Anda di halaman 1dari 75

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Keperwatan merupakan salah satu profesi yang mempunyai bidang garap pada
kesejahteraan manusia yaitu dengan memberikan bantuan kepada individu yang sehat
maupun yang sakit untuk menjalankan hidup sehari-harinya. Salah satu yang mengatur
hubungan perawat dan pasien adalah etika. Istilah etika dn moral sering digunakan
secara bergantian (Wulan, 2011).
Perawat merupakan salah satu profesi yang selalu berhubungan dan berinterkasi
langsung dengan klien, baik klien sebagai individu, keluarga, keompok dan masyarakat.
Oleh karena itu, perawat dalam memberikan asuhan keperawatan dituntut untuk
memahami dan berprilaku sesuai dengan etika keperawatan. Agar seorang perawat
dapat bertanggung jawab dan bertanggung gugat maka ia harus memegang teguh nilai-
nilai yang mendasari praktek keperawatan itu sendiri, yaitu perawat membantu klien
untuk mencapai tingkat kesehatan optimum, perawat membantu meningkatkan
autonomi klien mengekspresikan kebutuhannya. Perawat mendukung martabat
kemanusiaan dan berlaku sebagai advokat bagi kliennya, perawat menjaga kerahasiaan
klien, berorientasi pada akuntabilitas perawat dan perawat bekerja dalam lingkungan
yang kompeten, etik dan aman (Dalami, dkk, 2010).
Hubungan antara perawat dan pasien atau tim medis yang lain tidakla selalu bebas dari
masalah. Perawat profesional harus mengahdapi tanggung jawab etik dan konflik yang
mungkin mereka alami sebagai akibat dari hubungan mereka dalam praktek prefesional.
Kemajuan dalam bdang kedokteran, hak klien, perubahan sosial dan hukum telah
berperan dalam peningkatan perhatian terhadap etik. Standar perilaku perawat
ditetapkan dalam kode etik yang disusun oleh asosiasi keperawatan internasional,
nasional, dan negara bagian atau provinsi. Perawat harus mampu menerapkan prinsip
etik dalam pengambilan keputusan dan mencakup nilai dan keyakinan diri klien, profesi,
perawat, dan semua pihak yang terlihat (Ismani, 2001).
Dalam berjalannya proses semua semua profesi termasuk profesi keperawatan
didalamnya tidak lepas dari suatu permasalahan yang membutuhkan berbagai alternatif
jawaban yang belum tentu jaaban-jawaban tersbut bersifat memuaskan semua pihak.
Hal itulah yang sering dikatan dilema etik. Dalam dunia keperawatan sering kali dijumpai
banyak adanya kasus dilema etik sehigga seorang perawat harus benar-benar tahu
tentang etik dan dilema etik serta cara penyelesaian dilema etik supaya didapatkan
keputusan yang terbaik.

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan ini
adalah:
Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami konsep tentang etik dan dilema etik keperawatan.
Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu mengetahu dan memahami difinisi etika
Mahasiswa mampu mengetahu dan memahami prinsip-prinsip etik
Mahasiswa mampu mengetahu dan memahami dilema etik dan cara penyelesaiannya
Mahasiswa mampu mengetahu dan memahami contoh kasus dilema etik dan
penyelesaiannya.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

Pengertian Etik
Etik
Etik atau ethics berasal dari bahasa Yunani, yaitu etos yang artinya adat, kebiasaan,
perilaku atau karakter. Sedangkan dari kamus Webster etika adalah suatu ilmu yang
mempelajari tentang apa yang baik dan buruk secara moral. Jadi, etika adalah peraturan
atau norma yang dapat digunakan sebagai acuan bagi perilaku seseorang yang berkaitan
dengan tindakan yang baik dan buruk yang dilakukan oleh seseorang dan merupakan
suatu kewajiban dan tanggung jawab moral
Dari pengertian diatas, etika adalah ilmu tentang kesusilaan yang menentukan
bagaimana sepatutnya manusia hidup di dalam masyarakat yang menyangkut aturan-
aturan atau prinsip-prinsip yang menentukan tingkah laku yang benar, yaitu : baik dan
buruk serta kewajiban dan tanggung jawab (Ismani, 2001).
Etik berhubungan dengan bagaimana seseorang harus bertindak dan bagaimana mereka
melakukan hubungan dengan orang lain. Etiaka tidak hanya menggambarkan sesuatu,
tetapi lebih kepada perhatian dengan penetapan norma atau standar kehidupan
seseorang dan yang seharusnya dilakukan. Etik dititik beratkan pada pertanyaan atas apa
yang baik dan yang buruk, karakter, motif, atau tindakan yang benar dan salah (Potter
dan Perry, 2005).
Etik Keperawatan
Etika keperawatan adalah norma-norma yang dianut oleh perawat dalam bertingkah laku
dengan pasien, keluarga, kolega atau tenaga kesehatan lainnya di suatu pelayanan
keperawatan yang bersifat profesional. Perilaku etik akan dibentuk oleh nilai-nilai dari
pasien, perawat dan interaksi sosial dalam lingkungan.

Tipe-Tipe Etika
Bioetik
Bioetik merupakan studi filosofi yang mempelajari tentang kontroversi dalam etik,
menyangkut masalah biologi dan pengobatan. Lebih lanjut, bioetika difokuskan pada
pertanyaan etik yang muncul tentang hubungan antara ilmu kehidupan, bioteknologi,
pengobatan, politik, hukum, dan theology. Pada lingkup yang lebih sempit, bioetik
merupakan evaluasi etika pada moralitas treatment atau inovasi teknologi, dan waktu
pelaksanaan pengobatan pada manusia. Pada lingkup yang lebih luas, bioetik
mengevaluasi pada semua tindakan moral yang mungkin membantu atau bahkan
membahayakan kemampuan organisme terhadap perasaan takut dan nyeri, yang
meliputi semua tindakan yang berhubungan dengan pengobatan dan biologi. Isu dalam
bioetik antara lain : peningkatan mutu genetik, etika lingkungan, pemberian pelayanan
kesehatan.
Clinical Ethics/ Etik Klinik
Etik klinik merupakan bagian dari bioetik yang lebih memperhatikan pada masalah etik
selama pemberian pelayanan pada klien. Contoh clinical ethics : adanya persetujuan
atau penolakan, dan bagaimana seseorang sebaiknya merespon permintaan medis yang
kurang bermanfaat (sia-sia).
Nursing ethics/Etik Perawatan
Bagian dari bioetik, yang merupakan studi formal tentang isu etik dan dikembangkan
dalam tindakan keperawatan serta dianalisis untuk mendapatkan keputusan etik. Etika
keperawatan dapat diartikan sebagai filsafat yang mengarahkan tanggung jawab moral
yang mendasari pelaksanaan praktek keperawatan. Inti falsafah keperawatan adalah hak
dan martabat manusia, sedangkan fokus etika keperawatan adalah sifat manusia yang
unik (Dalami, 2010)

Teori Etik
Teor etik digunakan dalam pembuatan keputusan bila terjadi konflik antara prinsip dan
aturan Beberapa teori etik adalah sebagai berikut :

Teleologi
Teleologi (berasal dari bahasa Yunani, dari kata telos, berarti akhir), Istilah teleologi dan
utilitarinisme sering digunakan saling bergantian. Teleologi merupaka suatu doktrin yang
menjelaskan fenomena berdasarkan akibat yang dihasilkan atau konsekuensi yang dapat
terjadi. Pendekatan ini sering disebut dengan ungkapan The end justifies the means atau
makna dari suatu tindakan ditentukan dari hasil akhir yang terjadi. Contoh dari teori ini
adalah bayi yang lahir cacat lebih baik diizinkan meninggal daripada nantinya menjadi
beban masyarakat.
Deotologi
Deontologi (berasal dari bahasa Yunani, Deon berarti tugas) prinsip pada aksi atau
tindakan. Benar atau salah bukan ditentukan oleh hasil akhir atau konsekuensi dari suatu
tindakan, melainkan oleh nilai moralnya.dalam konteks ini, perhatian difokuskan pada
tindakan melakukan tanggung jawab moral yang dapat memberikan penentu apakah
tindakan tersebut secara moral benar atau salah. Contoh dari penerapan teori ini adalah:
seorang perawat yang yakin bahwa klien harus diberi tahu tentang sebenarnya terjadi
walaupun kenyataan tersebut sangat menyakitkan (Suhaemi, 2003).

Kerangka Dan Strategi Pembuatan Keputusan Etis.


Kemampuan membuat keputusan masalah etis merupakan salah satu persyaratan bagi
perawat untuk menjalankan praktek keperawatan professional dan dalam membuat
keputusan etis perlu memperhatikan beberapa nilai dan kepercayaan pribadi, kode etik
keperawatan, konsep moral perawatan dan prinsip-prinsip etis (Fry, 1989)

Gambar 1: Unsur-unsur utama yang terlibat dalam pembuatan keputusan dan tindakan
moral dalam praktik keperawatan (diadaptasi dari Fry, 1991, lih, Prihardjo, 1995)

Berbagai kerangka model pembuatan keputusan etis telah dirancang oleh banyak ahli
etika, di mana semua kerangka tersebut berupaya menjawab pertanyaan dasar tentang
etika, yang menurut Fry meliputi:
Hal apakah yang membuat tindakan benar adakah benar?
Jenis tindakan apakah yang benar?
Bagaimana aturan-aturan dapat diterapkan pada situasi tertentu?
Apakah yang harus dilakukan pada situasi tertentu?

Beberapa kerangka pembuatan keputusan etis keperawatan dikembangakan dengan


mengacu pada kerangka pembuatan keputusan etika medis. Beberapa kerangka disusun
berdasarkan posisi falsafah praktek keperawatan, sementara model-model lain
dikembangkan berdasarkan proses pemecahan masalah seperti diajarkan di pendidikan
keperawatan.

Prinsip-Prinsip Etik
Otonomi (Autonomy)
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis dan
mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap kompeten dan memiliki
kekuatan membuat sendiri, memilih dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang
harus dihargai oleh orang lain. Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan
individu yang menuntut pembedaan diri. Praktek profesional merefleksikan otonomi saat
perawat menghargai hak-hak klien dalam membuat keputusan tentang perawatan
dirinya.
Berbuat baik (Beneficience)
Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan, memerlukan
pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan atau kejahatan dan
peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain. Terkadang, dalam situasi pelayanan
kesehatan, terjadi konflik antara prinsip ini dengan otonomi
Keadilan (Justice)
Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap orang lain yang
menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan dalam
prkatek profesional ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum,
standar praktek dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan
kesehatan.
Tidak merugikan (Nonmaleficience)
Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis selama perawat
memberikan asuhan keperawatan pada klien dan keluarga.
Kejujuran (Veracity)
Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini diperlukan oleh pemberi
pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien dan untuk
meyakinkan bahwa klien sangat mengerti. Prinsip veracity berhubungan dengan
kemampuan seseorang untuk mengatakan kebenaran. Informasi harus ada agar menjadi
akurat, komprensensif, dan objektif untuk memfasilitasi pemahaman dan penerimaan
materi yang ada, dan mengatakan yang sebenarnya kepada klien tentang segala sesuatu
yang berhubungan dengan keadaan dirinya selama menjalani perawatan.
Menepati janji (Fidelity)
Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komitmennya terhadap
orang lain. Perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta menyimpan
rahasia klien. Ketaatan, kesetiaan, adalah kewajiban seseorang perawat untuk
mempertahankan komitmen yang dibuatnya kepada pasien.
Karahasiaan (Confidentiality)
Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus dijaga privasinya.
Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan kesehatan klien hanya boleh
dibaca dalam rangka pengobatan klien. Tidak ada seorangpun dapat memperoleh
informasi tersebut kecuali jika diijinkan oleh klien dengan bukti persetujuan.
Akuntabilitas (Accountabiliy)
Akuntabilitas merupakn tandar yang pasti bahwa tindakan seorang profesional dapat
dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau tanpa terkecuali (Dalami, 2010).

Kode Etik Keperawatan


Kode etik adalah suatu tatanan tentang prinsip-prinsip umum yang telah diterima oleh
suatu profesi. Kode etik keperawatan merupakan suatu pernyataan komprehensif dari
profesi yang memberikan tuntunan bagi anggotanya dalam melaksanakan praktek
keperawatan baik yang berhubungan dengan pasien, keluarga, masyarakat, teman
sejawat, diri sendiri, dan tim kesehatan (Wulan, 2011).
Tujuan kode etik keperawatan tersebut adalah sebagai berikut :
Merupakan dasar dalam mengatur hubungan antar perawat, klien atau pasien, teman
sebaya, masyarakat, dan unsur profesi, baik dalam profesi keperawatan maupun dengan
profesi lain di luar profesi keperawatan.
Merupakan standar untuk mengatasi masalah yang silakukan oleh praktisi keperawatan
yang tidak mengindahkan dedikasi moral dalam pelaksanaan tugasnya.
Untuk mempertahankan bila praktisi yang dalam menjalankan tugasnya diperlakukan
secara tidak adil oleh institusi maupun masyarakat.
Merupakan dasar dalam menyusun kurikulum pendidikan kepoerawatan agar dapat
menghasilkan lulusan yang berorientasi pada sikap profesional keperawatan.
Memberikan pemahaman kepada masyarakat pemakai / pengguna tenaga keperawatan
akan pentingnya sikap profesional dalam melaksanakan tugas praktek keperawatan.
( PPNI, 2000 ).

Dilema Etik
Dilema etik adalah suatu masalah yang melibatkan dua atau lebih landasan moral suatu
tindakan terapi tidak dapat dilakukan keduanya. Ini merupakan kondisi dimana setiap
alternatif memiliki landasan moral atau prinsip. Pada dilema etik ini sukar untuk
menetukan yang benar atau salah dan dapat menimbulkan stres pada perawat karena
dia tahu apa yang harus dilakukan, tetapi banyak rintangan untuk melakukannya. Dilema
etik biasa timbul akibat nilai-nilai perawat, klien atau lingkungan tidak lagi menjadi
kohesif sehingga timbul pertentangan dalam mengambil keputusan.
Menurut Thompson dan Thompson (1985), dilema etik merupakan suatu masalah yang
sulit dimana alternatif yang memuaskan atau situasi dimana alternatif yang memuaskan
atau tidak memuaskan sebanding. Dalam dilema etik tidak ada yang benar tidak ada
yang salah. Untuk membuat keputusan yang etis, seorang perawat tergantung pada
pemikiran yang rasional bukan emosional (Wulan, 2011).
Pada dilema etik ini sukar untuk menentukan yang benar atau salah dan dapat
menimbulkan stress pada perawat karena dia tahu apa yang harus dilakukan, tetapi
banyak rintangan untuk melakukannya. Dilema etik biasa timbul akibat nilai-nilai
perawat, klien atau lingkungan tidak lagi menjadi kohesif sehingga timbul pertentangan
dalam mengambil keputusan. Menurut Thompson & Thompson (1981 ) dilema etik
merupakan suatu masalah yang sulit dimana tidak ada alternatif yang memuaskan atau
situasi dimana alternatif yang memuaskan atau tidak memuaskan sebanding. Kerangka
pemecahan dilema etik banyak diutarakan oleh para ahli dan pada dasarnya
menggunakan kerangka proses keperawatan / Pemecahan masalah secara ilmiah, antara
lain:
Model Pemecahan masalah ( Megan, 1989 )
Ada lima langkah-langkah dalam pemecahan masalah dalam dilema etik.
Mengkaji situasi
Mendiagnosa masalah etik moral
Membuat tujuan dan rencana pemecahan
Melaksanakan rencana
Mengevaluasi hasil
Kerangka pemecahan dilema etik (kozier & erb, 2004 )
Mengembangkan data dasar.
Untuk melakukan ini perawat memerukan pengumpulan informasi sebanyak mungkin
meliputi :
Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut dan bagaimana keterlibatannya
Apa tindakan yang diusulkan
Apa maksud dari tindakan yang diusulkan
Apa konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul dari tindakan yang diusulkan.
Mengidentifikasi konflik yang terjadi berdasarkan situasi tersebut
Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan dan
mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi tindakan tersebut
Menentukan siapa yang terlibat dalam masalah tersebut dan siapa pengambil keputusan
yang tepat
Mengidentifikasi kewajiban perawat
Membuat keputusan
Model Murphy dan Murphy
Mengidentifikasi masalah kesehatan
Mengidentifikasi masalah etik
Siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan
Mengidentifikasi peran perawat
Mempertimbangkan berbagai alternatif-alternatif yang mungkin dilaksanakan
Mempertimbangkan besar kecilnya konsekuensi untuk setiap alternatif keputusan
Memberi keputusan
Mempertimbangkan bagaimanan keputusan tersebut hingga sesuai dengan falsafah
umum untuk perawatan klien
Analisa situasi hingga hasil aktual dari keputusan telah tampak dan menggunakan
informasi tersebut untuk membantu membuat keputusan berikutnya.
Langkah-langkah menurut Purtilo dan Cassel ( 1981)
Purtilo dan cassel menyarankan 4 langkah dalam membuat keputusan etik
Mengumpulkan data yang relevan
Mengidentifikasi dilema
Memutuskan apa yang harus dilakukan
Melengkapi tindakan
Langkah-langkah menurut Thompson & Thompson ( 1981)
a. Meninjau situasi untuk menentukan masalah kesehatan, keputusan yang
diperlukan, komponen etis dan petunjuk individual.
b. Mengumpulkan informasi tambahan untuk mengklasifikasi situasi
c. Mengidentifikasi Issue etik
d. Menentukan posisi moral pribadi dan professional
e. Mengidentifikasi posisi moral dari petunjuk individual yang terkait.
f. Mengidentifikasi konflik nilai yang ada

BAB III
PEMBAHASAN

Kasus
Ny. D seorang ibu rumah tangga, umur 35 tahun, mempunyai 2 orang anak yang ber
umur 6 dan 4 tahun, Ny.D. berpendidikan SMA, dan suami Ny.D bekerja sebagai Sopir
angkutan umum. Saat ini Ny.D dirawat di ruang kandungan RS. sejak 2 hari yang lalu.
Sesuai hasil pemeriksaan Ny.D positif menderita kanker Rahim grade III, dan dokter
merencanakan klien harus dioperasi untuk dilakukan operasi pengangkatan kanker
rahim, karena tidak ada tindakan lain yang dapat dilakukan. Semua pemeriksaan telah
dilakukan untuk persiapan operasi Ny.D. Klien tampak hanya diam dan tampak cemas
dan binggung dengan rencana operasi yang akan dijalaninnya. Pada saat ingin
meninggalakan ruangan dokter memberitahu perawat kalau Ny.D atau keluarganya
bertanya, sampaikan operasi adalah jalan terakhir. Dan jangan dijelaskan tentang
apapun, tunggu saya yang akan menjelaskannya.

