Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

Abses hati adalah infeksi yang terjadi di hati yang disebabkan oleh
adanya infeksi bakteri, parasit, jamur maupun nekrosis steril yang bersumber
dari sistem gastrointestinal yang ditandai dengan adanya proses supurasi
dengan pembentukan pus yang terdiri dari jaringan hati nekrotik, sel-sel
inflamasi atau sel darah didalam parenkim hati.
Secara umum, abses hati terbagi 2, yaitu abses hati amebik (AHA) dan
abses hati piogenik (AHP). AHA merupakan salah satu komplikasi amebiasis
ekstraintestinal yang paling sering dijumpai di daerah tropik/subtropik,
termasuk Indonesia. AHP dikenal juga sebagai hepatic abscess, bacterial liver
abscess, bacterial abscess of the liver, bacterial hepatic abscess. AHP ini
merupakan kasus yang relatif jarang, pertama ditemukan oleh Hippocrates
(400 SM) dan dipublikasikan pertama kali oleh Bright pada tahun 1936.
Hampir 10% penduduk dunia terutama penduduk dunia berkembang
pernah terinfeksi Entamoeba histolytica tetapi 10% saja dari yang terinfeksi
menunjukkan gejala. Prevalensi yang tinggi sangat erat hubungannya dengan
sanitasi yang jelek, status ekonomi yang rendah serta gizi yang buruk. Individu
yang mudah terinfeksi adalah penduduk di daerah endemik ataupun wisatawan
yang ke daerah endemik. Di negara yang sedang berkembang abses hati
amuba lebih sering didapatkan secara endemik dibandingkan dengan abses
hati piogenik. Dalam beberapa dekade terakhir ini telah banyak perubahan
mengenai aspek epidemiologis, etiologi, bakteriologi, cara diagnostik maupun
mengenai pengelolaan serta prognosisnya. Laki-laki lebih sering terkena
dibanding perempuan dengan rasio 3:1 hingga 22:1 dan umur tersering pada
dekade empat.
Gejala tersering yang dikeluhkan oleh pasien dengan amebiasis hati
adalah berupa nyeri perut kanan atas, demam, hepatomegali dengan nyeri
tekan atau nyeri spontan atau disertai dengan gejala komplikasi. Gejala yang
menyertai adalah anoreksia, mual muntah, berat badan menurun, batuk, ikterus
ringan sampai sedang dan berak darah.

1
BAB II
STATUS PASIEN

I. IDENTIFIKASI PASIEN
a. Nama : Ny. L
b. Jenis kelamin : Perempuan
c. Umur : 61 tahun
d. Status perkawinan : Menikah
e. Agama : Katolik
f. Tingkat pendidikan : Tamat SMP
g. Suku bangsa : Palembang
h. Alamat : Jalan Kapten A.Rivai, Palembang
i. Pekerjaan : Tidak bekerja

II. ANAMNESIS
Riwayat psikiatri diperoleh dari autoanamnesis dengan pasien sendiri.
Wawancara dan observasi dilakukan pada Senin, 20 Maret 2017 pukul 10.00 s.d.
10.45 WIB di Bangsal Cempaka Rumah Sakit Ernaldi Bahar, Palembang.
a. Sebab Utama : gelisah, ngoceh-ngoceh, kurang tidur, dan
tidak bisa diarahkan.
b. Keluhan Utama : tidak ada
c. Riwayat Perjalanan Penyakit :
2 minggu SMRS, pasien mulai mengoceh sendiri tanpa penyebab yang
jelas, pasien tampak lebih bersemangat untuk merapikan dan membersihkan
rumah bersama pembantunya tanpa bisa ditegur untuk berhenti sehingga
jarang beristirahat. Tidur berkurang (+), berbicara lebih banyak dari
biasanya (+), ngoceh-ngoceh tidak berhenti (+). Pasien sangat bersemangat
ketika bercerita dan sangat antusias menyambut hari raya Sincia. Mendengar
bisikan (-), melihat bayangan-bayangan (-).
4 hari SMRS, pasien mulai gelisah, ngoceh-ngoceh (+), sering keluar
rumah (+), keluyuran tanpa tujuan yang jelas, semakin sulit tidur (+).
Mendengar bisikan (-), melihat bayangan-bayangan (-). Pasien dibawa

