Anda di halaman 1dari 16

Judul : IbM Kelompok Tani Beras Bali Desa Sudaji

A. ANALISIS SITUASI
Peran kayu bakar sampai sekarang masih tetap bertahan sebagai salah satu
sumber energi yang sering digunakan, terutama oleh masyarakat pedesaan, seperti
masyarakat Desa Sudaji. Walaupun pemerintah sudah memberikan bantuan dalam
mengkonversi kompor minyak tanah ke kompor gas. Ironisnya, solusi dari
pemerintah tersebut kurang terkafer karena (1) harganya yang relatif mahal, (2)
adanya kekhawatiran dari masyarakat mengenai cara penggunaannya, serta (3)
keadaan topografi desa yang jauh dari perkotaan, dengan jalan yang
bergelombang dan menanjak, menjadikan penduduk enggan membeli gas LPG.
Pemenuhan kebutuhan masyarakat akan kayu bakar umumnya diperoleh
dengan jalan membeli ataupun mencari kayu bakar (bagi yang memiliki kebun).
Hal ini bukan berarti tidak ada permasalahan lagi yang dialami oleh penduduk di
sana. Pasca minyak tanah bersubsidi ditiadakan oleh pemerintah, ternyata diikuti
pula dengan naiknya harga kayu bakar. Kayu bakar yang awalnya bernilai Rp
2.000,- per ikat sekarang sudah menjadi Rp 5.500,- per ikat. Walaupun harga kayu
bakar meningkat, namun hingga saat ini masyarakat Sudaji tetap menggunakan
kayu bakar sebagai bahan bakar utamanya. Sesungguhnya hal ini merupakan
permasalahan yang pelik dan menimbulkan beban baru bagi masyarakat Sudaji.
Permasalahan lain dapat pula muncul apabila kegiatan pengalihan kayu
bakar ini dibiarkan tanpa diberikan pengembalian unsur hara tanah. Betapa tidak,
kayu bakar diperoleh dari penebangan pohon, dan umumnya adalah penebangan
liar. Sesungguhnya, kondisi ini kurang menguntungkan mengingat jumlah pohon
yang bertahan hidup di Desa Sudaji dari tahun ke tahun makin merosot (Profil
Desa Sudaji, 2011). Apabila ini dibiarkan secara terus menerus, tentunya akan
terjadi ketidakseimbangan ekosistem yang nantinya dapat merusak lingkungan.
Desa Sudaji terkenal dengan daerah penghasil Beras Bali di Kabupaten
Buleleng. Desa Sudaji merupakan dataran tinggi atau pegunungan dengan
ketinggian 200 sampai 400 meter di atas permukaan laut, dengan kemiringan 0-
10%. Daerah yang berhawa sejuk dan basah dengan curah hujan rata-rata adalah
3.000 mm per tahun dan temperatur antara 18-230C menjadikan desa ini

