Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN KEGIATAN KULIAH KERJA LAPANGAN PT.

SEMEN PADANG DAN PT. ALLIED INDO COAL

Diajukan Untuk Memenuhi Satu Di Antara Persyaratan Mata Kuliah Kuliah Kerja Lapangan (TTA -
) Pada Program Studi Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Islan Bandung

Oleh:

Ghufran Aziz ( 10070114086 )

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
1437 H / 2016 M
LEMBAR PENGESAHAN

Judul : KULIAH KERJA LAPANGAN BALAI DIKLAT TAMBANG


BAWAH TANAH SAWAHLUNTO DAN KUNJUNGAN
LAPANGAN PT. ALLIED INDO COAL JAYA UNIT
SAWAHLUNTO DAN PT. SEMEN PADANG Tbk.
Kelompok : 3
Nama : Ghufran Aziz
NPM : 10070114086

Bandung, 31 Agustus 2016


Menyetujui,

Dono Guntoro, S.T., M.T


Koordinator Kuliah Kerja Lapangan

Mengetahui,

Sri Widayati, S.T.,M.T


Ketua Program Studi Teknik Pertambangan Unisba
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Puji serta syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
segala karunia-Nya yang begitu besar sehingga laporan akhir mengenai
Kegiatan Kuliah Kerja Lapangan diselesaikan. Tak lupa saya ucapkan
terima kasih kepada kedua orang tua saya yang selalu memberikan doa dan
semangatnya hingga laporan ini selesai.
Pembuatan laporan akhir ini juga diharapkan dapat menambah wawasan
bagi semua, agar tujuan pembuatan dan target yang diharapkan tercapai
.Laporan ini ditulis dari hasil pengamatan langsung dilapangan.
Saya berharap makalah laporan akhir yang penulis susun ini dapat
diterapkan dan diaplikasikan oleh pembaca dalam kehidupan sehari-hari . Akhir
kata, penulis mengucapkan terima kasih dan memohon maaf bila ada salah kata
atau penulisan dalam laporan ini.
Mohon kiranya dapat memberi saran dan kritik kepada penulis agar
makalah ini bisa menjadi lebih baik lagi. Semoga laporan akhir ini dapat
bermanfaat bagi yang membaca, khususnya bagi mahasiswa program studi
teknik pertambangan
Wassalamualaikum . Wr. Wb

Bandung, 31 Agustus 2016


Penulis

Ghufran aziz

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i


DAFTAR ISI ........................................................................................................ ii
DAFTAR TABEL ................................................................................................ iv
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. v
DAFTAR FOTO .................................................................................................. vi

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ................................................................... 1
1.2 Tujuan kuliah kerja lapangan ............................................................ 2
1.3 Metode Pengamatan Lapangan ....................................................... 2
1.4 Sistematika Penulisan ...................................................................... 3

BAB II KEADAAN UMUM


2.1 Lokas Dan Kesampaian Daerah Kegiatan ........................................ 4
2.2 Keadaan Geografi Daerah Kegiatan ................................................. 4
2.3 Keadaan Iklim dan Cuaca Daerah Kegiatan ..................................... 5
2.4 Keadaan Topografi dan Morfologi Daerah Kegiatan ......................... 5
2.5 Keadaan Geologi Daerah Kegiatan .................................................. 6
2.6 Keadaan Sosial, Ekonomi, dan Budaya Daerah Penelitian ............... 7
2.6.1 Keadaan Sosial dan Budaya ................................................ 7
2.6.2 Keadaan Ekonomi................................................................ 7

BAB III KEGIATAN LAPANGAN DAN PEMBAHASAN


3.1 Kegiatan Lapangan .......................................................................... 9
3.1.1 Keselamatan Tambang & ventilasi ..................................... 10
3.1.2 Teknik Penyanggaan ......................................................... 14
3.1.3 Pemboran untuk Peledakan ............................................... 16
3.1.4 Kunjungan ke PT Allied Indo Coal ...................................... 18
3.1.5 Kunjungan ke PT Semen Padang ...................................... 19

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN


4.1 Kesimpulan .................................................................................... 21
4.2 Saran ............................................................................................. 22

DAFTAR PUSTAKA

ii
DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Kondisi kelerangan Lahan Kota Sawahlunto ....................................... 5


Tabel 3. 1 Silabus Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Tambang Bawah Tanah
Kelompok 3........................................................................................................ 10

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Peta Kesampaian Kota Sawalunto .................................................. 4


Gambar 2. 2 Peta Geologi Daerah Sawahlunto ................................................... 7

iv
DAFTAR FOTO

Foto 3. 1 Pemasangan Self Contained Breathing Apparatus ............................. 11


