Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan Akad Istishna?
2. Apa saja jenis akad Istishna ?
3. Apa dasar syariah akad Istishna?
4. Bagaimana perlakuan akuntansi dalam akuntansi akad salam ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian akad Istishna
2. Untuk mengetahui jenis jenis akad istishna
3. Untuk Mengetahui dasar dasar syariah akad Istishna
4. Untuk Mengetahui perlakuan akuntansi dalam akuntansi akad salam baik
akuntansi untuk penjual ataupun akuntansi untuk pembeli.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Akad Salam
Akad istishna adalahakad jual beli dalam bentuk pemesananan pembuatan
barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang di sepakati
antara pemesan dan penjual.
Dalam PSAK 104 par 8 di jelaskan kriteria barang pesananan yang harus
di penuhi yaitu memerlukan proses pembuatan setelah akad di sepakati,
sesuai dengan spesifikasi pemesan (customized), bukan produk massal dan
harus di ketahui karakteristiknya secara umum yang meliputi jenis, spesifikasi
teknis, kualitas dan kuantitasnya.
Dalam akad istishna pembeli mempunyai hak memeperoleh jaminan dari
penjual atas jumlah yang di bayarkan, penyerahan barang pesanan sesuai
dengan spesifikasi dan tepat waktu. Ketika melakukan akad maka spesifikasi
aset yang di pesan harus jelas, harga pun harus di sepakati, sehingga selama
masa akad harga tidak dapat berubah walaupun biaya produksi meningkat.
Namun harga dapat berubah hanya di mungkinkan apabila spesifikasi atas
barang yang di pesan berubah. Saat akad di sepakati hal tersebut akan
mengikat para pihak yang bersepakat kecuali, kedua belah pihak setuju untuk
menghentikannya atau akad batal demi hukum karena timbul kondisi hukum
yang dapat menghalangi pelaksanaan atau penyelesaian akad. Akad berakhir
apanbila kewajiban kedua belah pihak telah terpenuhi atau kedua belah pihak
bersepakat untuk menghentikan akad.
2.2 Jenis Akad Salam
Ada dua jenis dari akad Istishna :
1) Istishna
Istishna adalah akd jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang
tertentu dengan criteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara
pemesan (pembeli/mustashni) dan penjual (pembuat,shani).
2) Istishna paralel
Salam paralel adalah suatu bentuk akad istishna antara penjual dan pemesan,
diamana untuk memenuhi kewajibannya kepada pemesan, penjualan
melakukan akad istishna dengan pihak lain (subkontraktor) yang dapat
memenuhi asset yang dipesan pemesan. Syaratnya akad istishna pertama
(antara penjualn dan pemesan) tidak bergantung pada istishna kedua (antara
penjual dan pemasok) selain itu, akad antara pemesan dengan penjual dan
akad antara penjualan dan pemesan harus terpisah dan penjual tidak boleh
mengakui adanya keuntungan selama konstruksi..
2.3 Dasar Syariah
2.3.1 Sumber Hukum Akad Istishna
Amr bin Auf berkata : perdamaian dapat di lakukan di antara
kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang
halal dan menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin
terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang
mengharapkan yang halal dan menghalalkan yang haram.
(HR Tirmidzi)
Abu Said al-Khudri berkata : tidak boleh membahayakan diri
sendiri maupun orang-orang lain.

1.3.2 Rukun Dan Ketentuan Akad Salam


Rukun salam ada tiga, yaitu:
1. Pelaku, terdiri atas pemesan (pembeli/mustaashni)
2. Objek akad berupa barang yang akan diserahkan dan modal
istishna ysng berbentuk harga.
3. Ijab Kabul/serah terima adalah pernyataan dan ekspresi saling
rida/rela diantara pihak-pihak pelaku akad yang dilakukan secara
verbal, tertulis, melalui korespondesi atau menggunakan cara-cara
komunikasi modern.
3. Berakhirnya Akad Salam
Kontrak istishna bisa berakhir kondisi-kondisi berikut.
1) Dipenuhinya kewajiban secara normal oleh kedua pihak
2) Persetujuan bersama kedua belah pihak untuk menghentikan
kontrak
3) Pembatalan hukum kontrak. Ini jika muncul sebab yang masuk
akal untuk mencegah dilaksanakannya kontrak atau
penyelesaian, dan masing-masing pihak bisa merantau
seperlunya.
2.4 Perlakuan Akuntansi
2.4.1 Akuntansi untuk penjual
Pengakuan untuk setiap asset tergantung dari akadnya. Jika
proposal, negosiasi dan biaya serta pendapatan asset dapat
diidentifikasi terpisah. Jika tidak, maka akan dianggap satu akad.
Jika ada tambahan dan nilainya signifikan atau dinegosiasikan
terpisah. Maka dianggap akad terpisah.
1) Biaya perolehan istishna terdiri atas biaya bahan baku, biaya
tidak langsung dan khusu ntuk istishna pararel: seluruh biaya
akibat produsen/kontraktor tidak dapat memenuhi kewajiban
jika panjang
2) Jika membeli melakukan pembayaran sebelum tanggal jatuh
tempo dan penjual memeberikan potonan, maka potongan
tersebut sebagai pengurang pendapatan istishna
3) Pengakuan pendapatan dapat diakui dengan 2 metode yaitu
metode persentase penilaian dan metode akad selesai;
4) Untuk metode persentase penyelesaian, pengakuan pendapatan
dilakukan sejumlah bagian nilai akad yang sebanding dengan
pekerjaan yang telah diselesaikan tersebut diakui sebagai
pendapatan istishna pada periode yang bersangkutan.
5) Untuk metode persentase penyelesaian, bagian margin
keuntungan istishn yang diakui selama periode pelaporan
ditambahkan kepada asset istishna dalam penyelesaian.
6) Untuk metode persentase penyelesaian, pada akhir periode
harga pokok istishn diakui sebesar biaya istishna yang telah
dikeluarkan sampai periode tersebut.
7) Untuk metode akad selesai tidak ada pengakuan pendapatan.
8) Jika besar kemungkinan terjadi bahwa total biaya perolehan
istishna akan melebihi pendapatan ishtisna maka taksiran
kerugian harus segera diakui.
9) Pada saat penagihan baik metode persentase penyelesaian atau
akad selesai.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Salam dapat didefinisikan sebagai transaksi atau akad jual beli dimana
barang yang diperjualbelikan belum ada ketika transaksi dilakukan, dan
pembeli melakukan pembayaran dimuka sedangkan penyerahan barang baru
dilakukan dikemudian hari. Akad salam sendiri terdiri dari dua jenis akad
yaitu akad salam dan akad salam pararel. Sementara untuk sumber hukum
akad salam berasal dari Al-Quran dan Hadist.
3.2 Saran
Diperlukan pemahaman yang lebih lagi dalam proses jual beli terutama
dari sisi akadnya. Tak hanya pertukaran antara barang dan barang/uang yang
dianggap penting, tetapi ternyata dalam jual beli (syariah) akad juga sama
pentingnya. Oleh karena itu diperlukan pemahaman yang lebih lagi mengenai
akad dalam jual beli agar transaksi-transaksi yang kita lakukan sesuai syariat
Islam.
DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA