Anda di halaman 1dari 20

PENERAPAN SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH (SPIP)

PADA BALAI BESAR PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN SAMARINDA

Muhammad Rizal1
1
Fakultas Ekonomi
Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda, Samarinda.
Indonesia.
mrizal_kaltim17@yahoo.co.id

ABSTRAKSI

Penelitian ini bertujuan untuk menilai apakah aset Negara, serta penyusunan laporan
kegiatan pada BBPOM Samarinda telah keuangan yang tidak sesuai ketentuan.
efektif dan efisien ditinjau dari penerapan Banyak pihak berpendapat bahwa
SPIP pada unsur Lingkungan Pengendalian salah satu penyebab terjadinya
sebagimana diatur dalam PP 60 Tahun 2008. permasalahan tersebut di atas adalah
Hasil analisis menunjukkan bahwa karena kelemahan sistem pengendalian
penerapan SPIP unsur Lingkungan intern.Opini disclaimer oleh BPK
Pengendalian pada BBPOM Samarinda disebabkan tidak memadainya
telah memadai yang berarti bahwa kompetensi sumber daya manusia dalam
pelaksanaan kegiatan pada BBPOM pengelolaan keuangan
Samarinda telah berjalan dengan efektif Negara.Sedangkan tingginya tingkat
dan efisien. Hal ini terlihat dari korupsi karena bentuk pemberantasan
simpulan hasil penilaian atas penerapan korupsi yang ada masih bertumpu pada
SPIP Subunsur Lingkungan tindakan penindakan (represif) dari
Pengendalian pada BBPOM Samarinda pada pencegahan (preventif) yang
berdasarkan nilai rata-rata dari seluruh menitik beratkan pada
subunsur Lingkungan Pengendalian perbaikan/penguatan sistem
yang memperoleh skor sebesar 0,89 pengendalian intern.
atau Memadai. Salah satu komitmen pemerintah
dalam mewujudkan penyelenggaraan
Kata Kunci: Efektif dan Efisien. Negara yang bersih dan bebas dari KKN
adalah dengan membangun sistem
I. PENDAHULUAN pengendalian intern pemerintah yang
Selama satu dekade terakhir, efektif sesuai dengan amanat pasal 58
peran sistem pengendalian intern di ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor
lingkungan instansi pemerintah 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan
mendapat perhatian luas dari para Negara, yaitu dengan diterbitkannya
auditor intern, auditor ekstern, penyusun Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008
laporan keuangan asosiasi profesi, dan (PP 60/2008) tentang Sistem Pengendalian
badan-badan legislatif serta para Intern Pemerintah.
birokrat. Salah satu isu yang menjadi Dalam pasal 2 ayat (1) PP
perhatian adalah banyaknya kejadian 60/2008 dinyatakan bahwa untuk
yang terkait dengan kegagalan sistem mencapai pengelolaan keuangan Negara
pengendalian intern dalam pengelolaan yang efektif, efisien, transparan, dan
bisnis pemerintah, seperti terjadinya akuntabel, menteri/pimpinan lembaga,
penggelapan pajak, penyuapan, gubernur, dan bupati/walikota wajib
pencurian informasi, penyalahgunaan melakukan pengendalian atas
penyelenggaraan kegiatan
1
pemerintahan. Dalam rangka itu, maka unsur Lingkungan Pengendalian.
instansi pemerintah mau tidak mau,
suka tidak suka, harus membangun II. PERMASALAHAN
SPIP di lingkungannya. Bermacam Penelitian yang
strategi harus dirancang dan dilakukan oleh
penulis adalah
dilaksanakan oleh instansi pemerintah membandingkan
(IP) untuk memulai dan mempercepat pengendalian intern yang
proses pembangunan SPIP di telah
lingkungannya. dilaksanakan oleh BBPOM
Salah satu Instansi Pemerintah Smarinda
yang juga berkewajiban dengan pengendalian intern
yang diatur
menyelenggarakan SPIP di lingkungan dalam PP 60/2008 untuk
kerjanya yaitu Balai Besar Pengawas menilai
Obat dan Makanan (BBPOM) efektivitas dan efisiensi
Samarinda.BBPOM Samarinda pelaksanaan

merupakan lembaga/instansi vertikal

pemerintah di bawah Badan Pengawas


Obat dan Makanan RI yang ada di
wilayah Provinsi Kalimantan Timur,
yang cakupan wilayah kerjanya meliputi

seluruh kabupaten/kota yanga ada di


wilayah Provinsi Kalimantan
Timur.Dalam melaksanakan

aktivitasnya yang cukup strategis di


bidang pengawasan obat dan makanan,
BBPOM Samarinda juga telah
merapkan pengendalian intern di
lingkungan kerjanya untuk menjamin

