Anda di halaman 1dari 52

DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

BAB II
PENDEKATAN DAN METODOLOGI

A. TANGGAPAN DAN SARAN TERHADAP


KERANGKA ACUAN KERJA

1. TANGGAPAN UMUM TERHADAP KAK


a. Tanggapan Latar Belakang
Pertambahan penduduk setiap kota semakin tahun semakin
bertambah, implikasi dari hal tersebut adalah tinggi permintaan akan
lahan permukiman. Kawasan permukiman dewasa ini terus
mengalami perkembangan yang pesat sebagai konsekuensi
pemenuhan salah satu kebutuhan pokok manusia. Disamping itu
kawasan perkotaan dengan segala kemudahan serta pernak pernik
sarana dan prasarana yang lebih kompleks, lebih modern, baik dalam
jumlah, kualitas maupun variannya memberikan andil besar terhadap
meningkatnya arus urbanisasi.

Pertumbuhan penduduk merupakan faktor utama yang mendorong


pertumbuhan permukiman, sedang kondisi sosial ekonomi
masyarakat dan kemampuan pengelola kota akan menentukan
kualitas pemukiman yang terwujud. Permukiman kumuh adalah
produk pertumbuhan penduduk kemiskinan dan kurangnya upaya
pemerintah membatasi dan mengendalikan pertumbuhan kawasan
yang tidak sesuai peruntukannya dan kekurangmaumpuan pemerintaj
menyediakan infrastruktur pelayanan kota yang memadai.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 1|B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang berada dikawasan


pemukiman kumuh antara lain mencakup tingkat pendapatan rendah,
norma sosial yang longgar, budaya kemiskinan yang mewarnai
kehidupannya yang antara lain tampak dari sikap dan perilaku yang
apatis. Kondisi tersebut sering juga mengakibatkan kondisi kesehatan
yang buruk, sumber pencemaran, sumber penyebaran penyakit dan
perilaku menyimpang, yang berdampak pada kehidupan kota
keseluruhannya.

Ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi


dan kualitas bangunan sarana kota yang tidak tersedia dengan layak,
prasarana yang tidak memenuhi syarat menjadi permasalahan
perkotaan dari waktu ke waktu. Permukiman kumuh menimbulkan
intervensi signifikan terhadap rona dan prestise sebuah kawasan
perkotaan, terlebih bahwa kondisi tersebut dapat menjadi barometer
kualitas hidup dan kehidupan masyarakat maupun kemampuan
pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakatnya.

Banyak permasalahan perkotaan yang berakar pada kawasan


permukiman, seperti tidak meratanya penyediaan infrastruktur
permukiman perkotaan, ketidaktersediaan lingkungan permukiman
yang layak, dan sebagainya yang pada akhirnya berimplikasi pada
terciptanya permukiman kumuh di kawasan perkotaan. Permasalahan
yang ditimbulkan dari munculnya kawasan permukiman kumuh
seperti lingkungan yang tidak sehat, tidak hanya berpengaruh
terhadap internal kawasan itu sendiri namun juga terhadap kawasan
sekitarnya dan sistem jaringan infrastruktur perkotaan secara umum.

Berbagai potensi dan permasalahan kawasan permukiman yang telah


dijelaskan secara umum, juga terjadi pada kawasan permukiman di
Kecamatan Bontoharu, Desa Bontosunggu dan Desa Bontotangnga

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 2|B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

Kabupaten Kepulauan Selayar. Perencanaan Kawasan Permukiman


Kumuh, di Kecamatan Bontoharu Desa Bontosunggu dan Desa
Bontotangnga terlebih dahulu dilakukan identifikasi lokasi kawasan
kumuh berdasarkan kategori kawasan kumuh Untuk memudahkan
dalam mengidentifikasi dan menjustifikasi berbagai informasi tentang
kondisi permukiman kumuh di Desa Bontosunggu dan Desa
Bontotangnga Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar,
maka dibuatkan Perencanaan Kwasan Permukiman Kumuh.

CUKUP JELAS untuk latar belakang Perencanaan Penataan dan


Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh di
Kecamatan Bontoharu sebagaimana substansi peningkatan
kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

b. Tanggapan terhadap Maksud, Tujuan dan Sasaran


Penyusunan Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas
Kawasan Permukiman Kumuh di Kecamatan Bontoharu
Kabupaten Kepulauan Selayar pada dasarnya merupakan upaya
untuk meningkatkan kehidupan masyrakat yang yang sehat dan layak
huni serta menjadi pedoman pengendalian pembangunan
permukiman yang tidak terkendali. Penyusunan Perencanaan
Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman
Kumuh di Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar
berfungsi sebagai salah satu bahan dasar dalam
penyusunan Rencana Tindak ( Action Plan ) dan Rencana Detail
Teknis (Detail Enggineer Design) serta dalam menyusun Rencana
Anggaran Biaya (RAB).

Berdasarkan tujuan yang tercantum dalam KAK, konsultan sudah


sangat jelas memahami kebutuhan pemerintah Kabupaten Kepulauan
Selayar terhadap peningkatan kualitas permukiman di wilayah

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 3|B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

Kecamatan Bontoharu khususnya yang berada di Desa Bontosunggu


dan Desa Bontotangnga.

Kegiatan ini bertujuan untuk; 1. Mengidentifikasi dan menjustifikasi


kondisi permukiman di Kecamatan Bontoharu. 2. Melakukan
pemutakhiran tujuan data terkait identifikasi potensi dan
permasalahan kawasan permukiman Kecamatan Bontoharu.

Dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat


Republik Indonesia nomor 02 tahun 2016 tentang Peningkatan
Kualitas Terhadap Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh
menjabarkan seluruh kegiatan yang termasuk dalam sistem proses
identifikasi dan peningkatan kualitas kawasan permukiman yang
keterkaitan satu sama lainnya bersifat sekuensial. Bagian wilayah
yang perlu disusun perencanaan penataan dan peningkatan kualitas
kawasan permukiman kumuh Kecamatan Bontoharu Kabupaten
Kepulauan Selayar adalah kawasan yang memiliki nilai strategis
kabupaten/kota, atas dasar pemikiran itulah yang menjadi dasar
untuk Penyusunan perencanaan penataan dan peningkatan kualitas
kawasan permukiman kumuh Kecamatan Bontoharu Kabupaten
Kepulauan Selayar. Dalam konteks perkembangan lingkungan,
Penyusunan perencanaan penataan dan peningkatan kualitas kawasan
permukiman kumuh Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan
Selayar ini dalam rangka mencapai sasaran:

a. Tersedianya DED sarana dan prasarana kawasan permukiman


kumuh dalam rangkah pembangunan penataan kawasan layak
huni
b. Tersedianya tujuan, kebijakan, strategi penataan kawasan
permukiman kumuh

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 4|B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

c. Program dan kegiatan dapat tersusun dalam penanganan kawasan


permukiman kumuh menjadi kawasan layak huni yang produktif,
harmonis dan berwawasan lingkungan yang berkelanjutan.

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka wujud formal dari perencanaan


penataan dan peningkatan kualitas kawasan permukiman kumuh
Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar sebagai acuan
detail perencanaan kawasan permukiman masyarakat

Oleh karena itu, setiap proses perencanaan hingga pembangunan


sampai dengan pelaksanaannya yang memerlukan alokasi kegiatan di
suatu lokasi atau kawasan tertentu akan senantiasa mengandung
kepentingan azas, kriteria, keluaran dan proses yang harus dipenuhi
dan diperhatikan serta diinterprestasikan ke dalam pelaksanaan tugas
Penyusunan perencanaan penataan dan peningkatan kualitas kawasan
permukiman kumuh Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan
Selayar. Dengan adanya dokumen perencanaan penataan dan
peningkatan kualitas kawasan permukiman kumuh Kecamatan
Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar akan menjadi acuan dalam
pembangunan sarana dan prasarana khususnya pada kawasan
permukiman perkotaan yang terfokus pada pengembangan
perumahan dan permukiman yang layak huni.

Dengan mengacu pada peraturan menteri PUPR nomor 02 tahun


2016, tujuan yang dicanangkan dalam penyusunan perencanaan
penataan dan peningkatan kualitas kawasan permukiman kumuh
Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar sudah sangat
jelas.

Sasaran dari kegiatan ini adalah 1. Tersedianya data permukiman


kumuh di Kecamatan Bontoharu khususnya di Desa Bontosunggu dan
Kecamatan Boontotangnga Kabupaten Kepulauan Selayar sesuai

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 5|B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

potensi dan permasalahan kawasan 2. Tersedianya data yang akurat


terkait dengan kondisi permukiman kumuh di Kecamatan Bontoharu
Desa Bontotangga dan Desa Bontosunggu Kabupaten Kepulauan
Selayar.