1
berpotensi di bidang pertanian, utamanya padi. Potensi yang dimiliki oleh desa ini
dimanfaatkan oleh penduduk desa sebagai mata pencahariannya. Buktinya saja,
70% dari masyarakat Sudaji bermatapencaharian sebagai petani padi yang dikenal
dengan Kelompok Tani Beras Bali dengan luas lahan sawah mencapai 485
Hektar.
Hasil pertanian yang melimpah tidak selamanya akan membawa dampak
positif, apalagi teknik panen yang digunakan masih bersifat tradisional. Cara ini
memiliki dampak negatif, yakni menyisakan limbah berupa jerami dan sekam
yang sangat melimpah. Dan limbah tersebut hanya dibiarkan berserakan atau
dibakar. Asap yang dihasilkan dari hasil pembakaran seringkali menimbulkan
ketidaknyamanan kepada masyarakat sekitar karena mengganggu pernafasan dan
pandangan. Selain itu sisa jerami dan sekam yang begitu banyak yang tidak habis
terbakar akan dikumpulkan lalu dibuang di sungai. Hal tersebut sering kali
menyebabkan keadaan sungai menjadi tercemar dan akan merusak habitat yang
ada di sekitar aliran sungai. Tak jarang pula limbah yang dibuang sembarangan di
sungai menyebabkan penyempitan daerah aliran sungai. Hingga saat ini jerami
dan sekam yang dihasilkan belum diolah menjadi apapun. Jika hal tersebut
dibiarkan terus menerus tanpa ada upaya serius untuk mengatasinya, maka
dampak yang dihasilkan tentu saja akan berdampak semakin buruk saja bagi
masyarakat desa Sudaji.
Selain itu, rendahnya tingkat pendapatan masyarakat sebagai akibat dari
pendapatan petani yang bersifat musiman ketika musim panen tiba. Hal tersebut
diperparah dengan anjloknya harga jual hasil padi yang tidak sesuai dengan modal
yang digunakan saat menanam padi. Berdasarkan profil desa Sudaji, tingkat
pendapatan sektor pertanian pada tahun 2009 yaitu Rp 4.318.400.145,00 dengan
total masyarakat bermatapencaharian petani yaitu 560 orang, sehingga diperoleh
pendapatan rata-rata masyarakat bermatapencaharian petani pertahunnya adalah
Rp 7.711.429,00 per-tahunnya dan Rp 624.619,00 per-bulannya. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa pendapatan petani desa Sudaji masih berada dibawah UMR
(Upah Minimum Regional) yaitu Rp 750.000,00. Kondisi demikian menyebabkan
keadaan petani di Desa Sudaji menjadi memprihatinkan dan mengundang untuk
mencari alternatif pendapatan tambahan guna memenuhi kebutuhan hidup.

2
KELOMPOK TANI BERAS BALI DESA SUDAJI

Seharusnya, sesuai dengan perkembangan teknologi, limbah ini dapat


1
diolah menjadi sesuatu yang bernilai guna, yaitu sebagai bahan bakar, pupuk
bokashi, dan berbagai jenis kerajinan tangan. Namun, minimnya pengetahuan
yang dimiliki penduduk Desa Sudaji menyebabkan tidak ada pengolahan limbah
Hasil tanaman padi beras bali
ini menjadi produk-produk yang memiliki nilai guna dan ekonomi, sehingga
termanfaatkan dan membantu kesulitan yang dialami masyarakat. Kondisi limbah
pertanian yang melimpah di Desa Sudaji dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah
ini.
2

Penanganan

x
(a) (b)

Gambar 1. (1) Tanaman beras bali, (2) Beras bali hasil panen, (3) Kelimpahan
jerami padi, (4) a. Dibiarkan berserakan di pinggir jalan, b.
Pembakaran jerami, c. Pembakaran sekam, d. Pembuangan sisa
pembakaran di sungai (5) Tidak berdampak ekonomi 3

(c) (d)

3
Dalam penyusunan program ini, penulis telah melakukan wawancara
dengan Bapak Nyoman Surata selaku ketua kelompok tani Beras Bali di Desa
Sudaji serta penduduk Desa Sudaji pada tanggal 25 Februari 2013. Masyarakat
sangat antusias dan mengharapkan adanya bantuan cara pengolahan jerami padi
berupa pelatihan dan pembinaan, agar limbah hasil pertanian dapat bernilai guna.
Terkait dengan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, timbul pemikiran
baru untuk dapat menuntaskan permasalahan tersebut. Limbah pertanian dapat
dijadikan alternatif bahan bakar dalam bentuk briket. Hal ini sangat berpotensi
membantu penduduk Desa Sudaji untuk mengatasi kesulitan dalam mendapatkan
bahan bakar yang dibutuhkannya.
Berdasarkan permasalahan yang ada, penulis berupaya memberikan suatu
solusi kreatif dalam memanfaatkan jerami yang ada sesuai dengan program zero
waste and waste to energy. Solusi yang ditawarkan berupa pemanfaatan jerami
dan sekam sebagai briket dan pupuk bokashi. Briket merupakan bahan bakar
padat yang mengandung karbon, mempunyai nilai kalori yang tinggi, dan dapat
menyala dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, briket dapat digunakan sebagai
pengganti bahan bakar minyak. Briket dapat dibuat dengan bahan baku jerami dan
sekam padi padi yang merupakan limbah pertanian. Potensi jerami dan sekam
padi padi sebagai bahan dasar pembuatan briket dapat dilihat dari penelitian DTC
IPB, yang menyatakan bahwa jerami dan sekam padi padi dapat dimanfaatkan
sebagai sumber energi panas karena kadar selulosanya cukup tinggi sehingga
dapat memberikan pembakaran yang merata dan stabil. Setelah dipakai, ampas
briket organik ini tetap bermanfaat sebagai pupuk bokashi tanaman.
Selain itu, solusi tambahan yaitu berupa pendidikan life skill berupa
penanaman jiwa entrepreneur bagi masyarakat Desa Sudaji melalui pelatihan
entrepreneurship yang komprehensif sebagai pengganti alternatif dalam
memperoleh penghasilan harian masyarakat desa Sudaji. Produk-produk yang
dihasilkan melalui pelatihan pengolahan jerami dan sekam padi akan dijual
kepada masyarakat Desa Sudaji dan masyarakat umum. Sehingga masyarakat desa
Sudaji tidak hanya akan memiliki pendapatan musiman, tapi juga akan memiliki
pendapatan harian melalui produk olahan jerami dan sekam padi.

