Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT FILARIASIS (KAKI GAJAH )


Diajukan untuk memenuhi salah satu Tugas Research Merhodology

Di susun oleh :
Cici Sandika
S1 Keperawatan A

PROGRAM STUDI STRATA-1 ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DHARMA HUSADA
BANDUNG
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya pada kita semua sehingga kami bisa menyelesaikan
Makalah tentang Epidemiologi Penyakit Filariasis ini dengan baik dan lancar,
untuk melengkapi nilai Mata Kuliah Research Merhodology, dan mengembangkan
kemampuan menulis kami.
Penulis menyadari meskipun segala upaya telah penulis lakukan dalam
penyusunan laporan ini, namun pastilah ada kekurangan dan jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, kami berharap kepada semua pihak yang
sekiranya membaca laporan ini dapat memberikan saran agar di kemudian hari
kami dapat menyempurnakan laporan ini.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih yang sebanyak banyaknya kepada yang
terhormat:
1. Dr. Suryani Soepardan, Dra. MM. selaku Ketua STIKes Dharma Husada
Bandung
2. Asri Handayani, S.Kep., Ners., M.Kep., selaku Ketua Prodi S-1 Keperawatan
STIKes Dharma Husada Bandung
3. R. Nety Rustikayanti, S.Kp., M.Kep. selaku Koordinator mata kuliah Research
Merhodology
4. Reynie Purnama Raya, M.Epid selaku dosen yang memberikan tugas ini
5. Mahasiswa semester 6 Tahun Akademik 2014 yang telah bekerjasama dengan
baik selama menyusun Karya Tulis Ilmiah ini.
6. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Laporan makalah ini.
Semoga segala bantuan dan dukungan yang diberikan kepada kami, mendapat
imbalan yang berlipat dari Allah Subhanahu Wataala, amin.

Bandung, 10 Juni 2017

Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL..............................................................................................
KATA PENGANTAR.............................................................................................
DAFTAR ISI...........................................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN..........................................................................................
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................
A. Latar Belakang...............................................................................................
B. Rumusan Masalah..........................................................................................
C. Tujuan Penulisan............................................................................................
BAB II LANDASAN TEORI................................................................................
A.Konsep Penyakit Filariasis..............................................................................
BAB III PENUTUP................................................................................................
A. Kesimpulan.....................................................................................................
B. Saran ..............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Epidemiologi pada mulanya diartikan sebagai ilmu mengenai epidemic. Hal ini
berati bahwa epidemilogi hanya mempelajari penyakit-penyaki menular saja,
tetapi dalam perkembangannya yang selanjutnya epidemiologi juga mempelajari
penyakit-penyakit non infeksi, sehingga pada saat ini epidemiologi dapat diartikan
sebagai ilmu mengenai penyebaran penyakit pada manusia didalam konteks
lingkungannya.Mencakup juga ilmu mengenai pada penyakit serta pencarian
determinan penyakit tersebut.(Soekidjo,2003).
Filariasis atau elephantiasis atau yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai
penyakit kaki gajah, dan dibeberapa daerah menyebutnya penyakit yang
disebabkan karena infeksi cacing filaria. Penyakit kaki gajah disebabkan oleh
cacing dari kelompok nematoda, yaitu Wucheraria bancrofti, Brugia malayi dan
Brugia timori. Ketiga jenis cacing tersebut menyebabkan penyakit kaki gajah
dengan cara penularan dan gejala klinis, serta pengobatan yang sama. Cacing
betina akan menghasilkan (melahirkan) larva, disebut mikrofilaria, yang akan
bermigrasi kedalam sistem peredaran darah. Penyakit kaki gajah terutama
disebabkan karena adanya cacing dewasa yang hidup di saluran getah bening.
Cacing tersebut akan merusak saluran getah bening yang mengakibatkan cairan
getah bening tidak dapat tersalurkan dengan baik sehingga menyebabkan
pembengkakan pada tungkai dan lengan. Filariasis merupakan jenis
penyakit reemerging desease, yaitu penyakit yang dulunya sempat ada, kemudian
tidak ada dan sekarang muncul kembali. Kasus penderita filariasis khas ditemukan
di wilayah dengan iklim sub tropis dan tropis (Abercrombie et al, 1997) seperti di
Indonesia. Filariasis pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1877, setelah
itu tidak muncul dan sekarang belum diketahui bagaimana perkembangannya.
Filariasis tersebar luas hampir di seluruh Propinsi di Indonesia. Berdasarkan
laporan dari hasil survei pada tahun 2000 yang lalu tercatat sebanyak 1553 desa di
647 Puskesmas tersebar di 231 Kabupaten 26 Propinsi sebagai lokasi yang
endemis, dengan jumlah kasus kronis 6233 orang.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan Filariasis?
2. Bagaimana epidemiologi Filariasis?
3. Bagaimana mekanisme terjadinya dari Filariasis?
4. Apa saja klasifikasi dari Filariasis?
5. Bagaimana Penatalaksanaan Filariasis?
6. Apa saja exposure dari Filariasis?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk Mengetahui Tentang Epidemiologi atau angka kejadian penyakit
Filariasis
2. Tujuan Khusus
a. Untuk Mengetahui Tentang Definisi Filariasis
b. Untuk Mengetahui Tentang Epidemiologi Filariasis
c. Untuk Mengetahui Tentang Mekanisme terjadinya Filariasis
d. Untuk Mengetahui Tentang Klasifikasi Filariasis
e. Untuk Mengetahui Tentang Penatalaksanaan Filariasis
f. Untuk Mengetahui Tentang Exposure dari Filariasi

