Anda di halaman 1dari 33

REFERAT

TUMOR PARU

Perceptor
dr. Tantri Dwi Kaniya, Sp.Rad

Oleh
Andrian Rivanda, S.Ked
1518012222

KEPANITERAAN KLINIK RADIOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RUMAH SAKIT ABDUL MOELOEK
BANDAR LAMPUNG
2017
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa memberikan kekuatan dan
kemampuan kepada penyusun sehingga penyusunan Referat ini dapat
diselesaikan. Referat ini disusun untuk memenuhi syarat dalam mengikuti dan
menyelesaikan kepaniteraan klinik SMF Radiologi di RSUD Dr. H. Abdul
Moeloek. Penulis menyadari bahwa terselesaikannya Referat ini tidak lepas dari
bantuan dan dorongan banyak pihak. Untuk itu penulis ingin menyampaikan
ucapan terima kasih dr. Tantri Dwi Kaniya, Sp.Rad.

Segala daya upaya telah di optimalkan untuk menghasilkan Referat yang


baik dan bermanfaat, dan terbatas sepenuhnya pada kemampuan dan wawasan
berpikir penulis. Pada akhirnya penulis menyadari bahwa Referat ini masih jauh
dari sempurna, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari para
pembaca agar dapat menghasilkan Referat yang lebih baik di kemudian hari.

Bandar Lampung, Mei 2017

Penulis

2
1

BAB I
PENDAHULUAN

Pada umumnya tumor paru terbagi atas tumor jinak (5%) antara lain
adenoma, hamartoma dan tumor ganas (90%) adalah karsinoma bronkogenik.
Kanker paru atau Karsinoma bronkus, tumor primer paru yang paling sering
hampir 95%. Kanker paru adalah pembunuh nomor satu diantara pria di USA.
Pada hampir 70% pasien kanker paru mengalami penyebaran ketempat
limfatik regional dan tempat lain pada saat didiagnosis. Sebagai akibat, angka
survival pasien kanker paru adalah rendah. Bukti-bukti menunjukkan bahwa
karsinoma cenderung untuk timbul ditempat jaringan parut sebelumnya
(tuberculosis, fibrosis) dalam paru. Sebagian besar kanker paru berasal dari sel-sel
di dalam paru; tetapi kanker paru bisa juga berasal dari kanker di bagian tubuh
lainnya yang menyebar ke paru. Kanker paru merupakan kanker yang paling
sering terjadi, baik pada pria maupun wanita
Dugaan meningkat pada mereka yang merupakan bagian dari kelompok
resiko tinggi yaitu, apakah pasien merokok, apakah pasien telah terpapar dengan
suatu bahan berbahaya dalam pekerjaannya, dan pernakah pasien menderita
fibrosis paru kronis. Kebanyakan kasus kanker paru dapat dicegah jika merokok
dihilangkan.
Di Amerika Serikat Kanker Paru adalah penyebab kematian kedua diantara
semua macam kanker. Kanker Paru bahkan menyebabkan kematian melebihi
kanker payudara, kanker prostat dan kanker usus besar, apabila kematian ketiga
macam kanker ini bersama-sama dihitung. 1
Keganasan di rongga thorak mencakup kanker paru, tumor mediastinum,
metastasis tumor paru dan keganasan di pleura. Kanker paru dalam arti luas
adalah semua penyakit keganasan di paru, mencakup keganasan yang berasal dari
paru sendiri (primer) maupun metastasis tumor di paru.
2

Diagnosis sering terlambat atau Inoperable Stage, maka prognosanya jelek


dan survival rate rendah. Keluhan dan gejala hampir sama dengan penyakit paru
lain, sehingga sering tidak terpikirkan. Meningkatnya ilmu, ketrampilan dokter,
alat diagnostik dan perhatian penderita diagnosis semakin cepat. Penatalaksanaan
baik penderitaan berkurang, kualitas hidup meningkat dan ketahanan hidup lebih
baik. Deteksi dini sangat penting dan perlu di usahakan.
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Paru

Paru-paru adalah organ pada sistem pernapasan (respirasi) dan berhubungan


dengan sistem peredaran darah (sirkulasi). Fungsinya adalah menukar oksigen
dari udara dengan karbon dioksida dari darah. Paru-paru terdiri dari organ-
organ yang sangat kompleks. Bernapas terutama digerakkan oleh otot
diafragma (otot yang terletak antara dada dan perut). Saat menghirup udara,
otot diafragma akan mendatar, ruang yang menampung paru-paru akan
meluas. Begitu pula sebaliknya, saat menghembuskan udara, diafragma akan
mengerut dan paru-paru akan mengempis mengeluarkan udara. 1,2

Akibatnya, udara terhirup masuk dan terdorong keluar paru-paru melalui


trakea dan tube bronchial atau bronchi, yang bercabang-cabang dan ujungnya
merupakan alveoli, yakni kantung-kantung kecil yang dikelilingi kapiler yang
berisi darah. Di sini oksigen dari udara berdifusi ke dalam darah, dan
kemudian dibawa oleh hemoglobin. Selama hidup paru kanan dan kiri lunak
dan berbentuk seperti spons dan sangat elastic. Jika rongga thorax dibuka
volume paru akan segera mengecil sampai 1/3 atau kurang. Paru-paru terletak
di samping kanan dan kiri mediastinum. Paru satu dengan yang lain
dipisahkan oleh jantung dan pembuluh-pembuluh besar serta struktur lain di
dalam mediastinum. Masing-masing paru berbentuk kerucut dan diliputi oleh
pleura visceralis, dan terdapat bebas di dalam cavitas pleuralis masing-masing,
hanya dilekatkan pada mediastinum oleh radix pulmonalis. 1,2