Foto 3. 2 Simulasi Pengukuran Udara ............................................................... 14
Foto 3. 3 Stuffin ................................................................................................. 15
Foto 3. 4 Simulasi Penyanggaan ....................................................................... 16
Foto 3. 5 Jackleg Drill ........................................................................................ 16
Foto 3. 6 Kegiatan Pengeboran ......................................................................... 17
Foto 3. 7 Auger Drill ........................................................................................... 18
Foto 3. 8 Lokasi Terowongan PT. Allied Indo Coal Jaya Unit Sawahlunto ......... 19
Foto 3. 9 Proses Penambangan PT. Semen Padang......................................... 20

v
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Pada era global saat ini dunia telah diselimuti oleh teknologi sebagai
penyempurna kehidupan umat manusia. Seiring dengan majunya teknologi
tersebut ilmu pengetahuan dituntut untuk senantiasa berkembang dan terus
memperbarui teknologi untuk semakin memudahkan kehidupan umat manusia.
Hal ini tidak bisa terlepas dari kebutuhan akan bahan-bahan atau material
sebagai penunjang teknologi tersebut. Bahan atau material tersebut telah
disediakan oleh Allah SWT. yang berada di dalam perut bumi. Manusia hanya
tinggal mengambil dan memanfaatkan anugrah tersebut dengan baik. Oleh
karena itulah pertambangan sangat diperlukan oleh kehidupan umat manusia
untuk mengambil material tersebut dengan cara-cara yang baik agar tidak
menimbulkan dampak yang buruk bagi lingkungan atau kehidupan sekitar daerah
pertambangan.
Tentunya material-material tersebut tidak hanya diambil saja namun
diperlukannya keahlian khusus dalam mengambil bahan galian yang tersebar di
bumi ini, agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Untuk
menunjang keahlian dalam bidang pertambangan ini maka diadakanlah kegiatan
pelatihan serta kunjungan langsung ke lokasi pertambangan agar mahasiswa
mampu mengenal dan memahami lebih dalam teknik menambang yang baik dan
benar agar tidak berdampak pada kerusakan lingkungan.
Balai Diklat Tambang Bawah Tanah (BDTBT) Sawah Lunto merupakan
suatu tempat yang memberikan suatu pelatihan mengenai kegiatan
pertambangan bawah tanah. Materi pengajaran yang dimiliki BDTBT cukup
lengkap dalam mengadakan pelatihan tambang bawah tanah serta fasilitas di
tempat tersebut yang sangat memadai untuk diadakannya suatu pelatihan
karena tidak jauh dari tempat tersebut terdapat suatu area pertambangan bawah
tanah sehingga Balai Diklat Tambang Bawah Tanah Sawah Lunto menjadi suatu
tempat yang sangat strategis untuk melakukan diklat bagi seorang engineer
tambang.

1
2

Kuliah kerja lapangan adalah suatu kegiatan dalam rangka meningkatkan


pengetahuan dan pengalaman para mahasiswa mengenai ilmu-ilmu
pertambangan khusunya tambang bawah tanah. Pada kegiatan ini mahasiswa
melakukan beberapa pelatihan yang kelak akan ditemui ketika nanti dilapangan.
Pelatihan-pelatihan tersebut antara lain pemboran untuk peledakan, teknik
penyanggan tambang bawah tanah, Mine Rescue, dan juga kunjungan ke salah
satu perusahaan tambang bawah tanah untuk melihat kondisi sesungguhnya di
lapangan.

1.2 Tujuan kuliah kerja lapangan


Tujuan diadakannya kegiatan kuliah kerja lapangan ini diantaranya
adalah
Untuk mengetahui metode penambangan yang dilakukan di PT Semen
Padang & PT Allied Indo Coal
Mempraktekan pemboran untuk peledakan
Memperagakan keselamatan tambang
Mempraktekan teknik penyanggaan pada terowongan.
Memperagakan pelaksanaan mine rescue.

1.3 Metode Pengamatan Lapangan


Dalam menyusun laporan hasil pengamatan di lapangan pada kegiatan
kuliah kerja lapangan ini, penulis menggunakan dua metode, di antara adalah
sebagai berikut.
a. Metode Observasi (Pengamatan)
Metode ini dilakukan dengan cara pengamatan alat dan aplikasi secara
langsung terhadap alat tersebut.
b. Metode Interview (Wawancara)
Metode ini dilakukan dengan cara Tanya jawab seputar permaslahan
yang bersangkutan pada masing-masing bidang kepada pengajar atau widya
iswara di Balai Diklat Tambang Bawah Tanah Sawahlunto serta kepada
supervisor di PT. Allied Indo Coal Jaya Unit Sawahlunto dan PT. Semen Padang
Tbk.
3

1.4 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan dalam pembuatan laporan kegiatan kuliah kerja
lapangan ini adalah sebagai berikut.
BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini memuat latar belakang, maksud dan tujuan, ruang lingkup kuliah
kerja lapangan, metoda pengamatan lapangan, dan metode penulisan.
BAB II KEADAAN UMUM
Menerangkan tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan keadaan dari
lokasi kegiatan kuliah kerja lapangan; seperti (a) Lokasi dan Kesampaian
Daerah, (b) Keadaan geografi, (c) Keadaan Iklim dan Cuaca, (d) Keadaan
Topografi dan Morfologi, (e) Keadaan Geologi, (f) Keadaan Sosial, Ekonomi, dan
Budaya.
BAB III KEGIATAN LAPANGAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini menjelaskan tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama
kegiatan kuliah kerja lapangan baik pengamatan, pengukuran, maupun
perhitungan di lapangan.
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
Berisi tentang inti-inti permasalahan dari kegiatan lapangan dan hasil
perhitungan serta pendapat dan gagasan yang berupa rekomendasi (usulan).
4

BAB II
KEADAAN UMUM

2.1 Lokas Dan Kesampaian Daerah Kegiatan


Lokasi diadakannya kegiatan kuliah kerja lapangan dilaksanakan di Balai
Diklat Tambang Bawah Tanah yang berada di kota sawahlunto, Su,atera Barat.
Kota Sawahlunto adalah salah satu kota di provinsi Sumatera Barat, Indonesia.
Kota yang terletak 95 km sebelah timur laut kota Padang ini, dengan titik
koordinat 004040.16S 1000 4713.21E / 0.67782220LS
100.78700280BT, dikelilingi oleh 3kabupaten di Sumatera Barat, yaitu kabupaten
Tanah Datar, kabupaten Solok, dankabupaten Sijunjung.

Sumber : www.googlemaps.com
Gambar 2. 1
Peta Kesampaian Kota Sawalunto

2.2 Keadaan Geografi Daerah Kegiatan


Secara geografi, Kota Sawahlunto ini terdiri atas 4 kecamatan, 10
kelurahan, dan 27 desa. Kota Sawahlunto yang dikenal sebagai kota wisata
tambang ini memiliki luasan wilayah 27.345 Ha atau 273.45 km2 yang masing-

4
5

masing wilayahnya memiliki komposisi luas dan kepadatan penduduk yang


berbeda-beda.

2.3 Keadaan Iklim dan Cuaca Daerah Kegiatan


Secara umum, suhu rata-rata di Provinsi Sumatera Barat tercatat antara
22 C 28o C dengan perbedaan suhu antara siang dan malam hari antara 5o C
o

7o C dan hal ini tidak jauh berbeda dengan kondisi yang ada di Kota
Sawahlunto. Peta curah hujan Indonesia memberikan gambaran bahwa Kota
Sawahlunto berada dalam isohyat (garis curah hujan) antara 1500 mm 2000
mm per tahun dengan rata-rata curah hujan per tahunnya sebesar 1.716,37 mm
dengan rata-rata hari hujan 130 hari.

2.4 Keadaan Topografi dan Morfologi Daerah Kegiatan


Secara topografi, wilayah Kota Sawahlunto terletak pada daerah
perbukitan dengan ketinggian antara 250 mdpl 650 mdpl. Wilayah ini
terbentang dari utara ke selatan. Bagian timur dan selatan memunyai topografi
yang relatif curam (kemiringan >40%). Sedangkan bagian utara bergelombang
dan relatif datar.
Bentang alam yang landau hampir terletak di tengah daerah Kota
Sawahlunto, tetapi pada umumnya merupakan jalur-jalur sempit sehingga sulit
untuk dikembangkan menjadi permukiman perkotaan. Posisinya memanjang
sepanjang Sesar Sawahlunto, memisahkan perbukitan terjal yang terletak di
kedua sisinya. Dataran yang relatif landai memungkinkan berkembangnya
permukiman perkotaan hanya dijumpai di Talawi dan Kota Sawahlunto itu sendiri.
Tabel 2. 1
Kondisi kelerangan Lahan Kota Sawahlunto
Luas Lahan (Ha) dengan Kemiringan Lereng (%)
No Kecamatan Jumlah
0-2 2 - 15 15 - 25 25 - 40 >40
1 Talawi 991.00 1,420.00 2,680.00 3,195.00 1,653.00 9,939.00
2 Barangin 343.00 1,514.00 1,432.00 3,450.00 2,136.00 8,875.00
Lembah
3 240.00 358.00 694.00 1,836.00 2,110.00 5,238.00
Segar
4 Silungkang 29.00 288.00 735.00 340.00 1,901.00 3,293.00
Jumlah 1,603.00 3,580.00 5,541.00 8,821.00 7,800.00 21,345.00
Sumber: BPN Kota Sawahlunto
6

2.5 Keadaan Geologi Daerah Kegiatan


Wilayah Kota Sawahlunto terletak pada cekungan pra-tersier Ombilin
yang berbentuk belah ketupat dengan ujung bulat, memiliki lebar sebesar 22,50
km, dan panjang 47.00 km. Dalam cekungan ini diperkirakan 2 km diisi oleh
lapisan yang muda yang disebut dengan Formasi Brani, Formasi Sangkarewang,
Formasi Sawahlunto, Formasi Sawah Tambang, dan Formasi Ombilin. Formasi
Ombilin merupakan lapisan paling muda menurut kategori zaman tersier atau
berumur sekitar 2 juta tahun. Kota Sawahlunto terletak di atas Formasi
Sawahlunto, batuan yang terbentuk pada zaman itu diberi istilah kala (epoch)
Eosen yang terbentuk sekitar 40 60 juta tahun yang lalu.
Dari bentuk topografi yang berkembang dapat ditafsirkan bahwa daerah
ini dipengaruhi oleh aktivitas tektonik baik lipatan maupun sesar. Hal ini dapat
dilihat dari bentuk sungai yang menyiku, menandakan bahwa sungai tersebut
terbentuk akibat terjadinya celah atau rekahan yang relatif merupakan zona
lemah, kemudian air mengerosi sepanjang rekahan.
Perbukitan yang terjadi menggambarkan daerah ini telah terjadi
pengangkatan dan kemudian terbentuk lipatan. Tanah formasi sawahlunto
mengandung butiran pasir yang dapat mengalirkan air. Akan tetapi berdasarkan
penampang geologi ombilin diduga air tersebut lolos ke tempat yang lain. Aspek
geologi yang sangat perlu mendapat perhatian sangat serius dalam perencanaan
dan pengembangan kota Sawahlunto adalah Sesar dan Gempa.
7

