Anda di halaman 1dari 23

Definisi

Obligasi (bond = B) adalah surat hutang yang diterbitkan atau dijual oleh sebuah perusahaan atau
pemerintah pada saat meminjam uang dari masyarakat untuk jangka waktu panjang.

Nilai nominal (par value / face value = F) adalah jumlah pokok obligasi yang akan dibayar pada saat
obligasi jatuh tempo.

Kupon ( C ) adalah nilai pembayaran bunga yang dinyatakan atas obligasi.

Tarif Kupon (coupon rate = r ) adalah nilai kupon tahunan dibagi dengan nilai nominal obligasi. Tarif
kupon ini setara dengan tingkat suku bunga untuk pinjaman di bank.

Tanggal Jatuh Tempo (maturity date) adalah tanggal tertentu yang digunakan untuk pembayaran
pokok (nilai nominal) obligasi.

Hasil Sampai Jatuh Tempo (Yield to Maturity / YTM) adalah tingkat pengembalian (hasil) yang
diharapkan pasar atas obligasi.

Persamaan untuk menghitung Harga Obligasi

Harga Obligasi = C x PVIFa + FV x PFIF

C = nilai kupon

PVIFa = [ 1 (1+r)^(-t) ] / r

PVIF = 1/(1+r)t^t = (1+r)^(-t)

r = tarif kupon

t = banyaknya periode pembayaran kupon

FV = face value = nilai nominal obligasi

Contoh :

Obligasi yang bernilai nominal Rp 10 juta dengan tarif kupon 14% setahun. Kupon dibayarkan setiap
6 bulan. Obligasi tersebut akan jatuh tempo dalam waktu 7 tahun dan memiliki YTM 16%. Hitunglah
harga obligasinya.

1 tahun = 2 periode pembayaran kupon, sehingga t = 7 tahun x 2 periode / tahun = 14 periode

R per periode = 14% /2 = 7% per periode ( 1 periode = 1 semester)

YTM per periode = 16%/2 = 8% per periode.

Kupon per periode = 7% x Rp 10 juta = Rp 700.000


PVIFa = [1 (1+8%)^(-14)] / 8% = 8,244236983

PVIF = (1+8%) ^ (-14) = 0,340461041

Harga Obligasi (B) = Rp 700.000 x 8,244236983 + Rp 10.000.000 x 0,340461041 = Rp 9.175.576,30

Menghitung Nilai Obligasi dan Perubahan Suku Bunga

Harga Obligasi (Bond Value) = Nilai Sekarang Kupon + Nilai Sekarang dari Nilai Nominal

Nilai Sekarang Kupon = Nilai Sekarang Anuitas dari Kupon

Pada saat tingkat suku bunga naik, nilai sekarang akan turun demikian juga dengan nilai obligasi yang
akan turun bila tingkat suku bunga naik dan sebaliknya.

Menghitung Nilai Obligasi Diskon dengan Kupon Tahunan

Misal sebuah obligasi dengan tarif kupon 10% dan kupon dibayar tahunan. Nilai nominalnya Rp 10
juta dan akan jatuh tempo 5 tahun kemudian. Dengan YTM 11%, berapa nilai obligasi tersebut?

Nilai Kupon = tarif kupon x nilai nominal = 10% x Rp 10 juta = Rp 1 juta.

Nilai Obligasi (B) = Nilai Sekarang Anuitas dari Kupon + Nilai Sekarang dari Nilai Nominal

Nilai Sekarang Anuitas = [1-(1+r)^(-t)] / r

R = YTM = 11%

T = 5 periode

Faktor Bunga Nilai Sekarang Anuitas = PVIFa (11%,5) = [ 1 (1+11%)^(-5)] / 11% = 3,695897018

Faktor Nilai Sekarang = PVIF (11%,5) = (1+11%)^(-5) = 0,593451328

Nilai Kupon = 10% x Rp 10 juta = Rp 1 juta

Harga Obligasi (B) = Nilai Sekarang Anuitas dari Kupon + Nilai Sekarang dari Nilai Nominal

= Rp 1 juta x 3,695897018 + Rp 10 juta x 3,695897018

= Rp 9.630.410,298

Menghitung nilai Obligasi Premium dengan Kupon Tahunan

Obligasi premium adalah obligasi yang nilainya lebih tinggi daripada nilai nominalnya.
Contoh : anda sedang mereview suatu obligasi yang memberikan kupon tahunan sebesar 10%
dengan nilai nominal Rp 10 juta. Obligasi tersebut jatuh tempo 20 tahun dan YTM nya 8%. Berapa
nilai obligasi tersebut?

Faktor Bunga Nilai Sekarang Anuitas = PVIFa (8%,20) = [ 1 (1+8%)^(-20)] / 8% = 9,818147407

Faktor Nilai Sekarang = PVIF (8%,20) = (1+8%)^(-20) = 0,214548207

Harga Obligasi (B) = Nilai Sekarang Anuitas dari Kupon + Nilai Sekarang dari Nilai Nominal

= Rp 1 juta x 9,818147407+ Rp 10 juta x 0,214548207

= Rp 11.963.629,48

Hubungan grafis antara harga obligasi dan YTM

Dari grafik di atas terlihat bahwa semakin besar YTM, maka nilai obligasi semakin kecil.