Setiap paru-paru memiliki :


4

a. Apeks : tumpul, menonjol ke atas ke dalam leher sekitar 2,5cm di atas


clavicula
b. Permukaan costo-vertebral : menempel pada bagian dalam dinding dada
c. Permukaan mediastinal : menempel pada pericardium dan jantung
d. Basis pulmonis : terletak pada diafragma

Batas-batas paru :
a. Apeks : atas paru (atas costae) sampai dengan di atas clavicula
b. Atas : dari clavicula sampai dengan costae II depan
c. Tengah : dari costae II sampai dengan costae IV
d. Bawah : dari costae IV sampai dengan diafragma

Pulmo Dexter/Paru Kanan


Pulmo dexter sedikit lebih besar dari pulmo sinister dan dibagi oleh fissura
obliqua dan fissura horizontalis pulmonis dexter menjadi tiga lobus : lobus
superior, lobus medius, dan lobus inferior. Fissura oblique berjalan dari
pinggir inferior ke atas dan ke belakang menyilang permukaan medial dan
costalis sampai memotong pinggir posterior sekitar 6,25cm di bawah apex
pulmonis. Fissura horizontalis berjalan horizontal menyilang permukaan
costalis setinggi cartilago costalis IV dan bertemu dengan fissure obliqua
pada linea axillaris media. Pulmo dexter mempunyai sepuluh segmen,
yaitu tiga buah segmen pada lobus superior, dua buah segmen pada lobus
medial, dan lima buah segmen pada lobus inferior. Tiap-tiap segmen ini
terbagi lagi menjadi belahan-belahan yang bernama lobules. 1,2

Diantara lobules satu dengan yang lainnya dibatasi oleh jaringan ikat yang
berisi pembuluh darah, getah bening, dan saraf. Dalam tiap lobules
terdapat sebuah bronkiolus. Di dalam lobules, bronkiolus ini bercabang-
cabang yang disebut duktus alveolus. Tiap duktus alveolus berakhir pada
alveolus yang diameternya antara 0,2-0,3mm.

Segmen pulmo dexter :


a. Lobus superior :
- Segmen apicale
- Segmen posterior
- Segmen anterior

b. Lobus medius :
5

- Segmen lateral
- Segmen medial
c. Lobus inferior :
- Segmen superior
- Segmen mediobasal
- Segmen anterobasal
- Segmen laterobasal
- Segmen posterobasal

Hilus pulmonalis dexter terdiri dari :


a. Pulmonalis dextra
b. Bronchus principales dextra : bronchus lobaris superior, medius
dan inferior
c. Vv. Pulmonalis dextra
d. Nodule lymphideus

Pulmo Sinister/Paru Kiri


Pulmo sinister dibagi oleh fissure oblique dengan cara yang sama menjadi
dua lobus : lobus superior dan lobus inferior. Pada pulmo sinister tidak ada
fissure horizontalis. 1,2
Segmen pulmo sinister :
a. Lobus superior :
- Segmen apicoposterior
- Segmen anterior
- Segmen lingual superior
- Segmen lingual inferior
b. Lobus inferior :
- Segmen superior
- Segmen antero medial basal
- Segmen laterobasal
- Segmen posterobasal

Hilus pulmo sinister :


a. A. pulmonalis sinistra
b. Bronchus principales sinistra
c. Vv. Pumonalis sinistra
d. Noduli lymphoideus

Pada pulmo sinister terdapat incisura cardiac yang merupakan lengkung


untuk jantung (cardiac notch) dan impression cardiac yang lebih besar,
karena 2/3 jantung terletak di pulmo sinistra. 1,2
6

Gambar 1. Lobus Paru Dextra dan Sinistra

Gambar 2. Segmen Paru Dextra dan Sinistra


7

Gambar 3. Batas-batas Paru

Gambar 3. Segmen Paru Dextra dan Sinistra (10 buah)

Gambar 4. Hilus Paru


8

Gambar 5. Gambaran Radiologi Paru Normal

Bronchus
Bronchus terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian kira-kira
vertebrata torakalis kelima, mempunyai struktur serupa dengan trachea dan
dilapisi oleh jenis sel yang sama.
Bronkus Terdiri dari :
Bronkus Principalis

Bronkus Lobaris

Bronkus Segmentalis

Bronckus kanan lebih pendek, lebih lebar dan lebih vertikal daripada yang
kiri, sedikit lebih tinggi dari arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah
cabang utama lewat di bawah arteri, disebut bronkus lobus bawah.
Bronkus kiri lebih panjang dan lebih langsing dari yang kanan, dan
berjalan di bawah arteri pulmonalis sebelum di belah menjadi beberapa
cabang yang berjalan ke lobus atas dan bawah.
9

Gambar 6. Pembagian Bronkus

Alveolus
Alveolus yaitu tempat pertukaran gas assinus terdiri dari bronkhiolus
respiratorius yang terkadang memiliki kantong udara kecil atau alveoli
pada dindingnya. Ductus alveolaris seluruhnya dibatasi oleh alveolus dan
sakus alveolaris terminalis merupakan akhir paru-paru, asinus atau kadang
disebut lobolus primer. Terdapat sekitar 20 kali percabangan mulai dari
trachea sampai Sakus Alveolaris. Alveolus dipisahkan oleh dinding yang
dinamakan pori-pori Kohn.
10

Gambar 7. Struktur Alveoli

Fisiologi Paru
Fungsi utama pernapasan :
Memperoleh O2 agar dapat digunakan oleh sel-sel tubuh.
Mengeliminasi CO2 yang dihasilkan oleh sel.

