Anda di halaman 1dari 9

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

GIZI UNTUK PASIEN DISLIPIDEMIA

A. Materi Pembelajaran : Gizi untuk Penderita dislipidemia

B. Pokok Bahasan :
1. Pengertian Dislipidemia
2. Penyebab dari Dislipidemia
3. Tanda Gejala dari Dislipidemia
4. Mencegah dan Menangani Dislipidemia
5. Sumber-sumber Zat Gizi

C. Sasaran : Pengunjung Poli Penyakit Dalam

D. Waktu : Senin, 28 November 2016

E. Tempat : Poli Penyakit Dalam

F. Tujuan Pembelajaran :
1. Tujuan Umum
Meningkatkan pengetahuan peserta penyuluhan tentang gizi untuk penderita
dislipidemia
2. Tujuan khusus
a. Peserta mengetahui tentang pengertian dislipidemia
b. Peserta mengetahui tentang penyebab dislipidemia
c. Peserta mengetahui tentang tanda gejala dari disipidemia
d. Peserta mengetahui tentang sumber-sumber zat gizi untuk pasien dislipidemia
e. Peserta mengetahui tentang cara mencegah dan menangani dislipidemia
G. Kegiatan Pembelajaran :
1. Materi : Terlampir
2. Metode : Penyuluhan
3. Langkah dan Estimasi :
Proses pembelajaran diawali dengan penjelasan materi tentang gizi untuk pasien
dislipidemia kepada peserta dengan estimasi waktu 20 menit kemudian dilanjutkan
diskusi tanya jawab dengan peserta estimasi waktu 5 menit.
4. Media dan Alat Bantu : Wireless, Leaflet

H. Pemantauan dan Evaluasi :


1. Peserta mengetahui tentang pengertian dislipidemia
2. Peserta mengetahui tentang penyebab dislipidemia
3. Peserta mengetahui tentang tanda gejala dislipidemia
4. Peserta mengetahui tentang sumber-sumber zat gizi untuk pasien dislipidemia
5. Peserta mengetahui tentang cara mencegah dan menangani dislipidemia
Materi