terlaksananya kegiatan utama organisasi

sesuai dengan Visi dan Misi organisasi


yang telah ditetapkan.
Karena itu yang menjadi fokus
utama dalam penelitian ini adalah
bagaimana menciptakan kegiatan yang
efektif dan efisien pada BBPOM
Samarinda sesuai dengan salah satu
tujuan SPIP yaitu terciptanya kegiatan
yang efektif dan efisien ditinjau dari
kegiatan pada BBPOM Samarinda. melakukan penilaian
Sehingga rumusan masalah pada sejauhmana
penelitian ini adalah: Apakah tingkat efektivitas dan efisiensi dari
pelaksanaan kegiatan pada BBPOM kegiatan pada BBPOM Samarinda
Samarinda telah efektif dan efisien ditinjau dari unsur Lingkungan
sesuai dengan tujuan SPIP ditinjau dari Pengendalian dengan menggunakan
penerapan pengendalian pada unsur kuesioner dan wawancara mendalam
Lingkungan Pengendalian sesuai
dengan PP 60/2008. (deep interview)sebagaimana
diatur
III.METODE PENELITIAN dalam Peraturan Kepala BPKP Nomor
Penelitian ini dilakukan pada PER-500/K/2010 tentang Pedoman
Balai Besar Pengawas Obat dan
Makanan Samarinda, penentuan sampel Penerapan SPIP di Lingkungan Instansi
dilakukan dengan menggunakan metode
Purposive Sampling atau sampel Pemerintah untuk mengetahui apakah
diambil dengan tujuan tertentu, yaitu subunsur Lingkungan Pengendalian
seluruh Pejabat Struktural yang ada, SPIP telah diterapkan secara memadai
baik Pejabat Eselon III maupun Pejabat sesuai dengan PP 60/2008 tentang SPIP
Eselon IV, serta beberapa staf yang pada akhirnya akan berdampak
fungsional yang langsung terkait dengan pada terciptanya kegiatan yang efektif
kegiatan utama pada BBPOM dan efisien.
Samarinda dengan total jumlah sampel Alat analisis yang digunakan
sebanyak 30 orang dari jumlah populasi dalam penelitian ini yaitu:
sebanyak 69 orang. Pengumpulan data
dengan cara Library Research dan Field
Work Research.
Fokus penelitian ini adalah dengan 2
a. Matrik pengujian 8 (delapan) sebagaimana berikut ini.
subunsur Lingkungan Pengendalian 1) Apabila nilai parameter
dengan 34 indikator parameter yang
penilaian yang mengacu pada dihasilkan > = 0,70,
Lampiran 7 Peraturan Kepala BPKP maka
simpulannya Memadai
Nomor PER-500/K/2010 yang ;
berupa matrik Kertas Kerja Validasi
hasil pengujian unsur Lingkungan
Pengendalian.
Kriteria penilaian adalah
sebagaimana berikut ini.
1) Nilai 1 artinya memadai,
diberikan apabila parameter yang
ditentukan dalam subunsur
terpenuhi, dan telah
dilaksanakan/diterapkan sesuai
dengan PP 60/2008.
2) Nilai 0,5 artinya kurang
memadai, diberikan apabila
parameter yang ditentukan dalam
subunsur terpenuhi, namun tidak
dilaksanakan/diterapkan dalam
kegiatan sehari-hari di lingkungan
instansi pemerintah.
3) Nilai 0 artinya tidak memadai,
diberikan apabila tidak terdapat
parameter subunsur pengendalian
sebagaimana diatur dalam PP
60/2008.
b. Form Tabulasi Hasil Validasi
Pengujian unsur Lingkungan
Pengendalian yang mengacu pada
Lampiran 11 Peraturan Kepala
BPKP Nomor PER-500/K/2010.
Seluruh jawaban kuesioner dari 30
responden akan ditabulasi