Proses pernapasan dibagi menjadi dua :


Respirasi internal
Proses metabolik intraseluler yang terjadi di mitokondria meliputi
konsumsi O2 dan produksi CO2 selama pengambilan energi dari
molekul-molekul nutrient

Respirasi eksternal :
Proses pertukaran O2 dan CO2 antara sel-sel dalam tubuh dengan
lingkungan luar.

Proses respirasi eksternal terdiri atas :


1. Pertukaran O2 dan CO2 antara udara luar ( udara dalam atmosfer )
dengan udara dalam alveol paru. Hal ini melalui aksi mekanik
pernapasan disebut ventilasi . Kecepatan ventilasi diatur sesuai
dengan kebutuhan ambilan O2 dan pembentukan CO2 dalam
tubuh.
11

2. Pertukaran O2 dan CO2 antara udara alveol dengan darah


dipembuluh kapiler paru melalui proses difusi.
3. Pengangkutan O2 dan CO2 oleh sistem peredaran darah dari paru
ke jaringan dan sebaliknya.
4. Pertukaran O2 dan CO2 dalam pembuluh darah dengan sel-sel
jaringan melalui proses difusi.

Gambar 8. Proses respirasi luar


2.2 Tumor Paru
2.2.1 Definisi Tumor Paru
Tumor adalah neoplasma pada jaringan yaitu pertumbuhan jaringan
baru yang abnormal. Paru merupakan organ elastis berbentuk kerucut
dan letaknya didalam rongga dada. Jenis tumor paru dibagi untuk
tujuan pengobatan, meliputi SCLC (Small Cell Lung Cancer) dan
NSLC (Non Small Cell Lung Cancer/Karsinoma Skuamosa,
adenokarsinoma, karsinoma sel besar).

Kanker paru adalah tumor berbahaya yang tumbuh diparu, sebagian


besar kanker paru berasal dari sel-sel didalam paru tapi dapat juga
berasal dari bagian tubuh lain yang terkena kanker. Tumor paru
merupakan abnormalitas dari sel sel yang mengalami proliferasi
dalam paru. Kanker paru merupakan keganasan pada jaringan paru.
Karsinoma bronkogenik adalah tumor ganas paru primer yang berasal
dari saluran napas.

2.2.2 Etiologi Tumor Paru


Meskipun etiologi sebenarnya dari kanker paru belum diketahui, tetapi
ada beberapa faktor yang agaknya bertanggung jawab dalam
peningkatan insiden kanker paru:
a. Merokok
12

Tak diragukan lagi merupakan faktor utama. Suatu hubungan


statistik yang defenitif telah ditegakkan antara perokok berat
(lebih dari dua puluh batang sehari) dari kanker paru (karsinoma
bronkogenik). Perokok seperti ini mempunyai kecenderung
sepuluh kali lebih besar dari pada perokok ringan. Selanjutnya
orang perokok berat yang sebelumnya dan telah meninggalkan
kebiasaannya akan kembali ke pola resiko bukan perokok dalam
waktu sekitar 10 tahun. Hidrokarbon karsinogenik telah
ditemukan dalam ter dari tembakau rokok yang jika dikenakan
pada kulit hewan, menimbulkan tumor.
b. Radiasi.
Insiden karsinoma paru yang tinggi pada penambang kobalt di
Schneeberg dan penambang radium di Joachimsthal (lebih dari
50 % meninggal akibat kanker paru) berkaitan dengan adanya
bahan radioaktif dalam bentuk radon. Bahan ini diduga
merupakan agen etiologi operatif.

c. Kanker paru akibat kerja


Terdapat insiden yang tinggi dari pekerja yang terpapar dengan
karbonil nikel (pelebur nikel) dan arsenic (pembasmi rumput).
Pekerja pemecah hematite (paru-paru hematite) dan orang-orang
yang bekerja dengan asbestos dan dengan kromat juga
mengalami peningkatan insiden.

d. Polusi udara
Mereka yang tinggal di kota mempunyai angka kanker paru yang
lebih tinggi dari pada mereka yang tinggal di desa dan walaupun
telah diketahui adanya karsinogen dari industri dan uap diesel
dalam atmosfer di kota.

e. Genetik
Terdapat perubahan/mutasi beberapa gen yang berperan dalaM
kanker paru, yakni:
1. Proton oncogen.
2. Tumor suppressor gene.
3. Gene encoding enzyme.

f. Diet
13

Dilaporkan bahwa rendahnya konsumsi betakaroten, selenium


dan vitamin A menyebabkan tingginya resiko terkena kanker
paru.

2.2.3 Patofisiologi Tumor Paru


Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/subbronkus
menyebabkan cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan
karsinogen. Dengan adanya pengendapan karsinogen maka menyebabkan
metaplasia, hyperplasia dan displasia. Bila lesi perifer yang disebabkan
oleh metaplasia, hyperplasia dan displasia menembus ruang pleura, biasa
timbul efusi pleura, dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus
vertebra. Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus
yang terbesar. Lesi ini menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus dengan
diikuti dengan supurasi di bagian distal. Gejala-gejala yang timbul dapat
berupa batuk, hemoptysis, dispneu, demam, dan dingin. Wheezing
unilateral dapat terdengan pada auskultasi.