Setelah ditelah dengan saksama, Konsultan dapat menyimpulkan


bahwa sasaran yang ingin dicapai pada proses penyusunan
perencanaan penataan dan peningkatan kualitas kawasan
permukiman kumuh Kecamatan Bontoharu sudah SANGAT JELAS.

c. Tanggapan Terhadap Nama Dan Organisasi Pengguna Jasa


Untuk pekerjaan Penyusunan Perencanaan Penataan dan Peningkatan
Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Kecamatan Bontoharu
Kabupaten Kepulauan Selayar sudah sesuai dengan arahan dan
sasaran yang diinginkan pada peraturan menteri PUPR nomor 02 tahu
2016 .

d. Tanggapan Sumber Pendanaan


Dalam Kerangka Acuan Kerja, Uraian Biaya telah diberikan secara
mendetail mengenai waktu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan tugas
ini termasuk kebutuhan-kebutuhan dan fasilitas lain yang digunakan,
sehingga Konsultan dapat membuat Usulan Biaya, baik Biaya
Langsung Personil maupun Biaya Langsung Non Personil dengan
tepat.

e. Tangapan Terhadap Lingkup Pekerejaan


Lingkup pekerjaan Penyusunan Perencanaan Penataan dan
Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Kecamatan
Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar adalah dokumen
penyusunan Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas
Kawasan Permukiman Kumuh, CUKUP JELAS, PT. MULTICIPTA

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 6|B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

ADHIRANCANA KONSULTAN akan mengacu pedoman KAK ataupun


dokumen perundang-undangan yang berlaku.

f. Tanggapan Terhadap Lokasi Kegiatan


Lokasi kegiatan CUKUP JELAS

2. Saran Terhadap KAK


Keberhasilan untuk tercapainya sasaran dan maksud serta tujuan dari
pekerjaan Penyusunan Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas
Kawasan Permukiman Kumuh Kecamatan Bontoharu Kabupaten
Kepulauan Selayar, tidak terlepas dari suatu pedoman Kerangka Acuan
Kerja (KAK) yang dijadikan acuan baik pada saat penawaran maupun
pada saat pekerjaan di lapangan. PT. MULTICIPTA ADHIRANCANA
KONSULTAN, mencoba mempelajari isi KAK serta uraian yang diberikan
pada saat penjelasan, ada beberapa hal yang perlu ditambahkan menurut
pendapat tim konsultan sebagai tanggapan terhadap KAK untuk
kesempurnaan hasil pekerjaan diantaranya :

a. ManajemenPelaksanaan Proyek
Seluruh kegiatan proyek harus dimonitoring oleh semua pihak yang
terlibat dalam pekerjaan tersebut. Untuk maksud tersebut konsultan
diperlukan untuk mendukung manajemen proyek yang rapi dan
lengkap serta mencakup seluruh kearsipan seluruh kegiatan proyek
dalam hal ini akan melakukan kegiatan-kegiatan yang mencakup:

Konsultan akan membuat Rencana Mutu Kontrak (RMK) sebelum


memulai pekerjaan, dengan adanya RMK ini akan dapat
memberikan jaminan kepada direksi, PPK, bahwa pelaksanaan
pekerjaan yang dilakukan akan sesuai dengan yang diharapkan
dalam kontrak pekerjaan. Oleh karena itu dalam pelaksanaan
pekerjaan nantinya harus berpedoman pada Standart Prosedur

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 7|B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

dan Standart Desain yang dinyatakan dalam RMK ini agar mutu
yang diharapkan dapat terwujud.
Membuat arsip dari korespondensi proyek, agenda proyek, hasil
survey/pengamatan, pertimbangan teknis laporan permasalahan
dan solusinya, perintah perubahan/adendum.

b. Publik Consultation Meeting (PCM)


Konsultan berpendapat bahwa pentingnya produk pekerjaan ini
nantinya jika dilaksanakan, maka perlu dilakukan sharing atau jejak
pendapat secara berkala dengan melakukan pertemuan dengan
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar, dan Tokoh-Tokoh
Masyarakat setempat.

3. KesimpulanTanggapan Terhadap (KAK)


Konsultan menyimpulkan bahwa pelayanan Jasa Konsultansi
Penyusunan Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas
Kawasan Permukiman Kumuh Kecamatan Bontoharu Kabupaten
Kepulauan Selayar dan dengan pengalaman kerja konsultan di bidang
sejenis maka konsultan dapat melaksanakan pekerjaan tersebut di atas
sesuai dengan yang diharapkan mengingat Kerangka Acuan Kerja (KAK),
dan rapat penjelasan Aanwijzing, telah memuat hal-hal yang bersifat
teknis dan operasional.

Selain memahami KAK, personil yang akan dilibatkan Team konsultan


PT. MULTICIPTA ADHIRANCANA KONSULTAN, merupakan individu-
individu yang berpengalaman dalam berbagai kegiatan perencanaan
ruang, dan pengembangan wilayah, pengendalian dan pemanfaatan
ruang, penataan bangunan, pengendalian lingkungan, pengelolaan
transportasi, supervisi proyek, perkuatan kelembagaan, partisipasi
pembangunan dan pelatihan kesemuanya merupakan tenaga-tenaga ahli
yang penuh dedikasi, penuh tanggung jawab, dan terbiasa dengan
teamwork.
Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 8|B A B I I I
Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

Dengan telah dipahaminya TOR, maka Tim Konsultan dalam menangani


pekerjaan ini akan menggunakan Metodologi pada penjelasan bab
selanjutnya.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 9|B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

B. PENDEKATAN , METODOLOGI DAN


PROGRAM KERJA

1. UMUM
Perumahan dan permukiman merupakan salah satu kebutuhan dasar
manusia dan merupakan faktor penting dalam peningkatan harkat dan
martabat manusia serta mutu kehidupan yang sejahtera dalam
masyarakat yang adil dan makmur. Perumahan dan permukiman juga
merupakan bagian dari pembangunan nasional yang perlu terus
ditingkatkan dan dikembangkan secara terpadu, terarah, terencana, dan
berkesinambungan.

Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan


tempat tinggal /lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana
dan sarana lingkungan, dimaksudkan agar lingkungan tersebut menjadi
lingkungan yang sehat, aman, serasi, dan teratur dan berfungsi
sebagaimana yang diharapkan. Sedangkan permukiman adalah bagian
dari lingkungan hidup diluar kawasan lindung, baik yang berupa
kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai
lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan
yang mendukung prikehidupan dan penghidupan. Permukiman dapat
pula didefinisikan sebagai kawasan yang didominasi oleh lingkungan
hunian dengan fungsi utama sebagai tempat tinggal yang dilengkapi
dengan prasarana dan sarana lingkungan dan tempat kerja yang
memberikan pelayanan dan kesempatan kerja untuk mendukung
perikehidupan dan penghidupan sehingga fungsi-fungsi perumahan
tersebut dapat berdaya guna dan berhasil guna.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 10 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

Masalah perumahan dan permukiman merupakan masalah tanpa akhir


(the endless problems). Betapa tidak, masalah papan bagi manusia
senantiasa menjadi pembicaraan yang seolah tanpa akhir. Bukan hanya
di kota-kota besar saja masalah ini mengemuka, tetapi di kota kecil pun
masalah perumahan dan permukiman tersebut menjadi bahan
pembicaraan. Masalah perumahan dan permukiman berkaitan dengan
proses pembangunan, serta kerap merupakan cerminan dari dampak
keterbelakangan pembangunan umumnya. Munculnya masalah
perumahan dan permukiman ini disebabkan, karena :
a. Kurang terkendalinya pembangunan perumahan dan permukiman
sehingga menyebabkan munculnya kawasan kumuh pada beberapa
bagian kota yang berdampak pada penurunan daya dukung
lingkungan.
b. Keterbatasan kemampuan dan kapasitas dalam penyediaan
perumahan dan permukiman yang layak huni baik oleh pemerintah,
swasta maupun masyarakat.
c. Pembangunan sumberdaya manusia dan kelembagaan masyarakat
yang masih belum optimal khususnya menyangkut kesadaran akan
pentingnya hidup sehat.
d. Kurang dipahaminya kriteria teknis pemanfaatan lahan permukiman
dan perumahan khususnya yang berbasis pada ambang batas daya
dukung lingkungan dan daya tampung ruang.
Pembangunan perumahan dan permukiman yang kurang terpadu,
terarah, terencana, dan kurang memperhatikan kelengkapan prasarana
dan sarana dasar seperti air bersih, sanitasi (jamban), sistem
pengelolaan sampah, dan saluran pembuangan air hujan, akan cenderung
mengalami degradasi kualitas lingkungan atau yang kemudian
diterminologikan sebagai Kawasan Kumuh.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 11 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

Kawasan kumuh meskipun tidak dikendaki namun harus diakui bahwa


keberadaannya dalam perkembangan wilayah dan kota tidak dapat
dihindari. Oleh karena itu, dalam rangka meminimalisir munculnya
kawasan kumuh, maka perlu dilakukan upaya-upaya secara
komprehensif yang menyangkut berbagai aspek yang mampu
menghambat timbulnya kawasan kumuh tersebut.
a. Pengertian Kawasan Kumuh
Pertumbuhan dan perkembangan penduduk yang cukup pesat
mempunyai dampak terhadap berbagai bidang antara lain di bidang
fisik lingkungan, sosial, maupun ekonomi yang memerlukan
ketersediaan prasarana dan sarana dasar yang secara umum akan
bersifat susul menyusul dengan laju pertumbuhan penduduk. Kurang
tersedianya sarana dasar ini akan mengakibatkan tumbuhnya
beberapa bagian wilayah perkotaan menjadi kawasan kumuh.
Kawasan yang kumuh sering diidentikkan dengan kawasan yang
jorok dengan masalah atau kemiskinan kota.

