Anda di halaman 1dari 79

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua istilah yang berbeda,

namun keduanya tidak dapat dipisahkan dan bersifat interdependen

(Potter & Perry, 2005). Pertumbuhan didefinisikan sebagai bertambahnya

ukuran fisik dan struktur tubuh seseorang karena bertambahnya jumlah

dan besarnya sel secara kuantitatif, seperti pertambahan ukuran berat

badan, tinggi badan dan lingkar kepala. Perkembangan didefinisikan

sebagai pertambahan kematangan fungsi dari masing-masing tubuh dan

bersifat kualitatif, seperti kemampuan anak untuk tengkurap, duduk,

berjalan, berbicara, memungut benda-benda di sekelilingnya, serta

kematangan emosi dan sosial anak (Nursalam, 2008).

Usia prasekolah yaitu di mana anak berumur 3-6 tahun. Pada masa

ini, pertumbuhan dan perkembangan anak berjalan sangat pesat, sehingga

membutuhkan bimbingan dari orang di sekelilingnya, terutama orang tua

agar pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya tidak mengalami

masalah. (Muscari, 2005).

Salah satu bentuk pertumbuhan dan perkembangan anak di usia

prasekolah yang perlu diperhatikan oleh orang tua adalah masalah toilet

training. Toilet training merupakan salah satu tahapan perkembangan

anak dalam usia 1-3 tahun atau usia toddler (Hockenbery, Wilson, &

1
Wong, 2012). Gilbert (2006) juga menyatakan bahwa anak menunjukkan

sinyal kuat dalam menjalani toilet training secara fisik, mental,

emosional sebelum 3 tahun. Walaupun begitu, setidaknya 15% anak

dalam usia tersebut belum dapat menguasainya. Namun, sampai umur 4

tahun anak dapat menjalani toilet training 96%. Hidayat (2005), toilet

training untuk mengajari dan melatih anak dalam upaya mengontrol

buang air besar dan buang air kecil. Tujuan dalam perkembangan ini

adalah anak dapat menjaga kebersihan diri dan membentuk

kemandirian dalam melakukan buang air kecil dan bunag air besar

(Halida & Dita, 2012).

Melalui toilet training anak akan belajar bagaimana mereka

mengendalikan keinginan untuk buang air yang selanjutnta akan

menjadikan merekan terbiasa menggunakan toilet training

(mencerminkan keteraturan ) secara mandiri. Kedekatan interaksi antara

orang tua dan anak dalam toilet training ini akan membuat anak merasa

aman, nyaman dan percaya diri. Kegagalan dalam toilet training

diantaranya yaitu kebiasaaan mengompol yang berkesinambungan (anak

yang punya kebiasaaan mengompol sejal lahir dan diteruskan hingga ia

menjadi berusia dewasa) dan kebiasaaan dalam membuang air besar

sembarangan. Laporan hasil literatur yang telah dilakukan disingapura

pada tahun 2000 yaitu 15 % anak tetap mengompol setelah berusia 5

tahun dan sekitar 1,3 % anak laki-laki serta 0,3 % anak perempuan di

Indonesia masih memiliki kebiasaan BAK dan BAB sembarangan pada

2
usia 7 tahun, hal ini dikarenakan kegagalan dalam toilet training

(Prayitno, 2004).

Menurut brazelton (2001) menyatakan bahwa toilet training perlu

diperkenalkan secara dini karena merupakan latihan dalam mengatisip asi

reflex pengeluaran urine atau feses bayi pada waktu yang tepat. Pada anak

umur 2 tahun juga lebih siap secara kognitif, psikologis, sosial dan

emosional untuk melakukan toilet training. Pada orang tua yang menunda

toilet training setelah ulang tahun ke dua biasanya sukses dalam empat

bulan, hasil penelitian menunjukan hasil bahwa 90 % dari anak-anak antara

usia 2-3 tahun berhasil diajarkan melalui toilet training dan 80 % dari

anak-anak mendapatkan kesuksesaan tidak mengompol di malam hari

antara usia 3-4 tahun. Keberhasilan toilet training memberikan beberapa

keuntungan bagi anak, seperti dapat mengontrol buang air kecil (BAK) dan

buang air besar (BAB), awal terbentuknya kemandirian sehingga anak bisa

melakukan sendiri BAK atau BAB dan juga mulai mengetahui beberapa

bagian tubuh dan fungsinya (Warga, 2007).

Pada dewasa ini, tidak sedikit ibu yang belum tahu cara mengajarkan

toilet training sehingga anak masih belum bisa menerapkan toilet training

(Tukhusnah, 2012). Hal ini dikarenakan konsep penerapan toilet training

belum banyak dipahami oleh masyarakat, bahkan dianggap tidak penting

pada anak usia toddler. Misalnya, pemakaian diapers untuk anak usia

toddler karena fungsi dan kepraktisannya (Fitrianingsih, 2012). Tidak

3
sedikit pula orang tua/ibu yang masih sering memarahi dan memberi

hukuman saat anaknya buang air sembarangan (Ratnawati, 2014)

Keberhasilan atau kegagalan toilet training dipengaruhi oleh faktor

interen atau faktor eksteren. Faktor interen berupa faktor dari dalam diri

anak itu sendiri seperti kesiapan fisik, psikologis dan intelektual. Faktor

eksteren bisa berupa faktor dari orang tua dan lingkungan seperti

pengetahuan dan pola asuh orang tua. Apabila pengetahuan orang tua

tentang toilet training baik, akan berdampak positif bagi keberhasilan toilet

training tersebut (Suryabudhi, 2003), jane Gilbert menyatakan dalam

bukunya latihan toilet training (menguasai tidak mengompol dalam satu

hari penuh ) adalah uisa 35 bulan bagi anak perempuan dan usia 39 bulan

bagi anak laki-laki, dan jane Gilbert juga menyatakan bahwa hampir 90%

anak dapat mengendalikan kandung kemihnya saat siang hari yaitu pada

usia 3 tahun dan sekitar 90% anak biasanya berhenti mengompol pada usia

5-6 tahun, sementara yang lainya baru bisa melakukan beberapa tahun

kemudian (Gilbert, 2009).

Pada orang tua yang mempunyai tingkat pengetahuan yang baik

tentang toilet training akan menerapkan sesuai dengan kemampuan dan

kesiapan sang anak. Sebaliknya pada orang tua yang kurang dalam

menerapkan tidak sesuai dengan usia serta kemampuan anak, hal ini dapat

menimbulkan kecemasaan, stress dan muncul rasa marah jika melihat anak

tidak mampu melakukan toilet training (Notoatmodjo, 2008). Dalam

mengajarkan Toilet Training dibutuhkan metode atau cara yang tepat

4
sehingga mudah dimengerti oleh anak. Penggunaan metode yang tepat

akan mempengaruhi keberhasilan orangtua dalam mengajarkan konsep

Toilet Training pada anak. Pengetahuan tentang Toilet Training sangat

penting untuk dimiliki oleh seorang ibu. Hal ini akan berpengaruh pada

penerapan toilet training pada anak.

Dampak orang tua yang tidak atau gagal dalam menerapkan toilet

training pada anak diantaranya anak akan keras kepala bahkan kikir. Selain

itu anak tidak mandiri dan masih membawa kebiasaan mengompol sampai

besar. Bila orang tua santai dalam memberikan aturan dalam toilet training

anak akan mengalami kepribadian ekspresif dimana anak lebih tega,

cenderung ceroboh, suka membuat gara-gara, emosional dan seenaknya

dalam kehidupan sehari-hari (Hidayat, 2005).

Menurut penelitian American Psychiatric Association, dilaporkan

bahwa 10- 20% anak usia 5 tahun, 5% anak usia 10 tahun, hampir 2% anak

usia 12-14 tahun, dan 1 % anak usia 18 tahun masih mengompol (Noctural

Enuresis), dan jumlah anak laki-laki lebih banyak ngompol dibandingkan

anak perempuan. Riset yang dilakukan di amerika menunjukan usia rata-

rata anak menguasai latihan toilet training adalah usia 35 bulan bagi anak

perempuan dan usia 39 bulan bagi anak laki-laki dan hampir 90 % anak

dapat mengendalikan kandungan kemihnya saat siang hari yaitu pada usia 3

tahun. Sekitar 90 % anak biasanya berhenti mengompol pada usia 5-6 tahun

( Zuraidah, 2004). Choby dan George (2008) mengemukakan bahwa di

amerika serikat usia toilet traing telah meningkat selama empat dekade dari

5
rata-rata di mulai antara 31- 36 bulan menjadi 18 bulan. Setengah juta anak

di inggris dan 5-7 juta anak di amerika serikat sering mengompol, hal ini di

sebabkan oleh kurangnya pengetahuan orang tua dalam membantu anak

mengontrol kebiasaan buang air kecil (Gilbert, 2009).

Menurut survey kesehatan rumah tangga (SKRT) nasional 2010, di

Indonesia jumlah balita mencapai 30% dari 250 juta jiwa penduduk

Indonesia, dan diperkirakaan jumlah balita yang susah mengontrol BAB

dan BAK (ngompol) di usia toddler sampai prasekolah mencapai 75 juta

anak. Fenomena ini di picu karena banyak hal yaitu: Pemakaian popok

sekali pakai, hadirnya saudara baru, dan pengetahuan orang tua yang

kurang tentang cara melatih perilaku BAB dan BAK (Wawan, 2010).

Penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang toilet training karena

berdasarkan angka kejadian enuresis masih banyak di dunia dan Indonesia.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Rusita dkk (2014)

dengan judul Hubungan Pengetahuan Orang tua dan peran orang tua

dengan keberhasilan Toilet Training pada Anak Usia 5 tahun di tk

suwaloh kecamatan balen kabupaten bojonegoro. Hasil penelitian ini

menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara Pengetahuan

Orang tua dan peran orang tua dengan keberhasilan Toilet Training pada

Anak Usia 5 tahun, dimana pengetahuan orang tua sebagian besar

cukup yaitu 40,5%, peran ibu lebih dari cukup yaitu 51,4%. Dan

keberhasilan toilet training pada anak usia 5 tahun cukup yaitu 48,6%.

Hasil pengujian dengan uji korelasi Spearmans rho () diperoleh

6
nilai sebesar koefisien korelasi = 0,626 dan nilai sig 2 tailed (p) =

0,000 dimana < 0.05 pada pengetahuan dan dengan uji korelasi

Spearmans rho (). Diperoleh nilai sebesar koefisien korelasi

Spearmans rho (). = 0,721 dan nilai sig 2 tailed (p) = 0,000 dimana <

0.05 pada peran orang tua. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa

kesiapan anak, pengetahuan orang tua dan pelaksanaan toilet training

yang benar, merupakan suatu domain penting yang perlu orang tua

ketahui untuk meningkatkan kemampuan toilet training pada anak

(Luqmansyah, 2010).

Kota Bandung memiliki 30 kecamatan, yang terbagi ke dalam 153

kelurahan, salah satunya kelurahan cipadung kidul kecamatan

Panyileukan kota bandung. Berdasarkan data dari laporan pendudukan

kelurahan cipadung kidul Kecamatan panyileukan kota bandung pada

tanggal 01 mei 2017 jumlah anak usia 5-9 tahun di wilayah puskesmas

kelurahan cipadung kidul kota bandung sebanyak 882 anak yang terdiri

dari lakilaki sebanyak 429 anak dan perempuan 453 anak. Dari data

posyandu RW 12 kelurahan cipadung kidul jumlah anak usia 5-6 tahun

yang ada di kelurahan cipadung kidul kecamatan panyileukan sebanyak

41 anak yang terdiri dari laki-laki 16 anak dan perempuan 25 anak.

Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan oleh peneliti di

rukun warga (RW) 12 Kelurahan Cipadung Kidul Kecamatan Panyileukan

Kota Bandung pada tanggal 04 januari 2017, 4 dari 8 ibu menuturkan

anaknya masih memiliki kebiasaan yang salah dalam buang air besar dan

7
buang air kecil. Misalnya buang air besar dan buang air kecil dicelana pada

saat main dan ada yang buang air kecil sembarangan tempat. Kadang-

kadang ada juga pada saat pada malam hari pada waktu tidur, kebanyakan

anak mereka sering ngompol dicelana pada waktu tidur dan kebanyakan ibu

yang memilih memakaikan diapers pada anaknya agar lebih praktis.

sedangkan di rukun warga (RW) 01 di kelurahan cipadung kidul kecamatan

panyileukan Kota Bandung, 3 dari 6 ibu yang mempunyai anak usia

prasekolah terdapat anak yang ibunya tidak mengajarkan anak pergi ke

toilet dan tidak tahu usia berapa anak harus di ajarkan toilet training dan

dampak dari tidak diajakannya toilet training, ibu hanya memilih

memakaikan diapers pada anaknya agar lebih praktis .

Berdasarkan fenomena di atas dapat dilihat bahwa masih kurangnya

pengetahuan orang tua terutama ibu terhadap proses keberhasilan toilet

training sehingga masih banyak anak usia prasekolah 5-6 tahun yang

memiliki kebiasaan mengompol di daerah tersebut, padahal pada usia 5-6

tahun ini seharusnya anak sudah dapat belajar melakukan buang air kecil

secara mandiri di tempat yang semestinya (toilet atau kamar mandi).

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik melakukan

penelitian tentang hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang toilet

training dengan keberhasilan toilet training pada anak usia prasekolah

(5-6 tahun) di RW 12 Kelurahan Cipadung Kidul Kecamatan Panyileukan

Kota Bandung.

8
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat di buat rumusan

masalah yaitu Apakah ada hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang

toilet training dengan keberhasilan toilet training pada anak usia praskolah

5-6 tahun di RW 12 Kelurahan Cipadung Kidul Kota Bandung

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang

toilet training dengan keberhasilan toilet training pada anak usia (5-6

tahun) di RW 12 Kelurahan Cipadung Kidul Kota Bandung

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang toilet

training

2. Untuk mengetahui gambaran keberhasilan toilet tarining pada

anak usia prasekolah (5-6 tahun)

3. Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang

toilet training dengan keberhasilan toilet training pada usia

9
prasekolah (5-6 tahun) di RW 12 Kelurahan Cipadung Kidul Kota

Bandung

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Sebagai bahan masukan bagi keperawatan khususnya

perawat komunitas dalam memberikan asuhan keperawatan

pada keluarga dengan anak usia prasekolah. Dan sebagai

bahan pertimbangan penelitian berikutnya terutama mengenai

toilet training pada anak usia prasekolah.

1.4.2 Manfaat Praktis

1. Bagi petugas kesehatan

Menjadi masukan bagi petugas kesehatan yang

memberikan penyuluhan maupun pemberian informasi pada

masyarakat mengenai toilet training sehingga dapat

memberikan penerangan yang lebih jelas bagi ibu.

2. Instansi Kesehatan

10
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan

masukan bagi instansi kesehatan maupun bagi petugas

kesehatan dalam melaksanakan program-program kesehatan

yang berhubungan dengan toilet training pada usia

prasekolah. Dengan diketahuinya hubungan tingkat

pengetahuan ibu dengan keberhasilan toilet training pada

anak usia prasekolah maka petugas kesehatan dapat

memberikan penyuluhan maupun pemberian informasi pada

ibu mengenai pentingnya penerapan toilet training di usia

toddler.

3. Institusi Pendidikan

Sebagai bahan bacaan untuk menambah wawasan ilmu

penegetahuan khususnya mengenai pengetahuan toilet

training pada anak usia prasekolah.

11
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Pengetahuan


2.1.1 Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil

tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya

(mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya, pada

waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut

sangat dipengaruhi intensitas perhatian dan persepsi terhadap

objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui

indera pendengaran (telinga), dan indera penglihatan (mata)

(Notoatmodjo, 2005).

Pengetahuan itu sendiri dipengaruhi oleh faktor pendidikan

formal. Pengetahuan sangat erat hubungannya dengan pendidikan,

dimana diharapkan bahwa dengan pendidikan yang tinggi maka

12
orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Akan tetapi

perlu ditekankan, bukan berarti seseorang yang berpendidikan rendah

mutlak berpengetahuan rendah pula. Pengetahuan seseorang tentang

suatu objek mengandung dua aspek, yaitu aspek positif dan

negatif. Kedua aspek ini yang akan menentukan sikap seseorang

semakin banyak aspek positif dan objek yang diketahui, maka akan

menimbulkan sikap makin positif terhadap objek tertentu (Dewi &

Wawan, 2010).

2.1.2 Proses Perilaku TAHU

Menurut Rogers (1974) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003),

perilaku adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia baik yang

dapat diamati langsung dari maupun tidak dapat diamati oleh pihak

luar (Dewi & Wawan, 2010). Sedangkan sebelum mengadopsi

perilaku baru didalam diri orang tersebut terjadi proses yang

berurutan, yakni :

a. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam

arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).

b. Interest(merasa tertarik) dimana individu mulai menaruh

perhatian dan tertarik pada stimulus.

c. Evaluation (menimbang-nimbang) individu akan

mempertimbangkan baik buruknya tindakan terhadap stimulus

13
tersebut bagi dirinya, hal ini berarti sikap responden sudah baik

lagi.

d. Trial, dimana individu mulai mencoba perilaku baru.

e. Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan

pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.

Pada penelitian selanjutnya Rogers (1974) yang dikutip oleh

Notoadmojo (2003), menyimpulkan bahwa pengadopsian perilaku

yang melalui proses seperti diatas dan didasari oleh pengetahuan,

kesadaran yang positif, maka perilaku tersebut akan berlangsung

langgeng (ling lasting). Namun sebaliknya jika perilaku tersebut

tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran, maka perilaku

tersebut bersifat sementara atau tidak akan berlangsung lama.

Perilaku manusia dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu aspek fisik,

psikis dan sosial yang secara terinci merupakan refleksi dari berbagai

gejolak kejiwaan seperti pengetahuan, motivasi, persepsi, sikap

dan sebagainya yang ditentukan dan dipengaruhi oleh faktor

pengalaman, keyakinan, sarana fisik, dan sosial budaya

2.1.3 Tingkat Pengetahuan Dalam Domain Kognitif

Pengetahun yang cukup didalam domain kognitif mempunyai 6

tingkatan, yaitu (Notoatmodjo, 2003) :

a. Tahu (Know)

14
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah

pelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini

adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari

seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah

diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan

yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang

tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan,

menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.

b. Memahami (Comprehention)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan

dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat

menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,

meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari

Aplikasi (Application).

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan

materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real

(sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau

penggunaan hukum- hukum, rumus, metode, prinsip dan

sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

15
c. Analisis (Analysis)

Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau

suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di

dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu

sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan

kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan),

membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.

e. Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk

meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu

bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis

adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari

formulasi-formulasi yang ada.

f. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk

melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau

objek. Penilaian- penilaian itu didasarkan pada suatu kreteria

yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang

telah ada.

16
2.1.4 Cara Memperoleh Pengetahuan (Notoatmodjo, 2010)

Dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk

memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah dapat

dikelompokan menjadi dua, yakni :

a . Cara Memperoleh Kebenaran Nonilmiah

1) Cara Coba Salah (Trial and Error)

Cara memperoleh kebenaran non ilmiah, yang pernah

digunakan oleh manusia dalam memperoleh pengetahuan

adalah melalui cara coba coba atau dengan kata yang lebih

dikenal trial and error. Metode ini telah digunakan oleh

orang dalam waktu yang cukup lama untuk memecahkan

berbagai masalah. Bahkan sampai sekarang pun metode ini

masih sering digunakan, terutama oleh mereka yang belum

atau tidak mengetahui suatu cara tertentu dalam memecahkan

suatu masalah yang dihadapi. Metode ini telah banyak

jasanya, terutama dalam meletakan dasar-dasar

mennemukan teori- teori dalam berbagai cabang iilmu

pengetahuan.

2) Secara Kebetulan

Penemuan kebenaran secara kebetulan terjadi karena tidak

disengaja oleh orang yang bersangkutan. Salah satu contoh

17
adalah penemuan enzim urease oleh Summers pada tahun

1926.

3) Cara Kekuasaan atau Otoritas

Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali

kebiasaankebiasaan dan tradisi-tradisi yang dilakukan

oleh orang tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan

tersebut baik atau tidak kebiasaan seperti ini tidak hanya

terjadi pada masyarakat tradisional saja, melainkan juga

terjadi pada masyarakat modern. Para pemegang otoritas, baik

pemimpin pemerintah, tokoh agama, maupun ahli ilmu

pengetahuan pada prinsipnya mempunyai mekanisme yang

sama di dalam penemuan pengetahuan.

4) Berdasarkan Pengalaman Pribadi

Pengalaman adalah guru yang baik, demikian

bunyi pepatah. Pepatah ini mengandung maksud bahwa

pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan, atau

pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh

kebenaran pengetahuan. Oleh karena itu pengalaman pribadi

pun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan.

Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman

yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang

dihadapi pada masa yang lalu.

18
5) Cara Akal Sehat

Akal sehat atau common sense kadang-kadang dapat

menemukan teori atau kebenaran. Sebelum ilmu pendidikan ini

berkembang, para orang tua zaman dahulu agar anaknya

mau menuruti nasihat orang tuanya,atau agar anak disiplin

menggunakan cara hukuman fisik bila anaknya berbuat salah,

misalnya dijewer telinganya atau dicubit. Ternyata cara

menghukum anak ini sampai sekarang berkembang menjadi

teori atau kebenaran, bahwa hukuman adalah merupakan

metode (meskipun bukan yang paling baik) bagi pendidikan

anak. Pemberian hadiah dan hukuman (reward and

punishment) merupakan cara yang masih dianut oleh banyak

orang untuk mendisiplinkan anak dalam konteks pendidikan.

6) Kebenaran Melalui Wahyu

Ajaran dan dogma agama adalah suatu kebenaran yang

diwahyukan dari Tuhan melalui para Nabi. Kebenaran ini harus

diterima dan diyakini oleh pengikut-pengikut agama yang

bersangkutan, terlepas dari apakah kebenaran tersebut rasional

atau tidak.

7) Kebenaran secara Intuitif

Kebenaran secara intuitif diperoleh manusia cepat sekali

melalui proses diluar kesadaran dan tanpa melalui proses

19
penalaran atau berpikir. Kebenaran yang diperoleh melalui

intuitif sukar dipercaya karena kebenaran ini tidak

menggunakan cara-cara yang rasional dan yang sisitematis.

Kebenaran ini diperoleh seseorang hanya berdasarkan intuisi

atau suara hati atau bisikan hati saja.

8) Melalui Jalan Pikiran

Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia,

cara berfikir manusia pun ikut berkembang. Dari sini manusia

telah mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh

pengetahuannya. Dengan kata lain, dalam memperoleh

kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan jalan

pikirannya, baik melalui induksi maupun deduksi.

9) Induksi

Induksi adalah proses penarikan kesimpulan yang dimulai

dari pernyataan-pernyataan khusus ke pertanyaan yang bersifat

umum. Proses berpikir induksi berasal dari hasil pengamatan

indra atau hal- hal yang nyata, maka dapat dikatakan bahwa

induksi beranjak dari hal-hal yang konkret kepada hal-hal yang

abstrak.

10) Deduksi

Deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan-

pernyataan umum yang ke khusus. Aristoteles (384-322SM)

20
mengembangkan cara berpikir deduksi ini ke dalam suatu cara

yang disebut silogisme. Silogisme merupakan suatu bentuk

deduksi berlaku bahwa sesuatu yang dianggap benar secara

umumpada kelas tertentu, berlaku juga kebenarannya pada

semua peristiwa yang terjadi pada setiap yang termasuk dalam

kelas itu

b. Cara Ilmiah dalam Memperoleh Pengetahuan

Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan

pada dewasa ini lebih sistimatis, logis dan ilmiah. Cara ini

disebut metode penelitian ilmiah, atau lebih popular disebut

metodologi penelitian (research methodology). Cara ini mula-

mula dikembangkan oleh Francis Bacon (1561-1626). Ia

mengatakan bahwa dalam memperoleh kesimpulan dilakukan

dengan mengadakan observasi langsung, dan membuat

pencatatan-pencatatan terhadap semua fakta sehubungan

dengan objek yang diamati. Pencatatan ini mencakup tiga

hal pokok yakni :

1) Segala sesuatu yang positif, yakni gejala tertentu yang

muncul pada saat dilakukan pengamatan

2) Segala sesuatu yang negatif, yakni gejala tertentu yang

tidak muncul pada saat dilakukan pengamatan

21
3) Gejala-gejala yang muncul secara bervariasi, yaitu gejala-

gejala yang berubah-ubah pada kondisi-kondisi tertentu.

2.1.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2003), Nursalam dan Pariani

(2001) pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa

faktor yaitu :

a. Usia
Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir

seseorang. Usia seseorang semakin bertambah maka daya

tangkap dan pola pikirnya semakin berkembang, sehingga

pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik. Menurut

Hurlock (1998 dalam Nursalam dan Pariani, 2001) semakin

cukup usia seseorang maka tingkat kematangan dan

kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan

bekerja.
b. Pengalaman
Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri

maupun orang lain. Pengalaman sebagai sumber pengetahuan

adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan

dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh

dalam memecahkan masalah yang dihadapi di masa lalu.


c. Tingkat Pendidikan

Pendidikan dapat menambah wawasan atau pengetahuan

seseorang. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin

22
mudah menerima informasi sehingga semakin banyak pula

pengetahuan yang dimiliki.

d. Pekerjaan
Pekerjaan adalah jenis kegiatan sehari-hari yang

dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh penghasilan

(Notoatmodjo, 1997). Menurut KBBI (2008) pekerjaan adalah

sesuatu yang dapat dikerjakan/dilakukan, sementara bekerja

adalah melakukan suatu pekerjaan.


e. Keyakinan
Biasanya keyakinan diperoleh secara turun temurun dan

tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu. Keyakinan ini

dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang, baik keyakinan

itu bersifat positif maupun negatif.

f. Fasilitas
Fasilitas-fasilitas sebagai sumber informasi yang dapat

mempengaruhi pengetahuan seseorang, misalnya radio,

televisi, majalah, koran, dan buku.


g. Penghasilan
Penghasilan tidak berpengaruh langsung terhadap

pengetahuan individu. Apabila penghasilan individu cukup

besar maka individu tersebut akan mampu menyediakan atau

membeli fasilitas-fasilitas sumber informasi.


h. Sosial Budaya
Kebudayaan setempat dan kebiasaan dalam keluarga

dapat mempengaruhi pengetahuan, persepsi, dan sikap

seseorang terhadap sesuatu

23
2.1.6 Kriteria Tingkat Pengetahuan

Menurut Arikunto (2006) pengetahuan seseorang dapat diketahui

dan diinterprestasikan dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu :

a. Baik : Hasil presentase 76%-100%.

b. Cukup : Hasil presentase 56% - 75%.

c. Kurang : Hasil presentase >65%.

2.2 Konsep Keberhasilan Toilet Training

2.2.1 Pengertian Toilet Training

Toilet training adalah suatu usaha untuk buang air dan

menjadikan anak terlatih untuk buang air dan memiliki

kemampuan untuk pergi ke toilet sendiri, menanggalkan

celanannya dan mendekap kakinya dalam posisi jongkok,

membersihkan kotorannya dan menggunakan celananya kembali

(Nirwana, 2011).

Toilet training pada anak merupakan suatu usaha untuk

melatih agar anak mampu mengontrol dalam melakukan buang air

kecil dan buang air besar. Toilet training ini dapat berlangsung

pada fase kehidupan anak yaitu umur 18 bulan 2 tahun. Dalam

melakukan latihan buang air kecil dan besar pada anak

membutuhkan persiapan baik secara fisik, psikologis maupun

secara intelektual, melalui persiapan tersebut diharapkan anak

24
mampu mengontrol buang air besar atau kecil secara sendiri

(Hidayat, 2005).

Pada toilet training selain melatih anak dalam mengontrol

buang air besar dan kecil juga dapat bermanfaat dalam pendidikan

seks bebas saat anak melakukan kegiatan tersebut disitu anak akan

mempelajari anatomi tubuhnya sendiri serta fungsinya. Dalam

proses toilet training diharapkan terjadi pengaturan impuls atau

rangsangan dan instink anak dalam melakukan buang air besar

atau buang air kecil dan perlu diketahui bahwa buang air besar

merupakan suatu alat pemuasan untuk melepaskan ketegangan

dengan latihan anak diharapkan dapat melakukan usaha

penundaan pemuasan (Hidayat, 2005).

2.2.2 Tujuan Toilet Training

Menurut Warta Warga (2009) toilet training dapat

menimbulkan kemampuan anak dalam mengontrol miksi dan

defekasi. Seorang anak yang telah berhasil menjalani toilet

training akan memiliki kemampuan menggunakan toilet pada saat

ingin BAB atau BAK. Ada dua tujuan orang tua harus mengajari

anaknya melakukan toilet training (warta warga, 2009).

Pertama, toilet training dapat menjadi awal terbentuknya

kemandirian anak secara nyata karena anak sudah bisa

25
untuk melakukan hal hal yang kecil, seperti buang air kecil dan

buang air besar.

Kedua, toilet training membuat anak dapat mengetahui

bagian bagian tubuh serta fungsinya (anatomi) tubuhnya.

Dalam proses toilet training terjadi pergantian impius atau

rangsangan dan insting anak dalam melakukan buang air kecil

dan buang air besar.

2.2.3 Prinsip Toilet Training

Menurut Deslidel (2011), prinsip yang harus dimiliki pada

toilet training adalah sebagai berikut :

a. Jangan berharap terlalu banyak

b. Jangan memarahai, menghukum atau mempermalukan anak

c. Jangan menghentikan minumnya

d. Jangan menggunakan cara yang tidak alami untuk mencapai

tujuan

e. Jangan mengomel terus

f. Jangan memaksa

g. Jangan jadikan masalah toilet sebagai isu moral. Tidak ada

soal baik atau buruk dalam hal toilet, hanya siap dan tidak

siap

26
h. Jangan mendiskusikan kemajuan atau kemunduran di

hadapan anak

i. Jangan merasa bersalah, atau tersinggung atas proses yang

lambat

j. Jangan menjadikan kamar mandi sebagai area peperangan

k. Jangan berputus asa

Menurut Supartini (2004), pada prinsipnya ada 3

langkah dalam toilet training yaitu melihat kesiapan anak,

persiapan dan perencanaan serta toilet training itu sendiri.

Beberapa hal yang harus diketahui yang berhubungan dengan

toilet training, yaitu :

a. Toilet training merupakan latihan yang menentukan kerjasama

b. Toilet training merupakan ketrampilan yang bersifat kompleks

c. Kesiapan otot bladder dan bowel dibutuhkan dalam

pengontrolan BAB/BAK

d. Sifat orang tua dari anak sangat menentukan dalam

keberhasilan toilet training

e. Paksaan dari orang tua tidak selamanya akan membuat anak

lebih patuh

2.2.4 Tanda anak sudah siap untuk melakukan toilet training

1. Memperlihatkan ekpresi fisik misalnya wajah meringis, merah

atau jongkok saat merasakan BAB dan BAK

27
2. Bisa memakai dan melepas celana sendiri

3. Anak berhasil bangun tidur tanpa mengompol

4. Anak mengetahui saat merasa ingin BAK dan BAB dengan

menggunakan kata-kata pup

5. Sudah mampu memberitahu bila celana atau popok sekali

pakainya sudah basah dan kotor

6. Bila ingin BAK dan BAB anak memberi tahu dengan cara

memegang alat kelamin atau minta kekamar mandi

7. Tidak mengompol dalam waktu beberapa jam sehari minimal

3-4 jam

8. Bisa memakai dan melepas celana sendiri

9. Minta diajari menggunakan toilet

10. Mampu jongkok lima sampai sepuluh menit tanpa berdiri dulu

11. Tertarik dengan kebiasaan masuk kamar mandi seperti

kebiasaan orang sekitarnya

Menurut Joseph Joseph G. Barone dalam penelitian

hasil jurnalnya mengatakan bawha pelatihan toilet training

bagi anak-anak harus di sebelum usia memasuki 32 bulan

untuk mengurangi risiko inkontinensia urin, apabila

pelatihantoilet training setelah usia 32 bulan dapat

meningkatkan risiko inkontinensia mendesak.

2.2.5 Faktor-faktor yang mendukung Toilet Training pada anak

28
Ada beberapa kesiapan anak yang perlu dikaji baik

kesiapan fisiologis maupun kesiapan psikologis sebelum anak

memulai toilet training (Wong, 2008). Adapun kesiapan yang perlu

dikaji adalah sebagai berikut :

a. Kesiapan fisik

1) Kontrol volunter sfingter anal dan uretral, biasanya pada

usia 18 sampai 24 bulan.

2) Mampu tidak mengompol selama 2 jam, jumlah popok yang

basah berkurang, tidak mengompol selama tidur siang.

3) BAB teratur.

4) Keterampilan motorik kasar yaitu duduk, berjalan, dan

berjongkok.

5) Keterampilan motorik halus yaitu membuka pakaian.

b. Kesiapan Mental

1) Mengenali urgensi BAB atau BAK.

2) Keterampilan komunikasi verbal atau nonverbal

untuk menunjukkan saat basah atau memiliki urgensi BAB

atau BAK.

3) Keterampilan kognitif untuk menirukan perilaku yang tepat

dan mengikuti perintah.

c. Kesiapan Psikologis

1) Mengekspresikan keinginan untuk menyenangkan orang

tua.

29
2) Mampu duduk di toilet selama 5 sampai 10 menit tanpa

bergoyang atau terjatuh.

3) Keingintahuan mengenai kebiasaan toilet orang dewasa

atau kakak.

4) Ketidaksabaran akibat popok yang kotor oleh feses

atau basah, ingin untuk segera diganti.

d. Kesiapan Orang tua

1) Mengenali tingkat kesiapan anak.

2) Berkeinginan untuk meluangkan waktu untuk toilet

training.

3) Ketiadaan stress atau perubahan keluarga, seperti

perceraian, pindah rumah, sibling baru, atau akan

bepergian.

2.2.5 Teknik Mengajarkan Toilet Training

Berikut ini beberapa teknik yang dapat dilakukan oleh

orang tua dalam melatih anak buang air kecil dan buang air

besar setelah orang tua mengetahui tanda-tanda kesiapan anak

melakukan toilet training yaitu :

a. Teknik Lisan

30
Teknik lisan merupakan usaha untuk melatih anak

dengan cara memberikan instruksi pada anak dengan

kata-kata sebelum atau sesudah buang air kecil dan besar.

Teknik lisan ini mempunyai nilai yang cukup besar dalam

memberikan rangsangan untuk buang air kecil atau buang

air besar, dimana dengan lisan ini persiapan psikologis

pada anak akan semakin matang dan akhirnya anak

mampu dengan baik dalam melaksanakan buang air

kecil dan buang air besar (Hidayat, 2008).

b. Teknik Modelling

Teknik modelling merupakan usaha melatih anak dalam

melakukan buang air kecil atau buang air besar dengan

memberikan contoh, seperti menggunakan boneka

(Hidayat, 2008 dan Warner, 2006). Teknik ini memiliki

kekurangan yakni apabila contoh yang diberikan salah

sehingga akan dapat diperlihatkan pada anak akhirnya anak

juga mempunyai kebiasaan yang salah (Hidayat,

2008). Untuk itu, berikanlah contoh yang benar pada

anak.

c. Teknik pemilihan tempat duduk untuk eliminasi, misalnya

1. Tempat duduk berlubang (potty chair) dan/atau

penggunaan toilet. Tempat duduk berlubang untuk

31
eliminasi yang tidak ditopang oleh benda lain

memungkinkan anak merasa aman (Stark, 1994

dalam Wong, 2008).