Harga Obligasi : hubungan antara Tarif Kupon dengan YTM

Jika YTM = tarif kupon, maka nilai nominal obligasi = harga obligasi

Jika YTM > tarif kupon, maka nilai nominal obligasi > harga obligasi

Hal ini mengingat nilai diskonto nya menyebabkan hasil (tingkat pengembalian) obligasi lebih tinggi
dari tarif kupon.

Obligasi yang harganya di bawah nilai nominal disebut obligasi diskon.

Jika YTM < tarif kupon, maka nilai nominal obligasi <. harga obligasi

Tarif kupon yang lebih tinggi menyebabkan harga obligasi lebih tinggi dari nilai nominalnya.

Obligasi yang harganya di atas nilai nominal disebut obligasi premium.

Resiko Tingkat Suku Bunga

Resiko tingkat suku bunga adalah resiko yang timbul bagi pemegang obligasi karena adanya
perubahan tingkat suku bunga. Terbagi atas 2 :

1. Resiko Harga yakni perubahan harga obligasi yang timbul karena perubahan tingkat suku
bunga.

- Obligasi jangka panjang memiliki resiko harga yang lebih besar dibanding obligasi jangka
pendek.
- Obligasi dengan tarif kupon yang rendah lebih besar resiko harganya dibanding obligasi tarif
kupon yang tinggi.

- Resiko harga semakin besar saat YTM nya rendah dibanding YTM yang tinggi (lihat Hubungan
grafis antara harga obligasi dan YTM)

2. Resiko Tingkat Investasi Kembali yakni ketidakpastian yang timbul atas tingkat hasil saat arus
kas yang diterima diinvestasikan kembali.

- Obligasi jangka pendek memiliki resiko tingkat investasi kembali yang lebih besar dibanding
obligasi jangka panjang.

- Obligasi dengan tarif kupon yang tinggi lebih beresiko dalam hal diinvestasikan kembali
dibanding obligasi dengan tarif kupon yang rendah.

Menghitung Hasil Oblligasi (Yield to Maturity)

Yield to Maturity (YTM) adalah tingkat bunga yang berlaku pada harga obligasi saat ini.

Untuk menghitung besarnya YTM perlu digunakan metode coba-coba (trial and error) dan sama
prosesnya seperti menghitung r dalam suatu perhitungan anuitas.

YTM dengan kupon tahunan

Misalnya suatu obligasi dengan kupon tahunan sebesar 10%, jatuh tempo 15 tahun dan nilai nominal
Rp 10.000.000. Harga obligasi tersebut sekarang Rp 9.280.900 Berapakah YTM nya?

Harga Obligasi (B) = Nilai Sekarang Anuitas dari Kupon + Nilai Sekarang dari Nilai Nominal

B = Rp 1 juta x PVIFa + Rp 10 juta x PVIF = Rp 9.280.900

Karena harga obligasi lebih rendah dibanding nilai nominalnya, berarti ini adalah obligasi diskon
dimana YTM nya lebih besar daripada 10%

Misalkan r1 = 10% maka B1 = 10.000.000 9.280.900 = 643.072

R2 = 12% maka B2 = 8.637.827 - 9.280.900 =-719.100

2% 1.362.172

YTM = 10% + 643.072 / 1.362.172 x 2% = 10,94%

Atau 12% - 719.100 / 1.362.172 x 2% = 10,94%

Berarti YTM = 10,94%.

YTM dengan Kupon Semesteran


Misalkan sebuah obligasi dengan tarif kupon 10% dan kupon dibayar setengah tahunan (per
semester). Nilai nominal Obligasi tersebut Rp 10 juta, dengan umur ekonomis 20 tahun dan dijual
dengan harga Rp 11.979.300. Hitung YTM nya.

Karena harga obligasi lebih tinggi dibanding nilai nominalnya, berarti ini adalah obligasi premium di
mana YTM nya lebih kecil daripada tarif kupon (10%).

Kupon semesteran artinya obligasi ini membayar kupon setiap semester (enam bulan sekali) alias
setahun 2 kali bayar kupon. Hal ini lumrah untuk obligasi di Amerika. Berarti 1 periode = 1 semester.

Jumlah periode pembayaran kupon obligasi tersebut = 20 tahun x 2 periode / tahun = 40 periode.

Tarif kupon per periode = 10% / 2 = 5%

Kupon = 5% x Rp 10 juta = Rp 500.000 / semester

B = Rp 500.000 juta x PVIFa + Rp 10 juta x PVIF = Rp 11.979.300

Misalkan r1 = 5% maka B1 = 10.000.000 11.979.300 = -1.979.300

R2 = 3% maka B2 = 14.622.954,- 11.979.300= 2.643.654

2% 4.622.954

YTM = 3% + 2.643.654 / 4.622.954 x 2% = 4,14% / semester

Atau 5% - 1.979.300 / 4.622.954 x 2% = 4,14% / semester

Berarti YTM = 4,14% x 2 = 8,28% setahun

Dengan perhitungan yang lebih teliti (tanpa pembulatan) diperoleh YTM = 8%

Current Yield vs. Yield to Maturity

Current Yield = kupon tahunan / harga obligasi

Yield to maturity = current yield + capital gains yield

Misal : obligasi dengan tarif kupon 10% dibayarkan tiap semester. Nilai nominal Rp 10 juta, umur
ekonomis 20 tahun dengan harga obligasi Rp 11.979.300.

Kupon setahun = 10% x Rp 10 juta = Rp 1 juta.