Sumber : petatematikindo.wordpress.com
Gambar 2. 2
Peta Geologi Daerah Sawahlunto

2.6 Keadaan Sosial, Ekonomi, dan Budaya Daerah Penelitian


2.6.1 Keadaan Sosial dan Budaya
Kota Sawahlunto dihuni oleh berbagai macam etnis, baik dari etnis
tionghoa, jawa, miang, dan lain-lain; di mana proses migrasi in dan migrasi
outnya lebih banyak disebabkan oleh produktivitas industri penggalian tambang
Ombilin. Sehingga bila produktivitas tambangnya menurun, maka penduduk
pada umumnya melakukan migrasi out.
Dari aspek agama, penduduk Kota Sawahlunto didominasi oleh
masyarakat dengan latar belakang agama Islam. Pada tahun 2010, persentase
penduduk Islam mencapai 99.46% dengan laju pertumbuhan mencapai 2.23%.
2.6.2 Keadaan Ekonomi
Secara umum, kinerja sistem ekonomi pemerintah Kota Sawahlunto
menunjukkan indikasi perkembangan yang meningkat secara signifikan dari
setiap tahunnya. Pada periode 2006 2010, indicator laju pertumbuhan ekonomi
menunjukkan kecenderungan yang meningkat sebesar 55.48%.
8

Sektor utama yang dijadikan sektor utama dalam perekonomian


masyarakatnya adalah dari sektor primer (pertanian/pertambangan) sementara
sektor sekundernya adalah dari sektor sekunder dan tersier.
9

BAB III
KEGIATAN LAPANGAN DAN PEMBAHASAN

3.1 Kegiatan Lapangan


Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini dilaksanakan selama 10 hari terhitung
dari tanggal 29 juli - 5 Agustus 2016. Rute yang diambil adalah jalur darat
dengan menggunakan bis rombongan sebanyak 3 bis yang menempuh waktu
perjalanan hingga 3 hari 2 malam. Kegiatan ini dilaksanakan di Balai Diklat
Tambang Bawah Tanah yang berada di Swahlunto, Padang, Sumatera Barat.
Balai Diklat ini berada langsung di bawah Kementrian ESDM sehingga Balai
Diklat ini sudah menjadi acuan berskala nasional. Balai Diklat ini juga memiliki
sistem pengajaran dan peralatan yang sangat canggih serta tenaga pengajar
yang profesional di bidangnya sehingga menjadikan kondisi saat proses belajar
mengajar menjadi efektif, up to date serta dapat dipertanggungjawabkan karena
seluruh alat-alatnya didatangkan langsung dari Jepang dan setiap peserta Diklat
yang telah mengikuti Diklat ini diberi sertifikasi sebagai tanda telah mengkuti
Diklat ini. Karena beberapa alasan inilah maka Prodi teknik Pertambangan
Universitas Islam Bandung memilih Balai Diklat ini sebagai tempat untuk
melangsungkan kegiatan KKL 2016.
Kegiatan pelatihan ini dilakukan untuk memberikan bekal bagi para
peserta diklat untuk mengenal dan mengetahui akan segala sesuatu yang
berhubungan dengan tambang bawah tanah maka kegiatan pelatihan ini
dirancang semirip mungkin dengan keadaan sesungguhnya di lapangan.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain :
Mine Rescue & Ventilasi
Penyanggaan
Pemboran untuk peledakan
Kunjungan ke PT Allied Indo Coal
Kunjungan ke PT Semen Padang

9
10

Tabel 3. 1
Silabus Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Tambang Bawah Tanah Kelompok 3

Agustus 2016
Kegiatan
1 2 3 4 5
Mine Rescue dan Mine Ventilation

Penyanggaan (Propping)

Pemboran (Drilling)
Kunjungan Ke PT. Allied Indo Coal
Jaya Unit Sawahlunto
Kunjungan Ke PT. Semen Padang
Tbk

