Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN

EKOLOGI PERAIRAN

OLEH:
KELOMPOK II
BIOLIGI SAINS 2014

FITRI FEBRIANI 1414140002


MN FADHIL FADLI 1414140006
OLA MULYA 1414141002
FITRI ANITASARI 1414141003
MAULYDA AWWALIYAH. P 1414142006

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sekitar 75% dari luas wilayah Indonesia adalah berupa lautan. Salah satu
bagian terpenting dari kondisi geografis Indonesia sebagai wilayah kepulauan
adalah wilayah pantai dan pesisir dengan garis pantai sepanjang 81.000 km.
Wilayah pantai dan pesisir memiliki arti yang strategis karena merupakan
wilayah interaksi/peralihan (interface) antara ekosistem darat dan laut yang
memiliki sifat dan ciri yang unik. Takkalah pentingnya dengan pantai, sungai
yang membawa aliran air juga memegang peranan yang sangat penting dalam
rangka pemenuhun kebutuhan pasokan air masyarakat yang bermukim di
sekitar sungai pada khususnya.
Sungai adalah wadah-wadah serta jaringan pengaliran air mulai dari mata
air hingga muara dengan dibatasi kanan dan kirinya sepanjang pengaliran oleh
garis sempadan (PP No. 38 Tahun 2011, Tentang Sungai). Sungai sebagai
drainase alam mempunyai jaringan sungai dengan penampangna, mempunyai
areal tangkapan hujan atau disebut daerah aliran sungai (DAS). Bentuk
jaringan sungai sangat dipengaruhi oleh kondisi geologi, kondisi muka bumi
DAS, dan waktu sedimentasi, Erosi/gerusan, pelapukan permukaan DAS,
pergerakan berupa tektonik, vulkanik, longsor lokal dan faktor lainnya.
Berkaitan dengan prilaku sungai secara umum dapat dipahami bahwa
sungai akan mengalirkan debit air yang sering terjadi (frequence discharge)
pada saluran utamanya, air inilah yang kemudian dimanfaatkan masyarakat
sekitar sungai dalam pemenuhan kebutuhan pasokan air untuk aktifitas dan
rutinitas setiap harinya, mulai dari bahan memasak, mandi dan mencuci
pakaian, bahan pakan ternak dan lain-lain, yang kemudian secara otomatis
akan mempengaruhi kualitas air sungai tersebut.
Oleh karena itu pentingnya praktikum ekologi perairan tentang
pengamatan kodnisi sungai Jenne berang Sungguminasa Kabupaten Gowa
sebagai salah satu sungai yang memiliki peranan sangat besar bagi kehidupan
masyarakat Gowa pada khususnya.
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Lanskap adalah panorama suatu bidang di permukaan bumi yang


merupakan hasil dari proses-proses geomorfologi. Lanskap tersusun oleh
komponen berupa daratan, tanah dan penutup lahan. Salah satu contoh lanskap di
permukaan bumi adalah Daerah Aliran Sungai (DAS). DAS adalah daerah tertentu
yang bentuk dan sifat alaminya sedemikian rupa sehingga merupakan suatu
kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungai yang melaluinya. Sungai dan anak-
anak sungai tersebut berfungsi untuk menampung, menyimpan dan mengalirkan
air yang berasal dari curah hujan serta sumber air lainnya. Penyimpanan dan
pengaliran air dihimpun dan ditata berdasarkan hukum alam di sekelilingnya
sesuai dengan keseimbangan daerah tersebut. Proses tersebut dikenal sebagai
siklus hidrologi (Gambar 1.1.). (Dirjen Cipta Karya, 2002).