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Definisi Filariasis
Filariasis adalah penyakit menular (penyakit kaki gajah) yang disebabkan
oleh cacing filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini
bersifat menahun (kronis) dan jika tidak mendapat pengobatan dapat
menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan, payudara,
scrotum dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki. Akibatnya,
penderita tidak dapat bekerja secara optimal, bahkan hidupnya tergantung
kepada orang lain sehingga menjadi beban keluarga, masyarakat dan negara
(Achmadi, 2001).

B. Epidemiologi
Penyakit Filariasis terutama ditemukan didaerah Khatulistiwa dan merupakan
masalah didaerah dataran rendah kadang-kadang dapat juga ditemukan dareah
bukit yang terlalu tinggi. Di Indonesia penyakit ini lebih banyak ditemukan di
daerah pedesaan, didaerah kota hanya ditemukan seperti di kota Jakarta,
Tanggerang, Pekalongan,NTT,Irian Jaya, Sulawesi dan Semarang dan mungkin di
kota-kota lainnya.
Penyakit ini tersebar luas terutama di pedesaan, dapat menyerang semua
golongan umur baik anak-anak maupun dewasa, laki-laki dan perempuan.
Penyakit kaki gajah mulai ramai diberitakan sejak akhir tahun 2009, akibat
terjadinya kematian pada beberapa orang. Sebenarnya penyakit ini sudah mulai
dikenal sejak tahun 1500 oleh masyarakat, dan mulai diselidiki lebih mendalam
ditahun 1800 untuk mengetahui penyebaran, gejala serta upaya mengatasinya.
Baru tahun 1970 obat yang lebih tepat untuk mengobti filarial ditemukan. Di
Indonesia filariasis telah tersebar luar hampir di semua provinsi, berdasarkan
laporan survey pada tahun 2000 tercatat sebanyak 6500 kasus kronis di 1553
desa pada 231 kabupaten di 26 Provinsi. Pada tahun 2005 kasus kronis dilaporkan
sebanyak 10273 orang yang tersebar di 373 Kabuparen / Kota di 33
Provinsi.Prevalensi infeksi dapat berubah-rubah dari masa ke masa dan pada
umumnya ada tendensi menurun dengan adanya kemajuan dalam pembangunan
yang menyebabkan perubahan lingkungan.