2. Tempat duduk portable yang diletakkan di atas toilet

biasa, yang memudahkan transisi dari kursi

berlubang untuk eliminasi ke toilet biasa dan

menempatkan bangku panjang yang kecil di bawah

kaki untuk membantu menstabilkan posisi anak

(Wong, 2008).
3. Menempatkan kursi berlubang untuk eliminasi di

kamar mandi dan membiarkan anak mengamati

ekskresinya ketika dibilas ke dalam toilet untuk

menghubungkan aktivitas ini dengan praktik yang

biasa (Wong, 2008).

d. Teknik yang lain adalah :

1) Menghadapkan anak ke tangki toilet memberi

dukungan tambahan. Anak lelaki biasa memulai

toilet training dalam posisi berdiri atau duduk di

kursi berlubang untuk eliminasi di toilet. Anak

meniru perilaku ayahnya dalam BAK selama masa

prasekolah merupakan dorongan motivasi yang

sangat kuat bagi anak untuk melakukan toilet

training (Wong, 2008).

32
2) Melakukan observasi pada saat anak merasakan

BAK dan BAB.

3) Ajak anak ke kamar mandi.

4) Ingatkan pada anak bila akan melakukan BAK dan

BAB.

5) Dudukkan anak di atas pispot atau orang tua

duduk atau jongkok dihadapannya sambil

mengajak bicara atau bercerita.

6) Berikan pujian jika anak berhasil, namun

apabila gagal jangan disalahkan dan dimarahi.

7) Biasakan akan pergi ke toilet pada jam-jam

tertentu.

8) Beri anak celana yang mudah dilepas dan

dipasangkan kembali (Hidayat, 2008).

Sesi latihan ini harus dibatasi 5 sampai 10 menit,

orang tua harus menunggu anaknya dalam melakukan

toilet training dan kebiasaan sanitasi harus dilakukan

setiap kali selesai eliminasi (Wong, 2008). Teknik-teknik

di atas merupakan bentuk nyata dari perilaku orang tua

dalam melatih anak buang air kecil maupun buang air

besar secara mandiri di toilet atau kamar mandi.

33
2.2.6 Latihan Mengontrol Berkemih dan Defekasi

Orang tua harus mengajarkan bagaimana cara melatih anak

untuk mengontrol rasa ingin berkemih, diantara pot kecil yang

bisa diduduki anak apabila ada atau langsung ke toilet, pada jam

tertentu secara regular. Misalnya, setiap dua jam anak dibawa ke

toilet untuk berkemih. Anak didudukan pada toilet atau pot yang

bisa diduduki dengancara menampakan kaki dengan kuat pada

lantaui sehingga dapat membantunya untuk berkemih. Latihan

untuk merangsang rasa untuk berkemih ini dapat di lakukan

selama 5 sampai 10 menit. Selama latihan, orang tua harus

mengawasi anak dan kenakan pakaian anak yang mudah di buka

(Supartini, 2010).

2.2.7 Faktor - Faktor yang mempengaruhi keberhasilan


Dalam Toilet Training
Ada dua faktor dalam keberhasilan toilet training pada anak,

yaitu factor determinan anak dan faktor determinan ibu (Hidayat,

2005). Faktor determinan dari ibu dalam keberhasilan toilet

training adalah sebagai berikut (Hidayat, 2005):

a) Pendidikan ibu
Tingkat pendidikan turut menentukan mudah tidaknya

seseorang menyerap dan memahami pengetahuan yang mereka

peroleh. Tingkat pendidikan berpengaruh pada pengetahuan ibu

34
tentang penerapan toilet training. Apabila tingkat pendidikan

ibu rendah akan berpengaruh pada pengetahuan tentang

penerapan toilet training sehingga berpengaruh juga pada cara

melatih anak untuk melakukan toilet training.


b) Pekerjaan ibu
Status pekerjaan ibu mempunyai hubungan yang

bermakna dengan penerapan toilet training secara dini pada

anak usia toddler, di mana pekerjaan ibu dapat menyita

waktu ibu untuk melatih anak melakukan toilet training

secara dini sehingga akan berdampak pada terlambatnya anak

untuk mandiri melakukan toilet training.


c) Pola asuh atau kualitas kasih saying Kasih sayang dan

perhatian ibu yang dimiliki mempengaruhi kualitas dalam

penerapan toilet training secara dini. Ibu yang perhatian akan

memantau perkembangan anaknya lebih cermat sehingga

akan berpengaruh dalam melatih anak usia toddler melakukan

toilet training secara dini. Dengan dukungan dan perhatian ibu

maka anak akan lebih berani atau termotivasi untuk mencoba

karena mendapatkan perhatian dan bimbingan.


d) Tingkat pengetahuan
Pengetahuan yang dimiliki ibu pada dasarnya dapat

berpengaruh pada cepat atau lambatnya ibu melakukan

penerapan toilet training. Ibu yang memiliki pengetahuan

yang baik tentang toilet training akan berdampak pada

cepatnya ibu melatih toilet training secara dini pada anak usia

toddler, yaitu anak dapat mandiri melakukan toilet training.

35
e) Lingkungan
Lingkungan akan mempengaruhi terhadap pembentukan

dan perkembangan perilaku seseorang. Ibu akan

memperhatikan lingkungan sekitar apakah anak seusianya

sudah dilatih toilet training atau belum, misalnya seorang

anak yang berumur 1 tahun belum dilatih ibu untuk melakukan

toilet training maka yang lain akan meniru karena

menganggap hal ini wajar dan belum saatnya dilatih.

Hal ini akan menjadi suatu hambatan di mana anak

usia 1 tahun sudah harus dilakukan penerapan toilet

training secara dini agar tidak merepotkan apabila sedang

bersosialisasi atau bermain dengan teman sebaya.


Menurut penelitian Thi Hoa Duong dkk, yang

berjudu l Vietnamese mothers experiences with potty training

procedure for children from birth to 2 years of age hasil dari

penelitian ini mengatakan bahwa memulai pelatihan toilet

training dengan hasil yang baik di awal kehidupan di butuhkan

komunikasi orang tua dan anak secara baik, selain komunikasi

dukungan orang tua dan selalu diingatkan dapat mempengaruhi

keberhasilan toilet training pada anak.

2.2.8 Hal yang perlu Diperhatikan Selama Toilet Training

36
Menurut Hidayat (2008) dalam melakukan pengkajian

kebutuhan buang air kecil dan besar, terdapat beberapa hal-hal

yang perlu diperhatikan selama toilet training, diantaranya :

a. Hindari pemakaian popok sekali pakai atau diaper dimana anak

akan merasa aman.

b. Ajari anak mengucapkan kata-kata yang berhubungan dengan

buang air besar, misalnya pup dan buang air kecil, misalnya

pipis.

c. Mendorong anak melakukan rutinitas ke kamar mandi seperti

cuci muka saat bangun tidur, cuci tangan, cuci kaki dan lain-lain.

d. Jangan marah bila anak gagal dalam melakukan toilet training.

. 2.2.8 Keberhasilan Toilet Training

Keberhasilan toilet training adalah kemampuan psikologis,

kemampuan fisik dan kemampuan kognitifnya dalam melakukan

toilet training. Kemampuan psikologi anak mampu melakukan toilet

training sebagai berikut, anak mampu kooperatif, anak memiliki

waktu kering periodenya antara 3-4 jam. Kemampuan fisik dalam

melakukan toilet training yaitu anak dapat duduk atau jongkok

tenang kurang lebih 2-5 menit, anak dapat berjalan dengan baik, anak

sudah dapat menaikkan dan menurunkan celananya sendiri, anak

37
merasakan tidak nyaman bila mengenakan popok sekali pakai yang

basah atau kotor, akan menunjukkan keinginan dan perhatian

terhadap kebiasaan ke kamar mandi. Kemampuan kognitif anak bila

anak sudah mampu melakukan toilet training seperti dapat mengikuti

dan menuruti instruksi sederhana, memiliki bahasa seperti pipis

untuk buang air kecil dan buang air besar, serta anak mengerti reaksi

tubuhnya bila ingin buang air kecil maupun buang air besar dan

dapat memberitahukannya bila ingin buang air (Warner, 2007).

Keberhasilan menguasai tugas-tugas perkembangan (mulai

belajar mengontrol buang air besar dan buang air kecil) pada toodler

memerlukan bimbingan dari orang tua. Keberhasilan toilet training

dapat dicapai apabila anak mampu mengenali keinginan untuk buang

air besar atau buang air kecil, kemampuan fisik anak untuk

mengontrol spinkter anal dan uretral akan dicapai pada usia anak 18-

24 bulan (Whaley & Wong, 2009).

Menurut Gilbert (2003), tanda-tanda anak berhasil melakukan

toilet trining adalah :

a. Tidak mengompol beberapa jam sehari, minimal 3 jam 4 jam

b. Anak berhasil bangun tidur tanpa mengompol sedikitpun

c. Tahu waktu untuk buang air kecil dan buang air besar dengan

mengunakan kata pipis atau pus serta BAB dan BAK

menjadi teratur

38
d. Sudah mampu memberi bila celana atau popok sekali

pakainya sudah kotor ataupun basah

e. Bisa memegang alat kelamin atau minta ke kamar kecil

sebagai alarm bahwa keinginan BAK atu BAB memanggil.

Toilet training dikatakan terlambat apabila :

a. Anak terlambat memberi tahu bila merasa membuang air kecil atau

buang air besar.

b. Anak terlambat mengatakan pada ibu bila buang air kecil atau

buang air besar.

c. Anak terlambat mampu menahan buang air kecil atau buang air besar.

d. Anak ngompol terus atau buang air besar dicelana.

Menurut penelitian T. Berry Brazelton, dan MD; Edward R.

Christophersen dkk, mengatakan bahwa anak perempuan

Cenderung lebih cepat untuk menyelesaikan pelatihan toilet training

dibandingkan anak laki-laki karena anak laki-laki Anak perempuan

lebih dipengaruhi oleh sosialisasi, sedangkan anak laki-laki lebih

bergantung pada pematangan fisiologis.

2.2.9 Dampak Keberhasilan Toilet Training

39
Seorang anak yang berhasil melakukan toilet training

memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut :

a. Anak memiliki kemampuan mengontrol BAK dan BAB.

b. Anak memiliki kemampuan menggunakan toilet pada saat ingin

BAK atau BAB.

c. Toilet training menjadi awal terbentuknya kemandirian anak secara

nyata sebab anak sudah bisa melakukan sendiri hal-hal seperti

BAB atau BAK.

d. Toilet training membuat anak dapat mengetahui bagian-bagian

tubuh serta fungsinya (Warga, 2007).

2.2.10 Dampak Kegagalan Toilet Training

Kegagalan dalam melakukan toilet training ini memiliki

dampak yang kurang baik pada anak seperti anak akan terganggu

kepribadiannya, misalnya anak cenderung bersifat retentive

dimana anak cenderung bersikap keras kepala bahkan kikir. Sikap

tersebut dapat disebabkan oleh sikap orang tua yang sering

memarahi anak pada saat buang air besar atau buang air kecil

atau melarang anak saat bepergian. Apabila orang tua santai

dalam memberikan aturan dalam toilet training maka anak akan

dapat mengalami kepribadian eksprensif dimana anak

lebih tega, cenderung ceroboh, suka membuat gara-gara,

emosional dan seenaknya dalam melakukan kegiatan sehari-hari

40
(Hidayat, 2008). Kegagalan toilet training pun akan

menyebabkan anak mengalami enuresis atau mengompol

(Aziz, 2006)

2.3 Konsep Pertumbuhan dan Perkembangan

Anak Usia Prasekolah

Pertumbuhan didefinisikan sebagai bertambahnya

ukuran fisik dan struktur tubuh seseorang karena bertambahnya

jumlah dan besarnya sel secara kuantitatif, seperti pertambahan

ukuran berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala.