4
Solusi ini diprediksi akan dapat menjadi usaha yang berkelanjutan karena
minat masyarakat tinggi, serta bahan baku melimpah. Apabila limbah jerami dan
sekam padi ini dapat dimanfaatkan menjadi barang bernilai ekonomi maka
permasalahan-permasalahan di atas dapat terselesaikan, dalam artian,
permasalahan bahan bakar minyak teratasi, pendapatan petani padi meningkat,
serta kebersihan lingkungan terjaga. Dengan demikian, sangat dipandang perlu
untuk memberdayakan masyarakat Desa Sudaji melalui pelatihan dan
pendampingan secara terpadu.

B. PERMASALAHAN MITRA
1. Rendahnya tingkat pendapatan masyarakat Desa Sudaji. Hal ini
disebabkan 70% masyarakatnya berprofesi sebagai petani padi yang
cenderung memiliki pendapatan musiman.
2. Rendahnya kemampuan masyarakat dalam mengelola limbah hasil
pertanian menjadi produk yang dapat bernilai ekonomi.
3. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai briket dan pupuk bokashi
yang dapat dibuat dengan mempergunakan jerami dan sekam padi.

C. SOLUSI YANG DITAWARKAN


Dalam upaya mengatasi kesulitan kelompok tani Beras Bali yang ada di
desa Sudaji, maka solusi yang dapat ditawarkan adalah (1) melatih petani dalam
membuat briket dan pupuk bokashi yang dapat dibuat dengan mempergunakan
jerami dan sekam padi, (2) mendidik dan melatih petani beras bali dalam
berbisnis produk olahan jerami dan sekam padi sebagai solusi dalam memperoleh
pendapatan harian kelompok tani Beras Bali desa Sudaji. Secara skematik, solusi
yang ditawarkan untuk pemecahan masalah yang dihadapi kelompok tani Beras
Bali di desa Sudaji, seperti ditunjukkan pada Gambar 2.

5
Instrumental input:
Alat, bahan, dan teknologi
pengolah jerami dan sekam
Raw output:
padi Peningkatan penguasaan Ipteks
dalam mengolah limbah
jerami dan sekam padi
menjadi briket, dan pupuk
bokashi.
Peningkatan perkapita
Proses: kelompok tani Beras Bali
RAW input:
melalui pemanfaatan limbah
Kelompok Tani a) Pelatihan dan pembinaan jerami dan sekam padi
Beras Bali b) Keterampilan wirausaha menjadi briket, dan pupuk
bokashi.
Paneterasi pasar dan
diversifikasi produksi
kelompok tani Beras Bali

