Anda di halaman 1dari 5

NEGOSIASI

Contoh kasus Negosiasi Sukses

Penyelesaian Sengketa Ekonomi secara Negosiasi

PT Sara Lee Indonesia, perusahaan besar yang bergerak di consumer product,


diguncang masalah dengan karyawanya. Sekitar 200 buruh bagian pabrik roti
yang tergabung dalam Gabungan Serikat Pekerja PT Sara Lee Indonesia,
menggelar aksi mogok kerja di halaman pabrik, Jalan Raya Bogor Km 27
Jakarta Timur.

Aksi mogok kerja ini, ternyata tidak hanya di Jakarta namun serentak di seluruh
distributor Sara Lee se-Indonesia. Bahkan, buruh yang ada di daerah mengirim
utusan ke Jakarta untuk memperkuat tuntutannya. Utusan itu bukan orang,
namun berupa spanduk dari Sara Lee yang dikirim dari beberapa daerah.

Dalam aksinya di depan pabrik, para buruh yang mayoritas perempuan ini
membentangkan spanduk berisikan tuntutan kesejahteraan kepada manajemen
perusahaan yang berbasis di Chicago Sara Lee Corporation dan beroperasi di 58
negara, pasar merek produk di hampir 200 negara serta memiliki 137.000
karyawan di seluruh dunia.

Dengan mengenakan kaos putih dan ikat merah di kepalanya. Buruh


merentangkan belasan spanduk, di antaranya bertuliskan: Kami bukan sapi
perahan, usir kapitalis, Rp 16 triliun, Bagian kami mana?, Jangan lupa
karyawan bagian dari aset perusahaan juga. Kami Minta 7 Paket,
Perusahaan Sara Lee Besar Kok Ngasih Kesejahteraan Kecil juga tuntutan
lain tentang kesejahteraan dan gaji yang rendah.

Spanduk juga terpasang di pagar pabrik Sara Lee, juga ada sehelai kain berisi
tanda tangan para pekerja dan 12 poster yang mewakili suara masing-masing
tim dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Banyuwangi, Medan, Makassar,
Denpasar, Jember, Surabaya, Madiun, Kediri, Gorontalo, Samarinda, Lombok
dan Aceh.

Poster dari Surabaya GT tertera beberapa kalimat yang berbunyi: Kami tidak
akan berhenti mogok, sebelum kalian penuhi tuntutan buruh, penjahat aja tahu
balas budi, kalian? Juga poster dari Tim Banyuwangi menyuarakan:
Kedatangan kami bukan untuk berdebat, kami datang untuk meminta hak
kami, jangan bersembunyi di belakang UU, dan jangan ambil jatah kami, ayo
bicaralah untuk Indonesia.
Kami terpaksa mogok karena jalan berunding sudah buntu dari pertemuan
tripartit antara manajemen perusahaan dengan serikat pekerja. Banyak tuntutan
yang kami ajukan mulai kesejahteraan, peningkatan jumlah pesangon dan
kompensasi dari manajemen, ungkap seorang buruh wanita yang enggan
disebut namanya.

Buruh takut menyebut nama, sebab manajemen perusahaan akan terus


melakukan intimidasi yang menyakitkan. Ini aksi dalam jumlah yang kecil, dan
menggerakan lebih besar dan sering melancarkan aksi, jika tuntutan kami tak
dikabulkan, sambungnya.

Perwakilan manajemen sempat mengimbau peserta aksi mogok untuk kembali


bekerja melalui pengeras suara, namun ditolak oleh pekerja. Hingga kini aksi
buruh terus bertambah sebab karyawan dari distributor Jakarta, Bogor,
Tanggerang, Depok dan Bekasi satu persatu memperkuat aksinya itu.

Buruh lainnya mengatakan kasus ini bermula dari penjualan saham Sara Lee
dijual kepada perusahaan besar. Ternyata, perusahaan baru itu enggan menerima
karyawan lain, sehingga nasib karyawan menjadi terkatung-katung. Bahkan,
memutus hubungan kerja seenaknya saja. Buruh pun aktif demo.