3.1.1 Keselamatan Tambang & ventilasi


Pelatihan keselamatan tambang dilaksanakan pada tanggal 1 Agustus
2016 mulai dari pukul 08.00 17.00. pelatihan ini terbagi menjadi dua materi
yaitu SCBA dan Ventilasi. Dalam pelatihan ini diperkenalkan terlebih dahulu
bahaya-bahaya yang mungkin akan terjadi di tambang bawah tanah. Biasanya
kecelakaan yang terjadi pada tambang bawah tanah seperti terjadinya ledakan
pada terowongan tambang ataupun runtuhnya terowongan. Ledakan pada
tambang bawah tanah sering kali terjadi akibat adanya tiga unsur yaitu gas
metan, oksigen dan percikan api. Gas metan merupakan gas yang tidak memiliki
warna dan bau sehingga gas ini tidak dapat dideteksi hanya dengan indera yang
dimiliki manusia, maka diperlukan alat detektor indikasi adnya gas metan. Kadar
gas metan berbahaya ketika mencapai angka 5%. Selain itu dalam tambang
bawah tanah juga sering terjadinya kecelakaan diakibatkan kurangnya sulplai
udara segar yang masuk sehingga untuk melakukan evakuasi korban didalam
tambang bawah tanah tersebut diperlukan alat khusus yang beranama Self
Contained Oxygen Breathing Apparatus (SCBA). Self Contained Breathing
Apparatus (SCBA) merupakan alat bantu pernafasan yang paling baru. Alat ini
terdiri dari :
Masker
Konektor selang udara
Selang udara
Tabung pembersih
11

Kantung pernafasan
Katup buang otomatis
Katup tekanan rendah
Tabung pendingin
Pengatur tekanan udara
Selang pernafasan
Katup buang
Tabung oksigen
Penurunan tekanan
Bodyguard
Dalam pelatihan diajarkan cara merakit alat ini. Berikut adalah tahapan
merakit SCBA :
Pertama masukan kantung pernafasan dan tempelkan dengan elemen-
elemen lainnya seperti tabung pembersih dan tabung pendingin.
Pasang spiral pada kantung pernafasan dan kaitkan kantung pernafasan
dengan batang pengunci
Pasang tabung pembersih dan sambungkan dengan elmen-elemen
lainnya dan kunci agar kuat
Pasang tabung oksigen dan hubungkan dengan elemen lainnya
kemudian tarik pengencang tabung agar tabung tidak terlepas
Tutup bodyguard dan hubungkan dengan selang pernafasan
Pakai masker dengan benar dan hubungkan dengan selang pernafasan
Buka tabung oksigen agar oksigen mengalir
Nyalakan alat untuk mengetahui keadaan suhu dan oksigen yang tersisa

Foto 3. 1
Pemasangan Self Contained Breathing Apparatus
12

Dalam kegiatan pertambangan khususnya tambang bawah tanah yang


memiliki resiko pekerjaan yang cukup tinggi keselamatan tambang merupakan
faktor yang paling penting. Maka pelatihan mengenai cara-cara penyelamatan
sangatlah penting sebab suatu kecelakaan mungkin saja bisa terjadi. Maka
dalam suatu keadaan darurat perlu adanya pertolongan sebelum korban dapat
dipindahkan ke tempat perawatan yang lebih baik. Berikut ini ada beberapa
langkah-langkah pertolongan pertama jika terjadi adanya suatu kecelekaan :
D (danger) yaitu memperhatikan kondisi sekitar sebelum melakukan
pertolongan
R (respon) yaitu memberikan rangsang terhadapkorban
S (send) yaitu meminta pertolongan
A (airway) yaitu menjaga jalan nafas korban
B (breathing) yaitu memeriksa jalan nafas korban
C (CPR) yaitu melakukan CPR
D (deviblirationi) yaitu memakai alat kejut untuk memacu kerja jantung
Temperatur udara sangat mempengaruhi kenyamanan bagi para pekerja
yang berada di dalam area tambang bawah tanah, karena udara tidak hanya
untuk pernapasan tetapi juga untuk pendinginan tubuh. Temperatur yang baik
tidak kurang dari 18oC dan tidak melebihi 24oC dalam temperatur
efektif.Kelembaban udara tambang merupakan banyaknya kandungan uap air
yang ada di udara tambang yang biasanya dinyatakan dengan relatif humidity
Batas kelembaban relatif yang diperlukan untuk tambang bawah tanah adalah
65% - 95% nilai ini dapat ditentukan secara grafis menggunakan grafik
psychrometrik. Untuk mengetahui kenyamanan lingkungan kerja diperlukan
standar tertentu yaitu penggunaan temperatur efektif yang dapat diperoleh
menggunakan grafik dengan variabel sebagai berikut :
a. Temperatur basah (Tw) merupakan temperatur yang terjadi karena
proses penguapan air di udara tambang.
b. Temperatur kering (Td) merupakan temperatur yang menunjukan
keadaan panas dari udara tambang.
c. Kecepatan aliran udara (V) kecepatan aliran udara pada tambang.
Kecepatan udara mengalir dalam terowongan tambang merupakan
komponen yang paling banyakdiukur pada kegiatan survey ventilasi tambang
bawah tanah. Pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui jarak yang dapat
13