Menjelang hari operasinya klien berusaha bertanya kepada perawat ruangan yang
merawatnya, yaitu:
apakah saya masih bisa punya anak setelah dioperasi nanti.karena kami masih ingin
punya anak. apakah masih ada pengobatan yang lain selain operasi dan apakah
operasi saya bisa diundur dulu suster
Dari beberapa pertanyaan tersebut perawat ruangan hanya menjawab secara singkat,
ibu kan sudah diberitahu dokter bahwa ibu harus operasi
penyakit ibu hanya bisa dengan operasi, tidak ada jalan lain
yang jelas ibu tidak akan bisa punya anak lagi
Bila ibu tidak puas dengan jawaban saya, ibu tanyakan lansung dengan dokternyaya.
Sehari sebelum operasi klien berunding dengan suaminya dan memutuskan menolak
operasi dengan alasan, klien dan suami masih ingin punya anak lagi.

Penyelesaian Kasus
Kasus diatas menjadi dilema etik bagi perawat dimana dilema etik ini didefinisikan
sebagai suatu masalah yang melibatkn dua atau lebih landasan moral suatu tindakan
tetapi tidak dapat dilakukan keduanya. Ini merupakan suatu kondisi dimana setiap
alternatif tindakan memiliki landasan moral atau prinsip. Pada kasus dilema etik ini sukar
untuk menentukan yang benar atau salah dan dapat menimbulkan kebingungan pada
tim medis yang dalam konteks kasus ini khususnya pada perawat karena dia tahu apa
yang harus dilakukan, tetapi banyak rintangan untuk melakukannya.
Dalam menyelesaikan kasus dilema etik yang terjadi pada kasus Ny. D, dapat diambil
salah satu kerangka penyelesaian etik, yaitu kerangka pemecahan etik yang dikemukan
oleh Kozier, erb. (1989), dengan langkah-langkah sebagai berikut:
Mengembangkan data dasar dalam hal klarifiaksi dilema etik, mencari informasi
sebanyaknya, berkaitan dengan:
Orang yang terlibat, yaitu: Pasien, suami pasien, dokter bedah/kandungan, Rohaniawan
dan perawat.
Tindakan yang diusulkan yaitu:
Akan dilakukan operasi pengangkatan kandungan/rahim pada Ny.D. tetapi pasien
mempunyai otonomi untuk membiarkan penyakitnya menggorogoti tubuhnya, walaupun
sebenarnya bukan itu yang diharapkan, karena pasien masih meginginkan keturunan.
Maksud dari tindakan yaitu: dengan memberikan pendidikan, konselor, advocasi
diharapkan pasien mau menjalani operasi serta dapat membuat keputusan yang tepat
terhadap masalah yang saat ini dihadapi. Dengan tujuan agar Agar kanker rahim yang
dialami Ny.D dapat diangkat (tidak menjalar ke organ lain) dan pengobatan tuntas.
Konsekuensi dari tindakan yang diusulkan yaitu:
Bila operasi dilaksanakan:
Biaya: biaya yang dibutuhkan klien cukup besar untuk pelaksanaan operasinya.
Psikologis: pasien merasa bersyukur diberi umur yang panjang bila operasi berjalan baik
dan lancar, namun klien juga dihadapkan pada kondisi stress akan kelanjutan hidupnya
bila ternyata operasi itu gagal. Selain itu konsekuensi yang harus dituanggung oleh klien
dan suaminya bahwa ia tidak mungkin lagi bisa memiliki keturunan.
Fisik: klien mempunyai bentuk tubuh yang normal.
Biaya: biaya yang dibituhkan klien
Biaya ; tidak mengeluarkan biaya apapun.
Psikologis: klien dihadapkan pada suatu ancaman kematian, terjadi kecemasan dan rasa
sedih dalam hatinya dan hidup dalam masa masa sulit dingan penyakitnya.
Fisik: timbulnya nyeri pinggul atau tidak bisa BAK, perdarahan sesudah senggama, keluar
keputihan atau cairan encer dari vagina.

Mengidentifikasi konflik yang terjadi berdasarkan situasi tersebut.


Untuk memutuskan apakah operasi dilakukan pada wanita tersebut, perawat
dihadapkan pada konflik tidak menghormati otonomi klien.
Apabila tindakan operasi dilaukan perawat dihadapkan pada konflik tidak melaksanakan
kode etik profesi dan prinsip moral.
Bila menyampaikan penjelasan dengan selengkapnya perawat kawatir akan kondisi Ny.D
akan semakin parah dan stress, putus asa akan keinginannya untuk mempunyai anak
Bila tidak dijelaskan seperti kondisi tersebut, perawat tidak melaksanakan prinsip-prinsip
professional perawat
Bila perawat menyampaikan pesan dokter, perawat melangkahi wewenang yang
diberikan oleh dokter, tetapi bila tidak disampaikan perawat tidak bekerja sesuai standar
profesi.

Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan dan


mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi tindakan tersebut.
Menjelaskan secara rinci rencana tindakan operasi termasuk dampak setelah dioperasi.
Menjelaskan dengan jelas dan rinci hal-hal yang berkaitan dengan penyakit bila tidak
dilakukan tindakan operasi
Memberikan penjelasan dan saran yang berkaitan dengan keinginan dari mempunyai
anak lagi, kemungkinan dengan anak angkat dan sebagainnya.
Mendiskusikan dan memberi kesempatan kepada keluarga atas penolakan tindakan
operasi dan memberikan alternative tindakan yang mungkin dapat dilakukan oleh
keluarga.
Memberikan advokasi kepada pasien dan keluarga untuk dapat bertemu dan mendapat
penjelasan langsung pada dokter bedah, dan memfasilitasi pasien dan kelurga untuk
dapat mendapat penjelasan seluas-luasnya tentang rencana tindakan operasi dan
dampaknya bila dilakukan dan bila tidak dilakukan.
Menentukan siapa yang terlibat dalam masalah tersebut dan siapa pengambil keputusan
yang tepat.
Kasus pasien tersebut merupakan masalah yang kompleks dan rumit, membuat
keputusan dilkukan operasi atau tida, tidak dapat diputuskan pihak tertentu saja, tetapi
harus diputuskan bersama-sama yang meliputi:
Siapa yang sebaiknya terlibat dalam membuat keputusan dan mengapa mereka ditunjuk.
Untuk siapa saja keputusan itu dibuat
Apa kriteria untuk menetapkan siapa pembuat keputusan (social, ekonomi, fisiologi,
psikologi dan peraturan/hukum).
Sejauh mana persetujuan pasien dibutuhkan
Apa saja prinsip moral yang ditekankan atau diabaikan oleh tindakan yang diusulkan.
Dalam kasus Ny.D. dokter bedah yakin bahwa pembuat keputusan, jadi atau tidaknya
untuk dilakukan operasi adalah dirinya, dengan memperhatikan faktor-faktor dari pasien,
dokter akan memutuskan untuk memberikan penjelasan yang rinci dan memberikan
alternatif pengobatan yang kemungkinan dapat dilakukan oleh Ny.D dan keluarga.
Sedangkan perawat primer seharusnya bertindak sebagai advokasi dan fasilitator agar
pasien dan keluarga dapat membuat keputusan yang tidak merugikan bagi dirinya,
sehingga pasien diharapkan dapat memutuskan hal terbaik dan memilih alternatif yang
lebih baik dari penolakan yang dilakukan.

Bila beberapa kriteria sudah disebutkan mungkin konflik tentang penolakan rencana
operasi dapat diselesaikan atau diterima oleh pasien setelah mendiskusikan dan
memberikan informasi yang lengkap dan valid tentang kondisinya, dilakukan operasi
ataupun tidak dilakukan operasi yang jelas pasien telah mendapat informasi yang jelas
dan lengkap sehingga hak autonomi pasien dapat dipenuhi serta dapat memuaskan
semua pihak. Baik pasien, keluarga, perawat primer, kepala ruangan dan dokter
bedahnya.

Mendefinisikan kewajiban perawat


Dalam membantu pasien dalam membuat keputusan, perawat perlu membuat daftar
kewajiban keperawatan yang harus diperhatikan, sebagai berikut:
memberikan informasi yang jelas, lengkap dan terkini
meningkatkan kesejahteran pasien
membuat keseimbangan antara kebutuhan pasien baik otonomi, hak dan tanggung
jawab keluarga tentang kesehatan dirinya.
membantu keluarga dan pasien tentang pentingnya sistem pendukung
melaksanakan peraturan Rumah Sakit selama dirawat
melindungi dan melaksanakan standar keperawatan yang disesuikan dengan kompetensi
keperawatan professional dan SOP yang berlaku diruangan tersebut.

Membuat keputusan.
Dalam suatu dilema etik, tidak ada jawaban yang benar atau salah, mengatasi dilema
etik, tim kesehatan perlu dipertimbangkan pendekatan yang paling menguntungkan atau
paling tepat untuk pasien. Kalau keputusan sudah ditetapkan, secara konsisten
keputusan tersebut dilaksanakan dan apapun yang diputuskan untuk kasus tersebut,
itulah tindakan etik dalam membuat keputusan pada keadaan tersebut. Hal penting lagi
sebelum membuat keputusan dilema etik, perlu mengali dahulu apakah niat/untuk
kepentinganya siapa semua yang dilakukan, apakah dilakukan untuk kepentingan pasien
atau kepentingan pemberi asuhan, niat inilah yang berkaitan dengan moralitas etis yang
dilakukan.

Pada kondisi kasus Ny.D. dapat diputuskan menerima penolakan pasien dan keluarga
tetapi setelah perawat atau tim perawatan dan medis, menjelaskan secara lengkap dan
rinci tentang kondisi pasien dan dampaknya bila dilakukan operasi atau tidak dilakukan
operasi. Penjelasan dapat dilakukan melalui wakil dari tim yang terlibat dalam
pengelolaan perawatan dan pengobatan Ny.D. Tetapi harus juga diingat dengan
memberikan penjelasan dahulu beberapa alternatif pengobatan yang dapat
dipertanggung jawabkan sesuai kondisi Ny.D sebagai bentuk tanggung jawab perawat
terhadap tugas dan prinsip moral profesionalnya. Pasien menerima atau menolak suatu
tindakan harus disadari oleh semua pihak yang terlibat, bahwa hal itu merupakan hak,
ataupun otonomi pasien dan keluarga.
Keputusan yang dapat diambil sesuai dengan hak otonomi klien dan keluarganya serta
pertimbangan tim kesehatan sebagai seorang perawat, keputusan yang terbaik adalah
dilakukan operasi berhasil atau tidaknya adalah kehendak yang maha kuasa sebagai
manusia hanya bisa berusaha.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Etik merupakan kesadaran yang sistematis terhadap prilaku yang dapat dipertanggung
jawabkan, etik bicara tentang hal yang benar dan hal yang salah dan didalam etik
terdapat nilai-nilai moral yang merupakan dasar dari prilaku manusia (niat). Prinsip-
prinsip moral telah banyak diuraikan dalam teori termasuk didalamnya bagaimana nilai-
nilai moral di dalam profesi keperawatan. Penerapan nilai moral professional sangat
penting dan sesuatu yang tidak boleh ditawar lagi dan harus dilaksanakan dalam praktek
keperawatan.
Setiap manusia mempunyai hak dasar dan hak untuk berkembang, demikian juga bagi
pasien sebagai penerima asuhan keperawatan mempunyai hak yang sama walaupun
sedang dalam kondisi sakit. Demikian juga perawat sebagai pemberi asuhan
keperawatan mempunyai hak dan kewajiban masing-masing. Kedua-duannya
mempunyai hak dan kewajiban sesuai posisinya. Disinilah sering terjadi dilema etik,
dilema etik merupakan bentuk konflik yang terjadi disebabkan oleh beberapa factor, baik
faktor internal dan faktor eksternal, disamping itu karena adanya interaksi atau
hubungan yang saling membutuhkan. Oleh sebab itu dilema etik harus diselesaikan baik
pada tingkat individu dan institusi serta organisasi profesi dengan penuh tanggung jawab
dan tuntas.
Penyelesaian dilema etik harus mempunyai kerangka berfikir yang jelas sehingga
keputusan yang diambil dapat memberi kepuasan terhadap semua pihak baik pemberi
dan penerima asuhan keperawatan. Banyak teori yang membahas dan membuat
kerangka penyelesaian masalah etik, tetapi penyelesaian secara umum bila terjadi kasus
etik adalah sebagai berikut; melakukan peninjauan kembali terhadap kejadian,
memanggil saksi-saksi, mengkaji dan mengidentifikasi pelanggaran etik yang dilakukan,
dan menetapkan sangsi terhadap pelanggaran atau memberikan rehabilitasi bila tidak
terbukti melanggar etik. Semua hal tersebut yang penting adalah bagaimana masalah
dilema etik dapat diputuskan dengan baik dan memuaskan semua pihak.

Saran
Pentingnya membuat standar praktek keperawatan yang jelas dan dapat dipertanggung
jawabkan.
Perlunya peraturan atau perundang-undangan yang mengatur dan sebagai bentuk
pelindungan hukum baik pemberi dan penerima praktek keperawatan
Kode etik di Indonesia yang sudah ada perlu didukung dengan adanya perangkat-
perangkat aturan yang jelas agar dapat dilaksanakan secara baik dilapangan.
Keputusan dilema etik perlu diambil dengan hati-hati dan saling memuaskan dan tidak
merugikan bagi pasien, maka perlu dibentuk komite etik disetiap Rumah Sakit dan bila
perlu disetiap ruang ada yang mengawasi dan mengontrol pelaksanaan etik dalam
praktek keperawatan.
Perlunya sosialisai yang luas tentang kode etik profesi keperawatan dan bila perlu
diadakan pelatihan yang bersifat review tentang etika keperawatan secara periodic dan
tidak terbatas.