Perkembangan didefinisikan sebagai pertambahan kematangan

fungsi dari masing-masing tubuh dan bersifat kualitatif, seperti

kemampuan anak untuk tengkurap, duduk, berjalan, berbicara,

memungut benda-benda di sekelilingnya, serta kematangan emosi

dan sosial anak (Nursalam, 2008). Menurut Wong (2008)

Perkembangan diartikan sebagai perubahan dan perluasan secara

bertahap, perkembangan tahap kompleksitas dari yang lebih rendah

ke yang lebih tinggi, peningkatan dan perluasan kapasitas

seseorang melalui pertumbuhan, maturasi dan pembelajaran.


Anak usia prasekolah termasuk dalam masa kanak-kanak

awal yang terdiri dari anak usia 3 sampai 6 tahun (Wong, 2008).

Perkembangan pada masa ini sangat penting, dimana masa ini

merupakan masa emas atau golden a ge. Berdasarkan

41
beberapa teori pertumbuhan dan perkembangan anak maka

pertumbuhan dan perkembangan anak usia prasekolah meliputi :


a. Pertumbuhan Fisik
Secara umum anak usia prasekolah yang sehat adalah

anak yang ramping, periang dan cekatan serta memiliki sikap

tubuh yang baik. Pertambahan tinggi pada usia ini rata-rata

adalah 6,25-7,5 cm pertahun misalnya, rata-rata anak usia 4

tahun adalah 101,25 cm. Pertambahan berat badan rata-rata

adalah 2,3 kg per tahun, misalnya berat badan rata-rata anak

usia 4 tahun adalah 16,8 kg (Muscari, 2005)


Volume berkemih pada usia ini rata-rata 500 sampai

1000 mL/hari. Anak usia prasekolah sudah mulai terlatih

untuk toileting dan sudah mampu melakukan toilet

training dengan mandiri pada akhir periode prasekolah.

Beberapa anak mungkin masih mengompol di celana dan

sebagian besar lupa untuk mencuci tangannya untuk

membilas (Muscari, 2005 dan Supartini, 2004).


Seorang anak tidak dapat mengontrol buang air kecilnya

secara total sampai dia berusia 4 atau 5 tahun. Anak laki-laki

umumnya lebih lambat mengontrol buang air kecil daripada

anak perempuan. Pengontrolan berkemih di siang hari lebih

mudah dicapai daripada pengontrolan berkemih di malam

hari dan terjadi lebih dini pada proses perkembangan anak,

biasanya pada usia 2 tahun (Potter & Perry, 2005).


Anak dalam fase usia ini seharusnya sudah mampu

mengenali penuhnya kandung kemih mereka, menahan urin

42
selama 1 sampai 2 jam dan mengomunikasikan keinginannya

untuk berkemih kepada orang dewasa. Anak kecil

memerlukan pengertian, kesabaran dan konsistensi orang

tuanya (Potter & Perry, 2005).

a. Perkembangan Motorik

Perkembangan motorik dibagi menjadi 2 jenis,

yaitu motorik kasar dan motorik halus. Keterampilan

motorik kasar anak usia prasekolah bertambah baik,

misalnya anak sudah dapat melompat dengan satu kaki,

melompat dan berlari lebih lancar serta dapat

mengembangkan kemampuan olahraga seperti meluncur

dan berenang (Muscari, 2005).

Perkembangan motorik halus menunjukkan

perkembangan utama yang ditunjukkan dengan

meningkatnya kemampuan menggambar, misalnya pada

usia 3 tahun, anak dapat membangun menara dengan 9

atau 10 balok, membuat jembatan dari 3 balok,

meniru bentuk lingkaran, dan menggambar tanda

silang (Muscari, 2005).

Fase usia ini anak tetap beresiko pada cedera

meskipun tidak terlalu rentan seperti anak toddler, namun

orang tua dan orang dewasa lainnya harus tetap

43
menekankan tindakan keamanan. Anak usia prasekolah

ini mendengarkan orang dewasa, mampu memahami serta

memperhatikan tindakan pencegahan karena anak usia

ini merupakan pengamat yang cerma dan meniru orang

ain sehingga orang dewasa perlu melakukan apa yang

mereka ajarkan tentang masalah keamanan (Muscari,

2005)

b. Perkembangan Kognitif

Perkembangan kognitif (berpikir) sudah mulai

menunjukkan perkembangan. Anak sudah mempersiapkan

diri untuk memasuki sekolah, tampak sekali kemampuan

anak belum mampu menilai sesuatu berdasarkan apa

yang mereka lihat. Anak membutuhan pengalaman belajar

dengan lingkungan dan orang tuanya (Hidayat, 2007).

Berdasarkan teori Kognitif Piaget (1969 dalam

Muscari, 2005) menyatakan bahwa pada usia ini

anak memasuki tahap berpikir praoperasional karena

tahapan ini dimulai dari usia 2 tahun sampai 7 tahun.

Tahapan ini memiliki dua fase yakni prakonseptual dan

intuitif, yaitu :

a. Fase prakonseptual (usia 2-4 tahun) yakni anak

membentuk konsep yang kurang lengkap dan logis

44
dibandingkan dengan konsep orang dewasa. Anak

membuat klasifikasi yang sederhana, menghubungkan

satu kejadian dengan kejadian yang simultan

(penalaran transduktif misalnya semua wanita yang

berperut besar pasti hamil) dan anak menampilkan

pemikiran egosentrik. Wong (2008) menyatakan

bahwa egosentrisme merupakan ciri yang menonjol

pada tahap ini dalam perkembangan intelektual, hal ini

bukan berarti egois atau berpusat pada diri sendiri,

tetapi ketidakmampuan untuk menempatkan diri di

tempat orang lain. Selain itu, pada usia ini pemikiran

mereka didominasi oleh apa yang mereka lihat,

dengar, atau alami.

b. Fase intuitif (usia 4-7 tahun) yakni anak mulai

menunjukkan proses berpikir intuitif (anak menyadari

bahwa sesuatu adalah benar, tetapi tidak dapat

mengatakan/mengetahui alasan untuk melakukannya),

mampu membuat klasifikasi, menjumlahkan,

menghubungkan objek- objek, dan mampu

menginterpretasikan objek dan peristiwa dari segi

hubungan mereka atau penggunaan mereka terhadap

objek tersebut serta mulai menggunakan banyak kata

yang sesuai, tetapi kurang memahami makna

45
sebenarnya, misalnya anak usia 3 tahun rata-rata telah

mengucapkan 900 kata, berbicara kalimat dengan tiga

atau empat kata, dan berbicara terus menerus

(Muscari, 2005 dan Wong, 2008).

2.3.4 Perkembangan Psikoseksual


Freud (1905 dalam Wong, 2008) menyatakan bahwa

anak usia prasekolah termasuk ke dalam tahap falik dimana

kepuasan anak berpusat pada genitalia dan masturbasi

sehingga genitalia menjadi area tubuh yang menarik dan

sensitif. Anak mulai mempelajari adanya perbedaan jenis

kelamin perempuan dan laki-laki dengan mengetahui adanya

perbedaan alat kelamin. Anak sering meniru ibu atau

bapaknya untuk memahami identitas gender, misalnya

dengan menggunakan pakaian ayah dan ibunya (Supartini,

2004).
Banyak anak yang melakukan masturbasi pada usia ini

untuk kesenangan fisiologis dan membentuk hubungan yang

kuat dengan orang tua lain jenis, tetapi mengidentifikasi

orang tua sejenis. Anak usia prasekolah merupakan pengawas

yang cermat tetapi kemampuan interpretasinya buruk

sehingga anak dapat mengenali tetapi tidak dapat memahami

aktivitas seksual. Apabila anak menanyakan tentang seks

maka orang tua harus menjawab pertanyaan mengenai

46
seks dengan sederhana dan jujur, hanya memberikan

informasi yang anak tanyakan dan penjelasan lebih

rincinya dapat diberikan nanti serta sebelum menjawab

pertanyaan anak, orang tua harus mengklarifikasi kembali

apa yang sebenarnya ditanyakan dan dipikirkan anak tentang

subjek spesifik (Muscari, 2005).


Anak usia prasekolah ini mengalami fase yang ditandai

dengan kecemburuan dan persaingan terhadap orang tua

sejenis dan cinta terhadap orang tua lain jenis, yang

disebut sebagai konflik Odipus. Tahap ini biasanya

berakhir pada akhir periode usia prasekolah dengan

identifikasi kuat pada orang tua sejenis (Freud, 1905 dalam

Muscari, 2005).

2.3.5 Perkembangan Psikososial

Berdasarkan teori Psikososial Erikson (1963 dalam

Muscari, 2005) menyatakan bahwa krisis yang dihadapi anak

usia antara 3 dan 6 tahun disebut inisiatif versus rasa

bersalah yakni anak berupaya menguasa perasaan inisiatif

dengan dukungan orang tua dalam imajinasi dan aktivitas

karena orang terdekat anak usia prasekolah adalah

keluarga. Wong (2008) menyatakan bahwa tahap inisiatif ini

berkaitan dengan tahap falik Freud dan dicirikan dengan

perilaku yang instrusif dan penuh semangat, berani berupaya,

47
dan imajinasi yang kuat. Anak-anak mengeksplorasi dunia

fisik dengan semua indera dan kekuatan mereka. Mereka

membentuk suara hati dan tidak lagi hanya dibimbing oleh

pihak luar, terdapat suara dari dalam yang memperingatkan

dan mengancam.

Perkembangan inisiatif ini diperoleh dengan cara

mengkaji lingkungan melalui kemampuan inderanya. Anak

mengembangkan keinginan dengan cara eksplorasi terhadap

apa yang ada disekelilingnya. Hasil akhir yang diperoleh

adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu

sebagai prestasi, arahan dan tujuan (Supartini, 2004 dan

Wong, 2008).

Perasaan bersalah akan timbul pada anak apabila anak

tidak mampu berprestasi sehingga merasa tidak puas atas

perkembangan yang tidak tercapai (Supartini, 2004).

Perasaan bersalah pun muncul ketika orang tua membuat

anak merasa bahwa imajinasi dan aktivitasnya tidak

dapat diterima. Ansietas dan ketakutan terjadi ketika

pemikiran dan aktivitas anak tidak sesuai dengan harapan

orang tua (Muscari, 2005).


Hubungan anak dengan orang lain semakin meluas

pada masa ini. Anak tidak saja menjalin hubungan dengan

orang tua, tetapi juga dengan kakek-nenek, saudara kandung,

48
dan guru-guru di sekolah. Anak perlu melakukan interaksi

yang teratur dengan teman sebaya untuk membantu

mengembangkan keterampilan sosial (Muscari, 2005).

2.3.6 Perkembangan Moral


Perkembangan moral anak usia prasekolah sudah

menunjukkan adanya rasa inisiatif, konsep diri yang positif

serta mampu mengidentifikasi identitas dirinya (Hidayat,

2007). Supartini (2004) menjelaskan bahwa anak usia ini

secara psikologis mulai berkembang superego, yaitu anak

mulai berkurang sifat egosentrisnya (Supartini, 2004).

Kohlberg (1968 dalam Wong, 2008) menyatakan

bahwa usia ini termasuk ke dalam tahap prakonvensional,

yakni anak-anak mengintegrasikan label baik/buruk dan

benar/salah yang terorientasi secara budaya dalam

konsekuensi fisik atau konsekuensi menyenangkan dari

tindakan mereka.
Awalnya anak-anak menetapkan baik atau buruknya

suatu tindakan dari konsekuensi tindakan tersebut. Mereka

menghindari hukuman dan mematuhi tanpa mempertanyakan

siapa yang berkuasa untuk menentukan bahwa perilaku

yang benar terdiri atas sesuatu yang memuaskan

kebutuhan mereka sendiri (dan terkadang kebutuhan orang

lain). Unsur- unsur keadilan, memberi dan menerima serta

pembagian yang adil juga terlihat pada tahap ini, namun hal

49
tersebut diinterpretasikan dengan cara yang sangat praktis

dan konkret tanpa kesetiaan, rasa terima kasih, atau keadilan

(Wong, 2008).
Perasaan bersalah muncul pada tahap ini dan

penekanannya adalah pada pengendalian eksternal. Standar

moral anak usia ini adalah apa yang ada pada orang lain, dan

anak mengamati mereka untuk menghindari hukuman atau

mendapatkan penghargaan (Muscari, 2005).

