata, dicampur sampai semua garam larut.


2. Serum kontrol positif ANA (pengunaan sesuai paket)
3. Serum kontrol negatif ANA (penggunaan sesuai paket)
4. Konjugat goat anti-human immunoglobulin yang telah dilabel dengan

FITC (penggunaan sesuai paket).

Prosedur:

1. Pindahkan slide dari penyimpanan dan biarkan di suhu ruangan (20-25

C). Lapisan pelindung di buka dan slide yang mengandung substrat

kultur sel HEp-2 dikeluarkan.


2. Serum pasien disiapkan dengan pengenceran 1:40 dengan PBS (contoh:

10 ul sampel + 390 ml PBS)


3. Setiap well diberi identitas yang tepat dengan serum pasien dan kontrol
4. Jika sampel dititer, pengenceran serial dilakukan dengan PBS.
5. Slide diinkubasi dalam tempat yang lembab pada suhu kamar (20-25 C)

selama 30 menit.
6. Slide dipindahkan dari tempat yang lembab dan dibilas dengan PBS

yang alirkan
7. Slide diletakkan dalam tempat pewarnaan dan dicuci dalam PBS dua

kali dengan interval 5 menit, menggunakan pengaduk magnetik atau alat

lain secara hati-hati.


8. Slide segera dikeluarkan dari PBS. Slide dibalikkan dan well dikunci.

Noda slide pada sisi lain dibersihkan dengan kertas penyerap.


9. Pewarnaan evan blue ditambahkan 5-10 tetes kedalam tempat

pewarnaan pada lima menit kedua pembilasan dengan PBS.


10. Slide segera diperiksa dengan mikroskop fluoresen. Jika pemeriksaan

ditunda, tutup coverslip dengan cat kuku dan simpan dilemari es, tetapi

sangat direkomendasikan agar slide diperiksa pada hari yang sama.

3.1.1.8 Interpretasi

3
1. Interpretasi hasil tergantung pada pola penelitian, titer autoantibodi,

umur pasien. Pada umur tua khususnya perempuan ada kecenderungan

titer autoantibodi rendah (<1:80) tanpa adanya penyakit autoimun secara

klinis. Sebaliknya titer 1:20 pada umur muda mungkin menunjukkan

penyakit dapat timbul dikemudian hari.


2. Titer < 1:40 dianggap negatif
3. Tes positif : suatu reksi positif ditandai dengan adanya pola pewarnaan

inti apple-green. Pengeceran 1:40 berdasarkan intensitas pewarnaan,

skala +1 sampai +4. Positif satu dianggap reaksi lemah dan +4 reaksi

kuat. Semua serum positif pada pengenceran 1:40 harus dititer sampai

pengenceran terakhir, contoh: 1:40, 1:80, 1:160 dan seterusnya. Titer

terakhir merupakan pengenceran terakhir yang menghasilkan reaksi

positif +1.
3.1.1.9 Hasil yang diharapkan

Nilai yang diharapkan pada populasi normal adalah negatif, tetapi pada

individu yang terlihat sehat serumnya dapat mengandung ANA. Persentase ini

meningkat sesuai umur terutama pada dekade ke-7 kehidupannya.

3.1.2 Teknik ELISA (Diagnostic Otomation, 2009)


3.1.2.1 Prinsip Pemeriksan

Sistem pemeriksaan ELISA ANA dirancang untuk mendeteksi antibodi

IgG terhadap antigen nuclear yang biasa terdapat pada serum manusia. Well pada

strip microwell plastik disensitisasi dengan absorpsi pasif antigen. Prosedur

pemeriksaa terdiri dari 3 tahap inkubasi :

4
1. Serum yang diperiksa diinkubasi dalam microwell yang dilapisi antigen.

Beberapa antibodi spesifik antigen pada sampel berikatan dengan

antigen tidak bergerak. Plate dicuci untuk memisahkan antibodi yang

tidak berikatan dan komponen serum lainnya.