DAFTAR PUSTAKA

Dalami, Ermawati, dkk. 2010. Etika Keperawatan. Cv. Jakarta: Trans Info Media.
Ismani, N. 2001. Etika Keperawatan. Jakarta: Widya Medika.
Potter dan Perry, 2005. Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, dan Praktek. Jakarta:
EGC.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (1999, 2000). Kode Etik Keperawatan, lambing
dan Panji PPNI dan Ikrar Perawat Indonesia, Jakarta: PPNI

Wulan dan Hastuti.2011. Pengantar Etika Keperawatan Panduan Lengakap Menjadi


Perawat Profesional Berwawasan etis. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Thompson J.B dan Thopson H.O. 1981. Ethics in Nursing. Macmian Publ. Co
Dilema Etik Kasus Diabetes Adult
Onset, Pasien Kekurangan Nutrisi
Rabu, 18 Juli 2012

TUGAS IKD

KASUS DIBETES ADULT ONSET, PASIEN KEKURANGAN NUTRISI


OLEH :
SITI DWI EFNAWATI 20111660069

FIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA


2012

KASUS
Ada seorang ibu berusia 84 tahun. Suaminya sudah meninggal 25 tahun lalu. Ibu
ini menderita "sakit tua", sudah beberapa tahun menggunakan kursi roda (sejak
terjatuh dan mengalami patah tulang panggul lebih dari 10 tahun lalu),
makan-minum harus disuapi. Seorang perawat mendampinginya 24 jam sehari.
Tapi
pikirannya masih jernih, kemauannya keras, dan setiap hari masih membaca novel
berbahasa Inggris sampai beberapa minggu terakhir, setiap hari masih mengikuti
berita-berita di TV dengan penuh perhatian. Ia sudah naik haji 20 tahun lalu. Ia
punya beberapa putra, semuanya sudah berkeluarga, dan mempunyai beberapa
cucu.
Sejak seminggu terakhir kondisi fisiknya sangat menurun. Ia tidak kuat lagi
duduk dan harus berbaring di tempat tidur. Tempat tidurnya tempat tidur khusus
untuk orang sakit dengan kasur decubitus. Ia tidak mau makan lagi (nafsu makan
tidak ada lagi), dan minum hanya 1 gelas air sehari. Ia tidak mau makan obat
sama sekali. Sekarang ia mengalami dehidrasi berat. Nadi kuat 80/menit,
pernafasan normal 20/menit, tensi 85/40, dan gula darah 85 mg/dl (ibu ini
menderita diabetes adult-onset). Tapi pikirannya tetap jernih (compos mentis)
dan kemauannya tetap keras. Ia berkeras tidak mau diinfus, apalagi dibawa ke
rumahsakit.
Sepanjang hidupnya ibu ini banyak menggunakan inteleknya, hidup dengan buku.
Sekalipun ia sudah Hajjah, namun sepanjang hidupnya hal-hal spiritual tidak
menonjol dalam kesadarannya, jarang menjadi pokok pembicaraannya. Ini terlihat
juga dalam keadaannya sekarang; tampaknya ibu ini mengalami konflik batin
yang
hebat pada saat ini. Di satu pihak, di bawah-sadarnya tubuhnya sudah menolak
makanan sama sekali, tetapi di lain pihak, berkali-kali ia berkata: "Kenapa
kalian berkumpul di sini? Apakah kalian mengira saya akan mati? Saya belum
mau
mati, saya masih ingin hidup." -- Saya pikir, keadaan mental inilah yang membuat
ibu ini bisa "bertahan" sampai sekarang. Kondisi kesadarannya sekarang
timbul-tenggelam antara menyadari lingkungannya dan mengenali orang-orang di
sekelilingnya--bahkan masih bisa bercanda--dan masuk ke dalam dunianya sendiri
(kata-katanya inkoheren, tidak realistik lagi) dan tidak lagi mengenali
orang-orang di sekelilingnya. Dan itu bisa terjadi bolak-balik beberapa kali
sehari. Kondisi fisiknya sangat lemah, kata-kata diucapkannya dengan susah
payah.
Ada dua dokter yang kebetulan merupakan sanak keluarga ibu ini, sebutlah dokter
A dan dokter B. Dokter A menyarankan, bagaimana pun juga ibu ini harus dibawa
ke
rumah sakit, untuk dipasang infus dan maag-slang agar dapat dilakukan alimentasi
dengan segera; kalau perlu dipaksa, karena tempat yang terbaik untuk itu adalah
di rumah sakit. Dokter B menyarankan agar kondisi mental dan
keinginan/kehendak
si ibu perlu juga diperhatikan dan dihormati; berdasarkan prinsip itu dokter B
menyarankan agar ibu ini diinfus saja di rumah dengan agak dipaksa (kalau
memang
putra-putranya merasa perlu "melakukan sesuatu" untuk memuaskan batin
masing-masing); pemasangan maag-slang bisa ditunda, karena pasti ibu ini akan
berontak luar biasa kalau dipaksakan memasang maag-slang.
Saran-saran dari kedua dokter itu disampaikan secara terpisah; dokter A tidak
bertemu dengan dokter B. Sekarang yang mengalami dilema adalah putra-
putranya.
Mereka bertengkar di antara sesamanya, tentang langkah apa yang perlu diambil
menghadapi kondisi ibu mereka seperti ini.
Pertanyaan etikal bagi kita: berhakkah seorang dokter memaksakan pendiriannya
(yang didasarkannya pada pengetahuannya yang adekuat tentang apa yang baik
bagi
pasien) pada seorang pasien yang dalam keadaan compos mentis menolak segala
tindakan medis yang disarankan kepadanya; dengan kata lain, berhakkah seorang
dokter merampas hak seorang pasien (yang sadar) untuk menentukan nasibnya
sendiri? Bagaimana Anda sendiri akan bersikap/bertindak bila menghadapi kasus
seperti ini?
http://health.dir.groups.yahoo.com/group/Dokter_Indonesia/message/3336

PENGEMBANGAN KASUS
Seorang ibu yang berumur 84 tahun menderita penyakit tua dengan kondisi fisik
yang lemah, serta menderita penyakit diabetes adult onset, yang hanya bisa duduk
dan berbaring, walaupun kesadaranya masih jernih dan memiliki kemauan yang
keras untuk tidak diberikan infus, akan tetapi kondisi fisiknya menurun sejak
seminggu terakhir kemungkinan akibat dari pemenuhan kebutuhan nutrisi dan
kebutuhan cairan dalam tubuhnya kurang. Dikarenakan tidak mau makan lagi
(nafsu makan tidak ada) dan hanya minum 1 gelas perhari.
Kemudian pihak keluarga sepakat untuk dilakukan perawatan secara intensif
dirumah sakit, dengan tindakan pertama yang akan dialakukan adalah pemberian
infus dan kemudian pemasangan maag slang dalam rangka pemenuhan kebutuhan
nutrisi dan cairan elektrolit dalam tubuh si pasien, akan tetapi dalam pemberian
infus ini perawat mengalami kesulitan karena pasien menolak dilakukan
pemasangan infus, akan tetapi perawat memiliki inisiatif untuk memberikan healt
education kepada pasien agar pasien diharapkan dapat merubah pikiran agar mau
dipasangkan infus sehingga kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi.

PEMBAHASAN KASUS
Kasus tersebut dapat ditinjau dari aspek hukum, kode etik, azas etik dan norma
budaya, sebagaimana berikut:
1. Aspek Hukum
Dasar hukum yang dapat melindungi perawat jika tetap memberikan apa yang
diinginkan ibu tersebut adalah:
Peraturan Menteri Kesehatan RI No HK.02.02/MenKes/148/I/2010 Pasal 12,
yang berbunyi
Dalam melaksanakan praktek, perawat wajib untuk:
a. menghormati hak pasien
b. melakukan rujukan
c. menyimpan rahasia sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku
d. memberikan informasi tentang masalah kesehatan pasien/klien dan pelayanan
kesehatan yang dibutuhkan
e. meminta persetujuan tindakan keperaatan yang akan dilakukan
f. Melakukan pencatatan asuhan keperawatan secara sistematis
g. Mematuhi standar
Undang-undang no 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
Pasal 5 ayat 3
Setiap orang berhak seacra mandiri bertanggung jawab menentukan sendiri
pelayanan kesehatan yang diperlukan bagi dirinya
Pasal 56 ayat 1
Setiap orang berhak menerima atau menolak sebagian atau seluruh tindakan
pertolongan yang akan diberikan kepadanya setelah menerima dan memahami
informasi mengenai tindakan tersebut secara lengkap
Pasal 56 ayat 8
Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data kesehatan dirinya
termasuk tindakan dan pengobatan yang telah maupun yang akan diterimanya dari
tenaga kesehatan
Pasal 7
Setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi dan edukasi tentang kesehatan
yang berimbang dan bertanggung jawab
Mempertimbangkan aspek hukum tersebut di atas, pasienberhak
mengambil keputusan yang terbaik atas tindakan yang akan dipilih untuk
dilakukan kepada dirinya setelah diberikan informasi yang lengkap mengenai
prosedur anastesi, tujuan dan manfaatnya untuk tindakan medis ( irigasi rongga
sinus maxilla)yang akan dilakukan. Sesuai Permenkes perawat wajib
menghormati apapun keputusan yang diambil klien untuk dirinya.

Dasar hukum yang melindungi perawat jika melakukan tindakan yang terbaik
untuk memperbaiki status kesehatan ibu tersebut yakni:
Undang-undang no 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
Pasal 56 ayat 1
Setiap orang berhak menerima atau menolak sebagian atau seluruh tindakan
pertolongan yang akan diberikan kepadanya setelah menerima dan memahami
informasi mengenai tindakan tersebut secara lengkap.
Pasal 56 ayat 2
Hak menerima atau menolak sebagaimana dimaksud pada ayat 1 tidak berlaku
pada:
a. penderita yang penyakitnya cepat menular ke dalam masyarakat yang lebih luas
b. keadaan seseorang yang tidak sadarkan diri, atau
c. gangguan mental berat
Ibu tersebut mengalami kekurangan asupan gizi yang menimbulkan kondisinya
mengancam nyawa, walaupun tidak mengalami gangguan mental berat

2. Kode Etik Keperawatan


Berkaitan dengan kasus diatas, dalam melaksanakan tugasnya, perawat harus
bertanggung jawab dan mempertimbangkan kode etik keperawatan yang sesuai,
yakni Perawat senantiasa mengutamakan perlindungan dan keselamatan klien
dalam melaksanakan tugas keperawtan serta matang dalam mempertimbangkan
kemampuan jika menerima atau mengalihtugaskan tanggung jawabyang ada
hubungannya dengan keperawatan:.
Dalam kondisi ibu tersebut memang didapati situasi yang sulit haruskah perawat
membiarkan ibu tersebut dalam keadaan kurang gizi karena tidak mau makan dan
juga dehidrasi berat sehingga mengakibatkan tubuhnya lemah. Sehingga harus
diberikan infus dan maag slang untuk memulihkan keadaan dari ibu tersebut.

3. Azas Etik Keperawatan


a. Azas autonomy
b. Perawat dituntut untuk menghormati keputusan yang diinginkan pasien. Peran
perawat untuk menghormati Azas ini adalah melaksanakan dan menghargai
keputusan yang diambil oleh pasien, Sehingga dalam memberi keputusan terhadap
tindakan medik pasien tidak terpaksa.

c. Azas Nonmaleficiency/beneficiency
Perawat guna menghormati azas ini, mempertimbangkan tindakan apa yang dapat
memperkecil kesakitan, meningkatkan status kesehatan pasien FR dan
menyelamatkan jiwanya,dan terkadang antara prinsip Autonomi dan kedua prinsip
etik ini memang terdapat perbedaan dalam menentukan tindakan.
d. Azaz veracity/kebenaran
Perawat telah meberikan informasi yang benar tentang tindakan apa yang akan
dilakukan.
4. Norma Budaya
Dalam kasus ibu tersebut, apabila perawat tetap melanjutkan rencana tindakan dan
mengabaikan keinginan ibu tersebut, maka hal tersebut dianggap dapat
bertentangan dengan norma dalam masyarakat yang memilik pengertian:
Segala tindakan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang merupakan
tindakan yang wajar dan dapat diterima kerena sesuai dengan harapan sebagian
besar warga masyarakat ataukah merupakan tindakan yang menyimpang kerena
tidak sesuai dengan harapan sebagian besar warga masyarakat.

Kondisi ibu tersebut memang menjadi pertimbangan tindakan apa yang harus
dilakukan oleh tim kesehatan dan perawat, jika prosedur sesuai yang direncanakan
akan tetap diberikan maka hendakknya perawat menyampaikan sejelasnya pada
keluarga mengenai semua yang berkaitan dengan rencana tindakan, agar tidak
menjadi tindakan yang melanggar norma karena tidak sesuai yang diharapkan
klien dan diluar kewajaran.
PELAKSANAAN EDM DAN CDM
1. Klarifikasi Dilema Etik
Dilema etik yang dihadapi dalam kasus ini adalah:
1. Ibu tersebut adalah ibu dengan kebutuhan khusus hiperaktif yang telah dirantai
selama lebih dari lima tahun di ruang tamu rumahnya oleh ayah kandungnya
2. Ibu tersebut seakan merasa dirinya itu tidak sakit dan merasa dia itu baik-baik
saja.
3. Ibu tersebut dibawa kerumah sakit guna perawatan kesehatannya
4. Ibu tersebut seharusnya mendapatkan perawatan dalam memenuhi kebutuhan
dasar manusia yaitu berupa infus karena dirinya yang tidak mau makan untuk
meningkatkan status kesehatannya namun menolak, melawan dan hanya karena
ibu tersebut bilng kalau dirinya dalam keadaan sehat-sehat saja.
5. Ibu tersebut sudah tua selain itu tingkat kesadarannya pun sudah menurun, untuk
mengambil keputusan sendiri mengenai tindakan yang harus dilakukan pada
dirinya, dan diwalikan pada keluarganya
6. Keluarga cenderung menuruti keinginan ibu tersebut karena ibu tersebut selalu
berkata bahwa dirinya itu baik baik saja, sehingga dia tidak mau di infus ataupun
minum obat.
Dari beberapa klarifikasi di atas, keinginan ibu tersebut untuk tidak diberikan
infus dengan alasan menolak tidak mau diberikan infus dapat mempengaruhi
keadaan pasien yang mengakibatkan kurang gizi. Pengambilan keputusannya
harus dituruti karena sudah cukup umur, tapi keputusan tersebut dapat menjadi
penyebab gagalnya tindakan pemberian infus. Walaupun pasien memiliki
keputusan yang kuat untuk tidak dberikan infusi dan bersedia menandatangani
surat penolakan tindakan (informed consent), perawat dapat mensiasati dengan
menjelaskan keuntungan atau manfaat dari pemberian infus tersebut yang
sebenarnya tidak menimbulkan efek negatif dengan harapan pasien bisa merubah
keputusannya.
a. What is clinical judgement?
Where does it come from?
Ibu dengan kondisi yang sangat lemah tersebut yang telah lama dirawat dirumah,
yang hanya bisa duduk dikursi roda selama beberapa tahun dan kondisinya sangat
lemah dekan tekanan darah 85/40, walaupu nadinya normal akan tetapi ibu
tersebut juga menderita diabetes adult-onset, menolak dilakukan pemberian infus
dan menolak minum obat, karena memberontak jika dilakukan perawatan tersebut.
ibu tersebut menganggap bahwa dirinya sehat dan tidak sakit
What can I do as paramedic student to improve my clinical judgement?
Ditinjau dari kasus, sebagai mahasiswa keperawatan, pengambilan
keputusan yang patut dipertimbangkan adalah yang bertujuan untuk
menyelamatkan jiwa, memgurangi kesakitan dan menghilangkan ancaman
kesehatannya. Autonomi pasien menjadi tidak dominan dari pada
prinsipbeneficiency/Nonmaleficiencykarena membahayakan kesehatannya,
meskipun ibu tersebut bersedia menandatangi surat penolakan tidakan, karena
euthanasia mutlak dilarangdi Indonesia.
Keputusan untuk menyelamatkan ibu tersebut dengan tetap melakukan
pemberian infus, dan menjalankan prosedur asuhan keperawatan sesuai standart
dianggap lebih baik dan menyelamatkan jiwa pasien, dengan meminimalkan
penolakan terhadapap pemberian infus. Sehingga proses pemenuhan kebutuhan
nutrisi tercukupi.
b. Faktor yang mempengaruhi
1. Environment dan setting
Kasus ini terjadi di sebuah bangsal salah satu rumah sakit. Seorang ibu yang
menderita penyakit tua dengan kurangnya nafsu makan serta kondisi tubuh yang
lemah akibat kurangnya asupan kalori serta cairan tubuh,yang menolak apabila
dilakukan pemberian infus selama dalam perawatan pemenuhan gizi dan
pemenuhan cairan ditubuh.
2. Diagnostic date
DS : Klien menolak dilakukan perawatan dengan pemberian infus karena karena
pasien berprasaan bahwa dirinya dalam keadaan baik-baik saja
DO : Klien menolak jika dipasangkan infus dan minum obat dan juga
memberontak jika di pasang maag slang jadi tindakan pertama perawat adalah
membujuk pasien agar mau untuk di infus setelah itu baru pemasangan maag
slang, pasien.
3. Patient acuity
Three general classes : potensial life threatening
Wahat do I need to know in order to between patient with varying acuity?
Kasus di atas dapat mengancam kehidupan ibu tersebut, karena dia memerlukan
asupan nutrisi yang cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan nutrisi untuk
tubuhnya, selain itu ibu juga mengalami dehidrasi berat, tindakan kedua
tersebutlah yang perlu dilakukan perawat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,
karena jika tindakan kedua tersebut tidak dilakukan maka kondisi ibu tersebut
akan semakin lemah, dan akan mengancam keselamatannya.
4. Scope of practice
Perawat dalam kasus ibu tersebut dapat melakukan healt education untuk
memberikan informasi dan membujuk ibu tersebut agar dia mau diberikan
perawatan yaitu diberikan infus untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya dan
Perawat setelah karena tindakan pemberian infus ini adalah tindakan yang
dilaksanakan untuk melaksanakan azaz etik beneficience dan non maleficience
yang mengedepankan manfaat yang akan didapat oleh pasien. Hal tersebut karena
apa yang diinginkan ibu tersebut menolak untuk diberikan infus dan dia hanya
menginginkan dirawat dirumah dan ini membahayakan kondisi ibu tersebut.
Autonomi dalam pada pasien tersebut dinyatakan gugur karena usianya yang
sudah cukup tua selain itu tingkat kesadaran dari ibu tersebut juga sudah mulai
menurun akibat adanya tekanan batin, sehingga yang mewakilinya adalah pihak
keluarga untuk mengedepankan manfaat dari tindakan untuk menyelamatkan
nyawa ibu tersebut.
Dasar hukum yang melindungi perawat jika melakukan tindakan yang terbaik
untuk memperbaiki status kesehatan anak J yakni: Undang-undang no 36 tahun
2009 tentang Kesehatan Pasal 56 ayat 1 Setiap orang berhak menerima atau
menolak sebagian atau seluruh tindakan pertolongan yang akan diberikan
kepadanya setelah menerima dan memahami informasi mengenai tindakan
tersebut secara lengkap. Namun di sini pasien sudah berusia lanjut dan
mengalami penurunan kesadaran sehingga diwalikan oleh pihak keluarga dan
pasien juga tetap diberikan informasi karenayakin bahwa ibu tersebut masih bisa
memahami jika diberikan penjelasan dengan baik dan secara sopan santu dan
lemah lembut.
5. Interpersonal relationship
Perawat harus meningkatkan perannya sebagai advokat dan konselor kepada ibu
tersebut dan memberikan informasi secara baik dengan bersikap ramah dan selalu
memberikan semangat kepada ibu tersebut bahwa tindakan yang akan dilakukan
ini tindakan yang terbaik untuk dirinya, dan harus diingat dalam pemberian
informasi perawat diharuskan bersikap sabar dan lemah lembut serta bersikap
sopan santun karena dengan seperti itu maka diharapkan ibu tersebut bisa
merubah pikirannya untuk diberikan perawatan oleh perawat.