Kawasan kumuh adalah sebuah kawasan dengan tingkat kepadatan


populasi tinggi di sebuah kota yang umumnya dihuni oleh
masyarakat miskin. Kawasan kumuh dapat ditemui di berbagai kota
besar di Indonesia. Kawasan kumuh umumnya dihubung-hubungkan
dengan tingkat kemiskinan dan pengangguran tinggi. Kawasan
kumuh dapat pula menjadi sumber masalah sosial seperti kejahatan,
obat-obat terlarang dan minuman keras. Di berbagai wilayah,
kawasan kumuh juga menjadi pusat masalah kesehatan karena
kondisinya yang tidak higienis.

Menurut CSUs Urban Studies Department, kawasan kumuh


merupakan suatu wilayah yang memiliki kondisi lingkungan yang
buruk, kotor, penduduk yang padat serta keterbatasan ruang (untuk

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 12 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

ventilasi cahaya, udara, sinitasi, dan lapangan terbuka). Kondisi yang


ada seringkali menimbulkan dampak yang membahayakan
kehidupan manusia (misalnya kebakaran dan kriminalitas) sebagai
akibat kombinasi berbagai faktor.

Beberapa karakteristik kawasan kumuh di Indonesia


menggambarkan suatu kawasan permukiman yang secara fisik
memiliki kondisi lingkungan yang tidak sehat, seperti kotor,
tercemar, lembab, dan lain-lain. Kondisi tersebut secara ekologis
timbul sebagai akibat dari ketiakmampuan daya dukung lingkungan
mengatasi beban aktivitas yang berlangsung di kawasan tersebut. Di
wilayah perkotaan kondisi tersebut timbul sebagai akibat tingkat
kepadatan penduduk yang tinggi. Di wilayah pedesaan dengan
kepadatan penduduk yang rendah, kekumuhan wilayah ditimbulkan
oleh kondisi sanitasi lingkungan yang buruk, sebagai akibat
keterbatasan sarana maupun kebiasaan masyarakat yang kurang
memperhatikan kebersihan dan kesehatan lingkungan.

Di berbagai kawasan kumuh, penduduk tinggal di kawasan yang


sangat berdekatan sehingga sangat sulit untuk dilewati kendaraan
seperti ambulans dan pemadam kebakaran. Kurangnya pelayanan
pembuangan sampah juga mengakibatkan sampah yang bertumpuk-
tumpuk. Dalam beberapa tahun terakhir ini perkembangan kawasan
kumuh terus meningkat, hal ini sejalan dengan meningkatnya
populasi penduduk. Pemerintah telah mencoba menangani masalah
kawasan kumuh dengan berbagai cara, salah satunya dengan
menggantikan kawasan kumuh tersebut dengan perumahan modern
yang memiliki sanitasi yang baik (umumnya berupa rumah
bertingkat/ rumah susun).

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 13 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

Selain kawasan kumuh yang menempati lahan-lahan yang legal, yang


disebut Slum Area, kawasan kumuh seringkali juga muncul pada
lahan-lahan tanpa hak yang jelas, baik secara status kepemilikan
maupun secara fungsi ruang kota yang umumnya merupakan lahan
bukan untuk tempat hunian. tanpa seijin pemiliknya, yang
karenanya, pada umumnya membawa konsekuensi terhadap tidak
layaknya kondisi hunian masyarakat tersebut, karena tidak tersedia
fasilitas sarana dan prasarana dasar bagi lingkungan huniannya.

Kawasan semacam ini menurut berbagai literatur termasuk ke dalam


kriteria kawasan squatter. Squatter adalah suatu area hunian yang
dibangun di atas lahan tanpa dilindungi hak kepemilikan atas
tanahnya, dan masyarakat squatter adalah suatu masyarakat yang
mendiami (bertempat tinggal) di atas lahan yang bukan haknya atau
bukan diperuntukkan bagi permukiman; seringkali tumbuh
terkonsentrasi pada lokasi terlarang untuk dihuni (bantaran sungai,
pinggir pantai, dibawah jembatan, dan lain-lain.) dan berkembang
cepat sebagai hunian karena terlambat diantisipasi; dan menempati
lahan tanpa hak yang sah (tanah negara, tempat pembuangan
sampah, atau bahkan tanah milik orang/lembaga lain yang belum
ataupun tidak dimanfaatkan).

Kelompok squatter umumnya merupakan pendatang dari wilayah


perdesaan atau pinggiran kota yang bermigrasi ke perkotaan untuk
mengadu nasib (mencari nafkah) di perkotaan. Selain secara
ekonomi umumnya mereka merupakan komunitas yang
berpenghasilan rendah, bekerja di sektor informal, dengan
penghasilan yang tidak tetap, juga secara sosial mereka
berpendidikan rendah, berketrampilan terbatas dengan tatanan
sosial kemasyarakatan yang longgar, menghadapi eksklusifisme dari

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 14 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

masyarakat di sekitar-nya, dan akses yang terbatas terhadap


pelayanan sosial dan administrasi publik.
Kemudian secara hukum mereka tidak memiliki kekuatan dan
kepastian terutama menyangkut lahan yang mereka tempati serta
status administrasi, serta secara fisik mereka tinggal dalam kondisi
lingkungan yang sangat buruk, tidak tersedia fasilitas sarana dan
prasarana dasar lingkungan hunian, sering terkena banjir dan polusi
lingkungan lainnya.

Pertumbuhan permukiman kumuh (slum dan squatter) ini terasa


makin pesat, terutama sejak terjadinya krisis yang menasional,
mulai dari krisis moneter, disusul krisis ekonomi sampai dengan
krisis multidimensi yang mengakibatkan bertambah besarnya
jumlah penduduk miskin baik di perdesaan maupun di perkotaan.
Kondisi ini telah menyebabkan semakin merebaklah kawasan-
kawasan slum dan squatter di wilayah perkotaan.

Hal itu terjadi karena banyak penduduk kota yang menurun tingkat
kesejahtera-annya, sementara pendatang dari perdesaan yang
membawa banyak penduduk miskin juga meningkat. Dari kondisi
tersebut di atas jelas terlihat bahwa permukiman kumuh (slum dan
squatter) merupakan buah dari berbagai situasi rumit dari
ketimpangan pembangunan yang perlu digali akar persoalannya dan
dicari kemungkinan pemecahannya yang realistik yang dapat
disepakati oleh berbagai pihak serta berdampak positif bagi
peningkatan kualitas lingkungan penduduk dan perkembangan
ruang kota. Fenomena keberadaan masyarakat slum dan squatter di
perkotaan ini selain telah menjadi salah satu penyebab timbulnya
ketidakjelasan fungsi elemen-elemen lahan perkotaan, juga telah
menimbulkan penurunan kualitas lingkungan perkotaan, sehingga

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 15 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

wajah kota menjadi tidak jelas dan semerawut. Keberadaan


kawasan-kawasan kumuh akan memberikan dampak negatif, baik
ditinjau dari sisi tingkat kalayakan kawasan maupun keterjaminan
kualitas hidup dan keberlanjutan fungsi lingkungan.
b. Faktor Penyebab Munculnya Kawasan Kumuh
Sejalan dengan perkembangaan kota baik secara fisik, ekonomi, dan
sosial budaya, kota telah mengalami pergeseran peran, mulai dari
paradigma bahwa kota telah berkembang dengan berbagai konflik
kepentingan, kemudian muncul paradigma bahwa kota berkembang
sebagai proses ekologi budaya, sampai dengan munculnya
pandangan bahwa kota merupakan tempat berkumpulnya berbagai
komunitas dan budaya dengan istilah social world, sebagaimana
diungkapkan oleh Howard Becker (1970an, dari Herbert Gans, 1962;
Ernest Burgess, 1925, the Chicago School): yang memandang bahwa
semua kehidupan di kota merupakan produk dari kebudayaan-
kebudayaan yang tercipta oleh dunia sosial yang hidup di kota
tersebut.

Semakin kuatnya daya tarik kota ditambah dengan adanya berbagai


keterbatasan secara ekonomi di perdesaan, telah mendorong
sebagian besar warga perdesaan untuk mengadu nasib di perkotaan.
Perkembangan kota yang pesat tersebut yang berfungsi sebagai
pusat kegiatan serta menyediakan layanan primer dan sekunder,
telah mengundang penduduk dari daerah pedesaan untuk datang ke
perkotaan dengan harapan bisa mendapatkan kehidupan yang lebih
baik serta berbagai kemudahan lain termasuk lapangan kerja,
sehingga mengakibatkan kurang perhatiannya terhadap
pertumbuhan kawasan perumahan dan permukiman penduduk
maupun kegiatan ekonomi. Kondisi tersebut pada kenyataannya
mengakibatkan :

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 16 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

1) Terjadinya pertambahan penduduk yang lebih pesat dari pada


kemampuan pemerintah dalam menyediakan hunian serta
layanan primer lainnya secara layak/memadai;
2) Tumbuhnya kawasan perumahan dan permukiman yang kurang
layak huni, yang pada berbagai daerah cenderung berkembang
menjadi kumuh, dan tidak sesuai lagi dengan standar lingkungan
permukiman yang sehat;
3) Kurangnya perhatian / partisipasi masyarakat akan
pendayagunaan prasarana dan sarana lingkungan permukiman
guna kenyamanan dan kemudahan dukungan kegiatan usaha
ekonomi.