C. Mekanisme terjadinya filariasis


Larva infektif ( larva stadium 3 ) ditularkan ke tubuh manusia melalui
gigitan nyamuk, beberapa jam setelah masuk kedalam darah, larva berubah
menjadi stadium 4 yang kemudian bergerak menuju kelenjar limfe. Sekitar 9
bulan kemudian larva ini berubah menjadi cacing dewasa jantan dan betina,
cacing dewasa ini terutama tinggal di saluran limfe aferens, terutama di
saluran limfe ekstremitas bawah (inguinal dan obturator), ekstremitas atas
( saluran limfe aksila ), dan untuk W.bancrofti ditambah dengan saluran limfe
di daerah genital laki-laki (epididimidis, testis, kordaspermatikus). Melalui
kopulasi, cacing betina mengeluarkan larva stadium 1
(bentuk embrionik/mikrofilaria ) dalam jumlah banyak, dapat lebih dari
10.000 per hari. Mikrofilaria masuk ke dalam sirkulasi darah mungkin melalui
duktus thoracicus, mikrofilaremia ini terutama sering ditemukan pada malam
hari antara tengah malam sampai jam 6 pagi. Pada saat siang hari hanya
sedikit atau bahkan tidak ditemukan mikrofilaremia, pada saat tersebut
mikrofilaria berada di jaringan pembuluh darah paru. Penyebab periodisitas
nokturnal ini belum diketahui, namun diduga sebagai bentuk adaptasi ekologi
lokal, saat timbul mikrofilaremia pada malam hari, pada saat itu pula
kebanyakan vektor menggigit manusia. Diduga pula pH darah yang
lebihrendah saat malam hari berperan dalam terjadinya periodisitas nokturnal.
Darah yang mengandung mikrofilaria dihisap nyamuk, dan dalam tubuh nyamuk larva
mengalami pertumbuhan menjadi larva stadium 2 dan kemudian larva stadium
3 dalam waktu 10 12 hari. Cacing dewasa dapat hidup sampai 20 tahun
dalam tubuh manusia, rata-rata sekitar 5 tahun. (Anies, 2006)

D. Klasifikasi

Infeksi Limfedema pada filariasis bancrofti biasanya mengenai


seluruh tungkai. Limfedema tungkai ini dapat dibagi menjadi 4 tingkat,
yaitu:
Tingkat 1. Edema pitting pada tungkai yang dapat kembali normal
(reversibel) bila tungkai diangkat.

Tingkat 2. Pitting/ non pitting edema yang tidak dapat kembali


normal (irreversibel) bila tungkai diangkat.

Tingkat 3. Edema non pitting, tidak dapat kembali normal


(irreversibel) bila tungkai diangkat, kulit menjadi tebal.

Tingkat 4. Edema non pitting dengan jaringan fibrosis dan


verukosa pada kulit (elephantiasis).