menggunakan form tabulasi. Hasil


perhitungan pada form tabulasi
tersebut akan menunjukkan apakah
subunsur SPIP telah diterapkan
secara memadai yang akan
berdampak pada terciptanya
kegiatan yang efektif dan efisien
dengan simpulan hasil penilaian
2) Apabila nilai parameter yang Integritas dan Nilai Etika dalam
dihasilkan > = 0,40 s.d. < 0,70, kegiatan BBPOM Samarinda telah
maka simpulannya Kurang
Memadai; dan memadai. Hal ini
3) Apabila nilai parameter yang menunjukkan
dihasilkan < 0,40, maka bahwa secara umum perilaku dan etika
simpulannya Tidak Memadai.
pegawai di lingkungan BBPOM
IV. HASIL PENELITIAN DAN Samarinda telah memenuhi kriteria
PEMBAHASAN
Hasil penelitian menjelaskan penilaian Penegakan Integritas dan
bahwa BBPOM Samarinda telah Etika sebagaimana diatur dalam PP
menerapkan pengendalian dalam 60/2008 dengan uraian sebagaimana
menjalankan kegiatan utamanya, namun berikut ini.
parameter dan indikator 1. Seluruh pegawai
pengendaliannya belum mengacu pada telah
PP 60/2008 tentang SPIP. Sesuai menandatangani pernyataan
dengan hasil analisis yang dilakukan komitmen (pakta integritas) dan
terhadap penerapan 8 (delapan) secara berkala diperbaharui;
Subunsur Lingkungan Pengendalian 2. Pegawai telah mengetahui,
SPIP sebagaimana disajikan pada Tabel memahami dengan baik isi pakta
5 di atas, dapat dibuat pembahasan integritas yang mengatur
sebagaimana berikut ini.
A. Penegakan Integritas dan Nilai aturan
Etika perilaku/standar etika, sanksi
Hasil analisis dan penilaian
penerapan subunsur Penegakan
Integritas dan Nilai Etika diperoleh skor 3
sebesar 0,82 yang artinya bahwa
penerapan subunsur Penegakan
hukuman terhadap pelanggaran aturan aturan perilaku/kode etik
perilaku/standar etika. yang
3. Setiap pimpinan telah memberikan ditetapkan secara formal
oleh
keteladanan penerapan aturan Pimpinan Badan POM RI
perilaku, dalam tutur kata yang
maupun dalam tindakan nyata. mengatur secara khusus
4. Pekerjaan yang terkait dengan mengenai
masyarakat, DPR, Auditor, pegawai, etika dan aturan perilaku
dan pihak lainya telah dilaksanakan setiap
dengan tingkat etika yang tinggi pegawai di lingkungan
(moral yang baik). BBPOM
5. Pimpinan instansi pemerintah telah Samarinda dalam
melaksanakan
menghapus kebijakan atau tugas dan fungsinya.
penugasan
yang dapat mendorong perilaku tidak

etis.
Namun demikian masih terdapat
parameter penilaian yang memerlukan
perbaikan dan penyempurnaan yaitu:
1. Penetapan aturan perilaku oleh
pimpinan instansi dengan skor
sebesar 0,38 atau tidak
memadai.
Hal tersebut disebabkan belum
terdapat aturan perilaku yang
ditetapkan oleh Kepala Badan POM
RI sebagai acuan bagi pegawai di
lingkungan BBPOM Samarinda
dalam menjalakan tugas dan
fungsinya. Aturan perilaku hanya
mengacu pada PP Nomor 53 Tahun
2010 tentang Aturan Disiplin PNS
yang bersifat umum bagi seluruh
PNS di Indonesia. Sehingga dapat
membuka peluang terjadinya
pelanggaran etika dan