Pada stadium lanjut, penurunan berat badan biasanya menunjukkan adanya


metastase, khususnya pada hati. Kanker paru dapat bermetastase ke
struktur-struktur terdekat seperti kelenjar limfe, dinding esofagus,
pericardium, otak, tulang rangka.

Sebab-sebab keganasan tumor masih belum jelas, tetapi virus, faktor


lingkungan, faktor hormonal dan faktor genetik semuanya berkaitan
dengan resiko terjadinya tumor. Permulaan terjadinya tumor dimulai
dengan adanya zat yang bersifat intiation yang merangasang permulaan
terjadinya perubahan sel. Diperlukan perangsangan yang lama dan
berkesinambungan untuk memicu timbulnya penyakit tumor.

Intiation agen biasanya bisa berupa unsur kimia, fisik atau biologis yang
berkemampuan bereaksi langsung dan merubah struktur dasar dari
komponen genetik (DNA). Keadaan selanjutnya diakibatkan keterpaparan
yang lama ditandai dengan berkembangnya neoplasma dengan
terbentuknya tumor, hal ini berlangsung lama mingguan sampai tahunan.
14

Kanker paru bervariasi sesuai tipe sel daerah asal dan kecepatan
pertumbuhan. Empat tipe sel primer pada kanker paru adalah karsinoma
epidermoid (sel skuamosa). Karsinoma sel kecil (sel oat), karsinoma sel
besar (tak terdeferensiasi) dan adenokarsinoma. Sel skuamosa dan
karsinoma sel kecil umumnya terbentuk di jalan napas utama bronkial.
Karsinoma sel kecil umumnya terbentuk dijalan napas utama bronkial.
Karsinoma sel besar dan adenokarsinoma umumnya tumbuh dicabang
bronkus perifer dan alveoli. Karsinoma sel besar dan karsinoma sel oat
tumbuh sangat cepat sehingga mempunyai progrosis buruk. Sedangkan
pada sel skuamosa dan adenokar. Paru merupakan organ yang elastis,
berbentuk kerucut dan letaknya di dalam rongga dada atau toraksinoma
prognosis baik karena pertumbuhan sel ini lambat.

2.2.4 Klasifikasi Tumor Paru


a. Tumor Jinak Paru
Tumor jinak paru jarang dijumpai, hanya sekitar 2% dari seluruh
tumor paru, biasanya ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan
rutin, karena tumor jinak jarang memberikan keluhan dan tumbuh
lambat sekali. Tumor jinak paru yang sering dijumpai adalah
hamartoma. Jenis tumor jinak lain yang lebih jarang dijumpai adalah
fibroma, kondroma, lipoma, hemangioma, tumor neurogenik,
papiloma, leiomiofibroma, dan lain-lain.

1. Hamartoma
Hamartoma merupakan tumor jinak paru yang pertambahan
besarnya berlangsung dengan sangat lambat. Tumor ini jarang
didapati pada anak-anak, biasanya di atas umur 40 tahun.
Sebagian besar (90%) ditemukan di perifer paru dan sebagian lagi
di sentral (endobronkial) dan sering terdapat di beberapa bagian
paru (multiple).
Bentuk tumor bulat atau bergelombang (globulated) dengan batas
yang tegas. Biasanya ukuran kurang dari 4 cm dan sering
mengandung kalsifikasi berbentuk bercak-bercak garis atau
gambaran pop corn. Kalsifikasi ini akan bertambah dengan
15

bertambah besarnya tumor. Pembentukan kavitas tidak pernah


terjadi.

Gambar 3. Hamartoma

2. Kista Paru
Terbentuknya kista paru merupakan hiperinflasi udara ke dalam
parenkim paru melalui suatu celah berupa klep akibat suatu
peradangan kronis. Kista paru dapat pula disebabkan kelainan
kongenital yang secara radiologik tidak dapat dibedakan dengan
kista paru didapat (akibat peradangan). Gambaran radiologik
memberi bayangan bulat berdinding tipis dengan ukuran
bervariasi. Bila kista paru lebih dari satu dan tersebar di kedua
paru dikenal sebagai paru polikistik.

Gambar 4. Kista Paru

b. Tumor Ganas Paru


Semua keganasan mengenai paru, baik berasal dari paru sendiri
maupun dari tempat lain yang bermetastasis ke paru. Secara garis
16

besar kanker paru dibagi menjadi 2 bagian yaitu Small Cel Lung
Cancer (SCLC) dan Non Small Cel Lung Cancer (NCLC).
a. Small Cell Lung Cancer (SCLC)
Kejadian kanker paru jenis SCLC ini hanya sekitar 20 % dari
total kejadian kanker paru. Namun jenis ini berkembang sangat
cepat dan agresif. Apabila tidak segera mendapat perlakuan maka
hanya dapat bertahan 2 sampai 4 bulan.