E. Penatalaksanaan Filariasis
Dietilkarbamasin sitrat (DEC) merupakan obat filariasis yang ampuh,
baik untuk filariasis bancrofti maupun brugia, bersifat makrofilarisidal dan
mikrofilarisidal. Obat ini ampuh, aman dan murah, tidak ada resistensi
obat, tetapi memberikan reaksi samping sistemik dan lokal yang bersifat
sementara. Reaksi sistemik dengan atau tanpa demam, berupa sakit kepala,
sakit pada berbagai bagian tubuh, persendian, pusing, anoreksia,
kelemahan, hematuria transien, alergi, muntah dan serangan asma. Reaksi
lokal dengan atau tanpa demam, berupa limfadenitis, abses, ulserasi,
limfedema transien, hidrokel, funikulitis dan epididimitis. Reaksi samping
sistemik terjadi beberapa jam setelah dosis pertama, hilang spontan setelah
2-5 hari dan lebih sering terjadi pada penderita mikrofilaremik. Reaksi
samping lokal terjadi beberapa hari setelah pemberian dosis pertama,
hilang spontan setelah beberapa hari sampai beberapa minggu dan sering
ditemukan pada penderita dengan gejala klinis. Reaksi sampingan ini
dapat diatasi dengan obat simtomatik.
Reaksi samping ditemukan lebih berat pada pengobatan filariasis
brugia, sehingga dianjurkan untuk menurunkan dosis harian sampai
dicapai dosis total standar, atau diberikan tiap minggu atau tiap bulan.
Karena reaksi samping DEC sering menyebabkan penderita menghentikan
pengobatan, maka diharapkan dapat dikembangkan penggunaan obat lain
(seperti Ivermectin) yang tidak/kurang memberi efek samping sehingga
lebih mudah diterima oleh penderita.
DEC tidak dapat dipakai untuk khemoprofilaksis. Pengobatan
diberikan peroral sesudah makan malam, diserap cepat, mencapai
konsentrasi puncak dalam darah dalam 3 jam, dan diekskresi melalui air
kemih. DEC tidak diberikan pada anak berumur kurang dari 2 tahun, ibu
hamil/menyusui, dan penderita sakit berat atau dalam keadaan lemah.
Pada filariasis bancrofti, Dietilkarbamasin diberikan selama 12 hari
sebanyak 6 mg/kg berat badan, sedangkan untuk filariasis brugia diberikan
5 mg/kg berat badan selama 10 hari. Pada occult filariasis dipakai dosis 5
mg/kg berat badan selama 23 minggu.
Pengobatan sangat baik hasilnya pada penderita dengan
mikrofilaremia, gejala akut, limfedema, chyluria dan elephantiasis dini.
Sering diperlukan pengobatan lebih dari 1 kali untuk mendapatkan
penyembuhan sempurna. Elephantiasis dan hidrokel memerlukan
penanganan ahli bedah.
Pengobatan nonfarmako pada filariasis adalah istirahat di tempat
tidur, pengikatan di daerah pembendungan untuk mengurangi edema,
peninggian tungkai, perawatan kaki, pencucian dengan sabun dan air,
ekstremitas digerakkan secara teratur untuk melancarkan aliran, menjaga
kebersihan kuku, memakai alas kaki, mengobati luka kecil dengan krim
antiseptik atau antibiotik, dekompresi bedah, dan terapi nutrisi rendah
lemak, tinggi protein dan asupan cairan tinggi

Pemberantasan filariasis ditujukan pada pemutusan rantai penularan,


dengan cara pengobatan untuk menurunkan morbiditas dan mengurangi
transmisi oleh vektor. Pemberantasan filariasis di Indonesia dilaksanakan
oleh Puskesmas dengan tujuan:
1. Menurunkan Acute Disease Rate (ADR) menjadi 0%
2. Menurunkan microfilarial (mf) rate menjadi < 5%
3. Mempertahankan Chronic Disease Rate (CDR)
Sasaran pemberantasan adalah daerah endemis lama yang potensial
masih ada penularan dan daerah endemis baru. Dengan prioritas sasaran
ditujukan pada:
1. Daerah endemis lama dengan mf rate > 5%
2. Daerah endemis lama dan baru yang merupakan daerah pembangunan,
transmigrasi, pariwisata dan perbatasan
Kegiatan pemberantasan meliputi pengobatan, pemberantasan
nyamuk dan penyuluhan. Pengobatan merupakan kegiatan utama dalam
pemberantasan filariasis, yang akan menurunkan ADR dan mf rate.
Di suatu daerah yang diperkirakan endemik filariasis, perlu
diselenggarakan suatu surveilans epidemiologis. Pada daerah tersebut 10%
dari penduduknya perlu diperiksa untuk menentukan Acute Disease Rate
dan mf rate. Pengobatan massal dilakukan bila ADR > 0%, dan mf rate >
5%; sedangkan pengobatan selektif dilakukan bila ADR = 0%, dan mf rate
< 5%.
Dalam pelaksanaan pemberantasan dengan pengobatan
menggunakan DEC ada beberapa cara yaitu dosis standard, dosis bertahap
dan dosis rendah. Dianjurkan Puskesmas menggunakan dosis rendah yang
mampu menurunkan mf rate sampai < 1%. Pelaksanaan melalui peran
serta masyarakat dengan prinsip dasa wisma. Penduduk dengan usia
kurang dari 2 tahun, hamil, menyusui dan sakit berat ditunda
pengobatannya. DEC diberikan setelah makan dan dalam keadaan
istirahat.
1. Dosis standar
Dosis tunggal 5 mg/kg berat badan; untuk filariasis bancrofti
selama 15 hari, dan untuk filariasis brugia selama 10 hari.
2. Dosis bertahap
Dosis tunggal 1 tablet untuk usia lebih dari 10 tahun, dan 1/2 tablet
untuk usia kurang dari 10 tahun; disusul 5 mg/kg berat badan pada hari
5-12 untuk filariasis bancrofti dan pada hari 5-17 untuk filariasis brugia.
3. Dosis rendah
Dosis tunggal 1 tablet untuk usia lebih dari 10 tahun, 1/2 tablet
untuk usia < 10 tahun, seminggu sekali selama 40 minggu.

