Anda di halaman 1dari 4

BAB III

PEMBAHASAN

Panoramik merupakan salah satu foto radiografi ekstraoral yang telah digunakan secara
umum di kedokteran gigi untuk mendapatkan gambaran utuh dari keseluruhan maksilofasial.
Foto panoramik dikenal juga dengan panorex atau orthopantomogram dan menjadi sangat
popular di kedokteran gigi karena teknik yang simple, gambaran mencakup seluruh gigi dan
rahang dengan dosis radiasi yang rendah. Prinsip kerja pesawat panoramik menggunakan tiga
pusat putaran. Hasilnya sangat memuaskan karena dapat mengatasi masalah-masalah yang ada
sebelumnya yaitu terjadi banyak superposisi pada gigi bagian posterior. Pada pesawat ini pasien
dalam keadaan diam, sumber sinar-X dan film berputar mengelilingi pasien, gerakan kurva film
kaset berputar pada sumbunya dan bergerak mengelilingi pasien. Sumber sinar-X dan tempat
kaset bergerak bersamaan dan berlawanan satu sama lain. Celah sempit pada tabung
mengeluarkan sinar yang menembus dagu pasien mengenai film yang berputar berturut-turut
pada tiga sumbu rotasi, satu sumbu konsentris untuk region anterior pada rahang (tepatnya di
sebelah incisivus pada region premolar). Dan dua sumbu rotasi eksentris untuk bagian samping
rahang (tepatnya di belakang molar tiga kiri dan kanan (Langland, 1989).

Indikasi foto radiografi panoramik untuk kelainan yang mencakup daerah luas, kelainan
yang berhubungan dengan struktur anatomi sekitarnya, periode gigi campuran yang memerlukan
evaluasi gigi susu dan pertumbuhan gigi permanen secara keseluruhan, dilakukan pada pasien
khusus misalnya keterbatasan membuka mulut, tingkat kesadaran kurang, dan kurang kooperatif.
Selain itu digunakan untuk pasien yang sedang menjalani perawatan orthodonsi. Kelebihan
pengambilan foto rontgen dengan foto panoramik adalah cakupan luas pada tulang dan gigi.
Pesawat rontgen ini memiliki dosis radiasi yang rendah. Selain itu, penggunaan pada pasien
dirasa lebih nyaman sebab tidak perlu ada penempatan film didalam mulut pasien. Waktu yang
dibutuhkan untuk pengambilan foto relatif lebih singkat. Foto radiografi panoramik juga
berfungsi untuk menunjang diagnosa suatu penyakit dan keberhasilan suatu perawatan, sehingga
hasil foto radiografi panoramik yang buruk dapat mengurangi keakuratan suatu diagnosa dan
dapat terjadi kesalahan perawatan.
Foto panoramik dapat menunjukkan hasil yang buruk dikarenakan kesalahan posisi
pasien sehingga menyebabkan hasil foto radiografi panoramic distorsi. Kegagalan yang sering
terjadi pada radiografi panorami kini 80% kesalahan disebabkan karena positioning, 20 % karena
hal teknis dan hanya sekitar 20% radiografi panoramik yang bebas error. Positioning yang
dimaksud bisa jadi karena dagu pasien yang diperiksa tidak berada tepat pada tumpuan dagu
mungkin terlalu atas atau bawah posisi dagunya, posisi kepala yang terlalu maju atau mundur,
posisi bahu, posisi kepala pasien miring atau terpelintir, selain itu juga ketika mesin dihidupkan
pasien bergerak sehingga tidak didapati hasil radiografi yang bagus. Dari segi teknis yang
berhubungan dengan persiapan pada pasien, biasaya orang yang menjalani radiografi panoramik
biasanya diperlukan untuk melepaskan anting-anting, perhiasan, pin rambut, kacamata, dan gigi
tiruan karena apabila hal tersebut tidak dihilangkan dapat menciptakan artefak pada gambar
(terutama jika mereka mengandung logam), penggunaan thyroid collar, penempatan lead apron
yang salah. Diantara beberapa kesalahan posisi yang mengakibatkan kegagalan pada radiograf
digital panoramik, posisi lidah pasien tidak berada pada palatum saat dilakukannya pemaparan
merupakan kesalahan yang paling sering terjadi. Akibat dari kesalahan ini, udara di dalam
rongga mulut tampak garis hitam yang lebih radiolusen dari gigi rahang atas pada radiograf. Hal
ini dapat mempengaruhi interpretasi dari akar dan struktur disekitarnya yang digunakan untuk
keperluan diagnostik.