penyalahgunaan wewenang oleh


pegawai di lingkungan BBPOM
Samarinda dalam melaksanakan
tugas dan fungsi pengawasan obat
dan makanan. Untuk itu perlu dibuat
2. Tindakan disiplin yang tepat terhadap meningkatkan komptensi pegawainya
penyimpangan kebijakan dan sesuai dengan ukuran kriteria yang
prosedur atau atas pelanggaran aturan diatur dalam PP 60/2008 dengan uraian
perilaku dengan skor sebesar 0,42 sebagaimana berikut ini.
atau kurang memadai. Hal 1. Pimpinan telah mengidentifikasi dan
tersebut disebabkan penerapan sanksi
atas pelanggaran disiplin pegawai menetapkan kegiatan
belum diterapkan secara tegas oleh yang
pimpinan di lingkungan BBPOM dibutuhkan untuk menyelesaikan
Samarinda. Untuk itu perlu dibentuk tugas dan fungsi pada masing masing
komite disiplin pegawai yang akan posisi dalam Instansi Pemerintah.
menjalankan tugas dan fungsi 2. BBPOM Samarinda
sebagai Tim Penegak Disiplin telah
apabila terjadi pelanggaran disiplin menyelenggarakan pelatihan dan
oleh pegawai terhadap aturan disiplin pembimbingan untuk membantu
yang berlaku di lingkungan BBPOM
Smarinda. pegawai mempertahankan
dan
B. Komitmen Terhadap Kompetensi meningkatkan kompetensi pekerjaan.
Hasil analisis dan penilaian 3. Pimpinan telah memiliki kemampuan
penerapan subunsur Komitmen manajerial dan pengalaman teknis
Terhadap Kompetensi diperoleh skor yang luas dalam pengelolaan Instansi
sebesar 0,88, yang artinya bahwa Pemerintah.
penerapan subunsur Komitmen
Terhadap Kompetensi dalam kegiatan
BBPOM Samarinda telah memadai.
Hal ini menunjukkan bahwa secara 4
umum BBPOM Samarinda telah
memiliki komitmen untuk
Namun demikian masih terdapat Hasil analisis dan
parameter penilaian yang memerlukan penilaian
perbaikan dan penyempurnaan yaitu penerapan subunsur
Kepemimpinan
terkait dengan standar kompetensi yang yang Kondusif diperoleh skor
sebesar
harus dimiliki untuk setiap tugas dan 0,75, yang artinya bahwa
fungsi pada instansi pemerintah dengan penerapan
subunsur Kepemimpinan yang
skor 0,50 atau kurang Kondusif
memadai. dalam kegiatan
Hal tersebut disebabkan belum seluruh BBPOM
bidang/bagian pada BBPOM Samarinda Samarindatelah memadai.
Hal ini
memiliki standar kompetensi sesuai menunjukkan bahwa secara
umum
dengan tugas dan fungsinya. Dari 5 Pimpinan pada BBPOM
(lima) bagian/bidang, baru 3 (tiga) Samarinda
bidang yang telah memiliki standar telah menerapkan praktek yang
kompetensi kegiatan yaitu: sehat
1. Bidang Pengujian Produk Terapetik, serta telah menciptakan
Narkotik, Obat Tradisional, lingkungan
Kosmetik dan Produk Komplemen; kerja yang kondusif di
2. Bidang Pengujian Pangan, Bahan lingkungan
Berbahaya dan Mikrobiologi; serta BBPOM Samarinda sesuai
3. Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan. dengan
Sedangkan Bidang Sertifikasi dan

Layanan Informasi Konsumen serta


Sub
Bagian Tata Usaha belum memiliki
standar kompetensi atas kegiatannya.
Untuk itu perlu disusun standar
kompetensi bagi pegawai pada 2 (dua)
bidang/bagian lainnya yaitu
Bidang
Sertifikasi dan Layanan Informasi
Konsumen dan Sub Bagian Tata Usaha

untuk lebih mengoptimalkan kualitas


hasil layanan kepada masyarakat yang
memanfaatkan hasil produk layanan

BBPOM Samarinda.

C. Kepemimpinan yang Kondusif


kriteria kepemimpinan yang diatur penyempurnaan yaitu:
dalamPP 60/2008 dengan uraian 1. Sikap dari Pimpinan Instansi yang
sebagaimana berikut ini.
1. Pimpinan menerapkan manajemen mempertimbangkan risiko dalam
berbasis kinerja. pengambilan keputusan dengan skor
2. Pimpinan telah mendukung fungsi
tertentu dalam penerapan SPIP seperti 0,00 atau tidak memadai.
fungsi pencatatan dan pelaporan Hal
keuangan, sistem manajemen tersebut disebabkan
informasi, pengelolaan pegawai,dan fungsi pimpinan
pengawasan intern maupun pengawasan BBPOM Samarinda
ekstern.
3. Telah terjalin interaksi yang intensif belum
antara pimpinan puncak dengan mempertimbangkan unsur risiko
pimpinan dalam tingkatan yang lebih dalam proses
rendah. pengambilan keputusan.
4. Pimpinan Instansi Pemerintah telah 2. Pimpinan Instansi Pemerintah
memiliki sikap positif dan responsif menerapkan perlindungan atas aset
terhadap pelaporan yang berkaitan
dengan keuangan, penganggaran, dan informasi, dari akses dan
program, dan kegiatan. penggunaan yang tidak sah dengan
5. Pimpinan Instansi tidak melakukan skor 0,33atau tidak memadai.
mutasi pegawai yang berlebihan di Hal
fungsi-fungsi kunci seperti tersebut disebabkan penanggung
pengelolaan kegiatan operasional dan jawab pengelola aset/barang belum
program akuntansi atau pemeriksaan membuat sistem dan prosedur
intern, yang mungkin menunjukkan
adanya masalah pengendalian intern.
Namun demikian masih terdapat 5
parameter yang memerlukan perbaikan dan
pengamanan aset/barang, yang ada Badan POM RI serta telah
saat ini baru terbatas pada sistem dilakukan
dan prosedur pengelolaan evaluasi secara periodik oleh
aset/barang. tim yang
Untuk itu pimpinan instansi ditunjuk oleh Kepala Badan
diharapkan agar mempertimbangkan
setiap kemungkinan risiko yang akan POM
ditimbulkan dari sebuah keputusan yang RI.