Kegiatan pemberantasan nyamuk terdiri atas:


1. Pemberantasan nyamuk dewasa
a. Anopheles : residual indoor spraying
b. Aedes : aerial spraying
2. Pemberantasan jentik nyamuk
a. Anopheles : Abate 1%
b. Culex : minyak tanah
c. Mansonia : melenyapkan tanaman air tempat perindukan,
mengeringkan rawa dan saluran air
3. Mencegah gigitan nyamuk
a. Menggunakan kawat nyamuk/kelambu
b. Menggunakan repellent

Penyuluhan tentang penyakit filariasis dan penanggulangannya perlu


dilaksanakan sehingga terbentuk sikap dan perilaku yang baik untuk
menunjang penanggulangan filariasis.
Sasaran penyuluhan adalah penderita filariasis beserta keluarga dan
seluruh penduduk daerah endemis, dengan harapan bahwa penderita
dengan gejala klinik filariasis segera memeriksakan diri ke Puskesmas,
bersedia diperiksa darah kapiler jari dan minum obat DEC secara lengkap
dan teratur serta menghindarkan diri dari gigitan nyamuk.
Evaluasi hasil pemberantasan dilakukan setelah 5 tahun, dengan
melakukan pemeriksaan vektor dan pemeriksaan darah tepi untuk deteksi
mikrofilaria.
F. Exposure
1. Orang
a. Umur
Filariasis menyerang pada semua kelompok umur. Pada dasarnya setiap
orang dapat tertular filariasis apabila mendapat tusukan atau gigitan nyamuk
infektif (mengandung larva stadium 3 atau L-3) ribuankali. (Depkes RI, 2006)
.
b. Jenis kelamin
Semua jenis kelamin dapat terinfeksi mikrofilaria, pada laki-laki lebih
tinggi daripada insiden filariasis pada perempuan karena umumnya laki-laki
lebih sring kontak dengan vektor karena pekerjaannya (Depkes RI, 2006)

2. Tempat

Di Indonesia penyakit Kaki Gajah tersebar luas hampir di seluruh propinsi.


Berdasarkan laporan dari hasil survei pada tahun 2000 yang lalu tercatat
sebanyak 1553 desa di 647 Puskesmas tersebar di 231 Kabupaten 26 Propinsi
sebagai lokasi yang endemis, dengan jumlah kasus kronis 6233 orang. Hasil
survei laboratorium, melalui pemeriksaan darah jari, rata-rata mikrofilaria rate
(Mf rate) 3,1 %, berarti sekitar 6 juta orang sudah terinfeksi cacing filaria dan
sekitar 100 juta orang mempunyai resiko tinggi untuk ketularan karena
vektornya tersebar luas.