Tabel 2. Staging Lung Cancer

Keterangan Tabel :
T=Tumor
T1: Tumor dengan ukuran kurang dari 3 cm
T2: Tumor dengan ukuran dan perluasan sbb :
Ukuran lebih dari 3 cm
Melibatkan bronkus utama yang letaknya sampai ' 2 cm dari distal karina.
Perluasan ke pleura viseral.
Perluasan ke hilus
T3: Tumor dengan segala ukuran, meliputi :
Tumor menginvasi dinding thorax, diafragma, pleura mediastinalis
Tumor di dalam bronchus primarius, max 2 cm distal dari carina (tetapi
tanpa melibatkan carina).
Tumor disertai dg atelektasis atau obstruktive pneumonitis pada seluruh
paru.
T4: Tumor dengan segala ukuran, meliputi :
Tumor menginvasi mediastinum, cor, pembuluh darah besar, trachea,
esophagus, corpus vertebra, atau carina.
Tumor dengan efusi pleura dan efusi pericard maligna.
17

Tumor dengan nodul satelit tumor yang masih dalam satu lobus pulmo
ipsilateral

N= Status limfonodi regional :


N0: Tidak ada metastasis limfonodi regional.
N1: Metastasis di limfonodi regional atau hilar atau limfonodi intrapulmonar
sebagai akibat perluasan langsung dari tumor primer.
N2: Metastasis di limfonodi retrotracheal, midline prevascular, subcarinal dan
mediastinal ipsilateral.
N3: Metastasis nodal hilar contralateral atau mediastinal contralateral, serta nodus
supraclavicular dan scalenus contralateral atau ipsilateral.N x : Diskripsi N
tambahan (tetapi jarang dipakai) metastasis di limfonodi regional sulit
diperkirakan.

M=Metastasis Jauh, meliputi :


M0: Tidak ada metastasis jauh.
M1: Ada metastasis jauh atau nodul tumor terpisah pada lobus lain dalam pulmo
yang sama atau Nodul tumor pada pulmo kontralateral (dinyatakan sebagai
M1 jika jenis histologinya sama dengan sel tumor primer.

b. Non Small Cell Lung Cancer


80 % dari total kejadian kanker paru adalah jenis NSCLC. Secara
garis besar dibagi menjadi 3 yaitu:
1. Adenocarsinoma, jenis ini adalah yang paling banyak
ditemukan (40%).
2. Karsinoma Sel Sekuamosa, banyaknya kasus sekitar 20 30 %.
3. Karsinoma Sel Besar, banyaknya kasus sekitar 10 15 %.

Sebagian besar pasien yang didiagnosa dengan NSCLC (70 80


%) sudah dalam stadium lanjut III IV.

Klasifikasi tumor ganas paru menurut Leebow adalah :


I. Tumor ganas epitelial (Primary malignant epithelial tumours)
A. Karsinoma bronkogen
1. Epidermoid (squamous cell ca) : 45-60%.
2. Adenokarsinoma : 15%.
3. Karsinoma anaplastik : 30%.
4. Campuran (mixed).
18

B. Karsinoma bronkiolar (Alveolar cell carsinoma/Pulmonary


adenomatosis)
C. Adenoma bronkial

II. Sarkoma
A. Differentiated spindle cell sarcoma
B. Differentiated sarcoma
C. Limfosarkoma primer

III. Mixed epithelial and sarcomatous tumor (Carcinosarcoma)


IV. Neoplasma asal sistem retikuloendotelial (RES) dalam paru
V. Metastasis pada paru

Sebagian besar (45-60%) tumor ganas paru termasuk karsinoma


bronkogen adalah jenis epidermoid. Agaknya insiden karsinoma paru
mempunyai kecenderungan meningkat, mungkin berhubungan dengan
meningkatnya polusi udara dan mental stress yang sering dihubung-
hubungkan. Salah satu pendekatan diagnosis dini adalah pemeriksaan
radiologik.

Dikatakan karsinoma epidermoid ditemukan terutama pada laki-laki


dengan rasio 10-20 banding 1 dengan golongan umur terbanyak pada
60 tahun. Karsinoma epidermoid dapat mengalami nekrosis dan
membentuk kavitas; tumor ini dapat menjalar melalui hematogen pada
stadium lanjut.

Adenokarsinoma lebih sering ditemukan pada wanita dan letaknya


sering di perifer paru, kadang-kadang di sentral, perkembangan jenis
tumor ini cepat dan cepat bermetastasis melalui hematogen atau
limfogen.

Karsinoma anaplastik sering ditemukan sentral dengan pembesaran


kelenjar hilus dan metastasis melalui saluran limfe, oleh karena itu
sering dianggap suatu limfosarkoma. Jenis ini jarang mengalami
nekrosis dan membentuk kavitas.

Karsinoma sel alveolar bersifat multilokal tetapi beberapa penyelidik


menganggap fokus tunggal (single focus) dengan cepat menjalar
secara limfogen.
19

Ada 2 bentuk yaitu :


1. Bentuk noduler
2. Bentuk difus yang secara radiologik menyerupai konsolidasi
pneumonia

Adenoma bronkial digolongkan ke dalam tumor ganas karena


bermetastasis secara limfogen, tetapi prognosisnya lebih baik
dibanding tumor ganas paru lain meskipun pada operasi sudah
ditemukan metastasis ke kelenjar hilus. Tumor ini terjadi pada umur
relatif muda dan frekuensi pada wanita lebih daripada laki-laki (five
years survival rate 90% atau lebih).