Current Yield = Rp 1 juta / Rp 11.979.300 = 0,0835 = 8,35%

Harga tahun pertama (asumsi YTM tidak berubah) = Rp 11.936.800

Capital gain yield = (RP 11.936.800 Rp 11.979.300) / Rp 1.1979.300 = -0,0035 = - 0,35%


Teori Harga Obligasi

Obligasi yang memiliki resiko dan umur yang sama akan memiliki hasil (return) yang sama yang
dijadikan dasar untuk perhitungan harga obligasi tersebut (tidak tergantung dari tarif kupon). Jika
harga satu obligasi diketahui, maka dapat dihitung YTM nya dan YTM tersebut digunakan untuk
menghitung harga dari obligasi kedua. Konsep menghitung harga suatu aset didasarkan atas harga
aset sejenis dapat digunakan untuk menghitung nilai aset lainnya (di luar obligasi).

Perbedaan antara Utang dan Ekuitas

Utang :

- Tidak memiliki kepentingan atas kepemilikan saham

- Kreditur tidak memiliki hak suara

- Bunga merupakan biaya untuk menjalankan usaha dan dapat mengurangi besarnya pajak yang
dibayar

- Kreditur memiliki hak secara hukum bila pembayaran bunga dan pokok pinjaman gagal
dilaksanakan

- Kelebihan utang dapat mengakibatkan masalah keuangan dan kebangkrutan.

Ekuitas :

- Memiliki kepentingan atas kepemilikan saham

- Pemegang saham memiliki hak suara untuk memilih dewan direksi dan masalah lainnya.

- Dividen bukan merupakan biaya untuk menjalankan usaha dan tidak dapat mengurangi pajak

- Dividend bukan merupakan kewajiban perusahaan , pemegang saham tidak memiliki hak
secara hukum bila dividen tidak dibayarkan

- Perusahaan yang sumber dananya seluruhnya dari pemegang saham tidak dapat bangkrut
karena perusahaan tersebut tidak punya utang.

Kontrak Oblgiasi (Bond Indenture)

Merupakan kontrak antara perusahaan dan pemegang obligasi yang mencakup :

- Klausul (termin) dasar dari obligasi

- Jumlah nilai obligasi yang diterbitkan

- Penjelasan atas property yang digunakan sebagai jaminan (jika ada)


- Dana cadangan untuk pelunasan obligasi

- Provisi untuk penebusan obligasi lebih awal

- Rincian atas perjanjian perlindungan untuk pemegang obligasi

Klasifikasi Obligasi

1. Obligasi atas nama (registered) dan atas unjuk (bearer). Obligasi tercatat merupakan bentuk
penerbitan obligasi dimana perusahaan mencatat nama pemilik setiap obligasi dan pembayaran
(kupon dan pokok) dilakukan ke nama pemilik yang tercatat. Sedangkan obligasi atas unjuk (bearer
form) merupakan bentuk penerbitan dimana obligasi diterbitkan tanpa pencatatan atas nama
pemiliknya; pembayaran dilakukan kepada siapapun yang memegang obligasi tersebut.

2. Sekuritas. Sekuritas utang diklasifikasikan sesuai dengan jaminan dan hipotek yang dipakai
untuk melindungi pemegang obligasi.

3. Kolateral (jaminan) merupakan istilah umum yang sering digunakan untuk sekuritas (misalnya :
obligasi dan saham) yang dijadikan jaminan untuk pembayaran utang. Kolateral umumnya digunakan
untuk merujuk aset yang dijanjikan atas pembayaran suatu utang.

4. Sekuritas Hipotek (mortgage) sekuritas yang dilindungi dengan suatu hipotek atas property
(harta) dari peminjam.

5. Surat utang (debenture) merupakan suatu bentuk utang tanpa jaminan biasanya dengan jatuh
tempo 10 tahun atau lebih.

6. Utang tanpa jaminan (Unsecured debt-di Amerika Serikat)

7. Utang dengan jaminan (Secured debt di Inggris)

8. Notes merupakan utang tanpa jaminan yang awalnya memiliki jatuh tempo kurang dari 10
tahun.

9. Senioritas merupakan preferensi dalam posisi pemberi pinjaman (mana yang lebih didahulukan)
terkadang diberi istilah senior dan junior untuk menunjukkan tingkat senioritas.

Karakteristik Obligasi dan Hasil yang Diharapkan

Tarif kupon tergantung dari karakteristik resiko dari obligasi yang diterbitkan.

Obligasi yang memiliki kupon yang lebih tinggi :

a. Yang tanpa jaminan dibanding dengan yang dengan jaminan.

b. Utang tersubordinasi dibanding dengan utang senior


c. Obligasi tanpa dana cadangan pelunasan dibanding dengan obligasi tanpa dana cadangan
pelunasan

d. Obligasi yang dapat ditebus sebelum jatuh tempo (callable bond) dibanding obligasi tanpa hak
untuk menebus sebelum jatuh tempo (non-callable bond)

Peringkat Obligasi

Yang baik untuk dilakukan investasi

- High Grade : Moodys Aaa dan S&P AAA kemampuan bayar teramat kuat , Moodys Aa dan
S&P AA kemampuan bayar sangat kuat

- Medium Grade : Moodys A dan S&P A kemampuan bayarnya kuat, namun mudah
terpengaruh bila ada perubahan kondisi. Moodys Baa dan S&P BBB kemampuan bayar cukup,
kondisi yang berlawanan akan memberi dampak lebih jauh dalam kemampuan bayar perusahaan.