2.3.7 Penelitian Terkait


Berikut ini beberapa penelitian terkait yang dapat

mendukung penelitian ini, yakni :

1. Joseph G. Barone (2009) yang meneliti tantang Later


toilet training is associated with urge
incontinence in children Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui untuk mengetahui apakah kemudian
pelatihan toilet dikaitkan dengan inkontinensia urin pada
anak-anak dengan menggunakan desain studi case
control sample 157 kontrol dan 58 kasus, Hasil
penelitian ini menyatakan bahwa Bagi anak-anak yang
menunjukkan tanda-tanda kesiapan toilet, pelatihan harus
dimulai sebelum usia 32 bulan untuk mengurangi risiko
inkontinensia urin

2. Subagyo, Sulasih, A dan Widajati, S (2008) yang

meneliti tentang hubungan antara motivasi stimulasi

toilet training oleh ibu dengan keberhasilan toilet

50
training pada anak prasekolah. Penelitian ini bertujuan

untuk mengetahui hubungan antara motivasi stimulasi

toilet training oleh ibu dengan keberhasilan toilet

training, dengan menggunakan desain penelitian analitik

yang bersifat cross sectional. Teknik sampling yang

digunakan adalah Simple Random Sampling dengan 32

responden (orang tua) di TK Pertiwi dan RA Desa

Plosoharjo Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk. Hasil

penelitian ini menyatakan ada hubungan antara motivasi

stimulasi toilet training oleh ibu dengan keberhasilan

toilet training pada anak prasekolah, dimana p 0,05 dan

84,4% menunjukkan motivasi stimulasi toilet training

oleh ibu adalah baik. Perbedaan penelitian ini dengan

penelitian yang akan dilakukan terletak pada variabel

independen yang diteliti, teknik sampling yang

digunakan dan lokasi penelitian. Pada penelitian yang

akan dilakukan, variabel independen yang diteliti adalah

pengetahuan dan perilaku ibu dalam menerapkan toilet

training, dimana perilaku terbentuk karena adanya

motivasi dari dalam diri seseorang dan pengetahuan

merupakan domain yang sangat penting untuk

membentuk perilaku terbuka karena perilaku yang

dipengaruhi oleh pengetahuan akan bersifat langgeng.

51
Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling.

Lokasi penelitian akan dilaksanakan di RW 02

Kelurahan Babakan Kota Tangerang.


3. Kurniawati dkk (2007) yang meneliti tentang kejadian

Enuresis (Mengompol) berdasarkan faktor psikologis

& keturunan pada anak usia prasekolah (4-5 Tahun).

Penelitian ini dilakukan di TK Sekar Ratih Krembangan

Jaya Selatan Surabaya dan merupakan jenis penelitian

deskritif dengan desain cross sectional dan teknik

sampling yakni purposive sampling. Penelitian ini

hanya meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi

enuresis yakni keturunan dan psikologis. Hasil

penelitian ini menunjukkan bahwa 52% anak usia

prasekolah masih mengalami enuresis. Perbedaan

penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan

terletak pada variabel independen yang diteliti, jenis

penelitian, teknik sampling yang digunakan, lokasi

penelitian dan responden yang diteliti. Penelitian yang

akan dilakukan merupakan jenis penelitian kuantitatif-

analitik, dimana variabel independen yang diteliti adalah

pengetahuan dan perilaku ibu dalam menerapkan toilet

training dengan menggunakan teknik total sampling.

Lokasi penelitian akan dilaksanakan di RW 02

Kelurahan Babakan Kota Tangerang dengan responden

52
yakni ibu yang memiliki anak usia prasekolah (3-6

tahun) yang tidak mengalami gangguan sistem

perkemihan. Penelitian ini menjadi data dasar penelitian

yang akan dilakukan dalam mengetahui besarnya

anak usia prasekolah yang masih mengalami enuresis.


4. Hidayat, I.H (2010) yang meneliti tentang gambaran

pengetahuan ibu tentang toilet training pada anak usia

prasekolah/TK. Penelitian ini merupakan jenis penelitian

deskriptif dengan desain penelitian cross sectional

dengan tujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan

ibu tentang toilet training pada anak usia prasekolah.

Sampel pada penelitian ini sebanyak 58 responden di TK

Al-Azhar Medan dengan teknik total sampling. Hasil

penelitian ini menunjukkan bahwa gambaran

pengetahuan ibu tentang toilet training pada anak

usia prasekolah di TK Al-Azhar Medan adalah baik

(60,3%). Penelitian ini hanya melihat gambaran

pengetahuan ibu tentang Toilet Training. Perbedaan

penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan

terletak pada jenis penelitian, variabel independen yang

diteliti dan lokasi penelitian. Penelitian yang akan

dilakukan merupakan jenis penelitian kuantitatif-analitik,

dimana variabel independen yang diteliti adalah

pengetahuan dan perilaku ibu dalam menerapkan toilet

53
training. Lokasi penelitian akan dilaksanakan di RW 02

Kelurahan Babakan Kota Tangerang.


5. Soetjiningsih & Windiani (2008) yang meneliti

tentang prevalensi dan faktor risiko enuresis pada anak

taman kanak-kanak. Penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui prevalensi dan faktor risiko enuresis pada

anak TK di wilayah Kotamadya Denpasar dengan

menggunakan teknik observasional potong lintang

dan subjek penelitian dipilih secara purposive

random sampling sehingga sampel yang diperoleh

sebanyak 326 anak. Hasil penenlitian ini diperoleh

bahwa prevalensi enuresis pada anak TK sebanyak 36

(10,9%), terdiri dari 21 (58,3%) perempuan dan laki-laki

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan

dilakukan terletak pada teknik sampling yang digunakan,

variabel independen yang diteliti dan lokasi penelitian.

Penelitian yang akan dilakukan menggunakan teknik

total sampling, variabel independen yang diteliti adalah

pengetahuan dan perilaku ibu dalam menerapkan toilet

training serta lokasi penelitian akan dilaksanakan di RW

02 Kelurahan Babakan Kota Tangerang dengan

responden yakni ibu yang memiliki anak usia prasekolah

(3-6 tahun) yang tidak mengalami gangguan sistem

perkemihan.

54
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

55
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

deskritif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Metode deskritif

korelasi adalah Penelitian yang diarahkan untuk menjelaskan hubungan

antara dua variabel bebas dengan variabel terikat (Notoatmodjo, 2008).

Sedangkan yang dimaksud dengan penelitian cross sectional adalah jenis

penelitian yang menekankan waktu pengukuran / observasi data variabel

indevenden dan variabel dependen hanya satu kali pada satu saat (Nursalam,

2008).

Studi cross sectional merupakan suatu bentuk studi observasional (non

ekperimental) yang paling sering dilakukan. Dalam arti kata luas, studi cross

sectional mencangkup semau jenis penelitian yang pengukuran variabel-

variabel dilakukan hanya satu kali pada suatu saat (Sudigdo, 2011). Penelitian

ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang

toilet training dengan keberhasilan toilet training pada anak usia prasekolah (

5-6 tahun) di RW 12 Kelurahan Cipadung Kidul Kota Bandung

3.2 Paradigma Penelitian

Paradigma penelitian merupakan suatu pandangan atau model, atau pola

pikir yang dapat menjabarkan berbagai variabel yang alan diteliti, kemudian

membuat hubungan anatara satu variabel denga variabel lain sehingga

penelitian mudah dirumuskan, pemilihan teori yang relevan perumusan

hipotesis yang akan diajukan, metode penelitian, intrumen penelitian, teknik

yang akan digunakan serta kesimpulan yang diharapkan.

56
Toilet training merupakan cara untuk melatih anak agar dapat bisa

mengontrol BAK dan BAB. Hal ini penting dilakukan untuk melatih

kemandirian anak dan sebagai stimulasi untuk perkembangan lainnya. Toilet

training dilakukan untuk menanamkan kebiasaan baik pada anak, terutama

mengeanai kebersihan diri.

Notoatmodjo (2010) memaparkan bahwa faktor yang paling dominan

dalam paktor predisposisi adalah pengetahuan. Oleh karena itu dengan

semakin tinggi pengetahuan ibu anak usia prasekolah maka kesadaran ibu

untuk melakukan toilet training akan semakin tinggi. Sebaliknya jika

pengetahuan ibu rendah maka akan semakin rendah pula kesadaran ibu untuk

melakukan toilet training.

Selain pengetahuan, masih banyak faktor lain yang dapat menunjang

keberhasilan toilet training diantaranya adalah faktor, kepercayaan, sikap,

nilai-nilai dan pola asuh tetapi penulis tidak akan meneliti faktor tersebut

pada penelitian ini peneliti akan membatasi penelitian hanya pada paktor

predisposisi yaitu pengetahuan.

Berdasarkan tujuan penelitian dan tinjauan pustaka, maka kerangka konsep

penelitian ini dapat dilihat pada bagan berikut :

57
Bagan 3.1

Kerangka pemikiran

Hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang toilet training dengan

keberhasilan toilet training pada anak usia prasekolah (5-6 tahun) di RW

12 Kelurahan Cipadung Kidul Kecamatan panyileukan Kota Bandung

Variabel independen Variabel dependen

Faktor predisposisi

1. Tingkat Pengetahuan

2. Pola asuh
3. Tingkat pendidikan
\4. Kepercayaan
Keberhasilan toilet
5. Peran orang tua
6. Lingkungan training Pada anak
7. Social budaya
prasekolah

Keterangan : : Yang di teliti

: Tidak di teliti

Sumber : Modifikasi yang di kutif dari Notoatmodjo, 2010

3.3 Hipotesis Penelitian

58
Untuk memberikan tolak ukur dalam penelitian, maka perlu adanya suatu

hipotesis yang menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Dalam

penelitian ini, penulis merumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :

Ho : Tidak ada hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang toilet training

dengan keberhasilan toilet training pada anak usia prasekolah (5-6

tahun) di RW 12 Kelurahan Cipadung Kecamatan panyileukan Kidul

Kota Bandung

Ha : Ada hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang toilet training dengan

keberhasilan toilet training pada anak usia prasekolah (5-6 tahun) di

RW 12 Kelurahan Cipadung Kidul Kecamatan panyileukan Kota

Bandung

3.4 Variabel Penelitian

Variabel penelitian merupakan suatu yang digunakan sebagai ciri, sifat,

dan ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh suatu penelitian tentang suatu

konsep pengetian tertentu (Notoatmodjo, 2005). Menurut Sugiyono (2009),

jenis variabel penelitian yang sering digunakan yaitu : Pada penelitian ini

menggunakan dua variabel yaitu :

1. Variabel Independen (bebas)

Variabel bebas merupakan variabel yang menjadi sebab timbulnya atau

berubahnya variabel dependen (terikat), sehingga variabel independen

dapat dikatakan sebagai variabel yang mempengaruhi. (Setiawan dan

59
Saryono, 2011). Variabel Independen dalam penelitian ini adalah

pengetahuan.

2. Variabel Dependen (terikat)

Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi

akibat, karena adanya variabel independen (bebas) (Setiawan dan

Saryono, 2011). Variabel Dependen dalam penelitian ini adalah

Keberhasilan toilet training pada anak usia prasekolah 5-6 tahun

3.5 Definisi Konseptual dan Definisi Operasional


3.5.1 Definisi Konseptual

1. Pengetahuan merupakan hasil dari apa yang diketahui seseorang

dan ini terjadi setelah orang tersebut melakukan pengindraan

terhadap objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan

dominan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan

seseorang, sebagian pengetahuan manusia diperoleh melaui mata

dan telinga (Notoatmodjo, 2010).