Sungai merupakan jalan air alami. mengalir menuju Samudera, Danau atau
laut, atau ke sungai yang lain. Pada beberapa kasus, sebuah sungai secara
sederhana mengalir meresap ke dalam tanah sebelum menemukan badan air
lainnya. Dengan melalui sungai merupakan cara yang biasa bagi airhujan yang
turun di daratan untuk mengalir ke lautatau tampungan air yang besar seperti
danau. Sungai terdiri dari beberapa bagian, bermula dari mata air yang mengalir
ke anak sungai. Beberapa anak sungai akan bergabung untuk membentuk sungai
utama. Aliran air biasanya berbatasan dengan kepada saluran dengan dasar dan
tebing di sebelah kiri dan kanan. Penghujung sungai di mana sungai bertemu laut
dikenali sebagai muara sungai.Sungai merupakan salah satu bagian dari siklus
hidrologi. Air dalam sungai umumnya terkumpul dari presipitasi, seperti
hujan,embun, mata air, limpasan bawah tanah, dan di beberapa negara tertentu air
sungai juga berasal dari lelehan es / salju. Selain air, sungai juga mengalirkan
sedimen dan polutan. (Bakosurtanal, 2003).
Kemanfaatan terbesar sebuah sungai adalah untuk irigasi pertanian, bahan
baku air minum, sebagai saluran pembuangan air hujan dan air limbah, bahkan
sebenarnya potensial untuk dijadikan objek wisata sungai (Yahya, 2012). Akhir-
akhir ini, persoalan seperti erosi, sedimentasi, longsor dan banjir pada DAS
intensitasnya semakin meningkat. Persoalan-persoalan tersebut merupakan bentuk
respon negatif dari komponen-komponen DAS terhadap kondisi curah hujan. Kuat
atau lemahnya respon sangat dipengaruhi oleh karakteristik DAS baik secara fisik,
maupun sosial ekonomi serta budaya masyarakatnya. (Syartinilia, 2004)
Karakteristik fisik Daerah Aliran Sungai merupakan variabel dasar yang
menentukan proses hidrologi pada DAS, sedangkan karakteristik sosial ekonomi
dan budaya masyarakat adalah variabel yang mempengaruhi percepatan
perubahan kondisi hidrologi DAS. Oleh karena itu, pemahaman mengenai
karakteristik fisik DAS, dalam hal ini 'terrain' dan geomorfologi, pola pengaliran
dan penyimpanan air sementara pada DAS, dapat membantu mengidentifikasi
daerah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap terjadinya persoalan DAS, serta
perancangan teknik-teknik pengendalian yang sesuai dengan kondisi setempat
(Anthony J. Catanese, 1992).
1. Jaringan Sungai
Jaringan sungai dapat mempengaruhi besarnya debit aliran sungai yang
dialirkan oleh anak-anak sungainya. Parameter ini dapat diukur secara
kuantitatif dari nisbah percabangan yaitu perbandingan antara jumlah alur
sungai orde tertentu dengan orde sungai satu tingkat di atasnya. Nilai ini
menunjukkan bahwa semakin tinggi nisbah percabangan berarti sungai
tersebut memiliki banyak anak-anak sungai dan fluktuasi debit yang terjadi
juga semakin besar. (Dirjen Cipta Karya, 2002).
2. Orde Sungai
Orde sungai adalah posisi percabangan alur sungai di dalam urutannya
terhadap induk sungai pada suatu DAS. Semakin banyak jumlah orde sungai,
semakin luas dan semakin panjang pula alur sungainya. Orde sungai dapat
ditetapkan dengan metode Horton, Strahler, Shreve, dan Scheidegger. Namun
pada umumnya metode Strahler lebih mudah untuk diterapkan dibandingkan
dengan metode yang lainnya. Berdasarkan metode Strahler, alur sungai paling
hulu yang tidak mempunyai cabang disebut dengan orde pertama (orde 1),
pertemuan antara orde pertama disebut orde kedua (orde 2), demikian
seterusnya sampai pada sungai utama ditandai dengan nomor orde yang
paling besar (Gambar 1.3). (Dirjen Cipta Karya, 2002).

