Anda di halaman 1dari 13

1.

Inti Tampang Kolom

Kolom merupakan jenis elemen struktur yang memilki dimensi longitudinal


jauh lebih besar dibandingkan dengan dimensi transversalnya dan memiliki fungsi
utama menahan gaya aksial tekan, biasanya kolom terpasang pada posisi vertikal.
Pada Gambar 1.1 dapat ditunjukkan bekerjanya gaya tekan P di titik A yang
memiliki nilai eksentrisitas tehadap pusat berat O. Besarnya tegangan yang
terjadi pada penampang kolom dapat dihitung dengan menguraikan tegangan yang
terjadi akibat : (a.) Gaya normal P sentris terhadap pusat berat O; (b.) Gaya
momen kopel terhadap pusat berat O, yaitu :

Mx =
P.n
(1)

M y = P.m
(2)

sehingga tegangan total yang terjadi dapat dihitung dengan


Persamaan berikut :

(3)
b

v Y0

X
O
n
m
a A

u
Y
X0

Gambar 1.1. Pembebanan pada Kolom


atau
(4)

dan
Dengan cara yang sama dapat
dihitung radius girasi

(5)
sehingga Persamaan 1.5 dapat diubah menjadi :


Persamaan 1.6 akan bernilai nol jika :

(7)
Persamaan 7 merupakan garis lurus ab yang disebut sebagai garis nol, yaitu garis
yang melalui serat-serat pada penampang kolom dengan tegangan sama dengan nol.
Semua serat pada penampang kolom yang terletak pada daerah arsiran mengalami
tegangan tarik sedangkan daerah yang tidak diarsir mengalami tegangan tekan.
Batasan eksentrisitas pada penampang kolom yang hanya menimbulkan
tegangan tekan sangat penting bagi elemen struktur yang menggunakan bahan seperti
beton, yang memiliki kuat tarik sangat kecil dibandingkan dengan kuat tekannya.
Daerah pada penampang kolom yang merupakan batasan eksentrisitas di mana jika di
dalamnya dikerjakan gaya tekan maka tegangan yang terjadi pada seluruh penampang
kolom masih merupakan tegangan tekan murni disebut sebagai inti tampang. Inti
tampang pada penampang kolom dapat ditentukan dengan menghitung batasan
eksentrisitas pada setiap sisi kolom menggunakan Persamaan di bawah ini :

(8a)
(8b)
2. Terjadinya Tekukan

Tekukan terjadi apabila batang tekan memiliki panjang tertentu yang yang
jauh lebih besar dibandingkan dengan penampang lintangnya. Perhatikan Gambar
di bawah, dua buah balok berpenampang lintang bxh dengan b < h.

F
h
b
F h

l l

(a) Tekan F
(b) Tekuk

Gambar 1 Pembebanan Normal Negatif

Gambar 1 merupakan pembebanan tekan karena panjang batang, l, relatif


tak berbeda jauh dengan ukuran penampang lintangnya, b maupun h. Dalam
pembebanan yang berlebihan, balok ini akan rusak hancur atau geser pada bidang
tegangan geser maksimumnya, tergantung pada sifat-sifat bahannya. Sedangkan
batng pada Gambar 1(b) mengalami pembebanan tekuk karena panjang batang, l,
yang jauh lebih besar dibandingkan dengan ukuran penampang lintangnya.
Pembebanan yang berlebih akan menyebabkan batang rusak tekuk atau bengkok.
Tekukan dapat terjadi karena dua hal, yakni oleh sebab geometris dan
homogenitas bahan. Sebab yang pertama terutama adalah karena letak beban yang
tidak tepat pada titik pusat berat penampang lintangnya, sehingga timbul momen
terhadap sumbu netral batang. Sebab kedua karena sifat mekanis bahan yang tidak
homogen sehingga titik-titik pada suatu penampang lintang mengalami deformasi yang
tidak sama. Hal ini juga akan menimbulkan momen terhadap sumbu netral batang.
Momen ini akan semakin besar bila penyimpangan dari keadaan ideal semakin besar.
Secara teoritis, tekukan akan terjadi atau tidak ditentukan oleh harga koefisien
kerampingan (slenderness ratio), yang besarnya ditentukan oleh panjang batang, bentuk
dan ukuran penampang lintangnya, serta konstruksi penumpuan. Secara matematis
dinyatakan oleh persamaan (1a) dan (1b) berikut.

(9a)
l

r I
A
(9b)
l k. L

dengan
: koefisien kerampingan
l : panjang tekuk, panjang satu tekukan simetri (mm)
r : jari-jari girasi (mm)
4
I : inersia minimal penampang lintang batang (mm )
2
A : luas penampang lintang batang (mm )
k : koefisien pemasangan, tergantung konstruksi penumpuan ujung batang
L : panjang batang (mm)

Teori tekuk Euler, yang dikemukakan oleh seorang ahli matematika Swiss
Loenhard Euler, pada tahun 1757 digunakan untuk menyelesaikan persoalan-
persoalan tekuk. Teori ini menggunakan asumsi bahwa tegangan tekan langsung
yang terjadi kecil sehingga dapat diabaikan, dan beban tidak lebih dari beban
kritis yang dapat menyebabkan terjadinya tekukan. Selain itu, bahan batang
bersifat isotropis, penampang lintang batang merata sepanjang batang, serta
tegangan yang terjadi masih berada dalam batas proporsional sehingga hukum
Hooke masih berlaku.