- Investment Grade : peringkat Baa atau BBB dan di atasnya

Bersifat spekulasi

- Low Grade : Moodys Ba dan B; S&P BB dan B Dianggap mungkin kemampuan membayarnya
akan merosot.

- Very Low Grade : Moodys C (dan di bawahnya) dan S&P C (dan di bawahnya) yakni obligasi
penghasilan (income bonds) tanpa bunga yang dibayar atau pembayaran pokok dan bunga di
belakang.

Obligasi pemerintah di Amerika terbagi atas :

1. Treasury Securities yakni Federal government debt ,T-bills (obligasi diskon murni dengan umur
setahun atau kurang) , T-notes (utang dengan kupon yang memiliki jatuh tempo antara setahun
sampai 10 tahun) , T-bonds (utang yang memiliki jatuh tempo lebih dari sepuluh tahun)

2. Municipal Securities yakni utang negara bagian dan pemerintah local , memiliki tingkat resiko
gagal bayar yang disamakan dengan utang perusahaan, bunga yang diterima bebas pajak.

Jika anda diminta memilih antara obligasi yang kuponnya dikenakan pajak yang memberikan hasil 8%
dengan obligasi pemerintah daerah yang memberikan hasil 6% , dengan tingkat pajak 40%, mana
yang dipilih?

Obligasi yang dikenakan pajak 8% x (1-40%) = 4,8%.

Dengan demikian sebaiknya kita memilih obligasi pemerintah daerah sebesar 6% yang bebas pajak.

Obligasi Kupon Nihil (Zero Coupon Bonds)


Obligasi ini tidak membayar bunga secara berkala (tarif kupon 0%)

Seluruh YTM berasal dari perbedaan antara harga beli dan nilai nominalnya. Obligasi ini tidak dijual
lebih dari nilai nominalnya.

Terkadang disebut sebagai zeroes, deep discount bonds, atau original issue discount bonds (OIDs)

Contoh : Treasury Bills dan principal-only Treasury strips

Obligasi ini tidak memiliki resiko atas hasil investasi kembali.

Obligasi Suku Bunga Mengambang (Floating-Rate Bonds)

Tarif kupon mengambang tergantung dari beberapa nilai inde.

Contoh : adjustable rate mortgages dan inflation-linked Treasuries

Obligasi ini memiliki resiko harga yang lebih rendah.

Kupon mengambang, sehingga lebih kecil kemungkinannya berbeda dengan YTM.

Kupon nya mungkin memiliki kerah (collar) yakni tarifnya tidak bisa melebih batas atas (ceiling) atau
lebih rendah dari tarif bawah (floor).

Jenis Obligasi Lainnya : Disaster bonds, Income bonds, Convertible bonds, Put bonds

Terdapat banyak jenis biaya provisi atas suatu obligasi dan banyak obligasi memiliki beberapa jenis
provisi. Sangat penting untuk memahami bahwa provisi ini akan mempengaruhi tingkat hasilnya.

Pasar Obligasi

Obligasi diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia melalui pialang (dealer).

Harga Bersih dan Harga Kotor

Harga bersih adalah harga yang tecantum.

Harga kotor adalah harga yang sebenarnya dibayar, harga yang tecantum (harga bersih) ditambah
bunga.

Contoh : misalkan obligasi dengan kupon 4% dibayar semesteran dengan harga bersih Rp 12.825.000.

Jumlah hari sejak pembayaran kupon terakhir = 61 hari.

Jumlah hari dalam periode antar pembayaran kupon = 184 hari.


Bunga terutang = 61 / 184 x 4% x Rp 10.000.000 = Rp 132.600.

Harga kotor = Rp 12.825.000 + Rp 132.600 = Rp 12.957.600

Sehingga kita akan membayar Rp 12.957.600 untuk obligasi tersebut.

Inflasi dan Tingkat Suku Bunga

Tingkat suku bunga nominal = tingkat hasil sebenarnya + penyesuaian inflasi

The Fisher Effect

The Fisher Effect mendefinisikan hubungan antara tingkat suku bunga seenarnya, tingkat suku bunga
nominal dan inflasi.

(1 + R) = (1 + r)(1 + h) dimana

R = nominal rate (tingkat suku bunga nominal)

r = real rate (tingkat suku bunga sebenarnya)

h = tingkat inflasi

Kira-kira , R = r + h

Jika kita menginginkan tingkat suku bunga sebenarnya 10% dan inflasi 8%, berapa tingkat suku
bunga nominal?

R = (1+10%)(1+8%) 1 = 0,188 = 18,8%

Kira-kira: R = 10% + 8% = 18%

Karena tingkat suku bunga sebenarnya dan tingkat inflasi relative tinggi, terdapat perbedaan
signifikan antara Fisher Effect dan kira-kiranya..

Struktur Termin atas Tingkat Suku Bunga

Yakni hubungan antara waktu jatuh tempo dan hasil (yield) dengan asumsi yang lainnya sama.

(efek dari resiko gagal bayar, perbedaan kupon dll dikeluarkan).

Kurva hasil merupakan gambaran grafis atas struktur termin.