2
kontrol ke praktik dokter Sp.KJ lalu diberikan resep. Namun, keluarga sulit
mencarikan obat yang diresepkan.
4 jam SMRS, pasien semakin gelisah, ngoceh-ngoceh sendiri tanpa
henti (+), susah tidur (+), dan semakin sulit diarahkan (+). Pasien lalu
dibawa ke IGD RSJ Ernaldi Bahar.

d. Riwayat Penyakit Dahulu


1) Riwayat kejang disangkal
2) Riwayat demam tinggi yang lama disangkal
3) Trauma kepala disangkal
4) Hipertensi disangkal
5) Diabetes mellitus disangkal
6) Asma disangkal
7) Alergi disangkal

e. Riwayat Premorbid
1) Lahir : Lahir cukup bulan, spontan, langsung menangis
2) Bayi : Tumbuh kembang baik
3) Anak-anak : Interaksi sosial baik
4) Remaja-Sekarang : Interaksi sosial baik

f. Riwayat pengobatan
Pasien pernah dirawat di RSJ Ernaldi Bahar pada November 2016 dan
mengonsumsi obat rutin, yakni
- Lodomer 2mg 1-0-1
- Depakote ER 500mg 1-0-0
- Chlorpromazine 100mg --1
Pasien teratur kontrol ke RSJ Erbaldi Bahar.

g. Riwayat penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang


Riwayat mengonsumsi alkohol dan NAPZA disangkal.

3
h. Riwayat pendidikan
Pendidikan terakhir pasien adalah tamat SMP.

i. Riwayat pekerjaan
Pasien seorang ibu rumah tangga.

j. Riwayat perkawinan
Pasien menikah sebanyak 2 kali dan kini telah bercerai. Terdapat konflik di
keluarga pasien terdahulu. Namun, pasien menolak menceritakan tentang
rumah tangga pasien dengan suami pertama dan keduanya.

k. Keadaan sosial ekonomi


Pasien tidak bekerja, keadaan ekonomi menengah ke atas. Segala kebutuhan
dipenuhi oleh saudara kandung pasien.

l. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga dengan gangguan jiwa : tidak ada.
Pedigree : Pasien merupakan anak ke empat dari lima bersaudara.

Pasien

Autoanamnesis dan Observasi


Wawancara dan observasi dilakukan pada Senin, 20 Maret 2017
pukul 10.00 s.d. 10.45 WIB di Bangsal Cempaka Rumah Sakit Ernaldi
Bahar, Palembang. Penampilan pasien cukup rapi, pasien memakai daster
bermotif bunga-bunga. Pasien berperawakan berisi dengan tinggi badan
sekitar 160 cm dan berat badan 65 kg, warna kulit kuning langsat.
Pemeriksa dan pasien duduk saling berhadapan. Selama wawancara pasien

4
tampak tenang dan mau menatap pemeriksa. Pasien mampu menjawab
pertanyaan dengan jelas dan dapat dimengerti. Wawancara dilakukan
dengan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Palembang.
Tabel 1. Wawancara
PEMERIKSA PASIEN INTERPRETASI
Permisi cece, Ooh, boleh-boleh kok. Silahkan dok - Compos mentis
perkenalkan kami (kontak mata ada) - Kooperatif, perhatian ada
dokter muda disini. - Verbalisasi jelas
Kami izin tanya- - Bicara lancar
tanya ke cece ya, - Kontak mata, fisik, verbal
boleh tidak? ada
Siapa nama cece ? Namo aku lilian dok (sambil - Daya ingat baik
menjulurkan tangan untuk
bersalaman)

Umur cece sekarang Umur akuni sekarang 61 Tahun, lahir - Daya ingat baik
berapa? tanggal 25 juni 1956. Tapi coba kamu
liat akuni cak masih muda, cak masih
40an kan (pasien tertawa)
Kalau boleh tahu, Rumah aku ni di deket Arista. Rumah - Daya ingat baik.
alamat cece dimana aku besak, halamannya tu luas jadi - Ide kebesaran (+)
ya ? mobil banyak pacak parkir depan
rumah aku. Nanti dokter datang bae
ke rumah aku, kita makanmakan di
rumah. Nanti kita beli bae
makanannya dak usah repot repot
masak.
Aku punyo toko emas di pasar 16.
Banyak emas aku itu.
Sekarang cece tahu Yo, aku ni ado di Rumah sakit - Orientasi tempat baik
kita ada dimana ? Ernaldi bahar. Dulu aku jugo pernah
disini, pas di tempat yang lamo jugo.