Sara Lee merasa malu dengan aksi yang mencoreng perusahaan raksasa inim
sehingga siap melakukan perundingan tripartit. Sayangnya, hingga kini belum
ada kesepakatan karena manajemen perusahaan memberikan nilai pesangon
yang sangat rendah, tak sesuai pengabdian karyawan.

Cara Penyelesaian :
Sebaiknya, Manajemen PT. Saralee harus berunding terlebih dahulu dengan
para buruh agar menemui suatu titik kesepakatan. Jika PT. Saralee tidak
memperoleh laba yang ia targetkan, seharusnya ia dapat mengambil
kebijaksanaan yang tidak membuat salah satu pihak rugi akan hal ini.
Perundingan secara kekeluargaan adalah satu-satunya solusi yang dapat
meredam demo. Jika demo terus terjadi, pihak Saralee malah akan mengalami
kerugian yang lebih besar lagi, karena jika kegiatan operasional tidak berjalan
seperti biasa, laba pun tidak akan didapatkan oleh PT.Saralee.

1. Solusi persoalan mikro perburuhan bisa diatasi dengan memperbaiki


hubungan kontrak kerja antara pengusaha dengan pekerja. Transaksi
kontrak tersebut sah menurut, jika memenuhi persyaratan dan ketentuan
yang jelas mengenai :

1. Bentuk dan jenis pekerjaan


2. Masa kerja
3. Upah kerja
4. Tenaga yang dicurahkan saat bekerja

Jika ke empat masalah diatas sudah jelas dan disepakati maka kedua belah pihak
terikat dan harus memenuhi apa yang tercantum dalam kesepakatan tersebut.

2.Sedangkan aspek makro perburuan, prinsipnya setiap orang berhak


mendapatkan kesejahteraan. Hal ini bisa dilakukan dengan 2 cara :

1. Pemenuhan kebutuhan sandang , pangan dan papan , ditangguhkan


kepada setiap individu masyarakat (buruh)
2. Terkait kebutuhan biaya pendidikan, layanan kesehatan dan keamanan
menjadi tanggung jawab negara untuk menyediakannya bagi setiap warga
negara. Selain itu negara juga memiliki tanggungjawab menyediakan
berbagai fasilitas yang memudahkan setiap orang untuk bekerja.

E. Contoh Teks Negosiasi yang Sukses pada Bisnis

Pegawai Bank: Selamat pagi pak, silahkan duduk, ada yang bisa kami bantu?
Nasabah: Selamat pagi bu. Ya, terimakasih.
Nasabah: Begini bu, saya ingin mengajukan proposal peminjaman uang untuk
usaha ikan lele saya.
Pegawai Bank: Maaf, bisa saya lihat proposalnya?
Nasabah: Ini bu, silahkan.
Pegawai bank: Sebenarnya, proposal bapak ini sangat bagus, tidak ada
masalah. Cuma kami dari
pihak bank tidak bisa memenuhi permintaan dana sebesar 500 juta.
Nasabah: Jadi, kira-kira pihak bank mampu memberikan berapa bu?
Pegawai Bank: Setelah saya hitung, kami hanya menyanggupi sampai 300 juta
pak, dengan bunga 4 %.
Nasabah: Tidak bisa ditambah lagi bu? Usaha ini sebenarnya sangat sukses,
pesanan ikan lele ke kami dari seluruh Indonesia.
Nasabah: Dana ini rencananya akan kami gunakan untuk menambah kapasitas
produksi untuk memenuhi permintaan ikan lele tersebut
Pegawai Bank: Tunggu dulu pak, saya hitung ulang dulu
Pegawai Bank: Yah, sepertinya kami sanggup memberikan 350 juta.
Nasabah: Wah, apakah tidak bisa dinaikin lagi bu? Gimana kalau 400 juta?
Pegawai Bank: Maaf pak, hanya segitu yang bisa kami sanggupi.
Nasabah: Iya deh bu, tidak apa-apa, saya setuju.