2. Pengumpulan Data (5 W dan 1 H)


1. What
Perawat dan tim kesehatan mengalami dilema apakah, harus diberikan infus
dengan cara dipaksa , ataukah diberikan dulu edukasi pengertian pada ibunya
kemudian baru diinfus, ataukah menuruti keinginan ibunya yang tidak ingin
dilakukan infus, dan juga hanya dirawat dirumah.
2. Who
Ibu yang berusia 84 tahun yang yang sedang sakit

3. When
Saat ibu yang berusia 84 tahun tersebut di RS untuk dilakukan perawatan lebih
lanjut yang selama telah dirawat hanya dirumah selama beberapa tahun.
4. Where
Disalah satu rumah sakit
5. Why
Seorang ibu yang berusia 84 tahun yang mengalami penyakit tua yang selama
beberapa tahun hanya bisa duduk dikursi roda dan berbaring di tempat tidur
khusus orang sakit dengan kasur decubitus. Ia tidak mau makan lagi (nafsu
makannya tidak ada lagi), dan minum hanya 1 gelas air sehari. Ia tidak mau
minum obat sama sekali. Sekarang ia mengalami dehidrasi berat. Tapi pikirannya
masih jernih (compos mentis) dan kemauannya tetap keras. Ia berkeras tidak mau
diinfus.ibu tersebut seharusnya dilakukan perawatan lebih lanjut dirumah sakit
untuk diberikan infus karena untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, namun ibu
tersebut tidak mau diberikan infus.
6. How
Perawat begitu juga dengan tim kesehatan dan keluarga menyadari bahwa
tindakan yang diberikan harus benar-benar memberikan manfaat dengan tujuan
meningkatkan status kesehatan menurunkan morbiditas dan meminimalkan
kecacatan. Resiko tindakan harus diminimalisir sekecil mungkin sehingga manfaat
bagi klien dapat maksimal.
Resume Kasus
a. Pengkajian
1. Identitas klien
Pasien seorang ibu, usia 84 tahun.
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
Seorang ibu yang berumur 84 tahun menderita penyakit tua dengan kondisi fisik
yang lemah, serta menderita penyakit diabetes adult onset, yang hanya bisa duduk
dan berbaring, walaupun kesadaranya masih jernih dan memiliki kemauan yang
keras untuk tidak diberikan infus, akan tetapi kondisi fisiknya menurun sejak
seminggu terakhir kemungkinan akibat dari pemenuhan kebutuhan nutrisi dan
kebutuhan cairan dalam tubuhnya kurang. Dikarenakan tidak mau makan lagi
(nafsu makan tidak ada) dan hanya minum 1 gelas perhari.
Kemudian pihak keluarga sepakat untuk dilakukan perawatan secara intensif
dirumah sakit, dengan tindakan pertama yang akan dialakukan adalah pemberian
infus dan kemudian pemasangan maag slang dalam rangka pemenuhan kebutuhan
nutrisi dan cairan elektrolit dalam tubuh si pasien, akan tetapi dalam pemberian
infus ini perawat mengalami kesulitan karena pasien menolak dilakukan
pemasangan infus, akan tetapi perawat memiliki inisiatif untuk memberikan healt
education kepada pasien agar pasien diharapkan dapat merubah pikiran agar mau
dipasangkan infus.

3. Riwayat penyakit terdahulu


Pasien pernah mengalami patah tulang panggul sekitar 10 tahun yang lalu, juga
mengidap penyakit diabetes adult-onset. Untuk penyakit patah tulangnya sudah
diobati namuan penyakit diabetesnya masih dalam pengobatan. Namun ibu
tersesut tidak mau minum obat yang diberikan.

4. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Tampak sakit
Kesadaran : Copos mantis
Tanda-Tanda Vital :
Nadi : 80 kali/menit
Suhu : 37,8oC
Pernafasan : 20/menit
Tekanan darah : 85/40
Kepala : norma cephalic, rambut rata-rata berwarna putih dengan
distribusi merata dan rapuh
Mata : Penglihatan kabur
Telinga : pendengaran kurang
5. Pengkajian Psikososial
kondisi psikososial pasien yang mengalami konflik batin yang hebat
saat ini, dan tidak ingin di infus karena dia berperasaan bahwa dirinya tidak sakit.
b. Diagnosa Keperawatan
a) Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
peningkatan metabolisme protein dan lemak.
b) Kekurangan volum cairan berhungunan dengan osmotik diueresis ditandai
dengan tugorkulit menurun dan membran mukosa kering.
c) Kelelahan dengan kondisi fisik yang kurang
d) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan glukosa darah yang tinggi.
e) Resiko terjadi injury berhubungan dengan penurunan penglihatan.
c. Intervensi keperawatan
a) Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
peningkatan metabolisme
Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan kebutuhan nutrisi
pasien terpenuhi
Dengan kriteria hasil:
Pasien dapat mencerna jumlah asupan kalori atau nutrien yang tepat
Berat badan stabil atau penambahan kearah rentang biasanya

Tindakan/intervensi Rasional
Mandiri
Timbang berat badan sesuai indikasi Mengkaji pemasukan makanan
yang adekuat
Tentukan program diet, pola makan, dan Mengidentifikasi kekurangan dan
bandingkan dengan makanan yang dapat penyimpangan dari kebutuhan
dihabiskan klien terapeutik
Auskultasi bising usus, catat nyeri abdomen Hiperglikemia, gangguan
atau perut kembung, mual, muntah dan keseimbangan cairan dan elektrolit
pertahankan puasa sesuai indikasi menurun, motolitas atau fungsi
lambung (distensi atau ilieus
paralitik)
Berikan makanan cair yang mengandung Pemberian makan melalui oral
nutrisi dan elektrolit selanjutnya lebih baik diberikan pada pasien
memberikan makanan yang lebih padat. sadar dan fungsi gastrointrestinal
baik
Identifikasi makanan yang disukai Kerjasama dalam perencanaan
makanan
Libatkan keluarga dalam perencanaan Meningkatkan keterlibatanya,
makanan memberi informasi pada keluarga
untuk memahami kebutuhan
nutrisi klien
Observasi tanda hipoglikemia (perubahan Pada metabolisme karbohidrat
tingkat kesadaran, kulit lembab atau dingin, (gula darah akan berkurang dan
denyut nadi cepat, lapar, peka rangsangan, sementara tetap diberikan insulin
cemas sakit kepala, pusing.) maka terjadi hiplogikemia terjadi
tanpa memperlihatkan perubahan
tingkat kesadaran.
Kolaborasi
Lakukan pemeriksaan gula darah dengan Analisa di tempat tidur terhadap
finger stick guladarah lebih akurat daripada
memantaugula dalam urine
Pantau pemeriksaan laboratorium Gula darah menurun perlahan
(glukosadarah, aseton, pH, HCO3) denganpenggunaan cairan dan
terapi insulinterkontrol sehingga
glukosa dapat masuk ke dalam sel
dan digunakan untuk sumber
kalori. Saat ini, kadaar
asetonmenurun dan asidosis dapat
dikoreksi
Berikan pengobatan insulin secara Insulin regular memiliki awitan
teraturmelalui iv cepat dandengan cepat pula
membantumemindahkan glukosa
ke dalam sel.Pemberian melalui
IV karena absorpsidari jaringan
subkutan sangat lambat
Berikan larutan glukosa (destroksa,setengah Larutan glukosa ditambahkan
salin normal). setelahinsulin dan cairan
membawa gula darahsekitar 250
mg /dl. Dengan
metabolismkarbohidrat mendekati
normal, perawatandiberikan untuk
menghindarihipoglikemia
Konsultasi dengan ahli gizi. Bermanfaat dalam penghitungan
danpenyesuaian diet untuk
memenuhikebutuhan nutrisi

b) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan osmotik diuresis ditandai


dengan tugor kulitmenurun dan membran mukosa kering.
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan kebutuhan cairan atau
hidrasipasien terpenuhi
Dengan kriteria hasil:
Pasien menunjukkan hidrasi yang adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi
perifer dapatdiraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, haluaran urin tepat
secara individu dan kadarelektrolit dalam batas normal.
Tindakan / Intervensi Rasional
Mandiri
Kaji riwayat klien sehubungan Membantu memperkirakan
denganlamanya atau intensitas dari kekuranganvolume total. Adanya
gejala sepertimuntah dan pengeluaran urine proses infeksimengakibatkan demam
yangberlebihan dan keadaanhipermetabolik yang
meningkatkankehilangan air.
Pantau tanda-tanda vital, catat adanya Hipovolemi dimanifestasikan
perubahan tekanan darah ortostatik. olehhipotensi dan takikardia.
. Perkiraan beratringannya hipovolemi
saat tekanan darah
sistolik turun 10 mmHg dari posisi
berbaring ke duduk atau berdiri.

Pantau pola napas seperti adanyapernapasan Perlu mengeluarkan asam


Kussmaul atau pernapasanyang berbau keton karbonatmelalui pernapasan yang
menghasilkankompensasi alkalosis
respiratoris terhadapkeadaan
ketoasidosis. Napas bau
asetondisebabkan pemecahan asam
asetoasetatdan harus berkurang bila
ketosisterkoreksi.
Pantau frekuensi dan kualitas Hiperglikemia dan asidosis
pernapasan,penggunaan otot bantu napas, menyebabkanpola dan frekuensi
adanyaperiode apnea dan sianosi. pernapasan normal.Akan tetapi
peningkatan
kerja pernapasan,pernapasan dangkal
dan cepat sertasianosis merupakan
indikasi dari kelelahanpernapasan
atau kehilangan kemampuanmelalui
kompensasi pada asidosis
Pantau suhu, warna kulit, Demam, menggigil, dan
ataukelembapannya diaphoresisadalah hal umum terjadi
pada prosesinfeksi, demam dengan
kulit kemerahan,kering merupakan
tanda dehidrasi.
Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, Merupakan indicator tingkat
turgorkulit, dan membrane mukosa dehidrasiatau volume sirkulasi yang
adekuat.
Pantau masukan dan pengeluaran Memperkirakan kebutuhan
cairanpengganti, fungsi ginjal, dan
keefektifanterapi yang diberikan.
Ukur berat badan setiap hari Memberikan hasil pengkajian terbaik
dari
status cairan yang sedang berlangsung
danselanjutnya dalam memberikan
cairanpengganti.
Pertahankan pemberian cairan Mempertahankan hidrasi atau
minimal2500 ml/hari volumesirkulasi.
Tingkatkan lingkungan yang Menghindari pemanasan yang
menimbulkanrasa nyaman. Selimuti berlebihanterhadap klien lebih lanjut
klien dengan kainyang tipis. dapatmenimbulkan kehilangan cairan
Kaji adanya perubahan mental atau Perubahan mental berhubungan
sensori denganhiperglikemi atau hipoglikemi,
elektrolitabnormal, asidosis,
penurunan perfusiserebral, dan
hipoksia. Penyebab yangtidak
tertangani, gangguan
kesadaranmenjadi predisposisi
aspirasi pada klien
Observasi mual, nyeri abdomen, Kekurangan cairan dan
muntah,dan distensi lambung elektrolitmengubah motilitas
lambung sehinngasering
menimbulkan muntah dan
secarapotensial menimbulkan
kekurangan cairandan elektrolit
Observasi adanya perasaan kelelahan Pemberian cairan untuk perbaikan
yangmeningkat, edema, peningkatan yangcepat berpotensi menimbulkan
beratbadan, nadi tidak teratur, dan kelebihancairan dan gagal jantung
distensivaskuler kronis.
Kolaborasi
Berikan terapi cairan sesuai indikasi: Tipe dan jumlah cairan tergantung
Normal salin atau setengah normal padaderajat kekurangan cairan dan
salindengan atau tanpa dekstrosa responklien secara individual
Albumin, plasma, atau dekstran. Plasma ekspander (pengganti)
dibutuhkan jika mengancam jiwa
atau tekanan darahsudah tidak dapat
kembali normal denganusaha
rehidrasi yang telah dilakukan
Pasang kateter urine Memberikan pengukuran yang
tepatterhadap pengeluaran urine
terutama jikaneuropati otonom
menimbulkan retensiatau
inkontinensia
Kelelahan berhubungan dengan kondisi
fisik yang kurang.

c) Kelelahan berhubungan dengan kondisi fisik yang kurang


Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan kelelahan dapat
teratasi.
Kriteria hasil klien dapat:
o Mengidentifikasikan pola keletihan setiap hari.
o Mengidentifikasi tanda dan gejala peningkatan aktivitas penyakit yang
mempengaruhi toleransi aktifitas.
o Mengungkapkan peningkatan tingkat energi.
o Menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang
diinginkan
Tindakan / intervensi Rasional
Mandiri
Diskusikan kebutuhan akan aktivitas. Pendidikan dapat memberikan
Buat jadwal perencanaan dan motivasiuntuk meningkatkan tingkat
identifikasiaktivitas yang menimbulkan aktivitasmeskipun klien sangat lemah
kelelahan
Diskusikan penyebab keletihan Dengan mengetahui penyebab
sepertinyeri sendi, penurunan efisiensi keletihan,dapat menyusun jadwal
tidur,peningkatan upaya yang aktivitas.
diperlukan untuk ADL
Bantu mengidentivikasi pola energi Mengidentifikasi waktu puncak energi
danbuat rentang keletihan. Skala 0-10 dankelelahan membantu
(0=tidak lelah, 10= sangat kelelahan) dalam merencanakanakivitas untuk
memaksimalkan konserfasienergi dan
produktivitas
Berikan aktivitas alternatif dengan Mencegah kelelahan yang berlebih.
periodeistirahat yang cukup/
tanpa diganggu.

Pantau nadi, frekuensi nafas, serta


tekanandarah sebelum dan seudah Mengindikasikan tingkat aktivitas
melakukanaktivitas yangdapat ditoleransi secara fisiologis.
Tingkatkan partisipasi klien Memungkinkan kepercayaan diri/
dalammelakukan aktivitas sehari-hari hargadiri yang positif sesuai tingkat
sesuaikebutuhan aktivitasyang dapat ditoleransi
Ajarkan untuk mengidentifikasi tanda Membantu dalam
dangejala yang menunjukkan mengantisipasiterjadinya keletihan
peningkatanaktivitas penyakit dan yang berlebihan
mengurangiaktivitas, seperti demam,
penurunan beratbadan, keletihan
makin memburuk

d) Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan glukosa darah yang tinggi.


Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan tidak terjadi tanda-
tanda infeksi
Dengan Kriteria hasil :
Tidak ada rubor, kalor, dolor, tumor, fungsiolesia.
Terjadi perubahan gaya hidup untuk mencegah terjadinya infeksi
Rencana / intervensi Rasional
Mandiri
Observasi tanda-tanda infeksi Pasien mungkin masuk dengan
danperadangan sperti demam, infeksiyang biasanya telah
kemerahan,adanya pus pada luka, sputum mencetuskan keadaanketoasidosis
purulen,urine warna keruh atau atau dapat mengalami
berkabut. infeksinosokomial.
Tingkatkan upaya pencegahan Mencegah timbulnya infeksi
denganmelakukan cuci tangan yang baik nosokomial.
padasemua orang yang berhubungan
denganpasien termasuk pasiennya
sendiri.
Pertahankan teknik aseptik pada Kadar glukosa yang tinggi dalam
prosedurinvasif. darahakan menjadi meddia terbaik
dalampertumbuhan kuman
Berikan perawatan kulit dengan Sirkulasi perifer bisa terganggu
teraturdan sungguh-sungguh, masase danmenempatkan pasien pada
daerahtulang yang tertekan, jaga kulit peningkatanrisiko terjadinya
tetapkering, linen kering dan tetap kerusakan pada kulit
kencang
Berikan tisue dan tempat sputum Mengurangi penyebaran infeksi.
padatempat yang mudah dijangkau
untuk penampungan sputum atau secret
yanglainnya
Kolaborasi
Lakukan pemeriksaan kultur Untuk mengidentifikasi adanya
dansensitifitas sesuai dengan indikasi. organismesehingga dapat memilih
atau memberikan terapi antibiotik
yang terbaik.
Berikan obat antibiotik yang sesuai Penanganan awal dapat
mambantumencegah timbulnya sepsis

e) Resiko terjadi injury berhubungan dengan penurunan penglihatan.