5
Apa yang cece Dak ado. Aku nih sehat dok. Obat - Discriminative Insight
rasakan sekarang? aku makan terus, setiap hari dak terganggu
Dan apa cece pernah tinggal.
merasa sakit?
Tidurnya bagaimana Aku ini di rumah dak biso tidur,
ce? gawean aku banyak nian.

Kerjaan apa saja ce? Idak, dak ado yang nyuruh. Aku tu
Ada yang menyuruh kalo di rumah tu sibuk ngerapiin
bekerja? rumah aku tulah.
Kalau nafsu makan Biaso lah. Aku ini teratur makan, nasi
bagaimana ce? dak usah terlalu banyak, tapi makan
sayur samo ikan. Makan buah jugo.
Jadi makanan aku sehat, aku pun jadi
sehat jugo
Menurut cece, Idak tau, cece aku tuh gilo. Aku lah
kenapa cece dirawat nak balek, dio idak jemputjemput
di RS ini? aku sampe sekarang.

Apa saja keseharian Aku ngobrol samo suster, baek-baek - Flight of ideas
cece di RS ini ? suster disini. Aku makan lemak, lauk - Asosiasi Longgar
rendang disini. Banyak dokter cantik.
Eh, dokter perawatan kulit dimano?
Mulus nian, cak artis bae. Tapi aku
dak seneng ado susi (pembantu)
disini. Dio tu galak ngambil baju aku.
Cece juga suka Iyo dok, akuni mondar mandir - Mood hipertimik
mondar-mandir seneng ngobrol sama suster disini,
katanya, apa itu aku tiap pagi jalan pagi biar sehat,
benar? dok. (pasien tertawa)

6
Sekarang apa yang Aku ini senen nian, duit aku banyak - Mood hipertimik
cece rasakan lagi nian, emas aku banyak jugo, akuni
senang atau sedih? nak ke singapura, nak perawatan kulit
cak dokter. Aku tu ado beli krim
untuk kulit aku harganya 1 juta. Aku
nih lagi seneng nian sekarang ngapoi
nak sedeh-sedeh itu dok. Akuni kalo
lah boleh balek, nak liburan bae ke
eropa, dok.

III. PEMERIKSAAN
A. STATUS INTERNUS
Keadaan Umum
Sensorium : Compos mentis
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Frekuensi nadi : 80x/menit
Frekuensi napas : 20x/menit
Suhu : 36,6 0C

B. STATUS NEUROLOGIKUS
1) Urat syaraf kepala (panca indera) : tidak ada kelainan
2) Gejala rangsang meningeal : tidak ada
3) Gejala peningkatan tekanan intrakranial : tidak ada
4) Mata
Gerakan : baik ke segala arah
Persepsi mata : baik, visus normal
Pupil :bentuk bulat, sentral, isokor,
3mm/3mm
Refleks cahaya : +/+
Refleks kornea : +/+
Pemeriksaan oftalmoskopi : tidak dilakukan

7
5). Motorik
Tabel 2. Penilaian motorik

Lengan Tungkai
Fungsi Motorik
Kanan Kiri Kanan Kiri
Gerakan Luas Luas luas Luas
Kekuatan 5 5 5 5
Tonus Eutoni Eutoni eutoni Eutoni
Klonus - - - -
Refleks fisiologis + + + +
Refleks patologis - -
6). Sensibilitas : normal
7). Fungsi luhur : tidak ada kelainan
8). Kelainan khusus : tidak ada

C. STATUS PSIKIATRIKUS
KEADAAN UMUM
a. Sensorium : Compos mentis terganggu
b. Penampilan : Cukup rapi, sesuai usia
c. Perhatian : Adekuat
d. Sikap : Kooperatif
e. Inisiatif : Ada
f. Tingkah laku motorik : Normoaktif
g. Ekspresi fasial : Wajar
h. Verbalisasi : Jelas
i. Cara bicara : Lancar dan cepat
j. Kontak fisik : Ada
k. Kontak mata : Ada
l. Kontak verbal : Ada