2. Toilet training dapat menjadi awal terbentuknya kemandirian anak

secara nyata, sebab anak sudah bisa untuk melakukan hal-hal yang

kecil seperti buang air keci dan buang air besar (Harunyahya,

2007). Selain menjadi awal terbentuknya kemandirian toilet

training juga dapat membuat anak mengetahui anatomi tubuh dana

fungsi karena dalam proses toilet training terjadi pergantian impuls

60
atau rangsangan dan instink anak dalam melakukan buang aiar

kecil dan besar (Simatupang, 2011)

3.5.2 Definisi Operasional


Tabel. 2.1
Definisi Operasional
Definisi Skala
Variabel Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Ukur
Operasional

Variabel Segala sesuatu Angket Kuesioner yang a. Baik : Hasil Nominal


Independen: yang di ketahui terdiri 30 pertayaan presentase 76%-100%.
Pengetahuan klien tentang toilet b. Cukup : Hasil
klien training yang presentase 56% - 75%.
didapatkan melaui c. Kurang : Hasil
pendidikan atau presentase >65%.
Arikunto (2006)
melaui
pengalaman
pribadi

Variabel Kemampuan anak Diukur Membagikan Hasil dikategorikan Ordinal


Dependen: usia prasekolah 3- mengunak kuesioner kepada meliputi :
Keberhasilan 6 tahun dalam an responden kemudian
toilet training mengontrol dan kuesioner dilakukan skoring 1. Berhasil mean
Pada anak mengenali tanda- yang kuesioner pada 2. Belum Berhasil
usia tanda ketika terdiri dari pertanyaan positif mean
prasekolah dirinya hendak 15 jika menjawab
BAB dan BAK pertanyaa selalu : 4
n tentang Sering : 3
keberhasil Kadang-kadang: 2
an toilet Tidak pernah : 1
training Pertayaan negatif jika
menawab :
Selalu : 1
Sering : 2
kadang-kadang : 3
tidak pernah : 4

61
3.6 Populasi dan Sampel
3.6.1 Populasi
Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas

subyek atau obyek dengan kualitas dan karakteristik tertentu yang

diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik

kesimpulan (Setiawan dan Saryono, 2011).


Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh

ibu yang memiliki anak usia prasekolah 5-6 tahun di RW 12

Kelurahan Cipadung Kidul wilayah Puskesmas Panyileukan

Kecamatan Panyileukan Kota Bandung, dengan jumlah populasi

sebanyak 41 anak usia prasekolah 5-6 tahun.


3.6.2 Sampel
Menurut Hidayat (2010), sampel adalah bagian populasi

yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang

dimiliki oleh populasi. Menurut Notoatmodjo (2010), tehnik

sampling merupakan suatu proses seleksi yang digunakan dalam

penelitian dari populasi yang ada, sehingga jumlah sampel

mewakili keseluruhan populasi yang ada.


Penelitian ini memiliki dua kriteria sampel yakni kriteria

inklusi dan eklusi. Sampel pada penelitian adalah sampel yang

memenuhi kriteria inklusi sebagai berikut :

a. Inklusi
1. Responden berdomisili di RW 01 Kelurahan Cipadung

Kidul Kecamatan Panyileukan Kota Bandung 2017


2. Responden yang memiliki anak usia pasekolah (3-6 tahun)
3. Responden bisa baca tulis
4. Responden bersedia ikut serta dalam penelitian
b. Eksklusi

62
1. Responden tidak memiliki anak usia prasekolah (3-6

tahun)
2. Responden tidak bersedia diikutsertakan dalam penelitian

ini
3. Responden yang tidak bisa baca tulis

Metode pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian

ini adalah teknik Total Sampling yaitu mengambil sampel dengan

cara mengambil semua anggota populasi menjadi sampel

( Hidayat, 2008). Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang

mempunyai anak usia prasekolah pada anak usia prasekolah (5-6

tahun) di RW 12 Kelurahan Cipadung Kidul Kecamatan

Panyileukan Kota Bandung 2017.

Kuesioner diisi oleh responden, setelah diisi, kuesioner

dikembalikan kepada peneliti. Kuesioner merupakan alat ukur

berupa kuesioner dengan beberapa daftar peryataan (Hidayat

2007).

3.7 Pengumpulan Data

3.7.1 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan

kepada subjek dan proses pengumpulan karakteristik

subjek yang diperlukan dalam penelitian (Nursalam,

2008). Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan

63
dengan menggunakan kuesioner. Pengumpulan data

dilaksanakan di RW 12 Kelurahan cipadung kidul Kota

bandung. Adapun tahapan pengumpulan data yang

dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut :

1. Mengajukan surat permohonan izin untuk melakukan penelitian

kepada Kelurahan Cipadung Kidul Kota Bandung, RW dan RT

setempat.
2. Setelah mendapatkan izin dari pihak berwenang setempat,

peneliti melakukan pendataan untuk pengambilan sampel. Data

diperoleh dari posyandu Mawar dan data setiap RT di RW 12

Kelurahan Kelurahan Cipadung Kidul Kota Bandung untuk

data anak usia 5-6 tahun dan melakukan pendataan kembali

untuk memperoleh data anak usia 5-6 tahun secara door to

door.
3. Setelah mendapatkan data anak usia prasekolah (5-6 tahun),

peneliti melakukan skrining sesuai dengan kriteria inklusi dan

eksklusi penelitian dengan menyebarkan kuesioner skrining

sehingga jumlah responden yang sesuai sebanyak 41

responden.
4. Meminta bantuan kepada kader dan ibu RT setempat dalam

penyebaran kuesioner dan memberikan penjelasan tentang

tujuan penelitian, manfaat penelitian dan tata cara pengisian

kuesioner kepada kader dan ibu RT setempat untuk

menyamakan persepsi sehingga tidak menimbulkan bias bagi

responden dalam mengisi kuesioner.

64
5. Memberikan penjelasan tentang tujuan penelitian, manfaat

penelitian, dan menjamin kerahasiaan jawaban yang diberikan

dalam kuesioner kepada calon responden dari sampel yang

telah terpilih tersebut.


6. Memberikan lembar persetujuan (informed consent) untuk

ditandatangani oleh calon responden, apabila calon

responden bersedia menjadi responden.


7. Memberikan penjelasan tentang cara pengisian kuesioner.
8. Memberikan kesempatan kepada responden untuk bertanya

tentang hal-hal yang tidak dipahami dan tidak jelas di dalam

kuesioner.
9. Memberikan kesempatan kepada responden untuk

mengisi kuesioner sekitar 10-15 menit.


10. Setelah kuesioner terisi, responden menyerahkan

kuesioner kepada peneliti.


11. Peneliti mengecek kembali isian jawaban apakah sudah

lengkap atau belum. Jika belum lengkap, maka peneliti

meminta responden untuk melengkapi jawabannya, namun

apabila sudah lengkap maka kuesioner dikumpulkan kepada

peneliti.
12. Peneliti mengelompokkan data yang sudah terkumpul

sesuai dengan variabel penelitian.

3.7.2 Instrumen Penelitian


Instrument penelitian adalah suatu alat atau fasilitas yang

digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar

pekerjaanya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih

65
cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah (

Arikunto, 2006).
Intument yang digunakan dalam pengumpulan data, peneliti

menggunakan daftar kuisioner tentang tingkat pengetahuan dan

keberhasilan toilet training, yang diisi oleh ibu yang memiliki anak

usia prasekolah di RW 12 Kelurahan Kipadung Kidul Kota

Bandung.
Kuesioner dalam penelitian ini terdiri dari tiga bagian yaitu,

Kuesioner A digunakan untuk mengetahui karakteristik responden,

Kuesioner B untuk menilai tingkat pengetahuan ibu tentang toilet

training yang terdiri dari 25 pertanyaan. Kuesioner C digunkan

untuk menilai keberhasilan toilet training pada responden yang

terdiri dari 15 pertanyaan.

Berikut adalah gambaran atau penjelasan dari

ketiga bagian kuesioner penelitian ini :

1. Kuesioner A ( kuesioner data demografi )

Kuesioner ini untuk mengetahui karakteristik

responden yang terdiri dari 2 pertanyaan yakni :

a. Identitas responden (Ibu yang memiliki anak usia

prasekolah) meliputi umur, pendidikan terakhir,

pekerjaan ibu dan status hubungan ibu dengan anak.


b. Identitas anak usia prasekolah meliputi tanggal

lahir, umur, jenis kelamin anak dan 2 pertanyaan

skrining untuk mengetahui anak mengalami

66
gangguan sistem perkemihan atau tidak, seperti di

bawah ini :
1) Apakah anak ibu sedang menderita penyakit

saluran kemih seperti kelainan ginjal atau infeksi

pada alat kelaminnya saat ini?


2. Apakah anak ibu sedang menjalankan

pengobatan terhadap penyakitnya tersebut saat

ini ?

2. Kuesioner B (Kuesioner pengetahuan ibu tentang toilet training)


Kuesioner ini menggunakan skala Guttman, dimana skala ini
menginginkan tipe jawaban tegas seperti jawaban benar-salah, ya-tidak,
pernah-tidak pernah, positif-negatif, tinggi-rendah, baik-buruk, dan
seterusnya (Djaali dan Muljono, 2007). Penelitian ini menggunakan tipe
jawaban benar-salah untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan ibu
tentang toilet training.
Kuesioner dibuat dalam bentuk pertanyaan berjumlah 30
pernyataan. Apabila jawaban responden benar diberi skor 1 dan apabila
jawaban responden salah diberi skor 0 sehingga skor maksimum adalah
30 dan skor minimum adalah 0.
c. Kuesioner C (Keberhasilan toilet training)
Kuesioner ini menggunakan skala Likert dengan 2 bentuk pertanyaan
yakni pertanyaan positif dan pertanyaan negatif (Djaali dan
Muljono, 2007). Skala Likert digunakan untuk mengetahui keberhasilan
ibu dalam menerapkan toilet training. Kuesioner dibuat dalam bentuk
daftar checklist dan terdiri dari 15 pertanyaan dengan skor maksimum
60 dan skor minimum adalah 15. Pertanyaan positif terdiri dari 10
pertanyaan seperti
nomor 1,3,5,6,7,8,9,11,13,15 dengan nilai :

1 = Tidak pernah
2 = Kadang kadang
3 = Sering

67
4 = Selalu
Pertanyaan negatif terdiri dari 5 pertanyaan seperti nomor 2,4,10,12 dan
14 dengan nilai
1 = Selalu
2 = Sering
3 = Kadang kadang
4 = Tidak Pernah
Adapun kategori keberhasialan toilet training ibu dalam
menerapkan toilet training dibagi menjadi dua kategori yakni berhasil
atau belum berhasil, Pengkategorian keberhasilan menggunakan nilai
mean dalam menentukan kategori tersebut dikarenakan data
keberhasilan berdistribusi normal sehingga nilai mean keberhasilan ibu
dalam menerapkan toilet training adalah 44, maka dapat disimpulkan
bahwa :
a. Berhasil apabila jawaban lebih , mean dan
b. Belum berhasil, apabila jawaban responden kuang dari mean

3.8 Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen

3.8.1 Uji Validitas

1. Uji Validitas Tingkat Pengetahuan

Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur

itu benar- benar mengukur apa yang diukur (Notoatmodjo, 2010).

Arikunto (2010) mengatakan bahwa sebuah instrumen dikatakan

valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat

mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat,

Untuk mengetahui apakah kuesioner yang kita susun

tersebut mampu mengukur apa yang hendak kita ukur, maka perlu

diuji dengan korelasi antara skor tiap-tiap item (pertayaan ) dengan

skor total kuesioner.