Environmental input:
a) Penyuluhan
b) Manajemen
c) Produksi dan Pemasaran
Produk

Gambar 2. Skema Pemecahan Masalah Kelompok Tani Beras Bali di Desa


Sudaji, Buleleng
Kelompok tani sebagat subjek dalam program ini diberikan pelatihan dan
pembinaan, serta keterampilan wirausaha dalam memecahkan masalah yang
dihadapi, dengan didukung oleh instrumental input dan envirumental input. Pada
instrumental input yaitu berupa alat, dan bahan, serta teknologi pengolahan jerami
dan sekam padi. Sedangkan pada environmental input yaitu berupa penyuluhan
manajemen produksi dan pemasaarannya yang dimulai dari penanaman kepekaan
masyarakat terhadap potensi lingkungan, pengolahan, hingga pemasaran
diversifikasi produk briket dan pupuk bokashi yang memiliki nilai guna dan
ekonomi. Dalam proses penyuluhan dan pemberdayaan ini, peserta kelompok tani
diberikan buku panduan praktis pelatihan yang bertujuan untuk memberikan
visualisasi yang lebih jelas dan menarik bagi peserta.
Pelatihan membuat produk briket dan pupuk bokashi dari limbah jerami
dan sekam padi dipilih karena komposisi dari jerami dan sekam padi yang terlihat
pada tabel 1 dan 2.

6
Tabel 1. Komposisi jerami padi
No. Komposisi jerami padi %
1 Fosfor 0,10
2 Kalsium 0,15
3 Protein kasar 3-5
4 Serat 31,5-46,5
(Sinar Tani, 2008)
Tabel 2. Komposisi sekam padi
No. Komposisi jerami padi %
1 Kadaar air 9,02
2 Protein kasar 3,03
3 Lemak 1,18
4 Serat kasar 35,68
5 Karbohidrat kasar 33,71
(Suharno, 1979)

Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut, dari program ini diharapkan


dapat memberikan alternatif sumber energi baru yaitu briket yang mempunyai
keuntungan: dapat diperbarui, ramah lingkungan, harga relatif terjangkau, serta
dapat meningkatkan nilai ekonomis limbah kulit biji mete, bungkil jarak, sekam
padi dan jerami. Dikatakan ramah lingkungan karena briket ini tidak
menghasilkan gas SOx dan NOx seperti pada briket batubara (Suara Merdeka,
2006).
Selain itu, keuntungan dalam program ini yaitu: (1) keberadaan bahan
baku melimpah, (2) produk yang dihasilkan dapat digunakan atau dijual kepada
masyarakat, (4) briket dan pupuk bokashi sangat diminati masyarakat, (4) cara
pengolahan limbah jerami dan sekam padi menjadi briket dan pupuk bokashi
adalah mudah dan sederhana namun efektif untuk meningkatkan produktivitas
potensi limbah jerami dan sekam padi, serta (5) Desa Sudaji terletak pada
kawasan pariwisata yang strategis karena berdekatan dengan kota Singaraja,
pantai Lovina, dan desa Gitgit sehingga mempermudah pemasaran.
Proses pembuatan briket dari limbah jerami dan sekam padi dengan
menggunakan bahan berupa:
1. Jerami dan sekam padi
2. Kanji
3. Air

7
Sedangkan alat yang digunakan dibentuk dengan desain dengan teknologi pirolisis
sebagai berikut.

Gambar 3. Desain teknologi pirolisis briket jerami dan sekam padi


Keterangan:
1. Pipa penyalur asap 9. Alat piropilis
2. Keran asp (valve) 10. Besi penyangga
3. Manometer 11. Cooling waterinlet
4. Termometer 12. Kondensor
5. Tutup alat pirolisis 13. Cooling water outlet
6. Belt penggerak 14. Asap Inlet
7. Motor listrik (kecepatan 50 rpm)
8. Pengatur suhu