KEADAAN KHUSUS (SPESIFIK)


a. Keadaan afektif
Afek : inappropriate
Mood : hipertimik

8
b. Hidup emosi
Stabilitas : labil
Dalam-dangkal : normal
Pengendalian : terkendali
Adekuat-Inadekuat : adekuat
Echt-unecht : echt
Skala diferensiasi : normal
Einfuhlung : bisa dirabarasa
Arus emosi : cepat

c. Keadaan dan fungsi intelek


Daya ingat (amnesia, dsb) : baik
Daya konsentrasi : baik
Orientasi : Tempat : baik
Waktu : baik
Personal : baik
Luas pengetahuan umum : sesuai taraf pendidikan
Discriminative judgement : buruk
Discriminative insight (daya tilik) : buruk
Dugaan taraf intelegensi : cukup
Depersonalisasi dan derealisasi : tidak ada

d. Kelainan sensasi dan persepsi


Ilusi : disangkal
Halusinasi : auditorik (-), visual (-)

e. Keadaan proses berpikir


Psikomotilitas : cepat
Mutu proses berpikir : baik
Arus pikiran

9
Flight of ideas : ada
Sirmkumstansial : tidak ada
Terhalang : tidak ada
Perseverasi : tidak ada
Inkoherensi : tidak ada
Tangensial : tidak ada
Terhambat : tidak ada
Verbigerasi : tidak ada
Lainlain : tidak ada

Isi pikiran
Pola Sentral : tidak ada
Rasa permusuhan/dendam : tidak ada
Waham : waham kebesaran (+)
Fobia : tidak ada
Hipokondria : tidak ada
Konfabulasi : tidak ada
Perasaan inferior : tidak ada
Kecurigaan : tidak ada
Perasaan berdosa/salah : tidak ada
Ide bunuh diri : tidak ada
Ide melukai diri : tidak ada

f. Bentuk pikiran : realistik

g. Pemilikan pikiran
Obsesi : tidak ada
Aliensi : tidak ada

h. Dekorum
Kebersihan : baik
Cara berpakaian : baik

10
Sopan santun : baik

i. Reality testing ability : terganggu

D. PEMERIKSAAN LAIN
a. Pemeriksaan elektroensefalogram : tidak dilakukan
b. Pemeriksaan radiologi/ CT scan : tidak dilakukan

c. Pemeriksaan laboratorium :
PEMERIKSAAN 15 Maret 2017
Hematologi Hasil Nilai Normal
Hemoglobin 14,3 g/dL 12-16 g/dL
6 3
Eritrosit 4,5 x 10 /mm 4,5-5,5. 106/mm3
Leukosit 9.100/ mm3 5000-10.000/mm3
LED 12 mm/jam 0-20 mm/jam
Diff count 0/1/55/19/2 0-1/1-6/50-70/20-40/2-8
Hematokrit 40% 38-47%
Trombosit 313.000/ L 150.000-400.000/L
GDS 252 mg/dL <200mg/dL
Ureum 15 <50 mg/dL
Kreatinin 0,7 <1,3 mg/dL
SGOT 14 7-24 U/L
SGPT 21 7-32 U/L

IV. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL


Aksis I : F.31.2 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik dengan
gejala psikotik.
Aksis II : tidak ada diagnosis
Aksis III : tidak ada diagnosis
Aksis IV : tidak dapat dinilai

11
Aksis V : GAF Scale 60-51

V. DIAGNOSIS BANDING
1) Ganggaun Afektif Bipolar, Episode Kini Manik dengan gejala psikotik
(F31.2)
2) Skizofrenia (F20.-)
3) Skizoafektif tipe manik (F25.0)