Persamaan Tekuk Euler

Teori yang dikemukakan oleh Leonhard Euler pada tahun


1744 didasarkan pada asumsi-asumsi berikut :
a.) Kolom yang dianalisis berbentuk lurus sempurna.
b.) Beban aksial tekan bekerja secara sentris pada penampang
kolom.
c.) Dimensi longitudinal kolom jauh lebih besar
dibandingkan dimensi transversalnya.
Pada kasus kolom ideal dapat digunakan berbagai macam
kondisi tumpuan. Persamaan tekuk Euler pada kolom yang
menggunakan tumpuan sendi pada kedua ujungnya dapat
P
diperoleh dengan cara berikut ini :
P

P
Gambar 2. Tekuk pada Kolom Bertumpuan Sendi-
Sendi
2
d y
E.I. =M
2
dx
= P.( y)
2
d y
E.I. = P.y
2
dx
2
d y P
= 0 (10)
.y
2
dx E.I

P
dengan k , maka Persamaan 4.7 dapat diubah menjadi :
E.I
2
d y = 0 (11)

2
k
.
y
d
x
2

Penyelesaian dari Persamaan 4.8 adalah :


y A.cos kx B.sin kx
di mana A dan B, merupakan konstanta integrasi.
Pada saat x = 0 maka y = 0, sehingga diperoleh A = 0
x
=
L

m
a
k
a
y
=
0
,
0
=
B
.
s
i
n
k
L
Sin kL = 0
kL = 0, , 2, 3, ...
Nilai B tidak boleh sama dengan nol, karena semua penyelesaian
Persamaan akan selalu bernilai nol dan merupakan trivial
solution, sedangkan nilai 2, 3 dan seterusnya tidak memberikan
nilai praktis yang signifikan, maka :
k.L =

P
atau .L =
E.I


atau P 2
=
.
E
.
I

L
2

Maka Beban kritis tekuk Euler pada kolom bertumpuan sendi-


sendi;
2.E.I
min L
Pcr

2
( 9
4 .
. )
Beban kritis tekuk Euler pada kolom ideal yang lain dapat dihitung dengan cara
analog seperti kasus kolom bertumpuan sendi-sendi. Formulasi beban kritis untuk jenis
kolom ideal yang lain adalah :
2
2. .E.Imin
a.) Kolom bertumpuan sendi-jepit, Pcr
L2
2
b.) Kolom bertumpuan jepit-jepit, 4. .E.Imin
Pcr L2
2

c.) Kolom bertumpuan jepit bebas, .E.I


min
Pcr 2
4.L
Formulasi tekuk Euler secara umum dapat dinyatakan dalam bentuk
Persamaan berikut :
2.E.I
min
Pcr (4.10.)
Lk
2

Hasil formula beban kritis pada masing-masing jenis kolom ideal


menunjukkan adanya perbedaan karena pengaruh nilai faktor tekuk k untuk
setiap jenis kolom ideal. Nilai faktor tekuk tersebut akan mempengaruhi besarnya
panjang tekuk efektif Lk yang merupakan fungsi panjang aktual L dan nilai
faktor tekuk k. Besarnya panjang tekuk efektif L k untuk masing-masing jenis
kolom ideal adalah :

Tabel 4.1. Panjang Tekuk Efektif Kolom Ideal

No. Jenis Tumpuan Panjang Tekuk Efektif (Lk)

1. Sendi-Sendi L
L
2. Sendi-Jepit
2
3. Jepit-Jepit L/2

4. Jepit-Bebas 2.L
Besarnya tegangan normal kritis pada kolom ideal juga dapat ditentukan
dari Persamaan Euler, yaitu :
2
Pcr .E.Imin
=

A 2
Lk .A
atau
2.E (4.11.)
cr =
L 2
rkmin

Lk
di mana menunjukkan angka kelangsingan kolom , sehingga
rmin

Persamaan 4.11 juga bisa dinyatakan dalam bentuk


2.E
cr = (4.12.)
2
Tegangan kritis yang dihitung dengan Persamaan Euler hanya berlaku dalam
batasan hukum Hooke, sehingga :
(4.13.)
cr p

di mana p merupakan batas tegangan proporsional yang besarnya dapat

ditentukan sama dengan nilai tegangan leleh y . Selanjutnya dengan


mensubstitusikan Persamaan 4.13 ke dalam Persamaan 4.12 dapat diperoleh :
2.E
(4.14.)
2
y
atau

E (4.15.)

y
.

Berdasarkan Persamaan di atas dapat disimpulkan bahwa Persamaan tekuk Euler


hanya berlaku jika angka kelangsingan kolom memenuhi kriteria kolom
panjang yang ditunjukkan pada Persamaan 4.15. Angka kelangsingan batas dapat
dihitung dengan :
g E (4.16.)
y
.
Persamaan Garis Lurus Tetmayer

Persamaan garis lurus ini merupakan hasil penelitian yang


dilakukan oleh Tetmayer dan Bauschinger terhadap kolom baja struktural
bertumpuan sendi- sendi. Hasil penelitian tersebut menghasilkan formula
empiris berdasarkan tegangan tekan rata-rata yang terjadi pada kolom
baja. Formula empiris yang dihasilkan adalah :

Khusus untuk kolom baja struktural, tegangan kritis dapat dihitung dengan :

Persamaan ini berlaku untuk kolom baja dengan angka kelangsingan


yang berkisar 30 sampai 110 (30 < 110).