diambil, yang nantinya akan E. Pendelegasian


Wewenang dan
mengakibatkan tidak tercapainya tujuan Tanggung Jawab yang
organisasi. Sehingga kemungkinan Tepat
risiko tersebut harus dapat dicegah dan Hasil analisis dan
diantisipasi sejak awal.Demikian pula penilaian
halnya dengan prosedur pengamanan penerapan subunsur
aset.Diharapkan kepada pengelola Pendelegasian
barang di lingkungan BBPOM Wewenang dan Tanggung Jawab
Samarinda agar dapat membuat sistem yang
dan prosedur pengamanan aset, Tepat diperoleh skor sebesar
sehingga aset-aset yang ada dapat 0,94, yang
terjamin keamanannya serta dapat artinya bahwa penerapan
dimanfaatkan dengan lebih efektif untuk subunsur
kelancaran tugas organisasi. Pendelegasian Wewenang
dan
D. Pembentukan Struktur
Organisasi
yang Sesuai dengan
Kebutuhan
Hasil analisis dan penilaian
penerapan subunsur Pembentukan
Struktur Organisasi yang Sesuai dengan

Kebutuhan diperoleh skor sebesar


0,94,
yang artinya bahwa penerapan subunsur

Pembentukan Struktur Organisasi yang

Sesuai dengan Kebutuhan dalam


kegiatan BBPOM Samarinda telah
memadai. Struktur organisasi

BBPOM Samarinda telah mengacu pada

ketentuan sesuai dengan SK Kepala


Tanggung Jawab yang Tepat dalam kegiatan seluruh unit kerja untuk menjamin
BBPOM Samarinda telah memadai.
Hal ini menunjukkan bahwa pendelegasian kelancaran pelaksanaan kegiatan.Untuk
wewenang telah dilaksanakan dengan baik
sesuai dengan kriteria pendelegasian itu perlu dibuat Instruksi Kerja secara
wewenang yang diatur dalam PP 60/2008 tertulis mengenai prosedur
dengan uraian sebagaimana berikut ini. pendelegasian wewenang
1. Pegawai yang diberi wewenang telah oleh
memahami bahwa wewenang dan Pimpinan kepada pegawai lainnya pada
tanggung jawab yang diterimanya terkait setiap unit kerja di lingkungan BBPOM
pihak lain dalam instansi yang
bersangkutan. Samarinda.
2. Pegawai yang diberi wewenang telah
memahami bahwa pelaksanaan F. Penyusunan dan
wewenang dan tanggung jawabnya Penerapan
telah terkait dengan penerapan SPIP. Kebijakan yang Sehat
Namun demikian masih terdapat tentang
parameter yang memerlukan perbaikan Pembinaan Sumber Daya
dan penyempurnaan yaitu terkait Manusia
dengan prosedur pendelegasian Hasil analisis dan penilaian
wewenang kepada pegawai yang tepat penerapan subunsur Penyusunan dan
sesuai dengan tingkat tanggung Penerapan Kebijakan yang Sehat
jawabnya, dalam rangka pencapaian tentang Pembinaan Sumber Daya
tujuan Instansi Pemerintah dengan skor Manusia diperoleh skor sebesar 0,78,
0,5 atau kurang memadai. Hal
tersebut disebabkan belum adanya yang artinya bahwa penerapan subunsur
Instruksi Kerja tertulis yang dibuat oleh
Kepala BBPOM Samarinda mengenai
prosedur pendelegasian wewenang di 6
Penyusunan dan Penerapan Kebijakan BBPOM Samarinda dengan
yang Sehat tentang Pembinaan skor 0,5
Sumber Daya Manusia dalam kegiatan atau kurang
BBPOM Samarinda telah memadai. Hal
memadai. tersebut disebabkan
Hal ini menunjukkan bahwa evaluasi
BBPOM Samarinda telah memiliki penilaian pegawai di
kebijakan yang sehat dalam hal lingkungan
pembinaan Sumber Daya Manusia BBPOM Samarinda saat ini
sesuai dengan kriteria yang diatur dalam masih
menggunakan Daftar
PP 60/2008 dengan uraian sebagaimana Penilaian
Pelaksanaan Pekerjaan (DP3)
berikut ini. yang
1. Instansi Pemerintah telah lebih berorientasi pada
menetapkan dan melaksanakan penilaian
kebijakan dan prosedur pembinaan kepribadian
SDM, sejak rekruitmen sampai
dengan pemberhentian pegawai. (personality),
2. Instansi telah menerapkan kebijakan dan perilaku
penelusuran latar belakang calon (behavior) yang terfokus
pegawai yang memadai dalam proses
rekruitmen.
Namun demikian masih terdapat
parameter yang memerlukan perbaikan
dan penyempurnaan yaitu:
1. Standar kompetensi yang harus
dimiliki oleh SDM di setiap unit
kerja dengan skor 0,5 atau
kurang
memadai. Haltersebut
disebabkan
belum seluruh unit kerja pada
BBPOM Samarinda memiliki standar

kompetensi yang menjadi ukuran

bagi setiap SDM di lingkungan


BBPOM Samarinda. Standar
kompetensi bagi setiap SDM sangat
diperlukan dalam sebuah organisasi
untuk menjamin kualitas output hasil

pekerjaan yang dihasilkan.


2. Supervisi periodik terhadap kualitas
kompetensi SDM di lingkungan
pada pembentukan karakter individu, Samarinda telah
belum terfokus pada kinerja, memadai.
peningkatan hasil, produktivitas dan Haltersebut ditunjukkan dengan kondisi
pengembangan potensi. Seharusnya sebagaimana berikut ini.
evaluasi penilaian kinerja pegawai 1. Peran APIP yang dilaksanakan oleh
didasarkan pada Sistem Penilaian inspektorat Badan POM RI
Kinerja Individual yang saat ini dilaksanakan secara mandiri, bebas
dikenal dengan istilah Sasaran Kerja dari konflik, dan kepentingan;
PNS (SKP) yang menilai prestasi 2. BBPOM Samarinda telah memiliki
kerja PNS secara sistemik yang
menggabungkan antara penilaian mekanisme/prosedur
Sasaran Kerja PNS dengan perilaku pelaksanaan
kerja, serta dapat mengukur tingkat tindak lanjut asil audit oleh APIP;
keberhasilan pencapaian 3. Seluruh temuan hasil audit telah
kinerja
masing-masing pegawai berdasarkan ditindaklnajuti sebagai
tugas pokok fungsinya. koreksi perbaikan
untuk peningkatan kualitas tata
G. Perwujudan Peran Aparat kelola keuangan;
Pengawasan Intern Pemerintah 4. BBPOM Samarinda
yang Efektif selalu
Hasil analisis dan penilaian melakukan konsultasi dengan APIP
penerapan subunsur Perwujudan Peran setiap kali ada pelaksanaan audit
Aparat Pengawasan Intern Pemerintah rutin oleh APIP sebagai langkah
(APIP) yang Efektif diperoleh skor peringatan dini sebelum memulai
sebesar 1,00, yang artinya bahwa suatu kegiatan.
penerapan subunsur Perwujudan Peran
Aparat Pengawasan Intern Pemerintah
yang Efektif dalam kegiatan BBPOM 7
BBPOM Samarinda
telah
H. Hubungan Kerja yang Samarinda telah
Baik berjalan efektif dan
dengan Instansi efisien. Kondisi
Pemerintah tersebut ditunjukkan
Terkait dari hasil skor
Hasil analisis dan penilaian penilaian atas
penerapan subunsur Hubungan Kerja penerapan 8 (delapan)
yang Baik dengan Instansi Pemerintah subunsur
Terkait diperoleh skor sebesar 1,00, Lingkungan
yang artinya bahwa penerapan
subunsur Pengendalian
Hubungan Kerja yang Baik dengan sebagaimana diatur
Instansi Pemerintah Terkait dalam dalam PP 60/2008
kegiatan BBPOM Samarinda telah yaitu:
memadai. Hubungan kerja a. Hasil penilaian
yang terhadap subunsur
baik dengan instansi pemerintah di Penegakan
Integritas dan Nilai
bidang pengelolaan anggaran, Etika diperoleh skor
akuntansi sebesar 0,82
dan perbendaharaan yang telah berjalan yang artinya bahwa
penerapan
dengan baik antara lain seperti KPPN, subunsur
DJPB, DJA, dan BPKP. yang pada Penegakan
akhirnya berdampak pada terwujudnya Integritas
tata kelola keuangan yang transparan dan Nilai Etika
dan akuntabel di lingkungan BBPOM dalam kegiatan
Samarinda.