VI. TERAPI
a. Psikofarmaka
Lodomer 1 Amp/IV selama 5 hari
Chlorpromazine 100mg/PO --1
Depakote ER 500mg/PO 1-0-0
Lodomer 2mg/PO 1-0-1
b. Psikoterapi
1. Suportif
a) Memberi dukungan dan perhatian kepada pasien dalam menghadapi
masalah.
b) Memotivasi pasien agar minum obat secara teratur.
2. Kognitif
Menerangkan tentang gejala gangguan bipolar yang timbul akibat cara
berpikir yang salah, mengatasi perasaan, mengatur pola pikir dan
perilaku yang positif, dan sikapnya terhadap masalah yang dihadapi.
3. Keluarga dan lingkungan
Memberikan penyuluhan bersama dengan pasien yang diharapkan
keluarga dapat membantu dan mendukung kesembuhan pasien.
4. Sosial-Budaya
Terapi kerja berupa memanfaatkan waktu luang dengan melakukan hobi
atau pekerjaan yang disukai pasien dan bermanfaat. Terapi rekreasi

12
dapat berupa berlibur atau bepergian ke suatu daerah yang disenangi
pasien.
5. Religius
Bimbingan keagamaan agar pasien selalu menjalankan ibadah sesuai
ajaran agama yang dianutnya, yaitu berdoa dan memohon pertolongan
Tuhan Yesus Kristus.

VII. PROGNOSIS
Quo ad vitam : Bonam
Quo ad functionam : Dubia ad bonam
Quo ad sanationam : Dubia ad malam

13
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anatomi dan Fisiologi Hati

Hati adalah kelenjar terbesar dalam tubuh, berat rata-rata sekitar


1.500gr atau 2 % berat badan orang dewasa normal. Letaknya sebagian
besar di regio hipokondria dekstra, epigastrika, dan sebagian kecil di
hipokondria sinistra. Hati memiliki dua lobus utama yaitu kanan dan kiri.
Lobus kanan dibagi menjadi segmen anterior dan posterior oleh fisura
segmentalis kanan. Lobus kiri dibagi menjadi segmen medial dan lateral oleh
ligamentum falsiformis. Di bawah peritonium terdapat jaringan ikat padat yang
disebut kapsula Glisson yang meliputi seluruh permukaan hati. Setiap lobus hati
terbagi menjadi struktur-struktur yang disebut sebagai lobulus, yang
merupakan unit mikroskopis dan fungsional organ yang terdiri atas
lempeng-lempeng sel hati dimana diantaranya terdapat sinusoid. Selain
sel-sel hati, sinusoid vena dilapisi oleh sel endotel khusus dan sel Kupffer
yang merupakan makrofag yang melapisi sinusoid dan mampu
memfagositosis bakteri dan benda asing lain dalam darah sinus hepatikus.
Hati memiliki suplai darah dari saluran cerna dan limpa melalui vena porta
hepatika dan dari aorta melalui arteria hepatika.
Hati mempunyai beberapa fungsi yaitu:
1. Pembentukan dan ekskresi empedu
Dalam hal ini terjadi metabolisme pigmen dan garam empedu. Garam
empedu penting untuk pencernaan dan absopsi lemak serta vitamin
larut-lemak di dalam usus.

14
2. Pengolahan metabolik kategori nutrien utama (karbohidrat,
lemak, protein) setelah penyerapan dari saluran pencernaan
a. Metabolisme karbohidrat : menyimpan glikogen dalam jumlah
besar, konversi galaktosa dan friktosa menjadi glukosa,
glukoneogenesis, serta pembentukan banyak senyawa kimia dari
produk antara metabolisme karbohidrat.
b. Metabolisme lemak : oksidasi asam lemak untuk menyuplai energi
bagi fungsi tubuh yang lain, sintesis kolesterol,fosfolipid,dan
sebagian besar lipoprotein, serta sintesis lemak dari protein dan
karbohidrat
c. Metabolisme protein : deaminasi asam amino, pembentukan ureum
untuk mengeluarkan amonia dari cairan tubuh, pembentukan
protein plasma, serta interkonversi beragam asam amino dan
sintesis senyawa lain dari asam amino.