3. Kerapatan aliran sungai

Kerapatan aliran sungai menggambarkan kapasitas penyimpanan air


permukaan dalam cekungan-cekungan seperti danau, rawa dan badan sungai
yang mengalir di suatu DAS. Kerapatan aliran sungai dapat dihitung dari
rasio total panjang jaringan sungai terhadap luas DAS yang bersangkutan.
Semakin tinggi tingkat kerapatan aliran sungai, berarti semakin banyak air
yang dapat tertampung di badan-badan sungai. Kerapatan aliran sungai adalah
suatu angka indeks yang menunjukkan banyaknya anak sungai di dalam suatu
DAS. (Dirjen Cipta Karya, 2002).
4. Pola aliran
Pola aliran sungai secara tidak langsung menunjukan karakteristik
material bahan induk seperti permeabilitas, struktur geologi dan
kemudahannya mengalami erosi. Pola aliran sungai sejajar (parallel) pada
umumnya dijumpai pada DAS yang berada pada daerah dengan struktur
patahan. Pola aliran dalam DAS dapat digolongkan menjadi:
a. Dendriktrik: umumnya terdapat pada daerah dengan batuan sejenis dan
penyebarannya luas, misalnya daerah yang ditutupi oleh endapan sedimen
yang luas dan terletak pada suatu bidang horizontal di daerah dataran
rendah. Batuan kapur ('limestone') dan batu lempung ('shale') teranyam
bertopografi solusional dapat memiliki pola aliran denditrik. Pada
topografi dengan lereng seragam, pola aliran yang terbentuk adalah ,
sedangkan pada topografi berteras kecil, pola aliran yang terbentuk adalah
. Bentuk pola denditrik yang lain adalah kombinasi dendriktrik rektagular
yang terdapat pada batuan metamorf dengan puncak membulat. Pola ini
memiliki saluran yang hampir sejajar, dalam dan bertekstur halus hingga
sedang. Bentuk ini terjadi pada daerah basah. Pada batuan metamorfosa
dengan bentuk topografi berpuncak sejajar, dapat membentuk pola
denditrik rektangular halus dan terjadi pada daerah kering. Pada formasi
batuan beku di daerah topografi yang menyerupai bukit membulat di
daerah basah pola aliran yang terbentuk adalah pola dendritik medium.

b. Rdial: biasanya dijumpai di daerah lereng gunung api atau daerah dengan
topografi berbentuk kubah

c. Rektagular: terdapat di daerah batuan kapur.

d. Trellis: biasanya dijumpai pada daerah dengan lapisan sedimen di daerah


pegunungan lipatan

e. Kombinasi denditrik dan trellis: dapat dijumpai pada rangkaian


pegunungan yang sejajar dan terdapat pada batuan struktural terlipat
dengan tekstur halus sampai sedang. (Dirjen Cipta Karya, 2002).
5. Gradien sungai.
Gradien sungai merupakan perbandingan antara beda elevasi dengan
panjang sungai utama. Gradien menunjukkan tingkat kecuraman sungai,
semakin besar kecuraman, semakin tinggi kecepatan aliran airnya. (Dirjen
Cipta Karya, 2002).
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Hari/tanggal : Kamis/ 1 Juni2017
Waktu : Pukul 08.00-12.00 WITA
Tempat : Sekitar Bantaran Sungai Jeneberang

B. Alat
1. Alat Tulis
2. Hp (Titik Koordinat)

C. Prosedur Kerja
1. Melakukan observasi di sekitar sungai jeneberang
2. Mengamati sungai jeneberang dengan mengambil titik koordinat pertama
sampai titik koordinat kelima.
3. Mengamati parameter pengukuran kualitas air yaitu limbah rumah tangga
termasuk materi organic dan anorganik, aktivitas masyarakat setempat dan
aktivitas perikanan yang terdapat disekitar sungai jeneberang pada setiap
titik koordinat yang diambil.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
Parameter Pengukuran Kualitas Air
No Aktivitas
Titik Koordinat Penutupan
. Limbah Masyarakat
Kanopi
Setempat
Titik Awal :
Lat:
5 12' 42 ' ' a. Terdapat
Lng: aktivitas
' Terdapat limbah yang
119 27 77 ' ' perikanan
berasal dari sampah
1. Titik Akhir : - b. Terdapat WC
organik maupun
Lat: umum yang
' anorganik.
5 12 39 ' ' jaraknya 3m
Lng: dari sungai
'
119 27 08 ' '

Titik Awal :
Lat:
' a. Terdapat limbah a. Terdapat
5 12 36 ' '
Lng: yang berasal dari aktivitas
' sampah organik peternakan
119 27 06 ' '
maupun anorganik b. Terdapat rumah
2. Titik Akhir : -
b. Terdapat eceng warga yang
Lat:
gondok yang berdiri liar tepat
5 12' 32' ' tumbuh dipiggiran ditepi sungai.
Lng: sungai
'
119 27 0 ' '