Kurva normal dengan lengkungan ke atas; hasil jangka panjang lebih tinggi dari hasil jangka pendek.
Kurva terbalik dengan lengkungan ke bawah; hasil jangka panjang lebih rendah dari hasil jangka
pendek.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Obligasi

1. Resiko gagal bayar

2. Apakah kuponnya dipotong pajak

3. Mudahnya obligasi tersebut diperdagangkan (makin mudah, hasilnya lebih rendah)

4. Hal-hal lain yang mempengaruhi resiko pembayaran ke pemegang obligasi

http://manajemenkeuanganakuntansi.blogspot.co.id/2013/05/menghitung-nilai-obligasi.html

Contoh Soal Investasi Jangka Panjang Dalam Bentuk


Obligasi

Soal :
PT. Inci Tbk pada tanggal 1 Januari 2008 membeli 500 lembar obligasi, bunga 7% per tahun
dengan nominal Rp.20.000 per lembar dari PT. Batra Tbk, dengan bunga efektif rata-rata
sebesar 8%. jatuh tempo pada tanggal 1 Januari 2013. Kupon bunga obligasi dibayarkan tiap
tanggal 1 Januari dan 1 Juli. Diminta:
a) Buatkan perhitungan pembelian obligasi dan jurnalnya ?
b) Buatkan tabel dan perhitungan Amortisasi obligasi dengan metode bunga efektif ?

a). Perhitungan dan Jurnal:

faktor Nilai tunai obligasi = ____1____ = 0,68058


(1 + 0,08)5

faktor nilai tunai bunga obligasi = 1 - 0,68058 = 3,99271


0.08

Nilai tunai Obligasi = 0,68058 x Rp.10.000.000 = Rp 6.805.800


Nilai tunai bunga Obligasi = 3.99271 x (7% x 10.000.000) = Rp 2.794.897
Harga Perolehan Obligasi = Rp 9.600.897

Jurnal:
Investasi Obligasi PT. Inci Tbk Rp 9.600.897
Kas Rp 9.600.897
b) Tabel Amortisasi
TABEL AKUMULASI DISAGIO OBLIGASI
Metode Bunga Efektif dengan tarif sebesar 8%
Bunga Bunga Akumulasi Nilai Buku
Tahun
Efektif Obligasi Disagio Obligasi
9.600.697
2008 768.056 700.000 68.056 9.668.753
2009 773.500 700.000 73.500 9.742.253
2010 779.380 700.000 79.380 9.821.633
2011 785.730 700.000 85.730 9.907.363
2012 792.590 700.000 92.590 10.000.000

Perhitungan
Tahun 2008 = 12/12 x 8% x 9.600.697 = 768.056
Tahun 2009 = 12/12 x 8% x 9.668.753 = 773.500
Tahun 2010 = 12/12 x 8% x 9.742.253 = 779.380
Tahun 2011 = 12/12 x 8% x 9.821.633 = 785.730
Tahun 2012 = 12/12 x 8% x 9.907.363 = 792.590

http://kageed.blogspot.co.id/2013/11/akuntansi-keuangan-ii-investasi-obligasi.html

Bagian II

Penentuan Harga dan Pencatatannya

1. Menentukan Harga Obligasi

Harga jual atau harga beli obligasi tidak selalu sebesar nominalnya. Besarnya harga obligasi
ditentukan oleh tingkat bunga obligasi, semakin besar bunganya, harga obligasi semakin tinggi dan
sebaliknya.

Untuk mengetahui apakah bunga obligasi cukup besar, bandingkan persentase bunga obligasi
dengan persentase bunga di pasar. Perbandingan ini menghasilkan 2 pengertian :

1. Agio

Adalah Persentase bunga obligasi melebihi tingkat bunga di pasar

2. Disagio

Adalah Persentase bunga obligasi kurang atau lebih rendah dari tingkat bunga di pasar

Contoh Perhitungan untuk menentukan besarnya harga Obligasi

Contoh soal :
Pada tanggal 1 Januari 2008 Tuan Johny membeli obligasi PT. ANEKA nilai nominal : Rp.
100.000.000,- bunga : 7% per tahun dibayarkan setiap tanggal 31 Desember, jatuh tempo tanggal 31
Desember 2012, dengan tujuan untuk mendapatkan hasil sesungguhnya (tarif efektif) sebesar 8 %.

Jawab :

Perhitungan harga beli oleh Tuan Johny sebagai berikut :

Nilai tunai jumlah jatuh tempo

= Nilai Nominal Obligasi x A n 7 p

= Rp. 100.000.000 x A 5 7 8

= Rp. 100.000.000 x 0,68058

= Rp. 68.058.000,-

Nilai tunai bunga yang akan di terima

Bunga = 7% x Rp. 100.000.000 = Rp. 7.000.000,-

= Bunga x a n 7 p

= Rp. 7.000.000 x a 5 7 8

= Rp. 7.000.000 x 3,99271

= Rp. 27.948.970,-

Jadi harga beli obligasi diatas menghasilkan tarif efektif 8% adalah sebesar Rp. 68.058.000 + Rp.

27.948.970 = Rp. 96.006.970

Atau dengan kata lain disagio obligasi sebesar :

Rp. 100.000.000 Rp. 96.006.970 = Rp. 3.993.030

2. Pencatatan Penanaman Modal Dalam Obligasi

Obligasi yang dibeli untuk tujuan penanaman modal jangka panjang dicatat dengan jumlah harga
perolehannya yaitu harga beli ditambah semua biaya pembelian seperti komisi, provisi, materai dll.