ditempuh udara dalam terowongan dalam satuan waktu tertentu. Prinsip yang
dipakai untuk mengetahui kecepatan udara :
1. Efek mekanis udara pada benda yang bergerak.
2. Tekanan yang dihasilkan akibat pergerakan udara.
3. Efek pendinginan akibat udara yang bergerak.
Pada tambang bawah tanah, kecepatan udara dikelompokan menjadi :
1. Kecepatan rendah (< 0,508 m/det)
2. Kecepatan menengah (antara 0,508 3,81 m/det)
3. Kecepatan tinggi (> 3,81 m/det)
Adapun alat-alat yang sering digunakan untuk mengukur kecepatan udara
pada tambang bawah tanah :
1. Smoke Tube
2. Vane Anemometer
3. Velometer
4. Thermoanemometer
5. Hot-wire
6. Pitot tube
Pengukuran kecepatan udara dapat dilakukan dengan metode-metode
berikut :
a. Traverse Method, dilakukan dengan cara membuat lintasan sepanjang
lebar terowongan tambang. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk
mencari nilai rata-rata supaya akurat.
b. Fixed Point Method, Dilakukan dengan cara membuat titik-titik khayal
yang membagi terowongan seolah mempunyai luas bidang yang sama.
Kuantitas udara merupakan jumlah udara yang melalui ruang dengan
kecepatan dan luas tertentu diukur setiap satuan waktu. Kuantitas udara tidak
ditentukan secara langsung, melainkan berdasarkan pengukuran kecepatan
aliran udara dan luas penampang jalur udara tambang. Tujuan dari pengukuran
ini untuk mengetahui kebutuhan udara yang dibutuhkan dan pembagiannya ke
setiap jalur yang membutuhkan di dalam tambang. Kuantitas udara dapat
dihitung dengan menggunakan rumus:
Q=V.A
Dimana : Q = Debit udara (m3/s)
V = Kecepatan Udara (m/s)
14

A = Luas permukaan bidang (m2)

Sumber : Dok. Kegiatan Kuliah Kerja Lapangan, 2016


Foto 3. 2
Simulasi Pengukuran Udara

3.1.2 Teknik Penyanggaan


Pelatihan penyanggan terowongan dilaksanakn pada tanggal 2 Agustus
2016 pukul 08.00 17.00 WIB. Pada kegiatan pelatihan penyanggan ini dibagi
menjadi dua yakni teori yang berada di kelas dan praktik berada di areal praktik.
Penyanggaan merupakan salah satu disiplin ilmu yang sangat penting dalam
tambang bawah tanah khusunya dalam menopang terowongan agar tidak runtuh.
Dalam kegunaannya penyanggan berguna untuk menahan massa batuan yang
berada disekeliling terowongan agar tidak ambruk. Selain itu juga kegunaan
penyanggan yang sesungguhnya ialah untuk mempertahankan dimensi dari
terowongan agar dapat dilalui oleh alat maupun pekerja dengan baik dan aman.
Penyanggaan dapat menggunakan kayu dan besi hal ini tergantung dari massa
batuan yang akan ditahan dan juga biaya yang cocok. Selain penyanggan
terdapat pula penguatan yakni menambahkan material ke dalam massa batuan
agar massa batuan tersebut tidak cepat runtuh.
Simulasi peyanggan yang digunakan adalah dengan metode arcis dimana
penyangga berbentuk melengkung, tahapan simulasi diantaranya :
Merancang pola penyanggaan yang akan dipakai
Pasang cap penyangga dan sesuaikan terlebih dahulu centeringnya dan
berapa derajat naik atau turunya terowongan
Pasang kaki-kaki penyangga dan kemudian baut agar kokoh
Setelah penyangga sebagai penopang terpasang maka mulai memasang
stuffin dengan pola yang disesuaikan dengan alur yang sudah ada.
15

Pemasangan stuffin ini harus sejajar dengan alur yang sudah ada dab
berjumlah genap agar penyanggaan menjadi lebih kencang dan kokoh
serta distribusi gaya yang diberikan dari massa batuan dapat
terdistribusikan secara merata. Selain itu juga pemasangan stuffin
berguna untuk menghindari jatuhan batuan yang berukuran lebih kecil
dari atas
Pada beberapa titik biasanya digunakan penyangga dengan metode
scribbing. Lokasi yang biasanya digunakan penyangga ini yaitu di suatu
persimpangan terowongan karena luas dari teroowongan yang lebih lebar
menagkibatkan tekanan yang diterima lebih besar sehingga biasanya
digunakan metode scribbin.

Foto 3. 3
Stuffin
Metode penyanggan terdiri dai beberapa metode, yaitu
Three piece set, yaitu penyangga yang menggunakan tiga batang
penopang
Five piece set, yaitu penyangga yang menggunakan lima batang
penopang
Cribbing, yaitu penyangga yang disusun seperti berbentuk balok
Arcis, yaitu penyangga dengan bentuk penopang melengkung atau
setengah lingkaran.
Rockbolt, yaitu penyanggaan yang dilakukan dengan cara membaut
batuan dengan cara membuat lubang di bagian atas dan kemudian
membautnya untuk untuk menyatukan lapisan batuan sehingga lapisan
batuan semakin kuat.
Hydraulic prop, yaitu suatu penyangga yang biasa digunakan dalam front
produksi karena penyangga ini dapat mudah di bongkar pasang.
16

Pemilihan metode penyangga pada suatu tambang bawah tanah


dirancang sejak perencanaan tambang dimana hal ini tergantung dari kondisi
geologi, dana yang dimilikidan hal-hal lainnya.