Titik Awal :
Lat: a. Terdapat sumur
' a. Terdapat limbah dan wc
5 12 23 ' '
Lng: yang berasal dari b. Terdapat
' sampah organik aktivitas
119 26 53 ' '
maupun anorganik perikanan
3. Titik Akhir : 20 %
b. Terdapat limbah c. Terdapat rumah
Lat:
air yang berasal warga yang
5 12' 20 ' ' dari sisa aktivitas berdiri liar tepa
Lng: masyarakat ditepi sungai.
'
119 26 52 ' '
Titik Awal :
Lat: a. Terdapat limbah
5 12' 16 ' ' yang berasal dari
Lng: sampah organik
' Terdapat lokasi
119 26 48' ' maupun anorganik
4. - peristirahatan para
Titik Akhir : b. Terdapat lokasi
nelayan
Lat: pembuangan
'
5 12 01 ' ' sampah liar
Lng:
'
119 26 41' '
Titik Awal :
Lat:
'
5 12 07 ' '
Lng: Terdapat tumbuhan
' Adanya
119 26 47' ' merambat sejenis
permukiman warga
5. Titik Akhir : kangkung besar yang -
lebih padat dilokasi
Lat: tumbuh di pingiran
ini
5 11' 59 ' ' sungai
Lng:
'
119 26 48' '

B. Pembahasan
Sungai merupakan salah satu lingkungan yang sering terkena dampak
pencemaran. Pencemaran dapat disebabkan karena berbagai jenis aktivitas
manusia yang dilakukan di sepanjang daerah aliran sungai. Meningkatnya
aktivitas domestik, pertanian dan industri akan mempengaruhi dan berdampak
buruk terhadap kondisi kualitas air sungai.
Praktikum Ekologi Perairan yang dilakukan di sekitar sungai Jeneberang
yang sebelumnya telah dilakukan observasi untuk mengetahui kondisi
lapangan sekitarnya.Pengamatan dilakukan dengan mengambil titik koordinat
pertama sampai titik koordinat kelima. Mengamati parameter pengukuran
kualitas air yaitu limbah rumah tangga termasuk materi organic dan anorganik,
aktivitas masyarakat setempat dan aktivitas perikanan yang terdapat disekitar
sungai jeneberang pada setiap titik koordinat yang diambil.
Titik koordinat pertama dengan Titik Awal :Lat: 5 12' 42 ' ' Lng:
119 27 ' 77' ' Titik Akhir :Lat: 5 12' 39 ' ' Lng: 119 27 ' 08 ' '
terdapat limbah yang berasal dari sampah organik maupun anorganik, terdapat
aktivitas perikanan, terdapat WC umum yang jaraknya 3m dari sungai.
Titik koordinat kedua dengan Titik Awal :Lat: 5 12' 36 ' ' Lng:
119 27 ' 06 ' ' Titik Akhir :Lat: 5 12' 32' ' Lng: 119 27 ' 0 ' '
terdapat limbah yang berasal dari sampah organik maupun anorganik, terdapat
eceng gondok yang tumbuh dipiggiran sungai, terdapat aktivitas peternakan,
terdapat rumah warga yang berdiri liar tepat ditepi sungai.
Titik koordinat ketiga dengan Titik Awal :Lat: 5 12' 23 ' ' Lng:
' ' '
119 26 53 ' ' Titik Akhir :Lat: 5 12 20 ' ' Lng: 119 26 52 ' '
terdapat limbah yang berasal dari sampah organik maupun anorganik, terdapat
limbah air yang berasal dari sisa aktivitas masyarakat, terdapat sumur dan wc,
terdapat aktivitas perikanan, terdapat rumah warga yang berdiri liar tepat
ditepi sungai.
' ''
Titik koordinat keempat dengan Titik Awal :Lat: 5 12 16 Lng:
' '' ' '
119 26 48 Titik Akhir :Lat: 5 12 01 ' ' Lng: 119 26 41' '
terdapat limbah yang berasal dari sampah organik maupun anorganik, terdapat
lokasi pembuangan sampah liar, terdapat lokasi peristirahatan para nelayan.

'
Titik koordinat kelima denganTitik Awal :Lat: 5 12 07 ' ' Lng:
' ' '
119 26 47' ' Titik Akhir :Lat: 5 11 59 ' ' Lng: 119 26 48' '
terdapat tumbuhan merambat sejenis kangkung besar yang tumbuh di
pinggiran sungaiserta adanya permukiman warga lebih padat dilokasi ini.