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan tidak terjadi


injuri

Dengan Kriteria hasil :


Dapat menunjukkan terjadinya perubahan perilaku untuk menurunkan factor risiko
danuntuk melindungi diri dari cidera.
Mengubah lingkungan sesuai indikasi untuk meningkatkan keamanan

Rencana / Intervensi Rasional


Mandiri
Hindarkan lantai yang licin Lantai licin dapat menyebabkan
risiko jatuh pada pasien
Gunakan bed yang rendah Mempermudah pasien untuk naik
danturun dari tempat tidur.
Orientasikan klien dengan ruangan. Lansia daya ingatnya sudah
menurun,sehingga diperlukan orientasi
ruanganagar lansia bisa menyesuaikan
diriterhadap ruangan
Bantu klien dalam melakukan Lansia sudah mengalami penurunan
aktivitassehari-hari dalamfisik, sehingga dalam melakukan
aktivitassehari diperlukan bantuan dari
oranglainsesuai dengan yang dapat
ditoleransi
Bantu pasien dalam ambulasi Keterbatasan aktivitas tergantung
atauperubahan posisi padakondisi lansia

3. Identifikasi Pilihan
Alternatif solusi
1. Perawat membiarkan keinginan pasien untuk tidak dilakukan pemberian infus
hanya diberikan apa yang di inginkan si pasien.
2. Perawat memberikan perawat tetap memberikan infus setelah memberikan
pengertian atau healt education pada pasien dan perawat membantu mengontrol
rasa cemas pasien.
3. Pasien diberikan informed consent atas penolakan yang dilakukan perawatan
dengan pemberian infus.
4. Pengambilan Keputusan
Menggunakan SFF Matriks
No Alternatif Suitability Fesibility Flexibility Total
skor
1. Perawat Kondisi membaik 5
membiarkan Prosedur alat alat infus ditandai dengan
keinginan pasien asuhan kebutuhan nutrisi
untuk dilakukan keperawatan Alat observasi tercukupi
pemberian infus kebutuhan TTV
membiarkan apa nutrisi TTV dalam
Tim kesehatan batas normal
yang jadi keinginan
TTV baik dan dan perawat siaga
pasien.
kondisi tubuh Kondisi tubuh
membaik dalam keadaan
baik
pasien
merasanyaman Skor : 3 pasien rileks
dan aman tidak cemas
Skor : 1
Skor : 1
2. Perawat Kondisi membaik 9
memberikan Prosedur alat alat infus ditandai dengan
pengertian atau asuhan kebutuhan nutrisi
healt education keperawatan Alat observasi tercukupi
pada pasien dan pemenuhan TTV
perawat membantu nutrisi TTV dalam
Tim kesehatan batas normal
mengontrol rasa
TTV baik dan perawat siaga
cemas pasien pada
saat pemberian kondisi tubuh Kondisi tubuh
infus. membaik membaik

pasien merasa pasien rileks


aman dan Skor : 3 tidak cemas
nyaman
Skor : 3
Skor : 3
3. Pasien diberikan 4
informed consent Prosedur alat-alat infus
atas penolakan yang Kondisi
dilakukan asuhan Alat observasi membaik ditandai
perawatan dengan keperawatan TTV dengan
pemberian infus pemenuhan TTV dalam batas
nutrisi Tim kesehatan normal
dan perawat siaga
TTV baik Kondisi tubuh
dan kondisi membaik
tubuh membaik
Ibu tersebut
Skor : 0 rileks tidak cemas
Anak merasa
aman dan Skor : 2
nyaman

Skor : 2

Berdasarkan matrix SFF maka skor tertinggi adalah pada alternatif yang kedua
yakni
Perawat tetap memberikan infus setelah memberikan pengertian atau healt
education pada pasien dan perawat membantu mengontrol rasa cemas pasien

Pasien lansia dengan diagnosa pemenuhan kebutuhan nutrisi penyakit diabetes


adult onset

5. Pelaksanaan Algoritma

Gejala pemenuhan kebutuhan nutrisi tercukupi pasien merasa aman & nyaman,
status kesehatan meningkat
Farmakologis
Nonfarmakologis
tidak
iya
Tubuh kekurangan nutrisi menjadi kurus
Komplikasi
Kerusakan saraf
Kerusakan ginjal
Gangguan pendengaran
Pandangan kabur
Tidak ada nafsu makan
Pemenuhan nutrisi
Pemberian infus
Tidak
Ya
cemas
Menolak
Tetap diberikan infus setelah diberi Health Education& perawat membantu
control rasa cemas
Pemberian infus & pemantauan TTV
Kegagalan pemenuhan kebutuhan nutrisi
Komplikasi diabetes tipe II
Infeksi
Kurang gizi
Jaringan ekstremitas
dehidrasi
Cacat
Kematian
6. Evaluasi
Evaluasi perlu dilakukan pada setiap intervensi yang diberikan pada pasien, guna
menilai apakah intervensi tersebut berhasil dan memberikan dampak positif pada
status kesehatan pasien. Pada kasus ibu usia 84 tahun tersebut yang awalnya
menolak tidak mau diberikan infus dengan prosedur asuhan keperawatan yang
tepat, akhirnya tetap dilakukan pemberian infus setelah diberikan healt edukation,
agar pasien memahami dan mengerti supaya dapat merubah pikiranya dan mau
diberikan infus. Kondisi pasien membaik ditandai dengan tanda-tanda vital yang
awalnya terkaji meningkat dan kebutuhan nutrisi terpenuhi, sehingga keadaan
pasien berangsur-angsur membaik, kondisi fisiknyapun membaik, ibu berusia 84
tahun tersebut bisa beraktifitas seperti biasanya. Sehingga perawatan yang
dilakukan perawat dinilai telah berhasil.
.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.scribd.com/doc/86725343/Askep-Dm-Pada-Lansia
http://www.wisegeek.com/what-is-adult-onset-diabetes.htm

http://health.dir.groups.yahoo.com/group/Dokter_Indonesia/message/3336
k_nisa21
Welcome to my world^^

Skip to content

Beranda

My World

MY LIBRARY

MAKALAH DILEMA
ETIK KEPERAWATAN
Ini laporan tutorial IKD 1 tentang etika keperawatan. semoga bermanfaat, jika ada
saran dan kritikan silahkan berkomentar ..^^

BAB I

PENDAHULUAN

Skenario Kasus

Kebingungan Seorang Asisten Perawat


Di sebuah Rumah Sakit bersalin swasta bekerja seorang perawat dan juga asisten
dokter kandungan terkemuka di kota tersebut. Suatu hari, datang seorang pasien
perempuan yang belum menikah ke rumah sakit tanpa ada anggota keluarga atau
teman, taksiran usia kehamilan pasien berdasarkan pemeriksaan 9 minggu.
Perawat diminta dokter dan tenaga kesehatan kandungan untuk membantu aborsi.
Perawat tersebut tidak mau membantu dalam prosedur karena kepercayaan agama
yang dianutnya memandang aborsi sebagai pembunuhan kehidupan manusia dan
tidak diperbolehkan. Beliau mengatakan kepada dokter dan tenaga kesehatan
bahwa ia akan mencari perawat lain untuk membantunya. Namun, dokter dan
asisten lain sudah siap untuk melakukan tidakan aborsi segera, dokter dan perawat
menjadi sangat marah ketika perawat tersebut menolak untuk membantunya.
Dokter mengancam untuk melaorkannya ke kepala bidang keperawatan atas
kelalaian perawat beberapa yang lalu karena tidak sengaja merusak kabel USG
empat dimensi milik RS dengan harga yang ditaksir kira-kira Rp 35 juta rupiah.
Perawat pun menjadi bingung, ia masih menginginkan pekerjaannya saat ini
karena ia merupakan tulang punggung keluarga semenjak ayahnya meninggal 2
tahun yang lalu.

Analisa Kasus

o Daftar pendapat anggota kelompok tentang gambar/ istilah atau


kata sulit dalam scenario kasus

1. Aborsi

2. USG

3. Kelalaian

4. Agama

5. Istilah tulang punggung

6. USG 4 dimensi

7. Taksiran

8. Prosedur

Jawaban dari istilah kata sulit

1. Aborsi :
Pengguguran janin dengan tidak sengaja

Dilakukan secara paksa

Janin tidak bisa dilahirkan di Rahim

1. USG

Memeriksa kandungan jenis bermacam macam

1. Kelalaian

Suatu yang tidak di respon

Suatu yang tidak dilakukan hati hati

Sembarangan

Sesuatu yang tidak dilaksanakna secara baik

1. Agama

Suatu kepercayaan yang dianut

Suatu pandangan hidup

Keyakinan yang dijalani sejak lahir dan meniggal dunia

Kepercayaan seseorang

1. Istilah tulang punggung

Penompang keluarga

Penompang hidup

Penanggung jawab keluarga

Orang yang kerja keras dikeluarga

Orang di percaya menafkahi keluarganya

Kepala keluarga yang dapat menafkahi keluarganya


Orang sebagai pembimbing keluarga

1. USG 4 dimensi

Berbeda dengan 2 dimensi tapi, berwarna

Memeriksa janin dengan indera secara menyeluruh

Merek keluaran terbaru dari 2 dimensi

Memeriksa organ dalam janin

Alat untuk memantau perkembangan janin

Alat yang dapat memeriksa kelainan janin

1. Taksiran

Perkiraan

Perhitungan

Kemungkinan

Tawaran

1. Prosedur

Rangkaian aktivitas yang dilakukan sehari hari

Tindakan

Langkah lagkah yang dilaksanakan

Tahapan melakukan kegiatan

Rangkaian melakukan masalah

Rangkaian melakukan sesuatu

Aturan yang dilakukan sesuai aturan tertentu

o Daftar pertanyaan
1. Apa saja resiko dilakukannya aborsi ?

2. Apakah perawat harus membantu melakukan aborsi ?

3. Bagaimana aborsi pada pandangan islam ?

4. Apa hukum aborsi di Indonesia ?

5. Definisi dilema etik keperawatan ?

6. Cara mengatasi kasus dilema etik keperawatan ?

o Jawaban dari daftar pertanyaan

7. Resiko dilakukan aborsi adalah :

8. Bisa mengancam kesehatan ibunya.

9. Ada resiko pendarahan .

10. Dapat mengakibatkan kemandulan.

11. Dapat mengakibatkan kanker.

12. Kematian mendadak saat aborsi.

13. Perawat harus membantu aborsi ketika aborsi itu dihubungkan dengan
faktor medis yang bertujuan untuk membantu seorang perempuan yang
memiliki kelainan di dalam kandungan saat dia hamil dan kehamilan itu akan
menyebabkan kesehatan ibu terganggu sehingga dibolehkan melakukan aborsi
namun ketika aborsi itu dilakukan hanya bertujuan untuk menghilangkan aib,
misalkan melakukan perzinahan maka itu dilarang.

1. Pandangan aborsi dalam islam bahwa apabila ada seorang laki-laki dan
perempuan yang bukan muhrim atau belum menikah secara resmi melakukan
hubungan diluar nikah maka itu dikatakan perilaku zina dan zina itu hukumnya
haram. Jika dari hubungan tersebut mengakibatkan perempuan hamil dan ingin
melakukan aborsi maka aborsi tersebut sangat diharamkan oleh islam.

2. Di Indonesia tidak diperbolehkan melakukan aborsi jika aborsi tersebut


hanya untuk mempertahankan nama baik perempuan dan keluarganya. Aborsi
boleh dilakukan di Indonesia apabila nyawa ibu terancam meninggal akibat janin
yang dikandungnya dan apabila tidak mengambil tindakan dengan pengaborsian
maka sang ibu dan janin yang dikandungnya akan terancam meninggal.

Dilema etik keperawatan adalah

1. Definisi dilemma etik keperawatan merupakan suatu masalah yang sulit


dimana tidak ada alternative yang memuaskan atau suatu situasi dimana
alternative yang memuaskan dan tidak memuaskan sebanding. Dalam dilemma
etik tidak ada yang benar atau salah.

2. Cara mengatasi kasus Dilema Etik yaitu dengan :

3. Meninjau kembali situasi untuk menentukan masalah-masalah


kesehatan, keputusan yang diperlukan, komponen-komponen etis dan petunjuk
individual.

4. Mengumpulkan informasi tambahan untuk mengklarifikasi situasi.

5. Mengidentifikasi isu etis dalam situasi.

6. Menetukan posisi moral dari petunjuk individual yang terkait.

7. Mengidentfikasi konflik value, bila ada.

8. Menentukan siapa yang seharusnya membuat keputusan.

9. Mengidentifikasi jarak tindakan dengan hasil yang di antisipasi.

10. Memutuskan serangkaian tindakan dan melaksankannya.

11. Mengevaluasi atau meninjau kembali hasil-hasil dari keputusan.

12. Sebagai perawat dapat mengatasi dilemma-dilema etis, dia harus


memutuskan system etis yang mana yang sesuai dengan pandangannya.

Skema, pohon masalah, alur pikir sistemati

Learning Objective
1. Definisi dilema etik keperawatan ?

2. Resiko melakukan aborsi ?

3. Hukum aborsi di Indonesia ?

4. Apa yang dilakukan perawat jika mengalami dilema etik ?

5. Contoh kasus yang berhubungan dengan dilema etik keperawatan ?

BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Dilema Etik

Dilema etik merupakan suatu masalah yang sulit dimana tidak ada
alternatif yang memuaskan suatu situasi dimana alternatif yang memuaskan dan
tidak memuaskan sebanding. Dalam dilema etik tidak ada yang benar atau salah.
Untuk membuat keputusan yang etis, seseorang harus tergantung pada pemikiran
yang rasional dan bukan emosional tetapi pada prinsip moral dalam
menyelesaikan masalah etik.

Dilema etik yang sering ditemukan dalam praktek keperawatan dapat


bersifat personal ataupun professional. Dilema menjadi sulit dipecahkan bila
memerlukan pemilihan keputusan tepat diantara dua atau lebih prinsip etis.
Sebagai tenaga professional perawat kadang sulit karena keputusan yang akan
diambil keduanya sama-sama memiliki kebaikan dan keburukan . pada saat
berhadapan dengan dilemma etis juga terdapat dampak emosional seperti rasa
marah , frustasi, dan takut saat proses pengambilan keputusan rasional yang harus
dihadapi, ini membutuhkan kemampuan interaksi dan komunikasi yang baik dari
seorang perawat .

Dilema etik merupakan suatu masalah yang sulit dimana tidak ada
alternatif yang memuaskan atau suatu situasi dimana alternatif yang memuaskan
dan tidak memuaskan sebanding. Dalam dilemma etik tidak ada yang benar atau
salah. Untuk membuat keputusan yang etis, seseorang harus tergantung pada
pemikiran yang rasional dan bukan emosional. Kerangkan pemecahan dilemma
etik banyak diutarakan dan pada dasarnya mengunakan kerangka proses
keperawatan/pemecahan masalah secara ilmiah (Thompson & Thompson, 1985).
Kozier et. Al (2004) menjelaskan kerangka pemecahan dilema etik sebagai berikut
:
Tinjauan kasus berdasarkan skema, pohon masalah, alur piker sistematis.

Dilema Etik yaitu siatuasi dimana seseorang dihadapkan pada dua alternative
pilihan dimana tidak ada jalan keluar yang memuaskan pada masalah tersebut
( Jones,Shirley R. 2000. Ethics In Midwifery Second Edition Mos by Cambell
1984 ).

Dilema Etik yaitu suatu keadaan yang terdiri dari dua pilihan yang seimbang
dengan kata lain, dilemma etik merupakan keadaan yang dihadapkan pada
persimpangan yang serupa atau bercabang dengan petunjuk yang tidak jelas.
( Jonson. 1990, by Ethics In Midwifery Second Edition).

Oxford learners pocket dictionary 1995. Moral Dilemma is concerning princip les
of right and wrong in difficult situation in which one has to choose between two
things. ( Buku Jones, Shirley R. 2000. Ethic In Midwifery Second Edition).

1. Resiko melakukan aborsi

Resiko melakukan aborsi terbagi menjadi dua macam yaitu:

1. Resiko Kesehatan

Keancaman keselamatan secara fisik yaitu dapat menyebabkan kematian


atau koma mendadak karena pendarahan yang hebat.

kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan.

pada kehamilan berikutnya bisa menyebabkan kehamilan tuba(zigot


tidak berkembang didalam Rahim melainkan disaluran tubapalopi).

resiko terkena kanker,menjadi mandul atau tidak dapat keturunan lagi.

kelainan pada ari-ari bayi yang akan menyebabkan cacat pada anak
berikutnya.

melahirkan prematur pada kehamilan selanjutnya.

Kerusakan leher Rahim menyebabkan cacat pada anak berikutnya

Luka pada serviks uteri


pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi
kelainan pembekuan darah

gagal ginjal akut

2. Resiko psikologis

Kehilangan harga diri 82 %

Berteriak teriak histeris 51%

Mimpi buruk berkali kali mengenai bayi 63%

Ingin melakukan tindakan bunuh diri 28%

Mulai mencoba menggunakan obat obatan terlarang 51%

Tidak bisa menikmati hubungan seksual 59%

Diluar itu semua, akan dipenuhi perasaan bersalah yang tidak hilang selama
bertahun tahun dalam hidupnya.