Sumber : Dok. Kegiatan Kuliah Kerja Lapangan, 2016


Foto 3. 4
Simulasi Penyanggaan

3.1.3 Pemboran untuk Peledakan


Kegiatan pelatihan pemboran dilaksanakan pada tanggal 3 Agustus 2016
pukul 08.00 17.00 WIB di salah satu area Balai Diklat Tambang Bawah Tanah
Sawah Lunto dalam kegiatan pelatihan diperkenalkan terlebih dahulu alat bor
yang digunakan yaitu Jackleg Drill dan auger Drill.
Pelatihan pemboran ini dilakukan dengan tujuan antara lain :
Mengetahui cara kerja alat
Mengetahui fungsi dan kegunaan dari pemboran yang dilakukan
Mampu melakukan pemboran dengan baik, benar dan aman

Foto 3. 5
Jackleg Drill
17

Jackleg Drill merupakan alat pemboran yang digunakan untuk membuat


lubang pada batuan yang keras sebelum dilakukannya peledakan. Alat ini
mempunyai satu kaki hidrolik yang berguna sebagai tumpuan dalam melakukan
pengeboran dan kaki itu dapat disesuaikan sejajar dengan lubang bor yang akan
dibuat sehingga pemboran akan menghasilkan lubang yang baik. Alat bor ini
merupakan tipe alat bor basah yakni alat bor yang penggunaannya dibantu oleh
fluida campuran air dan oli untuk mengurangi debu yang berterbangan ketika
pengeboran berlangsung serta berfungsi untuk melunakan batuan yang akan
dibor sehingga untuk memasukkan bahan peledak kedalam lubang dapat
diletakkan secara optimal. Alat ini bekerja dengan prinsip memukul dan berputar
Alat ini bekerja dengan bantuan kompresor yang memompa udara
sehingga alat dapat bekerja. Tinggi rendahnya bor dapat diatur dengan memutar
air leg yang berada di sebelah kiri sehingga pemboran dapat dilakukan dari
berbagai posisi dan sudut. Pada saat melakukan pemboran harus dilakukan pula
flashing untuk mengeluarkan sisa sisa pasir yang berada di batang bor
sehingga pemboran akan berjalan lancar.
Cara penggunaan jackleg drill ini pertama-tama dengan memasang
perangkat-perangkat yang ada pada bor seperti pemasangan batang bor, kaki
hidrolik dan host-host nya. Kemudian menancapkan kaki hidrolik ke alas dan
usahakan untuk menancap dengan kuat. Setelah itu letakkan mata bor ditempat
yang sudah ditentukan untuk di bor dan siapkan posisi yang nyaman untuk
mengebor dengan posisi yang aman berada disebelah kiri dari alat bor dengan
kaki kanan berada di belakang sebagai tumpuan.

Foto 3. 6
Kegiatan Pengeboran
18

Selain itu diperkenalkan pula alat bor lainnya yaitu auger drill yang biasa
digunakan dalam tambang batubara bawah tanah. Auger drill ini merupakan alat
bor yang digunakan secara vertikal, berbentuk seperti kemudi kendaraan
bermotor, di mana untuk mengoerasikan alat ini cukup dengan menekan tombol
yang terdapat pada gribnya sembari mendorong alat tersebut agar masuk ke
dalam batubara yang letaknya di bawah.

Foto 3. 7
Auger Drill

3.1.4 Kunjungan ke PT Allied Indo Coal


Kunjungan ke PT Allied Indo Coal dilaksanakan tanggal 4 Agustus 2016
di daerah sijunjung Kota Sawah Lunto, Sumatera Barat pukul 08.00 15.00 WIB.
Kunjungan ini dilakukan agar mahasiswa mengetahui keadaan sebenarnya
dilapangan. Berdasarkan kunjungan yang telah dilakuakan, didapat beberapa
informasi berupa :
Penyanggan yang digunakan dengan menggunakan metode arcis dan
untuk tiap spasi 1,2 meter dengan deck kayu yang telah menutupi semua
bagian dari terowongan. Hal ini dimaksudkan untuk mampu menahan
batuan yang jatuh
Selain itu juga pada beberapa persimpangan terowongan ada untuk
menahan beban yang cukup besar karena luasan persimpangan yang
lebih lebar penyanggaan menggunakan metode rockbolt. Hal ini juga
disesuaikan dengan kondisi batuan yang berada di atas terowongan serta
dipasang kawat untuk menahan jatuhan batuan yang mungkin
membahayakan
Perusahaan ini mempunyai tiga lapisan batubara dengan lapisan C yang
baru ditemukan mempunyai ketebalan 12 meter dengan kalori 7000
19

Produksi perusahaan ini dilakukan dengan cara peledakan yang


kemudian diangkut dengan menggunakan kereta lori menuju dump truck
metode penambangan yang dilakukan di perusahaan ini menggunakan
metode long wall.