Proses pembuatan briket diawali dengan tahap pengarangan yaitu dengan


mengeringkan bahan baku. Jerami dan sekam padi yang akan digunakan harus
dikeringkan terlebih dulu kedalam alat pirolisis untuk mengurangi kadar airnya
dan menjadi arang. Setelah itu yaitu tahap penepungan, semua bahan dihaluskan
dan diayak dengan ayakan berukuran 0,85 mesh supaya ukuran yang didapatkan
menjadi seragam hasil campuran yang didapatkan nantinya akan menjadi lebih
homogen. Selanjutnya, tahap pencampuran yaitu dengan mencampurkan bahan
tersebut dengan lem PVC 600 gr atau lem kanji sebagai perekat yang dibuat
dengan memanaskan 100 ml air dalam beaker glass hingga suhu 70C dan
ditambahkan tepung kanji sampai terbentuk larutan yang encer seperti lem. Pada
tahap pencetakan, campuran kemudian dimasukkan ke alat cetak pengepres.

8
Langkah terakhir adalah tahap penjemuran yaitu dengan mengeringkan briket
dengan sinar matahari selama kurang lebih 2 hari dan briket siap digunakan.
Secara umum, tahapan pembuatan produk briket dari limbah jerami dan sekam
padi seperti terlihat pada Gambar 4.

Limbah jerami
Pengarangan Penepungan
dan sekam padi

Penjemuran Pencetakan Pencampuran


media

Briket siap pakai Energi alternatif

Gambar 4. Alur pembuatan briket dari limbah jerami dan sekam padi

Sedangkan dalam membuat pupuk bokashi berbahan jerami dan sekam


padi dengan menggunakan teknologi Effective Microorganisme 4 (EM4)
merupakan teknologi budidaya pertanian untuk meningkatkan kesehatan dan
kesuburan tanah dan tanaman dengan menggunakan mikroorganisme yang
bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. EM4 mengandung lactobacillus, ragi,
bakteri fotosintetik, actinomycetes dan jamur pengurai selulosa, yang berguna
untuk memfermentasikan bahan organik tanah menjadi senyawa organik yang
mudah diserap oleh akar tanaman.
Menurut Elviwirda (2011) proses pembuatan pupuk bokashi adalah
sebagai berikut:
Dilarutkan EM4 dan gula ke dalam air
Jerami dipotong-potong sepanjang 5 10 cm
Jerami, sekam, dan dedak dicampur secara merata
Larutan EM4 disiram secara perlahan-lahan ke tumpukan bahan organik
secara merata sampai kandungan air pada tumpukan mencapai 30% (bila
bahan baku organik dikepal dengan tangan, air tidak keluar dan bila kepalan
dilepas maka bahan tersebut akan megar).
Bahan yang telah diaduk tersebut diletakkan pada tempat yang kering serta
terlindung dari sinar matahari dan hujan (fermentasi).

9
Gula Larutan

Kemudian ditutup dengan goni atau plastik, selama 3-4 hari.


Pemotongan
Gundukan bahan Pencampuran
tersebut jerami,
dipertahankan suhunya 40-50C. Jika suhu lebih
jerami dari 50C, penutup
sekam, dedak
dibuka dan gundukan bahan dibalik-balik, lalu ditutup
kembali. Pengecekan suhu dilakukan setiap 5 jam.
Hari ke 5 Bokashi siap digunakan sebagai pupuk organik.

Proses pembuatanPengadukan
bokashi jerami sangat cepat, mudah dan murah harganya
sehingga dapat diaplikasikan oleh kelompok tani beras bali desa sudaji pada
Pupuk Bokashi
khususnya dan masyarakat pada umumnya yang menggunakan pupuk organik
siap pakai
Fermentasi
di dalam usaha taninya. Secara umum pembuatan pupuk bokashi menggunakan
teknologi effective microorganism 4 (EM4) dapat dilihat dari gambar brikut.
Gambar 5. Proses pembuatan pupuk bokashi dari limbah jerami dan sekam padi

Dalam mengatasi pendapatan musiman Kelompok tani Beras Bali desa


Sudaji, maka diberikan pelatihan wirausaha produk olahan jerami padi dengan
melakukan pemasaran skala kecil pada tahap awal kepada masyarakat sekitar,
kemudian pada skala besar pada tahapan selanjutnya. Limbah jerami dan sekam
padi yang tadinya tidak memiliki nilai ekonomi, kini mampu disulap menjadi
briket dan pupuk bokashi yang dapat dijual kepada masyarakat dengan analasis
pasar yang dilakukan. Output dari proses pengolahan limbah jerami dan sekam
padi dapat dijual atau dapat digunakan oleh kelompok tani Beras Bali sebagai