1. Hukum Aborsi Di Indonesia

Di Indonesia, baik menurut pandangan agama, Undang-Undang Negara, maupun


Etik Kedokteran, seorang dokter tidak diperbolehkan untuk melakukan tindakan
pengguguran kandungan (abortus provokatus). Bahkan sejak awal seseorang yang
akan menjalani profesi dokter secara resmi disumpah dengan Sumpah Dokter
Indonesia yang didasarkan atas Deklarasi Jenewa yang isinya menyempurnakan
Sumpah Hippokrates, di mana ia akan menyatakan diri untuk menghormati setiap
hidup insani mulai dari saat pembuahan.

Dari aspek etika, Ikatan Dokter Indonesia telah merumuskannya dalam Kode Etik
Kedokteran Indonesia mengenai kewajiban umum, pasal 7d: :Setiap dokter harus
senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani.

Pada pelaksanaannya, apabila ada dokter yang melakukan pelanggaran, maka


penegakan implementasi etik akan dilakukan secara berjenjang dimulai dari
panitia etik di masing-masing RS hingga Majelis Kehormatan Etika Kedokteran
(MKEK). Sanksi tertinggi dari pelanggaran etik ini berupa pengucilan anggota
dari profesi tersebut dari kelompoknya. Sanksi administratif tertinggi adalah
pemecatan anggota profesi dari komunitasnya.
Ditinjau dari aspek hukum, pelarangan abortus justru tidak bersifat mutlak.
Abortus buatan atau abortus provokatus dapat digolongkan ke dalam dua
golongan yakni:

1. Abortus buatan legal Yaitu pengguguran kandungan yang dilakukan


menurut syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang. Populer
juga disebut dengan abortus provocatus therapeticus, karena alasan yang sangat
mendasar untuk melakukannya adalah untuk menyelamatkan nyawa ibu.
Abortus atas indikasi medik ini diatur dalam Undang Undang Republik Indonesia
Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan:

PASAL 15

1) Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan
atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu.

2) Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) hanya dapat


dilakukan:

1. Berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan


tersebut.

2. Oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan


untuk itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan
pertimbangan tim ahli.

3. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau


keluarganya.

4. Pada sarana kesehatan tertentu.

3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tindakan medis tertentu sebagaimana


dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Pada penjelasan UU no 23 tahun 1992 pasal 15 dinyatakan sebagai berikut:

Ayat (1): Tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan
apapun, dilarang karena bertentangan dengan norma hukum, norma agama, norma
kesusilaan dan norma kesopanan. Namun dalam keadaan darurat sebagai upaya
untuk menyelamatkan jiwa ibu atau janin yang dikandungnya dapat diambil
tindakan medis tertentu
Ayat (2)

Butir a: Indikasi medis adalah suatu kondisi yang benar-benar


mengharuskan diambil tindakan medis tertentu sebab tanpa tindakan medis
tertentu itu, ibu hamil dan janinnya terancam bahaya maut.

Butir b: Tenaga kesehatan yang dapat melakukan tindakan medis


tertentu adalah tenaga yang memiliki keahlian dan wewenang untuk
melakukannya yaitu seorang dokter ahli kandungan seorang dokter ahli
kebidanan dan penyakit kandungan.

Butir c: Hak utama untuk memberikan persetujuan ada ibu hamil yang
bersangkutan kecuali dalam keadaan tidak sadar atau tidak dapat memberikan
persetujuannya ,dapat diminta dari semua atau keluarganya.

Butir d: Sarana kesehatan tertentu adalah sarana kesehatan yang


memiliki tenaga dan peralatan yang memadai untuk tindakan tersebut dan
ditunjuk oleh pemerintah.

Ayat (3): Dalam Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanan dari pasal ini
dijabarkan antara lain mengenal keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu
hamil atau janinnya,tenaga kesehatan mempunyai keahlian dan wewenang bentuk
persetujuan, sarana kesehatan yang ditunjuk.

2. Abortus Provocatus Criminalis (Abortus buatan illegal) Yaitu


pengguguran kandungan yang tujuannya selain untuk menyelamatkan atau
menyembuhkan si ibu, dilakukan oleh tenaga yang tidak kompeten serta tidak
memenuhi syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang. Abortus
golongan ini sering juga disebut dengan abortus provocatus criminalis karena di
dalamnya mengandung unsur kriminal atau kejahatan. Beberapa pasal yang
mengatur abortus provocatus dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana
(KUHP):

PASAL 299

1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh supaya
diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karena
pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling
lama empat tahun atau denda paling banyak empat pulu ribu rupiah.
2) Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau
menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencaharian atau kebiasaan atau jika dia
seorang tabib, bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga.

3) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan


pencaharian, maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencaharian.

PASAL 346

Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau


menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat
tahun.

PASAL 347

1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan


seorang wanita tanpa persetujuan, diancam dengan pidana penjara paling lama dua
belas tahun.

2) Jika perbuatan itu menyebabkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana


penjara paling lama lima belas tahun.

PASAL 348

1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan


seseorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling
lama lima tahun enam bulan.

2) Jika perbuatan tersebut mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikarenakan


pidana penjara paling lama tujuh tahun.

PASAL 349

Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang
tersebut pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu
kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang
ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengn sepertiga dan dapat dicabut hak
untuk menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan.

PASAL 535
Barang siapa secara terang-terangan mempertunjukkan suatu sarana untuk
menggugurkan kandungan, maupun secara terang-terangan atau tanpa diminta
menawarkan, ataupun secara terang-terangn atau dengan menyiarkan tulisan tanpa
diminta, menunjuk sebagai bisa didapat, sarana atau perantaraan yang demikian
itu, diancam dengan kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak
empat ribu lima ratus rupiah.

Dari rumusan pasal-pasal tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan:

1. Seorang wanita hamil yang sengaja melakukan abortus atau ia menyuruh


orang lain, diancam hukuman empat tahun.

2. Seseorang yang sengaja melakukan abortus terhadap ibu hamil, dengan


tanpa persetujuan ibu hamil tersebut diancam hukuman 12 tahun, dan jika ibu
hamil itu mati diancam 15 tahun

3. Jika dengan persetujuan ibu hamil, maka diancam hukuman 5,5 tahun
penjara dan bila ibu hamil tersebut mati diancam hukuman 7 tahun penjara.

4. Jika yang melakukan dan atau membantu melakukan abortus tersebut


seorang dokter, bidan atau juru obat (tenaga kesehatan) ancaman hukumannya
ditambah sepertiganya dan hak untuk praktek dapat dicabut.

Meskipun dalam KUHP tidak terdapat satu pasal pun yang memperbolehkan
seorang dokter melakukan abortus atas indikasi medik, sekalipun untuk
menyelamatkan jiwa ibu, dalam prakteknya dokter yang melakukannya tidak
dihukum bila ia dapat mengemukakan alasan yang kuat dan alasan tersebut
diterima oleh hakim (Pasal 48). Selain KUHP, abortus buatan yang ilegal juga
diatur dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang
Kesehatan:

PASAL 80

Barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu terhadap ibu
hamil yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 15 ayat
(1) dan ayat (2), dipidana dengan penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan
pidana denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)

1. Langkah-langkah Menghadapi Dilema Etik

Yang dilakukan perawat jika mengalami dilema etik adalah untuk membuat
keputusan-keputusan etik, seseorang harus menggantungkan pada pemikiran
rasional, bukan emosi. Keputusan-keputusan memerlukan kesadaran, ketermpilan,
kognitif, yang diperlukan untuk memahami kebutuhan klien dan memberi asuhan
kepada klien. Keputusan itu akan mempengaruhi kliennya, dan keputusan ini
seringkali didasarkan pada etis. Sejumlah teori etis dan model pengambilan
keputusan etis dapat membimbing perawat dalam membuat keputusan menurut
pandangan Thomson (1981) mengusulkan 10 langkah model keputusan bioetis
untuk membantu perawat menguji atau memeriksa isu etis dan membuat
keputusan yaitu

1. Meninjau kembali situasi untuk menentikan masalah-masalah


kesehatan, keputusan yang diperlukan, komponen-komponen etis dan petunjuk
individual.

2. Mengumpulkan informasi tambahan untuk mengklarifikasi situasi.

3. Mengidentifikasi isu etis dalam situasi.

4. Menentukan posisi moral dari prtuntuk individual yang terkait.

5. Mengidentifikasi konflik value bila ada.

6. Menentukan siapa yang seharusnya membuat keputusan.

7. Mengidentifikasi jarak dengan hasil yang diantisifasi.

8. Memutuskan serangkaian tindakan dan melaksanakannya.

9. Mengevaluasi atau meninjau kembali hasil-hasil dari keputusan atau


tindakan.

10. Sebagai perawat dapat mengatasi dilema etis, dia harus memutuskan
sistem etis yang mana yang sesuai pandangannya.

Langkah penyelesaian dilemma etik menurut Tappen (2005) adalah

1. Pengkajian, terkumpulnya data dari seluruh pengambil keputusan


dengan bantuan pertanyaan:

2. Apa yang menjadi fakta medik ?

3. Apa yang menjadi fakta psikososial ?


4. Apa yang menjadi keinginan klien ?

5. Apa nilai yang menjadi konflik ?

2. Perencanaan untuk merencanakan dengan tepat dan berhasil setiap


orang yang terlibat dalam pengambilan keputusan harus masuk dalam proses
Thomson and Thamson (1985) mendaftarkan 3 hal yang sangat spesifik namun
terintegrasi dalam perencanaan yaitu

3. Tentukan tujuan dari treatment

4. Identifikasi pembuat masalah

5. Daftar dan beli bobot seluruh opsi/pilihan

6. Implementasi

Klien/keluarganya yang menjadi mengambil keputusan beserta anggota tim


kesehatan terlibat mencari kesepakatan putusan yang dapat diterima dan saling
menguntungkan

4. Evaluasi

Terselesaikannya dilema etik seperti yang ditentukan sebagai pemecahan masalah.


Perubahan status klien, kemungkinan treatment medic, dan fakta social dapat
dipakai untuk mengevaluasi ulang situasi dan akibat treatment perlu untuk
dirubah. Komunikasi diantara para pengambil masih harus dipelihara.

1. Contoh kasus dilemma etik

2. Nyonya Fenny seorang wanita lansia usia 60 tahun. Dirawat di RS dengan


berbagai macam fraktur karena kecelakaan mobil. Suaminya yang juga ada
dalam kecalakaan tersebut masuk ke RS yang sama dan meninggal. Nyonya
Fenny bertanyanya berkali-kali kepada perawat tentang keadaan suaminya.
Dokter ahli bedah berpesan kepada perawatnya untuk tidak mengatakan
kematian suami nyonya Fenny. Perawat tidak diberi alasan apapun untuk
petunjuk tersebut.

Bagaimana perawat menghadapi situasi tersebut ?

Pertama,menunda terlebih dahulu untuk tidak mengatakan bahwa suaminya


meninggal.setelah itu katakan kepada Ny.Fenny bahwa rekan-rekan kami sedang
memberikan pelayanan yang terbaik kepada suami anda.sehingga anda tidak perlu
merasa cemas dengan keadaan suami anda.dan kami disini bertugas memberikan
pelayanan kepada anda,untuk memberikan pelayanan kesehatan secara optimal.

1. Seorang pasien laki-laki berumur 50 tahun menderita penyakit kanker


otak terminal dengan metastase yang telah resisten terhadap tindakan
kemoterapi dan radiasi. Pasien tersebut mengalami nyeri kepala yang hebat
dimana sudah tidak dapat lagi diatasi dengan pemberian dosis morphin
intravena. Hal itu ditunjukkan dengan adanya rintihan ketika istirahat dan nyeri
bertambah hebat saat pasien itu beraktifitas. Walapun klien tampak bisa tidur
namun ia sering meminta diberikan obat analgesik, dan keluarganya pun
meminta untuk dilakukan penambahan dosis pemberian obat analgesik. Saat
dilakukan diskusi perawat disimpulkan bahwa penambahan obat analgesik dapat
mempercepat kematian klien

Bagaimana perawat menghadapi situasi tersebut?

Pemecahan Kasus Dilema Etik

1. Mengembangkan data dasar :

o Orang yang terlibat : Klien, keluarga klien, dokter, dan perawat

o Tindakan yang diusulkan : tidak menuruti keinginan klien untuk


memberikan penambahan dosis morphin.

o Maksud dari tindakan tersebut : agar tidak membahayakan diri


klien

o Konsekuensi tindakan yang diusulkan, bila tidak diberikan


penambahan dosis morphin, klien dan keluarganya menyalahkan
perawat dan apabila keluarga klien kecewa terhadap pelayanan di
bangsal mereka bisa menuntut ke rumah sakit.

2. Mengidentifikasi konflik akibat situasi tersebut

Penderitaan klien dengan kanker otak yang sudah mengalami metastase mengeluh
nyeri yang tidak berkurang dengan dosis morphin yang telah ditetapkan. Klien
meminta penambahan dosis pemberian morphin untuk mengurangi keluhan
nyerinya. Keluarga mendukung keinginan klien agar terbebas dari keluhan nyeri.
Konflik yang terjadi adalah :
a.Penambahan dosis pemberian morphin dapat mempercepat kematian klien.
b.Tidak memenuhi keinginan klien terkait dengan pelanggaran hak klien

3.Tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan dan


konsekuensi tindakan tersebut

1. Tidak menuruti keinginan pasien tentang penambahan dosis obat


pengurang nyeri.
Konsekuensi :

Tidak mempercepat kematian klien

o Keluhan nyeri pada klien akan tetap berlangsung

o Pelanggaran terhadap hak pasien untuk menentukan nasibnya


sendiri

o Keluarga dan pasien cemas dengan situasi tersebut

1. Tidak menuruti keinginan klien, dan perawat membantu untuk


manajemen nyeri.
Konsekuensi :

Tidak mempercepat kematian pasien

Klien dibawa pada kondisi untuk beradaptasi pada nyerinya


(meningkatkan ambang nyeri)

Keinginan klien untuk menentukan nasibnya sendiri tidak terpenuhi

Menuruti keinginan klien untuk menambah dosis morphin namun tidak


sering dan apabila diperlukan. Artinya penambahan diberikan kadang-kadang
pada saat tertentu misalnya pada malam hari agar klien bisa tidur cukup.
Konsekuensi :

1. Risiko mempercepat kematian klien sedikit dapat dikurangi

2. Klien pada saat tertentu bisa merasakan terbebas dari nyeri


sehingga ia dapat cukup beristirahat.

3. Hak klien sebagian dapat terpenuhi.


4. Kecemasan pada klien dan keluarganya dapat sedikit dikurangi.

5. Menentukan siapa pengambil keputusan yang tepat

Pada kasus di atas dokter adalah pihak yang membuat keputusan, karena dokterlah
yang secara legal dapat memberikan ijin penambahan dosis morphin. Namun hal
ini perlu didiskusikan dengan klien dan keluarganya mengenai efek samping yang
dapat ditimbulkan dari penambahan dosis tersebut. Perawat membantu klien dan
keluarga klien dalam membuat keputusan bagi dirinya. Perawat selalu
mendampingi pasien dan terlibat langsung dalam asuhan keperawatan yang dapat
mengobservasi mengenai respon nyeri, kontrol emosi dan mekanisme koping
klien, mengajarkan manajemen nyeri, sistem dukungan dari keluarga, dan lain-
lain.

5. Mendefinisikan kewajiban perawat

1. Memfasilitasi klien dalam manajemen nyeri

2. Membantu proses adaptasi klien terhadap nyeri / meningkatkan ambang


nyeri

3. Mengoptimalkan sistem dukungan

1. Membantu klien untuk menemukan mekanisme koping yang adaptif


terhadap masalah yang sedang dihadapi

2. Membantu klien untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha
Esa sesuai dengan keyakinannya

3. Membuat keputusan

Dalam kasus di atas terdapat dua tindakan yang memiliki risiko dan konsekuensi
masing-masing terhadap klien. Perawat dan dokter perlu mempertimbangkan
pendekatan yang paling menguntungkan / paling tepat untuk klien. Namun upaya
alternatif tindakan lain perlu dilakukan terlebih dahulu misalnya manajemen nyeri
(relaksasi, pengalihan perhatian, atau meditasi) dan kemudian dievaluasi
efektifitasnya. Apabila terbukti efektif diteruskan namun apabila alternatif
tindakan tidak efektif maka keputusan yang sudah ditetapkan antara petugas
kesehatan dan klien/ keluarganya akan dilaksanakan
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Dari pembahasan kita mengenai Dilema Etik dalam memecahkan kebingungan


seorang perawat dalam suatu masalah yang sulit dimana tidak ada alternatif yang
memuaskan atau suatu situasi dimana alternatif yang memuaskan dan tidak
memuaskan itu sebanding.sehingga seorang tenaga professional harus tergantung
kepada pemikiran rasional bukan pemikiran emosional. Tetapi kalau dimasukan
kedalam prinsip moral dalam menyelesaikan masalah etik, kadang sulit karena
keputusan yang akan diambil keduanya sama-sama memiliki kebaikan dan
keburukan.sehingga apabila seorang perawat mengambil keputusan etis harus
memenuhi keputusan yang terarah seperti menyiapakan
pengajian,perencanaan,implementasi dan evaluasi.sehingga akan tercapainya
keputusan yang legal.

Saran

Sebagai seorang tenaga kesehatan yang professional kita harus lebih memilih
pemikiran yang rasional dibandingkan dengan emosional.sehingga disaat kita
mengalami dilema etis kita dapat menghadapinya dengan professional.