Foto 3. 8
Lokasi Terowongan PT. Allied Indo Coal Jaya Unit Sawahlunto

3.1.5 Kunjungan ke PT Semen Padang


Kunjungan ke PT semen Padang dilaksanakan pada tanggal 5 Agustus
2015. PT Semen Padang merupakan salah satu anak cabang dari PT Semen
Indonesia. Perusahaan ini terletak di Kabupaten Indarung Sumatera Barat.
Produksi perusahaan ini adalah 25000ton/hari yang dikerjakan dalam tiga shift
selama 24 jam.
Perusahaan ini melakukan produksi dengan menambang batu gamping,
silika dan tanah liat dimana batu gamping menjadi komoditi utama untuk
ditambang. Di perusahaan ini terdapat intrusi batuan beku yaitu basalt, intrusi ini
dapat menjadi suatu kendala dalam penambangan gamping karena struktur
batuan basalt yang massive dapat mengabrasive roda-roda alat muat seperti
dumptruck.
Metode penambangan batu gamping di perusahaan ini dilakukan dengan
cara drilling dan blasting yang kemudian dilakukan pengangkutan atau pemuatan
dengan menggunakan excavator yang memiliki kapasitas bucket 25 ton dan
dimuat dengan menggunakan dumptruck dengan kapasitas 100 ton sehingga
untuk pemuatan dapat dilakukan dengan 4 kali proses pemuatan. Setelah dimuat
lalu dibawa ke tempat crusher untuk mendapatkan ukuran batuan yang lebih
kecil dan kemudian diangkut ke tempat penyimpanan dengan menggunakan belt
conveyor.
20

Foto 3. 9
Proses Penambangan PT. Semen Padang
21

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa PT Semen Padang
dan PT Iindo Allied Coal (AIC) merupakan dua perusahaan di bidang
pertambangan yang melakukan penambangan dengan bahan galian yang dan
cara yang berbeda. PT Semen padang merupakan perusahaan tambang yang
menampang gamping yang dilakukan secara terbuka (surface mining) dengan
menggunakan metode peledakan untuk produksinya yang kemudian langsung
dimuat oleh excavator ke dumptruck yang langsung dibawa ke crusher serta
diolah menjadi semen. Sedangkan PT Allied Indo Coal (AIC) merupakan salah
satu perusahaan tambang batubara yang melakukan penambangan di bawah
tanah (underground), Dalam proses produksinya tambang ini menggunakan
metode peledakan untuk menghancurkan lapisan batubara sehingga dapat
langsung dimuat ke dalam belt conveyor yang langsung membawanya ke
stockfile.
Dalam pertambangan terdapat beberapa proses dalam pengambilan
material dari dalam bumi yang mana proses tersebut diantaranya adalah
pemboranuntuk peledakan merupakan salah satu proses produksi dimana alat
yang digunakan biasanya adalah jackleg drill. Alat ini dioperaikan dengan cara
hidrolik yang menggunakan tekanan udara serta air yang membantu dalam
proses pemboran. Secara teknis pengoperasian alat ini pertama dengan
menyatukan komponen-komponen dari alat ini dan kemudian mendirikannya
pada posisi yang tepat dan kemudian memulai pemboran dengan menarik ke
bagian depan tuas gas serta mengoperasikan bagian-bagian lainnya untuk
menghasilkan lubang yang pas untuk bahan peledak.
Dalam industri tambang bawah tanah yang memiliki resiko kecelakaan
cukup tinggi sangat diperlukan pelatihan untuk mengenai keselamatan kerja.
Salah satu pelatihan adalah first aid. First aid adalah suatu keadaan untuk
menolong korban agar menjadi lebih baik sebelum diberi perawatan lebih lanjut
dengan tahapan-tahapan Danger Respon Send Airway Breathing

21
22

CPR Devibiration. Untuk keselamatan juga ada alat bantu yang dapat
digunakan dalam keadaan genting ketika kadar oksigen didalam tambang kurang
maka dapat menggunakan SCBA.
Penyanggan suatu terowongan dilakukan dengan memilih metode
penyanggan yang cocok terlebih dahulu kemudian agar lebih kokoh dan dapat
mengurangi kecelakaan yang diakibatkan oleh jatuhnya batuan maka diperlukan
memasang stuffin mengikuti alur yang telah ada sehingga distribusi gaya dapat
merata. Pemasangan stuffin ini biasanya horizontal dan vertikal agar penyangga
menjadi lebih kuat.

4.2 Saran
Kegiatan pelatihan ini sangatlah bermanfaat bagi mahasiswa program
studi teknik pertambangan guna menambah wawasan serta kemampuan dalam
bekerja didunia pertambangan namun disarankan pada kegiatan pelatihan di
Balai Diklat Tambang Bawah Tanah (BDTBT) ini sangat diharapkan untuk
menggunakan waktu sebaik mungkin serta menggali ilmu sebanyak mungkin
serta dalam melakukan aktivitas tambang bawah tanah sangat diwajibkan untuk
memakai safety tools yang lengkap dan memadai untuk menghindari kecelakaan.
.
23

DAFTAR PUSTAKA

1. Kementrian ESDM, 2007, Balai Diklat Tambang Bawah Tanah,


http://bdtbt.esdm.go.id/index.php. Diakses pada 25 Agustus
2016 pukul 10.15 WIB. (Word, Online)

2. Malindo, Jordan, 2012, Tambang Batubara Bawah Tanah,


http://jordanmalindopenambangan.blogspot.co.id/2012/12/tamb
ang-batubara-bawah-tanah.html. Diakses pada 25 Agustus
2016 pukul 10.15 WIB. (Word, Online)

3. W, A, Hustrulid, 1982, Underground Mining Method Handbook, The


American Institute of Mining Metlurgical, and Petroleum
Engineers, New York : Inc.