Pada obligasi terdapat bunga, apabila obligasi dibeli diantara tanggal pembayaran bunga, pembeli
membayar harga beli ditambah bunga berjalan yaitu bunga sejak tanggal pembayaran terakhir
sampai tanggal pembelian obligasi.

Contoh perhitungan bunga berjalan dan pencatatan obligasi :


Ny. Yuniati tanggal 1 Agustus 2008 membeli 8 lembar obligasi PT. UMI dengan nominal perlembar
Rp. 100.000.000,-

Dengan kurs 101. obligasi ini berbunga 12 % setahun, dan dibayarkan setiap tanggal 1 Mei dan 1
Nopember. Pada saat pembelian dibayar provisi dan materai sebesar Rp.2.500.000,-

Perhitungan

Harga Perolehan Obligasi

Harga Kurs : x ( 8 lbr x 100.000.000) = 808.000.000

Provisi dan Materai 2.500.000 +

Harga Perolehan Rp. 810.500.000

Bunga Berjalan (Mei Agustus 2008)

Tanggal bunga terakhir : 1 Mei 2008

Tanggal Pembelian : 1 Agustus 2008

Periode Bunga Berjalan : x 12% x 800.000.000

(3 bulan/12 bulan x bunga x harga obligasi)

: Rp. 24.000.000,-

Kita bisa lihat pada tabel, bagaimana cara penulisan jurnalnya :

Transaksi Jurnal

1 Agustus 2008

Pembelian Obligasi Pembelian obligasi PT. UMI Rp. 810.500.000,-

Pendapatan bunga obligasi Rp. 24.000.000,-

Kas Rp. 834.500.000,-


1 Nopember 2008

Penerimaan Bunga

6/12 x 12% x 800.000.000


Kas Rp. 48.000.000,-

= Rp. 48.000.000,-
Pendapatan Bunga Rp. 48.000.000,-

atau

Kas Rp. 48.000.000,-

Piutang Pendptn. Bunga Rp. 24.000.000,-

Pendapatan Bunga Rp. 24.000.000,-

Bagaimana pencatatannya jika terdapat agio atau disagio pada saat pembelian obligasi? Dalam
penanaman modal jangka panjang, agio atau disagio obligasi ini diamortisasi selama umur pemilikan
obligasi, sehingga pada tanggal jatuh tempo obligasi yang dimiliki saldonya sebesar nilai nominal.

Amortisasi biasanya digunakan untuk menunjukkan penyusutan dari agio obligasi, sedangkan
penyusutan disagio disebut akumulasi. Amortisasi agio atau akumulasi disagio biasanya dikerjakan
dengan metode garis lurus.

Contoh perhitungan akumulasi disagio :

Pada tanggal 1 Maret 2006 dibeli obligasi, nominal Rp. 100.000.000,- bunga 12%, jatuh tempo

tanggal 31 Desember 2008 dengan harga Rp. 96.600.000 termasuk komisi dan materai. Bunga
dibayarkan setiap 1 Januari dan 1 Juli tiap-tiap tahun. Pada tanggal 31 Desember 2008 obligasi
dilunasi oleh perusahaan yang mengeluarkan.

Perhitungan :

Harga beli Rp. 96.600.000,-


Bunga berjalan: x 12% x Rp. 100.000.000 Rp. 2.000.000,- +

Jumlah uang yang dibayarkan Rp. 98.600.000,-

Disagio obligasi = Rp. 100.000.000 Rp. 96.600.000 = 3.400.000,- akan diakumulasikan selama
umur obligasi yaitu 34 bulan ( 1 Maret 2006 s/d 31 Desember 2008). Akumulasi disagio setiap bulan
sebesar :

Jurnal yang akan dibuat untuk mencatat transaksi-transaksi tersebut diatas adalah :

Transaksi Jurnal

1 Maret 2006 Penanaman Modal Obligasi Rp. 96.600.000,-

Pembelian Obligasi Pendapatan bunga obligasi Rp. 2.000.000,-

Kas Rp. 98.600.000,-

1 Juli 2006

Penerimaan Bunga
Kas Rp. 6.000.000,-
6/12 x 12% x 100.000.000
Pendapatan Bunga Rp. 6.000.000,-
= Rp. 6.000.000,-

31 Desember 2006
Penyesuaian

1. mencatat bunga 6 Piutang Bunga Rp. 6.000.000,-


bulan
Pendapatan Bunga Rp. 6.000.000,-

Penanaman Modal Obligasi Rp. 1.000.000,-


2. akumulasi disagio
Pendapatan Bunga Rp. 1.000.000,-
10 bulan x Rp. 100.000 = Rp. 1 jt

Kas Rp. 6.000.000,-


1 Januari 2007
Piutang bunga Rp. 6.000.000,-
a) Penyeseuai kembali

Kas Rp. 6.000.000,-

Pendapatan Bunga Rp. 6.000.000,-


2. Penerimaan bunga

Kas Rp. 6.000.000,-


1 Juli 2007
Pendapatan Bunga Rp. 6.000.000,-
Penerimaan Bunga

6/12 x 12% x 100.000.000

= Rp. 6.000.000,-

31 Desember 2007
Piutang Bunga Rp. 6.000.000,-
Penyesuaian
Pendapatan Bunga Rp. 6.000.000,-
1. Mencatat pendapatan bunga

Penanaman Modal Obligasi Rp. 1.200.000,-


2. Akumulasi disagio
Pendapatan Bunga Rp. 1.200.000,-
12 bln x Rp. 100.000 = Rp. 1,2 jt
31 Desember 2008 Kas Rp.100.000.000,-

Dilunasi obligasi Penanaman Mdl Obligasi Rp. 100.000.000,-

Bagian III

Penjualan, Pertukaran dan Pelunasan Obligasi

1. Penjualan Obligasi Sebelum Jatuh Tempo

Apabila obligasi yang dimiliki dengan tujuan untuk penanaman modal jangka panjang dijual sebelum
tanggal jatuh temponya maka perhitungan laba atau rugi penjualan didasarkan pada jumlah uang
yang diterima dengan nilai buku obligasi.