10
Keompok Tani Beras Bali

Limbahskematis
alternatif permasalah yang dihadapi. Secara jerami dapat dilihat pada gambar 6
sebagai berikut. dan sekam padi

Pendapatan Proses
harian

Briket Output Pupuk Bokashi

Penjualan Penjualan

Gambar 6. Skema program pengolahan jerami dan sekam padi oleh kelompok
tani Beras Bali desa Sudaji

Produk briket dan pupuk bokashi olahan limbah jerami dan sekam padi yaitu:

(a) (b)
Gambar 7. (a) Briket; (b) Pupuk bokashi

11
D. TARGET LUARAN
1. Adanya kelompok tani Beras Bali Desa Sudaji yang terampil dan kreatif
dalam membuat briket dan pupuk bokashi;
2. Terwujudnya briket sebagai energi alternatif, serta pupuk bokashi yang
dihasilkan dari limbah jerami dan sekam padi;
3. Efek imbas kegiatan ini yaitu (a) kelompok tani Beras Bali mampu
menjual langsung produk, (b) Terdorongnya kelompok tani lain untuk
membuat briket dan pupuk bokashi dari limbah jerami dan sekam padi;
4. Publikasi kegiatan dan produk yang bertujuan (a) lebih mengenalkan Desa
Sudaji sebagai penghasil briket dan pupuk bokashi, sekaligus (b) bentuk
pertanggungjawaban dari program IBM.
E. KELAYAKAN PERGURUAN TINGGI
Universitas Panji Sakti merupakan salah satu perguruan tinggi swasta yang
ada di Bali Utara, memiliki tanggung jawab moral dan sosial dalam meningkatan
kesejahteraan masyakat yang ada di sekitarnya. Melalui progam pengabdian di
bawah koordinator Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM), Panji Sakti
telah banyak melakukan aktivitas-aktivitas pengabdian besinergi dengan pemkab,
LSM dan komponen masyarakat dalam menanggulangi masalah kemiskinan,
pengangguran, penanganan bencana alam, penganangan limbah dan peningkatan
kualitas hidup masyarakat. Terkait dengan pemberdayaan kelompok tani Beras
Bali, baik dalam aspek pengolahan limbah jerami dan sekam padi yang secara
ekonomis dapat dijadikan sumber penghasilan harian, Panji Sakti memiliki
banyak SDM, dan kemampuan pengadaan peralatan pengolahan limbah jerami
dan sekam padi menjadi produk produk briket dan pupuk bokashi yang bernilai
ekonomis tinggi.
Penyelenggaraan program ini melibatkan dua universitas, yakni
Universitas Panji Sakti, dan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha).
Kualifikasi tim yang terlibat dalam program IbM ini memiliki jenjang pendidikan
S3 (Panji Sakti) dengan latar belakang ilmu manajemen ekonomi, dan dua orang
S2 (Panji Sakti dan Undiksha) dengan latar belakang agribisnis dan ilmu fisika
teknik mesin/elektro. Kualifikasi tim tentunya memiliki relevansi tinggi dalam (1)

12
pengolahan limbah jerami dan sekam padi menjadi produk produk briket dan
pupuk bokashi yang bernilai ekonomis tinggi, (2) penggunaan teknologi tepat
guna (teknologi pirolisis dan teknologi effective microorganism 4) kepada
masyarakat sasaran, (3) manajemen pemasaran produk dengan jangkauan pasar
yang lebih luas. Dengan dukungan koperasi Panji Sakti, lembaga kajian ekonomi
dan pemberdayaan masyarakat di Panji Sakti, serta Teknik dan perbengkelan yang
tersedia di Undiksha, maka keberhasilan dalam meningkatkan kesejahteraan
masyakat kelompok tani Beras Bali melalui usaha produktif pemanfaatan limbah
jerami dan sekam padi menjadi produk briket dan pupuk bokashi, dapat
diwujudkan dengan baik. Organisasi tim pelaksana program IbM ini dapat
dipaparkan dalam Tabel 3.

