Anda di halaman 1dari 12

BAB II

LANDASAN TEORI

A. MEDAN ELEKTROMAGNETIK
1. Definisi Medan Elektromagnetik
Medan listrik merupakan keadaan yang ditimbulkan oleh adanya muatan
listrik. Medan listrik keluar dari suatu muatan dan menyebar ke seluruh
ruang. Medan listrik berbanding lurus dengan besar muatan listrik, dan
berbanding terbalik dengan jarak dari sumber muatan listrik. Medan
magnet dihasilkan oleh arus listrik, atau oleh perubahan medan listrik
(Giancoli, 2001).

2. Karakteristik Medan Elektromagnetik


Medan listrik dan medan magnet saling tegak lurus dengan arah
perambatan gelombang elektromagnetik. Besarnya medan listrik dan
medan magnet pada suatu titik berbanding terbalik dengan jarak dari
sumber medan (Tipler, 2001). Gelombang elektromagnetik merupakan
gelombang medan, sehingga dapat merambat melalui ruang hampa.
Gelombang elektromagnetik, atau yang kadang disebut radiasi
elektromagnetik yang mempunyai interval yang lebar. Gelombang
elektromagnetik dapat dikelompokkan seperti pada gambar 2.1 yang
disebut sebagai spektrum elektromagnetik. Salah satu jenis gelombang
elektromagnetik adalah gelombang radio. Dinamakan demikian karena
frekuensi gelombang tersebut digunakan untuk pengiriman sinyal radio
dan TV. Secara umum, gelombang elektromagnetik dihasilkan melalui
percepatan elektron atau partikel-partikel bermuatan yang lain. Gelombang
elektromagnetik dengan frekuensi tinggi terbentuk secara alamiah, seperti
pancaran dari atom, molekul, dan inti atom. Sedangkan gelombang
elektromagnetik dengan frekuensi lebih rendah seperti gelombang radio
dan gelombang mikro dapat dibuat dengan menggunakan peralatan
elektronik (Giancoli, 2001).
Gambar 2.1 Spektrum Elektromagnetik (National Institute of
Environmental Health Sciences, 2002)

Spektrum elektromagnetik terdiri dari radiasi pengion dan radiasi non-


pengion. Radiasi non-pengion adalah radiasi elektromagnetik yang tidak
mempunyai cukup energi untuk memindahkan elektron dari atom atau
molekul. Sumber dari radiasi non-pengion antara lain gelombang mikro,
gelombang radio, telepon nirkabel, jaringan tanpa kabel (wifi), jaringan
listrik, dan magnetic resonance imaging (MRI). Radiasi pengion adalah
gelombang dengan frekuensi tinggi yang mempunyai cukup energi untuk
memindahkan elektron dari suatu molekul. Gelombang ini mampu
merusak struktur (deoxyribonucleic acid) DNA dan sel di tubuh.
Gelombang ini diradiasikan oleh radon, uranium, dan unsur radioaktif lain
dan digunakan dalam bentuk sinar x, computed tomography (CT), dan
terapi radioaktif (Wargo et al., 2012).
Gelombang elektromagnetik mempunyai energi. Besarnya energi (E)
dapat dihitung dengan persamaan de Broglie, yaitu , dimana h
merupakan kostanta Planck, c merupakan kecepatan cahaya, f
merupakan frekuensi, dan merupakan
panjang gelombang. Dari persamaan tersebut dapat ditarik kesimpulan
bahwa besarnya energi dari gelombang elektromagnetik berbanding lurus
dengan frekuensinya (Tipler, 2001)