Kesalahan posisi yang juga sering terjadi dalam mempengaruhi hasil radiograf yaitu
penempatan dagu pasien menempatkan yang terlalu rendah sehingga gambaran yang tampak
adalah apeks dari gigi insisif bawah yang tidak fokus dan kabur, bayangan tulang hyoid tampak
ditumpangkan pada mandibula anterior, kondilus tampak terpotong di bagian atas radiograf,
tampak gambaran premolar yang tumpang tindih. Kegagalan ini dapat terjadi karena penempatan
dagu yang lebih rendah dari reference line. Kesalahan posisi ini dapat dilakukan pencegahan
dengan mengikuti instruksi dari produsen mesin, dan bagaimana memposisikan titik anatomis
pada wajah dengan reference line pada unit.

Kemungkinan penyebab banyaknya terjadinya kesalahan posisi pada pasien adalah


karena ketidakmampuan beberapa pasien untuk mengikuti instruksi dari radiografer sebelum
dilakukannya pemaparan atau ketidakmampuan radiografer dalam memposisikan pasien pada
waktu pengambilan radiograf. Penyebab dari kesalahan ini yaitu kurangnya komunikasi antara
operator dan pasien.

Untuk alasan inilah, radiographer harus terlebih dahulu memberikan penjelasan kepada
pasien tersebut bagaimana mesin akan bergerak dan bagaimana posisi pasien yang semestinya
saat mesin sedang bergerak. Persiapan alat juga merupakan salah satu alas an kenapa foto
radiografi panoramik yang dihasilkan tersebut gagal. Hal ini bisa terjadi karena kesalahan
intensitas paparan, proses paparan tidak sesuai, dan kesalahan pemilihan program.

Frekuensi kegagalan pada radiograf digital panoramik masih sering terjadi. Peningkatan
kemampuan serta pengetahuan dari operator serta perhatian penuh dari pasien saat diberikan
instruksi oleh operator sebelum dilakukannya pemaparan merupakan hal yang sangat penting
dilakukan. Setelah memberikan instruksi, operator sebaiknya bertanya kepada pasien apakah
mereka paham dengan instruksi yang telah diberikan, kemudian memposisikan pasien pada alat
x-ray sesuai dengan petunjuk pengoprasian alat.

Besarnya frekuensi kegagalan yang terjadi ini juga berpengaruh pada besarnya
kemungkinan pasien untuk menerima paparan berulang. Paparan berulang dari sinar-x
mengakibatkan kemungkinan bertambah besarnya efek negatif yang diterima oleh pasien, salah
satunya yaitu efek stokastik yang tidak memiliki dosis ambang. Efek stokastik baru akan muncul
setelah masa laten yang lama. Semakin besar dosis, semakin besar peluang terjadinya efek
stokastik. Peningkatan kemampuan dan pendidikan operator dalam hal pengoprasian dan
tatalaksana pasien radiografik panoramik perlu ditingkatkan. Adanya Standard Operating
Procedure dalam penentuan posisi pasien yang tertempel di alat juga merupakan alternatif dalam
mengatasi kesalahan ini.

Daftar Pustaka

White SC, Pharoah MJ. Oral Radiology: Principles and Interpretation. 6th ed. St. Louis, Mo.:
Mosby/Elsevier, 2009. Print.
Mohtavipour ST, Haghighat ASJ. Common Errors in Digital Panoramic Radiographs Taken in
Rasht Dental School. Rasht: Journal of Dentomaxillofacial Radiology, Pathology and
Surgery, 2013, 1-5.

Dhillon M, Raju SM, Verma S, Tomar D, Mohan RS, Lakhanpal M, and Krishnamoorthy B.
Positioning Errors and Quality Assessment in Panoramic Radiography. Imaging Science
in Dentistry. 2012:42: 207-212.
Pandey S, Pai KM, Dhakal A. Common Positioning and Technical Errors in Panoramic
Radiography. Journal of Chitwan Medical College. 2014; 4(7): 26-29.
Pillai KG. Oral and MaxillofacialRadiology Basic Principles and Interpretation. 1st ed. New
Delhi:Jaypee Brothers Medical Publishers (P),2015
Sinta MA, dkk. Digital radiograph failure frequency at RSGM FKG Universitas Airlangga
(period October-December 2014). Dentomaxillofacial Radiology Dental Journal Vol. 6
(2). 2015; 24-27