V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan
pembahasan sebelumnya, maka ditarik
beberapa kesimpulan sebagaimana
berikut ini.
1. Secara umum penerapan SPIP
ditinjau dari unsur Lingkungan
Pengendalian pada
BBPOM
Samarinda telah memadai
dengan
skor 0,89, yang berarti
bahwa
pelaksanaan kegiatan pada BBPOM
memadai. Tanggung Jawab yang Tepat
b. Hasil penilaian terhadap subunsur dalam kegiatan
Komitmen Terhadap Kompetensi BBPOM
diperoleh skor sebesar 0,88, yang Samarinda telah memadai.
artinya bahwa penerapan subunsur f. Hasil penilaian terhadap subunsur
Komitmen Terhadap Kompetensi Penyusunan dan
dalam kegiatan BBPOM Penerapan
Samarinda telah memadai. Kebijakan yang Sehat tentang
c. Hasil penilaian terhadap subunsur
Kepemimpinan yang Kondusif Pembinaan Sumber Daya Manusia
diperoleh skor sebesar 0,75, yang
artinya bahwa penerapan subunsur diperoleh skor sebesar 0,78,
Kepemimpinan yang Kondusif yang
dalam kegiatan BBPOM artinya bahwa penerapan subunsur
Samarinda telah memadai. Penyusunan dan
d. Hasil penilaian terhadap subunsur Penerapan
Pembentukan Struktur Organisasi Kebijakan yang Sehat tentang
yang Sesuai dengan Kebutuhan
diperoleh skor sebesar 0,94, yang Pembinaan Sumber Daya Manusia
artinya bahwa penerapan subunsur dalam kegiatan
Pembentukan Struktur Organisasi BBPOM Samarinda
yang Sesuai dengan Kebutuhan telah memadai.
dalam kegiatan BBPOM g. Hasil penilaian terhadap subunsur
Samarinda telah memadai. Perwujudan Peran
e. Hasil penilaian terhadap subunsur Aparat
Pendelegasian Wewenang dan Pengawasan Intern Pemerintah
Tanggung Jawab yang Tepat
diperoleh skor sebesar 0,94, yang
artinya bahwa penerapan subunsur 8
Pendelegasian Wewenang dan
(APIP) yang Efektif secara khusus mengenai
diperoleh etika dan
skor sebesar 1,00, yang aturan perilaku setiap
artinya pegawai di
bahwa penerapan subunsur lingkungan BBPOM
Perwujudan Peran Aparat Samarinda
dalam melaksanakan
Pengawasan Intern Pemerintah tugas dan
fungsinya.
yang Efektif dalam kegiatan b. Penegakan disiplin
BBPOM Samarinda telah belum
memadai. dilaksanakan secara
h. Hasil penilaian terhadap tegas oleh
subunsur pimpinan dan Tim
Hubungan Kerja yang Baik Penegak
dengan Instansi Pemerintah Disiplin di lingkungan
BBPOM
Terkait diperoleh skor sebesar Samarinda terhadap
1,00, yang artinya bahwa pegawai yang
penerapan subunsur Hubungan melanggar ketentuan
Kerja yang Baik dengan Instansi disiplin
Pemerintah Terkait dalam pegawai.
kegiatan BBPOM Samarinda
telah memadai,
2. Kegiatan pada BBPOM secara
umum telah dilaksanakan dengan
efektif dan efisien, namun masih
terdapat beberapa kelemahan pada

beberapa parameter penilaian

subunsur Lingkungan Pengendalian


yang perlu diperbaiki dan

disempurnakan penerapannya untuk


meningkatkan efisiensi dan
efektivitas kegiatan pada BBPOM
Samarinda sebagaimana
ditemukan dari hasil penilitian
dengan uraian sebagaimana berikut
ini.
a. Belum terdapat aturan
perilaku/kode etik yang ditetapkan