Disepanjang bantaran sungai jeneberang terdapat papan peringatan dari


Dinas Pekerjaan Umum yang menghimbau agar masyarakat setempat tidak
mendirikan tempat pembuangan sampah, membangun gubuk serta melakukan
aktivitas peternakan dibentaran sungai jeneberang. Namun berdasarkan hasil
pengamatan, jelas terlihat adanya bangunan gubuk liar, tempat pembuangan
sampah serta aktivitas peternakan dan sehingga hal ini juga menjadi salah
satu penyebab kondisi perairan tercemar.Hubungan timbal balik antara
lingkungan dengan makhluk hidup di dalamnya merupakan suatu pola
interaksi dua arah yang sangat mempengaruhi eksistensi dari ekosistem
tersebut. Manusia sebagai makhluk yang selalu mempelajari, sudah tentu
diharapkan dapat memberikan sumbangsih kepada lingkungan, tidak merusak
dan menghancurkan ekosistem yang ada.
Kondisi perairannya yang berbeda disebabkan perameter fisik-kimia dan
biologi yang berbeda pula. Kondisi perairan yang tercemartersebut disebabkan
letak aliran sungai yang berada pada pusat kota yang padat penduduknya.
Limbah dan bahan pencemar yang berasal dari rumah tangga atau industri
masuk ke dalam perairan hingga mencemari aliran sungai. Vegetasi dan hewan
air yang hidup juga beragam jenisnya. Vegetasi yang membedakan antara
titikI, II, III, IV dan V adalah tumbuhan berkanopi. titik III memilki tumbuhan
tersebut sedangkan titik yang lainnya tidak. Hal inilah yang menyebabkan
perbedaan suhu perairan dan kadar CO2 yang memungkinkan fitoplankton
pada pengamatan titik ketiga III kurang mendapat masukan cahaya sehingga
proses fotosintesis kurang maksimal akibatnya kadar O2 yang di hasilkan
lebih kecil dari pematan titik yang lainnya.
Air sebagai penyusun utama ekosistem sungai tentunya sangat
mempengaruhi keadaan ekosistem sungai. Mutu suatu sungai terhadap
lingkungan dan makhluk hidup di sekitarnya sangat tergantung dengan zat-zat
yang ikut bersama air. Rusaknya ekosistem sungai banyak diakibatkan oleh
ulah manusia yang kurang menjaga lingkungan khususnya sungai, sehingga
sungai menjadi sumber pembawa penyakit. KeputusanMentri Negara
Kependudukan dan Lingkungan Hidup No.KEP-03/MENKLH/II/1991
menyebutkan: Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya
makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain kedalam air dan atau
berubahnya tatanan air oleh proses alam, sehingga kualitas air turun sampai
ketingkat tertentu yang menyebabkan air menjadi kurang atau tidak dapat
berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah dilakukan praktikum ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
kualitas air disungai Jeneberang tergolong tercemar. Kondisi perairan yang
tercemar tersebut disebabkan karena letak aliran sungai yang berada pada
pusat kota yang padat penduduknya, adanya tempat pembuangan limbah di
sekitar sungai baik organik maupun anorganik serta adanya bahan pencemar
yang berasal dari rumah tangga atau industri masuk ke dalam perairan hingga
mencemari aliran sungai.

B. Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui
t i n g k a t pencemaran air dan selain itu perlu diadakan pengelolaan perairan
sungai jeneberang lebih baik lagi agar tingkat pencemaran sungai
ini tidak bertambah buruk, serta perlu adanya kesadaran khususnya dari
masyarakat sekitar sungai untuk menjaga kebersihan dan kelestarian sungai
jeneberang. Hal ini tentu didukung oleh kerjasama yang baik antara
pemerintah melalui dinas terkait untuk lebih memperhatikan kondisi disekitar
sungai jeneberang.
DAFTAR PUSTAKA

Anthony J. Catanese. 1992. Perencanaan Kota. Jakarta: Erlangga.


Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional. 2003. Peta Kota Batu.
Dirjen Cipta Karya. 2002. Profil Kota Batu. Dilihat tanggal 6 Juni 2017 pukul
23.14 WIB. <ciptakarya.pu.go.id/profil/profil/b arat/jatim/batu.pdf>.

Syartinilia. 2004. Penerapan Multi Criteria Decision Making (Mcdm) Dan


Geographical Information System (GIS) Pada Evaluasi Peruntukan
Lahan. Progam Studi Arsitektur Landskap Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Yahya. 2012. Identifikasi Pencemaran Lingkungan Akibat Pembuangan Limbah


Doomestik di Pemukiman Kumuh di Sekitar Kanal Kota Makassar.
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Anda mungkin juga menyukai