2. Konjugasi peroksidae goat anti-human IgG ditambahkan ke dalam well

dan plate diinkubasi. Konjugat akan bereaksi dengan antibodi tidak

bergerak pada fase solid langkah 1. Well dicuci untuk membuang

konjugat yang tidak bereaksi.


3. Microwell yang berisi konjugat peroksidase tidak bergerak diinkubasi

dengan larutan substrat peroksidase. Hidrolisis substrat oleh peroksidase

menghasilkan perubahan warna. Setelah beberapa waktu reaksi

dihentikan dan intensitas warna larutan diukur secara fotometrik.

Intensitas warna larutan tergantung pada konsentrasi antibodi dalam

sampel.
3.1.2.2 Alat dan Bahan
ELISA microwell reader yang dapat membaca pada panjang

gelombang 450 nm
Pipet dengan akurasi 10-200 ul
Pipet multichannel dengan akurasi 50-200 ul
Tempat reagen untuk pipet multichannel
Botol pencuci atau sistem pencucian microwell
Aqua destilata
Tabung 1 liter
Pipet serologis
Disposible pipette tips
Kertas pengering
Timer
Baskom pembuang dan desinfektan
Setiap kit mengandung :
Plate
Konjugat
Kontrol positif
Kalibrator
Kontrol negatif
Diluen sampel
Larutan tetrametilbenzidin (TMB)

5
Larutan stop
Wash buffer concentrate

3.1.2.3 Kontrol Kualitas

1. Setiap melakukan pemeriksaan kalibrator dijalankan tiga kali, disamping

blank, kontrol negatif dan kontrol positif


2. Hitung rerata ketiga well kalibrator. Jika ada dari tiga nilai memiliki

perbedaan lebih dari 15% dari rerata, buang nilai tersebut dan hitung

rerata menggunakan 2 well yang tersisa


3. Nilai rerata OD kalibrator dan nilai OD kontrol positif dan negatif harus

masuk dalam rentang dibawah ini :

Rentang OD

Kontrol negatif 0,250

Kalibrator 0,300

Kontrol positif 0,500

a. OD kontol negatif dibagi rerata OD kalibrator harus 0,9


b. OD kontrol positif dibagi rerata OD kalibrator harus 1,25
c. Jika kondisi diatas tidak ditemukan pemeriksaan dianggap invalid

dan harus diulang.


4. Kontrol positif dan negatif digunakan untuk melihat kerusakan reagen

dan tidak menjamin ketepatan cut-off pemeriksaan.

3.1.2.4 Prosedur Umum

1. Pindahkan komponen dari tempat penyimpanan dan biarkan pada suhu

kamar (20-25 C)
2. Hitung jumlah microwell yang dibutuhkan. Sediakan 6 (1 untuk blank, 1

kontol negatif, 3 kalibrator, dan 1 kontrol positif) untuk

kontrol/kalibrator per setiap pemeriksaan. Periksa software dan reader

yang sesuai dengan petunjuk kontrol/kalibrator. Kembalikan strip yang

tidak digunakan tutup dan kembalikan pada suhu 2-8 C.

6
3. Persiapkan pengenceran 1:21 (contoh: 10ul serum + 200ul diluen

sampel) untuk kontrol negatif, kalibrator, kontrol positif dan setiap

serum pasien.
4. Pada masing-masing well, tambahkan 100ul kontrol yang telah

diencerkan, kalibrator dan sampel.


5. Tambahkan 100ul diluen sampel pada well A1 sebagai reagen blank.
6. Plate diinkubasi pada suhu kamar (20-25 C) selama 60-65 menit.
7. Cuci microwell 5 kali.
8. Tambahkan 100ul konjugat pada setiap well, termasuk well reagen

blank.
9. Inkubasi plate pada suhu kamar selama 30-35 menit
10. Cuci microwell seperti langkah 7
11. Tambahkan 100ul TMB pada setiap well, termasuk well reagen blank.
12. Inkubasi plate pada suhu kamar selama 30-35 menit
13. Stop reaksi dengan menambahkan 50ul larutan stop pada setiap well,

termasuk well reagen blank. Sampel positif akan berubah warna dari

biru menjadi kuning. Setelah penambahan larutan stop, letakkan plate

beberapa waktu untuk memastikan sampel sudah tercampur rata.