Dari penjelasan diatas maka dapat ditegaskan bahwa permasalahan


perumahan dan permukiman diperkotaan merupakan permasalahan
yang komplek dan perlu mendapatkan perhatian, hal ini disebabkan
karena rumah merupakan kebutuhan dasar manusia selain pangan
dan sandang yang masih belum dapat dipenuhi oleh seluruh
masyarakat. Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, rumah
merupakan asset dalam rangka pengembangan kehidupan social dan
ekonomi bagi pemiliknya. Sedangkan pengadaan perumahan yang
dilakukan oleh semua pelaku pembangunan pada hakekatnya dapat
mendorong berkembangnya kegiatan ekonomi nasional. Oleh karena
itu bidang perumahan dan permukiman merupakan program yang
penting dan strategis dalam rangka pembangunan nasional.

Pengadaan perumahan yang diselenggarakan secara formal oleh


pemerintah dan pengembang swasta ternyata setiap tahun hanya
mampu memenuhi 15 % dari kebutuhan perumahan nasional.
Kekurangan sebesar 85 % dari kebutuhan nasional dipenuhi oleh
masyarakat secara swadaya tanpa menggunakan fasilitas pendanaan

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 17 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

formal. Pembangunan perumahan yang tidak terfasilitasi ini


berlangsung terus sesuai dengan kebutuhan social dan kemampuan
ekonomi yang dimiliki masing-masing individu yang mendorong
masyarakat untuk menyelenggarakan pengadaan perumahan dan
permukimannya secara swadaya.

Dampak yang ditimbulkan dari kondisi yang demikian ini terutama


pembangunan perumahan yang dilaksanakan oleh masyarakat
berpenghasilan rendah adalah tumbuh dan berkembangnya
permukiman-permukiman yang tidak terkendali dan terintegrasi
dalam suatu perencanaan permukiman yang sesuai dengan arah
pengembangan ruang kota. Pada akhirnya hal tersebut akan
mengakibatkan permasalahan fisik lingkungan serta kerawanan
sosial.

Dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan faktor penyebab


munculnya kawasan kumuh (slum dan squatter) dapat dibagi
menjadi 2 (dua), yaitu faktor yang bersifat langsung dan faktor yang
bersifat tidak langsung.
1) Faktor Yang Bersifat Langsung
Faktor-faktor yang bersifat langsung yang menyebabkan
munculnya kawasan kumuh adalah faktor fisik (kondisi
perumahan dan sanitasi lingkungan). Faktor lingkungan
perumahan yang menimbulkan kekumuhan meliputi kondisi
rumah, status kepemilikan lahan, kepadatan bangunan, koefisien
Dasar Bangunan (KDB), dan lain-lain, sedangkan faktor sanitasi
lingkungan yang menimbulkan permasalahan meliputi kondisi
air bersih, MCK, pengelolaan sampah, pembuangan air limbah
rumah tangga, drainase, dan jalan.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 18 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

Kondisi lingkungan perumahan yang menyebabkan timbulnya


kekumuhan adalah keadaan rumah yang mencerminkan nilai
kesehatan yang rendah, kepadatan bangunan yang tinggi,
koefisien dasar bangunan (KDB) yang tinggi, serta status lahan
yang tidak jelas (keberadaan rumah di daerah marjinal) seperti
rumah yang berada di bantaran sungai, rel KA, dll. Rumah
rumah yang berada di daerah marjinal berpotensi terkena banjir
pada saat musim hujan. Dengan demikian nilai kekumuhan
tertinggi pada saat musim penghujan.

Sedangkan faktor sanitiasi lingkungan yang menyebabkan


kekumuhan seperti kurangnya sarana air bersih yang terlihat
dari banyaknya masyarakat yang memanfaatkan air dari sumber
yang tidak bersih sehingga berpotensi menimbulkan penyakit
akibat mengkonsumsi air yang tidak sehat, rendahnya
penggunaan MCK serta banyaknya masyarakat yang membuang
hajat secara tidak sehat, sehingga berpotensi menimbulkan
pencemaran organic dan peningkatan bakteri coli, yang akan
menimbulkan dampak lanjutan berupa gangguan kesehatan
masyarakat.

Belum adanya pengelolaan sampah yang baik menjadi salah satu


unsur penentu timbulnya kekumuhan. Akibat tidak adanya
sistem pengelolaan sampah dan kurangnya sarana pembuangan
sampah mengakibatkan terjadinya penumpukan sampah di
pekarangan. Tidak berfungsinya sistem jaringan drainase juga
merupakan salah satu penyebab munculnya kawasan kumuh.
Kondisi ini menimbulkan tambahan prolematika lingkungan
antara lain terjadinya banjir (genangan) akibat penyumbatan
sungai dan saluran air (drainase).

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 19 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

Faktor terakhir yang dinilai memiliki dampak langsung terhadap


timbulnya lingkungan kumuh adalah pembuangan limbah rumah
tangga dan kondisi jaringan jalan. Rendahnya kualitas sistem
pembuangan air limbah rumah tangga dan jaringan jalan juga
menyebabkan suatu kawasan menjadi kumuh.

2) Faktor Yang bersifat Tidak Langsung


Faktor-faktor yang bersifat tidak langsung adalah faktor-faktor
yang secara langsung tidak berhubungan dengan kekumuhan
tetapi faktor-faktor ini berdampak terhadap faktor lain yang
terbukti menyebabkan kekumuhan. Faktor-faktor yang dinilai
berdampak tidak langsung terhadap kekumuhan adalah faktor
ekonomi masyarakat, sosial dan budaya masyarakat.

Faktor ekonomi yang berkaitan dengan kekumuhan yaitu taraf


ekonomi masyarakat (pendapatan masyarakat), pekerjaan
masyarakat. Penghasilan yang rendah menyebabkan masyarakat
tidak memiliki dana untuk membuat kondisi rumah yang sehat,
pengadaan MCK, tempat sampah dan lain-lain yang terkait
dengan sarana lingkungan rumah yang sehat. Pengahasilan yang
rendah juga mengakibatkan sebagian masyarakat membangun
rumah tidak permanen di bantaran sungai, Rel KA, dan lain-lain.
Dengan demikian taraf ekonomi secara tidak langsung
berpengaruh terhadap terjadinya kekumuhan. Demikian juga
halnya dengan pekerjaan masyarakat. Pekerjaan masyarakat
yang kurang layak menyebabkan tingkat pendapatan yang
rendah, sehingga kemampuan untuk membuat rumah yang layak
huni dan sehatpun menjadi rendah.

Faktor kedua yang berpengaruh tidak langsung terhadap


kekumuhan adalah kondisi sosial kependudukan yang meliputi

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 20 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan, dan tingkat


kesehatan. Jumlah anggota keluarga yang besar dengan tingkat
pendidikan dan kesehatan yang rendah menyebabkan
rendahnya kemampuan dan pengetahuan masyarakat terhadap
permasalahan lingkungan yang akhirnya mendorong kesadaran
yang rendah terhadap upaya menciptakan lingkungan dan
kehidupan yang sehat. Rendahnya kesadaran masyarakat
terhadap kesehatan lingkungan menyebabkan masyarakat
melakukan aktivitas membuang hajat dan sampah yang
berdampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan dirinya.

Faktor lain yang juga ikut mempengaruhi munculnya kawasan


kumuh yaitu faktor budaya yang berhubungan dengan masalah
kebiasaan dan adat istiadat. Selain faktor sosial seperti tingkat
pendidikan, faktor kebiasaan juga menjadi pendoroong
munculnya kawasan kumuh. Faktor kebiasaan ini juga yang
menyebabkan masyarakat merasa lebih enak membuang hajat di
saluran air dan kebun sekalipun tidak sehat, dibanding
membuang hajat di WC umum. Untuk itu beberapa WC umum
yang dibangun oleh pemerintah berada dalam kondisi terlantar
tidak dimanfaatkan oleh masyarakat.