3. Waktu

Masa prepaten
Merupakan masa antara masuknya larva infektif sampai terjadinya
mikrofilaremia yang memerlukan waktu kira-kira 37 bulan. Hanya
sebagian dari penduduk di daerah endemik yang menjadi
mikrofilaremik, dan dari kelompok mikrofilaremik inipun tidak semua
kemudian menunjukkan gejala klinis. Terlihat bahwa kelompok ini
termasuk kelompok yang asimtomatik baik mikrofilaremik ataupun
amikrofilaremik.
Masa inkubasi
Merupakan masa antara masuknya larva infektif hingga munculnya
gejala klinis yang biasanya berkisar antara 8-16 bulan.
Gejala klinik akut
Gejala klinik akut menunjukkan limfadenitis dan limfangitis yang
disertai panas dan malaise. Kelenjar yang terkena biasanya unilateral.
Penderita dengan gejala klinis akut dapat mikrofilaremik ataupun
amikrofilaremik.
Filariasis bancrofti
Pada filariasis yang disebabkan Wuchereria bancrofti pembuluh
limfe alat kelamin laki-laki sering terkena disusul funikulitis,
epididimitis dan orchitis. Limfadenitis inguinal atau aksila, sering
bersama dengan limfangitis retrograd yang umumnya sembuh sendiri
dalam 3-15 hari. Serangan biasanya terjadi beberapa kali dalam setahun.
Filariasis brugia
Pada filariasis yang disebabkan Brugia malayi dan Brugia timori
limfadenitis paling sering mengenai kelenjar inguinal, sering terjadi
setelah bekerja keras. Kadang-kadang disertai limfangitis retrograd.
Pembuluh limfe menjadi keras dan nyeri, dan sering terjadi limfedema
pada pergelangan kaki dan kaki. Penderita tidak mampu bekerja selama
beberapa hari. Serangan dapat terjadi 12 kali dalam satu tahun sampai
beberapa kali perbulan. Kelenjar limfe yang terkena dapat menjadi
abses, memecah, membentuk ulkus dan meninggalkan parut yang khas,
setelah 3 minggu hingga 3 bulan.
Gejala menahun
Gejala menahun terjadi 10-15 tahun setelah serangan akut pertama.
Mikrofilaria jarang ditemukan pada stadium ini, sedangkan limfadenitis
masih dapat terjadi. Gejala kronis ini menyebabkan terjadinya cacat yang
mengganggu aktivitas penderita serta membebani keluarganya.
Filariasis bancrofti
Keadaan yang sering dijumpai adalah hidrokel. Di dalam cairan
hidrokel dapat ditemukan mikrofilaria. Limfedema dan elefantiasis
terjadi di seluruh tungkai atas, tungkai bawah, skrotum, vulva atau buah
dada, dengan ukuran pembesaran di tungkai dapat 3 kali dari ukuran
asalnya. Chyluria dapat terjadi tanpa keluhan, tetapi pada beberapa
penderita menyebabkan penurunan berat badan dan kelelahan.

Filariasis brugia
Elefantiasis terjadi di tungkai bawah di bawah lutut dan lengan
bawah. Ukuran pembesaran ektremitas umumnya tidak melebihi 2 kali
ukuran asalnya.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Filariasis adalah penyakit menular (penyakit kaki gajah) yang disebabkan oleh
cacing filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Penyakit Filariasis
terutama ditemukan didaerah Khatulistiwa dan merupakan masalah didaerah
dataran rendah kadang-kadang dapat juga ditemukan dareah bukit yang terlalu
tinggi.
Filariasis menyerang pada semua kelompok umur. Pada dasarnya setiap orang
dapat tertular filariasis apabila mendapat tusukan atau gigitan nyamuk infektif
(mengandung larva stadium 3 atau L-3) ribuankali.
B. Saran
Untuk penulisan makalah epidemiologi penyakit Filariasis selanjutnya,
diharapkan lebih lebih menggali Exposure atau ruang lingkup terjadinya
epidemiologi penyakit yang khusus nya di lihat dari segi, orang, tempat dan
waktu.
DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, U. F. 2001. Analisis Kecendrungan Kesehatan Lingkungan Pada Repelita


VII dan Era
Globalisasi, serta Perlunya Pendekatan Spasial Dalam Pengembangan
Kesehatan di
Indonesia. Ditjen P2M & PL, Depkes RI. Jakarta
Anonim. Filariasis. Available from: http://www.fk.undip.ac.id/category/12-
parasitologi.html?download=92. [Accessed 3 November 2010].