3. Penimbunan vitamin dan mineral


Vitamin larut-lemak ( A,D,E,K ) disimpan dalam hati, juga vitamin
B12, tembaga, dan besi dalam bentuk ferritin. Vitamin yang paling
banyak disimpan dalam hati adalah vitamin A, tetapi sejumlah besar
vitamin D dan B12 juga disimpan secara normal.
a. Hati menyimpan besi dalam bentuk ferritin
Sel hati mengandung sejumlah besar protein yang disebut
apoferritin, yang dapat bergabung dengan besi baik dalam jumlah
sedikit maupun banyak. Oleh karena itu, bila besi banyak tersedia
dalam cairan tubuh, maka besi akan berikatan dengan apoferritin
membentuk ferritin dan disimpan dalam bentuk ini di dalam sel
hati sampai diperlukan. Bila besi dalam sirkulasi cairan tubuh
mencapai kadar rendah, maka ferritin akan melepaskan besi.
b. Hati membentuk zat-zat yang digunakan untuk koagulasi darah
dalam jumlah banyak
Zat-zat yang dibentuk di hati yang digunakan pada proses
koagulasi meliputi fibrinogen, protrombin, globulin akselerator,

15
faktor VII, dan beberapa faktor koagulasi lainnya. Vitamin K
dibutuhkan oleh proses metabolisme hati, untuk membentuk
protrombin dan faktor VII, IX, dan X.

4. Hati mengeluarkan atau mengekskresikan obat-obatan, hormon,


dan zat lain
Medium kimia yang aktif dari hati dikenal kemampuannya dalam
melakukan detoksifikasi atau ekskresi berbagai obat-obatan meliputi
sulfonamid, penisilin, ampisilin, dan eritromisin ke dalam empedu.
Beberapa hormon yang disekresi oleh kelenjar endokrin diekskresi
atau dihambat secara kimia oleh hati meliputi tiroksin dan terutama
semua hormon steroid seperti estrogen, kortisol, dan aldosteron.

5. Hati berfungsi sebagai gudang darah dan filtrasi


Hati adalah organ venosa yang mampu bekerja sebagai tempat
penampungan darah yang bermakna saat volume darah berlebihan dan
mampu menyuplai darah ekstra di saat kekurangan volume darah.
Sinusoid hati merupakan depot darah yang mengalir kembali dari vena
cava (gagal jantung kanan). kerja fagositik sel Kupffer membuang
bakteri dan debris dari darah.

3.2 Metabolisme Bilirubin


3.3 Abses Hati

16
BAB IV
ANALISIS KASUS

Pasien perempuan, umur 61 tahun, menikah, pendidikan tamat SMP,


beragama islam. Dari hasil autoanamnesis dan observasi pada pasien ini, memiliki
kesadaran umum compos mentis terganggu karena pasien masih dapat diajak
berkomunikasi dengan kontak mata fisik dan verbal yang baik. Pasien saat diajak
berkomunikasi terlihat sangat bersemangat dan mengoceh tanpa bisa dihentikan
namun terkadang menjawab pertanyaan tidak sesuai menandakan asosiasi pasien
longgar. Orientasi pasien baik karena saat ditanyakan identitas pasien, pasien
masih bisa menjawab dengan benar, pasien juga masih mengetahui lokasi pasien
saat ini. Discriminative insight pasien terganggu karena pada saat ditanyakan
apakah pasien memiliki sakit pasien mengatakan bahwa pasien tidak sakit dan
selalu minum obat bahkan sering meminum bensin. Discriminative insight pasien
juga terganggu karena saat ditanyakan apakah pasien sakit, pasien mengatakan
tidak merasakan sakit.
Pasien mengaku seorang direktur dari RS Ernaldi Bahar sehingga pasien
berada di RS tersebut menandakan bahwa pasien memiliki waham kebesaran.
Pasien mengaku sering mendengar bisikan berupa suara kawan yang menyuruh
pasien untuk berkeliling rumah sakit menandakan pasien memiliki halusinasi
auditorik. Dari autoanamnesis didapatkan pasien dengan compos mentis
terganggu, kooperatif, kontak mata fisik dan verbal baik, orientasi dan daya ingat
baik, asosiasi longgar, flight of ideas, mood hipertimik (elasi), afek sesuai, waham
kebesaran, halusinasi auditorik, discriminative insight dan judgment terganggu
menandakan gejala gangguan afek / mood manik ( peningkatan aktifitas,