14. Baca pada microwell reader dengan panjang gelombang 450nm dan

ukur OD setiap well terhadap reagen blank. Plate harus dibaca dalam 30

menit setelah penambahan larutan stop.

3.1.2.5 Interpretasi

Nilai indeks atau OD ratio diinterpretasikan sebagai berikut :

Nilai Indeks atau OD Ratio

Negatif 0,09

Equivokal 0,91-1,09

Positif 1,10

7
3.2 Pemeriksaan Smoothmuscle Antibody (SMA) Teknik Indirek Fluoresen

Antibodi (IFA) (Diagnostic Otomation, 2010).

3.2.1 Prinsip Pemeriksaan

Sistem pemeriksaan bekerja pada substrat jaringan usus tikus dan konjugat

anti-human immunoglobulin yang telah disesuaikan untuk pemakaian optimum

pada pengenceran dengan pewarnaan latar belakang minimal.

Reaksi terjadi dalam 2 tahap :

3.2 Langkah pertama melibatkan interaksi SMA serum pasien dengan

smoothmuscle antigen dalam bagian basal lapisan muskularis ke mukosa

glandular usus.
3.3 Langkah kedua adalah reaksi antara konjugat dan SMA yang berikatan dengan

smoothmuscle antigen menghasilkan warna apple-green pada pemeriksaaan

positif.

3.2.2 Bahan pemeriksaan

Reagen reaktif :
1. Slide substrat usus tikus
2. Goat anti-human immunoglobulin yang telah dilabel dengan FITC.
3. Serum kontrol positif SMA manusia
4. Serum kontrol negatif SMA manusia.

Reagen non reaktif :

1. PBS
2. Mounting media (buffer gliserol)
3. Delapan blotter dengan 6 lobang, dikunci ke well pada slide substrat.

Bahan tambahan :

1. Pipet kecil serologis, pasteur, kapiler atau otomatis


2. Tabung pemeriksaan kecil
3. Rak untuk tabung pemeriksaan
4. Tempat pewarnaan
5. Ruang basah
6. Cover slips
7. Aqua destilata

8
8. Mikroskop fluoresen

3.2.3 Prosedur Pemeriksaan

Persiapan reagen :
1. PBS, pH 7,2 0,2 : masukkan isi setiap paket buffer kedalam 1 liter aqua

destilata. Campur sampai garamnya larut sempurna.


2. Serum kontrol positif SMA manusia : campur kembali dengan 0,5 mL

aqua destilata. Hal ini menunjukkan pengenceran 1:20. Gunakan sebagai

larutan kembali, jangan diencerkan lagi.


3. Serum kontrol negatif SMA manusia: campur kembali dengan 0,5 mL

aqua destilata. Hal ini menunjukkan pengenceran 1:20, jangan diencerkan

lagi.
4. Konjugat goat anti-human immunoglobulin yang telah dilabel dengan

FITC: campur kembali dengan 3 mL aqua destilata.

Prosedur:

1. Pindahan slide dari freezer dan biarkan mencapai suhu 20-25 C. Buka

bungkusan pelindung dan pindahkan slide yang mengandung substrat

usus tikus.
2. Siapkan serum pasien pada pengenceran 1:20 dalam PBS
3. Identifikasi setiap well dengan kontrol dan serum pasien yang tepat
4. Berikan 1 tetes atau sekitar 0,02 mL serum pasien dan serum kontrol pada

masing-masing well, jangan menyentuh bagian jaringan dengan tip pipet.


5. Inkubasi slide dalam ruang basah pada suhu 20-25C selama 30 menit
6. Ambil slide dari ruang basah dan buang kelebihan serum pada well

dengan gentle, bilas slide dengan PBS lebih dahulu sebelum diletakkan

pada tempat pencucian. Cuci slide segera sebanyak 2 kali dengan interval

5 menit dengan PBS yang berbeda.