secara formal oleh Pimpinan


Badan POM RI yang mengatur
c. Masih terdapat Bidang/Bagian di mengisi pos/jabatan
lingkungan BBPOM Samarinda
yang belum membuat Standar tertentu dalam unit organisasi.
Kompetensi untuk setiap tugas h. Evaluasi penilain kinerja pegawai
dan fungsi yaitu Bidang masih menggunkan Daftar
Sertifikasi dan Layanan Informasi Penilaian Pelaksnaan Pekerjaan
Konsumen serta Sub Bagian Tata
Usaha. (DP3) PNS yang lebih
d. Pimpinan BBPOM Samarinda berorientasi pada penilain
belum mempertimbangkan risiko kepribadian (personality),
dalam setiap pengabilan dan
keputusan sebagaimana di atur dalam perilaku (behavior) yang
PP 60/2008 tentang unsur Penilaian terfokus
Risiko. pada pembentukan karakter
e. Petugas pengelola barang/aset individu, belum terfokus pada
pada BBPOM Samarinda belum kinerja, peningkatan
membuat sistem dan prosedur hasil,
pengamanan aset, sehingga produktivitas, dan pengembangan
kemanan aset belum sepenuhnya dapat
terjamin. potensi.
f. Belum terdapat Instruksi Kerja
secara tertulis mengenai prosedur B. Saran
pendelegasian wewenang oleh Berdasarkan uraian pada bagian
Pimpinan kepada pegawai lainnya Kesimpulan di atas, maka dapat
pada setiap unit kerja di
lingkungan BBPOM Samarinda.
g. Belum semua unit kerja
menetapkan Standar Kompetensi SDM 9
yang harus dimiliki untuk
diberikan beberapa saran dalam Integrated Framework,
penelitian ini sebagai berikut. The
1. Diperlukan komitmen yang tinggi Commitee of
bagi Instansi Pemerintah untuk dapat
menerapkan seluruh unsur Sponsoring
Organization of The
pengendalian yang ada dalam SPIP Treadway
pada setiap tindakan dan kegiatan Commission (COSO).
secara terus menerus oleh seluruh [6] ----------,Keputusan
pegawai dan pimpinan instansi agar Menteri
tujuan SPIP yaitu menciptakan Pendayagunaan Aparatur
kegiatan yang efektif dan efisien Negara
serta tata kelola pemerintahan yang Nomor
bersih dan akuntabel dapat terwujud. Kep/46/M.PAN/4/2004
2. Kepada peneliti berikutnya yang tentang Pengawasan
tertarik untuk mempelajari SPIP Melekat
dapat melakukan penelitian
lebih lanjut mengenai penerapan
unsur SPIP pada Instansi Pemerintah
yang terkait dengan unsur
Penilaian
Risiko, Kegiatan Pengendalian,
Informasi Komunikasi, dan
Monitoring Evaluasi sebagaimana
diatur dalam PP 60/2008 tentang
Sistem Pengendalian Intern
Pemerintah.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Alwi Hasan, dkk , Kamus Besar
Bahasa Indonesia, 2005, Balai
Pustaka, Jakarta.
[2] American Institute of
Certified
Public Accountant
(AICPA,)
Statement of Auditing
Standar (SAS).
[3] Andre, 1984, Pengendalian Tanpa

Birokrasi, Jakarta.
[4] Anonim, 2007, Sistem
Pengendalian Manajemen,
Pusdiklat Pengawasan BPKP.
[5] ----------, 1992,Internal
Control-
(Waskat), Kementerian Jakarta.
Pendayagunaan Aparatur Negara.
[7] ----------, Peraturan Pemerintah
Nomor 60 Tahun 2008 tentang
Sistem Pengendalian Intern 10
Pemerintah (SPIP).
[8] ----------, Peraturan Kepala BPKP
Nomor PER-1326/K/LB/2009
tentang Pedoman Teknis Umum
Penyelenggaraan SPIP.
[9] ----------, Peraturan Kepala BPKP
Nomor PER-500/K/2010 tentang
Pedoman Pemetaan Terhadap
Penerapan SPIP di Lingkungan
Instansi Pemerintah.
[10] ----------, 2007, Modul Sistem
Pengendalian Manajemen,
Pusdiklat Pengawasan BPKP,
Bogor.
[11] Dewi, Ovioktavia, 2012, Artikel
Internal Control.
[12] Draft, L. Richard, 2006,
Management, Edisi 7, Salemba
Empat, Jakarta.
[13] Laila, Zumriatun, Artikel SPIP,
Analisis Penyelenggaraan PP 60
Tahun 2008 tentang SPIP pada Dua
Pemda di Sumatera Barat
[14] Mitchell, David, 1984,
Pengendalian Tanpa Birokrasi,
Pustaka Binaman Pressindo,
Jakarta.
[15] Raharjaputra.S. Hendra, 2009,
Manajemen Keuangan dan
Akuntansi untuk Eksekutif
Perusahaan, Salemba Empat,
Jakarta.
[16] Schermerhorn, 2005,
Management, Edisi 8, Salemba
Empat, Jakarta.
[17] Sumarsan, Thomas, 2011, Sistem
Pengendalian Manajemen, PT
Indeks , Jakarta.
[18] Terry. R. George, dan Leslie W.
Rue, 2005, Dasar-Dasar
Manajemen, Bumi Aksara,