3. Alat yang Menimbulkan Medan Elektromagnetik Non Pengion


Berdasarkan frekuensinya, gelombang elektromagnetik non pengion dapat
dibedakan menjadi frekuensi sangat rendah (extremely low
frequency/ELF), frekuensi menengah (intermediate frequemcy/IF), dan
frekuensi radio (radio frequency/RF). ELF mempunyai frekuensi 0 hingga
300 Hz. Sumber ELF antara lain jaringan listrik dalam rumah, peralatan
rumah tangga, kabel listrik, dan laptop. Frekuensi IF adalah antara 300 Hz
hingga 100 kHz. Sumber IF antara lain peralatan antimaling (anti-theft
device) yang sering digunakan di toko dan kompor induksi. RF berada
pada frekuensi 100 kHz hingga 300 GHz. Radio, televisi, radar, dan
telepon seluler adalah sumber utama RF (Epstein et al., 2015).
Medan elektromagnetik diukur dengan menggunakan dosimetri. Salah
satunya adalah NARDA ELF 400, yang mampu mengukur medan
elektromagnet pada frekuensi 1 hingga 400 kHz. NARDA ELF 400
dilengkapi dengan sistem pengukuran medan elektromagnet 3 aksis pada
area seluas 100 cm2. Pengukuran tersebut menggunakan standar EN
62233:2008-04 (Bellieni et al., 2012). NISMap digunakan untuk
mengukur RF dengan menggunakan model 3D dari gelombang radio.
Model tersebut menggunakan informasi mendalam mengenai lokasi,
frekuensi, tingkat kekuatan, dan pola gelombang (Beekhuizen et al., 2014).

B. RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK


1. Definisi Radiasi
Radiasi dalam istilah fisika adalah suatu cara perambatan energi dari
sumber energi ke lingkungannya tanpa membutuhkan medium. Beberapa
contohnya adalah perambatan cahaya (Anies, 2009:7). Dalam istilah
sehari-hari radiasi diasosiasikan sebagai radioaktif sebagai sumber radiasi
pengion.
Radiasi elektromagnetik adalah kombinasi medan listrik yang berisolasi
dan medan magnet merambat lewat ruang dan membawa energi dari satu
tempat ke tempat yang lain. Menurut Anies (2005: 5) cahaya adalah
bentuk radiasi elektromagnetik. Gelombang elektromagnetik yang
merupakan penyebab dari adanya radiasi elektromagnetik ditemukan oleh
Heinrich Hertz.

2. Radiasi Optik
Sasaran utama pancaran radiasi optik adalah kulit dan mata. Radiasi optik
hanya diserap di daerah dekat permukaan dan kedalaman pada kulit dan
kornea umumnya < 1mm.
Radiasi optik dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu radiasi ultraviolet
(UV), cahaya tampak dan inframerah (IR). Spektrum sinar UV adalah
radiasi elektromagnetik yang terletak pada rentang panjang gelombang
100nm-400nm, dibagi atas UV-C, UV-B,dan UVA.
Di pasaran banyak peralatan elektronik yang merupakan sumber UV
buatan manusia. UV buatan manusia terdiri dari 3 jenis, yaitu (1)
incandescent, misalnya lampu halogen tungsten, lampu neon; (2) lampu
intensitas tinggi yang digunakan industri untuk fotopolimerisasi, lampu
germisidal untuk sterilisasi dan lampu untuk pengelasan metal; (3) laser
UV, seperti excimer laser (Anies, 2009: 14).
Interaksi radiasi optik dengan materi biologik umumnya menimbulkan
reaksi panas atau termal dan reaksi fotokimia sehingga dapat
meningkatkan suhu jaringan. Efek ini berbahaya karena terutama merusak
mata dan testis yang relatif sangat sensitif terhadap kenaikan suhu
jaringan(Anies,2009: 92).

C. RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK PADA LAPTOP


1. Definisi Laptop
Laptop yang juga dikenal dengan istilah notebook merupakan komputer
portabel, kecil dan dapat dibawa kemana-mana dengan sangat mudah yang
terintegrasi pada sebuah casing. Berat laptop berkisar antara 1 kilogram
sampai 6 kilogram tergantung dari ukurannya, bahan dan spesifikasi.
Sebagai komputer pribadi, laptop memiliki fungsi yang sama dengan
komputer desktop meskipun dengan kemampuan yang lebih rendah.
Laptop kebanyakan menggunakan layar LCD (liquid crystal display)
berukuran 10 inci hingga 17 inci bergantung dari ukuran laptop itu sendiri.
Komponen tersebut didesain untuk mengakomodasi portabilitas dari
laptop sendiri. Sifat utama yang dimiliki oleh komponen penyusun laptop
adalah ukuran yang kecil, hemat konsumsi energi, dan efisien.
Sebuah laptop adalah komputer pribadi yang dirancang untuk penggunaan
mobile dan kecil dan cukup ringan untuk duduk di pangkuan seseorang
ketika digunakan. Sebuah laptop mengintegrasikan sebagian besar
komponen khas dari sebuah komputer desktop, termasuk sebuah layar,
sebuah keyboard, sebuah menunjuk perangkat (a touchpad juga dikenal
sebagai trackpad), speaker, dan baterai dalam satu unit kecil dan ringan.

2. Radiasi Gelombang Mikro


Gelombang mikro dapat mencetuskan perubahan di permukaan posterior
kapsul lensa yang berakibat pada pembentukan katarak.Kondisi pajanan,
waktu dan intensitas yang menyebabkan suhu jaringan mata mencapai
45C atau lebih diyakini bersifat kataraktogenik (Anies,2009: 98).
Pada pekerja yang berada di medan gelombang mikro juga menerima
dampak negatif lainnya diluar masalah penglihatan seperti sakit kepala,
lelah, pusing, tidur tidak nyenyak, perasaan takut, tegang, depresi mental,
daya ingat kurang baik, nyeri pada otot dan daerah jantung dan susah
bernapas.

3. Radiasi yang dipancarkan Laptop


Laptop merupakan perangkat elektronik yang mengeluarkan sinar radiasi
elektromagnetik. Layar laptop pada saat bekerja memantulkan cahaya dan
sinar yang lebih tajam dari sinar sekelilingnya. Saat ini laptop banyak
dilengkapi dengan Wi-fi (wireless fidelity) yang lebih dikenal sebagai
jaringan lokal internet kabel, yang semakin populer penggunaannya di
negara maju maupun negara berkembang. Dengan Wi-fi seseorang bisa
masuk ke jaringan internet dengan mudah. Dibalik kemudahan yang
ditawarkan Wi-fi, ada dampak negatif yang berbahaya bagi kesehatan,
diantaranya adalah dapat mengakibatkan nyeri dikepala, gangguan tidur
(insomnia), mual-mual terutama bagi pengguna yang elektrosensitif.
Radiasi yang dipancarkan laptop dilihat dari segi keakuratan warna yang
melibatkan brightness dan contrast dari laptop, makin tinggi pengaturan
cahaya dari laptop itu makin tinggi pula radiasi yang dipancarkannya.
Laptop memancarkan radiasi cahaya berupa radiasi cahaya tampak biru
yang dikenal blue light retinal injury. Radiasi cahaya tampak dengan
frekuensi 750-365 Thz dan panjang gelombang 400-780 nm dapat
mencapai retina. Hal ini akan berdampak buruk bagi kesehatan mata
pengguna media laptop. Jenis radiasi cahaya tampak ini dapat
menimbulkan fotorenitis atau yang disebut peradangan retina.
Selain radiasi cahaya tampak, laptop juga memancarkan gelombang radiasi
beta yang berbahaya bagi retina mata seseorang pengguna laptop.
Beberapa monitor komputer produksi mulai tahun 2004 telah menyertakan
sebuah komponen silikon radioaktif lemah yang mampu membuat warna
XVGA lebih cerah namun berbahaya bagi kesehatan mata manusia.
Hasil riset radiasi monitor terutama komputer/laptop memberikan
gambaran bahwa pancaran radiasi monitor komputer/laptop secara
diagonal terjadi bocoran radiasi yang jauh lebih besar jika seseorang
berhadapan secara langsung. Jika seseorang berhadapan langsung,
besarnya radiasi sejumlah X, dengan monitor yang sama jika seseorang
berada di posisi diagonal dari laptop tersebut, besarnya radiasi menjadi
sejumlah X+Y, yang berarti mendapat pancaran radiasi jauh lebih besar.
D. PENGARUH RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK BAGI
KESEHATAN
1. Panduan Medan Elektromagnetik bagi Kesehatan Tubuh
Efek medan elektromagnetik pada tubuh manusia tidak hanya berdasarkan
pada tingkat medannya tetapi juga pada frekuensi dan energinya. Medan
elektromagnetik menginduksi arus listrik di dalam tubuh manusia, yang
apabila jumlahnya mencukupi, dapat menimbulkan efek tertentu seperti
pemanasan dan syok akibat arus listrik. Efek yang timbul tergantung dari
amplitudo dan frekuensi dari gelombang elektromagnet itu sendiri (WHO,
2015).
Batasan kuantitas pajanan medan elektromagnetik secara umum
didasarkan pada efek kesehatan yang ditimbulkan. Batasan dasar yang
digunakan adalah medan listrik internal, yaitu medan listrik yang
memengaruhi sel-sel saraf dan sel sensitif listrik lainnya. Akan tetapi,
kekuatan medan listrik internal sulit untuk dinilai. Oleh karena itu, untuk
penilaian pajanan praktis, sebagian besar batasan tingkat pajanan
ditetapkan berdasarkan pengukuran dan atau teknik komputasi dari
pembatasan dasar. Hal tersebut bertujuan untuk mengantisipasi efek
merugikan yang ditimbulkan dari pajanan medan elektromagnetik
(Vecchia et al., 2010).