Nilai buku obligasi dihitung dengan cara : Harga perolehan obligasi di tambah dengan akumulasi
disagio sampai tanggal penjualan atau Harga perolehan obligasi di kurangi amortisasi agio sampai
tanggal penjualan.

Contoh perhitungan Nilai Buku dengan amortisasi agio

Pada tanggal 1 April 2006 dibeli obligasi, nominal Rp. 100.000.000 bunga 12%, jatuh tempo tanggal
31 Desember 2008, dengan harga Rp. 106.600.000 (termasuk komisi dan biaya lainnya). Bunga di
bayar setiap tanggal 1 Maret dan 1 September. Pada tanggal jatuh tempo obligasi dilunasi.

Jawab :

Agio obligasi sebesar Rp. 100.000.000 Rp. 106.600.000 = Rp. 6.600.000

Diamortisasi ( 1 April 2006 s/d 31 Desember 2008 ) : 33 bulan

Maka amortisasi agio tiap bulan :

Harga perolehan obligasi Rp. 106.600.000

Amortisasi Agio:

Tahun 2006 = 9 bln x Rp. 2 rb = Rp. 1,8 jt

Tahun 2007 = 12 bln x Rp. 2 rb = Rp. 2,4 jt

Tahun 2008 = 3 bln x Rp. 2 rb = Rp. 6 jt

Rp. 4.800.000 -

Nilai buku obligasi Rp. 101.800.000


Harga jual obligasi Rp. 101.500.000 -

Rugi penjualan obligasi Rp. 300.000

Bunga berjalan x 12% x Rp. 100 jt Rp. 1.000.000

Uang yang diterima = 101,5 jt + 1 jt Rp. 102.500.000

Pencatatan jurnalnya :

Transaksi Jurnal

Mencatat amortisasi agio selama Pendapatan bunga obligasi Rp. 6.000.000,-


3 bulan
Penanaman Modal Obligasi Rp. 6.000.000,-
3 bulan x Rp. 2.000.000

Mencatat penjualan dan


penerimaan bunga Kas Rp.102.500.000,-

Rugi penjualan obligasi Rp. 300.000,-

Penanaman modal obligasi Rp. 101.800.000,-

Pendapatan bunga Rp. 1.000.000,-

2. Pertukaran Obligasi

Apabila obligasi yang dimiliki minta di tukar dengan surat berharga lain, maka rekening penanaman
modal dalam obligasi ditutup dan dibuka rekening penanaman modal yang baru. Surat berharga
yang diterima dicatat sebesar harganya di bursa, selisihnya dengan nilai buku obligasi dicatat sebagai
laba atau rugi.

Contoh soal penukaran obligasi dengan saham biasa


Misal obligasi dengan nilai nominal Rp. 100.000.000,- bunga 12%, dibayarkan tiap tanggal 1 Maret
dan 1 September.

Pada tanggal 1 April 2007 nilai bukunya sebesar Rp. 102.400.000,- dan ditukarkan dengan 10 lembar
saham biasa, nominal Rp. 1.000.000,-/lbr. Pada tanggal tersebut harga pasar saham biasa tercatat
sebesar Rp. 1.200.000/lbr.

Maka jurnal yang dibuat untuk mencatat transaksi diatas :

Transaksi Jurnal

Mencatat amortisasi agio selama Pendapatan bunga obligasi Rp. xxx


3 bulan
Penanaman Modal Obligasi Rp. xxx

Mencatat pertukaran obligasi


dengan saham biasa Penanaman modal saham Rp.120.000.000,-

Penanaman modal obligasi Rp. 102.400.000,-

Laba pertukaran obligasi Rp. 9.600.000,-

Mencatat penerimaan bunga


berjalan obligasi untuk 1 bulan : Kas Rp. 1.000.000,-
1/12 x 12% x 100.000.000 Pendapatan bunga Rp. 1.000.000,-
= Rp. 1.000.000,-

3. Pelunasan Obligasi sebelum Jatuh Tempo

Obligasi yang dapat dilunasi kembali sebelum tanggal jatuh tempo biasanya dilakukan dengan
memberi agio pada pemegang obligasi pada waktu pelunasan terjadi.
Akumulasi disagio atau amortisasi agio dalam buku investor tidak lagi dengan cara garis lurus tetapi
menggunakan amortisasi dipercepat.