Gizi Untuk Pasien Dislipidemia

1. Pengertian
Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan
peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma. Kelainan fraksi lipid yang
paling utama adalah kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, kenaikan kadar
trigliserida serta penurunan kadar HDL. Faktor utama peningkatan kadar kolesterol
dalam darah adalah keturunan dan asupan lemak tinggi (Almatsier 2004).
Dislipidemia dalam proses terjadinya aterosklerosis semuanya mempunyai peran
yang penting dan sangat kaitannya satu dengan yang lain, sehingga tidak mungkin
dibicarakan sendiri-sendiri. Ketiga-tiganya sekaligus dikenal sebagai Triad Lipid
(Perki 1995), yaitu :
a. Kolesterol total
Kolesterol merupakan salah satu dari komponen lemak itu sendiri.
Kehadiran lemak sendiri dalam tubuh kita sesungguhnya memiliki fungsi sebagai
zat gizi yang sangat diperlukan oleh tubuh disamping zat gizi lainnya seperti
karbohidrat, protein, vitamin dan mineral.
Kolesterol mempunyai fungsi dalam tubuh yaitu untuk melapisi dinding sel
tubuh, membentuk asam empedu, membentuk hormon seksual, berperan dalam
pertumbuhan jaringan saraf dan otak. Kolesterol sebanyak 75% dibentuk di organ
hati sedangkan 25% diperoleh dari asupan makanan.
Kenaikan kadar kolesterol di atas nilai normal diantaranya disebabkan oleh
berlebihnya asupan makanan yang berasal dari lemak hewani, telur dan serta
makanan-makanan yang dewasa ini disebut sebagai makanan sampah (junkfood).
Banyak penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara kadar kolesterol
total darah dengan resiko penyakit jantung koroner (PJK) sangat kuat, konsisten,
dan tidak bergantung pada faktor resiko lain. Penelitian genetik, eksperimental,
epidemiologis, dan klinis menunjukkan dengan jelas bahwa peningkatan kadar
kolesterol total mempunyai peran penting pada patogenesis penyakit jantung
koroner (PJK).
b. Kolesterol HDL dan kolesterol LDL
HDL dikatakan kolesterol baik karena berperan membawa kelebihan
kolesterol di jaringan kembali ke hati untuk diedarkan kembali atai dikeluarkan
dari tubuh. HDL ini mencegah terjadinya penumpukkan kolesterol di jaringan,
terutama di pembuluh darah.
LDL dikatakan kolesterol jahat karena LDL berperan membawa kolesterol
ke sel dan jaringan tubuh. Sehingga bila jumlahnya berlebihan, kolesterol dapat
menumpuk dan mengendap pada dinding pembuluh darah dan mengeras menjadi
plak. Plak dibentuk dari unsur lemak, kolesterol, kalsium, produk sisa sel dan
materi-materi yang berperan dalam proses pembekuan darah. Hal inilah yang
kemudian dapat berkembang menjadi menebal dan mengerasnya pembuluh darah
yang dikenal dengan nama aterosklerosis. Nilai LDL dan HDL berdampak
terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah. Nilai LDL yang tinggi dikaitkan
dengan risiko tinggi terhadap serangan jantung, sebaliknya HDL tinggi dikaitkan
dengan risiko rendah.
Bukti epidemiologis dan klinis menunjang hubungan negatif antara kadar
kolesterol HDL dengan penyakit jantung koroner. Intervensi obat atau diet dapat
menaikan kadar kolesterol HDL dan dapat mengurangi penyakit jantung koroner.
c. Trigliserida
Trigliserida adalah asam-asam lemak dan merupakan jenis lemak yang
paling banyak di dalam darah. Kadar trigliserida yang tinggi dalam darah
(hipertrigliseridemia) juga dikaitkan dengan terjadinya penyakit jantung koroner.
Tingginya trigliserida sering disertai dengan keadaan kadar HDL rendah.
Sementara yang lebih mengerikannya lagi, ditemukan pula pada kadar trigliserida
diatas 500 mg/dl dapat menyebabkan peradangan pada pankreas. Kadar
trigliserida dalam darah banyak dipengaruhi oleh kandungan karbohidrat makanan
dan kegemukan.
Kadar trigliserida diantara 250-500 mg/dl dianggap berhubungandengan
penyakit jantung koroner apabila disertai adanya penurunankadar kolesterol HDL.

Pemeriksaan penyaring untuk profil lipid sebaiknya dilakukan orang dewasa


berusia diatas 30 tahun atas anjuran petugas kesehatan atau atas permintaan sendiri.
Pemeriksaan selektif harus dilakukan pada mereka yang berisiko tinggi untuk
terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah, yaitu:
a. Bukti adanya Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan atau manifestasi penumpukan
plak lemak di pembuluh darah yang lain.
b. Riwayat keluarga PJK usia dini.
c. Riwayat keluarga dengan dislipidemia
d. Bukti adanya faktor risiko PJK yang lain (DM, Hipertensi, Obesitas, Merokok)
e. Atau atas permintaan sendiri.

2. Penyebab dari Dislipidemia


Penyebab dislipidemia diklasifikasikan menjadi dislipidemia primer dan
dislipidemia sekunder.
a. Dislipidemia Primer
Yaitu kelainan penyakit genetik dan bawaan yang dapat menyebabkan kelainan
kadar lipid dalam darah.
b. Dislipidemia Sekunder
Yaitu disebabkan oleh suatu keadaan seperti hiperkolesterolemia yang
diakibatkan oleh hipotiroidisme, nefrotik syndroma, kehamilan, anoreksia
nervosa, dan penyakit hati obstruktif. Hipertrigliserida disebebkan oleh DM,
konsumsi alkohol, gahal ginjal kronik, miokard infark, dan kehamilan. Dan
dislipidemia dapat disebabkan oleh hipotiroidisme, nefrotik sindroma, gagal
ginjal akut, penyakit hati, dan akromegali.