2. Efek Radiasi Gelombang Elektromagnetik pada Tubuh


Pajanan gelombang elektromagnetik dari laptop menimbulkan beberapa
efek pada tubuh, antara lain :
a. Dampak pada sistem saraf
Radiasi RF menyebabkan perubahan pada sistem saraf tikus, mencit,
dan manusia. Perubahan tersebut antara lain menurunnya kemampuan
belajar, waktu reaksi, fungsi motorik, akurasi memori, dan fungsi
kognisi. Selain itu, penggunaan telepon seluler pada tingkat yang lebih
tinggi berhubungan dengan respon yang lebih cepat namun kurang
akurat pada tugas-tugas yang membutuhkan kognisi tinggi. Pajanan
telepon seluler pre dan postnatal berkaitan dengan gangguan perilaku
seperti hiperaktif pada anak selama memasuki masa sekolah dasar
(sekitar usia 6 tahun) (Wargo et al., 2012)
b. Dampak pada sistem reproduksi
Pajanan medan elektromagnetik berefek secara molekuler dan seluler
pada sistem reproduksi, terutama pada pria. Pajanan medan
elektromagnetik menimbulkan stres oksidatif pada semen, penurunan
jumlah, motilitas, dan viabilitas sperma (Agarwal et al., 2007)
c. Efek genotoksik dan kerusakan DNA
Terdapat hubungan yang positif antara telepon seluler yang diletakkan
sejauh satu meter dari sel manusia dengan penurunan perbaikan DNA
(DNA repair). Penurunan perbaikan tersebut terjadi karena adanya
kerusakan pada DNA rantai ganda. Efek paling besar terjadi pada stem
cell. Risiko terjadinya kanker pada anak juga lebih tinggi karena stem
cell lebih aktif pada anak-anak (Markov et al., 2010) Penelitian case
control oleh Saito et al. (2010) menunjukkan bahwa terdapat hubungan
antara ELF dengan terjadinya kanker pada anak. Penelitian tersebut
menggunakan prosedur pengukuran radiasi yang baik, namun sangat
terbatas pada jumlah sampel yang kecil.
d. Adanya kemungkinan terjadinya kanker
RF diklasifikasikan sebagai karsinogenik potensial bagi manusia
(possibly carcinogenic to humans). Hal yang mendasari klasifikasi
tersebut adalah peningkatan risiko glioma, suatu kanker ganas pada
otak, yang diasosiasikan dengan penggunaan telepon seluler (Straif dan
Baan, 2011)
Pajanan ELF dapat menekan hormon melatonin yang berfungsi sebagai
imunoprotektor. Proses tersebut mungkin berhubungan dengan
tingginya angka kejadian kanker payudara pada wanita yang banyak
terpajan ELF (Chen et al., 2013).
e. Gangguan tidur
Berkembangnya teknologi nirkabel menyebabkan meningkatnya
pajanan medan elektromagnetik pada manusia. Pajanan medan
elektromagnetik RFdari telepon seluler mampu meningkatkan
gelombang alfa selama fase tidur NREM (Loughran et al., 2005).
Pajanan ELF diduga menyebabkan supresi pada kelenjar melatonin
dengan mekanisme yang sama dengan pajanan cahaya pada malam
hari. Supresi tersebut berdampak pada penurunan jumlah serta
perlambatan onset produksi hormon melatonin (Stevens, 1987)