2.2.5 Penegakkan Diagnostik Tumor Paru


a. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Anamnesis yang lengkap dan pemeriksaan fisik yang teliti merupakan
kunci dalam diagnosis yang tepat. Pada fase awal kebanyakkan kanker
paru tidak menunjukkan gejala-gejala klinis. Bila sudah menampakkan
gejala berarti pasien dalam stadium lanjut. Gejala-gejala dapat bersifat:
a. Lokal dan sistemik akibat tumor:
1. Batuk baru atau batuk lebih hebat pada batuk kronis
2. Hemoptisis
3. Dada penuh
4. Dispepsi
5. Demam
6. Gejala sistemik non spesifik: anoreksia, penurunan berat
badan, kakeksia pada stadium lanjut
Segala gejala saluran pernafasan yang tidak sembuh setelah
diobati selama 2 minggu lebih harus diwaspadai kemungkinan
keberadaan karsinoma paru

b. Gejala invasi keluar dan metastasis karsinoma paru


1. Sindrom obstruksi vena kava superior: ini akibat dari
karsinoma paru berlangsung menginvasi atau metastasis
20

kelenjar limfe mediastinum superior kanan mendesak vena


kava superior
2. Sindrom horner: disebabkan karsinoma paru atau metastase
kelenjar limfe mengenai saraf simpatis paravertebra servikal
VII hingga torakal I
3. Sindrom pancoast: tumor lebih lanjut mendistruksi iga I, II dan
saraf pleksus brakialis

Gejala lain invasi dan metastase yang sering ditemukan adalah


mengenai nervus rekuren laringeus timbul suara serak, sebagian
pasien datang dengan keluhan awal ini, metastase otal timbul
sefalgia, muntah, hemiplegia, metastase tulang timbul nyeri
menetap daerah tersebut.

c. Sindrom paraneoplastik: terdapat pada 10% kanker paru, dengan


gejala:
1. Sistemik: penurunan berat badan, anoreksia, demam
2. Hematologi: leukositosis, anemia, hiperkoagulasi
3. Hipertrofi osteoartropati
4. Neurologik: dementia, ataksia, tremor, neuropati perifer
5. Neuromiopati
6. Endokrin: sekresi berlebihan hormon paratiroid
(hiperkalsemia)
7. Dermatologik: eritema multiform, hiperkeratoisis, jari tabuh
8. Renal: syndrom of inappropriate andiuretic hormone (SIADH)
d. Asimtomatik dengan kelainan radiologik
1. Sering terdapat pada perokok dengan PPOK/COPD yang
terdeteksi secara radiologik
2. Kelainan berupa nodul soliter
2.2.6 Pemeriksaan Penunjang Tumor Paru
a. Radiologi.
1. Foto thorax posterior anterior (PA) dan leteral
Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi
adanya kanker paru. Menggambarkan bentuk, ukuran dan lokasi
lesi. Dapat menyatakan massa udara pada bagian hilus, effuse
pleural, atelektasis erosi tulang rusuk atau vertebra.
2. Bronkhografi
Untuk melihat tumor di percabangan bronkus.
3. CT-Scanning
Untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura.
4. MRI
21

Untuk menunjukkan keadaan mediastinum.

b. Laboratorium
1. Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe)
Dilakukan untuk mengkaji adanya/ tahap karsinoma.
2. Pemeriksaan fungsi paru dan GDA
Dapat dilakukan untuk mengkaji kapasitas untuk memenuhi
kebutuhan ventilasi.
3. Tes kulit, jumlah absolute limfosit
Dapat dilakukan untuk mengevaluasi kompetensi imun (umum
pada kanker paru).

c. Histopatologi
1. Bronkoskopi
Memungkinkan visualisasi, pencucian bagian, dan pembersihan
sitologi lesi (besarnya karsinoma bronkogenik dapat diketahui).
2. Biopsi Trans Torakal (TTB)
Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer
dengan ukuran < 2 cm, sensitivitasnya mencapai 90 95 %.
3. Torakoskopi
Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik
dengan cara torakoskopi.
4. Mediastinosopi
Untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening
yang terlibat.
5. Torakotomi
Totakotomi untuk diagnostik kanker paru dikerjakan bila
bermacam macam prosedur non invasif dan invasif sebelumnya
gagal mendapatkan sel tumor.

Pemeriksaan radiologik untuk mencari tumor ganas bermacam-


macam antara lain bronkografi invasif, CT-Scan dengan pesawat
yang canggih, tetapi pemeriksaan radiologik konvesional (toraks
PA, lateral, fluoroskopi) masih tetap mempunyai nilai diagnostik
yang tinggi, meskipun kadang-kadang tumor itu sendiri tidak
terlihat tetapi kelainan sebagai akibat adanya tumor akan sangat
dicurigai ke arah keganasan, misalnya kelainan emfisema setempat,
atelektasis, peradangan sebagai komplikasi tumor atau akibat
bronkus terjepit dan pembesaran kelenjar hilus yang unilateral.
22

Efusi pleura yang progresif dan elevasi diafragma (paralisis nervus


frenikus) juga perlu dipertimbangkan sebagai akibat tumor ganas
paru).
1. Atelektasis
Gambaran perselubungan padat akibat hilangnya aerasi yang
disebabkan sumbatan bronkus oleh tumor, dapat terjadi secara
segmental, lobaris, atau seluruh hemitoraks. Gambaran atelektasis
yang disebabkan oleh penyumpatan bronkus lainnya.

Gambar 5. Atelektasis

2. Pembesaran hilus unilateral


Suatu perbedaan besar hilus antara kedua hilus atau perbedaan besar
hilus dengan foto-foto sebelumnya perlu dicurigai adanya suatu tumor
dan perlu penelitian bronkus dengan tomografi atau bronkoskopi.