Daftar Pustaka

Nanda.2013.paduan penyusunan asuhan keperawatan


professional.mediaaction.Jakarta

Dutton,Lauren,A.2008.rujukan cepet kebidanan.buku kedokteran.Jakarta

Rubendfeld,M.Gale.berpikir kritis dalam perawat edisi 2.

Jones,shirleyR.2000.Ethios in midwifery second edition mosby


Home

About

Archives
MATERI KULIAH KEPERAWATAN

MAKALAH DILEMA ETIK

undefined undefined

ETIK
DILEMA ETIK

CONTOH KASUS DILEMA ETIK

NAMA : HAFIKO ANDRESNI


NIM/NIRM : 1214-201013
PRODI : S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGU ILMU KESEHATAN

TUANKU TAMBUSAI BANGKINANG

TA. 2012/2013

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Keperawatan merupakan salah satu profesi yang berkecimpung untuk kesejahteraan


manusia yaitu dengan memberikan bantuan kepada individu yang sehat maupun yang
sakit untuk dapat menjalankan fungsi hidup sehari-harinya. Salah satu yang mengatur
hubungan antara perawat pasien adalah etika. Istilah etika dan moral sering digunakan
secara bergantian. Sehingga perawat perlu mengetahui dan memahami tentang etik itu
sendiri termasuk didalamnya prinsip etik dan kode etik.

Hubungan antara perawat dengan pasien atau tim medis yang lain tidaklah selalu
bebas dari masalah. Perawat profesional harus menghadapi tanggung jawab etik dan
konflik yang mungkin meraka alami sebagai akibat dari hubungan mereka dalam praktik
profesional. Kemajuan dalam bidang kedokteran, hak klien, perubahan sosial dan hukum
telah berperan dalam peningkatan perhatian terhadap etik. Standart perilaku perawat
ditetapkan dalam kode etik yang disusun oleh asosiasi keperawatan internasional,
nasional, dan negara bagian atau provinsi. Perawat harus mampu menerapkan prinsip
etik dalam pengambilan keputusan dan mencakup nilai dan keyakinan dari klien, profesi,
perawat, dan semua pihak yang terlibat. Perawat memiliki tanggung jawab untuk
melindungi hak klien dengan bertindak sebagai advokat klien. Para perawat juga harus
tahu berbagai konsep hukum yang berkaitan dengan praktik keperawatan karena mereka
mempunyai akuntabilitas terhadap keputusan dan tindakan profesional yang mereka
lakukan (Ismaini, 2001)

Dalam berjalannya proses semua profesi termasuk profesi keperawatan didalamnya


tidak lepas dari suatu permasalahan yang membutuhkan berbagai alternative jawaban
yang belum tentu jawaban-jawaban tersebut bersifat memuaskan semua pihak. Hal
itulah yang sering dikatakan sebagai sebuah dilema etik. Dalam dunia keperawatan
sering kali dijumpai banyak adanya kasus dilemma etik sehingga seorang perawat
harus benar - benar tahu tentang etik dan dilema etik serta cara penyelesaian dilema
etik supaya didapatkan keputusan yang terbaik. Oleh karena itu penulis menyusun suatu
makalah tentang etik dan dilema etik supaya bisa dipahami oleh para mahasiswa yang
nantinya akan berguna ketika bekerja di klinik atau institusi yang lain.

B. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Mahasiswa mampu mengetahui konsep tentang etik dan dilema etik khususnya dibidang
keperawatan

2. Tujuan Khusus

a. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami definisi etik


b. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tipe-tipe etika
c. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami teori etik
d. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami prinsip-prinsip etik
e. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami dilema etik dan cara penyelesainnya
f. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami contoh kasus dilema etik dan
penyelesainnya.
BAB II

KAJIAN TEORI

A. DEFINISI ETIK

Etik adalah norma-norma yang menentukan baik-buruknya tingkah laku manusia,


baik secara sendirian maupun bersama-sama dan mengatur hidup ke arah tujuannya
( Pastur scalia, 1971 ). Etika juga berasal dari bahasa yunani, yaitu Ethos, yang menurut
Araskar dan David (1978) berarti kebiasaaan . model prilaku atau standar yang
diharapkan dan kriteria tertentu untuk suatu tindakan. Penggunaan istilah etika sekarang
ini banyak diartikan sebagai motif atau dorongan yang mempengaruhi prilaku. (Mimin.
2002).

Dari pengertian di atas, etika adalah ilmu tentang kesusilaan yang menentukan
bagaimana sepatutnya manusia hidup di dalam masyarakat yang menyangkut aturan-
aturan atau prinsip-prinsip yang menentukan tingkah laku yang benar, yaitu : baik dan
buruk serta kewajiban dan tanggung jawab

Etik juga dapat digunakan untuk mendeskripsikan suatu pola atau cara hidup,
sehingga etik merefleksikan sifat, prinsip dan standar seseorang yang mempengaruhi
perilaku profesional. Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa etik
merupakan istilah yang digunakan untuk merefleksikan bagaimana seharusnya manusia
berperilaku, apa yang seharusnya dilakukan seseorang terhadap orang lain. Sehingga
juga dapat disimpulkan bahwa etika mengandung 3 pengertian pokok yaitu : nilai-nilai
atau norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam
mengatur tingkah laku, kumpulan azas atau nilai moral, misalnya kode etik dan ilmu
tentang yang baik atau yang buruk (Ismaini, 2001)

B. TIPE-TIPE ETIKA
1. Bioetik
Bioetika merupakan studi filosofi yang mempelajari tentang kontroversi dalam
etik, menyangkut masalah biologi dan pengobatan. Lebih lanjut, bioetika difokuskan
pada pertanyaan etik yang muncul tentang hubungan antara ilmu kehidupan,
bioteknologi, pengobatan, politik, hukum, dan theology. Pada lingkup yang lebih sempit,
bioetik merupakan evaluasi etika pada moralitas treatment atau inovasi teknologi, dan
waktu pelaksanaan pengobatan pada manusia. Pada lingkup yang lebih luas, bioetik
mengevaluasi pada semua tindakan moral yang mungkin membantu atau bahkan
membahayakan kemampuan organisme terhadap perasaan takut dan nyeri, yang
meliputi semua tindakan yang berhubungan dengan pengobatan dan biologi
2. Clinical ethics/Etik klinik
Etik klinik merupakan bagian dari bioetik yang lebih memperhatikan pada masalah
etik selama pemberian pelayanan pada klien. Contoh clinical ethics : adanya persetujuan
atau penolakan, dan bagaimana seseorang sebaiknya merespon permintaan medis yang
kurang bermanfaat (sia-sia).
3. Nursing ethics/Etik Perawatan
Bagian dari bioetik, yang merupakan studi formal tentang isu etik dan
dikembangkan dalam tindakan keperawatan serta dianalisis untuk mendapatkan
keputusan etik. Etika keperawatan dapat diartikan sebagai filsafat yang mengarahkan
tanggung jawab moral yang mendasari pelaksanaan praktek keperawatan. Inti falsafah
keperawatan adalah hak dan martabat manusia, sedangkan fokus etika keperawatan
adalah sifat manusia yang unik (k2-nurse, 2009)
C. TEORI ETIK

Dalam etika masih dijumpai banyak teori yang mencoba untuk menjelaskan suatu
tindakan, sifat, atau objek perilaku yang sama dari sudut pandang atau perspektif yang
berlainan. Beberapa teori etik adalah sebagai berikut :
1. Utilitarisme
Sesuai dengan namanya Utilitarisme berasal dari kata utility dengan bahasa latinnya
utilis yang artinya bermanfaat. Teori ini menekankan pada perbuatan yang
menghasilkan manfaat, tentu bukan sembarang manfaat tetapi manfaat yang banyak
memberikan kebahagiaan kepada banyak orang. Teori ini sebelum melakukan perbuatan
harus sudah memikirkan konsekuensinya terlebih dahulu.
2. Deontologi
Deontology berasal dari kata deon dari bahasa yunani yang artinya kewajiban. Teori
ini menekankan pada pelaksanaan kewajiban. Suatu perbuatan akan baik jika didasari
atas pelaksanaan kewajiban, jadi selama melakukan kewajiban sudah melakukan
kebaikan. Teori ini tidak terpatok pada konsekuensi perbuatan dengan kata lain teori ini
melaksanakan terlebih dahulu tanpa memikirkan akibatnya. (Aprilins, 2010)

D. PRINSIP-PRINSIP ETIK
1. Otonomi (Autonomy)
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis
dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap kompeten dan
memiliki kekuatan membuat sendiri, memilih dan memiliki berbagai keputusan atau
pilihan yang harus dihargai oleh orang lain. Otonomi merupakan hak kemandirian dan
kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri. Praktek profesional merefleksikan
otonomi saat perawat menghargai hak-hak klien dalam membuat keputusan tentang
perawatan dirinya.
2. Berbuat baik (Beneficience)
Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan, memerlukan
pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan atau kejahatan dan
peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain. Terkadang, dalam situasi pelayanan
kesehatan, terjadi konflik antara prinsip ini dengan otonomi
3. Keadilan (Justice)
Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap orang lain
yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan
dalam prkatek profesional ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum,
standar praktek dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan
kesehatan.
4. Tidak merugikan (Nonmaleficience)
Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien.
5. Kejujuran (Veracity)
Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini diperlukan oleh pemberi
pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien dan untuk
meyakinkan bahwa klien sangat mengerti. Prinsip veracity berhubungan dengan
kemampuan seseorang untuk mengatakan kebenaran. Informasi harus ada agar menjadi
akurat, komprensensif, dan objektif untuk memfasilitasi pemahaman dan penerimaan
materi yang ada, dan mengatakan yang sebenarnya kepada klien tentang segala sesuatu
yang berhubungan dengan keadaan dirinya selama menjalani perawatan.
6. Menepati janji (Fidelity)
Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komitmennya
terhadap orang lain. Perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta
menyimpan rahasia klien. Ketaatan, kesetiaan, adalah kewajiban seseorang perawat
untuk mempertahankan komitmen yang dibuatnya kepada pasien.
7. Karahasiaan (Confidentiality)
Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus dijaga
privasinya. Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan kesehatan klien hanya
boleh dibaca dalam rangka pengobatan klien. Tidak ada seorangpun dapat memperoleh
informasi tersebut kecuali jika diijinkan oleh klien dengan bukti persetujuan. (Geoffry
hunt. 1994)

E. DEFINISI DAN KODE ETIK KEPERAWATAN

Etik keperawatan adalah norma-norma yang di anut oleh perawat dalam bertingkah
laku dengan pasien, keluarga, kolega, atau tenaga kesehatan lainnya di suatu pelayanan
keperawatan yang bersifat professional. Perilaku etik akan dibentuk oleh nilai-nilai dari
pasien, perawat dan interaksi sosial dalam lingkungan. Tujuan dari etika keperawatan
adalah :

1. Mengidentifikasi, mengorganisasikan, memeriksa dan membenarkan tindakan-tindakan


kemanusiaan dengan menerapkan prinsip-prinsip tertentu
2. Menegaskan tentang kewajiban-kewajiban yang diemban oleh perawat dan mencari
informasi mengenai dampak-dampak dari keputusan perawat.

Sedangkan Kode etik keperawatan merupakan suatu pernyataan komprehensif dari


profesi yang memberikan tuntutan bagi anggotanya dalam melaksanakan praktek
keperawatan, baik yang berhubungan dengan pasien, keluarga masyarakat, teman
sejawat, diri sendiri dan tim kesehatan lain. Pada dasarnya, tujuan kode etik
keperawatan adalah upaya agar perawat, dalam menjalankan setiap tugas dan fungsinya,
dapat menghargai dan menghormati martabat manusia. Tujuan kode etik keperawatan
tersebut adalah :

1. Merupakan dasar dalam mengatur hubungan antar perawat, klien atau pasien, teman
sebaya, masyarakat, dan unsur profesi, baik dalam profesi keperawatan maupun dengan
profesi lain di luar profesi keperawatan.

2. Merupakan standar untuk mengatasi masalah yang silakukan oleh praktisi keperawatan
yang tidak mengindahkan dedikasi moral dalam pelaksanaan tugasnya.

3. Untuk mempertahankan bila praktisi yang dalam menjalankan tugasnya diperlakukan


secara tidak adil oleh institusi maupun masyarakat.

4. Merupakan dasar dalam menyusun kurikulum pendidikan kepoerawatan agar dapat


menghasilkan lulusan yang berorientasi pada sikap profesional keperawatan.

5. Memberikan pemahaman kepada masyarakat pemakai / pengguna tenaga keperawatan


akan pentingnya sikap profesional dalam melaksanakan tugas praktek keperawatan.
( PPNI, 2000 )

F. DILEMA ETIK

Dilema etik adalah situasi yang dihadapi seseorang dimana keputusan mengenai
perilaku yang layak harus di buat. (Arens dan Loebbecke, 1991: 77). Untuk itu diperlukan
pengambilan keputusan untuk menghadapi dilema etika tersebut. Enam pendekatan
dapat dilakukan orang yang sedang menghadapi dilema tersebut, yaitu:

1. Mendapatkan fakta-fakta yang relevan


2. Menentukan isu-isu etika dari fakta-fakta
3. Menentukan siap dan bagaimana orang atau kelompok yang dipengaruhi dilemma
4. Menentukan alternatif yang tersedia dalam memecahkan dilema
5. Menentukan konsekwensi yang mungkin dari setiap alternative
6. Menetapkan tindakan yang tepat.
Dengan menerapkan enam pendekatan tersebut maka dapat meminimalisasi atau
menghindari rasionalisasi perilaku etis yang meliputi: (1) semua orang melakukannya, (2)
jika legal maka disana terdapat keetisan dan (3) kemungkinan ketahuan dan
konsekwensinya.

Pada dilema etik ini sukar untuk menentukan yang benar atau salah dan dapat
menimbulkan stress pada perawat karena dia tahu apa yang harus dilakukan, tetapi
banyak rintangan untuk melakukannya. Dilema etik biasa timbul akibat nilai-nilai
perawat, klien atau lingkungan tidak lagi menjadi kohesif sehingga timbul pertentangan
dalam mengambil keputusan. Menurut Thompson & Thompson (1981 ) dilema etik
merupakan suatu masalah yang sulit dimana tidak ada alternatif yang memuaskan atau
situasi dimana alternatif yang memuaskan atau tidak memuaskan sebanding. Kerangka
pemecahan dilema etik banyak diutarakan oleh para ahli dan pada dasarnya
menggunakan kerangka proses keperawatan / Pemecahan masalah secara ilmiah, antara
lain:

1. Model Pemecahan masalah ( Megan, 1989 )


a. Mengkaji situasi
b. Mendiagnosa masalah etik moral
c. Membuat tujuan dan rencana pemecahan
d. Melaksanakan rencana
e. Mengevaluasi hasil
2. Kerangka pemecahan dilema etik (kozier & erb, 2004 )
a. Mengembangkan data dasar.
Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut dan bagaimana keterlibatannya
Apa tindakan yang diusulkan
Apa maksud dari tindakan yang diusulkan
Apa konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul dari tindakan yang diusulkan.
b. Mengidentifikasi konflik yang terjadi berdasarkan situasi tersebut
c. Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan dan
mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi tindakan tersebut
d. Menentukan siapa yang terlibat dalam masalah tersebut dan siapa pengambil
keputusan yang tepat
e. Mengidentifikasi kewajiban perawat
f. Membuat keputusan
3. Model Murphy dan Murphy
a. Mengidentifikasi masalah kesehatan
b. Mengidentifikasi masalah etik
c. Siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan
d. Mengidentifikasi peran perawat
e. Mempertimbangkan berbagai alternatif-alternatif yang mungkin dilaksanakan
f. Mempertimbangkan besar kecilnya konsekuensi untuk setiap alternatif keputusan
g. Memberi keputusan
h. Mempertimbangkan bagaimanan keputusan tersebut hingga sesuai dengan falsafah
umum untuk perawatan klien
i. Analisa situasi hingga hasil aktual dari keputusan telah tampak dan menggunakan
informasi tersebut untuk membantu membuat keputusan berikutnya.
4. Langkah-langkah menurut Purtilo dan Cassel ( 1981)
a. Mengumpulkan data yang relevan
b. Mengidentifikasi dilema
c. Memutuskan apa yang harus dilakukan
d. Melengkapi tindakan
5. Langkah-langkah menurut Thompson & Thompson ( 1981)
a. Meninjau situasi untuk menentukan masalah kesehatan, keputusan yang diperlukan,
komponen etis dan petunjuk individual.
b. Mengumpulkan informasi tambahan untuk mengklasifikasi situasi
c. Mengidentifikasi Issue etik
d. Menentukan posisi moral pribadi dan professional
e. Mengidentifikasi posisi moral dari petunjuk individual yang terkait.
f. Mengidentifikasi konflik nilai yang ada

BAB III

KASUS DILEMA ETIK

Suatu hari ada seorang bapak-bapak dibawa oleh keluarganya ke salah satu
Rumah Sakit di kota Surakarta dengan gejala demam dan diare kurang lebih selama 6
hari. Selain itu bapak-bapak tersebut (Tn. A) menderita sariawan sudah 3 bulan tidak
sembuh-sembuh, dan berat badannya turun secara berangsur-angsur. Semula Tn. A
badannya gemuk tapi 3 bulan terakhir ini badannya kurus dan telah turun 10 Kg dari
berat badan semula. Tn. A ini merupakan seorang sopir truk yang sering pergi keluar kota
karena tuntutan kerjaan bahkan jarang pulang, kadang-kadang 2 minggu sekali bahkan
sebulan sekali.
Tn. A masuk UGD kemudian dari dokter untuk diopname di ruang penyakit
dalam karena kondisi Tn. A yang sudah sangat lemas. Keesokan harinya dokter yang
menangani Tn. A melakukan visit kepada Tn. A, dan memberikan advice kepada
perawatnya untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan mengambil sampel
darahnya. Tn. A yang ingin tahu sekali tentang penyakitnya meminta perawat tersebut
untuk segera memberi tahu penyakitnya setelah didapatkan hasil pemeriksaan. Sore
harinya pukul 16.00 WIB hasil pemeriksaan telah diterima oleh perawat tersebut dan
telah dibaca oleh dokternya. Hasilnya mengatakan bahwa Tn. A positif terjangkit penyakit
HIV/AIDS. Kemudian perawat tersebut memanggil keluarga Tn. A untuk menghadap
dokter yang menangani Tn. A. Bersama dokter dan seijin dokter tersebut, perawat
menjelaskan tentang kondisi pasien dan penyakitnya. Keluarga terlihat kaget dan
bingung. Keluarga meminta kepada dokter terutama perawat untuk tidak
memberitahukan penyakitnya ini kepada Tn. A. Keluarga takut Tn. A akan frustasi, tidak
mau menerima kondisinya dan dikucilkan dari masyarakat.