Teknik korelasi yang di pakai adalah teknik korelasi


pearson product moment dengan rumus :

68
XY
Y
X



N

Y


2}
{N N 2 ( 2 } {N Y 2

N
r xy =

Keterangan :
r xy : indeks-indeks dua variabel yang dikorelasikan

x : skor rata-rata dari X

Y : skor rat-rata dari Y

Kemudian hasil diuji menggunakan uji t dan dilihat penafsiran dari

indeks korelasinya (Hidayat, 2008). Rumus uji t sebagai berikut :


Keterangan :
t = Nilai thitung
r = Koefisien korelasi hasil rhitung
n = Jumlah responden

3. Uji Validitas keberhasilan toilet training


Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur

itu benar- benar mengukur apa yang diukur (Notoatmodjo,

2010). Arikunto (2010) mengatakan bahwa sebuah instrumen

dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan

dan dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara

tepat,

69
Untuk mengetahui apakah kuesioner yang kita susun

tersebut mampu mengukur apa yang hendak kita ukur, maka

perlu diuji dengan korelasi antara skor tiap-tiap item

(pertayaan ) dengan skor total kuesioner.


Teknik korelasi yang di pakai adalah teknik korelasi pearson

product moment dengan rumus :


XY
Y
X



N

Y


2}
{N N 2 ( 2 } {N Y 2

N
r xy=

Keterangan :
r xy : indeks-indeks dua variabel yang dikorelasikan
x : skor rata-rata dari X

Y : skor rat-rata dari Y

Kemudian hasil diuji menggunakan uji t dan dilihat penafsiran

dari indeks korelasinya (Hidayat, 2008). Rumus uji t sebagai

berikut :
Keterangan :
t = Nilai thitung

r = Koefisien korelasi hasil rhitung

n = Jumlah responden

70
3.8 Uji Reliabilitas
1. Uji Reabilitas tingkat pengetahuan

Reliabilitas adalah suatu indeks yang menunjukkan sejauh

mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan

sehingga bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih

terhadap gejala yang sama dengan alat ukur yang sama maka

hasil pengukuran itu tetap konsisten (Notoatmodjo, 2010).

Reabilitas menunjukan sejauh mana tingkat konsistensi

pengukuran dari suatu responden ke responden yang lain dengan

kata lain sejauh mana pertanyaan dapat dipahami sehingga tidak

menyebabkan beda interpretasi dalam pemahaman pertanyaan

terssebut. Uji reabilitas dilakukan di RW..kelurahan. kota

Bnadung.
Suatu intrumen dikatakan reliabel dan berhasil mengukur

variabel yang kita ukur, jika koefisisen reabilitasnya lebih dari

atau sama dengan 0,444 (Anwar, 2003)


Untuk Mengukur Reliabilitas secara statistic digunakan rumus

Teknik uji reliabilitas ini menggunakan rumus Alpha Cronbach

( ), dimana r hasil adalah alpha. Apabila r alpha > r tabel maka

dikatakan reliabel, sebaliknya bila r alpha < r tabel maka

dikatakan tidak reliabel (Hidayat, 2008).


1 2 j
= [ ] k
k 1
[ s
2
s x
]
Keterangan ;
K : Banyaknya item pertanyaan
s 2 j : Varian skor setiap item
2
s x : Varian skor total

71
2. Uji Reabilitas keberhasilan toilet training

Reliabilitas adalah suatu indeks yang menunjukkan sejauh mana

suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan sehingga

bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala

yang sama dengan alat ukur yang sama maka hasil pengukuran itu

tetap konsisten (Notoatmodjo, 2010). Reabilitas menunjukan sejauh

mana tingkat konsistensi pengukuran dari suatu responden ke

responden yang lain dengan kata lain sejauh mana pertanyaan dapat

dipahami sehingga tidak menyebabkan beda interpretasi dalam

pemahaman pertanyaan terssebut. Uji reabilitas dilakukan di

RW..kelurahan. kota Bnadung.


Suatu intrumen dikatakan reliabel dan berhasil mengukur variabel

yang kita ukur, jika koefisisen reabilitasnya lebih dari atau sama

dengan 0,444 (Anwar, 2003)


Untuk Mengukur Reliabilitas secara statistic digunakan rumus :
Teknik uji reliabilitas ini menggunakan rumus Alpha Cronbach
( ), dimana r hasil adalah alpha. Apabila r alpha > r tabel maka

dikatakan reliabel, sebaliknya bila r alpha < r tabel maka dikatakan

tidak reliabel (Hidayat, 2008).


1 2 j
= [ ]k
k 1
[ s
2
s x
]
Keterangan ;
K : Banyaknya item pertanyaan
2
s j : Varian skor setiap item
2
s x : Varian skor total

3.9. Langkah-langkah penelitian


3.9.1 Tahap persiapan

1. Memilih lahan penelitian


2. Melakukan pendekatan ke tempat penelitian

72
3. Melakukan studi pendahuluan untuk menentuka masalah

penelitian
4. Studi keputakaan
5. Menyusun proposal penelitian menyusun instrument dan

perbaikan instrument
6. Seminar proposal penelitian
3.9.2 Tahap pelaksanaan
1. Melaksanakan uji coba instrument
2. Pentebaran angket
3. Pengecekan kelengkapan angket
4. Pengolahan data
5. Pembahasan hasil penelitian
3.9.3 Tahap Akhir
1. Penyusunan laporan penelitian
2. Penyajian hasil penelitian

3.10. Pengolahan Data dan Analisa data


A. Pengelolaan Data
Untuk memperoleh penyajian data sebagai hasil yang

berarti dan kesimpulan data yang baik di perlukan pengolahan data

( Notoatmodjo, 2010). Pengolahan dengan menggunakan tahapan

sebagai berikut :
Penelitian ini menggunakan program Statistical Package for

Social Science (SPSS) dalam proses pengolahan datanya. Adapun

langkah-langkah dalam pengolahan data dengan komputer adalah

sebagai berikut :
a. Editing
Editing adalah kegiatan untuk pengecekan atau

perbaikan isian formulir atau kuesioner. Editing

(penyuntingan) dilakukan setelah penyebaran kuesioner untuk

melihat apakah jawaban sudah lengkap atau belum.

b. Coding

73
Mengkode data merupakan kegiatan klarifikasi data dan

memberi kode untuk masing-masig kelas dan tujuan untuk

mempermudah entri data.


c. Data entry atau Processing
Data entry adalah kegiatan memasukkan data (jawaban-

jawaban dari masing-masing responden yang dalam bentuk

kode (angka atau huruf) ke dalam program SPSS.

1. Tabulating
Data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan

pengisisan kuesioner kemudian diolah dan untuk

mempermudah pemahaman pada hasil pengolahan data, data

disajikan dalam bentuk rtabel atau tulisan

d. Cleaning
Cleaning adalah kegiatan mengecek kembali untuk melihat

kemungkinan-kemungkinan adanya kesalahan-

kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan sebagainya, yang

kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi. Cara yang

dilakukan dalam proses ini adalah membuat distribusi frekuensi

masing-masing variabel untuk mengetahui adanya data yang

hilang (missing) dan mendeteksi apakah data yang dimasukkan

benar atau salah.

3.9.2 Analisis Data


Analisis data merupakan bagian yang snagt penting untuk

mencapai tujuan, dimana tujuan pokok penelitian adalah menjawab

74
pertanyaan pertanyaan penelitian dalam mengungkap fenomena

(Nursalam, 2003 )

1. Analisa Univariat

Analisis univariat merupakan analisis tiap variabel yang

dinyatakan dengan menggambarkan dan meringkas data dengan

cara ilmiah dalam bentuk tabel atau grafik (Setiadi, 2007). Anlisis

ini bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik

setiap variabel penelitian (Notoatmodjo, 2010).


Analisa dilakukan pervariabel penelitian. Variabel yang

dimaksud adakah variabel independen : tingkat pengetahuan dan

variabel dependen keberhasilan toilet training


Adapun data yang dianalisis menggunakan analisa univariat

adalah tingkat pengetahuan ibu tentang toilet training dan

keberhasilan toilet training. Yang selanjutnya data ditabulasi,

diinterpretasi kemudian diproses secara stastistic dengan

menggunakan rumus :
x
= x 100
n
Keterangan :
P : Presentase
N : Jumlah total
X : jumlah skor yang benar
(Arikunto, 2006)
Selanjutnya dibuat distribusi frekuensi dan presentase dari

tingkat pengetahuan dan keberhasilan toilet training.


Table 3.2
Interpretasi Data

Skala pengukuran Interpretasi

0% Tidak satupun responden

75
1 %-25% Sebagian kecil responden
26%-49% Hampir sebagian dari responden
50% Setengah / sebagian dari responden
51%-75% lebih dari sebagian responden
76%-75% Sebagian besar responden
100% Seluruh responden
Sumber : Arikunto 2010

2. Analisa Bivariat

Analisa bivariat merupakan analisa untuk mengetahui

interaksi dua variabel baik komparatif, asosiatif, maupun

korelasi ( Saryono, 2008). Analisa bivariat dilakukan terhadap

dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi

( Notoatmojo, 2005). Dalam analisis ini dapat dilakukan

pengujian statistik untuk mengetahui ada tidaknya hubungan

penegtahuan ibu tentang toilet training dengan keberhasilan

toilet training pada anak prasekolah. Statistik yang digunakan

untuk menguji hipotesis dengan menggunakan


uji chi square atau x 2 yang dapat digunakan untuk

mengevaluasi frekuensi yang diteliti, apakah terdapat hubungan

atau perbedaan yang signifikan atau bermakna antara variabel

terikat dan variabel bebas.

a. Mencari Frekuensi harapan (fe) pada tiap sel dengan

rumus
FK F B



f e =

76
Keterangan :
F f e : Frekuensi yang di harapkan
f K : Jumlah frekuensi pada kolom
f b : jumlah frekuensi pada baris
t : jumlah keseluruhan jumlah kolom
b. Mencari nilai chi kuardrat hitung dengan rumus :

x 2=
(f kf )
b

fc
c. Mencari nilai X2 tabel denga rumus :

dk =(k 1)(b 1)
Keterangan :
k = Banyak kolom
b = Banyak garis
d. Membandingkan x 2 hitung dengan x
2

Hasil akhir uji statistic adalah untuk mengetahui apakah

keputusan uji HO ditolak atau diterima. Digunakan tingkat

kepercayaan 95 %. Ketentuan pengujian dengan Chi Square adalah

jika p value alpa (0,05 ) maka ada hubungan yang signifikan ,

tetapi bila p value alpa (0,05) maka tidak ada hubungan yang

signifikan.

3.1.1. Etika Penelitian


Dalam penelitian menjunjung tinggi prinsip etika penelitian

sebagaimana dikemukakan oleh Hidayat (2009) dengan isi sebagai

berikut :

1. Informed consent

Informed consent merupakan cara persetujuan antara

peneliti dengan responden penelitian dengan memberikan

lembar persetujuan ( Informed consent ). Inf ormed consent

tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan

77
memberikan lembar persetujuan menjadi responden. Tujuan

Informed consent adalah agar subjek mengerti maksud dan

tujuan penelitian serta mengetahui hal- hal yang akan terjadi.

Jika subjek bersedia menjadi responden maka mereka harus

menandatangani lembar persetujuan, dan jika subjek tidak

bersedia, maka peneliti harus menghormati hak calon

responden.

2. Anonymity (Tanpa Nama)

Anonymity merupakan masalah etika dalam penelitian

keperawatan dengan cara tidak memberikan nama responden

pada lembar alat ukur hanya menuliskan kode pada lembar

pengumpulan data.

3. Condidentiality (Kerahasiaan)

Condidentiality merupakan masalah etika dengan

menjamin kerahasian dari hasil penelitian baik informasi

maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah

dikumpulkan dijamin kerahasiannya oleh peneliti, hanya

kelompok data yang akan dilaporkan pada hasil.

3.1.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

a. Lokasi penelitian

Penelitian dilaksanakan di RW 12 Kelurahan cipadung

Kidul Kota Bandung

b. Waktu Penelitian

78
Pengumpulan data ini di mulai dari pengajuan proposal yaitu pada

bulan September 2017 samapi dengan juni 2017

79