3. Bagian Mata Manusia Rawan Radiasi


Radiasi optik (cahaya) menyerang kulit dan mata. Pada kulit, efek kronik
yang terjadi jika terus-menerus terpancar radiasi adalah kanker kulit
sedangkan pada mata banyak efek negatif yang akan perlahan-lahan
merusak bagian-bagian dari mata terutama lensa, kornea, dan retina
termasuk otot mata menjadi mudah lelah.
a. Lensa
Lensa mata tidak berpembuluh darah dan terlindungi dalam kapsul
sehingga mudah terbakar akibat penimbunan panas dari pajanan radiasi
dengan intensitas tinggi. Energi radiasi UV-A dan IR-B diserap dalam
lensa secara kuat, hanya sebagian kecil energi saja yang dapat
mencapai retina. Absorbsi sinar inframerah oleh lensa akan
mengakibatkan katarak dan eksfoliasi kapsul/lensa. Akibat sinar ini
pada lensa maka katarak mudah terjadi (Sidarta,1997: 274).
b. Kornea
Energi radiasi dengan panjang gelombang < 280 nm (UV-C) dapat
diserap seluruhnya oleh kornea. Sinar UV merusak epitel kornea. Efek
fototoksik akut radiasi UV pada mata adalah keratokonjungtivitis
(dikenal juga sebagai welders flash atau snow blindness) yaitu reaksi
radang akut kornea dan konjungtiva mata akibat reaksi fotokimia pada
kornea (fotokeratitis) dan konjungtiva yang timbul beberapa jam
setelah pancaran.
c. Retina
Jumlah energi cahaya yang masuk mata ditentukan oleh luas
pembukaan pupil. Energi cahaya tampak yang dapat menembus
struktur mata secara kuat diserap oleh retina dan dikonversi menjadi
panas. Peningkatan suhu beberapa derajat lebih tinggi dari suhu ketika
demam dapat menimbulkan kerusakan pada retina yang bersifat
permanen. Radiasi cahaya tampak dan IR-A (400-1400 nm) dapat
mencapai retina dan menimbulkan fotorenitis yang lebih dikenal
peradangan retina. Kerusakan retina timbul khususnya akibat pancaran
cahaya tampak biru. Dengan demikian, laser yang menggunakan
radiasi cahaya tampak dan juga inframerah dapat menyebabkan
kerusakan kornea, lensa, atau retina, bergantung pada panjang
gelombang dan karakteristik penyerapan energi dari struktur
mata(Anies,2009: 98).