Tabel 3
Organisasi dan Pengalaman Tim

Status Keahlian/Pengalaman Dukungan


Ir. Nyoman Srilaba, Agroteknologi dengan Lembaga kajian ekonomi
M.Si. pengalaman dalam melakukan dan pemberdayaan
kajian tentang kelayakan masyarakat
agroteknologi bagi komoditas
pertanian.
Dr.Drs. Ketut Gunawan, Manajemen ekonomi, dengan Unit usaha ekonomi/koperasi
M.M. pengalaman dalam membina Panji Sakti
usaha kecil, pemasaran, keuangan,
produksi, dan bidang personalia.
Drs. Ida Bagus Putu Fisika Teknik Mesin/ Laboratorium mesin
Mardana, M.Si. Instrumentasi, dengan listrik/elektronika dan
pengalaman dalam desain, perbengkelan Undiksha
pembuatan, pengoperasian
peralatan mesin/ instrumentasi.
Rencana dan jadwal kerja kegiatan IBM ini disusun seperti Tabel 4 di bawah ini.
Tabel 4. Jadwal kegiatan
Pelaksanaan (Tahun 2014)
No Kegiatan
I II III IV V VI VII VIII
1 Rapat informasi, sosialisasi dan
koordinasi
2 Pemetaan potensi 2 kelompok
tani Beras Bali di Desa Sudaji
3 a) Penyuluhan/penyadaran
tentang usaha produktif
pemanfaatan limbah

13
jerami dan sekam padi
yang ramah lingkungan
dan menguntungkan secara
ekonomis kepada
kelompok tani di Desa
Sudaji
b) Penyuluhan/penyadaran
mengenai teknologi yang
dapat diterapkan dalam
produk
4 Perancangan dan pengadaan
alat-alat produksi untuk
pengolahan limbah jerami dan
sekam padi
5 Koordinasi program aksi ipteks
pada kelompok tani Beras Bali
mengenai pengolahan limbah
jerami dan sekam padi menjadi
briket dan pupuk bokashi di
Desa Sudaji
6 Pelaksanaan program aksi
ipteks berupa pemberdayaan
dan pengembangan produk
briket dan pupuk bokashi
7 Penyuluhan dan pelatihan
managemen dan pemasaran
diversifikasi produk
8 Pendampingan pembuatan
produk sebagai keberlanjutan
program
9 Monitoring kegiatan dari
pemkab, LPM Panji Sakti,
Dikti
10 Seminar, pelaporan dan
publikasi kegiatan IbM

F. BIAYA PEKERJAAN
No Uraian Satuan (Rp) Volume Jumlah (Rp)
1 Honorarium
Ketua 1.500.000 1 or 1.500.000,-
Anggota 900.000 2 or 1.800.000,-
Nara sumber penyuluhan/pelatihan 300.000 4kl 1.200.000,-
Tenaga lapangan 250.000 2or 500.000,-
Jumlah-1 5.000.000,-
2 Alat dan Bahan
ATK 2.000.000 1 kgt 2.000.000,-
Sewa LCD dan peralatan 500.000 2 pkt 1.000.000,-

14
Persiapan alat dan bahan produksi 6.000.000 2 pkt 12.000.000,-
Pembuatan alat pirolisis 4.700.000 2 pkt 9.400.000
Jumlah-2 24.400.000,-
3 Perjalanan dan lain-lain
Transportasi 3.000.000 2 pkt 6.000.000,-
Konsumsi 5.000.000 2 pkt 10.000.000,-
Dokumentasi 500.000 2 pkt 1.000.000,-
Spanduk dan banten 300.000 2 kgt 600.000,-
Laporan dan publikasi 3.000.000 1 pkt 3.000.000,-
Jumlah-3 20.600.000,-
TOTAL 50.000.000,-

15
16