Perawat tersebut mengalami dilema etik dimana satu sisi dia harus memenuhi
permintaan keluarga namun di sisi lain perawat tersebut harus memberitahukan kondisi
yang dialami oleh Tn. A karena itu merupakan hak pasien untuk mendapatkan informasi.

BAB IV

PEMBAHASAN KASUS

Kasus diatas menjadi suatu dilema etik bagi perawat dimana dilema etik itu
didefinisikan sebagai suatu masalah yang melibatkan dua ( atau lebih ) landasan moral
suatu tindakan tetapi tidak dapat dilakukan keduanya. Ini merupakan suatu kondisi
dimana setiap alternatif tindakan memiliki landasan moral atau prinsip. Pada dilema etik
ini sukar untuk menentukan yang benar atau salah dan dapat menimbulkan kebingungan
pada tim medis yang dalam konteks kasus ini khususnya pada perawat karena dia tahu
apa yang harus dilakukan, tetapi banyak rintangan untuk melakukannya. Menurut
Thompson & Thompson (1981) dilema etik merupakan suatu masalah yang sulit dimana
tidak ada alternatif yang memuaskan atau situasi dimana alternatif yang memuaskan
atau tidak memuaskan sebanding. Untuk membuat keputusan yang etis, seorang
perawat harus bisa berpikir rasional dan bukan emosional.

Perawat tersebut berusaha untuk memberikan pelayanan keperawatan yang


sesuai dengan etika dan legal yaitu dia menghargai keputusan yang dibuat oleh pasien
dan keluarga. Selain itu dia juga harus melaksanakan kewajibannya sebagai perawat
dalam memenuhi hak-hak pasien salah satunya adalah memberikan informasi yang
dibutuhkan pasien atau informasi tentang kondisi dan penyakitnya. Hal ini sesuai dengan
salah satu hak pasien dalam pelayanan kesehatan menurut American Hospital
Assosiation dalam Bill of Rights. Memberikan informasi kepada pasien merupakan suatu
bentuk interaksi antara pasien dan tenaga kesehatan. Sifat hubungan ini penting karena
merupakan faktor utama dalam menentukan hasil pelayanan kesehatan. Keputusan
keluarga pasien yang berlawanan dengan keinginan pasien tersebut maka perawat harus
memikirkan alternatif-alternatif atau solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut
dengan berbagai konsekuensi dari masing-masing alternatif tindakan.

Dalam pandangan Etika penting sekali memahami tugas perawat agar mampu
memahami tanggung jawabnya. Perawat perlu memahami konsep kebutuhan dasar
manusia dan bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan dasar tersebut tidak
hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisiknya atau psikologisnya saja, tetapi
semua aspek menjadi tanggung jawab perawat. Etika perawat melandasi perawat dalam
melaksanakan tugas-tugas tersebut. Dalam pandangan etika keperawatan, perawat
memilki tanggung jawab (responsibility) terhadap tugas-tugasnya.

Penyelesaian kasus dilema etik seperti ini diperlukan strategi untuk


mengatasinya karena tidak menutup kemungkinan akan terjadi perbedaan pendapat
antar tim medis yang terlibat termasuk dengan pihak keluarga pasien. Jika perbedaan
pendapat ini terus berlanjut maka akan timbul masalah komunikasi dan kerjasama antar
tim medis menjadi tidak optimal. Hal ini jelas akan membawa dampak ketidaknyamanan
pasien dalam mendapatkan pelayanan keperawatan. Berbagai model pendekatan bisa
digunakan untuk menyelesaikan masalah dilema etik ini antara lain model dari Megan,
Kozier dan Erb, model Murphy dan Murphy, model Levine-arif dan Gron, model Curtin,
model Purtilo dan Cassel, dan model Thompson dan thompson.
Berdasarkan pendekatan model Megan, maka kasus dilema etik perawat yang
merawat Tn. A ini dapat dibentuk kerangka penyelesaian sebagai berikut :

1. Mengkaji situasi

Dalam hal ini perawat harus bisa melihat situasi, mengidentifikasi


masalah/situasi dan menganalisa situasi. Dari kasus diatas dapat ditemukan
permasalahan atau situasi sebagai berikut :

Tn. A menggunakan haknya sebagai pasien untuk mengetahui penyakit yang dideritanya
sekarang sehingga Tn. A meminta perawat tersebut memberikan informasi tentang hasil
pemeriksaan kepadanya.

Rasa kasih sayang keluarga Tn. A terhadap Tn. A membuat keluarganya berniat
menyembunyikan informasi tentang hasil pemeriksaan tersebut dan meminta perawat
untuk tidak menginformasikannya kepada Tn. A dengan pertimbangan keluarga takut jika
Tn. A akan frustasi tidak bisa menerima kondisinya sekarang

Perawat merasa bingung dan dilema dihadapkan pada dua pilihan dimana dia harus
memenuhi permintaan keluarga, tapi disisi lain dia juga harus memenuhi haknya pasien
untuk memperoleh informasi tentang hasil pemeriksaan atau kondisinya.

2. Mendiagnosa Masalah Etik Moral


Berdasarkan kasus dan analisa situasi diatas maka bisa menimbulkan permasalahan
etik moral jika perawat tersebut tidak memberikan informasi kepada Tn. A terkait dengan
penyakitnya karena itu merupakan hak pasien untuk mendapatkan informasi tentang
kondisi pasien termasuk penyakitnya.
3. Membuat Tujuan dan Rencana Pemecahan
Alternatif-alternatif rencana harus dipikirkan dan direncanakan oleh perawat
bersama tim medis yang lain dalam mengatasi permasalahan dilema etik seperti ini.
Adapun alternatif rencana yang bisa dilakukan antara lain :
a. Perawat akan melakukan kegiatan seperti biasa tanpa memberikan informasi hasil
pemeriksaan/penyakit Tn. A kepada Tn. A saat itu juga, tetapi memilih waktu yang
tepat ketika kondisi pasien dan situasinya mendukung.
Hal ini bertujuan supaya Tn. A tidak panic yang berlebihan ketika mendapatkan
informasi seperti itu karena sebelumnya telah dilakukan pendekatan-pendekatan oleh
perawat. Selain itu untuk alternatif rencana ini diperlukan juga suatu bentuk
motivasi/support sistem yang kuat dari keluarga. Keluarga harus tetap menemani Tn. A
tanpa ada sedikitpun perilaku dari keluarga yang menunjukkan denial ataupun perilaku
menghindar dari Tn. A. Dengan demikian diharapkan secara perlahan, Tn. A akan merasa
nyaman dengan support yang ada sehingga perawat dan tim medis akan
menginformasikan kondisi yang sebenarnya.
Ketika jalannya proses sebelum diputuskan untuk memberitahu Tn. A tentang
kondisinya dan ternyata Tn. A menanyakan kondisinya ulang, maka perawat tersebut bisa
menjelaskan bahwa hasil pemeriksaannya masih dalam proses tim medis.
Alternatif ini tetap memiliki kelemahan yaitu perawat tidak segera memberikan
informasi yang dibutuhkan Tn. A dan tidak jujur saat itu walaupun pada akhirnya perawat
tersebut akan menginformasikan yang sebenarnya jika situasinya sudah tepat.
Ketidakjujuran merupakan suatu bentuk pelanggaran kode etik keperawatan.

b. Perawat akan melakukan tanggung jawabnya sebagai perawat dalam memenuhi hak-
hak pasien terutama hak Tn. A untuk mengetahui penyakitnya, sehingga ketika hasil
pemeriksaan sudah ada dan sudah didiskusikan dengan tim medis maka perawat akan
langsung menginformasikan kondisi Tn. A tersebut atas seijin dokter.
Alternatif ini bertujuan supaya Tn. A merasa dihargai dan dihormati haknya
sebagai pasien serta perawat tetap tidak melanggar etika keperawatan. Hal ini juga dapat
berdampak pada psikologisnya dan proses penyembuhannya. Misalnya ketika Tn. A
secara lambat laun mengetahui penyakitnya sendiri atau tahu dari anggota keluarga yang
membocorkan informasi, maka Tn. A akan beranggapan bahwa tim medis terutama
perawat dan keluarganya sendiri berbohong kepadanya. Dia bisa beranggapan merasa
tidak dihargai lagi atau berpikiran bahwa perawat dan keluarganya merahasiakannya
karena ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) merupakan aib yang dapat mempermalukan
keluarga dan Rumah Sakit. Kondisi seperti inilah yang mengguncangkan psikis Tn. A
nantinya yang akhirnya bisa memperburuk keadaan Tn. A. Sehingga pemberian informasi
secara langsung dan jujur kepada Tn. A perlu dilakukan untuk menghindari hal tersebut.
Kendala-kendala yang mungkin timbul :
1. Keluarga tetap tidak setuju untuk memberikan informasi tersebut kepada Tn. A

Sebenarnya maksud dari keluarga tersebut adalah benar karena tidak ingin Tn. A
frustasi dengan kondisinya. Tetapi seperti yang diceritakan diatas bahwa ketika Tn. A tahu
dengan sendirinya justru akan mengguncang psikisnya dengan anggapan-anggapan yang
bersifat emosional dari Tn. A tersebut sehingga bisa memperburuk kondisinya. Perawat
tersebut harus mendekati keluarga Tn. A dan menjelaskan tentang dampak-dampaknya
jika tidak menginformasikan hal tersebut. Jika keluarga tersebut tetap tidak mengijinkan,
maka perawat dan tim medis lain bisa menegaskan bahwa mereka tidak akan
bertanggung jawab atas dampak yang terjadi nantinya. Selain itu sesuai dengan
Kepmenkes 1239/2001 yang mengatakan bahwa perawat berhak menolak pihak lain
yang memberikan permintaan yang bertentangan dengan kode etik dan profesi
keperawatan.

2) Keluarga telah mengijinkan tetapi Tn. A denial dengan informasi yang diberikan
perawat.

Denial atau penolakan adalah sesuatu yang wajar ketika seseorang sedang
mendapatkan permasalahan yang membuat dia tidak nyaman. Perawat harus tetap
melakukan pendekatan-pendekatan secara psikis untuk memotivasi Tn. A. Perawat juga
meminta keluarga untuk tetap memberikan support sistemnya dan tidak menunjukkan
perilaku mengucilkan Tn. A tersebut. Hal ini perlu proses adaptasi sehingga lama
kelamaan Tn. A diharapkan dapat menerima kondisinya dan mempunyai semangat untuk
sembuh.

4. Melaksanakan Rencana
Alternatif-alternatif rencana tersebut harus dipertimbangkan dan didiskusikan
dengan tim medis yang terlibat supaya tidak melanggar kode etik keperawatan. Sehingga
bisa diputuskan mana alternatif yang akan diambil. Dalam mengambil keputusan pada
pasien dengan dilema etik harus berdasar pada prinsip-prinsip moral yang berfungsi
untuk membuat secara spesifik apakah suatu tindakan dilarang, diperlukan atau
diizinkan dalam situasi tertentu ( John Stone, 1989 ), yang meliputi :

a. Autonomy / Otonomi

Pada prinsip ini perawat harus menghargai apa yang menjadi keputusan pasien dan
keluarganya tapi ketika pasien menuntut haknya dan keluarganya tidak setuju maka
perawat harus mengutamakan hak Tn. A tersebut untuk mendapatkan informasi tentang
kondisinya.
b. Benefesience / Kemurahan Hati

Prinsip ini mendorong perawat untuk melakukan sesuatu hal atau tindakan yang
baik dan tidak merugikan Tn. A. Sehingga perawat bisa memilih diantara 2 alternatif
diatas mana yang paling baik dan tepat untuk Tn. A dan sangat tidak merugikan Tn. A

c. Justice / Keadilan

Perawat harus menerapkan prinsip moral adil dalam melayani pasien. Adil berarti
Tn. A mendapatkan haknya sebagaimana pasien yang lain juga mendapatkan hak
tersebut yaitu memperoleh informasi tentang penyakitnya secara jelas sesuai dengan
konteksnya/kondisinya.

d. Nonmaleficience / Tidak merugikan

Keputusan yang dibuat perawat tersebut nantinya tidak menimbulkan kerugian


pada Tn. A baik secara fisik ataupun psikis yang kronis nantinya.

e. Veracity / Kejujuran

Perawat harus bertindak jujur jangan menutup-nutupi atau membohongi Tn. A


tentang penyakitnya. Karena hal ini merupakan kewajiban dan tanggung jawab perawat
untuk memberikan informasi yang dibutuhkan Tn. A secara benar dan jujur sehingga Tn.
A akan merasa dihargai dan dipenuhi haknya.

f. Fedelity / Menepati Janji

Perawat harus menepati janji yang sudah disepakati dengan Tn. A sebelum
dilakukan pemeriksaan yang mengatakan bahwa perawat bersdia akan
menginformasikan hasil pemeriksaan kepada Tn. A jika hasil pemeriksaannya sudah
selesai. Janji tersebut harus tetap dipenuhi walaupun hasilnya pemeriksaan tidak seperti
yang diharapkan karena ini mempengaruhi tingkat kepercayaan Tn. A terhadap perawat
tersebut nantinya.

g. Confidentiality / Kerahasiaan
Perawat akan berpegang teguh dalam prinsip moral etik keperawatan yaitu
menghargai apa yang menjadi keputusan pasien dengan menjamin kerahasiaan segala
sesuatu yang telah dipercayakan pasien kepadanya kecuali seijin pasien.

Berdasarkan pertimbangan prinsip-prinsip moral tersebut keputusan yang bisa


diambil dari dua alternatif diatas lebih mendukung untuk alternatif ke-2 yaitu secara
langsung memberikan informasi tentang kondisi pasien setelah hasil pemeriksaan selesai
dan didiskusikan dengan semua yang terlibat. Mengingat alternatif ini akan membuat
pasien lebih dihargai dan dipenuhi haknya sebagai pasien walaupun kedua alternatif
tersebut memiliki kelemahan masing-masing. Hasil keputusan tersebut kemudian
dilaksanakan sesuai rencana dengan pendekatan-pendekatan dan caring serta
komunikasi terapeutik.

5. Mengevaluasi Hasil
Alternatif yang dilaksanakan kemudian dimonitoring dan dievaluasi sejauh mana Tn.
A beradaptasi tentang informasi yang sudah diberikan. Jika Tn. A masih denial maka
pendekatan-pendekatan tetap terus dilakukan dan support sistem tetap terus diberikan
yang pada intinya membuat pasien merasa ditemani, dihargai dan disayangi tanpa ada
rasa dikucilkan.

BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berbagai permasalahan etik dapat terjadi dalam tatanan klinis yang melibatkan
interaksi antara klien dan perawat. Permasalahan bisa menyangkut penentuan antara
mempertahankan hidup dengan kebebasan dalam menentukan kematian, upaya
menjaga keselamatan klien yang bertentangan dengan kebebasan menentukan nasibnya,
dan penerapan terapi yang tidak ilmiah dalam mengatasi permasalah klien.

Dalam membuat keputusan terhadap masalah dilema etik, perawat dituntut dapat
mengambil keputusan yang menguntungkan pasien dan diri perawat dan tidak
bertentang dengan nilai-nilai yang diyakini klien. Pengambilan keputusan yang tepat
diharapkan tidak ada pihak yang dirugikan sehingga semua merasa nyaman dan mutu
asuhan keperawatan dapat dipertahankan.

B. SARAN

Pembelajaran tentang etika dan moral dalam dunia profesi terutama bidang
keperawatan harus ditanamkan kepada mahasiswa sedini mungkin supaya nantinya
mereka bisa lebih memahami tentang etika keperawatan sehingga akan berbuat atau
bertindak sesuai kode etiknya (kode etik keperawatan).

Perawat harus berusaha meningkatkan kemampuan profesional secara mandiri


atau secara bersama-sama dengan jalan menambah ilmu pengetahuan untuk
menyelesaikan suatu dilema etik.