Dislipidemia dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah sebagai berikut


(Bachri 2004).
a. Faktor Jenis Kelamin
Risiko terjadinya dislipidemia pada pria lebih besar daripada wanita. Hal
tersebut disebabkan karena pada wanita produktif terdapat efek perlindungan dari
hormon reproduksi. Pria lebih banyak menderita aterosklerosis, dikarenakan
hormon seks pria (testosteron) mempercepat timbulnya aterosklerosis sedangkan
hormon seks wanita (estrogen) mempunyai efek perlindungan terhadap
aterosklerosis. Akan tetapi pada wanita menopause mempunyai risiko lebih besar
terhadap terjadinya aterosklerosis dibandingkan wanita premenopouse.
b. Faktor Usia
Semakin tua usia seseorang maka fungsi organ tubuhnya semakin menurun,
begitu juga dengan penurunan aktivitas reseptor LDL, sehingga bercak
perlemakan dalam tubuh semakin meningkat dan menyebabkan kadar kolesterol
total lebih tinggi, sedangkan kolesterol HDL relatif tidak berubah. Pada usia 10
tahun bercak perlemakan sudah dapat ditemukan di lumen pembuluh darah dan
meningkat kekerapannya pada usia 30 tahun.
c. Faktor Genetik
Faktor genetik merupakan salah satu faktor pencetus terjadinya dislipidemia.
Dalam ilmu genetika menyebutkan bahwa gen untuk sifat sifat tertentu (spesific
trait) diturunkan secara berpasangan yaitu kita memerlukan satu gen dari ibu dan
satu gen dari ayah, sehingga kadar hiperlipidemia tinggi dapat diakibatkan oleh
faktor dislipidemia primer karena faktor kelainan genetik.
d. Faktor Kegemukan
Kegemukan erat hubungannya dengan peningkatan risiko sejumlah komplikasi
yang dapat terjadi sendiri sendiri atau bersamaan. Kegemukan disebabkan oleh
ketidakseimbangan antara energi yang masuk bersama makanan, dengan energi
yang dipakai. Kelebihan energi ini ditimbun dalam sel lemak yang membesar.
Pada orang yang kegemukan menunjukkan output VLDL trigliserida yang tinggi
dan kadar trigliserida plasma yang lebih tinggi. Trigliserida berlebihan dalam
sirkulasi juga mempengaruhi lipoprotein lain. Bila trigliserida LDL dan HDL
mengalami lipolisis, akan menjadi small dense LDL dan HDL, abnormalitas ini
secara tipikal ditandai dengan kadar HDL kolesterol yang rendah.
e. Faktor Olah Raga
Olah raga yang teratur dapat menyebabkan kadar kolesterol total, kolesterol
LDL, dan trigliserida menurun dalam darah, sedangkan kolesterol HDL meningkat
secara bermakna. Lemak ditimbun dalam di dalam sel lemak sebagai trigliserida.
Olahraga memecahkan timbunan trigliserida dan melepaskan asam lemak dan
gliserol ke dalam aliran darah.
f. Faktor Merokok
Merokok dapat meningkatkan kadar kolesterol total, kolesterol LDL,
trigliserida, dan menekan kolesterol HDL. Pada seseorang yang merokok, rokok
akan merusak dinding pembuluh darah. Nikotin yang terkandung dalam asap
rokok akan merangsang hormon adrenalin, sehingga akan mengubah metabolisme
lemak yang dapat menurunkan kadar kolesterol HDL dalam darah.
g. Faktor Makanan
Konsumsi tinggi kolesterol menyebabkan hiperkolesterolemia dan
aterosklerosis. Asupan tinggi kolesterol dapat menyebabkan peningkatan kadar
kolesterol total dan LDL sehingga mempunyai risiko terjadinya dislipidemia.
3. Tanda Gejala dari Dislipidemia
Tanda dan gejala dislipidemia tidak terlihat, oleh karena itu untuk mengetahui
adanya tanda dislipidemia harus dilakukan pemeriksaan laboratorium. Untuk menilai
apakah kadar kolesterol seseorang tinggi atau rendah, semuanya harus mengacu pada
pedoman umum yang telah disepakati dan digunakan diseluruh dunia yaitu pedoman
dari NCEP ATP III (National cholesterol Education Program, Adult Panel Treatment
III), yang antara lain menetapkan bahwa :
a. Total Kolesterol :
Kategori Kadar total kolesterol (mg/dl)
Normal < 200
Batas tinggi 200 239
Tinggi > 240

b. LDL Kolesterol :
Kategori Kadar total kolesterol (mg/dl)
Normal < 100
Mendekati normal 100 129
Batas tinggi 130 159
Tinggi 160 189
Sangat tinggi 190

c. HDL Kolesterol :
Kategori Kadar total kolesterol (mg/dl)
Rendah <35
Batas rendah 36-44
Normal > 45

d. Trigliserida
Kategori Kadar total kolesterol (mg/dl)
Normal < 150
Batas tinggi 150 -199
Tinggi 200 499
Sangat tinggi > 499