Selain itu faktor adat istiadat seperti makan tidak makan yang
penting kumpul juga merupakan salah satu penyebab
munculnya kawasan kumuh, walaupun bersifat tidak langsung.
Namun adat istiadat seperti ini mendorong orang untuk tetap
tinggal dalam suatu lingkungan perumahan walaupun tidak
layak huni yang penting dekat dengan saudara, tanpa mau
berusaha mencari lingkungan hunian yang lebih baik.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 21 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

2. PENDEKATAN STUDI
a. Pendekatan Normatif
Menimbang aspek perumahan dan permukiman dan memperhatikan
materi dalam KAK, maka beberapa aspek legal yang perlu
diperhatikan dalam kegiatan ini sekurang-kurangnya adalah sebagai
berikut :
1) Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
2) Undang-undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan
Kawasan Permukiman;
Pasal 62 ayat (2), penyusunan perencanaan penanganan
lingkungan kumuh berbasis kawasan ini dilakukan dengan
cara:
Rehabilitasi, adalah pembangunan kembali lingkungan
hunian perkotaan atau lingkungan hunian perdesaan
melalui perbaikan dan/atau pembangunan baru rumah dan
prasarana, sarana, dan utilitas umum untuk memulihkan
fungsi hunian secara wajar sampai tingkat yang memadai.
Rekonstruksi, adalah pembangunan kembali lingkungan
hunian perkotaan atau lingkungan hunian perdesaan
melalui perbaikan dan/atau pembangunan baru rumah dan
prasarana, sarana, dan utilitas umum dengan sarana utama
menumbuh kembangkan kegiatan perekonomian, sosial,
dan budaya Peremajaan adalah pembangunan kembali
perumahan dan permukiman yang dilakukan melalui
penataan secara menyeluruh meliputi rumah dan
prasarana, sarana, dan utilitas umum perumahan dan
permukiman.
Pasal 95 ayat (2) upaya pencegahan terjadinya daerah kumuh
pada hakekatnya bermuara kepada upaya pengawasan dan
pengendalian pembangunan perumahan dan kawasan

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 22 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

permukiman di perkotaan serta upaya untuk memberdayakan


masyarakat agar kehidupan sosial ekonominya lebih baik
dengan harapan masyarakat akan lebih tertarik untuk menjaga
lingkungannya setelah kondisi sosial ekonominya menjadi
lebih terjamin. Melalui kegiatan tersebut masyarakat
difasilitasi dan distimulasi untuk secara bersama memperbaiki
kehidupan dan penghidupannya.
3) Pasal 27, UU No. 4/1992 tentang Perumahan dan Permukiman;
Aspek yang diaturnya adalah :
Penyelenggaraan bimbingan, bantuan dan kemudahan
mengenai peningkatan kualitas permukiman oleh pemerintah
berupa kegiatan perbaikan dan pemugaran, peremajaan, serta
pengelolaan dan pemeliharaan yang berkelanjutan.
Ketentuan penetapan permukiman kumuh oleh pemda dan
upaya pelaksanaan program peremajan lingkungan kumuh
bersama dengan masyarakat.
4) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah
Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kota/Kabupaten;
5) Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 22 Tahun
2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Perumahan
Rakyat;
6) Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 29 Tahun
2011 tentang Pedoman Pemberian Bantuan Penanganan
Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh Berbasis
Kawasan (PLP2K-BK).
7) SE Menpera No. 04/SE/M/93 Perihal Pedoman Umum
Penanganan Terpadu Perumahan dan Permukiman Kumuh;
Aspek yang diaturnya adalah :

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 23 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

Pengertian perumahan dan Permukiman Kumuh, perbaikan


atau pemugaran, peremajaan perumahan dan permukiman
Kumuh, relokasi, penanganan terpadu dan pemrakarsa.
Maksud dan Tujuan penanganan terpadu perumahan dan
permukiman Kumuh.
Penanganan Perumahan dan permukiman kumuh melalui
perbaikan, peremajaan dan relokasi.
Pembagian peran pemangku kepentingan atau stakeholders
untuk pemrakarsa dan pelaku pembangunan yang meliputi
pemerintah daerah Tingkat II, Pemerintah Daerah Tingkat I,
Pemerintah Pusat, Badan Usaha Milik Negara/BUMN, Badan
Usaha Milik Daerah/BUMND, Koperasi, Yayasan, Organisasi
Sosial, Badan Usaha Swasta, dan Masyarakat.
b. Pendekatan Teknis
Pemahaman teknis operasional diarahkan pada keberadaan beberapa
Norma, Standar, Pedoman, Manual (NSPM) yang terkait atau relevan
dengan penataan permukiman kumuh yang diterbitkan oleh
Kementerian Pekerjaan Umum RI ataupun kementerian-kementerian
lainnya yang terkait dengan penanganan permukiman kumuh.
1) Pedoman Penanganan Lingkungan Permukiman Kumuh
Berbasis Kawasan (PLP2K-BK)
Pedoman Penanganan Lingkungan Permukiman Kumuh Berbasis
Kawasan (PLP2K-BK) merupakan pedoman yang diterbitkan oleh
Kementerian Perumahan Rakyat RI, Deputi Bidang
Pengembangan Kawasan Tahun 2013. Secara substansi PLP2K-BK
berisikan penjelasan mengenai tahapan pelaksanaan kegiatan dan
kriteria lokasi yang ditangani.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 24 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

Karakteristik PLP2K-BK tersebut antara lain :


Mengembangkan kawasan perumahan dan permukiman
terintegrasi dengan tata ruang dan sistem kota,
Menggunakan Pendekatan Tridaya (manusia, lingkungan dan
ekonomi),
Melengkapi kebutuhan PSU agar terpenuhi lingkungan
perrmukiman yang layak, dan
Mengintegrasikan pendekatan sektor dan pelaku lainnya.
Program PLP2K-BK adalah untuk mendorong terwujudnya
lingkungan perumahan dan permukiman yang layak melalui
efektivitas dan efesiensi perencanaan dan penanganan serta
sinergi tindak antara pemerintah pusat, pemerintah daerah,
masyarakat dan stakeholder lainnya dalam jangka waktu yang
telah ditetapkan.
Tujuan program PLP2K-BK adalah :
Mengupayakan berkurangnya luas perumahan dan
permukiman kumuh secara konsisten dan berkelanjutan;
Meningkatkan efektivitas penanganan perumahan dan
permukiman kumuh secara terkoordinasi dan berkelanjutan;
Mendorong terwujudnya lingkungan perumahan dan
permukiman yang terintegrasi dengan rencana tata ruang
wilayah dan dilaksanakan berdasarkan pendekatan tridaya
(manusia, lingkungan dan ekonomi);
Mengintegrasikan pendekatan sektor dan stakeholder lainnya;
Mendorong terpenuhinya kebutuhan PSU secara memadai
2) Pedoman Identifikasi Kawasan Permukiman Kumuh Daerah
Penyanggah Kota Metropolitan
Pedoman ini diterbitkan oleh Departemen Pekerjaan Umum,
Dirjen Cipta Karya, Direktorat Pengembangan Permukiman Tahun
2006. Pedoman ini disusun dengan sasaran umum yaitu

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 25 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

menghasilkan sebaran kawasan permukiman kumuh yang ada di


setiap daerah (kota/kabupaten). Dengan tambahan kriteria
prioritas penanganan maka pedoman ini dirancang dapat
menghasilkan lokasi-lokasi kawasan permukiman kumuh yang
memiliki hubungan dengan kota metropolitan dan fungsi daerah
yang bersangkutan sebagai penyangga.

Secara keseluruhan pedoman identifikasi ini disusun dengan


memperhatikan pokok-pokok dibawah ini :
Lokasi identifikasi adalah kawasan-kawasan permukiman
khusunya yang ada di kota/kabupaten yang menjadi daerah
penyangga kota metropolitan.
Kawasan kumuh yang diidentifikasi diprioritaskan pada
kawasan permukiman yang memiliki kaitan dan atau memberi
andil tumbuhnya permukiman kumuh di daerah bersangkutan
yang merupakan hinterland kota metropolitan sekaligus
memberi andil sulitnya penanganan kekumuhan di kota
metropolitan.
Data-data dan informasi mengenai lokasi kawasan
permukiman kumuh yang terkumpul digunakan untuk
melakukan analisis sebab akibat dan rekomendasi penanganan
kawasan permukiman yang ada di kota/kabupaten penyangga
kota metropolitan.
Rekomendasi penanganan memperhatikan hasil analisis sebab
akibat serta rencana program penanganan kawasan kumuh
oleh pemerintah daerah.

Sasaran identifikasi lokasi kawasan permukiman kumuh


diutamakan pada kawasan-kawasan hinterland kota metropolitan
yang ada di daerah penyangga. Meskipun demikian, melalui

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 26 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

identifikasi ini sangat dimungkinkan untuk ditemukan kawasan-


kawasan permukiman kumuh di daerah penyangga yang bukan
kawasan hinterland. Hal ini mengingat metodologi identifikasi ini
tidak membedakan sebaran kawasan permukiman kumuh yang
akan ditemukan. Bisa saja lokasi yang ditemukan terletak di pusat
kota daerah bersangkutan atau kawasan perdesaan nelayan atau
kawasan hinterland kota metropolitan. Untuk itu digunakan
kriteria prioritas penanganan yang akan menghasilkan lokasi-
lokasi kawasan permukiman kumuh hinterland yang berbatasan
langsung dengan kawasan-kawasan bagian kota metropolitan.
c. Pendekatan Aktual
Penanganan kawasan kumuh pada prinsipnya adalah suatu upaya
untuk menata dan meningkatkan kualitas lingkungan perumahan dan
permukiman kumuh secara berkelanjutan melalui perbaikan dan
pembangunan perumahan serta penyediaan PSU yang mamadai untuk
mendukung penghidupan dan kehidupan lingkungan menjadi layak
dan produktif, yang keseluruhannya disusun berdasarkan kesesuaian
dengan rencana tata ruang wilayah yang mengintegrasikan konsep
penanganannya dengan potensi kegiatan kota disekitarnya.