Gambar 6. Pembesaran hilus unilateral

3. Emfisema lokal (setempat)


Penyumbatan sebagian lumen bronkus oleh tumor akan menghambat
pengeluaran udara sewaktu ekspirasi sehingga terjadi densitas yang
23

rendah atau emfisema setempat dibandingkan daerah lain. Karsinoma


bronkogen jenis anaplastik sering mengenai bronkus utama yang
mengakibatkan pelebaran mediastinum. Keadaan ini sukar dibedakan
dengan limfoma maligna.

Gambar 7. Emfisema lokal (setempat)

4. Kavitas atau abses yang soliter


Suatu kavitas soliter dengan tanda infeksi yang tidak berarti terutama
pada orang berusia lanjut, perlu dipikirkan suatu karsinoma bronkogen
jenis epidermoid. Biasanya dinding kavitas tebal dan irregular.

Gambar 8. Foto Thorax Posisi Lateral, tampak adanya cavitas dengan air-fluid level
yang merupakan karakteristik dari abses paru.

5. Pneumonitis yang sukar sembuh


Peradangan paru sering disebabkan aerasi tidak sempurna akibat
sumbatan sebagian bronkus dan pengobatan dengan antibiotik
umumnya tidak memberikan hasil yang sempurna atau berulang
24

kembali peradangannya. Sering setelah peradangan berkurang, di


daerah peradangan berkurang, di daerah peradangan terlihat gambaran
massa yang sangat dicurigai sebagai keganasan paru.

6. Nodul soliter pada paru


Bayangan nodul pada paru berukuran beberapa milimeter sampai 4 cm
atau lebih dan tidak mengandung kalsifikasi harus diutamakan pada
kecurigaan sebagai karsinoma bronkogen terutama pada usia di atas 40
tahun.

Bayangan nodul sering menjadi masalah perdebatan dalam hal


menentukan keganasan. Ada pendapat mengatakan bahwa sifat nodul
yang ganas batasnya tidak jelas, apalagi berbenjol-benjol atau adanya
nodul-nodul kecil sekitarnya sebagai gambaran satelit atau adanya
gambaran kaki-kaki infiltrasi yang berasal dari nodul tersebut
(pseudopodi).

Gambar 9. Bentuk nodul dengan kaki (pseudopodi)


Bercak kalsifikasi dalam nodul sering dinyatakan sebagai proses jinak.
Bila suatu nodul tidak terlihat adanya kalsifikasi, maka perlu dilakukan
pemeriksaan tomografi untuk memastikan adanya kalsifikasi di
dalamnya; tetapi nodul yang ganas bisa berkalsifikasi di dalamnya.
Keadaan ini dapat terjadi bila tumor ganas tumbuh sekitar sisa proses
peradangan lama atau sisa efek primer (Ghon tubercle). Dapat pula
25

terjadi pada tumor ganas yang memang mengalami kalsifikasi,


meskipun keadaan ini jarang terjadi.

7. Efusi pleura
Adanya gambaran cairan dalam rongga pleura yang cepat bertambah
(progresif) atau bersamaan ditemukan bayangan massa dalam paru,
perlu dipertimbangkan suatu keganasan paru yang sudah bermetastasis
ke pleura. Biasanya cairan pleura tersebut terdiri atas cairan darah.

Gambar 10. Efusi pleura

8. Elevasi diafragma
Letak tinggi diafragma sesisi dengan bayangan massa tumor yang
diakibatkan kelumpuhan nervus frenikus dapat diperlihatkan pada
pemeriksaan fluoroskopi di mana pergerakan diafragma berkurang atau
tak ada sama sekali.

Gambar 11. Elevasi diafragma

9. Perselubungan dengan destruksi tulang sekitarnya


Suatu perselubungan padat terutama dipuncak paru dengan gambaran
destruksi tulang iga atau korpus vertebra sekitarnya merupakan tumor
26

ganas primer pada paru (sulkus superior) yang lanjut yang dikenal
sebagai tumor Pancoast, klinis disertai dengan sindroma Horner.

Gambar 12. Tumor pancoast, perselubungan padat di paru kanan atas dengan
destruksi tulang iga I-II kanan.

10. Metastasis paru


Paru merupakan salah satu alat tubuh yang sering dihinggapi
penyebaran tumor ganas asal tempat lain. Penyebaran dapat melalui
hematogen dan limfogen.
a. Metastasis hematogen
Tumor ganas anak yang sering bermetastasis ke paru adalah tumor
Wilms, neuroblastoma, sarkoma osteogenik, sarkoma Ewing;
sedangkan tumor ganas dewasa adalah karsinoma payudara, tumor-
tumor ganas alat cerna, ginjal, dan testis.

Gambaran radiologik dapat bersifat tunggal (soliter) atau ganda


(multiple) dengan bayangan bulat berukuran beberapa milimeter
sampai beberapa sentimeter, batas tegas. Bayangan tersebut dapat
mengandung bercak kalsifikasi, misalnya pada penyebaran
sarkoma osteogenik dan kavitas dapat terbentuk meskipun jarang
(5%) yang disebabkan nekrosis iskemik.

b. Metastasis limfogen
Penyebaran melalui saluran limfogen sering menyebabkan
pembesaran kelenjar mediastium yang dapat mengakibatkan
27

penekanan pada trakea, esofagus, dan vena kava superior, dengan


keluhan-keluhannya.

Penyebaran juga bisa menetap di saluran limfe peribronkial atau


perivaskular yang secara radiologik memberi gambaran
bronkovaskular yang kasar secara dua sisi atau satu sisi hemitoraks
atau gambaran garis-garis berdensitas tinggi yang halus seperti
rambut. Beberapa penyebaran tumor ganas misalnya karsinoma
tiroid, silidroma dan kelenjar air liur dapat menetap di paru
bertahun-tahun dengan keadaan umum yang baik.