7. Pindahkan slide dari PBS dan keringkan dengan kertas pengering.

Direkomendasikan untuk meletakkan kertas pengering pada permukaan

datar yang keras. Letakkan slide substrat pada posisi terbalik diatas

9
pengering dan tekan bagian belakang slide. Jangan biarkan substrat slide

terlalu kering pada waktu pemeriksaan.


8. Tambahkan 1 tetes konjugat anti-human immunoglobulin yang telah

dilabel dengan FITC pada setiap well.


9. Inkubasi slide dalam ruang basah selama 30 menit pada suhu kamar.
10. Ulangi langkah 6
11. Ulangi langkah 7
12. Berikan 3-5 tetes mounting media pada setiap slide (antara well) dan

coverslip. Periksa slide segera dengan mikroskop fluoresen.

3.2.4 Kontrol Kualitas

1. Kontrol positif, kontrol negatif dan buffer harus dijalankan pada setiap

pemeriksaan.
2. Direkomendasikan untuk membaca satu kontrol positif dan negatif

sebelum mengevaluasi hasil pemeriksaan.


3. Kontrol negatif ditandai dengan tidak adanya warna fluoresen yang tegas

pada mukosa muskularis substrat usus tikus.


4. Kontrol positif ditandai dengan warna fluoresen apple-green pada

miofilamen longitudinal, yang juga dikenal sebagai mukosa muskularis

dari otot usus tikus.


5. Intensitas fluoresen yang terlihat mungkin bervariasi pada setiap

mikroskop dan sistem filter yang digunakan.

3.2.5 Interpretasi Hasil

1. Titer kurang dari 1:40 dianggap tidak signifikan


2. Pemeriksaan positif: ditemukan warna fluoresen apple-green pada

muskularis substrat usus tikus dengan pengenceran 1:40 berdasarkan

skala +1 sampai +4. Skala +1 dianggap reaksi lemah dan +4 reaksi kuat.
3. Semua serum positif pada pengenceran 1:20 harus dititer sampai

pengenceran terakhir. Hal ini dilakukan dengan membuat pengenceran

serial 1:40, 1:80, 1:160 dan seterusnya pada semua yang masih positif.

10
Hasil akhirnya adalah pengenceran tertinggi yang masih menghasilkan

reaksi warna apple-green positif.

3.2.6 Nilai Normal

Hasil yang diharapkan pada populasi normal adalah negatif pada

pengenceran 1:20. Individu yang terlihat sehat dalam dekade ke-5 sampai 7

kehidupannya dapat memberikan hasil SMA positif.

3.3 Pemeriksaan anti LKM-1 dengan teknik ELISA (IBL International, 2008)

3.3.1 Prinsip Pemeriksaan

Sampel serum diencerkan 1:101 diinkubasi dalam microplates yang

dilapisi dengan antigen spesifik. Antibodi pasien jika terdapat dalam spesimen

akan berikatan dengan antigen. Fraksi yang tidak berikatan dibersihkan dengan

pencucian pada tahap selanjutnya. Setelah itu anti-human immunoglobulin yang

dikonjugasi dengan horsedish peroksidase diinkubasi dan bereaksi dengan

kompleks antigen-antibodi sampel dalam microplates. Konjugat yang tidak

berikatan dibersihkan pada tahap selanjutnya. Penambahan substrat TMB

menghasilkan reaksi kolorimetrik enzimatik (biru), yang dihentikan dengan asam

yang diencerkan (perubahan warna menjadi kuning). Tingkat pembentukan warna

dari kromogen berfungsi menilai ikatan antara konjugat dengan kompleks

antigen-antibodi dan hal ini proporsional dengan konsentrasi awal antibodi pada

sampel pasien.