17
percepatan kecepatan berbicara, waham grandiose, onset lebih dari satu minggu)
dan juga psikotik (waham dan halusinasi).
Pada autoanamnesis didapatkan riwayat pernah dirawat di RS Ernaldi
Bahar dengan gejala yang serupa. Pada 7 bulan yang lalu terdapat episode
depresif berupa pasien terlihat murung, tidak mau makan, tidak mau keluar
rumah, os juga tidak mau berbicara dan hanya mengurung diri dikamar. Pasien
merasa bersalah karena sering mengamuk dan marah-marah. Berdasar gejala
diatas pasien sudah memenuhi gejala utama menurut PPDGJ-III afek depresif,
kehilangan minat dan kegembiraan serta terdapat beberapa gejala tambahan
berupa gangguan tidur, gangguan makan, dan gagasan tentang rasa bersalah. Saat
ini pasien masih mengalami episode manik dengan psikotik berupa membagi-
bagikan uang, mudah marah, melukai diri sendiri, mengganggu orang lain dan
keluyuran.
Oleh karena terdapat episode depresif dan saat ini pasien sedang manik
pada diagnosis multiaksial pada aksis pertama didiagnosis sebagai Gangguan
Afektif Bipolar Episode Kini Manik dengan Gejala Psikotik. Pada aksis kelima
GAF Scale 60 51 dimana pasien memiliki gejala sedang (moderate) dan
disabilitas sedang. Prognosis pada pasien ini dubia ad malam karena sudah
terdapat pada onset muda, sering berulang, dan terdapat ketidakpatuhan pasien
untuk mengkonsumsi obat.
Tatalaksana pasien ini pertama-tama harus di rawat inap oleh karena
pasien memiliki kecenderungan untuk membahayakan orang lain dan diri sendiri
serta untuk meningkatkan kepatuhan pasien mengkonsumsi obat. Pasien diberikan
obat psikofarmaka berupa olanzapine dimana olanzapine adalah obat antipsikotik
atipikal yang dapat mengatasi gangguan psikotik serta dapat memperbaiki gejala
afektif pasien. Pasien juga diberikan diazepam oral karena pasien saat ini sedang
dalam kondisi mania akut.

18
DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatry Assosiasion. Practice guideline for the treatment of patients


with bipolar disorder. 2nd edition. 2002. Diunduh dari apa.org, 20 April
2013.
Amir N. Gangguan mood bipolar: kriteria diagnostic dan tatalaksana dengan
obat antipsikotik atipik. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, 2010. h. 3-32.
Davison, C, Gerald; Neale, M, Jhon; Kring, M, Ann. Abnormal Psychology. 9th.
Edition. New York. Psychopathology Development.
Departemen Kesehatan RI. Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa
di Indonesia III. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 1993.hlm.140-50.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan
Penerbit FKUI; 2010.hlm.197-208.
Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis psikiatri [Widjaja K, alih bahasa].
edisi 7 jilid 1. Jakarta: Binarupa Aksara; 1997. Bab 15, Gangguan Mood;
hlm.777-833.
Konsesus Nasional Terapi Gangguan Bipolar. Panduan tatalaksana gangguan
bipolar. Jakarta: Konsesus Nasional Terapi Gangguan Bipolar; 2010.hlm.2-
21.
Konsil Kedokteran Indonesia. Standar kompetensi dokter Indonesia.2012.
Diunduh dari pdk3mi.org, 5 Mei 2013.
Kring, Ann.,Johnson,Sheri.,Davison,Gerald.,&Neale, John (2011), Abnormal
Psychology Twelfth Edition, Singapore: John Wiley & Sons

19
Simon H, Zieve D. Bipolar Disorder. 22 Januari 2009. Diunduh dari
www.umm.edu, 24 April 2013.
Soreff S, Ahmed I. Bipolar affective disorder. 22 April 2013. Diunduh dari
emedicine.medscape.com, 24 April 2013.
Arozal W, Gan S. Psikotropik dalam Farmakologi dan Terapi edisi 5. Jakarta : FKUI,
2007.
Maslim, Rusdi. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa.Rujukan ringkasan dari PPDGJ

III.2001. Jakarta.
Maslim, Rusdi. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK
Unika Atma Jaya.2007.Jakarta.
Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis Edisi Ketujuh.
Jakarta. EGC, 2013.

20