Gambar 13: a. Metastasis Paru Hematogen b. Metastasis Paru Limfogen

2.2.7 Terapi
1. NSCLC
Terapi gabungan multidisiplin karsinoma paru bukan sel kecil (NSCLC)
sesuai stadium
Terapi NSCLC stadium IA: pilihan pertama adalah operasi,
pasca operasi tak diperlukan terapi adjuvan. Jika karena
terbatasan faal hingga tak dapat dioperasi, dianjurkan radioterapi
konformal terhadap lesi primer.
Terapi NSCLC stasium IIB dan sebagian IIIA (NI): pilihan
pertama adalah operasi, pasca operasi diberikan adjuvan
28

kemoterapi regimen dua obat mengandung platinum sebanyak 4


siklus
Terapi NSCLC stadium IIIA (N2) IIIB (NONI): diberikan
kemoterapi neoadjuvan lalu operasi, jika tak dapat dioperasi
maka diberikan radioterapi
Terapi NSCLC stadium IIIA (N2 konfluen) IIIB (kering, N2):
kombinasi radioterapi dan kemoterapi
Terapi NSCLC stadium IIIB (basah) IV: kemoterapi regimen
dua obat mengandung platinum.
Radiasi preoperasi untuk mengecilkan ukuran tumor agar
misalnya pada reseksi lebih komplit pada Pancoas tumor atau
stasium IIIb dilaporkan bermanfaat. Radiasi paliatif pada
beberapa kasus sindrom vena kava superior atau kasus dengan
komplikasi dalam rongga dada akibat kanker seperti hemoptisis,
batuk refrakter, atelektasis, mengurangi nyeri akibat metastasis
kranium dan tulang juga amat berguna.

2. SLCL
SLCL dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Limited stage disease yang diobati dengan tujuan kuratif
(kombinasi kemoterapi dan radiasi) dan angka keberhasilan terapi
sebesar 20%
b. Extensive stage disease yang diobati dengan kemoterapi dengan
angka respon terapi inisial 60-70% dan angka respon terapi komplit
20-30%.

2.2.8 Prognosis
Secara keseluruhan, NSCLC memiliki prognosis lebih baik daripada
SCLC. Jika NSCLC (karsinoma skuamosa atau adenocarsinoma)
terdeteksi sebelum metastasis atau penyebaran lokal, dapat dicapai
kesembuhan dengan lobektomi atau pneumonrktomi. SCLC biasanya telah
menyebar saat pertama kali terdeteksi, bahkan jika tumor primernya
tampak kecil dan lokal. Oleh karena itu reseksi bedah bukan merupakan
pilihan. Tumor ini sangat peka terhadap kemoterapi tetapi pada umumnya
akan sembuh.
29
30

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kanker paru merupakan salah satu keganasan yang paling sering terjadi
dengan prognosis yang buruk. Prognosis pasien sesuai dengan stadiumnya,
namun kanker ini sulit dideteksi secara dini karena biasanya asimptomatik
pada stadium awal. Gejala yang muncul pada stadium lanjut antara lain batuk,
sesak, hemoptisis, suara serak sampai gejala metastasis seperti nyeri kepala
dan nyeri tulang. Modalitas radiologi yang dapat digunakan untuk diagnosis
kanker paru meliputi foto polos toraks, CT scan, MRI, PET scan, dan radiologi
nuklir. Foto polos toraks masih banyak digunakan untuk deteksi awal kanker
paru karena banyak tersedia di berbagai pusat kesehatan namun relatif tidak
sensitif. Modalitas baru yang sekarang lebih sering digunakan untuk diagnosis
dan penentuan stadium kanker paru adalah CT scan. MRI juga memiliki peran
dalam diagnosis dan penentuan stadium kanker paru, bersaing dengan CT
scan. Namun CT scan lebih sering digunakan karena lebih banyak tersedia di
berbagai tempat di bandingkan dengan MRI dan harganya lebih murah.
Gambaran radiologis yang paling sering ditemui pada kanker paru adalah
nodul soliter sehingga penting untuk mengetahui karakteristik nodul yang
sugestif malignansi dan diagnosis bandingnya.
31

DAFTAR PUSTAKA

1. Fauci, Braundwald, Kasper, Hauser, Longo, Jemeson, Loscalzo. Harrisons


Principal Of Internal Medicine. 18th ed. New York : Mc Graw Hill ; 2012
2. Mason RJ, Broaddus VC, Martin TR, King Jr TE, Schraufnagel DE, Muray
JF, Nadel JA. Murray & Nadels. Textbook Of Respiratory Medicine. 5th ed.
Philadelphia : Saunders Elsevier ; 2010
3. Sjamsuhidajat, De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah.3rd ed. Jakarta : EGC ; 2010
4. Rasad S. Radiologi Diagnostik. 2nd ed. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ; 2011
5. Danhert W. Radiology Review Manual. 7th ed. North america : LWW ; 2011
6. Provenzale JM, Nelson RC, Vinson EN. Duke Radiology Case Review. 2nd
ed. North America : LWW ; 2011
7. Mendell J. Core Radiology : A Visual approach to Diagnostic Imaging. 1st
ed. Cambridge : Cambridge University ; 2013
8. Herring W : Learning Radiology : Recognizing the Basics. 2nd Ed.
Philadelphia : Saunders Elsevier ; 2011