3.3.2 Alat dan Bahan

1. Buffer sampel
2. Buffer wash
3. Kontrol negatif
4. Kontrol positif

11
5. Kalibrator (6 vial, 1,5 mL masing-masing 0, 3, 10, 30, 100, 300 U/mL)
6. Konjugat
7. Substrat TMB
8. Stop solution
9. Microtiterplate
10. Microtiter plate reader dengan filter pembacaan 450 nm dan filter

referensi pilihan 620 nm (600-690 nm)


11. Glass ware
12. Test tube untuk pengenceran
13. Aqua destilata
14. Vortex mixer
15. Pipet dengan presisi (10, 100, 200, 500, 1000 uL) atau multi pipet
16. Alat pencuci microplates
17. Kertas pengering

3.3.3 Prosedur Pemeriksaan

Persiapan sebelum pemipetan


1. Encerkan reagen konsentrat: encerkan buffer sampel konsentrat 1:5,

buffer wash konsentrat 1:50 dengan aqua destilata


2. Sampel: encerkan sampel serum 1:101 dengan buffer sampel, campur

dengan baik
3. Washing: siapkan 20 mL buffer wash yang telah diencerkan per 8 well

atau 200 ml untuk 96 well

Alur Pemerksaan:

1. Pipet 100 uL serum pasien yang telah diencerkan ke dalam microwell

yang telah ditentukan


2. Pipet 100 uL kalibrator dan negatif dan positif kontrol kedalam well yang

telah ditentukan
3. Inkubasi 30 menit pada suhu kamar (20-26 C)
4. Cuci 3x dengan 300 uL buffer washing
5. Pipet 100 uL konjugat ke dalam masing-masing well
6. Inkubasi 15 menit pada suhu kamar
7. Cuci 3x dengan 300 uL buffer washing
8. Pipet 100 uL substrat TMB ke dalam masing-masing well
9. Inkubasi 15 menit pada suhu kamar, dalam ruang gelap

12
10. Pipet 100 uL stop solution pada masing-masing well
11. Inkubasi minimal 5 menit
12. Aduk plate secara hati-hati selama 5 detik
13. Baca absorbansi pada panjang gelombang 450 nm dalam 30 menit

3.3.4 Interpretasi Hasil

<15 U/mL Normal

>15 U/mL Positif

3.4 Pemeriksaan anti-Soluble Liver Antigen (SLA) Teknik ELISA (IBL

International, 2012)

3.4.1 Prinsip pemeriksaan

Sampel serum diencerkan 1:101 diinkubasi dalam microplate yang dilapisi

dengan antigen spesifik. Antibodi pasien jika terdapat dalam spesimen akan

berikatan dengan antigen. Fraksi yang tidak berikatan akan dibersihkan pada

tahapan selanjutnya. Setelah itu anti immunoglobulin manusia yang dikonjugasi

dengan horsedish peroksidase diinkubasi dan bereaksi dengan kompleks antigen-

antibodi sampel dalam microplate. Konjugat yang berikatan dibersihkan pada

tahap selanjutnya. Penambahan substrat TMB menghasilkan reaksi kolorimetrik

enzimatik (biru), yang dihentikan dengan asam yang diencerkan (warna berubah

menjadi kuning). Tingkat pembentukan warna dari kromogen berfungsi menilai

ikatan antara konjugat dengan kompleks antigen-antibodi dan hal ini proporsional

dengan konsentrasi awal antibodi pada sampel pasien.

3.4.2 Alat dan Bahan

1. Buffer sampel
2. Buffer wash
3. Kontrol negatif

13
4. Kontrol positif
5. Cut-off calibrator
6. Kalibrator (6 vial, 1,5 mL masing-masing 0, 3, 10, 30, 100, 300 U/mL)
7. Konjugat
8. Substrat TMB
9. Stop solution
10. Microtiterplate
11. Microtiter plate reader dengan filter pembacaan 450 nm dan filter

referensi pilihan 620 nm (600-690 nm)