4. Mencegah dan Menangani Dislipidemia


Penanganan dapat dilakukan secara farmakologi dengan pemakaian obat-obatan
atau non farmakologi tanpa menggunakan obat-obatan. Penurunan kadar kolesterol
dalam darah dengan penanganan non farmakologi dapat dilakukan dengan cara :
a. Terapi diet
Terapi diet dimulai dengan menilai pola makan pasien, mengidentifikasi
makanan yang mengandung banyak lemak jenuh dan kolesterol serta berapa
sering keduanya dimakan. Jika diperlukan ketepatan yang lebih tinggi untuk
menilai asupan gizi, perlu dilakukan penilaian yang lebih rinci, yang biasanya
membutuhkan bantuan ahli gizi. Penilaian pola makan penting untuk menentukan
apakah harus dimulai dengan diet tahap I atau langsung ke diet tahap ke II. Hasil
diet ini terhadap kolesterol serum dinilai setelah 4-6 minggu dan kemudian
setelah 3 bulan.
b. Latihan jasmani
Dari beberapa penelitian diketahui bahwa latihan fisik dapat meningkatkan
kadar HDL dan Apo AI, menurunkan resistensi insulin, meningkatkan sensitivitas
dan meningkatkan keseragaman fisik, menurunkan trigliserida dan LDL, dan
menurunkan berat badan.
Setiap melakukan latihan jasmani perlu diikuti 3 tahap :
1) Pemanasan dengan peregangan selama 5-10 menit
2) Aerobik sampai denyut jantung sasaran yaitu 70-85 % dari denyut jantung
maximal ( 220 umur ) selama 20-30 menit .
3) Pendinginan dengan menurunkan intensitas secara perlahan lahan, selama
5-10 menit. Frekwensi latihan sebaiknya 4-5 x/minggu dengan lama latihan
seperti diutarakan diatas. Dapat juga dilakukan 2-3x/ minggu dengan lama
latihan 45-60 menit dalam tahap aerobik.

5. Sumber-sumber Zat Gizi


BAHAN DIANJURKAN DIBATASI DIHINDARI
MAKANAN
SUMBER beras putih/ merah, roti, produk makanan jadi:
KARBOHIDRAT makaroni, jagung, kentang, kue-kue, cake,
ubi, talas,kue dengan biskuit, pastries yang
meggunakan sedikit berlemak
minyak/ lemak tak jenuh

SUMBER unggas tanpa kulit, ikan daging tanpa lemak, daging berlemak, otak,
PROTEIN segar, putih telur, susu skim udang, dan kuning limpa, ginjal, hati,
HEWANI telur sosis, babat, usus,
cumi-cumi, kerang
SUMBER tempe, tahu, oncom, dan dimasak dengan santan
PROTEIN kacang-kacangan dan digoreng dengan
NABATI minyak jenuh (minyak
kelapa da kelapa sawit)
SUMBER minyak jagung, minyak dimasak dengan Yang mengandung
LEMAK kedelai, minyak kacang santan encer lemak jenuh : Minyak
tanah, minyak bunga yang berasal dari
matahari, dan minyak wijen; hewan : lemak sapi,
margarin tanpa garam yang babi, kambing, susu
dibuat dari minyak tidak penuh (full cream),
jenuh ganda cream, keju, mentega.
SAYURAN semua jenis sayuran (yang
diolah dengan cara direbus,
dikukus, disetup, ditumis
menggunakan minyak
jagung, minyak kedelai atau
margarin yang dibuat dari
minyak tidak jenuh)
BUAH- semua jenis buah
BUAHAN