ooo0ooo
Contoh Kasus Negosiasi dalam Kasus Bisnis (2)

Peningkatan Gaji Karyawan

Pasca reformasi, buruh masih terus dihadapkan pada persoalan krusial, baik
dalam konteks eksternal relasi buruh dengan pemerintah dan pengusaha,
maupun problem internal seputar mutu SDM hingga konflik kepentingan antar
pengurus serikat buruh/pekerja. Rekson Silaban dari Konfederasi Serikat Buruh
Sejahtera Indonesia (KSBI) menyampaikan, pencapaian gerakan buruh sekarang
ini tidak sebesar kebebasannya. Kaum buruh di Indonesia memang kini
memiliki kebebasan berserikat dengan kondisi yang jauh lebih baik, tetapi
konflik relasi industrial - perburuhan juga didapati meningkat. Masalah upah
dan kesejahteraan buruh tidak lain menjadi pemicu utama konflik.

Seperti masalah yang saat ini sedang dihadapi oleh PT. Indofood (Mie
Instan), terdapat beberapa konflik antara serikat buruh dengan para manajer
perusahaan. Para buruh menjalankan aksi mogok kerja dan demonstrasi untuk
menuntut para manajer perusahaan untuk meningkatkan gaji karyawan. Dan
kabar tentang aksi mogok kerja dan demonstrasi karyawan akhirnya sampai
kepada General Manager PT. Indofood. General Manager segera melakukan
breafing dengan para manajer untuk membahas tentang konflik yang sedang
terjadi didalam perusahaannya. Dari hasil breafing tersebut menghasilkan
keputusan untuk memanggil perwakilan dari buruh untuk melakukan negosiasi
dengan para manajer untuk menyelesaikan konflik yang sedang terjadi
diperusahaan mie instan tersebut.

Ketika negosiasi dilaksanakan, ada 2 perwakilan dari pihak buruh yang mulai
menjelaskan tentang permasalahan sebenarnya. Aksi mogok kerja dan
demonstrasi karyawan ini dipengaruhi oleh tingkat upah yang sangat minimum
setiap bulannya. Karyawan menuntut kenaikan gaji dari 2 juta rupiah perbulan,
meminta kenaikan gaji sebesar 3 juta rupiah perbulan. Tetapi dari pihak
perusahaan belum menyetujui untuk kenaikan gaji tersebut karena masih
mempertimbangkan beberapa aspek yang harus dilihat terutama dalam laporan
keuangan yang ada di dalam perusahaan. Produksi di perusahaan menurun
karena pendapatan yang tidak stabil. Dari pihak HRD menyatakan bahwa
kurangnya kinerja buruh saat ini yang mengakibatkan menurunnya produk yang
dihasilkan, itulah yang menjadi bahan pertimbangan apakah permintaan buruh
akan dikabulkan atau tidak.

Dari para manajer perusahaan tetap berusaha untuk menaikkan gaji para
buruh tersebut. Setelah pihak perusahaan mempertimbangkan semuanya, maka
pihak perusahaanpun memutuskan untuk mengambil jalan tengahnya yaitu gaji
jadi dinaikkan sebesar 2,5 juta. Meskipun kenaikan gaji tersebut tidak sesuai
dengan apa yang diharapkan oleh para buruh, mereka tetap menerima kenaikan
gaji tersebut untuk kelangsungan hidup mereka. Kenaikan gaji tersebut telah
disahkan kepada kedua pihak tersebut yaitu dari perwakilan buruh dan manajer
perusahan. Dengan kenaikan gaji manajer HRD menghimbau kepada karyawan
agar karyawan tetap bekerja dengan baik serta bisa membangun kembali
perusahaan yang sekarang tidak stabil pendapatannya.