12. Glass ware
13. Test tube untuk pengenceran
14. Aqua destilata
15. Vortex mixer
16. Pipet dengan presisi (10, 100, 200, 500, 1000 uL) atau multi pipet
17. Alat pencuci microplates
18. Kertas pengering
3.4.3 Prosedur Pemeriksaan
Persiapan sebelum pemipetan
1. Encerkan reagen konsentrat: encerkan buffer sampel konsentrat 1:5,

buffer wash konsentrat 1:50 dengan aqua destilata


2. Sampel: encerkan sampel serum 1:101 dengan buffer sampel, campur

dengan baik
3. Washing: siapkan 20 mL buffer wash yang telah diencerkan per 8 well

atau 200 ml untuk 96 well

Alur Pemerksaan:

1. Pipet 100 uL serum pasien yang telah diencerkan ke dalam microwell

yang telah ditentukan


2. Pipet 100 uL kalibrator atau cut-off calibrator dan negatif dan positif

kontrol kedalam well yang telah ditentukan (Direkomendasikan untuk

memipet sampel, kalibrator duplo dan cut-off calibrator hanya digunakan

untuk pemeriksaan kualitatif)


3. Inkubasi 30 menit pada suhu 20-32 C
4. Cuci 3x dengan 300 uL buffer washing (yang telah diencerkan 1:50)
5. Pipet 100 uL konjugat ke dalam masing-masing well
6. Inkubasi 30 menit pada suhu 20-32 C
7. Cuci 3x dengan 300 uL buffer washing
8. Pipet 100 uL substrat TMB ke dalam masing-masing well
9. Inkubasi 30 menit pada suhu 20-32 C, lindungi dari cahaya

14
10. Pipet 100 uL stop solution pada masing-masing well
11. Inkubasi minimal 5 menit
12. Aduk plate secara hati-hati selama 5 detik
13. Baca absorbansi pada panjang gelombang 450 nm dalam 30 menit
3.4.4 Interpretasi

Kuantitatif:

Normal : <12 U/mL

Equivokal : 12-18 U/mL

Positif : >18 U/mL

Kualitatif:

Negatif : OD pasien < 0,8 x OD cut-off

Equivokal : 0,8 x OD cut-off OD pasien 1,2 x OD cut-off

Positif : OD pasien > 1,2 x OD cut-off

BAB 4

RINGKASAN

Hepatitis autoimun merupakan hepatitis kronis yang bersifat progresif,

tidak diketahui penyebabnya, ditandai dengan adanya tampilan hepatitis dan

infiltrasi sel plasma portal pada pemeriksaan histologi, hipergammaglobulinemia

dan autoantibodi. Hepatitis autoimun secara predominan lebih banyak diderita

oleh perempuan dibandingkan laki-laki (Rasio: 3,6:1) dan dapat menyerang semua

umur.

Berdasarkan penanda immunoserologi, hepatitis autoimun dibagi menjadi

3 tipe. Tipe 1 dan 2 memiliki perbedaan gambaran klinis, sedangkan tipe 3 hampir

15
sama dengan tipe 1 tetapi berbeda pada profil autoantibodi. Secara konseptual

patogenesis hepatititis autoimun dapat dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu adanya

faktor pemicu, genetik dan mekanisme otoreaktivitas. Pasien hepatitis autoimun

menunjukkan gejala klinis yang bervariasi dan tidak spesifik, pemeriksaan fisik

bisa tidak terdapat abnormalitas, tetapi bisa juga menunjukkan adanya

hepatomegali, ikterik, dan gejala-gejala penyakit hepar kronis.


Diagnosis hepatitis autoimun ditegakkan berdasarkan kelainan histologis,

gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium, seperti kadar globulin serum yang

abnormal, dan ditemukannya satu atau lebih autoantibodi. Kriteria diagnostik

untuk hepatitis autoimun dan sistem skoring diagnostik telah dibuat oleh Badan

Internasional yang telah direvisi pada tahun 1999. Indikasi terapi terdiri dari

absolut dan relatif yang didasarkan pada pengalaman klinis dari percobaan

pengobatan yang terkontrol dan pengamatan jangka panjang.

16