Sesuai dengan amanat Undang-Undang No. 1 Tahun 2011 tentang


perumahan dan kawasan permukiman, Kegiatan Perencanaan
Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman
Kumuh di Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar
dilaksanakan dengan Pendekatan Tridaya dimana masyarakat dan
pemerintah daerah menjadi unsur utama yang berazaskan :
1) kesejahteraan;
2) keadilan dan pemerataan;
3) kenasionalan;
4) keefisienan dan kemanfaatan;

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 27 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

5) keterjangkauan dan kemudahan;


6) kemandirian dan kebersamaan;
7) kemitraan;
8) keserasian dan keseimbangan;
9) keterpaduan;
10) kesehatan;
11) kelestarian dan keberlanjutan; dan
12) keselamatan, keamanan, ketertiban, dan keteraturan.
Selain itu Kegiatan Perencanaan Penataan dan Peningkatan
Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh di Kecamatan Bontoharu
Kabupaten Kepulauan Selayar dalam konteks keruangan
dilaksanakan dengan berpedoman pada Undang-Undang No. 26
Tahun 2007 tentang penataan ruang, dimana ditegaskan bahwa
penataan ruang diselenggarakan berdasarkan azas :
1) Keterpaduan
Yang dimaksud dengan Keterpaduan Bahwa penataan ruang
diselenggarakan dengan mengintegrasikan berbagai kepentingan
yang bersifat lintas sektor, lintas wilayah, dan lintas pemangku
kepentingan. Pemangku kepentingan, antara lain, adalah
Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.
2) Keserasian, Keselarasan, dan Keseimbangan
Yang dimaksud dengan Keserasian, Keselarasan, dan
Keseimbangan adalah ditegaskan bahwa penataan ruang
diselenggarakan berdasarkan azas :bahwa penataan ruang
diselenggarakan dengan mewujudkan keserasian antara struktur
ruang dan pola ruang, keselarasan antara kehidupan manusia
dengan lingkungannya, keseimbangan pertumbuhan dan
perkembangan antardaerah serta antara kawasan perkotaan dan
kawasan perdesaan.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 28 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

3) Keserasian, Keselarasan, dan Keseimbangan


Yang dimaksud dengan Keberlanjutan adalah bahwa penataan
ruang diselenggarakan dengan menjamin kelestarian dan
kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan dengan
memperhatikan kepentingan generasi mendatang.
4) Keberdayaan dan Keberhasilgunaan
Yang dimaksud dengan Keberdayagunaan dan
Keberhasilgunaan adalah bahwa penataan ruang
diselenggarakan dengan mengoptimalkan manfaat ruang dan
sumber daya yang terkandung di dalamnya serta menjamin
terwujudnya tata ruang yang berkualitas.
5) Keterbukaan
Yang dimaksud dengan keterbukaan adalah bahwa penataan
ruang diselenggarakan dengan memberikan akses yang seluas-
luasnya kepada masyarakat untuk mendapatkan informasi yang
berkaitan dengan penataan ruang.
6) Kebersamaan dan Kemitraan
Yang dimaksud dengan kebersamaan dan kemitraan adalah
bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan melibatkan
seluruh pemangku kepentingan.
7) Perlindungan Kepetingan Umum
Yang dimaksud dengan Pelindungan Kepentingan Umum adalah
bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan mengutamakan
kepentingan masyarakat.
8) Kepastian Hukum dan Keadilan
Yang dimaksud dengan Kepastian Hukum dan Keadilan adalah
bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan berlandaskan
hukum/ketentuan peraturan perundang undangan dan bahwa
penataan ruang dilaksanakan dengan mempertimbangkan rasa

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 29 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

keadilan masyarakat serta melindungi hak dan kewajiban semua


pihak secara adil dengan jaminan kepastian hukum.
9) Akuntabilitas
Yang dimaksud dengan Akuntabilitas adalah bahwa
penyelenggaraan penataan ruang dapat dipertanggung jawabkan,
baik prosesnya, pembiayaannya, maupun hasilnya.
d. Pendekatan Partisipatif
Proses penyusunan dilakukan dengan melibatkan seluruh pemangku
kepentingan yang terkait dengan pengembangan kawasan maupun
pengembangan permukiman dan infrastruktur, baik tingkat kawasan,
kota/kabupaten, maupun provinsi. Hal ini dimaksudkan agar hasil
penanganan dapat dirasakan dan dimiliki oleh seluruh pemangku
kepentingan terkait di daerah khususnya di dalam kawasan
permukiman prioritas. Hal ini selain ditujukan untuk mendapatkan
proses pembelajaran bersama di tingkat pemangku kepentingan
daerah, juga untuk mendapatkan hasil dan keputusan yang disepakati
bersama seluruh pemangku kepentingan di daerah maupun di dalam
lingkup kawasan.

4. METODE PENDEKATAN STUDI


Metode pendekatan studi yang akan digunakan dalam studi ini melalui
beberapa tahapan sebagai berikut :
a. Studi Kepustakaan
Untuk mempelajari parameter-parameter dari suatu lingkungan
permukiman sebagai faktor-faktor penentu dalam upaya penangaan
lingkungan permukiman kumuh yang menjadi tujuan studi serta
melakukan tinjauan terhadap kebijaksanaankebijaksanaan yang
berkaitan dengan materi studi.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 30 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

b. Survei lapangan
Dilakukan untuk memperoleh data primer dan sekunder tentang
keadaan lingkungan kawasan kumuh di daerah studi, melalui
wawancara awal, survei visual
dengan menggunakan foto untuk memperoleh gambaran keadaan
lingkungan dan
kegiatan penghuni di lingkungan kawasankumuh tersebut, kuesioner
yang dilakukan untuk mendapatkan gambaran secara lengkap dan
detail tentang daerah studi.
c. Survei Instansional
Survei instansional dilakukan untuk mengumpulkan data sekunder
dari instansi yang terkait.
d. Data dan analisis
Data yang diperoleh dari hasil studi literatur lapangan dan observasi
instansional setelah diidentifikasi kemudian dianalisis sesuai dengan
parameter yang telah ditentukan. Metode yang digunakan adalah :
1) Untuk data dipergunakan Metoda AHP (Analisis Hirarki Proses),
untuk menentukan pembobotan dan prioritas dari setiap kawasan
maupun program strategis yang harus dilakukan pada saat
menangani kawasan kumuh.
2) Untuk aspek keterhubungan dan permodelan dipergunakan
statistik deskriptif (korelasi, frekuensi) dan parametrik (anova).

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 31 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

Gambar 3.1 Alur Metode Penanganan

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 32 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

Gambar : 3.2 Alur Pikir Pelaksanaan Pekerjaan

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 33 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

5. SISTEM PELAKSANAAN KEGIATAN


a. Tahap Persiapan
Tahap persiapan merupakan rangkaian kegiatan sebelum memulai
pengumpulan dan pengolahan data. Dalam tahap awal ini disusun hal-
hal penting yang harus segera dilakukan dengan tujuan untuk
mengefektifkan waktu dan pekerjaan. Tahap persiapan ini meliputi
kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
1) Perumusan dan identifikasi masalah
2) Observasi dan peninjauan langsung di lokasi masalah
3) Penentuan kebutuhan data, sumber data dan pengadaan
administrasi perencanaan data dilanjutkan pengumpulan data.
4) Perencanaan jadwal pelaksanaan pekerjaan.

Persiapan diatas harus dilakukan secara cermat untuk menghindari


pekerjaan yang berulang. Sehingga tahap pengumpulan data menjadi
optimal.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 34 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

Gambar : 3.3 Alur Pelaksanaan Pekerjaan

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 35 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

b. Tahap Survey/ Pengumpulan Data


Pengumpulan data merupakan sarana pokok untuk menemukan
penyelesaian suatu masalah secara ilmiah. Dalam pengumpulan data,
peranan instansi yang terkait sangat diperlukan sebagai pendukung
dalam memperoleh data-data yang diperlukan. Adapun hal-hal yang
perlu diperhatikan dalam pengumpulan data adalah :
1) Jenis - jenis data.
2) Tempat diperolehnya data
3) Jumlah data yang harus dikumpulkan agar diperoleh data yang
memadai (cukup, seimbang, dan tepat atau akurat).

Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah sebagai berikut :


1) Pengumpulan Data Primer
Survai ini dilakukan untuk mendapatkan data terbaru/ terkini
langsung dari lapangan atau obyek kajian. Pengumpulan data
primer ini sendiri akan dilakukan melalui 2 metode, yaitu metode
observasi langsung ke lapangan, metode penyebaran kuesioner
atau wawancara. Penetuan penggunaan kedua metode ini
dilakukan berdasarkan jenis data yang dibutuhkan. Namun
demikian ketiganya diharapkan dapat saling menunjang
pengumpulan informasi dan fakta yang diinginkan. Survai primer
yang akan dilakukan dalam Kegiatan Perencanaan Penataan
dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh di
Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar terdiri
dari beberapa tipe survai, yaitu :
Survai tata guna lahan dan bangunan
Survai yang dilakukan adalah pengecekan di lapangan
mengenai guna lahan eksisting serta bangunan penting yang
ada di wilayah perencanaan. Data-data yang diperoleh dari
survai ini digunakan untuk menganalisis struktur ruang

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 36 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

eksisting dan kemudian menetapkan struktur tata ruang dan


penggunaan lahan pada tahun yang direncanakan.
Survai sarana dan prasarana
Survai ini dilakukan untuk memperoleh data sarana dan
prasarana dengan cara pengamatan lapangan guna
menangkap/ menginter-pretasikan data-data sekunder lebih
baik. Di samping itu survai ini dilakukan untuk memperoleh
masukan dari para stakeholders terkait mengenai
permasalahan dan kondisi sarana dan prasarana kawasan yang
bersangkutan. Masukan tersebut dapat diperoleh melalui
wawancara maupun penyebaran kuesioner.
Survai pelaku ekonomi
Data dan infromasi yang ingin didapat dari kegiatan survai ini
adalah data pelaku, lokasi, kecenderungan dan potensi pasar,
rencana, permasalahan dan keinginan para pelaku tersebut.
Pengumpulan data pelaku ekonomi dilakukan dengan cara
pengamatan lapangan untuk mengamati pola penyebaran dan
jenis intensitas kegiatan ekonomi tersebut serta
wawancara/kuesioner terhadap pelaku aktivitas
Survai sosial kependudukan
Pengumpulan data mengenai sosial kependudukan dilakukan
dengan survai primer dan sekunder, dengan materi yang
dikumpulkan adalah data penduduk dan distribusinya,
struktur penduduk, serta sosial kemasyarakatan. Untuk
pengumpulan data yang bersumber langsung dari masyarakat
akan digunakan wawancara semi-terstruktur. Data yang akan
dikumpulkan meliputi jenis data :
Data fakta, yaitu data faktual berupa data demografis dan
data status lainnya yang melekat pada masyarakat, baik
secara individual maupun kolektif;

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 37 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

Data sikap, yaitu data mengenai sikap preferensi


masyarakat terhadap kondisi dan aspek pelayanan
perkotaan, suasana lingkungan, kebijaksanaan yang berlaku
dan program-program pembangunan yang akan
dilaksanakan, dengan berbagai nilai, seperti suka atau tidak
suka, serta puas atau tidak puas;
Data pendapat, yaitu data mengenai pendapat masyarakat
terhadap persoalan yang ada pada sistem lingkungan
perkotaan. Pernyataan dari masyarakat mengungkapkan
ide serta gagasan masyarakat.
Data perilaku, yaitu data mengenai perilaku dan tindakan
yang dilakukan masyarakat secara individu terhadap suatu
hal.
2) Pengumpulan Data Sekunder
Survai ini dimaksudkan untuk mendapatkan data dan informasi
yang telah terdokumentasikan dalam buku, laporan dan statistik
yang umumnya terdapat di instansi terkait. Di samping
pengumpulan data, pada kegiatan ini dilakukan pula wawancara
atau diskusi dengan pihak instansi terkait mengenai
permasalahan-permasalahan di tiap bidang/aspek yang menjadi
kewenangannya serta menyerap infromasi mengenai kebijakan-
kebijakan dan program yang sedang dan akan dilakukan yang
terkait dengan studi yang dilaksanakan.
3) Kompilasi Data
Semua data dan informasi yang telah diperoleh dari hasil kegiatan
pengumpulan data dan survai kemudian di kompilasi. Pada
dasarnya kegiatan kompilasi data ini dilakukan dengan cara
mentabulasi dan mengsistematisasi data-data tersebut dengan
menggunakan cara komputerisasi. Hasil dari kegiatan ini adalah

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 38 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

tersusunnya data dan informasi yang telah diperoleh sehingga


mudah untuk dianalisis.
Hasil dari kegiatan ini adalah tersusunnya data dan informasi
yang telah diperoleh sehingga akan mempermudah pelaksanaan
tahapan selanjutnya yaitu tahap analisis. Penyusunan data itu
sendiri akan dibagi atas dua bagian. Bagian pertama adalah data
dan informasi mengenai kondisi regional (kondisi makro) dan
bagian kedua adalah data dan informasi mengenai kondisi lokal
kawasan perencanaan tersebut (kondisi mikro).

Metode pengolahan dan kompilasi data yang dipergunakan adalah


sebagai berikut :
Mengelompokan data dan informasi menurut kategori aspek
kajian seperti : data fisik dan penggunaan lahan, data
transportasi, data kependudukan dll
Menyortir data-data setiap aspek tersebut agar menjadi
sederhana dan tidak duplikasi
Mendetailkan desain pengolahan dan kompilasi data dari
desain studi awal sehingga tercipta form-form isian berupa
tabel-tabel, konsep isian, peta tematik dan lain-lain
Mengisi dan memindahkan data yang telah tersortir ke dalam
tabel-tabel isian dan peta isian tematik
Melakukan pengolahan data berupa penjumlahan, pengalian,
pembagian, prosentase dsb baik bagi data primer maupun
sekunder
Setelah seluruh tabel dan peta terisi, maka langkah selanjutnya
adalah membuat uraian deskriptif penjelasannya ke dalam
suatu laporan yang sistematis per aspek kajian. Termasuk
dalam laporan tersebut adalah uraian kebijaksanaan dan
program setiap aspek.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 39 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

c. Tahap Penyusunan Laporan


Sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja (KAK), sistem pelaporan
Kegiatan Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas
Kawasan Permukiman Kumuh di Kecamatan Bontoharu
Kabupaten Kepulauan Selayar terdiri atas Laporan Pendahuluan,
Konsep Laporan Akhir dan Laporan Akhir. Kegiatan penyusunan
laporan medekripsikan mengenai data, analisa dan rencana Kegiatan
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan
Permukiman Kumuh di Kecamatan Bontoharu Kabupaten
Kepulauan Selayar.
a. Laporan Pendahuluan
Laporan pendahuluan, secara substantif memuat mengenai :
Latar belakang, maksud, tujuan, sasaran, lokasi pekerjaan dan
ruang lingkup kegiatan.
Metodologi dan pendekatan pelaksanaan pekerjaan
Rencana kerja konsultan
b. Laporan Akhir
Konsep laporan akhir, secara substantif memuat mengenai :
Deskripsi hasil penelusuran data primer dan data sekunder
Deskripsi kegiatan dan hasil analisis
Penetapan lokasi kawasan kumuh yang ada di Kecamatan
Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar
Penetapan tipologi kekumuhan dari lokasi kawasan kumuh
yang telah diidentifikasi
Rumusan strategi, sasaran, program dan kegiatan penataan
kawasan kumuh berdasarkan tipologinya
c. Master Plan Kawasan Permukiman
Laporan Master Plan Kawasan Permukiman, secara substantif
memuat mengenai :
Deskripsi hasil penelusuran data primer dan data sekunder

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 40 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

Deskripsi kegiatan dan hasil analisis


Penetapan lokasi kawasan kumuh yang ada di Kecamatan
Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar
Penetapan tipologi kekumuhan dari lokasi kawasan kumuh
yang telah diidentifikasi
Rencana strategi, sasaran, program dan kegiatan penataan
kawasan kumuh penanganan kawasan permukiman Kumuh
d. DED Kawasan Permukiman
DED Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan
Permukiman Kumuh di Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan
Selayar akan memuat rencana penangan dan penyediaan sarana dan
prasarana kawasan permukiman kumuh. Keberadaan sarana dan
prasarana kawasan akan mendukung peningkatan kualitas
kesejahteraan masyarakat yang dalam lingkup kawasan tersebut.
Prasarana yang akan termuat dalam DED antara lain:
1) Keteraturan Bangunan
2) Jaringan Jalan
3) Jaringan Sanitasi (Drainase dan Limbah)
4) Jaringan Air Bersih
5) Jaringan Listrik
6) Proteksi Kebakaran
7) Persampahan dan
8) RTH
e. Tahap Konsultasi Publik/ Ekspos
Sesuai dengan pendekatan participatory yang akan digunakan, maka
kegiatan pembahasan menjadi kegiatan yang sangat krusial, terutama
pembahasan yang melibatkan stakeholders dari berbagai kalangan.
Tujuan umum dari setiap pembahasan adalah menemukan
kesepakatan berbagai pihak terhadap sumber-sumber pendapatan.
Pembahasan yang melibatkan banyak stakeholders adalah

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 41 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

pembahasan yang dilakukan setelah disusunnya Konsep Laporan


Akhir. Selain pembahasan tersebut juga dilakukan pembahasan-
pembahasan lain pada waktu-waktu tertentu yang dianggap perlu
namun hanya melibatkan kalangan terbatas, yaitu Tim Teknis dan
direksi proyek serta beberapa pihak yang terkait. Materi yang akan
dibahas pada setiap pembahasan adalah hasil kegiatan-kegiatan yang
dilakukan oleh konsultan.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 42 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

C. JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN

Tim konsultan akan melaksanakan beberapa item pekerjaan


berdasarkan jadwal kegiatan yang telah ditetapkan. Penyusunan jadwal
rencana kegiatan ini telah disusun berdasarkan pertimbangan teknis dan
alokasi waktu penyelesaian pekerjaan yang telah ditetapkan dalam
kontrak kerja.
Program kegiatan ini disusun oleh seluruh tenaga ahli yang akan terlibat
langsung dalam kegiatan Penyusunan Perencanaan Penataan dan
Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh di Kecamatan
Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar, dan mengacu pada
pengalaman historis masing-masing tenaga ahli, sehingga dengan
demikian diharapkan adanya konsitensi antara metodologi dan rencana
kegiatan yang akan dilaksanakan.
Jadwal pelaksanaan pekerjaan dalam proposal ini disusun berdasarkan
pemahaman konsultan terhadap KAK Penyusunan Perencanaan
Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh di
Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar, jadwal
pelaksanaan pekerjaan ini dapat berubah sesuai dengan klausul dalam
dokumen kontrak dan atau hasil negosiasi serta arahan pemberi tugas
(pengguna jasa).
Item-item pekerjaan sebagaimana tercantum pada tabel dibawah ini
adalah item-item pekerjaan pokok yang menjadi tugas dan tanggung
jawab konsultan.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 43 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

Tebel 2.1. Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan


Penyusunan Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh di Kecamatan Bontoharu
Kabupaten Kepulauan Selayar
BULAN KE
No NAMA KEGIATAN I II III IV
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV

I PEKERJAAN PERSIAPAN
1 Persiapan Administrasi
Persipan Tenaga Ahli & Tenaga
2
Pendukung
Persiapan Rencana Kerja &
3
Peralatan
4 Mobilisasi/Demobilisai
II PENGUMPULAN DATA/DOKUMEN TERKAIT
Pendataan Data Sekunder dan
1
Survey Instansi
2 Evaluasi Hasil Pendataan
III KOMPILASI DAN ANALISIS DATA
1 Kompilasi Data
2 Analisis Data
IV PENYUSUNAN LAPORAN
1 Laporan Pendahuluan
2 Laporan Akhir
2 Laporan Master Plan
3 Pembuatan DED
IV SEMINAR/PEMBAHASAN
1 Persentase/Seminar/Workshp
V PENGUMPULAN LAPORAN
1 Laporan Pendahuluan
2 Laporan Akhir
Laporan Master Plan
DED Kawasan
3 Back Up Data/Soft File

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 44 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

D. JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN

Pelaksanaan Penyusunan Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas


Kawasan Permukiman Kumuh di Kecamatan Bontoharu, memerlukan
berbagai sumberdaya manusia, baik berupa tenaga ahli (personil inti).
Keberadaan tenaga penunjang dimaksudkan untuk memperlancar jalan
proses pekerjaan, sehingga diharapkan pekerjaan dapat berjalan sesuai
dengan target yang telah ditentukan. Adapun tenaga ahli disediakan
perusahaan ini untuk menyelesaikan kegiatan Penyusunan Perencanaan
Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh di
Kecamatan Bontoharu, sebagai berikut:

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 45 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

Tabel. 2.2. Komposisi Tim Dan Penugasan (Daftar Personil)

TENAGA AHLI (Personil Inti)


Tenaga Ahli Lingkup Posisi Jumlah
Nama Personil Perusahaan Uraian Pekerjaan
Lokal/Asing Keahlian Diusulkan OB
Mempin dan mengorganisir
tim untuk penyelesaiaan
pekerjaan
Menganalisa aspek potensi
wilayah dalam lingkup
kawasan permukian sebagai
obyek perencanaan pada
kegiatan Data Base
Permukiman Kecamatan
Ahli Ujung Bulu Dan Kecamatan
PT. Multicipta Perencanaan Gantarang Kabupaten
Adhirancana Tenaga Lokal Ketua Tim Bulukumba. 1x4
Wilayah dan
Konsultan Memeriksa dan menganalisa
Kota data lapangan dan data
kawasan permukiman yang
telah di kumpulkan dan di
analisa oleh anggota tim.
Bertanggung jawab terhadap
seluruh proses dan hasil
pengkajian aspek
penyusunan Database
permukiman Kecamatan
Ujung Bulu dan Kecamatan
Gantarang
Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 46 | B A B I I I
Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

TENAGA AHLI (Personil Inti)


Tenaga Ahli Lingkup Posisi Jumlah
Nama Personil Perusahaan Uraian Pekerjaan
Lokal/Asing Keahlian Diusulkan OB
Bersama-sama tim dan ahli
lainnya menyusun pelaporan
Database permukiman
Kecamatan Ujung Bulu dan
Kecamatan Gantarang
Bertanggung jawab atas hasil
pekerjaan pada bidangnya
Mendukung dan memberi
input design arsitek
Memecahkan problem design
Mengadakan review dan
diskusi
Konsultasi dengan Dinas
PT. Multicipta Teknis bangunan atau Unit
Ahli
Adhirancana Tenaga Lokal Anggota Tim satuan kerja terkait lain
Arsitektur Mendisain, menghitung
Konsultan
secara konstruksi pada
proses perencanaan dan
proses pelaksanaan
Mengumpulkan serta
mengolah data dan informasi
lapangan
Membuat gambar skematik
sistem struktur yang akan
digunakan

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 47 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

TENAGA AHLI (Personil Inti)


Tenaga Ahli Lingkup Posisi Jumlah
Nama Personil Perusahaan Uraian Pekerjaan
Lokal/Asing Keahlian Diusulkan OB
Pekerjaan Grading, Pekerjaan
ini dimaksudkan untuk
mempersiapkan lahan agar
siap untuk Dibangun
Mengidentifikasi dan
membuat pola /diagram
potensi dan permasalahan
prasarana permukiman
(umumnya) dan perumahan
(khususnya) yang
berkesinambungan dengan
prasarana jalan
Menginvetarisasi kebutuhan
PT. Multicipta Ahli Sipil prasarana permukiman dan
Adhirancana Tenaga Lokal Anggota Tim perumahan yang 1x 3
Jalan berkesinambungan dengan
Konsultan
prasarana jalan
Membuat rumusan pola
kebutuhan prioritas
prasarana permukiman dan
perumahan jangka pendek
dan jangka menengah
Merumuskan poin-poin
/dasar-dasar pembangunan
dan pengembangan
permukiman dan perumahan
Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 48 | B A B I I I
Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

TENAGA AHLI (Personil Inti)


Tenaga Ahli Lingkup Posisi Jumlah
Nama Personil Perusahaan Uraian Pekerjaan
Lokal/Asing Keahlian Diusulkan OB
Melakukan pendampingan
teknis secara intensif
terhadap pemberdayaan
masyarakat mengenai
pembangunan dan
pengembangan kualitas
permukiman dan perumahan
dari aspek prasarana jalan.
Mengolah data, menganalisa,
dan merencanakan sistem
pengembangan kawasan
permukiman dan perumahan
pada aspek prasarana,
kependudukan, transportasi,
kebijakan pembangunan.
Membantu ketua tim dalam
penyusunan dan
penyelesaian pekerjaan serta
pelaporan.
Bertanggungjawab penuh
atas beban pekerjaan yang
telah dilimpahkan

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 49 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

E. JADWAL PENUGASAN TENAGA AHLI

Jadwal penugasan tenaga ahli merupakan limit waktu penugasan tenaga ahli
pekerjaan kegiatan Penyusunan Perencanaan Penataan dan Peningkatan
Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh di Kecamatan Bontoharu, didasarkan
pada beberapa aspek pertimbangan sebagai berikut:

Jumlah Orang/Bulan yang telah ditetapkan dalam Dokumen Tender.

Strategi Pelaksanaan Kegiatan yang akan diterapkan.

Mekanisme dan Metodologi Pelaksanaan Kegiatan yang akan


digunakan.

Selain faktor-faktor pertimbangan tersebut, penugasan tenaga ahli juga


didasarkan pada faktor efisiensi dan efektivitas waktu, biaya.

Berdasarkan faktor-faktor pertimbangan tersebut, konsultan telah menyusun


usulan rencana penugasan tenaga ahli sebagaimana ditampilkan pada tabel-
2.3 sebagai berikut:

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 50 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

Tabel 2.3 Jadwal Penugasan Tenaga Ahli


Kegiatan Penyusunan Data Base Permukiman Kecamatan Ujung Bulu Dan Kecamatan Gantarang Kabupaten Bulukumba

WAKTU PELAKSANAAN (Bln-Minggu)


NO NAMA PERSONIL
I II III IV OB
TENAGA AHLI 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1
2
3
4
5
TENAGA PENDUKUNG I II III IV
1
2
3
4
5
SUB TOTAL
TOTAL

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 51 | B A B I I I


Kepulauan Selayar
DOKUMEN PENAWARAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Perencanaan Penataan dan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Di Kecamatan Bontoharu

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten 52 | B A B I I I


Kepulauan Selayar