4. Dampak Radiasi Optik Terhadap Kesehatan Mata


Bekerja dengan menggunakan laptop dalam waktu lama dan terus menerus
menurunkan daya akomodasi mata dan menyebabkan mata lelah. Setiap
mata manusia memiliki daya tahan yang berbeda-beda. Orang-orang yang
selalu bekerja menggunakan laptop tanpa disadari akan mengeluh tentang
kesehatan matanya dan akan secara berkala menjadi pasien dokter mata
atau optikal terdekat. Asthenopia salah satu efek yang menyerang pupil
mata, akibatnya menjadi lambat bereaksi terhadap cahaya, karena
intensitas cahaya yang berlebihan.
a. Lensa
Perubahan komposisi kimia membuat lensa mata yang tadinya jernih
dan dapat tembus cahaya dengan sempurna menjadi buram seperti kaca
susu (Setiono,2005: 114). Lensa yang buram akan mempersulit
penerusan cahaya ke retina. Ini mengakibatkan bayangan pada retina
menjadi kabur. Pada lensa dampak radiasi yang fatal adalah
pembentukan katarak (kataraktogenesis). Katarak dalam Kamus Saku
Biologi (2009: 228) diartikan sebagai penyakit bular mata yaitu
pengaburan lensa mata yang disebabkan adanya membran transparan
yang menghalangi masuknya cahaya ke dalam lensa mata.
Sinar inframerah pada lensa akan mengakibatkan keratitis superfisial,
katarak kortikal anterior-posterior dan koagulasi pada koroid.
b. Kornea
Bagian dari kornea yang dirusak oleh sinar UV adalah epitel dari
kornea itu. Efek akut yang terbentuk akibat pajanan radiasi terus-
menerus diantaranya keratokonjungtivitis yaitu reaksi radang akut
kornea dan konjungtiva mata akibat fotokeratitis. Gejala fotokeratitis
berupa memerahnya bola mata disertai rasa sakit yang parah dan pada
beberapa kasus terjadi blepharospasme, berlangsung selama satu atau
dua hari dan timbul kabut pada bagian kornea namun efek ini bersifat
sementara. Selain itu, akibat dari pajanan radiasi, kornea mata
mengalami luka bakar.
c. Retina
Radiasi cahaya tampak yang dicapai retina menimbulkan efek
fotorenitis, peradangan retina. Fotorenitis biasanya disertai dengan
scotoma (blind spot atau ada suatu titik gelap atau terang yang
berbayang-bayang selama kurang lebih 5-7 detik), terjadi akibat
menatap sumber cahaya yang sangat tajam dan terang seperti matahari
dalam waktu yang sangat singkat ataupun cahaya terang dari laser
untuk waktu yang lebih lama setelah itu berganti pandangan pada
cahaya normal disekitar sumber.
Keretakan retina juga bisa terjadi akibat terlalu sering menggunakan
alat elektronik seperti laptop/komputer. Hal ini dikarenakan pancaran
radiasi gelombang beta yang dipancarkan oleh laptop/komputer.
Pancaran kronik radiasi UV pada mata dapat menimbulkan pterygium
(pertumbuhan jaringan lemak diatas kornea) atau penebalan
konjungtiva dan katarak (Anies, 2009: 97)

E. CARA MENCEGAH DAMPAK RADIASI GELOMBANG


ELEKTROMAGNETIK TERHADAP KESEHATAN
Pancaran radiasi menimbulkan efek negatif bagi kesehatan. Besar kecilnya
efek dipengaruhi oleh lamanya menggunakan laptop. Sebagian besar orang
menganggap remeh akibat radiasi. Bagi sebagian yang orang yang lain radiasi
merupakan momok. Adapun cara mencegah dampak radiasi yang mungkin
terjadi pada kesehatan mata manusia adalah sebagai berikut :
a. Bila bekerja dengan menggunakan komputer / laptop, tiap 30 menit
istirahatkan mata selama 5 menit. Melihat objek lain mulai dari jarak
paling dekat hingga jarak terjauh (awan).
b. Gunakan filter monitor. Filter monitor terbukti mengurangi efek
radiasi secara elektromagnetik.
c. Untuk kesehatan mata sendiri, konsumsi vitamin A
d. Dalam menggunakan peralatan elektronik apapun sebaiknya membuat
jarak sejauh mungkin dari sumber pancaran, sedangkan waktu kontak
usahakan seminimal mungkin (Anies, 2005: 79). Disarankan jarak
layar laptop / komputer dengan mata pengguna sedikitnya 60 cm atau
sekitar tiga jengkal.