Contoh soal pelunasan sebelum jatuh tempo dengan amortisasi agio dipercepat

Obligasi dibeli tanggal 1 Januari 1996 dan jatuh tempo pada tanggal 1 Januari 2016. daftar tanggal
pelunasan dengan jumlah pelunasan sebagai berikut :

Dilunasi tanggal 1 Januari 2001 sampai 31 Desember 2005 = 105

Dilunasi tanggal 1 Januari 2006 sampai 31 Desember 2010 = 103

Dilunasi tanggal 1 Januari 2011 sampai 31 Desember 2015 = 101

Apabila obligasi ini dibeli diatas nilai nominal maka perhitungan amortisasi agionya harus dibuat
sedemikian rupa agar nilai buku obligasi tidak melebihi nilai jatuh tempo tiap-tiap jangka waktu.

Misal obligasi nominal Rp. 10.000.000 dibeli dengan harga Rp. 11.000.000,- amortisasi yang
dipercepat dihitung sebagai berikut :

Kurs 105

Kurs 103

Kurs 101

Kurs 100

Pelunasan obligasi seperti ini dicatat dalam buku investor dengan debit kas, kredit penanaman
modal dalam obligasi sedangkan laba ruginya merupakan selisihnya. Penerimaan bunga tetap
dikreditkan ke rekening pendapatan bunga.

4. Dana Pelunasan Obligasi

Perusahaan yang mengeluarkan obligasi seringkali harus mengumpulkan dana pelunasan obligasi
agar dapat memenuhi perjanjian pada waktu menjual obligasi. Dana yang terkumpul digunakan
untuk melunasi obligasi pada tanggal jatuh tempo.

Dana biasanya dibentuk dengan simpanan tiap-tiap periode, simpanan ini bisa dalam jumlah yang
sama dapat juga dalam jumlah yang tidak sama. dana ini biasanya digunakan dulu untuk mencari
pendapatan yaitu dengan cara di tanamkan pada modal surat berharga berjangka pendek.

Pengurusan dana ini bisa oleh perusahaan itu sendiri atau di wali-kan. Jika perusahaan itu sendiri
maka langsung dicatat dalam buku-buku perusahaan. Jika di wali-kan maka setiap periode, wali
mengirimkan laporan mengenai kegiatan dana.

5. Dana dan Pembatasan Laba Tidak Dibagi


Pembatasan laba tidak dibagi dimaksudkan agar para pemegang saham tidak dapat meminta
pembagian seluruh saldo laba tidak dibagi sebagai deviden. Hal ini dimaksudkan agar tidak
mengganggu jalannya usaha perusahaan. Bisa juga untuk memelihara jalannya perusahaan pada
waktu perusahaan membentuk dana misalnya dana pelunasan obligasi.

Misalnya PT. DANA JAYA membentuk Dana Pelunasan Obligasi (DPO) sebesar Rp. 1.000.000.000,-
pembentukan dana ini dicatat dengan jurnal sebagai berikut :

Dana Pelunasan Obligasi-Kas Rp. 1.000.000.000,-

Kas Rp. 1.000.000.000,-

Sehubungan dengan pembentukan dana ini diadakan pembatasan laba tidak dibagi dan dicatat
dengan jurnal sebagai berikut :

Laba Tidak Dibagi Rp. 1.000.000.000,-

Laba Tidak Dibagi untuk DPO Rp. 1.000.000.000

Sesudah dilakukan pembatasan dengan jurnal seperti diatas maka laba tidak dibagi yang masih
bebas dan dapat dibagi sebagai deviden berkurang sebesar Rp. 1.000.000.000,- apabila hutang
obligasi sudah dilunasi dengan menggunakan dana pelunasan obligasi maka tidak diperlukan lagi
pembatasan laba tidak dibagi. Untuk penghapusan maka laba tidak dibagi dikembalikan ke rekening
Laba Tidak Dibagi, jurnal :

Laba Tidak Dibagi untuk DPO Rp. 1.000.000.000,-

Laba Tidak Dibagi Rp. 1.000.000.000,-

https://ahmadlupi.blogspot.co.id/2014/04/obligasi-dan-dana-pelunasannya.html

Contoh Soal Obligasi :

PT ABC menerbitkan 20.000 lembar (surat tanda utang) obligasi nominal 5.000. Jangka
waktu 5 tahun, yaitu mulai tanggal 1 Januari 2011 s.d 1 Januari 2016. Bunga obligasi 8% per
tahun dibayar setiap tanggal 1 januari dan 1 juli (4% per 6 bulan)
Tingkat suku bunga efektif (pasar) adalah 10% atau 5% per 6 bulan.

Jawab :
i = 5%, n = 10 (1tahun 2x pembayaran, jadi kalau 5 tahun sama saja 10x pembayaran)

Present value nominal = (20.000 x 5.000) x 1/(1+5%)^10 = 61.391.000


Present value bunga = (4%x20.0005.000) x (1-1(1+5%)^10)/5% = 30.837.000
Nilai Obligasi = 61.391.000 + 30.837.000 = 92.278.000 (lebih rendah dari
100.000.000) -> DISKONTO

Misal dari contoh sebelumnya diketahui tingkat bunga efektif (pasar) sebesar 6% (3 % per 6 bulan),
maka

Present value nominal = (20.000 x 5.000) x 1/(1+3%)^10 = 74.409.000

Present value bunga = (4%x20.0005.000) x (1-1(1+3%)^10)/6% = 34.121.000

Nilai Obligasi = 74.409.000 + 34.121.000 = 108.530.000 (lebih tinggi dari 100.000.000) -> PREMI

https://akuntankece.wordpress.com/liabilitas/liabilitas-jangka-panjang/